Perlu diperhatikan: Bakal ada adegan hasil copas dari ffku yg lainnya.

.

.

.

"Kau sedang apa saem?" Jihoon lagi-lagi menghentikan coretan di atas bukunya hanya demi memperhatikan apa yang sedang guru pribadinya lakukan.

Ini adalah hari kesekian ia bersekolah di rumahnya sendiri. Dengan menggunakan sebuah meja dan kursi biasa di dalam kamar sebagai media untuk belajar. Benda-benda itu tidak banyak memakan tempat di dalam luasnya kamar tidur Woojin. Dan bagi Jihoon sendiri ini adalah tempat terbaik untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Lebih pribadi, sehingga tidak akan ada seseorang yang menjadi pengganggu. Sebenarnya tidak akan ada yang melakukan sesuatu pada mereka jika Jihoon dan Daniel melakukannya di ruang tengah atau di perpustakaan rumah atau di sudut manapun di dalam rumah. Hanya saja para maid yang lewat dan berlalu lalang diyakini tidak akan bisa mengalihkan tatap dari keduanya. Well, Jihoon dan Daniel memang tampan. Tapi terus-menerus diperhatikan dalam situasi tertentu seperti ini benar-benar akan mengganggunya.

Daniel menatap Jihoon dan menyemat senyum, "Lanjutkan saja soal latihanmu." Dan kembali menjadikan halaman-halaman kertas tanpa gambar di depan mata sebagai fokus.

Jihoon memajukan bibir, "Aku hanya ingin tahu. Kelihatannya seru sekali."

"Mencoba untuk selesai membaca novel ini hari ini." Daniel sebenarnya bukanlah tipe orang cerdas yang menyukai novel. Baiklah, seorang jenius matematika seperti dirinya memang menyukai buku-buku tebal. Namun ia lebih suka buku non-fiksi yang menyuguhkan teori-teori objektif, ilmiah, dan ilmu pasti. Bukan sebuah karya sastra yang hanya diambil dari imajinasi tidak konkrit. Satu-satunya hal yang membuatnya tertarik untuk membaca novel di tangannya itu adalah karena buku fiksi tersebut menceritakan tentang seorang ilmuwan yang kelewat jenius dalam membuat formula sendiri. Persis seperti apa yang ia cita-citakan sejak kecil.

Jihoon mengedik acuh. Ia menuruti apa yang dikatakan sang guru untuk kembali bergelut dengan sepuluh soal latihan matematika dengan tingkat kesulitan yang tidak akan ia selesaikan dalam waktu satu jam. Sesekali, tidak, berkali-kali ia bertanya pada Daniel tentang soal yang tidak ia pahami. Berkali-kali itulah Daniel merasa percuma memberikan sedikit-banyak soal. Bersama Jihoon, ia akan gagal menyelesaikan targetnya hari ini.

Jihoon merasa kesulitan mendapatkan konsentrasi. Daniel terlalu muda dan tampan untuk menjadi guru pribadinya seperti ini. Entah sejak kapan, tapi sejak menyukai laki-laki, sejak saat itulah Jihoon juga bisa menyukai laki-laki lainnya selain Woojin. Dan Daniel bukanlah pengecualian. Terutama kebersamaan Jihoon dan Daniel berada dalam periode yang – akan – lama dan frekuensi yang rapat. Dan hanya ada mereka berdua di dalam ruangan ini. Jihoon bisa memfokuskan dirinya hanya pada Daniel seorang.

Dan keseriusan yang ditampilkan wajah Daniel ketika membaca buku kelas berat itu membuat ia terlihat sangat cool di mata Jihoon.

Daniel bukan tidak tahu itu. Ia bukan tidak menyadari bahwa ia sedang diperhatikan secara terang-terangan oleh muridnya sendiri. itu bukan masalah jika ia sedang menjelaskan pelajaran. Tapi saat ini Jihoon berada dalam keadaan dimana ia memiliki soal-soal yang harus dikerjakan dan seharusnya menjadi satu-satunya pusat perhatiannya sekarang.

