Tittle : GONE

Casts: Suho/ Kim Joonmyeon

Kris/ Wu Yi Fan

Luhan/ Wu Luhan

Baekhyun/ Wu Baekhyun

Tao/ Wu Zitao

Zhang Yixing

Akan bertambah sesuai kebutuhan (?)

Genre : Drama, family, Hurt/Comfort, GenderSwitch (GS) for Suho

Rate : T

Disclaimer : Mereka semua punya Tuhan, dan cerita ini punya saya.

Recomended song: – M.O.M

I don't know if this song fits with the story or not, but I listened to this song a lot while writing this chapter, well I'm kinda missing our baby panda.

-Happy Reading-

Previous Chapter

"Aku ingin menuntut hak asuh anak."

"Apa apaan ini Yifan?!"

"Perusahaan ayahku di Cina sangat membutuhkanku, aku tak bisa terus tinggal di Korea Joonmyeon-ah."

"Tidak Yifan! Kau tidak bisa mengatur-ngatur masa depan mereka Yifan, kau tidak berhak atas mereka."

"Aku sungguh tak ingin melakukan ini Joonmyeon-ah, tapi aku harus, kita akan berjumpa di pengadilan."

"Yeoboseyo."

.

.

.

"Yeoboseyo."

"Selamat malam, dengan kediaman Park Daekwang, ada yang bisa saya bantu?"

"Maaf malam-malam mengganggu, saya Kim Joonmyeon, client pengacara Park, bisakah saya bicara dengan beliau sekarang?" Suho mengigit bibirnya, menunggu jawaban wanita di ujung telepon.

"Maaf Nyonya, tapi saat ini Tuan Park Daekwang sedang berlibur di Eropa, dan beliau sedang tidak ingin diganggu."

Suho memejamkan matanya sejenak, "Lalu kapan beliau akan kembali?"

"Maaf saya kurang mengetahuinya nyonya."

Kali ini Suho mengigit kukunya, pikirannya kacau saat ini, ia tak bisa berpikir lurus, pengacara Park adalah pengacara kepercayaannya, Suho berharap ia bisa memenangkan anak-anak melalui pengacaranya itu. Cukup lama saluran telepon tersebut hening, hingga nafas halus wanita penerima telepon di ujung sana dapat terdengar jelas.

"Maaf Nyonya, jika ini masalah pekerjaan, Anda bisa datang ke kantor pengacara besok, Anda bisa menanyakannya langsung kepada asisten beliau atau Tuan Muda Park yang juga seorang pengacara."

"Begitukah? Baiklah, terima kasih."

"Sama sama Nyonya."

Tut tut tut...

Suho menutup sambungan telepon tersebut. Wanita itu jatuh terduduk di kursi, membenamkan kepalanya diantara dua tangannya. Suho tak tahu harus berbuat apalagi sekarang, bisakah ia memengkan anak-anaknya di pengadilan nanti? Bisakah pengganti Tuan Park membuatnya menang?

Suho memejamkan matanya erat, menghapus bayangan dirinya tanpa anak-anaknya nanti, hanya membayangkannya saja sudah membuat air matanya menetes deras. Selama ini hanya merekalah yang membuat Suho hidup dengan baik, sejak awal pernikahannya, saat Kris memperlakukannya secara dingin, saat orangtua mereka terus mendesak untuk memiliki cucu. Masih lekat dalam ingatan Suho bagaimana Kris menyetubuhinya tanpa cinta, Kris memang tidak kasar, pria itu mempemperlakukan Suho selayaknya wanita pada umumnya, tidak spesial tidak pula secara buruk.

Sempat Suho berpikir apa ia terlalu egois menginginkan anak-anaknya hanya untuk dirinya sendiri. Bagaimanapun juga Kris tetap ayah mereka, Kris berhak atas putra-putranya. Suho tahu alasan Kris ingin membawa salah satu mereka, sejak awal bukankah ini tujuan mereka menikah, memperoleh penerus perusahaan.

Tapi putranya bukan mesin pencetak uang, putranya ia besarkan dengan penuh cinta, mereka berhak atas masa depan mereka sendiri, tidak ada yang berhak mengganggu, sekalipun itu ayah mereka sendiri.

.

.

.

Kris memasuki apartemennya dengan lunglai, pria itu langsung menuju ke kamar mandi, air hangat mungkin akan sangat membantu. Kegelisahan benar-benar menggelayuti hati dan pikirannya, bahkan di kamar mandi pun bebannya tak bisa hanyut luruh bersama air hangat yang jatuh dari shower. Kris tersenyum pahit, mentertawakan pikirannya, bagaimana bisa air hangat membawa bebannya pergi masuk ke saluran air, dan hilang di laut pasifik.

