Naruto Disclaimer Masashi Kishimoto
Baby Boss
Genre : Fantasy, Family, Drama, Romance, Hurt/Comfort, and etc.
Rate : M
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Orochimaru, Kabuto and friends.
Main Pair : SasuNaru
Warning! : OOC, OC, Typo (s), AU, AR, AT, Yaoi Fic, and many more!
Author tidak mengambil keuntungan materi apapun dari fanfiksi yang di-publish.
.
.
Chapter 9 Freedom
.
.
Lepas dari kejadian sebelum Sasuke masuk rumah sakit, saat ini sang penguasa tahta tertinggi Uchiha telah tiba. Fugaku datang bersama sang istri, yang mana langkah kakinya saat tiba terdengar begitu cepat, firasat buruk tengah membuatnya khawatir saat ini.
Setelah mencari kedua anaknya, hanya Itachi lah yang ia temui, sedang terbaring di dalam kamar. Tapi tidak untuk Sasuke. Membuatnya semakin menduga-duga.
"Di mana adikmu?!" tanyanya sambil bertolak pinggang.
"Paman, Nii-san sedang sakit," sahut Izuna yang berada di samping Itachi.
"Diam! Aku tidak sedang berbicara kepadamu, Izuna!" bentak Fugaku kepada keponakannya.
Izuna terdiam, ia menggerutu kecil terhadap sikap pamannya yang galak itu. Tanpa perintah, Izuna kemudian keluar dari dalam kamar Itachi, mencoba melindungi diri dari sengatan sang paman.
"Itachi! Ayah bertanya kepadamu!" Fugaku di ambang emosi.
Mikoto pun datang mendekati Fugaku dengan wajah cemas nan suram. "Aduh, Sayang. Sasuke tidak ada, Naruto pun tidak ada. Bagaimana ini?" Mikoto mulai menangis sambil mengelap wajahnya yang belum basah terkena air mata.
Ibu ini bukannya menenangkan malah membuat ayah semakin murka, doh! Itachi makan hati.
"Itachi, kalau ada apa-apa dengan adikmu, ayah akan membuatmu menjadi patung selamat datang di manshion ini. Ngerti kamu!" seru sang ayah lalu bergegas keluar dari kamar anaknya. Ia berniat mencari Sasuke sendiri.
Patung selamat datang? Apa?! Itachi mulai mencerna kata-kata sang ayah. Ia sama sekali tidak dapat membantah.
NGIIIKKK
Tiba-tiba Itachi kesulitan bernapas, ia memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Izuna yang sedari tadi mengintip dari balik ruangan segera mendekati kakak sepupunya itu.
"Nii-san, kau tidak apa-apa?" tanya Izuna yang cemas.
Itachi hanya mangap-mangap tanpa bersuara. Ia terus memegang dadanya.
NGGIIKK
Itachi mulai kekurangan oksigen.
"Nii-san, jawablah!" Izuna masih menunggu jawaban dari Itachi.
NGIIIK
Itachi berusaha mengambil napas tapi tidak bisa.
"Nii-san! Nii-san!"
Izuna malah mengguncang-guncang tubuh Itachi agar menjawab pertanyaannya. Dan seketika itu juga Itachi tidak sadarkan diri.
.
.
.
Sepuluh menit kemudian...
Terlihat mobil ambulan yang menurunkan pasien dengan cepat dari dalam mobil. Beberapa petugas tampak sigap dalam mengatasi pasien yang di ambang sekarat. Tubuh muda tapi berkeriput itu segera saja di bawa masuk ke dalam ruangan unit gawat darurat.
"Itachi ..." Mikoto menangis melihat anaknya terbaring tak sadarkan diri, sambil membuang ingus yang mampet di sebuah kertas tisu yang ia pegang. "Itachi, huhuhu." Sebagai seorang ibu tentunya tak ingin melihat anaknya sakit.
Dari kejauhan, Izuna berlari mendekati Mikoto, memberi kabar bahwa Sasuke juga sedang berada di dalam rumah sakit yang sama.
"Apa katamu? Huaaaaaa!" Mikoto menangis semakin menjadi-jadi.
"Bi-bibi, tolong, Bi. Ini rumah sakit. Tolong pelankan volume suaramu," pinta Izuna yang sweatdrop saat melihat bibinya menangis, menjerit-jerit.
Aku jadi serba salah, awalnya aku ingin menceritakan yang sebenarnya kalau Sasuke sedang di rawat di sini. Ini malah bertambah lagi satu orang dari keluarga kipas yang ikut dirawat. Izuna tak habis pikir, mengapa ini yang terjadi. Seperti sebuah lagu.
Tanpa direncanakan, Sasuke dan Itachi sama-sama dirawat di sebuah rumah sakit terelite di kota itu. Yang mana sang kakak menyusul adiknya karena ia tidak sanggup mendengar ancaman sang ayah yang akan menjadikannya patung selamat datang di depan manshion Uchiha.
Bayangkan bagaimana nasib Itachi jika sang ayah benar-benar mewujudkan ancamannya. Menjadikan Itachi sebuah patung selamat datang di manshion keluarga Uchiha sendiri.
