Menma – Part 2
"Trust"
Konoha 1, 4 tahun setelah perpindahan dimensi
Cahaya berwarna-warni menghiasi langit Konoha malam itu. Seribu kembang api yang diluncurkan ke langit malam Konoha menandakan akhir dari festival. Kuakui festival ini memang sangat meriah. Mulai dari acara hiburan, penggalangan dana, hingga detail-detail terkecil seperti dekorasi panggung. Pasti setimpal dengan dana yang dikeluarkan untuk menyelenggarakannya. Tapi melihat Konoha yang sekarang, kurasa itu bukan masalah karena perekonomian desa ini sudah stabil.
"Festival yang sangat meriah," ujarku, sekedar memulai topik pembicaraan saat mengantar Hanabi pulang ke rumahnya. Setelah semalaman bersamanya, aku tahu kalau Hanabi sama seperti Hyuuga lainnya. Ia tak akan memulai suatu pembicaraan jika tidak kumulai. Mungkin itu memang sifat dasar semua Hyuuga.
"Itu dilakukan agar para penduduk tidak mengingat pertumpahan darah 4 tahun lalu," jawab Hanabi datar.
Aku mengangguk mengerti menanggapi jawaban Hanabi. Cukup masuk akal. Kemeriahan festival adalah cara yang tepat untuk secara perlahan menghapus beban psikologis pasca perang. Terutama untuk anak-anak. Terbukti semalam, semua orang terlihat senang termasuk rookie 9. Saking senangnya mereka, sampai mereka tak sadar kalau aku ada di sana.
Baiklah, mungkin berlebihan jika kusebut 'tak sadar'. Mereka sadar, tentu saja sadar karena aku berada di hadapan mereka. Tapi mereka bertingkah seperti mengacuhkanku.
"Hanabi, kau bilang kalau kau sudah memaafkanku 'kan?" tanyaku memastikan.
"Ya. Aku memang sudah memaafkanmu. Kenapa?" tanya Hanabi balik bertanya. Mungkin ia bingung kenapa aku menanyakan hal yang sebenarnya sudah tak perlu dipertanyakan lagi.
"Apa menurutmu yang lain juga sudah memaafkanku? Maksudku rookie 9."
Hanabi tak langsung menjawab, ia terlihat seperti berpikir keras.
Biar kuperjelas di sini. Yang kumaksud rookie 9 adalah Sasuke, Sakura, Kiba, Shino, Chouji, Ino, Tenten, Lee, dan Sai. Shikamaru dan Neji tidak masuk hitungan karena sudah meninggal, Hinata sudah tidak jadi shinobi, sedangkan Sai masuk hitungan karena ia sudah sangat dekat dengan kami meski ia berasal dari root.
"Aku tidak tahu apa mereka sudah memaafkanmu atau belum," jawab Hanabi akhirnya.
Aku menghela napas pelan. "Aku merasa asing di sini. Teman-temanku memang menyapaku, tapi ada yang berbeda. Aku tidak sedang merasa di 'rumah'."
Hanabi menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arahku. Mau tak mau aku juga ikut menghentikan langkahku.
"Kenapa berhenti?"
Hanabi terdiam, ia hanya menatap kedua mataku tanpa berkedip. Aku merasa tak nyaman ditatap seperti itu, jadi aku lebih memilih untuk memperhatikan penampilan Hanabi malam ini. Tadi di festival aku kurang memperhatikannya karena lebih fokus pada acara dan berusaha mengajak ngobrol teman-temanku, sedangkan di sini perhatianku terpusat pada Hanabi. Untunglah cahaya lampu jalan membantuku untuk melihat penampilan Hanabi lebih jelas.
Setelah 4 tahun tidak melihat putri bungsu keluarga utama Hyuuga ini, aku menyadari banyak perubahan pada Hanabi, terutama fisiknya. Di balik yukata ungunya, ia tumbuh tinggi mendekatiku. Itu postur yang termasuk tinggi untuk seorang perempuan berumur 16 tahun. Jika sekarang ia hanya berbeda sejengkal denganku yang memiliki tinggi 185 cm, berarti tinggi Hanabi sekitar 165-170 cm. Aku pastikan dia lebih tinggi dari Hinata. Rambut panjangnya tidak berwarna indigo, melainkan warna cokelat. Kulitnya juga tidak seputih Hinata. Hanya matanya saja yang kulihat mirip dengan Hinata. Singkatnya, jika Hinata lebih mewarisi gen ibunya, maka Hanabi lebih banyak mewarisi gen Hiashi.
"Naruto, apa kau percaya padaku?" tanya Hanabi, setelah sekian lama diam.
Aku tak menyangka jika itu yang akan ditanyakannya. Aku tersenyum lalu menjawab, "Tentu saja, kau adik Hinata jadi-"
"Bukan karena aku adik Hinata-Neesan. Tapi karena aku seorang Hanabi," kata Hanabi memotong perkataanku.
Perkataan Hanabi menyadarkanku kalau dari tadi aku selalu membandingkannya dengan Hinata. Aku hilangkan perasaan itu dan berusaha melihat Hanabi sebagai dirinya. Dari 3 orang Hyuuga lain yang kukenal dekat, tidak ada satupun yang bersikap aneh. Mereka selalu punya pendirian dan bisa dipercaya. Sikap Hanabi yang mau mengeluarkanku dari masalah juga merupakan bukti kalau dia orang baik. Maka aku tak punya alasan untuk tak mempercayainya.
