Title : Lavenderku
Author : sarangchullpa92
Genre : Hurt/Comfort & Romance
Warning : Alternate Universe, amat-amat OOC! (untuk kepentingan plot), Typos, Ceritanya geje XD, Minim dialog
Well,ini fanfic pertama saya yang pake Anime Character. Dan saya masih dalam tahap belajar di dunia tulis menulis ini,jadi mohon bimbingan dari teman teman reader juga author author senior apabila ada kesalahan disini.
LAVENDERKU © eka widiati
Naruto © Masashi Kishimoto
DON'T LIKE DON'T READ
Hyuuga's Mansion 07.05 am
Hinata memandang sosok mungil dalam dekapannya dengan penuh cinta. Bibir tipisnya tak henti menyunggingkan senyuman penuh kebahagiaan. Senyumnya makin lebar kala bayi mungilnya menguap lalu perlahan membuka kedua matanya.
"Kau sudah bangun, Kiri-kun?" sapanya dengan lembut. Mata lavendernya menatap mata sang anak yang serupa dengan miliknya. Dan Hinata memekik senang kala bayi berumur dua bulan itu menarik kedua sudut bibirnya, melengkungkan sebuah senyum tipis.
"Hey, apa maksud senyumanmu itu Kiri-kun? Apa kau juga sedang ikut berbahagia untuk mama?"
Hinata mencubit gemas pipi gembil Kirisame, lalu mulai mengecupi seluruh bagian wajah pangeran kecilnya bertubi-tubi. Perbuatannya itu sukses membuat Kirisame menggeliat tak nyaman.
"Geli?"
Hinata mengahirinya dengan mengecup ujung hidung Kirisame dengan sayang. Kembali ditatapnya sang putra yang balas menatapnya dalam diam. Ah ya ampun, ia benar-benar gemas dengan Kirisame.
tok tok.
Hinata mengalihkan pandangannya kala mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Tak lama kemudian pintu jati itu pun terbuka, menampakkan sesosok wanita cantik dalam balutan seragam hitam. Wanita itu, Ayame -salah seorang maid yang bertugas sebagai pengasuh Kirisame.
"Selamat pagi, Hinata-sama." Ayame membungkuk hormat.
"Masuklah Ayame-san," ucap Hinata sembari menyunggingkan senyum manisnya.
Hey, apa Hinata tak terlihat aneh karena terlalu banyak tersenyum pagi ini?
"Saya datang untuk menjemput Kirisame-sama," ujar Ayame sopan.
"Tolong dandani Kiri-kun dengan baik ya Ayame-san. Pastikan pangeran kecilku ini menjadi yang paling tampan hari ini."
Hinata mengedip jahil pada pengasuh anaknya itu, membuat Ayame tak dapat menahan senyumnya.
"Tapi tentu saja Namikaze Naruto-san juga harus menjadi yang tertampan hari ini, ne Hinata-sama?"
Blush. Pipi Hinata sontak memerah mendengar godaan dari maid cantik itu.
"Ayame-san jangan menggodaku," ujar Hinata sembari menunduk malu.
"Ya, saya mohon maaf, Hinata-sama."
Ayame tersenyum sekilas sebelum kemudian mengambil alih Kirisame, membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapan kedua tangannya.
"Saya permisi, Hinata-sama."
Wanita bersurai hitam itu membungkukkan badannya, lalu berbalik menuju keluar ruangan.
Sebelum benar-benar menutup pintu, Ayame kembali membungkuk. "Selamat atas pernikahan anda, Hinata-sama."
Namikaze's Mansion 07.05 am
Naruto tampak tengah berjalan hilir mudik di dalam kamarnya dengan wajah gugup, membuat Shikamaru yang tengah bersandar di dinding samping jendela menatapnya bosan. Mata pria berambut hitam itu terus bergerak mengikuti langkah Naruto yang sudah sejak setengah jam lalu tak bisa tenang.
"Tak bisakah kau duduk dengan tenang, Naruto? Kau membuatku sakit kepala," tegur Shikamaru dengan nada malas yang menjadi ciri khasnya.
Naruto berhenti mondar-mandir lalu berbalik menatap sengit pada Shikamaru. "Kau benar-benar tidak membantu, Shika! Aku sedang gugup."
Shikamaru memutar bola matanya bosan. 'Dasar merepotkan!'
"Apa yang membuatmu gugup?" tanyanya sembari berjalan mendekati sang Namikaze muda.
"Semua orang pasti gugup saat menjelang pernikahan mereka, Shika!"
"Kenapa semua orang harus gugup saat menjelang pernikahan mereka?"
Naruto menatap Shikamaru tak percaya. Teman pemalasnya ini bodoh atau apa sih? "Ish! Pria jomblo sepertimu memang tak mungkin mengerti bagaimana perasaanku saat ini. Makanya cepat cari calon istri!"
