SUMMER BREEZE
[REMAKE; Novel by Orizuka]
CHAPTER 8
KAI – SEHUN - CHANYEOL
GS/Gender Switch
JONGIN terbangun dengan rasa sakit luar biasa menyerang kepalanya. Perlahan, Jongin membuka mata, lalu melihat ruang keluarga yang sepi. Jongin berjalan limbung ke arah meja makan dan menemukan surat di sana. Dari Sehun.
Dear Jongin,
Aku ke kampus bareng Chanyeol, mau nonton pertandingan.
Trust me, would you?
Love, Sehun.
Jongin melipat surat itu, lalu meletakkannya kembali ke meja. Jongin duduk di kursi makan dan mencomot sepotong sosis, tapi mulutnya terlalu sakit untuk dibuka. Jongin melempar sosis kesal lalu kembali berjalan ke sofa dan memutuskan untuk menonton saja. Kepalanya sudah sangat sakit. Mungkin setelah ini dia akan ke rumah sakit, karna sepertinya dia butuh beberapa jahitan.
.
.
"Ayo Yeol! Semangat!" seru Sehun sambil melonnjak-lonjak di bangku penonton.
Sehun sedang menyaksikan pertandingan perempat final dari turnamen yang diikuti oleh tim Chanyeol. Sehun tidak menyadari bahwa sedari tadi, Luhan mengawasinya dari sisi berseberangan. Ketika Luhan bermaksud mendekati Sehun, pertandingan berakhir. Luhan melihat Chanyeol melangkah ceria ke arah Sehun.
"Lu." Suara Kris terdengar sayup-sayup, tapi Luhan tidak mendengarkan. Dia masih memerhatikan Chanyeol yang sekarang sudah tertawa-tawa bersama Sehun. "Luhan," kata Kris lagi, kali ini sambil mengguncang-guncang Luhan.
Luhan mendelik pada Kris. "Apa sih?"
"Aku menang," Kris memberitahu dengan senyum lebar.
"Oh," komentar Luhan tak peduli, lalu kembali mengawasi Sehun dan Chanyeol. "Bagus."
Kris mengikuti arah pandang Luhan, lalu mengernyitkan dahinya tak suka. Chanyeol. Bocah tengik itu lagi. Setelah merebut posisi kapten miliknya, sekarang Luhan juga sudah kembali memerhatikan Chanyeol. Kris mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Tanpa diketahui Luhan, Kris sudah memutar rencana di dalam otaknya.
Luhan sendiri sudah memutuskan untuk mendekati Chanyeol dan Sehun. Luhan memaksakan senyum kepada mereka berdua.
"Chanyeol, selamat ya," kata Luhan. Chanyeol nyengir lebar.
"Wuah, thanks, Lu." Luhan tersenyum, lalu melirik Sehun tajam. Sehun jadi segera salah tingkah. Chanyeol memandang mereka bergantian, lalu merangkul Sehun. Luhan memandang Chanyeol penuh tanda tanya.
"Jongin mana, Yeol?" tanya Luhan lagi, dan dia menangkap ekspresi Sehun yang sepertinya ingin tahu.
"Di rumah," jawab Chanyeol ringan. "Ngapain juga kamu tanya-tanya soal dia? Dia kan nggak bakal dateng ke pertandingan aku."
"Pengen tanya aja," kata Luhan. "Soalnya ada yang pengen aku omongin sama dia." Luhan menatap Sehun puas sebentar, lalu berbalik dan memutuskan untuk ke rumah Jongin. Luhan benar-benar ingin meluruskan sesuatu.
"Chanyeol," kata Sehun setelah Luhan tidak terlihat lagi. "Emang, Luhan itu siapanya Jongin sih?"
Chanyeol bengong sebentar atas pertanyaan Sehun, lalu tersenyum. "Mereka dulu pernah sahabatan." Sehun merasakan sesuatu menusuk hatinya. Jongin pernah bersahabat dengan orang lain. Berarti Sehun tidak sespesial yang pernah dikiranya.
.
.
Luhan mengintip melalui jendela rumah Jongin, lalu memutuskan untuk mengetuk pintunya. Beberapa saat kemudian, Jongin sendiri yang membuka pintu. Luhan terkesiap begitu melihat wajah Jongin babak belur. Sama halnya dengan Luhan, Jongin juga terkejut melihat Luhan di depan pintu rumahnya. Luhan tidak pernah datang lagi semenjak Jongin melarangnya.
"Jongin! Kamu kenapa? Ya ampun... apa Kris lagi?" jerit Luhan begitu melihat Jongin dengan kepala terbalut perban. Jongin segera menangkis tangan Luhan yang berusaha menggapainya.
"Bukan," tukas Jongin dingin. "Mau apa kamu di sini?"