"Aku percaya padamu," jawabku tulus.
"Baiklah." Hanabi mengaktifkan byakugan-nya lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kami. Dari gerak-geriknya aku tahu dia sedang mencari tahu apa ada yang mengikuti kami. Nyatanya tidak ada siapa-siapa sehingga ia menonaktifkan kembali byakugan-nya. Hanabi lalu memberiku secarik kertas.
Di kertas itu tertulis:
Uchiha Mansion, besok tengah malam.
-Sasuke-
"Apa ini?" tanyaku tidak mengerti.
"Sasuke menyuruhku untuk menyampaikan itu padamu. Besok tengah malam, semua ketua klan, beberapa orang penting Konoha, termasuk rookie 9 akan berkumpul di sana. Dia ingin kau juga hadir."
Senyumku mengembang. Ini pertanda bagus. Sasuke tidak membenciku.
"Semacam pesta lanjutan? Kalau aku diundang, itu berarti mereka masih menganggapku teman. Bagus, aku akan datang!" seruku bersemangat.
"Jangan salah sangka! Ini bukan seperti yang kau bayangkan."
"Lalu?"
Lagi-lagi Hanabi tak langsung menjawab. Ia seperti berat mengatakannya.
"Sasuke akan merencanakan kudeta," jawab Hanabi pelan.
"Tidak mungkin! Sasuke tidak seburuk itu!" belaku tanpa banyak berpikir. Ini terdengar seperti sebuah omong kosong. Otakku tidak bisa menerima perkataan Hanabi.
Tanpa diduga Hanabi malah membalasku dengan nada yang tak kalah keras.
"Apa yang kau tahu dari Konoha saat ini?! Kau menghilang selama 4 tahun. Dulu kau dan Sasuke adalah kandidat Hokage Ke-6 terkuat Konoha sampai akhirnya Sasuke mengalah demi kau. Lalu apa balasanmu? Setelah dia menurunkan harga dirinya sebagai Uchiha kau malah pergi meninggalkan Konoha. Dia sangat kesal padamu hingga ia membuat kelompok anti-Naruto."
Aku terkesiap. Jadi Sasuke adalah orang yang membuat kelompok anti-Naruto?!
"Aku orang pertama yang bergabung bersamanya. Kami tak ingin kau kembali ke sini, Naruto. Ia membencimu, bahkan rasa bencinya padamu lebih besar dari pada rasa benciku padamu."
Kakiku terasa lemas mendengar perkataan Hanabi sehingga aku memutuskan untuk duduk bersandar di samping Hanabi diterangi lampu jalan. Pantas saja Sasuke sama sekali tak menyapaku di festival tadi.
Pasca perang dunia ke-4 Hokage Ke-1, Hashirama Senju, sempat bercerita padaku kalau klan Uchiha dan Senju adalah 2 klan yang ditakdirkan untuk terus bertarung. Klan Uchiha begitu mengagungkan kekuatan sedangkan Senju lebih memilih kasih sayang. Aku juga diberitahu oleh Hashirama jika bisa saja seorang Uchiha memiliki kasih sayang, tapi sekali saja ia dikhianati, maka ia akan memiliki kebencian dan dendam yang sulit untuk dipadamkan.
Kurasa rasa benci Sasuke padaku dimulai 4 tahun lalu. Empat tahun lalu memang sempat ada perdebatan mengenai siapa yang akan menjadi Hokage Ke-6 menggantikan Tsunade. Kakashi merasa kurang cocok menjadi seorang Hokage jadi ia tak tertarik menjadi Hokage jika tidak terpaksa (seperti saat kasus Danzou). Shikamaru memiliki otak jenius ber-IQ 200 tapi kemauannya tak setinggi IQ-nya, ia cenderung malas. Apalagi jika harus mengurus masalah desa dan berbagai dokumen yang menumpuk. Kami juga lebih setuju kalau Shikamaru menjadi seorang penasihat Hokage.
Akhirnya tersisa 2 kandidat terkuat Hokage Ke-6 yaitu aku dan Sasuke. Keadaan itu mirip seperti saat penentuan Hokage Ke-1. Klan Senju (aku) kembali terpilih menjadi Hokage berdasarkan keputusan dewan dan voting penduduk. Sasuke terlihat menerima dengan baik keputusan itu. Ia sadar apa yang sudah diperbuatnya pada desa beberapa tahun ke belakang. Namun saat pelantikan Hokage Ke-6, aku mengundurkan diri...
Kalian bisa bayangkan bagaimana perasaan Sasuke? Persis seperti apa yang dikatakan Hanabi, sudah jelas Sasuke kecewa.
Melihat reaksi bersalahku, Hanabi ikut duduk di sampingku.
"Setelah itu apa yang terjadi?" tanyaku, menyuruh Hanabi untuk melanjutkan ceritanya. Ini lebih detail dari cerita yang disampaikannya di festival. Cerita kali ini disampaikan dari sudut pandang Sasuke yang sebenarnya tak harus disampaikan tanpa izin orang yang bersangkutan. Tak heran jika Hanabi menanyakan apa aku mempercayainya atau tidak.
Hanabi melanjutkan ceritanya, kali ini dengan lebih tenang.
