Benda tajam itu kelihatan jelas di bawah cahaya lampu yang redup, menunjukkan bahaya yang mungkin akan mendatang. Pikiran pemuda tersebut berkecamuk bagaikan ombak-ombak di pantai yang tiada tenangnya, manik coklatnya terbelalak menatap wanita yang menghalangi salah satu jalan keluar dari ruangan ini.

Dengan panik, dia mencoba mencari jalan keluar, angin dingin berhembus dari jendela tua di kamar tersebut, suara burung-burung yang bersarang di atap rumah terdengar mengerikan, makin lagi jikalau ada burung hantu di depan jendela, menatapinya dengan mata bagaikan ruby yang terbuka lebar.

Siswa itu menuruni ranjang yang harus ia akui empuk, bulu kuduknya berdiri pada saat burung hantu di jendela mulai mematukkan paruhnya ke kaca yang menghalangi hewan nocturnal itu. Hanya sedikit sinar matahari yang terlihat di luar, ditutupi oleh awan bagaikan permen kapas berwarna abu-abu. Melihat burung hantu itu bergerak, ini membuat dia berpikir mengapa hewan itu tidak tidur.

Tanpa berpikir dua kali, ia membuka lebar jendela itu dengan sedikit paksaan, membuat burung hantu itu terbang menjauhi dan bertengger di pohon beringin yang ditutupi oleh akar-akar yang bergantungan. Sebelum dia bisa buat apa-apa lagi, sepasang sarung tangan menutupi mulut dan hidungnya, membawanya ke alam mimpi.

"Tenang saja, tidak ada yang akan menyakiti kamu…"


.

.

Axis – Powers Hetalia © Hidekaz Himaruya

Chapter 7 : Panic

NOTE: Saya bersama salah satu author di FFN ini, Renka Sukina, bekerja sama dalam menentukan ide-ide untuk fiction kami. Jadinya, mohon dimaklumi kalau ada persamaan. Juga, ini merupakan sambungan dari chapter 6.

"OSL" Bahasa lain

.

.


Petir menggelegar, semua alat elektronik di sekolah negeri itu mati seketika, membuat keributan terjadi di setiap kelas.

Angin bertiup dengan kencang di lapangan terbuka itu, menerbangkan beberapa benda ringan di sana. Titik-titik hujan mulai turun berlomba-lomba dari langit ke bumi Pertiwi, membasahi tanah dan rumput yang kering akibat kemarau panjang. Guru-guru dari mancanegara tersebut berlari ke tempat yang teduh, mencoba untuk menjauhi dari resiko jadi basah.

Bahkan, burung-burung pipit berterbangan hilir mudik entah tujuan ke mana, prioritas mereka ialah mencari tempat yang bisa melindungi mereka dari hujan yang tiba-tiba datang bagaikan badai itu.

Ruangan T.I.K yang gelap itu dipenuhi oleh murid-murid kelas VII yang sedang panik, mondar-mandir ke sana ke mari bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Anggota OSIS lalu lalang di koridor sekolah, menuju ke gudang untuk menyalakan genset. Dalam keadaan begini, mereka mungkin memerlukan lebih dari satu genset mengingat betapa besarnya sekolah mereka.

Gadis bersurai hitam itu menghela napas, kakinya yang di bawah meja menendang udara hampa dengan penuh kekesalan. Matanya yang belum terbiasa dengan kegelapan melihat sekitarnya, mendapati beberapa dari sahabatnya duduk di sekitarnya dengan tenangnya, bahkan ada yang memanfaatkan waktu ini untuk memainkan gadget mereka.

Seharusnya mereka memanfaatkan waktu ini untuk menemui teman mereka karena ini salah satu pelajaran di mana mereka semua bersama. Tetapi, mau bagaimana lagi, begitulah temannya Rifa. Salah satu yang tidak fokus ke gadget masing-masing ialah Meina yang sibuk baca buku dengan menggunakan senter kecil yang ia temukan secara tidak sengaja di pojok ruangan.

Nasib.

Sebuah kepala – tidak, kepalanya masih menempel ke badan pemilik – tiba-tiba nongol di depan pintu ruangan T.I.K, senter menyinari wajah ketua OSIS itu. Keberadaan Hebun yang tiba-tiba bagaikan hantu ini membuat semuanya langsung saja panik tidak karuan, bahkan ada yang sampai berteriak.

Terkecuali beberapa yang masih sibuk dengan gadget mereka. Anak zaman sekarang 'kan emang begini?