Luhan terdiam sesaat, lalu menatap Jongin serius. "Jongin, ada yang harus aku omongin."
Jongin terdiam. "Udah aku bilang, nggak ada lagi yang har-"
"Ini tentang Sehun," sambar Luhan cepat. "Apa dia cewek yang sepuluh tahun lalu itu?" Jongin terdiam lagi, tapi sejurus kemudian, dia mengangguk tanpa melihat Luhan.
Luhan mendesah pelan. "Jongin," desak Luhan. "Kalau aja aku nggak berbuat kesalahan, kalo aja aku nggak pacaran sama Chanyeol, kamu bakal pilih siapa?"
"Lu, nggak ada yang namanya 'kalo aja'. Semua udah terjadi," kata Jongin lelah. Kepalanya sekarang sudah kembali terasa nyeri.
"Jongin, kalo aku bilang aku pacaran sama Chanyeol cuma pengen bikin kamu cemburu, kamu bakal percaya? Kalo aku bilang aku marah karna kamu nggak pernah jujur soal perasaan kamu sama aku, kamu bakal percaya?" sahut Luhan, membuat Jongin membeku.
Detik berikutnya, Jongin mendengus geli. "Aku nggak percaya." Namun Jongin segera terdiam ketika melihat ekspresi Luhan.
Dari matanya, Jongin tahu betul Luhan tidak sedang berbohong. Hanya saja, Jongin tak mau memercayainya. Bagi Jongin, segalanya lebih mudah jika Luhan emang berpacaran dengan Chanyeol tanpa ada maksud lain. Jongin menghantam tembok di sebelahnya dengan buku-buku jarinya. Luhan hanya terisak di samping Jongin.
"Aku pikir," kata Luhan di sela isakannya. "Kamu bakal cemburu dan berusaha ngerebut aku dari tangan Chanyeol. Nggak taunya, kamu malah pergi dari aku. Aku nggak tau harus ngapain lagi." Jongin ingin menyumbat telinganya dengan apa saja. Dia tak ingin mendengarkan Luhan.
"Aku tau aku salah, dan aku pikir aku bisa ngeyakinin kamu, tapi aku terlambat. Orang itu tiba-tiba dateng, dan jelas, kamu nggak bakal pilih aku," isaknya lagi.
Jongin menatap Luhan, gadis yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupnya. Gadis yang pernah disayanginya. Luhan menggeleng-geleng pelan. "Aku sering bertanya-tanya, apa sih bagusnya aku? Tapi, sebagus apa pun aku, walaupun aku nggak berbuat kesalahan apa pun, kamu pasti tetep milih dia, kan?"
Tanpa pikir panjang, Jongin segera menarik tubuh mungil itu dan mendekapnya erat-erat. Tangis Luhan segera saja lepas tanpa kendali. Jongin sadar, dia sedang berada dalam situasi yang pelik. Jongin mungkin bisa lebih mudah memutuskan, kalau saja tidak ada yang berubah. Dia bisa saja berpura-pura tidak memercayai Luhan, tapi dia tidak bisa. Jongin tidak bisa tidak menghiraukan Luhan. Jongin tidak ingin Luhan merasakan ketidakadilan yang pernah dirasakannya.
"Jongin?"
Jongin segera mengetahui bahwa hidupnya mulai sekarang akan bertambah sulit begitu mendengar suara Sehun. Jongin mendongak, lalu mendapati Sehun dan Chanyeol di pagar. Luhan melepaskan diri dari pelukan Jongin, lalu memutar tubuhnya. Sehun menatap Jongin dan Luhan bergantian, meminta penjelasan. Chanyeol juga memandang Jongin.
"Kamu udah kasih tau dia ya, Lu?" tanya Chanyeol hati-hati.
Dulu, Chanyeol menyanggupi permintaan Luhan untuk berpacaran, semata-mata karna Luhan meminta bantuannya. Luhan sering mengeluh tentang Jongin yang tidak pernah menyatakan perasaannya. Chanyeol sebenarnya menyayangi Luhan, tapi Luhan sudah memutuskan untuk siapa hatinya akan diberikan, dan Chanyeol tak bisa berbuat apa pun selain membantunya.
Mendengar pertanyaan Chanyeol, Jongin merasa darahnya mendidih. Dia bergerak maju dan menyerbu Chanyeol. Ternyata, selama ini Chanyeol juga menyembunyikannya. Entah apa yang membuat Sehun begitu berani, tetapi dia menempatkan dirinya di depan Chanyeol sehingga Jongin tak bisa memukulnya. Jongin menatap Sehun sebentar, menarik napas, lalu segera berderap keluar rumah. Sehun terdiam. Jelas sekali Jongin dan Luhan tidak hanya bersahabat. Ternyata, keputusannya untuk kembali adalah salah.
