Yukeh: Ya ampuuuunnnn. Saya tidak tahu apakah saya layak mendapatkan maaf dari para readers karena meninggalkan fic ini selama bertahun-tahun. Tetapi sungguh, inspirasi saya mandeg total saat chapter 8 lalu, dan baru ini saya bisa melanjutkan hingga satu chapter lagi.

Yang saya harap adalah penerimaan maaf dari para readers Dark Blood. Bahkan masih ada yang mau review dan fave/alert akhir-akhir, tak peduli bahwa fic ini adalah fic lama yang udah penuh sarang laba-laba (?). Maaf sekali.

Dan saya harap bahwa kalian masih ingat jalan cerita, meski tidak keseluruhan, tapi at least, sebagian besar. Setidaknya, ingat chapter lalu kayak gimana lah. Kalau tidak, coba baca ulang. Karena chapter ini sedikit banyak masih berkaitan dengan chapter-chapter sebelumnya. Tapi okelah, untuk chapter kali ini saja, saya sediakan intipan beberapa poin penting dari chapter yang lalu :D

Maaf sekali. Maaf sekali. Maaf sekali /bungkuk90derajat/


-oOo-

Naruto © Masashi Kishimoto

Dark Blood © Uchiha Yuki-chan

Rated: T is enough

Genre: Adventure/Action/Horror/Mystery

Warning: AU, a little bit of OoC-ness, character death. Don't like? Click 'back' button

-oOo-


Chapter yang Lalu:

"Siapa lagi?" Naruto memutar bola matanya dengan kesal. "Ku temukan kau pingsan dan nyangkut di batu di sungai. Kau baru saja hanyut, ya?" tanya Naruto.

::

"Shikamaru…aku sudah bertemu dengannya. Dia sudah mati. Aku yang membunuhnya. Aku terpaksa. Dia sudah menjadi zombie karena sebelumnya dia telah mendapat luka dari serangan zombie. Darahnya menghitam, sama seperti darah makhluk-makhluk yang sejauh ini telah kita hadapi."

::

"Sakura! Ino!"

::

"Ino kenapa, Sakura?"

"Pingsan. Dia habis terperosok ke dalam lubang jebakan di atas tanah di dalam hutan. Tadinya ku kira dia telah mati diculik zombie atau monster."

::

"Dia Gaara, dia penduduk asli sini."

::

"Itu buku yang Ayah tulis. Ayahku adalah dokter daerah ini. Ayahku yang menemukan virus itu pada mayat pertama yang diduga zombie, di daerah ini."

::

"Heischgrad bukanlah sebuah Negara. Seluruh kawasan ini bahkan tak lebih besar dari pulau Cyprus. Tak ada pemerintahan, tak ada undang-undang. Kami hidup dengan saling menghargai dan hanya menggunakan norma sebagai peraturan."

::

"Aku tak tahu, bagaimana virus aneh itu bisa berjangkit di daerah ini."

::

"Komandan Kabuto!"

-oOo-

Sosok itu tergelak keras. Tertawa sedemikian keras dan menunjukkan nada kemenangan dalam gelak tawanya.

"Paman Orochimaru!" kata Gaara yang masih tak lepas pandang dari lelaki berkulit pucat itu. Ditatapnya Orochimaru dengan pandangan sedemikian rupa, hingga jika pandangan Gaara bisa berkata, mungkin yang kalimat yang keluar dari matanya adalah 'Mengapa kau masih hidup?'

Sakura berjalan mundur, menjauhi mayat Komandan-nya—Kabuto, dan tanpa sadar, ia terjatuh duduk di tanah dengan tubuh gemetar. Naruto masih bergeming memandang sosok mayat tanpa kepala di depannya, sedangkan Sasuke yang segera mendapat firasat buruk, menoleh dan menatap tajam pada Orochimaru yang masih mengepakkan pelan kedua sayap hitamnya, di depan mereka.

