Disclaimer: Tite Kubo.
Warning: AU, OOC (maybe), typo(s).
Rate: T
Pair: Ggio Vega and Suì Fēng.
Genre: Adventure, maybe crime, and maybe romance.
.
.
.
Ensnare's Fate
Chapter 9
.
.
.
Soifon mengerjapkan matanya berkali-kali. Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata hazel yang menatapnya dengan tatapan cemas.
Soifon mencoba bangkit dari posisinya dan bersandar pada kepala ranjang. Tangan kanannya memegang kepala yang terasa pening. "Di mana ini?" Raut kelegaan terpancar di wajah gadis itu ketika mendengar suara Soifon.
Gadis bernama Hinamori itu memeras sebuah sapu tangan yang ada di dalam waskom berisi air. Kemudian, mengelap wajah Soifon yang basah oleh keringat.
"Kamu ada di rumahku," Hinamori menjawab singkat. Soifon memegang pergelangan tangan Hinamori dan membuat gadis itu menghentikan kegiatannya. "Aku, Hinamori. Kau bisa memanggilku begitu."
Hinamori kembali meletakkan sapu tangan itu ke dalam waskom. "Aku yang meledakkan kastil itu." Soifon melemparkan pandangan ke sekeliling. Mustahil memang mempercayai ucapan gadis itu. Mana mungkin gadis manis sepertinya melakukan hal seperti itu.
Namun semua pemikirannya terbantahkan ketika melihat seluruh peralatan canggih yang berjejer di dalam kamar itu. Semua komputer menyala dengan menampilkan seluruh kegiatan yang terjadi di sekitar kastil dan di sekitar tempat ini.
Sebuah benda kecil dengan timer di atasnya tergeletak di atas meja. Yang Soifon pastikan benda itu adalah bom mini yang belum selesai dirakit. "Kenapa?" Hinamori berdiri dari kursi di samping kasur Soifon dan mengambil semangkuk bubur yang ada di meja samping bom mini itu.
"Makanlah, dapat meningkatkan staminamu." Hinamori menyodorkan piring itu. Tapi Soifon belum bergerak seinci pun. Ia masih menatap curiga bubur itu. Hinamori tergelak melihat ekspresi ragu-ragu Soifon. "Tenang, tidak ada racunnya kok."
Soifon memasukan satu suap ke dalam mulutnya. Terdiam sejenak untuk mengecap rasanya, setelah itu Soifon menelannya. Hinamori hanya tersenyum tulus, kemudian ia menatap tangannya yang saling bertumpuk di atas pangkuannya.
"Bisa dibilang, aku ingin mengakhiri semua ini. Di zaman yang sangat canggih ini sudah tidak dibutuhkan sebuah klan untuk ikut campur dalam roda pemerintahan." Soifon tahu, yang diucapkan gadis ini tidak sepenuhnya benar. Masih ada alasan lain kenapa ia menanam bom di dalam kastil itu. Namun, Soifon tidak menyerukan rasa penasarannya melainkan hanya diam.
"Tidak ada ucapan terima kasih?" Hinamori mengangkat sebelah alisnya. Baru saja Soifon ingin menjawab, tiba-tiba pintu kamar itu telah terbuka disusul dengan munculnya seorang bocah berambut putih yang kemarin menahan Soifon untuk menyusul Ggio.
"Kau!" Hitsugaya melirik Soifon sekilas namun kembali menatap Hinamori.
"Tidak ada waktu untuk bertengkar. Ggio, dibawa ke penjara," Hitsugaya berujar sambil mengatur napasnya yang memburu. Tangan kurusnya melemparkan sebuah koran di atas kasur Soifon. Buru-buru ia meraih koran itu dan membacanya. Soifon terkejut. Sementara Hinamori langsung berdiri dan mengajak Hitsugaya berbicara di ruang lain.
"Tunggu!" Hinamori memutar kepalanya dan Soifon bangkit dari kasurnya. "Beritahu aku cara untuk menghancurkan penjara."
.
xXxXx
.
Apache mempercepat langkahnya. Baru saja ia tiba di Osaka pagi ini. Dan dengan terburu-buru ia langsung melaju ke kantor polisi. Apache berhenti di depan sebuah ruangan dan menarik napas dalam.
Detik berikutnya Apache mendorong pintu bercat putih yang menghalangi jalannya. Ggio dan beberapa orang lain langsung memutar kepalanya ke arah pintu. Apache mengatur napasnya sejenak. Yang ia tahu, orang-orang di depan Ggio adalah para penasihat klan Hollow. Tampaknya, berita itu bukan omongan belaka.
Kemudian Ggio bangkit dari bangku dan mempersilakan orang-orang itu keluar dari ruangan. Apache sedikit membungkukkan badan ketika para petuah itu melewatinya. Dan sekarang, hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Apache menutup pintu dan berjalan menghampiri Ggio.
