Little Piece of Heaven

Pairing: SasuSaku

Disclaimer: I do not own Naruto, nor the story.

Warning: This is an Indonesian translation of Leanne Ash's story with the same title. Done with permission.

Summary:

"Aku tidak melakukannya karena aku menganggapmu lemah! Aku melakukannya karena-! Karena... aku... Sudahlah." Bertahun- tahun kemudian, kejadian ini akhirnya terjadi. Sayangnya, Sakura sudah tidak peduli. Sebuah kisah tentang cinta dan ironi, dimana yang satu tidak sadar, dan yang lainnya adalah Sasuke.


Chapter 9

Sakura melompati atap rumah- rumah dengan kecepatan penuh, ia tengah menuju kediaman Hyuuga. Tsunade baru saja mengirimnya untuk memeriksa luka Hyuuga Neji yang dilaporkan terkena kunai dalam misinya kemarin.

Menghentikan langkahnya dengan gerakan gemulai tepat di luar kediaman Hyuuga, Sakura mendorong gerbang berat di hadapannya dengan hati- hati, pandangannya menyapu sekeliling halaman keluarga yang tersusun apik. Seketika ia menangkap sesosok pemuda yang tengah berlatih, melempar kunai pada target yang terbuat dari kayu dengan satu lengannya yang tidak terluka.

"Selamat Pagi!" sapa Sakura riang.

Gerakan tangan Neji terhenti di udara kemudian tersenyum hangat pada Sakura. "Sakura," responnya. "aku memang berharap kaulah yang dikirimkan oleh Tsunade."

"Benarkah, aku tidak akan memeriksamu dengan lembut." canda Sakura. "bagaimana lenganmu?"

"Masih sedikit sakit jika digerakan, "jawab Neji, melenturkan lengannya untuk menegaskan. "tapi sebagian besar mati rasa."

"Itu artinya balsam penyembuhnya sedang bekerja," kata Sakura yakin. Meletakan ransel yang sedari tadi menggantung di pundaknya, Sakura mendudukan diri di balai- balai dan memberikan kode agar Neji menghampirinya. "Boleh aku lihat lukamu dari dekat?'

Neji mengangguk setuju, "Tentu."

"Aku tidak akan lama. Aku juga harus latihan dan belajar sendiri."

"Ah, sangat mengagumkan." komentar Neji, sambil memandang sepasang bola mata hijau berkilau yang tengah memeriksa lukanya.

Saat pandangan mereka bertemu, Sakura mandang Neji ingin tahu. "Ada apa?"

Terpesona dengan tingkah inosen Sakura, Neji terkekeh ringan dan menggelangkan kepalanya. "Tidak apa- apa, Sakura. Jadi bagaimana latihanmu?" Neji menjeda sejenak untuk melempar satu senyum lagi. "lebih baik?"

Sakura merengut dan tertawa canggung mendengar pertanyaan Neji. Sakura merasa betul bahwa Neji adalah tipikal orang baik yang akan menyemangatinya, Neji termasuk salah satu ninja hebat di desa dan sejajar terhormatnya dengan klan Uchiha, mengakui kelemahan adalah hal yang sulit untuk dilakukan oleh Sakura. dengan hati- hati Sakura membungkus luka di lengan Neji dengan perban baru, Sakura membalas senyumnya.

"Cukup baik," jawab Sakura, senyum rendah hati terlukis di bibirnya.

Neji mengangguk. "Seperti yang aku kira."

Setelah memastikan perbannya sempurna, Sakura berdiri di hadapan Neji dan memulai nasehatnya sebagai seorang perawat. "Baiklah, Neji. Tidak boleh meregangkan otot dulu, tidak boleh latihan, tidak boleh mengangkat beban terlalu berat, tidak boleh menekan bagian lengan. Minum ramuan tehnya dua kali sehari, dan jika dirasa sudah tidak kebas, oleskan lagi balsamnya. Ada pertanyaan?"

"Mau berlatih denganku jika aku sudah sembuh?'

Tawa kaget lepas dari bibir Sakura. Kesempatan terakhirnya untuk berduel dengan Neji waktu itu gagal karena interupsi Sasuke dan Naruto. Sakura dengan senang hati akan menerima tantangan satu lawan satu dari seorang Ninja dengan kemampuan tinggi dan terhormat seperti Neji. Sasuke selalu menolak untuk berduel bersamanya dengan alasan sombong bahwa dia tidak mau menyakiti Sakura. Naruto mau berduel dengannya, tetapi Sakura tahu bahwa Naruto tidak mengeluarkan tenaganya. Sama sekali.

