BAB 9
Dingin.
Suram.
Mencekam.
Begitulah yang Ara rasakan setiap saat. Seperti saat ini ketika ia makan malam bersama keluarga sepupunya. Malfoy Manor memang tak pernah hangat sejak dulu, namun tak pernah sesuram ini sejak Pangeran Kegelapan bangkit kembali. Dulu, meskipun mereka bukanlah keluarga yang hangat layaknya keluarga-keluarga dalam iklan penjualan rumah, namun Ara selalu mendapatkan rasa aman dan nyaman di sini. Rasa yang membuatnya benar-benar yakin kalau ia tak sendirian di dunia ini. Rasa aman dan nyaman yang tak pernah ia dapatkan dari kedua orang tuanya. Ara nyaris tak bisa merasakan kasih sayang Ibunya meskipun ia jelas tahu Ibunya menyayanginya.
"Ibu dan Ayah selalu menyayangimu, Ara. Kau harus tahu itu," katanya ketika Ara hendak menolak melakukan penyerangan lagi.
Yeah, Ibu dan Ayah menyayangiku...
Hanya kalimat itulah yang menjadi penawar jika Ara mulai merasa lelah akan semuanya. Tak ada yang lebih membuatnya senang selain kata-kata penyemangat dari kedua orang tuanya. Kata-kata bahwa mereka menyayanginya. Kata-kata yang membuat mereka terlihat lebih manusiawi. Kata-kata yang membuat Ara merasa berharga bagi mereka. Namun sesuatu di sudut hatinya seakan menyangkal. Sesuatu itu seakan memprovokasinya bahwa kata-kata itu hanyalah omong kosong. Seakan sesuatu itu mendesaknya untuk jujur pada dirinya sendiri bahwa ia tak betul-betul yakin pada orang tuanya. Membuatnya kembali goyah.
Ara tak tahu. Ia tak mengerti.
"Ada yang mengganggu pikiranmu, Ara?" suara Bibi Narcissa menyadarkan Ara. "Kau tak menyantap makan malammu sama sekali."
Ara baru menyadari kalau makanannya masih utuh. Entahlah. Keadaan ini membuat nafsu makannya menurun.
"Tak ada, Bi. Aku hanya... tak nafsu makan," kata Ara mengelak.
Bibinya hanya menatapnya sebentar, lalu melanjutkan makannya. Ara yakin Bibi Narcissa akan mulai menanyainya ketika selesai makan malam. Narcissa memang sulit dibohongi. Benar saja, Bibi Narcissa masuk ke kamarnya ketika Ara hendak memejamkan matanya. Ara berpikir mungkin ia bisa sedikit curhat pada Bibinya.
"Aku tahu ada sesuatu yang membuatmu tak nafsu makan," kata Bibi Narcissa.
"Yeah," gumam Ara. "Aku hanya lelah dengan semuanya."
Bibinya menatapnya dalam. Ara bisa melihat kekhawatiran dan rasa kasihan tersirat di matanya. Kasihan. Oh, sesungguhnya Ara benci dikasihani.
"Tolong jangan menatapku seperti itu, Bibi Cissy," kata Ara.
"Aku tahu ini sungguh berat buatmu, Ara," katanya. "Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu."
"Tidak, Bibi tak mengerti," sela Ara. "Ini tak sama seperti yang Draco alami."
"Kau tahu, Bi," Ara melanjutkan, "aku merasa sangat tertekan. Bukan hanya karena penyerangan-penyerangan ini, tapi... ini juga karena Ibu..."
Bibinya terpaku sesaat, lalu ia berkata, "Ada apa dengan Bella?"
"Aku pun tak mengerti, Bi," kata Ara. "Apakah Ibuku benar-benar menyayangiku?"
"Apa maksudmu? Tentu saja Bella menyayangimu," jawab Bibi Narcissa cepat-cepat. Namun Ara menangkap keraguan dalam suaranya.
"Tapi aku tak yakin," kata Ara. "Sebanyak apapun aku meyakinkan diriku, tak berguna."
"Apa yang membuatmu tak yakin?" tanyanya.
