Main Cast : Kim Taehyung

Support Cast : BTS member, hyun family, and other

Genre : Mystery , Murdering, Psychopath

Rated : T - M

Warning :

NO LOVE STORY, Banyak Typo, Menggunakan Bahasa yang Rumit

Terinspirasi dari Urban Legend dan novel-novel misteri lainnya

Love And Peace :3

Happy Reading

.

.

.

AUTHOR P.O.V

(Flashback)

"Kenapa kau membunuh kucing itu?" tanya dokter Cha sambil memegang alat perekam di tangannya.

"Aku tidak membunuhnya... Sungoh lah yang melakukannya."

"Akan tetapi, ayahmu mengatakan bahwa kamulah pelakunya."

"Sudah kubilang, bukan aku pelakunya. Sung oh lah yang melakukannya! Lagian apa salah? Jika aku meminjam telinga dan keempat kaki kucing itu?"

"Kau... menganggap kucing itu apa?"

"Apa maksud dari pertanyaanmu itu? Kucing yah kucing bukan? Apa salah aku hanya bermain dengannya sedikit?!"

Dokter Cha langsung terdiam saat melihat senyum Taehyung, senyum yang tidak biasa. Dan lagi, Taehyung tersenyum kearah samping kanannya yang jelas-jelas tidak ada orang disana. Dia tersenyum begitu lebar dengan kedua matanya yang melotot.

"Benar sekali... kami hanya bermain sedikit." Lanjut Taehyung. Diikuti dengan hilangnya senyum mengerikan tadi dan mengangguk setuju. Setelah itu Taehyung menatap ke arah dokter Cha dengan muka kebingungan.

"Dokter, kenapa kau terlihat begitu ketakutan?" tanyanya dengan muka polos.

"Ki.. kita akhiri sesi ini kali ini.." kata dokter Cha sambil mematikan rekaman video yang ia pegang. Dan langsung menyuruh seorang suster untuk mengantarkan Taehyung ke kamar inapnya.

Lama dokter berjas putih itu hanya diam di meja kerjanya sambil memegang video rekamannya yang baru saja ia matikan. Memikirkan sesuatu dengan begitu keras. Tidak beberapa lama kemudian dokter tersebut menghela napas berat dan bergumam kecil.

"skizofrenia..."

.

.

.

TAEHYUNG P.O.V

Aku terdiam sejenak, melihat kearah Sungoh yang juga berdiri diam tepat didepan jendela. Melihatku dengan raut wajah bingung, seakan bertanya 'Siapa orang asing ini?'

Sedangkan aku hanya bisa memandang rambut hitamnya yang berada tepat dibawah daguku, merasakan pelukan yang sudah lama tidak kurasakan. Berapa lama? Entah lah mungkin sudah hampir belasan tahun.

Bisa kurasakan baju yang kukenakan basah, apa dia menangis? Kenapa dia menangis? Apa gara-gara perkataan dokter itu? Aku tau sebelum kamu datang melihatku, kamu pasti berbicara dulu sama dokter Cha.

Ah, pantaskah aku memanggil orang ini dengan sebutan kamu? Mungkin pantas dan mungkin juga tidak.

"Taehyung-ah…" panggilnya dengan nada serak, dia melihatku dengan muka sendu dan memegangi kedua pipiku dengan lembut.

"Umma, minta maaf… Mi.. mianhae sayang…" lanjutnya lagi sambil mencium jidatku dengan hangat.

Kenapa dia minta maaf? Apa gara-gara dia meninggalkanku, makanya dia minta maaf sekarang? Atau karena dia tidak menepati janjinya?

"Kenapa kau… minta maaf?" tanyaku dengan suara berat dengan muka datar.

"Segala hal, Umma minta maaf karena semua hal. Umma minta maaf telah mening…"

"Diamlah!" bentakku sambil memegang tangannya yang sadari tadi mengelus pipiku.

Benci.

Benci.

Benci.

Aku membencinya! Semua hal tentangnya! Aku bisa hidup tanpanya! Lalu kenapa dia harus kembali lagi?!

"Taeh…"

"KUBILANG DIAM!" bentakku sekali lagi saat dia baru saja mulai berbicara. Bahkan aku membenci suara jeleknya itu!

Aku melihat dirinya terpaku, ada aura kesedihan yang mendalam di kedua bola matanya. Menatapku seakan tidak percaya bahwa anak satu-satunya telah berubah.

Cih! Aku bahkan membenci tatapannya itu!

"Sekarang aku minta kau keluar!" kataku sambil menunjukkan pintu keluar dengan muka menahan amarah.

