Ruang aula Fiore Academy kini mulai dipadati siswa. Suara bisik-bisik, perbincangan, bahkan teriakan terdengar di setiap sudut ruangan luas itu.
Kursi-kursi yang mulanya tersusun rapi tanpa penghuni kini mulai diduduki. Sebuah panggung besar dengan tirai merah yang menutupinya berdiri kokoh di sebelah utara kursi.
Seorang siswa laki-laki berjalan menaiki panggung dan berdeham. Suasana yang awalnya sangat heboh kini kembali tenang. Murid-murid duduk dengan rapi di kursi masing-masing.
"Selamat pagi! Hari ini, aku, Jason dari klub broadcasting, akan menjadi pembawa acara kalian dalam acara 'Lomba Drama Musikal Antar Kelas 2'! COOOLL!" semua sweatdrop melihat kelebay-an salah satu dari sekian banyak makhluk ajaib di Fiore Academy.
"Yosh, lomba ini dilaksanakan untuk para murid kelas 2 Fiore Academy. Tentu saja para senpai dan kouhai diperbolehkan melihat acara ini. Acara ini dilaksanakan oleh 7 kelas dan disponsori oleh OSIS! COOOOLLLLL! Peraturannya hanya satu dan cukup mudah, yaitu kalian HARUS menyanyi dengan suara sendiri, tidak boleh lipsync! Jika ketahuan, peserta harus didiskualifikasi! Ada 3 juri dalam lomba ini. Dan aku akan menyebutkan para peserta yang mengikuti acara ini!" Jason melihat kearah kertasnya yang sudah sedikit lusuh. "Yang pertama, kelas Mermaid Heel! Disusul oleh kelas Blue Pegasus, Crime Sorciere, Lamia Scale, Quatro Cerberus, Sabertooth, dan Fairy Tail! COOOOOOLLLLLL!"
Semua yang hadir di ruang aula menutup telinganya mendengar suara Jason yang kelewat keras –walaupun tanpa mic– itu. Dengan semangat 45, laki-laki kelebihan energi itu kembali berteriak.
"Kalau begitu, silahkan nikmati penampilan pertama para duyung cantik yang menari di laut terdalam, Mermaid Heel!"
Jason turun dari panggung. Lampu mulai dipadamkan. Tidak lama kemudian, tirai merah terbuka seiring dengan alunan merdu dari Risley Law. Semua orang tersentak kaget melihat badannya yang tampak langsing. Dulu Risley sempat dicap sebagai perempuan tergemuk di Fiore Academy, dan tampaknya Risley tidak begitu mempermasalahkannya.
Semua terpukau melihat penampilan kelas Mermaid Heel yang menampilkan kisah The Little Mermaid. Risley dengan tokohnya sebagai duyung dan Kagura sebagai pangeran berhasil membuat penonton memberikan applause yang cukup heboh.
"Penampilan yang bagus, Kagura!" puji Erza begitu Mermaid Heel menyudahi penampilan mereka dan kembali ke belakang panggung. Kagura blushing dan memeluk Erza dengan manja.
"Terima kasih atas pujiannya, Nee-chan."
"NEE-CHAN?!" teriak para murid Quatro Cerberus yang ikut serta dalam lomba itu. Mereka tampak sangat shock. Para laki-laki Quatro Cerberus –kecuali Bacchus yang sedang meminum sesuatu yang tampak sangat mencurigakan− membentuk lingkaran dan berbisik-bisik.
"O-oi… kalian dengar? Nee-chan?" bisik Yeager.
"Jadi Kaguri itu adiknya Titania? Aku tidak heran," bisik Nobarly.
"Aku setuju. Mereka sama-sama menyeramkan," bisik Rocker. Semmes, Warcry, dan yang lain mengangguk setuju.
Para lelaki itu merinding begitu merasakan adanya hawa kematian dari belakang Yeager dan Warcry yang berkeringat dingin.
"Kagura adik angkatku. Apa ada masalah?" tanya Erza dengan suara yang sangat dingin.
"Dan namaku Kagura. Bukan Kaguri," imbuh Kagura yang sudah mengeluarkan tatapan menusuk andalannya.
Para laki-laki itu bersujud minta ampun. Bacchus yang melihat kejadian itu hanya tertawa aneh dan terus meneguk minuman mencurigakan itu.
Yang lain tampak acuh dan terus menatap sebuah televisi ukuran sedang yang menayangkan tirai merah yang ditutup di panggung aula. Suara Jason terdengar dari televisi dan meminta agar Blue Pegasus naik ke atas pentas.
Para murid Blue Pegasus berdiri dan membenarkan kostum mereka yang terlihat berkilauan dan berjalan keluar. Tidak lama kemudian, televisi menayangkan tirai yang kembali dibuka dan menampilkan para pemain dari kelas Blue Pegasus yang membawakan cerita Romeo and Juliet dengan Hibiki Lates sebagai Romeo dan Jenny Realight sebagai Juliet.
Sekitar 30 menit kemudian, Blue Pegasus menyudahi penampilan mereka yang sempat membuat para penonton terharu. Para murid kembali memberikan applause.
Saat Jason memanggil kelas Crime Sorciere, Erza menatap televisi dengan sangat serius. Mukanya memerah begitu melihat Jellal yang tampak sangat mempesona di mata kaum Hawa dalam balutan kostum Three Musketeers.
Begitu giliran Lamia Scale tiba, kepergian mereka diiringi dengan cemoohan oleh Natsu, Gajeel, Max, Jet, Droy, dan Warren. Dan tentu saja murid Lamia Scale yang tidak terima turut membalas ejekan mereka.