Para sahabat yang se-geng dengan Itachi segera bertindak mendengar perihal tentang temannya yang di rawat di rumah sakit. Mereka menyiapkan diri untuk menjenguk si tuan muda yang telah berkeriput ini.
"Hadoohhh! Banyak amat yang loe bawa, Dan! Loe mau piknik apa ngejenguk si Ita?! tanya Kakuzu yang sudah tidak dapat menahan amarahnya.
Hidan membeli banyak buah tangan untuk diberikan kepada Itachi. Ada roti lapis, susu, mesis, selai, semangka, jeruk dan juga durian yang harum baunya. Karena hal itulah yang membuat Kakuzu pusing tujuh keliling. Ya maklum saja, uang kas Akatsuki dibobol habis oleh si wajah maskulin, Hidan.
"Enak durennya, mau gak lo, Zu?" goda Hidan kepada Kakuzu sambil mencicipi buah durian matang. "Jangan-jangan lo marah karena gak gue tawarin ini duren, ya?" celetuk Hidan sambil nyengir gak karuan.
"Hidan no Baka! Gue lempar pake semangka juga, nih!" Kakuzu sudah bersiap melempar Hidan dengan semangka Jepang yang berbentuk kotak persegi.
"Weeeiiitttt!" Kisame segera datang menahan Kakuzu.
"Sabar, Zu, sabar. Kita ini sodara masa mau berantem?" cegah Kisame.
Kakuzu pun mengurungkan niatannya.
"Jadi kagak jenguk Itachi? Sudah hampir malam, nih! tanya Kisame kemudian berusaha mengalihkan perhatian Kakuzu.
"Jadi, jadi. Tapi sebelumnya gue icip duren ini dolo. Wanginya enak banget. Hemmh." Yahiko si Pain tiba-tiba datang lalu ikut mencicipi duren yang sedang Hidan makan.
"Oiii, oiiii, Muka tindik! Buruan lagi!" teriak Nagato yang sudah menunggu di depan pintu markas Akatsuki.
"Iya, iya." Pain kemudian membawa beberapa buah-buahan untuk Itachi, sisanya... seperti biasa dibawa anggota yang lain. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
.
.
.
Sementara itu...
Terlihat uke merah gahar sedang mendatangi resepsionis rumah sakit untuk menanyakan nomor ruangan tempat Itachi di rawat. Tanpa sengaja ia bertemu dengan Naruto, yang tak lain adalah sepupunya sendiri.
"Kau!" Keduanya kompak saling tunjuk.
"Kyuubi-chan?"
"Naruto?" Kyuubi terkejut melihat wujud kloningannya.
"Kok Kyubi-chan berada si sini?" tanya Naruto polos.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Bodoh!" jawab Kyuubi sambil memasang wajah sebalnya.
"Ehh, aku ingin melihat bayiku." Naruto menjawab.
"Bayi? Kau sudah menikah, Naruto?" tanya Kyuubi lagi, ia terkejut dengan ucapan Naruto.
Mereka lalu berjalan ke arah lift rumah sakit. Lift rumah sakit pun tak lama terbuka, mereka segera masuk ke dalamnya.
"Bukan, aku bekerja di tempat penitipan bayi, Kyuubi-chan. Lebih tepatnya, sekarang aku menjadi baby sitter seorang bayi unggas. Upps! Bukan. Maksudku bayi tampan berambut unggas." Naruto keceplosan menyebut Sasuke dengan sebutan bayi unggas.
"Oh, begitu. Di mana bayi asuhmu?" tanya Kyuubi lagi.
PING
Tak lama pintu lift itu pun terbuka, mereka sampai di lantai tujuan.
"Itu, Kyuubi-chan, di nomor 504. Aku duluan, ya. Maaf aku terburu-buru."
Naruto segera bergegas meninggalkan Kyuubi dengan membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai salam penghormatan. Kyuubi saat itu merasa aneh karena nomor ruangan tempat bayi yang di asuh oleh Naruto bersampingan dengan ruang rawat Itachi.
Jangan-jangan! Kyuubi bergidik sendiri.
Ada perasaan jika bayi yang diasuh oleh Naruto adalah bayi yang hilang di tangannya saat itu. Dan seperti biasa, perasaannya itu tidak pernah meleset dalam hal mengira-ngira, seperti seorang mbah dukun yang sedang ngobatin pasiennya. BUURRRRR!
.
.
.
Di lain tempat, di perjalanan Akatsuki…
"Sempit amat mobil segede ini, ya?" gumam Kakuzu yang duduk di belakang mobil. Ia duduk berhimpitan dengan buah tangan yang akan diberikan untuk menjenguk Itachi.
"Loe ngeluh aja jadi orang!" celetuk Hidan yang sedang asik mengempus rokoknya.
"Huuuuuufftt."
Kisame sendiri terlihat sedang asik mencongkel gigi dengan sebatang tusuk gigi kayu.
"Congkel terus, Me! Tambah jarang gigi lo!" sindir Pain kepada Kisame.
"Biarin, yang jarangkan gigi gue, Pain. Bukan gigi lo!" Kisame kesal karena merasa ritualnya diganggu.
