"HAH?!"

Teriakan nista menggema dengan alay-nya dari kamar 130. Nijimura refleks menutup kedua telinga karenanya. Di hadapannya, sepuluh orang memandangnya dengan mulut menganga—oh, kecuali satu yang cuek, dengan santainya tenggelam dalam dunia sendiri.

"Oi kalian, jangan ribut." Mayuzumi melempar pandangan kesal. Semuanya langsung menciut melihatnya. Benar kata orang, jangan mengganggu ketenangan orang yang tengah membaca. Bisa-bisa lebih galak dari Kagami yang mulai lapar.

Nijimura merampas light novel yang baru dibaca separuhnya. Mayuzumi refleks berdiri dan nyaris menghajar si pelangi di tempat, jika tidak karena para kouhai pelangi yang menahannya. "Ano... Mayuzumi-senpai, Nijimuracchi diperhatiin dong." Kise tertawa dengan tidak ikhlas. "Iya, Shuu orangnya memang butuh perhatian." Himuro menyambung. Nijimura yang 'merasa' langsung protes.

Lepas dari lubang buaya, masuk lubang titan. Begitulah perumpamaan situasi yang tengah dihadapi Kisedai, trio tetangga dan seorang lolicon stres saat ini. Apalagi para makhluk pelangi, yang berharap mendapat kedamaian setelah segala keributan Sabtu kemarin.

Bagaimana mau tidak ribut, orang yang dihadapi adalah event tahunan Apartemen Pelangi.

.

.

Ini Apartemen, Bukan Balai Reuni! by Pink Crystalline Roses

Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi-sensei

Warning: Humor gagal, garing, bahasa, potensi timbulnya OOC, geje. Mungkin ada sho-ai nyempil disini. Author tidak bertanggung jawab atas penyakit mata apapun atau serangan jantung setelah membaca fic ini.

(Happy reading!)

.

.

"Tapi Nijimura-san, kita belum—"

"Berisik ah," Nijimura memotong protes Takao dan menyerahkan berkas ke Akashi, yang tanpa ditanya yakin dirinya akan mengurus semua yang perlu diurus. "Pokoknya, minggu depan harus siap. Kise, elu udah pro kan soal beginian?"

"Iya-ssu! Sudah sering beginian kok, Nijimuracchi santai aja-ssu!" Kise mengacungkan jempol dengan percaya diri. 'Pro darimananya, senpai minusnya nambah ya?'—pikiran sehati Kisedai dan kawan-kawan yang sweatdrop.

Event tahunan ini dilaksanakan setiap perayaan pendirian Apartemen Pelangi—dalam hal ini, minggu depan. Para staff mulai dari pemilik tentunya, satpam, koki, manajer perpustakaan hingga cleaning service beserta jejeran penghuni akan berpartisipasi. Acara ini tidak untuk sebatas penghuni dan staff saja, namun orang lewat pun boleh jadi tamu.

Penghuni tidak beruntung yang memiliki hak mengadakan acara spesial adalah penghuni baru yaitu mereka yang berada di kamar 130 dan 135. Meski Mayuzumi bukan penghuni baru, dipaksa ikut atas 'permintaan' seorang Nijimura yang laknat.

"Habis gitu, entar malamnya main drama ya."

"Lho kok gituu!" semuanya kembali protes berjamaah bak murid SD yang diberi kabar gembira berupa ulangan dadakan. Apalagi Mayuzumi, yang notabene sama sekali tidak bisa menunjukkan ekspresi lain selain wajah tembok miliknya.

"Emangnya kenapa? Drama udah tradisi disini." Nijimura dengan santainya membalas. "Setiap tahun plotnya beda. Tahun lalu malah Malin Kundang."

Kisedai dan kawan-kawan seperjuangan langsung mangap-mingkem mirip ikan koi yang krisis oksigen. Sebegitu nistakah para pemerannya, sampai dibuatkan plot semacam itu?

.

.

Jika yang dibahas drama, pengalaman mereka semua nol besar—alias tak tahu cara akting sama sekali. Meski Kise yang ekspresif dan ceria pun tidak bisa bermain drama.

Terakhir para Kiseki no Sedai bermain drama, itu adalah ketika ulang tahun Teiko ke-empat puluh tiga tahun semasa mereka kelas delapan. Itu pun, para pemeran hanyalah mereka dengan Nijimura sebagai sutradara, Momoi sebagai manajer kostum, dan anggota klub basket lainnya, mulai dari Sabang hingga Merauke mengatur properti dan sebagainya setelah voting plot dan peran yang ngawur.

Hasilnya sesuai dugaan. Karena durasi mepet, tidak ada yang hapal naskah (baik Akashi sekalipun) dan dengan level akting yang pas-pasan kebawah, yang mereka perankan di panggung berbanding terbalik dengan naskah aslinya. Saking hancurnya, banyak alumni Teiko trauma jika mendengar kalimat 'ulang tahun Teiko tahun 2XXX'.

Sejauh ini, yang kemampuan aktingnya paling bagus adalah Himuro. Kata Kagami itu karena kebiasaan sang 'kakak' yang suka menonton drama Amerika saat waktu senggang.

Saat ini naskah tengah disiapkan Nijimura dan golongan pemilik Apartemen Pelangi. Mari kita doakan saja semoga alur ceritanya tidak ngawur dan senista tahun-tahun lalu.

"Semuanya soal drama, gua serahin ke Akashi. Jadi sutradara ya," Nijimura menepuk bahu Akashi sebagai simbol penyerahan jabatan. Akashi mengangguk datar sebagai balasan, sementara yang lainnya berdoa dengan khusyuk—semoga setan gunting tidak kembali sebelum waktunya.

"Kok bukan Mura-chin yang jadi sutradaranya~? Nyem nyem~" Murasakibara menyelipkan pertanyaan diantara sound effect kunyahan. "Ya jelas lah bego, gua kan urusin panggung, jadwal acara, se-kwintal tugas lain sama jadi komentator—oh, pembawa acara juga deng."

Melongo babak dua. Tidak ada yang tahu bahwa seorang Nijimura Shuuzou—dengan wajah preman dan perangai kasar, mengarah ke reputasi 'tidak baik', punya bakat menjadi pembacot on-stage yang biasanya tidak diperhatikan penonton.

"Soal kostum gak usah khawatir. Momoi gua suruh bantu."

Kabar gembira keempat hari ini membuat semuanya semakin sweatdrop. Apalagi Aomine, yang yakin bahwa selera kostum teman masa kecilnya itu agak... berlebihan.

.

Di sisi lain, salah satu kamar di kediaman Momoi memancarkan aura bling-bling yang menyilaukan mata. Ibu Momoi sampai harus mengecek kondisi putri semata wayangnya yang saat ini tengah jingkrak-jingkrak diatas kasur, dengan energi yang sebelumnya low telahtercas penuh.

