Lari!
.
.
"Mukuro!" suara berat pria itu menggema di aula kosong Kokuyou. Sedetik kemudian, yang dipanggil pun menampakkan diri begitu saja di hadapannya bagaikan jin.
"Oya, oya..." si nanas biru mengamati pria di hadapannya itu. Kyouya, lebih tinggi darinya, lebih tua darinya, membawa si anak sapi di tangan kirinya dan sebuah bazooka di tangan kanannya. "Paman Kyouya mengapa kau sampai kemari?"
Alis Kyouya berkedut mendengar panggilan laknat dari Mukuro. Tanpa banyak bicara ia menembak Mukuro dengan bazooka di tangan kanannya. Mukuro y ang belum sempat bereaksi pun tertembak dengan telak. Kyouya segera melempar dua beban di tangannya ke samping. Yang satu berdebam menghantam lantai, yang satu berteriak melengking. Ia mengeluarkan tonfanya dan menghantamkannya ke arah asap bazooka tadi.
Suara 'bukk' terdengar, disusul pekikan keras dari sosok di dalam asap.
"Oya, oya. Kenapa kau memukulku Kyouya?" muncul sosok nanas biru dengan ponytail yang menjulur di belakangnya, Mukuro dari masa 10 tahun yang akan datang.
"Karena kau menyebalkan." ia segera berbalik dan berjalan pergi meninggalkan sarang nanas itu. Mukuro menghela nafas panjang dan menggendong Lambo di tangan kirinya.
"Dasar psikotik" gumam Mukuro yang kemudian berlari kecil mengejar Cloud Guardian yang sudah meninggalkannya agak jauh di depan.
-xXx-
Angin dingin berhembus, meniup butiran-butiran salju yang menari-nari. Sebuah burung besi raksasa bertengger seorang diri, menantang hembusan angin. Mesinnya menderu-deru. Lampu markanya berkelip-kelip dalam kegelapan.
Sepuluh sosok berjalan dalam kegelapan, ditambah sebuah sosok mungil yang bertengger di pundak salah satu dari mereka. Sosok-sosok itu berjalan semakin mendekat ke arah pesawat yang berdiri tegap, melewati bayangannya, kemudian naik kedalamnya melalui tangga sempit.
Udara di dalam pesawat tidak sedingin di luar. Beberapa dari mereka menghembuskan nafas lega begitu sampai di dalam pesawat. Mereka memilih tempatnya masing-masing.
Tsuna, Gokudera, Yamamoto, dan Sasagawa Ryohei memilih tempat di tengah-tengah dan duduk berjajar. Kyouya duduk menyendiri di kursi ujung paling belakang. Mukuro duduk di ujung satunya. Kusakabe, Romario, Dr. Shamal dan Dino duduk tak jauh dari mereka.
Tak lama kemudian pesawat itu bergerak maju, kemudian terangkat. Beberapa kali mereka merasakan guncangan akibat turbulensi. Namun itu tidak mengganggu perjalanan mereka hingga sampai di Italia.
-xXx-
"Svein, kapan kita pulang ke masa depan?" wanita itu bertanya. Ia bosan berada di mansion itu selama 3 hari berturut-turut dan yang ia temui hanyalah Svein, atau antek-anteknya yang kurang menarik perhatian.
"Entahlah..." dia menjawab dengan cuek. Matanya tetap tertuju pada majalah yang ia baca di pangkuannya.
"Svein!" wanita itu berteriak. Meminta perhatian lebih dari partnernya itu.
"Apa?" kali ini ia menoleh. Mata mereka bertemu, namun tak ada kata yang keluar. "Mungkin setelah kau mengorek informasi tentang bagaimana cara membuka box settimo kita bisa pulang" Svein berkata memecah keheningan.
"Jadi kau belum berhasil mengorek informasi darinya?"
Svein hanya menggeleng kesal.
"Dia itu benar-benar keras kepala. Hampir saja aku lepas kendali dan membunuhnya."
Q-Ra tersenyum, "Kalau begitu, biar kulakukan dengan caraku." ia berbalik dan menghilang ke koridor, meninggalkan kamar yang terang benderang itu di belakangnya.