Naruto mencebikkan bibirnya sebal. Mata birunya menatap Shikamaru dengan tatapan merendahkan, membuat pria berambut hitam itu mendelik marah.
"Yak! Kau tak perlu menghinaku seperti itu! Dasar pirang bodoh! Tahu begini aku tak usah kemari saja. Kau benar-benar menyebalkan."
Naruto sedikit tersentak kemudian menatap Shikamaru dengan tatapan ala anak anjing yang terbuang andalannya. "Shikaaaa,"
"Jangan bersikap seperti itu, baka! Sekarang kau adalah seorang pria dewasa. Bahkan kau telah menjadi seorang ayah. Dan demi Tuhan, Naruto! Hari ini adalah hari pernikahanmu, jadi berhentilah bersikap kekanakkan seperti itu!"
Naruto mendesah frustasi. Ya, dia tahu dia memang bukan lagi seorang remaja tanggung yang harus bersikap labil seperti ini. Tapi demi apapun yang ada di dunia ini, hari ini adalah pernikahannya yang pertama. Ia gugup setengah mati.
Shikamaru menghela napasnya lelah. Hey, kau pikir bagaimana rasanya mendengarkan rengekan merepotkan dari seorang pria berumur 28 tahun? Dilangkahkan kakinya makin mendekati Naruto, lalu memegang kedua bahu pria itu.
"Apa kau mencintai Hinata?" tanyanya sembari menatap Naruto lekat-lekat.
"Tentu saja." Naruto menjawab dengan suara pelan.
"Dan apa kau mencintai Kirisame?" Shikamaru kembali bertanya. Sudut bibirnya sedikit terangkat saat melihat Naruto mengangguk.
"Dengar! Hari ini adalah hari pernikahanmu. Hari dimana kau akan berjanji di hadapan Tuhan bahwa kau akan mencintai dan menjaga Hinata dengan sepenuh hatimu. Dan janji di hadapan Tuhan itu bukan main-main, Naruto."
"Aku tahu Shika! Tapi tetap saja aku merasa takut dan gugup. Aku takut bagaimana jika nanti aku tak bisa melakukannya dengan baik?"
Shikamaru kembali menghela napasnya lelah setelah mendengar jawaban sang Namikaze. Pria pirang yang benar-benar menyebalkan!
"Kau takut? Apa yang kau takutkan, Naruto? Kau takut kau akan tergagap saat pengucapan janji? Kau takut jarimu tergelincir saat pemasangan cincin nanti? Atau kau takut kalau ternyata kau tak cukup tampan untuk bersanding dengan Hinata hari ini?" tanya Shikamaru bertubi-tubi. Diseretnya Naruto ke depan sebuah cermin besar di sisi lain ruangan.
"Lihat! Rambutmu sudah rapi, wajahmu sudah tampan, dan tubuhmu sudah wangi. Apalagi yang kau takutkan?"
Shikamaru menatap malas Naruto yang tengah menatapnya memelas melalui cermin.
"Kau harus percaya pada dirimu sendiri, Naruto! Kau sudah jadi ayah, dan sebentar lagi kau akan menjadi seorang suami. Kau pikir anak dan calon istrimu akan bangga dengan dirimu yang pengecut seperti ini? Kau pikir Hinata mau menggantungkan hidupnya pada seorang pria yang bahkan gugup tidak jelas di hari pernikahan kalian?"
Naruto menelan ludah mendengar pertanyaan menusuk itu. "Kau benar," jawabnya pelan.
Shikamaru tersenyum puas. "Nah! Jadi sekarang kau tenanglah dan buktikan kalau kau bisa!"
Naruto mengangguk gugup. Apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu benar. Ia harus bisa melakukan semuanya dengan baik hari ini.
Gereja Pusat Konoha, 08.35 am
Ruangan luas itu terlihat ramai. Jejeran bangku telah terisi penuh oleh para tamu. Sedangkan Namikaze Naruto terlihat telah berdiri di depan altar, menanti pengantinnya. Tubuh tegapnya dibalut setelan tuksedo hitam, membuat sosoknya terlihat makin sempurna. Dan jangan lupakan senyum tipis yang tak henti disunggingkan bibir tipisnya.
Hey hey, sepertinya tak ada yang menyadari bahwa di balik sikap tenang itu, jantungnya tengah berdetak dengan sangat cepat. "Hah! Kenapa menikah harus segugup ini?" bisiknya frustasi.
Jantungnya berdetak makin tak terkendali saat pembawa acara mengumumkan bahwa mempelai wanitanya telah tiba. Mata birunya menatap pintu gereja dengan gugup, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya kala pintu bercat hitam itu perlahan terbuka. Dan ia hanya bisa terpana kala daun pintu benar-benar terbuka. Di ujung sana, pengantinnya yang sangat mempesona tengah berdiri didampingi oleh calon ayah mertuanya.
