Pairings

ChanBaek, HunHan, KaiSoo

Genre

AU, Lemon, Action, Romance

Rating

M

Length

Chaptered

Disclaimer

All cast in this story belong to themselves. Story and plot, all belong to author. Do not copy this story, plagiarism is strictly prohibited.

Warning

Mpreg, sexual content, mention of rape, lots of drug and alcohol, violence and abuse.

e)(o

Hukum cambuk.

Dahulu kala sebuah hukuman gelap datang dan diturunkan kepada para mereka yang memiliki tugas sebagai pembuat keturunan, atau dalam kasus ini; seorang Omega. Saat itu keberadaan para dominan dalam klan lebih sedikit dibandingkan para pembuat keturunan.

Mereka mengalami krisis besar. Perang yang berlarut-larut, serta sedikitnya dari para Omega yang dapat melahirkan seorang dominan menjadi penyebab dari krisis tersebut. Mereka banyak melahirkan carrier, yang kemudian tumbuh menjadi seorang penggoda. Banyak dari para dominan yang berpaling dari takdir mereka untuk kemudian bersetubuh dengan Omega lain, hanya demi menunjukkan posisi mereka.

Pada malam yang kelam, Omega yang telah memiliki seorang Alpha akan meraung dan merubah diri mereka menjadi seekor srigala. Hal itu dilakukan semata-mata untuk membuat tubuh mereka menjadi sedikit lebih kebal menerima hukum cambuk. Ketika mereka telah kehabisan tenaga, para Omega akan kembali ke wujud manusia mereka namun dalam keadaan mengenaskan.

Tiba-tiba saja sekujur tubuh mereka dibaluri guratan merah pekat yang meninggalkan jejak darah. Leluhur murka, mengirim hukuman cambuk kepada para Omega yang tidak dapat menjaga kesetiaan sang Alpha. Hal itu seakan menjadi pembantaian masal bagi kaum carrier. Semakin lama kekuatan mereka untuk berubah menjadi semakin berkurang. Pengkhianatan dan kenyataan pahit tentang mereka yang tidak diinginkan membuat srigala di dalam jiwa mereka menghilang, hingga pada akhirnya membuat mereka ikut mati.

Tetapi jaman telah berubah. Para srigala berhenti berevolusi. Mereka meninggalkan kebiasaan lama hingga tidak ada jejak-jejak srigala dari diri mereka selain sifat binatang yang mereka miliki, juga ruh lain yang tersembunyi jauh di dasar jiwa mereka. Sialnya, hukum cambuk itu tidak pernah berakhir. Para dominan semakin berkuasa, dan bertindak otoriter, tetapi hanya sedikit dari mereka yang berkhianat. Meski begitu, masih saja ada Omega yang bernasib sial.

Salah satunya adalah Luhan.

Luhan telah menjalani hukumannya selama bertahun-tahun. Sehari setelah ia mendapatkan tanda pada lengannya—di mana sebelumnya ia bersembunyi di kolong tempat tidur untuk menyelamatkan diri dari serbuan para pengikut Han Zhuo yang kelaparan—ia justru harus kembali mendapatkan rasa sakit dari cambuk tak kasat mata. Malam itu sekujur tubuhnya terbakar, hingga tak lama memunculkan guratan-guratan merah mengerikan yang membuatnya demam dan menangis sepanjang malam.

Rasanya begitu sakit, seperti sekarat, tetapi terasa jauh lebih menyakitkan saat mengetahui bahwa hal tersebut terjadi akibat dari sebuah pengkhianatan.

Meski pahit, Luhan menelan seluruh kekecewaannya dan berpikir bahwa ia tidak dapat menyalahkan takdirnya. Lama kemudian, Luhan telah terbiasa dengan seluruh rasa sakit di sekujur tubuhnya. Pernah di malam saat ia terkena demam tinggi, tiba-tiba tubuhnya merasakan perasaan seperti terbakar, hingga akhirnya kembali memunculkan guratan merah. Lukanya tidak pernah sempat kering, beberapa bahkan mengeluarkan nanah yang membuat Luhan harus selalu mengenakan pakaian berlengan panjang.

"Xiao Lu... sstt... bangunlah," bisik Sehun di telinga Luhan. Perlahan kelopak mata Luhan terbuka, dan nampak terkejut saat mendapati wajah tampan Sehun berada di depannya. Bukan mimpi. Alpha itu bahkan sekarang selalu tidur dengan memeluknya erat. "Kau bermimpi buruk, lagi?" tanya Sehun sembari menghapus dengan lembut air mata di sudut matanya lalu mencium keningnya dalam untuk membuatnya tenang.

Luhan menggeleng pelan, dan menggigit bibir saat Sehun mulai melakukan kebiasaannya di setiap pagi, yaitu menciumi sekujur tubuhnya. Pria itu akan memulainya dari bibir, wajah lalu sampai ke paha bagian dalam, hingga akhirnya berakhir pada kakinya. Perlakuan lembut Sehun kepadanya bagaikan obat penyembuh. Perlahan luka cambuk di sekujur tubuhnya mengering dan pudar, digantikan dengan kulit baru yang masih rentan dan berwarna kemerahan.

"Sehun," rintihnya. Tubuhnya gemetaran, tak kuasa menahan kenikmatan dari hisapan intens Sehun di puncak dadanya. "Sehun—ohh!" Luhan melenguh dan menjambak rambut Sehun saat pria itu enggan berhenti.

Sehun membawanya jauh dari Phoenix dan Han Zhuo, bahkan rela menjadi buronan demi dirinya. Tetapi ia tidak tahu apakah Sehun melakukan semua ini karena pria itu juga mencintainya, atau hanya karena rasa kasihan dan penyesalan yang membuatnya merasa harus bertanggung jawab.

"Cukup Sehun!" sentak Luhan.

Wajah Sehun terangkat dari paha Luhan, mendekat pada Omeganya yang nampak akan segera menangis. "Kenapa? Kenapa kau menangis?" tanya Sehun cemas. Tangannya membelai rambut Luhan lalu segera membawa tubuh gemetar itu dalam dekapannya yang aman.

"Kau tidak bisa melakukan semua ini hanya karena merasa bertanggung jawab atas semua luka yang aku derita," ucap Luhan sembari memukuli dada Sehun keras. "Aku tidak butuh rasa kasihanmu!"

"Hei." Sehun menarik dagu Luhan untuk membuat lelaki itu mendongak menatapnya. Manik mata Sehun menatap manik mata Luhan bergantian, lalu tersenyum saat menemukan pemicunya. "Kau pikir aku melakukan semua ini hanya karena aku kasihan padamu? Jika kau begitu penasaran Xiao Lu, aku Sehun, melakukan semua ini hanya karena satu alasan... aku mencintaimu," jelasnya yang sontak membuat Luhan menangis keras dan memeluk tubuhnya erat-erat.

"Kenapa tidak mengatakan itu dari kemarin!" pekik Luhan. "Aku juga mencintaimu, aku sangat-sangat mencintaimu," lanjutnya parau.

"Seseorang harus mencari waktu yang tepat Xiao Lu. Lagi pula, kau seharusnya sudah tahu tanpa harus kuberi tahu," balas Sehun tenang sembari menciumi bahunya yang terbuka. Lalu tanpa aba-aba Sehun mengangkat tubuh Luhan, dan membawanya turun dari ranjang mereka.

"Kenapa kau menggendongku? Memangnya kita mau ke mana, Sehun?" tanya Luhan. Tangannya mengalung di bahu lebar Sehun, dan matanya mengerjap, menatap pria itu bingung.

"Menemui Phoenix," sahut Sehun tegang. Ia bahkan dapat merasakan pelukan Luhan yang semakin mengerat. "Tapi sebelum itu, ada urusan lain yang tidak kalah penting..." sambungnya misterius.

"A-apa itu?" tanya Luhan takut. Ia tidak dapat mencegah dirinya untuk menyembunyikan wajahnya di leher Sehun, mencari perlindungan.

"Hal itu... mandi bersamamu tentu saja," kekeh Sehun.

PLAK

Luhan tidak dapat menahan dirinya untuk memukul kepala Sehun. "Sehun bodoh, aku pikir hal penting itu apa!" pekik Luhan kesal. Wajahnya merona merah, tahu benar maksud tersembunyi di balik kata mandi bersama tersebut. "Dasar mesum!"

"Aku tahu, aku juga sangat mencintaimu."

e)(o

Jongin berjalan menyurusi lorong gelap losmen yang kemudian membawanya pada cahaya. Matanya memicing, menatap langit luas di mana pagi menjelang dan sang surya mulai menampakkan wujudnya. Sembari berdehem dan meludah untuk membersihkan kerongkongannya yang terasa kering ia berjalan turun menyusuri anak tangga, dan menjauh dari losmen tempatnya menghabiskan malam panas bersama Kyungsoo. Mesin mobilnya bergaung gagah, dan tak lama pergi meninggalkan halaman losmen. Diam-diam pria itu berharap agar urusannya cepat usai, dengan begitu ia dapat dengan segera membawa Kyungsoo pergi bersamanya.

Perjalanan menuju rumah mewah Mike membutuhkan waktu selama sekitar tiga puluh menit. Ia harus melewati jalanan aspal besar di mana di sekelilingnya hanya ada hutan. Mike adalah seorang pembisnis, sekaligus penyuplai narkoba jaringan internasional di mana ia telah memperluas jaringannya dengan menjalin hubungan bisnis bersama Chanyeol selama lima tahun terakhir. Keduanya hanya pernah bertemu satu kali, tetapi Chanyeol menasehati Jongin untuk tetap waspada pada pria itu.

"Kai, sudah lama aku menunggumu, akhirnya kau datang juga!"

Jongin keluar dari dalam mobil, dan tidak terkejut mendapati Mike dengan pakaian perlente favoritnya menyambut ia tepat di halaman depan rumahnya yang besar. Tungkai kaki Jongin melangkah lebar, sepintas melirik belasan anak buah Mike yang berdiri siaga di sekeliling halaman.

"Aku terjebak macet, beberapa kambing menahanku," ujar Jongin.

Mike tertawa keras. "Mereka salah satu hal yang tidak dapat aku singkirkan. Mereka sudah menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari pulau ini. Tapi aku ucapkan selamat datang untukmu," ucap Mike. Suaranya dipenuhi kegembiraan. Kakinya kemudian melangkah menghampiri Jongin sembari menyodorkan botol berisikan bir segar yang Jongin ambil dengan senang hati. Satu tangan Mike masuk ke saku celananya saat ia menyeringai, dan menatap Jongin yang nampak sedikit berantakan. "Kau suka wanita lokalnya? Semalam pasti panas sekali. Aku dapat melihatnya dengan jelas."

"Kau pasti akan sangat terkejut jika tahu siapa teman tidurku semalam," sahut Jongin sebelum meminum alkoholnya.

"Pasti dia begitu menarik," timpal Mike. "Seharusnya semalam kita adakan pesta perpisahan. Sungguh, aku sangat menyesal karena tidak melakukannya."

Jongin mendengus geli, ingin mengatakan lebih, tetapi ia khawatir kata-katanya akan membuat nyawa Kyungsoo terancam. Mulut botol berada tepat di depan bibir penuhnya saat ia menatap halaman rumah Mike yang asri dan melanjutkan, "Pagi tadi kau meneleponku, mengatakan sesuatu tentang bisnis. Bisnis apa yang kau maksud?"

"Langsung pada intinya seperti biasa," kekeh Mike. Pria itu berdecak sembari mengangguk, kemudian memberikan botol bir miliknya pada salah seorang pelayan. "Kudengar kau adalah kurir barang kepercayaan Phoenix, dan karena hal itu aku ingin memintamu untuk mengantarkan barangku ke alamat yang telah aku tentukan."

"Jadi ini perjalanan bisnis yang kau maksud," cibir Jongin. "Bagaimana dengan anak buahmu. Tidak ada satupun dari mereka yang dapat kau andalkan?"

"Begitulah, aku belum memiliki kaki tangan yang sanggup membawa barang ini sendirian tanpa lecet. Tetapi sepertinya kau mampu," kekeh Mike. Ia menoleh ke balik bahunya, dan memberi isyarat pada dua orang pengawalnya untuk membawakan barang yang akan Jongin antarkan ke suatu tempat.

Dua orang pria berkepala botak dan bertubuh tinggi besar mengangkut sebuah kantong biru berukuran besar lalu membawanya tepat ke hadapan Jongin. Mereka berdiri di sisi kantong, siap membukanya, tetapi urung ketika Jongin menaikkan satu tangan di udara dan menyela. Mike mendongak menatap Jongin heran, lalu melangkah lebih dekat pada kantong di depannya.

"Kenapa Kai? Aku ingin memperlihatkan barang yang harus kau antarkan—"

"Jika kau ingin aku menjadi kurir barangmu, maka kau harus mengikuti aturanku," potong Jongin.

"Apa aturannya?" tanya Mike.

"Pertama, berat barang tidak boleh lebih dari empat puluh enam kilogram. Kedua, barang yang kotor harus ditaruh dibagasi. Terakhir, aku tidak ingin tahu jenis barang apa yang kuantar," jelas Jongin. Ia meminum bir di botolnya sampai tandas, lalu menaruhnya di atas nampan yang disodorkan oleh salah seorang pelayan.

"Wow," gumam Mike kagum. Pria itu menyeringai sembari memasukkan tangannya ke saku, dan mengangguk berkali-kali. "Aku suka. Aku sangat suka cara kerjamu, benar-benar cepat dan bersih." Kemudian Mike memerintahkan anak buahnya agar segera menimbang barang tersebut untuk memperlihatkan pada Jongin angka yang menunjukkan bahwa berat barang tersebut berada pas di angka empat puluh enam kilogram.

"Jadi kapan aku pergi?" tanya Jongin.

"Sekarang juga, tentu saja," sahut Mike. Ia kembali memberi isyarat pada para pengawalnya, membuat mereka dengan sigap mengangkut kantong besar itu untuk mereka masukkan ke bagasi mobil.

Matanya menatap wajah Mike yang nampak berseri-seri, tetapi kemudian pandangannya segera turun saat mengetahui pria itu tengah mengulurkan tangan ke arahnya. "Senang berbisnis dengan Phoenix. Tolong sampaikan salamku padanya jika kau telah pulang nanti. Terakhir, jaga baik-baik barangku."

"Tentu," balas Jongin.

Mereka kemudian berjabat tangan erat, dan menatap satu sama lain.

Jongin berdecak, mengingat pertemuannya dengan Mike tujuh jam lalu. Ia ingat betul bahwa kilatan mata pria itu terlihat lain dari sebelumnya. Seolah pria itu menyembunyikan sesuatu; dan hal itu pastilah bukan sesuatu yang baik. Jongin telah berusaha keras untuk menjalin komunikasi dengan Phoenix, tetapi ponselnya tidak mendapatkan sinyal dan bahkan sekarang mati akibat kehabisan batrai. Mike seolah sengaja membawanya jauh dari kota, sebab jalanan di depannya hanya menunjukkan jurang, dan lembah.

"Akh, sial!" umpat Jongin, memukul setir mobilnya keras.

Mobilnya mulai kehabisan bahan bakar, dan ia belum mengganti ban sejak memutuskan untuk pergi. Sembari menenggak botol bir terakhirnya Jongin memutuskan untuk mengganti ban dengan berhenti di tengah jalan. Ia tidak peduli, sebab sekalipun dirinya membawa ribuan kambing ke tempat ini, tidak akan ada satu orang pun yang protes. Jongin tidak tahu apa yang membuat anak buah Mike takut untuk membawa barang ini sendirian. Dari apa yang Jongin rasakan selama dua hari terakhir, ia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda musuh.

"Salah seorang Phoenix seharusnya menemukanku," gumam Jongin sembari meraba dadanya, tetapi ia terkesiap saat tidak menemukan apa yang ia cari. "Brengsek! Di mana kalungku?" Kemudian ia ingat pertemuannya dengan Kyungsoo, saat lelaki itu menarik kalungnya lalu menyimpannya di dalam boxer-nya. "Sialan, aku tidak memakai boxer-ku. Kutinggalkan di losmen sebagai kenang-kenangan untuk Kyungsoo."

Benar, meninggalkan boxer bekas untuk sebuah kenang-kenangan memang terdengar sangat konyol.

Tidak ingin mengambil pusing, Jongin akhirnya memilih untuk tidak memperdulikan kalung tersebut. Dengan segera ia keluar dari dalam mobil, lalu memicingkan mata saat mendapati pemandangan di depannya. Tempat ini hanya dipenuhi jurang, Jongin tidak dapat melihat ada kota atau tanda-tanda kehidupan. Hanya ada jalanan berkelok di depannya, dan ini sangat menyebalkan.

"Jika saja Kyungsoo di sini, aku benar-benar frustasi tiba bisa mengeluarkan spermaku," dengus Jongin. "Mungkin sekarang dia tengah berjemur di suatu tempat sambil menunggu kedatanganku, atau mungkin bahkan dia sedang beronani sambil membayangkan wajah tampanku," gumamnya percaya diri.

Kakinya melangkah lebar menuju bagasi mobil untuk mengambil dongkrak, dan ban. Ia membuka pintu bagasinya, dan mengernyit saat mendapati kantung biru di dalamnya bergerak-gerak lemah. Jongin sudah mengatakan bahwa ia tidak peduli, dan tidak ingin mengetahui pada barang apa yang dibawanya. Jadi ia mengabaikan gerakan tersebut dan hanya mengambil dongkrak serta ban, kemudian kembali menutup pintu bagasinya. Beberapa kali hidungnya menyernyit dengan kening mengkerut dalam. Ia merasa seperti mencium sesuatu yang begitu familiar, tetapi ia tidak dapat mengingatnya dengan jelas.