.
.
Jongin memukul pohon akasia keras-keras sampai tangannya berdarah. Jongin tidak peduli. Jongin terlalu kacau dan butuh pelampiasan. Setelah lima belas menit menjadikan pohon sebagai karung samsak, Jongin akhirnya terduduk kelelahan. Belakang kepalanya berdenyut-denyut menyakitkan, rasanya seperti mau pecah. Suara denging memenuhi kepalanya. Di antara dengingan itu, terdengar bunyi langkah seseorang. Jongin bersumpah demi Tuhan tidak ingin bertemu dengan siapa pun saat ini, tapi, yang muncul malah yang sedang dipikirkannya.
"Aku udah denger dari mereka berdua, Jong," kata Sehun pelan.
Jongin tak berani memandangnya. Jongin telah berbuat kesalahan karna menyukai gadis lain selain Sehun. Dan ini bahkan bukan kesalahan Sehun, sebagaimana yang bertahun-tahun ini Jongin sangka. "Tapi belum dari kamu," sambung Sehun.
"Apa yang kamu denger dari mereka udah cukup," kata Jongin. "Aku memang deket sama Luhan setelah kamu pergi. Waktu itu cuma dia yang peduli sama aku." Sehun menatap Jongin sambil menggigit bibirnya. Jongin memang pernah menyukai Luhan.
"Jongin, aku nggak sebaik yang kamu pikir," kata Sehun sambil menghapus air matanya yang mulai menetes. "Jangan kamu pikir aku nggak marah. Jangan kamu pikir aku bisa begitu aja nyerah." Jongin menatap Sehun sedih.
"Hun, aku nggak cukup baik buat kamu. Dari awal emang harusnya bukan aku yang kamu pilih," kata Jongin pelan. Jongin ingin sekali memeluk Sehun. Tapi Jongin harus menahan segala keegoisannya.
"Kenapa? Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Bukannya itu hak aku buat milih? Sekarang kamu yang harus milih! Kamu harus tegas, Jong!" sahut Sehun. "Apa kamu mau egois dengan memperlakukan aku kayak gini? Atau... kamu malah pengen ngelepasin aku?"
Jongin tak menjawab Sehun dan hanya menatapnya lama. Sehun pun segera mengetahui jawabannya. Jadi, Sehun segera menangis. Jongin menundukkan kepalanya, tak tahu harus berbuat apa. Ternyata, memiliki dua hal tidak selalu bagus. Jongin sekarang malah merindukan keadaannya dulu, saat dia tidak pernah memiliki apa pun.
"Jongin."
Jongin kembali mendongakkan kepalanya. Satu orang lagi gadis yang butuh penjelasan muncul, dan berdiri tepat di sebelah Sehun. Jongin merasa dunianya akan hancur dalam hitungan detik.
"Aku nggak pernah meminta kamu untuk memilih," kata Luhan sambil tersenyum getir. Tangannya merangkul Sehun yang terlihat bingung. "Kamu tau aku nggak akan buat kamu menderita lagi." Jongin menatap Luhan bimbang, tak mengerti dengan perkataannya. "Jongin, aku nggak menuntut apa pun. Masa sih, aku ngak bahagia liat kamu bahagia? Aku cuma pengen kita balik kayak dulu lagi, bersahabat. Kalau yang itu boleh kan Hun?" tanya Luhan, lalu tersenyum kepada Sehun.
Mendadak, Jongin merasakan kelegaan yang luar biasa pada hatinya. Ternyata hal ini bisa juga diselesaikan tanpa bunuh diri. Padahal, hal itu sempat terbesit dalam pikiran Jongin.
"Thanks, Lu," kata Jongin tulus. Luhan bergerak ke arah Jongin yang masih terduduk, lalu memeluk Jongin. "That's what friends are for," gumamnya.
Perlahan, senyum Jongin terkembang. Dia menatap Sehun yang juga tersenyum. Jongin merasa, setelah ini, tidak akan ada lagi masalah yang bisa menimpanya. Jongin sudah memiliki Sehun, dan sekarang, dia mempunyai tambahan seorang teman. Jongin tak bisa lebih bahagia dari ini.
.
.
"Ngaku aja, kamu tadinya udah pengen ngelepasin aku, kan?" tanya Sehun malamnya di taman. Sehun benar-benar berterima kasih Luhan mau melepaskan Jongin.
"Aku udah pengen ngelepasin kalian berdua," jawab Jongin. "Jujur aja, nggak punya apa pun ternyata jauh lebih baik daripada punya dua sekaligus."
Sehun menatap Jongin lama. "Jadi, kalau tadi Luhan nggak ngelepasin kamu, kamu bakal ngerelain aku?"