"Jangan pernah ragu untuk mengajukan pertanyaan jika kau tidak mengerti sesuatu." Ujar Daniel, membuyarkan lamunan Jihoon. Daniel pikir mungkin masih ada seribu pertanyaan lainnya yang ingin Jihoon ajukan, namun ia terlalu malu karena belum menyelesaikan sepuluh soal saja ia sudah terlalu banyak bertanya.

"Er... itu..." Jihoon ragu. Tanyakan atau tidak? Hingga sempat terjadi konflik internal dalam dirinya selama beberapa detik.

Daniel mengangkat alis. Menunggu kelanjutan kalimat Jihoon yang menggantung.

"Kau sudah menikah?"

Daniel tidak menyangka kalau Jihoon akan menanyakan itu.

Ia tersenyum seperti biasanya, "Ya, aku sudah menikah."

"Oh." Jihoon tersenyum canggung. Untuk sesaat ia menyesal telah bertanya seperti itu. Karena setidaknya jika Jihoon tidak tahu kebenaran, ia bisa banyak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan pada seseorang yang sudah menjadi pasangan hidup orang lain. "Bagaimana rasanya?"

"Sangat membahagiakan, tentu saja. Kami yang selama ini hanya berpacaran, akhirnya bisa mengikat diri dengan janji suci. Membangun sebuah keluarga utuh, dan hidup bahagia. Dan kami harap, akan bertahan hingga maut memisahkan."

"Itu terdengar mengharukan."

"Kau juga akan menikah lusa. Bagaimana rasanya?" Daniel adalah salah satu tamu istimewa yang mendapatkan undangan pernikahan Jihoon dan Woojin. Dan karena Jihoon menikah di usia yang kelewat muda, Jihoon merupakan murid pertama Daniel yang ia saksikan pernikahannya.

"Entahlah. Perasaanku tak menentu. Aku senang, karena anakku tidak akan lahir tanpa ayah. Tapi Woojin... ia..." Jihoon spontan menunduk. Memikirkan Park Woojin bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan, namun juga menyakitkan di saat bersamaan. Ia selalu memikirkan Woojin, tapi Woojin selalu memikirkan Hyungseob. Sehingga Jihoon tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang.

"Seiring berjalannya waktu, ia juga akan membalas perasaanmu dengan sesuatu yang setara. Tenang saja." Daniel mencoba mengambil sikap setelah melihat raut kesedihan yang Jihoon – tidak bermaksud – perlihatkan.

"Benarkah?"

"Tinggal bersama sebuah keindahan seperti dirimu dalam waktu yang lama, siapa yang tidak akan jatuh cinta?"

Jihoon merasa tersanjung.

"Semua ini hanya masalah waktu. Bersabarlah. Tunggu saja. Nanti juga akan ada saatnya." Daniel melanjutkan. Sekarang entah bagaimana, novel di tangannya menjadi tidak lebih menarik dari percakapan yang terjadi antara ia dan Jihoon. Sekarang ia yakin bahwa ia benar-benar tidak akan bisa mencapai tergetnya untuk menyelesaikan membaca novel itu hari ini.

"Kau sudah punya anak?"

"Sudah."

"Wah. Bisakah aku melihat fotonya?"

Kemudian Daniel memperlihatkan pada Jihoon. Kebetulan yang menjadi wallpaper telepon genggam Daniel adalah foto ia bersama istri dan anaknya. Anak laki-laki yang masih balita. Anak itu memiliki mata, hidung, bibir, dan bentuk wajah seperti Daniel. Semua yang ada pada anak itu adalah milik Daniel.

Ada perasaan iri dalam diri Jihoon. Melihat potret keluarga kecil itu begitu bahagia. Bisa ia lihat dari senyum yang ditampilkan sepasang suami istri itu terlihat lepas, tidak ada kecanggungan. Daniel memiliki mata yang tersenyum ketika ia tersenyum. Mengabsolutkan kebahagiaan yang ia perlihatkan.

