Harry Potter belongs to JK. Rowlings


-OoOoO-

E.N.J.O.E.Y

-OoOoO-

Harry duduk di atas kasurnya yang empuk. Matanya menerawang pada salah satu bingkai jendela terdekat di ranjangnya.

Sudah satu minggu dia berada di tempat asing yang pasti jauh dari rumah paman dan bibinya. Dia kini berada di Sekolah Sihir Hogwarts. Madam Pomfrey, wanita yang sepertinya menjadi perawat disini memberitahu Harry bahwa ia kini ada di Hospital Wing, rumah sakit di sekolah ini. Pria berjenggot tempo hari itu adalah kepala sekolahnya, Albus Dumbledore. Sedangkan Severus Snape adalah guru ramuan di sekolah ini yang lebih pada faktanya adalah orang yang membawa Harry pergi dari Privet Drive no 4.

Harry bingung saat mengenal lingkungan barunya ini. Sihir ? Bahkan ada sekolah tentang sihir..

Anehnya Harry pun baru tahu jika dirinya adalah seorang penyihir. Uncle Vernon dan Aunt Petunia adalah keluarga terakhir yang ia miliki dan mereka tidak pernah menyinggung tentang latar belakang Harry, bagi mereka itu hal buruk jika Harry mencoba bertanya.

Harry merasa otaknya penuh sesak pertanyaan dan siapa orang yang tepat untuk menjawab ?

Esok harinya, Harry di pindahkan pada sebuah ruangan khusus atau tepatnya sebuah kamar di Hospital Wing dan ia mulai mengenal beberapa orang di dunia barunya. Madam Pomfrey yang merawatnya, Professor Dumbledore yang mengunjunginya dengan berbagai buku cerita sebagai hadiah dan seorang professor lain bernama Minerva McGonagall yang menghadiahinya sebuah boneka singa berwarna merah bergaris emas. Mereka semua baik dan ramah pada Harry.

Tapi ada sosok-sosok lain yang sebenarnya di tunggu oleh Harry kehadirannya...

Severus Snape yang membawanya kemari belum mengunjunginya kembali. Mungkin dia sibuk pikir Harry, dia kan seorang guru disini. Sosok lain yang ada di otak Harry adalah Merynne Elddire. Harry merasa aneh saat dia menyadari bahwa ia telah mengenalnya sejak 2 tahun sebelumnya, ia merasa begitu bodoh sampai lupa begitu saja tentang sosok wanita itu.

Apakah Harry telah bertemu lagi dengan wanita itu ? tapi kapan ? Harry pun tak bisa mengingatnya. Tapi yang jelas wanita itu pernah kembali dan meninggalkannya sebuah liontin yang di dalamnya ada foto mereka berdua yang mengembalikan ingatan Harry kembali tentang wanita itu. Sangat ajaib jika Harry mencoba memikirkannya, tetapi Harry belum melihat liontin itu kembali. Menurut Professor Dumbledore liontin itu sekarang dia simpan oleh Professor Snape.

Dan sore itu Madam Pomfrey mengantarkan ramuan untuk Harry..

"keadaanmu sudah jauh membaik, nak. Sekarang habiskan ramuan ini." Madam Pomfrey tersenyum sembari menyodorkan gelas piala pada Harry.

"terimakasih Ma'am" Harry menerima dan meneguk ramuannya. "ma'am bolehkah saya menanyakan sesuatu ?" Harry berujar setelah tegukan terakhirnya.

"oh tentu nak, apa yang ingin kau tanyakan ?" Madam Pomfrey mendekat dan duduk di sebelah Harry.

"apa saya akan segera sembuh dan harus keluar dari sini ?" lirih Harry melontarkan pertanyaan itu.

"itu bukan hal yang perlu kau pikirkan, tenang saja disini. Tidak baik jika kau memikirkan hal yang tidak penting" Madam Pomfrey mengelus lembut kepala Harry.

"Aku .. aku hanya berpikir bagaimana nantinya jika aku keluar dari sini. tidak mungkin aku selamanya disini bukan ma'am ? ya .. er maksudku ini kan sebuah sekolah dan jelas aku .. aku bukan murid di sini" Harry bergumam sembari menggerus halus gelas di genggamannya.