Tiba-tiba...
"Berhentiiiii!" teriak Pain mengagetkan.
Mobil yang sedang dikendarai oleh Nagato itu berhenti mendadak saat mendengar teriakan histeris dari Pain.
"Hadowwww!"
Akibatnya, Kisame ikut berteriak saat tusuk gigi yang ia gunakan menancap di gusinya. Sedang Hidan menelan puntung rokok yang tengah ia hisap. Kakuzu pun ikut terbentur buah duren yang ada di depannya.
"Sakiit, woyyy!" teriak Kakuzu yang masih menggunakan penutup kepala ala padang pasirnya.
Hidan gak bersuara karena menelan puntung rokoknya, Kisame sendiri menangis terisak karena gusinya sakit dan mengeluarkan darah.
"Paaaainnn!" Nagato pun geram dengan ulah Pain yang berteriak itu.
"Ma-mangap, Kawan. Eh, maaf. Tadi gue kayak liat kucing lewat. Makanya gue suruh berhenti." Pain beralasan.
"Mata loe berair, Pain! Mana ada kucing di jalanan ramai kayak gini!" seru Kakuzu dari kursi belakang mobil.
"Maaf, maaf. Kita lanjut ke rumah sakit aja," balas Pain malu-malu.
"Emang lo tau di rumah sakit mana Itachi dirawat?" tanya Nagato yang masih memegang stir mobilnya.
"Enggak," jawab Pain polos.
"Hadoh, Paaaiiinnn!" Nagato kesal dengan rekannya itu. Sudah berulah malah berulah lagi.
"Udah woyy jangan rusuh dulu. Lihat tuh Hidan gak bisa ngomong, megangin tenggorokkannya aja. Si Kisame juga nangis gerung-gerung kaya ubur-ubur kehabisan air. Cepet ke rumah sakit!" pinta Kakuzu dari belakang.
Masih mending gue kayaknya, walau ketusuk duri-duri buah gak jelas ini, curhat Kakuzu sambil melepas duri-duri buah durian yang menancap di wajah tampannya.
Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Nagato melaju ke rumah sakit, tempat di mana Itachi di rawat. Tentunya Pain menelepon Konan terlebih dahulu untuk menanyakan alamat yang lebih rinci, di rumah sakit mana sang Uchiha sulung itu dirawat.
Terlihat Hidan dan Kisame yang menahan sakit selama perjalanan karena ulah si Pain, Yahiko no Baka yang berteriak untuk berhenti mendadak. Untung saja Nagato sudah ahli dalam mengendarai mobil. Jika tidak, maka terjadilah kecelakaan itu. Memang benar, No Pain No Gain.
.
.
.
Malam hari tampak begitu ramai di sekitaran rumah sakit terelit di kota Tokyo. Maklum saja, lebih banyak pengunjung yang datang dibanding jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Tak terkecuali yang menjenguk Itachi, segala macam buah-buahan dibawa oleh para penjenguk dengan memakai seragam bak seorang bodyguard. Mereka berlima, Yahiko Pain, Nagato, Hidan, Kisame dan Kakuzu datang sambil menjinjing buah durian dan juga setundun pisang tanduk sebagai buah tangan yang akan dipersembahkan ke Itachi, teman karibnya. Dan juga beberapa jenis makanan lainnya.
"Oooaaaalaaah, udah ganteng-ganteng gini nguli pisang setundun gue," keluh Hidan yang memanggul setundun pisang itu.
"Gue berobat dululah." Kisame berpisah dari berkelompok, ia ikut mengambil nomor antrian akibat gusinya yang tertancap tusuk gigi.
"Pain, temenin sonoh!" pinta Nagato kepada Pain sambil memonyongkan bibirnya.
"Kok gue?" tanya Pain tanpa rasa berdosa.
"Ya lo yang buntingin gusinya Kisame, tanggung jawab, noh!" jawab Nagato.
"Hah, baiklah." Pain kemudian memisah jalan dengan ketiga temannya. Ia ikut menemani Kisame berobat.
"Lo gak ikut, Baka!" tanya Kakuzu kepada Hidan.
"Entar aja, baru puntung rokok yg gue telen, belum badan lo!" sahut Hidan sambil memonyongkan bibirnya ke arah Kakuzu. Akhirnya ia dapat berbicara setelah berjuang menelan puntung rokok yang menyala.
"Sudah, sudah. Kita akan menjenguk master keriput hari ini. Kalau kalian bertengkar, bisa-bisa garis keriput Itachi seperti Kyuubi." Nagato meledek duo keriput itu.
Ketiganya kemudian bergegas menuju ruangan tempat Itachi dirawat.
.
.
.
Di depan ruang rawat Itachi…
"Sssttt, di dalem ada uke gahar!" bisik Nagato kepada Hidan dan Kakuzu saat ia membuka sedikit pintu ruangan Itachi.
Ternyata mereka didahului oleh Kyuubi yang terlebih dulu datang untuk menjenguk Itachi.