"Yey, kostum!" Momoi loncat-loncat kegirangan, berputar keliling kamarnya yang berukuran pas-pasan. "Enaknya minta tolong siapa ya~? Oh!" Dibukanya menu pesan di ponselnya, sambil mengecek daftar kontak.

"Riko-chan, Reo-chan, Yoshi-san! Sip, cocok nih!"

.

Kembali ke para cast yang tengah merana. Kata Nijimura, naskahnya belum sempurna, jadi hari ini tes kemampuan akan diadakan. Tentunya dengan pengawasan orang dewasa, untuk perlindungan cadangan. Jangan-jangan sutradaranya bermetamorfosis—dari bidadari surga (menurut senpai pelangi) menjadi setan seratus persen dari neraka (menurut Kisedai, trio tetangga dan Mayuzumi).

Siapa sangka, Apartemen Pelangi yang nampak sederhana dari luar memiliki auditorium bawah tanah (yang tentunya akan diubah menjadi sarana latihan). Berhubung masih ada tanggungan sekolah latihan hanya dilaksanakan begitu selesai mandi sore.

"Luas banget!" Kagami kagum. Kise yang terlalu bersemangat langsung maraton keliling, dan tidak sengaja melanggar lingkaran privasi Midorima dan menginjak kotak maiubou milik Murasakibara. Akibatnya Kise tewas mengenaskan.

Akashi menepuk-nepuk tangan menangkap perhatian para cast. "Oke, kita mulai dari latihan dasar. Aku juga harus menilai kemampuan kalian—"

"Akashi, harusnya kau tahu seberapa jeleknya level kita-nanodayo." Midorima menyela. Nijimura, yang menjadi saksi mata secara langsung drama terkutuk empat tahun lalu—sebagai sutradara dan penonton—langsung bergidik ngeri.

"Ya, siapa tahu kalian ada perkembangan. Selain itu, aku juga belum tahu kemampuan Kagami, Himuro-san dan Mayuzumi-san." Sang sutradara mengelak. Midorima kalah debat calon presiden dengan skor satu-kosong. Namanya Akashi, pasti ada saja alasan untuk membalikkan pendapat orang yang seharusnya true story.

.

.

Di papan tulis yang disediakan Nijimura, tertulis kalimat rapi yang bisa dibaca 'DRAMA: LATIHAN AKTING'. Semuanya kagum melihatnya, bukan karena tertarik dengan topik penuh pelanggaran hak asasi manusia, namun karena tulisan yang tidak miring satu derajat pun.

"Kita mulai dari Daiki."

Sempat terbesit ide untuk tancap gas dan kabur dalam benak yang merasa terpanggil, namun Nijimura telah memblokade jalan menuju kebebasan. Akhirnya, dengan langkah gontai, tampang ogah-ogahan dan nyaris dilempar wajan, Aomine maju ke depan, siap untuk menerima pengadilan dari Yang Maha Kuasa. Orang berhak punya perasaan tak enak ketika sutradaranya mendadak bertukar tempat.

(Aomine Daiki, 18 tahun, lulusan Touou Gakuen. Catatan pengalaman akting: Karena kebiasaan (baca: selalu disuruh) menyalin catatan yang tertinggal, berpura-pura terkena serangan jantung agar bisa membolos—dan menyalin tugas Fisika, alih-alih menyalin catatan. Hasilnya: Karena tidak punya riwayat penyakit jantung bahkan sejak nenek moyangnya, digeret paksa emak tercinta ke sekolah.)

"Coba perankan reaksi wibu yang baru saja di-bully orang dengan istilah 'waifumu lacur mz' yang saat ini sedang tren di sosmed." Titah Akashi, sambil duduk dengan satu kaki tersilang di singgasananya (dalam kata lain, kursi sutradara), gunting di genggaman siap lepas landas.

Semuanya langsung banjir keringat dingin, berhubung orang sering bilang yang terparah disimpan untuk momen terakhir. Jika awalnya sudah begitu, apa kata dunia?

.

(Start!)

(Aomine tengah duduk di sebuah ruangan, sambil mendelik ke layar laptop yang boleh pinjam dari Kise.)

"APA?!" Aomine berteriak—niatnya melengking, namun karena suara yang dari sananya berat-berat seksi, malah merusak gendang telinga penonton. "Mereka pikir mereka siapa?! Suka-suka gue dong, mau punya waifu gini! Waifu gue gak lacur, bro! Ngaca!"

(Laptop dibanting dengan kasar. Kise menangis bombay, rugi seribu yen katanya. Oh, ternyata itu laptop pingitan dari tempat pembuangan umum.)

Kali ini Aomine memasang ekspresi terkejut yang malah nampak garang karena wajah premannya, seakan para basher bertambah banyak. Entah kenapa laptopnya masih selamat.

(Aomine yang kesal karena sang laptop punya nyawa kucing, melemparkannya ke dinding terdekat.)

"GUE UDAH CAPEK DI-BULLY!" pisau lipat dikeluarkan dari saku, entah dapat dari mana. "MENDING MATI AJA—"

"CUUUUUUT!" teriakan murka terdengar dari jejeran penonton.

.

"Apa-apaan itu?! Baru latihan sudah tidak bermutu!"

Sembilan orang tidak bisa berkomentar melihat adegan Aomine yang sujud sungkem sambil berkali-kali meminta maaf di hadapan Akashi-sama, yang sekarang tengah menghujaninya dengan kritik dan tambahan hujan lokal. Mulai dari, 'alurnya terlalu ngebut', 'salah mimik' hingga 'pemerannya dakian sekali, kurang kece'. Yang terakhir sungguh menyayat kokoro Aomine.

"Ya, berikutnya!"

Para pemeran langsung siap-gerak ketika Akashi selesai memberi siksaan yang pedih. Gunting digunakan untuk menunjuk korban berikutnya. "Shintarou, jadi SPG yang sedang PMS dan kewalahan melayani pelanggan."

Midorima menelan ludah. Ingin membalas, namun takut nyawa melayang. Akhirnya dengan langkah gemetaran, pangeran kodok kita dengan gagah maju ke depan. Di background, Takao siap memberi dukungan moril.

(Midorima Shintarou, 18 tahun, lulusan SMA Shuutoku. Catatan pengalaman akting: terakhir kali memerankan 'Snow White' bersama Takao atas keputusan laknat ketua kelas. Dipaksa memerankan pangeran dan mencium Takao di depan umum. Hasilnya: dilakukan dengan frontal dan menjadi topik pembicaraan hangat para fujoshi hingga mereka lulus, meski kokoro tidak rela.)

"Taiga, Ryouta dan Atsushi jadi pelanggannya. Harus menghayati, dengar?" dengan satu ancaman, keempat orang yang tidak beruntung mengangguk terpaksa.

.

(Start!)

(Midorima mengambil posisi. Ceritanya, barang yang dijual kali ini adalah mesin cuci bertenaga sel surya—aneh memang, namun perintah Akashi-sama M. U. T. L. A. K.)

