Chapter 9

XOXO Class

Author: RyeoKaisoo / Park EunRim.

Cast: Member Exo.

Rated: T

Pairing: ChanKai, ChanSoo, HunKai, etc.

Genre: Romance, School, comedy, friendship, etc.

Disclaimer: EXO punya Tuhan Yang Maha Esa, SM Ent, EXO L, orangtua dll. Tapi cerita ini punyaku ^_^! Jadi aku pinjam EXOnya ya? Inspired by Korean Drama Sassy go go go and She Was Pretty.

Summary: Park Chanyeol murid tampan, kalem, pintar, dan popular di sekolahnya, sedangkan Kim Jongin atau yang lebih dikenal Kai murid yang lumayang manis, tapi sangat badung, bodoh selalu di peringkat bawah, popular karena membuat masalah, dan namanya selalu menghiasi buku siswa. Apa jadinya jika mereka satu kelas di tahun ajaran akhir dan terjebak perasaan yang tidak seharusnya? (ChanKai lagi)

Warning: Yaoi, typo, tidak sesuai EYD, cerita pasaran, alur kecepetan dll.

"Kalau begitu… cium aku"

"Geure!"

'Aku tidak suka dingin'

"Dia datang?"

NO FLAME! NO BASH! NO PLAGIAT!

HAPPY READING ^_^

.

.

.

.

.

Chapter 9

Jongin menggeliat dalam tidurnya merasakan sinar matahari menerpa tubuhnya, ia semakin tenggelam dalam selimut berwarna putih yang sangat tebal. Chanyeol yang melihat Jongin masih tertidur tersenyum, ia mengelus kepala Jongin sayang membuat pemiliknya semakin pulas tertidur. Ia kembali tidur dengan posisi tubuh menyamping menatap wajah imut Jongin yang lucu.

"Ireona" ucap Chanyeol pelan. Jongin menggeliatkan tubuhnya sebentar setelahnya ia semakin bergelung dalam selimutnya.

"Eomma, biarkan aku tidur lima menit lagi" pinta Jongin seperti orang mengigau.

"Ireonata, kita akan terlambat sekolah"

Jongin segera membuka matanya mendengar kata 'kita'. Matanya melebar sempurna mendapati dirinya tidur bersama Chanyeol dan lagi sepertinya wajah Chanyeol senang. Apa mereka melakukan hal itu?

"Chanyeol-ah…"

"Good morning" sapa Chanyeol dengan seutas senyum. Jongin memundurkan tubuhnya ke belakang, Chanyeol yang melihat Jongin akan jatuh segera menahan tubuh Jongin tapi ia malah ikut terjatuh dengan tubuhnya menindih tubuh mungil Jongin.

"Gweanchana?" tanya Chanyeol panic. Jongin membulatkan matanya menyadari posisi mereka seperti ini, apalagi wajah mereka sangat dekat.

"Na… na… na Gweanchana" jawab Jongin sedikit gugup. Tiba-tiba saja pintu kamar Jongin terbuka, menampilkan sosok Taemin yang siap marah tapi tidak jadi. Ia tersenyum menatap posisi kakaknya sangat intim dengan Chanyeol.

"Kalian making love!" teriak Taemin sangat kencang sambil melompat-lompat seperti anak kecil yang mendapat lollipop. Jongin melotot mendengar teriakan Taemin yang pasti terdengar oleh Kangin dan Leeteuk.

"Appa! Eomma! Jongin hyung dan Chanyeol hyung making love! APPA! EOMMA!" teriak Taemin lagi kali ini sambil berlari turun menuju ruang makan.

"YA! KIM TAEMINNNNN!" teriak Jongin lebih lantang. Ia mendorong Chanyeol dari atas tubuhnya dan berlari mengejar Taemin yang pasti sudah mengember pada Kangin dan Leeteuk. Chanyeol tertawa melihat wajah merah Jongin serta kelakuan mereka yang hampir mirip.

.

.

Memang menjadi masalah teriakan Taemin di pagi hari. Chanyeol memakan sarapan dengan mata melirik ke arah Jongin dan Taemin yang masih saling adu mulut. Ia juga dipaksa oleh Leeteuk untuk sarapan di rumah mereka.

"Bisakah kalian hentikan tatapan tajam seperti itu" perintah Leetek yang kesal dengan sikap kedua anaknya yang tidak pernah akur.

"Eomma, katakan pada Taemin aku akan hentikan tatapanku kalau dia mau berjanji menjaga mulutnya" ucap Jongin memberikan pesannya pada Leeteuk. Leeteuk menghela nafas mendengarnya.

"Taemin-ah, mulai sekarang kau harus menjaga ucapanmu" ucap Leeteuk lembut. Taemin memutar bola matanya malas. Jongin yang melihat itu sebisa mungkin untuk tidak memukulkan sendok di tangannya ke kepala Taemin.

"Eomma katakan pada Hyung kalau aku sudah menjaga mulutku" balas Taemin yang merasa dirinya tidak bersalah.

"Eomma, katakan pada Taemin kalau dia memang sudah menjaga mulutnya seharusnya ia tidak mudah menarik kesimpulan sebelum memverifikasi apa dia benar-benar ingin menjadi reporter masalah seperti ini saja dia mudah menarik kesimpulan tanpa lebih dulu memverifikasinya lebih baik dia menjadi penari daripada repoter" ucap Jongin dalam satu tarikan nafas dan sangat cepat. Taemin terbatuk mendengar ucapan Jongin yang menyindir cita-citanya. Ia mengibaskan-ibaskan tangannya mencari udara karena ia merasa suhu ruang makan ini menjadi panas. Leeteuk yang sudah tidak mau menjadi pengantar pesan lebih memilih menambahkan lauk ke mangkuk Chanyeol.

