Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Terima kasih banyak kepada Sheila Kudo, conanlovers, L-ThE-MyStEriOuS, shirayuki nao, Poyo-chan, CherryBlossom01, Mengde the Cuirassier, azalea, Airin Aizawa, Fumiya Ninna 19, Maymay-kun, rachel moore, angel and cool guy, Jessica Kristiaji dan shinichi kudo-san atas komennya!
Maaf kali ini aku nggak bisa balas komennya karena internetku lagi putus nyambung. Tapi pertanyaan2 kalian pasti akan terjawab di chapter2 selanjutnya. Kalau untuk fic selanjutnya setelah fic ini selesai, request dari Poppy-san yaitu Rye x Sherry rated M.
Nggak nyangka udah sampai chapter 9. Semoga para pembaca tidak bosan walaupun fic ini sampai belasan chapter.
Selamat membaca dan berkomentar!
Semalam Bersamamu
By Enji86
Posesif dan Kutukan yang Hilang
"Kazuha-chan, kau harus lebih lembut pada Hattori-kun," ucap Nanako, sahabat baik Kazuha saat jam istirahat.
"Tapi itu sangat sulit. Aku malah jadi gugup sehingga akhirnya aku bersuara keras," ucap Kazuha.
Nanako menghela nafas.
"Kalau kau terus keras padanya, kalian tidak akan bisa romantis. Apa kau mau hubungan kalian tidak ada kemajuan terus? Hattori-kun saja sudah kelihatan lebih lembut sekarang," ucap Nanako.
"Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu kalau dia kelihatan lebih lembut?" tanya Kazuha.
"Aku bisa lihat dari tatapan matanya. Tatapan matanya yang biasanya berapi-api itu, sekarang terlihat lebih tenang," jawab Nanako.
"Nanako-chan, kenapa kau bisa tahu begitu banyak? Jangan-jangan kau suka pada Heiji ya?" tanya Kazuha dengan tatapan curiga sehingga Nanako pun tertawa.
"Kazuha-chan, aku rasa kau juga harus mengatasi masalah cemburuanmu itu. Laki-laki itu tidak suka jika pacarnya terlalu posesif, kau tahu?" jawab Nanako.
"Habisnya, kau sepertinya lebih tahu daripada aku. Sebenarnya aku sudah tahu ada yang berbeda dengan Heiji. Aku hanya tidak bisa menjelaskan apanya yang berbeda," ucap Kazuha dengan wajah cemberut.
"Sudahlah, itu tidak penting. Yang penting, saat kalian berdua pergi menemui klien nanti, kau harus berusaha sebaik-baiknya, kau mengerti?" ucap Nanako.
"Baiklah, aku akan mencobanya," ucap Kazuha.
XXX
"Apa semuanya sudah matang?" tanya Profesor Agasa pada Shiho yang sedang menata piring di meja makan.
"Sudah," jawab Shiho.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Profesor Agasa.
"Tentu saja. Kenapa tidak?" jawab Shiho dengan ekspresi wajah bingung.
"Ah, tidak. Aku hanya khawatir kau terlalu lelah," ucap Profesor Agasa.
"Aku baik-baik saja, Profesor," ucap Shiho sambil tersenyum.
Tiba-tiba bel pintu berbunyi, menandakan ada tamu di luar.
"Biar aku saja," ucap Profesor Agasa kemudian dia melangkah pergi.
Shiho menyelesaikan pekerjaannya kemudian melepas celemeknya dan menggantungnya di tempatnya. Lalu dia pergi ke ruang tamu untuk menyambut tamunya.
"Oh, ini dia, Ran, perkenalkan, ini Shiho Miyano. Shiho, ini Ran Mouri," ucap Shinichi memperkenalkan kedua wanita yang ada di ruang tamu.
Ran memandang Shiho dengan sangat kaget. Matanya terbelalak dan mulutnya sedikit menganga. Shiho yang sebenarnya benar-benar jauh dari Shiho yang dibayangkannya. Shiho yang sebenarnya tidak berpenampilan seperti kutu buku tapi seperti model yang feminim. Dari tatapan mata Shiho, Ran bisa mengetahui bahwa Shiho adalah wanita yang cerdas, karena tatapan matanya mirip dengan tatapan mata Shinichi.
