Chapter 9
.
.
.
.
(Len's POV)
.
.
.
Aku bingung. Entah ini dimana tapi rasa takut jika tertangkap pria itu terus menghantuiku.
Tak peduli sudah sejauh apa aku berlari, aku terus memacu lariku. Ketika kakiku tak sengaja tersangkut di akar pohon dan aku terjatuh dengan sangat tidak etis, aku berhenti berlari sambil mengatur nafasku. Huuh, sudah berapa lama aku tak marathon seperti ini?!
Sambil mengatur nafas dan membaca keadaan sekitar, aku mencoba mengingat apa yang kulihat saat bermain kucing-kucingan dengan pria aneh tadi.
.
.
.
Ada beberapa buah kotak yang mirip dengan kotak tempat aku diculik(?). Aku membuka kuncinya dengan cepat hanya untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Banyak kotak yang belum kulihat isinya tapi kebanyakan isinya seperti potongan-potongan tubuh manusia.
Kumohon, aku ingin menyentuh mereka!
Aku tahu, aku mungkin terlihat gila dengan obsesiku untuk menyentuh mayat. Aku tertarik dengan bidang ini, entah bagaimana caranya.
"Tertangkap kau bocah sialan!" pria itu menarik leher kemejaku dan bersiap meninjuku. Sebelum tangannya mendarat, aku terlebih dahulu mengayunkan ke belakang lalu ke depan dengan kekuatan penuh menuju daerah vital pria itu.
"ARRHHHH!" teriak pria itu sebelum terjatuh ke belakang sambil memegangi daerah vitalnya.
"Haaa, ini saatnya mangsa memangsa pemburunya..." aku meninju wajah pria itu tepat di rahangnya.
Setelah rintihan kecil dari mulut pria itu, pria itu pingsan.
Aku mencari ponsel di saku pria itu dan menemukannya. Untuk jaga-jaga, aku menyimpan ponsel tersebut.
Aku berdiri dan melihat kotak-kotak itu. Aku mengambil jepitnya lagi dan membuka sebuah kotak.
"Shiro..." ucapku setelah menyentuh potongan tangan itu. Aku menggesekkan permukaan jari telunjuk dan jempolku yang licin karena menyentuh permukaan kulit potongan tangan itu.
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid (c) Yamaha Corp., Crypton Future Media, Internet Co., Zero-G, etc.
Warning : AU, misstypo(s), typo(s), dizzy examination, OOC, etc.!
Happy Reading~!
.
.
Se~ No~
.
.
(Normal PoV)
.
.
.
Len berjalan menuju sebuah pondok kecil di dalam hutan tersebut.
Len memanfaatkan penerangan dari layar ponsel curiannya. Ada bau tidak sedap begitu dia membuka pintunya.
Meskipun dari luar pondok ini terlihat tidak terawat tapi Len meyakini jika ada seseorang yang tinggal disini. Terbukti, dengan lantai pondok yang begitu bersih, menurut indera peraba di kaki Len.
Len menyorotkan layar ponselnya ke sudut di sampingnya.
Di depan matanya, ada sesuatu yang membentuk tubuh manusia dengan panjang kira-kira 1.5 meter dan berwarna hitam mirip arang.
"Apa mungkin?" Len menjepit dagunya.
Dia mendengar suara erangan.
CELAKA, PRIA ITU SIUMAN!
Len mulai berlari dan meninggalkan pondok dan kotak-kotak itu.
Len berlari menuju keluar hutan. Tanpa mengurangi kecepatan dan terus menaikkan kecepatan. Ranting pohon yang kecil-kecil pun ditabraknya.
Diantara kungkungan pohon-pohon itu, Len melihat sebuah celah yang cukup besar.
Len yakin jika celah itu akan membawanya keluar dari sini. Tapi Len perlu berhenti dan mengistirahatkan dirinya, minimal untuk meredakan buru nafasnya.
.
.
.
Len meneruskan larinya yang sempat terhenti dan...