"Ggio, kau benar-benar—"
"Aku ingin berbicara denganmu, Apache," Ggio memotong ucapan Apache. "Tentang hubungan kita." Jantung Apache langsung bergemuruh. Firasatnya tidak enak akan hal yang ingin dibicarakan Ggio. Dari raut mukanya, tidak menunjukkan bahwa pemuda itu akan melamarnya dan mengajaknya memimpin klan Hollow bersama.
Apache tidak bodoh ataupun idiot. Dia mengerti situasi yang tidak menenangkan seperti ini. Apache memegang punggung kursi yang ada di dekatnya.
"Kenapa? Serius sekali? Kau tahu, semua orang di klan membicarakanmu loh. Membicarakan kembalinya dirimu. Mereka semua juga memburu Nemu untuk menanyai bagaimana caramu membunuhnya. Lalu kami—"
"Apache," panggil Ggio datar bahkan mendekati dingin. Apache melirik Ggio sekilas, terlihat sekali kalau dia tidak suka akan basa-basi ini. Tapi, Apache terus melanjutkan ocehan basa-basinya. Tangan Apache mulai bergetar pelan.
"Kau sudah makan? Bagaimana makanan di sini? Aku sudah meminta mereka menyiapkan makanan favoritmu untuk makan siangmu nanti. Dan aku akan—"
"APACHE!"
BRAK!
"APA?" Apache membentak frustasi. Kursi yang dipegangnya jatuh begitu saja. Wajahnya mulai pucat dan tangannya berkeringat, menunjukkan dengan jelas bahwa ia sedang ketakutan. Dadanya naik-turun dengan cepat seperti orang yang habis berkelahi.
Apache memeluk perutnya, menyembunyikan tangannya yang gemetar. Baru pertama kali ini Ggio membentaknya seperti itu. Sepasang permata Apache yang berbeda warna melotot dengan kilat kemarahan dan ketakutan.
Ggio membuka mulutnya sebentar kemudian mengatupkannya kembali. Ia menghela napas. "Apache, tolong dengar." Ggio maju beberapa langkah untuk mendekati Apache. Tangannya ia ulurkan agar dapat menyentuh tangan Apache. Walau gadis itu sering memegang belati, pistol dan sering bersentuhan dengan darah, tangannya tetap lembut seperti gadis seumurannya.
Ggio menarik napas dalam. Dia dapat melihat sebuah cincin manis yang melingkar di jari Apache, yang menunjukkan dia adalah tunangan seorang Ggio Vega. Ggio menyentuh permukaan cincin itu. Dan Apache semakin takut, ia ingin menjauhkan tangannya, tapi pergelangan tangannya ditahan oleh tangan Ggio yang satunya.
"Kita akhiri saja pertunangan ini." Ulu hatinya serasa ditonjok dan ditusuk beribu-ribu belati. Perlahan tapi pasti benda bulat itu menjauh dari jari manis Apache.
"Gadis itu, kan?" Ggio memasukan cincin itu ke dalam sakunya dan bersandar pada dinding. Ggio sedikit tidak berani menatap Apache. Bagaimanapun, gadis itu pernah menjadi sandarannya ketika Halibel pergi dari sisinya.
"Semua ini sudah terlalu lama, jika kau masih senang melanjutkannya," Ggio menjawab tenang. Dia sudah mengambil keputusannya. Apache terbahak di depannya. Tawanya menggelegar. Tawa yang berisi frustasi dan ketidakpercayaan.
"Kau berniat mati? Dan mati BERSAMANYA! Iya, kan?" Apache makin meremas tangannya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menerjang meja di depannya atau menarik belatinya keluar untuk menghabisi pemuda di depannya. Dia baru saja mencampakkan Apache!
Ggio tetap tenang, walau dia akui ini tidak seperti dirinya yang suka terpancing. Jari telunjuknya bergerak teratur. Belum sempat ia menjawab pintu ruangan itu sudah menjeblak terbuka, dan Ulquiorra muncul di sana. Tidaklah penting untuk melanjutkan pembicaraan ini. "Aku rasa semua sudah jelas, Apache. Silakan duduk, Ulquiorra." Apache menghentakkan kakinya kesal dan berjalan keluar dari ruangan.
Apache mengerling ke arah Tesla sekilas dan menggerakkan kepalanya perlahan untuk menyuruhnya berjalan. "Aku bisa mendengar pembicaraan kalian. Apa rencanamu?"
Urat-urat kekesalan masih terlihat jelas di pelipisnya dan matanya masih berkilat tajam. "Tidak melakukan apa-apa. Mereka akan diurus oleh penyihir itu. Pergilah ke tempatnya, tawari bantuan. Dan yang paling penting, pastikan, Ggio membunuh gadis itu dengan tangannya." Apache berbelok ke arah kanan dan Tesla membungkuk penuh hormat kemudian berjalan ke arah yang berlainan.
.
xXxXx
.
