Terima kasih telah membaca dan me-review chapter 7... Selamat membaca chapter 8!
Disclaimer: J. K. Rowling
Pre-story: Rose Weasley dan Iris Zabini, Rose Weasley dan Iris Zabini 2, Lima Tahun: Lily dan Alan, Apa yang Terjadi di The Cannons?
PERGI UNTUK MELUPAKAN
Chapter 8
"Rose, ini aku," kata suara yang sangat dikenal Rose.
Rose terkejut, jantungnya berdebar kencang. Tidak mungkin, pikir Rose. Tidak mungkin dia ada di sini. Dia seharusnya ada di apartemennya di London. Tidur di kamarnya yang besar dan megah, bukan dalam hutan seperti ini. Harusnya dia tidak tahu apa-apa dan tidak ingat apa-apa.
"Scorpius?" tanya Rose tidak percaya.
Sesaat tidak ada yang bicara, tampaknya Rose terlalu shock untuk bergerak dan Scorpius juga tampaknya tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan perasaannya.
Beberapa saat kemudian seberkas cahaya muncul dari tongkat sihir Scorpius, menerangi mereka dengan cahaya temaran. Sekarang Rose bisa melihat wajah Scorpius. Dia terlihat lebih kurus dengan pipi yang sedikit cekung dan mata abu-abu perak yang tampak lelah. Mata itu kini menatapnya dengan pandangan yang sukar diekspresikan.
"Apa yang kau lakukan di sini, Scorpius?" tanya Rose, setelah menemukan suaranya lagi.
"Apa yang kau lakukan di sini, Rose?" ulang Scorpius. "Kau seharusnya kembali ke pondok, bukannya berkeliaran di hutan seperti ini. Kau dari mana?"
Rose mendengus jengkel. Benar-benar tidak berperasaan! Haruskah dia berbicara dengan nada seperti itu padanya? Sebenarnya Rose mengharapkan pelukan hangat dan kata-kata penghiburan yang lembut, juga ucapan syukur karena dia telah selamat―keluar dari tempat dia bisa terkurung selamanya. Tetapi dilihat dari cara Scorpius berbicara dengannya tampaknya pelukan dan penghiburan tidak akan didapatkannya. Ingin rasanya Rose menangis karena bahagia. Bahagia karena akhirnya dia bisa bertemu dengan Scorpius lagi. Meskipun perlahan-lahan perasaan cemas mulai menggerogoti hatinya. Mengabaikan pertanyaan Scorpius Rose bertanya,
"Scorpius, apa yang kau lakukan di sini? Kau seharusnya di Inggris... Kau seharusnya di St. Mungo."
"Kau seharusnya tahu mengapa aku kembali," kata Scorpius, memandang Rose dengan tajam. "Kau dari mana? Bisakah kau berhenti membuat orang lain cemas?"
"Aku punya alasan untuk melakukannya... dan aku minta maaf, aku seharusnya meninggalkan pesan," kata Rose. Dia tahu ini memang kesalahannya, dia terlalu tergesa-gesa untuk pergi sehingga tidak meninggalkan pesan untuk Al dan Roddy.
Scorpius masih memandangnya dengan tajam, sehingga Rose mengalihkan pandangannya pada kegelapan di depannya.
"Rose, bisakah kita mendapatkan makanan? Aku kelaparan," kata Wulang, memecahkan keheningan.
"Eh, baiklah... Scorpius, apakah kami bisa memperoleh makanan?" tanya Rose, tidak memandang mata Scorpius. Entah mengapa dia tidak ingin melihat mata Scorpius. Dia takut melihat pandangan marah di mata itu.
Scorpius tidak berkata apa-apa. Dia mengangguk dan berjalan kembali ke tenda diikuti oleh Rose dan Wulang.
"Masuklah! Kau akan menemukan makanan di lemari... Aku harus berjaga di sini," kata Scorpius, setelah mereka tiba di pintu tenda.
Rose mengangguk dan masuk ke tenda bersama Wulang. Interior tenda itu agak mirip interior pondok― markas mereka sebelumnya, meskipun tenda ini lebih sempit. Tenda itu terdiri dari ruang tamu yang luas, dapur kecil dan kamar mandi. Karpet biru usang terhampar di lantai, dan kursi-kursi pendek yang nyaman tergeletak begitu saja di sudut ruangan. Di atas sebuah meja kecil terletak api biru yang disihir di dalam botol. Rose tersenyum, mengingat bahwa menyihir api biru dalam botol adalah keahlian ibunya. Di sudut ruangan terdapat tiga tempat tidur tingkat. Dua dari tempat tidur itu telah ditempati oleh Al, Roddy dan dua orang Auror yang tidak dikenal Rose. Sebuah tempat tidur tampak berantakan dan kosong. Rupanya itu tempat tidur Scorpius, sudah ingin sekali Rose berbaring di sana dan tertidur untuk waktu yang lama. Dia sangat lelah dan capek. Perjalanan dalam lorong gelap membuat seluruh tubuhnya sakit dan kaku.
"Rose," kata Wulang, mengagetkan Rose yang sedang memandang tempat tidur.
"Maaf... aku akan segera mencari makanan," kata Rose, berjalan menuju lemari penyimpanan di dekat dapur dan menemukan salad dingin dan roti di lemari.
Rose menyerahkan mangkuk berisi salad dingin pada Wulang dan dia sendiri mengganjal perutnya dengan roti.
"Kulihat kau dan Scorpius tidak seperti pasangan kekasih yang baru saja bertemu. Kau seharusnya memeluknya dan dia menciummu," kata Wulang, setelah meneguk air putih dalam gelas.
"Perlahan-lahan aku berpikir kau adalah orang dewasa dalam tubuh anak kecil," kata Rose.
Wulang tertawa, kemudian berkata, "Aku senang kita berhasil bertemu dengan teman-temanmu, Rose... Aku rasa kita akan selamat di sini."
"Belum tentu, Wulang. Aku khawatir Imung tidak akan melepaskan kita begitu saja. Dan aku curiga cepat atau lambat dia akan menemukan kita. Dia, sama sepertimu, bisa melihat tenda ini."
"Tak usah pedulikan Tuya Imung... Dia mungkin tidak akan meninggalkan tempatnya yang nyaman itu," kata Wulang.
Rose tidak sepenuhnya setuju dengan Wulang. Dia tahu Imung pasti akan menemukan mereka. Dia tidak mungkin memaksa Rose untuk kembali, tapi Rose tahu Wulang harus kembali ke kaum Ma Hawurung. Di sana dia akan aman, tidak ada yang akan menemukannya di sana.
Setelah makan, Rose menyuruh Wulang tidur dan menyelimutinya dengan selimut cadangan milik Al. Meskipun dalam tenda tidak sedingin di luar, tapi Rose merasa perlu untuk duduk menghangatkan diri dekat api biru dalam botol yang terletak di atas meja. Gaun jingga tipis yang dipakainya sama sekali tidak mampu untuk menahan dinginnya udara. Al cuma punya satu selimut cadangan dan Rose terlalu sopan untuk membuka-buka ransel Roddy dan dua ransel lainnya. Lagi pula gengsinya terlalu tinggi untuk membongkar ransel Scorpius.