"Sasuke lalu kembali mencalonkan jadi Hokage. Kelompok pro-Naruto menahan keinginan Sasuke itu. Mereka percaya kalau kau akan kembali dalam waktu dekat. Akhirnya perpecahan terjadi antara kedua kelompok itu cukup lama. Di tengah kekacauan, invasi besar-besaran datang karena pihak luar tahu jika posisi Hokage sedang kosong. Sasuke terluka parah, ia koma berminggu-minggu. Kakashi dan Shikamaru tewas sehingga Menma – yang saat itu sudah datang ke Konoha - mengambil alih komando. Tak lama kemudian Menma dilantik jadi Hokage Ke-6. Saat Sasuke siuman ia semakin kesal karena posisi Hokage sudah kembali ditempati, terlebih ditempati oleh orang asing. Parahnya lagi orang asing itu juga merupakan klan Senju yang fisiknya mengingatkannya padamu. Sasuke sakit hati dan mengundurkan diri sebagai elite jounin dan memilih menjadi ANBU. Belakangan aku baru tahu kalau diam-diam ia mengumpulkan semua mantan anti-Naruto, termasuk aku, untuk melakukan kudeta."
Cerita Hanabi semakin membuatku yakin kalau rasa kesal Sasuke sudah terakumulasi hingga ia merencanakan kudeta. Aku takut apa yang diceritakan Hashirama terjadi pada Sasuke. Aku tak ingin muncul Madara Ke-2 di Konoha.
"Lalu kenapa kau kembali bergabung bersama kelompok anti-Naruto buatan Sasuke? Kenapa kau tidak melaporkan masalah ini kepada Menma?" tanyaku kepada Hanabi.
Hanabi menggeleng. "Konoha saat ini sedang buruk di mata desa lain. Menma selalu ingin terlihat baik di hadapan penduduk dan dewan. Dia kurang peduli pada masukan kami para petinggi klan. Salah satu kebijakan yang memunculkan banyak pertentangan adalah produksi senjata dan perekrutan shinobi yang berlebihan. Kalau dalam perang 4 tahun lalu tidak masalah, tapi sekarang kita dalam keadaan damai. Kita tak butuh banyak shinobi dan senjata. Dengan jumlah shinobi yang sekarang, Menma bisa saja menantang semua desa berperang. Akibatnya 4 desa besar lain memberikan peringatan. Mereka khawatir Menma akan menjajah desa mereka. Keadaan ini membuat semua petinggi klan bergabung bersama Sasuke. Kami percaya menggulingkan pemerintahan Menma adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan citra baik Konoha di mata desa lain."
Aku memegang keningku saking pusingnya mendengar masalah yang begitu kompleks di sini. Aku bahkan tak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
"Informasi menyebar dengan cepat. Sasuke tahu kau ditawari posisi Hokage oleh Menma. Sasuke memang membencimu, tapi ia ingin kau menerima posisi itu dan membunuh Menma. Membiarkannya hidup dinilai akan tetap memberikan pengaruh negatif terhadap dewan," lanjut Hanabi.
"Lalu apa tujuanmu mengatakan ini padaku sebelum pertemuan dimulai?" tanyaku.
"Aku tak ingin kau membunuh Menma."
Keningku berkerut karena heran. "Dengar Hanabi, aku baru 24 jam berada di sini dan belum terlalu hapal seluk-beluk Konoha saat ini. Sekarang aku tanya padamu, jika kau anggota anti-Naruto-"
"Kelompok anti-Naruto sudah berubah nama menjadi 'Resistance' karena perubahan misi kami. Lagipula kelompok anti-Naruto sudah dihapuskan sejak Menma menjabat Hokage," kata Hanabi mengoreksi kata-kataku.
"Baiklah, baiklah. Jika sekarang kau bergabung bersama Resistance yang dipimpin Sasuke, kenapa kau memberitahuku masalah ini? Bukankah kelompok ini beranggotakan mantan anggota anti-Naruto yang membenciku? Lalu kenapa juga kau tak ingin aku membunuh Menma? Bukankah itu misi Resistance? Aku bingung sebenarnya kau berada di pihak mana?" tanyaku bertubi-tubi.
Hanabi memeluk lututnya. Kini wajahnya tertutup bayangan lampu. "Aku tak peduli berada di pihak mana. Aku tak ingin terikat aturan manapun. Aku ingin percaya pada apa yang kuyakini. Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar," gumamnya.
Kata-kata Hanabi terdengar begitu idealis. Aku tak tahu harus bicara apa lagi, speechless.
Setelah kami saling diam, Hanabi bicara lagi. "Dulu aku tak pernah menganggap Menma istimewa. Di mataku ia hanya pemuda yang selalu ribut dan tak pernah diam. Perlahan pandanganku tentang Menma berubah saat ia menikah dengan Neesan dan jadi kakak iparku. Di balik sikapnya yang cuek, dia selalu punya alasan di setiap apa yang dilakukannya. Dia mengingatkanku padamu. Sifat kalian sama. Sekarang aku memberitahumu karena aku yakin membunuh Menma tidak akan menyelesaikan masalah. Justru itu akan membuat Neesan sedih. Aku tidak ingin melihatnya sedih lagi."
Betapa besarnya kasih sayang gadis di sampingku ini kepada sang kakak. Aku tak tahu ini sebuah belas kasihan atau memang suatu bentuk kasih sayang adik kepada kakaknya. Aku jadi ingat pada adikku, Naru.
"Sudah malam, saatnya pulang," ujarku. Kuulurkan tanganku kepada Hanabi. Ia meraihnya, lalu kami kembali melanjutkan perjalanan ke Hyuuga Mansion. Dari mukanya yang ditekuk itu aku bisa tahu kalau Hanabi kecewa karena aku malah mengalihkan pembicaraan.
