Kelas 3: Min Yoongi | Kim Seokjin!GS

Kelas 2: Park Jimin!GS | Jung Hoseok!GS

Kelas 1: Jeon Jungkook | Kim Taehyung


BTS member belongs to their parents and agency

Story belongs to ORUL2


School!AU. OOC. Young romance. Friendship.

Rated: T


MELT

.

Ketika musim panas, musim dingin, musim semi, dan musim gugur

...bertemu.

.

Chapter 8: Acquiring You


[Jungkook POV]

Aku duduk di sofa mini yang menempel dengan dinding jendela kamarku. Ruangan ini sekarang hanya berpendar lampu-lampu temaram karena aku hanya menyalakan dua lampu baca yang ada di samping ranjang, supaya suasananya lebih romantis..

Sekarang aku sedang menumpu daguku di bibir jendela dengan tanganku. Sambil memandangi langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang, kejadian tadi siang terputar begitu saja di benakku. Membuatku tanpa sadar menghela napas.

Park Jimin...

Beberapa hari yang lalu, dia mengirimiku makanan dan minuman... serta surat cinta. Tapi, dia sudah punya pacar. What the...?

Dan parahnya, pacarnya adalah seorang sunbae, yang kebetulan adalah seorang kapten tim basket, satu-satunya ekskul yang aku ikuti. Itu juga karena dipaksa Taehyung, sih.

Well.. Ini aneh. Park Jimin aneh.

Bukankah dia fan beratku? Sudah satu bulan ini dia memerhatikanku terus, seperti yang tertulis di surat cintanya?

Atau, sebetulnya, dia ingin memberikan surat itu pada Min Yoongi, tapi malah salah alamat? Kalau memang begitu.. Hahaha. Dia ceroboh sekali.

Ya.. Seorang ceroboh yang cantik.

Nampaknya nasib baik sedang tidak berada di pihaknya, karena berkat kecerobohannya itu, dia jadi berurusan denganku.

Jika memang surat itu ditujukan untuk Min Yoongi, harus ku akui, betapa beruntungnya sunbae itu memiliki Park Jimin yang sangat menyukainya. Entah kenapa, hatiku mencelos. Apa aku kecewa, surat romantis itu bukan ditujukan padaku, melainkan pada orang lain?

Park Jimin dan Min Yoongi... Hah!

Aku sudah terlanjur tertarik pada Park Jimin. Jadi, sebaiknya, apa yang harus kulakukan terlebih dahulu?

Mendekati Park Jimin, mengusir Min Yoongi, lalu keluar dari tim basket?

Menjauhkan Min Yoongi dari Park Jimin, keluar dari tim basket, lalu mendekati Park Jimin?

Tidak perlu keluar dari tim basket juga mendepak Yoongi, tapi dekati saja langsung Park Jimin?

Oke, aku ambil pilihan ketiga, sepertinya ide yang itu lebih menarik. Tidak perlu menyingkirkan Min Yoongi. Rebut saja Park Jimin. Good idea.

Ada suara notifikasi masuk. Kim Namjoon. Dia mengajakku hangout di Seoul Clubs lagi malam ini. Memangnya besok dia tidak akan bersekolah, apa? Aku membalas "Next time, Kim." padanya. Wow, baru kali ini aku menolak ajakan dugem. Ini semua karena Park Jimin. Aku punya rencana untuk mendekatinya besok di sekolah. Jadi, tidak mungkin dong, kalau malam ini aku teler. Beberapa saat kemudian ada pesan balasan dari Namjoon.

"Tidak seru, kau, Jeon!"


[Besoknya, di sekolah]

Aku menunggu Park Jimin di depan lokernya. Kulirik arlojiku, hm.. baru pukul 07:00. Aku belum tahu biasanya Park Jimin datang pukul berapa. Yah.. jadi aku datang agak kepagian. Tidak apa, sekali-sekali ini.

Selagi menanti gadis incaranku itu, beberapa sunbae yang melintas memandangku dengan tatapan memuja. Aku tahu kok, aku tampan. Jadi, aku lempar saja senyumanku, biar mereka semakin menggila. Benar saja, terdengar pekikan senang ala fangirl ketika aku tebar pesona. Sepertinya list fan-ku bertambah lagi.

Ruang loker sepi sekarang, sampai tiba-tiba saja, aku mendengar itu.

"K-kau?!"

Aku menoleh ketika ada suara seorang gadis yang menyapa gendang telingaku. Suaranya terdengar agak bergetar.

"Hai.", sapaku sambil tersenyum tampan. Ternyata gadis itu adalah gadis yang sudah kutunggu sejak lima belas menit yang lalu, Park Jimin.