"Mungkin karena aku belum mandi selama dua hari?" terka Jongin sembari membaui tubuhnya. Ia mengangguk, dan kembali melanjutkan kegiatannya mengganti ban. Tetapi secepat kilat pria itu membuang dongkrak di tangannya dan bangkit menuju bagasi mobil. Jongin dengan kalap membuka pintu bagasi, dan menarik ikatan kantung biru di dalamnya.

Tubuhnya kaku tegang saat menemukan apa yang ada di dalam sana.

"Kyungsoo!"

e)(o

Keadaan berangsur-angsur membaik. Tidak ada lagi makanan yang terbuang pada tong sampah, atau bahkan kloset emas Chanyeol. Baekhyun telah menemukan ketenangannya, dan Chanyeol merasa bersyukur karena hal itu datang dari sesuatu yang begitu sederhana; cincin di jari manisnya. Berat tubuhnya terus bertambah hingga mencapai berat tubuhnya terdahulu. Bahkan pipinya telah kembali menjadi gemuk, membuat Chanyeol sering menghadiahinya gigitan gemas pada bagian tersebut. Rambutnya yang selama ini mengalami kerontokan telah menjalani perawatan intensif sehingga akar-akar rambutnya kembali menguat, dan ditumbuhi rambut-rambut baru.

Biasanya pada pukul enam pagi—sebelum berangkat ke kantor—Chanyeol akan memangku Baekhyun, dan menemaninya sarapan di meja makan utama rumah mereka. Lelaki itu akan bercerita banyak hal, sementara Chanyeol hanya diam mendengarkan. Tetapi pagi itu Chanyeol tidak dapat melakukan kegiatan rutinnya bersama Baekhyun, sebab seseorang telah dengan lancang bertamu ke rumahnya di pagi-pagi buta. Membuatnya bahkan tidak memiliki banyak waktu untuk memeluk Baekhyun lebih lama lagi.

Dan tamu itu, tentu saja, Sehun.

"Kau ingin bertemu dengannya? Karena jika tidak, maka aku akan menyuruhnya untuk mencari hari lain yang lebih tepat," ujar Minseok tegang. "Mungkin saat itu suasana hatimu jauh lebih baik."

"Biarkan dia bertemu denganku," sahut Chanyeol tenang. Ketenangan ini mirip seperti seekor srigala jantan ketika tengah menunggu buruannya. Sedikit saja mendekat, dan ia akan menerkammu lalu melumpuhkanmu tanpa ampun.

"Tapi dia Sehun, dan dia datang bersama buruannya. Sehun bahkan mencoba menghabisi para penjaga Mansion ini saat mereka berusaha mengambilnya," jelas Minseok penuh penekanan. Kedua tangannya mengepal dan memandang Chanyeol gusar. Tidak mungkin ia membiarkan Sehun bertemu Chanyeol seorang diri. Sebab, tidak menutup kemungkinan pria itu akan keluar dari pintu hanya dengan kepala tanpa tubuh.

"Minseok," ucap Chanyeol. Itu adalah isyarat terakhir bagi Minseok untuk tidak mencoba menentangnya.

"Baiklah," ucap Minseok. "Kata-kataku tidak akan dapat menahan kalian berdua untuk bertemu—atau bahkan mungkin menghabisi satu sama lain," sindirnya tajam. Ia kemudian menghela napas berat, dan berbalik hendak meninggalkan ruangan, tetapi Chanyeol menahannya.

"Ada luka di pergelangan tanganmu. Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol.

"Akan kujelaskan nanti, secepatnya," balas Minseok. Ia berniat kembali pergi, tetapi kemudian Chanyeol lagi-lagi menghentikan langkahnya.

"Jongdae berkhianat? Dia bersetubuh dengan seseorang? Katakan padaku."

"Kau!" Minseok berbalik, dan memandang Chanyeol marah. Sesungguhnya Minseok merasa murka. Bola mata Minseok nampak berkaca-kaca, sementara tubuhnya merah padam menahan luapan emosinya. "Bertahun-tahun kami berpisah, tidak sekalipun dia mengkhianatiku. Dia bersumpah atas nama negara yang dicintainya, jadi bagaimana mungkin dia mengkhianatiku. Ini hanya luka sayat karena aku mencoba kembali berlatih. Aku mengkhawatirkan Baekhyun, dan berpikir jika aku tidak memiliki cukup kemampuan, maka dia akan berada dalam bahaya. Tentunya kau tidak bisa berada di sisinya selama dua puluh empat jam penuh."

Setelah mengatakan itu, tanpa berniat mendengar tanggapan dari Chanyeol, Minseok segera melangkah pergi meninggalkan ruangan.

Tak lama, seseorang membuka kenop pintu dan memasuki ruangan. Sepatu bot mengkilap Sehun melangkah lebar di atas marmer mengkilap yang baru dibersihkan. Tujuannya hanya satu; Chanyeol yang duduk di kursi kebesarannya. Ruang kerja Chanyeol yang luas seketika menjadi begitu sempit di setiap langkah kaki Sehun yang penuh percaya diri. Wajah pria itu datar tanpa emosi, tetapi Chanyeol masih dapat menangkap sesuatu yang lain. Seperti kilatan gelisah bercampur kacau yang jika sedikit saja Chanyeol usik, maka sudah pasti akan meledak. Namun kali ini Chanyeol tidak memiliki gambaran, tentang seberapa keras ledakannya.

"Tidak kusangka, kau berani kembali ke kandangmu setelah meninggalkannya begitu saja," cibir Chanyeol.

Mereka saling beradu pandang, menatap satu sama lain dalam ketenangan mencekam. Tetapi Chanyeol tak gentar, bahkan saat Sehun mengeluarkan revolver dari balik punggungnya, dan memutarnya mantap hingga terdengar bunyi klik; pertanda sebuah peluru siap bersarang di kepala seseorang.

"Maafkan aku, hyung," ucap Sehun penuh penyesalan. Ia mengarahkan moncong revolvernya tepat pada sasaran, hingga tak lama terdengar suara ledakan keras, yang kemudian disusul suara bedebam; menandakan tubuh seseorang baru saja terjatuh membentur lantai.

e)(o

Sepasang abu-abu terang itu menatap sepasang hitam legam di depannya tidak habis pikir. "Sebenarnya apa yang coba kau lakukan?" desis Chanyeol berbahaya. Wajahnya kaku tegang, berang atas perilaku menjijikkan Sehun. Ia bangkit berdiri dari kursinya, dan melangkah lebar menghampiri Sehun yang tengah berlutut tepat dua meter di depan meja kerjanya. "Kau menembak kakimu hanya agar memiliki alasan untuk berlutut padaku?"

"Phoenix yang berkhianat memang harus berlutut di kakimu untuk mendapat ampunan, tapi aku tidak berkhianat, hyung. Meskipun begitu, aku tetap harus berlutut untuk alasan lain," ucap Sehun. Matanya nampak berkaca-kaca, bukan karena menahan rasa sakit pada kakinya tetapi karena kesedihan di hatinya yang sudah tidak dapat terbendung.

"Kau harus memiliki alasan yang cukup menarik atas aksimu ini," desis Chanyeol. Tangannya membalik kursi yang dekat dengan katangannya, kemudian duduk tepat di depan Sehun.

"Hyung, aku telah... aku telah memiliki seorang Omega," ungkap Sehun. Kabar itu tentu saja mengejutkan Chanyeol. "Luhan adalah Omegaku."

Jelas pria di depannya bukanlah Sehun. Seumur hidup selama ia mengenal Sehun yang keji, dan bengal, tidak pernah sekalipun Chanyeol melihat pria itu meneteskan air mata. Bahkan saat Ayahnya tertembak mati di depan wajahnya sekalipun, Sehun masih dapat menahan emosinya. Chanyeol berpikir mungkin akal sehatnya terguncang, dan sudah dapat dipastikan bahwa yang menyebabkan hal tersebut adalah lelaki bernama Luhan tadi. Mata Chanyeol memicing tajam, memandang Sehun yang nampak begitu kacau dan hancur, benar-benar tanpa penghalang.

"Kau menghilang begitu lama, apa kau berniat berkhianat dariku demi Omegamu?"

"Tidak hyung, kami hanya... bersembunyi," ucapnya terbata. Pria itu benar-benar menangis, berlutut meminta ampunan dari Chanyeol. Berharap orang yang begitu dihormatinya itu bersedia memberinya sedikit belas kasih. "Aku terlalu takut untuk menemuimu, sementara Luhan memiliki banyak luka yang harus disembuhkan. Dia memiliki luka cambuk di seluruh tubuhnya. Kutukan itu nyata. Aku telah mengkhianatinya. Tubuhnya dicambuk setiap kali aku melakukan hal menjijikkan bersama orang lain, dan itu telah terjadi selama bertahun-tahun."

Entah mengapa tiba-tiba Chanyeol teringat pada Baekhyun. Mendapatkan luka cambuk dari balasan atas pengkhianatan seorang Alpha, adalah hal terburuk yang tidak pernah sudi dibayangkan oleh seorang Omega. Hal itu juga terjadi, dan menimpa pada Ibunya. Tetapi Chanyeol tidak dapat memercayai kata-kata Sehun begitu saja. Sebab meskipun telah terbukti, setidaknya ia harus melihat buktinya secara langsung.

"Bawa dia padaku," perintah Chanyeol.

"Jangan hyung, aku mohon ampuni kami. Barkan dia bersamaku hyung!" Sehun menyentuh kaki Chanyeol, dan menyeret lututnya hingga darah mengucur lalu menjejak mengotori karpet ratusan ribu dolar milik Chanyeol. Matanya menatap Chanyeol penuh permohonan, seolah begitu takut Chanyeol menghancurkan apa yang paling dicintainya. "Hyung."

"Bawa dia padaku... atau aku akan benar-benar melenyapkannya tepat di depan kedua matamu," desis Chanyeol. Matanya menatap nyalang Sehun.

"Hyung, kumohon!"

Chanyeol mengambil ponsel dan menelepon. "Bawa buruannya."

Sedetik kemudian pintu dibuka dari luar, memunculkan wajah lugu dari seorang lelaki cantik berambut hitam. Ia hanya mengenakan kemeja cokelat kebesaran yang sudah jelas milik Sehun, serta celana jin hitam ketat yang menampakkan dua bongkahan pantatnya. Matanya bersinar indah, dan tubuhnya yang mungil langsung mengingatkan Chanyeol pada Baekhyun. Lelaki itu berjalan dengan didampingi Minseok serta beberapa pengawal. Saat matanya yang berkilauan mendapati Sehun yang bersimbah darah, lelaki itu tidak dapat mencegah keterkejutannya.

"Sehun!" pekik Luhan. Kakinya berlari menuju Sehun yang nampak berkaca-kaca, dan menoleh menatapnya tegang.

"Pergilah Luhan," desis Sehun. Pria itu membuang pandangannya, dan menunduk menatap lantai yang dingin. "Kau harus menuruti perintahku, pergilah." Biarkan Sehun yang menanggung semuanya. Ia ingin menunjukkan kesetiaannya yang selama ini telah ternodai oleh banyaknya luka fisik, dan batin yang diderita Luhan. "Kumohon..."

"Aku membawanya. Jadi tolong lepaskan Sehun, dan biarkan aku yang menggantikannya." Luhan memeluk Sehun, lalu menangis di bahunya. Ia kemudian berlutut dan menyentuh kaki Chanyeol sembari dengan kalap memberikan sesuatu dari kantong celananya ke hadapan pria itu. "Kumohon, Sehun tidak bersalah—"

"Cukup Luhan!" teriak Sehun marah.

"—Sehun tidak pernah berkhianat padamu. Akulah... akulah yang telah membuatnya jauh dari wilayahmu. Jadi kumohon... kumohon, ampuni dia."

Mata Sehun menatap nyalang Luhan. Tangannya mengepal kencang, tidak menyukai bagaimana Omeganya mengatakan semua omong kosong tersebut begitu lancar. "Luhan, kau—"

"Cukup," potong Chanyeol, muak melihat drama di depannya. "Pergilah Sehun. Aku tidak memiliki urusan apa pun lagi denganmu," putus Chanyeol final.

"Hyung, kumohon!" Sehun memeluk kaki Chanyeol. Berteriak mendarah daging saat para pengawal segera berlari menuju ke arahnya, lalu mencekal lengan dan kakinya untuk kemudian mereka seret keluar ruangan. "Hyung, kumohon, hyung, Chanyeol hyung!"

Sehun terus berteriak keras, menyerukan sesuatu tentang pengampunan dan saudara, tetapi ia mengabaikannya. Wajahnya mendongak, menatap ke arah pintu dan menemukan Minseok yang menatapnya sekilas, sebelum akhirnya ikut pergi meninggalkan ruangan. Wajah Chanyeol kembali menatap wajah cantik Luhan saat pintu ditutup, dan dengan sengaja dikunci dari luar.

"Sekarang... hanya tinggal kita berdua," desis Chanyeol berbahaya. Bibirnya menyeringai, menatap buas Luhan dari ujung rambut hingga ujung kaki.

e)(o

"Ahh, benar-benar nikmat," desah Chanyeol puas. Matanya menatap gelas sampanye di tangannya, menikmati gelembung yang menari-nari di atas permukaan air seperti buih.

Di depannya nampak Luhan yang masih bergetar ketakutan. Rusa kecil itu sekarang terjebak, dan tidak ada lagi si pemburu baik hati yang bersedia menyelamatkannya dari perangkap.

"Katakan padaku... apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanya Chanyeol. Tangannya mengambil rubik silver dari atas meja, dan memutarnya sesuai kode yang selama ini Luhan hafal dari selembar kertas kumal pemberian pamannya. "Jika kau berniat memonopoli Sehun demi memuluskan jalanmu untuk menghancurkanku.. maka kesimpulanku, kau tidak cukup pintar untuk mengenal siapa aku. Tidak peduli apa yang saat ini tengah kau rencakan, aku bukan seseorang yang akan membiarkannya begitu saja," ancamnya berbahaya.

"Aku tidak menginginkan apa pun darimu." Luhan menggeleng brutal. "Aku hanya menginginkan Sehun. Kami saling mencintai. Sehun adalah Alpha-ku. Sehun adalah mimpi... mimpi yang selama ini selalu kutunggu-tunggu kemunculannya," balas Luhan parau. Suaranya gemetar karena ketakutannya, tetapi kata-kata itu terdengar begitu meyakinkan. Lelaki itu masih berlutut, mendongak menatap rubik yang tengah dimainkan Chanyeol.

Dengan segera ia menganalisa Chanyeol, dan mendapati banyak hal menarik dari pria itu hanya dalam sekejap. Caranya bergerak, menatap sesuatu, bahkan berpikir, semua itu membawa banyak daya magnet. Hal-hal yang paling mencolok dari Chanyeol adalah sifat kejamnya yang tidak memiliki rasa belas kasih. Ketenangannya yang tidak biasa adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat dimiliki dalam sekejap, melainkan proses belajar selama seumur hidup. Serta sifat penyayang yang diam-diam dimilikinya. Hal itu dapat terlihat dari bagaimana pria itu tidak sedikitpun menyakiti Sehun, atau bahkan sekedar untuk menyentuhnya.

Sehun telah lari dari dirinya selama berminggu-minggu. Jika bukan karena rasa sayangnya, mungkin kepala Sehun telah tergantung menjadi hiasan pintu.

"Aku tetap tidak bisa mempercayaimu begitu saja. Sebagai saudara, dia telah berkhianat dariku. Kau tahu apa artinya itu?" tanya Chanyeol. Terdengar suara klik dari rubik yang dipegangnya sebelum pria itu melanjutkan, "Itu sama halnya dengan dia menggores harga diriku."

"Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan Sehun," balas Luhan. "Aku tahu kau sangat mengasihinya. Tetapi aku bersumpah, aku tidak berniat memonopolinya, atau bahkan berniat menghancurkanmu. Aku hanya kebetulan terjebak bersama orang seperti Han Zhuo. Hanya itu..." bisik Luhan pilu.

Chanyeol mengabaikan Luhan. Matanya justru terpusat pada meja di dekatnya. Di sana terdapat rubik yang ia simpan, di mana komponen rubik tersebut nampak terbuka perlahan hingga memunculkan berlian merah muda yang begitu cantik.

Benda itu berkilauan, memancarkan gemerlap yang memantul di atas meja, hingga sepertinya sanggup bersinar di kegelapan. Inilah yang telah menimbulkan banyak pertikaian di antara para geng. Hal ini bukan hanya semata-mata karena daya jualnya yang tinggi, tetapi juga karena kelangkaannya. Namun Chanyeol memiliki niat lain, sebab bukan seperti orang-orang picik itu yang berusaha mengambilnya hanya demi sepeser uang. Chanyeol menginginkannya untuk hadiah.

Tentunya, Seohyun akan murka jika tahu bahwa berlian ini tidak akan pernah Chanyeol jual padanya.

"Apakah... apakah kau akan melenyapkanku?" tanya Luhan ragu. Pandangan matanya sedikit menunduk, hanya berani menatap Chanyeol lewat bulu matanya yang indah—yang sepertinya sanggup membuat Baekhyun iri dan berpikir macam-macam.

