Title : TRY

Author : Cassie555

Genre : Angst, Drama, Family, Yaoi, Romance, Hurt/Comfort, M-Preg

Cast : DBSK

Rating : M - NC

Disclaimer : I don't own the cast, story is mine

Warning : Typos. Alur Lambat. Yaoi. Cerita absurd. Abnormal. Very very OOC. M-Preg. Bertele-tele. Sadist!Yunho. Masochist!Jaejoong. Psycho!Yunjae. Bipolar Yunjae.

.

.

.

Setelah konsltasinya dengan Junsu hari itu, Jaejoong segera menjemput Changmin di sekolahnya seperti biasa.

"Eomma, aku di beri tugas di sekolah untuk membawa foto waktu masih bayi ke sekolah" kata Changmin baru sampai di mobil. Kelihatannya anak itu sangat bersemangat akhir-akhir ini. Semenjak mereka pulang dari Lotte World hari itu Changmin terlihat lebih bahagia.

"Eoh? Foto? Memangnya untuk apa?"

"Mollayo" Changmin mengendikkan bahu. Ia sepertinya terlalu sibuk bermain tadi, karena itu ia tak mendengar penjelasan gurunya.

"Hmm, pasti kau tak mendengar penjelasan dengan baik tadi kan?" Jaejoong tahu betul bagaimana kelakuan Changmin jika anaknya itu sudah terlalu bersemangat bermain. "Lain kali dengar penjelasan songsaenim dulu ne?" nasihat Jaejoong.

"Neee"

"Nanti Eomma akan carikan fotomu saat masih bayi" ucap Jaejoong.

Setelah sampai di rumah dan selesai mengurus Changmin, akhirnya Jaejoong punya waktu untuk mencari foto bayi milik Changmin. Ia menuju ke perpustakaan dan mencari album foto lama yang ia simpan disitu.

Kalau ia pikir-pikir sudah lama sekali ia tak bernostalgia melihat foto-foto lama miliknya. Ia takut jika harus mengingat masa lalunya yang kelam. Jaejoong membuka album foto satu persatu sambil mengingat-ingat kenangan di balik beberapa foto yang ia lihat.

Foto pertama yang ia lihat adalah foto pernikahannya dengan Yunho. Saat itu ia menggunakan tuxedo putih dan Yunho menggunakan tuxedo hitam dan menatap kamera dengan pandangan kosong. Tak ada perasaan sedikitpun yang terpancar dari mata itu. Bahkan rasa sedih pun tak dapat terlihat dari pandangan itu. Saat itu Jaejoong benar-benar telah membekukan hatinya, tak ada rasa sedih bahkan rasa benci pada Go Ahra dan keluarganya pun sudah tidak dapat dirasakannya.

Di halaman berikutnya, terpampang foto Yunho dan Jaejoong yang sedang berciuman di hari pernikahan mereka. Hanya kecupan singkat di bibir, namun entah mengapa saat itu untuk pertama kalinya Jaejoong merasa sebuah perasaan yang lain. Setelah kehilangan Hyunjoong, semangat hidupnya hilang begitu saja, namun entah mengapa hari itu ia merasakan dadanya berdegup kencang, sesuatu yang sudah lama sekali tidak pernah ia rasakan. Mengingat kembali perasaannya saat itu, pipi Jaejoong bersemu merah. Ia tak menyangka foto dari tujuh tahun yang lalu itu bisa mempengaruhinya sampai sekarang.

Jaejoong segera membuka halaman-halaman berikutnya dengan cepat. Ia tidak mau mengingat hal memalukan itu lagi. Tangannya terhenti saat melihat foto ia dan Yunho berfoto di depan sebuah club malam. Saat itu adalah saat-saat terburuk dalam hidup mereka. Rasa sakit hati yang mereka rasakan dilampiaskan pada dunia malam. Hampir semua jenis benda-benda terlarang di dunia malam sudah dirasakan oleh mereka berdua.

Di foto itu Yunho dan Jaejoong terlihat berpelukan sangat mesra dan terlihat hampir berciuman. Saat itu saking mabuknya, Yunho menyuruh salah satu bodyguardnya untuk mengambil foto mereka berdua yang sedang berciuman. Namun sepertinya mereka terlalu mabuk untuk memperhatikan aba-aba dari bodyguard itu untuk berfoto. Karena itu , foto yang diambil terlalu cepat sehingga tak bisa menangkap pose ciuman mereka.

