"Kau benar Byun Baekhyun?"

Yang bisa Baekhyun lakukan saat ini hanya mengapit dua kaki, menatap sedikit canggung pada 3 orang yang sedang mengintimidasinya dalam pandangan ambigu, serta melafalkan doa apapun yang ia tahu agar setelah dari sini dia bisa pulang dengan selamat.

"I-iya, om."

"Sekolah dimana?"

"Eh?"

"Ayah, tentu dia satu sekolah dengan si penghabis stok sabun itu." si wanita muda menimpali, lalu berpindah duduk di samping Baekhyun dan melebarkan tawanya. Kalau Baekhyun bisa menebak, wanita ini pasti saudara kandung Chanyeol. Dari cara tersenyum dan bagaimana mata itu melebar sempurna, 100% seperti melihat Chanyeol menggunakan wig sebatas bahu.

"Hm.." si om itu mengusak janggutnya yang tak berambut, matanya menyipit sebentar sebelum akhirnya Baekhyun mendapat pelukan dadakan. Baekhyun baru berada di antara mereka selama beberapa menit, tapi pelukan-pelukan itu terus berdatangan seakan Baekhyun ikhlas-ikhlas saja menerima. Satu keluarga ini benar-benar lengkap menguasai eksistensi Baekhyun. Si anak lelaki yang sudah mencuri keperjakaan bibir Baekhyun dan si ayah yang suka memeluk sembarangan. "Manis juga. Masih single, kan? Kau tidak masalah, kan, jika om menjadikanmu yang kedua?"

Lalu yang om itu dapatkan adalah cubitan di pinggang oleh si wanita yang lebih berusia dan terjadilah insideh pengampunan dari sepasang suami-istri itu.

"Perkenalkan dulu. Namaku Park Yoora, kau bisa memanggil aku Yoora. Tapi kalau kau merasa itu terlalu panjang, kau bisa memanggilku Baby."

"Y-ya?"

"Tidak ku sangka kau secantik ini." seru Yoora yang tak henti membinarkan mata pada eksistensi Baekhyun.

"M-maaf, s-saya lelaki."

"Ya, aku tahu. Tapi tetap saja kau cantik. Lihat, jarimu bahkan lebih indah dari seorang perempuan. Beruntung sekali yang bisa menggenggamnya kelak."

Kiranya Baekhyun akan mendapat interogasi serius dari 3 orang di hadapannya ini, tapi yang terjadi justru sesuatu yang membuat Baekhyun ingin tiba-tiba di hilangkan keberadaannya daripada dia mengalami kerusakan jiwa. Bagaimana tidak? Semua yang terlontar terasa konyol dan Baekhyun seperti dipaksa turut basah dalam kekonyolan keluarga ini.

"Baekhyun, kami harus pergi ke acara keluarga. Tidak masalah, kan, kami tinggal?"

"I-iya, tante."

"Kamar Chanyeol ada di atas, pintu berwarna putih dengan sticker Iron Man menempel. Masuk saja, dia sedang belajar. Anggap saja rumah sendiri, kau calon menantu terbaik kami."

Ya Tuhan, kapan mereka berhenti menyebutku menantu? Adalah apa yang Baekhyun keluhkan dari hati terdalam.

Ayah dan Ibu Chanyeol sudah pergi beserta si kakak perempuan. Baekhyun hanya bisa termangu di tempat, seorang tamu yang baru pertama berkunjung tapi di tinggal begitu saja. Jika Baekhyun sudah terkontaminasi dengan pikiran jahat, dia bisa saja menggasak semua yang berharga di rumah ini. Tapi Baekhyun tidak seperti itu, dia memiliki hal lain yang lebih penting daripada harta-harta di rumah ini.

Sesuai petunjuk, Baekhyun menaiki tangga menuju lantai dua dan ketika sampai di pangkal tangga sudah bersambut pintu putih ber-sticker Iron Man.