Anehnya, Chanyeol tidak merasa tertarik sedikitpun. Bahkan saat tahu kemeja yang digunakan oleh lelaki cantik di depannya begitu terawang hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping, ia sama sekali tidak merasakan gejolak untuk menyentuhnya; merusak milik Sehun yang berharga. Ia hanya mendengus, berpikir bahwa hasratnya telah tenggelam jauh di dasar, dan hanya dapat dibangkitkan oleh Omeganya.

"Seperti perjanjian. Seseorang yang tidak terikat dengan geng harus dilenyapkan segera setelah tugas mereka usai," mulai Chanyeol. Punggungnya bersandar pada kursi, menatap datar Luhan yang ketakutan. Telunjuknya menggosok bibir bawahnya saat ia melanjutkan, "Dan aku tahu... kau bukan bagian dari Wu. Kau hanya dijadikan alat. Jadi sudah seharusnya kau dilenyapkan."

"Bagaimana dengan Sehun?" tanya Luhan gelisah. Bagaimana dengan Sehunnya? Sehun membutuhkannya. Luhan ingat malam-malam panjangnya bersama pria itu. Bagaimana ia terus menyalahkan dirinya, dan melakukan banyak hal gila demi Luhan. "Bagaimana dengan takdir kami? Kami saling mencintai dalam sekejap, tetapi percaya akan selalu terikat selamanya. Setelah sekian lama terpisah, apakah seseorang yang dianggap saudara oleh Sehun akan tega memisahkan kami untuk kedua kalinya? Bagaimana bisa seorang saudara dapat berlaku begitu keji?!" ujar Luhan marah.

"Sehun tidak perlu tahu," ucap Chanyeol lamat-lamat. Tubuhnya condong ke depan, mendekat pada Luhan seperti seekor srigala berkuasa. Jari-jarinya menyentuh lembut dagu Luhan hingga sampai ke kerah kemejanya. "Aku akan melenyapkanmu diam-diam. Mengatakan sesuatu tentang pelatihan di luar wilayah kami untuk waktu yang lama. Sampai pada akhirnya dia akan melupakanmu dengan sendirinya..." sambungnya kejam.

Tanpa ragu jari-jari terampilnya melepas satu-persatu kancing kemeja Luhan, mengabaikan tangisan dalam diam Omega di depannya. Tepat setelah seluruh kancing kemeja tersebut terbuka, tanpa membuang waktu Chanyeol segera menariknya; memperlihatkan tubuh porselen Luhan yang berkilauan.

e)(o

Semua orang menunggu di depan pintu.

Semua orang cemas.

Sehun duduk berselonjor dan bersandar pada dinding. Minseok berjongkok di sampingnya, nampak begitu cemas. Sementara beberapa orang terlihat berkerumun di dekatnya demi mengeluarkan peluru gila yang bersarang pada betisnya. Sehun tidak tahu bagaimana keadaan Luhan saat ini di dalam sana. Ada banyak hal yang ia pikirkan. Salah satunya adalah keputusan yang akan Chanyeol ambil. Tidak menutup kemungkinan Chanyeol akan meniduri Luhan; merusak milik Sehun yang paling berharga untuk membuatnya jijik, dan membenci Omeganya sendiri.

Chanyeol akan memperlihatkan pada Sehun bahwa siapa pun tidak akan sanggup menolak Phoenix. Siapapun akan takluk dan rela membuka kuncian pahanya demi Phoenix yang agung.

"Jangan pikirkan tentang itu, sedikitpun..." desis Minseok, seolah tahu apa yang tengah Sehun pikirkan. Lelaki itu mendengus lalu membantu salah seorang untuk mengoleskan alkohol pada luka Sehun. Membuat Sehun mendesis keras akibat rasa terbakar yang menggerus kakinya. "Kau tidak pernah tahu apa yang telah dia lewati selama kau pergi... dia jatuh cinta Sehun. Tanpa sadar dia telah jatuh tenggelam pada seseorang yang begitu lemah. Si mungil itu telah membuatnya takluk."

Hal itu begitu mengejutkan Sehun, mungkin sama mengejutkannya dengan pesan Sehun yang mengakui telah memiliki seorang Omega.

"Aku berpikir tentang mengapa hyung tidak menembakku tepat setelah aku membuka pintu. Ternyata karena dia..." ucap Sehun takjub. Omega bernama Baekhyun itu telah membuat Chanyeol kekenyangan. Sebab itulah Chanyeol terlihat lebih santai, tidak bertindak agresif seperti yang biasa ia lakukan. "Kupikir dia hanya akan bertahan beberapa lama. Aku terbiasa melihat hyung membuang miliknya yang tidak berharga. Tidak kusangka, takdirnya mengubah tabiatnya yang satu itu."

"Begitulah. Sekarang dia menjadi ratu rumah ini." Minseok mengucapkannya dengan bangga. "Dia memiliki segala yang Chanyeol inginkan... dirinya sendiri," sambungnya dengan seringaian lebar.

"Itu terdengar bagus untukku, hyung." Sehun mengangguk, merasa sedikit lega. Meskipun, pikiran itu masih belum dapat menyingkir dari isi kepalanya yang penuh.

"Minseokie hyung..."

Minseok menoleh cepat, dan menemukan Baekhyun yang berdiri kikuk dengan gelas susu stroberi dalam genggaman tangannya. Lelaki itu nampak bercahaya dalam balutan kemeja merah muda beserta celana jins pendek. "Hai, selamat pagi!" sapa Minseok riang sembari bangkit, dan tersenyum lebar pada si mungil yang nampak kebingungan karena keadaan sekitar.

"Selamat pagi!" sahut Baekhyun. Lelaki itu tersenyum malu-malu, dan terkesiap hingga gelas dalam genggamannya hampir tumpah saat menemukan kaki pria yang dulu pernah menolongnya terlihat tengah dibebat. "Ke-kenapa?" tanya Baekhyun. Matanya melebar, tidak menyukai pemandangan mengerikan di depannya. Pikiran buruk melayang di kepalanya, mengenai Chanyeol yang mungkin menjadi dalang dari penembakan tersebut. Mengingat ruangan yang tengah mereka injak adalah wilayah ruang kerja Chanyeol. Matanya berkedip beberapa kali, kikuk saat menemukan Sehun yang tengah memandanginya lewat tatapan menilai.

"Sehun hanya terkena peluru nyasar. Bukan masalah besar," balas Minseok sembari mengangkat bahunya santai. Tetapi kemudian ia menatap Baekhyun, tertegun hingga keningnya mengkerut dalam. Lalu tak lama ia memekik, mengejutkan semua orang. "Dia bisa membantumu Sehun!" jerit Minseok. Tangannya menghela Baekhyun hingga yang lebih mungil mengerjap bingung.

"Apa maksudmu, hyung?" tanya Sehun tidak mengerti.

"Baekhyun bisa membantumu, Sehun," tandas Minseok sembari berdiri di belakang Baekhyun, dan menyentuh kedua bahunya mantap. "Kau lihat siapa yang tengah berdiri di depanmu? Ratu rumah ini..." tandas Minseok yang langsung membuat Baekhyun tersipu-sipu akibat ucapannya.

Mata Sehun memandangi Baekhyun, dan membeliak saat menangkap maksud dari ucapan Minseok.

"Mr Park." Sehun segera berdiri. Tertatih-tatih dengan keadaan kaki dibebat. Alpha itu berdiri di depan Baekhyun yang menatapnya bingung, lalu dengan serta merta menggenggam kedua tangannya erat. "Tolonglah aku... masuklah ke dalam dan selamatkan Omegaku. Tidak ada yang bisa kumintai tolong selain dirimu. Jadi kumohon... bantulan kami berdua," ucap Sehun putus asa.

"Omega?" tanya Baekhyun. Matanya lalu membelalak. "Ta-tapi kenapa Omegamu bisa berada di dalam sana, hyung?" tanyanya tidak mengerti.

"Semua ini salahku," balas Sehun lemah.

Seorang Omega tengah berdua bersama Alpha-nya di dalam sana. Bagaimana bisa mereka tidak mengatakan hal ini secepatnya pada Baekhyun? Tanpa mengatakan apa pun ia segera melangkah menuju pintu, dan berdiri tegang selagi menunggu pintu dibuka.

Tangannya mencengkram gelas dengan kencang, mempertegas cincin ibunya yang nampak berkilau.

e)(o

Pemandangan di depannya adalah sesuatu yang sama sekali tidak ia harapkan. Seorang Omega yang terlihat luar biasa indah nampak duduk bersimpuh dengan pakaian yang hampir tanggal. Sementara Chanyeol berdiri kokoh di depan Omega itu, siap melepas ikat pinggangnya yang kuat.

PRRANG

Gelas berisikan susu milik Baekhyun jatuh membentur lantai marmer Chanyeol hingga pecah berkeping-keping. Suara jatuhnya yang keras membuat Luhan menoleh cepat ke balik bahunya, sementara Chanyeol masih setia menunduk menatap lantai; sudah lebih dulu merasakan kehadiran Baekhyun sejak lelaki itu melangkah memasuki pintu. Seseorang yang tolol telah dengan sengaja memasukan Baekhyun ke dalam wilayah terlarangnya, hanya untuk membuatnya seakan-akan bersalah.

Kedua matanya melihat jelas bagaimana sepasang cokelat bening itu bergetar, menatapnya dengan begitu kacau.

Tatapan yang dulu pernah diberikan pada Chanyeol saat ia merasa tidak berharga.

"Kemarilah," perintah Chanyeol. Tangannya membetulkan kembali ikat pinggangnya, untuk kemudian duduk di atas kursi. "Kemari, jangan membuatku harus mengulang kata-kataku," desak Chanyeol sembari menepuk pahanya.

"Siapa?" tanya Baekhyun. Matanya menatap Chanyeol dan Luhan bergantian; hampir menangis. "Aku... atau dia?"

Gigi Chanyeol menggertak menahan murka, hampir melangkah keluar ruangan untuk menghabisi siapa pun yang sudah berani membawa masuk Baekhyun ke tempat ini. "Aku berkata pada Omegaku," balas Chanyeol angkuh.

Luhan hanya diam, tidak memiliki kuasa untuk berbicara atau bahkan melarikan diri. Dari apa yang dilihatnya, ia yakin betul bahwa lelaki yang berdiri begitu indah di depan pintu adalah Omega dari pria berkuasa di depannya. Tangan-tangannya dengan gemetar mengancingi seluruh kancing kemejanya sembari diam-diam menatap memuja pada boneka berjalan yang baru saja melewatinya.

Untuk seseorang yang buas, dan keji seperti Chanyeol, memiliki Omega seperti lelaki cantik di depannya adalah sebuah kado terindah dari leluhur. Seperti gambaran sempurna dari Pheonix; Chanyeol sebagai gambaran gelap, dan Omeganya sebagai gambaran keindahan.

"Mengapa kau kemari? Seseorang memaksamu untuk masuk?" tanya Chanyeol saat Baekhyun enggan duduk di pahanya dan justru memilih berdiri kaku di dekatnya. Membuat Alpha di dalam jiwanya diam-diam mengerang marah.

"Aku hanya ingin melihat apa yang ingin kau lakukan dengan milik orang lain," sindir Baekhyun. Omega di dalam jiwanya mengerang, khawatir sesuatu yang menjijikkan baru saja terjadi. Bagaimana jika Chanyeol menyentuh Omega itu seperti ia menyentuhnya selama ini?

Chanyeol menatapnya intens, menggali ke dalam tatapan matanya yang kesepian dan dipenuhi duka. Sejujurnya, Chanyeol amat membenci tatapan tersebut. "Aku berniat menyambuknya, untuk membuatnya mengakui kebohongannya. Dia berusaha mencuci otak Sehun, agar Sehun berkhianat padaku. Tetapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," jelas Chanyeol. Pria itu ingin Baekhyun mengerti bahwa ini hanya soal bisnis yang tiba-tiba merembet pada masalah keluarga. Tetapi ia hanya perlu tenang, dan membiarkan Chanyeol mengurus masalah ini dengan caranya. "Pergilah—"

"Chanyeollie!" sentak Baekhyun. "Itu bukan hakmu untuk memisahkan Omega dari Alphanya. Mereka saling terikat, dan kulihat Sehun hyung sangat mencintai Omeganya. Apa salahnya dengan itu?"

"Baekhyun," desis Chanyeol berbahaya. "Berbohong dan saling mencintai jelas dua hal yang berbeda—"

"Bagaimana bisa kau sebut itu sebagai kebohongan!" potong Baekhyun marah. Luhan memeluk dirinya sendiri, menaruh seluruh harapannya pada Omega didepannya. Berharap lelaki itu dapat menyelamatkan Sehun dan dirinya. "Sehun hyung mencintai Omeganya, dia membutuhkan Omeganya—"

"Aku tidak memintamu untuk berpendapat—"

"Dia bukan kau!" jerit Baekhyun murka. Wajahnya memerah menahan luapan emosinya. "Mereka saling mencintai, mereka berbagi hidup untuk saling mencintai. Mereka ingin memiliki satu sama lain. Sehun hyung tidak akan sanggup berpisah dari Omeganya. Kau tidak akan pernah bisa merasakan itu karena kau tidak pernah mencintaiku!" jerit Baekhyun mendarah daging.

Dalam sekejap suasana berubah menjadi begitu sunyi. Ketegangan yang amat mencekam segera menyerbu dan menggantung pekat di udara, menyebabkan tubuh Luhan semakin gemetar takut. Ia dapat mendengarnya, suara ketukan telunjuk Chanyeol pada lengan kursi yang tengah di dudukinya. Seakan pria itu tengah menghitung detik menuju kematian. Pria itu meledak karena amarah, sebab Luhan dapat melihat dengan jelas dari sepasang abu-abu terangnya yang berkilat berbahaya.

"Kau menentang kuasaku di hadapan orang lain, sesuatu yang seharusnya tidak kau lakukan," ucap Chanyeol, seketika membuat Baekhyun kehilangan ruang untuk bernapas. "Pergilah," perintah Chanyeol. Nada bicaranya begitu tenang dan terkontrol, tapi terdengar mengerikan. Luhan bahkan dapat mendengar banyak ancaman di baliknya.

Keduanya bergeming, mencoba memahami siapa yang dimaksud oleh Chanyeol. Lalu Baekhyun terkesiap, dan mengeratkan kepalan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Barang kali itu perintah bagi dirinya yang memang tidak dibutuhkan. Sehingga dengan jantung yang hampir meledak, serta kekecewaan yang ia miliki, kakinya segera melangkah pergi—tetapi hal itu terjadi sebelum Luhan berlari terseok-seok mendahuluinya seperti orang kesetanan.

Baekhyun tercenung, dan menoleh cepat saat Chanyeol berdiri dari duduknya tepat setelah pintu dibanding tertutup. Pria itu berjalan dengan begitu angkuh, berbahaya di setiap langkah kakinya yang pasti. Tubuh Baekhyun gemetar takut, tahu bahwa keselamatannya terancam. Ucapannya telah begitu melewati batas, dan Chanyeol tidak akan mengampuninya. Tetapi mulutnya tidak dapat mencegah kata-kata tersebut. Selain itu, jauh di lubuk hatinya ia sama sekali tidak merasa menyesal telah mengeluarkan isi pikirannya selama ini.

"Aku selalu memperingatkanmu..." desis Chanyeol lamat-lamat. Tubuhnya berdiri begitu dekat dengan Baekhyun, menatap dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan begitu intens, dan mengintimidasi bocah itu lewat aromanya yang memikat. "Jangan membela yang menurutku salah, jangan melakukan hal bodoh, dan jangan menentangku. Tetapi lebih daripada itu Baekhyun... jangan mengucapkan hal-hal yang membuatku marah," sambungnya serak. Telunjuknya menyentuh dagu Baekhyun, dan menggosok bibir merah delima itu menggunakan ibu jarinya.

Beradu mulut dengan Chanyeol bukanlah ide yang tepat, tetapi mungkin dengan menyentuh hati nuraninya, pria itu baru mau mengerti. Tubuhnya semakin mendekat pada Chanyeol, mendongak menatapnya dengan sepasang mata yang masih berkaca-kaca. Ia menyentuh tangan Chanyeol, dan menggenggamnya begitu erat. "Kasihanilah mereka Chanyeollie. Lihatlah aku, aku sebatang kara sekarang. Hidup menjadi seperti aku bukan sesuatu yang menyenangkan. Biarkan mereka bersama—"

"Baekhyun..." Kening Chanyeol mengkerut dalam, lalu pria itu menggeleng pelan. "Aku tidak berselera untuk membicarakan mereka sekarang." Tangannya melepaskan diri dari genggaman hangat Baekhyun untuk beralih mencengkram di dagunya. Memaksa bocah itu mendongak menatap tepat di matanya yang berkilat. "Kata-katamu padaku jauh lebih mengusikku ketimbang mereka."

"Chanyeollie..."

Chanyeol marah besar padanya. Tatapan mata itu begitu menyudutkannya, tetapi ia tidak dapat menyangkal sekarang. Sembari menelan ludah susah payah, ia membalas tatapan itu. Barangkali hari ini memang waktu yang tepat bagi dirinya mengeluarkan semua kegelisahannya.

"Kau sudah mendengarnya, jadi aku tidak perlu mengulanginya lagi bukan? Kau tahu aku sangat mencintaimu..." Ia tidak dapat mencegah isakannya. "Aku hanya memilikimu di dunia ini. Aku tidak bisa mencegah diriku untuk terus berharap bahwa suatu saat kau juga akan mencintaiku, membalas perasaanku. Menyimpanku di istana ini bukan hanya semata-mata karena rasa memiliki, tapi juga karena cinta. Apakah aku salah?"

"Kau menuntut cinta dariku?" tanya Chanyeol sangsi.