"Mbak, ini harganya berapa ya?" Kagami tanpa sungkan bertanya, meski yang dipanggil 'mbak' memancarkan aura gelap yang lebih hitam dari Aomine. Midorima melipat tangan di dada, memasang wajah judes dan menjawab, "Itu satu juta yen, diskon seratus persen—"

("Shin-chan ngawur!" dan Takao disambit lucky item hari ini.)

"Mbak, saya mau-ssu! Dikasih diskon lima puluh aja gapapa?" Kise menginterupsi. Midorima langsung buka mulut untuk menjawab. "Tidak bisa mas, sudah harga pas—"

"Mbak mbak, ini panelnya bisa buat panggang roti nggak~?" yang ini kalian tahu siapa.

"Jelas tidak bisa—"

"Mbak, ini trend tahun berapa?"

"Tahun—" Midorima menghela napas panjang.

"Mbaknya, nggak ada uang pas-ssu!"

"Wajib ada—" Muncul perempatan siku-siku.

Ketiga pengganggu melihat ke arah satu sama lain, dan dengan cengiran jahil yang sama spontan berkata, "Mbak, mbak! Notice me!"/"Mbak, minta nomer telpon~"/"Mbak, saya bayar pake uang receh gapapa-ssu?"

"STOP STOP STOP!"

(Midorima menyilangkan lengan, dengan badan agak dicondongkan ke depan dan bibir yang dikerucutkan—niatnya bergaya mirip cewek di anime-anime, namun malah terkesan mirip ibu-ibu yang beneran PMS.

"Pffft—" penonton menahan tawa.)

Satu kaki dihentakkan disertai lengan yang mengayun ke belakang. "Kalian ini gimana sih?! Bicara satu-satu dong! Saya jadi nggak bisa konsen nih... nanodayo!" Midorima menjerit—yang lebih mirip dengan bentakan daripada jeritan yang asli. Kasusnya sama dengan Aomine.

"CUT CUT CUUUUUT!"

.

Mayat-mayat bergelimpangan. Bahkan Kuroko sampai kejang-kejang di lantai—bukan karena sakaratul maut, tapi karena bersusah payah menahan tawa. Beberapa yang pada dasarnya tidak mengenal istilah jaim langsung ngakak sambi memegangi perut masing-masing. Mayuzumi sampai harus headbang untuk mencegah tawa yang memaksa lepas.

"Shintarou—pfft, membelakangi... penonton—pfft!" komentar Akashi sambil meninju-ninju dinding terdekat. Ada sedikit air mata efek menahan tawa yang keluar.

"BAHAHAHAHAHA—!" Aomine, Kise dan Kagami ngakak berjamaah dengan gaya masing-masing—Aomine gelundungan dari ujung satu auditorium hingga ujung lain, Kise sujud sungkem sambil memukul-mukul lantai dan Kagami menggunakan dinding sebagai penyangga dan korban pelampiasan.

Takao memojok sambil ngakak sendiri, ditemani Murasakibara yang pundung karena tidak sengaja meremas sekotak Pochy miliknya hingga hancur karena menahan tawa dan Himuro yang mem-puk-puk anak kesayangannya. Nijimura juga ikut kejang-kejang di lantai. Jika ini lomba tahan tawa, tidak ada yang lolos ke babak selanjutnya.

"Aku tidak tertawa, Midorima-kun." Ujar Kuroko dengan poker face standar miliknya, sebelum memalingkan muka dan menggigit kerah kaosnya. Mayuzumi masih headbang.

"..." Midorima terdiam memandangi sepuluh orang yang tengah sekarat.

.

.

"Uhuk, berikutnya." Akashi batuk jaim, korban iklan kedua setelah senpai pelangi.

Semuanya menegang termasuk yang sudah disuruh maju. Selesai mengemban tugas nista untuk menjadi pemeran bukan berarti tak ada kesempatan mereka tidak maju lagi. "Chihiro, perankan penjaga perpustakaan yang ngenes karena sepi pengunjung."

Hening. Mayuzumi patut diberi pujian karena seorang diktator cilik tak membuatnya gentar.

Akashi menghela napas panjang, berusaha untuk tetap sabar mengatasi senpainya yang kelewat cuek. Akhirnya, jurus yang paling mainstream digunakan. "Chihiro. Maju atau besok kusuruh kau kencan dengan Shuuzou."

"HUOHOKOHOKK—"

Semuanya (minus Akashi) langsung kaget dan refleks menengok ke sumber suara yaitu Mayuzumi dan Nijimura yang sama-sama tersedak. Bedanya, jika Mayuzumi tersedak ludah sendiri, Nijimura tersedak penggaris sakti yang boleh pinjam dari Himuro. Kenapa harus pakai penggaris, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

"NAPA HARUS SAMA DIA?!" keduanya menunjuk satu sama lain dan nyaris memulai acara saling membunuh. Murasakibara langsung melesat dengan kecepatan cahaya untuk menghalangi keduanya.

"Akashicchi, Nijimuracchi sama Mayuzumi-senpai pacaran?" Kise bertanya polos.

"..." Akashi hanya terdiam.

.

"Saya tidak tahu apa hubungan mereka berdua. Bukannya saya cemburu lho ya."
—Akashi Seijuurou, 18 tahun, mantan dari Nijimura Shuuzou dan Mayuzumi Chihiro.

.

(Start!)

(Mayuzumi tengah duduk di hadapan sebuah meja dengan setumpuk buku yang sebenarnya majalah nista pinjaman dari Aomine. Mungkin setelah ini album foto koleksinya akan tinggal abunya saja.)

"..." sambil bertopang dagu dengan memasang wajah bosan (bukannya itu ekspresi normalnya?), Mayuzumi melirik ke arah pintu imajiner.

("Kazunari, beri narasi." Titah Akashi. Takao dengan naluri pembantu sehari-hari Midorima langsung menurut.

"Satu jam kemudian—!")

"..." Mayuzumi masih terdiam.

("Dua jam kemudian—!")

"..." Mayuzumi mulai membaca light novelnya. Modus melanjut berjuang hingga akhir, karena berkat seorang iblis dari neraka moodnya agak hilang padahal sudah sampai bagian serunya.

("Mayuzumi-senpai sedang apa sih?" "... Gak tau, Kuroko." "LIMA JAM KEMUDIAN—!")

"CUT! CUT, OI!"

.

Akashi mengasah gagang sebuah sendok sup. Siapa tahu bisa jadi tajam, katanya. Dengan aura gelap, dipandangnya kesal senpai dengan julukan 'Kuroko Tetsuya 2.0' itu. "Chihiro, kupikir aku telah memberimu peran dan kau harus berakting."

Karena nada bicara yang tajam setajam kuku Murasakibara yang belum dipotong selama sebulan, sembilan orang langsung memilih punggung Kuroko sebagai tempat bersembunyi. "Tadi kau bilang sepi pengunjung. Ya sudah, aku diam saja."—jawaban singkat dari seorang Mayuzumi Chihiro.

Perempatan siku-siku muncul di pelipis Nijimura yang mempersiapkan penggaris sakti sebagai senjata jejadian. "Ya kalo disuruh akting, jangan diem aja! Bego!"