Soifon berlari sambil mengendap-ngendap di balik tembok yang terhubung dengan pagar penjara itu. Pakaian serba hitamnya terlihat mencolok di bawah sinar senja.
Soifon melirik penjaga yang ditemani beberapa anjing polisi di sekitarnya. Seperti yang sudah direncanakan, Soifon mengambil bom plastik yang tadi diberikan Hinamori. Dengan gerakan cepat dan tak terlihat, Soifon melemparkan bom plastik itu ke udara.
Bom itu melayang dan jatuh di dekat penjaga itu. Anjing-anjing penjaga itu langsung menggonggong panik begitu juga penjaga yang langsung berlari meminta bantuan. Namun belum sempat penjaga itu memanggil bantuan, bom itu sudah meledak terlebih dahulu.
Asap di mana-mana menutupi keberadaan Soifon dan penjaga-penjaga yang lari berdatangan. Soifon mengenakan kacamatanya—yang disiapkan khusus oleh Hinamori yang dapat melihat dalam asap—dan berlari menerobos asap. Dia memukul dan menendang siapapun yang ia temui di jalannya. Soifon berlari ke pintu belakang dan memanjat tembok.
Kata Hinamori, Ggio ditahan di lantai tiga secara teknis, karena bangunan penjara ini cukup rumit. Para penjaga mulai bergerak, alarm mulai dibunyikan hingga menimbulkan bunyi bising memekakkan telinga. Dengan lincah Soifon berpindah dari teralis satu ke teralis lain. Saat berhadapan dengan jendela kaca, sambil berayun dengan tetap berpegangan pada teralis di atasnya, Soifon menerjang kaca jendela itu.
Suara tembakan mulai terdengar ketika pintu ruangan itu terbuka. Soifon langsung berguling ke samping dan bersembunyi di balik meja kerja di dekatnya. Ia melepas kacamatanya dan mengambil pistol di balik jaket. Dengan snagat perlahan dan hati-hati, Soifon mencondongkan kepalanya sedikit, untuk memastikan posisi orang itu.
Beberapa detik setelah kepalanya sedikit menyembul, suara tembakan langsung menyambut kepalanya. Dengan segera, Soifon menarik kepalanya kembali. Soifon berdiri dan menembak penjaga itu. Meleset memang, tapi perhatian penjaga itu berhasil teralihkan.
Dengan lihai, Soifon melompati meja kerja di depannya dan mencengkram kerah pria itu kemudian menodongkan pistolnya ke leher pria itu. Soifon dapat merasakan tubuhnya gemetar menahan takut, mengingat maut sudah berada di depan mata jika Soifon menekan pelatuk pistolnya. Soifon menyeringai sinis, merasa jijik melihat ketakutan yang terpancar di bola mata hitamnya. Sambil mengedikkan lehernya, Soifon memukul leher pria itu dengan pistolnya.
Soifon melangkahi tubuh penjaga yang sudah hilang kesadarannya dan kembali berlari dengan cepat. Soifon menuruni tangga spiral yang akan membawanya ke penjara bawah tanah. Soifon mengecek satu-persatu tahanan yang mendekam di balik jeruji besi itu.
Tapi tidak ada seseorang berkepang dengan permata emas di sana. Saat ingin berbalik, Soifon menemukan sebuah sel yang jerjui besinya dilubangi dari dalam. Dan saat melirik nama yang seharusnya ada di sel itu, Soifon langsung berlari kembali.
Ggio Vega telah melarikan diri. Pertanyaannya, apa dia sudah keluar dari gedung ini atau belum? Soifon memutar arah dan berlari menuju ruang kontrol alih-alih pintu keluar. Sebisa mungkin, Soifon menghindari dirinya bertemu dengan penjaga. Dia belum ingin dirinya ditangkap oleh segerombolan penjaga dengan senjata lengkap.
Soifon menghentikan langkahnya, dia mendengar derap langkah kaki berisik dari depan dan belakangnya. Kalau dia diam, pasti dia ditahan dan tidak mungkin juga kalau orang-orang itu dari klannya. 100% mustahil.
Di saat Soifon sedang kebingungan seperti itu, tiba-tiba ada yang menarik lengannya dari tikungan tempat dia tadi berlari. Begitu kencangnya tarikan orang itu, sampai-sampai pistol Soifon terlepas begitu saja. Soifon langsung menghentakkan tangannya.
Dan saat tarikan itu melemah, Soifon menggenggam leher orang itu dan menyandarkannya ke dinding dengan senjata emasnya berjarak lima senti dari lehernya.
.
xXxXx
.
Napas mereka saling tersengal dan bersaut-sautan. Soifon masih belum menurunkan senjatanya, walau permata abunya dengan jelas menangkap bola mata emas di depannya.
Tangannya terasa sedikit geli ketika bersentuhan dengan rambut orang itu yang menjuntai di sisi kanan dan kiri kepalanya yang tidak terlalu panjang. Mereka berdua saling berpandangan dalam diam. Hingga akhirnya sosok yang berada di cengkraman Soifon menyunggingkan seringainya.