Duda ber-anak tiga itu berdiri di depan lemari pakaian, membuka dan menutup pintunya, memilih pakaian apa yang akan ia pakai, walau hanya akan berdiam diri di rumah, Kris adalah orang yang perfeksionis, ia bahkan memakai pakaian sesuai dengan moodnya. Pilihannya jatuh pada sweater rajut abu-abu bergaris hitam.

Dahinya mengernyit saat menyadari tidak ada pakaian Yixing di lemari mereka, Kris membuka seluruh pintu lemari tersebut, matanya mebola, pakaian Yixing benar-benar raib tak berbekas. Dengan gerakan cepat Kris memakai sweater yang ia pilih, ia segera berlari ke ruang tamu, matanya menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Seperti orang kesurupan Kris berlari menuju dapur, nihil, tak ada Yixing disana.

Mata tajam Kris menangkap amplop berwarna coklat di atas meja makan. Pikiran pikiran buruk mulai menyerang, bagiamana jika? Bagaimana jika? Dengan perasaan campur aduk ia membuka amplop tersebut, tulisan tangan Yixing tersusun rapi di kertas putih tersebut.

Yifan,

Maaf aku harus kembali ke Cina, ini kekanakan memang tapi aku butuh menenangkan pikiranku. Jujur aku kecewa atas sikapmu yang menyembunyikan tentang pernihakan pertamamu. Aku tidak membencimu karena kau adalah seorang duda, aku hanya tidak terima kau memulai hubungan kita dengan kebohongan.

Kau tahu, aku merasa jadi wanita yang jahat karena hadir diantara pernikahanmu dan Kim Joonmyeon. Kita bertemu sebelum kau resmi menikah dengan Joonmyeon, dan itulah yang selalu mengganggu pikiranku. Maaf Yifan, aku akan memikirkan kembali lamaranmu waktu itu, aku butuh ketenangan saat ini.

Sekali lagi maaf aku tak bisa berpamitan denganmu secara langsung, aku tak ingin kau menggoyahkan keputusanku ini. Aku tak bisa berjanji aku akan menerima lamaranmu Yifan , karena itu bersama surat ini aku kembalikan cincin pemberianmu.

Terima kasih Yifan karena telah mencintaiku, terima kasih karena telah mengorbankan banyak hal demi cintamu padaku, aku menghargainya. Aku mencintaimu Yifan, aku pernah mencintaimu, dan mungkin akan terus mencintaimu.

With love,

Yixing

Kris membaca barisan tulisan hanja tersebut terus- menerus, seolah ada yang masih terlewat disana. Tapi berapa kalipun ia membacanya tak ada yang berubah, kenyataannya Yixing sudah tak ada lagi di apartemen mereka ini, mungkin sudah di bandara, mungkin masih di dalam pesawat menuju Cina, mungkin juga sudah berada di Cina.

Tangannya merogoh saku celana mencoba meraih ponselnya. Kris men-dial nomor yang sudah sangat dia hapal, berharap wanita di ujung sana mengangkat panggilannya.

'Nomor yang Anda tuju se-'

"Shit!"

Kris mendudukkan diri di kursi makan, jarinya kembali bergerak di atas layar ponselnya, mencoba kembali peruntungangannya memanggil nomor yang sama. Dan suara operator wanita lagi-lagi menyahut di ujung sana. Pria itu mengepalkan tangannya, memukul meja makan membuat amplop yang berada di ujung meja jatuh ke lantai.

Cincin yang tempo hari ia berikan pada Yixing menggelinding keluar dari amplop tersebut, menimbulkan suara nyaring yang memenuhi ruangan. Suara yang Kris anggap sebagai melodi kematiannya, melodi itu terus mengalun seolah mengolok-olok dirinya dan segala tindakan bodohnya. Kris tak tahu kapan cincin itu berhenti menggelinding, saat ia tersadar dari pemikiran rumitnya ruang makan itu sudah senyap.

Kris mengusap wajahnya kasar, kedua tangannya mengepal. Hati dan pikirannya dalam keadaan yang tidak baik saat ini. Perasaan bersalah mendominasi dirinya, tak pernah ia berniat ingin memisahkan anak-anaknya dari Suho, setelah apa yang ia lakukan ia tahu dimana posisinya sekarang, ia tak ingin menjadi egois tapi keadaan sungguh memaksanya.