-xXx-
Ia tak tahu berapa lama ia terkurung di situ. Meski ada lubang ventilasi kecil yang memancarkan seberkas sinar selama beberapa jam dalam sehari, ia tidak punya cukup tenaga untuk mengingat-ingat berapa kali ia melihat sinar itu memancar.
Ia merasakan sakit mendera seluruh tubuhnya. Ia tak bisa membedakan dari mana rasa sakit itu berasal. Semua tampak sama saja. Saat itu ia merasa lebih baik mati saja. Namun, di satu sisi, pikirannya terus memerintahkannya untuk bertahan hidup. Ia memejamkan matanya yang membengkak karena lebam di satu sisi. Ia berharap bisa tertidur dan melarikan diri dari rasa sakit yang membuatnya hampir gila.
Dalam kegelapan yang menyelimuti, ia merasa mendengar kicau burung, juga kepakan sayap kecil nan ringan di sekitarnya. Hentakan pelan terasa di rantai yang menggantung tangannya, disertai suara desisan pelan.
Beberapa detik kemudian gaya yang menahan tangannya menghilang. Ia terjatuh menghantam lantai kemudian bangkit perlahan, bertumpu pada tangannya yang masih terborgol. Skylark kecil berwarna merah hinggap di borgol yang membelenggu pergelangan tangan mungilnya. Besi itu dengan cepat terbakar habis, namun api merah itu sama sekali tak memberi luka tambahan di pergelangan tangan gadis itu. Dua ekor skylark menyusul hinggap di hadapannya. Satu berwarna biru, yang satunya lagi indigo.
"Ame, Kiri, Arashi..." Rasa lega membanjiri hatinya. Ia tidak sendirian di tempat terkutuk itu. Bulir air mata kelegaan muncul di sudut matanya.
Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki dari luar. Dia bisa mendengar suara langkah itu semakin mendekat. Bulu kuduknya meremang, rahangnya menegang. Jantungnya berdegup kencang. Ingatan akan penyiksaan yang dilakukan Svein membuatnya mual. Rasa takut menjalarinya.
"Lari!"
Pintu di hadapannya terbuka dan terbentuklan siluet seorang wanita di sana, memanjang, hingga mengenai tubuh kecil Yuuya.
"Lari!"
Ia bangkit dan menerjang sosok yang berdiri di hadapannya hingga jatuh terjengkang. Teriakan melengking terdengar dalam momen singkat itu. Sekilas, manik matanya menangkap dua buah benda menggelinding dari tangan sang wanita berambut merah. Itu box dan ring-nya. Ia menyambar kedua benda itu dan segera melarikan diri. Raungan kemarahan terdengar di belakangnya. Wanita berambut merah itu melemparkan pisau ke arahnya, namun berkat tiga ekor skylark yang melindunginya, pisau itu tidak menusuk titik vitalnya, hanya menggores lengannya.
"Dia akan membunuhku!"
Ia tidak mempedulikan rasa sakit yang menderanya maupun darah yang menetes-netes dari lukanya. Ia terus berlari, menyusuri lorong-lorong yang tidak ia kenal. Pikirannya kalut. Ia tak tau kemana ia harus berlari. Suara langkah di belakangnya semakin mendekat dan semakin bertambah banyak.
Seakan bisa membaca kekalutan tuannya, Arashi terbang mendahului, menuntun gadis itu menuju pintu keluar. Ame memperbesar flamenya dan menghambat para pengejar mereka.
Ia baru saja akan berbelok menuju tangga turun lebar yang ada di ujung aula terang-benderang ketika mendapati segerombolan pria berbaju hitam datang dari arah berlawanan. Langkahnya terhenti. Ia memandang dengan mata nanar.
"Aku akan mati!"
Skylark kabut hinggap di puncak kepala sang gadis dan mematukinya, seakan menyadarkan bahwa ia tidak sendiri. Dalam sekejap, kabut tebal menyelimuti ruangan itu. Ia tak bisa melihat apa-apa. Begitu juga pengejarnya. Tiba-tiba kelebat merah tertangkap oleh mata sipitnya. Itu Arashi. Ia menuntun langkahnya
"Aku tidak boleh mati di sini!"