"Senang bertemu denganmu," ucap Shiho sambil mengulurkan tangannya.
Ran segera sadar dari keterkejutannya dan dia buru-buru membalas uluran tangan Shiho.
"Aku juga senang bisa bertemu denganmu," ucap Ran dengan sedikit gugup dan wajah sedikit memerah.
"Kudo-kun banyak bercerita tentangmu. Dia benar-benar beruntung mendapatkan wanita yang baik dan cantik sepertimu," ucap Shiho.
"Eh, tidak. Kau terlalu banyak memujiku," ucap Ran dengan wajah tambah merah.
"Tidak kok," ucap Shiho kemudian menoleh ke Shinichi. "Ya kan, Tantei-san," ucap Shiho sambil tersenyum manis sehingga membuat Shinichi kesal karena dia tahu Shiho sedang menggodanya.
"Baiklah, lebih baik kita makan sekarang. Kita bisa melanjutkan obrolan kita di meja makan," ucap Profesor Agasa mengalihkan pembicaraan.
Ketiga orang remaja itu mengangguk tanda setuju lalu mengikuti Profesor Agasa ke ruang makan. Lalu Ran melihat Shinichi menarik Shiho agar mendekat kepadanya dan membisikkan sesuatu pada Shiho sehingga membuat perasaan Ran menjadi tidak enak.
"Kau ingat kan, skenario yang kukarang dan jangan lupa bahwa Hattori belum ingin hubungan kalian ketahuan oleh keluarganya jadi kau harus tutup mulut," bisik Shinichi.
"Iya, aku tahu. Memang kau pikir aku bodoh," bisik Shiho dengan wajah kesal.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu. Aku sangat khawatir dengan hobimu yang suka mengerjai orang itu," bisik Shinichi dengan wajah kesal juga.
Makan malam itu berlangsung dengan lancar. Mereka membicarakan berbagai macam hal. Mulai dari bagaimana Shinichi dan Shiho berkenalan, pacar Shiho yang tinggal di luar kota dan pekerjaan Shiho.
"Makan malamnya enak sekali. Terima kasih, Profesor, Miyano-san. Maaf kalau kami sudah merepotkan," ucap Ran saat berpamitan.
"Tidak merepotkan kok," ucap Profesor Agasa dan disetujui oleh Shiho dengan anggukan kepala.
"Ya, itu benar. Aku pikir aku akan makan malam di sini setiap hari," ucap Shinichi.
"Huh? Aku tidak ingat pernah mengijinkanmu makan malam di sini setiap hari," ucap Shiho.
"Kenapa tidak?" tanya Shinichi.
"Kau selalu makan seperti orang kelaparan. Kau bisa menghabiskan persediaan makanan di rumah ini," jawab Shiho.
"Oi! Oi! Bisakah kau berhenti mengejekku," ucap Shinichi dengan kesal.
"Aku tidak mengejekmu. Aku berkata yang sebenarnya," ucap Shiho.
"Terserah. Yang jelas aku akan makan malam di sini setiap hari," ucap Shinichi.
"Sudahlah kalian berdua," ucap Profesor Agasa.
"Shinichi, aku bisa membawakan makan malam untukmu setiap hari jadi kau tidak perlu merepotkan Miyano-san," ucap Ran.
"Tidak usah, Ran. Aku tidak ingin merepotkanmu," ucap Shinichi.
"Tidak merepotkan kok. Aku kan pacarmu. Itu sudah tugasku," ucap Ran.
"Tidak apa Ran. Aku akan makan di sini setiap hari karena wanita ini harus membayar semua yang telah dilakukannya padaku," ucap Shinichi.
"Eh?" ucap Ran dan Shiho bersamaan. Mereka berdua menatap Shinichi dengan bingung tapi Shinichi tidak mempedulikannya dan menggandeng tangan Ran.
"Sampai jumpa semuanya," ucap Shinichi lalu dia menoleh ke Ran. "Ayo, aku antar kau pulang," ucap Shinichi kemudian dia melangkah pergi sambil menarik Ran.