Jika ia tidak melakukan ini, perusahaan yang telah ayahnya bangun dengan susah payahlah yang akan menjadi taruhannya. Pamannya bahkan sudah bersekutu dengan beberapa pemegang saham untuk menyerangnya dalam rapat pemegang saham, menyebar rumor tentang ketidakbecusannya, bahkan mempersulit pekerjaannya di perusahaan. Saham Kris memang tak lebih dari 50%, meski sudah digabungkan dengan saham peninggalan ayahnya belum bisa mencapai 50%.

Satu satunya cara adalah dengan memperoleh simpati dari pemegang saham lainnya. Oleh karena itu dari sekarang ia harus mempersiapkan salah satu dari putranya untuk menjadi pengurus perusahaan yang kompeten, ia akan mengesankan para pemegang saham dengan kinerja putranya nanti. Dengan begitu putranya dapat dipercayai untuk memperoleh jabatan tertinggi di perusahaan, karena ia tak mungkin membiarkan orang lain yang merebut posisi itu. Anggaplah Kris egois, tapi itulah yang diamanatkan ayahnya dulu, menikahi putri salah satu pengusaha besar Korea untuk memperluas ekspansi, dan memperoleh keturunan sesegera mungkin agar lebih matang untuk memimpin perusahaan.

Kris tertawa getir, kenapa hidupnya penuh dengan drama? Keluarganya, kehidupan cintanya, kenapa berakhir seperti ini? apa ia ditakdirkan untuk terasingkan dari dunia. Saat ia memilih cinta sejatinya, ia mengorbankan keluarganya. Jika ia memilih keluarganya, hatinya terus memberontak dan berkhianat, menginginkan cinta wanita lain, cinta pertamanya. Hidup itu pilihan, mungkinkah ia salah memilih?

.

.

.

Pagi ini setelah mengantarkan Tao ke sekolah, Suho segera bergegas menuju kantor pengacara. Kantung hitam di bawah matanya terlihat jelas, semalaman kemarin Suho tak bisa tidur, terus saja ia memikirkan bagaimana cara memenangkan hak asuh anak-anaknya, hah... wanita itu tak pernah seambisius ini sebelumnya.

Hak sepatu Suho menimbulkan suara khas saat ia berjalan di atas lantai marmer, dengan dagu terangkat dan langkah teratur, menunjukkan betapa percaya dirinya ia. Dilahirkan dalam keluarga kaya raya ia terbiasa bersikap percaya diri, bahkan terkesan angkuh. Tapi Suho tahu benar cara menempatkan sikap, ia lebih suka bersikap sederhana, menanggalkan segala gelar yang disadari atau tidak melekat pada dirinya. Itu juga alasan Suho tidak tinggal di rumah utama setelah menikah, memilih tinggal di rumah sederhana, mencegah putra-putranya tumbuh menjadi manja, angkuh, dan suka berfoya-foya.

"Permisi, saya adalah client pengacara Park Daekwang, bisakah saya bertemu dengan salah satu perwakilannya?" Suho tersenyum pada wanita muda dalam balutan blazer hitam di meja resepsionis.

"Kebetulan pengacara yang akan menggantikan pengacara Park baru saja tiba, silahkan masuk nyonya, beliau ada di dalam." wanita muda itu balas tersenyum.

Suho mengangguk, lau berjalan melewati lorong menuju sebuah pintu berwarna coklat muda, mengetuknya sebanyak tiga kali sebelum akhirnya membuka kenop berbahan metal. Rapi, kesan pertama saat memasuki ruangan tersebut. Perpaduan antara desain minimalis dan klasik, perpaduan yang balance, tidak monoton, malah terasa sangat nyaman.

"Oh, Joonmyeon noona?" suara berat itu menyadarkan Suho, matanya menoleh pada pria muda yang sudah berdiri dari kursi kebesarannnya.

"Ah, anyeonghaseyo." Suho menunduk, sesaat kemudian keningnya berkerut.

'Sepertinya aku pernah bertemu pria ini, tapi dimana? Tunggu, tadi bagaimana dia mengetahui namaku?'

"Tidak usah terlalu formal, silahkan duduk noona." Pengacara muda menunjuk sofa yang berada di tengah ruangan. Suho duduk berhadapan dengan pria tersebut, keningnya masih berkerut dalam.

"Maaf, tapi apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Suho memutuskan untuk segera mengakhiri rasa penasarannya.

"Aih, bagaimana kau bisa melupakan pria tampan ini, aku teman Siwon hyung, kau ingat? Kita pernah bertemu di taman waktu itu."

