.

.

Naruto Fanfiction

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Rated: M

Genre : Romance, Fantasy, Angst

.

.

Sakura menatap Madara dengan wajah syok, bagaimana bisa Madara meminta sesuatu yang berujung kematian pada dirinya. Sakura merasa ini kedua kalinya terkhianati, menyadari ekspresi Sakura, Madara mengetuk pelan kepalanya, "Aku tidak memintamu untuk mengorbankan dirimu, bodoh."

"Eh?"

Madara berjalan mendekati sosok Indra yang tertidur di dalam es, "Indra-sama, kita harus membangkitkannya jika memang menginginkan perdamaian."

Sakura memperhatikan gerak-gerik Madara yang terlihat sangat menghormati sosok Indra ini, apalagi sampai memanggilnya 'Indra-sama', itu bukan kireteria Madara sama sekali. Sakura mendekati Madara dan mengikuti tatapan sang raja yang menuju Indra.

"Sebenarnya, apa yang terjadi pada Indra-sama?" tanya Sakura.

Madara memundurkan satu langkahnya, masih menyentuh bongkahan es yang menyelimuti Indra dengan padat, "Kau percaya, dulu Goblin dan Elf hidup berdampingan."

Sakura sedikit terkejut, karena tidak pernah ada yang memberitahunnya tentang sejarah Goblin dan Elf secara lengkap, Madara tersenyum lembut pada Sakura dan menggenggam tangan gadis itu, "Indra-sama pemimpin Goblin dan Ashura-sama pemimpin Elf, mereka bersahabat. Sampai suatu hari mereka jatuh cinta pada wanita yang sama." Madara terkekeh kecil, "itu sejarah yang membuatku menganggap wanita adalah biang bencana."

Sakura tersenyum canggung, "Haha...ha..."

"Awalnya mereka saling mendukung satu sama lain, berawal dari wanita, mereka mulai memperebutkan kekuasaan." Madara melipat tangannya di dada, "Ashura mendapatkan wanita itu, mereka bahagia, memiliki keturunan, Indra-sama mendoakan kebahagiaan mereka, namun kesepian Indra-sama membuatnya buta sehingga membuatnya gelap mata."

Sakura mengeluarkan suara syok, "I-Indra-sama membuat wanita itu hamil?" tebak Sakura.

Madara terkekeh lagi, "Tidak, dia tidak melakukan itu, andai saja dia memilih untuk melakukan itu, Indra-sama memilih tindakan yang benar-benar fatal, dia membunuh wanita itu dengan tangannya sendiri."

Sakura menutup mulutnya, kedua matanya terbelalak.

"Ashura dendam padanya, akhirnya mulai berkubu-kubu. Ashura mengajarkan kepada anak cucunya untuk hidup berdampingan dan penuh cinta, sedangkan Indra-sama menanamkan kepada anak cucunya agar mempertahankan harga diri dan jangan terkecoh oleh cinta," jelas Madara.

Sakura berpikir, tidak heran ras Uchiha memang terkenal arogan, ternyata dari sang leluhur sudah ditanamkan pikiran seperti itu, "Tapi, dengan siapa Indra-sama mempunyai keturunan?" tanya Sakura .

Madara menggelengkan kepalanya, "Indra-sama tidak mempunyai pasangan tetap, dia mencari bibit unggul yang layak dijadikan wadah untuk melahirkan keturunannya."

"Bohong..."

Tatapan Madara fokus pada sosok Indra yang memejamkan kedua matanya, "Konflik suku Goblin mulai ketika Indra-sama memutuskan untuk menidurkan dirinya di dalam es, semua Goblin memperebutkan tahta raja. Berbeda dengan Elf, mereka tidak mempedulikan siapa yang menjadi raja karena mereka saling peduli satu sama lain. Sedangkan Goblin, kami haus akan kekuasaan," ucap Madara sambil memandangi telapak tangannya.

"Lalu, kemana Ashura?" tanya Sakura.

"Ashura tewas karena penyakit, istrinya yang memang dapat menyembuhkan bahkan membangkitkan yang mati sekalipun telah tiada, Indra-sama yang sebagai sahabatnya pun memilih untuk tidur dalam es, Ashura depresi dan jatuh sakit, tidak ada yang bisa mengobatinya," jawab Madara.

"Dan... apa yang bisa Indra-sama lakukan untuk menghentikan peperangan ini?" tanya Sakura lagi.

