War Prisoner (AkaKuro ver.)
.
Disclaimer
War Prisoner © Li Hua Yan Yu
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
.
Cast
Akashi Seijuurou as Wanyan Xu
Kuroko Tetsuya as Su Yi
Warning : Yaoi
Cerita ini mungkin sedikit berbeda dengan cerita aslinya
Chapter 9
Kuroko mulai melawan, kondisi fisiknya sekarang jauh lebih fit dibandingkan periode ketika dia disiksa dahulu. Setelah ia memberi Akashi beberapa pukulan keras, pria bersurai merah itu hampir saja menjatuhkan Kuroko dari pelukannya.
Menghadapi perlawanan Kuroko yang keras, Akashi malah mendesah puas. "Aku tidak memikirkan, bahwa dengan kondisi tubuhmu yang sudah sehat kau akan menjadi brutal seperti ini."
Akashi menurunkan Kuroko dari gendonganya. Iris merah-emasnya bersinar cerah dan berkilauan. Dalam hati Akashi memutuskan, bahwa hari ini akan menjadi hari dimana ia akhirnya bisa menikmati sesuatu yang menyenangkan.
Kecemasan Kuroko tidak mereda. Meskipun tubuhnya jauh lebih sehat daripada sebelumnya, dia masih belum bisa dibandingkan dengan kekuatan Akashi. Kuroko hanya bisa meningkatkan kewaspadaannya, menjaga matanya hanya terarah pada Akashi. Bahkan, Kuroko tidak berani berkedip, karena takut musuhnya akan mengambil keuntungan dari kelengahanya.
Seperti menemui sebuah jalan yang buntu, tiba-tiba suara manis dan lembut terdengar dari luar pintu.
"Yang Mulia, hamba Kise Ryouta memohon pendapat Anda."
Kuroko akhirnya bisa bernafas lega. Tahu bahwa Kise sengaja mengintrupsi, sehingga Akashi tidak bisa berhubungan intim dengan Kuroko. Kedatangannya memang sebuah keberuntungan, menyelamatkan Kuroko dari situasi yang lengket ini.
Akashi merasa terganggu ketika hal yang menyenangkan akan segera dimulai. Ketidaksenangan tertampang di seluruh wajahnya. Namun, dia adalah seorang raja, dia tidak pernah membiarkan keinginannya menentukan tindakannya. Akashi tidak punya pilihan selain membiarkan kesempatan ini hilang, dan mengatakan dengan muram.
"Apa itu?"
Melihat bahwa Akashi lebih memilih meninggalkan ruangan daripada menyurunya masuk, sehingga tidak mengganggu hal-hal privasi yang dilakukan rajanya di dalam. Kise bergegas mengatakan tujuanya.
"Laporan ke Yang Mulia. Jendral Aomine Daiki saat ini memimpin tentara kembali ke istana, surat yang disampaikan mengatakan. Bahwa Jendral Aominr telah mencapai Pavilion lima diluar ibu kota."
Setelah mendengar kata-kata itu, ekspresi kesal di wajah Akashi lenyap. "Dia telah kembali? Itu sangat bagus! Turunkan perintahku. Semua pejabat sipil dan militer di atas kelas empat akan menemaniku ke Triumphant Pavilion sepuluh di luar kota untuk menyambut Jendral Aomine."
Kuroko bisa melihat bahwa semangat pria itu menjadi berlipat ganda seketika, semua karena Aomine telah mencapai prestasi besar dengan menghancurkan kerajaan Seirin. Setelah mengingat bahwa negaranya sekarang telah hancur serta dirinya sendiri sekarang menjadi orang tanpa negara, kesedihan menyelinap ke hatinya. Merasa begitu lemas, Kuroko duduk di tempat tidur yang ada di belakangnya. Mengepalkan tinju, ia memaksakan diri untuk menahan air mata, tidak ingin kehilangan ketenangan diri di hadapan Akashi Seijuurou.
Akashi berbalik untuk melihatnya. Berjalan menghampiri Kuroko, dia merengkuh pria itu di dalam pelukannya. Kuroko kaget dan langsung berusaha untuk membebaskan diri. Tapi, ia mendengar perkataan yang begitu lembut dari pria itu membuatnya terdiam.
"Jangan berpikir terlalu banyak, aku akan menganggap rakyat Seirin sebagai rakyatku sendiri. Jika kau tidak bersedia untuk tetap di sini, dan merindukan negaramu. Aku berjanji, aku akan menunjukkan cara untuk memenuhi keinginamu. Jika kau merasa ingin menangis, mungkin akan lebih baik jika kau menangis. Mengubur kesedihan di dalam hatimu, itu hanya akan membuatnya menjadi lebih menyakitkan. Kau tida boleh jatuh sakit."
