[That Thing and I]
Cast:
Kim Namjoon X Kim SeokJin
Min Yoongi X Park Jimin
Kim Taehyung X Jeon Jungkook
Jung Hoseok
Genre: romantic, fantasy, school life AU
Warning! Typo(?), OOC, GS, OC
© Red Casper
.
Chapter 9
Seokjin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Jimin yang sedang berganti pakaian dengan seragam sekolahnya sambil melantunkan beberapa nada. Gadis itu sedang dalam suasana hati yang benar-benar baik. Semalam saat Namjoon keluar dari kamar, Jimin masuk dengan senyum lebar yang tidak mau pergi dari wajah manisnya bahkan saat tidur, melalui malamnya dengan hati bergemuruh bahagia. Seokjin tidak tau karena apa, dia akan bertanya nanti, tapi Jimin tau benar kenapa paginya terasa begitu hangat juga sabtu malam terasa begitu lama.
Kedua gadis itu turun ke ruang makan beriringan, membicarakan masalah Namjoon semalam dengan suara berbisik. Seokjin cerita bahwa dia terus pura-pura tidur waktu itu, Namjoon tau itu pura-pura jadi sang pria tetap bicara tanpa meminta jawaban Jin, berkata bahwa dia ingin Jin kembali ke kamar mereka agar tidak ada lagi yang masuk kesana sembarangan, Namjoon ingin Jin menjaga kamar itu juga hatinya agar tidak dimasuki orang lain. Walaupun Jin dalam mode marah semalam, tapi jelas dia bahagia mendengarnya, terlihat dari senyum juga raut wajah puas yang terus-terusan di tampakkannya saat bercerita. sedangkan Jimin hanya terkikik sembari melontarkan beberapa frasa penyemangat untuk Jin mempertahankan Kim Namjoon, dari siapapun.
Sang ratu menambah peraturan baru di dalam rumah sejak ketiga gadis itu tinggal disana, yaitu sebisa mungkin mereka semua harus sarapan dan makan malam di ruang makan rumah utama. Jadi saat Seokjin dan Jimin mendekati meja makan, mereka bisa melihat sang ratu dan Mr. Han masing-masing duduk di ujung meja yang berbeda, Min Yoongi juga Kim Namjoon yang juga sudah duduk bersisian menerima sarapan mereka dari maid. Jadi kedua gadis itu duduk di kursi yang berhadapan dengan para pangeran, menatap makanan di atas meja dengan mata berbinar. Hanya sang ratu yang memegang gelas champagne berisi penuh cairan merah kental, sedangkan mereka semua menyantap makanan manusia normal; sandwich, buah-buahan, nasi goreng, berbagai roti juga sup.
Park Jimin tidak bisa berhenti melirik Yoongi di depannya. Pemuda itu sedang meneguk jus jeruk di gelas tinggi, saat tidak sengaja mata mereka bertemu Yoongi tersedak, batuk keras-keras lalu mengelap bibirnya dengan tisu. Sedangkan Jimin berusaha untuk tidak menertawakannya.
"dimana Jungkook?" suara sang ratu mencuri atensi semua orang disana, menatap dua kursi kosong, "dan Taehyung? jangan bilang mereka masih–"
"selamat pagi"
Sontak semua orang di ruang makan menoleh pada dua orang yang kini berjalan ke meja makan itu. Yang perempuan, Jungkook, berjalan dengan sedikit terseok, melangkah pelan dan hati-hati. Sedangkan yang laki-laki, Taehyung, tersenyum lebar sambil memegangi kekasihnya, membantu sang gadis duduk di kursi kemudian berlari ke kursinya sendiri.
"kau apakan Jungkook sampai dia sulit berjalan?" tanya Namjoon, menuding Taehyung dengan tatapan mautnya. Sementara itu, Jimin dan Seokjin berbisik menanyai keadaan Jungkook dan gadis itu menjawab dengan senyuman dan bisikan I'm okay.
"aku hanya menjadikannya holderku –"
"berapa ronde?" sang ratu memotong perkataan Taehyung, melakukan hal yang sama dengan Namjoon, menatap putra termudanya seakan dia bisa memotong leher Taehyung hanya dengan tatapan itu.
"a-aku tidak ingat" jawab Taehyung tergagap, mengerling kekasihnya yang kini menggigit sandwichnya perlahan.
Sang ratu menghela nafas berat lalu meletakkan gelasnya dengan gerakan yang anggun, "aku tidak ingin ikut campur masalah ranjangmu nak, tapi harusnya kau tau Jungkook masih manusia saat kalian melakukannya untuk pertama kali, tubuhnya tidak akan kuat melayani nafsu besarmu itu–" Taehyung meneguk air putih sambil menunduk, " –bijaksanalah, pangeran"
"ne.." Taehyung bergumam, melirik Jungkook yang kini tersenyum penuh pengertian padanya.
