Jari-jari seputih salju itu meraba katana dalam genggamannya. Tubuhnya bersandar lelah ke tiang di belakangnya. Sepi mendominasi, tak ada sedikitpun orang yang berlalu-lalang. Seolah dalam berita itu terdapat sihir yang membuat segalanya musnah —meringkuk ketakutan di atas tempat tidur atau tempat teraman. Satu helaan lolos dari mulutnya. "Sudah waktunya ..."
DOR!
Dia tersentak. Lantas buru-buru melangkahkan kakinya ke arah yang sangat familier—rumahnya.
.
.
.
BSD Milik Asagiri Kafuka dan Harukawa Sango
Aku hanya meminjam karakter BSD untuk penulisan FF ini
.
.
.
Suara tembakan berdesing. Pria dewasa itu spontan berlutut, tangan kirinya meraba bahu kanannya. Mantel hitamnya yang sudah gelap kian menggelap akibat darah yang terus merembes -menyebar ke sekelilingnya. Kepalanya dengan cepat menoleh, menatap garang si pelaku penembakan barusan. "Dazai ... Heh, begitu. Tampaknya Port Mafia kedapatan banyak tikus hari ini." Dokter Mori terkekeh pelan meskipun lukanya yang menganga masih menimbulkan sakit tak tertahankan.
"CHUUYA!"
Chuuya tersentak, mengerti maksud teriakan Dazai barusan, dia buru-buru bangkit, tubuh kaku dalam rengkuhannya buru-buru diletakkan, lantas melangkahkan kakinya secepat kilat ke arah dokter Mori. Kaki kirinya menumpu berat tubuh, sedang kaki kanannya melesat ke arah tengkuk dokter Mori sekeras mungkin. GREP!
Tangan kanan bos Port Mafia itu menangkap tungkai Chuuya dengan mudah. Iris magentanya kian mengelam —menatap Chuuya tajam, tangannya yang bebas merogoh saku mantelnya, lantas dengan cepat melesatkan pisau bedah sepanjang lima belas senti ke arah leher Chuuya. Reflkes Chuuya memundurkan tubuhnya ke belakang. Keuntungan besar bagi dokter Mori, tungkai dalam genggamannya ditarik ke belakang, tubuh Chuuya spontan kehilangan keseimbangannya lantas membentur lantai. Pisau bedah itu sudah bersiap di atas leher mungilnya —tepat di urat nadi —bersamaan dengan mulut pistol Dazai yang tertodong ke arah kepala dokter Mori.
"Kau berkembang sangat banyak, Dazai-kun." Dazai tetap diam. Memilih tak menanggapi basa-basi bosnya. Iris cokelatnya turut mengelam, menatap tajam bos organisasi yang tercatat sebagai pembunuh adiknya. "Taruhannya nyawa Chuuya-kun. Siapa yang membunuh siapa, lebih cepat ... tentu kau tahu kelanjutannya."
"A- Jangan bercanda! Hoi Dazai! Cepat tembak saja orang tua ini!" Chuuya berteriak kesal. Andai lawannya Dazai atau mungkin lebih tua sedikit, sekarang juga dia tendang dagu lawannya lantas melakukan gerakan kuncian —orang dewasa melawan anak kecil memang keterlaluan tidak adilnya. Tapi siapa peduli soal keadilan? Yang terpenting hanya menghabiskan nyawa musuh lantas kembali bersantai, menikmati secangkir kopi dan menikmati sisa musim semi.
"Tiga." Ucapan dokter Mori dengan cepat mengembalikan suasana tegang yang mendebarkan. Jari telunjuk Dazai posisikan di depan pelatuk, siap menariknya kapanpun. "Dua." Tangannya memantapkan genggaman pisau bedah itu, lantas menariknya ke atas. "Sa-"
BRAK!