"Indra-sama mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat, jika Indra-sama bangkit, semua suku Goblin otomatis akan menunduk padanya dan mengikuti apa yang ia ucapkan. Sang raja asli, ditakuti oleh seluruh Goblin bahkan Elf sekalipun, dia bahkan bisa menghapus memori jika berkenan," ucap Madara.

Sakura terlihat terkejut, ternyata Indra sehebat itu, kalau memang begitu, Sakura sangat bersedia membangkitkan Indra memakai kekuatannya, bahkan Sakura rela memberikan nyawanya agar dunia ini damai, "Aku akan membangkitkannya, aku-"

"Aku tidak akan membiarkanmu mengorbankan dirimu lagi," potong Madara yang kini membelai pipi Sakura, "ini adalah pengorbanan terakhirmu, berjanjilah padaku."

Sakura masih bingung apa maksud Madara, "Tapi... kau tahu sendiri Madara-sama, membangkitkan sesuatu yang tidak bernyawa itu harus dibayar oleh nyawaku sendiri."

"Aku mempelajari sesuatu dalam waktu tiga hari ini," ujar Madara, "kekuatan Elf memang sangat spesial, tapi bukan berarti mereka tidak dapat menerima bantuan dari suku lain."

"Maksudmu?"

Madara meraih telapak tangan Sakura agar menempel pada telapak tangannya. Timbul cahaya biru dari telapak tangan Madara yang mengalir ke telapak tangan Sakura, "Apa yang kau rasakan?" tanya Madara.

Sakura terdiam, dirinya terlihat kagum oleh sinar itu, "Hangat, rasanya aku seperti baru bangun dari tidur yang sangat lelap."

Madara menyeringai, "Aku bisa membantumu memberikan energiku ketika kau membangkitkan Indra-sama."

"Eh?! Apakah ada efek sampingnya?" tanya Sakura tidak yakin.

"Kekuatanku akan hilang sebesar energi yang kuberikan padamu," jawab Madara, "itu harga yang sepadan."

Sakura menggelengkan kepalanya, "Jika kau melemah, kau tidak akan bisa jadi raja lagi, banyak yang dendam padamu, kau pasti jadi incaran untuk dibunuh, aku tidak mau!"

Madara menggenggam erat lengan Sakura, "Ini demi perdamaian, aku tidak akan mati, kau tidak akan mati, kita akan hidup bersama."

Sakura memejamkan kedua matanya, "A-aku tidak berani mengambil resiko sebesar itu."

"Sakura..." Madara merengkuh wajah Sakura dan memaksa gadis itu membuka kedua matanya, "percaya padaku, kau bisa membangkitkan Indra-sama tanpa harus ada yang berkorban nyawa."

Sakura ragu pada awalnya, namun ketika dia menatap tatapan Madara yang sangat serius membuatnya berubah pikiran, Sakura mengangguk pelan dan membalas keseriusannya pada sang raja, Madara tersenyum kecil dan menepuk kepala Sakura dengan sangat lembut, "kita laksanakan setelah acara pernikahan kita." Madara menggandeng Sakura untuk keluar dari ruangan tersebut.

"Ng, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Sakura ragu.

Madara menghentikan langkahnya dan menoleh pada Sakura, "Kenapa... kau membantai ras Haruno sebelumnya... jujur pada awalnya aku sangat tidak menyukaimu, kau membunuh ras-ku, tapi kurasa sepertinya kau mempunyai alasan tersendiri... walaupun, aku tidak membenarkan perbuatanmu itu."

Jeda sebentar sebelum Madara menjawab, "Mereka tidak berguna, menjanjikan kesembuhan Itachi dan Izuna, namun pada akhirnya jatuh cinta pada salah satu diantara kami."

"Yah, siapa yang tidak menolak pesona Uchiha," gumam Sakura kecil.

"Hn?" reaksi Madara yang seperti mendengar gumaman Sakura sedikit.

"Ah bukan apa-apa, lalu... kenapa kau bisa menjadi tanpa belas kasih? Bisa membunuh sesuatu dengan sangat mudah."

Madara meneruskan langkahnya dan tanpa menatap Sakura, dia menjawab, "Di dunia ini, membunuh atau dibunuh, dan aku mempunyai dendam pribadi pada Hyuuga."

Sakura menghentikan langkahnya.

Celaka.

Dia lupa, sangat lupa kalau dia adalah tunangan Hyuuga Neji, dan belum memberitahu Madara tentang hal itu.

