Tsukimori Family Production

Dissclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Angst/Romance/Drama/Fantasy/Hurt/Comfort

Main Chara : Sai, Sakura Haruno, Sasuke Uchiha.

Warning : AU, OOC, Gaje, Garing, Abal, Mary-sue, ngebosenin. Sai diberi marga Uchiha disini. Don't like, don't read.

A/N : maaf, perasaan saya kacau banget pas buat chapter ini. Bukannya apa-apa, tapi, saya harap membuat chapter 9 ini adalah pelarian menyenangkan bagi saya. Jadi, maaf kalau saya tidak bisa menyuguhkan yang baik untuk semuanya.

"Blablabla" = bicara

'Blablabla' = membatin

"Blablabla" = iblis/Malaikat bicara.

.

.

Presenting : Who's the Devil?

.

Chapter 9 : Sorry

.

.

'Lupakan aku.'

Dua kata yang singkat.

Dua kata yang sanggup merajam hati Sakura berkali-kali setiap teringat.

Mata emerald Sakura perlahan terbuka, menatap langit-langit kamarnya yang sengaja ditempeli benda-benda yang bercahaya dalam gelap, berbentuk bintang dengan berbagai ukuran. Aroma cherry merebak dalam ruangan gelap yang sebenarnya bernuansa merah muda ini. Tak ada yang Sakura lakukan selain berbaring di ranjang hangatnya. Tangannya terlentang ke samping kanan dan kiri. Di pipinya terlihat bekas air mata yang mengering. Matanya sembab, merah.

Matanya menatap hampa ke arah langit-langit yang ditempeli bintang imitasi itu. Seakan masih belum puas, liquid bening itu kembali menyusuri pipinya, dan berakhir di celah-celah rambut merah mudanya. Otaknya terus bekerja, berpikir, mencerna setiap kejadian yang menimpanya. Semua peristiwa yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.

Menderita.

Gadis ini berusaha meredam penderitaannya. Tapi nihil. Segala yang diusahakannya, pada akhirnya hanya akan berujung pada satu nama.

Uchiha Sasuke.

Seakan di rewind, otak Sakura kembali mengingat Uchiha Sasuke. Rambutnya yang mengayun lembut diterpa angin, memaksa mata Sakura agar tak beralih pada yang lain, mata onyx menawan yang selalu menatapnya dengan kelembutan bersorot tegas, memaksa tubuh Sakura untuk tidak bergerak, juga bibir tipis yang pelit senyuman, memaksa debar jantungnya bekerja dua kali lipat lebih keras, semuanya bahkan terekam jelas. Caranya berbicara, caranya mendehemkan 'Hn' , caranya berjalan, mimik wajahnya yang hanya beberapa kali berubah. Demi tuhan Sakura merindukan Sasuke. Demi tuhan gadis ini mencintai Uchiha Sasuke.

Dan Tuhan dengan teganya memisahkan mereka?

Sakura sudah jengah. Semua ini menyiksanya. Harusnya Tuhan tahu kalau mereka tidak dapat hidup sendiri. Harusnya Tuhan memberi sedikit waktu lagi bagi Sasuke untuk bersama dengan dirinya!

Sekuat apa pun Sakura berusaha, sekuat apapun Sakura berdoa, memohon, Tuhan tak akan mengabulkannya. Kematian itu mutlak. Sasuke akan tetap mati. Tak akan ada Sasuke lagi di kehidupan Sakura. Liquid mata yang memaksa keluar itu semakin menambah miris hatinya.

"Jika.."

Suara lembut itu memecah keheningan dalam ruangan gelap ini. Bola mata emerald gadis ini berputar-putar, menahan liquid yang akan tumpah sebentar lagi dari matanya. Nafasnya terengah. Lelah menangis semalaman. Bibir merah mudahnya mulai bergerak lagi.

".. Jika memang kami tidak ditakdirkan untuk bersama.."

Sakura diam, menarik nafas. Bersiap akan kalimat selanjutnya. Bibirnya gemetaran. Ini pertanyaan yang sudah lama ingin dilontarkan olehnya.

".. Untuk apa kami dipertemukan?"

Liquid air mata itu tumpah lagi, lebih deras. Gadis itu memejamkan matanya paksa. Perih ini, sesak ini, apa Tuhan tega membuat salah satu mahluknya tersiksa begini?