"Terus nih pisang setundun mau tarok mana?" tanya Hidan setengah kesal karena ia tidak dapat bertemu langsung dengan Itachi. Selain berat, tangan Hidan juga sudah pegal bukan main.
"Sabar, sabar. Gue mau nguping pembicaraan mereka dulu."
Nagato kemudian membuka sedikit pintu ruangan tempat Itachi dirawat. Ia mengintip serambi menguping pembicaraan Itachi bersama Kyuubi. Hidan dan Kakuzu ikut bertumpuk mengintip di celah pintu yang sedikit terbuka.
Sementara di dalam ruangan...
"Huhuhu, kenapa semuanya bisa jadi begini, Ita-kun?" Kyuubi terisak-isak sambil menyandarkan kepalanya di dada Itachi yang kekar.
"Aku tidak apa-apa, Kyuubi-chan, aku hanya kaget saja," jawab master keriput sambil memeluk Kyuubi yang memakai seragam jas hitam lengkap.
"Maafin aku, ya. Ini semua kesalahan ku."
Srot!
Kyuubi berbicara kemudian memakai baju Itachi untung mengelap ingusnya.
"Busyet dah, jorki amat tuh si rubah!" Hidan terkejut saat mengintip dari luar ruangan.
"Sssst! Berisik lo, Dan! Ntar ketahuan Kyuubi bisa dicincang lo!" Nagato memperingatkan.
"Okeh-okeh." Hidan kemudian kembali mengintip.
"Semakin hari, semakin aku mencemaskanmu, Ita-kun. Huhuhu. Pokoknya setelah kau sehat aku ingin kembali bercinta," ucap Kyuubi lagi.
"Haaah? What the hell?!" Hidan yang mendengarnya menjadi sweatdrop sendiri.
Kakuzu kemudian mengetok kepala Hidan dari atas.
"Aduuh, Zu. Sakit, Teme!" seru Hidan yang kesakitan.
"Lo berisik!" kata Kakuzu singkat.
Tak lama Naruto keluar dari ruangan sebelah, tempat Sasuke dirawat. Ia terkejut melihat pemandangan tersusun yang berada di depan ruangan rawat Itachi.
"Eeehhh? Kalian?"
Sontak ketiganya melihat ke arah Naruto.
"Eh, eh, kok gitu, sih!" Nagato mulai kehilangan keseimbangan.
BRUGHH!
Ketiga anggota Akatsuki itu terkejut dikala tertangkap basah oleh Naruto. Tanpa sengaja pintu itu pun terdorong ke depan yang membuat ketiganya terjatuh ke dalam lantai ruangan.
"Nagato! Kakuzu! Hidan!"
Itachi lebih kaget lagi saat melihat ketiga temannya itu jatuh bertumpuk di depan pintu ruangan, tempat ia dirawat. Sedang Kyuubi segera melepaskan pelukannya dari Itachi.
"Apa yang kalian lakukan!" Kyuubi marah lalu mendekati ketiganya.
Naruto sendiri segera berlari menuju ruangan tempat Itachi dirawat. Dan untuk yang kesekian kalinya, ia bertemu Kyuubi.
"Eeehh, Kyuubi-chan ada di sini?" sapa Naruto yang segan memanggil dengan sebutan "nii".
Kyuubi tampak malu saat kepergok Naruto. Ia segera beranjak pergi.
"Itachi, aku pergi dulu. Ada urusan yang harus kuselesaikan!" ucapnya ketus sambil berlalu pergi.
"Tunggu!" Itachi berusaha menahan kepergian Kyuubi, tapi hasilnya hanya sia-sia belaka.
"Terus nasib gue kayak mana, nih?" tanya Nagato yang tertimpah tubuh Hidan dan Kakuzu. Ia tidak dapat bergerak, jatuh terlungkup di atas lantai ruangan.
"Oiii, Zu! Bangun lo! Sumpek gue ketindih badan gede kayak lo!" Hidan menepuk-nepuk pantat Kakuzu agar segera bangun dari tubuhnya.
Eh, kenapa jadi enak begini si otong nempel di pantat Hidan, ya? tanya Kakuzu di dalam hati.
Sementara itu Itachi dan Naruto keduanya terlihat sama-sama menundukkan kepala, tanda sweatdrop level dewa.
.
.
.
Di kantor Kepolisian Tokyo…
Terlihat Kimmimaro and the genk sedang masuk ke dalam jeruji besi. Mereka dikenai pasal penculikan dan tindak kejahatan berencana. Cukup hanya Karin, Suigetsu dan Juugo yang mengurusnya. Semua masalah dapat selesai dengan baik.
"Yosh, tinggal satu misi lagi yang harus kita kerjakan," kata Suigetsu bersemangat.
"Biar kali ini aku yang mengurusnya." Karin menawarkan diri.
"Jangan merasa terlalu yakin dengan kemampuan dirimu Karin, misi kali ini akan sedikit-banyak melakukan drama." Suigetsu menyahuti.
"Kalau begitu, biar aku dan Karin yang terjun langsung ke lapangan." Juugo juga ikut menawarkan diri.
"Well, semua sudah disepakati." Suigetsu akhirnya mengiyakan.