"Madara-sama, ada yang harus ku-"

"Hyuuga Neji, aku membencinya, dia yang menyebabkan Izuna kehilangan akal sehatnya," ucap Madara tanpa mendengarkan ucapan Sakura sebelumnya.

Mendengar kalimat Madara membuat Sakura terbelalak, "Apa?"

"Hyuuga mmepunyai kekuatan memanipulasi sesama Goblin, dan Izuna terserang jurusnya dengan sangat telak, jurus itu-Byakugan- berakibat mengurangi nyawa pada Goblin setiap harinya."

"..." Sakura menutup mulutnya, dia tidak menyangka Neji yang melakukan itu semua, "apakah... jurus itu ada penangkasnya? Maksudku..."

"Hanya Mangekyou sharingan yang dapat menandingin Byakugan," jawab Madara.

Sakura menghentikan langkahnya dan itu membuat Madara menatap bingung pada calon tunangannya, melihat pergerakan Sakura yang memperlihatkan cincin di jari manisnya membuat perasaan Madara tidak enak, "Aku..." Sakura sangat takut mengatakannya, namun kebih baik diucapkan sekarang daripada tidak sama sekali, "... adalah tunangan Hyuuga Neji."

.

.

Kereta kuda itu berhenti di depan istana yang megah, beberapa pengawal menundukkan kepalanya pada keluarga Uzumaki yang baru tiba di istana Hyuuga. Mereka terlihat sangat menawan, Minato menuntun tangan Kushina selayaknya raja memperlakukan ratu, Naruto berjalan berdampingan dengan Karin yang memasang wajah judes hari ini. Bagaimana tidak, harus menikah dengan laki-laki yang bahkan tidak dia sukai itu, hal ini sangat menyiksa Karin.

"Karin, senyum," tegur sang ibu.

Karin melirik jengkel pada Kushina dan memberikan senyuman palsu yang meledek. Setelah itu, Naruto menggandeng Karin, mencoba menenangkan saudari kembarnya. Ketika mereka sampai di gerbang utama, terlihat Hinata yang sudah memakai kimono resmi menyambut kedatangan mereka.

"Selamat datang di kerajaan Hyuuga," sapa Hinata.

"Terima kasih, Hinata-sama," sapa Kushina kembali.

"Neji nii-san sudah menunggu kehadiran kalian," ucap Hinata, "silakan lewat sini."

Hinata mengantar mereka menuju ruang utama, di sana sudah ada Neji yang memakai pakaian raja nya yang megah, dengan mahkota raja khas Hyuuga yang melingkar di kepalanya, "Selamat datang, Uzumaki."

Mereka menundukkan kepalanya, begitu pula Neji yang menundukkan kepala pada Minato. Mereka sama-sama raja dan harus saling menghormati. Sejak kedua orang tua Neji dan Hinata tewas saat perang, Neji lah yang memegang kekuasaan di ras Hyuuga. Neji menghampiri Karin dan mengangkat pelan telapak tangannya kemudian mencium punggung tangan karin, "Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu, Uzumaki ojou-sama."

"Panggil saja aku Karin, aku tidak suka basa-basi," jawab Karin ketus.

Naruto menyenggol Karin, memperingatkan saudari kembarnya agar tetap pada sopan santunnya.

"Hahaha, seperti yang dikabarkan, kau memang tipe yang frontal, Karin," ujar Neji yang menuruti kemauan Karin untuk menyebut namanya.

Neji menggiring mereka ke meja mereka masing-masing, "Langsung saja pada intinya," ucap Karin.

"Karin, biar ayah saja yang berbicara," tegur Minato halus. Karin memutar kedua bola matanya.

"Sesuai dengan surat yang telah kami terima, anda menawarkan gencatan senjata dengan berhubungan baik pada kami, yaitu bertunangan dengan Karin, apa itu benar?" tanya Minato.

Neji tersenyum, "Benar sekali, aku berpikir alangkah bagusnya jika Hyuuga dan Uzumaki bersatu. Kita bisa menjadi kombinasi yang sangat hebat, dan bayangkan jika kalian memiliki keturunan bercampur darah Hyuuga, akan menjadi seperti apa kekuatan mereka nanti."