"Takdir yang mempertemukan kalian."

Sakura terkesiap. Buru-buru gadis itu bangkit, menatap berkeliling mencari sosok dengan suara familiar itu. Sakura kini mendapati sosok bergaun putih tengah berdiri di depan ranjangnya, dengan kedua tangan bertaut di belakang. rambut pirangnya yang diikat itu, sementara matanya yang sewarna laut itu menatap Sakura lembut.

"Ino?" Sakura dengan jelas menggumamkan namanya.

Ino—gadis berambut pirang itu, tersenyum. "Hai Sakura.."

Sakura diam. Sesuatu menyesaki otaknya. Sesuatu keganjalan yang tak dapat ia terima dengan akal sehat. "Kamu masih hidup?"

"Yeah," Ino mendesah. Alisnya terangkat.

"Tapi.." Sakura terkesiap. "Tapi kau sudah meninggal.."

"Ya," Ino menyahut. "Tuhan memberikanku kesempatan lagi, Sakura.."

Diam. Sakura benar-benar bungkam kali ini. Otaknya menolak untuk menerima ucapan Ino. "Kesempatan? Hentikan omong—"

"Bukan omong kosong."

Sakura diam. Ino menatapnya tajam. Sorot mata yang mirip dengan sorot mata Sasuke. Gadis itu masih berdiri dalam diam, sampai mulutnya terbuka lagi. "Ini nyata. Dan aku tidak membutuhkan bantahan darimu."

Sakura diam, benar-benar tak berkutik. Perasaan yang semula tak pernah muncul, kini mencuat. Tangan Sakura mengepal, keningnya berkerut. Detak jantungnya memacu cepat. Perasaan kesal menguasainya.

Kini memang Yamanaka Ino yang berdiri di hadapannya. Gadis yang beberapa tahun lalu memenjarakannya dalam keterpurukan, menghinanya, sahabat yang tega berubah seratus delapan puluh derajat hanya karena kejadian yang sama-sama tak diinginkan olehnya. Gadis paling jahat di mata Sakura. Gadis yang dengan tega mengucilkan dirinya hanya karena perasaannya terhadapa Uchiha Sasuke.

"Tenang." Ino memejamkan matanya. "Aku tahu kau sangat membenciku."

Sakura mereganggkan kepalan tangannya, menarik nafas, menenangkan dirinya sendiri. Matanya masih menatap Ino yang berdiri sekitar dua meter darinya. "Apa maumu, Ino?"

"Aku?" Ino menaikkan alisnya. "Aku hanya ingin kau memikirkan Sai."

"Sai?" Sakura mengulanginya. Berusaha meyakinkan apa yang ia dengar. "Kenapa Sai?"

"Kamu selama ini tidak pernah sadar.." Ino mengambil nafas baru, "Akan apa yang selama ini Sai lakukan demi kamu. Kamu bahkan tak pernah mengerti bagaimana perasaannya.."

Sakura terdiam. Kata-kata Ino, sedikit-banyak, menyentil perasaannya. Ino maju satu langkah, membuat poninya yang menutupi sebagian matanya itu berayun, mengikuti gerak tubuhnya. Sementara matanya yang memiliki pancaran jernih itu, masih menatap Sakura tajam. "Sai tidak berharap balas budimu. Sai lakukan semuanya, dengan nalurinya sendiri. Baginya, asal kau tersenyum saja, itu sudah cukup. Kamu tahu kenapa Sai lakukan semua itu?"

Gelengan. Sakura menggeleng, sementara matanya tak berkedip menatap Ino. Ino mendengus, memalingkan wajahnya. "Sudah kuduga."

Sakura masih diam, benar-benar tak tahu apa yang terjadi. Apa maksud Ino dengan membeberkan semua ini padanya? Abstrak. Pikiran Sakura abstrak, menyatu semua hingga tak bisa menemukan inti yang ia cari. Ino kembali menarik nafas, membuat degup jantung Sakura terpacu lebih cepat, membuatnya ikut menahan nafas.

"Sai mencintaimu, Sakura."

Seakan mendapat pukulan telak, mata Sakura terbelalak. Nafasnya terengah, paru-parunya terasa menyempit. Detak jantungnye berpacu lebih cepat. Setiap detaknya memaksa Sakura untuk meneteskan liquid dari matanya.

Kenapa dia dengan sangat bodoh tidak menyadari semua itu?