"Maaf kalau mengganggu, tapi genset tidak bisa dinyalakan jadi kami hanya bisa membawa lampu emergency." Lampu emergency itu diletakkan di salah satu lemari tertinggi di kelas dan di paling depan, membuat semua murid menghela napas dengan lega.

Kalau kalian bertanya di mana sebenarnya guru T.I.K, dikatakan bahwa guru T.I.K dan guru Sains harus pergi ke negeri masing-masing untuk sementara, dan digantikan oleh guru baru yang sekarang entah di mana keberadaannya.

"Kalau begini terus, sebaiknya kita mencari keberadaan Prawira!" Idham menatap laptopnya yang mati akibat habis baterai, resiko tidak men-charge sementara bisa. Cahaya menutup buku pelajaran ilmu pengetahuan alam miliknya, yang selama ini ia baca ditolong oleh sinar senter milik Meina.

Citra pun melepas headset-nya, pandangannya tidak lepas dari teman-temannya yang lain. "Bagaimana caranya?" Gadis itu bertanya sambil mengalungi lehernya dengan headset miliknya, manik coklatnya menatap temannya dengan tatapan bosan.

Keheningan segera saja memenuhi atmosfer, tidak ada yang berani mengutarakan ide mereka masing-masing. "Bagaimana kalau pakai GPS?" Rangga tiba-tiba saja menawarkan sebuah ide, yang menarik perhatian murid-murid di sekitarnya itu. "Tidak terpikirkan juga." Gumam Giro sambil melirik teman-temannya yang memiliki gadget.

Beberapa mereka mengetahui arti dari lirikan kawan mereka itu, yang langsung saja bergidik ngeri. T.I.K merupakan jam pelajaran terakhir, dan bisa dikatakan, bahwa kebanyakan HP mereka telah dalam keadaan sekarat. Bahkan, laptop Idham telah mati.

Segera saja, semua pandangan tertuju kepada Citra. "Cit, sisa baterai kamu berapa?" Luthfi angkat suara, memberikan senyuman tidka berdosa kepada gadis keturunan Jawa-Sumatra itu. Tentu saja, Citra telah mengetahui arti dari semua ini, dan yang diketahuinya selanjutnya handphone-nya segera dirampas oleh Meina.

"Sebentar! Bukan kah kita sebaiknya ke rumah Prawira dulu sebelum melakukan hal-hal yang tidak masuk akal?!" Putra menginterupsi mereka semua, membuat semua pandangan kepada cowok tersebut. "Betul juga, kalau-kalau dia sakit." Rangga menganggukkan kepalanya, sedangkan Citra mengambil kesempatan ini untuk merampas kembali handphone miliknya.

"Baiklah, kita jadwalkan pulang sekolah ini pulang ke rumah dahulu, ganti baju dan makan siang baru berkumpul di halaman sekolah."

.

.

.

Pemuda bersurai pirang dan bermanik zamrud itu mondar-mandir di kantor guru, dahinya berkerut dan hampir menyatukan dua alis tebalnya itu. Seorang pemuda lain bersurai pirang juga tetapi bermanik safir selama ini hanya bisa menonton Arthur dan Ludwig berdiskusi sambil memakan burger-nya.

"Kode apa ini..?"

"Eduard akan datang sebentar lagi, kok."

"Ve, Luddy~? Ada apa ini~?"

Pandangan mereka berdua segera beralih ke dua orang Italian yang sedang duduk bersebelahan di meja yang sama, salah satu dari mereka memiliki pandangan yang ceria sementara yang lain memiliki wajah cemberut dan tangan yang disilangkan di depan dada.

Nusa memasuki ruangan tersebut, payung yang basah ditangannya dan tampak bahwa ia kelelahan entah kenapa. Raden menyusulinya, tetapi dalam keadaan yang basah kuyup. "Apa ada kemajuan?" Tanya personifikasi Indonesia Barat itu, berjalan memasuki ruangan lain sebelum keluar membawa handuk.

Arthur mendesah dengan kesal seraya menduduki bangkunya, sepasang tangan miliknya itu mengacak-acak surai emasnya yang indah itu. "Tidak ada banyak kemajuan. Kami mencoba untuk memajukan beberapa abjad dan tidak ada hasil, kami bahkan mencoba memundurinya."

Mata Feliciano terbuka perlahan, menunjukkan mata indah yang selalu tersembunyi itu. "Ve~, pesan itu ya~?" Mendapat anggukan dari Ludwig, sang kakak dari Feliciano mengerutkan dahinya, jari-jemarinya ia petikkan beberapa kali.