Bisakah Jihoon merasakan hal itu?

"Bagaimana perasaanmu ketika anakmu lahir?"

"Aku menjadi pria paling bahagia di dunia."

Akankah Woojin seperti itu?

Ah, sepertinya tidak.

"Kau juga akan sangat bahagia ketika anakmu lahir. Terutama kau yang melahirkannya. Saat itu kau tidak akan mampu melukiskan perasaanmu."

Jihoon mencoba merenungkan setiap detail apa yang Daniel bagi dengannya. Sehingga ia merasa semakin berdebar-debar.

Untuk pernikahannya, juga untuk kelahiran anaknya kelak.

.

.

.

"Aku bersedia."

Ada gemetar kecil ketika Jihoon menjawab demikian. Karena pertanyaan dalam bagian dari ritual sakral ini akan ia pertanggungjawabkan di masa yang akan datang. Masing-masing dari keduanya telah mengatakan bersedia atas janji suci ini.

Semuanya selesai.

Mereka telah terikat.

Mereka telah menikah.

Tapi tidak sepenuhnya selesai. Mereka baru saja akan menempuh hidup baru. Yang mungkin akan dijalani biasa saja sebagaimana mereka biasa menjalani. Namun sekarang, dengan status yang jelas.

"Baiklah. Sekarang kau boleh mencium pasanganmu."

Jihoon merasa kesulitan untuk menahan senyum ketika melihat wajah Woojin semakin mendekat. Keduanya saling memejamkan mata ketika menghabiskan spasi di antara bibir mereka.

Hening.

Tidak ada riuh tepuk tangan. Atau sorakan. Atau teriakan.

Manusia yang menyaksikan penyatuan kedua insan ini tidak berjumlah lebih dari tiga puluh orang, lagipula.

Tidak ada yang tampak istimewa pada pernikahan tertutup ini.

Hanya ada air mata haru, dan tangisan kesedihan dari pihak yang berbeda.

Jihoon, ibu Woojin, dan ibu Jihoon pemilik air mata bahagia itu.

Sekeras apapun hati tuan Park dan nyonya Kim – kedua orang tua Jihoon, ketika menyaksikan putra semata wayang mereka menikah, tidak bisa dipungkiri, keduanya juga bisa merasakan perasaan haru itu. Putra yang selama bertahun-tahun dirawat dan dibesarkan, sekarang akan menempuh hidup barunya.

Ayah dan ibu Jihoon tidak menyesal telah datang. Mereka akan menyesal jika tidak datang.

Untuk saat ini saja keduanya mulai berpikir, apakah tindakan yang mereka lakukan pada Jihoon dengan mengusirnya saat itu adalah tindakan yang tepat? Tidakkah seharusnya mereka membicarakan ini baik-baik dengan Jihoon dan tetap menganggapnya sebagai anak? Bagaimanapun, Jihoon adalah anak biologisnya. Darah dagingnya. Sosok yang selama ini dinanti-nantikan kehadirannya untuk melengkapi kebahagiaan sepasang suami istri itu.

Lagipula Jihoon menikah dengan seseorang yang datang dari keluarga terhormat. Akankah kedua orang tua Jihoon tetap bersikeras untuk merasa malu memiliki anak seperti Jihoon, senakal dan sebrandalan apapun ia? Dan sebesar apapun kesalahan yang telah ia perbuat? Apalagi Jihoon adalah satu-satunya penerus keluarga yang juga akan segera melahirkan keturunannya. Kedua orang tua Jihoon membutuhkan Jihoon.

Kemudian pemilik air mata kesedihan adalah Woojin. Kesedihan dan penyesalan mendalam.