Padahal Sai setiap hari ada di sisinya, ada di dekatnya, selalu ada setiap Sakura membutuhkan. Padahal yang membuatnya bisa kembali tersenyum itu Sai, bukan orang lain. Juga bukan Sasuke.

Uchiha Sai.

"Pernahkah kamu memikirkan perasaanku?"

Begitu lirih, suara bariton itu kembali menggema di telinga Sakura. Sesak, Sakura menjadi kesulitan bernafas. Sementara degup jantungnya memaksanya untuk mengeluarkan kembali liquid dari matanya.

"Sedikitpun kamu tidak sadar kalau aku ada, kalau bukan hanya ada Uchiha Sasuke, kalau di sini ada Uchiha Sai.. Kau tidak pernah sadar.."

Setetes..

Dan teteh berikutnya..

Pipi Sakura kembali berlinang air mata. Tangan Sakura meraih wajahnya, menutup wajahnya, seakan malu. "Kenapa? Kenapa tidak pernah aku sadari kalau..—"

"Karena kamu sendiri yang tidak mau menyadarinya, Sakura.." Ino bersua lagi.

Sakura mengkerutkan keningnya, tak setuju. "Maksudmu apa, Ino?"

"Kamu.." Ino mendekat ke arah Sakura, langkahnya lumayan cepat hingga sekarang sudah berdiri tepat di depan Sakura. "Munafik. Kamu tidak pernah mau menyadari keberadaan Sai. Kamu bahkan tak pernah menganggap Sai ada. Mata dan hatimu, hanya kau buka untuk Sasuke seorang.

"Aku bisa melihatnya, sorot matanya saat bersamamu, sorot bahagia yang tak akan pernah bisa kudapat bila bersama dengannya. Aku tidak memaksamu untuk mencintai Sai. Aku hanya ingin membuatmu melihatnya, walah hanya sekali.." Ino menarik nafas, ia ikut merasa sesak. "Apa salahnya sampai kau tak bisa—tak mau melihatnya, Sakura?"

Sakura diam, tak bisa berkata-kata. Matanya bergerak-gerak liar, berpikir.

Ino menarik nafas. Ia tahu gadis di hadapannya hanya akan diam menerima semua ucapannya, tanpa bantahan berarti. Semuanya terlalu berat bagi otak dan hati Sakura yang mungkin sedang dalam keadaan tidak baik. Ino lelah sebenarnya. Ino sudah tak ingin lagi bersaing dengan Sakura untuk memperebutkan Sasuke—bahkan perasaannya untuk pemuda ini pun, sudah hilang entah kemana. Yang ada dalam benak Ino hanya Uchiha Sai. Dan, apa salahnya gadis ini berbuat sesuatu agar sang 'Pangeran' bisa tersenyum, walau hanya satu kali?

"Tidak, Ino.."

Mata blue ocean itu kembali menatap sosok yang masih duduk di bibir ranjang, wajahnya tertunduk, semua gerakannya kaku. Tangannya terkepal menggenggam badcovernya kuat-kuat, dan ia merasa jika liquid mata itu akan tumpah sekali lagi. "Pergi kau, Ino!"

Ino tersentak. Ia pikir barusan Sakura akan menyetujui semua ucapannya. "Sakura—"

"Mana kau mengerti?" Sakura mendongak, menatap lawan bicaranya dengan tatapan gemas. Tangan Sakura terangkat, menyentuh kaus bagian dadanya, "Di sini Ino, di sini. Kau tak tahu betapa aku sudah lelah, sangat sakit. Aku terpuruk karena ulahmu, aku bangkit karena semangatku untuk hidup dalam bayangan Sasuke, aku terpuruk lagi sekarang dan kau dua kali membuatku semakin terpuruk akan penyesalanku?"

PLAK!

Sakura diam. Emosinya yang bergejolak itu tertahan oleh tamparan yang mendarat mulus di pipinya. Perlahan Sakura menoleh, berniat mengintip bagaimana raut wajah 'mantan' sahabatnya.

Tetes air itu menetes jatuh ke lantai kayu. Gadis itu terdiam, matanya menyorot marah—menyorot sakit. "Kamu tidak bisa hidup di bawah bayangan Sasuke selamanya! Bodoh!"