"Kau harusnya jadi rapper bukan sekolah. Eomma, katakan pada Jongin jangan mencampuri cita-cita orang lain padahal dia sendiri belum menemukan cita-citanya padahal dia sudah hampir lulus lebih baik dia pikirkan akan bekerja apa atau universitas mana yang akan menerima murid paling bodoh satu sekolah" balas Taemin dengan delikan tajam bahkan ia berani menatap wajah Jongin yang semakin mengeras. Jongin menelan nasinya dengan kasar mendengar Taemin kembali menyindirinya soal nilai sekolahnya.

TAK

"Ya! Kalian berdua benar-benar!" marah Kangin sambil memukul kening Jongin dan Taemin menggunakan sendok secara bergantian. Jongin meringis merasakan pukulan sendok Kangin.

"Kalian membuat malu keluarga Kim dengan bertengkar seperti itu di depan tamu" marah Kangin. Jongin melirik tajam ke arah Taemin yang dibalas delikan tajam Taemin. Chanyeol tersenyum melihat pertengkran Jongin dan Taemin yang lucu apalagi wajah cemberut Jongin. Sarapan pagi yang tidak akan pernah ia lupakan. Sarapan pagi sesungguhnya. Chanyeol kembali tertawa melihat Jongin dan Taemin kali ini memperebutkan telur gulung terakhir. Jongin yang melihat Chanyeol tertawa lepas tersenyum lebar, tawa yang jarang sekali Jongin dengar keluar dari mulut Chanyeol.

.

.

.

Ia ingin melupakan semuanya, tentang Lay, Zen dan semuanya termasuk menghapus game yang membuat mereka bertemu. Chen menatap koin keberuntungannya yang diberikan Lay dengan sedih. Kesedihan itu tidak bertahan lama karena ingatannya bergulir saat di taman itu. Lay sudah menipunya habis-habisan.

"Kau sedang apa? Kenapa menatapi koin berlubang itu?" tanya SeungHo yang baru saja masuk dan memberikan beberapa flashdisk pada Chen.

"Ini bukan sembarang koin, ini ko-"

"Aku tidak berniat membohongimu. Aku hanya ingin bermain-main saja"

Hampir saja Chen mengucapkan koin keberuntungan dari seseorang yang sudah menipunya. SeungHo menatap heran perubahan ekspresi Chen.

"Wae irae?" tanya SeungHo khawatir. Chen segera menggeleng lalu memasukkan koin itu di laci mejanya. Ia sudah bertekad akan melupakan Lay.

"Anniyo, apa ada hal lain?" tanya Chen. SeungHo mengangguk lalu membuka laptopnya menunjukkan game terbaru yang baru saja liris.

"Game ini sangat bagus dan game yang paling di nantikan" Chen tersenyum mendengar ucapan SeungHo persis seperti anak kecil padahal umurnya sama dengan Chen.

"Jinjja?" tanya Chen dan ia ikut nimbrung memperhatikan game yang baru saja liris ini. Ia menggeser kursinya mendekati SeungHo yang mulai menunjukkan cara bermain game ini. Chen tersenyum sumringah memperhatikan SeungHo yang bermain dengan sangat apik.

"SeungHo-ya, kau ada bakat sama sepertiku" puji Chen yang bersorak senang melihat SeungHo mengalahkan satu musuh.

"Apa kau baru sadar? Aku memang berbakat menjadi gamer" balas SeungHo somobong. Chen memutar bola matanya malas meladeni sikap sombong SeungHo yang mulai keluar.

"Ya! Aku ini lebih jago darimu. Seharusnya kau memanggilku sunbae" marah Chen berpura-pura ngambek. SeungHo yang kali ini memutar bola matanya malas, Chen yang melihat itu berdecih dan memukul-mukul lengan SeungHo.

"Ya! Ya! Appo! Stop, Chen-ah" pinta SeungHo memohon ampun pada Chen yang mulai kesal dengan sikap dirinya yang sedikit menyebalkan akhir-akhir ini.

"Panggil aku sunbae" rengek Chen dengan aegyo yang sebisa mungkin ia buat imut. SeungHo mambuang wajahnya berpura-pura muntah melihat aegyo gagal Chen, tidak sepenuhnya gagal karena menurutnya aegyo Chen sedikit imut.

"Shireo" tolak SeungHo. Chen menatapnya nyalang seperti harimau yang marah.

"Ya! Kau muntah melihat aegyoku? Aku berusaha imut agar kau memanggilku sunbae" marah Chen kali ini ia bertindak ekstream memiting leher SeungHo. SeungHo berteriak kaget mendapat serangan tiba-tiba seperti ini, Chen tersenyum bahkan tertawa melihat ekspresi SeungHo memelas.

"Chen sunbae, panggil seperti itu" perintah Chen. SeungHo menggeleng sambil terus mencoba lepas dari pitingan Chen.

"Untuk apa memanggilmu seperti itu? Kita seumuran" tanya SeungHo disela-sela pitingan Chen yang lumayan kuat ini. Chen menggeleng keras, ia dekatkan wajahnya ke wajah SeungHo hampir mempertemukan hidung mereka.

"Ya! Kau tadi seperti meremehkanku, aku lebih jago darimu. Jadi, panggil aku sunbae" perintah Chen masih bersikeras ingin dipanggil sunbae. SeungHo tertawa mendengar alasan Chen yang sedikit konyol.