Detak jantungnya terpompa dalam irama yang menggebu, basah di telapak tangan menandakan jika Baekhyun terlampau tegang dan meragu ketika tangannya terulur ke gagang pintu.

Bagaimana jika Chanyeol masih marah?

Bagaimana jika Chanyeol mengusirnya?

Dan parahnya lagi, bagaimana jika Chanyeol membunuhnya di tempat?

Ya Tuhan, Baekhyun bahkan belum genap dua puluh tahun dan baru 2 kali mimpi basah. Dia tidak ingin mati muda.

Jika ditelisik lagi, kesalahan sepenuhnya bukan berasal dari Baekhyun. Minho terlalu percaya diri dengan mengecup punggung tangannya sedang Baekhyun saat itu teramat wajar jika terpaku dalam diam. Bukan menikmati, tapi mencoba mencerna bagaimana seharusnya dia bersikap karena status mereka sudah bukan sepasang kekasih.

Sayangnya Chanyeol terlalu terburu mengambil kesimpulan. Dia bahkan sudah mengibarkan bendera perang dan melakukan aksi pendiaman serta pengabaian yang panjang.

Baekhyun tidak bisa seperti ini. Kesalahpahaman ini sudah seharusnya di selesaikan dan diakhiri agar Baekhyun bisa...bisa...entahlah, Baekhyun tidak memiliki kelanjutan yang jelas setelahnya.

Tangannya maju-mundur, ragu mengetuk atau membuka langsung. Tapi dalam kode etik seorang tamu, seharusnya Baekhyun mengetuk pintu terlebih dahulu demi menjunjung tinggi norma kesopanan yang selama ini diajarkan oleh ibu.

Ketukan pertama hanya bersambut hening dari dalam kamar itu.

Ketukan kedua menemui keadaan yang sama.

Ketukan ketiga yang sedikit keras Baekhyun lakukan masih mendapat keheningan.

Apa Chanyeol tidur?

Tapi ini masih belum melewati pukul sembilan dan tadi ibunya mengatakan Chanyeol sedang belajar.

"Mungkin aku harus membukanya sedikit," gumam Baekhyun demi menyangkal sesuatu yang buruk yang mendadak datang dalam pikirannya. "C-chan.."

Bunyi seok dari pintu yang terbuka itu memulai sebuah cerita. Dimana Baekhyun yang memiliki mata sipit khas pribumi Korea mendadak membolakan mata kala sosok yang di katakan sedang belajar itu duduk di sebuah laptop. Bukan pada laptopnya, tapi dari seraut wajah yang terpejam samar-samar dengan tangan yang tersembunyi di bawah.

"Chanyeol?"

"...ya Tuhan, bahkan suaramu terdengar seperti kenyataan, Baek."

"Chanyeol?"

"..jangan sebut namaku seperti itu. Ahh.."

Entah Chanyeol sedang bermimpi sesuatu atau dia salah makan, yang jelas si tinggi itu sedang sibuk dengan sesuatu yang membuat tangannya bergerak tidak beraturan di bawah sana.

"Kau sedang apa?" Baekhyun hanya berani berdiri sebatas balik pintu. Dia tidak ingin mengganggu tidur Chanyeol karena buruk akibatnya jika si adik kelas itu semakin marah padanya.

"Tentu aku sedang menus—Oh?" tiba-tiba matanya terbuka lebar, menampakkan satu keterkejutan yang membuat Chanyeol membeku sebentar sebelum akhirnya dia kelimpungan dengan dirinya sendiri.

Dari balik meja itu terjadi suatu keributan yang membuat Chanyeol sempat jatuh dari kursi dan mengerang kesakitan.

Baekhyun yang mengetahui hal itu ingin membantu tapi Chaneyeol lebih dulu melarang. "Jangan mendekat! Tetap di sana!"

"Tapi itu sabunnya jatuh di atas karpetmu.."