"Aku kuat karena aku hidup di bawah bayangannya, Ino!" Sakura membantah keras. Gusar, ia berdiri, menyamakan tinggi dengan Ino. Tangan Sakura terulur, mendorong Ino menjauh darinya. "Pergi kau! Kau tidak tahu apa-apa tentangku!"

"Aku tahu semua tentang Sai makanya aku begini!"

Diam. Sakura sukses bungkam dengan pukulan telak Ino barusan. Ino mengulurkan tangannya, jari telunjuknya tepat menyentuh satu titik di dada Sakura. "Di sini, hanya ada Sasuke. Tapi, apakah sekarang kamu tahu ke mana perginya Sasuke?"

Satu lagi. Sakura diam tak berkutik. Mata emeraldnya menatap Ino dalam diam. Bibirnya gemetar. Air matanya jatuh lagi.

Ino tersenyum menang. Gadis di depannya sebentar lagi akan tunduk padanya. Ia kemudian menarik nafas panjang, bersiap menemukan kalimat lain untuk Sakura. "Kau tidak sadar kalau kau bergantung sekali pada Sasuke dan Sai.. Kau sudah 'membalas budi' pada Sasuke. Namun, kau tak membalas Sai.."

"Ino.."

Suara lirih itu mengalun sakit. Membuat siapa saja tak tahan ingin segera memeluk Sakura, ingin menopang rasa sakit yang dirasakan Sakura. Ingin merasakan hal yang sama, ingin meringankan sedikit beban dari gadis itu. Ino diam, mata blue oceannya masih menatap Sakura dalam diam. Ino tahu ia salah, tapi tetap saja, ia ingin sang 'Pangeran' tersenyum. Hanya ada itu di dalam otaknya. Matanya kini beralih pada bibir Sakura yang masih gemetaran hebat. Terbuka sedikit, membuat Ino menarik nafas untuk mendengar kelanjutan kalimat Sakura.

"Berhenti.. berbicara. Kau membuatku muak."

Ino diam. Sedetik kemudian raut wajahnya berubah marah, dan satu tangan kembali terangkat, bersiap menampar gadis ini lagi. Demi tuhan, gadis ini sudah seperti kaca pecah dan Ino dengan egois memaksanya melihat sosok lain?

Tapi, bukankah Sakura juga egois? Sedikit pun tak bisakah ia membantu Ino, agar dapat membuat sang 'Pangeran' tersenyum walau hanya sekali? Mengapa mata Sakura hanya bisa tertuju pada seorang Uchiha? Egoiskah itu?

Lalu jika masing-masing egois, siapa yang harusnya di salahkan?

"Kenapa harus aku yang memahami keinginanmu Ino?" Sakura mendongak, butir-butir air mata masih bergerak turun menyusuri pipi meronanya. Tangan Ino yang semula masih tertahan di atas, kini bergerak turun. Mata emeraldnya menatap Ino penuh rasa sakit. "Kenapa bukan kau yang memahami keinginanku?"

Ino diam. Sakura menarik satu langkah maju, mendekat ke arah Ino. "Kamu egois Ino. Sadarilah, aku juga punya keinginan.."

Dan detik berikutnya, air mata yang sedari tadi gadis berambut emas ini tahan, tumpah. Ia merunduk, menangis. "Aku tidak tahu harus berkata apalagi, Sakura.. aku hanya ingin Sai tersenyum.."

"Aku tidak bisa membantumu.." Sakura menarik nafas berat, tangannya terulur menyentuh bahu Ino. "Ketahuilah.. aku hanya bisa mencintai satu orang Uchiha. Dan itu, hanya Sasuke. Berapa kali pun kau menamparku, bagiku hanya ada Uchiha Sasuke dan tak ada yang lain.."

Ino mendongak, menatap Sakura. Dan kini Ino sadar, Sakura terlalu tulus pada Sasuke. Ada garis kasat mata pada iris emerald itu. Satu garis yang seakan menyegel mata emerald itu, agar tertuju pada satu orang. Mata Sakura itu, tak akan pernah melihat ke arah iris onyx lainnya, selain Sasuke. Dan Ino tahu, artinya ia tidak akan pernah bisa mengusik arah mata itu.

Dan selamanya, hati Sakura hanya untuk Sasuke.

.

O.O

.

Langit gelap, awan hitam berarak. Angin pun menyelaraskan dengan cuaca, dan menjadikan tempat ini enggan dikunjungi orang mana pun. Di mana cuaca seperti ini pasti dimanfaatkan untuk tidur.

