Sebelumnya, terima kasih untuk just reader 'Monta, kureha-alpha, DarkAngelYouichi, Nasaka X Mizumachi, AeonFlux15, Yukino Hiruma, Uyung-chan, Ayuzawa00Phantomhive, CieCieYeaDinoHiba4EVER, levina-rukaruka, Hotaru Jaegerjaquez, dan Matsura Akimoto yang sudah me-review chapter sebelumnya.. Arigatou MAX! XD
Chap ini chara-nya Mizumachi yang diminta sama Nasaka X Mizumachi.. Semoga semuanya suka.. Oia, yang ini two-shot.. Adegan-adegan yang (agak) tegangnya ada di Part 2.. :D
.
.
Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata
.
Ghost Island
Plot by mozzarella cheese
Story by Mitama134666
Main Chara(s) : Mizumachi Kengo, Kakei Shun
Genre : Horror, mystery, slight romance dan humor garing
Rated : T (to be safe)
Warning : Chara death, OOC (semoga tidak terlalu), typo (jaga-jaga), horror kurang terasa.
.
Part 1
.
Kyoshin Poseidon adalah nama dari tim amefuto yang diperkuat oleh Shun Kakei dan Mizumachi Kengo. Dua pemuda gagah yang tingginya dapat membuat lawan mereka merasa terintimidasi seketika. Tetapi walaupun begitu, ternyata tim yang sangat kuat ini telah dikalahkan oleh tim Deimon Devil Bats.
Cukup mengejutkan. Mengingat tim Devil Bats merupakan tim baru yang anggotanya pun kebanyakan belum pernah main amefuto sebelumnya. Apalagi, setelah berhasil mengalahkan tim Kyoshin, tim Deimon pun memenangkan pertandingan-pertandingan lainnya sehingga mereka berhasil maju ke Christmas Bowl.
Bahkan tim Deimon menang dramatis dalam Christmas Bowl yang telah berlangsung beberapa minggu yang lalu itu. Sungguh, mereka membuat dunia amefuto Jepang mengalami guncangan hebat. Ternyata tekad dan semangat mereka dalam meraih impian dapat membuat segalanya menjadi mungkin.
Tim Kyoshin sendiri merasa kagum terhadap tim Deimon. Terutama Mizumachi dan Kakei yang pernah dilawan habis-habisan oleh tim pemenang Christmas Bowl itu.
Tapi selain rasa kagum, mereka juga merasa malu. Malu akan tekad dan usaha mereka yang masih terbilang kalah jauh dari tim Deimon. Itu sebabnya, mereka pun berusaha lebih keras untuk menjadi lebih hebat. Tak lupa, mereka juga menanamkan niat yang kuat untuk memenangkan pertandingan-pertandingan di musim yang akan datang.
Salah satu caranya yaitu dengan latihan khusus. Sesuai dengan nama tim mereka, 'Poseidon' yang merupakan dewa penguasa lautan, mereka mengadakan latihan khusus di sebuah pulau terpencil yang dikelilingi oleh laut. Kata pelatih mereka, hanya ada lima keluarga saja yang menghuni pulau itu.
Dan sekarang ini—di saat udara sudah mulai menghangat—rombongan tim Kyoshin Poseidon sedang dalam perjalanan mereka menuju pulau yang saking kecilnya sampai-sampai tidak tergambar di peta.
"Nghaaa, Kakei! Lihat, pulaunya muncul!" teriak Mizumachi sambil menari.
"Tidak usah teriak-teriak apalagi menari-nari begitu, Mizumachi," kata Kakei.
"Ah, Kakei tidak seru!" kata Mizumachi yang sudah mulai membuka bajunya.
"Hei, sudah berapa kali kubilang, jangan buka bajumu!" omel Kakei.
Tapi Mizumachi tidak menghiraukan temannya itu. Bahkan ia malah melepaskan celana panjangnya juga. Sebelum Kakei sempat protes lagi, Mizumachi pun berkata, "Nghaaa, aku mau berenang sampai ke pulau! Sampai jumpa, Kakei!"
BYURRR
Mizumachi pun terjun ke laut tanpa menunggu Kakei mengeluarkan serentetan kalimat protes.
Pemuda yang pernah ingin direkrut Habashira—karena matanya yang seperti bunglon—itu pun hanya bisa berteriak, "Mizumachi! Hei! Mizu—"
"Sudahlah, Kakei. Kelihatannya dia senang sekali, jadi biarkan saja. Ya?" kata Shibuya Maki, Manajer tim Kyoshin Poseidon.