"Berapa banyak huruf kalian telah mundur dan majukan?" Arthur dan Ludwig menatap satu sama lain, sebelum melihat kembali ke arah Lovino. "3 kali."

Pemuda Italian itu mengambil secarik kertas beserta sebuah bolpoin, ditulisnya nomor satu sampai sepuluh di atas kertas tersebut sebelum memberikannya kepada Arthur dan Ludwig. "Hapus enam nomor." Tanpa mengetahui harus buat apa lagi, Arthur beserta dengan Ludwig mengikuti perintah Italian itu. Yah, Antonio tidak ada di sini, jadinya kalau Lovino marah bisa jadi sebuah masalah.

Yang tersisa hanya nomor 3, 5, 8, beserta 10.

Lovino mengambil kertas tersebut lagi dan menulis ulang empat nomor itu di bawah kesepuluh nomor di atas, sebelum memberikannya kepada Arthur dan Ludwig lagi. "Coret dua nomor sekarang." Sekali lagi, mereka turuti perintah Lovino dengan agak berat hati.

Setelah selesai, Lovino mengambil kertas itu dan menulis dua nomor – 5 dan 10 – yang tersisa di bawah keempat nomor itu, kemudian mengembalikannya kepada dua personifikasi itu. "Sekarang coret satu nomor."

Feliciano, Nusa, beserta Raden hanya bisa menonton kejadian ini, tidak mengetahui apa yang direncanakan oleh personifikasi Italia Utara itu. "Pasti yang tersisa 5."

Benar apa yang dikatakan Lovino, yang tersisa adalah lima.

"Bagaimana..?" Dia hanya mengangkat bahunya, diminumnya segelas cappuccino yang diletakkannya di atas mejanya. "Aku dapat triknya dari murid kelas VII. Sekarang hanya coba-coba, majukan 5 abjad kalau tidak mundurkan 5 abjad."

Yah, boleh juga mencoba.

.

.

.

"Apa yang harus kita lakukan, Kak?"

"Kamu juga! Kenapa tidak pikir dua kali?!"

"Sekarang kamu menyalahkan aku?!"

"Umm, kamu sendirian yang di kamar ini, dan apakah ada alasan lain dia bisa pingsan?"

"B***s*t, aku tidak paham mengapa kamu menjadi saudaraku."

"Seperti saja kamu sendirian."

"Woi, diam kalian berdua!"

Wanita dan pemuda tersebut mengalihakan pandangan mereka kepada orang yang satu ruangan dengan mereka, kelihatan sedang resah dengan keadaan yang dialaminya. Ruangan itu bagaikan saja kapal pecah, atau badai baru saja menerjang dan memporak-porandakan semua interior-nya. "Ini bukan salah siapa-siapa."

Kelihatan sekali raut wajah yang kesal di wajah pemuda yang lain, ia membuka mulutnya mencoba untuk memberontak yang lebih tua, tetapi tatapan tajam dari pemuda tersebut membuat mulut milik pria berultah 7 September [1] ini langsung tertutup.

Wanita yang paling muda ini hanya bisa memanyunkan bibirnya, merasa kekesalannya perlahan mereda ketika mendengar yang paling tua angkat bicara. "Aku biasa saja dengan dia," yang paling tua menunjuk kepaada wanita itu, "Karena dia yang paling muda, tetapi aku tidak mengharapkan ini dari kamu."

Yang kedua paling muda menghela napas penuh kekalahan, tetapi lirikan tajamnya tidak lepas dari wanita itu. "Ganti posisi." Pemuda paling tua itu berdiri dari tempat duduknya, memberikan tanda bagi wanita itu untuk mengikutinya sambil memberikan senyuman kepada pemuda yang lain yang hanya bisa pasrah.

.

.

.

Nusa meletakkan sebuah nampan dengan lima cangkir dan piring, beserta teko diisi oleh teh hangat. Alfred ikut campur dalam menemukan arti dari abjad-abjad itu, dan dia baru betul-betul menolong walaupun ada beberapa kali memerintah ini-itu.

"Dapat artinya?" Raden bertanya seraya menempelkan bibirnya ke cangkir tersebut, pandangannya melekat ke tiga personifikasi itu. Tidak mendapat jawaban selama beberapa waktu, akhirnya Alfred pun berbicara. "Dapat!"