Dan kini mungkin hal tidak masuk akal, muncul di depan mata. Sebuah istana—atau kota yang berdiri kokoh diatas sebuah awan hitam raksasa. Jauh di atas permukaan bumi, terdapat dunia yang mungkin tidak bisa dilihat secara kasat mata. Dunia yang di penuhi sosok bersayap hitam. Sebuah istana melayang di atas daratannya dengan awan sebagai penopang. Istana hitam yang terkesan angker, dengan melody kematian menemaninya. Istana dengan berates-ratus jendela sebagai penerangan—penerangan yang sia-sia.

Disetiap jarak satu meter di delam koridornya, ada sebuah obor dengan nyala api berwarna merah yang unik, seakan membedakan 'api jenis' apa. Koridor yang terkesan ngeri dengan dinding tak sempurna yang menculkan gelombang atau tonjolan. Seakan dalam pengerjaannya itu tidak serius.

Kaki berbalut celana panjang hitam gombrang itu berjalan, memberikan melody baru dalam lorong tak bertuan ini. Kakinya memijak cepat, langkah demi langkah. Obor mulai menyinari sosok dengan rambut mirip burung gagak, yang kini berwajah oranye tua dibawah penerangan obor.

Nampaknya sang pemuda dengan sayap hitam di belakang punggungnya itu sedang berjalan menuju ujung koridor, di mana di sana terdapat sebuah pintu raksasa yang terbuat dari tengkorak manusia berwarna hitam, diterangi obor pada kanan dan kirinya. Dan mungkin, apabila diteliti lebih jauh, tengkorak-tengkorak bergerak perlahan. Dengan kegelapan meliputi tempat ini, akan sangat mustahil melihat pergerakan sekecil itu.

Tiba-tiba, saat pemuda bersayap hitam itu mendekat ke arah pintu raksasa, perlahan pintu tersebut bergerak terbuka, disertai bunyi pintu tua terbuka.

Pemuda itu tak bergeming, langkahnya tetap sama dengan ritme yang teratur. Sepertinya dia sudah terbiasa. Kemudian sang pemuda bersayap hitam memasuki ruangan yang ternyata sangat besar. Obor diletakkan pada dua garis sejajar, seakan menunjukan jalan yang benar dalam ruangan gelap dan sunyi ini. Pemuda bermata hitam kelam di bawah cahaya obor berwarna merah ini, kini berjalan mengikuti garis yang dibentuk obor-obor itu.

"Sasuke.."

Mungkin bagi sebagian orang yang baru pertama kali mendengar namanya, akan bergidik ngeri. Suara yang tak dibuat-buat, terkesan mengintimidasi. Pemuda yang di panggil Sasuke, berhenti di tempat, tepat pada cahaya obor ke lima dari pintu raksasa. "Ya, Fugaku-sama.."

"Ada apa?"

Suara itu menggema lagi dalam ruangan gelap yang tidak diketahui seberapa besarnya. Yang pasti, sangat besar hingga dapat menggaungkan suara seseorang. Sasuke hanya diam, menatap kea rah langit-langit ruangan yang ia sendiri tak ketahui batasnya. "Aku mau Fugaku-sama mengambil nyawa ini."

Suara yang mengerikan tadi tak membalas ucapan Sasuke. Senyum terukir di wajah tampan pemuda ini. "Fugaku-san.."

"Untuk apa saya mengambilnya?"

Suara kali ini terdengar berat. Namun tetap suara yang sama dengan suara pertama. Sasuke menunduk, namun seringai masih terpeta jelas di bibir tipisnya. "Saya bosan."

"Pikir lagi, Sasuke.."

"Sudah berkali-kali saya berpikir, Fugaku-sama. Tolong kabulkan.." Sasuke berkata pelan. Sangat pelan.

Angin menderu masuk ke dalam ruangan ini, entah dari mana. Api bergerak, seakan menari untuk merespon angin. Angin menyapu setaip inci kulit Sasuke yang tak terbalut kain. Membuat pemuda bermarga Uchiha ini bergidik. Tangannya masih terkepal erat di samping kanan kirinya. "Fugaku-sama.."

"Apa alasan saya untuk melenyapkanmu, Sasuke?"