"Oh dear, aku tak tahu apakah aku orang yang tepat menyampaikan ini padamu tapi mungkin suatu saat kau akan menjadi murid disini. Semua penyihir muda akan mendapat pendidikan sihir untuk masa depan mereka. Dan percaya atau tidak menurutku kau sudah terdaftar di Hogwarts bahkan sebelum kau lahir" Madam Pomfrey berujar sangat tenang.

"Bagaimana mungkin ma'am, a-aku bahkan tidak tahu bagaimana bisa aku menjadi seorang penyihir .. a-aku tidak- eh bagaimana dengan orangtuaku ? apa mereka juga penyihir ? anda-anda tahu tentang mereka ma'am ?" mata bocah itu berbinar mengharap.

"Kelak mungkin kau akan tahu Harry" Matron itu tersenyum simpul dan mengambil gelas sisa ramuan.

"Ma'am .. apakah Professor Snape pernah berkunjung ? atau pernahkah ma'am Merynne kemari untuk mencariku ?" Harry mengungkapkan keingintahuannya sebelum wanita itu berlalu.

"Jika kau mau bertemu Professor Snape, aku mungkin bisa membantumu Harry. Tapi untuk .. ehm-Merynne aku tak tahu dia dimana. Tidurlah Harry, jangan paksa otakmu." Madam Pomfrey menutup pintu kamar tersebut.

.

.

Severus Snape tengah memandang seekor burung hantu di ruangannya, burung itu beruhu rendah seraya mengangkat kakinya yang terikat perkamen, itu sebuah surat. Bukan surat balasan tapi surat yang dikirimkan oleh Severus berkali kali, dan aneh surat itu kembali pada si empunya. Lebih dari belasan burung hantu digunakannya untuk mengirim surat itu, tapi hasilnya sama, gagal dikirim oleh si burung hantu dan kembali berpulang padanya.

Severus mulai bosan dengan kepulangan si burung hantu dalam kegagalan misinya mengirim surat. Sejauh apa dan dimana keberadaan wanita itu sampai tak bisa terdeteksi dengan jalan apapun dari dunia sihir ?

Arabella Figg pun mengatakan bahwa Merynne tak pernah lagi terlihat semenjak peristiwa penjemputan anak Potter itu. Dumbledore tampaknya juga menelan kecewa dengan kegagalan menemukan keberadaan wanita itu.

.

.

"Apa kita menyerah ?" Severus melontarkan pertanyaan itu pada Dumbledore di suatu kesempatan.

Jujur saja sangat bodoh jika mengingat usaha kirim-berkirim-surat-tak-sampai-ini, serasa berkirim kabar pada orang mati saja ...

"hanya butuh waktu dan kesabaran saja Severus. Kesempingkan dulu kenyataan bahwa kita gagal menemukannya. Kau tahu, ada yang menunggu-nunggu kehadiranmu ? Harry menanyakanmu saat terakhir kali aku datang mengunjunginya" Dumbledore melempar senyum jenaka. "Anak itu juga mulai bertanya perihal dirinya sendiri, jelas tak banyak penjelasan yang ia terima dari Dursley" lanjutnya.

"Mungkin kau bisa memberitahunya" Severus membalas.

"oh .. ya jelas. Tapi tidak sekarang tentunya" Dumbledore tersenyum.

Severus tak bergeming mendengar ucapan kepala sekolah itu.

"aku mulai berpikir Severus, jika Rynne belum bisa ditemukan mengapa kita tak mencari sosok lain bagi Harry untuk sementara ini ?" Dumbledore menatap mata hitam Snape.

"ya. Hogwarts tempat yang aman bukan ? ada Minerva atau Poppy yang bisa mengurus Potter." Severus membuang muka dari tatapan sang mentor.

"bukan. Yang kumaksud di sini adalah sosok yang punya kedekatan khusus pada Harry" tandas Dumbledore.

"siapa ?" Severus membalas

"kau. Kau yang kumaksud Severus." Dumbledore tersenyum, mantap.

"kita punya kesepakatan Dumbledore. Kau tak akan mengungkap sisi baik apapun dari ku pada anak itu" rahang Snape mengeras saat maksud mentornya itu ia cerna.

