CHAPTER 8
Title:Because You're The Chosen One – Maybe, Because You're Gullible
Author:nanaspineapple
Pairing:Yewook
Genre:Supernatural, drama
Rating:M
Disclaimer:Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Summary: Seorang vampir sudah pasti mencintai manusia yang sudah dipilih untuknya, namun si manusia belum tentu mencintai vampirnya. Tidak mudah untuk mencintai seorang vampir, tapi mereka harus mencintai satu sama lain..
"Kalau sudah berhubungan intim itu justru menandai bahwa hubungan kalian makin erat, lho, Hyung," ujar Hyukjae sambil menunjuk Jongwoon dengan kentang gorengnya, membuat Jongwoon tidak jadi menyesap kopinya walaupun bibir cangkirnya sudah dijepit di antara kedua bibirnya.
Jongwoon meletakkan cangkirnya di meja. "Ta-tapi.. semalam itu aku mabuk.."
"Sama saja. Mabuk atau tidak, tetap saja hubungan intim, kan." Hyukjae memasukkan kentang gorengnya ke dalam mulutnya dan mengunyahnya pelan-pelan.
Pagi ini saat terbangun, Jongwoon merasa kepalanya dipukuli palu besar. Hangover. Lalu ia sadar kalau ia telanjang—begitu juga dengan Ryeowook di sebelahnya. Saat ingatan semalam menghantam otaknya, ia cepat-cepat mandi dan pergi keluar, berusaha menenangkan diri, bertemu Hyukjae di jalan, dan memutuskan untuk sarapan dengannya.
"Aahh.. harus bilang apa aku pada Ryeowook kalau pulang nanti." Jongwoon menggaruk-garuk kepalanya sambil menggeram. Hyukjae menatapnya sambil tersenyum geli.
"Perasaanmu berbelit-belit sekali, sih, Hyung. Bilang saja kalau kau mencintainya dan tidak akan ada lagi masalah di antara kalian."
"Masalahnya adalah, aku belum bisa menerima kenyataan soal vampir ini! Ini membuatku gila!"
Hyukjae bersedekap dan bersandar di kursinya, menatap Jongwoon sambil menaikkan satu alisnya. Ia ingat masalah-masalah yang dihadapinya saat ia harus menerima kenyataan bahwa Donghae adalah seorang vampir. Namun ia sudah terlanjur mencintainya, dan yang harus dilakukannya adalah menjalaninya saja.
"Hyung," ujar Hyukjae, "semua jadi masalah justru karena kau tidak bisa menerima kenyataan ini. Coba kau jalani saja, nikmati saja, terima saja apa yang terjadi padamu. Aku tahu, aku yakin kau sudah terbiasa dengan kehadiran Ryeowook di hidupmu. Aku tahu kau menyukainya karena itu takdirmu. Tapi kau masih keras kepala dengan bilang kalau dia mengganggu hidupmu. Kalau kau terus-terusan mengatakannya kau akan pusing sendiri, Hyung."
"Memangnya dulu kau sendiri bagaimana dengan Donghae?"
Hyukjae tertawa. "Aku? Dengan Donghae? Ryeowook atau Donghae belum pernah cerita padamu, ya? Dulu saat awal Donghae datang ke dunia manusia itu insting vampirnya entah kenapa belum tumbuh atau semacamnya. Jadi ia mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai pembersih studio dance tempat aku latihan. Karena aku sering latihan sendiri sampai malam, aku sering bertemu dengannya. Akhirnya kami bersahabat dan jadi sering jalan-jalan bareng tanpa tahu kalau dia vampir dan aku adalah jodohnya. Saat akhirnya insting vampirnya muncul, dia mengatakan semuanya padaku. Kalau dia vampir. Kalau aku Yang Terpilih. Karena aku juga sudah suka padanya, aku terima saja kenyataan yang ada tanpa banyak ambil pusing."
Jongwoon menelengkan kepalanya. "Cerita yang agak aneh."
"Memang aneh, tapi kalau dikenang rasanya menyenangkan sekali. Aku jadi ingin mengulang masa-masa kami masih bersahabat dulu."
"Kau lebih suka jadi sahabat daripada jadi pacarnya?"
"Ya, bukan begitu maksudku. Dulu dia masih sangat polos."
"Tunggu, berapa lama kalian bersahabat sebelum dia mengaku kalau dia vampir?"
"Hmm.. hampir sebulan."