Misi mereka adalah mencari jejak dan bukti atas perselingkuhan yang dilakukan oleh Sakura dan pria manja bernama Utakata. Tentunya misi tersebut diwarnai drama dan balada rumah tangga sebagai alibi untuk menutupi penyamaran, Juugo dan Karin akan berpura-pura menjadi sepasang suami istri yang membutuhkan tempat tinggal.
Akankah drama mereka berhasil?
.
.
.
Beberapa hari kemudian...
Sasuke dan Itachi dinyatakan boleh menjalani rawat jalan setelah melewati masa-masa kritisnya. Kini Sasuke telah kembali ke rumah mewahnya. Kedatangan keduanya disambut oleh para pelayan di manshion Uchiha. Isak haru membuat suasana di hari itu begitu syahdu menyentuh kalbu.
"Sasuke, sebentar lagi Profesor Orochimaru akan datang membawakan obat penawar untukmu." Itachi menggendong sang adik yang masih bertubuh seorang bayi.
Sementara Fugaku dan Mikoto tampak cemas menunggu kedatangan Orochimaru. Kabarnya sang profesor akan tiba pada pukul sepuluh pagi. Sedang saat ini sudah pukul 09.55 mereka belum juga datang.
"Mikoto-chan, diamlah sebentar. Aku pusing melihatmu bolak-balik ke sana kemari," pinta Fugaku kepada sang istri yang mondar-mandir di hadapannya.
Madara tampak siap untuk mencoba formula awet muda yang nanti akan Orochimaru bawakan. Karena ia sudah tidak sabar ingin kembali bernostalgia bersama Hashirama dengan tubuh mudanya. Ya Hashirama adalah beloved-nya kakek buyut Uchiha berambut gondrong ini.
Beberapa menit kemudian, bel manshion Uchiha berbunyi. Segera saja para pelayan keluarga Uchiha membukakan pintu lalu mempersilakan masuk untuk tamu yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya.
"Selamat pagi, maaf aku datang terlambat," sapa Orochimaru berpakaian putih-putih layaknya dokter.
"Aku pikir kau tidak akan datang, Profesor. Aku sudah menyiapkan jebakan tikus untuk dijepitkan pada kemaluanmu," sahut Fugaku sinis.
Seketika itu juga Orochimaru terdiam, ia menelan ludahnya. Bukan main perasaan Orochimaru, baru saja datang sudah mendengar ucapan yang mengilukan dari Fugaku, sang juragan besar.
"Maafkan aku." Orochimaru menundukkan kepalanya di tengah-tengah ruang keluarga itu.
"Sudah-sudah. Kau bawa formula awet mudanya? Biar aku yang mencobanya." Madara menawarkan diri.
"Anda jangan khawatir, Madara-sama. Aku membawanya," sahut Orochimaru.
Tentu saja hal itu membuat Izuna merasa jijik dengan tingkah kakeknya, terlalu agresif terhadap formula awet muda yang dibawa oleh Orochimaru. Tua-tua biang keladi. Sudah tua semakin menjadi. Mau jadi apa kakek tua ini, hah? gumam Izuna yang tidak berani mengucapkannya langsung.
Orochimaru kemudian menyiapkan semua perlengkapannya. Tak lama Sasuke pun datang digendong oleh sang baby sitter tampan yang tak lain adalah pemuda bermata biru, Naruto Uzumaki.
"Baiklah, kita mulai saja."
Orochimaru kemudian menyuntikkan formula awet muda kepada Madara, dengan maksud setelahnya akan ia suntikkan formula penawarnya. Tetapi sesuatu pun terjadi…
"Aww, sakit!"
"Tahan sebentar, Madara-sama."
"Bagaimana bisa tahan, ini sakit tahu! Aw!"
Lagi-lagi Madara menjerit kesakitan, padahal Orochimaru hanya menyuntiknya sekali saja.
CLINGGGG!
Beberapa menit kemudian, sesuatu terjadi kepada mbah buyut Uchiha yang satu ini, Madara. Perlahan-lahan uban yang merajalela dari ujung kepala atas sampai ujung kepala bawah mulai tampak menghitam. Madara senang tapi juga kesal karena efek dari formula itu dirinya harus mengalami kejang-kejang bak kestrum listrik tegangan voltage rendah.
ZZZ...ZZZ
Anak-cucu Madara mengabadikan perubahan pada dirinya itu ke dalam benak mereka masing-masing. Dan akhirnya Madara menjadi lebih muda tiga puluh tahun dari usia yang sebenarnya.
"Wow, Amazing!" Izuna terkagum melihat formula itu berhasil.
"Ayah, kau seperti berusia sama denganku." Fugaku ikut takjub.
Orochimaru merasa senang karena formulanya berhasil, ia berbangga hati. Setelah puluhan tahun bereksperimen, akhirnya tercipta juga formula yang luar biasa tersebut.
"Baiklah, Madara-sama. Saatnya aku menyuntikkan formula penawarnya, sebagai bukti bahwa formula penawar ini aman terkendali jika disuntikkan ke dalam tubuh Sasuke.