"ah ya, terimakasih untuk mengingatku Severus. tapi jika aku tak salah menduga, anak itu tampak lebih tenang saat kau ada , terlebih saat waktu itu bukan ?" Dumbledore melempar argumennya sembari berbalik.

"tapi dia juga tenang saat mulai mengenal kau, Minerva dan Poppy. Jangan beralibi Albus !" Snape sedikit geram dalam nadanya.

"bukankah dia anak Lily ? dan apa tujuanmu sekarang Severus ?" Dumbledore menajamkan ungkapannya.

"tapi cara yang akan ku tempuh berbeda Albus ! jangan coba menyadarkanku tentang tujuanku, karena aku sepenuhnya sadar !" Snape meninggalkan Dumbledore yang berdiri membelakanginya.

.

.

Ini awal pekan setelah 2 minggu berlalu dan Harry masih terisolasi di Hospital Wings. Dia mulai bosan, sesekali dia mencuri kesempatan untuk keluar. Tak sampai jauh, hanya sebatas meja kerja Madam Pomfrey agar ia bisa sekedar melepas bosannya.

Sesekali ia mendapat kunjungan dari Profesor McGonagall dan Profesor Dumbledore, mereka mau mengobrol untuk beberapa saat dengan Harry. Tapi untuk menjawab beberapa pertanyaan Harry tentang dirinya, orang tuanya dan tak tertinggal sosok Merynne, maka McGonagall hanya memberi senyum simpul dan Dumbledore mengatakan semua ada waktunya.

Harry tidak mendesak tapi luapan ingin tahu itu membuatnya sedikit frustasi. Di balik ritualnya memandang hamparan pohon hijau yang luas pada salah satu jendela, Harry berpikir mungkin Severus Snape orang yang tepat untuk jawaban pertanyaannya yang membuncah. Mengingat orang itulah yang datang menjemputnya dari keluarga Dursley dan saat ini tengah menyimpan liontin Merynne.

Sore beranjak, sinar matahari hampir tenggelam di ruangan itu.

"Madam Pomfrey .. apakah anda sibuk ?" Harry mencoba mendekati meja healer Hogwarts itu.

"Ya .. sudah gelap Harry. Mungkin waktunya makam malam" Matron itu menggulung perkamen dan menutup botol tinta.

"maafkan aku sebelumnya.. tapi .. tapi bagaimana janjimu waktu itu ma'am ? tentang membantuku menemui Professor Snape ?" gumam Harry di kesempatan ia dekat dengan matron Hogwarts itu.

"sudah ku sampaikan dear, tapi tampaknya Professor Snape sibuk. Ini minggu-minggu ujian di Hogwarts." Madam Pomfrey berpaling menatap Harry yang bertopang dagu di depan mejanya.

"uhmm .. terimakasih ma'am .." gumam Harry kecewa.

"kau tahu, cemberut itu membuat anak seusiamu tua lebih cepat" Madam Pomfrey menepuk lambat pundak Harry.

Tapi sepersekian detik kemudian percakapan singkat itu buyar ..

"Madam Pomfrey… tolong .. tolong aku butuh bantuan.. "teriakan terdengar dari koridor depan Hospital Wing.

"Harry kembali ke kamarmu. Aku ada pekerjaan dan tolong berhenti cemberut !" Madam Pomfrey setengah mendorong Harry kembali ke kamarnya.

Seorang anak laki-laki kurus berjubah hitam dengan rambut pirang kotor tampak berlari menemani anak laki-laki lain yang lebih gemuk dan berambut tipis memasuki ruangan rumah sakit itu. Harry mengintip dari celah pintu kamar yang sedikit di bukanya. Anak lelaki gemuk itu tampak parah, wajahnya penuh bisul meletus yang mengeluarkan nanah dan giginya lebih mengerikan karena membesar entah berapa kali lipat ukuran normal. Harry berjengit melihat pasien Madam Pomfrey itu.

"kenapa ? kenapa dia ? oh Merlin ! apa yang murid-murid ini pikirkan ?! bahkan seperti ujian itu tidak cukup untuk membuat kalian sedikit tenang !" Madam Pomfrey mendorong si bocah gemuk pada sebuah kursi. Dan mulai merecoki lemari obatnya.