Jantungnya berdetak kencang. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Wajahnya mulai yang pucat menjadi lebih pucat. Logikanya sudah hampir tidak berjalan. Yang ia tahu adalah bahwa ia harus melarikan diri dari tempat ini
Ia memaksakan kakinya yang gemetaran untuk berlari menjauh, mengikuti Arashi yang terbang mendekati kaca berukir yang ada di ujung lorong. Ia berlari, melompat menembus kaca berukir itu, membuatnya pecah berkeping-keping.
Tubuhnya mendarat, melesak dalam tumpukan salju yang basah setelah menjatuhkan diri dari lantai ketiga mansion itu. Beberapa potongan kaca menggores tubuhnya. Ia langsung berlari lagi ke arah hutan yang gelap di hadapannya tanpa alas kaki, meninggalkan mansion Sacronecro famiglia yang berdiri kokoh di belakangnya. Ia tidak mempedulikan dinginnya salju, serta sisa-sisa bebatuan dan semak berduri yang menusuk-nusuk kakinya, ranting yang menggores kulitnya, dinginnya udara yang menusuk tulangnya, maupun luka-luka pemberian Svein.
Yuuya menoleh ke belakang, melihat ke arah pengejarnya. Ia memang menjauh dari mansion itu, namun Q-Ra, disertai beberapa orang berjas hitam bertampang sangar mengejarnya dari belakang. Ia kembali memfokuskan sisa kesadarannya ke arah pelariannya. Beberapa kali ia tersandung dan segera bangkit kembali. Berlari mengikuti Arashi, menjauh dari mereka.
Nafasnya mulai tersengal-sengal. Staminanya hampir habis. Kepalanya serasa diremas-remas. Keringat dingin bercucuran. Keinginan untuk mati kembali menghampirinya. Melepaskan diri dari keadaan mencekam yang menghantui dirinya, ia segera menyingkirkan pikiran itu. Ia bukan orang lemah. Ia akan tetap bertahan sampai titik darah penghabisan. Ia kembali memaksa matanya untuk fokus.
Sesuatu yang berkilat melesat cepat dari depan ke arahnya. Secara reflex ia menjatuhkan dirinya dan bergulung ke depan. Benda itu melesat melewati kepalanya, diikuti beberapa benda yang tidak jauh berbeda. Benda-benda itu menghantam para pengejarnya dengan suara keras. Mereka berteriak kesakitan. Q-Ra memekik tertahan. Ia berhasil menghindari benturan langsung dengan benda itu, hanya meninggalkan sedikit goresan di lengan kanannya.
"Sial! Apa itu?!" mata Q-Ra bergerak-gerak liar. Mencari penyerangnya.
Yuuya berjongkok, bangkit setelah berguling beberapa kali karena menghindari serangan itu. Ia mencoba mencerna apa yang terjadi. Pandangan matanya memburam. Semua menjadi tampak samar-samar. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap pandangannya menjadi jelas kembali. Kakinya berdenyut-denyut nyeri akibat banyaknya benda tajam yang ia injak untuk sampai ke tempat itu, ditambah juga luka-luka di tubuhnya dan dinginnya salju yang membuat rasa sakitnyanya semakin menggila. Ia segera kembali berdiri ketika tatapan ganas Q-Ra kembali menusuknya. Kakinya kembali menjerit sakit. Ia berdiri limbung, berjalan mundur perlahan, mengambil ancang-ancang untuk kembali berlari jika sosok berambut merah itu mengejarnya lagi. Langkahnya terhenti ketika punggungnya menabrak sesuatu. Seseorang. Rasa takut kembali menghampiri dirinya ketika ia merasakan sebuah tangan memegang pundaknya. Ia menoleh dengan cepat ke belakang.
"K…Kyouya…" bibirnya bergetar. Rasa lega menghampiri gadis kecil itu. Ketegangan di wajahnya yang semakin pucat mengendur. Namun, ia merasakan kejanggalan dari orang yang berdiri di belakangnya itu. Dia bukan Kyouya yang ia kenal. Kyouya yang ini tampak jauh lebih tua. Rambutnya lebih cepak dan berantakan. Tubuhnya jauh lebih tinggi. Dia mengenakan setelan jas dan celana hitam dengan kemeja ungu gelap di baliknya.