"Kenapa tidak?" tanya Baekhyun tidak mengerti. Kata-kata Chanyeol begitu menyakitinya, menghunus sampai pada Omega di dalam jiwanya. Mereka masih belum benar-benar bersatu, bahkan setelah melewati banyak hal. "Semua Omega menginginkan cinta dari Alphanya, jadi apakah permintaanku ini terlalu mustahil? Aku tidak mengerti mengapa aku masih mendebatkan ini denganmu sementara kita akan segera menikah." Ia menepis kasar tangan Chanyeol, dan semakin terisak. "Apakah tidak sebaiknya kau memikirkan ulang niatmu itu? Mungkin kau akan menyesal seumur hidup jika harus menikahiku."

Setelah itu seluruh pertahanannya runtuh. Tangisnya pecah, bergaung keras di dalam ruangan hingga terdengar bagai simfoni yang menyanyat. Ia tidak dapat mencegah tubuhnya yang gemetaran hebat, hingga napasnya menjadi satu-satu. "Kudengar... menikahi seseorang yang tidak kita cintai akan membuat kita tersiksa Chanyeollie..." Ia bersikeras untuk tidak terisak di setiap kata yang ingin ia ucapkan, tetapi tangisnya menghancurkan segalanya.

Anehnya, Chanyeol tidak mengatakan apa pun, dan hanya mendengarkan.

"Aku tidak ingin kau tersiksa. Sementara aku bahagia menikah denganmu karena aku sangat mencintaimu, kau justru merasakan sebaliknya. Aku hanya ingin kau bahagia Chanyeollie..." Setelah mengatakan itu, tanpa membuang waktu Baekhyun segera menutup wajahnya yang penuh dengan air mata untuk kemudian berjalan menjauh menuju pintu.

Ia tidak ingin mendengar jawaban Chanyeol yang hanya akan semakin menyakitinya. Jika ia harus hidup dalam kebohongan, berpikir seumur hidup bahwa pria itu mencintainya, ia rela.

Baekhyun hanya membutuhkan Chanyeol di dalam hidupnya.

Lebih dari apa pun.

Chanyeol melihat semuanya, tanpa ada yang terlewatkan. Bagaimana bocah delapan belas tahun itu telah tumbuh menjadi lebih dewasa. Ia telah belajar menuntut, dan meminta haknya pada Chanyeol. Caranya berbicara, dan menyampaikan keinginannya tidak seperti dulu. Meski masih merengek, dan menangis keras, tetapi Chanyeol tahu bahwa Baekhyun telah berubah.

"Kau belum mendengar pendapatku," ucap Chanyeol. Sukses menghentikan langkah kaki Baekhyun yang hampir mencapai kenop pintu.

Baekhyun dapat mendengar suara langkah kaki Chanyeol, dan berpikir bahwa pria itu akan memperingatkannya untuk tidak lagi mengatakan hal-hal semacam tadi. Atau bahkan mungkin pria itu berniat menyambuknya dengan keji, menggantikan Omega sebelumnya. Namun seluruh pikiran itu sirna, sebab alih-alih diperlakukan demikian, dirinya justru mendapat sebuah pelukan dari belakang. Tubuhnya diraih dan dibawa ke dalam dekapan Chanyeol yang hangat, membuatnya gemetaran oleh perasaan lain. Tetapi tangisnya belum juga reda, justru menjadi lebih keras.

"Aku pernah mengatakan alasanku mengapa aku membawamu ke mari. Ini bukan hanya tentang rasa memiliki, atau bahkan tanggung jawab. Aku tidak bisa ditekan oleh siapa pun, bahkan leluhur sekalipun." Chanyeol menciumi leher Baekhyun hingga sampai pada telinga dan pipinya, membuat tangis Baekhyun perlahan-lahan mereda. "Aku bisa dengan mudah membuangmu, jika saja aku mau... tapi aku memiliki alasan lain mengapa aku mempertahankanmu."

Wajah Baekhyun menoleh cepat pada Chanyeol hingga ujung hidung mereka bersinggungan. Lamat-lamat Baekhyun mengerjap, menatap sepasang abu-abu terang itu untuk menggali kebenaran. "Aku berhasrat padamu Baekhyun... sejak pertama kali kita bertemu. Aku ingin memilikimu selamanya, mencumbumu sepanjang malam, dan melenyapkan siapa pun yang berusaha mengambilmu dariku. Bahkan jika ternyata kau yang memilih untuk lari, aku akan mengejarmu sampai ke ujung neraka sekali pun. Aku tidak tahu apakah itu cinta atau bukan, tapi jika kau ingin menuntutnya dariku... kau mungkin harus menunggu."

Dengan cepat Baekhyun berbalik, lalu memeluk pinggang Chanyeol erat-erat. Ia membenamkan wajahnya di dada Chanyeol, menekan seluruh berat tubuhnya pada pria itu, dan menangis keras-keras. "Saat aku sakit Chanyeollie selalu bertanya padaku apa yang aku inginkan. Aku hanya ingin cinta, Chanyeollie. Aku akan menunggu, tidak peduli sampai seribu tahun lamanya... tolong cintai aku," balasnya tersedu-sedu.

Mungkin benar, butuh seribu tahun lamanya untuk membuat Chanyeol jatuh cinta padanya. Tetapi Baekhyun akan mencintai Chanyeol untuk seribu tahun lagi, dan lagi. Chanyeol telah memintanya menunggu, sehingga tidak ada jalan lain bagi Baekhyun untuk menyanggupinya.

Lengan Chanyeol balas memeluknya erat, melindunginya. Tetapi kemudian pria itu melepas pelukan mereka, lalu tanpa peringatan mengangkat tubuhnya.

e)(o

Mereka duduk di kursi yang sebelumnya digunakan Chanyeol. Sebenarnya secara teknis hanya Chanyeol yang duduk di kursi tersebut, sebab Baekhyun duduk di atas kedua pahanya. Meringkuk seperti janin dalam kandungan. Sisi wajahnya bersandar di bahu Chanyeol yang lebar, sementara satu tangannya berpegangan bada bahu yang lain. Mulutnya sibuk bersenandung kecil, sembari sesekali memainkan kancing kemeja abu-abu Chanyeol. Bahkan tanpa sengaja melepasnya, membuat matanya berkilat nakal, dan enggan memasangnya lagi.

"Chanyeollie... apa sekarang kita sudah bisa membicarakan Sehun hyung dan Omeganya?" tanyanya hati-hati.

"Kenapa kau begitu peduli pada mereka?" tanya Chanyeol. Ia menghisap sampanye di gelasnya, dan memandang ke depan.

"Apa Chanyeollie lupa?" tanyanya sangsi. Omega itu lalu menegakkan duduknya, dan membalas tatapan mata Chanyeol sembari cemberut. Dengan melihat hal itu Chanyeol tahu bahwa suasana hati Baekhyun telah membaik. "Sehun hyung adalah orang yang sudah membawaku keluar dari Casino. Dia juga ikut menyelamatkanku."

Chanyeol tidak mungkin lupa.

"Saat itu Sehun hyung dipukuli oleh orang-orang berpakaian hitam. Dia bahkan harus menitipkanku pada temannya. Teman Sehun hyung juga hampir mengkhianatinya. Dia ingin menyentuhku. Aku heran mengapa teman Sehun hyung berbuat seperti itu, padahal kulihat sepertinya temannya itu menyukainya."

Baekhyun jelas bukan seseorang yang tepat untuk dijadikan sebagai pusat informasi Phoenix. Seluruh informasi akan terbongkar begitu saja karena mulut mungilnya yang tidak dapat berhenti bicara. Chanyeol mendengus, menatapnya menyeringai. Tetapi kemudian ia tersentak saat mencerna kembali kata-katanya. Ia mencengkram dagu Baekhyun, memaksa bocah itu mendongak menatap matanya yang dipenuhi amarah. "Siapa bajingan itu?"

Mata Baekhyun mengerjap beberapa kali. Mengingat kilas balik pertemuannya dengan Sehun dan teman prianya. "Sehun hyung tidak menyebutkan namanya," sahutnya setelah selesai mengingat. Lalu ia melanjutkan dengan gugup, "Teman Sehun hyung menggendongku selama Sehun hyung bertarung, lalu dia menurunkanku di mobilnya... tapi kemudian di-dia ingin menyentuh wajahku, beruntung Sehun hyung lebih dulu mengancamnya dengan pistol."

Rahang Chanyeol berdenyut, nampak kaku tegang. "Sebutkan ciri-cirinya," perintahnya. Kedua tangannya menarik Baekhyun semakin mendekat; panas membayangkan Omeganya didekap pria lain tanpa sepengetahuannya. Sehun begitu kurang ajar, seharunya saat itu ia benar-benar meledakkan kepalanya.

Kening bocah itu mengkerut dalam, mulai kembali mengingat bayangan samar di ingatannya. Bibirnya mencebik, dan matanya menatap Chanyeol ragu-ragu. Tanpa sadar ia membuat ekspresi lucu yang menyebabkan Chanyeol meremas pantatnya hingga ia terperanjat. "Di-dia memakai anting. Pakaiannya aneh. Dia memiliki banyak kalung di lehernya—"

"Cukup," potong Chanyeol.

"Kenapa? Aku belum selesai menjelaskannya," protes Baekhyun.

"Aku tahu siapa dia baby," balas Chanyeol. Panggilannya yang tidak biasa itu membuat Baekhyun segera menunduk dengan wajah tersipu-sipu malu. Ia menangkup wajahnya sendiri sembari terkekeh kecil. Tangannya serta merta memeluk Chanyeol, dan menghadiahi pria itu ciuman di pipi kanannya. "Kau menyukainya?" cibir Chanyeol.

"Mmm!" Baekhyun mengangguk semangat. Wajahnya semakin terbakar.

Lalu Chanyeol mengingat hadiahnya. "Aku memiliki sesuatu untukmu," ucap Chanyeol. Sebelum Baekhyun sempat bertanya, Chanyeol telah lebih dulu mengambil sesuatu dari atas meja, membuat bocah dalam pangkuannya memekik takjub saat melihat benda berkilauan di depannya. Ia tidak menyadari ada benda itu sebelumnya. "Ambillah," perintah Chanyeol.

"Te-terima kasih," ucapnya. Ia merasa begitu sungkan saat harus mengambil kotak berisikan berlian tersebut. "Ini sangat indah Chanyeollie," ujarnya saat melihat berlian merah muda di tangannya berkilau hingga membuatnya tercengang. Tanpa peringatan bibirnya kembali mencium pipi Chanyeol, kali ini kiri dan kanan tanpa terkecuali. "Kenapa Chanyeollie memberiku hadiah? Ini pasti sangat mahal," ucap Baekhyun bingung.

Sebenarnya Chanyeol tidak mengerti maksud ucapan bocah itu. Baekhyun adalah Omeganya, jadi Chanyeol berhak melimpahinya banyak hadiah, bukan?

"Untuk cincin pernikahan kita, gunakan ini pada cincinmu," sahut Chanyeol tak acuh.

Meskipun Baekhyun merasa tersanjung dengan hadiah mahal Chanyeol, tetapi bentuk dari berlian ini dirasa terlalu berlebihan untuk menjadi hiasan pada cincin pernikahannya. "Apakah ini tidak terlalu besar? Orang-orang mungkin akan menganggap bahwa cincin pernikahanku dihiasi batu ginjal," komentarnya yang lebih mirip seperti omelan.

Di satu waktu Chanyeol benar-benar tidak dapat menahan tawanya. Pria itu benar-benar tertawa, memperlihatkan giginya yang sehat dan terawat. Ini adalah kali pertama Baekhyun melihat Chanyeol tertawa—tulus—membuatnya tidak dapat mengenyahkan rasa bangga di pikirannya karena sudah dapat membuat Alpha itu tertawa oleh kekonyolannya.

"Jangan menertawakan aku!" Baekhyun menyimpan kembali kotak berlian di tangannya di atas meja, dan merengek pada Chanyeol yang menekan mulutnya seperti orang batuk. "Chanyeollie berhenti tertawa!" protesnya. Ia lalu menggigit bibir untuk menahan senyum.

"Kau menggigit bibirmu baby." Chanyeol memperingatkan. Dalam sekejab tawanya hilang tertelan angin. Ibu jarinya menyentuh bibir bawah Baekhyun, menariknya lembut untuk membuat bocah itu berhenti menggigit bibirnya.

"Bi-bisakah aku mendapatkan ciuman selamat pagi karena aku menggigit bibirku?" tanya Baekhyun penuh harap.

Chanyeol mendengus geli tetapi ia mengangguk dan mencondongkan wajahnya untuk memberikan Baekhyun ciuman selamat paginya. Bocah itu menghela napas, dan memeluk leher Chanyeol erat. Baekhyun sudah mahir menggerakkan bibirnya di atas bibir Chanyeol. Bahkan saat Chanyeol sibuk menghisap bibir atasnya, Baekhyun tidak mau kalah menghisap bibir bawahnya. Omega itu tidak lagi malu memainkan belah bibir Chanyeol untuk mendapat kepuasannya sendiri. Selain itu, Chanyeol juga tidak pernah merasa keberatan.

Jari-jarinya yang gemetar dan terasa kesemutan menancap di rambut Chanyeol, meremasnya untuk mencari kesenangan. Baekhyun mendesah lalu membuka mulut untuk membiarkan lidah Chanyeol masuk menginvasi mulutnya. Lidah itu gesit membelit lidahnya, menggelitik sampai ke langit-langit mulutnya hingga ia merengek kegelian. Lidahnya lalu mendorong lidah Chanyeol, memohon lewat isyarat untuk membiarkannya masuk menjelajah mulut Chanyeol yang terasa memabukkan. Mungkin karena sampanye yang pria itu minum, atau memang karena ia yang benar-benar dimabuk cinta.

"Chanyeollie sangat rakus..." bisik Baekhyun kepayahan.

Jari-jari kakinya menutup dan membuka, tegang karena kenikmatan yang terasa mengejutkan. Liurnya menetes mengotori dagu, dan tubuhnya mengejang merasakan hisapan mulut Chanyeol di lidahnya. Baekhyun merengek, menekan tengkuk Chanyeol, dan menjambak rambutnya. Matanya sedikit terbuka, menatap manik mata Chanyeol yang selalu terjaga ketika mereka tengah berciuman. Ia ingin tahu mengapa Chanyeol tidak pernah menutup matanya, tetapi rasa malunya membuat ia tidak berani untuk menanyakan langsung pada pria itu. Wajahnya lalu sedikit menjauh, membuat ciuman mereka terputus, dan mendapati bibir Chanyeol yang memerah.

"Selamat pagi Chanyeollie," ucapnya seakan mereka tengah melakukan kegiatan pagi mereka.

"Selamat pagi," balas Chanyeol.

Matanya kembali terpejam saat Chanyeol memiringkan kepala, dan kembali memagut bibirnya ke dalam sebuah ciuman—yang kali ini begitu menuntut. Pria itu tidak lagi menahan-nahan.

Lidahnya menelusup begitu saja tepat ketika bibir mereka bersentuhan. Chanyeol melumat dan menghisap bibir Baekhyun tanpa ampun, membuat Baekhyun sibuk membalas ciumannya. Ia akan melepasnya sedetik lalu kembali menciumnya lama kemudian. "Chanyeol." Baekhyun mendesah dan menjauhkan wajahnya hingga ciuman mereka terputus. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya yang kosong sembari menyeka liur di sudut bibir Chanyeol. Matanya membalas tatapan mata Chanyeol, lalu tak lama wajahnya mendekat dan menghujani bibir favoritnya itu dengan kecupan.

"Apa kau tengah membujukku untuk mengampuni Sehun?" tuding Chanyeol di sela-sela kecupan manis Baekhyun. Bocah itu tiba-tiba terdiam, dan Chanyeol memanfaatkan hal tersebut dengan menggigit bibir bawahnya gemas.

Matanya beberapa kali mengerjap cepat, tidak menduga-duga Chanyeol akan menangkap maksudnya. "Sama sekali tidak." Ia menggeleng membantah tuduhan Alphanya, lalu membubuhkan kecupan terakhir di bibir Chanyeol yang kali ini begitu dalam hingga suara bibir mereka saat terpisah terdengar sangat nyaring. Telapak tangannya mengusap dada Chanyeol konstan, dan tersenyum begitu manis hingga matanya membentuk bulan sabit. "Tapi jika Chanyeollie tidak keberatan, tolong biarkan mereka bersama."

"Bukankah kau cemburu padanya?" sindir Chanyeol. Jari-jarinya mengambil sejumput rambut Baekhyun untuk ia selipkan ke balik telinganya.

"Ce-cemburu?!" Wajahnya langsung merah terbakar. Tetapi kemudian ia menunduk dan cemberut. "Itu karena aku melihatnya hampir telanjang, dan Chanyeollie sedang membuka ikat pinggang di depannya," akunya sembari membuat tampang merajuk. Baekhyun tidak dapat mencegah dirinya untuk melemparkan diri pada Chanyeol, lalu menghirup aroma memabukkan pria itu agar membuat hatinya tenang.

Mereka lalu saling beradu pandang lewat tatapan yang berbeda; yang satu diliputi rasa sedih, sedangkan yang satu berkilat sebaliknya. Chanyeol lalu membenturkan kening dan hidung mereka, kemudin membawa jari-jari mungil Baekhyun ke mulutnya. "Bagaimana jika aku memang berniat menidurinya?" goda Chanyeol.

