Immortal Life (Sekuel My Mortal Mate)

Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto. But This Story is Mine!

Pair : Uchiha Sasuke x Haruno Sakura (Slight YahikoSaku)

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Tragedy, Mistery

Rated : T+

Warning! : Typo, Gaje, OOC, dan Sebangsanya! Diharapkan membaca fic saya yang berjudul 'My Mortal Mate' terlebih dahulu!

-Happy Reading! Dilarang mengcopas tanpa seijin author-

.

.

Chapter 9

.

.

Itachi dan Sasuke melesat cepat menyusuri hutan menuju tempat tujuan mereka. Kegelapan di pagi buta ini tak menghalangi langkah kedua pemuda itu. Sedari tadi, tak ada satupun pembicaraan yang mengisi keheningan diantara mereka. Gaara tak bersama mereka. Pemuda Sabaku itu kembali ke tempat tinggalnya untuk meminta bantuan dan juga menemui kakaknya –Temari, karena ia pergi dengan tiba-tiba.

Itachi melirik Sasuke dari ekor matanya. Wajah pemuda itu sekilas memang terlihat datar, namun Itachi yang sudah lama mengenal bahkan bersama Sasuke bisa melihat raut panik dalam wajah pemuda itu.

'Bahkan sharingannya masih aktif.' Batin Itachi kala melihat mata sharingan milik adiknya itu.

"Matamu akan lelah jika kau terus mengaktifkan sharinganmu seperti itu." Itachi berucap tenang. Matanya sesekali melirik Sasuke yang diam tak merespon.

Itachi tersenyum. Mata Sasuke kembali menampakkan onyx sekelam malam miliknya. Dalam hati Itachi merasa senang. Meski Sasuke sama sekali tak membalas perkataannya, setidaknya adiknya itu masih mau mendengar dan menuruti perkataannya.

Tap Tap

"Sudah sampai."

Sasuke dan Itachi menghentikan langkah mereka didepan sebuah kastil tua yang tak begitu besar. Pintu besar kastil itu terbuka perlahan. Menampakkan sosok bersurai abu-abu yang menyambut kedatangan mereka.

"Ah tuan Orochimaru benar. Kalian akan datang." Sasuke memandang tak acuh sosok bersurai abu-abu dengan kacamata didepannya ini. Ia tak tertarik untuk berbasa-basi sekarang. Yang ia inginkan adalah segera bertemu dengan orang yang bisa mengungkap masa lalu Sakura-nya. Dan firasatnya mengatakan bahwa pria berkacamata itu bukanlah orangnya.

"Aa. Ayo kita masuk Sasuke." Itachi melangkah tenang mengikuti Kabuto –Pria bersurai abu-abu dengan kacamata yang menuntunnya memasuki Kastil tua ini. Sementara Sasuke, pemuda itu mengikuti langkah Itachi dan Kabuto yang berjalan didepannya dalam diam.

"Ah, selamat datang Uchiha. Aku sudah menunggu kedatanganmu." Sasuke memandang penuh selidik kearah sesosok pria yang kini tengah menyeringai memandangnya.

"Bagaimana kau tahu kami akan datang Orochimaru?" Itachi memandang datar Orochimaru yang menatap Sasuke penuh minat dengan seringainya. Melihat bahwa tuannya tak berniat memberi jawaban, Kabuto bernisiatif menjelaskannya pada Itachi.

"Tuan Orochimaru merasakan aura kalian." Orochimaru berhenti menatap Sasuke. Matanya yang terlihat seperti mata ular itu kini memandang Itachi.

"Seperti yang Kabuto katakan. Aku merasakan aura Uchiha yang begitu kuat mendekati kastilku." Orochimaru melirik Sasuke yang kini mengalihkan tatapannya dari Orochimaru.

"Aku bisa merasakan auramu yang begitu menyeramkan. Apa yang kau inginkan bocah Uchiha?" Itachi ikut melirik Sasuke yang tengah memandang tajam Orochimaru. Sepertinya mempertemukan Orochimaru dengan Sasuke adalah hal yang buruk. Sasuke tampak ingin menghajar lelaki tua itu.

"Jangan membuatnya berbasa-basi denganmu Orochimaru. Kami kesini ingin mencari tahu asal usul seseorang." Orochimaru mendengus. Uchiha memang selalu to the point.