"Shireo!" tolak SeungHo yang tidak kalah keras kepalanya dari Chen. Chen menggeram kesal dan kembali memiting SeungHo. SeungHo kembali berteriak mendapat pitingan seperti ini, tapi diam-diam ia tersenyum melihat senyum ceria Chen yang tadi sempat tidak ada karena mungkin putus cinta, pikir SeungHo.

"Ya! YA! Appo! Oke, Sunbae" Chen tersenyum semakin lebar mendengar SeungHo memanggilnya sunbae. Ia melapas pitingannya lalu menggaet lengan SeungHo.

"Good job, hoobae" SeungHo balas tersenyum dan balik memiting Chen. Mereka tertawa dan tersenyum bersama di ruang computer tempat mereka seharusnya bekerja. Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan mereka sedikit tajam.

Pemilik mata itu-Lay. Ia menghampiri Chen dan SeungHo yang masih tertawa lepas. Lay berdehem keras membuat Chen dan SeungHo menoleh bersamaan. Chen yan awalnya tersenyum ceria berubah menjadi wajah datar.

"Lay, ada apa?" tanya SeungHo. Lay tersenyum sekilas ke arah SeungHo lalu beralih menatap Chen yang memalingkan wajahnya. Lay menarik lengan Chen agar mengikutinya keluar dari ruang computer. SeungHo menatap bingung dengan sikap Lay seperti itu, apa mereka bertengkar?

"Lepas!" Chen menghentakan tangan Lay yang mencengkram erat lengannya. Mereka bertatapan tajam terutama Lay.

"Apa kau berniat balas dendam kepadaku karena aku sudah mempermainkanmu" Chen tertawa mendengar kata mempermainkan. Ternyata benar Lay memainkannya selama ini.

"Hm… kau kesal? Kau sakit? Itu yang aku rasakan saat aku pertama kali mengetahui kebohonganmu" marah Chen. Lay menatap mata Chen yang benar-benar bukan seperti Chen, mata itu benar-benar menampilkan kemarahan yang meluap-luap.

"Aku sudah menjelaskan semuanya, aku hanya berniat bermain-main tapi…"

"Aku juga tadi berniat bermain-main dengan SeungHo tapi saat melihatmu aku pikir ini seperti balas dendam" ucap Chen menirukan cara bicara Lay seperti semalam. Lay mencengkram kedua pundak Chen dan mengguncangnya.

"Apa aku pernah mengatakan kau cinta pertamaku? Atau aku memberimu cincin? Tidakkan? Kenapa kau ingin balas dendam?"

"Karena kau sudah mempermainkan perasaanku dan aku membenci pembohong" jawab Chen cepat dengan nada tinggi. Lay melepas cengkramannya, ia menarik nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan secara kasar.

"Kalau kau tidak bisa memaafkan tidak apa-apa. Aku sudah menjelaskan semuanya dan kata maaf sudah aku ucapkan. Jadi, keputusan memaafkan ada di tanganmu" ucap Lay yang sudah kesal dengan sikap Chen yang seolah-olah menyalahkannya. Ya, ini memang kesalahannya tapi apa Chen tidak bisa memaafkannya? Ia tidak meminta Chen untuk membalas perasaannya hanya memaafkan dirinya saja.

"Aku tidak memaafkanmu" ucap Chen dengan pandangan semakin tajam. Ia berjalan meninggalkan Lay yang terdiam di tempat. Beberapa menit kemudian, ia mengusap kasar rambutnya karena terlalu muda menyerah.

.

.

"Sehun sunbae benar-benar ingin keluar dari SM High School?"

"Hm… aku dengar begitu"

Jongin yang mendengar bisik-bisik hoobaenya segera berlari menuju lift agar cepat sampai ke lantai atas. Ia berlari cukup kencang di koridor kelas menuju ruang loker. Sehun ada di sana sedang mengemasi barang-barang di lokernya. Ia menghampiri Sehun, berdiri di samping sahabatnya ini yang terlihat tidak bersemangat.

"Apa kau benar-benar akan pergi?" tanya Jongin pelan. Sehun mengangguk tanpa menatap ke arah Jongin. Ia menghentikan gerakan tangan Sehun, menatap mata Sehun dengan pandangan memelas lebih tepatnya memohon.

"Kajima, Sehun-ah" pinta Jongin lagi. Sehun tersenyum sambil melepaskan tangan Jongin, ia kembali mengemasi barang-barangnya membuat Jongin serasa menangis.

"Kajima, XOXO Class akan hancur jika kau pergi. Jebal" pinta Jongin kali ini memegang kedua tangan Sehun.

"Aku pindah bukan karena kau tapi, orangtuaku. Mereka ingin melihatku belajar sungguh-sungguh, sudah cukup waktu main-mainku" ucap Sehun seraya melepas genggaman tangan Jongin. Ia membawa box nya keluar dari ruang loker, meninggalkan Jongin yang berdiri kaku dengan tangan masih mengambang.

"Festival ini bukan untuk main-main" gumam Jongin sangat pelan.

.

.

Latihan acting Baekhyun dan Suho kali ini lumayan sulit. Mereka tidak seperti biasanya yang berakting natural, mereka berakting seperti dibuat-buat membuat Yoona menjambak rambut frustasi. Mereka harus mengulang adegan sebanyak 15 kali dan itu membuat Yoona menggeram kesal dan marah.

"Latihan yang sangat berat ini kita tunda dulu, sebagai hukuman Baekhyun, dan trio XOXO belikan kami semua kopi"

Baekhyun berdecih mendapat hukuman seperti itu. Ia dan trio XOXO pergi menuju kedai café yang tidak jauh dari sekolah mereka.