"Tentu saja!" jawab Sakura senang.

"Sampai jumpa besok."

Sakura mengangguk dan melambaikan tangannya untuk memberitahukan kepergiannya .

"Sakura…" seru Neji, Sakura menunduk pada Neji dan terkejut saat Neji maju dan meraih jemarinya. Menarik lengan Sakura lembut,Neji membawa tangan Sakura menuju bibirnya. Sakura tak berkedip, bibirnya setengah membuka kaget karena sikap Neji yang sangat berani. Seberapapun romantisnya kejadian itu jika dilukiskan, Sakura yakin ekpresi wajahnya yang seperti badut menghancurkan lukisan itu.

Setelah ciuman singkat di tangannya, Sakura tahu wajahnya merah merona… ia dapat merasakan hangatnya di kedua pipinya.

Melepaskan tangannya, Neji tersenyum jahil pada Sakura.

"Terimakasih," katanya.

Sakura berkedip. "I-Iya…"

Masih sedikit terkejut, Sakura melangkah keluar dari kediaman Hyuuga. Dengan sopan dia menutup pintu gerbang berat dan bersandar padanya.

Tadi itu…aneh. Saat pertama kali Neji memuji penampilannya dan menawarkan untuk mentraktirnya makan siang, Sakura masih bisa mengatasinya. Mungkin itu karena Hyuuga Neji adalah seorang gentleman. Dia lebih tua, lebih dewasa…Sakura menganggap ciuman di tangannya tadi adalah termasuk salah satu tingkah normalnya. Anggapan buta; terserah, yang penting bisa membuat perasaan tidak nyaman yang Sakura rasakan di perutnya menghilang.

Bangkit dari sandarannya, Sakura mulai melangkahkan kakinya kembali menuju kantor Tsunade. Baru setengah jalan, pandangannya kembali mendarat pada punggung tangannya. Seketika jantungnya berdebar tak karuan saat mengingat bibir Neji menyentuh kulitnya. Mengutuk dirinya sendiri, karena terlalu mendramatisir sesuatu yang begitu biasa, tanpa sadar dia menabrak dada bidang Uchiha Sasuke.

Seperti kerikil menabrak dinding batu. Sakura akan terjatuh ke belakang jika saja tangan kekar di depannya tidak cepat meraih lengannya. Bagai tanpa tenaga, Sasuke menarik lengan Sakura, menyeimbangkan tubuh Sakura. "Ada apa denganmu?" tanya Sasuke kesal.

Sakura mencoba menahan rasa malunya karena Sasuke menemukanya tengah melamun saat berjalan. "Maaf, Sasuke." katanya cepat. "aku hanya sedang memikirkan sesuatu."

"Hn." Sasuke mengerutkan matanya ragu sebelum menyeringai. "jangan sampai jatuh ke jurang."

"Jangan khawatir," tawa Sakura canggung, mengangkat dua jarinya pada Sauske. "Oh! Sebelum aku lupa… aku akan sedikit telat sampai di rumahmu hari ini daripada biasanya."

Sasuke memasukan kedua tangannya ke dalam saku. Nalurinya bangkit. Sasuke ingin tidak peduli, "Kenapa telat?"

Sakura meletakan jari telunjuknya di dagunya. "Ada sebuah buku yang aku ingin pelajari sejak lama. Masalahnya adalah, Tsunade-sama selalu memakainya maka dari itu aku tidak pernah punya kesempatan untuk meminjamnya. Hari ini beliau ada rapat di Suna. Beliau bilang aku boleh mempelajarinya jika ada kesempatan."

Sakura melihat Sasuke yang puas dengan jawaban yang ia berikan. Walaupun ia tidak tahu alasan kenapa Sasuke ingin tahu.

"Jangan terlalu dipaksakan," Sasuke memperingatkan sembari pergi.

Sakura tersenyum dan menggelengkan kepala. "Aku mungkin akan selesai pukul sepuluh jadi aku akan ke rumahmu setelahnya."

Sasuke menghentikan langkahnya sebelum menolehkan kepalanya pada Sakura. "Kau di kantor Hokage?"

Sakura mengangguk.

"Nanti sudah terlalu gelap," kata Sasuke. "aku akan menjemputmu."

"Huh? Itu tidak perl-"

"Tunggu aku, Sakura." kata Sasuke lebih seperti sebuah perintah. Sebelum sempat memprotes, Sasuke sudah menghilang dari pandangannya, sama sekali tidak mau mendengarkan penolakan Sakura.