Naruto menanti tibanya tubuh ramping berbalut gaun putih yang cantik itu sambil tersenyum kecil. Ini akan jadi salah satu hari paling hebat dalam hidupnya.
.
Neji berdiri dengan wajah datar di jajaran paling depan. Matanya menatap malas adik dan ayahnya yang makin dekat dengan altar, tempat pria Namikaze-pirang-menyebalkan menunggu mereka.
Hah! Sebenarnya Neji tidak setuju dengan acara hari ini. Yang benar saja! Ia belum puas bermain-main dengan Naruto. Tapi ayahnya yang sok tahu itu malah cepat-cepat menikahkan pria bodoh itu dengan adiknya yang cantik. Padahal ia berharap ia bisa menyiksa Naruto sedikit lebih lama lagi.
Dasar otak kriminal! -_-
Tanpa sengaja mata peraknya melirik ke arah bangku di sebrang kirinya. Disana duduk seorang wanita cantik bersurai merah muda, Sakura Haruno.
Neji menelusuri wajah cantik itu dengan pandangannya. Entah kenapa ia tak bisa menghentikan dirinya sendiri yang selalu terpaku tiap menatap wajah Sakura. Mata hijaunya, hidung mancungnya, bibir tipisnya, kenapa semua itu selalu membuatnya sulit mengalihkan pandangan?
Mungkinkah ia merasa simpati pada wanita itu? Merasa iba dengan semua kejadian buruk yang pernah dialaminya?
Tubuh Neji menegang kala Sakura menolehkan kepalanya, membalas tatapannya dengan bingung. Sepertinya gadis itu heran mendapati seorang pria judes diam-diam tengah menatapnya.
Tak ingin terlihat bodoh lebih lama lagi, Neji segera mengalihkan pandangannya. Dan ia baru sadar bahwa kini Hinata telah berdiri di samping Naruto, saling mengucapkan janji setia mereka.
Berdiri berdampingan di hadapan pendeta dengan disaksikan oleh puluhan pasang mata membuat Naruto dan Hinata benar-benar gugup.
Menyimak ceramah pendeta, pengucapan janji suci, hingga pemasangan cincin, keduanya lakukan dengan perasaan campur aduk. Rasa gugup dan bahagia berputar-putar dalam dada mereka. Rasanya benar-benar luar biasa.
Hinata mengucapkan syukur dalam hatinya. Ahirnya ia bisa sampai di titik ini. Titik dimana ia ahirnya bisa bersama dengan pria yang ia kasihi sejak bertahun lalu. Diliriknya wajah Naruto yang juga menyiratkan sebuah ekspresi penuh kelegaan.
'Terimakasih atas semua kebahagiaan ini, Tuhan. Kumohon jagalah kehidupan keluarga baruku, dan berkatilah pernikahanku.'
.
"Aku ucapkan selamat, aku ikut bahagia untuk kalian."
Sakura memeluk Naruto dan Hinata bergantian. Ia memeluk Hinata dengan erat, mata emeraldnya yang berkaca-kaca ia sembunyikan di balik bahu ramping istri dari mantan kekasihnya itu.
Sekarang Naruto dan Hinata sudah mempunyai kebahagiaan mereka sendiri. Ia sudah tidak boleh berada di antara mereka lagi. Walaupun ia yakin Naruto dan Hinata tak akan keberatan menampungnya, tapi ia harus segera mencari rumah persembuanyian yang baru. Ia tak mungkin terus-terusan merepotkan mereka.
"Kalian harus hidup bahagia setelah ini. Maaf karena sempat membuatmu terluka, Hinata."
"Terimakasih, Sakura. Tapi kumohon jangan berbicara seperti itu lagi. Jangan terus menyalahkan dirimu."
Sakura melepaskan pelukannya, lalu tersenyum kecil. "Aku mengerti," ucapnya pelan sebelum kemudian melangkah kembali ke kursinya. Sedangkan Naruto, pria itu terus menatap punggung Sakura dengan seksama. Ia tersentak kala istrinya menegur tiba-tiba.
"Kenapa terus menatap Sakura seperti itu, Naruto-kun?"
"Kenapa Sayang? Apa kau cemburu?" tanyanya menggoda Hinata. Mata birunya berkilat jahil, menatap puas wajah Hinata yang merona.
"B-bukan seperti itu! Aku hanya penasaran kenapa kau terus menatap Sakura seperti tadi. Apa ada yang aneh?"
"Tidak ada yang aneh, aku hanya sedikit heran dengan Neji."
"Neji-nii?" Hinata mengernyit heran. Naruto sejak tadi menatap Sakura, tapi kenapa suaminya itu malah membicarakan tentang Neji?