"rapalan mantera ma'am. Anak asrama Slytherin merapal matera padanya saat kami keluar dari kelas ramuan bawah tanah. Professor Snape menyuruhku mengantarnya kemari." Terang si bocah kurus sambil mencoba menghindar dari letupan letupan bisul temannya.

"siapapun itu dia harus mendapat potongan point ! sekalipun dia di Slytherin dengan Professor Snape kepala Asramanya." Tandas Madam Pomfrey yang mulai merecoki si anak gemuk.

Harry termenung mendengar percakapan itu. Professor Snape di ruangan ramuan bawah tanah...

Disitulah Harry bisa menemui orang yang dicarinya. Tapi bagaimana bisa sampai di sana ? Harry tak pernah berkeliling kastil ini sebelumnya, lagipula kini sudah beranjak malam bagaimana jika di luar gelap dan bisa saja Harry tersesat.

Entah kenekatan atau keberanian apa yang timbul dari bocah itu. Yang terpikir olehnya ia harus bertemu dengan orang bernama Severus Snape. Sepersekian detik otak Harry masih mencerna gagasan yang baru saja timbul.

Madam Pomfrey masih sibuk dengan pasiennya, murid yang mengantarkan temannya tadi telah berjalan keluar meninggalkan rumah sakit. Harry masih mengamati situasi di ruangan utama Hospital Wings

Dan saatnya tiba.. Dengan gesit Harry merayap berjongkok dan menyelinap keluar rumah sakit itu saat Madam Pomfrey sibuk dengan ramuan di salah satu sudut.

Benar saja, di luar sudah gelap dan koridor koridor panjang kini menyambut Harry. Bocah itu terus berjalan atau setengah berlari pada lorong lorong tak dikenalinya. Bagaimana caranya agar bisa sampai di ruangan bawah tanah batin Harry. Tapi ia terus berlari meninggalkan Hospital Wing dibelakangnya.

.

.

Aula besar tengah gaduh dengan para siswa Hogwarts yang sedang menikmati makan malam. Para guru tampak berjejer pada meja tinggi paling depan. Dumbledore duduk di tengah barisan itu di temani Minerva McGonagall di salah satu sisi dan Severus Snape di sisi lainnya. Severus mengakhiri ritual makan malam itu dengan segelas jus labu. Piala berisi jus labu terangkat dan berputar pelan dalam genggamannya. Sesi makan malam ini belum berakhir, hidangan penutup yang biasanya manis-manis masih menunggu giliran untuk di hidangkan.

Rutinitas akademik di sekolah ini sedang padat-padatnya. Mengoreksi ujian dan esai dari para murid menyita waktunya. Apa lagi dengan kelakuan para siswa yang terkesan kepala batu atau mungkin kepala mereka memang tak ada isinya, Merlin ! Kejadian petang tadi mucul sekenanya di kepala potion master itu saat seorang siswa gemuk tanpa kikuk memasuki aula itu. Dan salah satu siswa dari asramanya menerima detensi akibat rapalan mantera konyol yang bahkan dilakukannya di koridor ruangan kelas Severus. Sejenak Severus mengalihkan perhatian pada jus labunya kembali.

Minerva McGonagall beralih pandang pada pintu di belakang meja tinggi yang berderak terbuka, memunculkan Madam Pomfrey. Tidak ada yang salah karena pintu itu memang akses khusus bagi para guru dan staff menuju Great Hall, yang tampak agak janggal justru Matron Hogwart itu sendiri. Raut wajahnya tampak cemas penuh kekhawatiran. Matanya bertemu dengan McGonagall yang menjadikannya langsung menyerbu ke arah sang Professor Transfigurasi itu.

Madam Pomfrey setengah berbisik diantara Dumbledore dan McGonagall

"Harry tak ada di kamarnya. Mungkin dia menyelinap saat aku tengah lengah merawat murid lain. aku sudah mencoba mencarinya tapi tak bisa ku temukan. Dia terus menanyakan Severus, ku rasa dia keluar untuk hal itu." Madam Pomfrey sedikit gemetar saat menyampaikan berita itu. Dumbledore menoleh pada McGonagall dan beralih pada Severus yang sedari tadi turut mencuri dengar bisikan rendah itu.