JRENG JRENGGG
Seketika Madara memasang wajah singutnya. Ia segera merapikan jas hitam yang ia kenakan. "Tidak mau!" serunya sambil mengeluarkan sisir dari saku celana kanannya.
"Ayah!" Fugaku tidak terima.
"Pokoknya tidak mau! Aku tidak jadi menyuntikkan formula penawarnya. Langsung saja berikan kepada Sasuke!" ucap Madara kemudian.
"Tapi, formula itu—" Orochimaru berusaha meminta dana atas formula yang disuntikkan kepada Madara.
"Izuna, tolong kau urus pembiayaan dan kerja sama kita dengan Profesor Orochimaru. Aku menyetujui kerja sama ini," ucap Madara sambil berlalu pergi.
"Ayah, tapi—" Mikoto berusaha menahan kepergian Madara, ia berdiri dari duduknya dan berusaha mengejar.
"Sudahlah, Mikoto. Biarkan saja apa maunya." Fugaku jadi malu hati sendiri.
Semua orang di ruangan itu tidak menyangka jika si buyut mengalami puber keseratus dalam hidupnya. Baik Izuna ataupun Fugaku, mereka terlihat memijit pelipisnya sendiri dikarenakan ulah si Mbah Madara.
Akhir pertemuan, Orochimaru kemudian menyuntikkan formula penawar kepada tubuh Sasuke. Sasuke pun menjerit—menangis. Tapi alhasil, formula penawar itu dapat mengembalikan keadaan tubuhnya ke awal semula, ke tubuh Sasuke yang asli.
Tampannya …. Naruto tak percaya saat melihat Sasuke kembali ke tubuh aslinya.
.
.
.
Malam pun semakin larut, walaupun tubuh tuan muda sudah kembali ke semula, tapi tetap saja Sasuke meminta Naruto untuk tetap tidur bersamanya. Mereka tidur di masing-masing sisi kasur berbahan foam tersebut.
Sasuke berada di sisi kiri sambil menyelimuti tubuhnya sampai ke pinggang, sedang Naruto berada di sisi kanan lalu memiringkan tubuhnya ke arah kanan. Ia tidak sanggup jika harus bertatapan langsung dengan Sasuke.
"Oooiii! Kau tidak sopan memantatiku, Naruto!"
Sasuke merasa risih dengan sikap tidur Naruto yang membelakangi dirinya. Tapi Naruto pura-pura tertidur, ia ingin mencari aman.
"Naruto!"
Sasuke kemudian menarik selimut yang Naruto pakai, tapi tetap saja Naruto tidak kunjung menjawab perkataannya.
"Naruto!"
Sasuke lagi-lagi memanggil, karena kesal tak dijawab, ia akhirnya menarik tubuh Naruto agar menghadap ke arahnya. Dan kemudian telihatlah gurat tiga yang terlukis di wajah sang Uzumaki berambut kuning ini, saat Sasuke menarik tubuh Naruto dengan paksa.
Dia tampak … cantik?
Dipandangi dalam-dalam wajah itu. Entah mengapa, ada suatu gairah yang muncul saat dirinya memandangi dekat wajah Naruto. Sebuah keinginan yang tidak dapat diucapkan, sebuah hasrat menggelora yang rapat tersimpan.
.
.
.
Sarapan pagi untuk hari yang baru tengah Sasuke jalani bersama keluarga. Di meja makan yang besar nan lebar, semua keluarga Uchiha berkumpul. Dari sang kakek yang sekarang sudah menjadi pria perkasa, Fugaku beserta istrinya, Mikoto. Dan kedua anak tampan mereka, Itachi dan juga Sasuke. Serta tak lupa pula Izuna yang menjadi pendamping setia sang kakek.
Hn ... ke mana ya dia?
Hati Sasuke bertanya-tanya, ia mencari ke mana gerangan sang Uzumaki berada. Sejak terbangun dari tidurnya, sang Uzumaki itu sudah tidak terlihat, entah ke mana.
"Naruto tampak tidak ada, ke mana dia, Bu?" tanya Sasuke kepada sang ibu. Ia tampak sangat gagah mengenakan jas hitam lengkap yang membalut tubuh sempurnanya.
"Ayah sudah menyelesaikan urusannya, Sasuke. Jadi dia bisa kembali ke tempat dia bekerja," jawab Fugaku sambil menyantap sarapan paginya.
"Maksud Ayah?" tanya Sasuke lagi.
"Naruto sudah tidak bekerja di sini. Tugasnya sudah selesai." Sang ayah melanjuti.
"Apa?!"
Sasuke terkejut, baru saja semalam ia tidur bersama Naruto, pagi ini si rambut kuning yang biasa menemani hari-harinya sudah pergi begitu saja. Padahal hari ini ada tugas besar yang akan ia berikan kepada Naruto. Ayahnya itu selalu saja bertindak tanpa memberitahu sebelumnya.
Sepertinya aku harus meminta bantuannya di luar jam kerja, ucapnya dalam hati.