Sakura meletakan tangannya di pinggul, merengut frustasi pada sang Uchiha yang baru saja pergi. Apakah Sasuke memiliki kelainan yang suka merendahkan orang lain sehingga dia selalu memperlakukan Sakura seperti anak kecil? Apakah Sakura benar- benar lemah di matanya? Sakura merengut. Sulit untuk menjelaskan sikap Sasuke akhir- akhir ini. Sasuke selalu saja memiliki alasan untuk mengantarnya pulang jika sudah terlalu malam. Persahabatan mereka benar- benar berkembang dengan baik. Sakura benar- benar berharap Sasuke tidak menganggapnya lemah lagi. Terkadang Sakura merasa bahwa Sasuke hanya ingin memamerkan kekuatannya mendominasi yang dimilikinya.

.

Setelah mempelajari dan mempraktekan tekhik- teknik penyembuhan selama sembilan jam penuh, Sakura menutup buku besar milik gurunya. Napasnya pendek, dia dapat merasakan keringat mengalir di wajahnya. Ia telah belajar cukup banyak hari ini. Sakura mengangkat bahu, meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak terlalu memaksakan diri kali ini.

Berdiri dengan kaki yang sedikit bergetar, Sakura meletakan buku Tsunade pada tempat semula, di rak paling tinggi. Kedua lengannya tiba- tiba merasakan bahwa buku di tangannya terasa bertambah berat dari yang terakhir dia ingat.

Menyeimbangkan kedua kakinya di tangga, Sakura menjulurkan tangannya sampai rak paling tinggi saat sebuah lengan kekar menggenggam pergelangan tangannya.

Sasuke merengut melihat Sakura, sekarang lima belas menit sebelum pukul sepuluh.

Sakura berkedip menatap Sasuke ingin tahu. "Kau sudah sampai,"

"Hn." tanpa melepaskan pergelangan tangan Sasuke, Sasuke meraih buku di tangan Sakura. "Jangan bertindak bodoh," Sasuke melepaskan tangan Sakura perlahan dan tanpa bantuan tangga meletakan buku itu kembali pada tempatnya. Gerakan Sasuke yang simple membuat Sakura merasa bahwa dirinya sangat kerdil.

"Hanya karena kau tinggi," Sakura menggerutu. "bukan berarti kau perlu menunjukannya di depanku begitu, tahu tidak."

"Bukan itu maksudku," Sasuke menggerutu. "Kau kelelahan lagi." Sasuke berhenti dan melempari Sakura pandangan tajam, yang menakutkan. Kali ini Sasuke terlihat mengancam dan sebal. "berhenti melakukan itu." kata Sasuke memperingatkan.

Sakura mengerutkan dahi. "Berhenti melakukan apa?"

"Aku tidak perlu mengulangnya."

Sakura memilih menyerah karena dua hal, satu: Sasuke tidak akan mengalah, dua: dia terlalu lelah untuk berdebat dengan Sasuke, akhirnya ia melipat kedua lengannya. "Baiklah…"

Mata gelapnya menyipit menunggunya meneruskan. Memutar matanya, Sakura mengerti bahwa sang pemuda berambut hitam itu menginginkan dia untuk memperjelas kata- katanya. "Aku akan berhenti mempraktekan setiap tekhnik yang tengah aku pelajari!" Sakura mendesis.

Puas, Sasuke bersender pada dinding, memberi tahu bahwa dia menunggu Sakura bersiap.

"Sialan…" bisik Sakura.

"Bodoh."

Menyeringai pada jawaban Sasuke, Sakura mulai mengemasi barang- barangnya. Hari ini adalah hari yang sibuk… kejadian bersama Neji beberapa kali berputar di kepalanya. Sangat menyebalkan karena Sakura terlalu memikirkan tindakan biasa Neji. Apa maksud Neji? Apakah kejadian Itu juga berarti sesuatu untuk Neji? Apakah itu berarti sesuatu padanya? Huuuuh. Seperti pemikiran gadis kecil saja, mungkin kejadian tadi sama sekali tidak memiliki arti khusus untuk keduanya.

Sakura mendesah sambil menutup ranselnya. Menyadari bahwa Sakura sudah siap, Sasuke melangkah maju melewati Sakura, meraih ranselnya.

"Sasuke, tidak usah aku bisa-"

"Ayo," potong Sasuke tak sabar.

Menelan protesnya, Sakura mengikuti Sasuke sembari mematikan lampu di belakangnya.