Setelah itu mereka makan dalam diam, Seokjin melihat sang ratu sedang memperhatikannya saat menyuap gigitan besar sandwich. Tatapan mereka bertemu, dan sang ratu tersenyum, "enak?" tanyanya penasaran.
"enak.." Seokjin dengan ragu menyodorkan sandwich lain padanya, "anda mau?"
Sang ratu bergumam memikirkan apa yang akan terjadi pada tenggorokannya jika menelan segumpalan protein, lalu berkata dengan jijik "tidak usah –hanya menyenangkan melihatmu makan"
"dia punya julukan eat Jin" kata Namjoon masuk dalam pembicaraan absurd dua wanita itu, membuat sang ratu memperhatikan Seokjin lebih antusias dan Seokjin yang tertawa canggung, dia masih marah pada lelaki itu.
"aku senang melihat wanita yang tidak mempermasalahkan makanan," kata ratu berbinar, "kau tau kan wanita biasanya menolak banyak makan karna akan bermasalah dengan berat badan, yah walaupun dalam kasusmu kau tidak akan gemuk walau makan sebanyak apapun –kau holder kan. kita harus keluar makan sama-sama nanti"
Seokjin tersenyum kemudian berkata, "tentu"
" –oh, kalian juga diajak"
Jimin dan Jungkook saling berpandangan saat sang ratu mengatakan itu dengan bersemangat, memikirkan akan punya waktu bersama tiga menantunya. Sedangkan kedua gadis itu berpikir dengan cemas tentang apa yang akan mereka lakukan saat makan diluar bersama seorang ratu vampire? Mereka tidak akan memburu leher orang atau hewan di hutan kan?
"oh ya, omong-omong, kita harus melaksanakan pernikahan setelah kelulusan. Tidak akan sekali bertiga, ini bukan pernikahan massal, kita akan menentukan urutan pernikahan nanti"
Jadi beginilah yang terjadi saat kata pernikahan terlontar dari bibir sang ratu vampire; Namjoon terlihat tenang, tapi menatap Seokjin yang tidak mau beradu pandang sama sekali dengannya. Mereka masih punya masalah dengan kesetiaan dan sekarang sang ratu meminta sebuah pernikahan. ide buruk. Taehyung yang paling terlihat antusias, menatap Jungkook dengan tatapan hai calon istriku yang dibalas gadis itu dengan cibiran jangan berlebihan, memalukan. Jimin yang paling galau, tentu saja, dia melirik Yoongi yang sedang menyeka bibir dengan tisu pertanda dia sudah selesai dengan acara sarapannya, terlihat tidak tertarik dengan topik yang dipilih ibundanya. Hal itu membuat Jimin menggigit bibir, jika pernikahan akan diurutkan dari yang tertua, bukankah harusnya Yoongi yang duluan menikah? Sedangkan hubungannya dengan Jimin masih belum jelas. Ciuman pertama yang gagal, juga kencan pertama yang baru akan dimulai sabtu malam. Entah pernikahan akan jadi hal menyenangkan atau tidak.
.
.
Yang membuat Jimin heran adalah dia melihat dengan jelas bahwa tadi pagi Jungkook berjalan terseok kesusahan, tebakan Jimin dia akan duduk di kelas sepanjang hari dan meminta dibelikan sesuatu di kantin saat istirahat agar orang lain tidak melihat caranya berjalan yang seperti menahan rasa nyeri di kakinya. Tapi tebakan itu salah besar, Jungkook malah berlari ke arahnya waktu Jimin keluar kelas, berkata bahwa Jimin tega meninggalkannya sendirian. Padahal, astagah, Jimin sangat mengkhawatirkan Jungkook.
"kau oke?" Jimin mematai Jungkook yang sekarang sedang duduk di depannya, melahap semangkuk besar ramyun.
"yep –aku lapar sekali, tadi malam Taehyung tidak mengizinkan aku keluar makan malam" Jungkook tertawa pada dirinya sendiri, mengingat wajah Taehyung yang memohon agar tidak keluar kamar sambil menciumi leher Jungkook terus-menerus, "dasar mesum"
"Namjoon oppa bilang dia punya semacam gairah yang menggebu-gebu dan merepotkan" Jimin mengulang kalimat Seokjin tadi malam, membuat Jungkook tertawa.
"yeah, merepotkan. Dia tidak mau membiarkanku istirahat. Tapi dia hebat –"
" –ew"
"tidak terlihat lelah –semacam strong man?"
" –heol "
"padahal dia yang terus-terusan bergerak, kau tau maksudku"
"aku tidak tau" Jimin meneguk colanya, "bisakah kalian tidak menceritakan hal-hal seperti itu padaku?"