"Apakah, gencatan senjata ini bertujuan pada sesuatu?" tanya Kushina, "maksudku-"

"Aku mengerti maksud anda, Kushina-sama," potong Neji yang masih tersenyum dengan harga dirinya, "aku membutuhkan bantuan kalian," ucap Neji yang mengubah ekspresinya menjadi serius, "aku ingin kalian meminjamkan kekuatan untuk menggulingkan kekuasaan Madara."

Uzumaki terlihat syok, terutama Karin.

"Mereka menculik teman kecilku." Teman kecil, Neji tidak menjelaskan bahwa Sakura adalah tunangannya, "aku harus menyelamatkannya, namun kekuatanku sendirian tidak akan bisa melawan Madara."

"Kau meminta kami melawan Uchiha?" kali ini Naruto yang menaikan nadanya.

"Madara, bukan semua Uchiha," ucap Neji memperjelas.

"Ayah, Ibu, Uchiha adalah sahabat baik kalian, mana mungkin 'kan kalian menerima tawarannya!?" geram Karin.

Minato menutup mata dan menghela napas, "Neji-sama, sepertinya ada ketidak pahaman situasi di sini, apa anda tahu bahwa Uzumaki dan Uchiha mempunyai ikatan yang kuat?"

"Aku tahu," jawab Neji, "apakah kalian tidak ada yang ingin menjadi pengganti Madara? Apakah kalian puas di dalam bayang-bayang Madara? Kalian harus membantuku, aku membutuhkan makhluk yang tertidur di dalam tubuh Naruto."

"Cukup!" bentak Karin, "aku tidak mau menikah dengan laki-laki egois yang hanya mementingkan ego-nya.

Karin pergi meninggallkan ruangan itu, tanpa memberi hormat sama sekali pada Neji. Hinata menatap sinis Karin dan mengejarnya, sedangkan Minato dan Kushina kini menghadapi Neji dengan sangat tenang, Minato berdiri dan sedikit membungkuk, "Maaf, Neji-sama. Jika apa yang anda maksud dengan gencatan senjata artinya kami harus melawan Uchiha, maka kami harus menolaknya."

Neji menatap datar pada Minato.

"Kami permisi." Diikuti oleh Kushina dan Naruto yang berdiri.

Neji tidak menjawab, tatapan Neji terlihat sinis pada keluarga Uzumaki yang baru saja keluar dari ruangannya, dia mnggertakan giginya dan mencengkram cangkir hingga pecah. Baru saja keluar dari ruangan Neji, mereka dikejutkan oleh Karin yang benar-benar baru saja menampar Hinata.

"TARIK UCAPANMU! ATAU AKAN KUTARIK LIDAHMU!"

"Cih, aku bersyukur kau tidak jadi menikah dengan nNeji nii-san, apa jadinya istri dari raja Hyuuga temperamental seperti ini," cibir Hinata.

"Tarik ucapanmu tentang Uchiha!" bentak Karin yang tidak memperdulikan cibiran Hinata, "kau boleh menghinaku apa saja, tapi berani kau menghina Uchiha sekali lagi, maka kau masuk dalam list kematian milikku nona muda!"

Hinata memalingkan wajahnya dan pergi meninggalkan Karin, melewati Minato dan Kushina tanpa memberi hormat, begitu dirinya berpapasan dengan Naruto-Hinata menghentikan langkahnya dan menatap laki-laki itu dengan intens, "Kalian mengambil keputusan yang sangat salah."

Naruto tidak terlalu ambil pusing oleh perkataan Hinata, dia mempercepat langkahnya menuju Karin, "Apa yang terjadi?" tanya Naruto.

Sambil berjalan, Karin menjawab, "Dia bilang percuma kita mempertahankan hubungan baik dengan ras Uchiha, karena ras Uchiha hanya mementingkan diri mereka sendiri dan pintar memanfaatkan siapa saja, dan Hinata sialan itu sangat yakin bahwa Madara mengincar Kurama."

"Hei, hei, sudah tidak perlu kesal, kau tahu sendiri 'kan, Kurama hanya bisa mendengarkan perintahku," ujar Naruto.

"Aku benci dia, aku benci Hinata," gerutu Karin.

Mereka menaiki kereta kuda khas Uzumaki, di dalam kereta Kushina menggenggam tangan Karin, sedangkan Minato dan Naruto berada di kereta kuda yang lainnya, Kushina menatap Karin dengan kasih sayang, "Terima kasih, Karin," ucapnya.

"Untuk?" tanya Karin bingung.