"Wulang sudah tidur?" tanya Scorpius. Dia baru saja masuk, membawa novel yang dikenal Rose sebagai novelnya dan api biru dalam botol. Tubuhnya tertutup selimut tebal.
"Sudah," jawab Rose, memandang selimut Scorpius dengan iri.
"Kau tidak tidur?" tanya Scorpius, meletakkan novel dan api biru di atas meja, kemudian duduk di depan Rose.
"Sebentar lagi," jawab Rose, mengalihkan pandangannya pada api biru.
"Harusnya kau tidak berpakaian seperti itu di hutan," kata Scorpius, mengomentari gaun jingga Rose.
Rose ingin membalas dengan tajam, ingin mengomentari Scorpius yang tidak peka. Bagaimana Rose bisa berganti pakaian sementara mereka tidak mengepak ranselnya?
"Apakah kau punya selimut cadangan?" tanya Rose. Dia sebenarnya tidak ingin meminta bantuan Scorpius, tapi rasa dingin yang kuat mengalahkan gengsinya.
"Tidak... Pakai ini!" kata Scorpius, melepaskan selimutnya sendiri dan melemparkannya pada Rose.
Tiba-tiba Rose merasa jengkel. Cara Scorpius melemparkan selimut padanya membuat Rose berpikir bahwa dia lebih memilih kedinginan dari pada memakai selimut Scorpius. Apa salahnya bersikap lembut, dia kan perempuan, bukan teman sesama Auror Scorpius. Rose mengabaikan rasa jengkelnya, memakai selimut dan memandang Scorpius, yang mengenakan jaket tebal, tapi tampaknya masih tetap kedinginan. Rose merasa sangat bersalah. Seharusnya dia tidak mengambil selimut Scorpius. Scorpius lebih memerlukan selimut, bukannya dia masih sakit. Rose melepaskan selimut dan mengulurkannya pada Scorpius.
"Ini kukembalikan," katanya.
Scorpius memandang selimut itu, kemudian menatap Rose.
"Mengapa?"
"Karena kau lebih memerlukannya..."
"Aku tidak memerlukannya... kau memerlukannya. Pakaianmu itu tidak cocok dalam udara dingin," kata Scorpius, mengabaikan selimut yang diulurkan Rose.
Rose mendesah, berdiri, berjalan ke arah Scorpius dan menyelimutinya.
"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Scorpius, mengelak, tapi Rose berhasil menyelimutinya.
"Kau lebih memerlukannya. Kau masih sakit, kan?" Rose menatap Scorpius sesaat dan kembali ke tempat duduknya.
"Aku tidak sakit..." kata Scorpius. "Tapi, aku memang kedinginan. Nah, dari pada kita menghabiskan waktu dengan memperdebatkan siapa yang boleh memakai selimut, mengapa kita tidak memakainya bersama. Selimut ini cukup lebar untuk kita berdua. Kemarilah!"
Rose merasakan wajahnya memanas. Memakai selimut bersama? Berarti dia harus duduk sangat dekat dengannya.
"Ayolah, Rose, jangan cuma duduk memandang api. Api itu tidak akan hilang dari sana."
"Oh, maaf..." kata Rose, berjalan ke tempat Scorpius dan duduk di sampingnya. Scorpius menyelimuti tubuh mereka dengan selimut.
"Nah, hangatkan?" katanya tersenyum.
Rose menatapnya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak memandang wajah Scorpius dari dekat dan melihatnya tersenyum. Gerakan bibirnya yang sensual dan matanya yang bercahaya membuat Rose merasa bisa merelakan segalanya asalkan Scorpius bisa tersenyum seperti itu selamanya.
"Rose..." desah Scorpius.
Mereka saling bertatapan, yang rasanya sangat lama. Mata abu-abu perak Scorpius bersinar lembut di bawah cahaya api biru, bibirnya bergerak ingin mengatakan sesuatu. Dan Rose merasa keinginan kuat untuk menciumnya. Rasanya Rose tidak peduli apapun, meskipun bumi bergoncang di bawah kaminya, dia bisa bertahan asalkan dia bisa mencium Scorpius. Dia terlalu merindukan Scorpius. Masa-masa penuh kesedihan dan penantiannya terasa sangat lama dan jauh. Sebelum Rose bisa memutuskan apakah akan mencium Scorpius atau tidak, Scorpius telah menundukkan kepalanya ke arah Rose. Rose terkejut, mengangkat wajahnya memandang Scorpius. Wajah Scorpius sangat dekat dan dia akan mencium Rose. Ya, cium aku sekarang, Scorpius, pikir Rose dengan bahagia. Sekarang...
"Scorpius, kau bicara dengan siapa?" terdengar suara menyebalkan milik Al. Kepalanya telah muncul dibalik selimut dengan ekspresi terkejut ketika memandang Scorpius dan Rose.
Rose mendesah jengkel dan mengumpat dalam mati. Tetapi, yang lebih menjengkelkan lagi Scorpius menjauhkan diri darinya dengan sangat tiba-tiba, seolah tidak ingin kelihatan oleh orang lain bahwa mereka hampir saja berciuman.
"Rose, kaukah itu? Bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Al, melompat dari tempat tidurnya dengan tiba-tiba.
"Harusnya kau tanya apakah aku baik-baik saja kan, Al?" kata Rose, menghampiri Al dan memeluknya.
Al memeluknya sesaat, kemudian melepaskannya. "Kau membuat semua orang cemas."
"Maafkan aku..."
"Lupakan... lalu bagaimana kau bisa ada di sini? Aku harus tahu agar kita bisa lebih berhati-hati," Al tampak khawatir. Dia berjalan ke depan pintu tenda dan memandang keluar.
Rose duduk kembali di depan Scorpius, memandang api biru dalam botol. Dia tidak ingin bercerita pada mereka tentang apa yang terjadi padanya. Dia telah berjanji pada Imung untuk menjaga rahasia tentang keberadaan kaum Ma Hawurung.
"Apa yang terjadi, Rose?" tanya Al, duduk di sampingnya dan memperhatikan Rose dengan teliti. "Pakaian apa yang kau kenakan? Kau tampak kedinginan. Ada selimut cadangan di ransel Anthony. Aku akan mengambilnya untukmu."
"Rose, kau pakai selimutku... aku akan memakai punya Anthony," kata Scorpius cepat, melemparkan selimutnya pada Rose.
"Terima kasih," kata Rose, menyelimuti dirinya dengan aroma musk yang berasal dari selimut Scorpius.
Al mendelik pada Scorpius, yang tidak peduli dan berjalan mengambil sebuah selimut pada salah satu ransel yang tergeletak di dekat tempat tidur.
"Dia cuma tidak ingin kau bersentuhan dengan selimut orang lain," bisik Al sehingga cuma Rose yang bisa mendengarkan.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Scorpius, yang telah kembali ke tempatnya dengan berselimutkan selimut cadangan Anthony.
"Bukan hal penting... Nah, Rose, ceritakan pada kami apa yang terjadi denganmu?" tanya Al. Dia dan Scorpius memandang Rose sekarang, menunggu Rose bercerita.
