^^Bad Marriage^^
Chapter 8 : The Strom is Beginning
Main Pair : ChanBaek
Other Pair : Seiring berjalannya cerita
Genre : Romance, Hurt/Comfrot, And Humor
Rated : T+
Dicslaimer : FF ini asli milik saya
Summary : Park Chanyeol yang mengaku normal harus menikah karena perjodohan gila orang tuanya. Ia di jodohkan dengan Byun Baekhyun, si namja cantik yang sedikit berandalan sekaligus teman sekelasnya. bagaimana kehidupan setelah mereka menikah? ternyata, ada satu rahasia yang tak pernah diketahui Baekhyun tentang dirinya sendiri. apakah itu?
Warning : GaJe, Yaoi, Typos, Bahasa Menyesuaikan, EYD berantakan.
.
.
.
^^BerryKyu^^
.
.
.
Presents
.
.
.
^^BerryKyu^^
"Jangan biarkan ia tahu tentang rahasia besar ini"
Mereka berada di tepi sungai han sekarang ini. Air danau yang jernih nan tenang itu bergelombang saat Taehyung melemparkan sebuah batu kecil ke arah sungai itu.
Seulas senyum terpoles di wajah polosnya yang manis itu. Betapa gemasnya Chanyeol dan Baekhyun melihat wajah ceria Taehyung.
"Taehyungie..." Panggil Baekhyun dengan senyuman di bibirnya. Taehyung membalikan badannya, lalu berlari kearah Baekhyun.
'Bagaimana perasaanmu?' Baekhyun mennyentuh dada Taehyung lalu menaikan bahunya dengan kedua tangannya yang berada di sisi lengannya.
'Sangat senang! Terima kasih, Mom' Taehyung memeluk pinggang Baekhyun seerat mungkin. Baekhyun mengelus surai Taehyung perlahan. Kemudian, Baekhyun menatap Chanyeol yang juga menatapnya.
Semilir angin menerbangkan rambut mereka, langit senja itu bersinar indah, burung-burung berkicau kesana kemari di atas sungai Han.
^^BerryKyu^^
CEKLEK
"Bagaimana? Apa Taehyung suka?" Tanya Baekhyun setelah membuka pintu kamar baru anaknya.
'Taehyung sangat suka. Terima kasih, Mom!' Taehyung segera berlari menuju ranjang barunya. Menghempaskan tubuh mungilnya di kasur empuk yang ukurannya lumayan besar untuk anak seusianya.
Baekhyun melipatkan tangannya di dada. Senyuman kembali tertoreh di bibirnya. Tidak kah kalian tahu bagaimana perasaannya saat ini? Entahlah, terlalu abstrak untuk di definisikan dengan kata-kata.
"Sekarang, Taehyung mandi dan ganti bajunya. Baju Taehyung sudah mommy siapkan di lemarimu. Oke?" Baekhyun mendudukan dirinya di sisi ranjang. Tangannya mengusak rambut Taehyung.
Taehyung mengangguk dengan ekspresi menggemaskannya.
"Mommy dan Daddy keluar dulu yah," Baekhyun bangkit, kemudian berjalan keluar kamar, diikuti Chanyeol yang mengekorinya.
"Berhenti mengekoriku, Chanyeol." Ujar Baekhyun kesal. Ia membalikan badannya berniat mengomeli Chanyeol. Tetapi...
CHUP
Chanyeol terlebih dahulu mengecup kilat bibirnya. Baekhyun terdiam, berusaha mencerna kejadian tak di harapkan olehnya itu.
"KYAAAAA, PARK CHANYEOL GILA!" Teriak Baekhyun seperti akan di perkosa oleh om-om mabuk.
"Oh sayang, berhentilah menyakiti pita suaramu, sayang" Ucap Chanyeol. Sepertinya, Chanyeol salah berbicara, terlihat dari Baekhyun yang semakin mengamuk padanya.
"Akh! Maafkan suami tampanmu ini, Sayang." Goda Chanyeol mengerling nakal pada Baekhyun yang menghujaninya dengan pukulan cinta.
"Masih tampan juga pantat panci di dapur." Sahut Baekhyun sedikit menggeram kesal. Sedangkan, Chanyeol menjadi korban pemukulan istrinya.
^^BerryKyu^^
07.15 PM
"Makanlah dengan perlahan, Taehyungie." Tegur Baekhyun seraya tersenyum kepada Taehyung. Taehyung terkekeh dengan kedua pipi yang mengembung.
Taehyung meletakan sendok dan garpunya sejenak.
'Masakan Mommy sangat enak' Taehyung memberikan kedua jempol mungilnya untuk sang Mommy.
"Benarkah? Mommy jadi tersipu mendengarnya." Sahut Baekhyun yang sibuk memotong steak dengan garpu dan pisaunya.
"Kamu akan gendut, jika terus bersama kami. Haha." Timpal Chanyeol sedikit menggoda Taehyung.
'Tae tidak mau jadi gendut' Bocah manis itu mengerucut kan bibirnya sedih.
"Hei! Jangan bersedih, Sayang. Kalau kau gendutkan, artinya kau itu sangat sehat." Baekhyun menyikut halus pinggang Chanyeol yang tepat di sampingnya.
"Akh!" Lagi-lagi Chanyeol terkena korban aniaya istrinya sendiri. Oke, ini lebai.
'Benarkah? Ah, Taehyung mau makan yang banyak!'