Karena Maki yang bilang begitu, maka Kakei pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk pelan lalu tersenyum kecil.
Kakei dan Maki pun mengobrol selama beberapa menit sebelum kapal mereka berlabuh.
.
-xXx-
.
"Nghaaa, Kakei, Maki, teman-teman! Kalian lama sekali! Aku saja sudah sampai sejak tadi," kata Mizumachi yang menyambut teman-temannya.
"Bukan kami yang lambat, tapi kau yang terlalu cepat. Kau kan bukan manusia biasa," kata Kakei. Sebenarnya semua teman-temannya pun beranggapan demikian, tetapi hanya Kakei saja yang bisa mengatakannya dengan enteng.
"Oooh, begitu ya," kata Mizumachi dengan begonya.
"Memangnya kau sudah berapa lama sampai di sini, Mizumachi?" tanya Maki.
"Cukup lama. Sampai-sampai aku sempat melakukan tujuh kali putaran dalam gerakan cheers yang diajari Otohime," jawab Mizumachi.
Dan mendengar jawaban bodoh itu pun semuanya cuma bisa sweatdropped. Mizumachi itu memang dikaruniai tubuh yang luar biasa. Otaknya juga tidak bodoh sebenarnya. Tapi sayang, perilakunya agak aneh.
"Sudahlah, ayo kita ke penginapan. Katanya akan ada sedikit penjelasan mengenai pulau ini dari pengurusnya," ajak Maki.
"Ya, ayo," jawab Kakei yang sudah bingung menghadapi Mizumachi.
"Eh, Kakei! Tadi aku melihat papan nama pulau ini. Namanya aneh sekali. Pulau Empat. Hmmm… Aneh!" kata Mizumachi sambil mengikuti Kakei dan Maki. Sedangkan teman-teman mereka yang lain sudah berlari sejak beberapa saat yang lalu. Terlalu bersemangat sepertinya.
"Yah, mungkin saja dulu di sini ada beberapa pulau. Dan pulau ini merupakan pulau nomor empat. Bisa saja kan? Tapi, tak tahulah. Aku tidak peduli," ucap Kakei.
Tapi Mizumachi tidak menghiraukan Kakei yang tidak peduli akan topik pembicaraan mereka. Ia terus saja mengoceh tentang nama pulau itu, juga tentang berbagai kemungkinan tentang kenapa pulau itu diberi nama 'Pulau Empat'.
Yah—tentu saja—teori-teori yang dikemukakan Mizumachi sangat aneh. Dari mulai pulau yang mungkin berbentuk seperti angka empat, pulau yang mungkin hanya dihuni oleh empat orang, pulau yang mungkin memiliki empat gunung, empat pantai, empat rumah, empat kolam renang, empat dapur, empat kamar mandi dan empat tempat tidur.
Syukurlah, sebelum Mizumachi berubah menjadi sales yang menawarkan kredit rumah, mereka pun sampai di sebuah penginapan yang tua tetapi cukup bersih dan terawat.
"Nah, anak-anak sekalian, perkenalkan. Nama saya John Genta Hattori. Panggil saja saya John. Saya adalah pengurus penginapan ini," kata seorang pria yang sepertinya sudah berumur setengah abad.
John? Melihat perawakan pria itu yang nggak ada bule-bule-nya sama sekali, para anggota tim Kyoshin pun langsung berpikir kalau sepertinya nama John itu cuma ngarang. Tapi ada satu orang aneh yang dengan polosnya malah bertanya, "Nghaaa… John? Apa Bapak ini blasteran?"
"Haha… Kelihatan ya? Iya. Saya blasteran. Ayah saya orang Tokyo, Ibu saya orang Hokkaido, dan tetangga saya orang Inggris," jawab pria itu.
Dan mendengar hal itu, tim Kyoshin pun gubrag dengan indahnya. Kecuali Mizumachi yang malah berkata,"Ooohh… Begitu… Keren!"
"Errr—Maaf, bisa langsung masuk ke penjelasannya saja?" tanya Kakei yang mencoba menyelamatkan teman-temannya yang masih waras dari pembicaraan gaje Mizumachi dan John.