Suho mencoba menggali ingatannya, matanya membulat saat ia megingat pria ini, "Aaaa, Park Chanyeol?"

Chanyeol hanya tersenyum, menunjukkan deretan gigi rapinya.

"Iya, aku putra Park Daekwang, aku yang akan menggantikan appa. Jadi apa yang bisa kubantu? "

"Itu," Suho mengigit bibirnya "tapi bisakah kau tidak mengatakan ini pada Siwon oppa?"

Kali ini kening Chanyeol yang berkerut dalam.

"Aku- " Suho menarik nafas pelan, "Jangan katakan jika aku sudah bercerai dengan suamiku, setidaknya jangan sekarang."

"Kau tak perlu khawatir tentang itu, Siwon hyung dan ayahmu sudah mengetahui tentang perceraian noona, dan dia memutuskan untuk tidak ikut campur, karena ini adalah keputusan kalian." Chanyeol tersenyum meyakinkan, mencoba menenangkan wanita di hadapannya ini.

"Begitukah? Bagaimana- "

"Apa menurutmu ayahku tak mengenal keluargamu?" Chanyeol tertawa kecil, "kau pasti sangat sibuk mengurus anak-anakmu, aku yakin kau tak pernah mengikuti acara di perusahaan ayahmu, kau bahkan tak mengetahui bagaimana dekatnya ayahmu dan ayahku."

Suho menunduk menggaruk bagian belakang lehernya, acara-acara seperti itu bukan gayanya, dan Suho beruntung karena ia selalu bisa menjadikan anak-anak untuk mengikuti acara semacam itu, karena bagi Suho menghabiskan waktu bersama anak-anak lebih menyenangkan, lagipula sejak awal Suho tak pernah tertarik pada perusahaan.

"Ehem, jadi apa kali ini masih ada hubungannya dengan mantan suamimu?" Chanyeol menyatukan jemari kedua tangannya, menatap Suho serius.

"Mantan suamiku, dia ingin menuntut atas hak asuh anak, suamiku akan kembali ke Cina dia ingin membawa salah satu dari anak-anak, aku tak ingin berpisah dengan mereka, meski hanya salah satu, bisakah kau membuatku menang di pengadilan?" Suho berkata penuh harap, matanya menunjukkan bagaimana kesungguhan hatinya.

Chanyeol saling mengetukkan jari telunjuknya, jelas sekali ia sedang berpikir. Tak lama kemudian ia berdiri, berjalan menuju rak besar di samping meja kerjanya, mengambil salah satu map berwarna hijau muda degan judul "Kasus perceraian Kim Joonmyeon-Wu Yifan". Setelah kembali duduk di hadapan Suho pengacara muda itu mebolak balik lembar demi lembar kertas di dalamnya.

"Mantan suamimu tak menuntut hak asuh pada sidang perceraian kalian, lalu apa motif Tuan Wu Yifan ini tiba tiba menuntut hak asuh anak?" Chanyeol mengalihkan pandangannya dari berkas tersebut, menatap Joonmyeon.

"Masalah penerus perusahaan, ia mengatakan akan mempersiapkan salah satu dari mereka untuk menjadi pewaris perusahaan."

"Hmm, jika seperti itu kemungkinan besar Wu Yifan akan menuntut hak asuh atas Wu Luhan, karena Wu Zitao masih harus berada dalam pengasuhan noona, sedangkan Wu Baekhyun belum matang untuk menjadi pewaris perusahaan."

Mendengar penjelasan Chanyeol, Suho menggigit bibirnya. Luhan adalah anak sulung, dia memang berhak untuk mewarisi perusahaan kakeknya. Tapi setidaknya Suho dapat merasa tenang karena sama seperti dirinya Luhan tak pernah tertarik pada perusahaan. Sulit untuk membuat Luhan meninggalkan impiannya sebagai pemain bola.

Tapi bagaimana jika Luhan tiba-tiba berubah pikiran, bagaimana jika Luhan menginginkan untuk menjadi pewaris perusahaan dan ikut bersama Kris ke Cina. Tidak mungkin, Suho sangat memahami putra sulungnya itu. Tapi bagaimana jika Kris menang di pengadilan nanti dan membawa Luhan? Bagaimana jika pria itu akan menghalanginya untuk bertemu Luhan?

Suho menumpukan keningnya pada kedua telapak tangannya. Masih terus mengigit-gigit bibirnya, pikiran buruk kembali menenggelamkan dirinya. Sudah beberapa kali Suho menghembuskan nafas frustasi.