Melihat foto itu, Jaejoong hanya bisa tersenyum miris. Kehidupannya dan Yunho dulu benar-benar tidak patut di contoh, walaupun kehidupan yang sekarang pun tidak dapat di contoh, namun setidaknya kehidupannya yang sekarang lebih baik dari yang dulu. Rasa sakit hati dan gairah muda yang dulu mereka rasakan membuat mereka membenci satu sama lain, namun mereka berdua tahu mereka tidak akan bisa bertahan tanpa satu sama lain.

Jaejoong membalik halaman berikutnya dan sekali lagi terdapat rona merah di wajahnya. Bagaimana tidak, foto kali ini terlihat begitu vulgar. Jaejoong dan Yunho berciuman dengan panas di tempat tidur dengan tubuh telanjang mereka hanya ditutupi selimut tipis.

Foto itu diambil saat Changmin berumur satu tahun. Saat itu adalah saat-saat dimana Yunho benar-benar kecanduan dengan tubuh Jaejoong. Sejak merasakan tubuh Jaejoong pertama kalinya saat mereka membuat Changmin, Yunho tidak bisa lepas dari tubuh Jaejoong. Walaupun Jaejoong sedang mengandung Changmin, Yunho tetap saja berhubungan seks dengan Jaejoong meski tak sering dan intens. Namun, setelah Changmin lahir, Yunho benar-benar melampiaskannya hasratnya pada Jaejoong. Bahkan Jaejoong pernah tak bisa berjalan sampai satu minggu akibat perbuatan Yunho.

Hal itu terus berlanjut sampai suatu hari Yunho membawa pulang seorang wanita yang ternyata adalah seorang photographer. Awalnya Jaejoong mengira mereka akan membuat foto keluarga, namun ternyata Yunho malah membawanya ke tempat tidur dan melepas bajunya. Darah Jaejoong mendidih saat mengetahui rencana Yunho itu, namun ia tidak tega pada photographer yang sudah susah payah datang dari luar negeri dan mengorbankan pekerjaan lainnya hanya demi melakukan perintah bodoh milik Yunho itu.

Foto selanjutnya yang Jaejoong lihat tidak berbeda jauh dari foto sebelumnya. Di foto itu ia bersandar pada dada kekar Yunho. Mata sayu Jaejoong menatap kamera seperti seseorang yang baru selesai orgasme. Dan memang sebelumnya Yunho telah membuat Jaejoong orgasme dengan tangannya yang berada di balik selimut. Sampai sekarang Jaejoong masih penasaran apakah photographer itu menyadari perbuatan Yunho pada Jaejoong di balik selimut itu? Walaupun saat itu wajah photographer itu terlihat biasa saja, tidak menutup kemungkinan jika photographer itu menyadari bahwa tangan Yunho bergerak di balik selimut untuk membuat Jaejoong orgasme.

Di halaman berikutnya terdapat foto Jaejoong sedang hamil besar. Saat itu adalah saat-saat terberat namun juga saat-saat terbahagia dalam hidup Jaejoong. Ya, saat itu ia sedang mengandung Changmin. Walaupun awalnya Jaejoong tidak menghendaki kehadiran Changmin dalam hidup mereka, namun akhirnya kehadiran Changmin lah yang membuatnya berubah.

Flashback 6 tahun lalu

Yunho menunggu dengan gelisah di depan pintu kamarnya dan Jaejoong. Di dalam kamar Junsu sedang memeriksa Jaejoong yang sedang sakit. Walaupun saat itu Junsu yang lebih tua dua tahun dari Yunho dan masih seorang mahasiswa co-as, namun hal itu tidak membuat Yunho meragukan kemampuan Junsu untuk memeriksa Jaejoong.

Sudah beberapa hari terakhir Jaejoong selalu mual dan muntah di pagi hari. Awalnya mereka mengira bahwa hal itu hanya hangover biasa karena mereka selalu mabuk-mabukan di malam hari. Namun semakin lama, mual dan muntah Jaejoong semakin parah. Jaejoong juga mulai sering sakit kepala. Karena itu Yunho memutuskan untuk memanggil Junsu untuk memeriksa Jaejoong.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Yunho saat Junsu keluar dari kamar.

"Kau harus berhenti memberinya minuman keras" kata Junsu datar.

"Wae? Apa hangover nya terlalu parah?" tanya Yunho.