Sepanjang Lamia Scale membawakan cerita mitos Yunani, Pandora Box, tidak sedikit pun Fairy Tail menoleh ke arah televisi yang menayangkan siaran langsung penampilan Lamia Scale. Mereka sibuk mengobrol sampai terdengar suara tepuk tangan meriah dari televisi. Tentu saja hal ini mengundang tanda tanya besar bagi kelima kelas lainnya karena setahu mereka Fairy Tail dan Lamia Scale memiliki hubungan yang sangat erat.
"Selanjutnya, Quatro Cerberus! COOOLL!"'
Para murid kelas Quatro Cerberus berdiri dengan penuh percaya diri. Natsu sempat menertawakan penampilan Rocker yang memakai wig pirang dan gaun pink yang sangat ketat, membuat otot-otot lengan serta perutnya tercetak jelas.
"Kita pasti menang! Karena kita WILD…"
"FOOOOUUURRR!"
Laki-laki yang berjumlah 10 orang itu melenggang keluar ruangan dengan penuh percaya diri. Sementara yang lain hanya melihat televisi dengan tatapan penuh semangat campur penasaran. Drama musikal macam apa yang akan ditampilkan Quatro Cerberus, kelas yang penuh dengan laki-laki berotot dan bertampang bak preman Tanjung Priok itu?
.
.
"Putri Salju, bangunlah! Huhuhuhu~"
Warcry menangis begitu melihat Rocker tertidur di sebuah tempat tidur mungil dengan bunga pink yang bertebaran dimana-mana.
"Pangeran, kau harus mencium Putri Salju jika ingin membangunkannya," ujar seseorang berpakaian merah diantara 7 kurcaci. Bibirnya membentuk sebuah seringai jahil. "Tentu saja cium di bibir!"
Murid-murid menahan nafas saking tegangnya, kecuali beberapa fujoshi yang berteriak kencang dan mengagetkan seluruh orang di aula. Cium? Serius? Kalau perempuan dan laki-laki sih tidak apa-apa. Lah ini?
Warcry bangkit dan mengarahkan mukanya kearah muka Rocker. Dari tampangnya, dia sangat tidak rela lahir dan batin untuk mencium Rocker, walaupun itu hanya akting. Bibirnya pun juga tidak bertemu dengan bibir Rocker.
Tapi kan jijik!
Sosoknya sebagai seorang anggota kelas Quatro Cerberus dan anggota geng Wild Four yang terkenal menakutkan, sangar, dan kekar itu hancur sudah. Harga dirinya hilang karena sebuah drama konyol. Apa kata para murid perempuan nanti? Bisa jadi bujang lapuk dia kalau berita ini tersebar ke rancah internasional.
Warcry meratapi nasibnya yang harus mendapat undian untuk menjadi pangeran. Wajahnya semakin dekat dengan wajah Rocker yang juga mengerenyit menahan rasa jijik.
Dan akhirnya, Warcry mencium bunga disamping telinga Rocker. Dilihat dari sudut pandang para murid, itu terlihat seperti sebuah ciuman tepat di bibir. Warcry mengangkat wajahnya dan memalingkan wajahnya kearah lain, menahan muntah.
Reaksi para murid sungguh beragam. Ada yang menahan mual, ada yang menahan teriakannya, ada juga yang berteriak kencang sambil mimisan dan merekam adegan sakral itu. Untuk yang terakhir, tidak lain dan tidak bukan adalah beberapa orang fujoshi yang sedang melompat-lompat kegirangan.
Reaksi di belakang panggung juga tidak kalah beragam. Natsu, Gray, serta beberapa murid laki-laki lainnya mengerenyitkan kening dan menahan rasa jijik. Yang perempuan terbelalak dan menutup mulutnya dengan tatapan tidak percaya. Reaksi yang sungguh unik itu hancur tatkala seorang gadis berambut biru menjerit dan bangkit lalu menjatuhkan kursinya. Badannya gemetar dan kedua tangannya menutup mulutnya. Mukanya memerah hebat.
"I-i-i-itu… sungguh indah! Boys Love! Juvia tidak menyangka bahwa… Kyaaaa! Juvia men-ship Warcry-san dan Rocker-san!"
Juvia terus berfangirling ria tanpa mempedulikan tatapan shock dari berpuluh-puluh pasang mata disitu. Juvia baru menghentikan fangirlingnya saat lengannya disentuh Erza. Ia segera tersadar bahwa semua orang di ruangan itu sudah menatapnya seperti alien yang baru mendarat di bumi. Menahan malu, Juvia membetulkan kursinya dan mencoba mengabaikan tatapan aneh yang ditujukan padanya.
"Kau… fujoshi?" tanya Lucy hati-hati. Juvia tidak menjawabnya. Gadis itu memalingkan mukanya yang memerah kearah lain.
"Juvia bukan fujoshi," bantahnya. "Juvia hanya SEDIKIT menyukai cerita shonen-ai."
"Jadi kau suka membayangkan Lyon atau Gray–"
"Juvia tidak pernah membayangkan hal-hal aneh pada Gray-sama atau Lyon-sama," Juvia langsung memotong perkataan Erza sebelum gadis itu sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Oh great," desah Angel, seorang gadis Crime Sorciere yang bernama asli Sorano Aguria. "Seorang fujoshi yang sedikit menyukai shonen-ai berpacaran dengan seorang laki-laki normal tanpa membayangkan sesuatu yang aneh kepadanya. Ini harus masuk ke new 7 wonders of the world."
"Hush, ane-ue," tegur Yukino Aguria, adik Angel.
"Apa?" Angel mengerutkan keningnya. "Itu kan suatu berita yang benar-benar mengejutkan. Bahkan lebih mengejutkan daripada mendengar anime berinisial BnP dibuat live actionnya."
Yukino mendengus kesal.