"dia bisa berada dimana saja. Minerva bisakah kau bantu Poppy ?" Dumbledore beralih pada McGonagall yang langsung menggangguk setuju. Severus sendiri sudah setengah berdiri hendak melangkah walau tak ada instruksi baginya tentang hal yang baru ia dengar.

Gaduh masih berlangsung, tak banyak yang melihat reaksi ketiga sosok yang bergegas melangkah di meja tinggi para guru.

Segelintir siswa dan beberapa guru menoleh mengikuti sosok yang bergerak tersebut.

Aula berangsur hening saat seracauan umpatan,teriakan dan jeritan terdengar dari koridor depan Great Hall. Menyadari sesuatu, Severus melangkah setengah berlari menuju pintu depan Aula, diikuti Madam Pomfrey dan McGonagall bahkan Dumbledore.

Pintu besar itu tiba tiba terbuka menjeblak dan seorang anak laki-laki dengan kacamata bundar dan rambut hitam awut awutan berlari menjerit ke dalam Aula itu, berlawan arah dengan 4 sosok dari meja tinggi. Pandangannya sesekali menoleh kebelakang seolah tengah di kejar dan tiba tiba Flitch, penjaga sekolah sihir itu masuk dengan makian tak jelas

"kau-penyusup kecil-siapa kau-jangan lariiii… berani beraninya kau .. ! aah Profesor .. tahan dia professor Snape" racauan Flitch bergema di sepajang jalannya saat melihat Snape yang datang di lawan arah.

Si bocah yang menjerit menoleh ke depan dan terlambat ketika tubuhnya bertumbuk dengan Severus yang datang di lain arah. Si bocah jatuh terduduk, keringat membanjir di tubuhnya, poni menutupi dahinya dan segores luka tersembunyi cukup aman di balik rambutnya yang lengket karena keringat.

Severus sedikit lega karena luka itu samar tak terlihat. Nafas Harry memburu, matanya mendongak menatap sosok di hadapannya. Severus maju, merengkuh dan menggendong bocah itu, karena para siswa mulai gaduh dan menghambur dari meja untuk mencari sumber jeritan yang memecah aula.

"diam !" desis Severus di telinga bocah dalam gendongannya. Harry gemetar, lengan kecilnya melingkar pada leher pria itu, wajahnya terbenam dalam bahu kokoh yang menopangnya.

Ratusan pasang mata menatap pada satu titik di tengah Aula besar itu. Riuh rendah kicauan siswa sekolah itu bergaung mengungkapkan keingintahuan plus keheranan yang besar. Severus Snape, guru ramuan mereka yang terkenal sadis plus wajah sedingin es kini tengah berdiri menggendong seorang anak kecil, sungguh pemandangan terlangka bahkan termustahil mungkin. Tapi siapa bocah itu ? mungkin itulah pertanyaan besar yang muncul di otak para siswa sekolah sihir tersebut.

"kalian bisa kembali ke meja asrama masing-masing, dan Flitch anak ini bukan penyusup ! dia pasien Madam Pomfrey dan lebih ku hargai jika teriakanmu bisa kau simpan untuk hal yang lebih di perlukan !" McGonagall melempar pandangan tajam dan kumpulan siswa kini berbuu-buuu ria kembali ke meja seraya memandang squib penjaga sekolah itu. Filtch merengut dengan racauan tak jelas.

"Kau bisa kembali bersama Severus dan tolong pastikan anak ini kau jaga dengan baik Poppy ! tidak baik jika dia disini" Dumbledore maju dan memberi isyarat pada Severus yang mulai melangkah meninggalkan aula besar.

.

.

Harry diam, dia tahu kini ruangan besar tadi sudah jauh di tinggalkannya. Tak ada kebisingan baabiibuu atau teriakan penyusup, tapi dia lebih memilih diam tanpa mengendurkan pelukannya di bahu Severus. Mungkinkah aku akan dimarahi dan dikembalikan pada keluarga Dursley karena ini, setengah membatin Harry mulai terisak dalam pelukan Severus.

Harry kembali memikirkan kenekatan yang dilakukannya, saat ia terus berlari menyusuri lorong, menapaki tangga dalam kastil luas yang belum di kenalinya tapi ruang bawah tanah tak kunjung ia temukan. Seekor kucing mengeong keras membuatnya serta merta menjerit ketakutan dan langkah kaki yang diseret mendekatinya.