Orochimaru berhenti tertawa. Ia mengganti tawanya dengan sebuah senyum kecil. Bukan, itu bukan senyum. Melainkan seringai. Seringai yang sama sekali belum pernah Gaara lihat, dan entah kenapa, seringai Orochimaru itu terlihat sangat menakutkan. Seolah di balik seringai itu, telah dipersiapkan berbagai macam bahaya yang akan menimpa Gaara dan teman-teman barunya.

"Heh… Gaara. Kenapa kau menatap pamanmu ini sedemikian rupa?" Orochimaru menyeringai makin lebar. "Tidakkah kau senang mendapati salah satu keluargamu yang masih hidup?" Orochimaru menunjuk dirinya sendiri, "Ku kira hanya aku satu-satunya penduduk sini yang masih hidup. Kau hebat, Gaara."

Sedangkan Gaara membuka mulutnya sedikit, matanya masih terpaku menatap Orochimaru dengan pandangan kaget, bercampur dengan rasa sulit percaya. Perlahan, kepalanya menggeleng, menandakan bahwa ia memang tidak mempercayai apa yang sekarang ia lihat, dan apa yang barusan ia dengar.

Bagaimana bisa? Pikir Gaara. Bagaimana bisa pamannya ini sekarang bisa ada di hadapannya dan berbicara dengannya? Bukankah dulu Gaara melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Pamannya itu telah tewas terbunuh oleh zombie?

"Kau siapa?" tanya Sasuke yang tak dapat menahan rasa penasaran sekaligus jengkelnya.

Apa-apaan? Orang di depannya ini pasti bukan manusia biasa! Lihat, dia bahkan mempunyai sepasang sayap hitam! Tetapi, jika dia zombie, mengapa ia masih bisa mengenali Gaara sebagai keponakannya?

Pandangan Orochimaru beralih pada Sasuke yang tengah memandangnya dengan tajam, penuh kewaspadaan.

"Oh… Ada manusia lain toh. Mereka ini temanmu, Gaara?" tanya Orochimaru sembari tak lepas pandang dari Sasuke.

"Tidak usah bertele-tele!" Naruto mengarahkan moncong shotgun-nya ke arah Orochimaru. Kedua mata Naruto menatap Orochimaru dengan liar, dengan geram. "Kau! Kenapa kau bunuh Komandan kami, makhluk aneh!?" teriaknya.

Bukannya merasa takut akan ancaman senjata Naruto, Orochimaru malah tergelak. Seolah-olah yang Naruto arahkan padanya hanyalah sebuah senjata mainan berisi air. Tak perlu ditakuti.

"Benda seperti itu tak bisa melukaiku," Orochimaru menunjuk senjata Naruto. "Baiklah, karena kalian akan mati, aku rela menjawab pertanyaanmu itu."

"Cepat jawab, Bodoh!"

DOR!

Satu timah panas dimuntahkan oleh peluru Naruto, dengan dada kiri Orochimaru sebagai sasaran tembaknya. Namun, sia-sia. Peluru Naruto hanya terpental begitu saja saat sebelah sayap Orochimaru menekuk ke depan, melindungi dirinya dari lesatan peluru Naruto.

Sedangkan, tak hanya Naruto, Sasuke, Gaara dan Sakura pun ternganga melihat hal itu. Terbuat dari apakah sayap Orochimaru hingga peluru yang terlontarkan dari shotgun pun tak mampu melukainya barang sedikit saja? Bahkan peluru terpental dengan demikian mudahnya!

"Kau melakukan hal yang sia-sia. Aku heran, mengapa Kabuto bisa mempunyai anak buah sepertimu," ujar Orochimaru bersamaan dengan membukanya sayapnya kembali ke belakang punggungnya, "Kau pikir, kenapa pesawat kalian bisa begitu saja dengan mudahnya, terbakar di udara? Apa kalian tak pernah menduga ada kemungkinan bahwa pesawat itu telah disabotase?"