"Ikuti aku." Sasuke dan Itachi berjalan dengan tenang dibelakang Orochimaru dan Kabuto. Mereka sama sekali tak tertarik dengan berbagai patung dan relief ular yang menghiasi dinding kastil ini. Yang ada dipikiran mereka saat ini hanyalah mencari tahu kebenaran tentang Sakura dan mencari gadis itu.

Itachi memperhatikan Kabuto yang tengah mengambil beberapa tumpuk buku dari salah satu rak yang ada di ruangan ini. Tempat ini terlihat seperti sebuah perpustakaan. Dan Itachi menduga bahwa buku-buku itu berisi data dan informasi mengenai klan-klan vampire yang ada.

"Jadi, asal-usul siapa yang ingin kalian ketahui?" Orochimaru memandang Sasuke. Pria itu seolah tahu bahwa Sasukelah yang berkepentingan disini.

"Haruno Sakura." Orochimaru menaikkan sebelah alisnya. Ia sama sekali tak pernah mendengar nama atau klan itu.

"Dia vampire newborn yang dulunya adalah seorang manusia." Itachi sedikit memberi penjelasan mengenai Sakura kala mata onyxnya menangkap kebingungan dalam raut wajah Orochimaru.

"Jadi? Apa yang aneh dari seorang vampire newborn sepertinya?" Orochimaru masih belum paham mengenai masalah yang diberikan oleh kedua pemuda Uchiha didepannya ini.

"Ia mengubah kakaknya menjadi vampire setelah mengigitnya." Geram Sasuke merasa tak sabar menghadapi kebingungan Orochimaru. Kabuto terlihat berpikir sejenak setelah mendengar penjelasan Sasuke.

"Itu bisa saja terjadi. Racun Uchiha cukup kuat untuk melakukannya." Itachi menggeleng pelan mendengar spekulasi Kabuto. Matanya menatap serius Orochimaru dan Kabuto.

"Sasuke mengubah Sakura saat gadis itu dalam keadaan sekarat. Aku yakin kalian sudah menangkap keganjilan yang kami maksud." Orochimaru mengangguk paham. Tangan pucatnya mengambil salah satu buku yang Kabuto ambil tadi.

"Ini cukup rumit. Aku tak memiliki data atau informasi mengenai manusia. Jadi, bisa kau beritahu aku ciri-ciri gadis itu?" Sasuke mengangguk pelan. Rasa kesalnya pada Orochimaru menguap saat lelaki tua itu memandang serius kearahnya.

"Ia memiliki mata sehijau emerald dan rambutnya berwarna merah muda." Orochimaru mengernyit mendengar perkataan Sasuke. Ciri-ciri gadis itu cukup unik, tapi Orochimaru tahu bahwa klan vampire manapun tak memiliki ciri-ciri seunik itu.

"Tak ada klan vampire yang memiliki ciri-ciri seperti itu. Aku mulai berpikir jika gadis itu adalah titisan dewi musim semi." Itachi memutar bola matanya bosan. Orochimaru masih bisa bercanda rupanya.

"Jangan bercanda." Geraman rendah Sasuke membuat Orochimaru mau tak mau kembali memasang wajah seriusnya.

"Apa gadis itu memiliki tanda khusus atau semacamnya?" Sasuke menunduk. Memandang lantai dengan pandangan menerawang. Tubuhnya tersentak saat ia mengingat sekelebat memorinya bersama Sakura beberapa hari yang lalu.

"Ada. Sakura memiliki tanda aneh dibelakang telinganya."

#FLASHBACK ON

"Hime, temani aku." Sakura yang saat itu tengah menggulung rambutnya tersentak kaget saat sepasang lengan kekar memeluknya erat dari belakang. Rambut sepunggungnya yang semula hampir tergulung rapi kini tergerai. Menyembunyikan kepala Sasuke yang tengah menenggelamlan wajahnya diceruk leher Sakura.

"Ah! Sasuke-kun kau mengacaukan tatanan rambutku." Sasuke terkekeh mendengar gerutuan Sakura. Jemari Sasuke perlahan terangkat. Menyentuh lembut surai merah muda itu dan mengikatnya ala ekor kuda.

"Maaf Hime. Nah, begini lebih baik." Sasuke tersenyum menatap pantulan dirinya dan Sakura pada cermin besar dihadapannya. Sakura yang melihatnya ikut tersenyum.

"Jadi, Sasuke-kun ingin aku menemanimu kemana?" Sakura membalikkan badannya, menatap sepasang onyx kelam menawan milik Sasuke. Tangan pucatnya menangkup kedua sisi pipi Sasuke.