"Baekyun-ah, kau kenapa tidak bisa berakting semudah itu bersama Suho? Biasanya kalian selalu cepat menyelesaikan acting" tanya Seohyun saat mereka sedang menunggu kopi pesanan mereka.

"Aku sedang tidak mood"

"Jinjja? Apa kalian putus?" tanya Tiffany masih penasaran. Baekhyun menatap Tiffany, ia cukup lama menatap Tiffany sampai-samapi Taeyeon yang cemburu merengkuh pinggang Tiffany.

"Hmm… kami hanya berkencan sebentar"

"MWO?!" teriak Tiffany, Seohyun, dan Taeyeon bersamaan. Baekhyun menatap sekeliling, beberapa pasang mata memperhatikan mereka karena trio XOXO benar-benar menarik perhatian pengunjung café.

"Anni wae?" tanya Taeyeon sedih. Baekhyun tersenyum kecil, ia mengambil beberapa kantong berisi kopi dan membawanya. Taeyeon cemberut melihat Baekhyun tidak menjawabnya. Baekhyun harus merahasiakan semuanya, ia tidak ingin keluarga Suho dan keluarganya menjadi buah bibir karena trio XOXO terkenal dengan mulut ember mereka. Saat membuka pintu, seorang wanita bertubuh mungil, usianya sekitar 30 tahun dan memakai mantel cokelat menghampiri Baekhyun.

"Byun Baekhyun-ssi" Baekhyun tahu wanita yang ada di hadapannya ini siapa. Ibu kandung Suho, Kim RyeoWook. RyeoWook memberikan kartu namanya pada Baekhyun.

"Bisa kita bicara sebentar"

Baekhyun menyetujui permintaan Ryeowook untuk bicara di dalam café secara pribadi. Baekhyun menatap kopi yang ada di hadapannya dengan datar. RyeoWoo menyesap kopinya sebentar lalu menatap wajah Baekhyun yang sangat datar.

"Kalian berkencan sudah berapa lama?" tanya RyeoWook.

"Satu bulan" jawab Baekhyun, ia menyesap sedikit kopinya, menaruhnya sangat pelan.

"Peristiwa memalukan itu terjadi 7 tahun lalu, apa kau tidak bisa melupakannya?" tanya Ryeowook kali ini seperti meminta pada Baekhyun. Baekhyun menghela nafas, ia menatap Ryeowook sebentar lalu tersenyum.

"Anni, ingatan itu sangat membekas di ingatanku. Bagaimana cara licikmu menghancurkan perusahaan dan keluargaku" jawab Baekhyun pasti.

"Aku minta maaf. Aku sempat terpengaruh pada bajingan itu, aku tidak sadar karena keputusanku sebuah keluarga hampir hancur. Ceosonghamnida" ucap Ryewook menjelaskan apa yang terjadi 7 tahun lalu tapi sepertinya itu tidak akan berhasil.

"Seharusnya aku tidak bertemu dengan Suho, seharusnya aku tidak memiliki perasaan itu" gumam Baekhyun yang masih menyalahkan dirinya sendiri. Ryeowook menggenggam tangan Baekhyun dan menatap penuh harap pada Baekhyun.

"Semenjak kalian putus, Suho seperti hidup tanpa raga, sebagai Ibu aku tidak tega melihatnya seperti itu. Dari hatiku yang terdalam Aku minta maaf dan aku harap kalian bisa bersama lagi" pinta Ryeowook lagi. Baekhyun tersenyum lalu melepas genggaman tangan Ryeowook.

"Aku tidak bisa melakukan apa yang Nyonya minta" balas Baekhyun lembut. Ia bangun dari duduknya, meninggalkan Ryeowook yang terduduk di tempat. Ia sudah melakukan pilihan salah menikahi bajingan yang dulu berstatus suaminya dulu.

.

.

Rapat yang membosankan di adakan lagi. Kali ini mereka membicarakan acara SM Award yang akan di adakan 3 hari sebelum ujian kelulusan. Chanyeol menatap jengah beberapa proposal yang diajukan teamnya.

"Igo, apa ini yang kalian bisa pikirkan?" tanya Chanyeol sambil membanting proposal buatan anggotanya. Baekhyun membuang tatapannya menahan amarah melihat sikap sok dari Chan gila keluar. Ia menatap Stand Team dan Stage Team mengernyit heran melihat tiga bangku tidak terisi.

"Do KyungSoo, eodisseo?" tanya Chanyeol sambil membuka proposal D.O yang sama jeleknya seperti buatan anak SD.

"Dia tidak masuk, katanya dia akan pergi ke suatu tempat cukup lama" jelas JongSuk. Chanyeol menghela nafas lalu membuang semua proposal buatan anggota teamnya ke tempat sampah. Kris menahan nafasnya antara kesal dan tidak terima.

"Festival akan dimulai minggu depan. Persiapkan semua dengan matang, aku tidak mau melihat kesalahan sekecil apapun dan besok kita ada rapat tentang SM Award lagi" ucap Chanyeol cepat, ia segera keluar ruangan dengan telfon tertempel di telinganya. Telinga mendengarkan suara orang berbicara sementar matanya tertuju pada kertas-kertas.

Jongin meringis melihat kerja Chanyeol seperti robot, ia pasti terbebani dengan semua tugas yang memaksanya berpikir tentang orang lain. Ia semakin meringis menahan sakit melihat Chanyeol tertabrak pintu. Chanyeol memijat pelipisnya lalu kembali berjalan masih dengan ponsel dan mata tertuju pada kertas-kertas.