Jungkook mencibir, menopang dagunya di telapak tangan, "ups, aku lupa kalau kau dan Yoongi oppa sama sekali tidak ada perkembangan." Jimin tersedak, "kencan saja tidak pernah, lalu kapan kau akan jadi holdernya?"
"sialan kau" Jungkook tertawa keras saat Jimin melempari kepalanya dengan kaleng cola kosong, "aku akan kencan sabtu ini"
"hooo, jinjja?" Jungkook masih tertawa, membuat Jimin kesal. Tapi kemudian kedua gadis itu saling bertatapan lalu saling menertawakan, entah apa.
"err Jeon Jungkook?"
"hm?"
Jimin menunjuk dahi Jungkook dengan panik, sedangkan Jungkook sendiri bingung memegangi dahinya, "apa?"
"kurasa aku melukaimu," Jimin cepat-cepat mencari tisu di saku seragamnya. Lalu saat dia baru akan menyeka darah dari luka itu, tiba-tiba saja lukanya hilang tak berbekas. Padahal tadi jelas-jelas Jimin melihat ada garis kemerahan di dahi Jungkook, mungkin tergores kaleng yang dilemparinya.
"lukanya hilang?" komentar Jungkook waktu melihat reaksi Jimin, sekarang gadis itu sedang terpaku menatap dahinya dengan tangan terangkat memegang tisu. Melihat itu, Jungkook sadar bahwa dia bukan manusia lagi, bukan makhluk biasa lagi. dia berubah, "aku sudah jadi holder. Kurasa itu juga yang membuatku tidak merasa nyeri lagi waktu sampai di kelas –untung tidak ada yang memperhatikan"
"Jeon Jungkook, dan kurasa luka itu bukan satu-satunya masalah," Jimin mengedarkan pandangan pada sekitar. Kantin itu ramai sekali, bahkan ada beberapa gadis yang dari tadi melirik mereka berdua,
"rambutmu. Akarnya berubah silver –oh, astagah, rambutmu berubah warna" dengan panik Jimin bangkit dari duduknya, menarik lengan Jungkook dan mengajaknya berlari pergi dari tempat ramai itu. sekarang warna silver mulai menjalar keseluruh rambut hitam Jungkook, dan rambut yang berubah warna sendiri bukan hal yang baik untuk jadi tontonan.
Mereka berbelok di perpustakaan, membatalkan niat bersembunyi di kamar mandi, karna pada saat jam istirahat, kamar mandi perempuan adalah tempat teramai kedua setelah kantin. Siswa perempuan banyak yang nongkrong disana hanya untuk memperbaiki make up juga menggulung rambut. Sedangkan perpustakaan adalah tempat tersepi pertama di sekolah, banyak yang menghindari ruangan berbau kertas itu. selain karna tempat luas itu di penuhi banyak sekali rak-rak tinggi, juga karena para siswa ini muak melihat bertumpuk-tumpuk buku pelajaran yang tersusun rapi disana.
Jadi disanalah mereka, terengah, bersandar pada rak tinggi buku-buku antropologi. Jimin memperhatikan rambut Jungkook yang sudah setengah silver, sekarang warna-warna itu menjalar lambat ke ujung-ujung,
"cepat telpon Taehyung, kau harus pulang. Kau tidak mungkin masuk kelas dengan warna rambut yang berubah hanya dalam waktu setengah jam" kata Jimin cemas.
Jungkook mengangguk lalu melakukan apa yang dikatakan Jimin, mengambil ponsel dari sakunya, menelpon Taehyung. Dan ketika Jungkook sibuk menceritakan masalahnya pada Taehyung di telpon, Jimin tidak sengaja mengerling ke luar jendela yang tidak jauh dari tempat mereka, terkejut melihat sosok dengan jubah hitam bertudung yang menutupi kepala berjalan hati-hati kedalam hutan. Jimin semakin terkejut saat sosok itu menoleh untuk memperhatikan sekitarnya, meyakinkan diri bahwa tidak ada seorangpun yang melihat. Tapi Jimin melihatnya dari jendela perpustakaan lantai dua, Jay Waterson melangkah masuk kedalam gelapnya hutan.
"apa yang kau lakukan, Jay?" Jimin berbisik pada angin yang berhembus, meniup rambutnya.
.
.
"dengarkan aku"
"aku tidak ingin mendengar apapun"
"Jin –"
" –lepaskan"
Pasangan yang satu ini sama sekali tak mempedulikan sekitar mereka saat bertengkar. Namjoon mengejar Seokjin yang berjalan cepat-cepat di koridor lantai lima, meminta atensi. Seokjin sendiri sedang tidak ingin bicara apapun dengan Namjoon, selalu menghindar ketika Namjoon ingin menghentikan langkahnya. Mengabaikan bisik-bisik dari siapa saja yang melihat adegan drama percintaan mereka.
Seokjin memilih atap untuk melarikan diri dari Namjoon, walaupun siapapun tau bahwa itu pilihan yang salah. Setelah sampai di atap, dia tidak akan punya jalan lagi.
