Author : MinGyuTae00
Pair : HunHan
Rate : K+
Warning : Typo!Maaf jika ide cerita kampungan.
Length :Chaptered
Genre : Boy x Boy , Hurt/Comfort,Romance
.
.
.
PREVV CHAP 4
.
.
.
"Ini tubuhku!".
"Dan didalam tubuhmu ada anakku!".
Irene hanya bisa terdiam menatap pertengkaran sepasang suami-istri dihadapannya. Ia merasa seperti tidak dianggap. Kenapa juga Sehun muncul dimoment seperti ini. Ia berdecih. Pemandangan tersebut tak dilewatkan begitu saja oleh Sehun.
Sehun mulai mendekati yeoja tengil tersebut , Luhan menatapnya tak percaya dan mencoba menghentikan Sehun namun sialnya ia terhalang tiang infuse tepat disampingnya.
"Kau pergi sendiri atau aku akan memanggil petugas untuk mengusirmu dari sini" Irene merasakan tubuhnya sedikit gemetar ketika berhadapan dengan Sehun seperti ini. Lebih baik ia segera menyelamatkan dirinya sekarang juga. Tak lupa ia memberikan kecupan dibibir Luhan dan berlari begitu saja.
Luhan menatap nyalang pada Sehun yang dibalas oleh tatapan datar dari Sehun.
"Kenapa kau selalu saja bertindak semena-mena padaku!" Luhan memukuli Sehun brutal dengan bantal ditangannya. Sehun sama sekali tidak mencoba menghindar apalagi menepis pukulan dari Luhan. Sakit dihatinya tidak sebanding dengan sakit yang diderita tubuhnya akibat pukulan dari Luhan. Ia berjalan semakin dekat menuju Luhan.
Dengan paksa ia menggenggam kedua lengan mungil Luhan setelah ia membuang bantal sialan itu sebelumnya. Sedetik kemudian ia meraup bibir mungil yang selama ini selalu memakinya, melumatnya dengan kasar dan sesekali menggigitnya , membuahkan pekikan nyaring dari Luhan.
Luhan memberontak sedemikian rupa namun tenaganya tak sebanding dengan Sehun yang kini tengah kalap dimakan kecemburuannya. Merasa usahanya sia-sia ditambah dengan tubuhnya yang mulai lemas entah karena lelah atau karena efek ciuman ganas dari Sehun. Izinkan setelah ini Luhan memukul kepalanya. Entah apa yang kini merasukinya , ia malah mengalungkan lengan mungilnya ditengkuk Sehun dan menikmati ciuman dari Sehun.
Semakin lama pagutan mereka berdua semakin panas dan mesra karena kini Luhan juga ikut membalasnya. Lidah keduanya saling melilit satu sama lain. Posisi tubuh Sehun hampir menindih tubuh mungil Luhan. Sesekali terdengar desahan halus yang mengalun dari bibir tipis Luhan. Luhan makin mendekap erat tengkuk jenjang Sehun begitu pula dengan Sehun yang semakin memperdalam ciumannya.
Jantung keduanya kian berdebar kencang , terus menerus memompa aliran darah didalam tubuh mereka. Kali ini Luhan dan Sehun saling berpandangan.
.
.
.
.:Valid Love:.
Luhan mendorong kasar tubuh Sehun dari atas tubuhnya. Dengan kasar ia mengusap bibir mungilnya yang terasa basah.
"Kau! Bajingan! Pergi kau!" Luhan meraih bantal yang berada dibawah punggungnya dan melemparkan begitu saja pada Sehun yang dengan sigap meraihnya. Dengan lembut Sehun meletakkan bantal tersebut diatas ranjang Luhan. Dengan tatapan tegas ia mendekati Luhan yang kini menatapnya datar.
"Bajingan ini adalah suamimu Luhan , suka maupun tidak suka aku tetap suamimu" Setelah mengatakan hal tersebut , Sehun pun segera meninggalkan ruangan rawat inap Luhan dan mengabaikan Luhan yang mendengus tak percaya.
Brak
Sehun menyandarkan tubuh jangkungnya pada pintu , menyentuh bibirnya yang sedikit basah. Senyum kecil tersemat pada wajah tampannya.
"Manis. Seperti biasa"
Luhan benar-benar tak habis fikir dengan Sehun. Kemana Sehun yang sebelumnya pasrah begitu saja menerima semua perlakuan Luhan padanya? Kenapa Sehun berubah? Luhan mengacak-acak surainya gusar setelah itu ia memilih untuk membaringkan tubuhnya kembali.
.
.
.
"Sial"
"Bisakah kau berhenti mengumpat?"
"Kau!"
"Apa?"
Irene menggeram gemas pada pemuda jangkung didepannya ini. Ia benar-benar ingin menghancurkan wajah angkuh yang tengah diperlihatkan Jin padanya.