Akashi tersenyum dan melanjutkan. "Waktuku buruk hari ini, karena Tetsuya sudah berhasil melarikan diri. Tapi aku akhirnya akan menikmati rasa itu lain waktu. Dementara itu, kau harus merawat kesehatanmu dengan baik." Akashi memberikan senyum manis seraya mengelus pucuk kepala Kuroko. Dengan langkah panjang, ia berjalan keluar ruangan.
.
Kuroko menatap kosong pada sosok itu, tidak dapat percaya akan kata-kata pria itu. Begitu lembut dan sangat manis, terlebih ia adalah penguasa negeri ini.
Berpikir kembali, Kuroko dilanda pikiran menyedihkan. Ia telah menangkapku, dan menghancurkan kerajaan Seirin. Akashi telah memenuhi keinginannya. Dalam keadaan gembira seperti itu, dia pasti akan bersemangat tinggi dan mengatakan hal-hal yang indah untuk menunjukkan kemurahan hatinya. Jika aku terlalu membawa perasaanku, aku akan menjadi benar-benar bodoh.
Sebelum Kuroko bisa selesai menyortir pikirannya, ia mendengar suara pintu dibuka. Melihat ke atas, Kuroko melihat Kise yang terburu-buru mendekat. Dengan suara rendah ia berkata.
"Jenderal Kuroko, bukankah kau akan melakukan seperti yang aku katakan?"
"Aku melakukan seperti yang kau sarankan, dan menyebabkan keadaan yang menyedihkan ini. Kise-san, jangan katakan bahwa niatmu tidak cocok dengan kata-katamu. Sebenarnya, kau mencoba untuk membantu Rajamu dalam upaya untuk membuatku menyerah." Ucap Kuroko dingin.
Memikirkan tentang seberapa keras ia berjuang untuk mengatakan kata-kata itu dengan tulus, yang bahkan tidak pernah dia pikirkan akan keluar dari mulutnya. Satu-satunya hasil yang Kuroko dapatkan ialah bencana yang lebih besar, dia merasakan api kemarahan membakar perutnya.
Kise merasa ragu, seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri.
"Tidak mungkin, meskipun aku tidak akan pernah berani mengatakan bahwa aku memahami temperamen Yang Mulia dengan sangat baik, tapi aku memiliki beberapa pengetahuan tentang itu. Dia biasanya membenci orang-orang yang lemah, jika kau telah melakukan seperti yang aku sarankan, ia pasti tidak lagi memiliki alasan untuk tertarik padamu. Apa yang telah menyelinap melalui celah? Mengapa rencana ini malah menjadi bumerang?"
"Bagaimana aku tahu, tapi jika Tuan benar-benar ingin membalas dendam. Aku akan mengajarkanmu metode yang efektif dan memuaskan."
Kise mengangkat kepala dan menatap Kuroko curiga.
"Jika kau membunuhku, kau akan membalaskan dendam saudaramu. Hingga aku tidak akan memiliki kedekatan dengan rajamu. Apakah itu bisa menghapus semua kekhawatiranmu?" Setelah berkata demikian, Kuroko secara perlahannlahan meraih belati yang ada pinggang Kise. Mata birunya dipenuhi dengan tekad.
"Kenapa kau ragu-ragu? Jika kau tidak mengambil kesempatan ini, kau mungkin tidak akan pernah bisa membalaskan dendammu."
Kise hanya berkedip melihat tindakan Kuroko. "Jenderal Kuroko, negaramu telah hancur. Aku bisa memahami keinginanmu untuk mati bersama dengannya. Tapi aku tidak mengerti, mengapa kau menolak untuk mati dengan tanganmu sendiri, mengapa kau perlu aku untuk mengakhiri hidup mu? Apakah Jenderal tidak memiliki keberanian untuk menemui kematian?"
Anehnya, Kuroko melepaskan tawa. Tawa yang menyedihkan. "Jika aku memiliki kebebasan untuk memutuskan hidupku sendiri, aku bisa lebih tenang. Tapi Rajamu menggunakan kehidupan rakyat dan prajurit Seirin yang telah ditangkap sebagai sarana untuk mengendalikanku. Apakah Tuan memahami kesulitanku sekarang? Jika aku mati di tanganmu, ia tidak memiliki alasan untuk melampiaskan kemarahannya pada tentara dan rakyat Seirin. Kau salah satu pelayan yang disukainya, dia tidak akan mengeluarkan kemarahannya padamu hanya demi tahanan perang rendah sepertiku. Meskipun permusuhan antara Tuan dan aku sedalam lautan, aku tahu bahwa kau memiliki karakter tegas. Saya Kuroko Tetsuya, akan tulus berterima kasih atas kebaikanmu dibawah tanah."
