Burung camar berterbangan. Menimbulkan effect tersendiri di lautan yang luas. Ditambah sinar mentari menjelajah angkasa. Ah, tidak lengkap rasanya tanpa hembusan angin kencang menyegarkan. Membuat suasana di pantai itu begitu indah. Sang penjelajah menerbangkan rambut pink milik seorang gadis. Membuatnya sedikit berantakan. Bagaikan candaan yang gagal. Gadis itu masih saja merenung. Memikirkan banyak hal. Meskipun hanya satu kata yang ia gumamkan sedari tadi.

Disclaimer:

Masashi Kishimoto

Summary:

Sasuke dan Sakura. Mereka hanya akrab melalui pesan singkat yaitu sms, tetapi saat bertemu mereka tampak tak saling kenal. Lalu, apakah yang akan Sasuke lakukan setelah mengetahui bahwa Sakura mengidap sebuah penyakit berbahaya?

Rated:

T

Warning:

AU , agak sedikit tidak masuk akal, sedikit OOC, agak OC, DMBL

Don't Like, Don't Read. Happy^.^

.

Gunting vs batu.

"Adaw!"

Naruto ber-aduh-ria sesaat setelah Kiba menggetok jidadnya.

"Hei hei hei. Kau punya dendam lama denganku yah! Kiba!" sewot Naruto masih memanjakan jidad kesayangannya dengan penuh kasih sayang. Semuanya sontak tertawa.

"Hahah! Aku hanya gemas melihat jidad sepertimu!" Kiba tertawa. Namun tiba-tiba, semua terdiam (minus Kiba). "Hahaheh.." tawanya jadi garing.

"Jidad yah," gumam Ino pelan.

Kiba mengibaskan kedua tangannya. "Sudahlah, aku yakin dia pasti kembali," katanya berniat menghibur. Dan pastinya… tidak berhasil.

"Sakura itu…" Ino mengepalkan tangan, "..dia pergi tanpa pamit! Bahkan dia belum menjawab pertanyaanku!" teriaknya keras. Mengundang perhatian seluruh penghuni kelas. Termasuk Sasuke yang sedari tadi sibuk sendiri dengan handphone-nya.

"E-eh?" sontak Ino memerah. "K-kami hanya main sinetron-sinetronan. Iya kan Naruto, hahahah!" katanya sambil mengepret Naruto, berniat membuang malu. Tak lama kemudian, para penghuni kelas kembali ke aktifitas masing-masing. Ino menghembuskan nafas lega, dan segera melepaskan makhluk tak berdosa dari kepretannya. Bagi kalian yang tidak mengerti apa itu 'kepret', silahkan ber-googling-ria.

"H-hampir saja aku mati! Cih!" sewot Naruto seraya mengelus-elus lehernya yang hampir tidak berdosa. "Tapi.. tentang Sakura. Belakangan ini... Dia tidak membalas SMS-ku! Nelpon nggak pernah! SMS nggak pernah!" teriak Naruto semakin geram. Tentu hal semacam itu lagi-lagi mengundang perhatian seantero kelas. Kali ini lebih parah. Kiba dan Ino menaikkan sebelah alis.

Pemuda pirang itu nyengir sesaat. "K-kami masih main sinetron-sinetronan! Nyahahah!" tawanya membahana.

Tanpa disadari, seorang siswa membisikkan sesuatu ke temannya.

"Kenapa dia bisa diterima di sekolah ini yah?"

Pertanyaan itu hanya ditanggapi dengan angkatan kedua bahu.

-oOo-

Pukul setengah 3, siang hari. Sasuke, pria itu telah rapi dengan jaket biru dan kacamata hitam yang ia kenakan. Ditambah topi yang menambah kesan misterius, membuat Naruto dan Kiba kebingungan melihatnya.

"Hei, Sasuke. Kau mau kemana?" tanya Naruto memicingkan mata.

Yang ditanya nampak cuek, dan berlalu menuju pintu keluar.

"Sesuatu."

Krek.

Pintu tertutup dengan sukses. Menyisakan sebuah tanda tanya besar di sana.

"Demam Syahrini nih anak," gumam Kiba, menautkan kedua alis. Lalu pergi, berniat kembali melakukan aktifitasnya yang sempat tertunda (memandikan Akamaru).

-oOo-

Ruangan itu, nampak sunyi senyap. Hanya penerangan dari lampu kecil yang membantu, begitu sederhana. Seorang pria memperlihatkan 3 buah foto.