"YOSHAAA~!" Len bersorak sebelum akhirnya dia terjatuh lagi dengan tidak sangat elit untuk kedua kalinya karena kakinya terbelit sulur pohon dan tersandung akar pohon.
Dengan nafas terengah-engah, Len membiarkan dirinya terbaring di aspal. Mengatur nafas dan melihat langit yang mendung.
Tunggu, aspal?
Dia merasakan getaran kecil dan segera melompat berdiri.
Dia melirik ke kanan dan kiri dan melihat sebuah mobil jeep melaju ke arahnya. Otomatis, Len meloncar ke pinggir menghindari mobil itu dan menghindari kecelakaan dramatis berujung teriakan yang istilahnya 'Non-sense', alias seperti tidak perlu.
(A/N : seharusnya omong kosong, tapi, yah, penyesuaian cerita aja)
"Bodoh! Bunuh dirilah di tempat lain!" umpat sang supir saat mobilnya berpapasan dengan Len.
"Sumimasen!" Len meminta maaf.
Len memutuskan untuk meneruskan pelariannya dengan mengikuti jalanan aspal yang melandai turun tersebut.
.
.
.
Sambil berjalan, Len berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya.
Dia hanya ingat, jika dia pulang dengan sepatu rodanya, melintasi sebuah zebra cross di dekat rumah sakit. Saat melintasi zebra cross dia mendengar suara klakson truk dan dia menabrak tandu dorong berisi mayat.
Ingatannya berhenti disitu.
Tiap kali dia berusaha mengingat kejadian setelah itu, kepalanya terasa sakit.
Len mengeluarkan ponsel curiannya dan menekan tiga buah angka di keypad-nya.
Setelah menunggu beberapa detik, panggilan pun tersambung.
"Kepolisian Distrik Setamachi..."
Len segera memutus panggilan tersebut.
Setamachi, tak jauh dari pusat kota.
"Baiklah, hanya perlu menuruni bukit ini dan aku akan kembali ke peradaban." gumam Len sambil meregangkan lehernya dan mulai berlari.
... Meski beberapa kali harus berhenti berlari karena dia tak memakai alas kaki...
.
.
.
Rin masih berusaha menghubungi Len. Dia sudah ke rumahnya namun di rumah berukuran kecil itu tak ditemukan tanda-tanda kehidupan.
Sekarang Rin ada di lobby rumah sakit, menunggu Kaito yang sedang beres-beres persiapan kepulangannya.
Karena Kaito yang memintanya agar tak perlu membantunya, terpakasa dia mencari kegiatan lain dengan mencoba menghubungi Len.
"Ayolah, Len, kau ada dimana?!" racaunya sambil menunggu dering tunggu di ponselnya habis. "Angkat panggilanku sekali saja."
'Nomor yang anda tuju...'
"Gahhh, kenapa operator tidak bilang 'Nggak bisa diangkat saja!' Buang-buang suara tahu!" dan Rin mencak-mencak marah pada ponselnya sendiri.
Rin mengumpatkan hal yang sama seperti Len pada operator telepon.
"Rin?" suara Kaito membangunkannya dari keterpurukannya untuk sementara.
Kaito sudah menyelesaikan administrasi rumah sakit yang rupanya sudah ditanggung oleh keluarga Kagamine, keluarga Rin. Di satu sisi dia merasa beruntung karena tabungannya aman dan di satu sisi dia merasa sudah banyak merepotkan keluarga Rin.
Kaito keluar dengan sebuah ransel yang tersandang di kedua bahunya. Ranselnya berisi pakaian pelayannya dan sepatu pentofel-nya. Kali ini, dia mengenakan pakaian casualnya, kaus berwarna hitam yang dilapis dengan kemeja biru dan celana jeans. Tak lupa syal birunya yang selalu melingkari lehernya.
Dia menghampiri Rin yang terlihat sangat kusut.
"Kaito-kun," Rin bangkit dari kursi tunggu dan menarik syal biru tua Kaito.
BUH! Rin memeluk Kaito dan menyandarkan kepalanya ke dada sang pemuda biru.