Dan memang atap adalah pilihan yang salah, benar-benar salah, karna Seokjin langsung melihat Jung Hoseok di sana, duduk di tembok pembatas sedang ngobrol seru sekali dengan Taehyung. Seokjin merasa Namjoon menabrak dirinya karna melihat objek yang sama.
Jung Hoseok sedang bercerita tentang sesuatu dengan sangat bersemangat, tertawa lepas secerah mentari, matanya melengkung seindah bulan sabit, senyumnya begitu hangat. Tak ada seringai menyebalkan yang ditunjukkannya kemarin, tak ada tatapan licik yang ditinggalkannya untuk Seokjin. Dia terlihat begitu manis dengan celana pendek selutut juga kaus biru muda bergaris, menanggalkan celana dan kemeja hitam yang kemarin membuat auranya begitu gelap. Datang dengan segala pesona yang bahkan Seokjin pun terkesima.
"oh, hai" Hoseok melambai pada mereka, Taehyung sekarang sedang menerima telpon dari seseorang, katanya Jungkook.
Seokjin bingung apakah dirinya harus maju atau malah pergi dari sana, dan dia tidak mengerti kenapa sekarang Namjoon meraih tangannya dan menariknya mendekati Hoseok yang kini sedang menggoyangkan kaki, tersenyum pada mereka.
"aku harus pergi" kata Taehyung, tiba-tiba panik.
"holdermu berubah?" tebak Hoseok dan Taehyung langsung mengangguk. Hoseok melemparkan jaket dongkernya yang dari tadi tersampir di tembok pada Taehyung kemudian mengedip, "untuk menutupi perubahannya"
"oh, kau yang terbaik, hyung" Taehyung memeluk Hoseok singkat dan langsung berlari meninggalkan tiga orang itu berhadapan dengan canggung.
Hoseok masih menggoyang-goyangkan kaki, sedangkan Seokjin dan Namjoon berdiri di hadapannya, masih berpegangan tangan.
"apa yang terjadi pada holdernya?" Seokjin bertanya dengan ragu, memandang apapun di belakang Hoseok. Sebenarnya merasa bingung untuk bereaksi di depan pemuda itu, tapi karna ini masalah holder milik Taehyung, yang berarti Jeon Jungkook, dia memberanikan diri.
"Holder Taehyung berubah fisik. Kau juga merasakannya saat menjadi holder kan?" Hoseok menatap Seokjin dengan tatapan ramah yang membuat Seokjin tidak nyaman, "holder milik Taehyung melakukan perubahan sedikit lebih lambat, tidak sepertimu yang langsung berubah di kali pertama melakukan penyatuan. Itu karna holder Taehyung membutuhkan waktu untuk memperbaiki dan memperkuat sel-sel juga organ tubuh sehingga luka ditubuhnya akan sembuh dengan sendirinya –harusnya yang mulia ratu tau tentang ini dan tidak mengizinkan mereka datang ke sekolah."
"apa yang kau rencanakan, Jung Hoseok?" suara Kim Namjoon menginterupsi Seokjin yang baru akan bertanya tentang bagaimana kau tau? Apa semua vampire tau?
Hoseok mengangkat kening, menatap Namjoon dengan ekspresi kesal yang lucu, "aku? Haruskah kuceritakan? –oke, jangan menatapku begitu" Hoseok mengangkat satu persatu jarinya di udara sambil menghitung, "cukup banyak rencana. Sore ini harus ke kantor dewan untuk rapat, malamnya bertemu beberapa klien, lalu berburu –oh, aku belum punya inang, jalan-jalan ke pub mungkin akan menyegarkan pikiran, jadi aku akan kesana. Lalu –"
" –aku sedang tidak bercanda"
"aku juga" Hoseok membalas nada bicara Namjoon yang dingin dengan tatapan kesalnya, "kau yang paling tau kalau aku selalu banyak pikiran, jadi aku butuh musik untuk –"
"bukan itu" Namjoon, walaupun memegang tangan Seokjin dengan erat, berdebar melihat Hoseok yang sedang menatapnya bingung sekarang, ingin memiliki hangat tatapan itu, "kenapa kau berubah? Kemana Jung Hoseok yang kemarin menerobos masuk ke kamarku?"
Hoseok tertawa, mengerling Seokjin sebentar lalu mengedipkan mata padanya, "aku sedang mencoba menerobos hatimu"
"Jung Hoseok!" Namjoon menegurnya dengan suara berat mengancam yang hanya Seokjin dengar jika pemuda itu berhadapan dengan para vampire pembangkang.