Angel tertawa pelan. Tangannya mengelus rambut Yukino dengan lembut. "Jasmine," Angel membetulkan hiasan bunga imitasi berwarna tosca di rambut Yukino. "Sepertinya Aladdin sudah tidak sabar untuk mengajakmu melihat dunia dari atas karpet terbang," bisiknya.
Yukino melirik kearah Sting yang sedang menatapnya dengan intens. Begitu sadar Yukino juga balas menatapnya, Sting membuang muka dan mengajak Rufus untuk mengobrol.
"Ane-ue," bisik Yukino gelisah. Mukanya sedikit memerah. "Apa kostumku terlalu terbuka?"
Angel melongo dan sedetik kemudian, tawa keras keluar dari bibirnya.
'Dia memang benar-benar polos.'
.
.
Begitu giliran Sabertooth tampil, Sting dan kawan-kawan segera menuju keatas panggung. Adegan awal dimulai ketika Sting dengan pakaian compang-camping sedang mengendap-endap dan diam-diam ia mengambil sebutir apel disaat sang pemilik toko sedang lengah. Disaat ia sedang asyik memakan apelnya, tiba-tiba ia melihat seorang gadis cantik sedang berjalan di tengah pasar. Dan begitu ia melihat wajah gadis yang diperankan oleh Yukino tersebut, jantung Sting berdoki-doki ria. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan tanpa sadar Sting menyenandungkan reff lagu Pandangan Pertama yang dinyanyikan oleh RAN.
Ketika melihat seorang kakek-kakek yang kelaparan, tanpa basa-basi Yukino segera mengambil sebuah apel dari toko buah dan memberikannya kepada kakek-kakek itu. Sang pemilik toko tidak terima dan langsung membentak Yukino. Yukino juga tidak terima dibentak dan langsung membalas bentakannya dengan mengatakan bahwa ia akan membayarnya setelah kembali ke istana. Sang pemilik toko naik pitam dan mengambil pisau untuk memotong tangan Yukino, karena bagi siapapun yang ketahuan mencuri, maka hukuman potong tangan telah menanti.
Sting langsung menyelamatkan Yukino dan mengatakan pada pemilik toko bahwa Yukino adalah adiknya dan dia agak gila. Sting pun berhasil membebaskan Yukino dari hukuman yang sempat membuat jantung gadis itu berhenti sejenak dan mengajaknya melarikan diri.
Sting mengajak Yukino ke gubuknya dan mengajak gadis itu untuk berbicara banyak hal. Mereka sempat tertawa begitu menyadari mereka memiliki banyak kesamaan. Dan begitu sedang asyik bercerita, tiba-tiba pengawal kerajaan menyerbu gubuk Sting.
Sting langsung melarikan diri bersama Yukino. Sayangnya, para pengawal berhasil menangkap mereka, lebih tepatnya menangkap Sting. Yukino membuka tudung cokelat yang sedikit menutupi wajahnya dan berkacak pinggang.
"Atas perintahku, lepaskan dia!"
"Putri Jasmine," para pengawal menundukkan kepalanya dengan penuh hormat. Sting membelalakkan matanya. "Apa yang sedang Anda lakukan disini?"
"Itu bukan urusanmu. Cepat lepaskan dia!"
"Tentu saja, Putri Jasmine. Tapi hamba diperintahkan oleh Jafar."
"Baiklah. Akan kubicarakan hal ini kepadanya."
Panggung kembali diputar. Setting menampilkan sebuah penjara bawah tanah yang remang-remang. Terlihat Sting sedang terduduk dengan kedua tangan dirantai. Ia menggerutu hingga sudut matanya menangkap sesosok orang yang sedang duduk memandanginya.
Sesosok orang yang ternyata adalah seorang kakek tua renta tersenyum kepada Sting dan mengatakan bahwa ada sebuah gua dengan sebuah lampu ajaib yang bisa mengabulkan permintaan. Ia menjelaskan semuanya sambil membebaskan kedua tangan Sting yang terikat rantai borgol. Sting tertarik mendengarnya dan mereka berdua kabur dari penjara dan berjalan menuju gua yang dimaksud.
Panggung diputar 180 derajat dan menampilkan setting di sebuah gua. Kakek menyuruh Sting untuk mengambil sebuah lampu tua di dalam gua di bawah liang tersebut. Sting memasuki gua dan terkagum-kagum melihat banyaknya emas dan permata di dalamnya. Ia mengambil sebuah lampu yang sudah tua dan jelek, angin kencang menerpanya. Sting mendongak lalu berteriak untuk memberitahu sang kakek bahwa ia sudah menemukan lampu itu. Kakek itu menyuruh Sting untuk menyerahkan lampu itu. Sting yang curiga berkata bahwa ia meminta agar dirinya dinaikkan terlebih dahulu, lalu ia akan menyerahkan lampunya. Kakek itu menolak. Setelah terjadi perdebatan yang cukup sengit, kakek itu murka dan membiarkan Sting terkurung dalam gua.
Sting terduduk dalam kegelapan dan kesunyian. Ia menggosok-gosok lampu itu dengan bajunya agar lampu itu terlihat bersih. Pemuda itu terkejut begitu gumpalan asap keluar dari lampu itu dan menampilkan sosok jin yang diperankan oleh Orga. Orga berterima kasih kepada Sting yang sudah membebaskannya dari kurungan selama 1000 tahun dan sebagai imbalannya, ia memberikan Sting 3 permintaan. Tanpa basa-basi ia meminta untuk dikeluarkan dari gua gelap nan pengap itu.
Permintaan kedua Sting adalah menjadi kaya agar ia bisa meminang Yukino. Dan kemudian, gumpalan asap tebal menyelimuti panggung. Setelah asap itu menghilang, Sting sudah memakai baju mahal dengan emas, berlian, dan mutiara membukit di sampingnya. Dengan membusungkan dada ia menghadap sultan dan mengatakan bahwa ia adalah juragan minyak kaya dan bermaksud untuk meminang Yukino. Melihat kemewahan Sting, Sultan menerima Sting untuk menikahi Yukino.