"Kau tahu, sejahat-jahatnya seorang Ibu, seorang anak pasti selalu merasa aman dan nyaman jika ada Ibunya di sisinya. Seorang anak pasti selalu bisa merasakan kalau Ibunya menyayanginya sekalipun tak pernah diungkapkan. Begitu, kan, seharusnya yang kurasakan? Tapi ini tidak," kata Ara. "Dan sadarkah kau, Bi, kalau aku sama sekali tak mirip dengan Ibuku?"
Bibinya membeku. Matanya agak membelalak, rahangnya mengeras. Ara menangkap kegelisahan dari gerak-geriknya ini. Pasti ada sesuatu yang tak Ara ketahui. Maka Ara mencoba memancingnya lagi dengan terus mengeluarkan keluh-kesahnya.
"Begitu pun dengan Ayahku. Ayahku jarang memerhatikanku bahkan terkesan tak peduli. Aku tak bisa merasakan sosok ayah dalam dirinya. Yang lebih mengejutkan lagi, Bi, aku malah merasakan itu pada orang lain."
"Siapa?" tanya Bibinya cepat. Narcissa sudah memakan umpannya.
"Regulus Black," jawab Ara. Efeknya jelas sekali. Wajah Bibi Narcissa pucat pasi dalam keremangan.
"Ara, ba-bagaimana bisa... dia sudah meninggal!" sahut Bibinya.
"Pensieve milik Ibu," kata Ara. Narcissa membelalak. "Tak usah bicarakan kenekatanku. Aku hanya ingin tahu kejelasan tentang asal usulku, Regulus Black, Anastasia Potter, dan keterkaitanku dengan mereka."
Ara semakin yakin ada sesuatu tentang masa lalunya ketika Bibi Narcissa semakin kalang kabut mendengar penuturan Ara. Sepertinya dia tak menduga Ara telah mengetahuinya sejauh itu.
"Bisakah kau menceritakannya padaku, Bibi Cissy?" tanya Ara hati-hati.
"Tidak!" tukas Bibinya gelisah. "Maksudku, tak ada yang perlu kuceritakan. Sebaiknya kau tidur sekarang. Selamat malam."
Bibinya berlalu dari kamar Ara. Berpura-pura tak mendengar panggilan-panggilan Ara yang menuntut. Ara menggeram dalam hati, sekali lagi ia gagal. Ara tak tahu harus mencari petunjuk ke mana lagi karena Ara yakin Ibunya tak akan mengulangi kesalahannya dengan membiarkan pintu kamarnya tak terkawal lagi. Harapannya melihat Pensieve nyaris nol persen.
Hingga hari-hari berikutnya Bibi Narcissa selalu menjaga jarak dengan Ara. Wanita itu kelihatan sangat gelisah ketika Bellatrix menyuruhnya untuk tetap tinggal di Malfoy Manor hingga musim panas berakhir. Well, Ara bisa saja dengan mudah melakukan Legillimency padanya, namun Bibinya sudah mengantisipasinya dengan menjaga jarak dengannya dan berusaha tak bertatapan dengannya. Ara frustrasi, tak ada yang mau membantunya.
Satu-satunya jalan adalah membuka mulut Narcissa. Namun jika wanita itu tetap enggan buka mulut, Ara tak tahu lagi harus bagaimana. Memberikan Veritaserum? Bibinya pasti sudah menduga Ara akan menggunakan cara ini. Mungkinkah ia harus mengeceknya sendiri ke Grimmauld Place? Mungkin saja ada petunjuk lain di sana. Tapi bagaimana caranya ia ke sana? Bagaimanapun caranya, ia harus bisa masuk ke sana sebelum liburan musim panas berakhir.
Suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya. Ara mengintip dari lubang pengintai di pintu kamarnya, pemuda berwajah runcing dengan rambut pirang berdiri di balik pintu itu. Setelah mempersilakannya masuk, pemuda itu langsung menuju balkon.
"Ada apa?" tanya Ara keheranan. Tak biasanya Draco mengunjunginya akhir-akhir ini.