"Bukan hangover. Dia sedang hamil" kata Junsu sambil bersedekap dengan pandangan menatap Yunho tajam.

"Ha-ha-mil?" tanya Yunho tidak percaya. Dia dan Jaejoong baru beberapa kali melakukannya, dan Jaejoong sudah hamil? Yunho tahu kalau Jaejoong memang bisa mengandung, namun ia tidak menyangka akan secepat ini. Mereka bahkan belum bermumur tujuh belas tahun.

"Ya, kehamilannya sudah memasuki minggu ke tiga. Dan itu karena ulahmu Jung Yunho. Bisa-bisanya kau melakukan itu? Kalian masih sangat muda. Astaga kepalaku sakit memikirkannya" kata Junsu sambil memijit dahinya. "Sejak kapan kalian melakukan hal itu, hah? Apa kalian sering melakukannya?" tanya Junsu lagi.

"Aa-aa-nii. Kami baru pertama kali melakukannya tiga minggu yang lalu" jawab Yunho malu-malu.

"Ohmygodsun! Kau baru pertama kali melakukannya dan Jaejoong langsung hamil? Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Jika begini terus, bisa-bisa kalian memiliki dua puluh lima anak"

"Ya, rencanaku sih begitu" gumam Yunho. Ia memang berniat memiliki dua puluh lima anak dengan Jaejoong.

"Apa?!" ucap Junsu.

"Aaniii. Bukan apa-apa" Yunho menggeleng cepat.

"Apa kau pernah berhubungan seks lagi dengan Jaejoong tiga minggu terakhir ini?" tanya Junsu walaupun ia sendiri sudah tahu jawabannya. Tipe laki-laki seperti Jung Yunho pasti akan melakukannya lagi setelah tahu bagaimana rasanya berhubungan seks. Apalagi jika berhubungan seks dengan orang dengan tubuh seperti Jaejoong. Pasti ia akan ketagihan.

"Ya, beberapa kali" kata Yunho sambil mengusap tengguknya.

"Kalau begitu kau harus berhenti berhubungan seks dengan Jaejoong selama ia hamil" Junsu memberi ultimatum yang membuat mulut Yunho menganga lebar setelah mendengarnya.

"Waaeeee?" tanya Yunho. Ia tak akan bisa menahan napsunya untuk Jaejoong.

"Apa kau tak pernah mendengar bahwa seks saat kehamilan bisa berbahaya?"

"Keundae—" Yunho baru saja akan membalas perkataan Junsu saat ia mendengar jeritan Jaejoong dari dalam kamar. Segera saja ia berlari ke kamar untuk melihat keadaan Jaejoong.

Sesampai di kamar Yunho mendapati Jaejoong yang berlinang air mata sambil memukul perutnya.

"Noona, tolong keluarkan dia dari perutku. Aku mohon" kata Jaejoong pada salah satu pelayan yang menemaninya saat itu.

"Ada apa ini?" tanya Yunho.

"Tuan Jaejoong baru saja sadar dan kami memberitahu hasil pemeriksaan Junsu uisa-nim padanya. Sepertinya ia shock mendengarnya. Karena itu ia—" penjelasan pelayan itu terhenti akibat teriakan Jaejoong.

"Aku tidak mau bayi ini" kata Jaejoong sambil kembali memukul perutnya.

"Tinggalkan kami berdua. Jangan biarkan orang lain masuk" perintah Yunho pada pelayan yang ada dalam kamar.

Emosinya Yunho benar-benar naik mendengar teriakan Jaejoong itu. Ia tak menyangka bahwa Jaejoong akan membenci darah dagingnya sendiri. Mereka memang tak pernah membicarakan tentang anak sebelumnya, namun Yunho pikir Jaejoong akan siap jika suatu saat nanti mereka berniat memiliki anak. Bagaimanapun Jaejoong adalah istri Yunho kan? Jaejoong harus bisa menerima semua itu kecuali jika Jaejoong memang berniat untuk meninggalkan Yunho.

Asumsi Yunho itu membuatnya semakin jengkel. Ternyata hanya ia saja yang senang mendengar berita kehamilan Jaejoong itu, sedangkan Jaejoong tidak mau mengandung anak darinya. Sebenci itu kah Kim Jaejoong pada Jung Yunho?

"Yaaahh! Geumanhae!" kata Yunho sambil menahan tangan Jaejoong.

