Good Detective
Disclamer: BoBoiBoy © Animonsta
Genre: Mystery & Tragedy
Rating: T
Kasus By: Coklatkeju
Warning! GaJe! Friendship Day! DLDR! RnR!
Catatan: Maaf jika gak jelas dan kurang memuaskan…
Chapter 9: Aina's Problem: Friendship Day
"Gyaa!"
Keheningan melanda mereka ketika Ying menembakkan pistolnya. Nafas Ying masih tersegal-segal, matanya masih terpejam tak berani melihat apa yang terjadi didepannya.
Yaya pun masih mencengkram bahu Ying sambil memejamkan matanya takut tembakan Ying mengenai Via.
PRANGG..
Pisau dipegangan Via jatuh karena tembakan Ying yang membuat pisau digenggamannya terpelanting.
Via menatap horror Ying dan tangannya bergantian. Ia sangat bersyukur tembakan itu tidak mengenai tubuhnya.
Ying mulai stabil. Ia pun mulai memberanikan diri membuka kelopak matanya dan menatap Via lega. Via pun masih terdiam karena syok berat melihat perbuatan Ying yang membuat nafasnya serasa berhenti.
Yaya pun membuka matanya perlaha. Betapa leganya ia melihat Via masih hidup.
Ying pun membuka suara, "Via, tenang. Kami disini ingin membantu kamu," jelas Ying.
Via mulai naik emosi, "Bantu? Bantu apa? Bantu memasukkan aku kedalam penjara? Iya?!"
"Via.." Suara Yaya terdengar bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku menganggap kalian berdua sebagai sahabatku! Sahabat yang kukira setia! Aku senang saat kita bersama-sama! Tapi apa?! Kalian pengkhianat!" Gertak Via. Setetes air mata pun mengalir dari matanya.
Yaya dan Ying saling pandang sesaat. Keduanya tak tahu harus berkata apa.
"Via, dengarkan kami dulu-"
"Cukup! Kalian memang benar-benar jahat! Pergi dari rumahku!"
Via dengan kasar mendorong Yaya dan Ying keluar dari rumahnya.
"Hei! Hei! Via!" Protes Yaya.
"Pergi!"
BLAM!
Bantingan pintu pun mengakhiri perdebatan mereka berdua. Yaya dan Ying menatap khawatir pintu rumah Via. Mereka khawatir Via menjadi depresi dan mulai berulah lagi.
Via bersandar di pintu rumahnya. Air mata pun mengalir deras menuruni matanya. Bibirnya mulai berisak kecil. Hatinya sangat sakit dikhianati seperti ini.
"Hiks! Hiks! Kenapa harus ditipu? Aku… aku… gak nyangka..hiks.."
Retakan dihatinya pun terlukis. Rasanya ia sudah gak sanggup lagi melanjutkan hidup ini.
Yaya dan Ying masih berdiri di pintu rumah Via.
Ying melirik Yaya yang kini benar-benar merasa bersalah.
"Hei, kau perlu merasa bersalah, Yaya. Ini gak ada hubungannya denganmu," Hibur Ying.
Yaya menggeleng kecil, "Enggak, Ying. Ini semua salah kita. Andai saja kita berteman dengannya tulus. Pasti gak akan jadi begini."
Ying menghela nafas kecil. Ia benar-benar bingung saat ini.
"Oh Tuhan… yang mana yang harus aku pentingkan? Tugasku atau hati Via?" Batin Ying penuh kebingungan.
Ia pun merasa sangat bersalah melihat Via tadi. Andai saja ia tulus berteman dengan Via tanpa syarat apapun, pasti semua ini tidak akan terjadi.
Keheningan kembali melanda mereka berdua. Perlahan rintik hujan pun turun ke bumi. Sepertinya Tuhan memahami perasaan mereka yang sedang sendu.
…
Yaya menatap hujan dari jendela kerjanya dengan tatapan kosong. Ia benar-benar merasa bersalah dengan Via.
Ying yang melihat hal itu kembali menghela nafas maklum. Ia tahu sahabatnya benar-benar merasa sangat bersalah kepada Via. Tetapi, ia tidak boleh selalu memikirkan pelaku pembunuhan Aina itu.
"Yaya, kau harus bisa lawan perasaan bersalahmu. Kita sedang dalam tugas, Yaya. Kematian Aina harus kita selidiki. Kita tidak bisa selalu bersama orang yang bersalah itu," Tegur Ying.