Sasuke dan Sakura membelalakkan matanya kala apa yang diucapkan Orochimaru barusan, memang benar adanya. Sebelumnya, mereka memang hanya menganggap bahwa kecelakaan pesawat itu memang murni kesalahan pihak pengamat cuaca. Tetapi…

Mendengar suara letupan yang demikian keras, Ino membuka mata, tersadar dari pingsannya yang telah berlangsung selama beberapa jam tadi. Begitu membuka mata dan mendapati manusia dengan kedua sayap hitam di punggungnya, yang berdiri di depan Gaara, Sakura, dan juga…. Ah … Naruto dan Sasuke, Ino menganga kecil. Rasa pusing begitu matanya membuka, langsung lenyap begitu saja saat menyadari betapa menyeramkan dan terasa berbahayanya sosok itu.

"Baiklah, langsung saja. Kabuto adalah anak buahku. Dia memang sengaja kusuruh secara langsung, untuk membawa beberapa manusia ke daerah ini. Namun sayang, karena ada kelalaiannya, pesawat itu terbakar, dan hanya menyisakan beberapa korban saja yang bisa ia berikan padaku," ujar Orochimaru sembari memandang Sakura, Ino, Sasuke, dan Naruto.

"Itu tidak mungkin!" ujar Ino keras, membuat Sakura dan yang lain menoleh padanya.

"Ino," Sakura langsung mendekat pada Ino yang menatap tegas pada Orochimaru. Bukan tatapan seorang gadis penakut dan cengeng seperti yang biasa ia perlihatkan. Kali ini, pandangan Ino lain. Pandangan seorang gadis yang berani melawan. Berusaha mengalahkan rasa gentarnya.

"Jika kau memang menyuruhnya secara langsung, mengapa ia bisa selamat dari daerah ini? Bukankah daerah ini penuh dengan zombie dan monster yang bisa membunuh siapapun yang ia temui?" lanjut Ino.

"Mudah saja. Karena aku memberitahu dia jalan yang aman," ujar Orochimaru. "Rahasia, yang hanya Kabuto dan aku saja yang mengetahuinya."

Tatapan Gaara yang semula hanya berupa sorot penasaran, kini berubah menjadi sebuah pandangan yang geram. Kedua rahangnya menutup rapat, menahan, atau lebih tepatnya, mempersiapkan apa yang akan ingin ia lontarkan. Kedua tangannya mengepal, seolah ia sedang menggenggam apa yang ia tidak ingin lepaskan.

"Paman ini apa?!" teriak Gaara sembari membelalak marah. "Kenapa Paman berwujud seperti ini? Bukankah waktu itu Paman sudah mati?!"

Gaara tersengal-sengal. Bukan karena merasa capek setelah berteriak keras sedemikan rupa, melainkan karena ia menahan marah. Menahan kesal. Dan ia merasa bahwa selama ini ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Sesuatu yang menyakitkan.

Orochimaru kembali tertawa. Keras. Kali ini lebih keras. Seolah kata-kata Gaara barusan adalah sebuah lelucon yang dilontarkan oleh seorang pelawak.

Tawa Orochimaru berhenti beberapa saat kemudian. Ditatapnya Gaara dengan sedikit seringai buas di bibirnya.

"Karena aku, Pamanmu, adalah satu-satunya orang yang menciptakan virus itu."

WUSSSHHH…

Suara angin yang bertiup lirih terdengar. Membuat helai-helai rambut enam orang yang ada di tepi sungai itu, sedikit bergoyang karenanya. Sesekali terdengar suara gemericik aliran air dari sungai.

Sedangkan enam orang pemuda di sana hanya terdiam. Tak mampu berucap apa-apa karena apa yang barusan mereka dengar, seolah-olah merupakan hal yang tak masuk akal dan tak perlu mendapat tanggapan. Seolah-olah sebuah hal yang begitu mengejutkan, hingga membuat lidah mereka kelu seketika.

