...~•*o0o*•~...
(Biarkan cakrawala, berikut para lintang bergita.)
— sembilan —
.
.
.
Satu dua insan,
... berlalu berdampingan.
.
Membentuki memori,
... mencetak harga diri.
.
Melukis cerita.
Menoreh sejarah.
Senandung bergita.
Termain dan terarah.
.
Dua insan itu,
... adalah cerita satu.
.
Memberi rasa.
Mengorban raga.
Melontar kata.
Saling bergita.
.
Menggema di angkasa,
... insannya menetra.
Menghitung bintang,
... berseru lantang.
.
Ini sayangnya, bukanlah cinta,
... ini adalah pencarian jati diri,
... yang sejati, meski harus terlunta,
... dua raga dalam bahtera mencari.
.
Gemerlapan para lintang,
... mengisah keabadian.
Kataan nyawa salingan terbentang,
... menyirat makna tanpa suratan.
*~...oOo...~*
...
Tidak semuanya akan tinggal di dunia.
Tidak semuanya akan tetap, seraya bergeming menatap dunia.
Boleh saja usiamu, usianya, atau mereka, terhitung amat sangat panjang, boleh saja usia yang terjatah nyaris abadi.
Namun? Pada akhirnya akan mati semua. Tanpa sisa, hanya generasi yang meneruskan apapun itu.
Bahkan para penakluk gunung Himalaya, penerjang badai di tengah mahasamudera, pelayar Segitiga Bermuda, dan dukun sekalipun, mereka tiada yang selamat dari kematian.Tidak akan, tiada yang abadi.
Cakrawala dan Pertiwi, dua perihal pasangan abadi, akan menggitakan, berhening cipta, berkabung atas segala maut, semua insan yang dijemput oleh sang maut.
Petaka. Pembunuhan. Bunuh diri. Bencana.
Memiris-mirisi hati, melara-larakan batin, membenturhancurkan kontrolan emosi, mengoyak keheningan di malam sunyi.
Meluntakan kaki, merobohkan harga diri.
Engkau, sayangnya, telah menghancurkan harapanku, meremukkan perasaanku, menjatuhbantingkan impianku.
Di saat engkau berdiri di sini, di dekatku, daku teringin membenci dikau. Mengalamatsampaikan tamparanku yang terkeras kepadamu saat itu juga.
Namun di saat yang bersamaan pula, hampa benak tanpa kehadiranmu. Aku, ingin kau untuk tetap berada i sini, engkaulah satu-satunya yang telah memberikan kehidupanku warna, menawarkan canda demi melihatku berekspresi (walaupun kadangkala ialah marah).
.
-Natalia dan Alfred-
finished chapter IX.
.
INDONESIAN KARA
... ... ...