"Ah, iya. Saya hampir lupa. Okeh, jadi intinya kalian boleh berkeliaran di penginapan dan pulau ini. Bebas, yang penting kalian harus menjaga kebersihan, tidak merusak tanaman, hormati guru dan sayangi teman," kata John.
"Ng—Itu saja?" tanya Maki.
"Oh, satu lagi. Pantai yang terdapat di sisi kiri pulau ini, kami menyebutnya pantai kiri, merupakan pantai terindah dan terbersih di sini. Tetapi hanya boleh dikunjungi oleh orang yang sudah tidak suci—maksud saya perjaka—lagi," jelas John.
"Nghaaa… Kenapa? Aku kan masih perjaka, jadi aku tidak boleh bermain di pantai itu?" tanya Mizumachi yang nggak rela. Sedangkan teman-temannya yang lain ada yang bersorak riang karena sudah tidak perjaka lagi. Ada juga yang jadi bahan ejekan karena masih perjaka.
"Itu karena, menurut kepercayaan orang-orang disini, di samping kiri pulau ini hidup seorang penyihir yang akan menculik siapa pun yang masih suci untuk dibawa ke dunia bawah," jawab John.
"Ah, itu kan hanya mitos! Aku tidak percaya!" protes seorang anggota tim yang tadi menjadi bahan ejekan.
"Iya, aku kan juga ingin ke pantai yang indah itu!" dukung Mizumachi, diikuti oleh teman-temannya yang lain—yang masih suci tentunya. Suasana yang tadinya tenang pun berubah menjadi ribut seketika.
"Diam kalian semua! Pokoknya, hal itu merupakan peraturan mutlak di pulau ini! Kalau ada yang melanggar, maka akan saya tendang dari pulau!" teriak John yang tiba-tiba jadi galak.
Hening…
John memelototi satu persatu anggota tim Kyoshin sampai akhirnya keheningan itu pun dipecahkan oleh Maki yang bertanya, "Ehem, ma—maaf, tapi bagaimana Anda bisa tahu siapa yang masih suci dan siapa yang sudah tidak?"
"Oh, itu saya udah dapet bocoran dari temen saya. Namanya Youichi Hiruma. Apa kalian tahu dia? Katanya dia kan terkenal di dunia American Football," kata John.
Mendengar nama setan Deimon itu disebut-sebut, semua anggota Kyoshin—minus Mizumachi dan Kakei—pun langsung merinding dan tidak melakukan protes lebih lanjut.
"Ya, kalau dia kami kenal. Baiklah, kami mengerti," kata Kakei.
"Bagus! Okeh, saya tinggal dulu! Silahkan bersenang-senang! Anggap saja rumah sendiri!" teriak John sambil pergi menjauh.
"Eh? Kita ditinggal begitu saja? Pengurus macam apa dia?" desis salah satu anggota tim.
"Iya, dasar orang tua 'tak bertanggung jawab! Sudahlah, yang penting sekarang aku akan mengumumkan soal pembagian kamarnya," kata Maki. Gadis itu pun menyebutkan nama-nama anggota tim dan memberikan kunci kamar mereka. Setiap kamarnya dihuni oleh dua orang. Kecuali Maki yang menempati sendiri kamarnya karena ia adalah satu-satunya perempuan yang ikut dalam rombongan tersebut.
"Aku satu kamar dengan Mizumachi?" tanya Kakei yang agak cemberut.
"Iya. Jangan protes! Pembagian kamar ini sudah diatur oleh pelatih," jawab Maki.
"Yah, baiklah. Tapi ngomong-ngomong soal pelatih, dimana dia?" tanya Kakei sambil menerima kunci kamar yang disodorkan padanya.
"Itulah, aku juga tidak tahu. Katanya pelatih sudah tiba sejak kemarin. Yah, nanti juga dia muncul sendiri. Sebelum itu, kita bebas," kata Maki.
Kakei pun tak banyak bicara lagi. Ia segera membawa barang-barangnya menuju kamar nomor 13, diikuti oleh Mizumachi.
.
-xXx-
.
Beberapa saat kemudian, semua anggota rombongan pun sudah mulai bersenang-senang di halaman belakang penginapan. Lahan yang cukup luas itu dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan. Ada yang bermain kartu, bola, monopoli, kucing-kucingan, ibu-ibuan, dan lain sebagainya.