"Kau tahu, Gaara, sebelum dipindahkan kemari, aku dan Ayahmu adalah sebuah rekan. Kami berdua adalah seorang dokter dan ilmuan medis yang handal, yang terkenal, dan beberapa kali menemukan obat untuk berbagai penyakit. Ayahmu dan aku adalah sebuah rekan yang terkenal kompak. Jika dia menemukan suatu metode penyembuhan, aku akan mendukungnya dan membantunya untuk mengembangkan metode itu. Begitu pula sebaliknya," kata Orochimaru sembari bergerak pelan—dengan melayang rendah— ke arah samping, beberapa meter dari tempatnya semula.

"Waktu itu, aku melakukan sebuah penelitian. Aku berpikir untuk mengubah struktur morfologi sebuah makhluk, terutama bakteri pathogen yang waktu itu menjadi sumber utama sebuah penyakit. Aku berpikir untuk menhilangkan bagian-bagian dari bakteri itu yang bisa membuatnya bersifat parasit, atau menambahkan beberapa bagian dari bakteri saprofit atau apatogen ke dalam tubuh bakteri pathogen," Orochimaru masih berkata, sedangkan keempat pemuda di hadapannya hanya menatapnya dengan pandangan tajam, sembari mendengarkan apa yang Orochimaru ceritakan.

"Seperti biasa, Ayahmu setuju, dan ia membantuku untuk mengembangkan ideku itu. Untuk menyelamatkan umat manusia, tentu saja," Orochimaru berhenti bergerak. Ditatapnya keenam pemuda di hadapannya dengan pandangan tajam. "Tapi apa yang kudapat sebagai imbalan dari ide cemerlangku?! Dunia luar disana menolak mentah-mentah ideku dengan alasan bahwa ideku itu tidak masuk akal dan dan mustahil untuk dijadikan kenyataan! Mereka malah dengan tanpa alasan, menuduhku dan Ayahmu bahwa kami telah membuat suatu penelitian yang ilegal dan membahayakan dunia! Mereka bahkan mengadiliku dan Ayahmu secara terbuka, disaksikan oleh seluruh warga dunia lewat media massa, dan menuduh kami sebagai ilmuan yang sesat, yang melenceng dari hukum alam dan medis!" suara Orochimaru mengeras. Matanya membelalak kala ia berteriak demikian. "Dan apa akhirnya yang kudapat? Aku dan keluargaku, diungsikan ke pulau ini! Pulau tempat manusia yang dinilai tak layak hidup! Pulau terpencil dan bahkan terrahasiakan oleh dunia luar sana!"

Sejenak, suasana kembali hening. Baik Orochimaru maupun Gaara dan yang lain, tidak bersuara. Mereka hanya terdiam mematung, hanya menanti apa yang akan Orochimaru katakan selanjutnya. Terutama Gaara. Pemuda itu hanya menatap Pamannya dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Ia memang marah. Ia memang kesal akan Pamannya yang membuat desanya menjadi seperti ini! Namun ia juga merasa tak pernah menyangka bahwa sesungguhnya, apa yang telah Orochimaru ucapkan barusan itulah alasan mengapa Ayah Gaara diasingkan ke pulau ini. Sebelumnya, Gaara tak pernah mengerti, kenapa Ayahnya bisa dibawa kemari oleh pemerintah. Yang Gaara dengar dari penjelasan Ayahnya kala itu, Ayahnya hanya dituduh membuat suatu penelitian yang dianggap mengancam dunia. Dan Ayah Gaara tak memberikan keterangan apa-apa lagi lebih dari itu.