Kaito merasakan permukaan kaus di dadanya terasa basah.
Tanpa disangka Rin menangis.
Begitulah Rin, ketika emosinya sudah tak bisa ditahan.
"Rin," Kaito menaruh telapak tangannya di pucuk kepala Rin.
"Len.. sialan!" Rin melepaskan tinjunya ke dada Kaito. Meski meringis, Kaito tak bisa menahannya.
-Kupukul si Len brengsek itu karena telah membuat Rin begini!
Rin yang tadinya cuma menangis terisak lama-lama tinggal sesenggukan. Kepalanya masih tertempel dengan dada Kaito, agar tak ada orang yang tahu kalau dia menangis.
"Sudah berhenti?" tanya Kaito. Rin mengangguk lemah dan mengusap air matanya.
"Terima kasih," Rin berucap dengan suara serak. "Maaf karena telah merepotkan,"
"Jika dia ternyata hilang, aku akan membantumu menemukannya." Kaito mengacak rambutnya.
"Doumo," Rin tersenyum.
Tiba-tiba ponsel Kaito berbunyi.
Sebuah e-mail masuk ke ponselnya.
"Rin, bisa ikut aku?" Kaito menggamit tangan Rin.
"Kemana?"
Kaito menarik tangan Rin untuk berlari ke samping rumah sakit.
"Eh, kau mau kemana sih?!" tanya Rin lagi.
Kaito berhenti ketika mereka sampai di sebuah zebra cross yang baru dipugar.
Kaito menyebrangi zebra cross tersebut. Rin mengikutinya.
Kaito berjongkok di atas trotoar. "Rin, kau mengenali dompet ini? Pengenalnya ada di dalam saluran sana dan aku tak bisa meraihnya."
Kaito mengangkat dompet tersebut dan Rin segera meraihnya. "Ini milik Len!"
Kaito memasang raut wajah berpikir.
"Ikut aku, Rin!" Kaito menarik tangannya lagi dan berlari menuju persimpangan.
Kaito dan Rin berhenti berlari ketika mereka sampai di sebuah cafe internet.
Setelah mengeluarkan sebuah kartua anggota, Kaito menarik Rin ke sebuah ruangan berisi 4 komputer yang ada di bawah cafe internet.
"Ini database rahasia milik biro," ucap Kaito sambil menyalakan sebuah komputer.
"Terus kenapa diberitahu padaku?"
TWITCH!
"Pokoknya rahasiakan soal ini," Kaito menyadari kebodohan terbarunya. Rin tertawa kecil.
Kaito mengetikkan sesuatu di komputernya. Sebuah interface dengan beberapa buah kolom muncul.
"Bisa kau beritahu nomor ponsel milik Kousaragi-san?" pinta Kaito dengan sebelah tangan sudah siap siaga di atas number pad.
"Ah, ha'i!" Rin membuka ponselnya. "09x-xxxx-2#17."
Kaito memasukkan angka-angka tersebut dalam sebuah kolom dan mengetikkan nama Len di kolom yang lain.
Kaito mengetikkan sederetan huruf dan simbol dan menekan tombol 'enter' dengan dramatis.
"Apa yang kau lakukan?"
Layar komputer berubah gelap.
Satu per satu titik-titik putih bermunculan membentuk garis dan akhirnya garis-garis lain bermunculan dengan warna peta. Garis-garis tersebut membentuk sebuah peta.
Peta tersebut membesar dan sebuah atap rumah tertampang di layar.
"Itu, 'kan, rumah Len!" Rin berseru sambil menunjuk layar komputer. "Len ada di rumah tapi tak menjawab satupun teleponku?!" Rin menendang sebuah meja.
"Tidak bisa begitu, kemungkinannya ada banyak. Bisa saja, 'kan, Kousaragi-san pergi ke suatu tempat dan meninggalkan ponselnya,"
Rin menunduk. "Kemana dia?" akhirnya Rin bermonolog sendiri.
"Kita kunjungi rumahnya," Kaito berdiri dan membuka pintu setelah mematikan seluruh komputer di ruangan itu.