Rose menghela nafas. "Aku... maafkan aku. Aku tidak bisa menceritakannya pada kalian, tapi... Aku baik-baik saja... aku bisa keluar dari tempat itu dengan selamat."
"Rose..."
"Tempat apa? Apa yang terjadi, Rosie?"
"Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa menceritakannya pada kalian."
"Mengapa?" tanya Scorpius. "Mengapa kau tidak bisa menceritakannya pada kami. Apakah tempat itu sangat rahasia."
"Ya, tempatnya sangat rahasia dan aku... aku sudah berjanji untuk tidak mengatakan tentang tempat itu pada orang lain."
"Tampaknya kau mengalami pengalaman yang mengasyikkan, Rosie," sindir Al.
"Pada siapa kau berjanji? Menurutku kau harus menceritakannya pada kami Rose. Kalau memang kau baru saja melarikan diri dari sesuatu, kami harus tahu agar kami bisa menghadapinya."
"Aku... kukira bukan sesuatu yang berbahaya. Maksudku Imung tidak akan sampai membunuh kita."
"Imung?" tanya Al dan Scorpius bersamaan. Mereka saling berpandangan.
"Siapa dia, Rose?" tanya Scorpius tajam.
"Dia bukan orang jahat. Dia orang baik."
"Orang baik?" Scorpius nyaris menjerit.
"Dengar, aku tidak bisa menceritakan tentang apapun. Tetapi aku yakin Imung mungkin akan mencari Wulang dan dia akan menemukan kita."
"Bagaimana dia bisa menemukan kita?" tanya Al. "Aku yakin mantra perlindungan yang kupasang cukup kuat untuk mencegah orang-orang melihat tenda ini."
"Aku tidak yakin," kata Rose.
"Apa maksudmu?" tanya Al.
Rose tidak menjawab, tapi memandang tempat tidur Al. Dia sudah ingin sekali berbaring. Rasanya sudah lama sekali dia tidak tidur dengan nyenyak di tempat tidur yang nyaman.
"Boleh aku tidur sekarang? Aku benar-benar lelah," kata Rose.
"Kau tidur di ranjangku, Rose..." kata Scorpius.
"Tapi, kau tidur di mana?"
"Aku akan tidur di ranjang Al. Dia akan berjaga sampai pagi," kata Scorpius seenaknya.
Al mendelik padanya. Rose mengangguk, menuju ke ranjang Scorpius dan berbaring. Rasanya sangat nyaman dan hangat. Scorpius juga ada di sini, tampak sehat dan hidup. Itu merupakan hal yang peling penting untuk saat ini.
"Seharusnya kau tidak boleh segalak itu. Aku kan sepupunya," kata Al, mengedip pada Scorpius. "Kau bertingkah seperti suami yang cemburu."
"Bisakah kita tidak bicara tentang itu? Menurutmu apa yang sedang disembunyikan Rose?"
"Entahlah, menurutku mungkin ada hubungannya dengan Wulang."
"Ya, aku juga berpikir seperti itu. Dan aku memperkirakan segalanya akan jadi semakin berbahaya. Aku ingin agar Rose kembali ke Inggris."
"Ya, aku juga sudah memikirkan hal itu. Apakah menurumu Rose mau kembali ke Inggris? Kurasa tidak."
"Dia harus mau, tempat ini terlalu berbahaya untuknya," kata Scorpius tegas. Dia tidak ingin hal yang buruk terjadi pada Rose.
"Kita akan berbicara tentang ini besok," kata Al, lalu berdiri.
"Kau mau ke mana?" tanya Scorpius.
"Aku mau tidur... kau tidak mengharapkan aku mengganti tugas jagamu dan berjaga sampai pagi, kan?" kata Al, tersenyum sambil mengedip.
"Oh, pergilah!" kata Scorpius.
Al kembali ke ranjangnya dan tertidur dalam hitungan detik.
Scorpius menyambar botol berisi api biru dan membawanya ke pintu tenda, tempatnya duduk sambil memandang kegelapan. Saat ini dia senang karena Rose telah kembali. Dia terlihat sangat cantik dengan gaun jingga aneh itu. Rambut merahnya yang berantakan tergerai di punggungnya, mata birunya tampak menyala-nyala dan bibirnya... Scorpius tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk melukisnya, bibir yang sempurna. Scorpius sudah hampir merasakan bibir itu di bibirnya kalau saja Al tidak mengganggu mereka.
Bukannya Scorpius tidak pernah mencium Rose. Dia pernah menciumnya berjuta-juta tahun lalu saat masih di Hogwarts. Seingatnya baru dua kali dia mencium Rose, itupun bukan ciuman membara yang seharusnya dilakukan dua orang dewasa. Ciuman waktu itu adalah ciuman remaja yang sama sekali tidak berkesan. Meskipun ciuman pertama mereka adalah kesalahan, tapi ciuman itu cukup berkesan dan layak diingat karena saat itulah dia menyadari bahwa dia menyukai Rose. Rose adalah segalanya baginya, dia tidak akan menyerahkan Rose pada siapapun, termasuk pada Imung yang kata Rose adalah 'orang baik' itu.
Jam tiga tepat, Scorpius membangunkan Roddy untuk berjaga. Roddy terkejut ketika melihat Rose berbaring di ranjang Scorpius.
"Besok Al akan menjelaskannya," kata Scorpius lelah. "Selamat tidur."
Roddy mengangguk dan Scorpius berjalan ke ranjangnya. Ranjang itu adalah ranjang kecil yang hanya bisa ditiduri oleh seorang dewasa dan Rose tampak tidur dengan lelap dan tak terganggu. Scorpius mengecup kening Rose dan berbaring di sampingnya. Rose mendesah, kemudian merapatkan diri ke tubuhnya. Scorpius tersenyum dan memeluk Rose.
"Selamat tidur, cintaku," bisiknya, sebelum memejamkan mata dan tertidur.
Rose terbangun saat mendengar bunyi kicauan burung di luar jendela. Dia sudah terbiasa bangun pagi, sehingga seberapa telatpun dia tidur, dia selalu bangun pagi-pagi. Pagi itu dia terbangun dengan Scorpius terbaring di sampingnya. Rose tersenyum menatap wajah tidur Scorpius. Rasanya sukar sekali untuk percaya bahwa Scorpius tidak mencintainya. Rose yakin Scorpius juga mencintainya, mereka saling mencintai dan Rose menyesal mereka tidak menikah sebelum Scorpius berangkat ke Pulau Salura.
Rose menyibakkan rambut Scorpius dari wajahnya dan mengelus pipinya. Pipi Scorpius sangat halus di tangannya kasar. Rose membiarkan tangannya di pipi Scorpius beberapa saat lamanya dan berjanji dalam hati bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Scorpius selamanya. Dia akan selalu ada di sisinya meskipun Scorpius tidak menyukainya.
"Ada hal yang menarik di wajahku?" tanya Scorpius, membuka matanya memandang Rose.
"Kupikir kau masih tidur?" tanya Rose. Jantungnya berdebar kencang. Kenangan tentang ciuman yang gagal semalam membuat Rose merasa sangat malu dan gugup.
"Bagaimana aku bisa tertidur dan melewatkan memandang wajah cantikmu dari dekat," kata Scorpius.