"Tak ada apa-apa. Hanya ingin mengunjungimu saja. Sudah lama sekali rasanya," jawab Draco. "Dan aku selalu suka balkon di kamarmu."
Selalu itu yang dikatakannya jika ditanya alasan mengapa ia senang masuk ke kamarnya. Sejak dulu memang begitu. Balkon kamar Ara selalu menjadi favoritnya. Balkon yang menghadap langsung ke halaman belakang Manor yang indah. Setiap pagi Ara selalu bisa merasakan matahari terbit dari situ. Ara beruntung mendapatkan kamar ini.
Hening selama beberapa saat setelah Ara beringsut ke samping Draco, menikmati udara di sore hari. Anginnya berhembus perlahan menyapu garis-garis wajahnya. Angin musim panas yang menyegarkan.
"Kau akan kembali ke Hogwarts?" tanya Draco. Ara tak langsung menjawab.
Hogwarts. Sebetulnya Ara tak ingin kembali ke sana lagi. Tidak, setelah apa yang terjadi tahun ajaran lalu. Ia tak ingin melihat wajah-wajah putus asa murid-murid yang kehilangan anggota keluarga mereka karena perbuatan Pelahap Maut. Dan yang paling tak diinginkannya adalah bertemu lagi dengan Potter. Ia tak mau. Ia tak ingin. Ia tak yakin akan sanggup melihat kebenciannya yang semakin mendalam pada dirinya.
Ia juga tak bisa begitu saja mengacuhkan apa yang Avior Black pikirkan tentangnya. Setelah semua yang ia alami, Ara yakin Avior memiliki hubungan dengannya. Namun, menjadi seorang anak dari keluarga bangsawan Darah-murni terhormat membuat Ara tak bisa memilih. Orang tuanya menyuruhnya kembali ke Hogwarts, dan Ara tak bisa menolak.
"Yeah, begitulah," jawab Ara sekenanya.
Kemudian hening lagi. Ara tak berniat buka suara dan Draco tampaknya tak punya topik pembicaraan lagi. Begitulah interaksi mereka. Mereka hanya saling berbicara untuk hal-hal yang perlu saja. Terkesan canggung memang, namun sebetulnya mereka sangat dekat. Bahkan Draco mau menunjukkan sisi lain dirinya hanya kepada Ara dan Narcissa saja. Seperti dua minggu yang lalu, Draco tak segan-segan mengeluarkan air matanya di depan Ara saat ia mencurahkan isi hatinya yang merasa takut dan tidak sanggup ketika Tuan mereka memerintahkan Draco untuk ikut serta dalam penyerangan.
Draco tak seangkuh yang orang-orang pikirkan. Ia bisa menjadi sangat peduli jika itu menyangkut keluarganya, terutama Ibunya. Ara kadang merasa iri melihat hubungan mereka karena ia, Ara, tak bisa merasakan hal seperti itu dengan orang tuanya. Pikiran ini semakin membuatnya kepalanya berdenyut. Hingga hari-hari berikutnya Ara semakin menaruh kecurigaan ketika beberapa kali ia memergoki Bellatrix dan Narcissa seperti sedang mendebatkan sesuatu. Mungkin Ara terlalu percaya diri, namun ia yakin bahwa mereka sedang memperdebatkan sesuatu tentang dirinya. Ara nyaris tak pernah fokus dalam rapat Pelahap Maut akhir-akhir ini.
Kemudian ketika rapat mereka membahas tentang pemindahan Potter, pikiran tentang Ibu dan Bibinya menguap seketika.
"Tuanku, Orde Phoenix berniat memindahkan Harry Potter dari tempat perlindungan yang selama ini ditempatinya, sabtu depan, menjelang malam," kata Severus Snape.
Ketertarikan semakin memuncak di sekitar meja. Beberapa terdiam, yang lain gelisah, semua menatap ke arah Snape dan Lord Voldemort, kecuali Ara yang memandang tubuh yang berputar pelan di atasnya dengan harap-harap cemas.