"Andwe. Biarkan aku mengeluarkannya Yunho. Dia tak boleh ada di sini" kata Jaejoong sambil memegang perutnya.

"Neo micheosso?! Kau tak bisa melakukan itu" kata Yunho.

"Aniii, aku harus bisa Yunho. Aku tak menginginkannya yun—" perkataan Jaejoong terhenti saat ia merasakan tamparan Yunho di wajahnya.

"Kau tak bisa melakukan itu pada anak ku. Aku akan menyiksamu jika kau berani melakukan itu Kim Jaejoong" kata Yunho emosi.

"Kau berani menamparku Jung Yunho? Kau yang sudah gila. Kita jelas-jelas belum siap untuk memilki anak" teriak Jaejoong. Ia merasa sakit hati akibat tamparan Yunho tadi.

"Belum siap katamu? Hah? Kau hanya mencari-cari alasan. Kau hanya tidak mau terkekang karena kehadiran anak itu kan? Kau tidak bisa lagi lepas dariku jika kita memiliki anak kan?" ucapan Yunho membuat Jaejoong diam seketika.

Tebakan Yunho memang tidak salah lagi. Jaejoong memang selalu memiliki keinginan untuk lepas dari Yunho. Ia merasa pernikahannya dengan Yunho sangatlah rapuh. Mereka menikah di saat yang tidak kondusif. Mereka juga membenci satu sama lain. Jaejoong membenci Yunho karena Go Ahra, ibu Yunho, membuat Hyunjoong meninggalkan Jaejoong dan Yunho tidak bisa sepenuhnya mencintai Jaejoong karena Jaejoong adalah alasan mengapa ia sendiri harus membuang Go Ahra dari keluarganya. Pernikahan mereka memang gila karena dari awal sudah tidak ada harapan dan di dasari oleh balas dendam.

"Nee, kau benar. Aku berharap untuk bisa lepas darimu, Jung Yunho" setelah lama saling diam akhirnya Jaejoong bersuara.

"Heh? Jangan harap kau bisa lepas dariku" kata Yunho sambil menatap Jaejoong tajam lalu keluar dari kamar.

Sejak hari itu hubungan Yunho dan Jaejoong semakin memburuk. Mereka terus saja melakukan perang dingin. Walaupun sering bertemu dan masih tidur di satu ranjang, mereka jarang berbicara satu sama lain. Jaejoong juga sering kali berusaha membahayakan kandungannya dengan meminum obat berbahaya. Untung saja Yunho selalu siaga dan siap sedia untuk mengantisipasi hal itu.

Selain itu Yunho tetap saja meminta jatah seks setidaknya dua kali sebulan. Mau tidak mau Jaejoong pasti akan melakukannya. Bagaimana tidak, setiap malam Yunho pasti merayunya dengan sentuhan-sentuhan di titik sensitive nya dan Jaejoong entah mengapa selalu tak bisa menolak. Ia pernah berpikir hal itu mungkin karena hormone kehamilan, namun sampai Changmin lahir pun, Jaejoong tetap saja tak bisa menolak sentuhan Yunho. Well, mungkin hal itu memang sudah ditakdirkan untuk Jaejoong.

End of flashback

Jaejoong selalu saja sakit hati dan menyesal saat mengingat awal kehamilannya itu. Ia merasa bersalah pada Changmin karena sempat menolaknya. Mungkin karena rasa bersalah itu juga yang membuatnya sedikit memanjakan Changmin dan tak pernah bisa menolak permintaan anak semata wayangnya itu. Jaejoong menyadari bahwa ia tidak akan bisa hidup tanpa Changmin.

Jaejoong kembali membalik halaman album foto dan menemukan foto lainnya. Di halaman foto itu terlihat Jaejoong dengan perut yang mulai membesar. Jaejoong ingat betul kapan foto itu diambil. Saat itu kehamilannya memasuki bulan ke lima dan ia memeriksakan kehamilannya di klinik Junsu.

Flashback 6 tahun lalu

"Katakan Kimchiii" kata Junsu sambil mengarahkan kamera ke arah Jaejoong.

Hari itu Jaejoong memeriksakan kehamilannya di klinik Junsu. Sebelum memeriksa kandungan Jaejoong, Junsu sempat memotret Jaejoong dengan alasan mencoba kamera yang baru ia beli dan mau tidak mau Jaejoong harus berpose untuknya.