Tatapan Kise berubah hangat, mengambil kembali belatinya, dengan lembut ia berkata.
"Jenderal Kuroko, meskipun aku tidak berani menjamin apa-apa, tetapi jika Yang Mulia memutuskan untuk melampiaskan kemarahannya pada rakyat dan tentaramu. Hamba Kise Ryouta akan melakukan yang terbaik untuk mencegahnya."
Kise mengulurkan belatinya, jelas mengartikulasikan setiap kata. "Jenderal benar-benar sudah memutuskan hal ini?" Tanyanya.
Kuroko tidak menjawab, hanya menutup mata dengan senyum keceriaan di wajahnya.
Menatap Kuroko yang siap menghadapi kematian dengan tenang. Kise merasa kagum. Kise sangat terampil dalam seni bela diri, ahli bermain pedang, dan di samping itu, Kuroko tidak melawanan. Maka dia berkata.
"Satu-satunya hal yang dapat aku lakukan untukmu sekarang, adalah untuk memberikan kematian yang bersih dan cepat." Belati berkelebat seperti kilat, akan mencapai tujuannya- kulit leher Kuroko, ketika sebuah teriakan menghentikanya.
"Kise, apa yang kau lakukan-nanodayo?!"
Kise buru-buru menyimpan belatinya, ia melihat Midorima yang memandangnya ngeri, pria itu sedang berdiri di depan pintu masuk. Meski kesal karena usahanya gagal. Kise tersenyum tenang memandang kengerian di mata Midorima.
"Jenderal Kuroko sendiri yang menginginkannya, sulit bagiku untuk tidak memenuhinya. Aku tidak tahan melihatnya menderita, jadi aku ingin membebaskannya. Aku tidak mengharapkan kau muncul."
Meski Kise mengatakan itu dengan senyum, Midorima dapat mendengar nada kesal yang terselip di kalimat terakhir pria bersurai keemasan itu.
Midorima menarik napas panjang. "Kau terlalu gegabah. Akan ada masalah besar jika Yang Mulia tahu tentang ini. Kau biasanya orang yang cerdas, tapi kau telah melakukan perbuatan yang sangat bodoh saat ini."
Midoroma menatap Kuroko iba.
"Saya mengerti bagaimana perasaan anda, Jenderal Kuroko. Meskipun anda mungkin mengatakan bahwa hidup dan mati hanyalah dua kata, namun mereka masih pantas dipertimbangan dengan hati-hati. Bahkan jika Kise berhasil membunuh anda, itu tetap akan membawa masalah kepada mereka (rakyat dan para prajurit Seirin). Apa anda benar-benar bisa mengatasi hal itu? Antara langit dan bumi, orang-orang yang menunjukkan keberanian bukanlah mereka yang mencari maut, tetapi orang-orang yang memiliki keberanian untuk bangkit dari kesulitan yang paling sulit. Selama anda masih hidup, masih ada secercah harapan. Bahwa, suatu hari nanti anda bisa mengembalikan bukit-bukit dan sungai-sungai dari negara anda. Itu adalah sikap seorang pria sejati."
Midorima bergegas menarik Kise keluar. "Keluarlah, prosesi Yang Mulia untuk menyambut Jendral Aomine akan segera berlangsung, kita akan terlambat jika kita tidak terburu-buru."
.
Setelah kepergian Kise dan Midorima. Kuroko merosot ke tempat tidur dalam kekecewaan. Mengalihkan pandangan keluar jendela, ia bisa melihat bahwa matahari sudah lama tertidur dan suasana tenang di halaman sekarang diterangi oleh cahaya bulan.
Kuroko berpikir bahwa, sudah sepantasnya Akashi menghargai keberhasilan Aomine saat ini, pria itu langsung bergegas untuk menyambutnya kembali dengan melupakan semua jadwalnya. Karena pikiran itu, dia teringat kembali akan kehancuran kerajaan Seirin. Situasinya sendiri, di mana tidak ada jalan kehidupan untuknya, namun juga tidak memiliki pintu untuk mati. Hatinya bagai tenggelam dalam tong minyak yang mendidih.