"Aku ingin makan." Sakura menaikkan sebelah alisnya.

"Lalu? Sasuke-kun bisa meminta pelayan untuk menyediakan darah segar." Sasuke menggeleng. Melepaskan pelukannya pada Sakura dan menarik tangan gadis itu untuk mengikutinya.

"Aku ingin berburu." Sakura menghentikan langkahnya mendengar kata 'berburu' yang Sasuke lontarkan. Tiba-tiba bayangan akan kejadian saat ia menghisap darah kakaknya terlintas. Ia bergidik ngeri seketika.

Sasuke ikut menghentikan langkahnya. Memandang Sakura yang terpaku. Ia tersenyum tipis. Sakura masih belum terbiasa berburu atau meminum darah langsung dari tubuh hewan. Selama ini gadis itu terbiasa meminum darah segar dari gelas yang disediakan peayan. Berbeda dengan Sasuke yang terbiasa berburu.

"Baiklah. Aku tak jadi berburu. Tapi sebagai gantinya aku ingin –"

Sret

Sakura tersentak lagi. Sasuke dalam sekejap sudah berada dibelakangnya.

"Darahmu." Sakura berjengit geli saat lidah Sasuke menyapu permukaan kulit lehernya. Lelaki itu beberapa kali mengecup lembut leher Sakura sebelum menghunuskan taringnya dan menyesap darah Sakura.

"Sasuke-kun." Sakura merengek meminta Sasuke untuk berhenti. Sasuke terpaksa menghentikan acara makannya. Sakura selalu seperti ini. Gadis itu pasti menyuruh Sasuke untuk menyesap sisi lain dari lehernya, karena Sakura merasa sedikit kesakitan jika Sasuke hanya menyesap darah dari salah satu sisi lehernya dengan lama secara terus menerus.

"Gomen Hime." Sasuke mengalihkan kepalanya kesisi kanan leher Sakura. Ia membenamkan taringnya sekali lagi dan menikmati darah Sakura yang tersalur kedalam mulutnya. Matanya terbuka saat ia merasa cukup puas. Lidahnya menjilat pelan bekas gigitannya. Tiba-tiba Sasuke mengernyit saat melihat sesuatu.

"Hime, tanda apa yang berada dibelakang telingamu ini?" Sakura mengenggam jemari Sasuke saat dirasa pemuda itu menyentuh pelan daerah belakang telinganya. Jemari lentiknya kini mengusap pelan bagian itu.

"Tanda? Aku tak pernah tahu ada tanda disana. Mungkin saja itu tanda lahirku Sasuke-kun." Sasuke mengangguk. Tak lagi menanyakan tanda yang baru ia sadari itu.

"Aa. Baiklah Hime."

#FLASHBACK OFF

"Jadi tanda seperti apa yang dimiliki gadis itu?" Kabuto bertanya setelah mendengar penuturan Sasuke mengenai tanda misterius dibelakang telinga Sakura.

"Sebuah lingkaran." Jawaban singkat Sasuke membuat Orochimaru sedikit membulatkan matanya. Dengan cekatan, ia meletakkan buku yang sedari tadi digenggamnya dan mengambil buku lain. Tangan pucatnya membuka lembar demi lembar buku itu dengan cepat. Matanya bergerak cepat membaca tiap baris kata didalamnya.

"Apa warnanya?" Pertanyaan tiba-tiba dari Orochimaru membuat Itachi memandang Orochimaru dengan penuh rasa ingin tahu. Sepertinya lelaki tua itu telah menemukan sesuatu.

"Putih. Lingkaran itu berwarna putih." Seketika Orochimaru menyodorkan buku yang tadi dibacanya kehadapan Sasuke dan Itachi. Kedua Uchiha bersaudara itu mengernyitkan alisnya memandang nama klan yang tertera dalam buku tua itu.

"Klan apa itu?"

.

.

.

.

Sementara itu ditempat lain diwaktu yang sama, sesosok gadis bersurai pink terbangun dengan tangan kekar yang melilit pinggangnya. Tangan itu membuatnya kembali berbaring. Mata emeraldnya memperhatikan helaian oranye pemuda yang tengah memeluk pinggangnya itu.

"Nii-san." Sakura –gadis itu menggeser pelan lengan Yahiko. Sesegera mungkin ia keluar dari kamar itu.

Tap Tap

Ia menapakkan kakinya dengan perlahan. Suasana didalam kastil yang tampak sepi dan gelap tidak membantunya sama sekali. Ia mencoba menajamkan penglihatannya.