"Jangan bilang, kalau kau datang untuk menyelamatkanku," Ggio berbisik. Soifon mendecih dan menarik tangannya kembali. Soifon mencondongkan kepalanya keluar dan melihat orang-orang itu sedang berpencar dan mencarinya. Hanya seorang penjaga yang ditinggalkan untuk berdiri di depan lorong sempit itu.
Soifon melangkahkan kakinya dengan pelan sambil membungkuk. Buru-buru, Ggio menahan lengan Soifon. "Mau ke mana?" Soifon melotot. Memangnya mereka sedang piknik apa. 'Mau ke mana?' pertanyaan apa itu?
"Keluarlah, Idiot. Silakan saja, kalau kau mau tinggal di lorong sempit ini." Ggio menutupi mulutnya dan tertawa di balik telapak tangannya. Ggio terus menahan bahu Soifon yang semakin ingin keluar dan melumpuhkan seorang penjaga di depannya.
"Pintu keluarnya di sini, Nona." Ggio meninju dinding di belakangnya dan menimbulkan sedikit getaran. Kemudian sebuah pintu muncul di dinding itu dan terbuka, mempersilakan mereka berdua masuk.
"Ggio, dia melihat ke arah sini." Soifon menarik ujung baju Ggio dengan menatap panik ke arah penjaga itu yang berjalan untuk memasuki lorong itu juga. Namun belum sempat orang itu menyumpalkan tubuhnya ke dalam lorong, Ggio sudah menembaknya duluan dan penjaga itu tumbang begitu saja.
Ggio kembali menarik Soifon dan masuk ke dalam terowongan dengan langit-langit rendah yang panjangnya sampai pintu keluar di lantai bawah. Ggio sibuk menutup telinganya ketika mendengar Soifon yang tak hentinya menjerit saat mereka keluar dengan cara menggunakan seluncuran spiral yang cukup mengerikan.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Soifon dengan berteriak.
"Apa?" Ggio memutar kepalanya dan menunjuk telinganya, yang mengatakan kalau dia tidak dengar. Soifon bisa maklum, angin di sekitar mereka kencang sekali.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Soifon menaikkan nada bicaranya satu oktaf. Tapi Ggio tetap menunjukkan tanda-tanda bahwa dia tidak mendengar suara Soifon. Gadis itu mulai kesal. "Bagaimana. BAGAIMANA. Kau bisa tahu. TAHU. Tempat ini. TEMPAT INI!" Soifon mengatur napasnya. Ini keterlaluan.
Ggio terbahak di tempatnya. Wajah Soifon langsung merah padam. "Aku tahu, aku tahu. Aku hanya mengerjaimu, kok. Aku menemukannya di ruang kontrol tadi. Seru, kan?" Ggio berteriak dengan nada kesenangan. Soifon melotot dan kembali berteriak.
Tak lama, mereka berhenti meluncur. Pendaratan mereka terjadi dengan sangat tidak mulus. Dengan sebuah debaman ketika Soifon menabrak punggung Ggio dan membuat pemuda itu terdorong lebih jauh hingga hidungnya menabrak dinding putih di depannya.
Soifon tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk hidung Ggio yang memarah, untung tidak mengeluarkan darah. Ggio menggeram marah dan mendorong tubuh Soifon hingga punggungnya menabrak dinding juga. Tapi tetap tidak seberapa. Pasti sakit sekali, kalau Soifon berada di posisi Ggio.
Ggio langsung mengambil langkah seribu, berniat untuk meninggalkan Soifon di belakang. Tapi, telinga gadis itu cukup tajam, dan tetap dapat mengikuti jejak Ggio. Dan sekali lagi, Soifon menabrak punggung Ggio ketika pemuda itu berhenti berlari. "Berhenti menabrakku!" bentak Ggio kesal.
Soifon hanya mengulum senyum. "Maaf." Ggio mendorong pintu itu sedikit dan mengintip keadaan di luar. Ggio mengerling ke arah tas Soifon kemudian menariknya dengan kasar. "Hei!" protes Soifon sambil memegangi lengannya yang sedikit kesakitan.
"Ada yang menjemput kita?" Ggio bertanya sambil terus mengobrak-abrik isi tas Soifon. Ggio mengeluarkan bom asap dan membakar sumbunya.
"Di sisi kanan gedung ini." Ggio mengangguk mantap. Itu artinya mereka akan berputar. Soifon kembali memakai kacamatanya dan menggenggam tangan Ggio. Ggio membuka pintu itu dan melemparkan bom asap itu. Saat mendengar suara letusan, Soifon langsung keluar dan membimbing Ggio.
Mereka terus berlari sampai menemukan mobil putih yang terparkir di depan pagar itu. Hinamori langsung membukakan pintu bagian belakang dan Hitsugaya terus menembaki segerombolan orang yang mengejar Ggio dan Soifon.