"oke-oke" Hoseok mengangkat dua tangan di udara lalu turun dari tempat duduknya, menepuk celana pendeknya, "aku sedang tidak merencanakan apapun, hanya ingin hidup tenang –dan, bisakah kalian berhenti mengumbar kemesraan di depanku?" Hoseok meninju bahu Namjoon main-main, "aku cemburu" lalu mengedipkan matanya lagi pada Seokjin, "aku pergi. Sampai jumpa nanti"
Setelah itu Jung Hoseok menghilang, meninggalkan bayangan warna biru muda samar yang langsung berdenyar hilang. Seokjin langsung melepaskan tangannya dari Namjoon.
"lihat? Kau masih mencintainya" Seokjin memincing tidak suka kemudian bergerak meninggalkan Namjoon, tapi lelaki itu tidak membiarkannya, menahan bahu gadis itu agar tetap disana.
"aku mencintaimu –Kim Seokjin!" Namjoon mengejar Seokjin yang berlari menghindarinya, menangkap gadis itu dalam pelukan, berbisik lirih, "aku mencintaimu," ulangnya pilu, "jika kau tidak rela melihatku dengan orang lain, maka tahan aku di sisimu. Cintai aku. Jangan menghidariku. Biarkan aku merasa nyaman, lalu kau akan mendapati aku dan hatiku berada dalam genggamanmu"
.
.
Bel pulang sudah berdering keras mengagetkan semua penghuni sekolah, menghentikan acara belajar-mengajar di setiap kelas. Para guru berjalan keluar dengan buku di tangan masing-masing, terlihat lelah, sedangkan para siswanya keluar beberapa menit kemudian, berjalan dalam kelompok. Beberapa siswa perempuan berbisik-bisik centil tentang sesuatu, beberapa siswa laki-laki ngobrol heboh tentang kemenangan Madrid dalam Liga Champion tadi malam, ada juga beberapa siswa yang berjalan sendirian, ingin cepat pulang. Salah satunya Park Jimin, walaupun dia tak benar-benar ingin melihat rumah sekarang.
Dia mengirim pesan pada Yoongi bahwa dia tidak akan pulang bersama pemuda vampire itu, jadi Jimin tidak menemukan maserati milik Yoongi di halaman parkir. Tunggangan mewah Taehyung sudah menghilang sejak istirahat, sedangkan Seokjin dan Namjoon baru saja masuk ke mobil mereka dan langsung pergi sebelum melihat Jimin. Tapi dia senang melihat Seokjin sudah mau bicara pada Namjoon, mereka tertawa bersama, dan hal itu melegakan.
Alasan Jimin tidak ingin pulang bersama Yoongi adalah karena dia mengkhawatirkan sesuatu yang dilihatnya tadi, tentang Jay yang masuk ke dalam hutan dengan pakaian mencurigakan. Gadis itu menganggap Jay teman baik, jadi dia memutuskan untuk menunggu sore di perpustakaan, siapa tau Jay datang kesana lagi –sayang sekali, mereka tidak sempat tukaran nomor ponsel.
Jadi Jimin duduk disana, bersandar disofa perpustakaan yang berbau apek, menyumbat telinganya dengan suara merdu Adelle, mengalun lewat earphone yang tersambung pada ponselnya. Jimin kurang tidur semalam –terima kasih pada Kim Seokjin– matanya terasa berat begitu kepalanya tersandar pada punggung sofa, membiarkan diri terbuai dengan ketenangan. Hanya sebentar. Lalu dia merasakan sesuatu menyentuh dahinya, membuat gatal. Saat membuka mata, Jimin melihat Jay sedang menatapnya dari atas, tersenyum senang karna sudah mengganggu gadis itu.
"hei.." Jimin bersuara serak sedangkan Jay duduk di sampingnya sambil mengeluh.
"lama sekali menunggumu tidur"
Jimin mengerutkan kening. Lama? Dia merasa hanya tidur sebentar, tapi mungkin tidak. Karena ternyata matahari diluar sana sudang tenggelam di ufuk barat, dan jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"astagah, aku ketiduran" Jimin berkomentar, menepuk dahinya sendiri.
Jay tertawa, menyapu puncak kepala gadis di sampingnya dengan gemas, "kau kelelahan. Kurang tidur?" Jimin tertawa canggung, tepat sekali. "kau pucat. Nafsu makan vampire manapun tidak akan bangkit jika melihatmu. Mungkin kau akan langsung mati saat disedot lima detik saja"
"jangan bicara hal mengerikan seperti itu padaku" Jimin meninju lengan Jay main-main, berdehem saat Jay kembali menyapu surai lembutnya, "aku –aku melihatmu, omong-omong"
Jay bergumam bingung dengan perkataan Jimin yang tiba-tiba. Dari nada bicaranya, sepertinya gadis itu menahan diri untuk tidak langsung bertanya saat pertama kali melihat Jay tadi.
"melihatku?"