Pintu didobrak paksa. Suara keras itu memenuhi seisi ruangan yang hening saking tegangnya sejak tadi. Sontak semua penghuni menoleh ke arah sumber suara. Secepat kilat, sebuah katana melesat di hadapan dokter Mori yang segera disambut refleksnya berupa melompat ke belakang. Mantel yang terkoyak dan surai hitamnya yang terpotong menjadi saksi bisu akan kehebatan sang samurai dalam akurasinya.
"BANGUN! Aku melatihmu bukan untuk kalah, Nakahara Chuuya!" DEG! Suara yang familier, suara lantang namun lembut sejagat raya itu menggelegar. Kembali bersua dengan indera pendengaran setelah lama rasanya tak mampir berkunjung. "Ibu …?" Tangan kanannya menumpu tubuh yang bangkit dengan susah payah. Sosok itu. Warna semerah api itu. Suara itu.
"JANGAN BUANG WAKTU, AYO PERGI!" Dazai berteriak sambil berlari ke arah tubuh Kyouka, menggendongnya lantas berlari ke pintu utama yang menganga lebar. Chuuya dan sang wanita lantas mengikuti langkah Dazai yang tak begitu jauh di depan sana dengan buru-buru. Meninggalkan dokter Mori sendirian bersama kondisinya yang menyedihkan serta megahnya kediaman Nakahara.
"Ck." Dia mendecak kesal. "Ah. Kaburlah yang jauh. Da- tidak. Osamu ..."
.
.
.
Entah mau ke mana wanita bersurai senja itu. Langkahnya cepat-cepat dan lebar, membuat dua anak yang mengikutinya di belakang tanya-jawab dengan diri sendiri.
Apakah aman jika mereka terus mengikuti wanita itu? apakah ini jalur teraman?
Memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu justru membuat ngeri datang menghantam dada, membuat jantung berdebar kembali berdebar rancu. Dazai kewalahan karena menambah beban tubuhnya dengan tubuh kaku yang terlelap dalam gendongannya. Sesekali Chuuya melirik. Bukti nyata itu kembali membawa kepedihan, mengiris-iris hati setiap menatapnya.
"Cepat masuk!" titah wanita itu di depan pintu berlapis seng yang sudah nyaris keropos karena berkarat. Dua anak laki-laki itu menurut saja, lebih tepatnya Chuuya yang terus meyakinkan Dazai untuk mempercayai ibunya –meski dirinya pun ragu terhadap perkataannya sendiri. Pintu kembali ditutup begitu mereka bertiga masuk. Lampu neon yang nyaris mati menjadi satu-satunya penerangan ruangan —sesekali berkedip mati-nyala kian membuat kondisi ruangan ini menyedihkan. Tapi penghuni ruangan ini. Suasana ini sungguh berbanding terbalik dengan kelamnya ruangan —sungguh ramai meski banyak yang memilih untuk diam. Dazai dan Chuuya mematung, mata mereka menyapu ke segala arah.
"Bibi? Loh, ada kakek dan nenek juga!" Chuuya tertegun. Dia mengerjap antara bingung atau takjub akan reuni dadakan keluarga besarnya. Dia menatap ibunya. Kouyou menghela napas lelah. "Yang berhasil bertahan di sini semua. Aku akan menyusul paman Yukichi setelah ini. Tapi sebelum itu …"
Kouyou berlutut di hadapan Chuuya. Ujung lengan kimononya ditarik sedikit, lantas ditempelkan di wajah anaknya untuk menyeka keringat yang terus mengalir di wajahnya.
Ah … Betapa rindunya Chuuya.
"Hm? Kenapa kamu menangis? dasar cengeng." Kouyou terkekeh kecil. Tangannya berganti area dari pipi ke ujung mata, kimononya turut basah sedikit begitu menyentuh air mata Chuuya. "Aku benci kalau kau kalah lagi, Nakahara Chuuya."