Tapi kehidupan Sting dan Yukino tidak berjalan bak dongeng fairy tale yang selalu diakhiri oleh kata 'and they lived happily ever after'. Sting sering memergoki Yukino sedang menatap langit malam dengan sendu. Usut punya usut, ternyata Yukino mencintai pemuda berpakaian compang-camping yang dulu dibebaskannya dari hukuman mati, bukan pemuda berpakaian mewah yang kini menjadi suaminya.
Orga memberikan Sting sebuah karpet terbang dan menyuruhnya untuk membawa Yukino terbang bersamanya. Yukino pun setuju dan menaiki karpet dengan hati-hati. Yukino terkagum-kagum melihat pemandangan cantik kota kerajaan. Dan tanpa sadar, mereka sudah menyenandungkan lagu A Whole New World dengan harmonis dan kompak.
"I can show you the world. Shining, shimmering, splendid. Tell me princess, now when did you last let your heart decide…"
.
.
Sabertooth menyudahi penampilan mereka diiringi oleh suara tepuk tangan yang meriah dari penonton. Mereka kembali ke belakang panggung dengan muka bahagia. Sabertooth juga mendapat pujian untuk akting mereka dari kelas yang lainnya. Senyum Sting semakin melebar dan hidungnya mekar seperti adonan kue diberi baking powder. Ia sudah berkoar-koar kepada seluruh murid di angkatannya bahwa ia sudah berusaha maksimal untuk melatih suaranya –karena saat Sting menyanyi dulu, Orga pernah mengejek bahwa suara Sting 'gagal' dan pemuda itu tidak pernah bisa melupakannya–, dan hasilnya bisa dibilang memuaskan.
Berpuluh-puluh pasang mata kembali menatap ke layar televisi dan melihat Jason yang sudah berteriak-teriak tidak jelas di atas pentas.
"And last but not least, mari kita panggil para peri berjiwa bebas dengan petualangan yang tidak ada habisnya, Fairy Tail!"
Tirai merah kembali terbuka. Dan ini adalah kisah terakhir yang akan ditampilkan oleh para remaja tahun kedua Fiore Academy.
.
.
Tirai terbuka dan menampilkan Natsu dan Lucy yang sedang duduk di sebuah restoran. Wendy menghampiri mereka dan tersenyum ramah. Setelah memesan pesanan mereka, Natsu menggenggam sebelah tangan Lucy dan mengelus pipi gadis itu dengan lembut. Mereka pun tampak berbincang dengan mesra.
"Natsu," panggil Lucy lembut. "Kalau aku menghilang, apa yang akan kau lakukan?"
Natsu mengeratkan genggamannya. "Aku akan menemukanmu, Luce. Walaupun aku harus berlari ke ujung dunia, walaupun aku harus menyelami palung terdalam, walaupun aku harus mengorbankan nyawaku sekalipun, aku pasti akan menemukanmu."
Lucy tersipu dan tertawa pelan. Sayangnya, momen lovey dovey mereka diinterupsi oleh Wendy yang datang membawa pesanan kedua sejoli itu. Dan setelah memakan pesanan mereka, sepasang kekasih itu pulang. Hari sudah senja. Natsu menawarkan Lucy untuk pulang bersamanya, namun Lucy menolak dengan alasan ada yang perlu dibelinya sehingga ia menyuruh Natsu untuk pulang terlebih dahulu dan belajar, mengingat besok Natsu mempunyai kuis dari dosennya. Dengan berat hati, akhirnya Natsu meninggalkan Lucy yang melambai-lambaikan tangan kearahnya.
Lucy berjalan seraya bersenandung kecil. Ia tidak menyadari bahwa ada tiga orang yang sedang mengikutinya dari belakang. Gadis itu tersentak kaget begitu ia dibekap secara tiba-tiba dan semua gelap.
Panggung diputar 180 derajat dan menampilkan setting apartemen Natsu. Natsu serta sahabatnya, Gray, tampak asyik mengutak-atik soal. Di sela-sela mengerjakan soal, Gray bertanya tentang Lucy. Seketika Natsu bergerak-gerak gelisah. Ia berkata kepada Gray bahwa Lucy memaksanya untuk pulang tanpa perlu mengantarnya terlebih dahulu dan menyuruhnya untuk belajar. Dan ia punya firasat buruk tentang Lucy. Gray menepuk-nepuk pundaknya dan berkata bahwa Lucy bukan anak kecil lagi dan mengatakan bahwa akan semua akan baik-baik saja.
Seminggu berlalu. Gray dan Juvia yang sedang berada di apartemen Natsu yang sudah hancur dan berusaha menenangkan Natsu yang tampak uring-uringan.
"Tenang katamu?!" jerit Natsu sambil menjambak rambut pinknya frustasi. "Luce hilang dan kau bilang aku harus tetap tenang?!"
"Tapi belum tentu dia hilang," Gray tetap berusaha untuk menetralkan nada bicaranya.
"Demi Kami-sama, dia sudah tidak kembali selama seminggu! Dia juga tidak mengangkat teleponku atau membalas SMSku. Aku sudah kehilangan akal harus menghubungi siapa lagi. Kau sendiri kan tahu dia hidup sebatang kara di dunia yang kejam ini!"
"Lucy-san juga tidak datang ke apartemen Juvia. Biasanya Lucy-san akan datang ke apartemen Juvia jika ia akan menginap," ujar Juvia dengan nada pelan. Ia menyenderkan kepalanya di dada Gray dan menitikkan air mata. "Juvia tidak mau Lucy-san kenapa-napa."