Kami sudah sampai. Sebelum Hanabi masuk ke dalam gerbang, untuk terakhir kalinya ia bilang padaku, "Tolong jangan ikuti keinginan Sasuke, jangan biarkan kudeta terjadi, dan jangan bunuh Menma."
Aku tak menjawab. Kuusap puncak kepala Hanabi dan menyuruhnya cepat masuk. "Selamat malam," ucapku, tanpa menunggu responnya aku langsung berjalan pulang.
Masih terlalu dini jika aku memutuskan untuk menuruti kemauan Hanabi. Maka di sinilah aku sekarang, di antara orang-orang berpupil putih khas klan Hyuuga. Di hadapan berbagai menu makanan yang dimasak Hinata di siang hari yang cerah.
Aku memutuskan untuk makan siang di kediaman Hyuuga dengan alasan ingin menemui Hanabi. Tentu saja itu bukan tujuan utamaku berkunjung ke sana. Tujuan utamaku adalah ingin melihat Menma saat ia di rumah. Aku ingin buktikan apa Menma sebaik yang dikatakan Hanabi. Meski secara tak langsung aku dipaksa untuk melihat kedekatan Hinata dan Menma. Itu tak masalah, aku hanya perlu menahan rasa cemburuku.
Hiashi tak menaruh curiga saat aku mengatakan alasanku datang. Ia yang saat itu sedang mengasuh cucunya mempersilakanku menunggu di ruang makan, meninggalkanku bersama Hinata yang sama-sama canggung. Hinata menyibukkan dirinya dengan memasak, sementara aku diam tak tahu harus apa. Berduaan dengan istri orang bukanlah hal yang baik.
Beruntung tak lama setelah itu datang Hanabi dan Ko. Mereka berdua sepertinya baru selesai berlatih.
Mata besar Hanabi membulat melihatku. "Kenapa kau di sini?" tanyanya sambil duduk di sebelahku.
"Aku ingin lihat sebaik apa Menma sampai kau bersikeras membelanya," bisikku, memastikan agar Ko yang duduk di dekat kami tak mendengarnya.
Hanabi ber oh ria. "Tapi itu bukan alasan yang kau sampaikan pada ayahku 'kan?"
"Kau pikir aku sebodoh itu? Aku bilang pada ayahmu kalau aku masih merindukanmu dan ingin bertemu."
"Apa?!"
"Baiklah, kosa katanya tak persis sama tapi kira-kira maknanya seperti itu."
"Baka," ejek Hanabi. Tapi masih bisa kulihat semburat merah di kedua pipinya.
Hiashi masuk ke ruang makan diikuti Menma yang sedang menggendong Misa. Ini memang jam istirahat Hokage. Menma memanfaatkan waktu 1 jam ini untuk makan bersama keluarganya. Tentunya dengan Hiraishin no Jutsu, bolak-balik dari Gedung Hokage ke rumah bukan perkara sulit.
"Senang kau bergabung bersama kami, Naruto," sambut Menma.
Aku membalasnya sambil tersenyum. "Ya. Terima kasih sudah mengizinkanku makan bersama kalian."
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Hiashi memimpin doa dan setelah itu kami mulai makan. Klan Hyuuga adalah klan terhormat yang menerapkan sopan santun di setiap apa yang dilakukannya, termasuk makan. Tak ada yang bicara seorang pun ketika kami makan.
Barulah setelah selesai makan kami diizinkan bicara. Dari ujung mataku aku masih sempat melihat Menma menyuapi Misa yang belum selesai makan dibantu Hinata. Menma juga bertanya apa perkembangan Misa selama ia pergi. Apakah ada kata baru yang bisa diucapkannya selain 'papa' dan 'mama'? Menma juga menceritakan sekilas tentang keadaan desa kepada kami. Setelah itu kami membahas berbagai hal mulai dari keadaan klan Hyuuga oleh Hanabi kepada ayahnya, sampai pada kejelasan hubunganku dengan Hanabi.
Hal yang terakhir itu cukup membuatku dan Hanabi terkejut.
"Apa kalian... umm.." Menma melakukan isyarat dengan kedua tangannya, mungkin maksudnya bertanya apa kami berdua sudah jadi sepasang kekasih.
Tindakan Hanabi kemarin serta tindakanku hari ini sudah cukup untuk menuntun kami pada kesalahpahaman yang terlampau jauh. Aku menatap Hanabi hingga tatapan kami beradu. Tatapan mata kami seolah saling melempar mengenai siapa yang akan angkat bicara. Kami bingung harus bicara apa.
"Sudah terlanjur," bisik Hanabi.
"Ya sudah. Apa boleh buat," balasku.
Hanabi menggenggam tanganku erat lalu menatap semua yang hadir di sana. "Ya, kami saling menyukai," kata Hanabi mantap.
Saat kalimat itu keluar dari mulut Hanabi, orang pertama yang kuperhatikan adalah Hinata. Aku ingin melihat ekspresinya seperti apa. Tapi nyatanya aku tak bisa mengartikan apa arti raut wajah yang ditunjukkan Hinata saat itu. Itu bukan rasa senang, bukan juga kesedihan. Itu seperti berbagai perasaan yang tercampur menjadi satu, sebelum akhirnya ditutupi oleh sebuah senyuman.