Chuuya kembali meragukan harapannya yang sempat tumbuh. Wanita di hadapannya tidak berubah sedikit pun, ambisinya untuk menang masih tertanam kuat. Muram kembali menunjukkan jati dirinya. Tapi tak berlangsung lama, pecah berkeping begitu secercah cahaya asing melingkupinya, menarik dirinya ke dalam kehangatan yang nyata—bukanlah angannya semata. Sungguh jarang sekali Chuuya merasakan ini. Tindakan Kouyou sungguh tak dia duga, bahkan tak pernah terbayangkan olehnya. Pelukan itu terus mengerat. Muramnya perlahan sirna, Perasaan yang sama saat tubuhnya direngkuh paman Yukichi kembali terulang. Sosok di sekitarnya tidak selamanya kuat. Chuuya tahu itu, kehangatan itu bergetar. "Kalau kau lemah begini. Kehilangan dua orang yang sangat ibu cintai bukan hal yang mustahil, bukan?"
"Mmm ..." Percuma sekuat apapun menahannya. Pertanyaan sekaligus pernyataan sederhana itu membuat ombak besar di atas lautan. Bendungan itu rapuh, lantas melebur bersama aliran deras. Dengan tak tahu malunya ikut membanjiri segala hal yang dilaluinya —membasahi kimono sekaligus mengacaukan wajahnya.
"Maaf ... Chuuya gagal melindungi Kyouka ..." Isak itu kian melemah. Kouyou hanya mengangguk, tangannya mengusap punggung ringkih itu, turut merasakan segala beban yang luruh perlahan-lahan. "Beruntung aku mengikutkanmu ke turnamen. Kalau tidak, mungkin sekarang hanya ada kepalamu di sini. Kecurigaanku ternyata benar adanya ..." Suaranya mengecil di akhir. Tapi cukup keras bagi Chuuya yang di dekatnya. Chuuya dengan cepat mendongak, memasang raut yang meminta segala penjelasan terhadap kalimat barusan. Kouyou melepas pelukannya. Dia mengangguk.
Dia berdeham lantas bangkit, menatap seluruh penghuni ruangan termasuk Dazai yang sejak tadi membisu —membiarkan keluarga kecil itu melepas haru di hadapan mereka.
"Aku sudah lama curiga terhadap Sakunosuke. Kecurigaan ini pun sudah kubicarakan pada para orang dewasa.
"Dan kami memutuskan untuk mengikutkan anak-anak ke turnamen. Karena bukan tak mungkin Sakunosuke berbalik menyerang." Orang-orang dewasa yang memperhatikan mengangguk sebagai persetujuan. Chuuya terperangah. Tunggu ... apa?
"Dan ternyata keputusan kami terbukti menguntungkan. Chuuya berhasil bertahan setelah Tachihara Michizou dan Ru-" "TACHIHARA?!" Chuuya memotong ucapan Kouyou. Keterkejutannya mengalahkan nyalinya yang ciut akibat raut tak suka yang ditunjukkan Kouyou.
"Yo." Anak laki-laki bersurai merah bata itu muncul dari balik salah satu pria dewasa. Tangan kanannya melambai kecil. Perhatian Chuuya langsung terfokuskan ke arah anak bersurai merah bata yang muncul barusan.
"Kau ... kenapa kau ada di sini?!" Chuuya gelagapan. Antara senang karena bisa mempermalukannya soal turnamen waktu itu dan kesal karena bertemu kembali dengan anak sombong yang dibencinya.
"Aku keponakan paman Sakunosuke. Anak bibi Furuya. Kau lebih muda empat tahun dariku. Panggil aku kak Michizou, bocah." Chuuya mengerjap-ngerjap. Bibi yang galak itu ...? Lebih muda empat tahun ...?
Mereka saling bertatapan. Wajah Chuuya kian tertekuk akibat Tachihara yang semula menatapnya datar kini malah tersenyum meremehkan. "Dasar tak tahu malu ..." batin Chuuya.
Tatap-menatap mereka yang memanas terhenti oleh tepukan tangan seorang wanita dewasa. "Berhenti bersikap kekanak-kanakan Michizou, Chuuya. Selain itu, siapa dia? Kenapa Izumi-kun digendong dia?" Jarinya menunjuk ke arah Dazai yang masih berdiri kaku di dekat pintu masuk.