"Sabtu... menjelang malam," ulang Pangeran Kegelapan. Mata merahnya menatap mata Snape yang hitam dan mampu membuat beberapa orang memalingkan wajah, mereka terlihat ketakutan seakan-akan mereka akan dibakar oleh keganasan tatapan itu. Snape, meskipun begitu, balas menatap Pangeran Kegelapan dengan santai, dan beberapa saat kemudian, mulut tanpa bibir Pangeran Kegelapan melekuk membentuk senyuman. "Bagus. Bagus sekali. Dan informasi ini datangnya–"
"–dari sumber yang pernah kita bicarakan," kata Snape. Agaknya Ara tahu yang siapa dimaksud Snape, meskipun mereka tak mengungkapkannya.
"Tuanku."
Yaxley memajukan tubuhnya ke depan meja, sehingga dia dapat melihat Pangeran Kegelapan dan Snape. Semua wajah mengarah padanya.
"Tuanku, berita yang kudengar berbeda."
Yaxley menunggu, tetapi Pangeran Kegelapan tidak berbicara, lalu dia melanjutkan, "Dawlish, salah satu Auror, mengatakan bahwa Potter tidak akan dipindahkan sampai tanggal tiga puluh, malam sebelum dia berusia tujuh belas."
Ara terpaku. Tak bisa memutuskan mana yang benar.
Snape tersenyum.
"Sumberku mengatakan ada rencana palsu untuk menipu kita, rencana itulah yang pasti palsu. Tidak diragukan lagi, Dawlish terkena Mantra Confundus. Ini bukan pertama kalinya; dia dikenal karena kepekaannya."
"Aku jamin, Tuanku. Dawlish tampak sangat yakin," kata Yaxley.
"Jika dia berada dalam kutukan Confundus, tentu saja dia terlihat sangat yakin," kata Snape. "Kuberitahukan padamu, Yaxley, kantor Auror tidak lagi ikut campur masalah perlindungan Harry Potter. Orde tahu bahwa kita telah menyusup ke dalam Kementerian."
"Akhirnya Orde benar kali ini, eh?" kata pria bungkuk yang duduk tidak jauh dari Yaxley; dia mengeluarkan tawa aneh yang diikuti tawa lain di sekitar meja. Tetapi Pangeran Kegelapan tidak tertawa. Tatapannya terarah ke atas pada tubuh yang berputar pelan, dan dia terlihat tenggelam dalam pikirannya.
"Tuanku," Yaxley meneruskan, "Dawlish yakin sekelompok Auror akan dipakai dalam pemindahan anak itu–"
Pangeran Kegelapan mengangkat tangannya putihnya yang panjang, dan Yaxley terdiam, menatap kecewa ketika Pangeran Kegelapan berpaling lagi pada Snape.
"Dimana anak itu akan disembunyikan nantinya?"
"Disalah satu rumah milik anggota Orde," kata Snape. "Tempatnya, menurut sumber, telah dilindungi dengan semua perlindungan yang dapat diberikan Orde dan Kementerian. Kurasa hanya ada sedikit kemungkinan bagi kita untuk membawanya dari sana, Tuanku, kecuali Kementerian berhasil kita kuasai sebelum sabtu depan, memberikan kita kesempatan untuk menemukan dan menghapus semua mantra yang ada di tempat itu."
"Baiklah, Yaxley?" Pangeran Kegelapan menatap ke arah meja, nyala api berkilat aneh di matanya, "Akankah Kementerian kita kuasai Sabtu depan?"
Sekali lagi, semua kepala beralih, Yaxley mencondongkan bahunya.
"Tuanku, aku mempunyai berita bagus mengenai hal itu. Aku berhasil–dengan beberapa kesulitan rupanya, dan usaha yang maksimal–memantrai Pius Thickneese dengan kutukan Imperius."
Beberapa orang yang duduk di sekitar Yaxley tampak terkesan, seseorang di sampingnya, Dolohov, pria berwajah panjang dan berkerut, menepuk punggung Yaxley.
