Jingga dan Senja

Main Cast : Kai, Chanyeol, Sehun, Baekhyun

Pairing: Kaihun?or Hanhun?

Genre : Drama, romance, slice of life

Disclaimer : saya repost cerita punyanya kak Esti Kinasih yang judulnya Jingga dan Senja, ada yang tau? Ini versi buat anak exo nya tapi.

Karena banyak yang protes saya ngepost nya sedikit, jadi saya kasih bonus lagi ini ngepost 2kali dalam sehari.

Exolweareone9400 : Iya semacam Chanyeol memuja Kai soalnya kan Kai ini keren banget katanya, pas kaya aslinya gitu kan?pas di Exo Showtime si Chanyeol bilang kalo dia fanboy nya Kai :-D

Thanks banget buat yang kasih review, kalian bikin aku semangat ngepublish cerita ini hehehe^^

Part 9

Kemunculan Kai dan kesediaan pria itu untuk berlutut, bahkan di kaki salah satu temannya untuk keselamatan Sehun, akhirnya meyakinkan Luhan bahwa Sehun memang punya arti penting untuk Kai.

Dan saat Zhanglay atau yang biasa disapa Lay, teman karibnya yang bertugas untuk menghadapi Lay tadi muncul di pintu, Luhan sudah tahu tindakan apa yang harus diambilnya.

"Dia udah pergi," lapor Lay. Luhan mengangguk. Diliriknya jam di pergelangan tangan.

"Yuk, Hun. Aku anter kau pulang. Baekhyun, kau dianter Lay ya," ucapnya sambil melompat turun dari meja yang sedari tadi didudukinya. Sehun dan Baekhyun menatap Luhan dengan bingung. "Kenapa heran? kalian masih mikir kita itu jahat ya?"

Sehun melirik Baekhyun. Keduanya saling tatap dengan cemas. Luhan tersenyum geli sementara Lay cuma tersenyum tipis.

"Nggaklah. Kalo emang niat mau diapa-apain udah dari tadi, lagi," Luhan menenangkan. "Yuk, udah sore nih."

Pria itu kemudian berjalan ke pintu, menyusul Lay yang sudah keluar lebih dulu. Di belakangnya, Chen dan Tao menyusul. Sehun dan Baekhyun kembali saling pandang, lalu bangkit berdiri dan menyusul keempat pria tadi. Di halaman depan, di sisi lapangan basket, Lay sudah berdiri di samping motornya. Diulurkannya jaketnya pada Baekhyun begitu gadis itu sampai di sebelahnya.

"Sekarang emang udah sore, tapi matahari masih panas," ucap Lay dengan gaya kalemnya yang khas.

Luhan melakukan hal yang sama. Dia ulurkan jaketnya pada Sehun.

"Namamu emang ada unsur Matahari, tapi kalo kepanasan kulitmu tetap jadi gosong, kan?"

"Ya iyalah." Sehun tertawa agak dipaksa mendengar joke garing Luhan itu. Diterimanya jaket yang diulurkan cowok itu.

Lay sudah duduk di atas jok motornya, mesin motornya juga sudah menyala. Melihat itu, Sehun dan Baekhyun saling pandang dengan raut muka semakin cemas. Luhan yang bisa melihat itu sekali lagi berusaha menenangkan.

"Aku yang jamin Lay nggak bakalan menyentuhmu di jalan, Baek."

Lay cuma tersenyum tipis. Dia lalu menoleh dan menatap Baekhyun. "Yuk!" ajaknya.

Dengan canggung Baekhyun duduk di boncengan motor Lay, setelah sebelumnya dia kenakan jaket yang diberikan pria itu tadi.

"Duluan ya!" ucap Lay dan langsung tancap gas.

"Yuk." Luhan menepuk satu bahu Sehun, mengakhiri tatapan gadis itu pada ruas jalan di depan sekolah tempat Lay dan Baekhyun menghilang.

Luhan sudah duduk di atas motornya yang juga sudah dalam keadaan mesin menyala. Sama seperti Baekhyun, dengan canggung Sehun duduk di boncengan. Segera mereka tinggalkan halaman Busan High School. Tapi di tengah perjalanan Luhan menepikan motornya. Dia menoleh ke belakang.

"Kalo motornya Chen ada besi di belakangnya, jadi bisa dijadiin pegangan. Motor aku nggak ada. Jadi daripada nanti kau jatoh, mendingan pegangan aku aja deh, Hun. Nggak usah takut aku apa-apain. Yang ada malah kayanya kau yang akan ngapa-ngapain aku."

"Mmmm…" Sehun bingung.

"Mana kau duduknya nyamping gitu, lagi. Kayak Eomma ku saja. aku tuh paling males boncengin wanita yang duduknya nyamping begini. Kecuali nyokap. Ya sutralah kalo dia mah. Soalnya keseimbangan motor jadi nggak bagus."