"Cih , kau terlalu lambat!"Jin menatap remeh yeoja yang kini tengah menatapnya tajam.
"Apa maksudmu keparat"
"Kufikir otak udangmu cukup pintar untuk menterjemahkan maksudku nona"
"Oh apa kau fikir dengan dengkul bengkokmu itu semua ini mudah?"
"Aku tidak mengatakan seperti itu. Aku hanya mengatakan kau begitu lambat. Paham?" Jin menyesap kembali rokok yang berada dalam genggaman jari tengah dan telunjuknya. Dengan sengaja menghembuskan asap akibat salah satu bahan tembakau tersebut tepat dihadapan Irene yang kini terbatuk hebat karena asap rokok yang mengganggu pernafasannya.
"Kau urusi saja Luhan , Sehun menjadi urusanku" Jin mematikan rokok dalam genggamannya dan pergi begitu saja meninggalkan Irene yang menatap punggungnya lekat.
" Kau fikir mudah?"Irene menatap tajam punggung Jin yang berlalu mendahuluinya.
.
.
.
Sehun membukakan pintu mobilnya untuk Luhan. Sebenarnya Luhan ingin sekali menabrakkan pintu mobil Sehun agar mengenai tubuh pemuda jangkung tersebut. Sayangnya saat ini ia tengah berada dalam kawasan mansioh Oh-Rumah Mertuanya-. Lagi-lagi Luhan harus bersandiwara.
"Oh kalian sudah tiba?" Luhan tersenyum manis menyambut kedatangan ibu mertuanya. Sedangkan Sehun hanya mengangguk sekilas dan kembali fokus untuk mengangkut barang-barang bawaan mereka. Sehun rasanya ingin berterima kasih kepada ibunya, berkatnya yang meminta-memerintahkan- Ia dan Luhan untuk menetap sementara disana dengan dalih untuk mengawasi Luhan dan untuk membantu menjaga cucunya yang tengah dikandung Luhan. Bukankah dengan itu , ia bisa dekat dengan istrinya tanpa pertengkaran?.
"Kajja kalian pasti lelah terlebih kau Luhan. Setelah ini beristirahatlah diruangan kalian sembari menunggu hidangan tersaji"Nyonya Oh membimbing menantunya menuju ruangan milik Sehun dahulu yang kini menjadi milik Luhan dan Sehun. Sedangkan Sehun dengan setia mengekor dibelakang.
"Appa eoddiga?"
"Appamu masih memiliki beberapa urusan , tapi ia sudah berjanji akan tiba sebelum makan malam. Nah Sehun kau temani Luhan"Setelah member beberapa wejangan pada keduanya tak lupa memberikan kecupan pada kening masing-masing , Nyonya Oh pun berlalu meninggalkan mereka.
"Luhan kuharap kau bisa berfikir dewasa. Kau boleh membenciku tapi ingatlah saat ini kau tengah mengandung darah daging kita. Setidaknya kau masih memiliki hati terhadap darah dagingmu sendiri"Sehun pun berlalu meninggalkan Luhan yang tengah merenungkan perkataannya.
Entah kenapa Luhan merasa sesak , apakah ia sejahat itu? Dengan penuh keraguan ia menyentuh perutnya yang mulai membuncit. Luhan memejamkan matanya erat , setetes air mata mengalir menuruni permukaan kulit wajahnya.
.
.
.
"Luhan makanlah ini!" Nyonya Oh dengan penuh perhatian menambahkan beberapa lauk diatas piring Luhan.
"Gomawo eommoni"
"Aigoo kau tidak perlu mengucapkan terima kasih anakku , walaupun kau menantuku tapi sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Jadi jangan sungkan-sungkan arra!"
Luhan menganggukkan kepalanya patuh. Sehun sesekali memperhatikan Luhan yang sibuk menghabiskan hidangannya bahkan ia sempat membersihkan sisa makanan yang berada disekitar bibir Luhan. Tuan Oh tersenyum samar melihat keharmonisan keluarganya, oh dia jadi merindukan putra sulungnya.
"Bo…Yeobo" Tuan Oh tersentak kaget mendengar pekikan istrinya.
"Ne?"
"Apa yang sedang kau fikirkan hingga tak merespon panggilanku?"
"Mianhae , melihat keharmonisan kalian aku jadi teringat Kyuhyun" Mendengar ungkapan sang suami , membuat wajah Nyonya Oh terlihat sendu. Ia memang sangat merindukan putra sulungnya. Melihat interaksi dan sikap protektif yang Sehun tunjukkan pada Luhan membuatnya mengenang saat Kyuhyun dan Siwon masih menetap dikediamannya.