"Taehyung…dengarkan Umma seben—"

"KELUAR!" teriakku disertai suara pecahnya vas bunga yang tadinya berdiri cantik disamping tempat tidurku.

Bisa kulihat dirinya menahan nangis dan mulai berdiri perlahan, melewati pecahan kaca dilantai dengan kaki kosong. Aku tahu kakinya berdarah, tapi entah mengapa rasa kasihan secuil pun tidak ada. Dan aku merasa senang, membentaknya dan membuatnya lemah seperti itu. Ya, aku senang!

BLAM!

Bisa kudengar suara pintu tertutup dengan keras, aku terdiam sejenak melihat jejak darah yang ditinggal oleh Baekhyun.

"Sungoh… aku harus keluar dari sini…" gumamku pelan sambil memikirkan sesuatu.

"Aku harus melakukan sesuatu… yang membuat dia berpikir kalau aku bisa hidup tanpanya…" lanjutku sambil berdiri dan berjalan mendekat kearah Sungoh.

"kenapa begitu?" Tanya Sungoh sambil memandang kearah taman rumah sakit.

"Kau tidak melihat mukanya? Dia meminta maaf seakan aku ini sangat tersiksa disaat dia tidak ada."

"Terus, kenapa kau mesti keluar dari rumah sakit ini?"

"Aku harus… membuat sebuah boneka.."

"Boneka?" tanyanya sambil melihat kearahku dengan muka antusias.

"Kau tahu, dulu kami pernah berjanji akan membuat boneka paling sempurna di dunia bersama-sama. Kalau saja aku bisa membuat boneka paling sempurna dan paling indah diantara yang lain lalu menunjukkan boneka itu di depan muka dia…"

"Jadi maksudmu pasti dia akan berpikir kalau dirimu tidak membutuhkan dirinya lagi? Karena kamu telah membuat sebuah boneka tersebut sendirian tanpa ada campur tangan darinya? Kenapa tidak kau usir saja dia? Daripada harus membuat boneka?" Tanya Sungoh dengan muka bingung.

"Itu tidak seru, dan lagian semakin aku melawannya dan bertingkah layaknya orang stress. Jika begitu, aku bakal lebih lama lagi tinggal di rumah sakit jelek ini."

"Ohh.. begitukah? Jadi… kamu mau aku ngapain?" tanyanya sambil tersenyum kearahku.

"Menghilanglah, aku akan menelpon mu disaat aku sudah keluar dari rumah sakit ini."

"Loh, kenapa aku harus menghilang?"

"Kau tidak tahu? Mereka menganggap dirimu tidak nyata. Dan satu-satunya cara aku bisa pergi dari rumah sakit ini adalah berpura-pura… berpura-pura bahwa kamu tidak ada, mengikuti semua kata mereka, dengan begitu aku bisa lebih cepat keluar dari rumah sakit ini. Aku menyuruhmu menghilang supaya aku bisa lebih focus menganggap dirimu tidak ada." Jelasku panjang lebar.

Tiba-tiba Sungoh memasang tudung dikepalanya dan berbalik, berjalan perlahan keluar ruangan dan meninggalkan ku sendiri yang masih saja menatap keluar jendela.

"Da kau tahu satu hal Sungoh.."

"Apa?" tanyanya sambil menghentikan langkahnya

"Hanya ciptaan Tuhan lah yang sempurna…" sambungku sambil tetap memandang kearah luar, bisa kurasakan dia tersenyum sebentar lalu mulai keluar dari ruangan ini. Meninggalkan ku sendirian untuk beberapa waktu.

Aku tersenyum sejenak.

"Manusia…" gumamku kecil sambil memegang kaca jendela.

(Flashback end)

.

.

.

HOSEOK P.O.V

"Apa.. apaa… Ini?!" teriakku saat melihat darah dimana-mana. Dan manekin tanpa kedua lengannya tersebut seakan tersenyum melihat kekacauan ini.

Manekin yang duduk diatas kursi dan diletak di tengah-tengah ruangan seakan telah menunggu kami untuk datang. Aku mendekati manekin itu secara perlahan, tepat dibagian badan manekin ditempelkan foto yang sepertinya pernah kulihat.

"Hoseok tunggu! Jangan berjalan kesana! Ada darah!" teriak salah satu detektif, spontan aku langsung melihat kearah lantai dan langsung mundur beberapa langkah saat melihat tulisan dari darah…

'PLAY WITH ME?'

Tulisan itu yang kubaca saat mundur beberapa langkah, aku melihat huruf 'P' sudah hancur Karena kuinjak, reflex aku melihat kearah sepatuku.