Yang merasa dihina refleks membanting light novelnya yang tiga perempat selesai. "Siapa yang bego, hah?! Ngaca!" Mayuzumi membalas dengan level kegarangan yang sama.

"Shuu memang agresif ya." Himuro menyeletuk di tengah-tengah gerombolan pelangi yang sweatdrop melihat sesama senpai saling tarik-menarik kerah. Kise tertawa nervous melihat Mayuzumi yang dibanting ke lantai dan dilanjut cakar-cakaran.

Kuroko maju selangkah untuk melerai keduanya, namun tangan seseorang menahan bahunya. Dengan gerakan patah-patah dilihatnya siapa yang menahan dan langsung merinding di tempat melihat ekspresi yang terpampang di wajah Akashi.

"Biarkan, Tetsuya." Seringaian iblis sukses membuat semuanya merinding disko. "Biarkan mereka bermesraan untuk terakhir kalinya."

.

.

Setelah memastikan Nijimura dan Mayuzumi telah diberi azab yang sungguh sangat pedih sekali, gunting keramat dibiarkan memilih korban penganiayaan harga diri berikutnya.

"Berikutnya..." Akashi mondar-mandir mirip setrikaan dihadapan para makhluk dengan batin tersiksa. Sudah disuruh maju bukan berarti tidak akan dipilih lagi. Ya namanya Akashi Seijuurou, semuanya memang dan wajib berjalan sesuai keinginan.

"Ryouta."

Yang namanya dipanggil langsung menegang. 'Semoga nggak aneh-aneh-ssu' adalah pikiran pertamanya sementara menunggu apa bentuk penyiksaan untuknya. Apakah pedih? Sedih? Kesepian? Atau menderita—tunggu, memangnya ini keputusan untuk menentukan bagaimana perasaannya saat mati?

(Kise Ryouta, 18 tahun, lulusan SMA Kaijou. Catatan pengalaman akting: Sering disuruh oleh orang-orang yang hanya melihat penampilannya untuk maju ke panggung. Hasilnya: telah membuat lebih dari seratus orang trauma melihat sesosok pemeran kuning ngambang sehingga diberi gelar 'Mastah Perusak Suasana'.)

"Perankan PSK baru kerja yang dikabari dirinya telah dilelang dengan harga tinggi. Tatsuya, tolong jadi manajernya. Harap memerankan dengan serius atau kuberi hadiah." Mata heterokrom Akashi berkilat tanda bahaya.

Kise menangis pelangi—Aomine membisikkan doa memohon keselamatan, ke telinga kanan sekalian biar barokah. Himuro sih, tetap stay calm meski rasanya ingin jantungan. Mungkin saat ini hanya dia yang pede dengan kemampuan aktingnya.

(Himuro Tatsuya, 19 tahun, lulusan SMA Yosen. Catatan pengalaman akting: segudang, mungkin brankas di bank bisa penuh jika diisi daftar pengalamannya. Berawal dari kebiasaan dan berubah menjadi hobi sehingga maju dengan senang hati jika disuruh. Hasilnya: tidak ada komentar lebih jauh untuknya.)

"Baiklah, mulai." Akashi menyilangkan kaki dengan pewe diatas singgasananya.

.

(Start!)

(Kise tengah jejingkrakan sambil sekali-sekali berteriak 'yes!' dengan nada bahagia dan suara kelewat cempreng sebagai makanan pelengkap. Midorima keliling untuk menjajakan sumbat telinga gratis.)

"Yeey~! Akhirnya, nggak sia-sia~! Bodiku yang sekseh, aku mencintaimu-ssu!" Kise masih jejingkrakan, sambil menjerit bahagia dengan suara yang persis mbak-mbak hiperaktif. Sementara itu Himuro berjalan woles kearahnya.

("HOOEEEEEEK—" "Sabar Aomine-kun. Tarik napas, keluarkan..." "Shin-chan kan mau jadi dokter, cariin obat wasir dong!")

"Nah Kise-kun, selamat ya." Himuro mengulurkan tangan dan tersenyum penuh makna (sejujurnya Kise merinding melihat senyuman khas sensei, namun demi keselamatan bokongnya dia berjabat tangan). "Mulai malam ini, kau diterima kerja. Aku sendiri kaget kau bisa mendapat harga segitu, sebenarnya berapa sih harga dirimu?"

(Sebuah pertanyaan yang menohok Kise tepat di jantung. Namun dia masih sayang nyawa—akhirnya sebuah senyum terpaksa muncul.)

"Aku sih—"

"CUUUUUUT!"

.

"IYA! AMPUN EMAK—MAKSUDNYA AKASHICCHI, AMPUN! MAAF! MAAF!"

"Aomine-kun akhirnya mendapat teman senasib ya." Celetuk Kuroko datar melihat Kise yang duduk bersimpuh memohon ampun di hadapan Akashi-sama.

Kagami hanya bisa memandang prihatin melihat nasib teman sejonesnya. Sementara itu Midorima tersenyum puas melihat Kise yang tengah disiksa—nak, jangan-jangan kamu juga hobi bantai orang? Semoga saja tidak, kasihan Takao.

"Baiklah, yang terakhir."

Semuanya langsung lega karena tidak ada siksaan berlanjut, kecuali Kuroko yang memucat berhubung sedari tadi namanya belum dipanggil untuk menghadap Yang Mulia Akashi Seijuurou. Sebuah seringaian mencurigakan muncul, membuat semuanya sekali lagi berdoa dengan ikhlas demi keselamatan pujaan hati.

"Sebaiknya aku menyuruhmu apa, Te-tsu-ya?" Kuroko bergidik ngeri mendengar setiap bagian nama kecilnya disebutkan dengan nada penuh penekanan. Semoga saja kami-sama masih baik hati.

Akashi nyaris tertawa melihat reaksi sang bayangan. "Bercanda. Sekarang, coba tertawa."

GUBRAK! Banyak orang ambruk dengan tidak elitnya.

'INI BOCAH PILIH KASIH BANGET,' semuanya menggigit tembok mendengar pemilihan peran yang terdengar sangat sepele. Tapi bagi seorang Kuroko, kemungkinan hal tersebut sulit dilakukan.

Kuroko menarik napas dalam-dalam.

.

.

"Ahahahaha... ha... ha?"

Akashi merasa ingin headbang ke dinding terdekat. Wajah manis boleh, namun kedatarannya dari segi wajah dan dada patut dipermasalahkan. "Seperti biasanya, datar sekali, Tetsuya." Akhirnya facepalm menjadi keputusan akhir.

Sembilan orang lainnya ingin jingkrak-jingkrak di tempat. Meski perannya sepele, masih dikritik—itu berarti sang sutradara tidak pilih kasih. Iya kan? Iya kan?

"Namun karena ini Tetsuya, kumaafkan."

GUBRAK! Sekali lagi semuanya ambruk.

.

.