"Aku merasa dendam pada mereka yang ada di luar sana," suara Orochimaru memelan. Ia kembali mengepak-kepakkan kecil kedua sayapnya. "Mereka hanyalah sekumpulan orang egois yang menjabat di dunia pemerintahan. Mereka sama sekali tak menghargai usahaku. Untuk itulah, aku mulai berpikir untuk menciptakan spesies-spesies baru. Spesies yang mengerikan, yang suatu saat bisa mengambil alih dunia ini. Spesies-spesies yang akan ditakuti oleh orang-orang yang otaknya hanya terisi oleh kekuasaan di luar sana. Dan karena dendamku, karena semangatku agar bisa membuktikan eksistensiku di dunia ini, semangatku agar aku diakui sebagai ilmuan handal, aku berhasil menciptakan menciptakan sebuah virus dengan mutasi. Virus yang akan mengubah total manusia dan hospes(1) apapun yang ia hinggapi. Baik secara fisik, maupun sifat, akan mampu ia ubah hanya dalam waktu hitungan jam saja. Dan kalian lihat diriku?" Orochimaru merentangkan kedua tangannya sembari melebarkan sayapnya. Membuat dirinya tampak begitu kokoh. "Dan kau tahu Kabuto? Dia adalah kenalan baikku, satu-satunya orang selain Ayah Gaara, yang mengerti akan pentingnya penelitianku bagi dunia medis. Satu-satunya orang yang mendukung niatku. Dan saat aku terasing di sini, dia pula satu-satunya orang yang mampu menyelinap kemari tanpa diketahui oleh para pemerintah dunia luar. Dan setelah semua penduduk di sini berhasil kuubah menjadi zombie dan monster, aku merasa bahwa jumlah mereka tidak cukup untuk mewujudkan impianku untuk meneror dunia luar. Maka aku sering menyuruh Kabuto untuk mencari cara, bagaimana agar ada orang dunia luar yang bisa singgah kemari, dan bisa kujadikan kelinci percobaanku berikutnya."

Orochimaru terbang mendekat beberapa senti ke depan, menuju ke arah Gaara dan yang lain.

"Termasuk diriku sendiri. Aku berhasil membuat diriku menjadi seperti ini, membuatku menjadi penguasa daerah ini. Dan akan menjadikan diriku sebagai penguasa dunia luar…." Kata-kata Orochimaru terputus sementara. "Dengan bantuan para zombie dan monster yang telah kuciptakan."

Naruto terkejut saat dengan sangat tiba-tiba, shotgun-nya terampas oleh Gaara. Dan pemuda berambut merah bata itu dengan geram, segera menarik pelatuk shotgun itu dan membuat satu timah panas melesat ke arah lengan Orochimaru tanpa mampu Orochimaru duga ataupun mampu ia telak.

Orochimaru hanya tertawa hambar saat melihat lengannya yang meneteskan cairan berwarna merah. Membuat tanah coklat di bawahnya ternodahi oleh pekatnya warna merah darahnya itu.

"Kau payah, Keponakanku," ujar Orochimaru sembari tersenyum merendahkan pada Gaara. "Jika kau punya kesempatan sebagus tadi, harusnya kau membidik jantungku, bukan lenganku. Aku bisa menyembuhkan luka ini hanya dalam waktu beberapa detik saja," kata Orochimaru sembari menjilat darah yang mengucur dari lengannya.

"Kenapa… kenapa kau melakukannya?!" teriak Gaara keras. Marah. Geram. Bercampur dengan kecewa, "Padahal kau merasakan apa yang kami rasakan! Kau juga merasa bahwa dirimu juga terbuang, sama seperti kami! Harusnya kau tahu, bukan hanya kau saja yang kecewa pada dunia luar! Tapi semua yang ada di sini juga! Harusnya kau tahu pula, bahwa kami telah hidup di Heischgrad dengan rela. Karena kami telah menemukan semua orang yang bernasib sama seperti kita! Tetapi, kenapa kau tega memperlakukan mereka sebagai uji coba penelitian konyolmu itu?!"

Sasuke hanya menatap pada Gaara dengan ekspresi datar, sama seperti yang biasa ia perlihatkan pada siapapun. Dan Naruto menatap Gaara dengan pandangan iba.