"Nggak pa-pa deh. aku duduknya gini aja," Sehun menolaknya.

"Tapi aku nih yang apa-apa. Bawa motornya jadi nggak tenang. Takut kau jatoh. Tolong tuker posisi dong. Please?" Luhan memohon. "Serius, aku takut kau jatuh. Nggak ada maksud apa-apa."

Sehun mengalah. Iya sih. Dia juga deg-degan dari tadi, soalnya nggak pernah duduk di boncengan motor dengan posisi menyamping. Mana di belakang nggak ada besi buat pegangan. Udah gitu ban motornya Luhan itu tinggi. Jadi serasa kayak nangkring dia atas pagar yang diakasih jok.

"Gitu dong." Luhan tersenyum senang saat Sehun menuruti permintaannya.

"Oke, lanjut. Pegangan ya. Pegangan jaket aku saja kalo kau nggak mau pegangan pinggangku" Kembali Sehun menuruti permintaan Luhan. Mereka melanjutkan perjalanan. Kira-kira satu kilometer menjelang rumah Sehun, Luhan menghentikan motornya di depan sebuah warung makan.

"Makan dulu, yuk? aku dari pagi belom makan, nih," katanya sambil mematikan mesin.

"Nggak ah," kali ini Sehun menolak. ini laki-laki ada-ada aja deh, batinnya. "Aku pulang aja deh. Udah deket kok. Nanti kan kau bisa makan sendiri."

"Ya ampun, kejamnya. Aku disuruh makan sendirian. Aku Cuma minta ditemenin aja kok, biar nggak kayak orang bodoh. Serius. Bukan minta dibayarin."

"Nanti aku bisa diomelin Eomma nih. Pulang telat banget."

"Nanti aku yang ngomong ke Eomma mu. Tenang aja. Aku bukan model pria nggak tanggung jawab."

"Nggak deh. Aku mau pulang aja," Sehun tetep ngotot.

"Ya udahlah kalo gitu. Nih kuncinya. Kau bawakan motorku sampe ke rumahmu, ya? Nanti aku ambil. Deket, kan?" Luhan mengulurkan kunci motornya dengan tampang bodoh. "Soalnya aku laper banget. Asli, dari pagi belom makan. Dan pingsan pas lagi bawa motor tuh bahaya banget, tau. Bisa menyebabkan kecelakaan beruntun."

Hiiihhh! Tanpa sadar Sehun menepuk pundak Luhan dengan gemas, kemudian turun dari motor.

"Ya udah deh. Tapi jangan lama-lama ya?"

"Oke!" Luhan menyeringai. Pria itu sepertinya tahu persis bagaimana caranya agar Sehun meluluskan setiap permintaannya.

"Tapi aku nggak makan ya. Nemenin aja," kata Sehun sambil mengekor langkah Luhan memasuki warung makan itu.

"Iya, nemenin aja."

Makan memang bukan tujuan Luhan. Kesediaan Sehun untuk menemaninya, itulah tujuan utamanya. Dan waktu dua puluh menit, dengan sepiring nasi sebagai alasan digunakan Luhan untuk pendekatan. Alhasil, banyak info tentang gadis itu yang berhasil dia dapatkan. Terutama yang paling krusial. Nomor telepon rumah dan ponsel. Kemudian diantarnya gadis itu sampai di depan rumah.

"Udah deh, kau tak perlu bilang ke nyokapku. Biar aku sendiri aja," kata Sehun ketika dilihatnya Luhan bersiap turun dari motor.

"Nggak apa-apa nih?"

"Nggak."

"Oke kalo gitu."

Kali ini Luhan enggan memaksa. Dalam hati dia malah bersyukur, karena sebenarnya dia juga belum menemukan alasan apa yang akan dikatakannya pada Eomma Sehun atas keterlambatan anaknya pulang sekolah ini.

Tiga puluh menit setelah Sehun sampai di rumah, Luhan mengirimkan pesan, mengabarkan bahwa dia baru saja sampai di rumah dengan selamat. Pria itu juga mengucapkan terima kasih karena Sehun sudah bersedia menemaninya makan, sekaligus minta maaf karena sudah memaksa. Membaca pesan Luhan, senyum Sehun mengembang lebar.

"Pria yang aneh," katanya dengan nada yang mungkin tidak disadarinya, terdengar senang.

.

.

.

.

Berkilo-kilo meter dari situ, keadaan yang sangat berbeda terjadi. Di sebuah gedung olahraga untuk umum yang berisi tiga lapangan futsal, Kai duduk gelisah di tribun penonton. Sama sekali tidak tertarik untuk ikut bermain.

Kepalanya dipenuhi kecemasan akan kondisi Sehun. Meskipun dia merasa janji yang diberikan Luhan lewat sorot mata dan ungkapan lisan salah satu temannya bisa dipegang, itu tidak bisa dijadikan jaminan. Ditambah lagi, Sehun berada di luar jangkauan jaringan komunikasinya. Chanyeol yang bolak-balik dikontaknya belum juga berhasil mendapatkan nomor telepon Sehun atau orang-orang yang mengenal gadis itu. Kai jadi makin khawatir lagi.