"Kita sudah lelah dibeginikan."
—Pemikiran sehati dan sejiwa mereka yang tersiksa.

.

.

"Yang ini!"

"Enggak, yang ini!"

Moriyama mulai frustasi melihat kedua kouhainya yang sedari tadi ribut memilih kostum. Entah kenapa dirinya diajak-ajak, padahal Mibuchi Reo yang tengah menghilang mencari kostum lainnya lebih tahu soal tren jaman sekarang. Bukannya dia generasi tua sih. Sudah cukup, Akang Mori lelah.

"Kagamin pasti cocok memakai ini!" Momoi protes. Masa kostum pilihannya yang unyu-unyu, imut dan menebar aura bling-bling ditolak? Sebagai seseorang yang pandai mengumpulkan informasi mulai dari rahasia umum hingga aib paling memalukan, tidak mungkin seorang Kagami Taiga menolak pilihannya.

"Enggak mungkin! Kagami-kun itu macho, jadi itu kurang kece!" Riko membalas protes. Tentunya sebagai senpai sekaligus pelatih macan yang disebut-sebut selama SMA, pasti dirinya mengetahui lebih baik soal kouhai(kampret)nya.

"Iniiii!"

"Yang ini kali!"

"Tabah ya. Hashtag 'selamatkan Akang Mori'." Izuki Shun yang sengaja diajak Moriyama menepuk-nepuk lengannya dengan pandangan prihatin. Kenapa diajak? Ya tidak apa lah, hitung-hitung jalan berdua. Karena jadwal padat sulit bertemu pujaan hati, begitulah ceritanya.

"Shun, beli es krim yuk. Disitu ada." Inisiatif diambil. Kesempatan untuk sesekali memanjakan uke tercinta. Izuki yang tengah dilanda kemarau lokal mengangguk tanpa ragu, hitung-hitung irit duit. Oalah, ternyata itu niatmu nak. "Oke. Es krim memang mendinginkan situasi estrim—kitakore!"

"... Itu sih ekstrim, bukan estrim." Moriyama geleng-geleng kepala—meski sebenarnya tak pernah bosan dengan guyonan garing krenyes-krenyes dari Izuki. "Ngomong-ngomong, kalau disuruh memilih makan es krim atau makan Shun, aku memilih memakan Shun sampai habis."

"..." Izuki benar-benar kehabisan kata-kata mendengar gombalan ambigu berkedok romantis—yang sebenarnya banyak orang juga bingung itu bisa dibilang romantis atau tidak.

"YANG INI!"

"YANG INI AJA!"

Pertengkaran Riko dan Momoi hanya dianggap angin oleh sepasang kekasih (?) yang tenggelam dalam dunia mereka sendiri.

.

"Baiklah, hari ini cukup sampai sini saja."

Setelah beberapa jam penuh siksaan, Kisedai, trio tetangga dan Mayuzumi terbaring tak berdaya—Kuroko tewas di tempat—dengan napas yang sulit diatur dan bermandikan keringat. Akashi tak habis pikir—padahal mereka baru diberi dasar-dasar akting dan latihan fisik berhubung naskah belum selesai.

Tentu saja, mereka hampir bertemu ajal karena gerakan senamnya melibat (usaha untuk) wall-running, maraton naik-turun dari lobi hingga lantai 13 (tiga kali lho!) dan gerakan gimnastik.

Mayuzumi menyumpah dalam hati. Jangankan mengangkat kaki, mengangkat jari saja tidak bisa. Bagaimana caranya dia bisa menghajar kouhai iblisnya dengan penuh cinta? Oh, minta tolong pada Nijimura saja nanti.

"Oi kalian, ini ada minum." Nijimura datang membawakan pertolongan berupa beberapa botol Ponari Sweat (maafkan nama mereknya yang nista). Murasakibara yang terlalu bersemangat langsung menerjang Wall Maria—eh, Nijimura maksudnya.

"MURA-CHIN AKU SAYANG KAMU~!"

"JANGAN PELUK-PELUK WOI! JIJIK AH!"

"Senpai butuh ngaca-ssu." Komentar Kise sambil melirik Mayuzumi di kejauhan, yang tengah meminum jatahnya sambil asyik membaca. Aomine manggut-manggut setuju sementara Kagami dan Himuro berusaha menyelamatkan nyawa Kuroko yang sudah separuh terlepas dari tubuhnya.

"Kuroko! Oi, Kuroko! Jangan mati dulu!" Kagami mengguncang-guncang tubuh mungil Kuroko yang saat ini tengah tersungkur di lantai. "Maaf Kagami-kun, aku mau pulang ke 'sana' dulu. Nanti balik lagi kok." Kuroko menjawab dengan nada lemas. Sesosok roh unyu telah melayang tiga perempatnya.

"Kuroko-kun, jangan mati dulu. Setidaknya kalau mau mati, matilah dengan tenang bersama vanilla shake kesukaanmu." Himuro membujuk.

Kuroko otomatis duduk sambil memancarkan aura warna-warni penuh bunga-bunga dan glitter bertebaran yang menyilaukan mata dan melelehkan kokoro. Akibatnya banyak orang muntah pelangi melihat makhluk terunyu sejagat raya (menurut mereka).

"Himuro-san, nanti belikan ya." Kuroko memohon sambil membuat wajah melas yang unyu.

Himuro hanya bisa tertawa pelan sambil menepuk bahu Kagami dengan isyarat, 'kau yang harus belikan, mumpung ada kesempatan'. Memang seram kalau ada maunya.

Sementara Kagami yang rada tidak ikhlas karena a) disuruh membelikan, dan b) sedang tanggal tua, tak kuasa menolak. Memang benar kata orang; demi cinta apapun terlaksana meski kanker menunggu untuk bertemu.

SYUUUT—CTAK.

Sebuah bolpoin merk ternama menancap dengan cantiknya di dinding belakang Kagami, dengan ujung tajam mengkilat (karena sering diasah dan disemir?) berjarak sekian milimeter dari kepala si macan.

"Tak apa Tetsuya, nanti kuurus masalah ngidam-mu itu." Ujar Akashi santai sambil mengeluarkan bolpoin baru dari dalam saku celananya.

Kagami yang tidak terima, balas melempar sandal pinjaman dari Murasakibara karena ukurannya besar. Akashi balas melempar kursi terdekat yaitu singgasananya (baca: kursi sutradara). Akibatnya mereka tawuran secara live.

.

"Kembali dengan saya, Takao Kazunari, di Seputar Apartemen Pelangi!" Takao menyambut dengan ceria, sementara Midorima bertepuk tangan dengan ogah-ogahan. Kise dan Aomine ikut-ikutan dengan Aomine memegang handycam. Jadi kameramen ceritanya.

"Kami siarkan secara live dari auditorium bawah tanah Apartemen Pelangi! Jika anda melihat ke arah sana—" Takao menunjuk Kagami dan Akashi yang tengah tawuran, "Anda bisa melihat sesosok siluman macan dan setan gunting—oh iya, mumpung sudah maghrib—tengah tawuran dengan level kerusakan sungguh sangat ekstrim sekali!"