Taehyung kembali mengambil sendok dan garpunya, lalu memasukan makanan ke dalam mulutnya dengan garpunya.
Chanyeol dan Baekhyun saling berpandangan, kemudian sedikit tertawa kecil melihat kepolosan anak mereka itu.
^^BerryKyu^^
#At TV Rooms
09.00 PM
Kini, keluarga Park itu tengah menonton televisi di ruang televisi. Taehyung yang sedang di pangku oleh Baekhyun, dan Chanyeol yang bersandar di bahu sempit Baekhyun.
Suasana melankolis menyelimuti keluarga muda itu. Chanyeol dan Taehyung sudah tertidur lebih dari setengah jam yang lalu, sedangkan Baekhyun masih mempertahankan matanya yang semakin berair karena drama yang sedang ia tonton.
Dan, lima belas menit kemudian barulah drama movie yang berjudul 'Miracle Cell No. 7' itu tamat. Baekhyun meraih remot TV, lalu memencet tombol power berwarna merah yang terletak di sisi atas remot TV.
Baekhyun memandang ke arah pangkuannya, di sana Taehyung telah bersandar di dadanya dengan mata tertutupnya.
Kemudian, menorehkan pandangannya ke bahu kanannya yang terasa berat, karena Chanyeol tertidur di bahunya itu.
"Aku mencintai kalian, Suamiku, Anakku." Bisik Baekhyun pelan.
"Chan..." Panggil Baekhyun lembut sembari sesekali menggerakan bahunya ke atas.
"Enghh..." Lenguh Chanyeol merasa tidurnya terganggu. Lelaki tampan itu mendirikan kepalanya, kedua tangannya mengusap mata yang masih memberat.
"Tolong aku menggendong Taehyung ke kamarnya."
Chanyeol bangkit dari posisinya, lalu mengambil Taehyung yang sedang tertidur dari pangkuan Baekhyun.
Mereka pun berjalan menuju kamar Taehyung. Chanyeol meletakan tubuh mungil Taehyung di atas ranjang, setelah itu menyelimuti Taehyung sampai batas dada.
"Selamat tidur, Sayang." Baekhyun mengecup dahi Taehyung. Ia kembali beranjak, mendorong punggung Chanyeol untuk berjalan lebih dahulu.
Chanyeol menurutinya malas, karena rasa kantuk yang luar biasa melandanya.
"Cepatlah jalannya!" Ujar Baekhyun dari belakang Chanyeol. Chanyeol sedikit mendesah kesal. Baekhyun tertawa menanggapi suaminya yang sudah lelah menemaninya menonton drama movie.
Baekhyun menutup pintu kamarnya, ketika ia dan Chanyeol sudah memasuki kamar mereka.
^^BerryKyu^^
05.45 AM
Jam weker masih menunjukan pukul enam kurang lima belas menit, namun sepasang suami-istri itu sudah di sibukan dengan kegiatan pagi.
Taehyung memandang kedua orang tuanya secara bergantian. Yah, Taehyung memang sudah terbiasa bangun dan mandi sepagi ini.
Mereka telah sarapan sedari tadi, dan saat ini Taehyung sedang menunggu kedua orang tuanya selesai dari kegiatan berkejaran pulang-balik dari ruang tengah tempat Taehyung berada ke ruang-ruang di rumah itu.
"Astaga, kau letakan kotak pensilku di mana, Park Chanyeol?" Teriak Baekhyun dari kamarnya.
Chanyeol yang sedang berada dk ruang tengah itu menghentikan kegiatan memeriksa tasnya kembali.
"Aku meletakannya di meja..."
"Aku sudah mendapatkannya!" Chanyeol mendengus kesal. Baekhyun memang suka bertanya sebelum mencari. Dasar.
"Taehyungie sudah siap, 'kan, ke rumah nenek dan kakek?" Taehyung menganggukan kepalanya dengan semangat sambil mengenakan tas punggungnya.
Tinggal menunggu si cantik Baekhyun dengan segala kecerewetannya keluar dari kamar utama.
Lima menit kemudian, barulah Baekhyun keluar dari kamarnya. Tangannya masih sibuk menyamankan kaos kaki yang di kenakannya.
"Ah, aku sudah siap. Ayo, pergi!" Ujar Baekhyun berjalan mendahului Chanyeol dan Taehyung.
Chanyeol dan Taehyung saling berpandangan, lalu bergidik ngeri. Baekhyun kadang memang mengerikan, itulah yang Taehyung dapatkan tentang perilaku sang ibu barunya.
"Kalian berdua! Cepatlah!" Ujar Baekhyun dari arah teras rumah.
"NE!" Sahut Chanyeol. Mereka pun dengan cepat berlari menyusul si cantik nan cerewet itu.
^^BerryKyu^^
TOK TOK TOK
Chanyeol mengetuk daun pintu rumah besar dan mewah itu. Dari dalam sana, terdengar bunyi suara langkah kaki.
"Ya. Tunggu sebentar!"
Chanyeol memandang Baekhyun yang sedang sibuk menggendong putra mereka, Taehyung. Bocah manis itu tertidur dalam perjalan, karena perjalanan mereka -dari rumah sampai pada rumah orang tua Chanyeol- cukup panjang.
CEKLEK
Daun pintu besar itu terbuka, di baliknya muncul seorang wanita paruh baya yang di yakini adalah ibu Chanyeol, Nyonya Park.