"Bukan. Kau… Siapa? Yuuya belum pernah melihat Kyouya dari masa 10 tahun yang akan datang. Ia melangkah menjauh dari sosok yang mirip kakaknya yang ia kenal itu. Tiba-tiba tenaganya seakan menghilang. Tubuhnya lemas. Ia pasti sudah terjatuh dan membenturkan kepalanya di atas batu kalau tangan besar Kyouya tidak menangkap tubuh mungilnya itu. Ia masih punya tenaga untuk menggenggam ring dan box di tangan kanannya dan menarik lengan jas Kyouya yang menahan tubuhnya dengan tangan kirinya. Meski sudah hampir kehabisan tenaga, ia masih menolak untuk menyerah. Benar-benar tipikal seorang Hibari.
Kyouya menghela nafas dan mendorong tubuh mungil Yuuya, menyandarkannya ke sebatang pohon besar yang ada di dekat sana. Ia mengelus rambut hitam Yuuya yang bertabur salju. Sentuhan tangan Kyouya di kepalanyanya membuatnya merasa tenang, aman, dan terlindungi. Ia menyerah pada jeritan tubuhnya dan membiarkan kesadaran yang ia pertahankan selama ini melayang. Matanya perlahan terpejam. Rasa sakit yang sedari tadi mendera perlahan menguap. Kyouya mendaratkan sebuah ciuman lembut di puncak kepalanya. Membelai rambut hitamnya yang bertabur salju sekali lagi. Ia membiarkan Yuuya terpejam di sana. Dia ingin segera mengkamikorosu Q-Ra yang telah membuat Yuuya seperti itu.
Q-Ra yang sedari tadi sudah bersiap-siap untuk bertarung dengan Kyouya mundur selangkah. Mengantisipasi serangan dari guardian terkuat Vongola itu. Apalagi sosoknya yang sangat ia kenal membuatnya berpikir dua kali untuk tidak berhati-hati. Jika yang muncul bukan Hibari Kyouya dari masa sepuluh tahun yang akan datang mungkin dia masih belum harus mengeluarkan seluruh kekuatannya. Namun, berbeda lagi ceritanya jika yang ia lawan Hibari Kyouya dari masa sepuluh tahun yang akan datang. Ia tidak yakin bisa memenangkan pertarungan ini.
Kyouya baru saja akan maju untuk mengkamikorosu Q-Ra ketika tiba-tiba saja Mukuro sepuluh tahun kemudian menahan bahunya dan menggeleng pelan ketika Kyouya menoleh ke arahnya. "Misi kita sudah selesai Kyouya. Lagipula sepertinya si Skylark kecil di sana sudah tidak kuat lagi jika harus menunggumu bertarung." Mukuro menggoyangkan kepalanya ke arah Yuuya, menunjuk ke arah gadis itu. Kyouya berpikir sejenak. Kemudian ia menurunkan tonfanya dan berjalan ke arah Yuuya. Ia membopongnya dengan lembut. Dan berjalan menjauh menuju kegelapan. Mukuro mendatangkan kabut tebal yang tak tertembus bahkan oleh kemampuan illusionis sekelas Q-Ra. Kabut itu menyamarkan arah kepergian mereka. Q-Ra dan anak buahnya hanya bisa terdiam melihat kedua orang itu membawa Yuuya dan box silver Vongola Settimo bersamanya.
-xXx-
"Di mana Tsunayoshi dan herbivore-herbivore lainnya?"
"Mereka sedang mempersiapkan base-camp kita"
"…"
"Oya, oya, kau masih marah karena Q-Ra dan Svein berhasil membuat Yuuya-chan seperti itu? Dasar sister complex" goda Mukuro sambil tersenyum jahil. Kyouya mengirimkan death glare ke arahnya. Death glare itu disambut dengan tawa pelan khas Mukuro.
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara helicopter. Tak lama mereka berjalan, sampailah mereka di sebuah tanah lapang dimana sebuah helikopter berwarna hitam mendarat. Kusakabe Tetsuya terlihat di sana
"Jemputan kita sudah datang. Ayo kita kembali, Kyouya-kun!"
.
-to be continued-