Berikutnya, Kuroko memikirkan kata-kata Midorima. Meskipun ia tahu bahwa pria bersurai hijau itu tidak hati-hati memilih kata-kata sebelum berbicara. Pria itu hanya berusaha menghalanginya dari mencari kematian, tapi entah bagaimana Kuroko merasa bahwa secercah harapan telah menyala dalam dirinya. Membawa gelombang keberanian. Dengan emosi yang masih bergejolak, Kuroko berbaring di tempat tidur, dan setelah melemparkan diri dan berpaling untuk sementara ia berhasil hanyut dalam mimpi. Ketika dia terbangun, malam masih larut.
.
.
Balai istana yang terletak di depan tempat pribadi raja itu terlihat terang benderang, bukti bahwa Akashi sudah menyambut Aomine dan sekarang menyelenggarakan perjamuan larut malam untuk menghormatinya.
Kuroko melihat mereka dengan tatapan dingin, memikirkan bagaimana musuh yang mengalahkan negaranya di sana menerima ucapan selamat dari sepuluh ribu orang. Sementara jiwa yang tak terhitung jumlahnya sedang hancur di bawah tumit besinya. Kebencian yang Kuroko tanggung untuk kehancuran negaranya tidak akan begitu mudah dilupakan.
Midorima benar, menjadi seorang jenderal, Kuroko seharusnya tidak memilih untuk mati hanya untuk menjadi pahlawan negaranya. Itu akan menjadi tindakan seorang pengecut, jika dia benar-benar ingin menghormati negaranya maka dia harus mengumpulkan semua sumber daya dan memikirkan cara-cara untuk mengembalikan kerajaan Seirin.
Karena pikiran ini, Kuroko tidak bisa menahan emosinya, yang bergolak seperti gelombang di dadanya. Dia menemukan sebuah kertas dan kuas, membungkuk di atas meja dan menulis. Setelah membaca apa yang telah ditulis, Kuroko menyadari bahwa ia telah mengarang sebuah puisi pendek.
A few beats of the night-watch drum
I am startled awake in the room, the candles have gone out, the dawn is cold
My dreams took me to Inner Mongolia, the sound of horses' hooves still ring in my ear
Autumn has come and the geese are travelling south
I can no longer find a path back to my home, but my feelings remain
My wings have been broken, but my spirit is untamed.
My life-long wish
I have spent my youth pursuing, not realising that my hair has grayed
The sentimental moon still shines upon that destroyed country
An old acquaintance is before my eyes, but upon inspection
I see that there is no will left in his heart
Looking back at the road, I have travelled
I see that although my clothes have become soiled, the lands remain unchanged.
Melempar kuas ke samping, Kuroko tertawa muram. "Akashi Seijuurou, jika kau memiliki bantuan dari surga, aku tidak akan bisa melarikan diri. Dengan demikian tidak akan mampu untuk merencanakan balas dendamku. Jika tidak, dendamku padamu karena menghancurkan negaraku dan pemenjaraanku harus dibayar penuh."
Setelah berkata demikian, Kuroko mengintip dari jendela dan melihat bahwa sinar matahari mulai muncul di timur. Dia buru-buru membuka pintu dan melangkah keluar, tapi beberapa penjaga bergegas maju untuk menahannya, menatapnya dengan mata waspada.
Pemimpin mereka berkata. "Jendral akan keluar? Apakah kami harus menyuruh pelayan untuk mengikuti anda?" Meskipun bahasanya sopan, ada jejak kekerasan di nadanya. Jelas penjaga itu takut kalau Kuroko berhasil melarikan diri, maka Raja mereka akan memotong kepalanya sebagai balasan.
Kuroko hanya tersenyum. "Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar, aku akan segera kembali." Lalu dia mulai berjalan-jalan santai di sekitar halaman yang masih berkabut dengan kabut subuh. Pemimpin penjaga, bersama-sama dengan beberapa anak buahnya mengikuti dari belakang.
Matahari dengan cepat naik ke langit. Kuroko melihat azure, ini memang adalah hari yang baik.
"Jenderal Kuroko, Jenderal Kuroko."
Kuroko berbalik dan melihat Momoi muncul dari dalam ruangan secara terburu-buru. Perempuan itu tersenyum. "Anda pergi kemana? Yang Mulia akan tiba sebentar lagi. Yang Mulia mengatakan bahwa beliau telah mengabaikan anda sepanjang malam, dan Yang Mulia merasa sangat menyesal tentang hal itu." Setelah berkata demikian, Momoi menyembunyikan wajahnya di balik lengan baju, tertawa.