"Eomma/Eommoni"Sehun dan Luhan saling berpandangan ketika menyadari bahwa baru saja mereka dengan kompak memanggil Nyonya Oh.
"Aigoo…aigoo lihatlah pengantin baru kita yeobo, mereka selain serasi juga sangat kompak bukan begitu?" Kali ini Tuan Oh mencoba memecah keheningan yang terjadi. Nyonya Oh tersenyum manis membenarkan. Luhan bisa merasakan pipinya mulai menghangat , Sedangkan Sehun hanya berdeham pelan.
"Akh.."Seketika semua fokus teralih pada Luhan yang baru saja memekik. Sontak Sehun segera memeriksa keadaan Luhan.
"Gwenchana?"
"Perutku sedikit sakit"ujar Luhan lirih. Sehun mencoba mengurangi rasa sakit yang diderita Luhan dengan cara mengelus perlahan namun penuh kelembutan perut buncit sang istri. Luhan terpaku seketika dan menatap Sehun yang sibuk mengelus perutnya tanpa kedip.
.
.
.
"Sehun" Sehun menoleh kearah Luhan , tersentak kaget ketika Luhan baru saja memanggilnya dengan nada biasa tanpa nada angkuh dan sinis yang selalu ia keluarkan.
"Ada apa?"
"Untuk saat ini , aku setuju untuk bersikap baik kepada anak ini. Toh tinggal beberapa bulan lagi sebelum anak ini lahir."
"Jinjja?"Ingin rasanya Sehun memekik girang namun ditahannya dengan kuat dan tetap mempertahankan raut datarnya.
"Ya. Setelah bayi ini lahir , kita bercerai dan tidak lagi mencampuri urusan masing-masing"Sehun mengepalkan lengannya.
"Geurae"Setelah menetralisir emosinya , Sehun berujar sangat datar. Luhan yang tak tahu harus melakukan apa lagi , memilih untuk membaringkan tubuhnya dengan nyaman. Memejamkan matanya ketika perasaan nyaman mulai menjalari tubuhnya. Baru beberapa detik ia memejamkan matanya , dengan terpaksa membuka kembali kedua kelopak matanya ketika merasakan suatu cairan membaluri kaki jenjangnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Diam dan terima saja. Ini juga untuk kebaikanmu dan bayi kita" Sehun dengan telaten mengolesi kedua kaki jenjang Luhan dengan minyak khusus yang baru saja diberikan oleh ibunya dan memijatnya pelan. Ibunya berpesan untuk selalu memperhatikan Luhan salah satunya dengan cara memijat bagian tubuh Luhan yang pasti terasa pegal karena harus membopong satu nyawa dalam tubuhnya.
Jika biasanya Luhan selalu memberontak kali ini ia membiarkannya saja. Matanya kian memberat dan ia terlelap begitu saja karena merasakan kenyamanan yang diberikan Sehun. Setelah selesai memijat beberapa bagian tubuh Luhan dengan lembut , Sehun segera membenahi segala peralatan yang ia gunakan dan ia juga menyempatkan untuk menyapa calon bayinya dan mengecup berkali-kali perut Luhan yang agak membuncit.
Dipandanginya wajah ayu sang istri , Sehun dengan perlahan mengecup lembut bibir kenyal Luhan , mencoba menyalurkan perasaannya. Setelah itu , ia pun membaringkan tubuh jangkungnya menghadap Luhan , memeluk tubuh istrinya dalam kukungan hangat nan possesivenya tak lupa untuk menyelimuti tubuh mereka guna menghalau udara dingin yang mencoba menembus kulit mereka. Persetan dengan reaksi Luhan esok nanti.
.
.
.
TBC
.
.
.
Aloha ...
Yang kangen sama ff ini mana? Maaf baru bisa update sekarang. Kalau ada kesalahan penulisan maupun beberapa kata-kata yang hilang mohon maaf , aku udah berusaha edit dengan baik tapi entah kenapa waktu dipost jadi berubah. Terima kasih buat readers setia yang selalu mantengin ff ini. Oiya, kan aku udah bilang " ngak semuanya flashback tentang masa lalu Hunhan aku posting" jadi bukan maksudnya buat mengingkari , tapi emang begitu alurnya, toh banyak kejadian masa lalu dan rahasia yang belum aku ungkap. Saran dan kritik dari kalian sangat aku terima dan hargai. Bukankah dengan itu , berarti kalian benar - benar mengamati tulisanku?.
Maaf jika cara penulisanku membuat kalian merasa tidak enak , aku akui aku hanyalah penulis amatiran. Tapi demi kalian dan kecintaanku pada HUNHAN aku akan mempersembahkan yang terbaik. Ditunggu ya review dari kalian. Maaf tidak bisa membalas review kalian satu persatu. See You^^