"Mereka yang sampai sekarang aku curigai," katanya, menatap santai lawan bicaranya. Sedangkan yang ditatap, terasa angkuh. "Sasuke."

"Hn," kata pria raven itu melepas topi. Menyembunyikan kedua onyx miliknya. Kemudian merogoh pelan kantong jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah foto. Membuat yang diperlihatkan tercengang sejenak.

"Dia, yang dicurigai kakakku baru baru ini, Anko-san," ujar Sasuke bersandar di dinding.

"Bagaimana bisa Itachi mendapatkan foto ini?" tanya Anko seraya mengamati foto yang diberikan Sasuke tadi. Perempuan itu memicingkan matanya.

"Hn. Foto keluarga," jawab Sasuke, tersenyum sejenak.

"Sudah kuduga. Tidak mungkin si keriput itu bisa berkeliaran seenaknya," kata Anko meletakkan foto itu ke atas meja. "Siapa nama pria tua ini?" sambungnya, disertai pertanyaan.

"Dia. Madara Uchiha."

Wanita berambut ungu itu spontan tertawa. Lumayan keras sampai Sasuke refleks menutup kedua telinganya.

"Jadi Itachi menuduh kakeknya sendiri…." Anko berjeda sejenak, "….sebagai penyebab bangkrutnya perusahaan Fugaku juga pembunuh ibu kalian?"

Sasuke tersenyum begitu tipis.

"Begitulah. Lagipula, aku yakin dia punya alasan untuk hal tersebut."

Bzzt.. Bzzt..

Bunyi getaran menggema di ruangan tersebut. Dan saya sepertinya tau apa itu. Yap! Karena sebenarnya saya lah yang telah membuat fic ini! Nyahahah! *dilempar bakiak*

Sasuke menggambil telepon genggam dari saku celananya. Sedikit mengutak-atik.

"Siapa? Pacarmu?" kata Anko yang asyik melakukan permainan kecil dengan kukunya.

Merasa risih dengan pertanyaan itu, Sasuke memasukkan kembali telepon genggamnya ke tempat yang seharusnya –saku celana.

"Bukan siapa-siapa," datarnya. "Jadi, selanjutnya?"

Anko perlahan berdiri, perlahan pula memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Kemudian menatap Sasuke dengan tatapan yang begitu…. licik? Perempuan yang satu ini membuat author bingung saja.

"Tentu saja, quaestionem," perempuan itu berujar. Setelahnya mengalihkan pandangan ke arah pintu keluar. Masih licik seperti sebelumnya.

Sasuke yang seakan paham merundukkan badan, lalu berlalu untuk keluar dari ruangan tersebut. Sedangkan Anko kembali duduk di kursi. Menaikkan kedua kaki mulusnya ke atas meja. Senyuman itu masih belum naas.

"Sepertinya ini akan sedikit menyusahkan.."

-oOo-

Sasuke memasang topinya. Membuat dirinya seolah olah menjadi orang keren. Padahal para polisi yang dilaluinya berpikir kalau pemuda berambut gaya ayam itu adalah seorang pencopet. Untung saja pemuda (sok) keren itu tidak disergap. Dewi Fortuna nampaknya memang menyukai ayam. #ini cerita kok jadi begini?#

Sasuke berlalu menyusuri koridor dari kantor kepolisian tersebut. Dia memicingkan mata ke arah seorang polisi yang hanya bisa membalasnya dengan senyum pahit. Padahal polisi itu phobia dengan ayam. #masih ngaco nih cerita#

Akhirnya, pemuda yang (sok) keren tadi keluar. Menyibak-nyibakkan tangan kanannya di depan wajah seolah kantor kepolisian adalah bangunan yang begitu kotor.

"Semoga ini akan segera berakhir," pikirnya. "An-"

Bzzt!

Pikirannya tersela *?* oleh bunyi handphone yang bergetar. Menandakan sesuatu yang ia tunggu tunggu telah sampai. Tanpa menghentikan langkah, Sasuke merogoh-rogoh saku celananya. Belum sempat mengeluarkan handphone-nya, tiba-tiba…

BRMMM!

BRUAK!

BUAK!

Sesuatu menghantam pipi kanannya dengan sangat keras, mengakibatkan gigi taring kiri atas terlepas. Masih bersikap (sok) keren, Sasuke berbalik untuk mengetahui apa yang menghantamnya tadi. Belum sempat satu detik, hantaman keras yang ternyata berasal dari tangan seseorang menghantam pipi kirinya. Sayangnya, tidak ada korban gigi lagi dalam insiden tersebut.