"Lalu selama itu dia minum apa? Vampir kan harus minum darah manusia dulu sebelum bisa makan makanan manusia? Bagaimana dia bisa bertahan hidup selama itu?"
Hyukjae terdiam. "Iya, ya. Kok, aku tidak pernah kepikiran. Nanti aku coba tanyakan, deh." Hyukjae mengambil sebatang kentang goreng sebelum menatap Jongwoon lagi. "Hyung, sekarang kau pulang dan perjelas masalah dengan Ryeowook."
"Tapi aku harus bicara apa? Aku juga tidak tahu dia mau bicara denganku atau tidak."
Hyukjae mengunyah dan menelan kentang gorengnya sebelum bicara. "Coba ajak berduaan dulu. Diamkan dulu 10 menit. Nanti baru ajak dia bicara pelan-pelan. Ryeowook itu anak baik, kok. Dia pasti mau mendengarkan."
"Ya, sudah. Akan aku coba." Jongwoon mengambil jaketnya yang disampirkan di sandaran kursi dan memakainya, lalu berdiri. "Aku pulang duluan, ya. Semuanya nanti aku yang bayar."
"Lho?" Hyukjae mengangkat kepalanya. "Tidak usah, Hyung. Aku bayar sendiri saja."
Jongwoon tersenyum. "Tidak apa-apa. Anggap saja rasa terimakasihku karena sudah mau mendengarkan."
"Ya, sudah. Daah, Hyung." Hyukjae melambai pelan.
"Dah. Nanti aku telepon." Jongwoon balas melambai dan pergi.
Jongwoon berjalan ke arah kasir dan membayar, lalu keluar toko. Hyukjae mengambil satu lagi kentang gorengnya, namun sebelum ia sempat menggigitnya, ponselnya berdering, ada yang menelepon. Sambil mendecak kesal, ia mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan salah satu alisnya terangkat saat melihat Donghae meneleponnya.
"Halo. Ini Hyukjae."
"Kau di mana?"
"Masih sarapan. Kenapa?"
"Pulang sekarang, dong!"
"Ada apa?"
"Ryeowook mampir ke rumah."
Hyukjae melirik bangku tempat Jongwoon duduk tadi. "Telat," gumamnya.
"Apa?"
"Tidak. Aku pulang sekarang."
"Cepat, ya!"
"Iya, iya.."
oooooooooooooo
Saat Hyukjae sampai di apartemennya, Ryeowook sedang minum teh dengan Donghae. Hyukjae duduk di sebelah Donghae dan meminum teh yang sudah disiapkan Donghae untuknya. Mata Hyukjae tidak bisa lepas dari Ryeowook.
"Kim Ryeowook," panggil Hyukjae. Ryeowook mengangkat kepalanya dan menatap Hyukjae. "Kau ke sini.. jalan kaki?"
Wajah Ryeowook terlihat bingung. "Iya, aku jalan kaki. 'Kan tidak ada yang mengantar. Memangnya kenapa?"
"Kau bisa jalan?"
"Tentu saja."
"Tidak sakit?"
"Apa yang sakit?"
Hyukjae menatap Ryeowook tidak percaya, lalu menatap Donghae bingung. "Dulu waktu kita pertamakali begitu, kau tidak bisa jalan seharian, 'kan," bisik Hyukjae.
Donghae mengernyit bingung. "Apa?"
"Eh?" Hyukjae kembali menatap Donghae dan Ryeowook bergantian. "Kalian belum bicara apa-apa?"
"Belum ada. Hanya basa-basi. Tapi Ryeowook bilang ingin mengatakan sesuatu yang serius, makanya aku suruh kamu pulang. Dan ini ada hubungannya dengan Jongwoon Hyung," jelas Donghae.
"Pantas. Tapi, soal itu." Hyukjae bersedekap sambil bersandar di sandaran sofa. "Tadi aku bertemu Jongwoon Hyung. Dia sudah menceritakan semuanya padaku."
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Donghae.
"Mereka berdua ini tadi malam sepertinya 'bertengkar' di kasur," jawab Hyukjae, agak menyeringai. Donghae membelalak kaget.
Ryeowook mengernyit. "Apa? Kami tidak bertengkar, kami—"
"Itu hanya perumpamaan," potong Hyukjae.
"Oh."
"Ba-bagaimana bisa?" tanya Donghae sambil melotot ke arah Ryeowook.