Baekhyun nampak termenung, seolah tengah berpikir sangat keras. Lalu jawaban yang keluar dari mulutnya justru membuat Chanyeol merasa sangat marah. "Aku akan berbagi dengannya, jika memang Chanyeollie menginginkan lelaki itu." Ia tersenyum tawar, dan menaikkan bahunya. Menyerahkan sepenuhnya.

"Pembohong," cibirnya telak.

Baekhyun terkesiap, tentu saja. "A-aku memang berbohong. Aku tidak ingin, aku tidak mau berbagi Chanyeollie dengan siapa pun. Maafkan aku Chanyeollie." Bocah itu menghapus air mata di sudut matanya, dan menarik napas tersendat.

"Apa yang aku katakan tentang jangan menangis," ucap Chanyeol sembari mencium keningnya dalam, semata-mata untuk membuatnya tenang. "Sudah lama sejak aku kehilangan hasratku. Dia hanya meledak saat bersamamu." Pria itu berbisik intim di depan mulutnya. Membuat Baekhyun tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagia atas kalimat bernada seduksi tersebut.

Ia merasa istimewa.

Tetapi kemudian wajahnya termangu saat mendapati Chanyeol mengambil gelas sampanyenya. Bibir Baekhyun sedikit terbuka, memandang takjub cara Chanyeol menghisap sampanyenya. Gerakan pria itu begitu elegan, namun juga kuat dan angkuh di saat yang bersamaan. Chanyeol nampak seperti seorang bangsawan, atau mungkin dalam kasus ini; bangsawan kegelapan.

"Kenapa?" tanya Chanyeol. "Kau mau mencobanya?" tawarnya.

"Bo-bolehkah?" Saat Chanyeol mengangguk, ia menambahkan, "Ta-tapi umurku baru delapan belas tahun. Bukankah aku masih belum diijinkan untuk meminum alkohol," ujarnya naif.

Chanyeol justru mendengus geli. "Minuman pertamaku saat aku menginjak usia dua belas," jelasnya yang sontak membuat Baekhyun menganga tidak percaya. "Minumlah, aku mengijinkanmu."

Matanya mengerjap, memandang gelas batang di depannya ragu. Cairan itu berwarna kekuningan, nampak jernih dan berkilau dengan sedikit gelembung yang langsung mengingatkan Baekhyun pada air soda. Kebetulan sekali ia haus, dan air susunya juga sudah tumpah. Malu-malu tangannya mengambil gelas itu, lalu perlahan mendekatkan tepi gelas ke mulutnya dengan dibantu Chanyeol. Matanya menatap mata Chanyeol saat cairan itu mulai masuk dan mengalir di tenggorokannya. Namun matanya membelalak saat mendapati air soda tersebut tidak semenggoda tampilannya.

"Apakah seburuk itu?" tanya Chanyeol saat Baekhyun cepat-cepat menjauhkan gelasnya sembari menunjukkan ekspresi seperti baru saja menelan batu.

"Huwek! Tidak enak Chanyeollie... Kupikir rasanya sama dengan air soda," ungkapnya jujur. Rasanya mungkin manis, tetapi setelah itu ia hanya dapat merasakan pahit serta rasa pusing yang tiba-tiba berdenyut di kepalanya. "Kepalaku pusing," rengeknya.

"Kau akan terbiasa baby," balas Chanyeol tenang. Telunjuknya meraih dagu yang lebih mungil untuk membubuhkan satu ciuman di belah bibir anak itu yang sekarang semakin membuatnya mabuk. Lidah Chanyeol segera menelusup ke dalam mulutnya untuk mencecap sisa-sisa sampanye yang tertinggal.

"Chanyeollie." Baekhyun memeluk Chanyeol erat dan membenamkan wajah di ceruk lehernya yang nyaman. "Ampuni Sehun hyung," pintanya.

Chanyeol segera menghubungi seseorang.

Tidak butuh waktu lama hingga pintu besar miliknya menjeblak terbuka, menampilkan sosok Minseok dan beberapa orang pengawal. Tetapi pemandangan yang paling mencolok adalah Sehun yang terlihat dipapah oleh Omeganya. Para pengawal berdiri setengah lingkaran di dekat pintu, sementara Minseok dan keduanya berjalan menghampiri dirinya.

"Hyung..." ucap Sehun.

"Kau terlihat begitu lemah. Bukankah tugasmu sekarang cukup berat? Mengurus seorang Omega di sisimu, apalagi dia bekas seorang kurir, bukanlah perkara mudah, Sehun," nasehat Chanyeol. Matanya menatap Sehun yang juga tengah menatapnya. "Kau pasti tahu bahwa keputusanmu ini akan membawa kita pada perpecahan antar dua geng, dan bisa jadi menjalar jika yang lain bertindak ikut campur. Aku dan Dragon bukan rekan bisnis. Kau juga tahu bahwa kami bersaudara, tapi kami tidak menjalin hubungan yang cukup akrab. Jadi jika kau mengalami kesulitan dengan Wu—"

"Aku tidak akan melibatkan Phoenix, aku berjanji akan menyelesaikan masalahku sendiri," potong Sehun menggebu-gebu.

"Bodoh," dengus Chanyeol. "Hanya jika kau ingin mati lebih cepat, maka silahkan urus masalahmu sendiri. Tapi apa kau pikir aku akan membiarkan adikku menangani masalahnya seorang diri? Kau bagian dari Phoenix Sehun, bagian dari tanggung jawabku."

"Hyung..." Sehun menelan ludahnya susah payah, tidak menyangka Chanyeol akan mengampuninya secepat ini. Bahkan setelah ia melarikan diri selama ini, menjauh dari wilayahnya, dari keluarganya. Pria itu tetap mau mengurusnya, dan mengatakan kata-kata yang begitu melegakan hatinya. "Terima kasih banyak, hyung."

"Jangan berterima kasih pada keluarga," ucap Chanyeol. Ia lalu beralih menatap Luhan. Matanya memicing tajam, menunjukan kilatan gelap yang membuat Luhan semakin erat memeluk Sehun. "Bukan berarti aku mengampuni kalian, lalu membiarkanmu lepas dari pengawasanku begitu saja. Aku akan terus mengawasimu, tidak peduli kau siapa dan dari mana. Jadi sebaiknya pastikan kau memang ada di pihak kami."

"Aku mengerti," balas Luhan. Meski suaranya masih bergetar, tetapi ia tetap mencoba untuk meyakinkan Chanyeol. "Aku akan berada di pihak kalian, dan menjaga Sehun untukmu," sambungnya.

Chanyeol mengangguk, cukup puas dengan negosiasi singkat ini. "Kalian boleh pergi. Urus luka di kakimu dan kembali bertugas. Dan Minseok... temui aku di sini jam dua siang nanti," perintah Chanyeol sebelum mereka benar-benar pergi meninggalkan ruangan.

Ketika pengawal kembali menutup pintu ruangan, dan semua orang lagi-lagi meninggalkannya hanya berdua bersama Chanyeol, Baekhyun menemukan bahwa Chanyeol kali ini menatapnya dengan tatapan lain dari sebelumnya. Tatapan yang kemudian membuatnya menelan ludah susah payah, dan menoleh menatap pria itu waspada. "Apa?"

"Apa kau pikir semua itu gratis?" dengus Chanyeol. Wajahnya mendekat pada Baekhyun, menatapnya dengan kilatan buas. "Bukankah kau bersedia menjadi jaminan untuk mereka? Karena baby... aku harus mendapat timbal balik setimpal untuk keputusan yang baru saja kuambil," bisik Chanyeol.

"Apa yang harus aku lakukan?" cicitnya. Ia menunduk memainkan kancing kemeja Chanyeol dengan kedua pipi yang tiba-tiba merona merah. Tatapan Chanyeol begitu panas, menelanjangi dirinya, dan Baekhyun tidak memerlukan penerjemah untuk mengartikan maksudnya.

"Berdiri di belakang meja," bisik Chanyeol.

e)(o

Baekhyun berdiri setengah menungging di belakang meja kerja Chanyeol yang nampak bersih karena seluruh peralatan telah disingkirkan oleh pemiliknya. Celananya tanggal, dan tergeletak di suatu tempat. Yang terburuk, kemeja yang dipakainya hanya mencapai pangkal paha, sehingga ia tidak dapat menyembunyikan kedua pipi pantatnya yang gemuk meski tangannya telah berkali-kali menurunkan bagian belakang kemeja. Kedua lengannya menapak di atas meja, menunggu Chanyeol yang masih sibuk menghisap sampanyenya.

"Chanyeollie," panggilnya pelan.

"Buka lebar kakimu," perintah Chanyeol saat selesai meneguk sampanyenya. Pria itu bangkit berdiri, lalu melangkah berbahaya menuju meja kerjanya di mana Baekhyun nampak tengah membuka kakinya malu-malu. "Lebih lebar."

"Chanyeol!" rengek Baekhyun. Bocah itu menunduk, membenamkan wajah meronanya pada lipatan lengan saat kakinya semakin terbuka lebar hingga memperlihatkan lubang merah jambunya yang berdenyut di hadapan Chanyeol.

Lalu tak lama ia dapat merasakan sesuatu yang dingin menekan liang pantatnya, menggosok bagian itu bolak-balik untuk kemudian membuat gerakan melingkar. Ia menggigil, dan menggigit bibirnya kencang sampai akhirnya ia menyadari bahwa benda tersebut adalah ibu jari Chanyeol yang telah terlumuri sampanye. Mereka tidak memiliki pelumas, tidak pernah. Sehingga mungkin Chanyeol memanfaatkan sampanye yang masih tersisa pada gelas untuk melumasi lubangnya. Tubuh Baekhyun mengejang, dan pantatnya terangkat setiap kali ibu jari Chanyeol masuk dan keluar di liangnya. Membuat penisnya perlahan-lahan bangun.

Tiba-tiba semua gerakan menyiksa itu lenyap, membuatnya merengek dan menggoyangkan pantatnya tanpa sadar. Namun Baekhyun tidak menduga, bahwa gerakan selanjutnya justru membuat ia menjerit kencang hingga menyebabkan tubuhnya mengejang.

Chanyeol memukul pantatnya.

"Chanyeol!" jerit Baekhyun saat ia mendapatkan pukulan kedua. Lututnya terasa gemetar sampai ke tulang, dan wajahnya memerah sampai telinga ketika pukulan ketiga dan keempat datang hampir secara bersamaan. "Kumohon... Chanyeollie hentikan—akh—Chanyeol!"

Pukulan berikutnya datang secara bertubi-tubi, begitu keras, mantap, dan intens. Setiap pukulan membawa efek kejut yang begitu menyakitkan, membuat Baekhyun menangis keras dan tidak berhenti memohon pada Chanyeol untuk berhenti. Tubuhnya terdesak, dan berguncang di setiap pukulan yang dilayangkan Chanyeol. Namun anehnya, pukulan-pukulan berikutnya justru membawa efek lain yang membuatnya mendesah di antara jeritannya. Matanya terpejam, dan kakinya mengangkang semakin lebar hingga tubuhnya tengkurap.

"Chanyeollie..." Baekhyun mendesah kepayahan. Tetapi pukulan-pukulan lain justru menjadi semakin kencang hingga suaranya bergaung nyaring di dalam ruangan. "Nnh—breng—akh!"

"Tidak ada yang boleh mengumpat di mejaku," ucap Chanyeol tenang sembari melayangkan pukulan berikutnya. Bibirnya menyeringai puas melihat bekas tamparan yang sekarang menghias kedua pipi pantat Baekhyun. Tangannya kembali berayun, dan berjanji bahwa ini akan menjadi pukulan terakhirnya.

"Chanyeol!" jeritnya mendarah daging.

Siksaan itu berakhir.

Tubuhnya bergetar ketakutan. Ia menangis keras hingga tersedu-sedan dan masih menyembunyikan wajah penuh air matanya di lipatan lengan. Jari-jari kakinya menggulung, berjinjit untuk menahan denyutan sakit di pantatnya. Tubuhnya dipenuhi peluh, dan hanya bisa pasrah saat Chanyeol membungkuk di belakang punggungnya, lalu menciumi lehernya penuh nafsu. Chanyeol mengusap kedua pahanya menyiksa, membelai selangkangannya, dan meremas penis ereksinya sambil lalu.

"Baby, sstt... jangan menangis," bisik Chanyeol di sela-sela kecupannya. Ia membalik tubuh lemah itu, dan membawa ke lengannya, lalu membiarkan anak itu memeluk lehernya. "Jangan menangis."

"Sakit," isak Baekhyun. Satu tangannya mengepal dan memukuli pundak Chanyeol. "ini sakit, kau bajingan, aku benci padamu!" pekiknya. Ia mencengkram kemeja di bagian pundaknya dan mengguncang bagian itu berulang kali. Matanya bergulir ke atas, memicing menatap Chanyeol tajam. Tetapi pria itu hanya diam. "Kenapa kau melakukan itu?" tanyanya tidak mengerti.

"Sudah lama aku ingin melakukannya," bisik Chanyeol. Mereka saling beradu pandang. Baekhyun menggigit bibirnya dan merintih tersendat saat merasakan remasan Chanyeol di pantatnya. "Aku ingin menandai sekujur tubuhmu dengan jejakku," sambungnya egois.

"C-Canyeol," bisik Baekhyun gugup. Ia menyugar rambut Chanyeol dan mendekatkan wajahnya yang merona malu. "Tandai aku sepuasnya..."

Tidak butuh waktu lama hingga mereka akhirnya berdamai dan kembali terlibat ciuman panas. Baekhyun membuka lebar kakinya, mengangkangi pinggang Chanyeol di antara kuncian pahanya. Ia mendesah di sela-sela ciuman basah mereka, menjulurkan lidahnya untuk membelit lidah Chanyeol. Saling mendorong, merasakan, dan mengeksplor satu sama lain.

Lama kemudian ciuman itu terputus. Chanyeol menunduk menatap Baekhyun yang mendongak menatapnya. Tatapan mata Chanyeol begitu intens, menjeratnya seketika hingga ia jatuh tenggelam begitu dalam. Bagaimana mungkin ia tidak mengartikan itu sebagai tatapan cinta? Tetapi mungkin pria itu hanya belum menyadari perasaannya, Baekhyun pikir.

"Kenapa?" tanya Chanyeol. Ia menangkup wajah Baekhyun, dan mengusap rambutnya perlahan.

"Tidak ada..." bisik Baekhyun lembut. Jari-jarinya yang terampil dengan gesit melepas satu-persatu kancing kemeja Chanyeol hingga tanggal seluruhnya. Kemudian ia menarik lepas kemeja itu, membuat kain tersebut luruh ke lantai begitu saja. Pandangan matanya lalu turun, menatap tepat jari-jarinya yang perlahan membelai dari dada sampai ke perut kekar Chanyeol yang merenggang.

Hanya di saat seperti ini mereka dapat melupakan segalanya. Baekhyun hanya ingin mengingat bahwa mereka saling memiliki dan jatuh cinta satu sama lain.

Ia kemudian membuka ikat pinggang dan kaitan celana Chanyeol, lalu menurunkan risletingnya dengan cara sengaja menekan pada bagian kejantanannya yang setengah ereksi. Baekhyun telah banyak belajar, salah satunya belajar memuaskan Chanyeol. Tangannya begitu ahli mengeluarkan penis Chanyeol dari dalam celana, membuat pemiliknya mendesis nikmat. Kening Chanyeol mengernyit, tetapi mulutnya semakin gencar menghisap leher sampai ke bagian belakang telinga Baekhyun untuk memberikan banyak tanda kepemilikan.

"Baby..." Hidung Chanyeol turun membaui tulang selangka Baekhyun, menghisap di antara perpotongan bahunya yang cekung, lau menjilatinya kemudian. Tangannya menelusup ke balik kemeja bocah itu, mengusap pinggang sampai ke dadanya yang sedikit montok. Jari-jari Chanyeol yang terampil menjawil puting susu Baekhyun, memilin dan memainkan benda sekeras kerikil itu dengan cara yang membuat Baekhyun mendesah meminta lebih. "Tubuhmu sangat ekspresif dengan sentuhanku, apa kau tahu itu, hm?" bisik Chanyeol di daun telinganya sebelum menggigit bagian itu main-main dan melumatnya sekejap.

"Nnh—Chanyeol," rintihnya. Baekhyun menggenggam kejantanan Chanyeol mantap dengan kedua tangannya yang mungil, lalu mengurutnya konstan hingga penis besar itu ereksi sepenuhnya, dan memunculkan urat-urat yang menekan tangannya. "Chanyeollie, aku ingin apadravyamu berada di dalamku..." Baekhyun memohon.

"Tentu, cantik." Bibir Chanyeol turun perlahan, menghisap kulit dada Baekhyun yang terasa lembut dan wangi, membuat yang lebih mungil harus memundurkan tubuhnya dan bertumpu menggunakan kedua siku. Chanyeol menarik paha Baekhyun untuk membuat bocah itu semakin mengangkang. Pikirannya semakin berkabut saat melihat Baekhyun yang setengah telanjang terlihat begitu pasrah dan siap menerima dirinya. Ia menjilat bibirnya buas, dan membawa kaki kiri Baekhyun ke pundaknya lalu mulai mencium dari paha luar hingga sampai ke paha bagian dalamnya.

"Chanyeollie, jangan meng—nnh!" Sikunya yang licin tidak sanggup menahan berat tubuhnya, sehingga akhirnya ia telentang pasrah di atas meja kerja Chanyeol. Tubuh Baekhyun gemetaran, sementara liangnya semakin berdenyut gatal menanti penis besar Chanyeol untuk segera merangsak masuk dan menggaruknya. "Ahn—Chanyeollie aku tidak tahan!" Baekhyun merasa penisnya semakin sensitif. Kepala penisnya membengkak seperti jamur dan terus meneteskan precum yang membuat selangkangannya mengkilap. Tubuhnya bergerak gelisah, hanya bisa mendesah di setiap hisapan Chanyeol yang sekarang telah mencapai selangkangannya.