"Noona." Suara berat Chanyeol menyadarkan Suho dari pemikirannya.

Chanyeol tersenyum simpatik, "Sebaiknya noona pulang dan beristirahat, kau tampak sangat tertekan, aku akan berusaha memenangkan ini di pengadilan, aku akan bertemu dengan pengacara dari Tuan Wu Yifan dan membahas ini, aku akan melakukan semua yang kubisa noona."

"Terima kasih Chanyeol." Suho tersenyum tipis, senyuman yang tak sampai ke matanya, hanya bibirnya saja yang tersenyum.

Suho merogoh tas tangannya saat merasakan ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk.

From : Yifan

Temui aku di cafe XOXO.

Suho mendengus, 'apa lagi yang pria ini inginkan?'

"Sekali lagi terima kasih Chanyeol, maaf, aku harus pergi sekarang." Suho berdiri dari duduknya.

"Sama-sama noona, aku senang bisa membantumu."

.

.

.

"Ada apa Yifan? apa yang kau inginkan?" Suho langsung menatap Kris dingin, ia bahkan tak berniat untuk melakukan basa-basi.

"Joonmyeon-ah, tak bisakah kau mengizinkan salah satu dari anak-anak untuk tinggal bersamaku di Cina?" Kris menatap Suho sendu.

"Untuk apa? Untuk kau jadikan mesin pencetak uang?"

Kris terdiam, mesin pencetak uang? perumpamaan itu terlalu kasar. Tapi bukankah itu benar, alasan utamanya menuntut hak asuh adalah demi perusahaan, demi uang, demi pamor dan kedudukan. Apakah ia sebegitu tak punya hatikah? Membiarkan putranya menjadi budak keserakahannya.

"Dengar Yifan, tak satupun dari mereka menyukai kehidupan semacam itu, tidak Luhan, Baekhyun, ataupun Tao. Mereka punya impian mereka sendiri, ah ya, kau kan tak pernah tahu itu." Kali ini Suho tersenyum sinis.

Tak pernah Suho bersikap sekasar ini pada orang lain, dan ini membuktikan bahwa ia benar-benar muak dengan Kris. Dulu Kris boleh saja bermain-main dengan hati dan perasaanya, tapi kalau menyangkut ketiga putranya Suho tak bisa tinggal diam, cukup sudah sakit yang mereka alami.

"Apakah aku tak berhak atas anak-anakku Joonmyeon? Terlepas dari urusan perusahaan, aku juga ingin bersama dengan mereka, aku ayah mereka Joonmyeon aku juga ingin merasakan kasih sayang mereka." Kris tak pernah menjatuhkan harga dirinya serendah ini, dan demi hak asuh anaknya ia sudah seperti pria yang tak punya harga diri di depan Suho.

"Sekarang katakan siapa yang egois?! Demi kebahagiaanmu sendiri, kau akan memisahkan mereka dari saudaranya, kau akan memisahkan mereka dari ibunya, setelah kau menceraikanku demi wanita lain dan pergi meninggalkan mereka, kau bahkan membiarkan Tao mengejarmu, kau sama sekali tak menoleh, setelah itu semua kau dengan tidak tahu malu mengemis kasih sayang mereka, kau gila Yifan!" air mata Suho tak bisa dibendung lagi, ia marah, kesal, kecewa. Perasaannya menumpuk, bercampur aduk, menimbulkan gejolak dalam jiwanya.

Kris diam tak mampu berbicara, hiruk pikuk cafe menggema di telinganya, kata-kata Suho menamparnya sangat keras, ia mati rasa. Bagai film tua ingatannya memutar kenangan-kenangan masa lalu, saat pertama kali ia melihat wajah Suho di altar pernikahan mereka, saat putra pertama mereka lahir, hingga saat ia meninggalkan keluarganya, melaju dengan mobilnya membiarkan putra bungsu kesayangannya meraung. Apakah ia benar-benar tak punya hati? Ia pasti sudah gila. Kris mengepalkan tangannya, muak dengan dirinya sendiri.

"Maaf Joonmyeon-ah." Kris menatap air mata Suho yang terus mengalir, melihat itu perasaan bersalah Kris semakin menumpuk.

"Aku tahu maaf tak cukup untuk mengobati semua sakit hatimu, tapi aku berjanji akan melakukan apapun untuk mendapat maafmu Joonmyeon." Kali ini Suho balik menatap Kris, bibirnya bergetar.