Seoarang lelaki berambut panjang tipis dan berwajah mengerikan menyerbu ke arah Harry...

Raungan lelaki itu menggelegar dan mengejar Harry yang berlari sekuat yang ia mampu. Tak satupun hal mampu dipikirkan Harry, ia hanya terus berlari dari kejaran lelaki itu, gelegar makian lelaki itu membuat Harry gemetar tapi ia terus berlari. Hingga akhirnya pintu besar itu ia temukan. Ruangan didalamnya terang dan tanpa pikir panjang Harry berlari seakan menembus pintu itu yang secara ajaib terbuka begitu saja dan pada akhirnya mempertemukannya dengan orang yang ingin ia temui, Severus Snape.

Mata Harry mulai terasa panas dan dadanya penuh sesak nafas tertahan. Harry belum memikirkan akhir kenekatannya. Ia memang bertemu dengan Snape tetapi mungkin saat ini ia sudah di anggap sebagai anak nakal atau pembuat onar. Harry merutuki diri sendiri dalam diam.

"apa yang kau pikirkan sampai bertindak bodoh Potter ? " Severus menurunkan bocah itu pada salah satu ranjang Hospital Wing, nada dingin penuh terdengar disina

Harry terkesiap mendengar ucapan bernada dingin itu.

"ma-maafkan aku sir, a-aa-aku.. aku h-hanyaa i-ingin .." Harry merangkai kata diantara isaknya sambil menunduk menatap lututnya sendiri.

"apapun itu aku mau kau tinggal disini, jangan bertindak bodoh ! jika kau bertindak tanpa berpikir lagi, akupun tak akan berpikir lagi untuk .."Severus merendahkan suaranya tapi kata kata itu mendadak terputus karena Harry telah melompat turun dan kini berlutut di kakinya, tangis bocah itu pecah dan isaknya tak lagi tertahan.

"tidak sir, tidaak .. aku-aku tak mau kembali pada keluarga Dursley, aku takut.. aku-aku hanya,,, maafkan aku.. maafkan .." Harry menangis sejadinya sembari bersimpuh memeluk sepasang kaki di hadapannya, bocah itu mendongak dengan mata tergenang air mata yang tumpah di pipinya yang memerah. Oh kembali kepada Dursley lebih buruk dari mimpi buruk manapun bagi Harry.

Snape bergeming, hatinya luruh menatap bocah yang merosot di lantai itu ..

"kau .. bukan itu maksudku ! ayo .." Severus melepas lengan Harry, membantunya berdiri dan membawa si bocah ke kamar.

Madam Pomfrey tersenyum samar sembari mengangguk ke arah Severus.

"maafkan aku sir, maafkan aku. Sungguh aku menyesal, tolong jangan kembalikan aku .." Harry membenamkan wajah pada telapak tangan saat Severus mendorongnya duduk di kasur.

"tidakkah terpikir olehmu jika tindakan tadi berbahaya ? bagaimana mungkin itu bisa terlintas di otakmu, kau kabur dan membuat orang panik !" Severus mengontrol emosi saat menatapi bocah itu.

Harry diam .. tubuhnya sesekali berguncang halus menahan tangisnya. Ia membenamkan wajah pada telapak tangan mungilnya seakan berharap terlumat habis dan menghilang dari hadapan Severus.

Severus menarik lembut jemari kecil Harry, membawa sisi wajahnya untuk bertemu pandang dengan emerald yang memburam itu.

"tidak ada yang akan mengembalikanmu ke sana, tak akan ada yang membiarkan hal itu. Percayalah, kau akan di rawat oleh orang yang lebih tepat !" Severus mengusap pelan air mata di pipi itu.

"benarkah sir ?" Harry bergumam, mendongak pelan sembari meremas celana di atas lututnya.

"diam dan dengarkan aku !" Severus menarik lepas tangan Harry, menatap wajah mungil tersebut.

Pipi anak itu memerah sama dengan hidungnya dan matanya bengkak, mata itu...

"Apapun alasanmu aku tidak akan berbohong jika sikapmu mengecewakan !" Severus menyipitkan mata pada kelopak sayu di hadapannya.