"Neji sejak tadi terus memperhatikan Sakura. Aku tak tahu apa yang tengah Neji pikirkan, tapi kurasa dia tertarik pada Sakura."
Naruto tersenyum simpul melihat Hinata menatapnya tak percaya. Well, eum... Neji tertarik pada Sakura memang terdengar sedikit ganjil. Neji itu pria perfeksionis nan kaku, dan kala pria seperti Neji tertarik pada seorang gadis yang eumm tengah mengandung, itu terdengar sedikit aneh untuk Hinata.
"Kau yakin, Naruto-kun? Sepanjang yang aku tahu, Neji-nii sangat pilih-pilih. Maksudku... Kau tahu, bukan maksudku mengatakan sesuatu yang buruk tentang Sakura. Dan sampai sekarang aku tak pernah melihat Neji-nii tertarik pada seorang gadis."
"Benarkah?" Naruto terkikik mendengarnya. Ia tak habis pikir bagaimana mungkin pria tanpa ekspresi itu bahkan tak pernah berkencan seumur hidupnya?
"Eum, benar!" Hinata mengangguk membenarkan. "Tapi aku senang jika memang benar Neji-nii menyukai Sakura. Dia gadis yang baik dan sangat cantik," sambung Hinata sembari tersenyum kecil.
"Tapi tentu saja, bagiku kau lebih baik dan jauh lebih cantik dari wanita manapun."
Naruto mencubit puncak hidung Hinata, lalu mengecupnya gemas. Pria itu terkekeh melihat Hinata yang lagi-lagi merona karena ulahnya.
"Ehem!"
Naruto mengurungkan niatnya untuk memeluk Hinata kala mendengar seseorang berdehem. Di depannya telah berdiri Hiashi dengan wajah datar khasnya.
"Bisa tinggalkan kami sebentar, Hinata? Ada yang ingin ayah bicarakan dengan suamimu."
Hinata mengangguk pelan, lalu segera pergi dari sana. Kaki-kaki jenjangnya berjalan membaur diantara para tamu, lalu menuju toilet yang berada di luar gereja bagian belakang. Tapi langkahnya tertahan di depan pintu kala ia tak sengaja mendengar percakapan dua orang wanita dari dalam sana.
'Kau tahu, Matsuri? Ternyata Hinata-san itu sudah punya seorang anak. Padahal kau tahu sendiri hari ini adalah pernikahan pertamanya.'
'Kau jangan berbicara sembarangan, Sarah! Nanti kalau ada yang mendengar bagaimana?'
'Aku tak sembarangan bicara, Matsuri! Dari yang aku dengar, sekitar setahun lalu Hinata-san terlibat skandal dengan seorang artis. Tapi ia ditinggalkan saat ketahuan tengah mengandung. Lalu ia menyembunyikan dirinya sampai anaknya lahir.'
'Kau dengar berita seperti itu dari siapa?'
'Aku mendengarnya dari temanku yang bekerja di perusahaan tempat Hinata-san dulu bekerja. Dan kau lihat bayi berambut pirang yang digendong seorang pelayan di jajaran paling depan tadi? Katanya bayi itu anaknya Hinata-san.'
'Apa kau tahu siapa artis yang menghamili Hinata-san?'
'Dari yang kudengar, pria itu bernama Yahiko.'
'Yahiko? Aku tak tahu ada seorang artis dengan nama itu,'
'Pria itu memang cuma artis kelas bawah. Kau tahu tidak? Katanya lagi, rambut pirang anaknya Hinata-san itu diwarisi dari Yahiko-san.'
'Ya ampun! Aku benar-benar tak menyangka Hinata-san adalah seorang wanita seperti itu,'
'Kau benar. Kasihan sekali Naruto-san harus mendapatkan wanita seperti Hinata-san.'
CUKUP! Kenapa sampai ada kabar seperti ini? Orang jahat mana yang tega menyebarkan fitnah sekejam itu tentang dirinya?
Apa dimata orang lain dia benar-benar seorang wanita yang memalukan? Apa ia benar-benar tak pantas untuk bersanding dengan Naruto? Apa Naruto benar-benar kasihan karena menikahi wanita seperti dirinya? Tapi... Yang membuatnya menjadi 'begini' juga Naruto kan? Jadi sudah sewajarnya jika sekarang Naruto menikahinya.
Hinata mulai gamang. Kedua tangannya meremas gaunnya erat.
Tidak! Ia tak boleh meragukan apapun saat ini. Ia sudah resmi menjadi istri Naruto, ia tak boleh terhasut apapun lagi. Ia mencintai Naruto, dan pria itu pun mencintainya. Semua itu sudah cukup untuknya. Masa bodoh dengan gosip itu. Masa bodoh dengan semua omongan orang lain. Orang-orang itu tak tahu apapun tentang hidupnya. Saat ini ia hanya harus hidup untuk kebahagiaan dirinya, Naruto, dan juga keluarga kecilnya. Bolehkah?