"Ah, rupanya kalian sudah sampai..." Ucap Nyonya Park langsung memberikan jalan untuk anak, menantu, dan 'cucu' barunya.
"Iya, Bu. Aku mengantarkan Taehyungie kemari." Kata Baekhyun seraya meletakan tubuh mungil Taehyung ke atas sofa lebar yang terletak di ruang tamu.
"Baiklah. Apa kalian akan langsung berangkat lagi?" Tanya Nyonya Park diiringi oleh senyumannya.
"Iya, Bu. Pulang nanti, kami akan mengambil Taehyungie lagi." Sahut Baekhyun mulai berjalan ke arah ibu mertuanya itu.
"Maaf sudah merepotkanmu, Ibu." Sesal Baekhyun menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, Baekkie. Lagipula, dia sudah menjadi cucu kami. Siapa namanya?"
"Namanya Taehyung, Bu." Kali ini, Chanyeol menjawab pertanyaan dari ibunya.
"Ah, Taehyung." Nyonya Park mengangguk mengerti. Matanya menoreh ke arah Taehyung.
"Aku menitipkannya disini karena hanya ibu yang mengerti dengan bahasa isyarat," Ucap Chanyeol sedikit terkekeh.
"Mana Ayah, Bu?" Tanya Baekhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang tamu itu.
"Ayah kalian sedang berada di taman belakang, menyiram bunga kesayangannya." Nyonya Park tertawa kecil. Chanyeol dan Baekhyun mengangguk.
"Baiklah, Bu. Kami sekolah dulu, ya"
"Hati-hati, Sayang"
"Ya, Bu."
Akhirnya, Chanyeol dan Baekhyun pun keluar dari dalam rumah besar itu setelah berpamitan dengan Nyonya Park.
^^BerryKyu^^
Baekhyun turun dari sisi jok penumpang, kemudian menutup daun pintu mobilnya dengan kuat.
Chanyeol yang baru saja turun hanya bisa tersenyum. Karena, perjalanan tadi Baekhyun hanya tersenyum, sesekali ia tertawa kecil.
Chanyeol berjalan ke arah Baekhyun. Merangkul bahu Baekhyun, membuat acara tertawa sendirinya itu terhenti.
"Hei, Sayang. Berhentilah tertawa seperti itu! Jangan membuat penghuni sekolah mengira aku telah menikahi seorang namja cantik yang gila," Canda Chanyeol yang malah mendapatkan tatapan sadis dari Baekhyun.
"Ugh... Aku membencimu!" Baekhyun melepaskan rangkulan Chanyeol. Lalu, pergi meninggalkan Chanyeol.
"Hei, Sayang. Tunggulah aku," Chanyeol segera berlari mengejar Baekhyun. Merangkul kembali lelaki cantik itu.
Namun, Baekhyun menyikut pinggang Chanyeol membuat Chanyeol melepaskan rangkulan. Tapi, belum lama kemudian, tangannya sudah berada di bahu Baekhyun kembali.
^^BerryKyu^^
Kini, Sehun, Luhan, Jongin, dan Kyungsoo tengah memperhatikan Baekhyun yang sibuk melihat layar ponselnya sambil tersenyum gila. Sedangkan, Chanyeol sudah tidak heran lagi dengan kelakuan sang istri yang berubah menjadi gila seketika.
Pantas saja, empat anak bebek itu sudah mengerubungi Chanyeol dan Baekhyun. Ini sudah jam istirahat, dan kerjaan empat anak bebek itu saat istirahat ini tentu saja menganggu Baekhyun.
"Kau demam, Baek?" Luhan menempelkan punggung tangannya di dahi Baekhyun. Baekhyun memukul tangan Luhan, saking kuatnya Luhan terluhat meringis sambil mengibaskan tangannya.
"Jangan membuat moodku rusak!" Ujar Baekhyun kesal. Tersenyum kembali saat matanya kembali menatap layar ponselnya.
Kyungsoo yang penasaran dengan apa yang layar pinsel Baekhyun tampilkan itu, perlahan berjinjit di belakang Baekhyun. Ia bisa melihat foto Baekhyun dan seorang bocah laki-laki di wallpaper ponsel Baekhyun sedang tersenyum kekanakan.
"Siapa itu, Baek?" Baekhyun memutar kepalanya sembilan puluh derajat. Ia mendapati Kyungsoo memasang wajah penasarannya.
"Anakku!" Jawabnya santai. Chanyeol menghela nafasnya, menjatuhkan kepalanya di atas meja.
"MWO?!" Keempat anak bebek itu berteriak di depan wajah Baekhyun. Baekhyun yang terkejut menutup matanya, kepalanya termundur sedikit dari posisi badannya.
"Bisakah kalian tidak berteriak seperti itu?" Sengit Baekhyun memberikan tatapan mematikannya pada anak-anak bebek itu.
"B-bagaimana bisa?" Sehun bersuara. Mulutnya masih terbuka, matanya mengerejap tak percaya.
"Ya bisa lah," Jawab Baekhyun santai. Ia kembali bersantai di kursinya, menyilangkan kedua kakinya.
Keempat anak bebek itu saling berpandangan tak mengerti, mereka mengangkat bahu mereka.
"Chanyeol-ah..." Panggil Jongin. Chanyeol yang masih sibuk dengan acara tidur pura-puranya itu masih belum bergeming.