Rose tersenyum. "Gombal! Tidurlah lagi, aku akan bangun."
"Jangan!" seru Scorpius, menahan tangan Rose. "Tetaplah di sini."
"Harus ada yang menyiapkan sarapan, Scorpius," kata Rose.
"Biarkan mereka mengurus diri sendiri. Aku ingin kau tetap di sini."
"Baiklah..."
Mereka berbaring saling bertatapan.
"Sudah lama sekali aku tidak melihatmu, Rose," kata Scorpius, mengulurkan tangan mengelus pipi Rose.
"Baru beberapa minggu yang lalu," kata Rose.
"Maafkan aku... aku melupakanmu."
"Apa?"
"Aku sudah mengingat semuanya... tentang dirimu dan tentang Carina, semuanya."
"Oh, ingatanmu sudah kembali... Syukurlah!" kata Rose, tersenyum dan mengatupkan tangannya pada tangan Scorpius yang ada di pipinya. "Apakah kau senang?"
"Ya, tapi aku menyesal tidak mengenalmu waktu itu."
"Itu tidak penting... yang penting ingatanmu sudah kembali."
"Aku bertemu orang tuamu, Hugo dan Carina..."
Senyuman Rose menghilang. "Apakah... apakah mereka baik-baik saja?"
"Ya... dan Carina merindukanmu."
"Aku juga merindukannya... Dia pasti senang bertemu denganmu lagi," kata Rose. "Waktu itu... waktu kami mengira kau telah... meninggal. Kami, Carina dan aku, sangat sedih... aku, aku merasa bahwa aku juga ingin menyusulmu saat itu."
Rose memejamkan mata dan merasakan airmatanya mengalir. "Kumohon, Scorpius, jangan tinggalkan aku lagi. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu."
"Rose," desah Scorpius menghapus airmata yang mengalir di pipi Rose.
"Kau bahkan tidak mengatakan apa-apa padaku saat datang ke pulau ini."
Scorpius tersenyum. "Seingatku, aku menuduhmu senang melihatku mati dalam tugas."
"Jangan..."
"Maaf..."
"Sudahlah, semua sudah berlalu. Aku senang karena kau ada di sini bersamaku sekarang," kata Rose tersenyum.
"Ya, tapi kau harus segera pergi dari sini, Rose. Kau harus segera kembali ke Inggris."
"Apa?" tanya Rose terkejut, memandang Scorpius dengan tajam.
"Kau harus segera kembali ke Inggris. Aku akan mengatur portkey untukmu."
"Tidak!" jerit Rose tertahan, menjauhkan diri dari Scorpius. Tapi tangan Scorpius yang kuat di pinggangnya membuatnya mampu bergerak.
"Kau harus kembali ke Inggris, Rose. Dan jangan membantahku."
"Baiklah, aku pulang, tapi kau juga harus ikut bersamaku."
Scorpius menatapnya. "Kau tahu itu tidak akan terjadi. Aku akan tetap di sini."
"Bukankah kita pernah membahas hal ini? Aku tidak akan kembali kalau tidak bersamamu."
"Jangan bersikap kekanak-kanakan, Rose."
"Aku tidak bersikap kekanak-kanakan. Aku hanya ingin bersamamu."
"Aku tidak akan selamanya tinggal di sini... kalau misi ini selesai aku akan kembali ke Inggris."
"Aku tetap di sini."
"Rose..."
"Scorpius, lepaskan aku. Aku mau ke dapur."
"Ya, Scorpius, lepaskan dia, aku sudah lapar," kata Wulang dari atas. "Rose, aku suka sarapan omelete."
"Aku ingin kopi yang benar-benar pahit, Rose," kata Al. "Dan aku suka telurku setengah matang."
"Aku suka roti panggang dan selai strauberi, Rose," kata Roddy.
"Nah Scorpius, lepaskan aku," kata Rose. "Aku akan menyediakan sarapan untuk semua orang."
Scorpius melepaskannya dan Rose turun dari tempat tidur, merapikan gaun jingganya dan berjalan menuju dapur, menyediakan sarapan untuk semua orang.
Scorpius adalah orang yang paling tidak peka, pikir Rose, saat menjerang air. Scorpius menginginkannya kembali ke Inggris setelah Rose mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Scorpius. Bagaimana Rose bisa pulang ke Inggris dan tinggal dengan nyaman dalam flatnya sementara Scorpius harus menghadapi orang-orang jahat di sini? Dia tidak akan ke mana. Dia akan tetap di sini bersama Scorpius dan akan ikut ke manapun Scorpius pergi.
"Kau terlalu memanjakan mereka," kata Scorpius, saat Rose menyajikan kopi untuk Al dan kawan-kawan. Anthony dan Neil yang baru saja bergabung langsung diperkenalkan pada Rose dan tanpa malu-malu mereka memesan sarapan.
"Jangan pedulikan Scorpius, Rose," kata Al. "Sebenarnya dia tidak ingin membagimu dengan kami."
"Diam, Al," kata Scorpius.
"Kau ingin sarapan apa, Scorpius?" tanya Rose, mengabaikan Al.
"Aku tidak lapar..." jawab Scorpius.
"Bagus... berkurang satu orang yang harus kulayani," kata Rose, meletakkan kopi dan roti madu di depan Scorpius.
"Aku tidak ingin sarapan."
"Aku tahu," kata Rose, meletakkan potongan daging sapi di piringnya.
"Rose, kau memberikan Scorpius daging sedangkan kami hanya roti," kata Al, pura-pura sebal membuat teman-teman Aurornya tertawa.
"Oh diamlah!" kata Rose, mengangkat telur dan meletakkannya di piring Al. "Masih ada kopi kalau kalian menginginkannya lagi."
Rose duduk di samping Scorpius dan menyesap tehnya.
"Berhentilah bersikap aneh," bisik Rose pada Scorpius. "Kau akan dijadikan lelucon oleh mereka."
"Memangnya aku peduli."
"Scorpius, bisakah kau mendengarkan aku sekali ini dan―"
Rose menghentikan kata-katanya karena seseorang telah muncul di pintu tenda. Scorpius, Al dan kawan-kawan mengeluarkan tongkat sihirnya masing-masing dan mengacungkannya pada orang yang baru saja masuk itu.
"Imung?" Rose terkejut menatap Imung, yang sedang memandang berkeliling dengan ingin tahu. Dia tampak santai dan tidak mempedulikan lima tongkat sihir yang terarah padanya.
"Tuya Imung," teriak Wulang.
"Susah juga mencari kalian," kata Imung, menatap Wulang dan Rose bergantian.
"Imung, silakan bergabung dengan kami," kata Rose, memberi isyarat pada para Auror untuk menurunkan tongkat sihir mereka. "Kami baru saja sarapan."
Imung menatap para Auror dengan tidak yakin.
"Oh, ayolah," kata Rose, menarik Imung dan mendudukkannya di sebelah Wulang. "Aku punya roti madu."
"Terima kasih," kata Imung. Dia tampak santai dan menikmati pandangan menyelidik para Auror.
Rose meletakkan roti madu dan teh di depan Imung dan kembali ke tempat duduknya.