Hyungseob tidak datang, tentu saja. dan Woojin tidak bisa berhenti memikirkannya. Meskipun Woojin telah mencium Jihoon di hari pernikahannya, sentuhan itu terasa begitu hambar. Ia masih tidak bisa merasakan suatu sengatan istimewa setiap kali berada di dekat Jihoon. Bahkan jika menyentuhnya sekalipun. Sedalam apapun sentuhan itu. Dan tidak ada yang tahu sampai kapan ia akan melanjutkan sikap ini.

Sementara Jinyoung tidak menangis. Ia pikir air matanya telah habis sekedar menangisi kepergian Jihoon di hari-hari sebelumnya. Yah, pergi dalam konteks lain. Karena sampai kapanpun, Park Jihoon akan selalu menjadi sahabatnya. Teman terdekatnya. Teman terbaiknya. Ia tidak tergantikan. Dan mereka masih bisa mengatur pertemuan, kapanpun mereka mau.

Tunggu, tidak juga. Mungkin setelah Jihoon menikah, tidak akan semudah itu bagi keduanya untuk bertemu. Jihoon akan memiliki keluarganya sendiri. Ia akan memiliki sesuatu yang harus ia prioritaskan di atas segalanya.

Daehwi yang – seperti telah direncanakan – duduk di samping Jinyoung untuk menemani, memperhatikan sepasang tangan Jinyoung mengepal kuat di atas paha. Seperti manahan sesuatu di balik wajah tenangnya. Daehwi tahu Jinyoung sudah bisa merelakan. Tapi tidak ada perasaan rela yang benar-benar rela jika kau melihat hingga ke bagian terdalam hatinya.

Daehwi beralih menatap wajah Jinyoung. Ia melihat sematan senyum getir di sana. Ia ingin mencoba menenangkan Jinyoung. Tapi ia tidak tahu apa yang paling tepat tindakan yang bisa ia lakukan untuk mewujudkannya.

"Lee Daehwi."

"Ya?"

"Setelah ini, bisakah kau membawaku pergi?"

"Eh?" Daehwi tidak mengerti kalimat Jinyoung. Terlalu absurd untuk dipahami.

"Tolong bawa aku pergi, Lee Daehwi." Jinyoung mengulang permintaan. Daehwi tidak tuli dan tidak butuh pengulangan. Ia hanya tidak mengerti dan yang ia butuhkan adalah penjelasan.

"Kau mau ke mana?"

"Terserah. Ke mana saja. Ke tempat dimana hanya akan ada kau dan aku saja di sana."

Daehwi sebenarnya merasa ragu. Ia tahu Jinyoung benar-benar kalut hingga menjadi setertekan ini. Tapi...

"Baiklah."

.

.

.

TBC

.

.

.

D: KASIH LAH MOMEN JIUN-UJIN YANG BAPER BAPER DIKIT

F: Yg gimana sih? Aku ga ngerti wkwkwk.

.

S: Target review makin naik.

R: Iya lah. Biar aku tau berapa target yg harus aku pasang biar aku bisa libur panjang dari menulis lanjutan ini xD

.

S: Sementara tiap chap cuma bisa review sekali tiap akun.

R: Kalo pake browser ama opera mini emang cuma bisa sekali. Tapi kalo pake app nya bisa dua kali per chapter. Kalo mau spam review berkali kali ya paling log out dulu. Ga pake akun gitu.

.

Q: Terus gue kudu eottokae?

A: Sisa review nya ga pake akun wkwkwk.

.

S: Menurutku aja atau emang nih chap pendek ya?

R: Emang pendek kok :p

.

D: Bisa panjangin ga?

F: Bisa aja sih. Cuma akunya susah nulis wkwkwk.

.

S: Aku jadi penasaran ma problem mereka (2park) apa lagi di next chap.

R: Masih banyak bgt loh konflik lainnya menanti. Hyungseob cuma salah satunya doang (cuma jadi salah satu aja masalahnya bisa aga panjang gini, gimana kalo banyak?) xD

.