"Yak! Kau tak dengar?!" Jongin mengguncangkan tubuh Chanyeol. Chanyeol yang sudah di buat pusing pun, akhirnya memposisikan dirinya dengan baik.
"Ada apa?" Sedetik kemudian, Chanyeol melotot karena di pandangi horror seperti tadi.
"Siapa yang di maksud Baekhyun dengan 'anaknya' itu?" Luhan bertanya menyelidik.
"Tanyakan saja padanya." Sahut Chanyeol membuat Luhan bangkit dari kursinya.
BRAK
"Kalian itu, jika di tanya, jawablah dengan benar! Oh God... aku bisa gila menghadapi mereka ini," Papar Luhan mengusap wajah cantiknya dengan kasar.
Chanyeol dan Baekhyun saling berhadapan, mereka menghela nafas dalam.
"Mereka anak angkat kami," Kata Chanyeol dan Baekhyun serempak.
"MWO?!"
Siapapun, tolong bunuh empat anak bebek di depan Chanyeol dan Baekhyun ini. Mereka sungguh berisik.
"Sekali lagi kalian berteriak. Aku tak akan melanjutkan ceritanya," Ancam Baekhyun. Empat anak bebek itu menutup mulut mereka dengan kedua tangan mereka.
"Kami mengadopsinya. Itu saja."
"Hah? Itu saja?" Baekhyun menganggukan kepalanya. Kyungsoo memutar bola matanya malas, namun...
"Tapi, dia cacat."
Terdiam.
Tidak ada yang mau membuka suara. Suara Baekhyun terdengar sedih. Itu membuat mereka terdiam.
"Tapi, entah mengapa aku bisa sangat menyayanginya dalam waktu sehari." Baekhyun menghela nafasnya kembali. Ia tidak tahu, sudah berapa kali ia menghela nafas seperti tadi.
"Aku mengerti perasaanmu..." Kata Luhan bijak. Baekhyun menatap mata rusa Luhan.
"Kau tak akan mengerti..." Luhan menyadari, mata sabit Baekhyun telah berkaca-kaca. Lagi-lagi mereka terdiam.
"Engh... Ada yang ingin ke kantin? Perutku sudah berbunyi," Suara Sehun memutuskan kesunyian di antara mereka.
^^BerryKyu^^
Di tempat lain, Taehyung mulai mengerejapkan mata sabitnya. Setelah, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya, Taehyung mendudukan dirinya.
Taehyung mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Dahinya mengerut bingung, pasalnya kamar yang sedang ka tempati ini terlihat asing baginya.
Taehyung turun dari ranjang yang memiliki tinggi di atas tubuhnya itu. Berusaha meraih knop pintu dengan susah payah.
Setelah keluar pun, Taehyung tidak tahu ia harus kemana. Rumah itu mempunyai luas dua kali lebih besar dari pada rumah Daddy dan Mommynya.
Di ujung koridor panjang ini ada sebuah tangga. Ternyata, ia berada di lantai dua dari rumah besar itu.
Taehyung berjalan pelan mendekati tangga itu. Matanya tidak berhenti menatap kagum lukisan-lukisan dan ukiran-ukiran yang memanjakan matanya.
'Ini istana atau rumah.'
Saking kagumnya, Taehyung tidak menyadari jika ia sudah berada di tepi tangga.
Mata Taehyung membesar, ia mencoba menyeimbangkan tubuhnya, akan tetapi dirinya tidak kuat untuk menahan berat badannya. Dan...
Taehyung terguling dari atas tangga itu.
BUGH
Kepala belakang Taehyung mengenai lantai dengan kuat. Ia merasa rambut belakangnya basah dan ia juga mencium bau anyir yang sangat menyengat.
Pandangannya memburam. Ia merasa tidak bisa lagi menahan matanya untuk tidak tertutup. Dan, akhirnya, semua menggelap. Tetapi, sebelum itu, ia dapat mendengarkan suara teriakan dari seorang wanita paruh baya.
"TAEHYUNGIE!"
^^BerryKyu^^
Baekhyun segera mengemasi bukunya ke dalam tas saat bel pulang telah berbunyi. Perasaannya tiba-tiba saja tak enak, sedari tadi, ia hanya memikirkan satu nama, Taehyung.
"Baek, kenapa wajahmu tiba-tiba terlihat khawatir seperti itu? Kau seperti bunglon saja." Ringis Luhan yang terheran-heran dengan sikap Baekhyun. Tetapi, Baekhyun tidak merespon Luhan.
"Hah~ Akhirnya Ujian kelulusan selesai juga. Tinggal menunggu pengumuman kelulusan," Seru Jongin seraya merentangkan tangannya. Baekhyun hanya mendeliknya sedikit, lalu kembali dalam kesibukannya. Namun...
"Apa ibu ada meneleponmu, Chan? Ponselku baterainya habis." Tanya Baekhyun khawatir. Chanyeol mentautkan alisnya.
"Tidak, kurasa." Jawab Chanyeol, menggaruk kepalanya yang terasa gatal.
"Coba kau periksa dulu!" Titah Baekhyun dengan nada yang memerintah.
"Baiklah, baiklah" Chanyeol segera mengeluarkan ponselnya.
"Ah, ternyata, aku mengaktifkan profil silent. Hm?" Dahi Chanyeol mengerinyit ketika melihat sesuatu yang aneh pada layar ponselnya.