"Biar aku sendiri yang membersihkan. Kau tetap di sana."

Dan sebenarnya apa yang Chanyeol lakukan dengan sabun yang ada di atas meja? Baekhyun mencoba menghubungkan banyak hal tentang semua itu tapi dia tetap tidak mengerti.

.

.

Baekhyun kembali duduk dengan kaki terapit rapat dan pandangan yang jatuh ke ujung kakinya. Pinggiran ranjang Chanyeol yang ia duduki mendadak terasa keras meski Baekhyun sepenuhnya yakin Chanyeol memiliki ranjang kualitas nomer 1 yang bisa membuat tidur menjadi nyaman.

Semua karena intimidasi pandangan dari si mata lebar yang duduk di hadapan Baekhyun dengan melipat tangan di depan dada. Dipandangi langsung di depannya seperti itu membuat nyali Baekhyun mendadak tenggelam ke dasar laut, terlebih tak ada satu senyum yang ada di bibir Chanyeol.

"Jangan melihatku seperti itu.." Baekhyun mengawali dengan cicitannya yang terdengar ciut.

"Ada apa datang kesini?" dan suara Chanyeol terdengar sangat dingin.

"A-aku..hanya ingin menjelaskan sesuatu."

"Apa?"

"Tentang yang kau lihat antara aku dengan Minho."

"Tck!" Chanyeol membuang muka. "Memang apa yang ku lihat?"

"Saat itu aku tidak sengaja bertemu dengan Minho. Dia meminta berjabat tangan dan..dan.."

Ada yang salah di sini. Baekhyun tidak sedang menjelaskan suatu kesalahpahaman pada kekasihnya. Ini hanya pada Chanyeol yang bahkan selalu Baekhyun anggap sebagai adik kelas tidak tahu aturan. Tapi semua membuat lidahnya keluh, tak ada kata-kata yang bisa ia jelaskan tapi Baekhyun sendiri ingin kesalahpahaman ini cepat selesai. Pengabaian yang Chanyeol lakukan membuat tidur malam Baekhyun menjadi tak seindah sebelumnya. Dia hanya ingin bisa tidur tenang, hanya itu. Tidak ada yang lain.

"Dan?"

"Yang kau pikirkan itu salah."

"Apa yang ku pikirkan hingga kau bisa menyebutnya sebuah kesalahan, Baekhyun?"

"Aku..." kepalanya semakin tertunduk, "Aku tidak ingin kau salah paham."

"Tidak ada kesalahpahaman di sini, Baekhyun." Chanyeol masih dingin, bahkan ia kembali melipat tangannya di depan dada dan menatap Baekhyun semakin tajam.

"Kalau tidak salah paham, kenapa mengabaikanku?"

"Aku biasa saja."

"M-maaf jika aku ada salah." Suaranya semakin melemah, bahkan pelupuk mata Baekhyun sudah terasa panas dengan rasa ngilu dalam hati yang mendadak menutup akses napas menuju paru-paru.

Baekhyun sama sekali tidak ingin membuat kesalahan apapun pada Chanyeol dan pada siapapun. Dia tahu, tersakiti maupun disakiti bukanlah jenis warna kehidupan yang diinginkan oleh siapapun. Meski maaf selalu tersedia untuk menghapuskan kesalahan, tapi terkadang yang terlanjur membekas sedikit sulit di hilangkan sampai kapanpun. Baekhyun hanya tidak ingin ada yang membekaskan sebuah kesalahan atas namanya. Jadi sebisa mungkin ketika seseorang telah terlukai atas perilaku yang Baekhyun lakukan, si mungil itu akan menundukkan kepala dengan penyesalan yang menembus inti bumi.

"Kau tidak salah. Kita tidak memiliki suatu hubungan khusus untuk dijelaskan jika ada kesalahpahaman."