"Awal yang bagus," kata Pangeran Kegelapan. "Tapi Thicknesse seorang tidaklah cukup. Scrimgeour harus dikelilingi oleh orang orang kita sebelum kita beraksi. Satu kesalahan dalam pengambilan nyawa Kementerian akan membuatku kembali menempuh jalan yang panjang."
"Ya–Tuanku, itu benar–tetapi kau tahu, sebagai Kepala Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir, Thicknesse tidak hanya memiliki kontak dengan Menteri Sihir, tetapi juga dengan semua kepala departemen di Kementerian. Hal itu, kupikir, akan menjadi mudah karena pejabat tinggi berada di bawah kendali kita, dan mereka akan mempengaruhi yang lain, mereka akan bekerja sama untuk menjatuhkan Scrimgeour."
"Selama teman kita Thicknesse tidak ketahuan sebelum dia mempengaruhi yang lain," kata Pangeran Kegelapan. "Bagaimanapun juga, Kementerian akan menjadi milikku sebelum sabtu depan. Jika kita tidak bisa menyentuh anak itu di tempat tujuannya, maka kita harus melakukannya saat dia sedang dalam perjalanannya."
"Kita memiliki keuntungan, Tuanku," kata Yaxley, yang tampak meminta dukungan. "Sekarang kita memiliki beberapa orang di Departemen Transportasi Sihir. Jika Potter ber-Apparate atau menggunakan jaringan floo, kita akan segera tahu di mana dia berada."
"Dia tidak akan melakukannya," kata Snape. "Orde tidak akan menggunakan segala bentuk transportasi yang dikontrol dan diatur oleh Kementerian; mereka tidak mempercayai apapun yang dikerjakan Kementerian."
"Akan lebih baik," kata Pangeran Kegelapan. "Dia akan dipindahkan secara terbuka. Lebih mudah untuk ditangkap, pasti!"
Sekali lagi Pangeran Kegelapan mendongak dan melihat tubuh yang terus berputar pelan selagi dia bicara. "Aku akan mengurus anak itu sendirian. Terlalu banyak kesalahan yang melibatkan Harry Potter. Sebagian kesalahan tersebut akulah yang membuatnya. Potter selamat akibat kesalahanku dan bukan karena keberhasilannya."
Sekelompok penyihir di sekitar meja memperhatikan Pangeran Kegelapan dengan penuh kekhawatiran, beberapa dari mereka, terlihat dari ekspresi mereka, merasa takut mereka bisa saja disalahkan karena keberadaan Harry yang masih ada sampai saat ini. Bagaimanapun, ucapan Pangeran Kegelapan sepertinya lebih ditujukan untuk dirinya sendiri daripada kepada sekelompok orang di ruangan itu, pandangannya masih tertuju pada sosok yang tak sadarkan diri di atasnya.
"Aku telah ceroboh, dan tentu saja dihalangi oleh kesempatan dan keberuntungan, semua rencana yang kulakukan hanya menghasilkan rencana kosong yang tidak tercapai. Tapi sekarang aku tahu sesuatu yang lebih baik. Aku mengerti beberapa hal yang tidak kumengerti sebelumnya. Jika ada orang yang harus membunuh Harry Potter, orang itu adalah aku."
Ketika Pangeran Kegelapan mengucapkan kata-kata tersebut, terdengar sesuatu seperti tanggapan atas perkataan itu, terdengar suara ratapan, dan berlanjut suara tangisan kesengsaraan dan kesakitan. Beberapa orang–termasuk Ara–melihat terkejut sambil melihat ke bawah meja, karena suara tersebut seakan-akan berasal dari kaki mereka sendiri.
"Wormtail," kata Pangeran Kegelapan, tanpa perubahan dalam ketenangan suaranya, dan tanpa mengalihkan pandangan dari sosok tubuh yang berputar diatasnya, "Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk membuat tawanan kita tetap diam?"
"Ya, T-Tuanku," sahut penyihir kecil yang duduk begitu rendah di kursinya, orang-orang meliriknya, dan kemudian mengabaikannya. Dia bangkit dari tempat duduknya lalu berlalu cepat dari ruangan itu tanpa meninggalkan apapun kecuali kilauan benda perak.