"aku melihatmu masuk hutan" Jimin melihat Jay terkesiap, menahan nafas, "kau melakukan apa disana? –aku tidak bermaksud ikut campur, tapi aku mengkhawatirkanmu. Yoongi bilang ada hal-hal yang tidak menyenangkan di dalam hutan"
Jay terlihat terkejut untuk sesaat, bola matanya bergerak-gerak tidak mau menatap Jimin, lalu tiba-tiba tertawa, "yeah, hal-hal tidak menyenangkan itu adalah vampire, tentu saja. kalau kau yang masuk kesana mungkin aku akan menerkammu –baiklah, maaf. Aku bercanda" Jay semakin tertawa melihat Jimin bergerak untuk melemparinya dengan tas, "aku hanya mengambil beberapa cairan supaya aku bisa kebal sinar matahari. Kau tau masalah kami yang satu itu"
"kalian punya yang seperti itu?"
"tentu saja," Jay menegakkan punggung, bersandar di sofa, "zaman semakin modern kan? kami juga butuh keluar jalan-jalan menikmati pagi yang dingin atau sore yang hangat –yah, walaupun begitu, tetap ada beberapa vampire yang tidak terlalu senang sinar matahari, kebanyakan yang tidak suka seinar matahari merupakan vampire mantan pengikut pemberontakan seratus tahun yang lalu"
"pemberontakan?"
Jay mengangguk, mengingat sesuatu kemudian mengambil dua jus kemasan dari dalam tasnya, memberikan yang rasa stoberi pada Jimin, "para pangeran tidak cerita? Pemberontakan yang di pimpin oleh paman mereka sendiri"
Jimin menggeleng, menusuk sedotan pada kemasan jus kemudian mulai menyeruputnya, "ceritakan" katanya penasaran.
"dulu kerajaan punya tiga orang calon pemegang tahta dengan darah murni, Lady Hee atau Heechul Kim –yang mulia ratu, Richard Jung, dan Lena Park, mereka bukan saudara tapi pelatihan kepemimpinan yang mereka jalani dari kecil di dalam kerajaan membuat mereka dekat seperti saudara" Jay menyeruput jus rasa peachnya, "calon pemimpin sebenarnya adalah Richard, dia memang punya aura seorang raja, bijaksana, tapi sedikit angkuh –well, semua vampire itu angkuh, dua wanita lain mendukungnya. Tapi kemudian perang terjadi dan kerajaan porak vampire butuh seorang pemimpin yang tidak hanya punya aura seorang raja, mereka butuh pemimpin yang akan membantu memenangkan perang, sedangkan Richard malah sibuk menyembunyikan diri, gemetar saat dimintai keputusan. Dan akhirnya Lady Hee yang mengambil alih kepemimpinan"
"dia melakukannya dengan baik?"
"sangat baik." Jay terdengar begitu menyanjung ratunya, "beliau sudah memprediksi perang, jadi beliau menggabungkan gennya dengan gen penyihir animagus –kami sebenarnya tidak terlalu suka penyihir, mereka menyebalkan. Dia melahirkan seorang panglima, seorang ahli strategi perang, juga seorang penyembuh handal. Membuat pasukan semakin kuat, memenangkan perang juga mengendalikan vampire di seluruh dunia. Setelah perang selesai semua vampire bersuka cita, meminta –lebih tepatnya memaksa petinggi kerajaan untuk menurunkan Richard dari tahta, mendukung Lady Hee sebagai ratu"
"mereka benar-benar menurunkannya dari tahta?"
Jay tertawa pelan, "tentu saja. kau ingin melawan kehendak lebih dari seribu vampire?"
Jimin mengangguk, membuang kemasan jusnya yang sudah kosong di tempat sampah dekat rak, "lalu Lena Park bagaimana?"
"dia terbunuh saat perang, vampire cerdas dan baik hati, tidak terlalu mementingkan tahta" Jay melakukan hal yang sama dengan Jimin ketika jusnya habis, "Richard mengasingkan diri di bawah pimpinan yang mulia ratu tapi diam-diam membuat sebuah kelompok pemberontak, menghasut beberapa vampire kuat dan berpengaruh untuk mengikutinya. Lalu mereka menginvasi kerajaan tapi mereka gagal. Panglima kami, Kim Namjoon terlalu kuat, Min Yoongi terlalu ahli menyusun strategi perlawanan, sementara ratu sendiri adalah vampire yang dianugrahi bakat memprediksi sesuatu di masa depan dengan akurat."
"jadi pemimpin pemberontakan itu adalah Richard Jung?"
"yeah. jika kami punya Kim Namjoon sebagai panglima, mereka punya Jung Hoseok"
"Hoseok?" mata Jimin melebar mendengar nama itu, nama yang diyakininya di sebut Seokjin semalam, "Jung Hoseok mantan Kim Namjoon?"