Shiho melihat kepergian mereka berdua dengan ekspresi tidak mengerti.
"Memangnya apa lagi yang sudah kulakukan?" tanya Shiho dalam hati.
XXX
Ran membolak-balikkan badannya di tempat tidur. Dia belum bisa tidur karena pikirannya terus-menerus tertuju pada Shiho. Selama makan malam tadi, dia bisa melihat bahwa Shiho dan Shinichi punya hubungan yang sangat dekat dan itu membuatnya gelisah. Sejak kecil, dia adalah satu-satunya wanita yang dekat dengan Shinichi jadi ketika ada wanita lain yang muncul, dia jadi merasa tidak aman. Apalagi kalau wanita itu cantik dan pintar serta tinggal di sebelah rumah pacarnya itu.
Ucapan Shinichi juga membuat Ran bertanya-tanya. Memangnya apa yang sudah dilakukan Shiho kepada Shinichi? Dia sudah mencoba bertanya tadi tapi Shinichi hanya bilang bahwa dia tidak perlu tahu. Dia benar-benar tidak suka jika Shinichi menyembunyikan sesuatu darinya. Selain itu, dia juga baru tahu bahwa Shiho masih berusia 18 tahun, hanya setahun di atasnya dan Shinichi.
Ran kemudian menghela nafas.
"Sudahlah Ran. Miyano-san sudah punya pacar dan Shinichi adalah pacarmu. Kau tidak perlu berpikir yang macam-macam," ucap Ran pada dirinya sendiri dalam hatinya. Lalu dia memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur.
XXX
Shiho berbaring di tempat tidurnya sambil mendengarkan Heiji yang sedang menceritakan kasus yang sedang ditanganinya serta kekesalannya pada Kazuha yang bertingkah semakin aneh dan rasa bersalahnya terhadap Kazuha karena harus membohonginya, lewat telepon. Tiba-tiba air mata Shiho mengalir tanpa bisa dia cegah. Dia pun menangis dalam diam sambil terus mendengarkan.
"Lalu bagaimana dengan makan malamnya?" tanya Heiji setelah dia selesai bercerita.
"Lancar," jawab Shiho singkat dengan suara sedikit tercekat.
"Ada apa dengan suaramu? Jangan-jangan kau menangis ya? Kenapa kau menangis? Apa ada masalah tadi?" tanya Heiji dengan khawatir ketika dia menyadari ada yang aneh dalam suara Shiho.
"Tidak. Tidak ada apa-apa," jawab Shiho sambil menghapus air matanya.
"Tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa. Katakan padaku apa yang terjadi?" ucap Heiji memaksa.
"Kutukanku sudah terangkat, Heiji-kun," ucap Shiho.
"Kutukan? Kutukan apa?" tanya Heiji.
"Kutukan yang selalu membuat hatiku sakit," jawab Shiho.
Heiji hanya diam dan menunggu Shiho melanjutkan karena dia tidak tahu harus berkata apa.
"Kau tahu, kalau kau ada di sini, aku pasti akan memelukmu dan menangis di bahumu sekarang karena aku sangat senang," ucap Shiho.
"Maafkan aku," ucap Heiji dengan muram sehingga Shiho tertawa mendengarnya.
"Kenapa kau minta maaf? Bukankah aku bilang aku sangat senang sekarang? Seharusnya kau memberiku selamat. Aku akan memeluk boneka ikan hiuku sebagai ganti dirimu," ucap Shiho.
"Tapi tetap saja, aku tidak bisa berada di sisimu ketika kau membutuhkanku. Aku jadi merasa tidak berguna," ucap Heiji.
"Jangan merasa begitu. Aku sudah cukup puas dengan hubungan kita dan kau jauh lebih baik daripada pacarku yang sebelumnya," ucap Shiho.
"Begitu ya?" ucap Heiji dengan ragu.
"Sudah, jangan khawatirkan aku. Kau juga harus mengatur kasus-kasus yang kau tangani dan memilah-milah mana yang harus kau tangani. Kalau kau menerima semua klien, lama-lama kau bisa kolaps karena kelelahan," ucap Shiho.