"EHH?!"
"Kurasa dengan memasuki rumahnya kita akan menemukan petunjuk,"
"Tapi, 'kan, masuk ke rumah orang tanpa izin itu tidak sopan! Terlebih kau 'kan agen biro yang ada hubungannya dengan kepolisian! Kalau-"
Kaito memandang Rin dengan ekor matanya. "Kau mau ikut tidak? Len bisa kita temukan jika kita melakukan hal-hal yang diluar zona aman. Karena Kousaragi-san adalah orang seperti itu, 'kan?"
"Baiklah," Rin menjawab lemas dan mengikuti Kaito keluar dari ruang bawah tanah tersebut.
.
.
.
Len memerhatikan layar ponselnya. Dia menimang-nimang bagaimana caranya menghubungi Rin.
Dalam hati dia merutuki, memorinya yang begitu buruk.
Yang dia ingat hanya nomor ponselnya.
-Ayolah, dia tak punya banyak waktu untuk menghafal nomor telepon yang lain. Bisa mengingat nomor telepon sendiri saja dia sudah bangga minta ampun.
'Kuharap ponselku terjatuh di jalan dan ada yang menemukannya,' pikir Len.
Tapi Len ingat, ketika Wil sudah selesai menghubunginya, Len melemparkan ponselnya ke tempat tidur dan bergegas ke tempat Wil.
Len menatap layar ponsel itu sekali lagi.
-Apa sebaiknya aku melakukan panggilan saja?
Len menekan angka '0' sekali.
-Kuharap dering ponselku bisa di dengar tetangga. Aku akan memicu rasa penasaran tetangga sebelah dengan melakukan panggilan berulang.
Len menekan angka '9'.
-Aku akan melakukannya!
Len mengetikkan kelanjutan nomor ponselnya dengan cepat dan menekan tombol 'call'.
10 dering kemudian, suara operator yang menyatakan bahwa tidak ada yang menjawab telepon.
Setelah suara operator tersebut. Len melakukan panggilan lagi.
Len melakukan lagi dan lagi dan lagiiii sampai rasanya dia cukup bosan.
Turunan jalan tersebut berakhir, dia melihat sebuah bangunan besar yang terlihat seperti sebuah universitas.
(A/N : Mungkin latarnya tuh sama kayak kawasan Universitas Meisei di anime Shinrei Tantei Yakumo. Sankyuu to Manabu Kaminaga :3)
-AKHIRNYA AKU KEMBALI KE PERADABAN!
Len berteriak gila dalam hati.
Meskipun dia tak tahu seluk-beluk daerah yang disebut sebagai Setamachi tersebut, tapi setidaknya dengan bertanya sana-sini dia akan kembali ke Tokyo, ke rumahnya.
Len menelepon ponselnya sekali lagi.
KLIK!
'Moshimoshi? Maaf, tapi Kousaragi-kun meninggalkan ponselnya.'
Betapa terkejutnya Len, mendengar jawaban telepon tersebut. Dia kenal pemilik suara tersebut.
"RIN!" Len tanpa sadar berteriak.
'Len? Len, kau kah itu?!'
Sayup-sayup terdengar suara Rin menyebut nama 'Kaito' dengan nada yang sangat senang.
"Rin?" Len bertanya kembali.
'Ah, oh, Len! Syukurlah! Kau ada dimana?'
"Setamachi, di dekat sebuah, hmmm, mungkin universitas?"
Rin mulai berbicara lagi dengan Kaito.
'Tunggu kami di universitas itu, kami akan kesana secepatnya!'
"Baiklah," Len menjawab. "Oh ya, apa kau bersama dengan Kaito?"
'Iya, memangnya ada apa?'
"Berikan teleponnya pada Kaito. Ada yang ingin kubicarakan,"
Suara noise rendah pun terdengar sesaat.
'Kousaragi-san?'
"Len. Panggil saja Len," potong Len. " Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu. Kuharap kau bisa mendengarkannya,"
'Silahkan jelaskan saja,'
"Kau tahu shiro, 'kan?"