Lalu senyum kecil di bibir Baekhyun memperpanjang rasa yang membuat dadanya semakin sesak. Beruntung dia bisa membendung air mata. Setidaknya Baekhyun bisa menahan dalam jangka waktu tertentu dan ketika sampai di kamarnya sendiri dia akan menangis habis-habisan.

"Ya, kau benar. Tapi aku tetap ingin meminta maaf."

Chanyeol tak lagi membuka suara. Diamnya lelaki itu seperti memberi pertanda jika Baekhyun sudah tidak lagi memiliki ruang untuk suatu hal apapun. Maka dengan kakinya yang sedikit lemas, Baekhyun meratapi kisahnya yang pelik ini dan melangkah pergi dari kediaman keluarga Park.

"Kalau begitu aku pulang dulu. Maaf sudah mengganggu."

Setelah ini Baekhyun mungkin akan memperbaiki diri dengan lebih berhati-hati dalam menerima perlakuan orang lain. Kesalahpahaman bisa datang pada siapapun, terlepas ada suatu hubungan yang terjalin, mata selalu memiliki kesimpulan yang lebih cepat dari fakta yang ada.

Chanyeol mungkin memendam rasa kecewa yang lebih besar. Hingga memaafkan memang sudah sepantasnya ia pertimbangkan lagi pada Baekhyun yang sudah merusak semua harapannya. Jika selepas ini Chanyeol membenci Baekhyun dalam kadar yang banyak, Baekhyun bisa menerima itu meski dirinya akan menangis di bawah bantal setiap malam.

Ya, Baekhyun akan melakukan hal itu jika saja tidak ada yang menahan langkahnya dan meletakkan sesuatu sedikit runcing serupa dagu di atas pundak Baekhyun yang lemah. Tubuhnya terpenjara oleh dua lengan di depan dadanya, menahan secara nyata pada langkah Baekhyun yang hampir mencapai batas pintu ber-sticker Iron Man.

"Minho sunbae atau siapapun, jangan pernah lagi membuat keadaan kita menjadi serumit ini." suara yang beberapa saat lalu terdengar dingin, kini lebih lembut dengan bisikannya yang tepat di belakang telinga Baekhyun. "Kau belum tahu rasanya patah hati."

"Aku sudah pernah."

"Belum merasakannya pada orang yang benar-benar kau cinta. Rasanya sakit, Baekhyun-ee."

"Aku minta maaf."

"Tidak, tidak ada yang perlu di maafkan. Aku saja yang terlalu kekanakan."

"Jangan mengabaikanku lagi."

"Iya, iya. Aku tidak akan melakukannya." Tubuh Baekhyun lalu diputar kebelakang dan pundaknya di pegang erat oleh dua tangan yang lebih terlihat manly dari milik Baekhyun. "Sudah jangan menangis."

"Aku tidak menangis." Tapi Baekhyun mencoba menyeka sudut matanya dengan punggung tangan.

"Iya, iya, tidak menangis. Duduk dulu, akan ku ambilkan kau minum. Mau apa? Teh? Kopi? Susu? Atau aku?"

Satu pukulan kecil mengenai dada Chanyeol dan si adik kelas hanya terkekeh. "Mau air asli dari pegunungan."

"Kalau air dari pegunungan aku tidak punya. Tapi kalau air suci hasil pompa aku punya."

"Heh?"

"Bercanda. Ku buatkan teh saja, ya?"

"Chanyeol?"

"Apa?"

"Jangan pergi dulu."

"Aku hanya ke dapur sebentar."

"Iya, tapi jangan pergi dulu."

"Baekhyun-ee, aku tidak kemana-mana. Hanya mengambilkanmu minuman. Setelah ini aku akan menemanimu."

"Resleting celanamu naikkan dulu baru pergilah."

"HEH?"

Semua karena Chanyeol yang terlalu terburu-buru dan melupakan sesuatu untuk di tutup setelah menghabiskan sisa sabun milik kakaknya.

APA BAEKHYUN MELIHATNYA?

.

.

TBC