Lalu kulihat yang lain. Semua orang tersenyum, Menma, Ko, bahkan Hiashi.
"Kau tak keberatan Tou-san?" tanya Hanabi. Sebenarnya dari senyuman tipis Hiashi yang kami lihat tadi, kami sudah tahu jawabannya. Tapi Hanabi tetap butuh kepastian.
"Aku tak keberatan jika itu Naruto," kata Hiashi.
Aku merasa senang. Bukan karena aku bisa bersama Hanabi. Jujur saja perasaanku pada Hanabi biasa saja, mungkin ini hanya sebuah pelarian dari kakaknya. Jika perasaan Hanabi kepadaku aku tak yakin. Tapi sepertinya sama sepertiku. Keadaan dan kecerobohan kamilah yang memaksa kami jadi seperti sekarang. Adapun rasa senangku tadi, itu muncul dari ucapan Hiashi yang seolah-olah menganggapku istimewa. Ia sepertinya tak suka jika orang yang mendekati Hanabi bukan aku.
Aku tak membiarkan diriku terlarut dalam suasana dan melupakan tujuan utamaku datang ke sini. Kedua mataku selalu mengawasi Menma. Ia menyempatkan dirinya untuk membantu Hinata dan bibi pelayan membereskan piring. Lalu ia bicara dengan Hinata di dapur. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas Hinata langsung tersenyum. Dan kali ini Menma menggendong Misa ke arahku.
"Halo Misa," sapaku.
Gadis mungil bermata byakugan itu tersenyum riang lalu mengarahkan kedua tangannya padaku. Aku menatapnya penuh tanya.
"Dia ingin kau gendong, gendonglah," kata Menma sambil memberikan Misa ke arahku.
"Tidak usah, aku tak bisa menggendong anak kecil," tolakku sehalus mungkin.
Menma bersikeras memaksaku, sementara Hanabi yang saat itu duduk di sampingku sama sekali tak membantu. Ia malah tersenyum puas melihatku salah tingkah. "Ayolah tidak apa-apa," bujuk Menma lagi.
Aku akhirnya menyerah dan menggendong Misa. Bukannya apa-apa, aku merasa kurang nyaman saja. Jujur, rasanya aneh saat kau menggendong anak dari wanita yang kau sayangi, tapi bukan kau yang menjadi ayahnya. Gadis mungil di pangkuanku yang tak tahu apa-apa itu terlihat senang. Ia memainkan kedua tangannya, memegang-megang pipi dan hidungku.
Menma memperhatikanku dengan heran. "Hmm.. Sepertinya dia suka padamu. Padahal dia biasanya tak seakrab ini dengan orang asing."
"Mungkin karena wajahku mirip dengan ayahnya," candaku.
Tawa Menma dan Hanabi langsung pecah. "Ahaha mungkin saja, mungkin dia mengira kau ayahnya," ujar Menma.
Aku menghabiskan waktu bersama Misa sampai akhirnya Menma harus kembali ke Gedung Hokage jam 1 siang. Hinata masih membereskan piring-piring di dapur. Hiashi dan Ko permisi ke belakang. Jadilah tinggal aku, Misa, dan Hanabi.
"Kau lihat sendiri. Di balik sifatnya yang tak disukai sebagai Hokage oleh para petinggi klan, Menma adalah orang yang baik. Kurasa kau juga tak ingin membiarkan anak di pangkuanmu itu jadi anak yatim."
Dalam hati, aku mengiyakan perkataan Hanabi. Satu jam di sini aku sudah bisa menilai kalau Menma adalah ayah dan suami yang baik.
Di satu sisi aku ingin jadi Hokage, kembali mengulang kenangan bersama teman-temanku, dan mengembalikan Konoha ke Konoha lama yang diimpikan Hokage Ke-1. Tapi di sisi lain aku tak tega membunuh Menma, lebih tepatnya aku tak tega jika Hinata dan Misa kehilangan Menma. Meski Menma sudah mengambil Hinata, itu tak sepenuhnya kesalahannya, itu karena aku meninggalkan Hinata. Lagi pula kalau diingat lagi, Menma adalah diriku dari dimensi lain. Jika aku sudah rela menyelamatkan Naruko (yang juga merupakan diriku di dimensi lain), masa iya aku malah membunuh Menma?
Tengah malam datang begitu cepat. Setibanya di Uchiha Mansion, aku diarahkan penjaga untuk menuju basement karena di sanalah pertemuan diadakan. Sesudah masuk ke sana, orang yang pertama menyita perhatianku adalah seorang Hyuuga berambut cokelat panjang yang siang tadi bersamaku.
"Hanabi, apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku setengah berbisik, sambil mendekatinya yang saat itu sedang berada dekat perapian. Siang tadi aku yang mengagetkannya dengan datang ke kediaman Hyuuga, sekarang giliran Hanabi yang mengagetkanku dengan datang kemari.
"Apa maksudmu? Aku ketua klan Hyuuga," jawabnya bangga.
Aku tak kuasa menahan senyumku. Tak kusangka Hiashi akan menyerahkan kepemimpinan Hyuuga secepat ini. Pantas saja dalam makan siang tadi ia banyak membicarakan kondisi klan. Tapi keputusan Hiashi sudah tepat. Hinata bukanlah tipe seorang pemimpin. Hanabi lebih cocok. Dari obrolan kami yang panjang lebar 2 hari ini, aku sudah tahu Hanabi memenuhi syarat sebagai seorang pemimpin. Ia hanya masih kekurangan 'jam terbang'.
