0Summary: Sex friend, begitu yang Naruto katakan tentang hubungannya dengan Uchiha Sasuke, dan Sasuke sendiri tidak terlalu peduli Fuck buddy-nya itu menyebut hubungan mereka seperti apa. Selama itu menyenangkan, kenapa tidak. Begitu pikir mereka. Tapi, benarkah sesederhana itu?
Disclaimers: Naruto belongs to Kishimoto sensei!
Rate: M
Pairing: SasuFemNaru
Gendre: Friendship, romance, humor, drama, and hurt/comfort
Warning: Gender switch, Alternate universe-modern setting, OOC, typo(s), kata yang berulang dan kekurangan lainnya.
.
CRAZY STUPID LOVE
Kenozoik Yankie
.
Naruto terbangun dengan perasaan tidak nyaman di sekujur tubuhnya, rasa tidak nyaman itu ia dapatkan karna tertidur di sofa miliknya hampir sepanjang malam, tubuhnya juga terbungkus oleh sebuah selimut yang sama dirinya gunakan untuk menyelimuti Sasuke yang tidak terlaksana. Naruto bangkit, dan memposisikan dirinya menjadi duduk, ia melihat sekeliling, mendapati apartemennya begitu lenggang. Sasuke sudah pulang, begitu pikirnya, dan hanya menyisakan dua buah gelas besar kosong yang semalam berisi coklat panas.
Sasuke menginap malam itu, hanya menginap tanpa melakukan seks atau semacamnya. Yang mereka lakukan untuk menghabiskan malam berhujan itu adalah dengan hanya saling mengobrol ringan tentang banyak hal, seperti; Sasuke yang membicarakan tentang Itachi yang seorang gay. Di sebabkan Naruto terus saja mendesaknya untuk mempertemukan dirinya dengan Uchiha sulung. Naruto cukup terkejut akan kebenaran yang di dapatnya. Namun setelah itu, dirinya malah menggoda Sasuke dengan mengatakan kalau Sasuke justru terlihat lebih seperti gay di matanya, yang kemudian di tanggapi oleh Sasuke dengan mendiamkan Naruto. Baru setelah Naruto meminta maaf dengan cara yang memalukan, akhirnya Sasuke tidak mendiamkannya lagi. Sedangkan Naruto bercerita tentang pekerjaannya yang dirinya rintis bersama seniornya di universitas dulu yang bernama Tenten, juga seorang pegawai paruh waktunya yang selalu membuatnya kesal bernama Konohamaru. Sasuke sendiri menanggapi cerita Naruto dengan cukup antusias; berkomentar pendek, dan terkadang ikut tersenyum samar jika Naruto menceritakan sesuatu yang lucu menyangkut orang-orang yang berada di sekitarnya.
Naruto berpikir dan memutuskan ingin mengetahui apakah interaksi dirinya dan Sasuke semalam akan menjadikan sesuatu yang lebih serius, atau sesuatu yang hanya bersifat sementara? Apalagi mengingat bagaimana isi perjanjian mereka dan apa yang melatari perjanjian tersebut. Mungkin, mungkin saja dirinya harus lebih mempertimbangkan apa arti semua ini, apa sesungguhnya konsekuensi membiarkan sex friendmu menginap di apartemenmu dan saling berbagi cerita (Katakanlah ini semua di sebabkan oleh cuaca), meskipun itu tidak cukup terlalu pribadi. Apalagi semalam merupakan malam di mana Naruto cukup menikmati berbicara dengan Sasuke layaknya seorang teman, dan Sasuke pun juga terlihat tidak sepeti biasanya, Sasuke terlihat lebih santai dan sesekali tersenyum yang menandakan ia nyaman dengan apa yang mereka lakukan.
Namun demikian, jika mengingat itu semua, mungkinkah ini akan menjadi sebuah titik awal, titik balik, atau salah satu titik lain yang sangat bermakna dalam hidupnya kelak, jenis titik yang sangat bermakna sehingga keluarga, teman-teman, terapismu, dan bahkan dirimu sendiri mendorongmu untuk menuju ke sana, atau memperingatkanmu agar tidak menuju ke sana, dan terkadang sering sekali malah mengatakannya pada saat yang bersamaan? Naruto khawatir bahwa tidak satupun pikiran itu yang akan berada cukup lama di dalam benaknya. Dirinya yakin, bahwa seharusnya ia akan jauh lebih khawatir lagi dengan masa depan, apalagi keputusan sepihak yang hanya ia dan Sasuke yang tahu, tanpa memberitahu siapapun, harusnya ia khawatir dengan apa yang nanti akan di katakan oleh ayahnya. Tetapi dirinya sudah dewasa, dan ia sudah memutuskan akan hal tersebut. Jadi, dari pada mengkhawatirkan sesuatu yang adalah dampak dari keputusannya, Naruto malah melangkah ke arah jendela apartemennya, menyingkap gorden berwarna putih tersebut, kemudian membuka jendela, membiarkan cahaya mentari pagi membasuh wajah bergaris kecoklatannya. Naruto menutup mata, menikmati kehangatan dan ketenangan yang datang padanya pagi ini.