"Tidak tahu. Waktu Jongwoon pulang, dia sempoyongan. Dia lalu mandi, tapi mandinya belum selesai, dia sudah keluar duluan, katanya pusing. Tapi aku belum minum darahnya dari sore jadi aku minta dia cepat mandi supaya aku cepat minum darahnya juga. Lalu tahu-tahu dia menggigit bibirnya sampai berdarah, jadinya aku menghisap darahnya dari bibirnya. Setelah itu dia mendorongku ke kasur dan—"
"Stop!" potong Hyukjae. "Kami tahu kelanjutannya. Tidak perlu dilanjutkan." Ryeowook mengangguk. "Dia bilang padaku kalau tadi malam dia mabuk, makanya dia melakukannya."
"Mabuk?"
"Dia minum alkohol dan itu mengambil alih kesadarannya, makanya, mungkin dia tidak benar-benar sadar saat melakukannya. Padahal, sebenarnya, manusia melakukan itu kalau saling mencintai."
Ryeowook terdiam. "Berarti.. itu artinya dia belum mencintaiku, iya kan?"
"Jangan berpikir begitu. Dia akan mencintaimu. Pasti," bantah Hyukjae.
"Benar. Sekeras kepala apapun dia sekarang, dia sebenarnya sudah mencintaimu. Tenang saja," tambah Donghae. Tapi wajah Ryeowook masih terlihat ragu.
"Lebih baik kau pulang saja, tadi aku sudah menyuruh Jongwoon Hyung untuk bicara denganmu. Besok 'kan sudah Senin, kalau dia sibuk, nanti kalian tidak sempat membicarakan ini," suruh Hyukjae.
"Baiklah. Aku pulang sekarang. Terimakasih, ya," ujar Ryeowook sambil agak membungkuk sedikit, lalu keluar. Hyukjae menghela napas.
"Susah sekali menyatukan dua orang itu," keluh Hyukjae. "Jongwoon Hyung gengsian, sih."
Donghae hanya mengangguk. Mereka terdiam sebentar, dan tiba-tiba Donghae mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
oooooooooooooo
Ryeowook berjalan pelan-pelan menyusuri trotoar sambil menunduk, tidak yakin ingin pulang sekarang. Saat ia bangun, Jongwoon sudah tidak ada di sebelahnya. Ia langsung mencuci seprai yang basah lalu mandi karena badannya lengket. Ia tidak tahu mau bicara apa pada Jongwoon setelah apa yang mereka lakukan semalam.
Ryeowook menghentikan langkahnya dan memutar, tidak jadi langsung pulang ke apartemen Jongwoon. Meskipun ia lemas karena belum minum darah pria itu, tapi ia butuh menenangkan diri terlebih dahulu.
Taman di dekat stasiun jadi tempat pilihan Ryeowook. Ia duduk di salah satu bangku dan menatap sekumpulan anak yang sedang bermain bola. Tapi tak lama kemudian ia bosan, dan akhirnya hanya bermain dengan jarinya.
Setelah sekitar tiga jam duduk di sana, seorang pria tinggi menghampirinya.
"Kau Kim Ryeowook?" tanya pria itu.
"Iya," jawab Ryeowook tanpa curiga.
Pria itu menyeringai.
oooooooooooooo
Jongwoon membanting remote tv dengan kesal. Ryeowook masih belum pulang. Padahal ia sudah menelepon Hyukjae yang mengatakan bahwa Ryeowook sudah pulang sejak pagi. Ini sudah jam sepuluh malam dan tidak ada tanda-tanda Ryeowook ada di rumah. Entah sudah berapa puluh kali Jongwoon menelepon ponsel Ryeowook tapi tidak diangkat.
"Jangan-jangan dia marah padaku.. bagaimana ini.." keluh Jongwoon sambil mengacak-acak rambutnya. Ia mematikan tv dan mematikan laptop yang ia lupa matikan setelah mengerjakan tugas kuliahnya dua jam yang lalu. Jongwoon melirik jam dinding sekali lagi sebelum melompat ke kasur dan tertidur.
oooooooooooooo
Bangun tanpa Ryeowook di rumah bukanlah hal yang Jongwoon harapkan, tapi sayangnya memang itulah yang terjadi. Dan saat ini, rasa kesalnya kemarin berubah penuh menjadi rasa khawatir. Ryeowook tidak bisa dihubunginya, Hyukjae dan Donghae mengaku tidak tahu dan bahkan sudah membantunya mencari Ryeowook, namun hasilnya nihil. Itulah kenapa Jongwoon berangkat kuliah dengan tidak bersemangat.