"YEEEEEEE!" Kise tepuk tangan dengan meriah. Midorima masih ogah-ogahan.

Takao menghindari kaki meja yang melayang ke arahnya. "Waduh, makin seru nih! Yak setan gunting melempar botol Ponari! Eh, apaan tuh?! Baskomnya dapet dari mana mas?!"

"Depan pojok jaya, serba seribu kok mas!" Kagami membalas dengan ngawurnya sambil melempar objek yang dimaksud. Sementara itu Himuro menggotong mayat Kuroko untuk diamankan dari TKP tawuran.

"... Bodo amat ah." gumam Mayuzumi datar sambil meringkuk di pojokan. Curi-curi kesempatan tidur sore berhubung tidak diperhatikan.

(Kira-kira begitulah akhir dari latihan hari pertama. Setelah semuanya berakhir, kini giliran Nijimura yang mengomeli kedua biang kerusuhan. Kuroko yang koma langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.)

.

.

(Dua hari kemudian.)

"Nijimura-san, ini serius ngawur!"

Itulah quote Takao yang memulai latihan hari ketiga, tepat jam empat sore menurut catatan hati seorang Midorima. Sementara itu, Nijimura tertawa jahat di hadapan para cast hingga berhenti karena dijejali penggaris oleh Mayuzumi.

(Pertama kalinya dalam kehidupan nista seorang Nijimura, virus oyakoro merubah segalanya.)

Cast lainnya memasang reaksi berbeda-beda. Aomine, Kagami dan Kise memandang horor naskahnya, Kuroko jingkrak-jingkrak OOC, Himuro nyaris serangan jantung, Midorima sweatdrop, Murasakibara memelototi naskahnya dan Mayuzumi tetap datar.

Takao mengelus dada penuh kelegaan. Jabatan narator memang selalu menjadi penyelamat terakhir.

"Lha terus, nasibnya Akashi gimana tuh?" berkat Aomine, berpasang-pasang mata memandang Akashi yang pingsan di sudut ruangan dengan mulut berbusa, naskah terlupakan, yang bisa diartikan sebagai tanda trauma berat.

Nijimura mengangkat bahu.

.

.

Di suatu ruangan imajiner, dua orang tengah meratapi nasib, sama-sama pundung menghadap pojokan tercinta.

"Kau tahu, Akashi..." Seijuurou memeluk erat dirinya sendiri sambil merinding. Akashi dengan gerakan patah-patah menengok ke arahnya, air mata pelangi tumpah berderai akibat membaca naskah nista dari seorang psikopat baru jadi.

"Aku yakin ini pertama kalinya kita senasib. Iya kan?"

Akashi mengangguk kaku. "Kita adakan gencatan senjata sementara yuk."

Keduanya berjabat tangan dan memeluk satu sama lain sambil menangis berjamaah. Sayangnya suasana penuh haru tersebut tak akan berlangsung lama.

"MAMAH, AKA/SEI NGGAK KUAAAAAT!

.

.

Kembali ke dunia nyata, para cast bingung hendak sujud syukur karena setan gunting telah pergi sementara atau malah semakin merana melihat Nijimura yang merebut posisi kouhainya di kursi persutradaraan.

Nijimura berhehem—agak keras agar diperhatikan. "Oke. Gua jadi sutradara sementara—"

"JANGAN!"

Belum sempat deklarasi perebutan kekuasaan meluncur, bibir monyong seksi Nijimura dihantam telapak tangan seseorang yang tadinya mati suri. Penonton kaget melihat aksi nekat seorang Akashi yang sepertinya ingin menjadi Kuroko KW jika ditinjau dari gerakan yang memplagiat Ignite Pass Kai.

"Maaf, sepertinya Nijimura-san tidak bisa mengambil kembali jabatan ini." Ujar Akashi santai. Para cast bersorak-sorai bahagia karena Ore-shi the Return Season 2 sudah ditayangkan.

Ingin, ingin sekali rasanya Nijimura melempar meja terdekat supaya menghantam kepala kouhainya dengan keras, dengan harapan amnesia dan melupakan jabatan terpenting di dunia perfilman yaitu sutradara. Bukannya dia haus popularitas sih, tapi jujur saja Nijimura tidak tega para diberi latihan fisik kurang berperikemanusiaan sejak dua hari lalu.

(Mungkin sebentar lagi dia akan membiarkan mereka sepakat curang berjamaah.)

"Hari ini kita latihan menggunakan... er, naskah berhubung sudah selesai." Akashi agak sweatdrop ketika memulai pembukaan hari ketiga latihan. "Nanti kita baca bersama-sama, lalu jika sudah kita akan latihan menggunakan gestur. Kuharap ini bisa selesai setelah latihan hari kelima, karena hari keenam kita akan mulai menggunakan panggung."

Semuanya menganga kagum. Akashi serasa menjadi guru profesional sejak pertama kali memulai masa magang di sekolah baru. Mungkin kali ini mereka bisa lega karena sudah tidak ada ancaman.

"Oh iya," suara Akashi mengehentikan kegiatan para cast yang sepertinya akan memulai selebrasi hari kemerdekaan dari jajahan gunting. Sebuah senyuman 'ramah' terpasang—bagi para fangirl itu kece, bagi para cast itu pertanda kiamat susulan.

"Naa, jangan anggap jika 'aku' sudah kembali, kalian bisa bertindak seenak jidat ya." Aura-aura tidak mengenakkan yang memenuhi auditorium sesaat setelah senyuman maut Akashi membuat semuanya merinding disko. "Aku tetap tidak akan mengampuni kalian. Paham?"

Semuanya hormat gerak, "SIAP KORPORAL!"

.

—Peraturan agar mendapat ampunan dari Akashi-sama adalah sesuatu yang menjadi rahasia ilahi. Pokoknya top secret, rahasia yang paling rahasia. Namun sejak umur mereka menginjak empat belas tahun (khusus alumni Teiko), hal tersebut telah menjadi rahasia umum. Dalam kata lain, sudah dibocorkan oleh Kise. Gelarnya sebagai biang gosip bukan main-main.

Peraturannya adalah sebagai berikut:

Satu, jika namamu baik kebetulan atau tidak adalah Kuroko Tetsuya dengan kanji 'hitam' dan 'anak' serta nama kecil yang ditulis dengan katakana, suka atau tidak kau akan selamanya dibawah naungan ampunan Akashi-sama.

Dua, jika namamu baik kebetulan atau tidak adalah Kise Ryouta, Aomine Daiki atau Kagami Taiga dengan kanji yang bisa di-search Noogle, selamanya kau ada di luar zona ampunan Akashi-sama (Pasal berikut adalah hasil pasca Amandemen 1).

Tiga, jika kau senpai, Akashi-sama akan lebih menghormatimu namun riset menyatakan masih ada senpai-senpai diluar sana yang trauma menjadi korban penganiayaan.