Sebelum Kuroko bisa menampakkan wajah tidak senangnya, suara Akashi berdering dan tubuhnya tiba-tiba terasa ringan, karena dia telah diangkat oleh sepasang tangan yang kuat.
Akashi memberi telinga Kuroko ciuman lembut, dan tersenyum. "Apa kau memiliki malam yang tidak nyaman? Apa kau berpikir terlalu banyak lagi? Meskipun aku memintanya, dengan karakter mu..." Akashi tidak melanjutkan perkataannya. "Tapi, tujuan kunjunganku hari ini adalah untuk memberikan beberapa kabar baik. Kau masih merasa kehilangan Seirin, kan? Bagaimana jika aku bisa memenuhi keinginanmu? Hadiah apa yang akan kau berikan padaku?" Akashi terus berbicara seraya melangkahkan kaki menuju kamar.
Kuroko sangat terkejut. Akankah Akashi benar-benar membiarkanku pergi? Tanyanya dalam hati.
Dua orang itu memasuki ruangan. Kuroko mengedarkan pandangan ke sekitar, melihat bahwa puisi yang ia tulis ada ditempat yang terlihat. Dengan tergesa-gesa, ia berjuang untuk membebaskan tubuhnya. "Kau... apa yang kau katakan? Kau- kau- kau bersedia untuk melepaskanku dan membiarkanku kembali ke Seirin?"
Mata Akashi melebar. Setelah jeda panjang, dia mencibir. "Kau gila, bagaimana mungkin aku membiarkanmu pergi? Tetsuya, sepertinya kau masih memiliki niat yang jahat, aku harus memperkuat kualitas penjaga yang mengawasimu sekarang."
Panggilan 'Tetsuya' benar-benar menaikkan amarah Kuroko. Ketika panggilan itu digunakan sebelumnya, situasinya begitu mendesak sehingga dia terlalu sibuk dan tidak memperhatikan hal kecil ini.
Sekarang, ia menemukan jika panggilan itu sangat menusuk di telinga. Terutama karena, dari cara Akashi mengatakannya. Kuroko tidak bisa memastikan apakah ia lebih tua dari Akashi atau tidak. Akan tetapi Akashi tentu berperilaku seolah-olah dialah yang tertua.
Mampu menjaga wajahnya yang memerah karena marah, Kuroko berkata. "Jika kau tidak bersedia untuk melepaskanku, apa gunanya mengatakan kata-kata seperti itu? Juga, kau tidak diizinkan untuk memanggilku dengan nada seperti itu. Hal itu sangat menjijikkan hingga membuatku ingin mati."
Akashi tidak merasa tersinggung sedikit pun, dia malah tertawa. "Menjijikkan? Bagian manakah dari tindakanku yang kau anggap menjijikkan. Apa soal panggilanmu? Aku mengatakan bahwa aku akan membiarkanmu kembali ke Seirin dan itu benar. Tidak, itu tidak benar. Tanah itu seharusnya tidak lagi disebut Kerajaan Seirin. Wilayah itu kini menjadi bagian dari wilayahku, milik Kerajaan Rakuzan." Akashi menghela nafas, lalu melanjutkan. "Tetsuya, apa yang aku maksudkan adalah bahwa aku berniat untuk memindahkan ibukota Rakuzan ke kota yang pada awalnya menjadi ibukota Seirin, Teiko. Tentu, dengan kau yang akan menemaniku, bukankah itu juga bisa dianggap kembali kenegaramu?"
Rahang Kuroko seperti akan jatuh, tidak berani mempercayai telinganya. Akashi ingin memindahkan ibukotanya?!
"Kau- kau bercandakan? Memindahkan ibu kota... tidak semudah anak-anak kecil yang menyiapkan rumah bermain mereka."
Akashi terlihat berseri-seri. "Tentu saja aku tahu itu. Tapi tanah Rakuzan begitu tandus, penuh gurun kering dan dingin. Sehingga orang-orang yang tinggal di sini memiliki kehidupan yang sulit. Tanah di selatan berbeda. Tanahnya subur, mampu menghasilkan banyak ikan dan beras, itu adalah tanah yang luas. Ini juga merupakan proses budaya, setelah berasimilasi dengan budaya dari berbagai masyarakat yang berbeda, sehingga lebih cocok untuk menjadi jantung dari Kerajaan Rakuzan. Setelah pertimbangan yang cermat, aku telah memutuskan bahwa meskipun memindahkan ibukota adalah hal yang sulit, hal itu harus dilakukan karena akan menentukan nasib Rakuzan selama ribuan musim dan generasi. Ini juga merupakan alasan mengapa aku harus menaklukkan Seirin."