"Sulit mengendalikan dirimu?" cibir Chanyeol. Giginya yang runcing menggigit kecil kulit selangkangannya, dan menghisap bagian itu hingga meninggalkan jejak merah keunguan. Lidah Chanyeol lalu terjulur, menjilati bola kembarnya berulang kali, untuk kemudian meraup penisnya masuk ke dalam mulut pria itu yang terasa begitu hangat. Baekhyun merintih dan menangis di saat yang bersamaan. Matanya terpejam erat merasakan hisapan-hisapan Chanyeol di penisnya. "Angh—aah—aah—Chanyeollie gatal!" Kakinya melilit di sekeliling bahu Chanyeol dengan tangan yang mencengkram kemejanya sendiri.

Pantatnya terangkat ketika dua jari Chanyeol memasuki liangnya sekaligus. Tubuh Baekhyun menggeliat, dan mulutnya mendesah keras saat jari-jari Chanyeol bergerak cepat di dalam liangnya; menggaruk biji prostatnya yang butuh perhatian. Lidah Chanyeol kemudian menggelitik lubang kencingnya lalu menghisap dari pangkal sampai ke kepala penisnya yang begitu sensitif.

Jari-jari kaki Baekhyun menggulung dengan kening mengkerut nikmat saat ia merasakan dirinya yang hampir meledak. Chanyeol menambahkan jari ketiga setelah sebelumnya membuat gerakan menggunting, dan menusuk prostatnya kasar, hingga sukses membuat orgasmenya semakin tak tertahankan.

"Chanyeolliehh!" Tubuh Baekhyun mengejang dengan sperma yang menyemprot deras dari lubang kencingnya hingga mengotori mulut Chanyeol. Pahanya bergetar hebat saat pelan-pelan Chanyeol mengeluarkan penisnya sembari tetap membuat gerakan menghisap, seolah tengah menguras habis seluruh spermanya.

Baekhyun dapat melihat Chanyeol yang sekarang tengah berdiri menjulang di depannya. Wajahnya berpaling saat Chanyeol menatapnya menyeringai, dan menjilat bibir sensual. Kemudian tiba-tiba kembali mengungkungnya posesif. "Aku suka rasamu yang manis," bisik Chanyeol.

"Itu kotor," balas Baekhyun. Suaranya begitu kecil, tetapi wajah merah padamnya telah menjelaskan segalanya.

Pria itu mengusap rambut Baekhyun, dan meraup bibir semerah ceri favoritnya itu ke dalam ciumannya yang menuntut. Tangan Chanyeol meraih tangan Baekhyun, dan membawanya sampai pada penisnya. Jari-jari Baekhyun yang terasa kesemutan menggenggam penis Chanyeol, lalu perlahan-lahan mendorong benda sekeras balok kayu tersebut untuk masuk menerobos lubangnya. "Angh—Chanyeollieh..." rintih Baekhyun di sela-sela usahanya.

Satu tangannya meremas-remas pantat Baekhyun serta memainkan puting susunya yang melenting, sementara tangan yang lain membantu Baekhyun memasukkan penis miliknya ke dalam liang bocah itu, yang kali ini telah terbiasa dengan penisnya. "Kau sangat ketat, sangat nikmat, sialan," puji Chanyeol saat penisnya menghentak masuk hingga memenuhi liang Baekhyun.

"Chanyeol—akh!" Ia menggigit bibir, tidak menyangka-nyangka rasanya akan senikmat ini. Sebab hari ini adalah hari pertama mereka bercinta, setelah berbulan-bulan tidak melakukan akibat sakit yang diderita Baekhyun.

Dinding lubangnya berdenyut-denyut antusias, menghisap penis Chanyeol yang terasa begitu besar dan panas. Ia dapat merasakan urat penis serta apadravya milik Chanyeol yang bergesekkan langsung dengan dinding anusnya. Logam dingin itu bergerak seperti monster, menggaruk hingga sampai ke titik terdalam. Sementara pemiliknya nampak membuka sedikit mulutnya, menikmati cengkraman dan kehangatan lubang Baekhyun yang bekerja seolah ingin meremukkan penisnya.

"Sial, baby." Chanyeol menjilat bibir dan menyugar rambutnya dramatis; pusing dengan kehangatan yang menyengatnya.

"Ahh—angh—kau sangat besar, sangat panas, aku merasa begitu penuh Chanyeollie," bisik Baekhyun malu-malu.

Tanpa membuang waktu Chanyeol segera menggerakkan pinggulnya, menyentak penisnya masuk lebih dalam dan dalam lagi. Mereka kembali berciuman, dan menyentuh satu sama lain tanpa sungkan. Pinggul Chanyeol bergerak berlawanan arah dengan Baekhyun, di mana ujung penisnya terus menyenggol dan menusuk tepat pada prostatnya. Lubang Baekhyun menelan penisnya lapar, menyebabkan ia kesulitan bergerak. Beberapa kali ia memukul pantat Baekhyun sembari mempercepat tusukannya. Membuat Baekhyun semakin keras mendesahkan namanya.

"Lagi—ahh—ahh—lebih cepat," isak Baekhyun putus asa. Ia terus mendesah, dengan jari-jarinya yang mencengkram rambut Chanyeol, menekan pria itu untuk mendekat padanya. "Lebih dalam—ahn!"

Mereka saling menatap satu sama lain. Begitu intens dan penuh makna. Tubuh mereka menyatu dalam irama yang sama. Nampak tenggelam dalam kenikmatan. Baekhyun tidak dapat berhenti meremas rambut Chanyeol untuk menenangkan jari-jarinya yang kesemutan. Bahkan sesekali ia akan mengusap kulit pria itu yang licin dan menjadi mengkilap.

"Kau selalu cantik, selalu..." desah Chanyeol memuji.

Kulit mereka terus beradu dan menghasilkan simfoni yang akan membuat semua orang merasa malu. Aroma seks pekat menguar dan segera menginvasi ruangan, hingga membawa suhu panas membakar yang sanggup mengalahkan dinginnya AC. Keduanya meraih kepuasan satu sama lain. Kacau balau dan hilang akal dalam sekejap.

"Ahh—ahh—ahh—kumohon, lebih dalam," pinta Baekhyun. Ia mengulum bibirnya dengan tubuh yang terus berguncang di setiap tusukan Chanyeol. Wajanya merona dengan bibir merah serupa apel matang. Keringat nampak mengucur, membuat tubuhnya mengkilap di bawah kungkungan lengan Chanyeol yang kuat. "Nnh—a-ahh—ahh!"

Tetapi tiba-tiba Chanyeol menarik tubuhnya, membuatnya bangkit. Matanya menatap Chanyeol bingung, terlebih saat pria itu menarik penisnya keluar dan membawa tubuhnya turun dari atas meja. "Ke-kenapa—aaangh!" Baekhyun memekik, terkejut setengah mati saat Chanyeol membalik tubuhnya hingga ia kembali menungging di depan meja.

Penis Chanyeol kembali menerobos masuk liangnya, menghentak membuatnya mendesah panjang. Kakinya terbuka lebar, dan tubuhnya condong ke bawah, menekan meja. Di belakangnya Chanyeol terus menungganginya tanpa ampun. Alpha itu mencengkram pinggangnya, membuat tubuhnya bergerak berlawanan arah dengan gerakannya. Apadravya itu bergerak kasar, menggaruk dinding anusnya dari sudut yang berbeda. Ujung penis Chanyeol terus mengalirkan tetes-tetes precum yang membuat lubangnya licin sehingga memudahkan penis pria itu bergerak keluar-masuk.

"Chanyeol!" Ia menangis dan merintih di saat yang bersamaan. Omega itu lalu memiringkan lehernya untuk memudahkan Chanyeol yang tengah menggarap bagian tersebut. Lututnya gemetaran, menggelinjang nikmat saat merasakan satu tangan Chanyeol menggenggam penisnya, lalu mengurut frenulumnya yang sensitif. Membuatnya semakin kacau, dan kacau lagi.

"Chanyeollie—ahh—ahh—a-aku dekat." Tubuhnya bangkit dengan kedua tangan menekan meja. Wajahnya kemudian berpaling menatap wajah tampan Chanyeol yang menatap matanya dengan kilatan nafsu mendalam. Tangannya menyentuh wajah aristokrat itu, membelai sesaat sebelum menariknya mendekat hingga bibir mereka bersentuhan. Baekhyun menggerakkan bibirnya perlahan, menyambut ciuman Chanyeol.

Mereka terus bergerak, dan Baekhyun mengerang di dalam ciumannya saat merasakan bola kembarnya semakin membesar dan mengetat, siap meledak.

"Ohh—Chanyeollie—ahh—ahh—sampai," rintihnya. Ia mendongak, menatap langit-langit ruangan dengan mata setengah terpejam. Di belakang sana Chanyeol menungganginya semakin cepat, kasar, dan tepat. Bola kembarnya menabrak bongkahan pantat Baekhyun berulang kali, sementara penisnya semakin membesar hingga menyesakkan lubang Baekhyun. "Chanyeol," rintihnya. Omega itu tahu bahwa Chanyeol juga telah dekat, sehingga ia dengan sengaja mengetatkan lubangnya; menghisap penis Chanyeol, membuat Alpha itu menggeram dan menghentakkan penisnya dalam-dalam.

"Berikan padaku," bisik Chanyeol serak. "Ayolah baby," desaknya.

Bergerak liar, dan semakin kehilangan kendali hingga akhirnya Baekhyun memekik lalu menjeritkan nama Chanyeol dalam satu desahan panjang yang bernada penuh memuja. Tubuhnya ambruk begitu saja, tengkurap lemas di atas meja. "Chanyeol, Chanyeol," panggilnya putus asa. Matanya terpejam erat, dan pahanya gemetaran. Sementara itu penisnya terus mengalirkan tali-tali sperma kental dengan Chanyeol yang masih mengurut frenulumnya.

"Milikku," geram Chanyeol posesif.

"Mi-milikmu," desah Baekhyun.

Tak lama Chanyeol mendengus dengan kening mengkerut dalam. Tahu bahwa dirinya juga akan menemui pelepasan. Ia mencengkram tepian meja, dan terus mengguncang tubuh Baekhyun dengan sodokannya, tidak peduli pada Baekhyun yang masih sibuk mengais napas dan mengumpulkan kembali nyawanya.

Wajah berpeluhnya terbenam di leher Baekhyun seperti biasa untuk membaui aroma Omeganya yang memabukkan dan membuatnya semakin terangsang hebat. Hal itu juga berakibat pada tusukannya yang semakin kasar, hingga ia benar-benar kehilangan tempo dan pada akhirnya meledak menembakkan spermanya ke dalam lubang Baekhyun.

"Aaangh—Chanyeol." Baekhyun melenguh, gemetar nikmat saat merasakan sperma Chanyeol menyemprot deras mengotori lubangnya. Rasanya begitu hangat. Bahkan ia dapat merasakan tetes demi tetes sperma pria itu mengucur dari sela-sela lubangnya yang masih penuh sesak.

Pinggul Chanyeol masih bergerak keluar masuk lubangnya untuk mengosongkan sperma. Tak lama Chanyeol mencabut penis setengah ereksinya tersebut dari lubang Baekhyun. Bibirnya menyeringai setan saat mendapati spermanya langsung mengalir sedikit demi sedikit dari lubang merah jambu tersebut.

"Chanyeollie." Wajah Baekhyun perlahan menoleh ke belakang, dan menemukan Chanyeol tengah berjalan menuju kursi lalu mendudukinya.

"Kemari," perintah Chanyeol.

Meski ia merasa begitu lelah, ia tetap bangkit untuk menghampiri Chanyeol-nya. Tubuhnya yang setengah telanjang, dan dihiasi bercak merah keunguan diraih Chanyeol begitu saja. Lalu tanpa sungkan ia naik ke atas pangkuan Chanyeol, duduk mengangkangi pinggang pria itu. "Di-dia masih bangun," beritahunya malu-malu saat mendapati penis Chanyeol masih sekeras sebelumnya, bahkan benda itu nampak bergerak sesekali, membuatnya menelan ludah susah payah.

"Kau tahu sendiri tabiatku," balas Chanyeol tak acuh.

Memang benar, Chanyeol tidak dapat dipuaskan hanya dengan satu kali orgasme. Namun sepertinya pria itu enggan melanjutkan permainan. Seingatnya mereka tidak memiliki agenda lain pagi ini. Atau barang kali Chanyeol harus pergi ke kantor, tetapi bisa jadi pria itu berniat melanjutkannya nanti malam. Memikirkan hal itu membuat Baekhyun tidak dapat menahan rona merah di pipinya. Dengan malu-malu tangannya menggenggam penis Chanyeol, dan membantu pria itu memasukkan kembali benda licin tersebut ke dalam celananya.

"Kau pikir apa yang kau lakukan?" dengus Chanyeol geli. Pria itu meraih wajah Baekhyun, lalu menyerangnya dengan ciuman panas yang membuat Baekhyun semakin menjepit pinggangnya hingga tubuh mereka melekat erat.

"Apa Chanyeollie akan pergi ke kantor hari ini?" tanyanya saat Chanyeol telah memutus ciuman mereka.

"Hmm," balas Chanyeol malas. Tangannya meraih punggung Baekhyun, dan mendekatkan wajahnya ke dada si mungil. Bibirnya menciumi bagian dada Baekhyun, dan merasa heran karena ukuran dada Baekhyun jauh dari standar terbaiknya, tetapi justru ia begitu menyukai dada ini. Dengan kurang ajar giginya menarik puting susu Baekhyun yang ranum dan melenting untuk ia hisap—layaknya lintah menghisap darah.

Tubuh Baekhyun gemetaran, tetapi ia tidak protes dan membiarkan Chanyeol menyusu di dadanya. Jari-jari Baekhyun dengan lembut menyugar surai hitam Chanyeol sambil bertanya-tanya kapan Chanyeol pergi ke salon untuk merubah warna rambutnya. Meski begitu, Baekhyun tetap ragu apakah pria seperti Chanyeol sudi mengunjungi salon?

"Nnh—geli!" Baekhyun memekik dan memeluk leher Chanyeol dengan satu tangan, membuat wajah bengal itu mendongak menatapnya. "Jangan digigit, geli!" omel Baekhyun. Wajahnya merah padam, begitu malu saat Chanyeol dengan sengaja memperlihatkan gigi-gigi runcingnya yang tengah menggigit bagian putingnya, lalu menggesek daging kecil itu untuk menunjukkan kenakalannya.

Sialan untuk Baekhyun karena bajingan mesum kurang ajar yang tengah menyusu di dadanya seperti bayi besar itu adalah Alphanya. Pria yang dicintainya.

Pada akhirnya Baekhyun hanya dapat membiarkan Chanyeol berlaku sesukanya.

"Sampai kapan pun tidak akan ada susu yang keluar dari dalam sana Chanyeollie..." kecuali nanti saat aku telah melahirkan anak darimu lanjutnya di dalam hati. Diam-diam Baekhyun terkikik atas pemikirannya. Sementara itu dibandingkan marah karena terkena omelan Baekhyun, Chanyeol justru nampak tak acuh.

Keningnya mengkerut saat menemukan sesuatu yang janggal. Ia memang memiliki dada yang mirip seperti gadis pubertas, tetapi sepertinya tidak segemuk sekarang. Selain itu, mengapa bentuk putingnya menjadi lebih besar? Apakah ini pertanda bahwa heat keduanya sudah semakin dekat? Bukankah hal ini juga menandakan bahwa dinding rahimnya akan siap dibuahi, sehingga tubuhnya pun mulai menyesuaikan diri. Seperti orang bodoh Baekhyun meremas-remas dadanya, dan memilin-milin puting susunya yang memang mulai membesar.

"Apa kau berniat menggodaku?" tuding Chanyeol tanpa melepaskan puting susu Baekhyun dari mulutnya.

"Sa-sama sekali tidak." Baekhyun menggeleng berulang kali, dan membuang pandangannya ke depan. Wajahnya nampak merah merona.

"Katakan, ada apa?" Chanyeol menjauhkan wajahnya, dan menatap Baekhyun curiga.

"Tidak ada," tandas Baekhyun.

"Aku akan tahu saat kau berbohong," ucap Chanyeol berbahaya.

Pada akhirnya ia kembali menyumpal mulutnya dengan puting susu Baekhyun. Ini aneh, tubuhnya merasa begitu nyaman berada di sekitar Baekhyun. Bukan berarti selama ini ia merasa tidak nyaman dengannya, tetapi hal ini jelas berbeda.

Rasanya seperti ia merasakan kehadiran ibunya.

e)(o

Sore hari seusai tidur siang Minseok dan enam orang staf tiba-tiba datang ke kamar, lalu menyuruhnya untuk mandi. Lelaki itu memakaikannya kaus putih dengan bawahan berupa jin hitam ketat yang menyetak kaki serta dua bongkahan pantat gemuknya. Seketika membuatnya tiba-tiba terkena krisis kepercayaan diri, sebab ia merasa setiap langkah kakinya hanya akan membuat pantatnya semakin tercetak jelas. Hal itu tentu saja menyebabkan Minseok—sebagai sang tata rias busana—gemas bukan main.