Cklek
Hinata yang masih menyusui Kirisame di sofa di kamar pengantinnya mengalihkan pandangan pada asal suara pintu yang terbuka. Wajah putihnya mendadak merona kala mendapati Naruto tengah berdiri di ambang pintu.
"Naruto-kun!" ujarnya panik, lalu membalikkan tubuhnya menghadap sandaran sofa dengan segera, berusaha menutupi dadanya yang terekspos.
Mata Naruto membulat sempurna melihat posisi Hinata sebelumnya. Errr ya ampun, kenapa ia lupa mengetuk pintunya dulu?
"Maaf," ujarnya kikuk. Dengan tergesa Naruto memasuki kamar mandi yang terletak tak seberapa jauh dari pintu kamar.
"Ini benar-benar memalukan, Kiri-kun."
Hinata membenturkan dahinya putus asa pada sandaran sofa. Bagaimana ini? Bagaimana mungkin ia terlihat begini memalukan di malam pertamanya? Malam pertama itu harusnya romantis. Musik jazz, mawar, wine, pelukan hangat, dan ciuman manis. Bukannya malah kepergok tengah menyusui seperti tadi. Benar-benar malam pertama yang memalukan.
Tunggu dulu! Malam pertama? Apa kau yakin, Hinata? Dengan semua hal yang telah Naruto lakukan padamu malam itu, masihkah kau sebut malam ini adalah malam pertama?
Wajah Hinata memerah. Benar! Hinata pernah melewati malam bersama Naruto sebelum ini. Walaupun saat itu ia dipaksa, tapi setidaknya ia punya sedikit pengalaman.
Hmm, pengalaman? Pengalaman apa, Hinata-chan?
Wajah Hinata makin memerah. Ini harus segera dihentikan sebelum pikirannya makin ngaco. Diliriknya Kirisame yang telah terlelap dalam dekapannya, lalu diusapnya pelan kepala sang bayi. Dengan sebelah tangannya, Hinata meraih gagang telpon yang berada di atas nakas di sampingnya. "Ayame-san... Kiri-kun sudah tidur," ucapnya pada seseorang di sebrang telpon.
Hah!
Kirisame akan segera diamankan, itu berarti malamnya dan Naruto akan segera dimulai. Apa ia bisa melewatinya dengan baik? Setelah Kirisame dibawa oleh Ayame, dan Naruto selesai mandi nanti, apa yang harus ia lakukan?
Benar! Setelah Naruto keluar dari kamar mandi nanti, apa yang harus ia lakukan? Duduk diam menunggu Naruto menghampirinya? Atau haruskah ia yang menghampiri Naruto duluan, membantu pria itu mengeringkan rambutnya dengan gerakan yang sedikit menggoda? Atau... Haruskah ia membuka dressnya sekarang, lalu berbaring miring di ranjang dengan wajah sensual?
"Baka! Apa yang kupikirkan?!"
Hinata memukul kepalanya sendiri. Wajahnya merah padam dan jantungnya berdetak cepat tak terkendali. Astaga, bisa-bisanya ia berfikir sesat seperti itu!
Kau menghancurkan imajinasi malam pertamamu sendiri, Hinata. -_-
Tap tap tap...
Naruto tampak tengah mondar-mandir di balik pintu kamar mandi. Matanya bergerak resah, otaknya terasa buntu. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Harusnya ini menjadi malam yang romantis. Tapi gara-gara keteledorannya yang memalukan, ia sukses menghancurkan segalanya. Bagaimana mungkin tadi ia sampai lupa mengetuk pintu? Andai tadi ia sedikit hati-hati, ia tak akan mungkin melihat Hinata yang tengah menyusui. Ya ampun! Bagaimana jika sekarang Hinata jadi berpikir bahwa ia adalah seorang pria mesum tukang intip?
Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi. Bagaimana ini? Ia tak mungkin terus diam di dalam kamar mandi semalaman. Ia harus segera keluar, lalu menemui istri cantiknya. Tapi... nanti ia harus bersikap seperti apa?
Heish... Naruto-kun, kau ini benar-benar pria atau bukan? -_-
"Haaah... Baiklah, ayo beranikan dirimu pria tampan!" Naruto menyemangati dirinya sendiri kemudian perlahan membuka pintu di depannya.
Hal pertama yang ia lihat begitu membuka pintu ialah Hinata yang ternyata masih duduk di sofa yang tadi. Hanya saja tanpa Kirisame di dekapannya.