Dan terakhir, pemuda kecil itu melemparkan bom kecil ke udara. Soifon menambah kecepatannya. Ketika ledakan itu terjadi, mereka berdua melompat dan masuk ke dalam mobil.
Hitsugaya segera memacu mobil itu menjauh. Secara tak diduga, tiba-tiba mulut pistol sudah menempel di leher Hinamori dan Hitsugaya. "Siapa kalian?" Soifon terkejut ketika menyadari pistolnya telah diambil Ggio.
.
xXxXx
.
Sebuah mobil putih melaju lurus dengan kecepatan sedang menuju sebuah penginapan. Mereka akhirnya tiba di Hokkaido setelah naik shinkansen. Mereka semua sepakat untuk memilih menggunakan mobil dalam mencari penginapan daripada kendaraan lain untuk alasan keamanan.
Ggio langsung tertidur setengah jam setelah Soifon menjelaskan secara berulang-ulang bahwa Hitsugaya dan Hinamorilah yang membantunya untuk menolong Ggio keluar. Dan hanya terbangun sebentar ketika mereka tiba di Hokkaido kemudian tertidur lagi.
Awalnya, Ggio tidak percaya akan penjelasan Soifon namun ketika Hinamori memutar kepalanya dan menjelaskan sendiri, pemuda itu langsung mengangguk seperti anak anjing yang patuh kepada majikannya.
Mobil putih itu terhenti di depan penginapan yang sederhana. Soifon menyikut rusuk Ggio dengan kasar hingga pemuda itu membuka matanya dengan rasa kaget yang tidak menyenangkan.
Soifon meregangkan tubuhnya sejenak dan memandangi matahari yang mulai terbenam. Suhu di sini sangat dingin, hingga membuatnya harus merapatkan jaketnya. Kemudian ia mengikuti Hinamori dan Hitsugaya yang sudah masuk ke dalam penginapan.
Mereka memesan dua kamar. Satu untuk perempuan yang satu lagi untuk yang laki-lakinya. Soifon berlonjak senang ketika tahu bahwa penginapan ini memiliki pemandian air panas. Hal seperti itu memang ia butuhkan di saat-saat melelahkan seperti ini.
Begitu mereka selesai meletakkan barang-barang—khususnya Hinamori yang membawa peralatan lengkap ke dalam perjalanan mereka—mereka langsung melesat ke pemandian air panas.
Soifon mencelupkan tubuhnya lebih dulu. "Segarr!" katanya dengan nada puas kemudian dia berjalan ke tepi untuk bersandar. Kemudian diikuti oleh Hinamori yang bersandar di sebelahnya.
Mereka berdua diam dalam beberapa saat. Hingga akhirnya Hinamori bertanya, "Sejak kapan kalian saling kenal?" Soifon melirik Hinamori sejenak dan menyandarkan kepalanya ke batu sambil menatap langit.
"Saat aku berumur 13 tahun." Soifon menerawang jauh. Mengingat kembali saat-saat mereka baru kenal. Masa-masa mereka saling mengabaikan dan tidak peduli satu sama lain.
"Kamu menyukainya?"
"Hah? Aku tidak—" Hinamori tertawa pelan dan memercikkan air hangat itu ke muka Soifon. Wajah Soifon mulai memerah akibatnya. "Daripada mengurusiku, lebih baik jawab pertanyaanku, sudah berapa lama kalian tinggal bersama?"
Hinamori membulatkan matanya membenamkan kepalanya sampai hidung. "Sejak aku berumur 14 tahun," Hinamori menjawab malu-malu. "Su-sudah, jangan menatapku begitu." Hinamori memalingkan wajahnya dan mengangkat tubuhnya keluar dari kolam. "Ayo, tidak baik lama-lama di dalam sini."
Soifon menghela napas. Padahal dia masih ingin melanjutkan acara bincang-bincangnya dengan Hinamori. Dia merasa lebih muda. Dulu dia tidak suka mendengar cerita teman-temannya yang sibuk memuja orang yang mereka sukai. Tapi sekarang? berbicara dengan Hinamori dengan topik yang sama, membuat Soifon kembali merasa bahwa dia masih remaja berumur 17 tahun.
Dengan enggan, Soifon bangkit dari kolam itu dan mengikuti Hinamori. Mereka berdua berganti yukata dan berjalan ke ruang makan untuk makan bersama kedua pemuda itu.
Saat mereka tiba di sana, rupanya Hitsugaya dan Ggio sudah di sana lebih dulu. Mereka berempat makan dengan tenang dan nyaman, sesekali mereka mendengar perdebatan kecil antara Hitsugaya dan Ggio yang berebut makanan. Atau suara protesan Hitsugaya yang selalu diejek oleh Ggio tentang postur tubuhnya.
.
xXxXx
.