Kuroko tidak pernah memperkirakan, bahwa Akashi memiliki kejelian seperti ini. Jadi itu adalah alasan mengapa ia menghancurkan Seirin. Kuroko selalu berpikir bahwa motivasi Akashi hanya untuk membalas dendam karena kekalahan ayahnya. Setelah dipikirkan kembali, bahwa gagasan itu memang terdengar konyol. Tidak heran Akashi tidak menolak untuk mengizinkan pasukan Aomine untuk menjarah dan menjarah lagi tanah Seirin selama kampanye militernya. Jelas dia telah lama memutuskan rencana untuk menaklukkan negaranya.
Menggenggam benang terakhir dari harapan di dadanya. Kuroko mencoba mengintip wajah Akashi. "Hentikan angan-anganmu, seperti kata pepatah. 'Sulit untuk meninggalkan tanah air seseorang'. Akankah rakyatmu bersedia untuk melakukan hal seperti itu?" Ucapnya sedih.
Akashi tertawa dingin. "Dalam hal ini, mereka tidak akan memiliki peluang. Aku sudah merencanakan penanggulangan untuk menghadapi situasi seperti ini. Pejabat yang keberatan untuk memindahkan ibu kota dan menolak untuk bermigrasi, seluruh hartanya akan disita oleh istana. Rumah-rumah mewah mereka akan diratakan dengan tanah, dan jika mereka pindah ke tempat tinggal baru, aku juga akan membakarnya." Ujar Akashi tegas.
.
.
Kuroko cemas sepanjang malam, bahkan tidak berani bergerak. Sama seperti fajar yang semakin panjang, dia akhirnya berhasil tertidur.
Sebaliknya, Akashi tertidur begitu nyenyak. Bangun dengan tubuh yang segar. Dia melihat Kuroko yang sedang berbaring di sisinya, Akashi masih bisa melihat meskipun pria itu sedang beristirahat, alis Kuroko masih erat berkerut, seolah dia masih waspada. Sebuah tawa ringan lolos dari bibirnya.
Apakah sudah menjadi kebutuhannya untuk begitu waspada terhadapku? Dengan orang seperti dirimu, hanya ketika waktunya tepat, aku akan mendapatkan hal yang menyenangkan. Untuk saat ini, aku harus menahan impulsku. Hanya saja... Aku tahu bahwa jika aku tidak memaksamu, kau tidak akan bersedia untuk memuaskan keinginanku. Tetsuya, jika itu yang terjadi, jangan salahkan aku karena tak punya hati. Itu salahmu karena begitu baik, hanya sedikit rasa telah membuatku tidak dapat melepaskanmu.
Melihat bahwa Kuroko tidak bisa tidur dengan tenang, Akashi diam-diam menyuruh pelayan yang sejak tadi berdiri dilorong masuk dengan tangannya, dan berkata begitu pelan. "Pastikan gerakan kalian tidak membuat sebuah suara. Aku tidak ingin dia terkejut lalu terjaga. Malu karena kedapatan, kebencian atas kehancuran negaranya, dia pasti merasa tersiksa hari ini.''
Momoi menutup mulut untuk menyembunyikan senyum geli dan berbisik pada Midorima. "Aku telah melayani Yang Mulia untuk waktu yang lama, tapi aku tidak pernah tahu bahwa dia adalah seorang pria yang begitu baik."
Sebelum Momoi selesai bicara, Akashi sudah menatapnya. Khawatir, Momoi bergegas membantu Akashi untuk mengenakan jubah kebesaranya.
"Yang Mulia, apakah anda akan membuat pengumuman tentang kepindahan ibukota hari ini? Aku takut bahwa berita itu akan menyebabkan keributan di pengadilan."
"Itu tidak masalah, ibukota harus pindah cepat atau lambat." Sambil tersenyum, dia melanjutkan. "Aku pernah mendengar dari Aomine bahwa Taman Merriment di istana Seirin sangat indah dan mewah, hampir seolah-olah itu telah dibangun oleh pengrajin dari surga. Itu akan menjadi tempat tinggal yang cocok untuk Ratu."
"Apakah itu berarti bahwa meskipun Yang Mulia telah menolak penobatan Ratu selama bertahun-tahun, anda sekarang telah memiliki calon dalam pikiran anda-nanodayo?" Midorima memberanikan diri bertanya.