"M-mau apa kau di depan lokerku, hah?!", tanyanya panik.

"Mau ketemu kamu.", jawabku santai.

Dia melotot. Mengaga. Menghentakkan kakinya satu kali. Matanya yang masih melotot itu melihat ke sekitar dengan panik.

"Tenang saja, Min Yoongi tidak akan ada di sini. Ini kan loker kelas dua.", kataku, berusaha membuat Park Jimin lebih santai.

"Maka dari itu! Kau kelas satu, untuk apa ada di sini?!", bentaknya, masih dengan tingkat kegelisahan yang tinggi.

"Kan sudah kubilang, Park Jimin—", aku melangkahkan kakiku semakin mendekat padanya. Dia berjalan mundur hingga menabrak loker lagi. Aku memenjara dia lagi. De javu. "—aku mau ketemu kamu."

Hahaha. Lihat wajahnya. Yang asalnya hanya panik saja, sekarang bertambah menjadi pucat juga. Lucu sekali. Hh.. rasanya aku jadi ingin berbuat yang tidak-tidak. Aku melirik sekeliling dengan ekor mataku. Ruangan loker kosong melompong. Wajar saja, sekarang tinggal sepuluh menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Semua orang pasti sudah berada di dalam kelas masing-masing. Berarti si Park Jimin ini hampir terlambat. Apa sekalian saja kubuat dia terlambat? Atau malah tidak perlu masuk kelas? Kekeke.

"M-mau apa kau bertemu denganku?", tanyanya sambil memalingkan wajahnya dariku. Si manis ini masih saja takut padaku, imutnya..

"Hm.. aku bosan sekolah. Hari ini pelajarannya tidak kusuka semua. Bagaimana kalau kau temani aku membolos?"

"Mwo?! Tidak mau! Aku ada kuis!"

Aku menaikkan alisku. "Sekolah tidak perlu terlalu serius, Park Jimin. Nanti saja seriusnya kalau kuliah, kerja, atau menikah, mungkin? Kita masih SMA, harus banyak bersenang-senang."

"Mindset macam apa itu?! Semuanya harus dipikirkan secara serius, lah!"

Dia sudah berani melotot marah padaku sekarang. Hihi. Bikin aku tambah gemas saja.

Aku menarik sebelah lengannya sambil menyeretnya ke arah pintu. Aku akan membawanya ke gerbang belakang sekolah, di sana tidak pernah dijaga, aku sudah hapal sekali saking seringnya membolos sekolah.

"Sudah, ikut saja.", perintahku.

Dia memberontak dan terus-terusan memekik "Tidak mau!".

Aku menghentikan langkahku dan membalikkan tubuhku sehingga berhadapan dengannya.

"Park Jimin. Ikut, atau kucium?"

Dia tersentak lalu mengangguk lemah. Aku tersenyum menang. Gotcha!

"Bagus. Jadilah anak baik, oppa akan mengajakmu bersenang-senang hari ini. Kajja!", aku berseru senang, walaupun sebenarnya aku kecewa dia jadi begitu penurut. Padahal kan kalau dia menolak, aku bisa mencium dia dulu, baru menyeretnya lagi.


Aku membukakan pintu mobilku untuk Park Jimin. Romantis kan? Ya, begitulah aku. Romantis, tapi pemaksa. Aku juga sadar, kok, dengan kelakuanku itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Ini sudah sifat bawaanku, susah dihilangkan. Aku sudah terbiasa mendapatkan apapun yang ku inginkan sejak kecil. Jadi, watakku terbentuk seperti ini begitu saja.

Park Jimin sepertinya benar-benar telah memutuskan untuk menjadi anak penurut kali ini. Dia masuk mobilku tanpa perlawanan. Sekali lagi aku tersenyum menang sambil membuka pintu pengemudi.

Aku mendudukkan diriku di jok lalu bibirku otomatis mengerut. Park Jimin tidak memasang seatbelt-nya. Dia itu kenapa, sih, sebenarnya? Sengaja memancingku?

Aku meraih seatbelt Park Jimin lalu memasangkannya. Dia tersentak. "Kalau tidak mau kupasangkan, pasang sendiri, dong. Kau yang mengundangku untuk melakukannya, kau tahu?"

Aku hendak memutus kontak mataku dengannya karena kulihat dia tidak bernapas. Dia bahkan tidak berkedip. Tapi, dengan jarak seperti ini, sesuatu di dalam diriku tidak bisa menahan hasrat ingin menciumnya. Jadi, ya ku cium saja dia.