Naruto berdiri cukup lama di sana, selimut yang sama masih tersampir di kedua bahunya, selimut yang awalnya ingin ia sampirkan pada Sasuke tetapi tidak terlaksana dan justru menjadi selimut yang mereka pakai untuk menghabiskan malam berhujan itu untuk menghangatkan diri di atas sofa.
Bau tubuh Sasuke masih tertinggal sedikit di sana.
o0o
Setelah kembali dari apartemen Naruto, Sasuke memilih menghabiskan akhir pekannya dengan bermain biliar, di salah satu ruangan khusus di apartemennya yang luas. Meskipun apartemennya bergaya minimalis nan modern, Sasuke lebih suka mendesain ruangan itu dengan gaya khas tahun 1940-an, perabotan kulit mendominasi ruangan tersebut. Ada radio tabung pemancar dengan kenop Bakelite-nya, sebuah karpet persia yang di pesan khusus, bar mini di sudut ruangan, dan sejumlah buku tebal tertata dengan rapi di rak-rak kayu ceri. Buku-buku itu kebanyakan tentang bisnis, dan sisanya berupa buku tentang sejarah, biografi dan novel tentang peperangan epik.
Ruangan tersebut adalah ruangan favorit Sasuke di apartemennya. Di sanalah ia senang menghabiskan waktu berjam-jam (jika tidak sedang banyak pekerjaan) bukan hanya untuk bermain biliar, terkadang ia hanya menghabiskan waktu dengan membaca buku, atau hanya sekedar minum scoth sambil menikmati keheningan apartemennya yang membuatnya nyaman
Sasuke menghempaskan tubuh ke sofa, mengguncang scoth di gelas kristal miliknya. Ia lantas meluruskan kaki ke sofa Ottoman. Ia menatap lurus ke jendela besar yang ada di hadapannya, Sasuke kembali memikirkan hubungannya denga Naruto, dan apa yang akan terjadi selanjutnya jika perjanjiannya berakhir. Apa mereka tetap akan berteman seperti yang Naruto katakan padanya? Tapi bagaimana jika, Naruto berubah pikiran dan membuat semuanya menjadi sulit?
Beranjak dari posisi nyamannya, Sasuke menuju ke salah satu rak kayu ceri, mengambil salah satu buku tebal dan kembali menyamankan diri di sofa ottoman. Ia membuka buku itu, lalu mengeluarkan sebuah kertas dari lembaran halaman buku. Sasuke menatap kertas tersebut, kemudian mendengus.
"Perjanjian yang penuh omong kosong dia bilang? Memangnya siapa yang lebih membutuhkan perjanjian yang penuh omong kosong ini, aku atau si bodoh itu? Apa dia begitu putus asa, sehingga mengambil keputusan konyol seperti ini? Apa dia menganggapku sebrengsek itu?"
Sasuke kembali menyesap scotch, dan memandang kertas yang di tempeli sebuah materai di atasnya. "Aku harap, dia tidak hamil dalam waktu dekat"
Sasuke melirik jam dinding antik yang berada di sebelah kanannya, ketika ponsel miliknya bergetar di atas meja yang ada di hadapannya. Ia meraih benda itu, dan mengusap warna hijau di layar dengan cepat ketika tahu siapa yang sedang menelponnya.
"Apa kau memiliki sesuatu untukku?"
"Bisa di bilang begitu. Sangat sulit mendapatkannya"
"Hn, aku harap kau mendapatkan informasi yang dapat membuatku terkesan" Kata Sasuke berusaha untuk tidak terdengar tertarik.
"Ini sangat mengejutkan, Sasuke"
"Katakan saja, tidak usah berbasa basi, Jugo"
"Pria itu bernama Gaara, lahir di Konoha. Namun saat usianya menginjak 15 tahun, dia dan keluarganya pindah ke Suna tanpa alasan yang jelas..."
"Bukan itu, apa hubungannya dengan wanita yang kuceritakan padamu?" Sahut Sasuke cepat, menyela apa yang akan di katakan oleh Jugo.