Secarik kertas didorong ke depan muka Raden, yang membuat pemuda itu tersenyum yang dipaksakan sebelum meletakkan cangkir itu di atas meja dan menerima kertas itu. "Ah, ini bahasa Inggris…" gumamnya, matanya menyipit sedikit seraya mencoba untuk membaca kata-kata di antara semua coretan itu.

"Aku… akan memberi kamu… sebuah… petunjuk..?" Agak susah juga membaca kata-kata itu dikarenakan banyak sekali coretan yang memenuhi kertas itu, apa lagi ada beberapa kata yang ditulis dengan font berbeda-beda. "Pelaku-pelakunya telah meninggalkan jejak."

"Hanya ikuti jejak itu, dan kamu akan temukan jawabannya."

"Apa artinya itu?"

Sang counselor sekolah, Ivan Braginski, memasuki ruangan guru dengan seperti biasa, scarf kesayangannya mengelilingi lehernya. "Sepertinya ada hubungannya dengan salah satu murid itu yang hilang." Angga, Adika, beserta dengan Langi memasuki ruangan itu, menarik perhatian yang lain dan tentu saja, mereka menyadari hilangnya beberapa di antara mereka.

"Mana yang lain?"

"Biasa, masalah dengan kabut…" Angga dan Adika menduduki tempat duduk di sebelah Nusa dan Raden, mengambil cangkir teh dan mengisinya dengan minuman di dalam teko itu. Sementara itu, Langi menduduki salah satu sofa, tampaknya fokus dengan handphone-nya. "Oh iya, Kak…"

Nusa dan Raden segera saja mengalihkan perhatian mereka ke adik perempuan mereka, menunggu kelanjutan dari kata-katanya. "Palu mengatakan, dia ingin datang ke sini." Ucap Langi dengan nada datar, rambut hitam bagaikan malam itu tertiup oleh angin kencang dari luar.

Gadis keturunan Makassar itu hanya menerima sebuah anggukan dari dua kakak tertuanya, yang mengalihkan perhatian mereka kembali ke kertas di hadapan mereka. "Kapan orang bernama Palu ini akan datang?" Alfred membuka suaranya, sebungkus burger ia buka dan masukkan ke dalam mulutnya, segelas soda terlihat digenggamnya di tangan kirinya.

"Besok."

"Baiklah, besok beberapa dari kita akan pergi ke bandara, siapa ikut?" Iris emerald milik pemuda British itu menatap semua personifikasi di dalam ruangan itu, menunggu jawaban mereka masing-masing.

.

.

.

04.00 P.M
Halaman Sekolah SMPN Anggrek Bulan 1

Jari-jemari remaja bernama Rangga itu dengan handalnya memainkan PSP di tangannya, di sebelahnya terlihat Hebun beserta dengan Jugoku yang menunggu teman-temannya yang lain. Tampaknya mereka emang datang terlalu awal, mau bagaimana lagi, ada yang perlu diseret saat mereka bertemu di jalan.

Hebun menopang dagunya dengan tangannya, sebuah nota berserta dengan pulpen dapat terlihat di tangannya. Dua benda ini disuruh oleh Meina untuk mencatat clue. Baginya, adik kelasnya itu terlalu membesarkan sebuah masalah.

Sementara untuk Jugoku, dia maklum saja dengan teman-temannya yang risih karena menghilangnya Prawira. Dia tahu, bahwa mereka telah terbiasa dengan memberitahu satu sama lain, entah lewat surat atau gadget masing-masing, jikalau mereka sakit atau izin. "Di mana yang lainnya?" Rangga memasukkan PSP-nya ke dalam kantong bajunya, kelihatan telah tidak sabar menunggu temannya yang lain.

"Aku tidak tahu—"

"Maaf, agak terlambat." Giro terlihat mendekati mereka bertiga, temannya yang lain – yaitu Luthfi dan Idham – mengikutinya bagaikan saja anjing yang mengikuti majikannya.

Rangga menyipitkan matanya terhadap temannya yang lain, sebelum mengeluarkan kembali PSP-nya dan mulai memainkannya lagi. Hebun melambaikan tangannya kepada Giro, bukan mengatakan hai, tetapi mengatakan bahwa itu tidak apa-apa.

Angin semilir menerpa diri mereka masing-masing, membuat beberapa dari mereka merinding untuk suatu hal. "Masalah beberapa dari mereka lambat telah selesai, sisanya?" Jugoku menyandarkan dirinya sendiri ke bangku untuk guru atau murid yang kelelahan ketika ada acara di lapangan itu, tatapannya menusuk ke Giro.