"Ayo, kita ke pantai kiri, teman-teman!" teriak seorang anggota tim Kyoshin kepada teman-temannya yang sedang asik bermain. Sepertinya ia sekaligus mendeklarasikan kalau dirinya sudah tidak perjaka lagi.
Teman-temannya yang sudah tidak suci pun menyambut ide tersebut dengan antusias. Selanjutnya mereka semua pergi ke pantai yang dimaksud, meninggalkan hanya beberapa orang saja di halaman luas itu. Dan diantara orang-orang itu terdapat Mizumachi, Kakei, dan juga Maki.
"Nghaaa, Kakei, ternyata banyak juga teman-teman kita yang sudah tidak perjaka lagi ya… Bagaimana bisa?" kata Mizumachi heran.
"Hn, kau terlalu polos Mizumachi," kata Kakei.
"Eh? Apa maksudnya?" tanya Mizumachi yang malah tambah heran.
"Kujelaskan pun kau tidak akan mengerti," jawab Kakei datar.
"Ng, terserahlah. Yah… Padahal aku ingin sekali main ke pantai itu," kata Mizumachi.
"Hmmm, aku juga jadi penasaran soal pantai itu. Kau main di pantai yang di depan saja, Mizumachi. Aku mau kesana sekarang," kata Kakei.
"Nghaaa? Kau mau pergi? Tapi, yang boleh pergi kesana 'kan hanya yang sudah tidak suci saja!" protes Mizumachi.
"Sudah kubilang, kau terlalu polos, Mizumachi. Ayo, Maki…," kata Kakei sambil mengulurkan tangannya pada Maki.
Maki pun menerima uluran tangan Kakei dengan muka yang memerah. Selanjutnya mereka berdua berjalan perlahan menuju pantai belakang.
"Eh? Ah, aku tidak mengerti…," gumam Mizumachi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun pergi ke pantai dimana kapal mereka berlabuh tadi.
Mizumachi, kau memang terlalu polos…
.
-xXx-
.
Di pantai, Mizumachi hanya main sendiri karena teman-temannya yang tertinggal sedang bermain game yang disediakan di penginapan. Ia pun mencoba berenang, tetapi ternyata pantai itu kotor. Walaupun sepi tetapi banyak sekali sampah disana.
Selanjutnya, Mizumachi bingung harus melakukan apa. Ia pun hanya duduk melamun di tepi pantai. 'Seandainya Akaba ikut, dia kan bisa mengiringi aku menari,' pikir pemuda tinggi itu.
"Huahhh, teman-teman enak sekali bisa bermain di pantai yang—katanya—indah dan bersih itu! Aku juga ingin kesana!" teriak Mizumachi frustasi.
Tapi setelah itu, ia mematung seolah sedang berpikir keras. Beberapa saat kemudian, senyum pun terkembang di wajahnya. Tiba-tiba saja ia dapat ide untuk mengunjungi pantai kiri pada malam hari. Ya, pokoknya ia harus pergi ke pantai itu, apapun yang terjadi.
Ah, seandainya saja Mizumachi mengetahui tentang apa yang menantinya di pantai itu…
.
-xXx-
.
Gelap. Semua lampu telah dimatikan. Semua penghuni penginapan—yang memang hanya terdiri dari para anggota tim Kyoshin—telah tertidur. Mizumachi pun membuka matanya, mengintip Kakei yang tidur di seberang tempat tidurnya, lalu menyeringai. Ia turun dari tempat tidur dan mengendap-endap ke dapur. Satu-satunya pintu yang memungkinkannya untuk keluar dari penginapan memang pintu dapur.
Sesampainya di dapur, Mizumachi langsung membuka kunci selot pintu lalu segera berlari keluar. Udara malam yang agak dingin menyambut pemuda jabrik itu. Tetapi dinginnya angin malam tidak menyurutkan niat Mizumachi untuk berenang di pantai.
Dengan semangat berkobar, Mizumachi berlari sampai ia bertemu dengan bibir pantai. Ternyata benar, pantai itu adalah pantai terbersih dan terindah yang pernah Mizumachi lihat. Ia pun mengambil nafas dalam-dalam untuk merasakan udara yang sedikit asin. Ia tidak menyadari akan adanya tangan kurus yang mendekati tubuhnya sampai tiba-tiba…
.
.
.
PUK!
Mizumachi melompat kaget lalu membalikkan badannya untuk melihat orang yang tadi menepuk punggungnya.