Sedangkan Sakura dan Ino menahan tangis saat ia lihat betapa marahnya Gaara sekarang. Betapa kuatnya rasa sakit dan kecewa yang tersorot dari pandangan mata Gaara. Bahkan kini kedua mata pemuda itu telah basah. Butir demi butir air mata telah jatuh ke pipinya. Air mata sedih. Air mata kecewa. Berbalut dengan rasa marah dan tidak terima. Selama beberapa hari bersama Gaara, kedua gadis itu seolah mengenal pemuda itu dengan baik. Gaara adalah pemuda yang berani. Bertanggung jawab, menepati janjinya untuk berusaha membawa Sakura dan Ino keluar dari Heischgrad dengan selamat dan melindunginya. Tak pernah Sakura lihat Gaara gentar. Tak ada pula rasa sedih atau luka saat Gaara menceritakan masa lalu kelamnya. Ia begitu tegar. Begitu kuat. Tetapi sekarang…

"Hanya demi dendammu itu, kau membuat semua penduduk di sini menjadi mayat hidup! KAU MEMBUNUH MEREKA! Kau juga telah meruntuhkan respekku kepadamu. Kupikir kau adalah korban dari kekejaman pemerintah, seperti Ayah. Kupikir kau juga mengerti perasaan semua orang yang terbuang ke Heischgrad! Tetapi apa yang sekarang kulihat? Hanya monster keji berwujud Pamanku! Monster keji yang telah membunuh Ayah dan keluargaku! Monster keji yang dengan tega membuat semua penduduk di sini sebagai percobaan dan untuk menaklukkan dunia! MAKHLUK MACAM APA KAU?!"

Orochimaru terdiam. Ia melihat bagaimana beringasnya ekspresi yang Gaara tunjukkan, baik dari mimik wajah maupun tatapannya. Orochimaru tahu, ini adalah kali pertama ia lihat Keponakannya itu menangis. Bahkan saat keluarganya terasingkan ke Heischgrad, Orochimaru hanya melihat Gaara yang terdiam saja sembari tersenyum pahit, tanpa sedikitpun ada tetes air mata yang terjatuh dari matanya.

"'Makhluk macam apa kau'?" Orochimaru menirukan ucapan Gaara barusan sembari tertawa menghina. "Aku adalah orang yang akan mengubah dunia luar! Aku akan menjadi satu-satunya orang yang akan disembah! Mereka, para manusia luar yang mau hidup, akan mengemis padaku, meratap di bawah kakiku agar aku sudi mengasihani mereka! Karena apa? Karena aku mempunyai penangkalnya," Orochimaru tersenyum puas. "Ramuan yang bisa melumpuhkan virus yang kuciptakan dalam selang waktu paling lama dua jam setelah manusia itu tertular. Itulah alasan mengapa sekarang aku masih bisa hidup sekalipun kala itu aku telah mendapat gigitan dari satu zombie dan pingsan. Ya, pingsan. Aku tidak mati," kata Orochimaru.

"Kenapa kau membunuh Ayahku juga?!" teriak Gaara, kali ini suaranya melirih, terkalahkan oleh rasa sakit dan pahit yang menghujam dadanya. Menghujam perasaannya. Lelah akan berteriak karena ia tak akan mampu mengembalikan semuanya. Kedua matanya menyipit, menatap Orochimaru dengan pandangan getir. "Bukankah Ayahku adalah orang yang selalu mendukungmu?!"

"Hey, aku tidak membunuh Ayahmu," ujar Orochimaru sembari mengangkat kedua bahunya. "Dia dibunuh oleh salah seorang warga, bukan? Ayahmu tidak pernah kuberitahu apa rencanaku. Apa yang ada di pikiranku, karena kuyakin, ia pasti menentangnya. Ayahmu itu sangat lembek, kau tahu 'kan, Gaara? Ayahmu hanya bisa menemukan ada sebuah virus aneh yang terdapat dalam salah satu mayat warga yang sudah terinfeksi. Dia tidak sempat menemukan obat untuk menanggulangi virus ini. Dia sudah keburu dibunuh. Itu bukanlah salahku," ujar Orochimaru sembari tertawa kecil.

"Aku tak ingin dunia luar mengetahui rencana yang sedang kuwujudkan," ujarnya dengan nada pelan, dengan tatapan yang penuh ancaman.