"Jadi dia 'orang baik' itu?" bisik Scorpius. Entah mengapa suaranya terdengar sebal.
"Ya, dia..." Rose balas berbisik. Kemudian dia memandang Imung dan tersenyum.
Mereka makan dalam diam dan setelah itu satu persatu mulai meninggalkan meja. Scorpius menolak untuk pergi meskipun Rose telah menghabiskan beberapa menit untuk memberi isyarat mengusir padanya. Menyerah, akhirnya Rose bangun dan membereskan meja sementara Scorpius dan Imung duduk di tempat masing-masing saling tatap.
"Nah Imung, akhirnya aku berhasil keluar dari tempat itu, kan?" kata Rose, setelah membereskan bekas sarapan dan kembali ke tempat duduknya.
"Aku salah mendugamu ternyata kau orang yang lumayan cerdas," kata Imung.
"Dia bukan 'lumayan cerdas'. Dia sangat cerdas," timpal Scorpius.
"Eh, ya... aku belum memperkenalkan kalian. Imung, ini Scorpius... Scorpius, Imung!"
Scorpius dan Imung berdiri, berjabat tangan. Kemudian kembali duduk, melanjutkan kegiatan saling tatap seolah sedang mengukur kekuatan lawan. Rose duduk salah tingkah di tempatnya.
"Imung, aku sudah menduga kau akan menemukan tempat ini," kata Rose. "Aku harus mengembalikan peta yang kuambil itu."
"Terima kasih... kupikir kau sudah melupakan siapa pemilik peta itu," kata Imung. "Dan aku ke mari untuk membawa Wulang pulang."
"Oh ya, Wulang... dia―"
"Bagaimana kau bisa melihat tenda ini?" tanya Scorpius, memotong kata-kata Rose.
Imung menatap Scorpius. "Apakah Rose belum bercerita padamu tentang aku?"
"Tidak..."
"Eh, aku..." gagap Rose. "Aku sudah berjanji untuk tidak bercerita pada siapapun tentang dirimu."
"Oh... kau baik sekali."
"Scorpius, bisakah kau keluar? Aku ingin bicara dengan Imung berdua saja," kata Rose.
Scorpius memberi Rose tatapan jengkel, kemudian pergi meninggalkan Rose bersama Imung.
"Itu pacarmu?" tanya Imung, memberi tatapan menghina ke arah pintu.
"Dia calon suamiku," kata Rose.
"Kupikir aku seratus kali lebih baik dari dirinya. Dia kelihatan tidak seperti pria sejati."
"Bagiku Scorpius seribu kali lebih baik dari pada siapapun."
Imung tertawa sinis. Rose mengabaikannya, mengeluarkan peta wilayah Ma Hawurung dan mengembalikannya pada Imung.
"Aku mengerti... aku tidak bisa memaksakan cinta."
"Ya..."
"Aku harus membawa Wulang kembali ke Ma Hawurung," kata Imung.
"Aku tahu, Wulang akan aman bersama kalian... Baiklah, aku akan memanggil Wulang," kata Rose, lalu berjalan keluar tenda memanggil Wulang yang sedang duduk bersama Al dan teman-temannya. Wulang memberikan pandangan bertanya pada Rose, namun Rose menggelengkan kepala.
"Mana Scorpius?" tanya Rose pada Al, setelah Wulang masuk ke tenda.
Al mengangguk ke arah pepohonan di sebelah kiri tenda, di mana Scorpius sedang berdiri memandang pohon-pohon di dekatnya. Rose berjalan perlahan menuju Scorpius.
"Kau marah padaku?" tanya Rose, saat tiba di dekat Scorpius.
"Tidak... untuk apa? Kau berhak bergaul dengan siapa saja."
"Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Tidak ada apa-apa antara Imung dan aku. Aku..."
"Dia kelihatannya cukup perhatian sampai mencarimu ke mari."
"Dia mencari Wulang."
"Kau tinggal bersamanya selama tiga hari saat kau menghilang, kan? Apa saja yang sudah kalian lakukan?"
"Kami tidak melakukan apa-apa."
"Benarkah? Sikapmu yang serba rahasia membuat orang lain curiga, Rose. Lagi pula siapa yang tahu apa yang kalian lakukan, aku kan tidak di sana untuk mengawasimu," kata Scorpius kejam.
Rose menatap Scorpius tidak percaya. Setelah apa yang terjadi antara mereka, setelah pengakuannya bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Scorpius. Setelah semuanya itu, Scorpius masih tidak percaya padanya. Matanya terasa panas dan berair, mengerjapkan mata, Rose mengalihkan pandangan. Dia tidak ingin Scorpius melihatnya terluka.
"Baiklah... percaya apapun yang ingin kau percayai," kata Rose, lalu pergi meninggalkan Scorpius.
Dengan kesal, Rose berjalan melewati Al dan kawan-kawan dan berjalan masuk ke tenda. Di dalam tenda, Wulang tampaknya sedang bertengkar dengan Imung dalam bahasa Halura.
"Rose," kata Wulang saat melihat Rose. "Tuya Imung ingin membawaku kembali. Bujuklah dia untuk tidak membawaku kembali."
"Menurutku kau harus kembali Wulang. Kau akan aman di sana," kata Rose.
"Tapi aku tidak ingin kembali. Kau telah berjanji untuk membawaku ke Inggris, Rose."
"Membawamu ke Inggris?" Imung tampak terkejut. "Kau tidak bisa ke Inggris dan membuat orang lain hidup dalam bahaya karena kau, Wulang."
"Aku tidak keberatan Wulang ikut bersamaku," bantah Rose. "Namun, aku masih harus tetap di sini selama beberapa saat lagi."
"Aku juga akan tetap di sini bersama Rose."
"Kalian ini melakukan misi berbahaya kalian?" tanya Imung, memandang Rose dengan sinis.
"Kami akan melakukan misi kami untuk membantu pulau ini agar tetap aman," kata Rose.
Imung memandang Wulang. "Baiklah, aku menyerah, kau boleh tinggal di sini. Tapi aku ikut ke manapun kau pergi karena kau tidak boleh membuat orang lain dalam bahaya."
"Kau tidak bisa tinggal di sini, tempat ini terlalu sempit untuk kita semua."
"Kalian kan penyihir, kalian bisa melakukan apa saja dengan sihir."
"Benar, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa kami lakukan dengan sihir."
"Aku bisa tidur di mana saja," kata Imung.
Rose menyerah. Dia tahu dia tidak mungkin memaksa Imung untuk pergi.
"Terserah," kata Rose. "Tapi kau harus berbicara dengan Al."
Rose keluar tenda dan menuju tempat Al duduk bersama Roddy, Anthony dan Neil. Scorpius juga telah bergabung bersama mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Al.
"Aku ingin kau bicara dengan Imung," kata Rose.
"Apa yang diinginkannya?" tanya Al.
"Bicaralah dengannya," kata Rose
Al mengangguk. Dia memberi isyarat pada Scorpius untuk menemaninya. Scorpius menggelengkan kepala.
"Aku akan menemanimu. Aku ingin tahu apa yang akan dikatakan orang itu," kata Roddy. Dia bersama Al berjalan masuk ke tenda.
