Disclaimer: Rina tidak memiliki Vocaloid
Mel: Cerita ini mulai mencapai Rina mulai aneh dan menjadi aneh… tapi, setidaknya dia masih ingat untuk membuat cerita ini menjadi The End…
Koharu: Memang sifat alamnya BakAuthor Rina begitu sih…
Rui: Tapi, kepalanya besar juga buat mikirin ini semua…
Mel: Udah, gak usah digosipin tuh anak, kurang kerjaan. Udah deh, ayo kita mulai ja!
Koharu: Oke, oke, gak usah marah… baiklah Readers dengan ini kami mempersembahkan…
Rui: …Chapter 9 dari The Singer Of Death dan kami mohon…
Mel: Para Readers untuk membaca ini dengan tenang dan tidak berteriak… kalau kalian teriak…
Koharu+Rui+Mel: DAN JANGAN LUPA UNTUK REVIEW!
Koharu: Baiklah, sampai jumpa di bawah!
Len POV
Karena tidak ada yang bisa kulakukan hingga besok, aku memutuskan untuk berjalan-jalan meninggalkan kantor. Dan kini aku berada di sebuah taman bermain anak-anak yang sepi, yang dihiasi oleh warna warni dedaunan yang berguguran di musim gugur.
Ketika seperti ini, jika aku memiliki sesuatu untuk dipikirkan, aku pasti memikirkannya secara langsung. Tapi, semua yang ingin kuketahui sudah terjawab… dan hanya waktu yang bisa membuka lembaran baru yang ingin segera kulalui. Entah kenapa… rasanya penyelesaian yang seperti ini terasa sangat hampa.
Aku menutup mataku dan memfokuskan pendengaran pada suara angin dan dedaunan yang berguguran. Suara yang jauh dari semua masalah pelik yang melibatkanku. Perasaan menyakitkan yang seperti ingin membalaskan dendam karena telah kukurung terlalu lama. Aku tahu, bahwa aku tidak mungkin kembali lagi sekarang…
Tapi, andai aku bisa kembali lagi… aku ingin mengulang pertemuan kami. Anda pada hari itu kami tidak bertemu dalam kondisi seperti itu… rasa sakit ini mungkin akan sedikit lebih baik…
"Len-san… jika kau tidur disini, kau akan terkena flu, lho!"
Tiba-tiba aku mendengar suara ceria yang berasal tak jauh dari arahku. Aku melihat ke arah suara itu berasal dan melihat Lenka, seseorang yang sangat mirip seperti Rin, bagaikan pinang dibelah dua. Dia memakai sweater coklat muda dan juga syal berwarna kekuningan, dan juga rok pendek berwarna merah. Di kedua tangannya terdapat kantung plastik yang diisi banyak bahan makanan.
"Lenka…" aku secara tidak sadar memanggilnya.
Dia tersenyum ke arahku dan melangkah mendekatiku yang duduk di salah satu bangku taman. Matanya dan juga senyumnya, merupakan replika dari Rin. Apa mungkin ada dua orang yang sangat mirip seperti itu meski tidak memiliki hubungan darah?
Lenka kemudian berkata, "Bagaimana… dengan kasusnya?" ujarnya dengan nada ceria.
Aku melihat ke arahnya dan menunjukkan wajahku yang bosan sambil berkata, "Sudah… tidak ada lagi yang ingin kuketahui…" ujarku dengan sekenanya.
Lenka hanya berkata 'Heee', dan dia menempatkan dirinya untuk duduk di sampingku. Dia meletakkan barang belanjaannya di tanah, dan mengeluarkan kantung kertas yang berisi dua buah Takoyaki. Dia kemudian membuang kantung itu ke tong sampah, lalu memakan Takoyaki miliknya dan memberikan yang lainnya kepadaku.
"Ini, terimalah…" ujarnya dengan lembut.
Aku melihat ke arah benda itu dan berpikir sejenak. Aku tidak mau menolak kebaikan hatinya, tapi kenapa dia memberikanku Takoyaki yang dibelinya? Dan kenapa dia membeli dua padahal satu buah Takoyaki sudah cukup mengenyangkan perut.
"Aku bisa memberikannya kepada yang lain jika Len-san tidak mau," ujarnya dengan mata yang menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kumengerti, seakan memaksaku untuk menerima Takoyaki itu.
"Ba-baiklah…" ujarku dengan nada yang sedikit kupaksakan.
Aku menerima Takoyaki yang dia berikan dan memakannya. Takoyaki ini masih hangat, dan rasa coklat yang mengisinya juga sangatlah enak, dibandingkan Takoyaki biasanya. Yang menjual benda ini pasti memiliki cukup banyak pelanggan. Benda ini membuatku lupa akan dilema yang sedang kuhadapi sekarang ini.
"Bagaimana?" tanya Lenka secara tiba-tiba dari sampingku.
Aku melihat ke arahnya, dan tahu bahwa di tangannya masih ada Takoyaki yang serupa. Aku melihat sejajar dengan matanya sebelum berkata, "Enak… terimakasih," ujarku dengan nada yang tulus.