"Ini adalah keputusan penting, tidak seperti memilih baju keinginan Yang Mulia, tapi akan lebih baik jika Putra Mahkota diperhatikan juga. Setelah ratu baru dinobatkan, dia harus memikul tanggung jawab berat membesarkan putra mahkota. Rata-rata orang tidak akan mampu menangani persyaratan ini-nanodayo."
"Itu tidak akan menjadi masalah. Ratu baru tentu akan mampu membimbing Seiya dengan baik. Itu cukup, ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal-hal tersebut, mereka bisa menunggu sampai kita telah pindah ke ibukota baru. Ini waktunya untuk menghadiri pengadilan."
Setelah berkata demikian, Akashi pergi dengan langkah panjang, meninggalkan Midorima dan Momoi yang berpandangan satu sama lain dengan cemas, tak satu pun dari mereka tahu arti di balik kata-kata Akashi.
Seperti yang sudah diperkirakan, keputusan Akashi menyebabkan istana bergejolak seperti petir yang telah meletus di atas kepala mereka, membuat mereka benar-benar kaget. Hanya Aomine yang mendukung keputusan ini.
Mengesampingkan adegan di pengadilan, yang telah meletus dalam badai diskusi setelah kejutan awal. Kuroko sudah terbangun sekarang. Menemukan dirinya sendirian tanpa Raja merah itu, Kuroko akhirnya bisa santai.
Meskipun Kuroko tidak biasanya religius. Namun pada saat ini, dia berdoa kepada Tuhan.
"Jangan bersukacita terlalu cepat, perayaan dini selalu diikuti oleh kesedihan. Seorang Jendral besar sepertimu pasti tahu prinsip ini." Suara yang begitu jelas dan terdengar merdu.
Kuroko terkejut dan mengangkat kepalanya, hanya untuk melihat tubuh kecil yang bersandar di pintu sambil tersenyum dingin. Wajah anak itu lembut dan bersih. Tapi ekspresi yang dia perlihatkan agak dewasa sebelum waktunya, ada jejak keangkuhan dan tipu daya di dalamnya yang sepenuhnya tidak cocok diusia tersebut. Tentu saja, anak kecil itu tak lain dan tak bukan adalah putra mahkota, Akashi Seiya. Kuroko telah makan malam dengannya beberapa hari yang lalu, tapi tidak bertukar kata-kata pada kesempatan itu. Kedatangannya yang mendadak seperti sekarang membuat Kuroko sedikit kaget, dan melihat sekeliling.
"Kenapa kau datang ke sini? Lalu kenapa kau sendirian?" Meskipun Kuroko sangat membenci Akashi, dia tidak merasa ikut membenci anak kecil tersebut. Sebaliknya, dia benar-benar merasa sedikit khawatir.
Mengetahui seberapa rumitnya politik yang ada di dalam istana, untuk Putra Mahkota yang berkeliaran di sekitar saja sudah sangat berbahaya. Orang-orang yang memiliki niat buruk bisa dengan mudah merebut kesempatan untuk menyakiti atau bahkan membunuhnya.
Seiya berjalan angkuh ke dalam ruangan dan duduk. Menyadari bahwa mejanya kosong, wajahnya terlihat tidak puas. "Apakah tidak ada yang membawa sarapan? Suruh pelayan untuk mulai mempersiapkan itu. Siapkan juga beberapa makanan ringan, aku sangat lapar sekarang."
Kuroko bingung apakah dia harus tertawa atau menangis saat dia melihat tamunya mengambil alih tugasnya sebagai tuan rumah. Pelayan istana telah lama memahami bahwa mereka tidak mampu untuk menyinggung raja iblis kecil ini, dan mereka bergegas pergi untuk melakukan persiapan.
Kuroko akhirnya turun dari tempat tidur untuk membersihkan diri dan berpakaian. Selesai mandi pagi, dia berbalik dan melihat bahwa Seiya mengawasi Kuroko dengan pandangan sengit di matanya.
Kenapa kedua ayah dan anak menggunakan jenis pandangan itu untuk melihat seseorang?
"Apa yang kau lihat? Apakah ada bunga diwajahku?"
Seiya menganggukan kepalanya sungguh-sungguh. "Justru karena tidak ada bunga makanya aku mencari. Wajah itu dihiasi dengan banyak hal yang dilukis dengan keangkuhan, aku tidak akan mengampuni mereka sedikitpun, bahkan jika mereka memohon padaku." Seiya menyandarkan dagu di salah satu tangan kecilnya, wajahnya terlihat serius. "Aku berpikir, jika Ayah telah benar-benar menyukaimu, haruskah aku membencimu sebanyak aku membenci para selir?"