"Tidak akan. Staminaku sangat bagus kok. Lagipula aku sangat menikmatinya," ucap Heiji.
"Baiklah, terserah kau saja. Aku kan hanya tidak mau kau sakit," ucap Shiho dengan nada menggerutu.
"Ya, baik-baik. Aku akan melakukan saranmu," ucap Heiji sehingga Shiho tertawa.
"Itu baru pacarku!" ucap Shiho sehingga wajah Heiji memerah. "Baiklah, ini sudah malam. Kita bicara lagi besok."
"Oke. Selamat tidur," ucap Heiji.
"Selamat tidur," sahut Shiho.
Shiho meletakkan ponselnya di meja di samping tempat tidurnya lalu meraih boneka ikan hiunya dan memeluknya. Bibirnya membentuk seulas senyuman kemudian dia memejamkan matanya. Dia benar-benar bahagia hari ini. Perasaannya terasa ringan karena doanya sudah dikabulkan. Doa yang berisi permintaan agar kutukannya berakhir, kutukan cinta yang selalu membuat hatinya sakit.
"Mungkin ini semua karenamu, Heiji-kun," ucap Shiho dalam hati.
XXX
Hari-hari Shiho selanjutnya berlangsung dengan normal. Heiji meneleponnya setiap malam. Shuichi kadang-kadang mengiriminya email, menceritakan perkembangan pengunduran dirinya. Ayumi, Genta dan Mitsuhiko juga kadang-kadang datang untuk main game dan dia bisa berteman baik dengan mereka. Shinichi selalu datang ke rumah Profesor Agasa setiap pagi dan malam untuk makan. Setelah makan malam, Shinichi biasanya tidak langsung pulang tapi malah nongkrong di depan TV bersamanya sambil mengerjakan PR sementara dia sendiri sibuk dengan laptopnya. Profesor Agasa kadang-kadang bergabung dengan mereka jika sedang tidak ada proyek untuk nonton TV. Selebihnya, Profesor biasanya bekerja di ruang bawah tanah sehingga mereka hanya berdua saja.
Sebenarnya Shiho agak heran kenapa Shinichi selalu nongkrong di rumah Profesor setiap malam sehingga suatu hari dia pun bertanya pada Shinichi.
"Kudo-kun, kenapa sih kau suka sekali nongkrong di sini? Bukankah lebih baik kau nongkrong di rumah pacarmu?" tanya Shiho.
"Di sini lebih baik. Setidaknya di sini aku cuma mendapatkan tatapan mautmu, kalau di sana aku akan mendapatkan teriakan pemabuk dan kadang-kadang aku juga dapat tatapan maut ibunya Ran kalau dia sedang berkunjung," jawab Shinichi.
"Tapi bukankah itu impas. Setidaknya kau mendapatkan tatapan penuh cinta dari pacarmu," ucap Shiho sambil nyengir.
"Ha ha ha," ucap Shinichi tertawa garing.
"Oh ya, kalau kau sudah selesai, aku ingin kau mengantarku belanja ke supermarket," ucap Shiho.
"Kau tidak akan menyuruhku membayar belanjaanmu kan?" tanya Shinichi dengan curiga.
"Hmm, bagaimana ya? Aku akan mengeceknya dulu," jawab Shiho sambil membuka dompet Shinichi yang entah bagaimana sekarang ada di tangannya.
"Hei, itu kan dompetku!" seru Shinichi sambil berusaha merebut dompetnya kembali tapi Shiho segera menghindar karena dia belum melihat isinya.
"Hmm, sepertinya kau punya cukup uang. Kalau begitu 50-50 ya," ucap Shiho sambil melempar dompet itu kembali ke pemiliknya.
"Dasar!" gerutu Shinichi sambil memasukkan dompetnya kembali ke sakunya sementara Shiho hanya tertawa.
Shinichi kembali menekuni PR-nya dan 15 menit kemudian dia sudah selesai.
"Aku sudah selesai, berangkat sekarang?" tanya Shinichi.