'Forensik? Entahlah, tapi para coroner sering menyebut istilah-istilah tersebut,'
"Kata shiro yang kumaksud memiliki dua buah kata, 'shi' yang berarti mati dan 'ro' yang memiliki arti lilin," Len mengurut keningnya. "Setahuku, 'shiro' menyebabkan tubuh meleleh dan licin tapi utuh mirip sabun. Shiro adalah penguraian lemak tubuh bersama mineral tubuh yang tersisa setelah tubuh kita mati dan hal itu yang membuat tubuh kita setelah mati akan mirip seperti sabun. Kalau tidak salah, shiro terjadi jika mayat dimasukkan ke dalam air dalam jangka waktu lama, yah, sekitar, seminggu. Entahlah, aku tak tahu pasti."
Kaito, di seberang sana, mengurut pelipisnya.
'Jadi?'
'Aku menduga, di hutan di Setamachi ini ada kejadian SHC, Spontaneous Human Combustion, atau secara harfiah diterjemahkan sebagai Pembakaran Manusia secara Spontan. SHC, memiliki pengertian sebagai pembakaran tubuh manusia di tempat dimana tidak mungkin ada api.'
'Lalu apa yang spesial dengan SHC? Apakah itu sama dengan kremasi?'
"SHC, membakar tubuh manusia sampai ke tulang-tulangnya, membuat segalanya menjadi arang,"
Kaito menyalakan loudspeaker, bermaksud mengajak Rin pusing bersama dengan kuliah forensik Len di telepon.
"Meskipun sekilas mirip dengan kremasi tapi yang membedakan adalah kremasi masih meninggalkan sedikitnya tulang karena tidak bisa dibakar. SHC terjadi saat suhu pembakaran mencapai 6000-9000 derajat Celcius."
'Jadi?'
Kaito mengulang pertanyaan yang sama, antara saking tidak pahamnya dengan penjelasan Len tentang 'shiro' dan SHC dan bingung harus menjawab apa.
"Huft, begini," Len menghela nafas. "Spontaneous Human Combution, kusingkat SHC, memiliki tiga buah syarat,"
Kaito dan Rin mendengarkan bersama.
"Satu, terjadi di tempat dimana di mungkinkan adanya api. Dua, api di sekitar tempat pembakaran tubuh tidak menyebar. Terakhir, tulang-tulangnya terbakar sempurna,"
Meskipun Len sudah menjelaskan dengan bahasa dan kalimat paling sederhana, Kaito dan Rin, yang kepalanya mulanya waras mulai nyut-nyutan.
"Kutambahkan satu info lagi,"
Di sisi lain, Rin dan Kaito menatap ponsel Len yang ada di tangannya Kaito.
Len mencengkram ponsel curiannya. "Ada dua cara melakukan SHC. Satu yang bisa membuat SHC adalah bom atom, yang panas ledakannya 6000 derajat Celcius lebih. Yang kedua pembakaran bersuhu rendah,"
Kaito dan Rin mengangguk-angguk mendengar penjelasan Len. Kaito dan Rin paham soal dengan pembakaran bersuhu rendah yang memanfaatkan konsentrasi oksigen di sebuah ruangan itu.
'Tapi, tunggu Len. Dengan semua penjelasanmu itu jangan bilang...'
"Yap, aku menemukan mayat yang termutilasi dengan kondisi adipocere yang sempurna," Len menggesekkan permukaan jari telenjuk dan jari jempolnya.
'Len, tolong jelaskan sesuatu dengan jelas dan runtut jangan melompat-lompat begini. Kepala kami sakit..'
Rin memberikan protes halus.
'Dan apa itu adipocere?'
Kaito bertanya.
"Maafkan aku. Aku bukan kau yang bisa menjelaskan segala hal dengan rinci dan runtut," Len tertawa kecil. "Adipocere itu sama dengan 'shiro'."
Len mendengar suara 'GUBRAK!' yang dramatis.