"D.O, eodiya?"

"Hm… biasanya dia paling rajin datang saat rapat dan biasanya usulannya selalu diterima. Apa yang terjadi dengan XOXO Class"

Jongin menutup laptopnya, ia keluar dari kelasnya yang sangat ribut karena mereka harus berpikir lebih dari kapasitas otak mereka. Jongin menatap pintu perpustakaan di hadapannya dengan ragu, ia membuka pintu jati itu perlahan dan masuk ke dalam secara perlahan juga. Ia berkeliling ke setiap rak mencari keberadaan Chanyeol yang ternyata memilih meja di pojok ruangan.

"Nde… Arraseo…"

Jongin tersenyum kecil, ia menaruh agenda rapat hari ini di meja, ia duduk menatap Chanyeol yang masih sibuk dengan laptop dan tidak menyadari kehadirannya. Tatapannya beralih ke kening Chanyeol yang sedikit mencolok dengan satu goresan berwarna merah. Mungkin luka yang dia dapat saat menabrak pintu tadi. Beberapa menit berlalu, Chanyeol baru menyadari kehadiran Jongin.

"Oh? Jongin-ah, waegeurae?" tanya Chanyeol sambil tersenyum tapi tangannya terus bergerak membuka lembaran-lembaran file dari kepala sekolah dan beberapa sponsor. Jongin mendekati Chanyeol, menjauhkan tangan Chanyeol dari berbagai kertas-kertas itu. Jongin merogoh saku seragamnya mengambil plaster yang selalu ia bawa, dengan lembut Jongin menyibak poni rambut Chanyeol untuk memasangkan plaster ke luka Chanyeol.

Chanyeol tersenyum mendapat sedikit perhatian dari Jongin. Ia tatap lekat-lekat mata cokelat terang yang selalu membuatnya kesal sekarang membuatnya gila. Setelah selesai, Jongin menjauhkan tangannya dari kening Chanyeol.

"Gweanchana?" tanya Jongin. Chanyeol tersenyum lalu kembali mengcek kertas-kertas yang baru beberapa menit ia tinggal.

"Na gweanchana" jawab Chanyeol. Jongin menghela nafas, ia mengeluarkan sekaleng kopi dari saku celananya dan memberikannya pada Chanyeol. Chanyeol semakin tersenyum, ia menerimanya sambil tersenyum.

"Gomapta" ucap Chanyeol. Jongin tersenyum lagi, lalu menggenggam tangan Chanyeol agar berhenti membaca tumpukan kertas itu.

"Istirahatlah, kau semakin tidak fokus saat lelah" Chanyeol tertawa kecil lalu menjauhkan tangan Jongin. Ia duduk menghadap Jongin sambil meminum kopi dari Jongin.

"Aku harus bekerja keras, aku tidak ingin kalian semua tidak lulus"

"Tapi kau juga harus ingat kesehatanmu" ucap Jongin khawatir dengan kesehatan Chanyeol. Ia membuka kaleng kopinya tapi sedikit susah, Chanyeol mengambil kaleng itu dan membukanya untuk Jongin.

"Gomapta. Chanyeol-ah, apa kau tidak ingin memberitahu mereka? Lebih baik memberitahu mereka agar kita bisa bekerja bersama-sama, itu lebih baik daripada bekerja sendiri" usul Jongin. Chanyeol menggeleng membuat senyum Jongin sedikit memudar, sikap keras kepala yang membuatnya kesal sekaligus… sedikit merasakan desiran aneh itu.

"Shireo, aku tidak ingin membuat mereka panik" tolak Chanyeol masih dengan sikap keras kepalanya. Jongin mengangguk paham ia tidak bisa membantah lagi. Pandangannya beralih ke kertas-kertas Chanyeol, senyum misterius terpatri di bibir penuhnya.

"Kau mau apa?" tanya Chanyeol. Jongin tersenyum mendengar pertanyaan Chanyeol, beberapa kertas yang semula bertumpuk di hadapan Chanyeol sekarang berpindah ke tempatnya.

"Membantumu. Meskipun aku murid paling bodoh aku paham masalah-masalah seperti ini" jawab Jongin sedikit menyombongkan dirinya. Chanyeol tersenyum menatapi wajah manis yang sekarang terlihat sangat fokus dengan file-file yang sebenarnya sangat menyebalkan.

"Kalau kau memberiku ciuman atau pelukan itu sudah membantu"

Secara otomatis tubuh Jongin terdiam, ia bingung ingin merespon dengan apa ucapan Chanyeol yang seperti memintanya untuk membalas perasaan Chanyeol. Ia melirik ke arah Chanyeol yang sedang menatapnya. Mereka bertatapan sedikit canggung karena ucapan Chanyeol barusan.

"Hahaha… aku hanya bercanda. Mana mungkin aku memintamu melakukan itu padahal aku sudah berjanji tidak akan memaksamu" ucap Chanyeol sambil tertawa hambar tanpa menunggu reaksi Jongin ia kembali membaca file-file miliknya. Jongin berdehem, ia meminum kopinya dan kembali membaca-baca sebagaian file-file milik Chanyeol. Meskipun dengan suasana sedikit canggung.

.

.

Malam hari yang dingin tidak membuat Chanyeol beranjak dari tempatnya berdiri. Sudah dua jam lamanya ia berdiri di depan mini market yang sering didatangi Sehun dan Jongin. Tujuan utumannya bukan bertemu Jongin tapi, Sehun. Ia melirik arloji berwarna hitamnya yang menunjukan angka 9. Chanyeol menggosok kedua telapak tangannya cukup kuat berusaha mencari kehangatan.

