LIMIT
| ikon fanfiction | doubleb or bobb.i | bobby/b.i |
| iKON © YG ENTERTAINMENT |
| LIMIT © dumpling-lion |
| rated T | boys love |
| chaptered |
don't like don't read
any same idea, it's just acidentally same
and remember, it's just a FICTION
warning. out of character and typos take a big part of my writing world
chapter nine: M.U.P (make u proud)
[COMPLETE]
"Mino hyung!"
Mino yang tadinya sedang melamun menatap lantai kini memandang seseorang yang dengan noraknya berlarian di tengah koridor.
"Kenapa?" tanya Mino ketika melihat wajah ceria Jiwon yang dirasa berlebihan. Nah, buat apa sih dia sebahagia itu hanya karena melihat Mino? Seingat Mino crush Jiwon ialah Hanbin, bukan dirinya yang amat sangat tampan ini.
"Bagaimana caramu meminta pada Seungyoon hyung agar ia menjadi pacarmu?" tanya Jiwon to the point dengan wajah yang berubah serius. Mino mengangkat alisnya lalu mendenggung seperti lebah.
Lah, Jiho hyung pasti sudah menceramahi mereka. Sial, aku tidak mau baper mengingat masa lalu.
"Memangnya kenapa? Akhirnya kau mau menyatakan cinta pada Hanbin?" tanya Mino balik, menghindar dari topik yang nantinya akan membuatnya baper yang segera disahut dengan kekesalan oleh Jiwon.
"Sialan kau! Kau juga yang membuatku tidak segera menembak Hanbin!"
"Salah sendiri kalian ge-er, seleraku bukan makhluk semacam Hanbin tahu. Lagipula kalau kalian sama-sama tahu perasaan satu sama lain, tinggal pacaran saja 'kan? Ribet sekali." kata Mino dengan pemikiran logisnya. Untuk apa juga pakai acara tembak-menembak kalau bahkan Jiwon sudah tahu jawaban Hanbin.
Jiwon nyengir seperti biasa dan Mino yang sedang dalam mode sarkastis ini memutar mata malas.
"Hanbin sudah menunggu untukku dan aku harus memberikan sesuatu yang spesial padanya."
Kata-kata Jiwon terdengar sangat klise, terlebih dengan rona samar di wajahnya yang membuat Mino ingin menertawakan wajah sahabatnya itu.
"Pft, kau terlihat konyol, Kim Jiwon."
.
.
.
"Hei, Koo Junhoe."
Yang dipanggil menengok hanya untuk mendapati pemuda bergigi kelinci yang sudah dikenal sebagi not-so-friendly-friend bagi Junhoe.
"Apa?" jawab Junhoe datar dan tetap fokus pada kertas-kertas berisi soal-soal olimpiade di depannya. Jangan salah sangka ya, walau wajah Junhoe seperti preman pasar kampungan, pemuda ini adalah wakil sekolah dalam Olimpiade di bidang Fisika.
Jiwon duduk di kursi seberang Junhoe dan memandang rak buku di perpustakaan yang membuat Jiwon mendadak mual. Ewh, kalau saja tidak demi Junhoe (Jiwon tidak percaya ia berucap begini), Jiwon ogah pergi ke tempat laknat yang sering menjadi tempat detensinya ini.
"Bagaimana caramu menyatakan cinta pada Jinhwan?" tanya Jiwon sembari menopang dagu ke meja.
Junhoe berhenti menulis lalu mengernyit kebingungan, "Ingin menyatakan cinta pada siapa? Kim Yoojung?" tanyanya dengan menyebut nama salah satu murid sekolah putri yang kabar-kabarnya merupakan fans berat Jiwon.
Jiwon menggeleng sembari mendecih.
Dia saja tidak kenal dengan si Kim Yoojung itu, yang ia tahu tentang gadis itu hanyalah wajahnya yang cantik dan gosipnya dengan teman Mino, Cha Sunwoo.
"Sudahlah jawab saja, Koo. Jangan banyak omong."
"Aku mengajaknya ke rooftop lal-"
Ewh.
"Shut up, idemu terlalu mainstream. Ya sudah, aku pergi dulu."
Belum selesai Junhoe bercerita saat-saat bahagianya, Jiwon sudah memotong perkataannya dengan cepat lalu pergi meninggalkan pemuda sassy itu dengan seenaknya.