Harry hanya diam, menatap buram lewat bola mata hijaunya membuat Severus bernafas berat, tidak tega.

"berjanjilah tidak akan berbuat bodoh ! Kau belum makan malam ?" lanjutnya

"belum sir , tapi .. saya tidak lapar" Harry meremas jemarinya seraya menunduk menghindari tatapan lawan bicaranya.

"Madam Pomfrey bilang kau ingin bertemu denganku, jika kau terus menutupi apa yang kau rasakan, terutama rasa laparmu saat ini, jangan harap kau akan punya kesempatan bicara denganku lagi !" Severus menatap serius sembari menyilangkan tangan di dada.

Harry mendongak, bola matanya sirat kekagetan tapi hatinya ciut .. "Kau sungguh bodoh Harry" batinnya

"Sudahlah Severus biarkan ia tenang" suara dalam terdengar di ambang pintu, Dumbledore berdiri dengan senyum

Severus dan Harry menolah hampir bersamaan saat Madam Pomfrey datang dengan nampan makanan

"habiskan Harry ! ada ramuan yang harus kau minum dan setelah itu tidurlah" Madam Pomfrey menempatkan nampan makan itu pada sebuah meja di sebelah ranjang dan berlalu keluar

Harry kaku di tempatnya, gerakan yang terbentuk hanyalah tangan mungilnya yang meremas seprai.

"Jangan hiraukan yang dikatakan Profesor Snape Harry .. Habiskan makananmu setelah itu kau butuh istirahat, aku rasa Profesor Snape tidak marah padamu" Dumbledore maju mengusap pelan sisi wajah Harry " malah kukira Profesor Snape akan menemanimu untuk beberapa saat, nah .. selamat makan dan selamat malam Harry"

Harry tersenyum canggung "selamat malam Profesor" balasnya.

Severus memutar mata saat Dumbledore melempar senyum meninggalkan ruangan itu.

Harry masih memandangi ambang pintu saat Severus beralih menoleh padanya.

"apa yang kau tunggu ?" Severus mendelik pada nampan di meja.

Gugup Harry meraih nampan itu, sedikit bergetar, sedikit oleng tapi ada tangan lain yang membantunya, Severus membantu nampan itu sampai di pangkuan Harry.

Di bawah tatapan diam tanpa ekspresi Severus, Harry menghabiskan makan malamnya.

dan nampan itu kosong ..

"Poppy akan mengantar ramuan untukmu .. nah sekarang tidurlah" Severus beranjak dari posisinya.

"sir, maafkan aku.. tapi-jika aku tak akan kembali pada keluarga Dursley, siapa orang yang akan mau menerimaku ? hanya mereka keluarga saya.. dan-dan aku hanya beban, begitulah kata Aunt Petunia" lirih Harry bergumam.

"kita bahas lain waktu, sekarang tidurlah !" Severus kini bangkit berdiri di sisi Harry.

Bocah itu mendongak menatap manik gelap lawan bicara ..

Severus mendorong Harry untuk berbaring, "jangan berpikir untuk yang terburuk ! kau tahu, aku akan akan menyerahkanmu pada orang yang tepat. Kau bisa pegang janjiku, tapi untuk sementara waktu kau tinggal disini. Di Hogwarts" Severus mengangsurkan selimut hingga pundak anak itu.

"terimakasih sir" senyum simpul muncul di wajah sendunya

"tidurlah !" perintah Severus sembari mulai melangkah meninggalkan Harry.

"sir,.." Severus berbalik memadang bocah lelaki itu "maukah anda sesekali mengunjungiku kemari ?" ada harapan dalam ungkapan itu.

Berpikir sejenak, Severus tersenyum tipis sembari mengangguk ..

"dan .. maukah anda membawa serta liontin itu sir ?" harapan itu kini menjalar dalam tiap inci tubuh Harry.

"Ya, dan sekarang tidurlah !" ucapan itu cukup mengembangkan senyum Harry d

"Selamat malam sir"..

"Selamat malam Harry" ..

dan pintu itu tertutup...

-OoOoO-


jeda nulisnya panjang sekali .. but this finish :)

Reviews please ^_^ ..