"Sama-sama… tapi, bukan itu yang kumaksudkan dengan pertanyaanku…" jawab Lenka dengan nada perlahan. Dia kemudian melanjutkan makannya dengan tersenyum senang. Tapi, dibalik senyumnya, aku merasakan sesuatu yang lain.
Aku melanjutkan makanku dalam tenang, dan hanya daun yang berguguran yang menemani kami berdua. Tapi, tiba-tiba aku mendengar Lenka berkata dengan nada suara yang tidak terdengar seperti nada suaranya yang ceria. Tapi, suaranya kini menjadi sangat dingin bagaikan es yang ada di kutub.
"Jadi… kau tidak akan menangkap pelakunya? Meski kau sudah tahu siapa? Meski kau tahu bahwa dia melakukan kesalahan?" ujarnya dengan nada dingin itu.
Aku melihat ke arahnya, dan aku bisa merasakan tatapan matanya yang sedingin es yang menusuk dada bagaikan pedang itu. Matanya menjadi sangat dalam, dan memiliki cahaya yang membuatku tidak bisa berpaling. Semuanya sangat mirip dengan Rin…
"Len-san… apa sudah tidak mungkin… tidak mungkin lagi bagi kita untuk tetap bersama… menikmati waktu berdua dengan berbicara tentang hal-hal yang tidak penting seperti ini… jika aku membuangnya… apakah aku tidak bisa berada di sisimu seperti itu? Apa hanya dia yang bisa melakukannya?" ujar Lenka dengan nada yang terdengar seperti akan menangis.
Mataku terbelalak melihatnya, dan aku merasa seperti melihat Rin mengatakan semua ini.
"Kau… jangan-jangan…" ujarku dengan tidak percaya kepadanya. Apa dugaanku ini benar? Apakah kecurigaanku ini benar adanya?
Lenka membuang wajahnya dengan segera dan dia berdiri dengan cepat, "Maaf… maafkan aku telah berkata seperti ini…" ujar Lenka dengan tergesa-gesa.
Aku tidak tahu harus berkata apa, aku hanya melihat ke arahnya. Tidak salah lagi, aku melihat Rin… aku melihat Rin di dalam tubuh Lenka… apakah mereka memang benar orang yang sama?
Lenka menghentikan langkahnya dan tubuhnya memunggungiku. Dia menampakkan suatu aura yang tampak seperti kesedihan yang mendalam, dan itu membuatku sedikit sulit bernafas.
"Setelah ini… kita tidak akan pernah bertemu lagi… meski itu hanyalah kebetulan…" ujarnya dengan nada suara lirih.
Di dalam hatiku, aku hanya bisa meneriakkan nama 'Rin', ketika aku mendengar perkataannya. Lenka berjalan meninggalkanku yang masih tertegun. Aku sadar bahwa aku harus menahannya, dan aku segera menangkap pergelangan tangannya dan mencengkramnya dengan kuat.
Lenka melihat ke arahku dengan mata terbelalak, dan aku bisa melihat air mata yang berada di sana. Wajah menangisnya yang sangat mirip dengan Rin, membuatku tidak ragu lagi. Tatapan mata kami bertemu sementara aku memandanginya dengan tatapan terdingin yang bisa kulakukan.
Lenka membuang mukanya, dan berusaha melepaskan tangannya dariku, dengan berteriak, "Lepaskan aku Len-san!" ronta Lenka dengan berusaha untuk melepaskan cengkraman tanganku dari pergelangan tangannya.
Biasanya, aku akan melepaskannya melihat situasi yang seperti ini karena dia tidak mau dipaksa. Tapi aku tidak mau melakukannya sekarang. Aku tidak mau melepaskan tangan ini. Sebelum tangan ini menghilang dari jangkauanku dan tidak terjangkau lagi meski aku berusaha… aku akan mencengkramnya dengan kuat.
"Lenka Gamine… itu hanya nama samaranmu bukan?" ujarku sambil menangkap tangannya yang lain, dan berakibat menghentikan gerakannya.
Seakan merespon akan suaraku yang terdengar dingin, Lenka berhenti bergerak seakan sesuatu telah menancap dalam ke dalam tubuhnya. Aku menatapnya dengan tatapan tajam. Kulepaskan salah satu tangannya, dan kugunakan untuk melepaskan penyamarannya.
"A-ah!" ujarnya yang sepertinya baru menyadari bahwa penyamarannya sudah kulepaskan.
Yang kusebut dengan penyamaran, adalah wig rambut Blonde panjang yang diikat dengan menggunakan pita yang biasa digunakannya saat dia bertemu denganku. Wig itu jatuh ke tanah, dan menampakkan kepadaku, wajahnya yang sesungguhnya. Wajah yang tak mungkin bisa kulupakan meski aku berharap aku bisa.
"Kenapa… kau menyembunyikan dirimu di balik benda ini… Rin…"
~To Be Continued~
Rui: Hari ini, Koharu dan Mel sedang tidak ada ditempat, jadi aku yang akan menutup chapter! Wah, waktu berjalan dengan cepat ya~ aku harus mengingatkan BakAuthor Rina bahwa deadline sudah dekat! Baiklah, sementara itu, para Readers, jangan lupa untuk REVIEW cerita ini, oke~