"Jangan lakukan apapun, jangan mengganggu keluargaku lagi." Suho menatap Kris sinis.

"Joonmyeon-"

"Cukup Yifan, Kita akan bertemu di pengadilan." Wanita itu berlalu, meninggalkan Kris yang kembali menelan perkataannya.

Kris memejamkan matanya erat, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Kepalan tangan itu terus memukul-mukul meja kayu di depannya, berharap bisa melepaskan bebannya disana. Seolah memukul kesal dan penyesalan, Kris mempercepat tempo dan kekuatan pukulannya.

"AAARRRGHH!" pukulan kali ini sangat keras hingga dapat menjatuhkan cangkir americano yang sama sekali belum ia sentuh.

.

.

.

Seminggu setelahnya Suho kembali bertemu dengan Park Chanyeol, pengacaranya. Kali ini Suho kembali mengunjungi pengacara muda itu di kantornya, Suho cukup tahu diri dengan siapa dia berurusan, putra pengacara kenamaan seantero Korea Selatan yang tak kalah berbakat dibandingkan dengan ayahnya. Orang-orang seperti Chanyeol tentu saja sangat sibuk, dan Suho sebagai client sangat paham itu dan memilih untuk mengunjungi Chanyeol di kantornya, lagipula hari ini ia tidak ada jadwa mengajar.

"Silahkan duduk noona." Chanyeol tersenyum, pria ini sangat baik dan ramah.

"Terima kasih."

Chanyeol duduk di hadapan Suho, meletakkan beberapa map yang baru saja ia ambil dari meja kerjanya. Jemari panjangnya membuka map-map tersebut, menulusuri kalimat-kalimat yang tercetak disana.

"Aku sudah bertemu dengan pengacara Tuan Wu Yifan, aku juga sudah mempelajarinya noona, menurutku ini akan sedikit sulit," Chanyeol melirik Suho, melihat wanita itu menahan nafasnya.

"Tuan Wu Yifan tak punya catatan kriminal, bahkan tidak pernah melanggar peraturan lalulintas, apalagi catatan kekerasan di kepolisian, beliau berkecukupan dan mampu sangat mampu malah untuk membiayai kehidupan dan pendidikan putramu, satu-satunya cara untuk melawannya adalah dengan alasan eksploitasi dan tekanan terhadap anak," Suho mengerutkan keningnya dalam, tak begitu mengerti maksud kalimat Chanyeol barusan.

"Begini, alasan Tuan Wu Yifan menuntut hak asuh untuk meneruskan kepengurusan perusahaan, ini bisa diartikan sebagai eksploitasi dan memberikan tekanan terhadap anak karena putra noona bisa saja tak menyukainya," Chanyeol mengetukkan ujung penanya di atas map.

"Aku rasa anak-anakku tak pernah tertarik pada perusahaan, Luhan selalu terobsesi menjadi pemain bola, Baekhyun selalu ingin menjadi penyanyi, Tao, anak itu bahkan terlalu polos untuk mengetahui apa itu perusahaan." Suho tersenyum membayangkan ketiga putra sumber kehidupannya.

"Tapi jika Wu Yifan menginginkan hak asuh atas Luhan sebagai putra pertama, aku tak bisa berbuat banyak, Luhan sudah dewasa untuk membuat keputusannya sendiri, jika Luhan setuju untuk tinggal bersama ayahnya di Cina kita tak bisa berbuat apa-apa noona." Chanyeol menunjukkan tatapan menyesal.

Suho mengangguk, memandang jari-jemari lentiknya, kukunya yang hanya dipoles cat kuku bening berkilau terkena cahaya lampu ruangan kerja Chanyeol. Suho terus memandang jari manisnya, disana dulu cincin pernikahan mereka melingkar indah, kala itu Suho begitu memuja bagaimana cincin perak bermata berlian itu begitu pas di jarinya. Kini cincin itu sudah ia lepas bersama dengan rasa cintanya pada Kris, tak ada lagi cinta untuk Kris, yang ada kini hanya rasa benci yang kian mencekik leher.

"Baiklah, aku mengerti," Suho menelan ludahnya kasar, ia mendongak menatapa Chanyeol, "kita sudah melakukan yang terbaik, jika memang seperti itu, aku akan mendukung setiap keputusan Luhan nantinya." Air matanya sudah siap jatuh kapan saja.

'Bisakah aku menerima jika nanti putraku tinggal bersama Yifan?'

'Bisakah aku merelakannya?'