"Ada apa, Yeol?" Tanya Baekhyun segera mendekat ke Chanyeol, sedikit berjinjit guna melihat apa yang di tampilkan layar ponsel Chanyeol.
"Panggilan tak terjawab ada enam puluh tiga panggilan dari ibu." Kini Baekhyun mentautkan alisnya. Tak biasanya, Nyonya Park terus menelepon hingga berkali-kali seperti ini.
"Ah, ibu meneleponku!" Seru Chanyeol.
"Angkat saja! Cepat!" Chanyeol pun menggeser ikon hijau itu, lalu meletakan ponselnya di telinga kanannya.
"Ya, bu?"
"..."
"APA?!"
Baekhyun menatap Chanyeol waspada, karena tubuh lelaki tampan itu langsung menegang.
"..."
"Kenapa ibu tidak menjaganya?" Chanyeol memegang pangkal hidungnya.
"..."
"Sudah, jangan menangis. Sekarang ibu dan ayah di rumah sakit mana?"
"..."
"Baiklah, aku akan kesana," Chanyeol menaruh kembali ponselnya di dalam saku celananya. Kemudian, terduduk kembali di kursi.
"Ada apa, Yeol?" Baekhyun mulai panik. Ia mengguncangkan kedua bahu sang suami. Namun, Chanyeol tak bergeming sedikit pun.
"Jangan membuatnya panik, Chan!" Seru Kyungsoo membuka suara. Dari tadi, empat anak bebek itu hanya diam di tempat mereka.
"Taehyung jatuh dari tangga."Kaki Baekhyun terasa lemas. Untungnya, Luhan dan Kyungsoo segera menangkapnya, jika tidak, mungkin saja bokong Baekhyun tidak akan selamat dari hantaman ubin.
"Sekarang dia ada di rumah sakit." Baekhyun mendirikan badannya dengan susah payah.
"Ayo, Yeol. Kita harus cepat ke rumah sakit. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan putraku,"
Chanyeol dan Baekhyun langsung saja melesat pergi dari sana meninggalkan empat anak bebek yang memandang mereka bingung.
^^BerryKyu^^
TAP TAP TAP
Langkah kaki itu terdengar cepat di koridor rumah sakit. Mereka baru berhenti ketika berada di depan ruang ICU, di sana ayah dan ibu Chanyeol tengah menunggu di kursi tunggu.
"Ibu, bagaimana keadaan Taehyung?" Baekhyun bertanya, nafasnya memburu. Mata sabit itu menyorotkan ketakutan yang luar biasa.
"T-taehyung sedang di tangani dokter," Jawab Nyonya Park, suaranya terdengar serak dan terbata-bata.
"Chan, Taehyungku..." Baekhyun menjatuhkan kepalanya di dada Chanyeol. Chanyeol menahan tubuh Baekhyun yang memberat, lelaki cantik itu terlihat rapuh sekarang. Ia menangis, meruntuhkan seluruh pertahanannya.
"Berdoa-lah, Sayang" Ucap Chanyeol pelan. Ia mengecup puncak kepala Baekhyun.
Tiga puluh menit mereka menunggu, dan akhirnya seorang pria paruh baya berjubah putih keluar dari pintu ICU. Baekhyun langsung saja melepaskan pelukannya, dan menghampiri pria paruh baya itu.
"B-bagaimana keadaan Taehyungku? Bagaimana?!" Baekhyun membentak dokter muda itu di akhir kalimat. Chanyeol mengusap bahu Baekhyun agar istrinya itu kembali tenang.
"Dia terjatuh dengan posisi yang berbahaya, sehingga kulit kepala belakangnya sedikit robek. Tapi, kami sudah menjahitnya. Dia belum sadar. Saya juga tidak tahu, kapan dia akan sadar. Kita hanya bisa mempercayakan semuanya pada Tuhan. Tapi..." Tutur dokter muda bermarga Han itu menggantung di akhir kalimat.
BRUGH
Baekhyun sudah jatuh dahulu sebelum dokter Han menyelesaikan penuturannya. Chanyeol menangkap tubuh yang lebih kecil darinya itu dengan cepat.
kakinya benar-benar tidak tahan lagi menopang seluruh berat badannya. Air mata Baekhyun mengalir begitu saja mengingat penuturan dari dokter han.
Bibirnya terasa kaku untuk berbicara. Perlahan, matanya mulai tertutup, dan setelah itu semuanya menjadi gelap.
^^BerryKyu^^
Baekhyun mengerejapkan matanya, membiaskan cahaya mentari yang masuk di retinanya. Samar-samar, ia melihat sang suami berdiri di sampingnya dengan wajah yang teramat khawatir.
Di sisi lainnya, juga terdapat paman dan bibinya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang ini?" Baekhyun tak menjawab, kepalanya terlalu sakit untuk mengeluarkan kata-kata.
"Kau seharusnya dapat menahan emosimu, tidak baik untuk kandunganmu," Kata Chanyeol bijak. Kedua tangannya menggenggam sebelah tangan Baekhyun.
Tunggu! Kandunganmu? Kandungan-MU?! Berarti...
"Aku mengandung, Yeol?" Suara itu terdengar lirih di telinga Chanyeol. Chanyeol mengangguk seraya tersenyum manis.
"Iya, Sayang. Kau mengandung anak kita," Chanyeol mengelus surai sutra Baekhyun. Baekhyun tersenyum bahagia, namun sedetik kemudian, ia kembali dengan wajah sedihnya.