D: Ucup udah get away. Semoga dia ga hamil.

F: Silahkan berharap aja /shy/

.

S: Ga semua orang yg punya rahim sekali berhubungan langsung joss jadi gitu.

R: Tapi hyungseob nya di sini lagi subur. Gimana dong? /shy/

.

S: Daniel emang selalu ma ong kog...

R: SEKALI LAGI, IYA! AKU SETUJU BANGET!

.

D: Pengennya si hyungseob itu ntah diusir mungkin pokoknya merana gitu, enak aja dia udah called out jihoon di public place gitu tapi dia enak2an pindah diem2...

F: Aku pikir hyungseob juga udah cukup menderita dengan kabar pernikahan pacarnya sendiri sama orang lain. Jadi ga perlu bikin dia lebih kesiksa lagi dari itu, ehe. Kok aku ga tegaan gitu ya ama dia :[

.

S: Orang hamil kan gak boleh stres dan kena benturan fisik sebenernya...

R: Iya ya. Tapi ujin dengan tidak berprikemanusiaannya mukul jihoon ampe jatoh. Ckckck.

.

S: Pengen banget injek2 si ujin.

R: Yah jangan dong. Kasian jihoon. Kan di sini jihoon yg jadi bucinnya wkwkwk.

.

Q: Itu kenapa mamanya woojin ga sreg sama hyungseob?

A: Bukan ga sreg. Mama ujin bisa aja jodohin ujin ama siapa aja. Tapi udah klop nya ama jihoon gitu.

.

S: Authornim bilang kalau woojin bakal tambah benci sama jihoon... benar2 cinta bukan ya? Kke.

R: Heleh maunya :p

.

S: Jihoon gak nongol nongol.

R: Nongol sih. Cuma di script buat scene chap delapan itu dia ga dapet dialog *berasa lagi syuting film gitu ya.

.

D: Ayolah ucupnya hamil juga biar makin seru wkwkwk kan nanti sengsara jiunnya ngeliatin woojin lebih perhatian sama anak ucup daripada anak dia...

F: Duh perrmintaan pembaca kontradiktif begini ya xD

.

S: Ucup main pergi aja lagi.

R: Ya pergi aja sih. Lagian dia mau ngapain lagi coba? Ujin udah mau nikah ama orang. Masa iya hyungseob mau jadi pelakor? Wkwkwk.

.

S: Cuma bayangin sih, si hyungseob beneran hamil pas pindah, terus ntar pas anaknya udah gede dia minta pertanggungjawaban ke ujin, terus ujin milih hyungseob dan ninggalin jiun bareng anaknya.

R: Duh imajinasinya jahat amat :']

.

S: Bisa bernafas lega setelah satu manusia antah berantah pergi.

R: Belom bisa bernafas lega loooh. Masih ada masalah lainnya menanti wkwkwk.

.

Q: Ucup ngga bakal ngrebut ujin dari jihun kan?

A: bakal ngerebut engga ya? /shy/

.

D: Ucup sama jinyoung aja deh, kan cocok sama2 ditinggal nikah sama gebetan wkwk.

F: Another jinseob with different content lol. Jinyoung x hyungseob is so random lol but i wont forbid you from imagining it xD

.

S: Seob udah ikhlas lahir batin tuh ninggalin ujin.

R: Engga kok, dia ya sama aja kek jinyoung. Hatinya mah berat bgt buat lepasin xD

.

D: Ujin moga aja bakalan bikin jiun jadi pelampiasan nafsu si ujin karena seob udah pergi.

F: Waduh. Jadi pelampiasan nafsu doang nih? :']

.

Q: Kalau reviewnya gak tercapai gak akan dilanjutin ya?

A: Sebenernya pertanyaan semacam ini udah aku jawab di chap sebelumnya. Tapi mungkin kamu ga baca cuap cuap aku jadi aku jawab lagi aja deh ya. Tetep bakal lanjut tapi paling kalian mesti nunggu selama dua atau tiga bulan atau lebih. Soalnya masih ada banyak utang ff lainnya yg harus aku lanjutin juga :]

.