"Apa yang kalian-"

Akhirnya pemuda ayam itu pasrah. Pasrah karena terkena amukan massa yang terus menerus memukulinya. Tak lama kemudian, amukan tersebut berhenti.

"Woi! Bukan yang itu copetnya! Copetnya sedang lari ke arah sana! Itu!" teriak seorang perempuan, histeris sekali, seraya menunjuk nunjuk dengan jari tengahnya.

Innocent, massa yang mengamuk tadi langsung pergi menuju ke arah tunjukkan sang perempuan. Sasuke tepar. Berharap ada yang mau menolongnya. Naas, tak ada yang peduli. Dalam keadaan babak belur, Sasuke tersenyum.

"Sepertinya orang keren identik dengan pencopet," pikirnya. Dia berusaha berdiri. Berniat untuk pulang.

-oOo-

Desiran air laut membuat burung burung beterbangan. Ketakutan? Bukan. Mereka gembira. Diselingi hembusan angin pesisir pantai. Tak tahan pepohonan ikut menari, melambai lambaikan kebanggaannya. Seorang gadis tersenyum melihatnya. Seakan itu adalah pemandangan terindah yang pernah ia lihat. Wanita paruh baya dari kejauhan juga ikut tersenyum. Tak berapa lama senyuman wanita itu pudar. Digantikan dengan senyuman penuh kepahitan karena ia baru menyadari satu hal. Gadis tadi, Sakura, yang sedari tadi menyerukan senyuman yang senada dengan dirinya.

Sakura berjalan perlahan mendekati pantai. Mulutnya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Keluhan.. atau… sebuah harapan?

-oOo-

"NYAHAHAHAH! Dia memukul kepalanya dengan dua kelapa!" teriak Naruto membahana. Saat ini dia tengah menonton salah satu acara kesukaannya di salah satu tv swasta yang kurang terkenal.

"Urusai! Urusai! Urusai!" teriak Shikamaru gaya perempuan di salah satu anime. Hampir tak sadarkan diri, ia ditegur oleh Kiba dengan cara disenggol.

"E-eh? Ck, mendokusai," ujar Shikamaru bangkit dari alam bawah sadar. Dia kembali tiduran di sebelah Naruto dan Kiba.

"Tadaima," kata Sasuke malas malasan. Pria ini nampak berantakan.

"Yo, okae…ri?" balas Naruto membelalakkan salah satu bola matanya.

"Kenapa kau Sasuke? Habis berkelahi? Nyahah!" nyambung Kiba memukul pantat Shikamaru yang sudah tak sadarkan diri.

"Hn, begitulah," singkat Sasuke, berlalu menuju kamar. Tidak mungkinkan kalau Sasuke menceritakaan kalau dia dikira pencopet dan digebuki massa? Mau ditaruh dimana pantat pemuda itu kalau sampai teman temannya tau.

Kiba memusut musut dagunya. Mencoba untuk membuat sebuah hipotesis dari peristiwa tadi. Rahang biru. Salah satu gigi copot. Mata kiri agak bengkak. Rambut gaya landak.

"Mungkinkah," Kiba sengaja menghentikan kalimatnya.

Dan pada akhirnya Naruto menganga. Bingung? Sudah pasti. Shikamaru? Masih tidur.

"Sasuke jadi… berandalan?" pelan Kiba, masih memusut musut dagunya. Beberapa detik kemudian, akhirnya Naruto berhasil connect.

"He? Masa? Halah, palingan dia jatuh di sawah," sangkal Naruto dengan membuat hipotesis baru. Sekarang ada dua hipotesis disini.

"Ck, paling-paling dia dikira pencopet kemudian dipukuli massa," sambung Shikamaru, masih terlelap dalam tidurnya, mungkin. Gaib nih anak.

Nah, kalau sekarang ada tiga hipotesis.

"Halah, itu tidak mungkin. Sasuke pasti sudah jadi berandalan," Kiba berujar seraya memicingkan matanya ke arah Shikamaru.

"Lebih baik, kita tanyakan saja langsung ke orangnya," Naruto memberikan usul.

"Kau gila ya? Mana mungkin berandalan mau mengakui kalau dirinya berandalan. Lebih baik kita selidiki sendiri," kata Kiba dengan kebanggaannya. Disusul anggukan Naruto yang mengisyaratkan 'terserah kau saja' disertai mulut yang sedikit terbuka.