Soifon melirik ke arah teras. Setelah selesai makan, Ggio langsung keluar dan duduk di sana. Soifon dapat merasakan ada yang lain dengan dirinya. Dia masih bisa mengingat dengan jelas saat dia melihat Ggio membunuh Gin.
"Soifon-san pasti lelah, kembalilah dulu ke kamar, ada yang mau aku diskusikan dengan Hitsugaya-kun." Soifon melirik Hinamori sejenak kemudian mengangguk dan melangkah menuju kamarnya.
Setelah memastikan bahwa Soifon sudah tidak ada di sana lagi, Hinamori bangkit berdiri dan menggeser jendela kaca yang menghubungkan dengan teras yang sedang Ggio tempati. Meninggalkan Hitsugaya yang masih menenggak teh di tempatnya.
Ggio menggulirkan bola matanya ke kanan ketika mendengar suara pintu digeser dengan pelan. Setelah mengetahui siapa pelakunya, Ggio kembali memandangi tumpukan salju yang menutupi ranting pohon besar di depannya.
Hinamori berjalan mendekati Ggio dan duduk di sebelahnya kemudian memejamkan mata. "Tenang, ya. Seperti taman belakang rumah kita," kata Hinamori pelan. Ggio menatap wajah manis gadis itu kemudian menghela napas. Hinamori mengangkat kelopak matanya dan menatap sendu Ggio. "Apa kabar, Oniisama?"
Suaranya sangat pelan dan menyayat hati. Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Ggio menyayangi adik kecilnya itu karena dapat membuat senyuman tersendiri buatnya. Ggio meremas bahu Hinmori dan menariknya bersandar pada dada bidangnya.
"Sekarang, tinggal kita berdua di klan ini. Bagaimana wajah Gin-nii saat dia meninggal?" Hinamori ingin menangis saat menanyakan hal ini. Tidak satu tetes pun air mata yang mengalir dari matanya ketika mendengar kabar ini. Walau sejujurnya dia ingin menangis. Ingin sekali.
Ggio mengelus punggung Hinamori. "Dia tersenyum. Sangat tulus. Mungkin senyuman yang paling tulus yang pernah aku lihat darinya. Kau sendiri? Bagaimana bisa ada di sini?"
Hinamori mengukir senyum tipis dan makin membenamkan kepalanya di dada Ggio. "Keputusanku sendiri. Membantu Soifon-san mendapatkan hartanya. Uragirimono no Hime, begitu mereka menyebutku sekarang." Hinamori tertawa getir.
Kemudian, ia angkat kepalanya dan menatap lurus sepasang bola mata emas Ggio. "Lalu, apa rencana niisama terhadap Soifon-san? Menghancurkannya? Atau membalas dendam Tia-nee?"
Ggio menolak untuk melihat permata hazel Hinamori. "Apa sebenarnya yang niisama inginkan dengan membunuh Gin-nii?" Ggio tetap bungkam. Dia tidak bisa menjawab. Dia hanya ingin rencananyan dia sendiri yang tahu.
Hinamori mengerti maksudnya. Dia sudah mengambil kesimpulan dari reaksi kakaknya. "Kalau begitu rencana niisama, kita pasti akan berakhir menjadi musuh. Ingat kata-kataku." Hinamori berdiri dan kembali masuk ke dalam ruangan.
.
xXxXx
.
Soifon merangkak turun dari kasurnya. Dia tidak bisa tidur malam ini. Dia ingin berbicara dengan Ggio. Tapi dia yakin pemuda itu pasti sudah tertidur. Soifon menggeser pintu shoji itu dengan perlahan agar tidak membangunkan Hinamori.
Begitu ia keluar dari kamar dan mengangkat kepalanya, sepasang mata Soifon terbuka. "KA—umhh!" Mulutnya langsung dibekap oleh seseorang yang juga sedang berusaha kabur dari kamarnya. Soifon menggigit telapak tangan pemuda itu hingga dia meringis kesakitan dan melepaskan bekapannya.
Pemuda itu mengarahkan lehernya menuju teras dan berjalan ke arah itu. Soifon pun mengikutinya. Jantungnya berpacu dengan cepat, otaknya mulai merangkai kata untuk pertanyaan yang ingin ia ajukan. Kenapa dia jadi begitu nervous sekarang?
Kemudian mereka berhenti di teras. Ggio mengamati salju yang perlahan-perlahan turun, menyatu dengan kawan-kawannya yang telah datang terlebih dahulu, kemudian meleleh. Ggio pun duduk di sana.
"Di sini tenang sekali." Ggio memejamkan matanya. Menghirup dalam-dalam udara dingin di sekitarnya. Soifon berjalan menghampiri Ggio dan ikut duduk di sampingnya. "Kalau kita dapat seperti ini selamanya."
Sekejap, kata-kata yang sudah Soifon rangkai hilang begitu saja. Ggio seperti sedang menangis dalam diam di sampingnya. Membiarkan kesunyian menelan semua suara tangisnya. Akhirnya, Soifon menghela napas dan ikut memejamkan mata. "Aa, sangat tenang."