Jay tertawa sambil mengangguk, "mereka dulu sepasang kekasih, Jung Hoseok adalah anak Richard. Hoseok dan Namjoon saling jatuh cinta dalam masa pelatihan, mereka seimbang dalam tehnik. Jika Namjoon ahli dalam pertarungan jarak dekat, Hoseok sebaliknya. Jika Namjoon menggunakan cakarnya, Hoseok menggunakan panah dan Kusarigama*. Yang membuatnya kalah dia tidak punya kekuatan sebesar Namjoon. Mereka berpisah sejak Hoseok memilih mendukung pemberontakan ayahnya.
Setelah pemberontakan yang gagal itu, kelompok yang mendukung Richard terpecah menjadi tiga; mereka yang mendukung Richard apapun yang terjadi, mereka yang kembali pada pengampunan sang ratu, dan mereka yang berdiri di tengah, bersembunyi entah dimana. Para pendukung Richard di beri hukuman mati, mereka yang kembali di jemur di bawah sinar matahari sebagai hukuman, itulah kenpa beberapa dari mereka tidak senang matahari. "
"astagah" Jimin mendesis tidak menyangka. Sebagian dirinya mengeluh karna kejadian itu terjadi bahkan sebelum kakek-neneknya lahir, "lalu Richard bagaimana?"
"dia di ampuni, mengingat kepemimpinannya dulu. Tapi dia di asingkan di dalam hutan terdalam. Aku mendengar desas-desus dia kembali mengumpulkan pengikut –"
" –apa Jung Hoseok juga?"
Jay mengangkat bahunya, "aku dengar Hoseok tidak pernah menemui ayahnya lagi, dia bekerja di dewan vampire sekarang. lagipula itu Cuma desas-desus –ck, ayo bicarakan yang lain, aku agak tidak suka bicara tentang Richard"
Jimin mengangguk, walaupun sebenarnya dia masih ingin banyak bertanya. Jimin adalah gadis yang gampang penasaran pada sesuatu, tapi karena melihat Jay sekarang mulai membuka-buka buku tentang bintang lagi, Jimin menahannya, hanya tertawa pelan, "Lady Hee menjadi ratu padahal dia yang termuda, seperti Zeus ya?"
Jay terlihat terkejut dengan fakta itu, terdiam sebentar, bergumam, "Zeus?" lalu tertawa bersama Jimin sambil berkata, "benar juga" kemudian menarik tangan Jimin agar mendekat, "kemarilah Aphrodite"
"astagah" Jimin meninju paha Jay main-main membuat korbannya tertawa gemas, "jangan memanggilku begitu, menggelikan"
"oke maaf. Lihat ini"
Setelah itu, Jimin dan Jay menghabiskan waktu mereka untuk membahas rasi bintang lagi. kali ini tentang sang rasi pemburu, Orion, dan bintang utara, sang penunjuk arah yang paling terang dalam rasi ursa minor, Polaris.
Jay mengantar Jimin ke kastil pukul Sembilan malam, seperti kemarin. Berjalan beriringan sambil tertawa menatap langit. Jay menggaruk tengkuknya ketika mereka sampai di gerbang, sedangkan Jimin menahan diri untuk tidak menertawakan kerisihan Jay pada bangunan tinggi itu.
"aku punya sesuatu" Jay merogoh saku celana putihnya, mengeluarkan tangan yang terkepal dari sana, membuat kening Jimin berkerut bingung. "jjan.." Jay membuka kepalan tangannya dan Jimin langsung terkagum pada kalung emas putih dengan liontin bintang yang sangat cantik.
"ini untukmu" kata Jay tersenyum lebar sekali. Jimin tidak bisa mengalihkan pandangannya dari cara liontin bintang itu memantulkan cahaya lampu jalan, benar-benar indah seperti bintang di langit. Yang Jimin ingat dia tidak bisa bergerak dan membiarkan Jay mendekatkan diri, memakaikan kalung itu di lehernya. Mereka dekat sekali sampai Jimin bisa merasakan suhu tubuh Jay yang dingin juga mendengar hembusan nafas yang menggelitik telinga.
Sebelum menjauh, Jay berhenti bergerak, bibirnya berada tepat di atas telinga Jimin, berbisik lembut, "aku ingin mengatakan sesuatu –"
oh, tidak sekarang. Jimin membatin. Di saat seperti ini, disaat seorang pria memakaikan kalung di leher seorang gadis, disaat pria itu berbisik lembut di telinga, disaat pria itu hampir memeluk sang gadis, apalagi yang akan dikatakannya selain pernyataan cinta? Tapi walaupun Jimin berdebar dengan perlakuan dan kata-kata manis Jay, dia tau hatinya milik seseorang di dalam sana, Min Yoongi.
Jadi Jimin menutup mata, berniat tidak akan mendengar apapun yang dikatakan lelaki vampire itu. tapi ketika matanya terbuka saat jay berbisik lagi, keningnya mengerut bingung.