Belakangan Sasuke benar- benar memaksa untuk membawakan apapun untuknya. Membuat frustasi saja, tapi Sakura menganggapnya sebagai niat baik Sasuke. Sakura sudah menghabiskan waktu yang terlalu lama untuk berlatih. Sasuke terus mengomelinya dan menolak untuk membiarkan Sakura melakukan hal yang berat, mengatakan bahwa jika Sakura tetap memaksa, seluruh tubuhnya mungkin akan tumbang karena kelelahan dan itu akan membuat Sasuke lebih repot.

"Kau tahu, Sasuke…" kata Sakura, "Akulah yang seharusnya mencegahmu melakukan hal- hal yang berat."

"Kalau begitu jaga saja dirimu dengan baik," jawab Sasuke tajam, seperti tengah berbicara pada seorang ratu bodoh.

Sebenarnya Sasuke benar. Sakura yakin bahwa Sasuke akan terus melakukan banyak hal untuknya sampai Sakura bisa membuktikan bahwa dia sudah kuat, dan dia tidak bisa membuktikan hal itu dengan menghabiskan seluruh tenaganya saat latihan. Kini Sakura sudah memiliki motivasi yang membuatnya ingin menjadi lebih kuat.

Sesampainya mereka di luar gedung, angin lembut menyapu helai rambut merah muda di wajah Sakura. Sakura menyingkapnya, namun berhenti sejenak saat pandangannya mendarat di punggung tangannya. Pipinya menghangat saat pikirannya seketika mengingat kejadian bibir Neji yang bertemu dengan kulitnya. Sakura menggosok tangannya gugup dan mencoba untuk menghilangkan perasaan tidak mengenakan di perutnya.

Kenapa Sakura begitu mempersoalkan kejadian itu? Apa artinya itu? Menatap Sasuke, dia membersihkan tenggorokannya, mencoba menjernihkan keadaan.

"Hey, Sasuke?" kata Sakura memulai percakapan, mencoba untuk tidak terdengar kikuk. "jika…sesorang menciummu, menurutmu apa artinya?"

Sasuke menghentikan langkahnya tiba- tiba.

"Kenapa, siapa yang melakukannya?'

Reaksi Sasuke sangat berbeda dari yang Sakura perkirakan saat ia menatap pada kedua mata Sasuke yang terlihat geram. Sakura berpikir apakah dia salah bicara sehingga membuat Sasuke marah. Reaksi Sasuke begitu cepat. Dia kelihatan tidak peduli pada pertanyaan Sakura. Dia hanya ingin tahu siapa yang telah mencium Sakura. Tentu saja itu bukan karena Sasuke cemburu. Sasuke tidak pernah tertarik pada Sakura seperti itu, jadi tentu saja Sasuke tidak cemburu. Itu pasti karena Sauske terlalu over-protektif. Walaupun cukup mengagetkan bagi Sakura bahwa Sasuke memerhatikan dia di luar aspek kesehatan dan keselamatannya.

Tidak mendapatkan respon dari Sakura, mata hitam Sauske menyipit tak sabar. "Sakura…" Sasuke menggeram.

Sakura tersentak dari lamunanya. "Um…itu… Neji. Dia menciumku…" pandangan Saksuke semakin tajam "di tangan. Aku di rumahnya pagi ini dan dia… tapi menurutku dia hanya-"

"Apa yang kau lakukan di sana?"

Merasa dirinya tengah dihujani pertanyaan, Sakura mengelus tengkuknya sebal. "Aku memeriksa lukanya pagi ini," jelasnya lelah.

"Apakah dia mencoba melakukan sesuatu yang lain?" tuntut Sasuke.

"Apa? Tidak! Bukan begitu."

"Lalu bagaimana?"

Sakura mendesah, terlalu penat untuk menjelaskan. Sasuke jelas tidak begitu senang dengan percakapan semacam ini. Seharusnya tadi dia bertanya pada Ino saja. "Dengar, Ini bukan masalah besar. Kau kan lelaki. Aku hanya ingin tahu dari sudut pandangmu apa artinya itu."

Sakura bersumpah dia mendengar gigi Sasuke bergemeletuk.

Sasuke memandang Sakura beberapa saat sebelum berbalik. Pandangan tajamnya membuat Sakura mundur, menggerakan dua jarinya mengisyaratkan agar Sakura mengikutinya. "Tidak usah dipikirkan. " Sakura mendengar Sasuke bergumam. "abaikan saja."


AN: chapter 9 will be up in no time? what kind of bullsh*t was that Eve?

lol, Im sorry okay? ternyata in no time dalam kamus Eve itu berbulan- bulan, peoples.

Ah, sudahlah saya tidak akan membela diri kenapa butuh waktu begini lama untuk mempublish ini.

Anyway, Terimakasih sudah membaca.

Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.

-with cherry on top-

.the autumn evening.