"Taehyungku? Dimana dia?" Mata itu kembali memancarkan ketakutan dan kekhawatiran. Chanyeol sadar itu. Tapi, lagi-lagi ia kembali tersenyum.
"Dia baik-baik saja. Ibu dan ayah menjaganya dengan baik," Akhirnya sorot mata itu kembali tenang.
"Kau tahu? Kau hampir membahayakan bayi kita, Sayang." Chanyeol mengelus pipi chubby Baekhyun. Baekhyun menatap Chanyeol khawatir, tangannya yang lain mengelus perut ratanya.
"Dia sekarang baik-baik saja. Hanya terguncang sedikit. Kau tahu, 'kan? Jika kau merasa terguncang, maka dia juga akan merasakan hal yang sama denganmu. Apalagi, umurnya masih dua minggu,"
Air muka Baekhyun belum juga berubah, masih dengan air mukanya yang sedih.
"Kau kenapa, Sayang? Wajahmu kenapa murung seperti itu? Hmm?" Baekhyun menatap mata setajam elang itu.
"Aku adalah orang tua yang jahat," Tuding Baekhyun pada dirinya sendiri.
Dia gagal menjaga anak-anaknya. Dia hampir membuat bayinya tak selamat. Dia tidak bisa menjaga Taehyung dengan baik. Ia tidak pantas mendapat panggilan 'Mommy' dari anak-anaknya. Sangat tak pantas.
"Kau jangan menyalahkan dirimu sendiri, Sayang. Semuanya juga sudah berlalu. Sekarang tinggal menunggumu dan Taehyung sembuh." Hibur Chanyeol mengecup punggung tangan sang istri.
"Terima kasih, Chanyeol." Chanyeol mentautkan alisnya.
"Kenapa kau berterima kasih padaku, Sayang?" Tanya Chanyeol pelan. Ia bingung mengapa istrinya ini berterima kasih padanya. Seingatnya, ia tidak ada memberikan apapun pada Baekhyun.
"Karena, seluruh yang cinta dan kasih sayangmu, Yeol..." Chanyeol baru mengerti sekarang. Chanyeol tersenyum lebar, hingga menampakan lesung pipinya.
"Tentu saja, Sayang. Kau tidak perlu berterima kasih untuk yang satu itu." Lelaki tampan itu kali ini bergerak untuk mengecup dahi Baekhyun.
"Ehem!" Sebuah deheman seorang pria paruh baya di sampingnya, menyadarkan pasangan muda itu dari lovely dovey mereka.
"Ah? Hahaha... maaf, Paman, Bibi. Aku melupakan kalian yang sedari tadi berdiri disini." Baekhyun tertawa renyah. Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Yah, bisa saja paman dan bibimu ini akan berlumut menunggu kalian yang sibuk dengan dunia kalian." Keluh Bibi Byun sedikit meringis. Baekhyun mengembungkan pipinya, membuat kedua pipi chubbynya tampak lebih besar.
"Kalian itu berlebihan sekali," Ucap Baekhyun sebal. Paman Byun dan Bibi Byun mengelus surai sutra Baekhyun secara bergantian, saking gemasnya dengan keponakan mereka ini.
Baekhyun pun membuka pembicaraan dengan paman dan bibinya ini. Tidak menyadari, senyuman Chanyeol telah berubah menjadi sebuah kesedihan dan rasa bersalah yang mendalam
'Maafkan aku, Sayang. Ini yang terbaik untukmu dan calon bayi kita. Maafkan aku.'
^^BerryKyu^^
5 Days Later
09.10 AM
Chanyeol memilah-milah buah yang berada di keranjang buah. Sudah lima hari Baekhyun di rawat di rumah sakit. Beruntungnya, Mereka sudah memasuki waktu liburan, tinggal menunggu pengumuman kelulusan.
"Yeol..." Panggil Baekhyun sedikit mencebikkan bibirnya. Sontak, Chanyeol langsung menoleh ke arah sang istri.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Chanyeol pelan. Lelaki tampan itu mengambil buah jeruk sunkist, lalu mengupas kulit serta rambut jeruk itu.
"Sudah lima hari aku tidak bertemu, Taehyung. Apa boleh aku menjenguknya?" Chanyeol menghentikan kegiatan mengupas jeruknya.
Baekhyun yang sedari tadi tidak melihat Chanyeol pun menolehkan kepalanya ke arah lelaki tampan itu.
"Kau kenapa, Yeol." Mendengar suara merdu itu kembali terdengar, Chanyeol kembali mengupas jeruknya, setelah itu berjalan menuju ranjang Baekhyun.
"Aku tidak apa-apa. Taehyung juga perlu istirahat, Sayang. Kau tenang saja. Ibu ayah dan para dokter menjaganya dengan baik."
Chanyeol mulai menyuapkan satu per satu bagian-bagian kecil jeruk itu ke mulut Baekhyun. Baekhyun mengunyah jeruk itu dengan bibir yang mengerucut kecewa.
Chanyeol semakin merasa bersalah pada istri cantiknya ini. Ia sebenarnya tidak tega mnyembunyikan rahasia ini dari Baekhyun.
Tapi, saat ini kondisi Baekhyun dan calon bayi mereka belum stabil. Jika ia tetap memberitahukan hal itu kepada Baekhyun. Pasti, Baekhyun dan calon bayi mereka... ahh Chanyeol tidak bisa membayangkannya.