Scorpius memandang Rose, tapi Rose mengalihkan pandangan. Dia terlalu marah untuk berbicara dengan Scorpius sekarang.
"Orang itu akan tinggal di sini?" ulang Scorpius menatap Al dengan tidak percaya. "Kau pasti bercanda!"
"Aku serius... dan kecilkan suaramu," bisik Al.
Al baru saja memberitahu Scorpius bahwa Imung akan tinggal bersama mereka selama beberapa saat. Saat itu mereka sedang berada di luar tenda menghindari tenda yang ramai dan terasa sempit dengan bertambahnya penghuni.
"Tapi dia tidak bisa tinggal di sini. Kita masih harus menyelesaikan penyelidikan kita dan itu tidak bisa ditunda lagi."
"Kita tidak akan menunda penyelidikan kita, tapi mungkin dia akan ikut kita."
"Apa? Kau melibatkan dia dalam misi ini?"
"Ya... aku rasa dia bukan orang jahat."
"'Orang baik', seperti kata Rose," kata Scorpius getir.
"Benar... dan kau harus bisa menerima kehadirannya di sini. Aku tidak ingin ada pertengkaran."
"Terserah," kata Scorpius.
"Ingat, Scorps, aku tidak ingin ada pertengkaran."
"Aku tidak bilang akan bertengkar dengannya."
"Jangan buat Rose bersedih... Dia telah banyak sekali mengalami kesedihan."
"Aku tahu, tapi susah sekali untuk tetap tidak peduli kalau orang yang kau cintai mencintai orang lain."
"Apa?" Al menatap Scorpius sesaat, kemudian tertawa.
"Apanya yang lucu?" tanya Scorpius jengkel.
"Dengar Scorps, Rose itu jatuh cinta padamu dan hanya padamu. Tidakkah kau melihat caranya memandangmu, kau adalah segalanya bagi Rose. Bagaimana kau bisa menyangka dia menyukai Imung?"
"Terkadang kita tidak tahu apa yang dipikirkan orang lain."
"Percayalah padanya, Scorps. Dia mungkin punya alasan untuk merahasiakan kisah perjalanannya. Mungkin satu saat nanti dia akan bercerita padamu."
Scorpius tidak menanggapi, tapi memandang pepohonan gelap di depannya. Sulit sekali untuk percaya pada Rose. Selama ini dia tidak tahu apa yang dipikirkan Rose, apa yang menjadi ketakutan dan kebahagiannya, apa yang dirahasiakannya. Scorpius ingin tahu semuanya itu. Dia juga ingin Rose, untuk sekali ini saja, mendengarkan apa yang dikatakannya. Bukan bersikap keras kepala dan menganggap apa yang dilakukannya lebih benar dari pada orang lain. Scorpius ingin Rose tidak terlibat dengan semuanya ini. Dia ingin Rose kembali ke Inggris dan tinggal bersama Carina, menunggunya pulang, lalu mereka akan hidup bahagia selamanya. Namun, itu adalah harapannya sendiri, terlalu luar biasa untuk menjadi kenyataan dengan sikap Rose yang keras kepala itu.
"Yuk, kembali ke tenda... tampaknya Rose telah menyediakan makan malam," kata Al.
Scorpius mendengus jengkel. Satu lagi hal yang tidak disukainya dari Rose. Rose terlalu ingin menyenangkan orang lain, terlalu peduli pada orang lain, meskipun ini melibatkan keselamatanya sendiri. Lihat saja keadaannya dengan Wulang, kalau tidak ada Wulang, Rose telah pulang ke Inggris bersamanya waktu itu.
"Scorps, kau tidak lapar?"
"Tidak... aku akan berjaga di sini," kata Scorpius.
"Ayolah, Scorps... kau harus ikut bersamaku. Kita harus memutuskan apa yang akan kita lakukan besok."
"Baiklah..."
Scorpius mengikuti Al masuk ke dalam tenda. Semua orang tampaknya sudah berkumpul dan bersempit-sempit di meja makan. Rose duduk di sebelah Imung dan tampaknya sedang menertawai sesuatu yang sedang dikatakan Imung. Menggelengkan kepala untuk mengusir rasa marah yang tiba-tiba menyerangnya, Scorpius memilih tempat duduk yang jauh dari Rose dan Imung.
Suasana makan malam terasa menegangkan, hanya sesekali terdengar suara Rose yang berbicara pada Imung atau Wulang. Jelas sekali Rose sedang mencoba untuk mencairkan suasana yang kaku. Scorpius tampak rileks dan cukup menikmati suasana tegang ini. Rupanya bukan cuma dia yang tidak setuju dengan bergabungnya Imung bersama mereka. Dari tampang Neil dan Anthony yang tegang, mereka juga tampaknya tidak setuju dengan keputusan Al. Scorpius berusaha menahan cengirannya, namun tidak berhasil karena sesekali dia merasa bahwa Rose sedang memelototinya dari ujung meja.
"Kita harus membicarakan langkah-langkah yang harus diambil untuk rencana penyelidikan kita," kata Al, setelah mereka selesai makan.
Tidak ada yang berkomentar.
"Dengar, aku mengikutsertakan Imung dalam kelompok kita karena dia lebih tahu tentang hutan ini dari pada kita. Dia bisa menjadi penunjuk jalan bagi kita."
"Aku setuju, kita memang memerlukannya," kata Roddy, mengangguk pada Imung.
"Bukannya aku tidak setuju, tapi... Maaf, maksudku apakah kita bisa mempercayainya? Kita tidak tahu apa-apa tentangnya," kata Neil dengan nada minta maaf.
Scorpius ingin mengatakan bahwa dia setuju dengan Neil, tapi Scorpius melihat Rose mendelik padanya dan segera mengurungkan niatnya.
"Kalau kita tidak mempercayai orang lain, kita tidak akan bisa memulai sesuatu," kata Al. "Aku percaya pada Imung dan aku ingin dia ikut dalam misi kita."
Anthony mengangguk, Neil juga mengangguk meskipun dengan enggan. Sedangkan Scorpius berpura-pura asyik memperhatikan meja makan yang telah dibersihkan oleh Rose. Dia tidak ingin berkomentar apapun dan Al tampaknya tidak ingin dia berkomentar karena dia memandang Roddy dan berkata,
"Nah, mana peta kita, Rod. Kita harus menunjukkan pada Imung tiga titik yang harus kita selidiki."
Roddy mengeluarkan peta dari saku jaketnya dan membentangkannya di meja.
"Sebelum kita membahasnya bisakah Rose dan Wulang keluar... mereka kan bukan anggota kita," kata Scorpius. Dia tidak ingin Rose terlibat dengan apapun juga akan menjadi keputusan mereka nanti.
"Aku tidak akan keluar dari sini. Dari awal aku sudah terlibat dan aku akan terus terlibat. Aku tahu tentang tiga titik itu, jadi jangan coba-coba mengusirku," kata Rose.
"Kita bukan berpiknik, Rose..."
"Aku tidak bilang kita sedang berpiknik. Aku tahu bahaya yang akan kita hadapi."
"Nah, kalau kau tahu bahaya yang akan kita hadapi, pulang ke Inggris sekarang!"