"Seperti yang telah kusampaikan," lanjut Pangeran Kegelapan, sambil melihat wajah tegang para pengikutnya, "Aku lebih mengerti kali ini. Saat ini juga aku harus meminjam tongkat salah satu dari kalian sebelum aku membunuh Potter."
Semua wajah menunjukkan keterkejutan yang luar biasa; seakan Pangeran Kegelapan memberitahu mereka bahwa dia ingin meminjam salah satu lengan mereka. Jujur saja, Ara juga merasa takut. Bagaimana kalau tongkatnyalah yang dipilih?
"Tidak ada sukarelawan?" kata Pangeran Kegelapan. "Kalau begitu... Lucius, aku tidak melihat alasan bahwa kau masih memerlukan tongkatmu."
Ara terkejut. Paman Lucius mengangkat kepalanya. Kulitnya terlihat kekuningan dan seperti lilin dalam cahaya api, dan matanya cekung serta berbayang. Saat dia berbicara, suaranya terdengar parau.
"Tuan?"
"Tongkatmu, Lucius. Aku ingin tongkatmu."
"Aku..."
Lucius melirik istrinya yang duduk di sampingnya. Istrinya menatap ke depan, wajahnya sama pucatnya seperti suaminya, rambut pirangnya yang panjang tergerai di bahunya, namun tersembunyi di bawah meja, jari-jari kurusnya memegang erat tangan Lucius.
Dengan sentuhannya, Paman Lucius menarik tongkat yang terselip dijubahnya dan menyerahkannya pada Pangeran Kegelapan yang mengangkat tongkat itu, mata merahnya memperhatikan tongkat itu dengan seksama.
"Apa jenis kayunya?"
"Elm, Tuanku," bisik Paman Lucius.
"Dan intinya?"
"Naga. Serabut jantung naga."
"Bagus," kata Pangeran Kegelapan. Dia menarik tongkatnya sendiri dan membandingkan ukuran panjangnya. Paman Lucius membuat gerakan tak disengaja; sekejap kemudian, dia tampak berharap menerima tongkat milik Pangeran Kegelapan untuk ditukar dengan miliknya. Gerakan itu terlihat oleh Pangeran Kegelapan, matanya melebar penuh kedengkian.
"Kau pikir aku akan memberikan tongkatku, Lucius? Tongkatku?"
Beberapa orang terkikik.
"Aku telah memberikan kau kebebasan, Lucius, apa itu tidak cukup untukmu? Dan dari apa yang kuperhatikan, kau dan keluargamu tampak tidak bahagia akhir-akhir ini. Apakah kehadiranku di rumahmu sangat mengganggumu, Lucius?"
Baru-baru ini Malfoy Manor memang dijadikan markas besar Pelahap Maut yang baru.
"Tidak–tidak sama sekali, Tuanku!"
"Kau berbohong Lucius …"
Terdengar suara mendesis yang bahkan membuat mulut kejam tersebut berhenti bergerak. Satu atau dua penyihir menunjukkan rasa takut saat desisan tersebut terdengar lebih keras; sesuatu yang berat terdengar sedang berjalan di bawah meja.
Seekor ular besar muncul dan memanjat perlahan menuju kursi Pangeran Kegelapan. Ular itu terus berjalan naik dan melingkar pada bahu Pangeran Kegelapan. Tebal leher ular itu sama dengan paha manusia, matanya dengan pupil celah vertikal, tidak bekedip. Pangeran Kegelapan menyentuh pelan Nagini dengan jarinya yang kurus dan panjang, matanya masih menatap Paman Lucius.
"Mengapa keluarga Malfoy terlihat tidak bahagia dengan keadaan mereka saat ini? Apakah dengan kembalinya aku, kebangkitanku untuk menguasai dunia bukan hal yang mereka inginkan beberapa tahun terakhir ini?"
"Tentu, Tuanku," kata Paman Lucius. Tangannya bergetar saat dia menghapus keringat di atas bibirnya. "Kami menginginkannya–sangat."