Kehamilan Jaejoong memasuki bulan kelima dan kelihatannya masih sehat-sehat saja. Walaupun sudah beberapa kali Jaejoong mencoba untuk mengeluarkan bayi dalam perutnya itu, namun usahanya selalu saja gagal.

"Apakah kau merasakan ada yang aneh dengan perutmu? Apakah sering sakit?" tanya Junsu yang hanya di balas gelengan lemah Jaejoong.

"Aku mohon Jae setidaknya kau bisa lebih kooperatif" Junsu merasa gelengan lemah Jaejoong menandakan rasa tidak pedulinya pada bayi yang dikandungnya.

"Aku berusaha untuk kooperatif, uisa-nim. Aku tak memilki keluhan apapun" kata Jaejoong.

"Baiklah kalau begitu. Kita sebaiknya langsung saja melihat bayinya. Kau belum tahu jenis kelamin bayinya kan? Aku akan melakukan ultrasound" kata Junsu. Jaejoong mungkin adalah satu-satunya pasien yang tidak berniat melakukan ultrasound. Sudah beberapa kali Junsu mengusulkan untuk melakukan ultrasound namun Jaejoong lebih memilih menundanya. Jika Yunho tidak memaksanya untuk memeriksakan kehamilannya pun, Jaejoong tidak akan mungkin menemuinya di klinik hari ini.

"Tapi—" Jaejoong mulai mencari alasan untuk tidak melakukan ultrasound.

"Tidak ada tapi-tapian Nyonya Jung. Anda harus melakukannya karena ini penting" kata Junsu sambil menarik Jaejoong ke meja pemeriksaan. Dan melakukan beberapa prosedur agar mereka dapat melihat bayi Jaejoong.

"Kau lihat itu Jae" kata Junsu sambil menggerak-gerakkan alat ultrasound di permukaan perut Jaejoong.

"Hmm" Jaejoong hanya mengangguk lemah. Jujur ia merasa ada rasa hangat menelusup di dadanya melihat gambar ultrasound itu, belum lagi suara detak jantung bayinya membuat hati Jaejoong juga berdegup kencang mendengarnya. Walaupun begitu, Jaejoong tetap saja menghiraukan perasaan itu dan mencoba menutupinya dengan rasa tidak suka. Ia tak boleh lemah , jika ia lemah, ia tak akan pernah bisa lepas dari Yunho.

"Jaa, bayi mu berjenis kelamin laki-laki dan ini foto ultrasoundnya. Ia bayi yang kuat, ia tetap sehat walau kau mencoba menyakitinya" sindir Junsu yang tidak dibalas apa-apa oleh Jaejoong. Sejak tadi setelah melakukan ultrasound, istri Jung Yunho itu hanya diam saja.

"Ehhm, jadi apa Yunho akan menjemputmu?" tanya Junsu mencoba membuat Jaejoong berbicara.

"Ne, tapi katanya ia akan sedikit terlambat" jawab Jaejoong.

"Oh, kalau begitu kau bisa menunggu di ruang tunggu kan? Maaf aku tidak bisa menemanimu. Seperti yang kau lihat, banyak sekali pasien hari ini. Dokter Lee juga harus segera memakai ruangannya. Gara-gara kau tak mau di periksa oleh dokter lain, aku terpaksa harus meminjam ruangan dokter lain untuk ultrasound. Aku bahkan bukan dokter kandungan. Huh, kau ini. Kau harus mentraktirku makan ya kapan-kapan" kata Junsu sambil keluar dari ruang permeriksaan bersama Jaejoong.

"Nee, nee. Kau ini cerewet sekali" kata Jaejoong sambil tersenyum tipis.

Sesampainya di ruang tunggu, Jaejoong kembali teringat akan mimpinya semalam. Ia bermimpi bertemu Hyunjoong yang bermain dengan seorang anak laki-laki. Saat Jaejoong bertanya siapa anak itu, Hyunjoong menjawab bahwa anak itu adalah anak Jaejoong dan Yunho.

Sedari bangun pagi, Jaejoong benar-benar tidak bisa melupakan mimpi itu. Jaejoong merasa hal itu adalah pertanda dari Hyunjoong, namun ia tidak bisa begitu saja merubah pemikirannya hanya karena sebuah mimpi.

"Wah, sudah berapa bulan bu?" tanya seorang suster pada seorang wanita hamil yang kebetulan duduk di samping Jaejoong.

"Sudah tujuh bulan" jawab wanita itu sambil mengelus perutnya perlahan. Wanita itu kelihatan sangat bahagia.