Empat dan seterusnya, bisa disesuaikan dengan situasi.

Brutal memang, dan banyak orang yang tidak terima dengan kenyataan pahit diatas—namun beginilah hidup orang yang pernah mengenal nama 'Akashi Seijuurou' dalam riwayat hidupnya.

.

"AAAAAAAAAA—!"

"CUT! Kuroko, kurang ekspresif!"

Kuroko merengut—usaha ke-sekiannya untuk berteriak kembali gagal memenuhi kuota standar sang sutradara. Banyak maunya memang.

"Midorima, giliranmu!" Akashi memberi gestur agar yang dimaksud datang menghadapnya—Midorima hanya bisa pasrah untuk mencoba memerankan adegan (yang menurutnya) memalukan, yang sejak tadi dipikirkannya.

Iya sih, sebagai mantan nomor dua semasa SMP mungkin memang ada sedikit kemudahan, tapi duh. Itu lho, masa mau dicoba sekarang? Malu-maluin. Mau ditaruh mana wajah Midorima jika Takao sampai cemburu, badmood lalu minta putus?

"Shin-chan ganbatte ya!" Takao menyemangati, sekalian promosi Mirai Ocha. Midorima mengangguk tidak ikhlas. "Tapi Shin-chan nggak boleh selingkuh! Berjanjilah hanya Kazu seorang yang berhak menjadi waifumu sampai akhir hayat!"

"Sudah tahu, Bakao. Mau sampai mati pun hanya kau waifuku-nanodayo." Midorima mengangkat tangan pertanda mengikat janji.

BRUUUUSHH—Takao mati mimisan. Kagami langsung menyiapkan kain pel dan tissue.

"Aominecchi jangan tinggalkan aku-ssu!" Kise memohon, sambil menarik-narik lengan Aomine yang nampak tidak ikhlas. "Pokoknya Aominecchi harus sama aku terus-ssu!"

"Berisik, Kise." Aomine mati-matian menahan godaan untuk menjitak kepala si kuning yang sedari tadi ribut, mulai dari 'nanti Aominecchi selingkuh-ssu', 'jangan ngeharemin orang-ssu' sampai 'kalo Aominecchi nggak pilih aku, kudoain tambah dakian-ssu!'.

Kadang Aomine heran, kenapa Kise benar-benar mudah dibodohi. Padahal hanya niat bercanda dan malah menjadi serius.

(Quote beberapa hari yang lalu: "Oi Kise, gue udah capek dibuat jones gini. Jadian yuk." "Ayo-ssu.")

Urung menjitak, tangan kanan (yang sebenarnya bekas mengorek telinga) digunakan untuk mengacak surai keemasan Kise meski tak rela melakukannya di depan umum. Tak apa lah, sekali-sekali amal untuk mengurangi dosa yang menggunung hasil membaca majalah nista. "Woles aja, toh paling elu yang bakalan selingkuh."

"HIDOI-SSU!"

Disisi lain, Murasakibara cemberut. Badmood stadium akhir yang katanya hanya bisa disembuhkan dengan anuanu (silahkan isi sendiri) bersama uke tercinta.

"Ayolah Atsushi, hanya sebentar kok. Jangan badmood, nee?" Himuro berusaha membujuk. Terkadang sifat kekanakan si ungu sulit diatasi. Murasakibara menggeleng, malahan makin cemberut. "Tidak, aku tidak akan meninggalkan Atsushi."

"Bohong. Muro-chin pasti bakalan ninggalin aku." Aura suram mulai memancar.

Himuro mengeluarkan maiubou rasa favorit Murasakibara—teknik andalan rupanya. "Ini kubawakan maiubou rasa pasta cumi. Mau tidak?"

Gelengan. Masih badmood rupanya—sekali hancur moodnya, apapun pasti ditolak. "Aku nggak nafsu makan." Jawab si titan. Menurut ITB dan IPB, seorang Murasakibara Atsushi selalu melahap stok snacknya dengan semangat juang yang menggebu-gebu mirip perjuangan ketika kebelet pipis dan antrian toilet umum tengah panjang.

"Ya sudah, kalau begitu setelah drama ini selesai, kita jalan-jalan kemanapun kau mau dan kutraktir."

Sesuai dugaan, Murasakibara langsung menerjang Himuro dengan kecepatan cahaya hingga keduanya bertindihan dengan mesra di lantai (jangan tanya kenapa Himuro masih bisa hidup). "Iya deh, kumaafin~ Aku sayang Muro-chin~"

Himuro tersenyum lega—meski dalam hati menangis karena ancaman divonis kanker. Rupanya fake smile adalah keahlian kedua dari Himuro Tatsuya.

.

Lihatlah Nijimura, semua dugaan akan selingkuh dan pasangan yang kemungkinan tak setia adalah akibat dari perbuatanmu. Inilah kekuatan naskah nista yang telah kau buat. Segeralah bertaubat nak.

.

Ruangan digelapkan—semua lampu properti disorotkan ke arah pasangan Midorima-Akashi yang berdiri di tengah panggung imajiner. Reaksi penonton bermacam-macam, mulai dari Takao yang menangis sesenggukan, Kuroko yang mem-puk-puk ya nak untuk Takao, hingga Mayuzumi yang cuek.

"Oh Seijuurou," Midorima memulai—merasa ada pandangan menusuk dari jejeran penonton—sambil berlutut dan menggenggam sebelah tangan Akashi dengan 'romantisnya'. "Tahukah kau berapa lama aku menunggu untuk kesempatan ini?"

"Aku juga, Shintarou." Akashi membalas dengan nada yang agak dipaksakan. Kurang berkaca karena dua hari lalu Kise di-cut paksa akibat senyuman yang palsu. "Sungguh bahagia hati ini karena bisa bertemu denganmu tanpa perantara."

"Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu—"

"Apa itu, Shintarou sayang?"

("OHOKOHOKK—" "Shuu, minum dulu." "SHIIIIIN-CHAAAAAAN—!" "Takao, sabar woi!")

"Aku telah lama mengenalmu, tapi baru akhir-akhir ini aku menyadari sesuatu." Penonton menahan napas. "Aku sudah berusaha untuk memahami apa itu, dan sekarang aku tahu."

"Aku juga." Akashi tersenyum—mirip malaikat, padahal agak sweatdrop karena merasakan adanya aura tidak mengenakkan dari jejeran penonton.

"Seijuurou sayang, aku mencintaimu—" Midorima menahan muntah, "—Aku berjanji akan selamanya berada di sisimu, bersama melalui kebahagiaan dan kesedihan, dan melindungimu apapun yang terjadi."

("Takao pingsan! Gimana ini?!" "SIAPA YANG BAWA HAPE?!" "OHOKOHOKHUOHOKK—")

Midorima menarik napas panjang, "Maukah kau menikahiku, nano—"

"Tolong hilangkan logat konyolmu itu." Ujar Akashi dengan nada dingin menusuk yang otomatis merusak suasana. Sia-sia sudah perjuangan Midorima untuk menahan malu demi nampak keren di hadapan sang (calon) waifu. Takao masih pingsan.