Gray mengelus-elus helaian biru Juvia. "Begini saja. Bagaimana kalau kita cari Lucy?" usul Gray.
"Percuma," ujar Natsu sedih. "Aku sudah terlebih dahulu mencari Luce ke seluruh sudut kota ini. Dan aku tidak dapat menemukannya."
"Kau sudah menghubungi polisi?" tanya Gray.
"Sudah. Dan mereka tetap tidak dapat menemukan Luce," Natsu menunduk dan kembali menjamak rambutnya. "Ini semua salahku. Andai aku tidak menuruti kata Luce dan tetap memaksanya untuk pulang bersamaku, pasti dia tetap berada di sampingku sekarang."
"Sudah terlambat untuk menyesal," Gray menepuk-nepuk pundak Natsu. "Bagaimana kalau kau beli barang-barang baru untuk kamarmu? Lihatlah, kamarmu sudah seperti kapal hancur."
Panggung diputar dan menampilkan setting sebuah pasar. Natsu membawa barang-barang yang baru dibelinya dibantu oleh Gray. Perhatiannya tertuju kepada sebuah cermin besar yang sedang dipajang di sebuah toko cermin.
"Kau beli cermin? Apa kau seorang gadis yang baru puber?" ejek Gray. Tapi Natsu tidak mempedulikannya. Ia mengelus cermin yang berukuran setinggi badannya itu dan kepada Warren, sang penjual cermin. Warren menjual cermin itu setengah harga pada Natsu dan langsung disetujui pemuda berambut pink itu. Natsu menyuruh Gray untuk membawa plastik belanjaannya dan ia sendiri akan membawa cermin yang cukup berat itu.
Setting kembali menjadi apartemen Natsu yang sudah terlihat lebih rapi. Dengan hati-hati Natsu meletakkan cermin itu di dinding dan tersenyum puas. Gray memutar bola matanya.
"Kenapa kau membeli cermin?"
"Aku sendiri tidak tahu. Cermin ini menarik perhatianku. Lagipula cermin ini bagus, kan?" Natsu mengelus ukiran cantik di cermin berpigura keemasan itu.
"Terserahmu, sih. Aku pulang dulu ya. Capek."
Gray berpamitan. Natsu menghela nafas dan menghempaskan dirinya di tempat tidur. Perlahan ia menutup matanya dan mulai terlelap.
Panggung diputar 90 derajat dan panggung putar bulat itu kini terbagi dua, dengan sisi kiri yang tampak remang-remang. Di sudut sisi gelap itu terlihat seorang gadis yang sedang meringkuk. Terlihat pula cermin yang sama persis berdiri membelakangi cermin Natsu.
Natsu terbangun dan mengusap matanya. Kepalanya ditolehkan kearah cermin yang baru saja dibelinya. Matanya terbelalak melihat pantulan di cermin itu. Bukan pantulan dirinya, melainkan pantulan seorang gadis berambut pirang yang sedang meringkuk. Natsu langsung mengenali gadis itu dan melesat menuju cermin itu.
"Luce!"
Natsu menggedor-gedor cermin itu, tapi tampaknya Lucy tidak menyadarinya. Gadis itu merapatkan pelukan pada kakinya.
"Luce! Luce! Ini aku, Natsu!"
Tampaknya gedoran Natsu tidak berpengaruh. Lucy masih belum berpaling kearahnya. Natsu merasa kakinya lemas dan ia meninju cermin itu dengan cukup keras. Kepalanya tertunduk dan giginya gemeletuk.
Lucy menggerakkan kepalanya dengan pelan kearah cermin besar, satu-satunya benda di ruangan itu. Lucy terbelalak begitu melihat sebuah kepala pink yang tertunduk dan dengan cepat ia melesat menuju cermin itu. Tangan kurusnya menggedor cermin itu dan berharap kepala pink itu kembali mengadah kearahnya.
Dan harapannya menjadi kenyataan.
Natsu terkejut dan kembali menggedor cermin itu. "Luce! Ini aku, Natsu!"
Seketika air mata Lucy mengalir turun. "Natsu! Natsu! Tolong aku!"
"Luce, aku tidak bisa mendengarmu!"
Natsu dan Lucy saling berteriak, namun tidak dapat terdengar oleh yang lainnya. Tidak kehabisan akal, Natsu mengambil sebuah kertas dan pensil lalu menulis sesuatu.
Kau dimana? Kau baik-baik saja? Aku sangat khawatir!
Lucy menghapus air matanya lalu tersenyum, ia menggerak-gerakkan tubuhnya, memberi bahasa isyarat.
Aku baik-baik saja. Aku diculik. Aku tidak tahu ada dimana. Tolong aku.
Natsu kembali menulis dengan panik.
Kau tidak diapa-apakan penculik itu, kan?
Lucy hanya terdiam dan mengusap air matanya.
Natsu kembali menulis dengan cepat. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. Ia menekan pensil dengan kuat hingga hampir patah.
Tunggu aku, Luce.
Selama seharian Natsu mencari keberadaan Lucy sampai ke perbatasan Magnolia. Ia menendangi seluruh pintu gudang atau gedung yang sudah tidak terpakai lagi dan berteriak seperti orang gila. Suaranya sudah hampir habis. Tapi hasilnya tetap nihil.
Natsu nyaris putus asa karena begitu ia kembali dari apartemennya, cermin itu sudah berubah menjadi cermin biasa. Ia sudah mencoba berbagai cara, bahkan sampai hampir memecahkan cermin itu, namun hasilnya hanya pantulan dirinya sendiri yang terlihat.