Aku mengangkat rahangnya lalu mengecup bibir plum Park Jimin. Rasanya masih tetap memabukkan.

Ah.. aku tidak kuat. Kugigit bibir bawah Park Jimin agar mulutnya terbuka, lalu kulesakkan lidahku ke dalam gua hangat itu.

Park Jimin awalnya diam, mungkin karena terlalu terkejut? Atau terlalu menikmati? Kekeke. Beberapa saat kemudian dia mulai meronta dan memukul-mukul tubuhku yang bisa dijangkaunya.

Aku melepas ciuman itu lalu terkekeh. Aku mengelap saliva yang tercetak di sekitar bibir empuknya. "Kau terlalu menggoda, aku tidak tahan, mian."

"K-kau melanggar ucapanmu! Kau tadi menciumku, jadi, aku tidak perlu menemanimu bolos kan? Annyeong!"

Park Jimin hendak melepas seatbelt-nya, tapi gerakan tanganku lebih cepat. "Eits. Tidak bisa. Kau sudah setuju, jadi, aku tetap akan menculikmu hari ini, Park Jimin."

Aku mengunci mobil, menyalakan mesin, lalu mulai melaju menjauhi area SOPA.

Park Jimin misuh-misuh. "Tidak adil! Kau, bocah kelas satu menyebalkan!"

"Aku bukan bocah. Aku memang kelas satu, tapi kurasa kita seumur, Jimin."

"Maksudmu?"

"Kutebak, kau kelahiran 1997 kan?"

Park Jimin mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang sangat lucu. Kuatkan aku, Tuhan.

"Kita seumur? Lalu, kenapa kau baru kelas satu?"

Aku mengangkat bahuku. "Ada masalah sedikit waktu aku kecil, makanya aku terlambat masuk sekolah.", aku mengalihkan pembicaraan sebelum Park Jimin bertanya apa wujud masalah itu. Aku hanya tidak mau membahasnya. Atau mungkin, belum mau. "Jadi, ulang tahunmu kapan?"

"Aku 10 Juli.. Kau?"

"Yap, memang takdirmu untuk memanggilku oppa. Aku 5 Januari."

"Uwa.. Jadi, kau benar-benar lebih tua dariku, nih? Ah, tidak seru!"

Aku mengerucutkan bibirku sambil menganggukkan kepalaku. "Sudah kubilang, panggil aku oppa."

"Iiih, ogah, ya! Tetap saja kau kelas satu, dan aku kelas dua. Aku sunbae-mu di sekolah!"

"Baiklah, baiklah. Kau sunbae dan aku hoobae, tapi di sekolah saja. Sekarang, kita tidak ada di area sekolah, jadi... aku oppa-mu, Jimin."

"Kau ini..! Selalu saja seenaknya! Kau pikir kau siapa, hah?!"

"Aku? Aku namja yang akan merebutmu dari Min Yoongi."

"MWO?!"

.

.

TBC

.

.


ORUL2 says:

yeorobun! maafkan aku yang sering ngilang akhir-akhir ini. jadi ceritanya lagi masa orientasi mahasiswa baru, begitu loh, yeorobun...

aku mau balesin review yuk cusss

.

Pinkerbell97: aku teriak dulu ah. KYAAAAH direview salah satu penulis ff favorit KYAAAAH :') makasih udah mampir kak!

di imajinasiku yoongi memang super ga peka, tapi sebenernya, deep down, care banget. tipe2 romantis yang ngga agresif gitu deh, kaaak.. ahaha

radar jikook memang kuat kak, hehe :D tapi radar yoonmin juga kuat kok :') dikuat-kuatin :')

.

yoongiena: iyaaa jin suka yoongi. siapa sih yang ga suka yoongi, astaga? cogans nan keren dan swag ituuuuu oh my god hatikuuuu.. /malah jadi fangirlingan/

.

IoriNara: yeay salam yoonjin shipper XD nanti bakal ada lagi kok yoonjin momentnya, ditunggu aja ya hehe

.

yongchan: begitulah, jungkook dan jin PHO-nya mini capsule couple kekeke. kira2 yoonmin bisa bertahan ga ya hm... :p

.

esazame: kok seneng jungkook jadi orang ke tiga? pantes yah? buakakaakakak. memang dia mah dedek nakal unch :3 nakalin noona dong dek :3

.

dan review2 lainnya sepertinya udah kelamaan ya mau dibales satu per satu juga :( makasih banyak pokonya buat semua yang udah baca, review, dan dukung ff ini. silakan berdoa untuk otp masing2 ya hehehe wuf you all! :*