"Ehem, Noona," Suho kembali menatap Chanyeol,"Maaf sebelumnya, aku tahu ini melanggar kode etik profesi, tapi aku memberitahu Siwon Hyung tentang tuntutan hak asuh Wu Yifan."

Suho menatap Chanyeol dalam, "Gwaenchanna, mereka juga berhak mengetahuinya." Wanita itu tersenyum, senyum yang tak mencapai matanya.

Suho sudah tak peduli lagi jika Siwon atau ayahnya mengetahui tentang ini, tak penting lagi rahasia tentang perceraiannya, toh kakak dan ayahnya sudah mengetahui ini. Tak lagi Suho peduli betapa kuatnya ayahnya dan apa yang bisa beliau lakukan pada Kris. Sama seperti dirinya, ayahnya tak pernah membiarkan siapapun menyakiti anak-anaknya.

.

.

.

"Kau tidak ikut?" pemuda dengan pipi chubby itu bertanya sambil merapikan bukunya.

"Tidak, aku sedang tidak mood." Yang ditanya hanya tersenyum.

"Baiklah, kalau kau berubah pikiran kami ada di game center biasa."

Luhan hanya mengangguk saat teman pipi chubbynya, Kim Minseok, menepuk bahunya dan berlari ke luar kelas, menghampiri seseorang yang sudah menunggunya sejak bel pulang sekolah berbunyi. Kim Jongdae, begitu Minseok menyebutnya, murid pindahan dari Busan yang terus menempel pada Minseok sejak hari pertama kedatangannya.

Sambil berjalan keluar kelas, Luhan memikirkan ajakan Minseok ke game center. Dia memang sedang tidak mood untuk bermain sekarang, tapi di sisi lain Luhan juga merasa bersalah karena akhir-akhir ini ia jarang sekali menghabiskan waktu bersama sahabat satu-satunya itu, ia terlalu sibuk dengan urusan keluarganya. Luhan bersyukur karena ada Jongdae sehingga si Baozi itu tidak kesepian.

Luhan tengah sibuk menimbang-nimbang apakah ia akan menyusul Minseok atau tidak saat pemuda tinggi dengan kulit seputih susu berdiri di hadapannya. Luhan menghentikan langkahnya, matanya menatap pemuda yang berdiri sekitar dua meter darinya itu. Lorong tempat mereka berdiri terasa sunyi dan dingin, kedua pemuda itu saling menatap tak ada yang berniat buka suara.

Menikmati kediaman mereka keduanya saling menatap, seolah berbicara melalui pandangan mata. Luhan menghembuskan nafasnya, ini bukan pertama kali sahabat kingka sekolah ini bertindak seperti ini. Belakangan Luhan mengetahui bahwa namanya adalah Oh Sehun, siswa tingkat pertama, anak buah sekaligus teman baik Kai, sang Kingka.

Tatapan yang Sehun berikan saat mereka berpapasan jalan atau Sehun yang dengan sengaja menghadang jalannya, sampai saat ini Luhan tak mengerti apa maksudnya. Dan Luhan pun tak pernah bertanya langsung kepada si Sehun ini. Tatapan itu bukanlah tatapan benci, jijik, atau tatapan intimidasi seperti yang Sehun berikan saat pemuda albino itu menahannya di loker waktu itu. Tatapan itu adalah tatapan kerinduan, tatapan yang seolah memohon padanya, entahlah Luhan tak mengerti.

"Keluarlah melalui gerbang belakang, Kai ada di gerbang utama." Sehun akhirnya bersuara, tidak seperti penampilannya yang terkesan cool suara Sehun terdengar kekanakan di telinga Luhan.

Tak menunggu reaksi Luhan, Sehun sudah berlalu melintasi lorong sunyi itu menuju gerbang utama sekolah. Luhan hanya menatap punggung bidang Sehun tak tahu harus bereaksi seperti, ini pertama kali Sehun berbicara secara langsung padanya. Dan apa itu tadi? Apa pemuda albino itu mencoba untuk melindunginya? Tapi untuk apa?

'Bagaimana jika ia berbohong? Bagaimana jika mereka sudah menunggunya di gerbang belakang? Bukankah situasi ini seperti mendorong mangsa ke dalam jebakan?'

Luhan mengigit bibirnya, mengabaikan segala pemikiran buruknya, Luhan berbalik, melangkah menuju gerbang belakang sekolah. Kali ini ia akan memulai untuk mengerti semua tatapan Sehun selama ini, mulai saat ini ia akan meninggalkan dirinya yang keras dan mencoba memahami orang lain, meski dalam diam. Sehun bagian dari The Bully, bukan berarti dia jahat seutuhnya. Belum tentu orang kita nilai buruk benar-benar buruk, seperti Sehun, atau orang lain yang mungkin ia kenal.