"Aku mohon Sehun, jangan minta aku jawab itu. Aku nggak mau kehilangan kamu, tapi aku juga nggak bisa mengabaikan Luhan begitu aja. Dia yang selalu ada buat aku kalau aku lagi susah," kata Jongin pelan. "Dan aku nggak nyangka dia berbuat kayak gitu. Jujur, aku tadi sempet ngerasa kalau lebih baik dia dulu emang bener ngekhianatin aku."
"Terus?" tanya Sehun lagi.
"Untungnya aku cepet sadar, kalau aja Luhan nggak ngaku, kami pasti bakal terus-terusan salah paham," kata Jongin. "Untuk sesuatu yang dia tanggung sendiri."
Memikirkan kata-kata Jongin, Sehun terdiam. Sehun dapat membaca dengan jelas bahasa tubuh Jongin yang terlihat lelah. Sehun memang sakit hati dengan kejadian tadi, tapi ini tidak membuat perasaan Sehun berubah.
"Aku nggak minta kamu untuk mengerti aku," Jongin menoleh kepada Sehun dan menatapnya dalam-dalam. "Jadi, kalau kamu merasa aku nggak adil, aku nggak akan nyalahin kamu kalau kamu ninggalin aku. Ini semua salahku."
Sehun membalas tatapan Jongin yang benar-benar memohon. Sesaat Sehun merasa bimbang, tapi kemudian ditepisnya perasaan itu. Selama ini Jongin sudah cukup menderita. Seharusnya, Sehun berterima kasih lebih banyak kepada Luhan, karna sudah membuat Jongin setidaknya tetap hidup sampai bertemu dengan Sehun.
"Aku ngerti." Sehun meletakkan kepalanya ke bahu Jongin. "Tadi, aku seharusnya nggak mendesak kamu buat milih. Maafin aku, Jong."
Jongin benar-benar tidak percaya. Jongin pikir, Sehun akan meninggalkannya. Jongin pikir, dia tidak akan punya kesempatan lagi.
"Kamu tau," kata Sehun sambil menatap Jongin. "Mulai sekarang kamu harus ngasih kesempatan kedua, karna semua orang butuh itu."
Sehun kembali meletakkan kepalanya pada bahu Jongin. Sehun dapat merasakan bahu Jongin yang turun naik karna napasnya. Sehun akan melupakan semua masalah ini, karna bukan sepenuhnya salah Jongin. Bagaimanapun juga, Sehun memiliki andil. Kalau saja Sehun sempat mencatat alamat rumah atau telepon Jongin, pasti tidak akan begini jadinya.
"Jangan ngertiin aku karna kamu ikut-ikutan Luhan," kata Jongin kemudian. "Tadi kamu sempet bilang kan, kalau kamu nggak sebaik yang aku pikir."
"Emang, tapi rasa sayang aku buat kamu melebihi rasa cemburu aku," kata Sehun membuat Jongin terkekeh.
"Kalau gitu, aku bisa terus-terusan selingkuh dong," canda Jongin. Sehun mendelikinya.
"Coba aja kalau berani." Jongin tertawa kecil, merengkuh Sehun, lalu mencium lembut puncak kepalanya. Jongin bukannya tidak berani. Jongin tidak akan pernah meninggalkan Sehun demi wanita mana pun. Tidak akan terbesit sebuah niat pun.
TBC
Oke. Review aku buat chapter ini; bikin degdegan sama nyesek. Kebayang ga sih kalo kamu jadi Jongin? Kamu cuman punya satu orang yang bisa kamu percayain, tapi tiba-tiba orang itu malah ngilang kayak Sehun atau ga tiba-tiba kayak ngekhianatin kamu kayak Luhan. Yah walopun keduanya cuman salah paham. Tapi tetep aja, kalo aku jadi Jongin juga mungkin masih rada ragu buat percaya lagi sama mereka berdua :' Oh ya. Ada yang ngerasa penasaran sama rencana apa yang Kris buat? Kalo penasaran makanya baca terus dan tunggu update ff ini yaaaa wkwkwk.
Btw aku tahu untuk beberapa chapter ini aku updatenya kependekan gitu. Tapi setiap chapter kayak punya problem dan penyelesaian nya sendiri-sendiri. Nah itu tujuan aku. Jadi pas kalian baca setiap end chapternya bisa ngerasa lega dikit/? xD tapi thanks deh buat protes annya wkwk.
Thanks to :
wuziperr | Jongin's Grape | SUKA PAKE CAPSLOCK | exolweareone9400 | Minnie163 | Yessi94esy | VampireDPS | | kjinftosh | sukha1312 | gladisoler4 | enchris.727 | mamasehun1214 | rytyatriaa | Kimoh1412 | Apelijo | Icha | YunYuliHun | JongOdult | jongincredible
Review?