"Ah, mereka teman dekat. Sangat dekat untuk seseorang yang saling memanggil teman seperti itu"
Sasuke mengangkat sebelah alisnya dan berdecak tidak sabar, ia berkata. "Aku ingin intinya"
"Intinya, tepat kepergian pria itu, Wanita itu mengalami keguguran dan bisa aku pastikan kalau ia hamil anak pria itu. Mereka punya hubungan yang rumit sejak awal, namun tertutupi dengan sikap mereka yang terlihat biasa-biasa saja di luar"
Sasuke tanpa sadar mengeratkan pegangannya pada ponsel miliknya, ketika memdengar informasi tersebut. "Kau yakin?" Tanyanya untuk memastikan.
"Tentu, aku berbicara sendiri dengan dokter yang menolong wanita itu waktu ia mengalami pendarahan hebat di bandara dan membawanya ke klinik miliknya"
"Beritahu aku nama dokter itu"
"Shizune, Dokter Shizune"
Dan Sasuke memutuskan panggilan itu setelahnya.
"Wanita bodoh yang malang" Sahutnya pelan dengan ekspresi wajah melunak, mata menatap kertas di hadapannya.
o0o
Akhir pekan selalu menjadi surga bagi Naruto, di mana saat akhir pekan ia akan bebas melakukan apa pun di apartemennya tanpa di ganggu oleh siapapun. Akhir pekan akan selalu menjadi hari untuk dirinya sendiri, misalnya; merapikan segala hal yang ada di apartemennya, (mengingat dirinya bukan termaksud orang yang begitu rapi), atau hanya sekedar bermalas-malasan sambil mendengarkan acara radio. Namun untuk akhir pekan ini, Naruto lebih memilih menghabiskan waktunya dengan berendam air panas sambil menghayalkan jika dirinya berada di suatu tempat di daerah tropis, di mana hujannya terasa hangat dan berkabut.
Untuk lebih mendukung hayalannya itu, Naruto menyetel sebuah lagu yang mengingatkanmu akan pantai dan pasirnya yang putih, matahari terbenam yang indah, dan suara debur ombak yang memecah karang. Naruto juga sudah menyiapkan sebuah majalah edisi bulan lalu yang di salah satu halamannya sedang membahas beberapa tempat liburan yang cocok di kunjungi saat musim panas, berpergian di pesisir Kumo, dan mengunjungi surga indah di sebuah pulau kecil yang juga masih masuk wilayah Kumo. Naruto lantas memandang sekeliling kamar mandinya, dan mendadak dinding berwarna putih itu kini berubah menjadi pemandangan pantai dengan pasir putihnya yang indah, dan handuk yang ia lemparkan begitu saja di lantai kamar mandi kini di matanya berubah menjadi sebuah handuk pantai yang di bentangkan di pasir, dan gelas tinggi yang berisi jus jeruk kemasan sebagai minuman buah berpayung.
Dan sebuah ketukan di pintu menjadikan hayalan itu hancur berkeping-keping, layaknya sebuah ukiran kaca indah yang sengaja di jatuhkan dari tempat tinggi. Naruto mengabaikan ketukan pertama, karna ia berpikir itu mungkin hanya sebuah kesalahan. Namun ketukan itu semakin menjadi-jadi, membuatnya tidak memiliki waktu lagi untuk bersikap masa bodoh. Jadi dengan kedua alis pirang yang bertemu, Naruto tergesa-gesa keluar dari kamar mandi. Dirinya mengenakan handuk dengan asal, kemudian membuka pintu, bersiap menghardik siapapun yang berada di baliknya.
Namun segala kekesalannya ia telan begitu saja, ketika ia melihat Tenten berdiri di hadapannya dengan memakai sebuah setelah pelaut berwarna biru gelap-dan-putih yang Naruto yakini pernah melihat setelan seperti itu di tumpukan baju-baju lama milik ibunya. Naruto hampir meledakan tawanya jika tidak melihat mimik hampir sengsara di wajah Tenten.
"Apa kau sedang Cosplay sebagai pacar Popeye?" Tanya Naruto sambil menunjuk busana yang di kenakan Tenten.
Tenten meluruskan dasinya, dan berusaha terlihat tegar yang ternyata gagal. "Entalah, aku hanya langsung memakai apapun yang ada di jangkauanku. Tidak ada waktu" Jawabnya sambil mengangkat bahu.
"Oh. Masuklah, apa yang kau kenakan hari ini membuatku sedikit terpesona, sampai lupa mempersilahanmu untuk masuk terlebih dahulu" Ucap Naruto dengan mengulum senyum dan berusaha untuk tidak tertawa.
Tetapi, bukannya langsung masuk kedalam apartemen Naruto, Tenten lebih memilih berdiri lebih lama di sana, masih dengan wajah muram yang Naruto yakini bukan karna apa yang Tenten kenakan hari ini, akan tetapi sesuatu hal yang lain.