Luhan mengehembuskan nafas lega saat ia berjalan melewati gerbang belakang Sekolah dan tak ada Kai disana, Sehun tak berbohong, mulai saat ini ia akan mempercayai Sehun. Luhan tersenyum, tanpa disadari Sehun membuat Luhan mengubah caranya memandang dunia, sikap Sehun mengubah pandangannya terhadap orang lain.

.

.

.

'Pamanmu sudah memulai aksinya, mengaccak-acak kebijakan perusahaan, dia sudah mendapat dukungan penuh dari beberapa pemegang saham utama Yifan.'

'Kita tak bisa membiarkan pamanmu terus berada di atas angin Yifan, pamanmu bertingkah seolah ia yang memimpin perusahaan selama kau tak ada, kau tahu aku tak bisa mengatasi ini sendiri, kau harus segera pulang dan mengurus ini semua.'

'Dan juga, mengenai pewaris perusahaan, pikirkan itu juga Yifan, mereka mulai menanyakan hal itu.'

Kris mengeratkan pegangannya pada stir, kata-kata asistennya – Henry – terus terngiang di telinganya. Mata Kris fokus pada jalanan di depan tapi tidak dengan pikirannya, terlalu banyak hal yang menganggu, belum selesai masalahnya dengan Suho dan kini sang paman ikut memperkeruh keadaan. Tak mungkin ia kembali ke Cina jika masalahnya di Korea belum selesai sepenuhnya, dan kalimat terakhir Henry yang paling membebaninya, pewaris perusahaan.

Setelah pertemuannya dengan Suho terakhir kali ia mulai memikirkan untuk melepas hak asuh anak-anaknya pada Suho seutuhnya. Kris tak ingin menghancurkan mimpi-mimpi mereka, Kris juga cukup tahu diri untuk tidak memisahkan putranya dengan ibu atau saudara-saudaranya. Tapi keputusannya goyah saat Henry menghubunginya. Tak mungkin ia melanggar kepercayaan ayahnya, perusahaan tersebut adalah amanat ayahnya,hasil keringat dan kerja keras ayahnya selama bertahun-tahun. Bukankah ini seperti memakan buah simalakama?

Mata elang Kris menangkap sosok yang sangat ia kenal berjalan di trotoar, matanya menyipit untuk memastikan. Kris menepi, mematikan mesin mobilnya dan berjalan menghampiri sosok tersebut.

"Luhan!"

.

.

.

To Be Continued...

.

.

Wow! Fast update?

What do you think guys about this chapter?

Akhirnya bisa juga memuaskan para reader, well sebenernya kunci dari semua itu memulai, jadi ceritanya saya lagi mood banget buat nulis nih, dan bagian yang paling sulit sebenarnya itu adalah memulai. Selama ini saya gak pernah update, karena saya gak pernah mulai buat nulis lagi. Jadi buat kita semua, terutama saya, jangan suka menunda-nunda pekerjaan, mulai aja dulu, sisanya bakal ngikutin arus. The most important step is start something. Apa banget sih authornya malah ceramah =_=

Oke mengenai Chapter ini apa Cuma saya aja yang ngerasa orang tua berdua itu (Kris and Suho) egois banget? Kalian ngerasa gitu juga gak sih? *Elah kan lu yang nulis thor =_=

Btw, thanks banget buat para reader yang masih ngedukung ff ini buat lanjut, thanks buat yang udah suport selama ini, kata kata kalian di kotak review saya baca semua, dan saya terhura, sekali lagi terima kasih buat yang udah baca ff ini dan sempetin review. EXO SARANGHAJA!

Don't forget to leave your review below ^^

EXO WE ARE ONE!

EXO SARANGHAJA!

.

.

Big Thanks to:

Guest – ruixi1 – SyiSehun – KrisHOOO – Park so eun – yunsung – masih hunhan – zahra – 1313 – candymyeon – Rilah safitri – HamsterXiumin – Pinker61 – Raemyoon – Suhocang – Chenma – PikaaChuu – hannik2206 – yesbyunbakhee12 – NajmaRosya3027 – Baby niz 137 – jimae407203 – hunexohan – BLUEFIRE0805 – sayakanoicinoe – BunnyJoon – AkaSunaSparKyu – tokisaki – whirlwind27 – Nadhefuji – poe chaerin – Moku-chan – Soororo -