"Dazai Osamu. Dia ... mantan anggota musuh ...?" Terselip nada ragu dalam ucapannya. Chuuya sendiri tak yakin bahwa Dazai dapat dipercaya sepenuhnya. Bisa jadi dia hanya berpura-pura saat ini lantas menyerang dari belakang. Sementara itu, Dazai hanya menatap datar. Dia sedikit menunduk, menatap gadis kecil dalam gendongannya. Dia mendekat ke arah deretan orang-orang di seberang —bersamaan dengan anggota keluarga Nakahara yang bersiaga seiring langkahnya mendekat. Langkahnya berat sekaligus menggema di seluruh ruangan. Yang entah bagaimana terasa mengintimidasi. Tap!
"Ini." Dazai menyerahkan tubuh itu ke Tachihara. Belum sempat Tachihara mengulurkan tangannya, tubuh itu sudah disambar oleh wanita dewasa lainnya. Matanya menatap galak Dazai. "Apa kamu sebegitu lelahnya sampai membiarkan saudarimu tidur dalam gendongan orang asing, Chuuya?"
Hening dengan cepat menyerang. Chuuya mematung. Lidahnya kelu untuk mengucapkan kenyataannya.
"Chuuya?"
Jantungnya kian berdebar rancu. Seribu pemikiran berdesakan di kepalanya. Entah yang mana yang hendak diucap, memilah-milahnya membuat dadanya nyeri. Keringat dingin kembali membanjirinya. Air mata itu mendesak keluar begitu mulutnya terbuka.
"Dia mati."
Semua kepala refleks menoleh ke arah yang bicara barusan. Tatapan mereka sama —terkejut dan marah. Dazai yang mendadak ditatapi sebanyak itu mengerjap bingung. Dia menelan ludah gugup. "Bukan aku pelakunya."
"PEMBOHONG!" Tachihara berteriak marah. Secepat kilat dia merangsek maju ke arah Dazai. Berbagai pukulan penuh amarah dilayangkannya —yang dengan mudah dihindari maupun ditangkis oleh Dazai. Sia-sia, semua tinjuan yang dilayangkan hanya memukul udara. "Kau ... berani-beraninya!!" Kini tangannya terarah ke arah kerah Dazai, hendak mencengkeramnya lantas membanting tubuh si surai cokelat. GREP!
"Berengsek, LEPAS!" Tachihara menggeram begitu Chuuya berdiri menengahi, tangan kanannya menggenggam erat pergelangan tangan Tachihara
"DENGAR BODOH, BUKAN DIA!" Chuuya balas menggeram. Kesabarannya habis, lantas kaki kanannya menyapu kaki Tachihara, tangan dalam genggamannya diputar ke belakang, lantas dikunci. Kunciannya kian menguat seiring Tachihara yang memberontak dengan kasar. Segala umpatan lolos dari bibirnya. Matanya menatap sinis Dazai yang hanya terdiam di hadapannya —menatap datar.
"Makasih loh Chuu." Tatapan datarnya sirna seketika, berganti dengan wajah ceria begitu menatap Chuuya —yang gantian menatap datar. "Hoi Tachihara, andai aku percaya diri sepertimu. Pasti sekarang aku tertawa lepas begitu mendengar ucapan terima kasih dari si bodoh." Dazai menanggapinya dengan kekehan, lantas mengendik.
"Lepaskan dia." Chuuya menurut begitu Kouyou mendekat ke arah mereka bertiga. "Aku— maksudku kami, sependapat dengan Michizou-kun.
"Dan Chuuya. Bukankah sudah kubilang, jauhi anak ini." Ucapan itu terasa sinis begitu kedua iris magentanya mendelik ke arah Dazai. "Dan soal pelakunya bukan dia. Aku tak sepenuhnya percaya." Wanita itu sedikit memiringkan kepalanya ke kanan. Matanya menatap ke arah lain. Dazai mengernyit.