"Sayangnya Donghae tidak bisa diharapkan," ujar Hyukjae saat sedang makan siang di kantin dengan Jongwoon, "biar bagaimanapun sebentar lagi aku akan bertransformasi, jadi kekuatan vampir milik Donghae semakin berkurang. Sebenarnya mereka punya satu saudara lagi, kalau tidak salah namanya Kim Kibum, yang sayangnya adalah nama pasaran, dan Donghae tidak pernah memperkenalkannya padaku jadi aku tidak tahu."
"Kalau begini lama-lama aku yang mati," keluh Jongwoon, "Ryeowook belum minum darahku sejak kemarin."
"Jangan egois begitu," tegur Hyukjae, "kalian saling membutuhkan untuk tetap hidup."
"Lalu sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak punya petunjuk samasekali." Jongwoon mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan.
"Berdoa saja penculiknya meneleponmu," ujar Hyukjae.
Jongwoon mengangkat kepalanya dan mengernyit menatap Hyukjae. "Darimana kau tahu kalau dia diculik?" tanya Jongwoon curiga.
Hyukjae mengedikkan bahu. "Hanya perkiraan sementara saja. Aku merasa Ryeowook bukan orang yang akan marah sampai tidak mau pulang seperti ini. Jadi satu-satunya kemungkinan, ya, diculik," jelas Hyukjae.
Jongwoon berpikir sebentar. "Iya juga, sih," ujarnya ragu.
Setelah selesai makan siang, Jongwoon melanjutkan kelasnya dalam keadaan yang semakin suram. Teman-temannya bingung dan menjauhinya. Sepanjang pelajaran, ia hanya diam dan memperhatikan langit-langit kelas dengan tatapan kosong. Berkali-kali dosennya menegurnya karena tidak memperhatikan. Namun kemampuan Jongwoon di bidang seni suara yang sangat baik membuatnya bisa menjawab semua pertanyaan mendadak dosennya dengan tepat.
Di tengah lamunannya yang kesekian kali, tiba-tiba ceruk lehernya berdenyut dan terasa sakit. Ia mendesis dan mengambil ponselnya, menyalakan kamera depan untuk melihat lehernya. Ia membelalak saat lukanya perlahan-lahan berubah menjadi merah. Baru lima detik melihat lukanya itu, ponselnya bergetar, nomor tidak dikenal menelepon. Ia menunduk sampai kepalanya nyaris sejajar dengan meja agar tidak ketahuan.
"Halo?"
"Halo."
"Siapa ini?"
"Kau tidak perlu tahu. Yang penting aku tahu kalau kau Jongwoon, dan Ryeowook—"
"Kau tahu di mana Ryeowook?!" tanya Jongwoon kaget, namun sebisa mungkin tetap bersuara pelan.
"Lebih tepatnya, akulah yang menyebabkan ia tidak pulang ke rumahmu."
Perkiraan Hyukjae benar, pikir Jongwoon, Ryeowook diculik. "Di mana dia sekarang?" tanya Jongwoon, mulai panik.
"Ah? Bukankah kau sedang sekolah sekarang? Maaf mengganggumu, teleponnya akan kututup, jadi—"
"Katakan di mana Ryeowook sekarang!" desak Jongwoon.
"Reruntuhan pabrik di belakang kawasan pabrik Seoul. Di barat, Bekas gudang."
Jongwoon langsung menutup teleponnya, lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu. Dosennya langsung memelototinya.
"Kim Jongwoon! Apalagi yang mau kau lakukan?! Bengong sepanjang pelajaran dan sekarang mau keluar seenaknya?!"
Tapi Jongwoon tidak menggubrisnya dan mempercepat langkahnya keluar wilayah kampus. Beruntung, ada sebuah bis yang sedang berhenti saat ia sampai di halte. Ia melompat ke dalam dan menyuruh supirnya untuk mengendarai lebih cepat.
Jongwoon sampai di kawasan pabrik Seoul dan langsung mengikuti letak matahari yang telah menunjukkan arah Barat. Ia berjalan cepat ke bagian luar kawasan pabrik dan mendapat tatapan bingung dari pegawai pabrik yang bekerja di luar. Ia tidak peduli dan terus berjalan ke arah Barat.