"Oke," jawab Shiho kemudian dia pergi ke kamarnya untuk mengambil jaket dan dompetnya.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah dalam perjalanan ke supermarket. Mereka berjalan kaki sambil berdebat tentang bahan makanan yang akan mereka beli. Sesampainya di supermarket, Shiho langsung menuju ke tempat bahan makanan segar sementara Shinichi mengikutinya sambil mendorong troli belanjaan. Beberapa orang yang sedang berbelanja di situ sampai mengira bahwa mereka adalah pasangan muda karena mereka terlihat begitu serasi, apalagi ketika Shinichi merengek pada Shiho untuk membeli sesuatu dan Shiho menolaknya dengan tegas. Mungkin Shinichi lupa kalau sebenarnya dia bisa membelinya sendiri.
"Hei, Shiho, ada stand aksesoris di sana. Ayo kita lihat," ucap Shinichi sambil menarik tangan Shiho sehingga Shiho pun mengikutinya.
"Apa kau mau beli untuk pacarmu?" tanya Shiho sesampainya di stand aksesoris tersebut.
"Tidak. Ran sudah punya banyak. Aku ingin beli untukmu," jawab Shinichi.
Shiho menatap Shinichi dengan heran kemudian dia menempelkan bagian belakang telapak tangan kanannya di kening Shinichi.
"Kelihatannya kau tidak demam," ucap Shiho dengan heran sambil menarik tangannya kembali.
"Oi! Oi! Apa maksudnya itu?" ucap Shinichi kesal.
"Aku hanya heran karena kau ingin membelikanku sesuatu seperti ini makanya kupikir kau demam," ucap Shiho sambil tertawa geli.
"Terserah. Kau kan teman baikku makanya aku ingin membelikanmu sesuatu," ucap Shinichi.
"Kalau begitu seharusnya kau membelikanku dompet Fusae yang kuinginkan itu," ucap Shiho.
"Ya sudah kalau kau tidak mau. Kita pulang saja," ucap Shinichi dongkol.
"Ya, ya, aku mau. Begitu saja marah," ucap Shiho sambil menahan Shinichi agar tidak pergi kemudian mereka berdua mulai melihat-lihat aksesoris yang dipajang di stand tersebut.
Sementara itu, Ran baru saja masuk ke supermarket tersebut untuk membeli bir ayahnya. Ayahnya terus merengek minta dibelikan bir dan kebetulan sedang ada diskon untuk produk bir di supermarket tersebut sehingga dia pun memutuskan untuk pergi ke supermarket tersebut.
Ran berjalan sambil melihat-lihat dan secara tidak sengaja dia melihat Shinichi. Dia pun tersenyum dan mulai melangkah menghampiri Shinichi namun langkahnya segera terhenti ketika dia melihat Shinichi mengambil sebuah jepit rambut dan memasangkannya di rambut seorang wanita yang ada di sebelahnya. Dia mengenali wanita itu sebagai Shiho dan senyum langsung lenyap dari bibirnya.
Entah kenapa Ran segera mencari tempat persembunyian yang bisa membuatnya tidak terlihat oleh Shinichi dan Shiho sementara dia mengawasi mereka. Setelah bersembunyi, dia melihat Shiho memasangkan jepit rambut di rambut Shinichi dengan paksa kemudian tertawa sementara Shinichi memandang Shiho dengan kesal sambil berusaha melepaskan jepit rambut itu dari rambutnya. Lalu dia melihat penjaga stand aksesoris memberikan nota pada Shinichi lalu Shinichi dan Shiho pergi ke kasir untuk membayar belanjaan mereka yang ada di dalam troli yang didorong oleh Shinichi. Setelah itu, dia melihat Shinichi dan Shiho keluar dari supermarket sambil membawa barang belanjaan mereka.
Ran keluar dari tempat persembunyiannya dengan air mata tergenang di pelupuk matanya. Bukankah seharusnya yang bersama Shinichi tadi adalah dirinya? Tapi kenapa Shiho yang ada di sana dan dia hanya menjadi penonton? Dia tahu dia tidak seharusnya cemburu pada Shiho tapi dia punya alasan yang bagus untuk itu.
Bersambung...