"Kalau begitu tak heran kau punya sikap idealis. Bagus, asalkan tidak berlebihan dan memperhatikan petunjuk ayahmu. Sepertinya mulai sekarang klan Hyuuga tidak akan monoton lagi dengan pemimpin yang baru," ujarku dengan sedikit bercanda.
Hanabi ikut tersenyum.
Kami disadarkan oleh suara seseorang.
"Selamat datang kembali di Konoha, Naruto. Aku bersyukur kau baik-baik saja."
Aku kenal betul itu suara Iruka. Benar saja, saat aku menoleh ia sedang berjalan mendekatiku. Iruka adalah salah satu orang terdekatku di Konoha. Dia sudah seperti seorang 'paman' atau bahkan 'ayah' bagiku. Sosoknya tak begitu berbeda sejak terakhir kali aku melihatnya 4 tahun lalu. Memakai jaket hijau dan baju biru tua dengan tetap memperlihatkan kewibawaan di wajahnya. Kalimat yang barusan dilontarkan Iruka bukanlah pertanyaan. Bukan juga pernyataan yang membutuhkan tanggapanku. Yang kulakukan hanya memeluknya erat.
"Kau sudah dewasa sekarang," gumamnya.
Tak lama setelah itu teman-temanku yang lain menyadari kehadiranku dan memelukku bergantian. Sambutan ini memang berbeda jauh dengan yang mereka tunjukan padaku tadi siang. Bahkan Kiba dan Chouji memukulku keras di punggung. Itu memang kasar tapi seperti itulah seharusnya pertemuan kami. Yang paling histeris adalah Sakura. Ia sampai menangis terharu dan memelukku, kondisinya yang sedang hamil tak mengurangi semangatnya. Kulihat hanya Sasuke saja yang terlihat duduk di ujung meja besar dengan wajah datarnya. Aku tidak mau memperkeruh suasana jadi kubiarkan saja dia.
Aku kembali menatap teman-temanku satu per satu. "Kupikir kalian tidak merindukanku."
"Hanya di sini kami bisa melakukannya," kata Sakura sambil mengusap air mata di pipinya.
"Ya, kami tak ingin Menma melihat kita terlalu dekat," tambah Ino.
Setelah melepas rindu, kami menuju meja makan untuk mengambil berbagai makanan yang disediakan. Para wanita tidak ikut mengambil makanan karena mereka bilang makan di tengah malam tidak sehat. Sebagian besar teman-temanku tak peduli dan ikut bersamaku mengambil makanan. Dari sekian banyak makanan yang disajikan, ada ramen yang begitu menggoda. Tanpa pikir panjang lagi aku memilihnya sebagai 'cemilan'-ku malam ini.
Aku makan sambil memperhatikan orang-orang di sekitarku. Ada sekitar 30 orang yang hadir. Hanabi benar, meski perkumpulan rahasia ini awalnya dilakukan mantan kelompok anti-Naruto, sekarang misi mereka sudah berubah. Kelompok yang kini bernama Resistance ini mempersilahkan mantan kelompok pro-Naruto untuk ikut bergabung selama memiliki tujuan yang sama, yaitu menggulingkan pemerintahan Menma. Lihat saja rookie 9 (minus Sasuke) yang merupakan mantan anggota pro-Naruto, mereka ikut bergabung dalam pertemuan ini.
"Maaf atas semua yang telah terjadi."
Gerakan sumpitku yang tengah mengambil mie terhenti ketika mendengar seseorang di sampingku. Rupanya itu Tsunade. Entah seburuk apa Konoha di mata desa lain sekarang. Bayangkan saja, seorang mantan Hokage Ke-5 saja sampai ikut bergabung bersama Resistance untuk melakukan kudeta terhadap Menma.
Lalu aku sadar kenapa Tsunade meminta maaf? Padahal kami tahu siapa yang sebenarnya bersalah. Kutatap mantan Hokage Ke-5 itu dengan raut kebingungan. Rambut pirangnya nampak cerah terkena cahaya api dari perapian. Ia masih terlihat seperti wanita muda di usianya yang beberapa tahun lagi akan menginjak kepala 6. Jurus Sozo Saisei miliknya memang membuat semua wanita iri karena bisa awet muda. Meskipun sebenarnya jurus ini mengurangi umur pemakainya. Bisa hidup sampai sekarang saja Tsunade sudah beruntung.
"Saat kau menghilang, aku mengerahkan seluruh shinobi pendeteksi chakra ke seluruh dunia untuk mencarimu namun tidak berhasil. Sekarang posisi Hokage Ke-6 sudah-"
Sekarang aku tahu kenapa dia meminta maaf. Dengan kalimatnya itu, aku pun kembali disadarkan pada kesalahanku.
"Aku yang seharusnya minta maaf," potongku. "Aku pergi ke dimensi lain, jadi wajar kalian tak menemukanku."
"Aku tak bisa menyalahkanmu, Naruto. Kau sudah dewasa dan kau berhak mengambil keputusan yang kau anggap benar. Aku sudah tak punya hak lagi untuk mengaturmu seperti dulu."