WUSH! GREP!

Orochimaru dengan kecepatan yang sangat tinggi dan tak dapat terduga, terbang dan melaju ke arah Sakura dan mencengkeramkan sebelah tangannya ke leher Sakura dengan kuat, lalu mendorong kasar tubuh Sakura hingga membentur pada pohon di belakang sana.

"Terima kasih pada Komandanmu yang telah membawa kalian ke sini," gumam Orochimaru sembari memperkuat tekanan tangannya ke leher Sakura.

"Ugh…" Sakura mengernyit sakit, sembari kedua tangannya berusaha melepaskan cekalan tangan Orochimaru di lehernya.

"Sakura!" teriak Sasuke keras saat melihat gadis itu tak berdaya di tangan Orochimaru.

Sasuke segera menyahut shotgun yang berada di tangan Gaara. Dan pemuda berambut spike itu segera menarik pelatuk shotgun setelah menjadikan kepala bagian belakang Orochimaru sebagai sasaran bidikan.

DOR!

"Ugh!"

BRUK! Satu tubuh terjatuh ke tanah.

Sasuke menurunkan shotgun itu dengan terkaget. Tak hanya dia, Gaara, Ino dan Naruto yang melihatnya pun seketika membatu.

Bukan. Orochimaru masih berdiri tegak di depan sana. Saat peluru Sasuke terlesatkan, Orochimaru membalik posisinya dengan Sakura dan menjadikan gadis bermata dengan pupil emerald itu sebagai tameng dari lesatan peluru Sasuke.

Dan apa akibatnya? Sakura telah terjatuh ke tanah! Peluru itu tertanam di pinggang Sakura, menyebabkan gadis itu langsung tersungkur seketika dengan darah merah yang merembes dari perutnya.

Orochimaru tergelak. Terbahak-bahak dia melihat betapa pucatnya wajah Sasuke, betapa syoknya wajah Gaara, Naruto dan Ino, juga tertawa karena melihat Sakura yang tergeletak tak berdaya di bawah kakinya.

"Lihat! Sekarang temanmu mati gara-gara kau, 'kan?" ujar Orochimaru sembari menatap Sasuke dengan pandangan rendah. "Temanmu mati bukan karena ia menjadi zombie atau apa. Melainkan karena bidikanmu sendiri!" Orochimaru kembali tergelak.

Sasuke menggeram. Ia menatap Orochimaru yang sedang tertawa puas, dengan pandangan liar. Diarahkannya shotgun yang ada di tangannya sekali lagi, lalu dibidiknya sekali lagi kepala Orochimaru. Namun kali ini gagal, sebelum peluru Sasuke barang menyentuh tubuhnya, Orochimaru segera melesat terbang. Dan peluru Sasuke barusan menancap sia-sia di batang pohon di belakang posisi Orochimaru barusan.

"Aku harus pergi," satu bulu dari sayap Orochimaru terjatuh ke tanah tanpa disadari oleh Sasuke dan yang lain. "Lebih baik kalian kubur teman kalian itu sebelum ia dimakan oleh monster atau zombie disini. Nanti aku akan datang lagi untuk benar-benar membunuh kalian semua," Orochimaru menyeringai sebelum ia benar-benar terbang menjauh dan menghilang di balik pepohonan yang menjulang tinggi.

Sasuke tetap menatap ke atas, mengikuti pergerakan Orochimaru hingga sosoknya benar-benar tak terlihat. Kedua tangannya masih mencengkeram shotgun dengan kuat. Kedua rahangnya masih mengatup rapat. Matanya memerah. Entah karena marah atau apa.

Sedangkan Gaara hanya terdiam. Ia menatap sungai di depannya yang mengalir tenang, sama sekali tak terusik oleh keributan yang baru saja terjadi. Hanya saja, pemuda itu tak mampu menahan satu tetes air mata yang dikeluarkan lagi oleh matanya. Tak mampu untuk menghilangkan perasaan sakit ini. Duka ini. Jika ini adalah mimpi, Gaara harap ada seseorang yang akan membangunkannya segera.