Di sisi kiri Pamannya, Narcissa bergerak aneh, mengangguk kaku, matanya teralih dari Pangeran Kegelapan ke ularnya. Di kanannya, anaknya, Draco, yang tengah menatap tubuh yang tidak berdaya di atas mereka, melirik sekilas pada Pangeran Kegelapan dan langsung berpaling, dia terlalu takut melakukan kontak mata dengan Tuannya itu.
"Tuanku," kini Ibunya bersuara. Wanita berkulit gelap di samping Ara itu berkata dengan suara yang penuh emosi. "Suatu kehormatan Anda berada di sini, di keluarga kami. Tidak ada kehormatan yang lebih baik daripada ini semua."
Ibunya terlihat sangat tegas dan rendah diri di hadapan Pangeran Kegelapan. Ibunya memajukan dirinya ke depan meja, tidak ada yang bisa menjelaskan kerinduannya untuk lebih mendekat.
"Tidak ada kehormatan yang melebihi ini," ulang Pangeran Kegelapan, kepalanya dimiringkan ke arah lain seolah dia menilai Bellatrix. "Aku menganggapnya sebuah persetujuan, Bellatrix, darimu."
Wajahnya seketika berwarna; air mata kebahagiaan mengalir dari matanya. "Tuanku tahu aku mengatakan kebenaran."
"Tidak ada kehormatan yang melebihi ini... bahkan jika dibandingkan dengan pesta besar yang kudengar berlangsung di kediaman keluargamu minggu ini?"
Mata Ibunya terbelalak, bibirnya membuka, dan dia terlihat kebingungan. "Saya tidak mengerti maksud anda, Tuanku."
"Aku membicarakan keponakanmu, Bellatrix. Dan tentunya keponakan kalian juga, Lucius dan Narcissa. Dia baru menikah dengan si manusia serigala, Remus Lupin. Kalian pasti merasa bangga."
Ara tak tahu siapa yang Pangeran Kegelapan maksudkan. Ara melirik Draco yang kini masih menatap ke tubuh yang berputar itu. Keponakan Ibunya? Itu berarti dia sepupu Ara juga. Kemudian Ara langsung teringat permadani dinding keluarga Black. Mungkinkah yang dimaksud adalah anak dari adik Ibunya yang namanya dibakar dari silsilah itu?
Terdengar tawa mencemooh di sekitar meja. Beberapa wajah maju ke depan untuk memperlihatkan sirat kegembiraan; yang lain memukul meja dengan tinju mereka. Ular besar, yang membenci keributan, membuka mulutnya lebar dan mendesis marah, tetapi para Pelahap Maut tidak mendengarnya, mereka menikmati penghinaan yang ditujukan pada Ibunya dan keluarga Malfoy.
Tangan Ara mengepal, menahan amarah. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Wajah Ibunya, yang tadinya berseri gembira, seketika berubah seakan-akan ditumbuhi bisul jelek dan merah.
"Dia bukan keponakan kami, Tuanku," dia menangis saat yang lain terlihat gembira. "Kami–Narcissa dan aku–tidak pernah berhubungan dengan Andromeda sejak dia menikah dengan si Darah-lumpur Ted Tonks. Anak itu tidak punya hubungan apapun dengan kami berdua, begitu juga binatang buas yang dia nikahi."
Ara bertanya-tanya dalam hati mengenai Andromeda itu. Apakah dia adalah saudara Ibunya yang lain, yang namanya telah dibakar dari karpet silsilah?
"Kebanyakan generasi sejak generasi tertua kita semakin lama semakin terinfeksi," Pangeran Kegelapan berbicara saat Bellatrix menatapnya sambil menahan napas dan memohon, "Kau harusmenjaga generasi keluargamu, tetap menjaganya sehat dengan memotong komponenyang mengancam kemakmurannya."
"Ya, Tuanku," bisik Bellatrix, dan sekali lagi matanya dipenuhi air mata terimakasih.
"Kau harus melakukannya," kata Lord Voldemort. "Di keluarga kalian, juga didunia... kita akan membuang penyakit yang menginfeksi kita sampai hanya mereka yang ber-Darah-murni yang tersisa..."