Aku senang Tsunade mau mengerti perasaanku. Tapi di saat yang bersamaan aku jadi mengingat kenanganku dulu saat Tsunade masih jadi Hokage dan aku jadi seorang genin. Banyak sekali kekacauan yang kuperbuat hingga membuat Tsunade memperingatkanku berulang kali. Ia tak kenal lelah menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Dialah yang sedikit banyak telah membimbingku hingga seperti sekarang. Tentunya disamping Iruka, Kakashi, dan Jiraiya yang juga merupakan guruku.
Aku mencerna baik-baik kalimat Tsunade tadi. Tsunade benar, apapun keputusan yang kuambil sekarang sudah bukan lagi tanggung jawabnya. Aku sudah harus tahu apapun resiko dari setiap keputusan yang kubuat dan mempertanggungjawabkannya. Jika memang kepergianku dulu telah menuntun pada keburukan Konoha di mata desa lain, mungkin sekarang saatnya memperbaikinya.
"Kami senang kau kembali," kata Yamato sambil menepuk pundak kananku.
Aku kembali tersenyum pada semuanya. Senang rasanya banyak orang yang peduli padaku. Inilah teman-teman yang selama ini aku rindukan. Inilah 'Konoha' yang kukenal.
Namun aku disadarkan pada tujuan utama pertemuan ini yang membuatku tak tenang. "Jadi apa yang kalian lakukan di sini? Memberiku ramen bukanlah acara satu-satunya 'kan?" tanyaku dengan bercanda.
Saat itulah Sasuke yang dari tadi diam saja angkat bicara. "Baiklah, kalau begitu kita mulai pertemuannya."
Orang-orang mulai mendekat ke meja besar tempatku makan. Ini memang pertemuan yang informal sehingga orang-orang tak dituntut untuk duduk rapi. Ada yang duduk bersandar, bahkan ada yang menjadikan punggung kursi sebagai alas dagu. Orang-orang hanya dituntut untuk diam dan mendengarkan apa yang dibicarakan Sasuke.
"Kami ingin kau bergabung bersama kami," kata Sasuke to the point. Seperti biasa dia memang tak suka membuang waktu.
Aku mengerutkan keningku, berpura-pura tidak mengerti. Aku ingin ada yang menjelaskan semuanya dulu padaku, sekaligus memastikan kalau apa yang dikatakan Hanabi benar.
"Ehem," dehem Sakura. Ia memutuskan untuk memperjelas maksud suaminya. "Dengar Naruto, seperti yang kau lihat, Konoha sekarang sudah tidak seperti Konoha lama. Bukan hanya dari fisiknya, tapi dari sistemnya. Setelah Menma menjadi Hokage, setiap informasi yang masuk ke Hokage terkesan disaring dan tak akan pernah sampai ke dewan. Informasi terakhir yang berusaha kami sampaikan kepada dewan adalah status Konoha yang telah dicap berbahaya oleh 4 desa besar lainnya. Itu terjadi karena Konoha memproduksi senjata secara berlebihan. Begitu juga dengan perekrutan shinobi yang terlalu banyak. Dengan kekuatan militer yang sekuat sekarang, Konoha dikhawatirkan akan menyerang desa lain. Konoha saat ini sudah terlalu melenceng dari seharusnya. Misi utama kami adalah ingin mengembalikan Konoha sebagaimana yang dicita-citakan Hokage pertama. Kami ingin kau bergabung bersama kami. Kau mau 'kan?"
Semua perhatian tertuju padaku tak terkecuali Hanabi. Jika yang lain mengharapkan aku untuk bergabung, maka Hanabi mengharapkanku untuk menolak.
Sejauh ini apa yang dikatakan Hanabi benar. Aku kembali dihadapkan pada pilihan yang sulit.
"Bagaimana cara kalian mengembalikan Konoha seperti semula?" pancingku.
"Kudeta," jawab Sasuke dingin.
Beberapa orang terlihat menyesalkan jawaban Sasuke yang terlalu terburu-buru. Tapi mereka tak ada yang protes karena sepertinya memang benar akan dilakukan kudeta. Cerita Hanabi kembali dibuktikan kebenarannya.
Sakura kembali mengambil alih pembicaraan. "Kami mendapatkan informasi kalau kemarin kau ditawari posisi Hokage oleh Menma. Benarkah?"
Aku mengangguk.
"Terimalah posisi Hokage, tapi jangan biarkan Menma mengontrolmu atau tahu kalau kau bagian dari kami. Itulah sebabnya sejak kemarin kami tak bisa terlalu dekat denganmu. Kami tak mau Menma tahu kalau kau menemui kami. Di atas sana banyak intel yang membuat kami para shinobi merasa tidak leluasa. Menma selalu megawasi gerak-gerik kami. Ia seperti takut pada kami. Seperti menyembunyikan sesuatu."
Ada satu hal yang terlewatkan dan merupakan satu hal penting. Kutatap mata emerald Sakura lekat-lekat. "Jika aku sudah menjadi Hokage, apa yang harus kulakukan pada Menma?" tanyaku.
Sakura tak langsung menjawab. Kulempar tatapan ke yang lain, mereka malah menunduk. Bahkan Tsunade pun terlihat enggan memberikan jawaban. Akhirnya aku menatap Sasuke.
"Teme?"
"Kau harus membunuhnya," jawab Sasuke, masih dengan nada datarnya.
Kedua tanganku mengepal kuat. Semua yang diceritakan Hanabi 100% benar!
"Pengaruh Menma sudah terlalu kuat di desa ini. Ia disukai dewan, bahkan ia sudah seperti anak emas Daimyo," tambah Sasuke.