"Sebentar lagi nee? Apakah anda sudah mempersiapkan keperluannya?" tanya suster itu lagi.

"Ne, sudah saya siapkan dari jauh hari. Kalau tidak salah dari bulan ke lima kehamilan saya. Akhir-akhir ini ia sering sekali menendang. Sepertinya anak ini hyper-aktif" jawab wanita hamil itu sambil terkekeh.

"Apakah yang dalam perutku juga akan menendang seperti itu?" Jaejoong yang sedari tadi mendengarkan percakapan itu hanya bisa bergumam pelan. Tanpa sadar ia juga mengelus perutnya.

Selama ini Jaejoong tidak pernah peduli dengan bayi yang di kandungnya. Yang ia pikirkan adalah bagaimana menyingkirkannya. Ia tak pernah memperhatikan apakah bayinya bergerak atau sudah sebesar apa bayinya dalam kandungan. Dan setelah mendengar perbincangan barusan, Jaejoong menjadi penasaran bagaimana keadaan bayinya dalam perut. Namun sekali lagi, ia menyingkirkan pemikiran itu, ia meyakinkan dirinya bahwa ia harus kuat dan tidak boleh ada hubungan dengan bayi yang di kandungnya itu jika ia mau lepas dari Jung Yunho. Setidaknya, jika Jaejoong tidak bisa menyingkirkan bayi itu saat dalam kandungan, Jaejoong bisa meninggalkan bayinya pada Jung Yunho tanpa ada perasaan apapun yang menahannya.

Jaejoong melirik jam tangannya dan menyadari ia sudah lima belas menit menunggu Yunho. Ia memutuskan untuk menunggu di taman depan klinik saja. Menunggu di dalam klinik lama-kelamaan membuatnya sumpek.

Sesampainya di taman, Jaejoong langsung tergoda oleh es krim yang di jual di taman. Entah mengapa sejak mengandung, napsu makan Jaejoong semakin bertambah. Hal itu itu juga membuat berat badannya naik beberapa kilo.

"Selamat menikmati, agashii" kata penjual es krim yang mengira Jaejoong adalah perempuan. Karena sudah terbiasa di perlakukan seperti itu, Jaejoong tidak menghiraukannya lagi. Lagi pula, rambutnya memang sudah agak panjang, pantas saja penjual es krim itu menganggapnya seorang perempuan.

Selesai membeli es krim, Jaejoong segera duduk di kursi taman untuk menikmati es krimnya.

"Chogio, sudah berapa bulan usia kandungan agashii" kata seorang kakek yang ternyata duduk juga duduk di kursi taman yang Jaejoong tempati.

"Ehh, hmm, sudah lima bulan haraboji" jawab Jaejoong sopan.

"Wah, kau kelihatannya masih sangat muda. Di mana suami mu?" tanya kakek itu lagi.

"Hmm, dia sedang berada di kantor. Aku menunggunya untuk menjemputku"

"Ah, nee. Maaf haraboji terlalu banyak bertanya" kata haraboji itu lagi.

"Gwencanhayo. Haraboji mau es krim?" tanya Jaejoong tiba-tiba. Dalam hati Jaejoong mengumpat kesal karena tindakannya yang bodoh itu. Mengapa ia menawarkan es krim rasa stroberi pada seorang kakek? Seharusnya ia menawarkan es krim pada seorang anak kecil. Lagi-lagi Jaejoong menyalahkan hormon kehamilan memang membuatnya jadi aneh.

"Ahahaha. Tidak usah. Aku sudah terlalu tua untuk itu dan aku tak bisa makan sesuatu yang dingin. Kau makanlah, sepertinya kau sangat menyukai es krim itu"

"Nee, aku sangat menyukai es krim ini. Neomu mashitta" kata Jaejoong sambil menunduk malu.

"Kau benar-benar menggemaskan. Pasti anak yang kau lahirkan juga akan sama menggemaskannnya denganmu" kata haraboji sambil tersenyum.

"Ne?"

"Aku tahu hal ini sedikit aneh, namun aku bisa membaca wajah. Dari wajahmu aku bisa melihat kau sedang menghadapi permasalahan yang cukup pelik. Namun hal itu bisa tertutupi oleh aura yang dipancarkan akibat kehamilanmu. Sepertinya anak yang kau kandung ini akan membawa perubahan yang besar untuk dirimu dan orang-orang di sekitarmu" jelas harabaji.