Sesampainya di bangunan pabrik yang sudah tidak terpakai, ia masuk ke dalam dan tetap berjalan ke arah Barat, menuju gudang. Bekas bangunan itu hanya tinggal tembok dan tidak beratap. Mesin-mesin pun sudah tidak ada di sana. Jongwoon melewati pintu gudang dan tangannya terkepal.
Saat ia masuk ke gudang itu, ia mendapati Ryeowook sedang diikat di sebuah kursi, selembar kain tebal dijepit di antara giginya dan diikat kuat di belakang kepalanya yang membuatnya tidak bisa bicara, matanya bengkak dan Jongwoon berasumsi Ryeowook telah menangis lama. Mata Jongwoon langsung tertuju pada tangan kiri Ryeowook yang dibiarkan terkulai, pergelangan tangannya diiris dan darah mengucur deras dari sana. Belum sempat Jongwoon berpikir banyak mengenai hal itu, matanya menangkap sosok pria yang berpakaian serba hitam dan berdiri di belakang Ryeowook sambil menyeringai ke arah Jongwoon.
"Kau Kim Jongwoon," ujar pria itu.
"Ya, aku Jongwoon. Apa urusanmu dengan Ryeowook?"
"Kalau aku ada urusan dengan anak ini, itu berarti ada hubungannya denganmu juga," jawabnya. "Sebelumnya, biarkan aku memperkenalkan diri. Aku Lee Sungmin, vampir asisten Para Tetua yang dikirim ke sini untuk menyelesaikan masalah kalian."
Jongwoon mengernyit. "Masalah siapa? Kami?"
"Ya, kudengar anak ini mengalami masalah denganmu. Namun, kau yang bermasalah. Kau tidak bisa menerimanya sebagai jodohmu sekuat apapun dia berusaha meyakinkanmu. Kau menyangsikan perasaanmu sendiri. Padahal kau sebenarnya sudah mencintainya. Kenapa harus gengsi? Toh tidak ada yang tahu. Apa susahnya mengakui perasaanmu sendiri?"
Tangan Jongwoon mengepal. "Kau tidak mengerti perasaan manusia."
"Bukannya aku tidak mengerti, tapi vampir dan manusia memang butuh waktu yang lama untuk saling mengerti." Sungmin lalu merogoh kantung celananya dan mengambil sebuah botol kecil berisi gel berwarna biru, yang sekilas terlihat seperti gel rambut. "Kudengar kau pernah ingin menghilangkan luka di lehermu," ujar Sungmin.
"Ya, memang. Ada apa dengan itu?"
"Karena aku kemarin dari tempat Para Tetua langsung ke sini," ujar Sungmin sambil memutar botol itu di tangannya, "aku bawa cairan yang asli."
Mata Jongwoon dan Ryeowook membelalak bersamaan. Jongwoon menatap botol itu dengan tidak percaya, sementara Ryeowook terlihat akan menangis lagi melihat Jongwoon yang terlihat berusaha memutuskan. Sungmin menyeringai dan melempar botol itu ke arah Jongwoon. Jongwoon menangkapnya dan menantapnya ragu. Ryeowook langsung menggelinjang panik, kaget karena tiba-tiba Jongwoon memegang botol itu.
"Perjalananmu dari kampus ke sini sekitar dua jam," Sungmin memulai, "dengan kata lain, sudah dua jam sejak aku mengiris pergelangan tangan anak ini. Sudah dua jam darah mengalir dari pergelangan tangan itu. Sebenarnya yang ingin kukatakan itu adalah, aku sedang membunuhnya perlahan-lahan. Kalau kau ingin membunuhnya lebih cepat, gunakan cairan di dalam botol itu. Tumpahkan ke jarimu dan oleskan ke lehermu. Kim Ryeowook akan mati dan hubungan kalian akan berakhir begitu saja, dan setelah itu kau bisa pulang dengan tenang. Bagaimana?" seringai Sungmin makin lebar.
Jongwoon memandang botol di tangannya dengan ragu. Ia menggigit bibirnya dengan keras, berusaha memutuskan.
"Lakukanlah," ujar Sungmin, "lakukanlah kalau kau memang tidak mencintainya."
Ryeowook semakin panik, matanya mulai basah, dan setetes air matanya mengalir ke pipinya saat tangan Jongwoon terangkat dan memutar tutup botol kecil itu. Ryeowook pada akhirnya hanya diam dan menatap Jongwoon lekat-lekat, menunggu, masih dengan air mata yang mengalir. Jongwoon membuang tutup botolnya ke tanah, lalu menatap Ryeowook yang juga sedang menatapnya dengan sedih.