"Kau sangat tahu bahwa Naruto dulunya tidak mempunyai teman karena Kurama yang bersemayam di dalam tubuhnya, mengapa kau sangat menghormati Uchiha salah satunya adalah karena mereka satu-satunya ras yang tidak peduli pada Kurama, iya 'kan?" ucap Kushina dengan lembut.

Karin mengerutkan alisnya, "Aku tidak suka pada Neji yang terang-terangan mengatakan butuh kekuatan Kurama, dia tidak tahu betapa menderitanya Naruto waktu kecil."

Kushina tersenyum lagi dan merangkul Karin, "Kau memang pemarah, tapi hatimu baik, Karin."

.

.

Madara dan Sakura tidak mengucapkan apa-apa lagi sejak pengakuan Sakura di dalam gua tadi. Saat ini mereka berdua makan malam di luar kamar Madara, di tempat kecil beratap di tengah kolam yang indah. Sinar lilin yang mengelilingi mereka, hanya itulah penerangan yang ada. Sakura menyantap saladnya, Madara memotong daging yang disajikan setengah matang. Karena tidak sabar ingin membahasnya lagi, Madara berucap sambil memotong dagingnya.

"Sejak kapan kau bertunangan dengannya?"

Sakura mendadak menghentikan gerakan makannya, mengerti siapa yang dimaksud, Sakura menjawab, "Belum lama, sekitar lima tahun."

Madara menyantap daging yang sudah dipotong kecil tadi, "Ceritakan, seperti apa dia?"

Saat akan menyantap selada, mulut Sakura terbuka dan selada terjatuh kembali di piring. Apakah Sakura tidak salah dengar? Madara? Ingin mendengar tentang Neji?

"Uhm, kupikir itu bukan topik yang-"

"Ceritakan." Satu kata dari Madara membuat Sakura mengangguk.

"Neji..." Sakura mulai bercerita, "dia laki-laki yang sangat baik dan pengertian."

Madara memotong kalimat Sakura, "Baik dan pengertian, hanya karena itu kau menerima lamarannya?"

Sakura mencoba sabar, "Bukan, salah satunya karena kami sudah kenal dari kecil, dia sahabat kakakku. Neji dapat menenangkanku ketika beberapa ras Haruno mulai menjahiliku, dia juga berwibawa, sangat tenang, dan tidak egois. Neji selalu tahu apa yang kuinginkan, selain padaku... Neji juga sangat baik pada Haruno yang lain, meskipun dia sendiri adalah suku Goblin, dia satu-satunya suku Goblin yang mau berbaur dengan ras Haruno. Ah, adik Neji... Hinata, dia adalah pacar kakakku, tapi... aku tidak tahu bagaimana kelanjutannya mereka sekarang."

Saat Sakura bercerita panjang lebar, dia tidak menyadari bahwa sedari tadi Madara berhenti makan dan hanya memandangi wajah Sakura.

"Lalu, yang paling kusuka dari diri Neji adalah, dia tidak gampang marah dan sangat lembut," lanjut Sakura yang akhirnya sadar bahwa Madara memandanginya, "a-apa?" tanya Sakura gugup.

"Itukah alasannya? Tidak gampang marah dan sangat lembut," tanya Madara.

"Yaa... itu salah satunya..."

Madara terdiam, apa yang Sakura ceritakan itu sangat bertolak belakang dengan karakternya. Tanpa mengatakan sepatah kata, Madara beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan Sakura sendirian, membuat gadis itu berpikir apakah ada kalimat yang salah dan menyinggung Madara? Sehingga sang raja terlihat terpuruk? Sakura meletakkan garpu nya dan membersihkan mulut memakai lap yang sudah disediakan, Sakura berlari menyusul Madara yang sudah masuk ke kamarnya.

"Madara-sama?" Sakura mengetuk lalu membuka pintu kamar Madara, "apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Sakura dengan sangat hati-hati.

"Tidak, bukan itu," jawab Madara, "hanya saja... aku tidak mengerti perasaanmu yang sangat menyukai raja Hyuuga itu."

Sakura menatap Madara dengan tatapan sedih, ekspresi Madara kini terlihat... kesepian. Entah kenapa Sakura ingin sekali memeluk erat Madara yang sedang duduk di tepi jendela.

"Atau ini bisa juga efek karena sudah lama aku tidak berbincang-bincang soal perasaan selain pada Izuna."

Izuna.