Keesokan harinya, ia berkonsultasi mengenai hal ini dengan Gray di kampus. Begitu ia akan memanggil Gray, pundaknya ditepuk seseorang. Ia melihat sosok Erza yang sedang tersenyum manis dan menanyakan keadaan Lucy. Dengan dingin Natsu mengatakan kalau Lucy baik-baik saja dan segera berlari kearah Gray. Ia sedang tidak ingin diwawancarai oleh salah satu teman baik Lucy itu.
Natsu menceritakan keajaiban cermin itu kepada Gray dan memaksa pemuda itu untuk membantunya. Setelah mencari bersama-sama dengan Gray, hasilnya tetap nihil. Kedua pemuda itu kembali ke apartemen Natsu dengan tangan hampa. Ia menumpahkan kekesalannya kepada Gray, yang tumben tidak mengacuhkannya. Natsu melihat kearah mata Gray terpaku. Dan saat itu juga, darahnya mendidih.
Di cermin ia melihat sosok Lucy yang sedang dikelilingi oleh dua laki-laki berpakaian serba hitam. Tampaknya Lucy sedang membentak mereka dan dibalas dengan seringai licik oleh kedua lelaki itu. Salah seorang dari mereka yang berambut hitam dengan model seperti antena mengatakan sesuatu dan mereka tertawa terbahak-bahak dan keluar dari ruangan remang-remang tempat Lucy ditawan. Lucy tampak terkejut setengah mati dan ia terduduk lemas, lalu menangis.
Darah Natsu semakin menggelegak. Ia terus menghantamkan tinjunya kepada cermin itu hingga membuatnya sedikit retak. Gray berusaha menenangkannya dan berkata bahwa ia sempat melihat wajah kedua penculik itu. Ia juga berkata bahwa ia punya sebuah rencana.
Keesokan harinya, Natsu dan Gray kembali mengelilingi Magnolia. Kali ini tujuannya bukan untuk mencari tempat Lucy disekap, melainkan mencari penculik Lucy. Dan mereka menemukan kedua penculik itu keluar dari sebuah toko ramen. Gray dan Natsu menguntit mereka, hingga tibalah mereka di sebuah rumah yang tampaknya sudah tidak terpakai lagi.
Begitu kedua penculik itu akan memasuki ruangan yang dicurigai tempat Lucy disekap, tanpa ragu-ragu Natsu segera menghantam kepala salah seorang dari mereka dan segera meninjunya tanpa ampun. Gray juga melakukan hal yang sama dengan Natsu kepada penculik yang lain, namun tampaknya penculik yang sedang dihadapi oleh Gray cukup tangguh. Natsu segera berlari menuju ruangan itu dan tersenyum lega begitu melihat Lucy tampak tertidur. Di wajah cantiknya tercetak bekas air mata, membuat Natsu kembali berang. Pemuda itu sedikit terkejut begitu melihat cermin yang sama persis seperti miliknya di ruangan itu, namun ia tidak begitu mempedulikannya.
Lucy terbangun dan terkejut begitu melihat Natsu di sampingnya. Ia menangis dan memeluk pemuda itu. Natsu balas memeluknya.
"Tenanglah, aku sudah ada disini," bisik Natsu lembut. Tangannya mengelus-elus rambut pirang Lucy yang acak-acakkan.
Lucy makin menenggelamkan mukanya pada dada bidang Natsu. "Tapi aku–"
Natsu mengeratkan pelukannya. "Tenanglah, Luce. Aku akan melindungimu."
Lucy menatap Natsu dengan wajah bersimbah air mata. Perlahan tapi pasti, wajahnya bergerak pelan mendekati wajah Natsu. Sayangnya adegan romantis itu terganggu begitu Gray datang dan berkata bahwa kedua penjahat itu telah dilumpuhkan.
"Dua?" tanya Lucy bingung. "Seingatku yang menculikku itu ada tiga orang."
Gray terkejut begitu punggungnya ditendang. Ketiga remaja itu menoleh kearah pelaku dan melihat Gajeel tengah berdiri di depan pintu dan menyeringai kejam.
"Hoo. Bagus. Aku kagum karena kalian telah sampai sejauh ini untuk menyelamatkan tawananku yang cantik ini," ujar Gajeel. Seringainya semakin melebar begitu dua orang yang dihajar Natsu dan Gray barusan menghampiri Gajeel dan ikut menyeringai.
"Sayangnya usaha kalian hanya bisa sampai disini," tambah penculik dengan gaya rambut antena, Droy.
"Kalian tidak akan bisa mengalahkan Bos Gajeel!" teriak penculik dengan rambut kecoklatan, Max.
"Siapa kalian?" tanya –atau lebih tepatnya teriak– Natsu.
"Kita ini Geng PENYU! Geng–" sebelum Max menyelesaikan kalimatnya, Natsu sudah terlebih dahulu menendang perutnya. Diikuti dengan Gray yang menghajar muka Droy.
"Sialan! Setidaknya dengarkan orang bicara sampai selesai!" umpat Max sambil memegang perutnya yang ngilu.
Sasaran Natsu selanjutnya adalah Gajeel. Natsu melancarkan serangannya, namun bisa dihindari dengan mudah oleh Gajeel –yang entah kenapa tampak sedikit panik–. Gray yang sudah berhasil mengalahkan Droy ikut membantu Natsu melawan Gajeel. Baku hantam pun tidak dapat terelakkan.
"Siapa yang menyuruhmu menculik Luce?" teriak Natsu sembari mencengkram kerah baju Gajeel.
"Sampai mati tidak akan kuberitahu padamu!" Gajeel mendecih keras.
"Kubilang siapa?!"
"Kubilang sampai mati tidak akan kuberitahu padamu!"
"Kau–!"
"Aku yang menyuruhnya. Ada masalah?"
Sontak semuanya terdiam dan melihat kearah sosok itu. Natsu, Gray, dan Lucy terbelalak begitu melihat Erza sedang berkacak pinggang dan tersenyum sombong.