"Sebenarnya aku juga tidak ingin melakukan ini," ujar Jongwoon dengan sedih. Ryeowook makin diam. Tubuhnya langsung lemas, pasrah dengan keputusan Jongwoon.
Namun tanpa diduga, Jongwoon membalik botol itu sampai semua isinya tumpah ke tanah, lalu menjatuhkan botolnya dan menginjaknya dengan keras di bawah sol sepatunya sampai pecah berkeping-keping. Ryeowook membelalak. Jongwoon menatap Sungmin tajam.
"Aku tidak butuh itu. Aku mencintai Ryeowook, Kim Jongwoon mencintai Kim Ryeowook, kau dengar itu?! Lepaskan dia sekarang!" bentak Jongwoon.
Sungmin tersenyum puas, lalu melepaskan ikatan di badan dan di mulut Ryeowook dan menghilang dalam kabut lembut. Jongwoon cepat-cepat menghampiri Ryeowook dan Ryeowook jatuh di pelukan Jongwoon. Jongwoon menggigit bibir bawahnya sendiri sampai berdarah dan mencium Ryeowook, membiarkan vampir itu menghisap darahnya sebanyak yang ia butuhkan. Mereka bertahan di posisi itu selama hampir dua menit, dan saat mereka saling melepas bibir, luka di pergelangan tangan Ryeowook juga sudah menutup. Mereka saling menatap dan Ryeowook mulai menangis, lalu memeluk Jongwoon erat-erat.
oooooooooooooo
Setelah tiga jam perjalanan dari pabrik, Jongwoon dan Ryeowook akhirnya sampai di apartemen Jongwoon. Karena lelah, Jongwoon langsung berbaring di atas kasur dan Ryeowook duduk di tepi kasur. Jongwoon menutup matanya dan mengatur napasnya.
"Jongwoon," panggil Ryeowook.
"Hmm," sahut Jongwoon pelan.
"So-soal kata-katamu tadi.."
Jongwoon membuka matanya perlahan, lalu menatap Ryeowook. "Untuk yang kali ini aku serius. Aku yakin dengan kata-kataku tadi. Makanya.. kau juga tidak perlu ragu denganku lagi. Aku sudah menerimamu. Kau milikku dan aku mengakuinya."
"B-benarkah?"
Jongwoon menarik tangan Ryeowook dengan cepat sampai tubuh Ryeowook menghantam kasur, lalu menarik pinggang vampir itu dan memeluknya sedekat mungkin. Ryeowook membelalak, kaget dengan perlakuan tiba-tiba dari Jongwoon. Jarak hidung mereka tidak sampai 2 cm, dada mereka saling menempel dan bahkan Jongwoon masih memeluk pinggang Ryeowook erat-erat, mata Jongwoon menatap Ryeowook tajam.
"Kok, kau jadi tidak percaya padaku? Aku perlu mengatakannya berapa kali, hah?" tanya Jongwoon serius.
"Bukan – bukan begitu, hanya saja ini terlalu mendadak, jadi—"
Kalimat Ryeowook tidak sempat selesai karena Jongwoon sudah keburu menciumnya dengan lembut. Pada awalnya Ryeowook memang kaget dan diam saja, tapi tak lama kemudian, ia menangkupkan wajah Jongwoon dengan tangannya. Jongwoon menelengkan kepalanya, mencari angle yang tepat. Tidak lama, Jongwoon melepas bibirnya dan menempelkan dahinya ke dahi Ryeowook dan mereka tersenyum bersama.
"Aku ulangi lagi, Kim Ryeowook," ujar Jongwoon, "aku mencintaimu."
Kali ini Ryeowook tersenyum malu dan memeluk leher Jongwoon erat-erat untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
oooooooooooooo
Setelah insiden penculikan Ryeowook di hari Senin, semua hal langsung terasa normal bagi Jongwoon. Kuliahnya tidak tercecer dan pekerjaannya bisa diselesaikannya dengan baik. Berangkat dan pulang dengan Ryeowook di rumah akan menjadi hal yang biasa lagi.
Hari Rabu, Ryeowook menjemput Jongwoon ke kampusnya. Jongwoon sudah minta ijin untuk cuti kerja dan berjanji akan mengajak Ryeowook pergi kencan. Banyaknya tugas kuliah dan kegiatan kampus di akhir minggu membuat Jongwoon terpaksa memilih kencan di hari kerja. Namun, Hyukjae justru mengajaknya ke taman.