Aku menoleh ke arah Tsunade, berharap mendapatkan pilihan lain. "Apa tidak ada jalan lain?" tanyaku.
Tsunade menggeleng. "Jika kau sudah disukai Daimyo, kau bisa diberi izin melanjutkan produksi senjata meski tak menjabat jadi Hokage lagi. Kami sudah berulang kali menyuruh Menma untuk berhenti tapi ia tetap bersikeras melanjutkan produksi senjata itu. Kita tak punya pilihan selain menggunakan cara paksa, dengan kata lain membunuhnya."
Beginilah jika negara shinobi dipimpin oleh orang yang tak mengerti dunia shinobi. Daimyo sialan itu tak mengerti apa yang sedang dihadapinya.
Aku menatap Hanabi. Aku yakin ia sedang sedih, ia hanya pintar menyembunyikannya.
"Ini sudah keputusan kami, Naruto. Semua ketua klan sudah setuju," kata Sakura menambahkan. Kutatap satu persatu orang yang hadir di sana. Semua ketua klan memang hadir di sana. Sasuke dari klan Uchiha, Hanabi dari klan Hyuuga, Kiba dan Hana dari klan Inuzuka, Ino dari klan Yamanaka, Chouji dan Chouza dari klan Akimichi, Shino dari klan Aburame, Yamato, Guy, Tsunade, Iruka, dan semua orang penting Konoha lainnya. Tak usah diragukan lagi kalau mereka adalah teman-temanku, mereka orang-orang terbaik Konoha. Resistance adalah jelmaan dari Konoha yang sesungguhnya. Jika aku bergabung bersama mereka aku akan melawan Menma, tapi jika aku memihak Menma, maka aku akan berhadapan dengan teman-temanku.
Kedua-duanya bukan pilihan yang bagus. Apa yang harus kulakukan?
"Jadi?" tanya Sasuke.
Aku menghela napas. "Dari pada jadi Hokage, aku memilih jadi ANBU."
Saat itu juga kulihat rasa kesal Sasuke memuncak, terlihat dari tatapan mata onyx-nya yang menajam.
Buru-buru aku menambahkan, "Dengan menjadi ANBU, aku bisa lebih mudah membunuh Menma."
Sasuke terpaku, tapi aku yakin ia puas dengan jawabanku. Berbeda dengan seorang gadis Hyuuga yang terlihat kecewa mendengar jawabanku.
"Apa maksudmu dengan ingin menjadi ANBU?!" bentak Hanabi saat kami dalam perjalanan pulang.
"Kau tak suka? Aku tak ingat pernah setuju pada permohonanmu," jawabku tanpa peduli untuk menghentikan langkahku.
Hanabi semakin kesal dan menahan tanganku, memaksaku untuk membalikkan badan. "Kupikir aku bisa mengandalkanmu."
Aku menepis pegangan Hanabi di tanganku dan berbalik mendorongnya, menahan kedua pundaknya.
"Apa menurutmu ini gampang?! Aku sudah kehilangan impianku sebagai Hokage, kehilangan Hinata, dan sekarang dihadapkan pada 2 pilihan yang sulit! Jika aku bergabung bersama Sasuke, aku harus membunuh Menma. Aku seperti membunuh diriku sendiri jika melakukannya. Lalu, jika aku bergabung bersama Menma aku takut membangunkan 'dendam' Uchiha Sasuke. Perang Dunia Ninja Ke-4 adalah contoh nyata jika kau menecewakan seorang Uchiha. Makanya aku memilih untuk tidak mengikuti keduanya. Aku juga bisa bersikap idealis sepertimu. Ini jalan yang kupilih dan menurutku ini yang terbaik!"
Hanabi terdiam. Sepertinya ia mulai sadar kalau beban pikiran yang kupikul tidaklah ringan.
"Kata-kataku tadi hanya untuk menenangkan Sasuke. Aku menjadi ANBU untuk mencari tahu alasan Menma membangun kekuatan militer yang sangat besar. Setelah itu aku akan mengembalikan Konoha seperti dulu, tanpa membunuh Menma. Aku berusaha membantumu dengan caraku sendiri dan ocehanmu tadi sama sekali tak membantu!"
Tanpa kuduga Hanabi tiba-tiba memelukku. "Maaf membuatmu kesal," katanya.
H-hei, apa-apaan gadis ini? Kupikir kami berdua hanya berpura-pura sebagai sepasang kekasih di hadapan keluarga Hyuuga. Lalu kenapa sekarang ia memelukku? Apa jangan-jangan dia...
"Sekali lagi maafkan aku. Aku lupa pada berbagai masalah yang kau hadapi. Kau sudah percaya padaku. Sekarang giliranku, aku akan berusaha untuk percaya padamu," gumam Hanabi dalam pelukanku.
Aku tertegun mendengar kata-katanya. Mungkin memang inilah yang kubutuhkan saat ini, sebuah kepercayaan dan dukungan. Aku tak mungkin menghadapi semua masalah ini sendirian. Hanabi membenamkan kepalanya di dadaku. Pelukannya semakin erat. Rasa kesalku berangsur menghilang. Sejak kemarin, Hanabi selalu tahu cara untuk menenangkanku. Perlahan kedua tanganku terangkat dengan sendirinya. Kurengkuh tubuh Hanabi, kubalas pelukannya. "Terima kasih sudah mempercayaiku. Inilah yang kubutuhkan saat ini."
To Be Continue…
© rifuki