"Aku harus lewat mana sekarang." Ia mendesah pelan. Merutuki bangunan dengan banyak ruangan yang ia tempati kini. Kaki telanjangnya berjalan pelan, mencoba untuk tidak menyenggol sesuatu yang bisa saja mengusik penghuni kastil ini.

Sakura mengedarkan pandangannya. Memastikan tak ada satupun mahkluk yang sedang mengawasi gerak-geriknya. Ia mendekati sebuah tangga dan menuruninya perlahan. Kakinya membawa gadis itu menuju kearah dapur.

"Ugh aku lapar." Tangan mungilnya membuka lemari pendingin dan mengambil sebuah botol kaca yang ia yakini berisi darah. Membawanya hati-hati dan meninggalkan dapur.

Srekk

"Ah!" Ia memejamkan matanya saat mendengar sobekan kain. Berharap suara itu tak cukup nyaring untuk mengundang rasa curiga penghuni kastil.

"Sial." Tangannya dengan cepat menarik robekan kain yang tertinggal di meja marmer dapur itu.

"Susah sekali.." Sakura dengan sekuat tenaga menarik robekan gaunnya yang tersangkut dimeja marmer itu. Batinnya tak tenang, Bisa gawat kalau sampai ada yang melihatnya.

"Akh!"

Dug

Sakura meringis saat tubuhnya jatuh terduduk kebelakang ketika tangannya berhasil menarik robekan gaunnya itu. Sikunya terasa sakit saat membentur tonjolan pada meja marmer dibelakangnya.

SRETTT

Emerald itu membulat saat dinding dapur tiba-tiba bergeser. Dengan cepat, ia menengokkan kepalanya ke segala arah. Memastikan bahwa dinding itu bergeser bukan karena ulah seseorang selain dirinya.

Sakura membalikkan badannya, menatap tonjolan pada meja marmer yang tadi membentur sikunya.

"Aku rasa setiap kastil memiliki ruangan rahasianya." Sakura bergumam pelan. Berdiri dari posisi terduduknya, dan melangkahkan kakinya mendekati pintu yang tercipta pada dinding yang bergeser itu.

Tangan mungilnya meraba pelan dinding itu. Mencoba mencari setidaknya sesuatu yang dapat menerangi lorong gelap didepannya ini. Namun nihil. Ia sama sekali tak menemukan apa yang dicarinya. Dengan perlahan, ia mendekati rak-rak yang ada didapur ini.

"Ini bisa membantu." Tangan mungilnya mengambil sebuah lilin kecil yang ada di rak tersebut. Dengan cekatan ia menghidupkan lilin itu dan mengambil sebuah piring kecil sebagai alas lilinnya.

Kakinya perlahan melangkah memasuki lorong itu. Lorong sempit yang tampak tak berujung itu membuat Sakura sedikit ketakutan.

Mata emeraldnya memandang dinding batu yang membentuk lorong ini. Ia bergidik melihat lumut-lumut yang menempel pada dinding itu. Ia kini menyiapkan hati dan matanya untuk menerima pemandangan buruk yang mungkin saja mennatinya diujung lorong ini.

'Tenang Sakura, setidaknya kau pernah melihat ruang penyiksaan menyeramkan dikastil Uchiha.' Batinnya menenangkan diri.

Langkah Sakura terhenti saat cahaya lilinnya menyorot sepasang kaki berkulit pucat dibalik besi-besi yang membentuk sel penjara tersebut. Kaki telanjang itu tampak kotor dengan beberapa goresan luka yang menampilkan bekas darah yang telah mengering.

"Si-siapa disana?" Ia berucap pelan. Membuat suaranya agar terdengar tegas dan seolah-olah tak merasa ketakutan. Padahal dalam hati ia terus-terusan mengutuki nada bicaranya yang membuat gadis itu tampak gugup.

Dengan mantap, Sakura memberanikan diri mendekati sel penjara itu. Masih mengandalkan cahaya lilin yang minim, ia memasukkan sebelah lengannya ke dalam celah sel tersebut. Mengarahkan lilin yang ia bawa untuk menyinari sosok yang terduduk didalam sel didepannya ini.

"Astaga.."

.

.

.

.

-TBC-

Balasan review :

Hinamori Hikari (Guest) : Arigatou atas reviewnyaaa :) sampai chap berapa ya? Umm sampai chapter 13 kira-kira hehe