"Apa kau sedang berhayal sedang berada di suatu daerah tropis lagi?" Tanyanya setelah masuk kedalam apartemen. Tenten melihat Naruto dengan mata memicing waspada, ia tahu betul kebiasaan sahabatnya itu, yang selalu berhayal tentang daerah tropis yang Naruto ingin sekali kunjungi.
Naruto tersenyum salah tingkah sambil mengusap belakang lehernya, ia menjawab. "Untuk menghabiskan waktu"
"Sebaiknya kau mengambil cuti, lalu pergi berlibur. Kau membutuhkan, Naruto dan tidak bisakah kaj mengganti baju dulu?" Sahut Tenten, kemudian ia melihat sekeliling apartemen Naruto. Apartemen itu terlihat lebih rapi dari apa yang terakhir Tenten ingat, tidak ada bantal sofa yang berserakan atau bekas bungkus ramen di atas meja depan TV.
"Tidak ada waktu" Jawabnya sambil menirukan perkataan Tenten tadi.
Setelah itu Tenten melewati Naruto (mengabaikan jika tadi Naruto sedang menggodanya) berjalan ke arah sofa dan menghempaskan dirinya di sana, menghembuskan napas berat kemudian memejamkan mata. "Sudah berakhir" Katanya sambil melorotkan dirinya lebih dalam di sofa, dan Naruto yang melihatnya seperti itu membuatnya berpikir, jika Tenten terlihat tidak seperti Tenten yang ia kenal.
"Apa yang berakhir?" Tanya Naruto tidak mengerti.
"Aku memutuskan pertunanganku dengan Neji" Sahutnya dengan pelan.
"Eh?! Kenapa?! Maksudku apa yang terjadi?!"
Lagu jazz yang ada di loud speaker kini berubah menjadi lagu blues klasik, lagu tentang kisah cinta yang gagal. Atmosfir di apartemen Naruto semakin berat dan penuh sesak, Naruto bahkan hampir tidak bisa bernapas karnanya. Jadi demi kepentingan bersama, Naruto beranjak dari atas sofa, mengambil remote control dan menekan tombol off dengan cepat.
Tenten duduk dengan tegak, seperti Tenten yang selama ini Naruto kenal. "Sabtu pagi itu, Neji sudah berada di apartemen kami. Dia pulang lebih awal dariku. Awalnya ia tidak marah, Neji memperlakukanku dengan baik, itu mungkin ia lakukan karna aku saat itu yang mabuk berat. Tetapi setelah aku membaik, kau bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya"
"Jadi Neji tahu kalau yang mengajakmu ke bar adalah aku?" Tanya Naruto.
Bukannya ia takut jika Neji tahu kalau dirinyalah yang mengajak Tenten ke bar. Hanya saja, Naruto tidak tahan dengan kuliah panjang Neji yang selalu menyelipkan kata takdir di setiap kata-katanya, bidang apapun yang mereka bicarakan.
"Tidak. Aku menyembunyikan, dan saat kami bertengkar hebat, aku tidak sengaja mengatakan hal tabu itu padanya"
"Lalu, apa yang Neji katakan?"
"Neji langsung terdiam, dan menatapku dengan terluka. Setelah itu ia mengambil kunci mobil, dan belum pernah kembali hingga saat ini. Naruto, apa yang harus aku lakukan?"
"Kau bisa meminta maaf padanya"
"Apa kau pikir dia akan memaafkanku?"
"Tentu saja. Kau pasti jauh lebih baik mengenalnya dari pada aku"
Mereka terdiam cukup lama. Tenten masih terlihat muram, dan mungkin saja apa yang dirinya kenakan hari ini hanyalah untuk mempertegas suasana hatinya yang sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Naruto masih mengenakan handuk, berpikir apa yang harus ia katakan pada Tenten untuk membuatnya merasa lebih baik.
"Mau kubuatkan minum?"
"Ya, terima kasih" Jawabnya dengan lemah.
Naruto lalu beranjak dari sofa, berjalan ke arah dapur, mengambil gelas di rak, dan membuka lemari pendingin. Naruto kembali beberapa saat kemudian, membawa segelas jus jeruk untuk di berikan kepada Tenten. Ia memilih jus jeruk, di sebabkan dirinya tidak mungkin memberi Tenten sebuah jus tomat, dan lagi saat ia dalam suasan hati tidak baik, dirinya selalu meminus jus jeruk untuk membuatnya tenang. Mungkin saja hal seperti itu akan berlaku pada Tenten juga.