Yaya menghela nafas, "Tak bisakah kau mengerti, Ying? Dia sangat merasa dikhianati. Aku tahu perasaan dia saat ini. Hancur. Andaikan kau jadi dia, kau pasti merasakan hal yang sama."
Ying terdiam. Ia tak bisa lagi membela diri. Perkataan Yaya benar. Ia tidak boleh selalu mementingkan tugasnya. Ia juga harus mementingkan perasaan orang lain.
Ying sadar sekarang. Persahabatan itu lebih penting dibandingkan kepentingan diri sendiri.
Tiba-tiba, perasaannya tidak enak.
"Emm… Yaya,"
"Hn?"
"Perasaanku gak enak."
Ujaran Ying membuat Yaya tersentak kaget. Ia pun menyadari kalau perasaannya juga gak enak. Tentang Via.
"Kita kerumah Via sekarang!" Seru Yaya. Ying mengangguk setuju.
Keduanya pun segera berangkat kerumah Via. Sesuatu telah terjadi.
.
.
.
Hujan semakin deras menuruni bumi. Via terus saja melangkahkan kakinya tanpa peduli tubuhnya yang kini basah tak karuan. Air matanya bersatu dengan derasnya hujan dari langit.
Ia kembali memeluk tubuhnya sendiri.
"Andai saja aku tidak menuruti kemauan makhluk misterius itu…"
FlashBack On…
"Kamu gimana sih, Via?" Protes Kelly, ketua Geng Alkohol di Pulau Rintis ketika melihat Via kembali hanya dengan membawa 2 botol alkhol.
Via hanya terdiam sesaat. Dia tak mampu menjawab Kelly karena ketakutan menguasai dirinya.
"A-Aku…"
"Huu! Via payah banget sih! Masa curi alkohol aja gak bisa?" Timpal Wina. Via menggigit bibir bawahnya. Air mata pun mulai mengalir dari matanya.
"Yah… Nangis mulu kerjaannya. Payah!" Ejek Irene. Kelly hanya memutar bola matanya jengah melihat anak buahnya kagak bisa menangani tugas kecil seperti itu.
"Udahlah! Sana pergi!" Usir Kelly.
Via berbalik meninggalkan Rumah tempat Geng Kelly cs berada.
Sungguh, hatinya sakit mendengar ejekan-ejekan itu. Rasanya perih dihati. Kalau begitu, untuk apa ia mengikuti kemauan mereka jika ia sendiri tersakit?
"Ohh…, kamu gak papa adik manis?"
Via tersentak kaget ketika mendapati makhluk aneh mirip robot berwarna ungu yang berkerudung menutupi wajahnya. Via menatap aneh robot dihadapannya.
"Emm.. Maaf, siapa ya?" Bingung Via. Robot ungu itu tertawa geli, "Panggil saja Mr. Sabotase Pobe. Hehe…"
Via tertawa hambar sambil menatap aneh robot yang mengaku bernama Mr. Sabotase Pobe.
"Mari kita minum, yuk! Saya traktir deh," Goda Mr. Pobe. Via tersenyum kecil, "Beneran, Mr.?"
Mr. Pobe mengangguk, "Iya, Ayo!"
Via meloncat kegirangan, "Makasih, Mr."
Mereka berdua pun memasuki Counter Alcohol. Dan meminum-minum bahagia. Via tertawa bahagia sampai akhirnya ia mabuk berat.
"Wah, dunia serasa berputar ya! Hiks!"
Mr. Pobe tersenyum licik ketika melihat rencananya berhasil.
"Emm… Via, kau pasti kesal'kan dengan teman-teman geng kamu'kan?" Tanya Mr. Pobe. Via mengangguk.
"Kalau begitu, gimana kalau kamu lampiaskan dendam kamu ke gadis itu?" Usul Mr. Pobe sambil menunjuk salah satu gadis yang baru saja lewat.
Via pun terhasut kedalam jebakan Mr. Pobe. Ia mengangguk setuju.
Mr. Pobe memberikan pistol ke Via. Via pun membidik sasaran dihadapannya lalu menembakkan pistol tersebut.
DUARR…
.
.
.
Via tersentak kaget menyadari perbuatannya. Tangannya bergetar hebat ketika melihat darah mengucur dari tubuh si korban. Pistol ditangannya terjatuh karena tubuhnya syok.
'Aku… pembunuh?' Batin Via syok.
"Hei! Hei! Pembunuh!" Seru para warga sambil menunjuk-nunjuk Via. Via tersentak kaget.
"Ba-Bagaimana ini Mr.-"
Perkataan Via terhenti ketika menyadari Mr. Pobe sudah tidak ada ditempat. Segera, Via berlari dari kejaran para warga yang penuh amarah.