"Aku akan pulang kalau kau juga pulang, Scorpius. Mengerti! Dan aku tidak ingin membahas masalah itu lagi."
"Dengar, Rose..."
"Hentikan kalian berdua!" kata Al keras. "Tidak ada yang akan keluar dari ruangan ini dan kita semua akan ikut terlibat."
"Tapi..."
"Kau tahu kita tidak akan menang dalam hal ini, Scorpius," potong Al lelah.
Rose memberikan senyum kemenangan pada Scorpius, membuat Rose ingin mengikatnya di sapu terbang dan membawanya ke London.
Anthony, Neil dan Imung yang belum pernah melihat Rose dan Scorpius berdebat, ternganga memandang mereka. Mereka pasti berpikir Rose dan Scorpius sudah gila. Wulang terkikik menyadarkan mereka semua.
"Hmm, baiklah sampai di mana kita tadi?" tanya Al sedikit bingung.
"Peta..." jawab Roddy gesit bersikap seperti sekretaris yang baik.
Scorpius bertanya-tanya dalam hati, apakah Roddy akan menyetujui semua yang dikatakan Al? Meskipun menyuruhnya memakan daging ular walaupun ada daging domba panggang di sebelahnya? Scorpius menahan diri untuk tidak menertawai Roddy. Seperti mengetahui apa yang dipikirkan Scorpius, Rose memberikan pandangan 'hentikan sekarang juga' padanya.
"Peta..." ulang Al, melihat peta yang terbentang di depannya. "Jadi kita punya tiga tujuan. Nah, Imung apa pendapatmu tentang tiga tujuan kita." Al menunjukkan tiga titik hitan dalam peta pada Imung.
Imung mempelajari peta itu sesaat.
"Mengapa kau menamai titik pertama ini dengan Ma Hawurung dan memberinya tanda tanya?" tanya Imung, menatap Al.
"Aku yang menandainya," kata Roddy. "Wulang pernah mengatakan bahwa itu adalah adalah wilayah kaum Ma Hawurung. Aku memberinya tanda tanya karena aku belum yakin akan kata-kata Wulang."
"Ini memang wilayah Ma Hawurung dan kita tidak bisa masuk ke sana," kata Imung.
"Mengapa?" tanya Scorpius.
"Mereka adalah bangsa yang sangat rahasia dan tersembunyi. Mereka tinggal dengan damai dan tidak menyukai orang asing."
"Kita harus menyelidiki tempat itu. Bisa saja orang yang kita cari bersembunyi di sana," kata Scorpius lagi, memandang yang lain meminta persetujuan.
"Orang yang kalian cari tidak ada di sana, aku yakin itu," kata Imung tegas.
"Oh ya? Apakah kau pernah ke sana?" tanya Scorpius.
"Aku setuju dengan Imung. Kita akan melewatkan titik pertama," kata Rose cepat, menghindari mata Scorpius dan memandang Al dan yang lainnya.
"Tidak bisa... kita tidak boleh melewatkan tempat itu tanpa penyelidikan," kata Scorpius.
"Kita akan menyelediki tempat itu setelah menyelidiki tempat-tempat yang lain," kata Rose.
"Tidak... tempat itu adalah tempat pertama dalam agenda kita. Mengapa kita harus mengundurnya?"
"Kau tidak mengerti, Scorpius..." kata Rose.
"Jelaskan kalau begitu! Dari caramu menghindari tempat ini, aku jadi curiga mungkin itu adalah tempat kau bersenang-senang bersama Imu―"
"SCORPIUS MALFOY!" jerit Rose, berlari ke arah Scorpius dan menutup mulut Scorpius dengan tangannya.
Untuk sesaat Scorpius tidak bisa bicara, setelah itu Scorpius berusaha melepaskan diri. Posisinya yang masih duduk di kursi membuatnya susah bergerak. Mereka bergulat sesaat membuat Rose terduduk dipangkuannya.
"Apa-apaan kau?" tanya Scorpius bingung, setelah berhasil melepaskan diri dari Rose dengan mencengkram kedua tangannya.
"Kau yang apa-apaan... Bisa tidak kau tutup mulut dan tidak berkomentar apapun selama satu jam?"
"Apa? Apa maksudmu? Kau mengejekku?"
"Aku tidak mengejekmu... aku hanya ingin kau tutup mulut."
"Menyingkirlah, Rose," kata Scorpius, melepaskan cengkramannya di tangan Rose.
"Tidak akan..."
"Kalau begitu apa maumu?" tanya Scorpius, menatap Rose yang duduk di pangkuannya. Rasanya sangat nyaman dan hangat. Kalau saja mereka tidak berada di depan orang-orang ini, Scorpius sudah menciumnya dan membuatnya tidak bisa bernafas.
"Aku ingin kau berjanji untuk tutup mulut dan tidak bicara selama satu jam."
"Aku tidak mungkin melakukan itu."
"Scorpius..."
"Rose..."
Mereka bertatapan sesaat.
"Rosie, kalau kau sudah selesai dengan Scorpius, bisakah kau kembali ke tempatmu? Kita akan melanjutkan pembicaraan yang sempat terhalang oleh adegan mesra kalian berdua ini," kata Al, membuat Rose dan Scorpius terkejut.
"Berjanjilah..." bisik Rose.
"Baiklah..." kata Scorpius, mengangguk.
Rose tersenyum dan kembali ke tempatnya sendiri dengan wajah memerah. Scorpius memandang Anthony, Neil dan Imung, yang lagi-lagi ternganga memandangnya dan Rose. Wulang terkikik lagi, Roddy memutar bola matanya, dan Al mendengus tidak sabar.
"Maaf..." kata Rose.
"Baiklah... kita kembali pada masalah kita. Mengenai wilayah Ma Hawurung ini―"
"Kita akan melewatinya..." potong Rose. "Kita akan langsung ke titik yang ke dua."
Scorpius ingin berkomentar lagi, tapi dia menahan diri karena sudah berjanji pada Rose.
"Bagaimana menurut kalian?" tanya Al, pada Anthony, Roddy dan Neil.
"Aku sebenarnya tidak setuju kita melewati titik pertama, tapi kita akan mengikuti usul Rose untuk melewatinya karena tampaknya Imung sangat yakin bahwa tidak ada apa-apa di wilayah itu. Lagi pula, tidak mungkin orang yang kita cari ada di sana. Bukankah Ma Hawurung itu adalah tempat hantu yang suka memakan daging manusia?" kata Roddy.
"Ya... ya..." sambung Rose cepat. Scorpius mendengus.
"Aku akan ikut apapun keputusan Al," kata Neil, dan Anthony mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu kita akan melewati titik pertama."
"Bagus..." bisik Rose. Dan Scorpius menahan diri untuk tidak mengumpat.
"Bagaimana dengan titik kedua ini? Apakah kau tahu sesuatu tentangnya?" tanya Al pada Imung.
Imung mengamati peta lagi. "Tempat itu bernama Walungu, tempat reruntuhan kota kuno. Belum ada orang yang pernah ke sana, tapi menurut desas-desus yang kudengar, tempat ini sekarang dijadikan sarang oleh beberapa makhluk yang tidak diketahui namanya."
Sulit dipercaya, komentar Scorpius dalam hati.