"Aku benar-benar menyesal" Cetus Tenten, "Harusnya aku tidak pergi ke bar malam itu" Tenten menyesap jusnya. "Aku mengatakan itu bukan bermaksud untuk menyalahkanmu, Naruto. Sungguh"
"Aku tahu" Kata Naruto, tersenyum hangat kepada Tenten penuh pengertian.
o0o
Lamunan Sasuke terganggu oleh suara Itachi yang berasal dari balik bahunya. "Surat perjanjian?" Tanya Itachi sambil mencondongkan badan, Itachi menatap kertas itu penasaran yang ternyata masih berada di tangan Sasuke, yang menatap kertas itu dengan tatapan kosong.
Sasuke rupanya benar-benar sedang melamun. Sesuatu yang bahkan hampir tidak pernah ia lakukan.
Sasuke terperanjak, dengan cepat melipat kertas tersebut dan memasukannya dangan asal di antara halaman buku tadi. Ia lalu mendelik pada Itachi yang kini semakin terlihat tertarik.
"Bukan urusanmu"
"Tadi aku melihat ada nama Namikaze-san di sana. Apa kalian sedang melakukan sebuah permain berbahaya?" Tanyanya dengan mimik wajah jenaka.
"Aku bilang bukan urusanmu" Jawab Sasuke dengan ketus.
"Memang bukan" Kata Itachi sambil mengangkat bahu, "Tapi aku hanya ingin mengatakan satu hal, Sasuke, jangan sampai terjebak oleh permainanmu sendiri" Lanjutnya misterius.
"..."
"Oh, ya. Ibu memintamu datang ke rumah, dan besok mengantarnya untuk kelas merangkai bunga" Sahutnya ketika telah berada di ambang pintu.
"Kenapa bukan kau saja?"
"Aku sudah menawarkan diri, tapi Ibu bersikeras kalau dia ingin kau yang mengantarnya" Ujarnya sambil menunjuk Sasuke yang kini menegakan punggungnya, duduk di sofa ottoman.
"Ck"
"Kau ingin ikut pulang bersamaku?"
"Hn"
Dan seakan mengerti, Itachi berkata. "Baiklah, sampai jumpa di rumah"
o0o
Ternyata jus jeruk sebagai penyembuh suasana hati yang tidak baik, juga berlaku pada Tenten. Tenten nampak terlihat segar sekarang, dan tolong abaikan saja setelan pelaut ketinggalan jaman yang ia kenakan. Tenten bersiap-siap untuk pergi setelah jus jeruknya sudah ia habiskan, dan Naruto masih dengan handuk yang melilit di tubuhnya dengan tidak rapi.
"Sepertinya aku butuh udara segar sekarang" Ujarnya sambil beranjak dari sofa.
"Apa perlu aku temani?" Tanya Naruto, ikut berdiri di dekat Tenten.
"Oh, Naruto. Kau memang teman yang baik" Sahut Tenten sambil meletakan telapak tangan kanannya di sekitar dadanya, terharu. Tenten lalu mendekati Naruto dan memberikannya sebuah pelukan hangat. "Kau sangat beruntung karna tidak pernah mendapat masalah seperti ini" Ucap Tenten lagi, setelah melepaskan pelukannya pada Naruto.
"Aku juga punya masalah"
"Benarkah? Kau bisa mengatakannya padaku" Tanya Tenten yang kini kembali mendudukan dirinya di sofa.
"Mungkin lain waktu" Katanya tersenyum minta pengertian.
"Jangan lupa, kau utang cerita padaku tentang Uchiha itu"
"Ck, aku pikir kau sudah melupakannya" Sahutnya sambil membuang muka.
"Jangan harap, justru aku sangat menantikannya" Melihat jam tangan yang ia kenakan, "Aku akan mampir sebentar ke restoran terdekat untuk sarapanku yang sangat terlambat" Tenten mengatakan itu sambil berdiri.
"Kau belum sarapan? Kenapa tidak sarapan di sini saja? Apalagi dengan penampilanmu yang seperti itu"
"Belum. Tapi terimah kasih, mungkin lain kali. Dan ini akhir pekan, tidak akan ada yang menyadari apa yang aku kenakan sekarang" Katanya sambil merentangkan kedua tangannya, seakan-akan sedang memamerkan setelan pelautnya. "Selain itu, mereka pasti tidak akan menolak kartu kreditku, bahkan jika aku telanjang"
"Pantas di coba. Mungkin lain kali, aku akan ke restoran dengan keadaan telanjang sehingga ada seseorang yang memperhatikanku"
"Naruto, tanpa telanjangpun semua orang sudah memperhatikanmu. Kau dan ketidakpekaanmu"
"Aku merasa cukup peka dan percaya diri"
"Itu menurutmu. Tetapi aku lebih mengenalmu dari dirimu sendiri" Jawab Tenten sambil melambikan tangan pada Naruto yang kini berada di ambang pintu.