Pangeran Kegelapan mengangkat tongkat Paman Lucius, mengarahkannya langsung pada sosok yang berputar pelan yang terikat terbalik di atas meja, dan memberinya sedikit jentikkan.
Sosok itu mulai sadar dengan rintihan dan mulai berusaha melepaskan ikatan tak terlihat yang mengikatnya.
"Apa kau mengenali tamu kita, Severus?" tanya Pangeran Kegelapan.
Snape mendongak dan melihat pada wajah kacau balau yang terikat terbalik itu. Semua Pelahap Maut menatap tawanan itu, seolah mereka diberi izin untuk memperlihatkan keingintahuan mereka. Saat wanita itu berputar menghadap perapian, wanita itu mengeluarkan suara ketakutan dan gemetar, "Severus! Tolong aku!"
"Ah, ya," kata Snape ketika tawanan itu berputar pelan sekali lagi.
"Dan kau, Ara?" tanya Pangeran Kegelapan, menepuk pelan moncong ular itu dengan tongkatnya.
Ara tersentak mendengar namanya panggil. Ia menarik napas sebelum menjawab Sang Tuan. "Ti-tidak, Tuanku."
"Ah, ya, kau memang masih baru di Hogwarts, dan kau tentu tak perlu mengambil kelasnya," kata Pangeran Kegelapan. "Bagi kalian yang belum tahu, kita kedatangan seseorang untuk bergabung dengan kita malam ini, Charity Burbage yang, sampai beberapa waktu yang lalu, mengajar di sekolah Sihir Hogwarts."
Terdengar bisikan kecil yang penuh dengan pemahaman. Di atasnya, gigi wanita tersebut bergemelutuk.
"Ya … Professor Burbage mengajar para penyihir muda tentang Muggle... bahwa mereka tidak berbeda dari kita..."
Salah satu Pelahap Maut meludah ke lantai. Charity Burbage berputar menatap Snape sekali lagi. "Severus... kumohon... tolong..."
"Diam," kata Pangeran Kegelapan, menjentikkan tongkat Paman Lucius, dan Charity Burbage langsung terdiam.
"Merasa kurang dengan mengotori dan merusak pikiran para penyihir muda, minggu lalu Profesor Burbage menulis ketertarikan pada Darah-lumpur di Daily Prophet. Dia berkata, penyihir harus menerima pengetahuan dan sihir dari para pencuri tersebut. Berkurangnya Darah-murni, Profesor Burbage berkata, adalah keadaan yang sangat penting. Dia ingin kita semua berteman dengan Muggle... atau, tidak diragukan lagi, manusia serigala..."
Tak ada seorangpun yang tertawa kali ini. Ada kemarahan dan penghinaan dalam suara Pangeran Kegelapan. Untuk ketiga kalinya, Charity Burbage berputar menatap wajah Snape. Air mata mengalir dari matanya dan membasahi rambutnya. Snape balas menatapnya, terlihat tenang, setenang putaran Charity Burbage yang menjauh dari pandangannya.
"Avada Kedavra!"
Kilatan sinar hijau menerangi setiap sudut ruangan. Charity Burbage jatuh, bedebam keras, jatuh ke atas meja, yang bergetar dan retak. Ara serta beberapa Pelahap Maut lain terlonjak dari kursi mereka. Draco jatuh ke lantai.
"Makan malam, Nagini," kata Pangeran Kegelapan dengan dingin, dan ular besar itu berjalan turun dari bahunya ke lantai yang mengkilap.
A/N:
Maaf, update-nya lama banget. Saya lagi krisis pulsa banget nih. Nggak bisa buka ffn jadinya :(
Saya sengaja ambil bagian chapter pertama di buku HP7 untuk memperkuat aja ^^
Semoga suka bab ini ^^
Balasan review!
potter15: Nggak apa-apa :) Yang penting kamu baca+review ^^ Terima kasih atas RnR-nya. Maaf nggak bisa konsisten update kilat :( RnR lagi, ya ^^
Thanks for all my lovely reviewers, followers, favoriters, and silent readers ^^