"Erza?"
"Iya. Aku, Erza Scarlet, adalah dalang dibalik penculikan Lucy. Apa ada masalah?"
Perempatan siku-siku timbul di dahi Natsu. "Kenapa?"
"Kenapa?" tanya balik Erza dengan suara mengejek. "Apa semua hal di dunia ini butuh alasan?"
Natsu berdecih. Dengan kasar ia mencampakkan tubuh Gajeel hingga badannya menabrak cermin dan membuatnya pecah. Natsu menatap mata Erza tajam. "Untukku, alasan itu penting, Erza Scarlet."
Erza menatap Natsu dengan sendu. "Kenapa?"
"Kenapa? Tentu saja karena Lucy adalah wanita terpenting dalam hidupku!"
Erza menatap Lucy dengan nyalang. "Kau–! Kenapa kau selalu ada di setiap urusanku?!"
Lucy menatap Erza bingung. "Maksudnya?"
"Jangan sok polos!" hardik Erza. "Kenapa kau yang harus ada di samping Natsu? Kenapa bukan aku?!"
Kini bukan hanya Lucy, melainkan Natsu ikut menatapnya dengan bingung. "Maksudmu?" tanya Natsu.
"Dia mencintaimu," ujar Gray tiba-tiba, membuat semua mata menatap kearahnya.
"Tahu dari mana kau?"
"Asal kau tahu, setelah Natsu dan aku menghajar kedua antekmu, aku menyempatkan diri mengelilingi rumah ini sebentar. Dan ketika aku masuk ke kamar yang tidak jauh dari ruangan ini, aku menemukan sebuah foto Natsu dan dirimu terpajang di kamar itu. Foto itu sangat terawat. Tidak mungkin, kan, rumah yang tidak terpakai ini memiliki sebuah foto yang bersih dari debu? Dan aku menduga bahwa pelakunya adalah dirimu."
Erza tertawa sumbang. "Ya, aku tahu apa yang ada di pikiran kalian. Aku mencintaimu, Dragneel! Sejak kelas 2 SMP! Tapi kau tidak pernah sedikit pun menatapku!" Erza menatap tajam Natsu. "Dan disaat kau buat aku merasa bahwa kau mencintaiku, kau malah memacari Lucy! Apa maksudnya, hah?!"
"Aku tidak pernah mencintaimu! Aku hanya menganggap dirimu sebagai kakakku, tidak lebih!"
"Alasan!" Erza berjalan kearah Lucy dan mengeluarkan sebuah pisau. Ia meletakkan pisau itu di leher Lucy dan menjambak rambut pirang Lucy. "Kau tahu, Natsu. Sebenarnya aku ingin membunuh pacarmu dan menjual organnya. Kenapa? Karena aku ingin memilikimu, Natsu! Hanya aku satu-satunya wanita yang pantas ada di sisimu!" Erza menyeringai. "Tapi tampaknya aku harus mengeluarkan organnya di hadapanmu, Natsu. Agar kau tahu betapa sakitnya ditinggalkan orang yang kau cintai!"
"Jangan pernah berani kau melakukan itu pada Luce!" baru saja Natsu akan bangkit, Erza semakin menekan pisaunya ke leher jenjang Lucy.
"Berani bergerak, leher pacarmu akan putus."
"Silahkan lakukan itu, Erza Scarlet," ujar Gray tenang. Natsu terbelalak. Ia mencengkram kerah baju Gray dengan emosi.
"Apa maksudmu, sialan?!"
"Aku belum selesai berbicara," Gray tetap tenang, seolah kini sedang tidak terjadi apa-apa. "Silahkan lakukan itu, Erza Scarlet. Jika kau berani membunuh Lucy di depan polisi."
Samar-samar terdengar suara sirine polisi menggaung, dan makin lama suara itu makin kencang dan jelas. Gray tersenyum miring.
"Setelah keluar dari kamar yang kubilang tadi, aku segera menelepon polisi."
Tidak lama kemudian, ruangan itu sudah dikepung polisi. Polisi segera meringkus Erza dan antek-anteknya.
Setting berganti menjadi di apartemen Natsu. Terlihat Juvia bergerak-gerak dengan gelisah. Ia bolak-balik kesana kemari sambil menggigiti jarinya.
"Tadaima."
Juvia menjerit senang begitu melihat Lucy datang bersama Natsu dan Gray. Ia segera melompat ke pelukan Lucy dan menangis penuh kelegaan.
"Ju-Ju-Juvia sangat se-senang Lucy-san kembali," Juvia tersedu sedan. Lucy tersenyum lembut.
"Jika saja Natsu tidak membeli cermin itu, pasti sekarang Lucy sudah berada di alam yang berbeda dengan kita," ujar Gray. Lucy bergidik mendengarnya.
"Sudahlah. Yang penting Lucy-san sudah kembali."
"Omong-omong, aku tahu kenapa cermin yang menuntunku kepadamu, Luce," ujar Natsu.
"Kenapa?"
"Karena I'm always parallel on the other side," Natsu menyeringai. Lucy, Juvia, dan Gray tertawa.
"Apaan sih, nggak nyambung," Lucy tertawa.
"Aren't you somethin' to admire? 'Cause your shine is somethin' like a mirror. And I can't help but notice you reflect in this heart of mine," tiba-tiba Natsu bernyanyi sambil menggenggam tangan Lucy dengan background Gray memasang pose pura-pura muntah dan Juvia menatap dengan pandangan berbinar.
" 'Cause with your hand in my hand and a pocket full of soul I can tell you there's no place we couldn't go. Just put your hand on the glass, I'll be tryin' to pull you through. You just gotta be strong…"
.
.
"Berikan tepuk tangan yang meriah untuk Fairy Tail! COOOOLLLLL!"