Sakura hampir melupakan hal itu, Madara sangat dekat dengan Izuna, dan bagi Madara, Izuna adalah segalanya. Kini Izuna telah tiada, Madara sendirian...

Sakura baru sadar, sosok Madara yang terlihat rapuh. Ternyata yang mulia raja yang sangat ditakuti ini mempunyai sisi lemah yang tidak diketahui siapa-siapa. Madara memandangi bulan dengan ekspresi yang terlihat sangat kesepian. Tanpa ragu, Sakura berjalan dan duduk di samping Madara.

"Kau harus sering-sering mengutarakan perasaanmu pada siapapun, jangan dipendam," ucap Sakura tiba-tiba.

Madara tidak menjawab, dia menaikan satu kaki dan bersender di tepi jendela, "Tidak ada gunanya."

"Tentu saja ada," jawab Sakura dengan ceria, "itu bisa mengurangkan bebanmu sedikit."

Madara tersenyum pada Sakura yang terlihat ceria. Gadis ini... menyelamatkannya.

"Jika aku bisa mengatur emosiku dan menjadi lebih lembut," ucap Madara tiba-tiba, "maukah kau membatalkan pertunanganmu dan menerima lamaranku?"

Sakura terbelalak.

Madara meraih tangan Sakura dan dibelai punggung tangan gadis itu dengan sangat lembut, membuat debaran di hati Sakura berdetak tak karuan, "Aku menginginkanmu."

Deg.

Jantung Sakura benar-benar berdetak kencang.

"Ma-Madara-sama, hal seperti ini bukan untuk main-main," ucap Sakura grogi, "lagipula... hal seperti itu harus dilakukan oleh wanita yang kau cintai."

"Cinta?"

Pertanyaan sederhana dari Madara membuat Sakura mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, "Iya, cinta, apa kau tidak pernah jatuh cinta sebelumnya?"

Madara tidak menjawab, Sakura lagi-lagi grogi mendapat tatapan intens dari Madara.

"Cinta itu jika kau merasakan ingin sekali bersama dengannya, setiap hari tanpa jeda, memaafkan kesalahannya, tidak ingin melihatnya dekat dengan lawan jenis yang lain, dan yang paling penting adalah menerima apa adanya," ucap Sakura, dia tidak sadar bahwa saat ini Madara mendekatkan dirinya pada Sakura, "lalu, cinta itu ketika dia yang kita sukai berada di dalam ruangan yang sama, kita tidak akan tenang dan-"

Ucapan Sakura terhenti karena Madara mencium bibirnya.

Sakura syok, kedua matanya terbelalak, namun ketika dia melihat Madara memejamkan kedua matanya dan menciumnya dengan sangat lembut, Sakura luluh, ditambah Madara membelai rambutnya seolah sangat menyayangi Sakura.

Sakura memejamkan kedua matanya, sedangkan Madara sudah mulai memijat leher Sakura dengan sangat pelan. Ini pasti faktor minuman, tunggu... Sakura tidak minum, lalu kenapa dia menikmati perlakuan Madara? Ah, mungkin karena dirinya rindu dengan Neji.

.

.

Itachi memejamkan kedua matanya, dirinya terasa sangat rileks, entah kenapa yang jelas dia tidak pernah merasakan senyaman ini sejak bangun dari koma-nya. Itachi membuka kedua matanya, terlihat bola mata merah dengan pola yang berbeda dari sharingan.

.

.

Neji menampar Hinata, namun pandangannya terhadap sang adik tetap lembut, "Apa yang sudah kaulakukan pada ras Haruno? Kau membuat mereka membenci Sakura."

"Dia pantas mendapatkannya, tidak kau tidak Sasori, semua hanya memperdulikan sosok Sakura, aku muak!" jawab Hinata.

Neji berdiri dan berjalan mondar-mandir, "Tapi kalau sampai Madara yang mengantarnya, itu sudah pasti bukan pertanda baik!"

Hinata menatap jengkel, "Lalu, kau mau aku bagaimana?"

Langkahnya terhenti, ekspresinya berubah seolah Neji menemukan solusi baru, "Sasori..." ucap Neji pelan kemudian menatap Hinata dengan semangat, "hubungi Sasori! Kita gabung dengan Akatsuki untuk memperebutkan posisi raja."

-TBC-


A/N : yeaayy chapter 9 sudah update, chapter ini full MadaSaku yaaa... chapter depan enaknya bikin moment siapa yaaa XD

ada usul?

XD

XoXo

V3 Yagami