Naruto menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tak karuan. Pria itu kemudian berjalan menghampiri Hinata lalu duduk di sampingnya. "Kiri-chan sudah tidur?" tanyanya mencoba membuka percakapan. Dan usahanya itu tidak sia-sia kala Hinata menoleh menatapnya.
"Iya, tadi Ayame-san sudah membawanya." Hinata menjawab lalu tersenyum tipis.
"Aku mengerti. Soal yang tadi... maaf. Aku tidak sengaja, sungguh. Tadi aku lupa mengetuk pintunya," ujar Naruto dengan wajahnya yang menyiratkan rasa bersalahnya. Ditatapnya Hinata yang kini tengah menunduk dengan wajah memerah. Ya ampun, istrinya malu?
"Bisakah kita melupakannya saja? Aku benar-benar malu saat mengingatnya, Naruto-kun." Hinata menatap pria di sampingnya itu ragu. Ah, ia benar-benar tak berani menatap Naruto sekarang.
"Kau benar, aku juga malu. Jadi ayo kita lupakan saja," ujar Naruto membenarkan. Pria pirang itu menggaruk tengkuknya dengan gugup.
"Jadi... apa yang tadi kau bicarakan dengan ayah?" Hinata mencoba mengalihkan pembicaraan. Suasana canggung itu benar-benar membuatnya tak nyaman.
"Tidak ada sesuatu yang penting. Ayah hanya memberiku nasihat dan beberapa ancaman kecil," ujar Naruto dengan nada dramatis, mencoba mencairkan suasana. Pria itu tersenyum tipis kala mendengar kekehan Hinata. Ia senang bisa membuat Hinata sedikit rileks dengan candaan kecilnya.
"Kau merasa senang hari ini, Hinata?" Naruto bertanya sambil menatap intens mata bulan milik Hinata. Jemarinya terangkat, mengusap pipi istrinya yang merona cantik.
"Aku sangat senang, Naruto-kun."
Cup. Kecupan singkat itu mendarat ringan di puncak hidung Hinata, mengantarkan dentuman gila di jantung wanita cantik itu.
"Aku senang mendengrnya, Hinata. Aku senang saat aku berhasil membuatmu bahagia. Maaf aku pernah melukaimu sebelum ini, aku benar-benar menyesal."
Hinata menggeser tubuhnya semakin mendekati Naruto, mengistirahatkan kepalanya di bahu pria itu. Dan Naruto menyambutnya dengan senang. Dikecupnya pucuk kepala Hinata dengan sayang, membawa tubuh ramping itu tenggelam dalam dekapan posesifnya.
"Jangan mengungkitnya lagi, Naruto-kun. Karena aku tak mempermasalahkan apapun sekarang."
Hinata makin menyamankan dirinya dalam pelukan Naruto. Hidungnya menggesek kulit leher pria itu, menyesapi aromanya yang menenangkan. "Setelah kupikir lagi, andai dulu kau tak pernah menodaiku mungkin seumur hidup aku takkan pernah mendapatkan peluang apapun untuk bisa bersamamu."
"Tapi tetap saja, perbuatanku itu pasti sangat melukaimu."
"Apa kau tau sebaris lirik dari lagu 2pm, Naruto-kun?" tanya Hinata sembari mengangkat kepalanya, mencoba menatap Naruto.
"Apa?" Naruto bertanya, menatap Hinata bingung.
"Everything happens for a reason," jawab Hinata pelan. "Semua yang telah terjadi padaku bukanlah kesakitan tanpa makna. Luka yang telah kau berikan justru mengantarku pada pelukanmu. Andai dulu kau tak melakukannya padaku, membuatku mengandung benihmu, seumur hidup pun kau tak mungkin sudi mengejarku."
"Itu tidak benar, Hinata. Aku mencintaimu," tukas Naruto panik. Eish, sepertinya pria itu takut Hinata meragukan perasaannya. Benar begitu, Naruto-kun?
"Aku tahu." Hinata tersenyum tipis melihat raut panik suaminya. "Semua yang terjadi pada kita sebelum ini adalah sebuah proses. Kau memaksaku, membuatmu merasa bersalah dan mencoba bertanggung jawab. Karena kebaikan hatimu, kau mencoba menerimaku dalam hidupmu, hingga tanpa sadar kau mulai menyayangiku. Kesakitanku telah terbayar dengan semua proses itu, Naruto-kun."
"Kau benar, maafkan aku."
"Tidak. Sudah kubilang aku tak mempermasalahkan apapun lagi sekarang. Aku mencintaimu dan kau balas mencintaiku, itu sudah lebih dari cukup untuk menutupi semua luka hatiku."
Naruto menatap Hinata dalam, pikirannya berkecamuk. Kenapa seperti ini? Kenapa Hinata harus bersikap seperti ini? Ini membuatnya merasa sangat bersalah. Memangnya kebaikan apa yang ia punya? Masih pantaskah ia mendapat semua kebahagiaan ini dari Hinata setelah kejahatan besar yang ia lakukan?