Seusai sarapan pagi, Sasuke, Itachi dan Izuna berangkat bersama ke kantor mewah keluarga besar Uchiha. Sedang Fugaku dan Mikoto melanjutkan perjalanan kerja sama bisnisnya di Benua Eropa. Keluarga kaya raya itu selalu dipadati dengan aktivitas bisnisnya, dan tidak ada waktu untuk berleha-leha apalagi bersantai ria. Time is Money.
.
.
.
Pukul dua siang waktu setempat di kantor Uchiha Corp…
"Kau serius ingin pulang sendiri, Sasuke?" Tanya Itachi kepada sang adik.
"Iya, Baka-Aniki! Aku ada urusan hari ini. Aku pinjam dulu mobil anti pelurumu."
Sasuke meminta izin untuk meminjam mobil kakaknya. Itachi pun tidak dapat menolak memauan sang adik, ia mengiyakan tanpa perlawanan.
"Baiklah, itu bukan masalah besar untukku. Masalahku datang jika sesuatu terjadi kepadamu. Ayah pasti membunuhku, Sasuke." Itachi mencoba berpesan secara halus kepada sang adik.
"Kau tenang saja. I'll be ok. Jaa!"
Sasuke segera keluar dari ruangan Itachi setelah mendapatkan kunci mobil sang kakak. Ia berniat menemui Naruto di perusahaan outsourching kmilik Kakashi.
.
.
.
Satu jam kemudian...
"Selamat datang," sapa seorang pegawai Kakashi berpakaian seragam abu-abu.
Sasuke sudah tiba di lantai satu perusahaan jasa perawatan bayi milik Kakashi.
"Ya, terima kasih. Aku ingin bertemu Naruto. Apa dia ada?" Sasuke langsung to the point kepada pegawai wanita tersebut.
"Sebentar, saya cek dulu. Dengan tuan siapa?" tanya si pegawai sambil mengetik-ngetik sesuatu pada keyboard komputernya.
"Sasuke. Uchiha Sasuke," jawab Sasuke singkat.
Seketika saat mendengar nama Sasuke disebut oleh si empunya sendiri, si pegawai tersebut segeramembungkukkan tubuhnya ke arah Sasuke.
"Maafkan aku, Sasuke-sama, jika pelayananku kurang baik. Em, ano. Bolehkah ...," Pegawai wanita itu tampak malu-malu menyampaikan keinginannya, "aku ingin mengajak Anda berfoto selfi, apakah Anda keberatan?" tanya si pegawai, memohon sambil tetap membungkukkan badannya ke arah Sasuke.
Sasuke sweatdrop sendiri. Niat hati ingin menemui Naruto malah diminta berfoto selfi bersama.
Sial! Mengapa aku harus turun tangan sendiri untuk menemuinya?!
Ia menggerutu di dalam hatinya karena kesal sendiri, tidak menyangka jika akan menjadi merepotkan seperti ini. Padahal bisa saja dirinya untuk menyuruh Naruto yang mendatanginya. Tapi entah mengapa, langkah kakinya itu seakan tidak sabar untuk bertemu dengan si Uzumaki ini. Dan pada akhirnya, ia pun menerima ajakan berfoto selfi, bersama seorang pegawai wanita di perusahaan jasa milik Kakashi.
Ini hanya untuk menemuimu, Dobe!'
.
.
.
Beberapa menit kemudian...
Tampak Sasuke yang sedang menunggu kedatangan Naruto di sebuah ruangan kelas VIP. Sayang sang pemilik perusahaan, Hatake Kakashi sedang tidak berada di tempat. Sehingga ia tidak tahu betapa tampannya sang bungsu Uchiha ini.
Pintu ruangan pun dibuka dari luar, tampaklah sang Uzumaki memasuki ruangan dengan berbandan ala pelayan. Memakai seragam hitam setinggi lutut dan berbando putih berenda. Ia kemudian berjalan mendekati Sasuke.
"Selamat siang, Tuan," sapa Naruto memberikan salam.
Sasuke segera beranjak berdiri dari duduknya, ia mendekati Naruto. Berjalan sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
"Jangan terlalu formal, Naruto. Panggil saja aku Sasuke. Seperti biasanya," sahut Sasuke yang meminta agar Naruto bersikap biasa-biasa saja.
"Baik," jawab Naruto kemudian.
"Kedatanganku kemari karena ingin memberikan pekerjaan tambahan untukmu. Satu hari saja. Apa kau keberatan?" tanya Sasuke.
"Maksud Anda, Tuan?" Naruto tidak mengerti akan maksud ucapan Sasuke.
Hn, masih saja. Dasar Dobe! gerutunya di dalam hati karena Naruto masih bersikap formal kepadanya. "Begini, Naruto. Aku ingin lusa pagi kau menemaniku dan berdandan seperti ini." Sasuke menunjukkan sebuah foto kepada Naruto, Naruto pun melihatnya.
"Ini ...?"
Naruto melihat gaya berpakaian seorang gadis di selembar foto yang Sasuke berikan. (Seperti oireke no jutsu milik Naruto, FemNaru)
"Berdandanlah seperti itu! Lusa pagi pukul sepuluh aku akan menjemputmu," ucap Sasuke kemudian.