Mendengar itu, Kuroko sangat terkejut.
Like father, like son! Tidak puas kecuali mereka bisa mengatakan sesuatu yang mengejutkan, ternyata sifat ini adalah umum untuk mereka berdua.
Kuroko memasang ekspresi muram. "Kau tidak harus berpikir tentang itu, sangat mustahil. Ayahmu adalah orang yang paling berkuasa di bawah matahari, dia dapat memiliki semuanya. Sebagai Putra Mahkota, kau harus peduli dengan menguasai tata negara dan tidak menghabiskan seluruh waktumu untuk berkeliaran sesuka hati, dan menimbulkan masalah bagi para selir yang bertanggung jawab untuk merawatmu."
Seiya terus menatap Kuroko, seolah-olah dia tidak mampu mengalihkan pandangannya dari pria itu. Tiba-tiba Seiya tertawa terbahak-bahak. "Tak heran Ayahku terpikat padamu, memang ada sesuatu yang menarik. Jika aku harus menguasai tata negara, tidakkah impianmu memulihkan Kerajaan Seirin menjadi lebih sulit untuk diwujudkan? Apakah kau benar-benar Jenderal Kuroko, yang lebih memilih kematian daripada menyerah? Kenapa kau meluangkan begitu banyak pertimbangan untuk kebaikan Kerajaan kami?"
Teguran itu membuat Kuroko kesal, ia memalingkan wajah. "Aku tidak tahu jika kau telah belajar metode Ayahmu mengenai administrasi negara, tapi dapat ku katakan dengan keyakinan penuh bahwa kau telah benar-benar menguasai cara berbicaranya."
.
Makanan telah dihidangkan. Seiya melompat ke kursi dan mulai makan dengan antusias, mengambil dalam suapan besar makanan. Melihat hal itu, mengingatkan Kuroko jika Seiya masihlah anak-anak. Kuroko tidak bisa mendorongnya menjauh. Kuroko harus mencoba mengatasi kemarahannya.
"Tetsuya? Seiya? Jadi hubungan kalian berdua begitu baik, eh? Bagus, sangat bagus, setidaknya itu mengurangi satu kekhawatiranku."
.
.
.
To be Continue
.
.
.
Untuk puisi yang di buat Kuroko, saya pakai versi bahasa inggris. Karena saya tidak yakin dengan hasil terjemahan saya.
.
Ok, balasan review.
Freia
Sejujurnya sayapun bersyukur ketika ibu putra mahkota telah meninggal. Hehe...
Sepertinya kamu terlalu serius tentang rencana absurd saya untuk Kagami. Tenang saja saya tidak setega itu kok, Kagami mempunyai peran lain. Dan tentu bukan sebagai selir.
Kira-kira chap ini menjawab pertanyaanmu tidak ya?
Terima kasih sudah review.
Anitayei
Saya berusaha semampu saya.
Yaah, namanya juga cinta. Akashi saja sampe begitu...
Terima kasih sudah review.
Ichiko yuuki
Terima kasih, saya akan terus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya.
Kise itu salah satu chara yang paling saya suka setelah akakuro couple, rasanya gak tega aja dapet peran begitu.
Aomine sudah muncul tuh. Namanya doang, hehe. Taukan cerita aslinya gimana?
Sebenarnya mau pm tapi disini saja ya?
Terima kasih sudah review.
Kanar sasku
Liat judul... iya ini cerita war prisoner yang telah saya nistakan. Hu hu maaf...
Pemangkasan(?) cerita karena untuk penyesuaian saja #bilangajamalesmikir.
Terima kasih sudah review.
Liuruna
Semoga chap ini menjawab seluruh pertanyaanmu Liuruna-san.
Terima kasih sudah review.
Park RinHyun-Uchiha
Review kamu juga bikin greget #eh?
Terima kasih sudah review.
Classical Violin
A~ souka? Saya pikir... cara penceritaan(?) saya mengecewakanmu.
Terima kasih sudah review.
Eri yan tii
Maaf atas ketidaktelitiian saya. Saya usahakan kedepannya saya akan lebih teliti lagi.
Untuk versi bahasa indonesia yang di wattpad, saya juga pernah baca. Memang cukup kasar terjemahanya, bukan berarti terjemahan saya sudah sempurna, hanya saja itu kenyataanya. Kita sama-sama belajar untuk jadi lebih baik.
Terima kasih sudah review.
Mau kasih kritik atau saran?
Silahkan melalui kolom review di bawah. Terima kasih. #berasaiklan?!