Tenten menghilang di balik koridor.
o0o
Jauh dari hiruk pikuk akhir pekan yang menyenangkan, tenggelam dalam ketenangan yang menggelisahkan, sesosok pemuda bersurai merah duduk menunggu di bangku taman yang masih setengah basah di beberapa bagian, akibat hujan deras semalam. Sosoknya nampak memukau, tinggi, kulit terang sangat kontras dengan surai merahnya, dan wajah datar yang selalu terlihat tenang, menjadikannya sebagai sosok yang tak tersentuh.
Gaara melirik jam tangan yang ia kenakan, sebuah Patek Phillipe yang di hadiahkan oleh seseorang yang cukup dekat dengannya di Suna. Ia sudah memberitahu Shikamaru tentang pertemuan ini, tetapi salah satu sahabat masa kecilnya itu sepertinya sedang melupakan perjanjian mereka, atau mungkin tidak ingin menemuinya. Di karenakan sudah bisa menebak apa yag ingin dirinya katakan pada Shikamaru. Gaara melihat di sekeliling, namun seseorang yang memiliki gaya rambut yang tidak pernah berubah hingga bertahun-tahun itupun belum terlihat juga. Dengan kesal, Gaara kembali menyandarkan punggungnya di kursi taman, dan sesekali mengecek ponsel miliknya.
Langit yang tadinya cerah, bersih tanpa awan, kini berubah menampilkan awan gelap menggumpal memenuhi langit. Mendung. Gaara mengadah dan semakin gelisah di tempatnya. Mungkin sebentar lagi akan hujan, dan Shikamaru belum juga terlihat di ujung jalan.
Lama Gaara menunggu, hingga hampir saja dirinya kembali ke apartemen yang ia sewa untuk beberapa bulan selama berada di Konoha. Akhirnya, Gaara melihat Shikamaru melihat sedang berjalan menuju kearahnya. Shikamaru masih terlihat seperti biasa; Mata kuaci yang menatap malas hampir mengantuk dan wajah yang selalu menampakan kebosanan. Gaara sempat berpikir, apa yang membuat Temari, sampai sangat menyukai teman masa kecilnya ini.
"Kau sudah lama?" Tanya Shikamaru setelah sampai di tempat Gaara.
"Sejak dua jam yang lalu" Jawab Gaara dengan sedikit kesal di nada suaranya.
"Bukan salahku" Mengangkat bahu, "Kau mengajak bertemu saat akhir pekan. Itu suatu kesalahan, kau tahu." Katanya sambil ikut duduk di kursi taman.
"Maaf, tapi ini sangat mendesak"
"Memangnya ada apa?" Tanyanya dengan malas, melirik ke arah Gaara.
"Ayahku memintaku untuk menikah"
"Gaara, aku bukan seorang konsultan pernikahan, kalau kau tidak lupa"
"Aku tahu. Tapi bisakah kau membantuku?"
"Kalau itu tidak merepotkan"
"Bisakah kau membujuk Naruto untuk menerimaku kembali? Maksudku memulai dari awal semuanya lagi" Tanya Gaara penuh harap di mata sewarna batu turquoise-nya.
Shikamaru langsung terdiam, ia menunduk dalam, membuat Gaara tidak dapat melihat bagaimana ekspresi wajah temannya itu. Kemudian dengan tiba-tiba Shikamaru berdiri dan langsung menghantamkan sebuah tinju ke wajah Gaara yang tidak siap akan serangan mendadak tersebut.
Gaara terpelanting, merasakan rasa pegas di sekitar wajah, terutama rahang bawahnya. Namun ia hanya diam, tidak bertanya apalagi membalas tinju Shikamaru. Dirinya tahu, kalau apa yang Shikamaru lakukan sangat pantas untuknya.
"Kembali kau bilang? Kau tidak pantas mengatakan hal seperti itu. Kau tahu, sejak dari bar milik Ino, aku sudah sangat ingin menghajarmu. Tapi aku menahan diri, karna aku tidak ingin menarik perhatian, terlebih waktu itu Naruto juga berada di sana dan itu bukan sesuatu yang aku suka. Tapi mendengarmu berkata seperti tadi, membuatku hilang kendali, sialan!"
"Kalau begitu kau boleh menghajarku semaumu, jika itu bisa membuatmu membantuku kembali pada Naruto. Kumohon, Ayahku sekarat"
"Naruto juga sekarat waktu itu, dan mungkin sekarang masih. Dia sekarat Gaara, saat kau meninggalkannya begitu saja. Aku sendiri yang membopongnya di kedua tanganku dengan begitu banyak darah, aku sangat ketakutan, dan kau bahkan tidak pernah menghubunginya atau mungkin menghubungjku untuk memberi penjelasan. Dan setelah sepuluh tahun, kau datang begitu saja? Apa ini lelucon, hah?!" Hardiknya, sambil mencengkram kerah jaket yang Gaara kenakan.