Pria tampan itu mengerjap kala merasakan sentuhan tangan lembut Hinata di pipi kirinya. Sepertinya wanita cantik itu dapat membaca kekalutan hatinya.
"Jangan pikirkan apapun lagi, Naruto-kun. Jangan menyulitkan perasaanmu sendiri, please..."
Naruto menatap Hinata sayu. Perlahan wajahnya mendekat, mengeliminasi jarak dengan wajah cantik Hinata. Dan dengan sedikit hentakan diraupnya bibir tipis Hinata kedalam kendali bibirnya, melumatnya dengan sedikit tak sabar, membawa Hinata dalam ciuman panjang yang memabukkan.
"Kau manis, Hinata." Naruto berucap dengan napas memburu setelah melepas tautan bibir mereka. Ditatapnya Hinata yang juga tengah mengatur napasnya. Wajah wanita itu merah merona, Naruto betah berlama-lama menatapnya.
"Kau tahu, Naruto-kun?" tanya Hinata setelah dapat mengontrol deru napasnya. "Jika pada akhirnya aku akan selalu mendapatkan kebahagiaan yang seperti ini, aku rela merasakan sakit karenamu walau itu berkali-kali dalam seluruh kehidupanku."
"Apa yang kau bicarakan?" Hinata tersenyum gugup kala melihat tatapan Naruto yang tiba-tiba menajam, menatapnya tak suka. Hei, apa barusan ia salah bicara?
"Jangan berbicara seperti itu lagi," ucap Naruto dengan suara pelan. Dikecupnya bibir Hinata lama, meresapi kelembutan bibir tipis itu. Sepertinya ia mulai ketagihan mencium Hinata, benar begitu Naruto-kun? -_-
"Hinata," panggil Naruto lirih.
"Ne?"
"Malam ini... bolehkah aku menyentuhmu?" tanya Naruto pelan. Kedua mata birunya menatap Hinata penuh permohonan.
Blush. Wajah Hinata merah padam menahan malu. "Ijinkan aku merasakanmu, Hinata... Ijinkan aku memelukmu, memerangkapmu dalam kuasaku," bisik Naruto tepat di depan wajah Hinata.
"Bisakah kau tak usah mengatakannya, Naruto-kun? Kau membuatku malu." Hinata balas berbisik. Kedua bola matanya bergerak gelisah, segan menatap iris biru milik suami tampannya itu.
Jantungnya berdetak tak terkendali kala jemari tangan Naruto menarik dagunya lembut, memaksanya untuk menatap pria itu. "Aku mengatakannya hanya untukmu, Hinata. I love you..."
"I love you more,"
Wajah Naruto kembali mendekat, dan sebuah ciuman manis kembali tercipta. Naruto mencium Hinata dalam dan semakin lama semakin panas dan menuntut. Dengan perlahan dibalasnya ciuman Naruto, membiarkan suaminya itu merasakan dirinya. Ia memasrahkan dirinya ke dalam kuasa pria itu sepenuhnya.
Kali ini mereka melakukannya dengan cinta dan dalam keadaan sadar. Tanpa paksaan, tanpa perlakuan kasar, dan tentu saja tanpa air mata kepedihan.
'Malam ini, milikilah aku sekali lagi Naruto-kun...'
Di sebuah ruangan lain di lantai dasar kediaman Hyuuga, tampak Hiashi tengah duduk santai di kursi kerjanya. Matanya menatap bosan kearah Neji yang sejak tadi terus mengoceh dan menatapnya putus asa.
"Ayah kenapa tak mau mendengarku sih?"
Hiashi mendengus kesal, Neji kembali melemparkan pertanyaan itu untuk yang kesekian kalinya malam ini.
"Aku masih bisa bersabar saat ayah dengan sok kuasanya menikahkan adikku yang malang dengan pirang brengsek itu tanpa berunding dulu denganku. Tapi sekarang aku tak bisa diam saja. Demi Tuhan, ayah! Aku tak rela jika malam ini Hinata kembali dinodai olehnya. Aku tak mau tahu, pokoknya sekarang ayah harus segera ke kamar Hinata dan segera amankan dia!"
Fantastis! Saat berbicara menyangkut adiknya ternyata Neji bisa berbicara sepanjang ini. Kau benar-benar OOC, Neji-kun...
"Apa yang kau bicarakan, Neji? Mereka telah menjadi suami istri, jadi mereka bebas melakukan apapun yang mereka mau di malam pengantin mereka. Dan kau tak punya hak apapun untuk mengganggu mereka."
"Ayah!" Nada suara Neji meninggi, matanya menatap tajam sang ayah yang dibalas tak kalah tajam oleh pria tua itu.