"Atas dasar apa bibi tidak mempercayaiku?" tanya Dazai pelan. "Bukan soal pembunuhan Kyouka. Tapi sejak awal bibi tampak tak menyukaiku."
Kouyou terdiam. Dia mendelik ke arah Dazai yang tengah menatapnya tak suka. "Kau mencurigakan. Buktikan bahwa kau bukan mata-mata."
"Bagaimana?" Jeda beberapa menit sebelum Dazai menjawab membuat suasana kian menegang. Ketegangan berlatar sedu sedan beberapa orang yang terus menolak kenyataan tentang kematian Kyouka —salah satu penyumbang medali emas keluarga besar ini— menjadikan suasana kian gerah.
"Jawab semua pertanyaanku."
"Interogasi ..." gumam Dazai. "Baiklah."
Kouyou memejamkan matanya sejenak. "Perkenalkan dirimu. Jangan ada yang ditutup-tutupi."
"Dazai Osamu, usiaku tujuh tahun. Aku tangan kanan Bos, Mori Ougai. Misiku saat ini, membunuh seorang pengkhianat. Oda Sakunosuke."
Dokter Mori ...? "Apa kau tahu motif penyerangan ini?"
"Bos mencurigai Oda berkhianat. Bisnis prostitusi itu diserahkan padanya untuk sementara waktu. Tapi dalam kurun waktu sebulan selalu ada budak yang berhasil lolos dan tidak sampai pada tangan pembeli."
Kouyou tertegun. Dahinya berkedut. Raut terkejut dari wajah cantiknya dengan cepat kembali seperti semula begitu dia menghela napas.
"PEMBOHONG! Paman Sakunosuke tidak mungkin ..."Tachihara berteriak marah. Suaranya menggelegar, memecah keheningan yang tercipta entah sejak kapan. Amarahnya sedikit berkurang begitu mendapati pelototan dari Kouyou.
"Apa buktinya?" Kouyou kembali menimbrung. "Jika sebatas curiga tentu tidak mungkin organisasi se-teratur itu menyerang tanpa bukti nyata."
Dazai mengangguk setuju. "Dua mei. Saat aku pergi ke turnamen Chuuya. Apa kalian menyadari Oda menghilang?" Hening menjawab. Penghuni ruangan saling bertatapan, lantas menggeleng.
"Aku menyelidikinya. Dia pergi menggunakan mobil pada jam satu siang, bersama budak wanita yang di haruskan berada di kapal pada jam dua belas siang. Menurutmu kenapa?"
Chuuya mematung begitu mendengar penjelasan Dazai barusan. Berbagai spekulasi bermunculan satu per satu di kepalanya. Dari yang paling aneh, absurd sampai yang paling masuk akal. "Menjualnya ke tempat lain."
"Kau benar, Chuuya." Dazai melirik ke arah si surai oranye sebentar. "Jadi. Sudah cukup, bukan?"
"Astaga ..." Kouyou menggigit bibir bawahnya. Harapan dan niatnya untuk sedikit mempercayai bahwa suaminya pasti memiliki alasan yang bagus. Sirna seketika. Hatinya sakit. Entah karena cemburu atau merasa kecewa. Segalanya bercampur menjadi satu ke dalam rasa yang pahit. Dia menelan ludah, lantas menghirup napas dalam-dalam.
"Pertanyaan terakhir. Kenapa kau bergabung dengan kami?"
Dazai terdiam di tempatnya. Kenapa ...? Dazai mengelus tengkuknya perlahan. "Aku tahu ini egois. Tapi karena aku mengetahui suatu hal yang membuatku sama seperti kalian —membenci Mori-san ... Aku berpikir akan sangat menguntungkan untuk kedua belah pihak, bukan?"
"Dazai. Lalu kenapa kau berada di sana? Kau bilang, alasannya ingin membantuku. Itu terjadi jauh sebelum kau mengetahui hal itu ..." Hal yang mengganjal hatinya terlepas sudah. Meskipun perasaan gengsi sempat menguasainya, Chuuya resah memikirkannya lama-lama.