"Maaf" Ucap Gaara pelan, dirinya kini sudah berada di rumput dengan keadaan yang cukup menyedihkan.
"Kata maaf tidak akan berguna, Naruto mungkin akan memaafkanmu, dan aku mungkin akan bersikap seperti biasa padamu. Tapi sampai kapanmu, tidak ada yang akan bisa menghapus darah di kedua tanganmu, Gaara. Kau sudah membunuh dua orang sekaligus hari itu"
"Shikamaru, tolonglah"
"Tidak. Aku tidak bisa dan tidak mau, sudah cukup. Biarkan Naruto tenang dengan hidupnya yang sekarang" Katanya sambil beranjak meninggalkan Gaara yang kini telah berdiri, pakaian yang Gaara kenakan telah kotor oleh lumpur.
"Aku selalu merasa bersalah, aku ingin menebus semuanya, atau setidaknya dengarkan penjelasanku dulu"
"Itu dosa yang pantas kau tanggung" Ujarnya dengan dingin tanpa melihat ke arah Gaara yang berada di belakangnya. Lantas kembali melanjutkan langkahnya.
Gaara berdiri di sana dengan bibir sobek yang mengeluarkan darah, hadiah dari Shikamaru. Hari pernikahannya semakin dekat dan ia belum juga bisa menyakinkan Shikamaru apalagi Naruto. Gaara kembali menatap langit, bulir-bulir air jatuh di wajahnya
Hujan menemaninya di petang yang menyedihkan itu.
o0o
Akhir pekan ini berjalan cepat bagi Naruto, ketika Tenten pergi, Naruto lebih memilih menghabiskan waktunya dengan hanya berguling-guling di atas tempat tidur, membongkar isi dapur, dan meminum tiga kotak jus tomat milik Sasuke sekaligus, yang entah bagaimana dirinya dapat lakukan tanpa memuntahkan cairan tersebut. Bahkan Naruto sendiri merasa sangat terkejut karnanya. Setelah itu, ia kembali ke tempat tidur, dan saat terbangun langit di luar sudah gelap, dengan hujan yang kembali mengguyur dengan deras.
Naruto beranjak dari atas tempat tidur dengan gerakan malas, enggan meninggalkan tempat nyaman itu. Ia menyeret kakinya menuju kamar mandi, memilih membasuh wajah dari pada mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Naruto memandang pantulan dirinya di kaca wastafel, dan mendapati wajahnya yang sedikit pucat. Naruto mengerucutkan bibirnya, berpikir, lalu meraba sekitar dahinya.
"Tidak panas"
Naruto mengangkat bahu acuh, kemudian keluar dari kamar dan menuju ke arah sofa, menghempaskan dirinya di sana, meraih remote control dan menyalakan TV. Ia mengganti-ganti channel dan berhenti pada suatu channel yang menampilkan sebuah talk show dengan tema Hubungan Rumit. Naruto mengangguk, merasa cocok dengan apa yang di jalaninya sekarang.
Sang penelpon pertama menginginkan sebuah nasehat tentang dirinya yang mulai jatuh hati kepada seks friendnya yang jelas-jelas sangat brengsek dan tak menginginkan hubungan jangka panjang selain hubungan partner seks semata. Dan penelepon kedua menginginkan nasehat tentang cinta pertama yang pergi bertahun-tahun lalu tanpa kabar, kemudian datang lagi untuk memintanya kembali. Pembawa acara talk show, lalu memberi saran kepada penelpon pertama untuk membicarakan baik-baik hubungannya dengan seks friendnya tersebut mengenai apa yang telah ia rasakan dan kalau seks friendnya itu tidak terlalu menanggapinya, ada baiknya jika hubungan mereka di akhiri saja. Demi menetralisir patah hati yang mungkin akan terjadi (Naruto, menyatukan kedua alisnya ketika mendengar saran tersebut). Sedangkan untuk penelpon kedua di beri saran untuk memikirkan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan, tanya seseorang tersebut alasan di balik kepergiannya dulu yang tiba-tiba (Naruto mengangguk ketika menyimak apa yang di katakan sang pembawa acara)
Naruto berkedip ketika channel TV tadi kini menampilkan iklan susu bayi. Naruto merasa kalau masalah penelpon tadi sedikit mirip dengan apa yang dirinya alami sekarang. Namun Naruto menolak dengan keras jika ia mulai jatuh cinta pada Sasuke. Naruto menampilkan wajah mual saat memikirkan itu, dan sedikit bergidik karnanya. Namun ia tidak keberakatan untuk kembali ke dapur untuk mengambil jus tomat lagi dan meminumnya. Jadi dengan langkah seperti di seret, Naruto kembali ke dapur untuk mengambil jus tomat dan minumnya dengan sekali tenggak.