"Tapi bagaimana dengan—"
"Kau tenang saja. Sehari kau bekerja untukku, aku akan membayarmu satu bulan penuh. Seperti kau bekerja di perusahaan ini," lanjut Sasuke.
Karena iming-iming uang yang sangat besar dan memakan waktu hanya satu hari, otomatis Naruto segera mengiyakannya.
"Baiklah. Sampai nanti." Sasuke lalu segera beranjak pergi dari ruangan itu.
Pertemuan yang sangat singkat di antara keduanya. Maklum saja, beberapa detik begitu berharga untuk seorang pebisnis seperti Sasuke. Tapi entah mengapa, hanya demi untuk menemui Naruto, Sasuke rela membuang waktunya.
Naruto membungkukkan badannya saat Sasuke beranjak pergi meninggalkannya, tanpa berani menatap sang bungsu Uchiha yang sedari tadi memperhatikan dirinya itu.
.
.
.
Hari yang ditentukan telah tiba, Sasuke duduk di kursi belakang mobil, memakai kemeja putih lengan panjang yang dibalut jas hitam, celana dasar katun hitam dan juga sepatu pantofel hitam mengkilat, membalut tubuh sang pembisnis muda yang satu ini. Ia tampak sedang menunggu seseorang sambil mengerjakan beberapa pekerjaan secara online.
Tak lama, datanglah seorang wanita cantik berkepang dua. Dadanya terlihat berisi, memakai dress berwarna merah sepuluh senti di atas lutut. Kedua kakinya dihias high heels tujuh senti meter yang juga berwarna merah. Dipergelangan tangan kiri terdapat gelang mutiara putih dan di jari manis tangan kanannya bersanding cincin berlian yang menambah kemewahan dara cantik itu. Rambut kuning dan gurat tiga di kedua pipinya, tidak dapat memungkiri jika dia adalah sang Uzumaki yang sedang menyamar.
"Silakan masuk!"
Pengawal Sasuke yang duduk di samping supir membukakan pintu untuk si wanita jadi-jadian itu. Ada perasaan geli di hatinya. Tapi karena perintah sang tuan muda, mau tidak mau pengawal yang juga memakai seragam jas hitam lengkap itu tertunduk patuh.
"Sasuke-sama, apakah ini sesuai dengan yang kau inginkan?"
Naruto mencoba bertanya tentang penampilan barunya itu kepada Sasuke. Tapi Sasuke yang jaim tidak menoleh sedikit pun ke arah Naruto, ia malah memerintahkan ke si supir untuk segera berangkat ke lokasi tujuan.
Ya, hari ini akan ada misi drama dari Sasuke untuk Naruto. Berpura-pura menjadi kekasih barunya di hadapan dara bersurai pink, Haruno Sakura.
.
.
.
Di perjalanan...
Sasuke telah selesai mengerjakan tugas kantornya. Ia kemudian melirik ke arah Naruto yang tampak risih memakai dress mini.
"Apakah waxing tadi sangat menyakitkan untukmu?"
Tiba-tiba Sasuke bertanya, tanpa angin tanpa sebab yang menyebabkan dirinya terkejut. Karena tidak seperti biasanya Sasuke mengajak bicara orang rendahan seperti Naruto. Ya Naruto hanyalah seorang baby sitter miskin yang hanya mempunyai cinta dan kasih sayang untuk bertahan hidup. Berbanding terbalik dengan Sasuke yang mempunyai segalanya.
"Hem, ano. Tadi itu ... sangat menyakitkan bagiku, Sasuke-sama." Naruto mencoba menjawab apa pertanyaan sang tuan muda.
Dengan segera, Sasuke sedikit memutar tubuhnya ke arah Naruto yang duduk di sebelah kirinya. Ia kemudian memperhatikan kaki mulus Naruto tanpa rambut halus seperti pria pada umumnya. Sasuke kemudian mengangkat tinggi tangan kanan Naruto yang membuatnya risih bukan main.
"Sasuke-sama!"
Pria berambut unggas itu tanpa banyak bicara mengangkat tangan kanan Naruto tinggi-tinggi ke atas, untuk melihat bahwa perawatan yang memakan biaya banyak itu sesuai dengan apa yang diinginkannya.
"Ketiakmu bersih."
Segera Sasuke melepaskan tangannya dan seketika itu juga tangan kanan Naruto terhempas.
Naruto malu, bingung dan merasa aneh sendiri dengan perlakuan Sasuke kepadanya. Ia sempat bergumam di dalam hati.
Astaga, tubuhku di-waxing semua tadi. Apakah Sasuke juga akan melihat hasil waxing pada area kejantananku?
Naruto membuang pandangannya ke kaca mobil sambil menelan ludah berkali-kali. Ia takut dan juga geli jika apa yang dipikirkannya itu benar-benar terjadi.
"Naruto, bersiaplah! Sebentar lagi kita akan segera sampai di kediaman Sakura."
Sasuke kemudian memperingatkan si Uzumaki sambil memakai kaca mata hitam ala aktor The Mattrix. Ia sudah siap untuk memainkan perannya sekaligus memberi pelajaran yang istimewa kepada Sakura.
.
.
.
Bersambung…