Sedangkan Ino lah yang paling cepat bergerak. Ia merangkak cepat ke arah Sakura berbaring. Dirabanya pergelangan tangan Sakura.

"Dia masih hidup!" pekiknya senang. Membuat Sasuke, Naruto dan Gaara menolehkan kepalanya seketika untuk menatap Sakura. "Aku akan coba keluarkan peluru dari pinggangnya!"

Gaara melangkah ke depan, menghampiri Sakura yang terbaring dengan kepala di pangkuan Ino.

"Ayo kita cari gua untuk bermalam. Aku tak yakin daerah ini benar-benar aman," ujarnya sembari jongkok dan segera menggendong Sakura dengan kedua lengannya.

"Ya, benar," ujar Naruto sembari memandang Sakura sedih. Sakit rasanya saat dia melihat mata indah itu kini terpejam, dengan darah yang terus mengucur dari pinggang tersebut.

Ino menangguk. Dia menoleh ke Sasuke.

Sasuke hanya memalingkan wajah. Shotgun yang masih berada di genggaman tangannya, masih belum juga ia lepas. Masih ia pegang erat. Kuat. Berusaha meredam rasa bersalahnya, merasa sebagai orang tolol yang kini membuat seorang gadis terluka.

Akhirnya Sasuke pun ikut melangkah, menghampiri lima orang yang telah bersiap-siap untuk pergi meninggalkan tempat itu setelah sebelumnya ia menjinjing ransel dan boots-nya yang tadi ia lepas karena merendam kaki di sungai.

Langkah Sasuke terhenti saat ia merasakan kakinya menginjak sesuatu yang tajam. Ia menunduk, dan mendapati ujung tajam dari sebuah bulu sayap Orochimaru yang terjatuh tadi, kini telah terinjak olehnya dan membuat telapak kaki kiri Sasuke berdarah.

"Sasuke? Kau kenapa?" tanya Ino saat melihat Sasuke berhenti sembari hanya menatap ke bawah.

"Tidak ada apa-apa," ujar Sasuke sembari terus melangkah menghampiri yang. Tanah yang coklat, membuat bercak darah di kaki Sasuke tak tampak jelas oleh mata Ino.

"Ayo kita pergi," ujar Gaara yang direspon oleh anggukan Naruto.

"Gaara," ujar Sasuke pada pemuda yang telah melangkah dengan menggendong Sakura. "Lenganmu terluka. Biar aku yang menggendongnya."

"Tidak," ujar Gaara singkat tanpa menoleh. "Urus saja sikap cerobohmu itu."

Mendapat respon seperti itu, Sasuke hanya terdiam sembari terus berjalan. Sesekali kedua mata onyx-nya menatap pada sebelah kakinya yang sekarang terasa sedikit nyeri.

Sasuke hanya memejamkan mata saat bayangan Shikamaru melintas di otaknya.

-oOo-

(1) Hospes adalah inang virus aka tempat virus hidup. Whatever deh… *geplaked*

Sekali lagi, saya minta maaf sekali udah nelantarin fic ini selama… 2 tahun lebih /mati/

Sebelum saya update chapter 10 (mungkin dalam waktu dekat ini) saya sarankan Anda untuk baca ulang. Ga salah kok kalau kalian lupa, justru saya yang harus dilaknat karena menganggurkan fic ini dan membuat kalian lupa. Intinya, ada beberapa hal yang harus kalian ingat biar nyambung ama apa yang ada di chapter-chapter selanjutnya.

Dan oh ya, saya jadi kepikiran untuk bikin fanart buat jadi cover fic ini. Tapi saya nista banget untuk taste gambar :( Jadi, adakah yang bersedia menolong saya yang nista ini untuk nge-bikin cover fic ini? :D Kalau mau, entar dicium Orochimaru deh /dor/


Makasih banyak untuk semuanya ^^

Critism and comment are whole-heartedly appreciated.

June, 1st

~yukeh ketjeh~