Dazai menengok ke arah Chuuya. Tampang polos yang menyebalkan itu kembali terbentuk di wajahnya. Dia tersenyum simpul. "Karena Chuu teman pertamaku." Chuuya tertegun. Tubuhnya bergerak canggung merespon jawaban Dazai barusan.
"A-ah ... apaan sih ..." Chuuya menggaruk pipinya canggung. Semburat yang terlihat manis itu menghiasi pipinya.
"Hehe. Chuu, kau malu ya~ wajahmu terlihat konyol dasar cebol." "HA?!" Ekspresi malu-malu manis itu mendadak berganti menjadi wajah sangar, dibalas dengan kekehan Dazai. Suasana tegang yang panas sedikit mencair dengan interaksi yang jujur saja —Chuuya merindukannya meski menyebalkan buatnya.
"Lantas, apa jaminannya kau tidak akan berkhianat pada kami?" Kouyou kembali bersuara. Menarik perhatian semua penghuni yang sempat terfokus pada interaksi dua anak serumah sakit itu —menjadi tegang menunggu jawaban yang lolos dari bibir si surai cokelat.
"Nyawaku."
"Begitu? Kupegang ucapanmu. Katanaku sendiri yang akan memisahkan kepalamu dari tubuhmu, Dazai-kun." Jari-jarinya meraba gagang katana yang tersemat di tubuh bagian kirinya. Kouyou menatap tajam ke arah lawan bicaranya.
"Aku mengerti. Kouyou-san." Dazai balas menatap tajam. Seringai kecil terukir di atas wajahnya.
Aliansi antara mantan anggota Port Mafia dan keluarga Nakahara terbentuk dengan jaminan nyawa Dazai. Dazai tak begitu mempermasalahkannya, toh sejak awal dia memang sering melakukan percobaan bunuh diri.
"Bibi Kouyo, kau serius ...?" Tachihara mendekat ke arah Kouyou. Raut yang menyiratkan keraguan terpasang di wajahnya. "Anggap saja ini demi keuntungan. Kau ingin membalas kematian teman seperguruanmu —Izumi-chan bukan?" Tachihara terdiam. Tangannya terkepal erat. "Izumi ..." Dia menyerah untuk terus terus mempertahankan egoismenya. Lantas mengangguk pelan. "Ya. Akan kubalaskan."
Kebenarannya, tak semua anggota keluarga Nakahara senang akan aliansi ini. Meski jika dipandang secara objektif, jelas ini sangat menguntungkan. Sebaliknya, secara subjektif —siapa yng ingin bekerja sama dengan orang yang telah menghancurkan separuh keluarga mereka? Hal yang paling tak masuk akal jika egoisme terus dipaksakan. Dalam kondisi segenting ini, tentu mereka paham. Pikiran jernihlah yang dibutuhkan.
"Rencana pertama. Kita susul Yukichi!" titah Kouyou dibalas anggukan antusias seluruh penghuni ruangan. Jantung mereka berdebar akan satu langkah yang berhasil dibuat —mendekati kemenangan.
Bersambung ...
.
.
.
A/N : Hai~ Sorry ngaretnya kebangetan T_T Aku ga nyangka ini bakal 3K words wkwkwk. Ciyus. Aku sebenernya ga bingung kalau mau lanjutin ini FF karena udah ada alurnya dan juga ini udah mendekati tamat. Masalahnya. Diksi. Iyes, yup, diksi itu ribet T_T karena akoeh bukan my teacher yang diksinya udah setingkat Atmosfer sedangkan aku masih di tanah wkwk.
Dan makasih banget ya buat My Teacher yang selalu support ini FF, dan buat Zian yang udah baca cerita aku, Absen5 yang selalu kritis soal FF aku, wahai Korban Tikung Sangar yang bilang ANGST AKU BERASA MUAHAHA. Dan pada silent reader (yang mungkin ada). Kalian berharga bangeut hehe.
Napa jadi ucapan sambutan dah. Udah ya. Bubay, sampai jumpa di CH.10