'LEN, KENAPA KAU SUKA SEKALI MENGATAKAN HAL-HAL YANG TIDAK PERLU?! MENGULANG PENGERTIAN YANG SAMA DENGAN FRASA LAIN ITU MEMBUAT KAMI SAKIT KEPALA!'
Rin menjawab dengan berteriak emosi.
'Beri kami waktu setengah jam, kami akan menyusulmu, jelaskan semuanya dengan runtut.'
Kaito mengambil alih kembali telepon.
"Baiklah, kutunggu kalian di bangunan universitas ini,"
'Oke! Apa ada barang yang kau butuhkan?'
"Bawakan sepatu kets milikku yang ada di kolong tempat tidurku. Kalian boleh masuk ke rumahku-"
'Sudah kutemukan, yang warna hitam-kuning, 'kan?'
Giliran Rin yang menjawab.
"Tu-tunggu, kalian teleport ke rumahku? Kenapa bisa-"
'Maaf, Len, tapi kami berdua sudah masuk ke rumahmu tanpa izin. Jangan marah, oke?'
-Cih, permintaan maaf Rin mana bisa ditolak! Jarang-jarang 'kan orang kayak Rin minta maaf ke orang macam gue?
APA YANG KUPIKIRKAN?! Len merutuki isi kepalanya yang mengatur seluruh fungsi tubuh manusia, yang tiba-tiba membuka memori tentang Rin.
Len menggelengkan kepalanya dramatis, mengusir pikiran-pikiran miring di otak Len.
'Baiklah, sampai jumpa disana.'
Len memutus sambungan setelah menyahut, 'Yap!', pada Rin.
Sementara dia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya, dia melihat sekelebat bayangan pria di balik gedung universitas.
Len sedang diawasi.
.
.
.
Kaito dan Rin sedang berada di dalam kereta menuju Setamachi.
Sekitar 10 menit lagi mereka akan sampai, begitulah informasi yang mereka dengar di speaker.
"Nee, Kaito-kun," ucap Rin sambil menggoyangkan bahu Kaito yang matanya sudah setengah tertutup dan kepalanya mengangguk-angguk tanpa sebab. Padahal cuma perjalanan 20 menit. "Kaito-kun!"
Kaito tersentak dan membuka matanya lebar-lebar. "A-ada apa?"
Dia mengusap sebelah matanya sambil menguap.
"Kau belum baikan, 'ya?"
"Tidak kok, cuma mengantuk saja."
Dia menyisir rambut bagian depannya ke belakang dan sekejap kemudian rambutnya kembali menutupi keningnya secara acak dan beberapa helai berdiri melawan gravitasi.
"Aku sempat memikirkan ini," Kaito menepuk kedua pipinya pelan untuk mengusir kantuknya. "Di pertigaan samping rumah sakit, sering terjadi kecelakaan."
Rin menatap Kaito serius.
Kedua manik samudera milik Kaito, menyorot tajam saat dia berpikir.
"Di duga karena penempatan zebra cross yang salah dan tidak ada rambu menyebrang di sana. Sementara pertigaan rumah sakit itu akan ramai saat jam pulang, karena daerah itu adalah jalan potong menuju stasiun." Kaito menjelaskan.
Rin mengangguk paham.
"Lalu, apa yang terjadi di sana?" tanya Rin penasaran.
"3 minggu lalu, ada sebuah kecelakaan tabrak lari hebat yang menimpa seorang gadis di zebra cross tersebut," Kaito mengeluarkan selembar foto dari jaketnya. "Gadis itu tadinya berjalan bersama dengan pacarnya. Namun saat hendak menyebrang, pacarnya meninggalkannya karena dia harus mengangkat telepon. Gadis itu menunggu pacarnya di tengah zebra cross, mungkin di dalam pikirannya, tidak akan ada lagi kendaraan yang melintas. Tak lama kemudian, setelah pacarnya berbalik ke arah pacarnya dan BAANGG!"
Rin memekik kaget dan seluruh penumpang melirik ke arah mereka.