"Nghaaa? O—Otohime?" tanya Mizumachi pada gadis cantik dihadapannya.
"Hmmm… Ini aku, Mizumachi," jawab gadis itu.
"Kenapa kau ada disini? Bukankah kau tidak ikut?" tanya Mizumachi heran.
"Aku menyusul. Hehe…," jawab Otohime singkat.
"Oh begitu…"
"…"
"…"
"…"
"Kapan?" tanya Mizumachi lagi setelah loading lamaaa sekali.
"Baru saja. Aku langsung menuju kesini begitu sampai," jawab Otohime sambil tersenyum manis.
"Ng—Tapi, aku tidak mendengar suara kapal," kata Mizumachi yang sudah telanjang dada.
Otohime yang melihat dada Mizumachi yang bidang langsung blushing sebelum akhirnya menjelaskan, "Sebenarnya aku sudah disini sejak satu jam yang lalu. Karena penginapannya dikunci dan tidak ada yang mendengarku mengetuk pintu, jadi aku kesini saja."
"Nghaaa… Kasihan sekali kau. Lalu, kenapa tidak telepon saja?"
"Karena terburu-buru, handphone-ku ketinggalan," kata Otohime sambil tersenyum kecut.
"Nghaaa… Ternyata kau ceroboh juga Otohime. Kalau begitu, ayo kita kembali ke penginapan," ajak Mizumachi.
"E—Eh? Kau tidak jadi berenang?"
"Tidak jadi. Nanti lagi saja. Yang penting sekarang aku akan mengantarmu ke penginapan. Ayo!" Mizumachi pun menarik tangan Otohime. Sedangkan Otohime sendiri terlihat berat untuk meninggalkan pantai. Tapi ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti Mizumachi.
Sesampainya di penginapan, Mizumachi langsung berteriak keras, "teman-teman! Bangun! Oto—Hmmph…"
"Jangan teriak-teriak begitu! Aku tidak mau mengganggu yang lainnya!" protes Otohime yang sedang membungkan mulut Mizumachi dengan kedua tangannya. Tapi terlambat, teriakan Mizumachi tadi telah membuat semua anggota tim Kyoshin bangun dari mimpi mereka.
"Otohime?" kata Kakei.
"Kyaaa! Otohime! Kau menyusul! Akhirnya kau berubah pikiran juga!" teriak Maki yang girang karena sekarang Ia bukan lagi satu-satunya perempuan disana.
Kemudian yang lainnya pun satu persatu keluar dari kamar mereka dan menyapa Otohime. Tentu saja mereka semua senang gadis itu bergabung, karena Otohime kan gadis yang sangat cantik dan menarik.
Otohime pun menjelaskan perihal kedatangannya yang tiba-tiba dan bagaimana ia ditemukan oleh Mizumachi. Tapi ia tidak bilang kalau mereka bertemu di pantai samping. Setelah sempat heboh, mereka semua pun melanjutkan tidur mereka karena besok latihan akan dimulai—
—walaupun sampai saat ini pelatih mereka belum kelihatan batang hidungnya.
.
-xXx-
.
Matahari sudah mulai menampakkan wajahnya untuk menyapa bumi. Di pagi yang sejuk ini, Mizumachi sudah berkeliaran di halaman belakang penginapan sambil menari-nari dengan dada telanjang. Di saat ia sedang asik-asiknya menari mengikuti irama lagu yang diputar di radio, Otohime memanggilnya pelan.
"Mizumachi! Ohayou…," sapa Otohime sambil memasang senyumnya yang mempesona.
"Nghaaa… Otohime, ohayou…," jawab Mizumachi.
"Ng—Mizumachi, apa kau sibuk?" tanya gadis pemilik tubuh menggoda itu.
"Tidak kok. Ada apa?" tanya Mizumachi sambil mengecilkan volume suara radionya.
"Begini… Kau mau menemaniku ke pantai yang kemarin?" tanya Otohime malu-malu.
"Aku sih mau saja. Tapi aku kan masih suci. Yang boleh mengunjungi pantai itu kan hanya orang-orang yang sudah tidak suci saja," jelas Mizumachi sambil cemberut. Rupanya ia masih tidak rela akan peraturan tersebut.
"Tidak apa-apa kok. Memangnya kau percaya mitos itu? Ayolah…," bujuk Otohime sambil mendekati Mizumachi.