"Kau-jangan-berani-beraninya-menatapku-seperti-itu," ucap Hiashi dengan nada horor dan penuh penekanan dalam setiap katanya, membuat Neji mengkeret seketika.
"Daripada kau terus mencemaskan sesuatu yang bukan urusanmu, lebih baik sekarang kau cemaskan nasibmu sendiri. Sampai kapan kau akan terus membujang, hah? Kapan kau akan menikah?"
Mata Neji melebar mendengar pertanyaan bernada sinis itu. Dengan hati dongkol Neji memutuskan untuk segera pergi dari hadapan ayahnya yang makin lama makin menyebalkan. Kenapa ayahnya malah memojokkannya seperti ini sih? Ish -_-
"Terserah ayah saja!" ujar Neji ketus, membuat sang ayah menyeringai puas. Pria paruh baya itu senang bukan main karena bisa menggoda anak sulungnya yang minim ekspresi itu. Setelah membungkuk pada Hiashi, Neji buru-buru melangkahkan kakinya menuju keluar ruangan. Sepertinya Neji benar-benar sensitif mengenai pernikahan.
Ya ampun... Duo single Hyuuga ini benar-benar tak ada matinya. Cepat-cepatlah mencari calon istri, Neji-kun... :D
END
.
Cha! Ini Last Chapternya ^^
Maaf atas keterlambatan updatenya.. Tadinya aku mau update awal feb, tp ternyata flasdisk aku tiba-tiba rusak. 0 bytes dan minta diformat mulu, tp pas mau diformat gak bisa-bisa juga. Windowsnya nolak, (Ada yang tau cara benerinnya enggak?)
Setelah aku ketik lagi dari awal, aku rencana mau update 20 feb, tp terjadi kekacauan di rumah.. Dan molor ampe baru sempet update sekarang. Mohon maaf sekali, teman-teman.
Makasi buat yang udah review chapter lalu :
Reni Anggarwati / / gulliet / mine / Novi Aulia Dewi / ikkaarifin / / Moku-chan / NaruGankster / Uchiha Shige hahaha, iya.. Makasi :* / Kithara Blue *getok* / XuYuanFu semangat! :D / Namikaze-Hayato ah iya, terimakasi ^^ / Deshe Lusi / SoraYa UeHara / Aden L kazt / Lathifah Hikari-chan / Haruno aoi enaknya Hiashi diapain dong? xD / Hoshi no Nimarmine / Doraika-chan salam kenal juga :) / fathiyah / NH-lovers / Fu-Chan NHL4e-KeepStrigh / NaruHina shipper / astia morichan / ristia15 / Little Claris-chan terimakasi :) / Killer Dark / nabil baha / amexki chan hihi, makasi :* / LivyLaval / / aigiaNH4 aduh itu piringnya jangan dibanting2, sayang.. XD ne, terimakasi ;) / yadiNHLsejati mungkin maksud kamu dari 'gak log in' itu gak log in ffn. Kalo log in dari fb bisa, cuma musti bikin akun ffn dulu / muhammad ihsan leonel gibrael / chappymoon ini aku kasi chapter ini ^^ / Benafill McDeemone yak! Jangan ngeledek, XD / Faris shika nara / Anis Masliani / NHL makasi^^
buat yang reviewnya agak pedes nan nyelekit, aku minta maaf gak bisa approve. Aku baca kok reviewnya kamu, aku juga nerima banget kritikannya kamu. Tapi maaf aku gak bisa biarin temen2 reader yang lain baca bahasa 'sopan' kamu.
buat temen2 reader, aku tekanin ya, aku gak maksa kalian baca fic ini. Aku ngeshare cerita disini, salurin hobi, bukan buat nyari musuh. Kalian suka cerita aku, alhamdulillah banget. Kalo gak suka ya aku jg gak bisa ngapa2in.
Ada yang bilang muak sama aku, mungkin bisa follow fic yang lain aja ya, yang authornya rajin update. Kalo emang males sama aku, aku minta maaf. Buat kedepannya aku akan berusaha lebih baik dari ini.
Terimakasih buat temen2 reader yang udah ngikutin fic ini dari awal, dukungan kalian berarti banget buat aku. Yang udah review, alert, sama ngefav makasi banget.
Buat yang kasi semangat, yang kasi saran, dan juga berbaik hati mengoreksi kesalahan pengetikan aku, makasi banyak kak aoi..
Dan buat octa, adek cantik yang udah bolehin aku curcol bin nyampah di mention twitternya juga makasi banget, makasi udah nerror aku tanpa kapok :D
buat rendy, yang rajin banget nagih update-an juga makasi banyak..
Sampai jumpa di epilog.. Chapter ini reviewnya ditunggu ya.. :*
Love,
-Sarangchullpa92-