"Mungkin.." Sasuke menarik nafas, bola mata onyxnya berputar, berpikir. "—mungkin karena saya terlalu baik untuk menjadi iblis?"

"Kau memang terlalu baik untuk menjadi iblis.."

"Lalu, mengapa menjadikan saya iblis?" Sasuke menarik seringainya lagi. Kali ini lebih tampan dari sebelumnya. Cahaya temaram semakin membuat wajah Sasuke menjadi tampan.

"Karena saya ingin, Sasuke.."

"Kalau begitu, cabut nyawa saya sekarang, Fugaku-sama.." Sasuke kembali menengadah, menatap ke langit-langit.

"Alasannya?"

Suara itu terdengar semakin jelas. Dan pemuda berambut hitam kebiruan ini menyadarinya. Dia masih tersenyum kecut. Cahaya temaram menambah seram ruangan tak berujung ini. Udara semakin menusuk kulit-kulit yang sengaja dibiarkan terbuka. "Karena saya sudah lelah membuat seorang gadis menangis.."

"Itu tidak logis.."

"Ya ya.." Sasuke mengacak-acak rambutnya kasar. Frustasi. "Terserahlah. Pokoknya lenyapkan keberadaan saya.."

Tidak ada jawaban. Hanya angin yang kembali menderu, semakin membuat Sasuke merasa kedinginan. Sialnya ia hanya mengenakan kaus hitam berlengan pendek. Matanya berputar lagi, berusaha mencari keberadaan Fugaku. Sedari tadi ia mendongak, menelusuri kegelapan di sekitarnya. Seakan tidak takut akan apa pun. "Fugaku-sama.."

Nihil. Ruangan itu seakan ruangan kosong dengan hanya ada Sasuke seorang di sana. Gelap dengan hanya beberapa batang obor sebagai penunjuk jalan menemani. Udara kembali bertiup. Api-api pada obor kembali menari, bergerak-gerak liar dengan cahaya merahnya. Sasuke semakin menyesali keberadaannya dalam ruangan ini.

"Baik.."

Suara itu kembali menggema. Sasuke menelan ludah. Bersiap akan apa yang dikatakan Fugaku.

"—dengan satu syarat, saya akan melepaskanmu.."

Sasuke menarik nafas panjang. Entah mengapa, semakin lama ia menghirup nafasnya, semakin berat terasa. "Apa itu?"

"Di kehidupanmu selanjutnya, tidak akan ada lagi, Uchiha Sasuke.."

Diam. Bogem mentah yang sangat cantik serasa mendarat telak di dada Sasuke. Degup jantungnya memacu cepat. Detak demi detak seakan memaksa pemuda ini membuka matanya lebih lebar. Bahwa melenyapkannya dari dunia bukan hal sepele—ini hal yang sangat serius!

Apakah harus begitu pengorbanannya untuk Sai? Apa harus begitu? Apa harus mengorbankan kebahagiannya?

Mata Sasuke melotot. Itu artinya, tidak akan ada lagi Uchiha Sasuke dalam hidup Haruno Sakura. Tidak akan pernah ada lagi. Selamanya.

Tapi untuk Sai yang telah membantunya membangkitkan lagi Sakura, membuat senyum kembali merekah di wajah gadis yang sangat dia cintai itu.. kenapa tidak? Kenapa Sasuke harus menyesal? Setidaknya Sai bisa bahagia, setidaknya ada orang lain yang bisa berbahagia dengan keputusannya.

Dan kemudian, dengan tgas Sasuke menatap lurus-lurus menembus kegelapan, menarik nafas panjang dengan kedua tangan terkepal. Kuat-kuat ia menahan perasaan egois yang selalu ingin menguasai dirinya. Dengan satu anggukan pasti, diiringi sebuah kalimat. "Ya, saya setuju."

Dan tak ada lagi yang bisa Fugaku lakukan, selain melenyapkan Sasuke.

.

To Be Continued

.

Hello, maafkan atas hiatus yang sangat lama.

Err, maaf malam ini saya terburu-buru. Saya ucapkan BERIBU terima kasih pada yang sudah mereview. THANKS A LOT!

Dan, chapter depan adalah finalnya.

Gomennasai bila chapter ini mengecewakan. Saya tertular flu dari seseorang *lirik-lirik*

Ah ya, sampai berjumpa chapter depan :D wanna leave me some feedback?

.

.

Sign,

Tsukimori.