"Aku sangat merindukannya, Yeol." Keluh Baekhyun sembari mengembungkan pipinya.
"Nanti, jika saatnya sudah tiba, Sayang." Sahut Chanyeol menyuapkan kembali bagian jeruk sunkist yang ia pegang.
"Hmmm... pasti akan lama, 'kan?" Tanya Baekhyun mengharapkan jawaban 'tidak' dari Chanyeol.
"Hmm, mungkin?" Goda sang suami menaikan kedua alisnya. Baekhyun memukul kecil lengan Chanyeol.
"Akh... sayang, itu sangat sakit!"
"Rasakan itu!" Bengis Baekhyun kali ini mencubit lengan dan pinggang Chanyeol. Namun, itu semua terhenti. Karena...
BRAK
"BAEKKIE!"
Yah, teriakan menggelegar bak halilintar di tengah teriknya mentari itu berasal dari empat anak bebek yang tak lain adalah sahabat mereka.
"Aduh, bagaimana keadaanmu, Baek?" Si rusa cantik itu tergopoh-gopoh menghampiri Baekhyun.
"Ku dengar, kau tengah mengandung." Disusul si burung hantu dari belakang Luhan.
"Benarkah? Secepat itu?" Kini si hitam Jongin menimpali.
"Hohoho... kau hebat, Chan," Sehun mengacungkan kedua jari jempolnya kepada Chanyeol. Lelaki tampan itu hanya meresponnya dengan sedikit seringaian mengejek.
"Aku jadi menginginkan seorang anak. Lima, mungkin?" Tukas Jongin yang merangkul bahu Sehun. Matanya menatap genit Kyungsoo yang memasang wajah geramnya.
PLAK
Kalian pasti tahu pelaku yang menampar pipi Jongin hingga meninggalkan beberapa cap jari di sana. Sehun dan yang lainnya menahan tawa mereka.
"Itu bukan 'seorang' lagi, Bodoh! Dan, kita masih terlalu muda untuk mendapatkan seorang anak," Ucap Kyungsoo bijak di akhir kalimat.
"Kalian menyindirku!" Tuding Baekhyun tak terima. Kyungsoo dan tiga anak bebek lainnya menatap Baekhyun bingung.
"Menyindir bagaimana?" Tanya Luhan, lelaki cantik pemilik mata rusa itu itu belum mengerti dengan tudingannya.
"Kyungsoo mengatakan anak seusia kita terlalu muda untuk mendapatkan seorang anak," Pipi chubby Baekhyun kembali mengembung lucu. Ia kembali melupakan perihal Taehyung tadi.
"Memang benar, 'kan?" Tandas Kyungsoo membenarkan.
Chanyeol yang melihatnya dari jarak yang cukup jauh dari ranjang Baekhyun hanya bisa tersenyum pahit. Ia menoleh ke arah pintu, di sana ibunya memanggilnya untuk segera menghampirinya.
Chanyeol pun menghampiri sang ibu, namun sebelum itu ia memeriksa, apakah sang istri tahu, kalau dia akan menemui ibunya. Baekhyun akan kembali bertanya tentang Taehyung lagi.
"Ada apa, Ibu. Kenapa kau masih menangis? Bagaimana? Apa Taehyung baik-baik saja?" Nyonya Park menutup mulutnya yang akan mengeluarkan isakannya. Chanyeol datang, lalu memeluk sang ibu, mengekus punggung ibunya itu.
"T-Taehyung, d-dia..." Nyonya Park merasa bibirnya terlalu kaku untuk bergerak, apalagi mengeluarkan suara.
"D-dia... D-dia... Mengalami... Pembengkakan... D-dia... K-koma. Taehyung... D-dia... Ini salahku! Aku yang meninggalkannya kala itu!" Nyonya Park memegang kepalanya seraya berteriak histeris.
Ibunya sudah tahu sekarang. Padahal, ia sudah berusaha menutupinya dari Nyonya Park.
Beruntung, kamar rawat Baekhyun adalah ruang kedap suara, jadi lelaki cantik itu tidak akan mendengar teriakan histeris dari Nyonya Park.
"Ibu! Ibu! Sudahlah! Ibu! Kau tidak perlu menyalahi dirimu sendiri! Ini semua sudah terjadi." Chanyeol berusaha menenangkan ibunya dengan pelukannya. Air matanya ikut mengalir dan jatuh di rambut Nyonya Park.
"T-tapi, ibu seorang pembunuh, Chan. Ibu pembunuh!" Tuduh Nyonya Park pada dirinya sendiri. Wanita paruh baya itu meronta dalam pelukan Chanyeol, namun Chanyeol menahan pelukannya, hingga rontaan itu melemah.
Chanyeol memegang kedua sisi bahu Nyonya Park, mensejajarkan wajahnya di depan wajah Nyonya Park.
"Dengar, Bu! Kau... bukan pembunuh. Ini sudah takdir Tuhan. Untuk beberapa waktu ke depan, kita jangan membiarkan Baekhyun bertemu Taehyung sampai Taehyung sadar dari tidur panjangnya. Aku tak mau Baekhyun dan bayi kami kembali dalam posisi sulit seperti tadi. Ibu mengertikan?"
Bibir Chanyeol bergetar, menahan isakannya. Nyonya Park mengangguk mengerti dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
Chanyeol kembali memeluk Nyonya Park. Kali ini, lebih erat dan lembut. Chanyeol membiarkan bajunya basah oleh air mata Nyonya Park. Air matanya pun tak bisa di tahan lagi.