"Benarkah? Apakah mungkin orang yang kita cari membuat markasnya di sana?" tanya Roddy.
"Entahlah... dan titik yang ketiga adalah wilayah terlarang. Aku tidak tahu apa yang ada di sana. Mungkin dari ketiga tempat ini. Tempat itulah yang paling berbahaya karena kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi nanti."
"Terima kasih sudah memberitahu kami, Imung," kata Al, kemudian memandang teman-temannya. "Nah, apa yang harus kita lakukan?"
"Apakah kita harus berpencar dan menyelidiki dua wilayah ini secara bersamaan?" tanya Roddy ragu.
"Kurasa begitu," jawab Al.
"Baiklah, Roddy, Scorpius, Imung dan aku akan ke wilayah ke tiga karena ini adalah wilayah berbahaya. Anthony, Neil, Rose dan Wulang akan ke wilayah ke dua."
"Aku akan ikut ke wilayah ketiga," kata Rose tegas, memandang Scorpius.
Scorpius ingin sekali mengatakan bahwa Rose harus kembali ke pondok dan tinggal di sana sampai keadaan aman.
"Kau akan ke wilayan kedua, Rose dan itu keputusanku."
"Aku tidak ingin berpisah dari Scorpius dan aku akan ikut ke manapun dia pergi," bantah Rose cepat.
Al memandang Scorpius, yang mendelik pada Rose.
"Baik," kata Al, habis sabar. "Scorpius, Anthony, Rose, Wulang ke wilayah kedua. Sisanya bersamaku ke wilayah ketiga."
"Maaf, tapi aku harus bersama Wulang. Aku ada di sini karena aku harus menjaganya," kata Imung.
"Dan aku ingin tetap bersama Rose... aku tidak mau pindah ke wilayah ketiga," kata Wulang.
"Ya ampun, baik...baik," kata Al jengkel. "Wulang, Imung, Rose, Scorpius wilayah kedua. Yang lain bersama denganku. Puas?"
Imung, Wulang dan Rose mengangguk setuju. Scorpius mendengus dan yang lainnya tidak berkomentar.
"Nah, kalau begitu aku jaga pertama," kata Al, dengan gerakan mengusir. "Kau bisa memakai tempat tidurku, Imung. Setelah itu, aku bisa―"
"Jangan pedulikan aku, aku bisa tidur di kursi," kata Imung.
Scorpius memandang Rose, yang memandang Imung dengan khawatir.
"Kau bisa memakai selimutku, Imung," kata Rose, berjalan mengambil selimut di tempat tidur Scorpius.
Scorpius segera menyusulnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Scorpius sambil berbisik, berharap tidak ada yang mendengar mereka.
"Aku akan memberikan selimutku padanya, dia kedinginan," kata Rose.
"Apakah kau lupa itu selimutku, ingat!"
"Oke itu selimutmu, tapi aku tetap akan memberikannya pada Imung."
"Aku tidak mengijinkanmu."
"Demi Agrippa, Scorpius! Ini cuma selimut."
"Nanti kau akan kedinginan."
"Aku kan bisa berbagi denganmu."
"Oke, tapi jangan selimutku, berikan selimut Anthony," kata Scorpius.
Rose mendengus, tapi mengambil selimut cadangan Anthony dan memberikannya pada Imung. Scorpius nyengir kosong sambil menatap Rose memberikan selimut pada Imung, setelah itu berjalan kembali ke tempatnya.
"Kalau kau seperti itu orang akan berpikir kau sudah gila," kata Rose, duduk di ranjang Scorpius.
"Aku ingin bicara denganmu. Kita keluar, yuk," kata Scorpius.
"Baiklah," kata Rose.
Scorpius menunggu Rose memastikan Wulang, yang tidur di ranjang atas, baik-baik saja, kemudian berjalan keluar tenda, diikuti pandangan ingin tahu oleh orang-orang dalam tenda.
"Nah?" kata Scorpius, setelah berdiri agak jauh dari tenda.
"Nah apa?" tanya Rose.
"Ceritakan padaku tentang Imung, kau kelihatannya sangat peduli padanya."
"Tidak ada yang perlu diceritakan," elak Rose.
"Jangan mulai lagi, Rose."
"Kau yang memulai sesuatu, Scorpius... Dan kau tahu aku tidak akan menceritakan tentang Imung pada siapapun."
"Baik... Selama tiga hari bersamanya, kalian tidur bersama?"
"Scorpius Malfoy, berani-berani kau berkata seperti itu."
"Jawab saja, Rose."
"Tidak... Kau bertanya begitu seolah kau meragukan moralku."
"Bagaimana kalau moralmu memang patut dipertanyakan?" tanya Scorpius.
Rose memandang Scorpius dengan murka dan mengayunkan tangannya untuk menampar Scorpius, tapi Scorpius menangkap tangannya dengan mudah.
"Aku membencimu, Scorpius Malfoy."
"Aku mencintaimu, Rose Weasley... Nah, katakan padaku apakah kau tidur dengannya?"
Rose menatapnya terpana. Untuk sesaat, tampaknya Rose tidak bisa berkata apa-apa. Scorpius menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Bagaimana?" tanya Scorpius tak sabar.
"Aku tidak tidur dengannya. Puas?"
"Belum... apakah kalian berciuman?"
"Kami tidak berciuman... dan kami tidak ada dalam hubungan yang romantis. Aku hanya menganggapnya sebagai paman Wulang."
"Paman Wulang?" tanya Scorpius kaget. Dia akhirnya tahu sesuatu.
"Aku tidak mengatakan apa-apa."
"Jadi dia paman Wulang? Pantas saja dia bisa melihat tenda ini, meskipun tenda ini telah dimantrai dengan mantra pelindung. Berarti dia juga tidak mempan terhadap sihir sama seperti Wulang, tapi bukankah kau mengatakan bahwa Wulang tidak memiliki keluarga?"
"Dia punya keluarga," kata Rose. "Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi. Aku mau tidur."
"Sebentar... Rose, aku tidak ingin kau ikut dalam misi ini," kata Scorpius. Dia memegang tangan Rose. "Aku lebih suka kau tinggal di pondok atau kembali ke Inggris dengan selamat."
"Scorpius, kita sudah membahas tentang itu. Aku akan ikut... aku harus tahu apa yang terjadi padamu. Walaupun harus mati, kita akan mati bersama."
"Apa?" tanya Scorpius, kemudian tersenyum kecut. "Itulah yang tidak kuinginkan. Walaupun mati aku akan mati sendiri dan kau harus kembali dengan selamat."
"Tidak mau! Aku tidak ingin pulang tanpa dirimu."
"Rose, jangan lupakan Carina. Dia memerlukanmu."
"Dia juga memerlukanmu, aku akan ikut, apapun yang terjadi."
Scorpius mengumpat dalam hati, susah sekali untuk meyakinkan Rose. Semoga Carina nanti tidak akan sekeras kepala ibunya. Meskipun tampang Carina mirip Malfoy, tapi Scorpius curiga sifat dasar Carina adalah sifat Weasley.
BACA dan Hargai Kerja Kerasku dengan Review atau FeedBack, Please! Biar aku tetap semangat... See You!
TauHumba :D