"YAA! KAU TADI YANG MEMAKSAKU BERCERITA TAPI KAU MALAH... Ah sudahlah! Dasar kelinci gila!" gerutu Junhoe setengah berteriak tanpa memandang kondisi bahwa dirinya sedang ada perpustakaan.
"Dasar hyung bodoh." gerutu Junhoe kesal lalu melirik kesal pada seorang gadis yang duduk tak jauh darinya, yang mana terus memandangi Junhoe dengan mata besarnya yang penasaran.
"Apa kau lihat-lihat?! Urusi sana PR-mu dan jangan ikut campur urusan orang lain!"
Junhoe menyembur kesal kepada si gadis tak bersalah lalu melanjutkan umpatan kesalnya pada Jiwon, yang ngomong-ngomong telah merusak mood-nya belajar siang ini.
.
.
.
"Hyung, kau tahu tidak bagaimana kisah Mino hyung dan Seungyoon hyung?" tanya Jiwon sembari berguling-guling di karpet bulu halus yang terpasang di studio milik Jiho.
Sepulang sekolah, Jiwon bersama Kyung, Jiho, dan Mino langsung pergi ke rumah Jiho untuk menyelesaikan rapp demi performance mereka minggu depan. Hanbin tidak bisa ikut karena ia harus melakukan susulan ulangan Kimia sedangkan Jihoon sedang mengantarkan Taeil ke bandara untuk menjemput sepupunya.
Kyung, sebagai satu-satunya orang di ruangan itu selain Jiwon, mengangkat alis dan menggumamkan 'iya' ditengah usahanya memainkan game di tablet milik Jiho.
"Kau mau aku cerita?"
Jiwon mengangguk antusias dengan senyum diwajah lalu menegakkan tubuhnya serta melempar kertas liriknya asal, "Tentu saja! Mino hyung dan Seungyoon hyung itu sangat misterius, bahkan aku juga tidak tahu kalau Seungyoon hyung dan Jiho hyung saling kenal."
Yang diajak bicara mengulas senyuman kecil sembari meletakkan tablet Jiho kemudian menatap Jiwon dengan ekspresi serius, "Seungyoon itu sudah seperti adik kandung Jiho, maka dari itu sebenarnya Jiho tidak suka membicarakan perihal hubungan gagal antara Mino dan Seungyoon. Begitu pula dengan Mino yang baperan tapi masih menyesali kejadian dulu itu."
Kyung berdehem sebentar lalu melirik pintu studio dengan was-was, seolah takut Jiho tiba-tiba muncul dengan kostum ala pesulap gila dan berteriak 'JACKPOT!' atau Mino dengan kostum ketat norak dan wig afro mencolok sembari menyanyikan lagu Napal Baji.
"Mino bertemu Seungyoon saat ia tertangkap basah memanjat gerbang samping sekolah karena datang terlambat. Saat itu Seungyoon belum menjadi Ketua Dewan tapi ia sudah dikenal sebagai manusia paling strict diantara anggota dewan." jelas Kyung mengawali ceritanya yang membuat Jiwon mengangguk-angguk paham. Teringat akan pertemuannya dengan Jiwon yang terlalu mirip drama.
Mereka tanpa sengaja bertabrakan di depan sekolah dan menjatuhkan segala barang mereka. Jiwon pun tanpa sengaja membawa jurnal milik Hanbin yang berisi lirik-lirik rapnya dan membuatnya diburu oleh Hanbin yang saat itu khawatir stranger bergigi kelinci aneh akan membaca jurnalnya dan menyebarkan high school crush-nya pada si galak Hayi.
"Beberapa minggu setelah itu tiba-tiba aku memergoki Jiho dan Mino sedang berada di tangga lantai dua dengan Mino yang menyatakan cintanya pada Seungyoon."
"Astaga, kenapa Mino hyung sama sekali tidak gentle, sih?" komentar Jiwon sembari mendecih. Ia sudah salah mengira kalau kisah Mino dan Seungyoon yang mirip drama makjang itu akan memiliki moment yang amat sangat romantis.
Nyatanya?
Huh kalau begini lebih romantis juga aku pada Hanbin, batin Jiwon tanpa sadar kalau ia bahkan jarang sekali melakukan hal romantis pada Jiwon.
Inilah Kim Jiwon kita yang suka memandang dirinya lebih baik dari orang lain padahal dia sama saja.
Kyung tertawa pelan lalu menerawang jendela seolah ia ialah nenek-nenek yang mengingat-ingat bagaimana kisah cinta cucunya, "Aku masih ingat bagaimana Seungyoon yang saat itu sedang terburu-buru karena harus menghadiri rapat dewan langsung memaki Mino tentang bodohnya ia harus menyatakan cinta pada seseorang seperti Seungyoon."