Jaejoong yang masih memikirkan perkataan haraboji itu hanya bisa diam.

"Maaf kalau aku berkata seperti itu. Aku harap kehamilan mu bisa berjalan dengan baik dan bayimu bisa sehat" tambah haraboji lagi.

"Jaejoong-ah aku mencari mu dari tadi" kata Yunho yang menghampiri Jaejoong dengan tergesa-gesa membuat Jaejoong tersadar dari lamunannya.

"Hmm, wasso?"kata Jaejoong.

"Ayo kita pulang" kata Yunho sambil menggenggam tangan Jaejoong.

"Haraboji, aku dan suami ku akan pulang lebih dulu" kata Jaejoong pada haraboji yang sedari dari hanya diam memandangi pasangan suami istri itu.

"Ah, ne, ne. Ini suamimu? Wah, kalian pasangan yang serasi" komentar haraboji.

"Nee, terima kasih haraboji" jawab Yunho

"Kalau begitu kami pulang dulu. Sampai jumpa haraboji" kata Jaejoong sambil membungkuk hormat lalu diikuti oleh Yunho.

"Siapa itu tadi?" kata Yunho saat mereka sampai di mobil.

"Haraboji itu yang menemaniku menunggu mu" kata Jaejoong singkat. Ia tak berniat menyudahi perang dinginnya dengan Yunho. Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya berdiam diri tak mempedulikan satu sama lain.

Malam itu, Yunho kembali menyentuh Jaejoong. Yunho membawa tangannya dan menyentuh nipple Jaejoong yang sangat sensitive. Jaejoong sudah berusaha menghindar namun tetap saja ia terlena dengan sentuhan Yunho. Jika sudah seperti itu Yunho langsung saja bergerak menuju kejantanan Jaejoong. Saat Jaejoong sudah siap Yunho mulai menyatukan tubuh mereka.

Saat sedang terbuai oleh percintaan mereka, tiba-tiba Jaejoong merasakan pergerakan dalam perutnya. Sebuah pergerakan tiba-tiba yang entah mengapa membuat perasaan Jaejoong membuncah dan hatinya menghangat saking bahagianya. Seperti sebuah kejutan yang menyenangkan.

"Yun, Yunho" kata berusaha menghentikan Yunho.

"Wae?" Yunho yang berusaha untuk mengikuti saran Junsu untuk lebih hati-hati dalam bercinta pun berhenti menggenjot hole Jaejoong.

"Di-di dia sepertinya bergerak"kata Jaejoong dengan mata berkaca-kaca sambil memegang perutnya.

"Maksudmu?" tanya Yunho bingung. Jaejoong bersikap sangat aneh. Tidak biasanya Jaejoong menangis tiba-tiba dengan alasan yang tidak jelas.

"Dia bergerak Jung Yunho" kata Jaejoong sambil meletakkan tangan Yunho yang besar dan hangat di permukaan perutnya. Airmata Jaejoong tak bisa di bendung lagi. Pergerakan kecil itu bisa membuat hatinya melonjak girang saking senangnya.

"Nee, dia bergerak Jae. Anak kita kita menendang-nendang dalam perutmu. Ia akan menjadi anak yang cerdas nantinya. Aku yakin itu" kata Yunho saat mengetahui apa yang Jaejoong maksudkan. Yunho merasa Jaejoong sudah mulai terbuka akan kehadiran anak mereka ini.

"Aegi?" tanya Jaejoong sambil menatap Yunho dengan mata berkaca-kaca penuh air mata.

"Ne, aegi. Uri aegi" angguk Yunho sambil menatap Jaejoong dalam.

Jaejoong yang mendengarnya hanya bisa menangis tersedu-sedu. Hari itu adalah titik paling penting di dalam hidup Jung Jaejoong. Ia akhirnya bisa mengerti dan menerima bayinya. Rasa sayang pada bayinya yang selalu ia tutupi akhirnya tidak bisa di sembunyikan lagi. Walaupun awalnya sempat terkejut dengan berita kehamilannya, Jaejoong tahu bahwa ia tidak bisa dan tidak akan pernah membenci bayinya.