Kaito tertawa dan Rin menggembungkan pipinya. "Sialan kau, BaKaito!"
"Pacarnya cuma melihat gadis itu tergilas dan meninggal di depan matanya." lanjut Kaito mengembalikan suasana berat di antara mereka.
Rin menatap Kaito lagi.
"Polisi menjadikan pacarnya gadis itu sebagai saksi mata tapi pria tersebut tidak mau angkat bicara," Kaito mengeluarkan selembar foto lagi. Foto tersebut menampilkan foto seorang pria berambut pirang.
"Namanya Oliver dan mendiang pacarnya bernama Rana, aku lupa nama marga masing-masing," Kaito melanjutkan penjelasannya lagi. "Keluarga Rana menyalahkan Oliver. Oliver yang tidak memiliki satu pendukung pun mengalami tekanan psikis dan psikologis. Dia datang ke psikiater dan setelah itu dia mengalami tekanan psikis yang lebih dan lebih lagi."
Lagi-lagi, Rin hanya menatap Kaito. Entah harus respon macam apa yang harus dikeluarkannya.
"Oliver sekarang sedang berada di sebuah rumah sakit jiwa untuk mengurus kondisi mentalnya yang sungguh rapuh. Menurut penyelidikanku, dia hanya mengatakan 'dia selalu melihatku' setiap saat,
"Mulai 3 minggu yang lalu, setiap hari Sabtu dan Minggu tengah malam, ada saja orang yang menghilang dan mereka tidak pernah kembali. Tak ada petunjuk yang bisa dipakai untuk mencari mereka,"
Suasana di antara mereka bertambah berat.
"Bukankah kau bilang, kau sedang ada tidak ada misi?" tanya Rin. "Dan darimana kau tahu jika Oliver sendiri tidak pernah angkat bicara soal kecelakaan tersebut?"
"Ini hanya penyelidikan illegal. Oliver adalah sepupu jauhku,"
"Jadi, Oliver menceritakannya padamu?"
Kaito mengangguk.
'Stasiun Setamachi-'
"Kita sudah sampai," Kaito menggaet tangan Rin agar tidak menghilang di kerumunan. Begitu pintu terbuka, Kaito dan Rin adalah orang pertama yang keluar dari gerbong tersebut. Kaito melepaskan gandengan tangannya dengan Rin
"Kita jemput dia," Rin berkata.
Karena lupa mereka sedang berada di depan pintu gerbong, mereka pun terpecah kembali.
Di saat Rin kebingungan karena terjepit di kerumunan manusia, dia mendengar seseorang berbisik di telinganya.
"Aku tahu kau bisa melihatku,"
Tepat saat Rin hendak melihat ke arah orang yang membisikinya, dunianya menjadi gelap.
.
.
.
.
.
.
Ponsel curian Len berbunyi, Len segera mengangkatnya.
'Len, Rin menghilang! Aku tak bisa menemukannya dan ponselnya sepertinya mati!'
Cerocos Kaito begitu panggilannya tersambung.
"Cih, bagaimana bisa?!" Len tak bisa menutupi kekhawatirannya.
'Kami terpencar. Sekarang aku menuju universitas.'
"Cepatlah!" Len segera menutup panggilannya segera.
.
.
.
.
Sesampainya Kaito di satu-satunya universitas di Setamachi, Len menyambutnya dengan sumpah serapah.
"DASAR TOLOL, KENAPA KAU TAK BISA MENJAGANYA?!" Len menarik kerah baju Kaito.
"Dengarkan aku, aku akan mencarinya. Jika aku tak bisa menemukannya, aku akan bunuh diri di Aokigahara!" Kaito balas menarik kerah kemeja Len.
Len mengendurkan cengkramannya dan melepasnya.
Kaito ikut melepaskan cengkramannya juga. Dia melihat kaki telanjang Len.
"Ini sepatumu!" Kaito melempar bungkusan berisi sepatu kets milik Len.
Len segera memakainya.
"Kau bilang ponsel Rin mati?" tanya Len sambil menalikan tali sepatunya.