FlashBack Off…
Air mata kembali mengalir dari mata Via. Hatinya benar-benar tidak menyangka bahwa ia adalah seorang pembunuh.
"Ini gak adil…hiks…"
At Via's Home…
Tok… Tok… Tok…
"Via! Via!" Seru Yaya sambil menggedor keras pintu rumah Via dengan kasar. Ying mendecak kesal ketika menyadari kalau Via gak ada dirumahnya.
"Ah, Via tidak ada dirumah. Dimana dia?" Panik Ying.
"Dia pasti gak jauh dari sini. Ayo Ying!" Yaya pun menarik tangan Ying untuk menerobos hujan dan mencari Via.
"Via! Via! Kamu dimana?" Seru Yaya.
"Via!" Timpal Ying ikut memanggil Via. Mereka berdua sudah tak peduli derasnya hujan yang menerobos mereka. Yang ada dipikiran mereka hanya Via.
"Aduh… kamu dimana sih?" Bingung Yaya. Matanya menangkap seseorang yang ia kenal. Sosok yang ia cari-cari selama ini sedang menyebrang jalan raya tanpa melihat kiri kanan.
"Via?!" Kaget Yaya.
Ying tersentak kaget ketika sebuah truk besar melaju kencang kearah Via, hendak menabraknya.
Mata Ying terbelalak kaget, "AWAS VIA!"
Segera Yaya dan Ying berlari kearahnya berusaha menolong Via.
"VIA AWASS!" Seru Yaya panik.
TIN..TIN..
Sinar lampu mobil dan bunyi klakson mengagetkan Via. Ia menoleh keasal suara, dan langsung tersentak kaget menyadari sebuah truk melaju kearahnya.
"GYAA!"
.
.
.
Via merasa tubuhnya ditarik kebelakang. Truk pun melaju melewati mereka.
Perlahan, kelopak mata Via terbuka. Ia masih syok dan mengedarkan pandangannya. Ia sekarang berada di pinggir jalan raya.
Ia pun menyadari Yaya dan Ying berada disekelilingnya.
"Kamu gak papa'kan Via?" Tanya Yaya khawatir.
Via menatap Yaya lembut. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Yaya!" Ia pun memeluk erat tubuh Yaya sambil menangis kencang. Yaya pun membalas pelukan Via. Ia juga tak kuasa menahan tangis lagi.
"Aku minta maaf, ya," Ujar Yaya. Via mengangguk dalam pelukan Yaya.
Ying tersenyum. Setetes air mata pun ikut mengalir dari matanya.
Via melepaskan pelukan Yaya. Ia pun mengulurkan tangannya kearah Ying.
"Aku siap menerima hukumanku, Ying." Ujar Via.
"Kamu serius?" Tanya Ying memastikan.
Via mengangguk, "Iya, Kak. Aku sekarang mengerti. Kita harus mengakui kesalahan kita."
Ying pun perlahan tersenyum, "Aku janji, sehabis kamu menjalani hukuman. Kita pasti akan bersahabat. Oke?"
Via mengangguk setuju, "Oke!"
Mereka pun mengerti. Persahabatan itu tidak memandang orang. Persahabatan itu lebih penting dibandingkan kepentingan diri sendiri.
TBC
A/N: Finally! Kasus Aina dikatakan TUNTAS. Maaf buat Coklatkeju, karena gak sesuai usulan. Soalnya otakku mampet sedikit.
Makasih buat Coklatkeju karena sudah mau mengusul kasus ini. Maaf jika mengecewakan ya.
Oke, Chapter depan akan dimuat usul dari NauraCute15. Yang lainnya, tunggu aja ya. Pasti aku buat kok!
Balasan Review:
Moonlightbae2424:
Thanks for review ^^
Blackred:
Makasih udh mau review lagi. Makasih juga udh buat ini jadi cerita favorite kamu… Maaf jika ada yang mengecewakan o
Zakirasenbon:
Thanks because want to review…
Miyazono-Nerra:
Makasih semangatnya…
86:
Gakpapa. Iya.. tepat sekali!
Love UchiHaruno:
Wah, datang lagi! Gak apa, gak marah kok. Thanks For Review…
Jawaban Quiz: C.
Selamat bagi yang betul! Bagi yang belum, semangat ya!
Quiz: Siapa identitas asli Mr. Sabotase Pobe?
a. Probe
b. Adudu
c. Ejojo
Pokoknya, Keep Review, Favs, and Follow ya!
Salam,
Delia Angela