Sebuah suara siul khas yang sangat Chanyeol kenal terdengar. Ia tersenyum lalu menghampiri Sehun yang berniat masuk ke dalam mini market.

"Oh Sehun-ssi" panggil Chanyeol sopan. Sehun yang merasa namanya dipanggil menolehkan kepalanya ke belakang. Pria yang secara tidak langsung menjadi saingannya ini berdiri di hadapannya sambil membawa dua kaleng soda.

Sehun setuju dengan ajakan Chanyeol minum soda. Lima menit lamanya mereka hanya diam tanpa saling menatap, mereka sibuk meminum soda mereka.

"Apa kau benar-benar akan pergi?" tanya Chanyeol memulai percakapannya. Sehun menghela nafas mendengar pertanyaan yang selalu ia dengar berulang kali.

"Molla" jawab Sehun seadanya, ia meminum sodanya lagi lalu tersenyum lebar seperti tidak ada beban. Chanyeol menghela nafas melihat sikap bermain-main Sehun.

"Aku tidak akan membicarakan masalah utamanya. Aku mau kau untuk tetap bertahan di SM High School" pinta Chanyeol. Sehun diam, tidak membalas permintaan Chanyeol yang selalu ia dengar berulang kali juga.

"Wae? Bukankah aku menyebalkan dan aneh? Kenapa kau ingin aku tinggal?" tanya Sehun dan kembali meminum sodanya. Chanyeol membukan lagi kaleng soda untuk Sehun.

"Kau memang membuatku kesal, kau orang yang aneh dan menyebalkan. Tapi, aku membutuhkan kemampuanmu untuk festival ini dan SM Award. Setelah SM Award aku tidak mencegahmu untuk pindah, bertahanlah sampai SM Award" pinta Chanyeol mulai membahas masalah utama yang selalu menghantuinya. Sehun mengernyit mendengar permintaan Chanyeol kali ini lebih berani dan sedikit memaksa hanya karena sebuah acara tahunan sekolah.

"Aku tidak bisa menarik keputusan yang sudah aku ambil. Jadi, maaf aku tidak bisa" ucap Sehun, ia bangkit dari duduknya berniat pergi. Hanya ini satu-satunya cara untuk mencegah Sehun pergi, memberitahu semua rahasianya.

"Jika kau tetap pergi maka semua murid XOXO Class tidak akan lulus"

Sehun memberhentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Chanyeol dan kembali duduk berhadapan dengan Chanyeol.

"Mworago?" tanya Sehun memastikan pendengarannya. Chanyeol menghela nafas dalam-dalam sebelum menceritakan semuanya.

"Aku dan murid VVIP Class di pindahkan ke XOXO Class karena Kepala Sekolah sudah bosan dan kehilangan akal untuk menaikan nilai kalian. Dewan guru dan kepala sekolah yang memutuskan semua ini, hanya dengan festival. Jika pemasukan festival melebihi tahun lalu maka kita bisa mempunyai poin yang cukup untuk nilai dan SM Award itu ditentukan oleh jumlah karcis yang akan menonton acara tahunan ini yang sengaja dibuat terbuka"

Sehun bersiul cukup kuat mendengar semua kejutan dari ketua Park Chanyeol. Ia tidak menyangka kalau dua acara tahunan ini adalah tes untuk XOXO Class.

"Jika kita gagal, XOXO Class tidak akan lulus sementara VVIP Class akan dikenal dengan kegagalan. Aku tidak ingin itu semua terjadi, aku mohon tetaplah tinggal" pinta Chanyeol kali ini memberitahu hasil terburuk dari-bisa di bilang tes- tes ini.

"Molla, aku tipe orang yang sulit menarik keputusanku" ucap Sehun singkat lalu berjalan pergi meninggalkan Chanyeol dengan wajah takut, khawatir serta sedih.

.

.

"Haicuu!"

Tao menarik tissue yang entah keberapa kali untuk megelap hidungnya yang mengeluarkan air. Ia flu berat, karena itu ia tidak masuk sekolah. Kepalanya pusing luar biasa, ia jarang terkena flu tapi kalalu sudah terjangkit bisa dipastikan ia teller seperti ini.

"Minum obatmu" perintah Zhoumi, kakak sepupunya. Tao mengangguk, ia segera mengambil pil putih itu dan menelannya. Zhoumi tersenyum kecil, ia mengusap rambut adik sepupunya sayang.

"Tidurlah sudah malam ini" perintah Zhoumi tapi di balas gelengan oleh Tao.

"Menunggu Kris Wu menelfon?" ledek Zhoumi yang paham arah pandangan Tao selalu menuju ponsel hitamnya. Tao yang kesal dengan ledekan Zhoumi menidurkan tubuhnya memunggungi kakak sepupunya. Zhoumi tersenyum kecil lalu keluar dari kamar adik sepupunya, beberapa menit berlalu Tao melirik ponselnya yang tidak menampilkan satupun gambar amplop, gagang telfon atau suara 'Ktalk'.

"Dia pasti sedang bersama yeojachingunya" gumam Tao sangat pelan dengan suara seraknya. Ia menutup matanya berusaha tidur meskipun kepalanya super pusing, saat membuka mata semua objek yang ia lihat berputar tidak karuan.

TING

Tao menggeram kesal mendengar suara denting ponselnya, kenapa ada orang mengirim SMS saat ia hampir tidur.

'Kau kenapa tidak masuk?'