Ia tidak bisa membayangkan jika Baekhyun tahu tentang hal ini. Hal apa? Mari kita kembali ke lima hari yang lalu.
FLASHBACK ON
5 Days Ago
11.30 PM
Chanyeol menutup daun pintu kamar rawat Baekhyun dengan pelan. Baekhyun sudah sedari tadi tidur, namun tangannya yang terus menggenggam erat tangan Chanyeol, membuat Chanyeol enggan meninggalkan lelaki cantik itu.
Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit, dan tak berapa lama kemudian akhirnya ia sudah sampai di depan pintu dari ruangan yang ia tuju.
Doctor Han's
Papan name itu sudah menjelaskan, ruangan milik siapa itu. Chanyeol mulai membuka knop daun pintu itu dengan perlahan. Ia mempersiapkan hatinya, jika ada kabar buruk tentang Taehyung atau Baekhyun dan bayi mereka.
Chanyeol tidak menemukan dokter muda itu di sana. Tetapi, ia dapat melihat pintu balkon yang terbuka dan menerbangkan beberapa gorden di sekitarnya.
Perlahan, Chanyeol berjalan menuju pintu balkon. Di sana, terdapat dokter Han yang sedang menikmati angin di balkonnya sambik menghadap kota Seoul yang tampak indah pada malam hari.
"Aku kira, kau tak akan datang, Chanyeol-ssi." Tukasnya tanpa menoreh ke belakang. Chanyeol terlonjak ke belakang sedikit karena terkejut.
"Maaf telah membuat anda menunggu, Dokter Han. Aku tadi sedang menemani istriku." Dokter Han terdiam di sana. Chanyeol mencoba untuk mendekatinya, berdiri bersebelahan dengan dokter muda itu.
"Apa kau siap mendengarkannya? Ini tentang Taehyung, Chanyeol-ssi?" Dahi Chanyeol sontak mengerut. Nada itu, Cara penyampaian itu, dan... Kalimat itu. Pertanda...
"Aku siap mendengarkannya!" Balas Chanyeol mantap.
"Kau mau mendengar yang mana dahulu? Kabar buruk atau kabar bahagia?" Dokter Han menyesap teh hangat di tangannya.
"Kabar bahagia, sepertinya lebih baik." Ucap Chanyeol dengan dimple smilenya.
"Anak kalian, Park Taehyung. Dia sudah melewati masa kritisnya," Chanyeol memegang dada kirinya, menunduk serta tersenyum. Ia sangat bersyukur mendengarnya.
"Tapi..." Dokter Han menggantungkan kalimatnya. Chanyeol takut mendengarkannya. Sangat takut.
"Saya takut anda akan terkejut..." Dokter muda itu kembali menggantungkan kalimatnya menunggu reaksi dari Chanyeol.
"Silahkan," Kata Chanyeol menatap lurus ke depan.
"Posisinya saat jatuh sungguh sangat berbahaya, sehingga membuat kulit kepala belakangnya robek. Selain itu, Ia juga mengalami patah tulang tengkorak dan otak memar dan mengalami pembengkakan. Ia di nyatakan koma dalam jangka waktu lama, bisa saja berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun..."
Chanyeol merasa matanya mulai memanas. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak kalut. Taehyung juga anaknya, walaupun anak angkatnya.
"Saya melihat Baekhyun-ssi sangat menyayanginya. Tapi, jika Baekhyun-ssi mengetahui ini, saya tidak bisa menjamin keselamatan Baekhyun-ssi dan bayi kalian. Karena... kondisi mereka dalam titik terendah" Lanjut Dokter Han memberikan pengertian pada Chanyeol.
Chanyeol menghela nafas panjangnya. Bagaimana respon Baekhyun, jika ia mengetahui ini? Apa yang akan di perbuat Baekhyun? Apa yang akan di rasa Baekhyun?
Entahlah, memikirkannya membuat hati Chanyeol berdenyut sakit.
"Bantu saya merahasiakannya dari Baekhyun." Chanyeol menatap dokter itu penuh harap. Dokter Han membalas dengan tatapan iba.
"Baiklah, Chanyeol-ssi."
FLASHBACK OFF
"Ibu harus bisa merahasiakan hal ini dari, Baekhyun. Baekhyun tidak boleh mengetahui ini, kecuali kita, ayah ibu, dan paman bibinya. Oke?" Nyonya Park mengangguk cepat. Chanyeol tersenyum, kedua ibu jarinya mengelap air mata ibunya itu.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Sebuah suara menginterupsi Chanyeol dan Nyonya Park. Sontak, mereka menorehkan kepala mereka secara bersamaan ke arah suara itu. Mata mereka melebar. Dan...
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Haiii! Chap 8 pun keluar hehehe…. Aduh nih konfliknya belibet yah? Maaf yah :3 lagi suka konflik kayak gini wkwkwk nanti juga ada konflik keduanya pas mau END… kayaknya prediksi aku aja sih FF ini akan tamat sekitar part belasan gitu.
Duh, maaf kalau banyak yang gak suka… ini memang gaje. Saya sadar banget itu. maaf untuk typo yang berterbangan dimana-mana. Huhuhuhu maaf juga udah nisatain TaeTae di sini huwaaa alienku #plakk
Terima kasih buat yang udah baca dan review yahhh.
PAI~ PAI~