Sepatu putih yang kupakai sudah ternodai warna merah yang begitu pekat.

Dan lagi-lagi, sebuah memori terputar. Aku merasa déjà vu saat melihat sepatu ku ternodai warna merah. Mendadak seluruh lantai yang kuinjak berubah menjadi warna merah. Sakit kepala mulai menyerang secara perlahan.

'Wae?'

Aku seakan melihat diriku sendiri sedang ngomong dihadapan kaca.

'Wae?'

Suara itu terus muncul di dalam pikiranku. Kepalaku makin sakit, napasku makin tersengal-sengal, seakan dicekek oleh sesorang. Dadaku semakin terasa ditekan oleh sesuatu.

"AKHHH!" teriakku tidak tahan dengan kepalaku yang mulai berdenyut keras.

'J-hope… hyung…'

Gambaran itu terlintas lagi, kali ini mulai jelas. Aku melihat diriku di depan wastafel sambil terus menghadap ke arah kaca.

'Kesenangan…'

Suara bermunculan lagi, kepalaku semakin berdenyut keras. Rasa ketakutan tiba-tiba menyerang kearahku dan makin lama makin besar. Sebuah gambaran yang menunjukkan ada seseorang berdiri dibelakangku dan diriku yang terdiam menghadap kearah kaca, semakin membuat aku mual.

Aku mulai terjatuh dengan posisi duduk sambil terus memegang kepalaku dengan keras. Aku merasa salah satu detektif memegangi pundakku dan berteriak sesuatu, tidak jelas, tidak kudengar. Aku terlalu focus dengan gambaran yang ada dihadapanku.

Aku memaksa diriku untuk ingat, tidak boleh pingsan untuk kali ini, aku harus bisa menahan rasa sakit di kepala dan rasa ketakutan yang begitu mendalam. Aku harus mengingat kejadian itu!

Akan tetapi dadaku semakin sesak, seakan sebagian tubuhku tidak mau aku mengingat kejadian mengerikan itu. Tapi mengapa?

Aku menutup kedua mataku, mencoba menetralkan pernapasan dan menghilangkan rasa sakit dikepala yang sadari tadi terus menyerang. Setelah aku membuka kembali kedua mataku, aku melihat sebuah kaca didepan muka.

Melihat air mata yang mulai menetes dipipiku, dan keringat diseluruh tubuhku. Aku melihat diriku sendiri terengah-engah seakan kekurangan oksigen.

Dan disaat aku melihatnya, semuanya berhenti. Kepalaku yang terasa sakit sekarang tidak, rasa sakit yang ada didadaku pun menghilang. Aku terdiam kaku tidak bernafas layaknya sebuah boneka. Sekarang aku mengerti kenapa tubuhku menolak untuk mengingat kejadian ini.

Karena… aku tidak mau merasakan rasa kecewa yang begitu dalam saat melihat dia…

Aku mencoba melihatnya sekali lagi, dia yang sedang mengangkat sebuah tongkat tinggi-tinggi dan tersenyum mengerikan.

BRUKK!

Itu suara terakhir yang kudengar, aku langsung terjatuh kelantai yang begitu dingin. Semua gambaran tadi hilang begitu saja dan yang kulihat sekarang hanyalah seorang detektif yang sedang memegangi lenganku sambil bertanya sesuatu.

"Aku mengingatnya…" gumamku sambil mencoba untuk berdiri. Bisa kusadari sekujur tubuhku berkeringat dingin dan nafasku masih terputus-putus. Aku mencoba mengambil sebuah foto yang tertempel di badan manekin.

Foto pre-debut Jimin di studio, foto yang tidak pernah tersebar ke internet. Karena foto ini difoto menggunakan kamera Polaroid dan hasilnya disimpan didalam dompet Jimin. Aku melihat baik-baik foto tersebut, hingga aku menyadari.

Ada satu orang lagi, dalam foto tersebut dia duduk bersandar ke dinding dengan muka datar. Seakan kelelahan sehabis latihan. Tapi entah mengapa matanya menyiratkan aura untuk membunuh. Aku mulai berjalan mundur seakan tidak percaya apa yang telah terjadi.

Sejenak aku merasakan ada sesuatu yang tertempel dibelakang foto, dengan cepat aku membalikkan foto tersebut dan melihat alat pelacak yang seharusnya tertempel di baju Jimin sekarang malah tertempel manis dibelakang foto tersebut. Dan ada sebuah tulisan kecil di belakang foto tersebut.

'DO YOU REMEMBER ME NOW? HYUNG…'

Aku langsung menjatuhkan foto tersebut dengan muka ketakutan.