Mata Tao membulat sempurna membaca pesan dari Kris yang sangat pendek tapi cukup mengejutkan. Ia hanya terpaku pada pesan teks di ponselnya ini, apa Kris mengkhawatirkannya? Apa Kris juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

'Kau suka sungai Han kan?' Tao mengernyit membaca isi pesa teks kedua Kris. Apa dia mengirim ini untuk memanas-manasinya? Pasti dia sedang kencan dengan Victoria itu.

'Cepat temui aku… aku ingin menemuimu'

Tao keluar dari selimutnya. Ia berulang kali memastikan pesan ketiga Kris ini. Dia tidak sedang kencan? Apa Kris sengaja melakukan ini seperti beberapa minggu yang lalu. Tao menatap ponselnya penuh harap agar Kris mengiriminya pesan teks lagi.

'Cepatlah! Aku tidak suka dingin'

"Dia datang? Menemuiku? Dia tidak sedang kencan?" tanya Tao pada dirinya sendiri. Ia melompat dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya yang bernuansa hitam putih. Zhoumi yang melihat Tao hendak keluar mencegatnya.

"No Eodiya?" tanya Zhoumi khawatir. Tao menoleh ke arah Zhoumi sambil tersenyum, ia merapatkan mantel hitamnya serta syal berwarna putihnya. Entah kemana sekarang sakit kepalanya yang membuatnya seharian tiduran di kamar. Ia merasa sehat mendapat pesan teks seperti itu dari Kris.

"Menemui seseorang yang bisa menyembuhkanku" jawab Tao ambigu membuat Zhoumi mengangkat alisnya bingung. Sebelum ia bertanya lebih jauh lagi, Tao sudah berlari keluar rumah.

"YA! Apa kau menemui tabib? Atau dokter? Tao! YA! Huang ZiTao!"

.

.

Tao berlari menuju jembatan Hannam yang sangat indah malam ini karena di hiasi lampu berwarna pink, ungu dan hijau. Matanya melebar sempurna melihat Kris berdiri menatap sungai Han yang semakin terlihat cantik saat malam hari. Pria China-Kanada itu memakai mantel cokelat muda, syal yang sangat tebal hampir menutupi setengah wajahnya. Mata hitam kelamnya menatap lurus ke depan. Perlahan Tao mendekatinya, tidak berlari, hanya berjalan santai.

Kris yang menyadari seseorang datang menoleh ke sumber suara langkah kaki yang sedikit Kris paham. Tao ada di hadapannya dengan tatapan masih takut-takut. Kris tersenyum lembut, ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar mempersilahkan Tao untuk datang dan berhambur ke pelukannya yang hangat. Tao tersenyum kecil, ia segera berlari menghampiri Kris dan berhambur ke pelukan hangat pria yang sudah membuatnya jatuh cinta.

Kris tersenyum lebar mendapati tubuh Tao sangat erat memeluknya. Ia melebarkan mantelnya sambil memeluk tubuh Tao, berusaha menghangatkan tubuh yang sedikit pendek darinya.

"Kau dingin sekali" komentar Kris sambil mengelus rambut hitam legam yang sangat lembut milik Tao. Tao tersenyum kecil, ia semakin mempererat pelukannya berusaha mencari kehangatan di pelukan orang yang ia sayang.

"Kau tidak kencan dengan Victoria?" tanya Tao, hampir selama dua bulan lebih ia memendam ini dan ia sangat penasaran akan siapa itu Victoria? Kris tertawa kecil membuat Tao mengernyit heran di pelukan Kris.

"Dia kakak sepupuku yang tinggal bersamaku dan Henry gege. Aku dan dia memang seperti itu, seperti sepasang kekasih" Tao tersenyum lega mendengar jawaban Kris yang sudah membuka lebar-lebar jalannya untuk bisa berkencan dengan Kris.

"Gege, apa kau single?" tanya Tao pelan dan terkesan seperti anak kecil yang bertanya pada kakaknya. Kris tersenyum mendengar panggilan gege dari Tao. Pelukan yang sangat erat itu ia kendurkan, ia pindahkan salah satu syalnya, memasangkannya ke leher Tao.

"Menurutmu kalau aku melakukan ini kira-kira apa statusku?" tanya Kris, Tao mengernyit heran karena ia tidak mendapat jawaban malah mendapat pertanyaan. Kris memegang kedua lengan Tao, tanpa aba-aba ia mempertemukan bibir miliknya dan bibir milik Tao. Tao yang tidak sempat menutup mata bisa melihat jelas wajah tampan Kris dalam jarak yang sangat dekat. Ia memiringkan kepalanya ke kanan guna memperdalam ciuman mereka. Kris yang mengerti memindahkan tangannya yang semula memegang kedua lengan Tao berpindah memegang pinggang ramping Tao.

Tangan yang awalnya dingin mulai menghangat dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Tangan kanannya digenggam erat dan dimasukkan ke saku mantel Kris. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya, ia merasa sembuh karena mendapat obat yang paling bagus.

"Kris ge" panggil Tao pelan.

"Hm… waeyo?" tanya Kris lembut, ia semakin menggenggam tangan Tao yang berada di saku mantelnya. Tao menggeleng sambil tersenyum.

"Kenapa kau memanggilku gege?" tanya Kris yang baru sadar panggilan gege dari Tao. Memang ia lebih tua setahun dengan Tao tapi ia baru tahu kalau Tao mengetahu tahun lahirnya.

"Kris ge lebih tua setahun dariku. Jadi, aku ingin memanggilmu gege. Tidak boleh?" tanya Tao melirik Kris takut-takut. Kris menggeleng membuat Tao memberhentikan langkahnya yang otomatis menghentikan langkah Kris.

"Wae?"