"peyusup di dalam Olympus. Dewa minor naik ke surga untuk menjemput Lady Laurel. Perubahan rencana. Ares terlalu kuat, Athena terlalu waspada, Apollo telah bertahan, Zeus telah bersiap."
Jay menjauh dari Jimin, tersenyum puas menatap bintang berkilauan di leher Jimin. Dia melakukan wink jenaka pada Jimin sebelum melangkah pergi, "Perseus adalah putra Zeus, bukan Poseidon"
Setelah Jay berlari pergi dari sana, meninggalkan Jimin yang menatap jalanan kosong, "apa maksudnya? –Semoga Jay tidak jadi sinting setelah masuk ke hutan"
.
.
Jimin masih memikirkan kata-kata Jay. Seokjin sudah kembali ke kamarnya dan Namjoon, jadi Jimin sendirian, mengganti seragam sekolahnya dengan gaun malam tipis warna peachpuff setelah mandi, mengulang-ngulang kalimat dewa minor naik ke surga menjemput Lady Laurel sambil membereskan barang-barangnya di atas meja belajar.
"Park Jimin"
"ASTAGAH!" Jimin menjerit kaget melihat Min Yoongi tiba-tiba berdiri di ambang pintu balkon kamar, tangannya terlipat di dada, rambutnya basah, memakai kaus putih polos yang ditutupi cardigan panjang warna abu-abu, "jangan muncul tiba-tiba seperti itu, Min Yoongi, kau membuatku kaget"
Jimin melihat Yoongi menatap tubuhnya terlalu lama, menyadari bahwa dia hanya memakai bahan tipis untuk menutupi tubuhnya, Jimin menyilangkan tangannya di depan dada dengan canggung. Gadis itu bergerak ke arah lemari, berniat mengambil cardigan yang sedikit labih tebal, tapi tubuhnya tiba-tiba terhempas di atas tempat tidur dengan Yoongi di atasnya.
Jimin baru akan meneriaki Yoongi karena ulah lelaki itu, tapi Yoongi sudah membungkamnya dengan sebuah ciuman yang menuntut. Awal yang perlahan membuat Jimin menutup mata, menikmati ciuman pertamanya. Lama-kelamaan Yoongi semakin memperdalam ciuman, memperkuat pagutan, menjelajahi mulut Jimin dengan lidah. Sedangkan tangannya mulai bergerak nakal, meraba-raba tubuh hangat Jimin.
"Yoongi-ah"
"hm"
Jimin melenguh, membiarkan Yoongi menenggelamkan wajah di perpotohan lehernya, menjauhkan tangan Yoongi yang sudah berada di mana-mana di tubuhnya, lalu Jimin merasakan Yoongi menarik kalung yang terlingkar di lehernya dengan gigi sampai terlepas. Lelaki itu mengangkat wajahnya, menatap Jimin datar lalu melempar kalung itu keluar jendela dengan sekali gerakan.
Jimin melebarkan mata, mencoba mendorong Yoongi dari tubuhnya, "apa yang kau lakukan Min Yoongi?"
"itu milik vampire lain" Yoongi bergeming, menahan pergelangan tangan Jimin. Sang gadis merutuki dirinya sendiri yang lupa bahwa Yoongi selalu berkeliling dengan wujud phoenix-nya tiap malam, mungkin pemuda itu melihatnya dengan Jay tadi.
"itu milikku" Jimin bersikeras, membuat dirinya bangkit dari tempat tidur dengan Yoongi yang masih menggenggam tangannya, "lepaskan aku"
"aku atau kalung itu" suara berat Yoongi membuat Jimin berhenti memberontak, menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. Yoongi dan kalung itu adalah dua hal berbeda, Jimin tidak ingin memilih.
Tapi Jimin tidak suka melihat tatapan dingin Yoongi padanya, jadi gadis itu bersuara dengan lantang, "jangan kekanakan" lalu bergerak keluar kamar setelah mengambil cardigan dari lemari, meninggalkan Yoongi yang masih menatap tempat tadinya Jimin berdiri, perlahan membuka kepalan tangan kirinya, kalung yang ingin dicari Jimin ada disana, Yoongi tidak benar-benar membuangnya.
Pemuda setengah vampire itu berbisik lirih, "tapi kau milikku, Park Jimin"
.
To Be Continued
.
*Kusarigama: senjata pertarungan jarak jauh dari jepang, kombinasi antara sabit tajam dan rantai. Penggunaannya adalah dengan dilempar ke arah target lalu di tarik sekuat-kuatnya.
Lena Park adalah penyanyi RnB, sedangkan Richard Jung adalah Original Character.
Ada komentar? Girl lemme knooow, know, know, knoooow (nyanyi Let Me Know part Jimin yang high note) hehe
Thank you^^
Deep bow, Red Casper