"Apa? Kenapa kamu menjatuhkan foto ini?" Tanya salah satu detektif lalu memungut foto yang kujatuhkan. Dia membaca tulisan dibelakang foto tersebut dan mengambil alat pelacak tersebut. Dan seakan bertanya kepadaku apa arti tulisan dibelakang foto itu.

"A.. aku mengingatnya!" gumamku terbata-bata dengan tatapan kosong.

"Maksudmu?"

"Aku tau… siapa pelakunya. Aku mengingat kejadian itu…" lanjutku dengan perlahan, kedua detektif itu langsung terdiam dan melihatku seakan tidak percaya.

'KIM TAEHYUNG!' teriakku dalam hati.

.

.

.

AUTHOR P.O.V

"Dia mengingatku…" kata Taehyung saat melihat kejadian tadi dengan sebuah tv yang menyala didepannya.

"Aku tahu, dia mengingatku… karena itu kau target selanjutnya…" lanjut Taehyung sambil memegang sebuah cincin berwarna perak dan ada tulisan kecil didalam lingkaran cincin tersebut.

'Keluarga Jung'

"Seharusnya kau mati sesudah Namjoon, kau tahu? Tapi, pada saat itu aku membutuhkan sebuah lengan dan badan." Katanya sambil melihat keara cincin tersebut dan tersenyum.

"Aku tidak tahu apa yang bagus darimu, aku juga tidak tahu kenapa aku harus mengambil cincin ini… tapi kurasa kamu mempunyai rambut hitam yang bagus. Maukah kamu memperbolehkan aku meminta rambut itu? Maka aku akan kembalikan cincin ini."

Gumamnya sambil terus melihat kearah tv dan cincin secara bersamaan. Dia melihat Hoseok dan kedua detektif bergerak dan mulai tersenyum mengerikan.

"Ketahuan yah…? Yasudahlah…." Katanya lalu mematikan tv tersebut dan berjalan kearah ruangan yang dulunya dijadikan kamar tidur oleh kedua orang tuanya.

Dia mulai mendengar suara-suara dari dalam kamar tersebut, dengan perlahan dia membuka ruangan tersebut dan mendengarkan suara seseorang yang sedang bernyanyi.

.

.

.

"Apa yang kau nyanyikan?" tanyanyasambil mengambil sebuah pisau dan mulai duduk disamping mayat Jimin yang dibagian kepalanya mengeluarkan darah begitu banyak.

"Lagu kematian... huahahaha... HUAHAHAHAHA..." tawanya sambil menusukkan pisau tersebut sangat dalam kebadan Jimin, sehingga membuat darah keluar dari tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.

.

.

.

TBC

Sudah berjamurkah kalian menunggu kelanjutan ff ini?

'Mianhae… mianhae… hajimaa..' (mendadak nyanyi)

Lama banget yah aku updatenya T-T selain harus bertahan disekolah yang banyak tugas itu, aku juga aktif dalam organisasi Teater. Dan mungkin itu yang membuat aku jadi gak punya banyak waktu. Dan juga untuk chapter yang semalam aku full banget yah curhatnya :v

Terima kasih bagi kalian yang sudah menyemangati aku pas di reviewnya, dan aku berterima kasih secara khusus sama eonni miparkland karena telah ngasih berbagai saran secara langsung lewat PM. Saran dan semangat kalian sungguh berharga bagi aku.

Dan untuk hyesang-nim, chap 8 nya memang kurang memuaskan pakai banget.. mungkin karena factor aku membuatnya dengan secepat kilat.

Semoga chap 9 ini makin membuat kalian penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Sesuai janji aku bakal ngasih sinopsi 'The Rain Of Darkess' kekalian. Itu loh ff nya hopekook yang aku janjikan. Berikut sinopsisnya :

Iblis itu muncul… dan mengubahku. Menjadi raja yang berbeda diantara yang lain, sayap yang terus terbakar dan sebelah mata berwarna merah. Setengah iblis, itu katanya. Dia muncul dan menyebabkan bahaya, membuatku harus mati-matian menyelamatkan planet dan melindungi orang yang kusayangi. Tapi… apa yang membuatmu menjadi iblis? Haruskah aku minta maaf kepadamu setelah mengetahui alasannya?

Okay, segitu dulu sinopsisnya… aku berharap kalian menantikan ff kedua ku. Aku jamin gak bakal bosan deh. Aku bakal ngepost chap 1 bersamaan dengan chap 10 a doll.. jadi ditungguh yah ^.^

Saranghae semuanyaa :*

Love And Peace :3