"Lalu kenapa gege bertanya?" tanya Tao penasaran dan bingung. Kris mengelus puncak kepala Tao membuat Tao kembali tersipu malu.

"Aku hanya penasaran darimana kau tahu aku lebih tua darimu?" tanya Kris, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Tao. Tao memundurkan wajahnya, membuat Kris semakin mendekatkan wajahnya, menuntut Tao untuk menjawab pertanyaan Kris.

"Bagaimana kalau gege sakit karena ciuman itu?" tanya Tao, Kris menjauhkan wajahnya mendengar pertanyaan Tao yang mengalihkan topic pembicaraan.

"Gweanchana, kalau kita sakit bersama kita bisa satu rumah sakit" Tao mencubit pinggang Kris karena mendoakan dirinya secara tidak langsung agar sakit setiap saat. Kris mengelus pingganya yang sedikit nyeri karena cubitan Tao.

"Kalau kita sakit bagaimana dengan stage team? Aku tidak mau teman-temanku dimarahi Chan gila. Oh ya, bagaimana kabar festival?" tanya Tao penasaran. Kris terdiam cukup lama membuat Tao mengernyitkan keningnya bingung. Ia bisa melihat jelas wajah khawatir Kris yang semakin membuatnya takut, jangan-jangan terjadi sesuatu.

"Oh Sehun benar-benar keluar dari sekolah, dia memutuskan untuk bersekolah di JinStar High School"

"MWORAGO?" teriak Tao masih tidak percaya. Ia pikir Sehun hanya bercanda waktu itu dan tidak lama dia akan menarik keputusannya itu tapi ternyata tidak.

"D.O juga tidak ada kabarnya sejak kemarin. Terjadi sedikit kekacauan" ucap Kris semakin membuat Tao terdiam. Ia melepas genggaman tangannya membuat Kris mengernyit heran.

"Apa kita pantas bahagia? Mereka sedang bersusah payah kita malah seperti ini" tanya Tao merasa tidak enak mendengar jawaban Kris. Kris tersenyum mendengar kebaikkan Tao.

"Lalu? Apa kita akan berpura-pura tidak bahagia? Lebih tidak enak lagi bersekolah menggunakan topeng. Aku akan antar baby panda pulang, setelah sampai istirahatlah" ucap Kris bijak. Tao tersenyum mendengar ucapan kekasih barunya. Kris balas tersenyum sambil membukan pintu mobilnya untuk Tao.

.

.

.

.

Suasana XOXO Class semakin kacau. Mereka kehilangan teman sejati mereka-Sehun yang sudah tidak masuk dua hari dan D.O yang entah kemana. Pagi ini pun mereka ribut mencari kabar D.O dan Sehun.

"Apa Sehun pergi tanpa mengerjakan tugasnya?" tanya Baekhyun sedikit kesal.

"Dia mengirim design lewat e-mail. Tapi, saat aku membalasnya dia tidak menjawab lagi" jawab Seohyun dengan suara kecil hampir menangis. Jongin yang mendengar percakapan yang membahas Sehun segera berlari keluar kelas, ia masih berusaha menghubungi Sehun meskipun tidak di angkat-angkat.

"Sehun-ah… D.O-ya" gumam Jongin sangat pelan. Ia memberhentikan langkahnya merubahnya menjadi berlari sangat kencang keluar area sekolah. Ia harus menemui D.O karena dia tidak ada pemberitahuan sama sekali, Jongin takut, ia masih terbayang-bayang dengan pertengkaran mereka.

"D.O-YA!" teriak Jongin memasuki rumah D.O melalui kaca jendela karena pintu rumahnya terkunci. Yang Jongin bisa lihat hanyalah ruangan tanpa isi apapun, ia memasuki setiap kamar mencari sesuatu yang masih tersisa tapi tidak ada sama sekali. Kamar terakhir yang ia masuki berada di lantai atas. Di kamar ini hanya ada tempat tidur dan lemari berisi beberapa pakaian serta selembar kertas di meja.

"Ige mwoya?" gumam Jongin membaca deretan kalimat yang ternyata sebuah alamat. Matanya melebar sempurna menatap tulisan terakhir bertuliskan 'International Incheon Aritport'.

"Apa… D.O berniat pergi tanpa memberitahu siapapun?" tanya Jongin dengan suara sangat pelan. Ia berjalan keluar kamar dengan sangat cepat, ia menyetop taxi dan menyuruh supir untuk mengemudi lebih cepat.

Jongin berkeliling bandara dengan secarik kertas dengan tulisan tangan D.O. Matanya terus berkeliling mencari sosok namja mungil bermata bulat yang cukup mencolok. Tidak ada! Tidak ada! D.O sudah pergi tanpa mengatakan apapun. Bahkan tanpa menunggu Jongin mengatakan maaf karena sudah bertengkar dengannya. Jongin terduduk dengan air mata mengalir deras.

"Kyungsoo-ya… hiksss… Kajima… Kyungsoo-ya"

'Saat aku ingin menjelaskan dan merelakan kebahagianku. Orang yang ingin aku berikan kebahagian malah pergi entah kemana. Sekarang aku tidak bisa bertemu dengannya… D.O… anni… Kyungsoo-ya… pergi meninggalkanku'

"Hiksss… Kyungsoo-ya"

To Be Continue

(Next Chapter)

"MWO?!"

"JINJJA?!"

"Na gweanchana"

"Tapi aku yang tidak enak"

"Antarkan aku pulang"

"Mwo?"

"Gege…"

"Hmm…"

"Ini bukan mimpi"

"Jalja"

"Gweanchana?"

"Ani, angweanchana"