Jiwon meringis mendengarnya, memikirkan bagaimana rasanya jadi Mino yang gugup dan malah diumpati tanpa alasan yang logis. Jiwon jadi merasa beruntung dengan fakta bahwa ia sudah tahu kalau Hanbin menyukainya.
"Lalu bagaimana kelanjutannya? Apa Seungyoon hyung benar-benar menolak Mino hyung?" tanya Jiwon yang membuat Kyung mendadak tertawa dengan bebasnya.
"Tentu saja tidak! Mereka berdua itu sama-sama orang bodoh kalau kau tahu. Disaat hari sudah hampir sore, aku dan Jiho lelah menghibur Mino yang dengan dungunya patah hati serta tidak menyadari bagaimana salah tingkahnya seorang Kang Seungyoon, tiba-tiba orang yang dibicarakan datang dan meminta maaf lalu pergi begitu saja dengan telinga memerah."
"Kenapa sangat anti-klimaks?" tanya Jiwon dengan bodohnya yang membuat Kyung kembali tertawa tanpa sebab. Jiwon jadi curiga kalau kotak tertawa Kyung akan rusak dalam waktu dekat karena pemuda timun ini terlalu sering tertawa.
"Memang anti-klimaks, tapi semua berubah setelah Jinwoo tiba-tiba datang menyeret Seungyoon dan berkata kalau Seungyoon sudah menjadi stalker Mino sejak masa orientasi dulu. Dan disaat mereka berpacaran dengan sembunyi-sembunyi setelah itu, aku pikir mereka akan bahagia seperti aku dan Jiho. Tapi semuanya berubah ketika Mino tanpa sengaja bertemu dengan ibunya saat sedang berkencan dengan Seungyoon."
Nada bicara Kyung berubah menjadi gloomy dan membuat Jiwon bertanya-tanya seberapa ngenesnya kisah cinta Mino dan Seungyoon.
Apa lebih ngenes daripada dia dan Hanbin yang tidak jelas begini?
"Nyonya Song langsung menyelidiki segala hal tentang Seungyoon dan pada akhirnya Nyonya Song tahu kalau Seungyoon ialah seorang yatim-piatu yang merupakan pecandu obat tidur dan setiap malam sabtu selalu bermain billiard di bar demi memenangkan uang taruhan." gumam Kyung dengan nada bicara yang lirih, yang mana membuat Jiwon seketika membuka mulut karena kaget.
"Seungyoon hyung sepicik itu? Bagaimana bisa orang seperti dia menjadi Ketua Dewan? Dia boleh saja suka membolos, tapi tidak dengan pecandu!" seru Jiwon tidak percaya, teringat bagaimana antengnya Seungyoon dan tegasnya ia saat melakukan inspeksi mendadak.
DUAK!
Tanpa diduga, Kyung melemparkan bantal Hello Kitty (milik Jiho) yang ada di pangkuannya yang sukses mengenai wajah Jiwon dengan amat keras dan membuat objek sasaran pelemparan tersebut mengaduh kesakitan.
"Kita juga sama saja dengan dia, bodoh! Kita juga sering clubbing padahal usia kita belum legal!" seru Kyung kesal.
"Tapi setidaknya kita murid biasa saja, bukan murid berjabatan di Dewan yang sepatutnya menjadi contoh!" bantah Jiwon yang masih terasa aneh dengan fakta sisi gelap Seungyoon. Sebagai reaksinya, Kyung terdiam lalu mendesah kasar akibat tak dapat membalas perkataan Jiwon.
Pemuda pirang itu lalu menggelengkan kepala kesal dan bersandar pada sandaran kursi yang sedang ia duduki sebelum memutar kursi itu agar ia berbalik memunggungi Jiwon.
"Terserah apa katamu, tapi yang jelas setelah itu Nyonya Song meminta Mino memutus segala hubungannya dengan Seungyoon dan bodohnya Mino menurut tanpa menjelaskan apapun pada Seungyoon, yang di kemudian hari Mino sangat menyesal akan keputusan itu."
Mino berpikir bahwa kisah kalian harus diperjuangkan, tidak seperti kisahnya yang kandas hanya karena Mino tidak mau memperjuangkannya.
Perkataan Jiho beberapa hari yang lalu padanya dan Hanbin kembali berputar di otaknya. Jiwon terdiam, otaknya mencerna segala cerita yang baru saja diucapkan oleh Kyung.