"Aku pikir jus tomat tidak begitu buruk" Komentarnya sambil menyeka sekitar bibirnya.
Naruto kembali ke ruang tamu sekaligus ruang tengah apartemen miliknya, lantas memutuskan untuk mematikan TV. Naruto lantas menyalakan streo dan memutar musik klasik dengan suara biola yang terdengar lembut dan mendayu-dayu. Naruto kemudian merebahkan dirinya di sofa panjang yang ada di sana, ia memakai tiga lapis pakaian untuk menghalau dingin, namun tidak begitu cukup menurut Naruto yang masih merasa kedinginan, menarik selimut, memejamkan mata menikmati kedamaian apartemen sederhananya, bersama musik klasik dan suara hujan di luar sana.
Harusnya rasa tenang yang ia rasakan akan berlangsung lama, dan hampir tertidur karnanya jika tidak ada suara ketukan keras di pintu apartemennya yang mengalahkan suara musik klasik di streo. Naruto terkaget, memekik tertahan ketika ia terjatuh dari atas sofa dengan dahi yang membentur sedikit sudut meja. Naruto mengusap dahinya yang terasa sakit, mengusapnya dengan pelan. Dengan tergesa-gesa Naruto berjalan kearah pintu dan membukanya.
"Gaara?" Ujarnya tidak percaya.
Naruto terkejut dengan Gaara yang kini berada di hadapannya. Pria merah itu basah kuyup dan ada lebam di sekita wajahnya, bibirnya pucat dan ia menggigil, menatap Naruto dengan matanya yang terlihat sayu.
Gaara lantas limbung dan Naruto dengan refleks menahannya, Gaara terjatuh di pelukan Naruto, lantas dengan kesadaran yang semakin menipis ia berbisik "Maaf" dan kelopak itu kemudian menutup.
Di saat yang sama...
Sebelum menuju ke rumah orang tuanya, Sasuke memutuskan untuk mampir sebentar ke apartemen Naruto, diri hanya ingin memastikan keadaan wanita itu yang tadi pagi terlihat sedikit pucat ketika ia meninggalkannya tidur di sofa.
Bunyi yang menandakan kalau lift sudah sampai di lantai yang di tuju, mengembalikannya ke kenyataan. Sasuke menyusuki koridor yang selalu nampak sepi di gedung apartemen tersebut, kemudian berbelok, tepat pada saat itu, ia melihat Naruto sedang bersimpuh, seseorang sedang berada di pelukannya. Naruto memanggil-manggil nama orang itu dengan panik. Awalnya, Sasuke ingin berbalik pergi, ego mengatakan jika itu bukan urusannya. Namun hatinya justru mengatakan tidak. Lama Sasuke berdebat dengan dirinya sendiri dan memutuskan untuk mendekat.
"Naruto"
"Sasuke, Gaara pingsan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Tolong lakukan sesuatu" Katanya merajuk, terisak dan panik.
Sasuke mengeraskan rahang, berdiri mematung menonton drama di hadapannya dan merasa sangat bodoh. Ia ingin sekali tertawa keras saat itu juga, apa yang terjadi di sini benar-benar bukan yang ingin matanya lihat.
"Sasuke, kenapa diam saja?" Tanya Naruto, ada nada kesal di suaranya.
Sasuke mengusap rambutnya ke belakang, kemudian menggigit pipi kedalam. "Biar aku yang memapahnya masuk, minggir!" Ujarnya dengan dingin.
-TBC-
A/N: Kapan mereka jadian?
Bakalan jadian kok tenang aja. Karna masa-masa pdkt itu lebih gereget dari pada waktu jadian. Jadi nikmatin aja prosesnya yahh~ /di getok/
Terima kasih buat Ayanara47, Dekdes, Choikim1310, Dwi341, Namikazehyunli, Miyuki Asakura, Jasmine DaisynoYuki, Versetta, L Casei Shirota Strain, Ame To Ai, Habibah794, Arifacandlelight, Raenegan, Kyutiesung, Za666, Rin SafOnyx, Yurhachan, Anita Indah777, Vianna Cho, Ryu Sn25, Aiko Vallery, Kuroko, Askasufa, Hiori Fuyumi, dan Uchiha Emo10 .
Best Regards,
Kenozoik Yankie ^^v