"Dengar darling, kau memiliki sepasang pantat luar biasa, jadi jangan merasa terbebani dengan hal itu. Yang harus kau lakukan hanya berdiri penuh percaya diri, dan langkahkan kakimu." Salah satu tangan Minseok berkacak pinggang, menatap Baekhyun tajam. Kemudian lelaki itu mendekat, dan bebisik penuh seduksi, "Lagi pula, seluruh dunia sudah tahu jika semua yang ada pada dirimu adalah milik Phoenix yang agung."

Malu-malu matanya menatap Minseok, dan menemukan lelaki itu mengedipkan satu mata genit ke arahnya.

"Tapi..." Baekhyun pada akhirnya menghela napas, dan mendesah pasrah. "Baiklah, akan aku coba Minseokie hyung." Ketika ia hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba pintu dibuka dari luar.

Mulut Baekhyun menganga lebar, tidak mempercayai apa yang tengah dilihatnya sekarang. Chanyeol berada di ambang pintu. Tetapi pria itu datang dengan visual tidak biasa. Chanyeol yang selalu ia lihat dengan pakaian semi formal tiba-tiba sekarang datang dengan pakaian yang begitu masa bodoh. Alpha tampan itu hanya mengenakan jin hitam robek-robek yang terlihat lusuh, sepotong kaus hitam tipis dengan luaran berupa jaket jin hijau army, serta sepatu kets hitam belel.

Ia seolah melihat Chanyeol enam tahun lalu.

Seorang remaja delapan belas tahun yang berdiri malas di depan podium, menatap setiap mata dengan tajam menggunakan sepasang abu-abu terangnya yang berkilat berbahaya. Remaja ambisius dengan segudang kemampuan. Remaja yang nampak mempesona meski hanya tersenyum tipis lalu pergi.

Remaja arogan itu kini telah menjelma menjadi belahan jiwanya.

"Ha-hai Chanyeollie," sapa Baekhyun kikuk. Tiba-tiba Omega di dalam jiwanya mendesah malu, merasa seperti baru saja jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Namun jatuh pada pria yang sama. Ke-kenapa jantungku berdebar tidak karuan? Kalau Chanyeollie memakai pakaian seperti itu, rasanya seperti kami akan berkencan pikir Baekhyun penuh harap.

"Kau sudah siap?" tanya Chanyeol.

"Su—be-belum, iya—maksudnya belum!" Baekhyun mengutuk dirinya di dalam hati karena tiba-tiba ia menjadi begitu gugup sekaligus gagap. "Maksudku, kami belum selesai," koreksinya.

"Apa lagi?" tanya Minseok tanpa suara sembari melempar kode mata pada Baekhyun. Bocah itu meliriknya, memberi isyarat bahwa ia akan mengatakannya segera setelah Chanyeol pergi.

"Baiklah." Pria itu kemudian berbalik pergi meninggalkan kamar.

Sepeninggalnya Chanyeol, Baekhyun tidak dapat mencegah dirinya untuk melompat-lompat penuh semangat dan tertawa seperti orang gila. Matanya menatap Minseok dengan binar kebahagiaan. "Minseokie hyung!"

"Kau bisa menjelaskannya jika sudah selesai," kekeh Minseok.

Ia kemudian menghela napas panjang dan berhenti dari kegiatan melompatnya. Bocah bersurai madu itu terkekeh-kekeh, memperlihatkan mata bulan sabitnya yang membuat Minseok tersenyum lega dengan perkembangan kondisi mentalnya. "Minseokie hyung, Chanyeollie-ku tampan sekali, kan?!"

"Dasar." Bibir Minseok mencebik, menatap Baekhyun dengan binar menggoda di matanya. "Yah, baiklah, aku tidak akan menyangkal yang satu itu," godanya.

Baekhyun hanya terkikik malu.

"Kau bisa mengatakan langsung padanya," kekeh Minseok. "Jadi ayo kita keluar," ajaknya.

"Tu-tunggu sebentar!" sergah Baekhyun. Ia meremas-remas jemarinya dan berjalan gelisah ke arah Minseok. "Minseokie hyung, se-sebenarnya aku ingin menceritakan sesuatu."

"Apa itu?" tanya Minseok penasaran.

"Se-sepertinya..." Tangannya dengan perlahan menaikkan ujung kausnya untuk memperlihatkan dadanya yang nampak gemuk dan memiliki puting lebih besar dari sebelumnya—selain itu dadanya juga dihiasi beberapa tanda merah yang jelas bukan berasal dari nyamuk. Meski begitu Minseok benar-benar tidak menangkap maksudnya. "Sepertinya tubuhku mulai menyesuaikan diri agar siap dibuahi. Aku merasa heat keduaku akan segera tiba," jelasnya sembari menurunkan kausnya.

Minseok merasa terkejut bukan main.

"Tidak kusangka akan secepat ini," bisiknya sembari menutup mulut. Tangannya lalu meraih kedua bahu Baekhyun, menatap tepat di kedua matanya. "Itu artinya kita harus mulai waspada. Heat-mu bisa datang kapan saja. Seluruh staf di rumah ini adalah Beta, mereka tidak akan mengalami masa heat sedahsyat kita. Selain itu, akan gawat jika Phoenix berada jauh darimu."

"Tapi aku tidak pernah meninggalkan rumah ini, dan Chanyeollie selalu berada di dekatku," ucap Baekhyun bingung.

"Kita harus memikirkan sampai ke situasi terburuknya darling." Bola mata Minseok nampak berkobar oleh sesuatu yang tidak ingin Baekhyun bayangkan. "Ingat, kau bukan Omega dari seorang Alpha biasa. Dia menggenggam dunia di tangannya. Jadi bayangkan, berapa banyak nyawa yang berusaha terlepas dari sana? Jika mereka mencium keberadaanmu, lalu mengambilmu saat masa heat-mu akan segera tiba. Kau tidak akan sudi membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, bukan?" desis Minseok.

Ia menelan ludah susah payah, dan menatap Minseok risau. "Lalu apa yang harus aku lakukan?"

"Kau hanya harus selalu berada di samping Phoenix, menuruti kata-kataku, dan semuanya akan baik-baik saja." Minseok tersenyum lalu mengusap rambutnya gemas.

"Semuanya akan baik-baik saja," beo Baekhyun.

Semuanya akan baik-baik saja, benar?

e)(o

Saat mereka keluar dari pintu kamar ternyata sudah ada Jaesuk yang menunggu mereka di depan pintu. Pria itu lalu mengantar mereka ke bagasi di mana Chanyeol nampak tengah memilih mobil.

"Ngomong-ngomong darling, apa ada sesuatu yang aneh terjadi pada Phoenix?" bisik Minseok saat mereka berjalan ke arah Chanyeol. "Setiap Alpha biasanya memiliki, kau tahu, semacam gejala jika Omega mereka akan memasuki masa heat. Mungkin dia tiba-tiba berubah manja padamu, atau dia menjadi begitu perasa, atau dia... begitulah."

Awalnya Baekhyun berniat menggeleng, tetapi kemudian matanya melotot mengingat kejadian memalukan tadi siang. "Yah... sepertinya ada," cicitnya.

"Apa itu?" tanya Minseok. Dari nada bicaranya, Minseok sepertinya begitu penasaran.

Perlahan wajahnya mendongak, memandang Minseok ragu sekaligus malu. "C-Chanyeollie... dia..." Baekhyun tidak menyelesaikan ucapannya tetapi justru menyentuh dadanya.

"Oh!" Wajah Minseok berubah menjadi merah padam. "Ya Tuhan. Seharusnya aku sudah menduganya. Aku melihat bagaimana putingmu tadi—ya ampun, dia benar-benar mesum!" desisnya keras.

"Ta-tapi mungkin juga bukan," sergah Baekhyun. "Dia baru melakukan itu tadi pagi," lanjutnya.

"Oke, lalu kenapa kau sempat berpikir itu bagian dari gejala?" desak Minseok.

"Ka-karena dia melakukan itu lama sekali," desahnya. "Dia bahkan sempat marah—"

"Tidak salah lagi, itu memang gejala-nya," potong Minseok. Tubuhnya kaku tegang. Lalu ia melangkah cepat menuju Chanyeol, meninggalkan Baekhyun yang kebingungan.

"Ba-bagaimana ini?" tanya Baekhyun pada dirinya sendiri. Kakinya menghentak-hentak kesal. "Dasar mesum, apa dia tidak bisa memiliki gejala yang lain!" rengeknya malu setengah mati.

"Hai!" Minseok berseru terlalu bersemangat. "Jadi, kau akan mengemudi?" tanya Minseok saat sudah berdiri di samping Chanyeol.

"Tidak." Chanyeol menggeleng. "Beberapa Phoenix akan ikut," ucapnya sembari meraih Baekhyun ke dalam dekapannya sesaat setelah Omega itu berdiri di sampingnya.

Sebuah mobil berkelir hitam berhenti di depan Chanyeol saat Minseok berkata, "Kupikir kalian akan berkencan," godanya.

"Memang," balas Chanyeol tak acuh.

Baekhyun segera mendongak. Tangannya semakin erat memeluk pinggang Chanyeol. "Benarkah?" tanyanya antusias.

"Hm." Chanyeol mengangguk. "Aku rasa ini waktu yang tepat," ujarnya.

"Apakah tidak terlalu canggung jika berkencan sambil membawa banyak Phoenix? Lagi pula, wajah mereka terlihat seperti buronan. Orang-orang mungkin akan salah paham," komentar Minseok. Diliriknya para anggota Phoenix yang tengah mempersiapkan mobil; tubuh kekar, aroma laut, pakaian preman. "Yang benar saja," desahnya kecewa.

"Ayo pergi," ucap Chanyeol.

e)(o

Perjalanan ini terlalu aneh untuk disebut sebagai perjalanan kencan bagi Minseok. Sejak tadi mereka hanya melewati jalanan beraspal dengan pepohonan menjulang yang tumbuh berbaris di sepanjang jalan. Terlebih, Minseok tidak bodoh untuk tahu bahwa jalanan ini adalah satu-satunya jalanan penghubung menuju markas.

Tiba-tiba tubuhnya menegang. Matanya memicing tajam, dan menoleh ke belakang untuk memandang Chanyeol yang duduk di kursi penumpang bersama Baekhyun dalam dekapannya. Ketika ia ingin mengucapkan kegelisahannya, Chanyeol sudah lebih dulu membalas tatapannya dan mengangkat satu tangan. Pria itu baru saja memberi isyarat untuk tidak mengatakan apa pun.

"Apakah masih lama?" bisik Baekhyun pada Chanyeol.

"Sebentar lagi kita sampai," balas Chanyeol tenang. Tangannya mendekap Baekhyun di dadanya, membiarkan bocah itu menyurukkan wajah di lehernya.

"Di sini dingin," rengek Baekhyun.

Tanpa berkata-kata Chanyeol melepas jaketnya, lalu memakaikannya pada Baekhyun.

"Terima kasih." Baekhyun mendongak menatap wajah Chanyeol yang menunduk membalas menatapnya. Bocah itu tersenyum lebar, lalu menekan hidung dan mulutnya di dada Chanyeol; memeluk Alphanya erat untuk mencari kehangatan. "Chanyeollie sangat hangat," desahnya.

"Kau juga," bisik Chanyeol.

Wajah Baekhyun kembali mendongak, tersipu-sipu ketika bertemu pandang dengan mata Chanyeol yang menatapnya dalam. Situasi dan pakaian ini membuat mereka nampak seperti remaja normal kebanyakan. Tangan kanannya terulur menyentuh wajah tampan Chanyeol, membelai menggunakan ibu jarinya saat pelan-pelan pria itu mendekat lalu mengecup bibirnya.

"Aku mencintaimu," bisik Baekhyun malu.

Tiba-tiba mobil mereka berhenti. Dari luar nampak medan luas yang ditumbuhi pepohonan. Para rombongan keluar dari mobil, tidak terkecuali Minseok. Tetapi Baekhyun masih memeluk Chanyeol, dan bertanya-tanya mengapa mereka berhenti di tempat ini. Apa mereka berniat piknik?

"Chanyeollie bilang kita akan berkencan, lalu kenapa kita berhenti di sini?" tanya Baekhyun heran.

"Kau akan tahu, ayo," balas Chanyeol. Tubuhnya bergeser dan lebih dulu keluar dari dalam mobil. Tangan Chanyeol menyentuh tepi mobil, menjaga kepala Baekhyun agar tidak sampai terantuk.

Luas dan hijau, tetapi begitu mencekam. Itulah yang nampak dari sudut pandang Minseok. Tempat ini berada di dataran tinggi, sehingga pantas jika Baekhyun mengeluh dingin. Wilayah Chanyeol yang satu ini juga sering sebut sebagai kota hujan. Sebab, tidak pernah ada satu haripun terlewatkan tanpa hujan. Itulah sebabnya mengapa rumput dan pepohonan di tempat ini selalu basah.

Para Phoenix berdiri siaga di sekitar dengan senjata api laras panjang di tangan mereka. Ini adalah kali pertama Baekhyun keluar dari Mansion setelah sekian lama terkurung, sehingga Chanyeol tidak dapat membawa bocah itu tanpa merasa khawatir sedikitpun. Selain itu Chanyeol tidak ingin munafik. Ia memiliki banyak musuh, dan meski mereka belum memunculkan diri sampai saat ini, bukan berarti mereka tidak berpikir untuk melakukannya. Terlebih ia sudah terlanjur membuat banyak masalah di mana-mana. Cepat atau lambat seseorang pasti akan mencoba bermain-main dengannya, dan saat itu terjadi Chanyeol akan menunjukkan permainan favoritnya.

Helaian surai hitam Chanyeol melambai dramatis tertiup angin. Mata abu-abunya memandang jauh ke depan, menyapu hamparan hijau luas di depannya. Medan ini cocok untuk dijadikan Baekhyun sebagai tempat berlatih, Chanyeol pikir. Ia tidak bermaksud membohongi Baekhyun. Namun hanya dengan cara ini Baekhyun bersedia ikut dengannya. Jika ia mengatakan maksudnya, bisa jadi bocah itu akan merengek dan menolak mentah-mentah perintahnya. Dan Minseok, lelaki itu akan secara sukarela menjadi tameng bagi Baekhyun. Bersekutu menentangnya.

"Jelaskan padaku ada apa sebenarnya?" Minseok menghampirinya. Tatapan mata lelaki itu nampak gusar bukan main.

"Kau ingat tempo hari, saat aku mengatakan bahwa aku akan mendidiknya? Hari inilah waktu yang tepat untuk memulainya," ucap Chanyeol.

"A-apa?!" Minseok melotot tidak percaya. "Tapi dia—"

Satu tangan Chanyeol terangkat, mencegah lelaki itu untuk berkata-kata.

Minseok nampak langsung membuang pandangannya, dan mendesah kecewa. Sejujurnya ia sama sekali tidak menyetujui niat Chanyeol yang satu ini. Mereka memiliki terlalu banyak resiko. Selain itu, ia masih mengkhawatirkan kondisi mental Baekhyun yang sempat terguncang. Anak itu baru sembuh, biar bagaimana pun. Tidak seharusnya Chanyeol melakukan hal ini. Meskipun Minseok tahu bahwa pria itu pasti sudah merencanakan ini secara matang.

"Sebenarnya ada apa?" tanya Baekhyun. Suaranya dipenuhi kebingungan.

"Aku memiliki hadiah lain untukmu," ucap Chanyeol lamat-lamat. Pria itu mengulurkan satu tangannya, memberi isyarat pada salah seorang Phoenix yang langsung sigap menghampirinya, lalu menyimpan sebuah gulungan kain hitam tepat di atas telapak tangannya.

Matanya berkedip beberapa kali saat Chanyeol berdiri berhadapan dengannya sembari membuka gulungan kain hitam tersebut. Segera setelah gulungan itu terbuka, bola matanya membelalak lebar, terkejut setengah mati dengan apa yang ada di baliknya. Manik matanya nampak bergetar, memandang Chanyeol dan benda itu bergantian. Mengapa Chanyeol berniat menghadiahinya benda tersebut?

"Ulurkan tanganmu," perintah Chanyeol. Suaranya dingin dan tidak bersahabat. Sementara satu tangannya nampak terulur, tepat mengarah pada Baekhyun. Ada sesuatu dalam genggamannya; benda berkelir silver dengan hiasan berupa julai-julai cantik yang membuat benda itu nampak mengerikan sekaligus indah di saat yang bersamaan.

Benda itu, sebuah safari arms matchmaster.

Senjata api pilihan Chanyeol yang ingin ia hadiahkan pada Baekhyun di umurnya yang ke delapan belas tahun.

"Ulurkan tanganmu," ulang Chanyeol.

"Ti-tidak!" tolak Baekhyun. Kepalanya menggeleng keras berulang kali, bahkan kakinya melangkah mundur tanpa sadar. Bola matanya nampak berkaca-kaca, memancarkan binar luka sekaligus ketakutan mendalam yang membuat Chanyeol dengan terpaksa mengeraskan hati, dan mengesampingkan perasaannya terhadap bocah itu.

"Ulurkan tanganmu, Baekhyun," desis Chanyeol.

"Aku tidak mau!" pekik Baekhyun marah. Ia mendekap tangannya sendiri, dan menangis ketakutan. Ia tidak membutuhkan senjata itu. Ia tidak menginginkan benda mengerikan itu berada dalam genggamannya. Orang tua dan kakaknya mati di tangan benda itu. Ia tidak ingin menyakiti siapa pun dengan benda itu. Ia tidak ingin ada orang lain yang bernasib sama seperti keluarganya.