Kemudian mereka berdua diam. Keheningan ini begitu mencekam. Tiba-tiba Soifon dikagetkan dengan beban berat yang menimpa pangkuannya. Soifon membuka matanya menemukan Ggio tengah membaringkan kepalanya di atas pangkuannya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Jantung Soifon langsung berpacu tak beraturan. Hal ini diluar pemikirannya. Dia tidak pernah... sedekat ini dengan lawan jenis. Soifon bersiap mengangkat kepala Ggio namun pergelangan tangannya langsung ditahan oleh pemuda itu.
"Sebentar saja. Aku benar-benar lelah," katanya dengan suara pelan mendekati memohon. Ggio melepaskan cengkramannya dan melipat tangannya di atas dada. Soifon menurunkan sepasang tangannya di atas kepala Ggio.
Tangannya tergelitik untuk membelai rambut yang rupanya sangat lembut itu. Harum shampo yang Ggio pakai sangat menggoda indera penciumannya. Soifon tampak ragu-ragu untuk melakukannya. Berkali-kali ia mengecek apakah Ggio sudah tidur atau belum.
Dengan perlahan, Soifon mengusap rambut itu, kemudian membelainya. Ggio menggeliat perlahan, Soifon buru-buru menarik tangannya. Jantungnya semakin bertalu-talu, bahkan dia sendiri dapat mendengar bunyi detak jantungnya. Dia ingin. Ingin membelai rambut halus itu lagi.
Dengan mengumpulkan segala keberaniannya, Soifon kembali membelai rambut hitam Ggio. Dan kali ini pemuda itu tidak menggeliat, dia terlihat begitu damai dan tenang. "Tanganmu hangat sekali, Soifon." Soifon tersentak dan Ggio menyunggingkan senyumnya.
Wajahnya mulai panas sekarang. Soifon yakin pasti tangannya semakin hangat malah mungkin menjadi panas sekarang. "Di sini akan diadakan yuki matsuri, pastikan kita mengunjunginya. Festival itu sangat indah," gumama Ggio lagi.
Soifon tertawa pelan. "Iya." Kemudian ia mengamati salju yang turun sambil terus mengelus rambut Ggio. Hingga tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat dan basah menembus celananya dan menyentuh pahanya. Soifon kembali menatap wajah Ggio dan terkejut.
Pemuda itu meneteskan air mata dalam tidurnya. Soifon menghapus air mata itu dan menepuk puncak kepala Ggio. "Iya, kalau saja kita bisa seperti ini, selamanya."
.
xXxXx
.
Siangnya mereka semua keluar dari penginapan untuk mencari informasi tentang kastil itu dan klan hollow yang baru saja kehilangan pemimpinnya. Dan begitu mereka tiba di pusat kota, Soifon dan Ggio harus rela berjalan sambil menunduk untuk menutupi wajah mereka. Sekarang poster mereka tertempel di mana-mana. Mereka resmi menjadi buronan, sekarang.
Walaupun sebuah klan baru saja kehilangan pemimpinnya. Yuki matsuri tetap diselenggarakan. Festival penuh bangunan es itu akan diselenggarakan malam ini. Dan semua orang sibuk mempersiapkannya.
Dan menurut informasi, kastil klan Shinigami akan menjadi pusat terselenggaranya festival tahun ini. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, mereka berempat singgah di sebuah kafe untuk mengisi perut sejenak.
Soifon berjalan menuju meja bar untuk menanyakan letak toilet. Sesekali ia melirik seorang perempuan berambut ungu dan bergelombang yang duduk sambil mengaduk-aduk gelasnya.
"Terima kasih." Soifon mengangguk dan bersiap berjalan menuju toilet sesuai dengan arah yang diberikan bartender itu. Namun tiba-tiba, pergelangan tangannya ditahan seseorang.
"Hei," panggilnya dengan sangat lembut. Soifon memutar kepalanya dan gadis itu mengangkat kepalanya sampai memperlihatkan permata ametyst-nya yang menghanyutkan. "Mau mendengar sebuah rahasia?"
Suara yang merdu itu menyihirnya. Soifon terdiam di tempatnya. Dia tidak dapat bergerak. Pandangan matanya mulai kosong. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Gadis itu tersenyum dan menangkap tubuh Soifon yang mulai ambruk.
Ggio langsung memutar kepalanya ke arah bar ketika mendengar bunyi debaman dari arah situ. Ggio langsung bangkit dari kursinya dengan panik saat melihat tubuh Soifon sedang dipapah oleh Cirucci menuju pintu keluar. "Soifon!"
Ggio menarik pistolnya dan mulai menembak ke arah Cirucci. Tiba-tiba dua orang menghalau peluru Ggio dan balas menembak. Terjadilah insiden tembak-menembak di dalam kafe itu. Kebetulan kafe itu sedang sepi, sehingga hanya beberapa pengunjung di dalamnya yang langsung berlari keluar kafe.