Sebuah angkatan bahu lah yang ia dapatkan dari Idham, yang menduduki bangku yang lain, diikuti oleh temannya yang lain. "Maaf terlambat! Harus membangunkan Citra dulu dari tidur siangnya~!"

Rifa melompat-lompat ke arah enam laki-laki itu, temannya yang lain mengikutinya di belakangnya. "Tidak ada yang tersisa bukan?" Meina bertanya, tangannya disilangkannya di depan dadanya. Ketika mendapati anggukan dari temannya yang lain, Cahaya mengarahkan mereka untuk mengikutinya.

"Sebentar!"

"Ada apa, Luthfi?"

"Prawira tidak ada."

Hening. Citra yang tidak dalam mood yang bagus akibat baru saja bangun tidur pun akhirnya membuka mulutnya.

"Aku sangatlah ingin memeluk leher kamu dengan jari-jemariku sampai kamu tidak bergerak."


.

.

.

"Kak, mereka dalam perjalanan ke rumah anak itu."

"Hmm… katakan kepada dia untuk berhati-hati."

.

.

.


Putra mengetuk pintu itu, menunggu untuk dijawab setidaknya oleh seseorang. Mereka semua menatap ke satu sama lain dengan pandangan khawatir, sementara untuk beberapa dari mereka sibuk dengan gadget mereka.

Pintu tersebut terbuka dengan perlahan, dan terlihatlah di ambang pintu merupakan ibunya Prawira, sebuah senyuman di wajahnya. "Hai. Prawira di rumah? Oh, sebentar, biar aku siapkan minuman dulu, masuk saja." Mereka tidak dibiarkan untuk merespon kata-kata dari ibu Prawira tersebut, dan tanpa bisa buat apa-apa lagi, mereka memasuki rumah Prawira itu.

Mereka semua menduduki sofa yang telah disediakan untuk tamu itu, rumah itu agak sepi, harus mereka akui, juga ada suara televisi tidak jauh dari ruang tamu tersebut.

"Mau minum—"

"Ah, tidak usah Bu, kami hanya ingin menanyakan sesuatu." Hebun langsung saja memotong perkataan orang yang lebih tua darinya itu, otomatis mendapatkan beberapa tatapan dari yang lainnya. "Apakah Prawira sakit?"

"Apakah dia sakit?" Wanita tersebut terdiam beberapa saat, keningnya dikerutkannya dengan penuh kebingungan seraya ia menatap sekelompok anak SMP itu. "Tidak… emangnya kenapa? Dia sakit di rumah kalian?"

Hening.

Tidak ada yang bersuara.

"Maksud Anda apa bu?" Citra pun langsung formal di hadapan ibunya Prawira itu, terlihat bingung seperti makhluk hidup di sekitarnya juga. "Prawira mengirimkan pesan, bahwa dia akan menginap di rumah temannya." Sebuah handphone dikeluarkan dari saku baju milik ibu Prawira. Tampak ia mengotak-atik alat elektronik itu sebelum memberikannya kepada Hebun untuk dibacakan ke yang lain.


Bu, aku tidak akan pulang sementara, bakalan ke rumah teman ya! Baju tidak usah khawatir kok!

- ZORMWIZ


Mereka semua menatap satu sama lain, terlihat agak bingung. Ibunya tak tahu, bahkan mereka tak tahu…

"Ini antara Prawira-pyon minggat atau benaran hilang." Ucap Giro dengan nada datar, mendapatkan tatapan horror dari ibu Prawira serta pokerface dari teman-temanya.

"Kita kasih tahu polisi atau apa?"

"Tahunya mana?"

"… Put, kita serius."

"Sorry~!"


.

.

.

.

To Be Continued…

.

.

.


[1] Sebuah hint~!

[2] ZORMWIZ– Ganti abjad. A ke Z, B ke Y, C ke X, D ke W, E ke V, dan seterusnya. Intinya, dibalik saja abjadnya.

Citra Indah Kusuma, Batari Cahaya Wijayakusuma, dan Buana Putra Adhiarja © Yuki Hiiro

Prawiranegara Indonesia © Luciano Fyro

Rifa Husin © Rifka

Hebun dan Jugoku Hikari © Hanny

Giro Catlite, Idman Rahman, dan Muhammad Luthfi © girl-chan2

Meina Bunardiman © Renka Sukina

Rangga Afsyahni Rohsyad © Emilia Kartika

Akhir kata…

Review Please?