"Man, gantiin Minho gih. Dia mau pulang!" seru Kris dari lapangan. Kai menggeleng.

"Lagi males!" balasnya berseru. Tapi tak lama dia berubah pikiran, setelah masuk SMS baru dari Chanyeol, yang lagi-lagi melaporkan bahwa pelacakannya belum membuahkan hasil. Kai berdecak keras sambil menutup fitur pesan.

"Bisa sinting nih!" desisnya sambil meletakkan poselnya di bangku terdekat. Kemudian dia melepaskan kausnya dan melemparkannya begitu saja ke deretan bangku terdekat. Dengan bertelanjang dada, pria itu berlari menuruni tangga tribun lalu melompati pagar pembatas.

"Aku ikut!" serunya sambil berjalan ke tengah lapangan.

Kris dan delapan pria yang berdiri di lapangan menyambut bergabungnya Kai dengan senang hati. Bukan saja mereka bisa meneruskan permainan, tapi juga setelah ini mereka punya alasan untuk minta traktir. Kai memang sudah terkenal banyak duit dan asyiknya, nggak pelit.

"Gitu dong. Kita udah mau bubaran nih gara-gara jumlahnya nggak berimbang," kata Onew. Sementara Minho berjalan ke luar lapangan.

"Aku balik dulu ya!" serunya.

"Oke!" balas semuanya. Kai mengambil bola dari tangan Key.

"Sampe pagi, ya?" katanya.

"Haaah?" teman-temannya menatap ternganga, tapi tidak sempat bertanya karena Kai keburu menendang bola yang tadi dipegangnya.

Kecemasan dan kegelisahan itu hanya miliknya sendiri, tapi sembilan orang teman diajaknya untuk ikut menanggungnya. Semula mereka mengira Kai hanya bercanda. Tapi ternyata pria itu benar-benar memaksa semua temannya bermain futsal selama berjam-jam. Dihadangnya keinginan mereka untuk pulang dengan satu kalimat yang sebenarnya membuat kesembilan pria itu dalam hati merasa kesal.

"Kalian kayak cewek aja sih. Baru jam segini udah ribut minta pulang."

Sama sekali bukan karena Kai yang membayar sewa lapangan ditambah berbotol-botol minuman dingin yang membuat kesembilan temannya kemudian terpaksa menuruti kemauannya itu. Tapi karena mereka tahu Kai nggak punya Eomma, melainkan hanya punya seorang Appa yang hubungannya juga sama sekali jauh dari kata baik apalagi hangat.

Jadi, tidak akan ada yang menelepon Kai lalu berteriak di seberang sana, bertanya kenapa belum pulang juga. Tidak akan ada yang menyambutnya di teras atau di pintu rumah dengan muka marah, yang akan disusul dengan rentetan pertanyaan menyelidik yang harus dijawab. Dari mana, dengan siapa, dan apa saja yang dilakukan sampai harus pulang sangat sangat terlambat.

Tidak ada hukuman berupa pengurangan uang saku, pemberlakuan jam malam, penghapusan uang pulsa, bahkan penyitaan ponsel. Intinya, Kai nggak tahu, kalo udah marah, seorang Ibu tuh bisa sangat menyebalkan.

Setelah bermain futsal sampai kelelahan, Kai menggelandang kesembilan temannya ke tempat karaoke. Lomba cempreng-cemprengan nyanyi sambil makan sekenyang-kenyangnya. Tapi acara itu hanya berlangsung kurang dari setengah jam. Bombardir telepon masuk dan SMS membuat kesembilan temannya memaksa untuk pulang.

Kai tidak lagi bisa menahan karena waktu memang sudah menunjukkan beberapa menit menjelang tepat pukul sebelas malam. Ruangan yang tadi ingar-bingar kini lengang. Tak ayal, kecemasan itu muncul lagi, juga perasaan sunyi dan sendirian yang sudah sangat akrab dengannya selama ini.

Akhirnya Kai memutuskan untuk membuat dirinya lelah, bukan pikirannya. Dikendarainya motornya tak tentu arah. Bernyanyi-nyanyi sendiri di atas kedua roda yang berputar itu, dibelahnya malam Seoul dengan berbagai macam suasananya.

Sudut-sudut yang sepi dan lengang. Pasar Induk yang justru riuh dan ingar-bingar. Deretan rumah dengan tirai tertutup rapat dan lampu remang-remang. Pos-pos jaga yang berisi orang-orang yang sedang bermain catur atau sekedar mengobrol ringan. Begitu dirasakannya tubuhnya mulai letih dan matanya mulai berat, baru pria itu memutuskan untuk pulang.

.

.

.

Keep review guys!^^