Kaito mengangguk.
"Sebelumnya?"
"Menyala. Di kereta dia sempat memainkannya,"
"Aku punya prediksi, kemana Rin dibawa."
Kaito menatapnya. "Ke hutan di atas sana!"
Setelah itu, mereka berdua bergegas ke sana.
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan mereka tak ada henti-hentinya menjelaskan mengenai hasil penyelidikan masing-masing.
"Kau tahu dimana si Oliver itu berada?"
"Di rumah sakit jiwa," suara Kaito menjawab pasti.
"Yakin?"
Kaito menatapnya dengan 'tatapan kau-meragukanku-hah?!'
"Penyelidikan terhenti karena aku tak punya waktu. Sudah kubilang ini penyilidikan illegal, hanya saja aku mengatas namakan biro untuk kemudahannya."
"Berarti masih ada kemungkinan Oliver kabur dan menjadi pelaku di balik kasus ini."
"HAH?!"
"Jangan berisik, bodoh," Len melemparkan tatapan tak senangnya. "Pelaku memotong bagian-bagian tubuh tertentu dan bagian tubuh yang tak terpotong di hilangkan dengan SHC dengan bantuan pembakaran suhu rendah, itu dugaanku,"
"Mungkin dugaanmu benar,"
Seseorang menjawab penjelasan Len.
Len segera berbalik dan menemukan pria yang sempat menculiknya.
"OLIVER!"
Ternyata pria itu adalah Oliver, sepupu jauh Kaito.
"Maa, sampai Kaito-kun juga ada disini," Oliver berkata santai.
Dia mengeluarkan sebuah stun-gun.
"Kousaragi-kun, sumimasen," Oliver membungkuk kikuk. "Kupikir kau itu Kagamine-chan,"
Melalui kalimat tersebut, Kaito dan Len segera meyakini jika Rin ada di tangan Oliver.
"Kalian tahu mata Kagamine-chan mirip dengan Rana-chan,"
Dan bagian tubuh Rin yang akan diambil adalah matanya.
"Aku membaca di sebuah buku, kalau aku harus menenggelamkan korban terlebih dahulu agar arwah sang pemilik tubuh tenang dan aku menghancurkan tubuhnya supaya arwahnya langsung mendedikasikan diri untuk ke alam sana,"
"Cukup sudah!" Len melangkah ke depan dengan pasti dan...
... BUAGH!
Len mendaratkan tinju ke rahang Oliver.
"Beritahu aku dimana Rin!" Len berteriak emosi.
Oliver menyeringai.
JDUAGH!
Len membantingkan keningnya dengan ke kepala Oliver dengan sangat keras. Rasa sakit di kepala Len berhasil dikalahkan oleh rasa khawatirnya terhadap Rin.
Tak ayal, darah segar segera mengalir dari kening Len.
Len mengarahkan tangannya pada leher Oliver.
"Beri.. tahu.. aku.. se-ka-rang!" Len menahan emosinya yang akan meledak dengan menyekik Oliver.
"Ekk!" rintih Oliver. "Dia.. a-da.. di.. ko-lam renang.. Di-di SD itu!"
Len melepas cekikannya dan menendang daerah vital Oliver sampai pria yang mengenakan eyepatch itu pingsan.
"Kaito, tahan dia," Len mengusap keningnya yang berdarah. "Akan kukejar Rin!"
Len melesat dengan kecepatan super.
.
.
.
To Be...
.
.
.
Wait, ada catatan!
NB : Hati-hati dengan Len jika sedang marah, dia bisa melukai daerah vitalmu!
.
.
.
To Be Continued.
.
.
.
Author's Note :
Hollaaa! Arisa wa come back!
Sumimasen~ m(_ _)m
Update-nya kelamaan, oh hell, salahkan pelajaran fisika yang super kampret itu!
Yosh, nggak bisa bacot!
Sankyuu for your review/fav/follow :3
.
.
.
MIND TO REVIEW?!
.
.
Shintaro Arisa, out (^()^)7