"Ck, dasar bodoh," gumam Shikamaru dalam tidurnya.

-oOo-

"APA! SASUKE BERANDALAN!" teriak Ino histeris yang langsung dibekap oleh Kiba dan Naruto.

Scene sekarang beralih pada keesokan paginya di sekolah, tepatnya dalam kelas. Kiba menoleh ke arah Sasuke. Tak ada tanda tanda kehidupan. Kiba menghembuskan nafas lega.

"Ber... sandalan.. apa? Hedeh, sudahlah, tidak penting," pikir Sasuke merasa ada yang mengganjal. Tak mau ambil pusing, ia melanjutkan membaca buku komik berjudul K**ch* wa M**d-S*m. Tak berapa lama akhirnya ia sadar apa hal yang mengganjal tersebut. Setelah pulang, Sasuke berniat untuk membersihkan telinganya yang sudah diabaikan selama 2 bulan.

"Ino! Jangan keras-keras," tegur Kiba.

"T-tapi, itu sepertinya t-tid-dak mungkin. Sasuke k-kan a-anak b-b-b-b-b-b-b-b-b-aik," kata Hinata kesulitan pengucapan pada kata terakhir.

Ino mulai berfikir realistis, rasionalis, dan ekonomis. Serasa tidak mungkin kalau Sasuke adalah berandalan. Tapi… kalau memang benar… di dalam pikiran Ino terbayang Sasuke dengan senyum licik sambil menggendong bayi berambut hijau di pundaknya. Gadis itu gemetaran. Phobia-nya terhadap bayi berambut hijau kembali menghantui.

"Tapi dia nampak babak belur. Hm. Kita mesti menyelidiki hal ini," kata Ino mulai bersemangat. "Jadi, apa langkah kalian selanjutnya?"

"Rencananya kami ingin mengikuti Sasuke, tapi itu mungkin sulit," pemuda berambut durian melontarkan argument.

"Apakah kita mesti minta bantuan ke Densus 48 dan ke TNNKC?" Hinata menyampaikan usul. Meski terlihat berlebihan.

"Kita coba saranmu, Naruto," kata Ino tanpa memperdulikan pendapat Hinata.

Sesuatu yang gelap nan berbahaya telah direncanakan. Mereka terkekeh pelan penuh kelicikan. Terkecuali Hinata yang masih mencoba untuk connect.

-oOo-

Tok! Tok! Tok!

"Permisi!" teriak Anko, terus mengetok-ngetok pintu di sebuah rumah mewah. Ia menunggu.

Tak lama feedback didapatkan. Pintu perlahan terbuka. Memperlihatkan seorang perempuan berpakaian maid. Dia tersenyum, dengan ramah ia mengatakan, "iya, ada yang bisa saya bantu."

Anko menatap perempuan tadi datar. Seolah tidak nyaman dengan kesopanan yang diberikan. "Bisa aku bertemu dengan Madara Uchiha-san?"

Pelayan tadi nampak heran. "Anu, beliau siapa yah?" katanya masih ramah.

Kali ini Anko yang keheranan. Ada apa dengan orang ini? Pikirnya demikian.

"Madara Uchiha-san. Pemilik rumah ini," kata Anko, mencoba untuk ramah. Masih mencoba.

"Ah, anu, maaf. Anda salah alamat. Pemilik rumah ini bukan Madara Uchiha-san."

"HE?" Anko menautkan kedua alisnya. Reaksinya, kaget, heran.

"Pemilik rumah ini adalah Danzo-san," sambung pelayan tadi.

"DANZO!"

T.B.C

Yo~ minna~ #digebukin massa#

*babak belur* Sumimasen! Hampir saja fic ini menjadi cepat saji, Junk Fic maksudnya. Hedeh, gara-gara virus hiatus akut. Tapi pada akhirnya saya telah menemukan obat untuk virus tersebut! Nyahah! Obatnya adalah, berusaha untuk tidak hiatus. *?*

Arigatou gozaimasu bagi yang sebelum dan sekarang sudah membaca fic saya! Apalagi sampai me-review! Saran dan kritik sangat diperlukan. Dan fic ini tidak akan ada tanpa kalian semua. *apa coba* Anu… bagi kalian yang sudah mulai lupa dengan cerita sebelumnya, disarankan membaca lagi dari awal. *?*

Terima kasih banyak bagi para pe-review chapter sebelumnya.

Semoga fic ini masih bisa berlanjut. Akhir kata. Sayonara~ *lenyap*