Q: Kira2 berapa chap lagi menuju end?

A: Dua puluh chap lagi kalo sanggup #mantabdjiwayekan.

.

Q: Apa nanti jadi nielwink .g

A: Eh beneran loh ini ada slight nielwink :p

.

D: Biarkan jihoon sedikit senang deh ya, kasian kak dia posisi lagi hamil juga wkwk kalo kebanyakan mikir kasian bayinya.

F: Iya ya kasian jihoon. Tapi dia mah bisa nikah ama ujin aja seneng. Meskipun ujin nya malah mikirin hyungseob mulu :']

.

Q: Woojin emang beneran gak ada naluri bapak ke anaknya gitu sama anak yg jihoon kandung?

A: Ga ada. Sejak awal tau jihoon hamil juga ujin pengen nganggepnya itu cuma anaknya jihoon aja.

.

Q: Apakah oknum hyungseob memiliki rahim?

A: Punya engga yaaa? /shy/

.

Q: Jihoon bakalan ada yg deketin gitu gak?

A: Yg ada dia yg deketin. Tuh dia mulai deketin daniel tuh /shy/

.

S: Yg ngasih tumpangan nginep di rumah dia, lupa namanya.

R: Jinyoung. Bae Jinyoung :'] aduh sepertinya kamu baru kenalan ya sama wanna one? Sini mendekat sama aku. Im gonna lead you to slip into the diamond life #salah. Into wannable world maksudnya wkwkwk.

.

Q: Kapan mereka nikahnya?

A: Udah noh lagi nikah ini.

.

D: Pengen diundang juga ih.

F: Sama :']

.

Q: Mengapa harus merasa bersalah pada pelakor? Lagipula istrimu itu park jiun jin.

A: Soalnya kan ujin pacaran ama hyungseob tapi malah berhubungan seks sama jihoon xD

.

S: Aku sedikit benci adegan dimana ujin mengajak pelakor ke hotel.

R: Itu pacarnya woy bukan pelakor. Jadi wajar lah kalo ngajak pacar sendiri ke hotel xD

.

S: Maaf aku menyepam.

R: Gosah minta maaf. Nyepam aja yg banyak kalo mau wkwkwk.

.

Tiap chap emang pendek-pendek gitu. Tapi karena sesi balesan komenannya panjang, baca aja. Soalnya di cuap cuap itu banyak spoiler ama petunjuk, juga hal hal yg ga kejelasin di dalem cerita. Di antara kalian ada yg suka ngeskip baca balesan review? Nyesel loh entar ketinggalan banyak informasi :p

Makasih buat yg udah ninggalin jejak di chap sebelumnya:

MiOS | apalah apalah | sherllll26

Kwonfire | Chotan | Devine GG

Nerdaniel | xiaoritaoktavia | tong

Chanchancy | whitebeaver | Taman Mawar

Shineestar | NamJinShip | seolhanna97

Hola | hanasariw | febrinasebayang1002

Ratubusiness10 | Lee Junyoung | RiskaTae

Afifah | nyangbinsausage | unknown

Anonymous | Dark Woojin | the-park-duo

Guest

Special thanks to:

Meimei | Park Youngie | inspirit94er

Latte123 | berryberrypie | Illan

Jellynyel | Picos | little sweetrara

Linlinil | New Reader | anakwoojin

Aku baru nyadar ada lagu judulnya How Does It Feel. Ketika kemaren aku ngubek ngubek folder musik, lebih spesifik ke folder Avril Lavigne. Berarti selama ini grammar aku bener ya? Padahal niatnya bodo amat kalo salah, yg penting enaknya gitu *yakali udah sarjana sastra juga masih aja salah grammar xD

Next target 314 review ya :p

Ada yg bisa nebak siapa istrinya daniel? /shy/