"Aku sih tidak percaya. Tapi aku tidak mau ditendang ke luar pulau oleh John!"
"Tenanglah, aku jamin kita tidak akan ketahuan." Otohime memasang muka memelasnya.
"Ng… Janji?" tanya Mizumachi yang sudah mulai terbujuk.
"Tentu. Jadi, ayo ikut aku…," ajak Otohime sambil menarik lengan Mizumachi.
Mizumachi pun merasa senang-senang saja kalau dia bisa bebas bermain di pantai yang indah itu. Jadi ia pun mengikuti Otohime sambil tersenyum lebar. "Ayo!" katanya.
.
-xXx-
.
Beberapa saat kemudian, Mizumachi dan Otohime pun sampai di pantai kiri.
"Nghaaa, sudah sampai! Uwaaah, indahnya!" teriak Mizumachi dengan polosnya.
Otohime pun tersenyum lalu mengajak Mizumachi untuk berenang. Tapi tidak seperti biasanya, Mizumachi menolak ajakan itu. Entah kenapa perasaan Mizumachi jadi tidak enak begitu sampai di pantai ini.
Karena tidak berhasil membujuk Mizumachi, Otohime pun berlari ke laut untuk berenang sendirian. Sedangkan Mizumachi, ia hanya duduk-duduk dan memainkan pasir pantai. Pemandangan di pantai yang kosong—karena hari masih pagi sekali—memang sangat indah. Tapi bagi Mizumachi, kesannya jadi agak menyeramkan.
Sedang berpikir seperti itu, Mizumachi dikejutkan oleh suara Otohime yang berteriak kencang,"tolong! Mizumachi, aku tenggelam! Aku… terbawa… terbawa arus… Aku tidak… tidak bisa… berenang!"
Mendengar teriakan itu, Mizumachi pun berlari ke laut. Begitu air sudah setinggi pinggang, ia mulai berenang menuju Otohime. Kemampuan renang Mizumachi memang sudah tidak diragukan lagi. Dalam sekejap saja ia sudah sampai ke tempat Otohime berada. Dengan tangannya yang kekar, ia pun meraih gadis itu dan mencoba menariknya ke tepi pantai. Tapi—
Tiba-tiba saja Otohime berhenti berteriak. Karena heran, pemuda tinggi itu menolehkan kepalanya ke arah Otohime. Tapi yang dilihatnya bukanlah gadis yang tadi pergi ke pantai ini bersamanya. Melainkan sesosok gadis berambut panjang yang terlihat pucat.
Mizumachi tidak bisa melihat gadis itu karena wajahnya tertutupi oleh rambut. Oleh sebab itu, ia pun mengalihkan pandangannya pada tangannya sendiri yang sedang memegang lengan gadis itu. Cengkeraman tangannya yang kuat tidak terasa seperti sedang memegang lengan seseorang.
Lengan gadis itu keras. Langsung saja Mizumachi melepaskan pegangannya. Tapi sebagai gantinya, tangan gadis itu yang sekarang menyergap lengan Mizumachi. Dan ternyata, tangan itu sudah tidak diselimuti oleh kulit dan daging lagi. Hanya tulang.
Perlahan-lahan, gadis itu pun mendongakkan kepalanya. Dan Mizumachi dapat melihat dua rongga kosong yang seharusnya diisi oleh sepasang bola mata.
"Gyaaa!" Mizumachi pun berteriak kencang sekali. Tapi setelah itu, tubuh Mizumachi pun tersedot ke dalam air. Gadis yang tinggal tulang-belulang itu menariknya menuju dunianya; dunia bawah.
.
.
.
|tO bE cONTINUE|
.
.
.
Terima kasih banyak untuk mozzarella cheese yang udah nyumbang plot-nya…. XDDD
Moza-chan, maaf baru selesai ceritanya. Padahal nyumbangnya udah dari sebulan yang lalu. Hehe.. Gomen ne.. m(_ _)m
Saia nda tahan buat masukin humor, tapi malah garing. Maap yah… Udah lama nggak bikin fic humor, humor-sense saia jadi kabur entah kemana… ==v
Dan karena kepanjangan, saia jadiin two-shot.. Hehe.. ^^
Yosh, thanks for reading.. Mind to review?
.
.
PS : Soal karakterisasi Maki sama Otohime saia nda begitu tau.. Jadi maap kalo ada yang salah yah.. m(_ _)m