Dan acara tembak-menembak itu berhenti ketika Cirucci mengangkat tangannya menyuruh mereka semua berhenti. "Halo, Ggio—oh, Hinamori juga ada di sini, rupanya." Ggio menurunkan pistolnya. "Kalian ingin menghadiri acara pemakaman Gin?"
"Lepaskan dia!" bentak Ggio marah.
"Oh, apa itu? Perintahmu untukku, Ggio-sama?" Cirucci sengaja menekankan kata –sama dan kilat kemarahan terlihat jelas di bola matanya. Ggio menggeram kesal dan Cirucci tertawa melihat ekspresi kemarahan yang tertahan itu. Hinamori maju dan memegang bahu Ggio.
"Aku tidak melihat adanya keuntungan bagimu untuk menyekap Soifon-san, kita semua membutuhkan ingatannya kembali yang akan membawa kita menuju apa yang kita tuju," bujuk Hinamori.
"Harta maksudmu? HARTA?" Cirucci tertawa terbahak-bahak kemudian mengeluarkan pistolnya. Hitsugaya dan Ggio kembali bersiaga. "Oh, ayolah, Hinamori-hime, atau Uragirimono no Hime, begitu julukanmu sekarang, kan? Aku sudah tidak peduli lagi dengan harta koyol itu," jawabnya dingin.
Cirucci mengangkat pistolnya ke arah dinding di dekat Hinamori kemudian menekan pelatuknya. "Awas!" Hitsugaya langsung berlari dan mendorong hinamori hingga mereka jatuh bersama-sama. Tapi tembakan itu bukan untuk melumpuhkan Hinamori.
Ggio terbelalak, saat menyadari peluru itu memantul dan menuju arahnya. Ggio menghindar dan hasilnya, botol anggur di dekatnya pecah dan isinya berhamburan. Cirucci tertawa senang kemudian melompat ke atas meja bar.
"Baiklah, silakan jemput dia, malam ini, di saat yuki matsuri berlangsung—tidak, tidak, tempat itu akan menjadi sangat ramai. Mungkin lebih baik, tengah malam nanti. Saya permisi, Ggio-sama."
Cirucci membungkuk hormat dan melompat menuju lantai dua dan keluar melalui pintu balkon bersama dua orang pengawalnya.
.
xXxXx
.
Malam itu, kastil dikosongkan. Cirucci tidak membutuhkan bantuan orang lain. Dia hanya menginginkan Ggio dan dia berhadapan satu lawan satu. Tentu, dengan Soifon di antara mereka.
Cirucci mematikan semua lampu dan membiarkan obor menemani langkah mereka. Seperti penerangan di pertunjukan yang selalu dia lakukan, dulu.
Cirucci mendorong pintu raksasa di depannya. Dia keluar dari kastil. Dia menatap bangunan-bangunan es yang sangat indah berada di sisi kanan dan kiri kastilnya. Cirucci menyentuh sofa panjang yang ia letakan di depan kastil yang ia siapkan untuk dirinya ketika menonton pertunjukan kelak.
Cirucci menatap seseorang yang duduk di sofa panjang itu dan merangkak naik ke sofa kemdian mengelus wajah halus gadis itu. Bola mata ametyst-nya ia gulirkan ke kanan.
"Selamat datang, Ggio—tidak, Ggio-sama maksudku." Ggio berdiri di depan pintu masuk festival itu dengan senjatanya yang telah memanjang dan permata emasnya yang berkilat tajam. Dan obor yang di siapkan di sisi jalan langsung menyala.
Cirucci menyentuh dagu Soifon dan berbisik di telinganya. "Lihat siapa yang datang, pembunuh pemimpin klan Shinigami, rupanya." Soifon tersentak dan langsung membuka matanya yang kosong.
Dia bangkit berdiri dan menyiapkan senjatanya. "Pembunuh." Bagaikan tersambar petir, Ggio terkejut mendengar bibir mungil Soifon mengucapkan kata itu.
Cirucci tertawa di tempatnya, mereka harus membayar atas kematian Gin. Harus. "Nah, mari kita mulai pertunjukkannya." Cirucci menepukkan tangannya dan Soifon langsung berlari ke arah Ggio sambil mengayunkan senjatanya. Ggio langsung mengambil posisi siaga.
TRING!
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
A/N: tik tok tik tok. Hihihi chapter 9 update! Yey! Di penghujung bulan puasa ini. Aku mau ngucapin minal aidzin walfaizin ya, kawan-kawan. Maap kalo daku ada salah-salah kata.
Yuki matsuri itu sebuah festival yang biasanya berlangsung di hokaido saat turun salju di mana para warga membuat bangunan-bangunan dari es a.k.a salju yang bertebaran di sekitar mereka.
Uragirimono no hime artinya putri yang berkhianat.
Okelah, review?