"Ini bukan negosiasi," ucap Chanyeol. Ia melangkah mendekat, mencengkram pergelangan tangan Baekhyun lalu menariknya kasar hingga anak itu menjerit meminta ampun. Sayang, Chanyeol tidak punya waktu untuk mengampuni siapapun saat ini. "Hentikan tangismu," sambungnya dingin.

"Chanyeollie..." isaknya. Tubuhnya gemetar takut, dan lututnya terasa lemas bukan main saat tangan yang berada dalam cengkraman Chanyeol perlahan terbuka. Air matanya berjatuhan, menatap dari tangannya lalu mata Chanyeol yang begitu kosong tanpa emosi.

Cengkraman Chanyeol pada pergelangan tangan Baekhyun mengendur hingga hanya meninggalkan bekas merah. Matanya bersinar, membalas tatapan paling menyedihkan milik Baekhyun. Tetapi ia tidak berniat jatuh pada tatapan itu. Terbukti, tangannya tetap menyimpan pistol tadi di atas telapak tangan Baekhyun yang dingin.

"Biarkan rasa sakit itu ada dalam dirimu," ucap Chanyeol yang membuat Baekhyun melebarkan matanya. Ia tahu benar trauma apa yang Baekhyun rasakan pada benda itu. "Saat kau mulai terbiasa, rasa sakit itu akan menjadi temanmu yang paling setia," sambungnya dingin.

"Ayah sakit! Tolong aku, Ayah!" Tubuhnya menggigil kedinginan hingga kuku-kukunya memar. Ia hanya dapat meringkuk lemah di atas lantai kayu yang dingin. Bocah sepuluh tahun itu sekarat. Tubuhnya tidak dapat digerakan karena dipenuhi luka, sementara telapak kakinya rusak akibat belasan luka sayat yang mengeluarkan banyak darah hingga menjejak lantai. "Tolong aku, Ayah..."

"Biarkan rasa sakit itu ada dalam dirimu," ucap sang Ayah. Suaranya serak dan dalam, dipenuhi oleh kekuasaan. Ayahnya kemudian berjalan tak acuh menuju pintu, menggesernya hingga sedikit cahaya matahari senja melesak masuk dan menyilaukan pandangannya. "Saat kau mulai terbiasa, rasa sakit itu akan menjadi temanmu yang paling setia," sambungnya lamat-lamat sebelum pergi meninggalkannya begitu saja.

Ia ditinggalkan bersama kegelapan. Berjam-jam terkurung di dalam sana sendirian, meringkuk lemah tanpa pakaian. Tak ada air dan makanan.

"Aku sekarat... hyung..."

"Chanyeol!"

Seperti doa yang terkabul tiba-tiba pintu digeser tidak sabaran hingga menimbulkan suara berderak yang kasar. Chanyeol membuka sedikit matanya, dan menemukan sosok remaja tampan berusia dua belas tahun yang membawa kantung plastik besar di tangannya.

"Chanyeol!" Remaja itu berlari tergopoh-gopoh menuju Chanyeol, membantu remaja yang lain untuk bangun.

"Hyung... untuk apa kau di sini?" Chanyeol menatap wajah remaja itu. Diam-diam merasa tenang karena kehadirannya. "Ayah akan marah jika dia tahu... cepat pergi," dustanya kepayahan. Biar bagaimana pun dia tidak ingin remaja itu terkena masalah. Tangannya dengan lemas mendorongnya menjauh, tetapi orang itu hanya bergeming.

"Tidak ada waktu untuk mengeluh, aku sudah terlanjur ada di sini." Remaja itu terkekeh dan mengeluarkan sweter miliknya dari dalam kantong plastik tadi. "Ini, cepat pakai bajuku!"

"Hyung..." Chanyeol hanya pasrah saat orang itu membantu memakaikannya sweter tebal, sehingga sekarang tubuhnya tidak lagi kedinginan.

"Baiklah, sekarang ini!" Remaja itu dengan penuh semangat mengeluarkan jeligen kecil dari dalam kantung plastik tadi.

"HAAAAA!"

"HAAAA!" Orang itu ikut berteriak. "Kenapa kau berteriak, ada apa?!"

"I-itu kan... kenapa kau membawa jeligen itu? Jangan-jangan..." Chanyeol menatap jeligen itu horor.

"Yah... mau bagaimana lagi?" kata orang itu sambil duduk bersila dan mengangkat bahunya tak acuh. "Hanya dengan ini lukamu bisa cepat sembuh."

"Aku tidak mau huwaaaaaa!" Wajah Chanyeol langsung dipenuhi air mata dan ingus. Menatap orang itu memelas.

"Sudah, kau tenang saja, ada aku!" Orang itu mengambil kedua kaki Chanyeol, lalu segera membuka tutup jeligen tadi tidak sabaran. "Iya, ini dia hahahahahah." Lalu dengan penuh semangat ia langsung mengguyurkan jeligen berisikan obat mujarab tersebut pada kaki Chanyeol.

"Huwaaaaaaaaaaaa!" Chanyeol memukul-mukul lantai dengan keras, lalu menggelinjang heboh seperti cacing kepanasan. Tidak lama ia dengan bringas menggigit pantat orang itu hingga objek yang digigit ikut berteriak.

"AAAAAA sialan kau Chanyeol, pantatku!"

Pada akhirnya mereka berdua sama sama berguling di atas lantai.

"Aduh, hyung..." Chanyeol tiba-tiba menekan perutnya dan meringkuk dengan kening mengkerut dalam.

"C-Chanyeol, ada apa?" tanya orang itu cemas. Ia dengan cepat menghampiri Chanyeol dan ikut menyentuh perutnya. "Katakan padaku, Chan."

KRAAWWWWUUKK

Perempatan siku-siku langsung muncul di kepala orang itu.

"Perutku lapar." Chanyeol terkekeh dan menatap wajah itu seperti orang idiot.

"Tidak perlu khawatair, aku membawa makanan untukmu." Orang itu mengeluarkan kotak makanan serta botol air minum dari dalam kantung plastik yang dibawanya.

"Waaah, apa itu?!" Seperti orang yang tidak pernah sekarat Chanyeol tiba-tiba bangkit dengan penuh semangat, lalu duduk bersila, dan menatap berbinar kotak makanan di depannya. Bocah itu benar-benar terlihat sangat sehat.

Orang itu tersentak, menatap Chanyeol takjub, tetapi kemudian ia tersenyum hangat. Benar kata Ayah mereka, Chanyeol memang lebih pantas memimpin kerajaan Phoenix kelak dibandingkan dirinya. Biar bagaimana pun ia akan terus mendorong Chanyeol sampai bocah itu berhasil duduk di kursi kekuasaan milik Ayah mereka.

'Berjuanglah, Chan,' bisik orang itu di dalam hati.

"I-ini apa?!" tanya Chanyeol tidak mengerti. Bocah itu menatap isi bekal makanan itu dengan wajah aneh."Terlihat seperti makanan sisa," gumamnya.

PLAK

"Aduh, sakiiiit!"

Orang itu dengan kesal memukul kepala Chanyeol lalu berbalik memunggunginya sambil bersedekap. Wajahnya nampak memerah sampai leher. "Itu nasi gulung buatanku, bodoh, jangan bicara sembarangan!" ucapnya.

"O-oh!" Chanyeol menyengir bodoh. Tetapi kemudian ia terkesiap. Wajah tampannya pelan-pelan menatap punggung orang itu dengan mata bersinar terang hingga menyilaukan orang di depannya. "Hyuuuung!"

Orang itu kembali berbalik. "Apa—Hiyaaa, ya ampun!" Matanya membelalak horor saat mendapati bunga-bunga imajiner langsung bermekaran di sekeliling Chanyeol yang menatapnya bodoh.

"Terima kasih hyuuuung," ucap Chanyeol dengan wajah penuh air mata dan ingus untuk kedua kalinya.

"Sudahlah makan saja," kata orang itu sembari menggosok-gosok pantatnya yang tadi digigit Chanyeol. "Aduh, sakit," gumamnya.

"Ya, baiklah!" Chanyeol langsung mengambil sumpitnya dan mendekatkan kotak nasi tadi ke mulutnya. "Selamat makan!" Dengan penuh semangat dan suka cita ia memakan nasi gulung buatan orang yang paling disayanginya tersebut.

"Kau kelaparan ternyata," ejek orang itu. Ia lalu memilih berbaring telentang. Kakinya menekuk dengan kedua tangan yang tersimpan di belakang kepala. "Maaf ya Chanyeol, aku baru bisa datang sekarang. Aku harus menunggu sampai Ayah pergi. Juga melumpuhkan para penjaga yang berjaga di tempat ini," jelasnya sembari menumpukan satu kakinya pada kaki yang lain.

"Twidak aphwa-aphwa hywung, akhwu menghwertwi!" balas Chanyeol. "Akhwu swudah swhenwhang khauw dhatwang!"

"Hm, syukurlah," gumam orang itu sambil menatap langit-langit ruangan.

"Fanfan hyung," panggil Chanyeol saat ia sudah menelan nasinya.

"Iya, Chan?" sahut Kris.

"Sekali lagi, terima kasih heheee." Chanyeol mengangkat wajahnya dari kotak nasi dan menatap wajah Kris dengan senyuman lebar.

"Jangan berterima kasih pada keluarga. Lagi pula kau itu, kan, saudaraku satu-satunya," balas Kris tenang. "Aku... sangat menyayangimu." Remaja itu lalu ikut tersenyum tidak kalah lebar hingga matanya melengkung dan menghilang di balik kelopak matanya.

"Aku juga sangat, sangat, sangat menyayangimu, hyung," balas Chanyeol tulus. Bocah itu kemudian menunduk untuk kembali memakan makanannya. Suara burung yang bernyanyi terdengar dari luar. Membawa damai di tengah suasana tenang di antara mereka.

"Chan," panggil Kris tiba-tiba.

"Ya?" sahut Chanyeol cepat.

"Jika aku berada dalam masalah, kau juga pasti akan menolongku, kan?" tanya Kris.

"Tentu saja!" balas Chanyeol dengan semangat yang berkobar di mata abu-abu terangnya. "Aku akan menolongmu, dan melindungimu dari orang-orang jahat, seperti kau yang selalu melindungiku Fanfan hyung!"

"Hm." Kris terkekeh. "Syukurlah. Aku jadi merasa lega."

"Fanfan hyung?"

"Ya?"

"Jangan tinggalkan aku," pinta Chanyeol lugu.

Mata Kris melebar, tetapi kemudian ia tersenyum. "Aku tidak akan meninggalkanmu."

"Apa kita akan selalu bersama selamanya?"

"Ya, kita akan selalu bersama selamanya."

"Kau harus bersumpah."

"Aku bersumpah, Chan."

Sebuah sumpah tergores tanpa tinta.

"Berjanjilah kau akan memimpin Phoenix bersamaku. Kita akan menggenggam dunia ini bersama-sama."

"Hm, baiklah," sahut Kris. Matanya menerawang, menatap kosong langit-langit ruangan.

Setelah itu hanya terdengar suara mulut Chanyeol yang tengah sibuk memakan bekalnya.

KRAAAAWWWUUKKK

Mata Chanyeol berkedip-kedip, perlahan mendongak menatap Kris yang nampak terkekeh canggung. "Hyung, kau juga lapar, ayo makan bersama!" ajak Chanyeol.

"Tidak perlu," tolak Kris. "Kau saja yang makan, Chan."

"Ayolah hyung. Kau membuat bekal makan yang banyak, pasti tadinya berniat makan berdua bersamaku, kan?" kata Chanyeol sembari menyimpan bekalnya di lantai. "Ayo, Fanfan hyung!"

Kris bangkit dari tidurnya lalu menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum meminta maaf pada Chanyeol. "Maaf ya, Chan, tadi aku belum sempat makan."

Karena terburu-buru ingin menemui Chanyeol, Kris lupa makan dan minum. Ia justru dengan cepat membuat bekal makanan diam-diam, lalu segera pergi menemui Chanyeol. Tubuhnya juga sempat dipukuli oleh para penjaga tempat ini. Beruntung ia masih memiliki energi yang cukup untuk melumpuhkan mereka semua.

"Ke mari hyung." Kris menyeret duduknya hingga berhadapan dengan Chanyeol. "Nah, karena sumpitnya hanya ada satu, jadi ini." Chanyeol memutuskan untuk menyuapi Kris. "AAAAAA!" mulut Chanyeol terbuka dengan sangat lebar.

"AAAAA!" beo Kris. Lalu potongan telur dadar segera masuk ke dalam mulutnya. Kris mengunyahnya beberapa saat sebelum akhirnya membelalak. "Waaaah! Ternyata makanan buatanku enak juga!" pujinya pada diri sendiri dengan mata berbinar-binar terang.

"Bukannya tidak baik memuji diri sendiri," gumam Chanyeol sembari menatap Kris dengan mata memicing sebal.

Mereka kemudian saling menatap sengit. Mata memicing seperti sebilah pedang.

"HAHAHAHAHAHAHA!"

Keduanya tiba-tiba tertawa lebar, menatap satu sama lain dengan binar bahagia di mata mereka.

"Ada nasi di wajahmu," kata Kris sambil mengambil nasi di wajah Chanyeol lalu memakannya.

"Hei, itu kan nasiku!" protes Chanyeol.

"Sudah kutelan!" ledek Kris.

Mereka berseteru seperti dua orang saudara. Tepat di bawah naungan sinar matahari senja yang menerobos dari sela-sela atap, menyinari wajah lugu keduanya. Sore itu terasa begitu hangat dan tak terlupakan. Mereka lupa akan luka, lupa akan duka. Ini adalah salah satu kenangan indah mereka, yang kelak akan meninggali ingatan.

"Fanfan hyung, itu telur dadarku!"

"Enak saja, ini telur dadarku Chan!"

"Telur dadarku!"

"Telur dadarku!"

to be continued

cuap-cuap:

hiks berakhir dengan telur dadar.

oke, jadi flashback ini akan mengawali chapter 10 nanti. aku akan membawa kalian ke masa-masa indah chanyeol bersama kris sampai akhirnya mereka menjadi muzuh.

gak nyangka kan chanyeol waktu kecil ingusan? kris ternyata bisa masak meskipun masakannya kayak makanan sisa? emang sengaja si. soalnya kemarin ada yang bilang kalau sosok chanyeol ini terlalu 'kuat dan sempurna' jadi di sini aku mau ngasih tau kalau sosok gelapnya yang sekarang ini gak ujug-ujug terbentuk hehehehehehehehe

btw ternyata rubik itu bukan sembarang rubik eak. aku sebenernya terinspirasi dari film, jadi rubiknya itu warnanya netral dan digunain jadi brangkas kecil untuk nyimpen barang. kayak cip atau berlian gitu muahahahaha

dan ya gitu, luhan bukan dicambuk sama han zhuo atau siapa pun, tapi dicambuk sama leluhur werewolf/apaan si/ ngawur banget ya, tapi yaudalah, imajinasi aku emang nyangkutnya ke situ si.

habis gitu aku juga di situ ngasih sedikit penjelasan untuk menjawab pertanyaan kalian tentang kenapa mereka gak berubah jadi srigala. jadi mereka ceritanya berhenti berevolusi, azik.

kan udah ada gedung, pistol, bom, mobil sport, ranjang king size, masa iya mau berubah jadi srigala? -_-"

ngomong2 jadwal publish ff ini melenceng jauh dari janji karena aku mentok di nc.

nc itu bagian tersulit bikin ff, menurut aku pribadi.

aku sampai kezel, stres, mood rusak, hampir kehilangan arah dan tujuan(lebay) kacau pokoknya. aku respect banget sama author yang pada jago bikin nc.

emang bener, lebih enak baca ketimbang nulis.

oh iya, yang bilang cerita ini gak bakal dilanjut, tenang aja dear, jangan takut jangan ragu apalagi bimbang, buktinya aku lanjutin kan^^

lagian cerita ini sebenernya udah tamat kok. di kepalaku HAHAHAHA.

Jadi tenang aja, aku udah tau ff ini mau di bawa ke mana, dan bakal jadi apa. emang si bisa tiba-tiba berubah, tergantung mood aku, tapi keseluruhan ff ini gak berbelit-belit kok.

kamu hanya perlu sabar.

terima kasih untuk lagu mbak Seohyun Magic, Lotto, Love me like you do, dll :3

Aku ucapin terima kasih banyak untuk yang udah menyempatkan diri berkomentar. Readersnim yang setia, kalian memang luar biasa banget pokoknya. big love buat kalian!

untuk kalian yang kasih kritik membangun, masukan, catatan, ide, keluhan, req, pokoknya semuanya, makasih banget. pasti aku tampung(meskipun dari semua komentar baik biasanya yang paing diinget itu cuma komentar jeleknya aja HAHAHA)

gimana chapter ini? percakapannya udah lumayan seimbang? terus penjabarannya gak belibet kan? iya aku tau tulisan aku kadang belibet libet gitu ya hehe maklum aku kan masih belajar

Kamu yang kemarin naik gojek dan sampai ke kosan dengan selamat, gimana chapter ini? yang nyolong wifi tetangga? semoga kamu gak nyolong lagi amin. Dan yang lain juga^^

untuk semua dukungan kalian selama ini, meskipun namanya gak aku tulis di sini, tapi percayalah wahai readesnim hiks kata kata penyemangat dari kalian itu selalu aku inget karena bikin aku bahagia. kalian lucu banget soalnya. kadang kadang kalian pake kosa kata yang bikin aku ngakak abis. bahkan kalian nyempetin untuk nulis panjang panjang gitu cuma untuk kasih semangat hiks.

Thank you and I love you mmmuah