End of flashback

Tanpa sadar cairan bening mengalir dari kedua mata Jaejoong. Jika mengingat tentang hal itu lagi, Jaejoong kembali teringat bagaimana berharganya Changmin untuk dirinya. Changmin adalah semangat terbesar dalam hidupnya dan benar saja Changmin juga membawa Jaejoong dan Yunho pada hidup yang lebih baik. Sejak mengandung Changmin, Jaejoong dan Yunho tidak pernah lagi berhubungan dengan dunia malam dan semacamnya. Dan hal lain yang paling penting adalah keberadaan Changmin lah yang membuat rumah tangga Yunho dan Jaejoong bertahan sampai saat ini.

Setelah menghapus air matanya, Jaejoong segera menutup album foto yang sudah ia lihat dan segera membuka album foto yang lain untuk mencari foto bayi milik Changmin yang menjadi tujuannya utamanya hari ini.

Ia segera meraih album lain yang tergeletak di situ. Saat membuka album besar tersebut, sebuah amplop usang tiba-tiba terselip jatuh dari album tersebut. Jaejoong terkejut melihat amplop itu. Bukannya ia tidak menyangka akan melihat amplop tersebut. Hanya saja amplop yang ia temukan itu bukanlah amplop sembarangan. Sudah lama sekali ia tak melihat amplop itu. Jaejoong bahkan berpikir bahwa ia sudah membuangnya.

Ya, amplop yang ia temukan adalah amplop berisi surat yang sempat Hyunjoong kirimkan padanya sebelum Hyunjoong memutuskan untuk meninggalkan dunia ini. Walaupun itu adalah surat terakhir Hyunjoong, Jaejoong tidak pernah berani membaca surat tersebut. Dulu Jaejoong terlalu takut dan pengecut untuk merasakan sakit hati yang kedua kalinya jika membaca surat itu karena itu ia berusaha untuk menyingkirkan surat itu.

Namun entah mengapa setelah sekian lama berlalu, walaupun rasa sedih itu masih ada, Jaejoong malah merasa penasaran setelah melihat kembali surat itu. Akhirnya, dengan tangan bergetar Jaejoong membuka amplop berisi surat itu secara perlahan.

Dear Jaejoong-ie…

Apa kabar? Apa kau merindukan hyung? Aku tahu kau pasti merindukanku. Jangan khawatir aku juga merindukanmu dan akan selalu merindukanmu.

Akhir-akhir ini semuanya terasa begitu berat untukku dan aku rasa aku tidak akan sanggup menghadapinya. Walaupun begitu aku akan berusaha untuk bertahan demi kau, ayah, dan ibu. Mungkin jika aku berusaha lebih dan lebih lagi semua akan baik-baik saja.

Hei, Jaejoong-ie aku ingin bertanya padamu. Apa kau pernah merasa sangat bersalah sampai-sampai kau tak bisa memaafkan dirimu sendiri? Aku mengalaminya sekarang. Rasanya sangat menyakitkan aku berharap perasaan ini akan hilang tetapi sepertinya perasaan ini cukup sulit untuk dihilangkan.

Hei, Jaejoong-ie dapatkah kau mengatakan padaku bahwa aku tidak bersalah? Sekali saja, aku mohon aku ingin mendengarnya. Walaupun itu hanya sebuah kebohongan, jika hal itu kau yang mengatakannya, rasa bersalah itu pasti akan hilang walau sedikit.

Ah, maafkan aku jika aku terdengar memaksamu melakukan hal itu. Jika kau tak mau melakukannya aku tak akan memaksa. Aku sadar bahwa memaafkan seseorang itu tidaklah semudah yang di bayangkan.

Karena itu aku berusaha untuk memaafkan orang lain dan ternyata memaafkan itu terasa begitu melegakan. Ya, Jaejoong-ie aku sudah memaafkan Go Ahra yang selalu kau hina di setiap surat balasan yang kau kirimkan untukku. Walaupun ia sudah mengkhianati ku, aku juga merasa terlalu bodoh karena sudah menunggunya walau ia jelas-jelas tidak mempedulikan ku lagi selama bertahun-tahun.

Hei, Jaejoong-ie walau memaafkan orang lain cukup sulit, tapi mengapa memaafkan diri sendiri terasa lebih sulit?

.

.

.

TBC

A/N:

Terima kasih untuk yang sudah review, fav dan follow. Maaf saya tidak bisa membalas reviewnya satu per satu. Sebelumnya saya minta maaf jika membutuhkan waktu lama untuk update ff ini. Untuk kedepannya update-an nya juga akan membutuhkan waktu lama jadi tolong dimaklumi.