"Aku mau kencan dengan Ryeowook, aku sudah pesan tempat—"
"Ikut saja dulu, Hyung," potong Hyukjae. "Sebentar, kok."
Sebagai senior yang baik, Jongwoon menuruti keinginan Hyukjae. Ryeowook mengatakan ia tidak keberatan, namun sebenarnya ia agak kecewa. Namun ketika melihat vampir yang menculiknya ada di taman dan mengobrol dengan Donghae, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pria tinggi yang membawanya ke pabrik juga ada di sana. Si Pria Tinggi itu tidak lain adalah Cho Kyuhyun, yang juga membuat Jongwoon kaget.
"Tunggu dulu!" suara keras Jongwoon membuat yang lain menatapnya bingung. "Apa maksudnya ini?"
"Hai, Hyung," sapa Kyuhyun sambil mengangkat tangannya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Jongwoon sewot.
"Memangnya kenapa?" Kyuhyun balik tanya, ikut-ikutan sewot.
"Sebenarnya begini, lho, Hyung," ujar Hyukjae sambil menyatukan telapak tangannya di depan mulutnya secara vertikal. "Sebenarnya.. penculikan Ryeowook hari Senin kemarin itu.. rencanaku dan Donghae."
"APA?!" teriak Jongwoon dan Ryeowook bersamaan.
"Maafkan kami, tapi.. kami benar-benar ingin menyatukan kalian dan merasa tidak ada cara lain, jadi.." Donghae menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
Jongwoon menatap Sungmin dengan serius. "Lalu.. Lee Sungmin, ini sebenarnya…"
"Ah, aku hanya vampir biasa," aku Sungmin. "Soal utusan Para Tetua dan yang lainnya itu bohongan. Semuanya aku dengar dari Hyukjae dan Donghae."
"Dia vampirku, lho, Hyung," ujar Kyuhyun (yang sebenarnya lebih terdengar seperti pamer daripada berujar) sambil merangkul Sungmin.
"Pantas saja kau ada di sini, astaga.." Jongwoon menepuk dahinya. "Berarti, cairan penghilang luka yang kemarin juga.."
"Yap, itu juga bohong," ujar Sungmin sambil mengangguk.
Jongwoon menghela napas dengan frustasi. "Kenapa sih kalian para vampir lagi-lagi mengerjaiku..?" tanya Jongwoon lelah.
"Mungkin, karena kau gampang ditipu," jawab Hyukjae sambil tertawa kecil.
Jongwoon memanyunkan bibirnya dengan kesal, lalu menarik tangan Ryeowook dan melangkah dari sana. "Tahu, ah! Ayo, Ryeowook! Kita pergi sekarang!"
"Waah, selamat berkencan, ya~" Kyuhyun melambaikan tangannya.
"Sukses, ya, Hyung! Fighting!" Hyukjae menambahkan.
A/n:Chapter terpanjang dalam sejarah (?) cerita ini! 3100 kata coy! Tadinya pengen sekitaran 2500 kata seperti biasa, tapi kok masih banyak yang pengen ditulis. Yaudah saya ikutin aja otak dan jari saya. Jadinya ternyata 600 kata lebih banyak. Well, it's worth it. Lagian, ini kan chapter terakhir sebelum epilog, jadi patut dipanjangin xD
Pas saya ngedit, saya sendiri mikir 'kok jadi gini' gitu. Saya tuh pengen banyakin Kyuminnya, tapi kayaknya otak dan jari ga bisa diajak kompromi, yaudah deh, jadinya begini.
Sepertinya saya jadi mengecewakan banyak orang /halah/ dalam cerita ini TT maaf lho yaa
Btw soal chapter kemaren xD begitu saya ganti rate jadi M, banyak pembaca baru berdatangan xDD dasar kalian semua yadong! wkwk
Saya sudah menduga kalau review-review yang berdatangan isinya bakal mengkritik adegan NC yang kurang hot, wawaw -_- ternyata takdir saya bukan jadi penulis NC, padahal saya pengen banget bisa /plak/ yaudalah saya kapok, gamau nulis NC lagi yey .-.
Kita bertemu lagi di epilog! Tunggu, yaaa~
Makasih buat yang udah nyempetin baca, terutama yang nyempetin review :B