.

.

Pasca adegan tersebut, Takao dilarikan ke rumah sakit dan divonis anemia, dan butuh transfer darah secepatnya. Namun setelah diberi napas buatan oleh Midorima, Takao langsung jejingkrakan dengan energi yang tercas penuh.

"Waifu saya moe," ujar Kise sambil mondar-mandir. "Moe waifu saya. Kalau bukan moe, bukan waifu saya... ini dialog apaan sih?"

Sementara itu Kagami tengah latihan sambil diawasi Akashi. Dengan semangat menggebu-gebu dan tanpa ragu, dia berteriak, "KEMANA TETSUYA?! KENAPA INI BISA TERJADI?! OH TUHAN, BERI AKU PENCERAHAN!"

"CUUUUUU—OHOK OHOK!" Akashi terbatuk-batuk berhubung sering berteriak hari ini. Nijimura sebagai perwakilan langsung menyabet Kagami dengan penggaris sakti. "Terlalu bersemangat, woi! Agak sedihan dikit gitu napa!"

Aomine curi-curi tidur dengan menggunakan naskah sebagai bantal darurat. Tidak terlalu berguna sih, jujur saja Aomine memilih ditabok karena menggunakan paha Kise sebagai bantal daripada kekurangan tidur.

Murasakibara asyik ngemil, naskah di genggaman. Dari jauh kelihatannya membaca dengan serius padahal hanya dipelototi saja.

"Kubunuh kaaau." Mayuzumi dengan segala kedatarannya mencoba memerankan bagiannya. Apa daya, poker facenya telah dipatenkan oleh BPOM—Badan Pengawas Olah Muka. Tidak nyambung memang.

.

(Hari keempat latihan.)

"CUT!"

"Apa salahku?"

"CUUUUUUUT! Apa-apaan itu?! SAMPAH!"

"AMPUUUUUN!"

"CUT, OI!"

"SALAH GUE APAAAA?!"

Nijimura hanya bisa pasrah melihat Akashi yang notabene perfeksionis menjadi tak terkontrol. Punya sutradara yang banyak maunya memang sulit.

"Ternyata banyak variasinya, ya..." gumam Mayuzumi di sebelahnya, yang akhir-akhir ini berlatih sendiri dengan dirinya. Nijimura memasang wajah penuh tanda tanya.

Kalau dipikir-pikir, teriakan 'cut' dari Akashi banyak jenisnya. Satu kali 'CUT!' yang tegas berarti kesalahan minor yang masih bisa dimaafkan. Dua kali 'CUT!' tanpa jeda disambung dengan teriakan yang agak panjang adalah situasi semacam 'mbak-mbak SPG ala Midorima'.

Namun jika yang terdengar adalah 'CUUUUUUUT!' panjang berupa auman murka, atau teriakan 'SAMPAH!', selamat beristirahat dengan tenang.

Intinya Nijimura pasrah ke Yang Mulia Sutradara Akashi Seijuurou, semoga saja hasilnya tidak sama seperti saat SMP.

.

(Mohon maaf, pihak Lembaga Sensor Film tidak menayangkan adegan selanjutnya karena berisi pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang Dasar 1945. Sekali lagi, mohon maaf atas ketidaknyamanannya.)

.

TBC

.

Pojok Curhatan Author:

Yaa back to school sudah dimulai! #telat woi

Berhubung jadwal saya padat dan space di otak yang ditelan pelajaran, mungkin apdet yang sudah telat bakal semakin telat /author dihajar/

Sekali lagi saya minta mangap berhubung cuplikan bab berikutnya yang mendadak dirubah. Iya saya tahu saya harus menyorot (?) pairing lain selain yang ada Kisedainya, tapi belum kepikiran ide \(w)/

Balasan Review:

Sejujurnya saya kasihan sama mereka yang perasaannya digantungin (bahkan di-PHP) Kuroko. Pilihannya ada di tangan tuhan—eh, maksudnya terserah imajinasi masing-masing. #plak

Saya memang nggak pernah ingin Bokushi dan Oreshi akur /dilempar gunting/ Nggak apa-apa mas, kalian bertengkar terus aja biar Kuroko bisa move on /linggis melayang/

Intinya. Sepertinya Kuroko akan menjadi obyek penistaan saya yang paling utama. Mulai dari diharemin, pelaku NTR, diperebutkan hingga dicuri orang (?) HIDUP UKE SEJUTA UMAT KESAYANGAN PARA FANS—/author dibunuh/

(Terima kasih untuk Shintaro Arisa-chan, Reishi 915, macaroon waffle, Vee Hyakuya, Guest, Akari Kareina, Shiroruki, Kurotori Rei, momonpoi, Freyja Lawliet, blackeyes 947 dan Indah605 untuk reviewnya~ Terima kasih juga untuk para author yang mem-fav/follow fic ini!)

.

OMAKE

"Lho, kok omake? Authorcchi bosen buat cuplikan bab berikutnya-ssu?" Kise garuk-garuk kepala. Dilihatnya teman-teman seperjuangan yang sama-sama tidak tahu alasannya.

"Mungkin karena bab berikutnya kita tampil." Mayuzumi menjawab dengan santai, masih asyik membaca light novelnya yang nampak tidak ada ujungnya. "Salahnya Nijimura sih. Oi Akashi, lu nularin virus apaan sih ke dia?" Aomine melirik biang kerok penderitaan kedua, tak lain adalah sang sutradara yang banyak maunya.

"Kenapa aku yang disalahkan?" Akashi bertanya kalem, namun aura gelap jelas-jelas muncul di sekelilingnya. Akibatnya semua mundur tiga meter.

"Oke, stop. Kita disini mau ninggalin pesan tau." Takao segera melerai sebelum terjadi kiamat kecil di antara para cast. "Reader yang disana, jangan pura-pura gak tau lho. Ada pesan penting! Yang pertama—"

"—Diharapkan untuk menyediakan alat pacu jantung." Kuroko menyambung. Semuanya melempar pandangan heran ke arah satu sama lain. Kuroko memiringkan kepala sekian derajat dengan unyu (beberapa menit kemudian semuanya mati anemia, sekali lagi), "Itu dipakai untuk apa, saya juga tidak tahu. Yang kedua—"

"—Jangan kaget melihat isi drama yang kita perankan." Giliran Himuro yang melanjut. "Adegan melamar yang diatas bukan untuk hiburan semata. Yang ketiga—"

(Dikabarkan Midorima tengah bermigrasi ke pojokan terdekat untuk pundung, mengingat pengalaman yang berpotensi menyebabkan trauma seumur hidup untuknya.)

"—Semua properti dijamin gak bahaya." Sekarang Kagami yang angkat bicara.

"Ya, sekian dari kami, tim teater Pelangi~" Murasakibara melambai. "Semuanya~"

"YOROSHIKU!"

.

(Chapter 8 END.)