Jason menaiki panggung diiringi oleh tepuk tangan dari para penonton. Pemuda yang tidak pernah kehabisan baterai itu kemudian kembali berteriak. "Oke, juri sedang berdiskusi untuk menentukan siapa pemenang lomba kali ini! Mana pendukung Mermaid Heel?"
Sebagian besar lelaki berteriak kencang.
"COOOLLL! Kalau begitu, mana pendukung Lamia Scale?"
Pendukung Lamia Scale berteriak heboh.
"COOLL! Kalau begitu, pendukung Sabertooth?!"
"Huoooohhhh! Hidup Sabertooth!"
"COOOOOLLL! Crime Sorciere?!"
"JELLALLL! MY BABYYY! KYAAAAA! WE LOVE YOU, JELLAL FERNANDES! JE-E-EL-EL-A-EL, JELLAL!" para fans Jellal berteriak heboh mengguncang aula.
"COOOLL! Wakil Ketua OSIS memang COOOOLLL! Pendukungnya Blue Pegasus mana suaranya?!"
Suara pendukung Blue Pegasus menggema kencang.
"COOLLLL! Pendukung Fairy Tail?!"
"Huwoooohhhhh!" para murid pro Fairy Tail berteriak kencang.
"COOOLLLL! Yang terakhir, pendukung Quatro Cerberus mana suaranya?!"
"KYAAAAA! WARCRY! ROCKER! WE SHIP YOU!" kini teriakan para fujoshi menggema tidak kalah kencang dari pendukung kelas lainnya, diiringi dengan teriakan, "HUUUU" dari para kontra Quatro Cerberus.
"COOOLLL! Sepertinya para juri sudah menentukan hasil penilaiannya! COOLL!"
Jason berdehem sebentar. "Oke! Akan kuumumkan pemenang 'Lomba Drama Musikal Antar Kelas 2'!"
Ruang aula yang tadinya heboh kini mulai sedikit mereda. Bisik-bisik terdengar dimana-mana.
"Dan juara ketiga 'Lomba Drama Musikal Antar Kelas 2' adalah…"
.
.
.
.
TBC
Haloo! Acan balik lagi! *joget*
Sekedar gambaran buat panggungnya, jadi panggungnya kayak panggung biasa, tapi di tengahnya ada bulatan yang bisa berputar.
Dan yang request StingYuki, bagaimana? Mudah-mudahan suka ya ^^
Buat Kimura Megumi dan Shiori Natsumi, terima kasih banyak buat sarannya! *cipok satu-satu*
Btw, ada yang udah baca chap terbaru FT? Kalau ada... Tolong, Acan nggak bisa berhenti fangirlingan... tolong... *kena serangan jantung karena terlalu banyak doki-doki*
Oke, sepertinya tidak ada hal yang perlu Acan bacotkan lagi (Readers: tumben!), mari kita balas review satu-persatu:
Pororo-chan: Gray terlalu lemot sih huft *di ice-make sama Gray* arigatou ne!
Gumi Kagenuma: Arigatou ne, Gumi-san!
WTS-gaki: ini sudah dilanjut ^^
Thunder Demon D.S: Hmm... gimana ya... *sok misterius* *ditabok* Ini sudah diupdate!
Ree Luchia: Acan juga pengen seseorang ngomong kayak gitu ke Acan *mupeng* Arigatou! XD
ft-fairytail: Nalu moment di chap ini gimana? X) Arigatou!
LRCN: Huwaaa akhirnya nemu temen senasib T-T
BlackPearl .U. aRa: #DukungNaluJadiCanon2014! Juvia berpaling ke Gray nggak yaa... *ditabok* Huwaa Acan hampir frustasi pas web ini nggak bisa dibuka T-T Ini sudah diupdate ya! ^^
zuryuteki: Yang disukai Sting adalah... Orga! *dicincang Sting* Yoeh, Natsu itu G4wL aBi3zzz. NATSU ITU EMANG NAIF. ACAN JADI KESEL SENDIRI TAU GA *padahal Acan sendiri yang bikin ceritanya* *dibakar Natsu* Ternyata Acan ngga sendirian di dunia ini... *nangis lebay* Ini sudah diupdate, Yucchan! ^^
Gue Punya Sumpit: Salam kenal! Waa, Acan ikut terharu :') Ini sudah diupdate! Mudah-mudahan suka, ya! ^^
I Love Erza: Tau tuh Gray wooo Gray wooo~ *di ice-make Gray dan dicampakkan ke laut* Bukan mau memblock, emang udah ._. tapi hal ini hanya dialami oleh beberapa orang yang tidak beruntung (?) Acan pake kartu simp**i dan ngga bisa kebuka di hape, tapi di hape papa Acan yang juga pake simp**i bisa kebuka *seketika hening* *nangis dalam diam* Tapi karena sekarang udah bisa kebuka, Acan tidak perlu mempermasalahkannya lagi HAKHAKHAK~
KarinNaLu4ever: Ini sudah dilanjut, Karin-san! ^^
just guest: Judul chapnya kayak lirik lagu? Masa sih? Cuma perasaan aja kali... *dicekek Sy*hri*i* Kejang-kejang sendiri? Err... *mundur perlahan* hehehe, bercanda :p Arigatou, guest-san!
Wolfie333: Salam kenal! Acan tahu rasanya, Wolfie-san... *lap air mata*
NameKirigaya: Ini sudah dilanjut, mudah-mudahan suka ya! ^^
miere: Salam kenal! Arigatou, ne! Ini sudah diupdate! Tetap ikuti fic ini ya! *pasang senyum peps*dent*
Wokeh, sekian cuap-cuap Acan. Sampai ketemu di chap depan!
Arigatou gozaimasu :D