"Aku tak tahu apa masalah yang menghalangimu untuk secara proper memacari Hanbin, tapi aku hanya berharap agar kau dan Hanbin bisa segera bahagia, Kim." ucap Kyung sembari masih memunggungi Jiwon, pemuda yang lebih tua itu kini kembali sibuk mengutak-atik tablet Jiho.
Jiwon masih terdiam dengan pandangan lurus pada wooden floor di studio Jiho. Pikirannya melayang ke berbagai hal tentang Hanbin sebelum bibirnya mengulas senyuman kecil.
"Terima kasih hyung. Semoga kau juga bahagia."
.
.
.
Jiho melirik Mino yang masih setia mendekatkan telinganya di celah kecil dari pintu studio yang terbuka. Kedua pemuda dengan kulit kontras ini sedari tadi menguping pembicaraan Kyung dan Jiwon, tepat ketika Kyung mulai menceritakan kisah ala makjang antara Mino dan Seungyoon.
"Ah~ aku baper." gumam Mino sembari menarik sekelebat senyuman miring dan menatap nanar lantai yang ia pijak.
"Kenapa kau harus menguping kalau kau tahu kau akan baper? Dasar anak bodoh." balas Jiho yang masih setia mengunyah permen karetnya.
Mino menatap sahabat lamanya tersebut dan tersenyum bodoh, yang langsung ditanggapi oleh gumaman kesal dari Jiho, "Jangan cengar-cengir, brat."
Mino masih nyengir, "Aku harap dengan begitu Jiwon akan lebih dewasa, maksudku dia itu sekarang bertingkah seperti coward dan menunda kebahagiaan Hanbin."
Jiho membuat balon permen karet dan kembali mengunyahnya dengan ekspresi datar, tepat ketika Jiwon berterima kasih pada Kyung dan mendoakan kebahagiaan padanya.
"Kau sendiri kapan bahagia dan berhenti bersikap coward untuk memperjuangkan Seungyoon pada orang tuamu?"
.
.
.
Hanbin menopang dagunya sembari terus menatap smartphone-nya dengan tatapan serius. Dipelototinya panel notifikasi tanpa henti walau tak terjadi apa-apa sejak 15 menit lalu Hanbin mulai memelototinya.
Jiwon pasti akan menyatakan cinta padaku dan mengajakku pacaran secara baik dan benar pada hari ini, batin Hanbin berkali-kali berucap penuh percaya diri.
Tapi kemana sih Kimbab bodoh itu? Apa ia terlalu asyik dengan studio Jiho dan melupakan Hanbin yang butuh coretbelaiancoret perhatian?
"Astaga, kau ngenes sekali, Kim Hanbin. Kenapa kau harus menunggu notif chat dari Jiwon sampai begini?" gumam Hanbin yang kini sudah berhenti melotot pada panel notifikasi di smartphone-nya.
"ARGH! CEPAT JADIKAN AKU PACARMU KIM JIWOOON!"
Salah satu dari sekian banyak buku biologi milik Donghyuk yang Hanbin pinjam tadi siang kini ia hantamkan ke meja belajarnya dengan kekesalan yang berapi-api tanpa peduli teriakannya itu telah membangunkan Hanbyul yang sedang tidur sore.
"KIM HANBIN! JANGAN TERIAK-TERIAK! ADIKMU JADI TERBANGUN DAN MENANGIS!"
Ibunya menegur Hanbin. Pemuda yang sedang tidak dalam mood bagus akibat menunggu kebahagiaan dari Kim Jiwon itu pun balas berteriak dengan durhakanya, "EOMMA JUGA BERTERIAK-TERIAK! JADI AKU JUGA BOLEH BERTERIAK!"
Terdengar omelan kesal dari ibunya dan Hanbin hanya menutup telinga cuek. Masa bodoh, Hanbin sedang ingin jadi anak durhaka dan yang ia inginkan sekarang adalah Kim Jiwon.
kimjiwonkimjiwonkimjiwon.
Hanbin meraih smartphone-nya dan kembali melotot kesal pada panel notifikasi tak bersalah.
Oh ayolah, biasanya sore begini walau Jiwon tidak mengiriminya pesan, ada Jinhwan atau Jaewon yang terkadang merusuhi sore cerah bahagianya. Betapa kasihannya Hanbin yang kini tidak punya teman untuk chatting dan terlalu malas untuk membuka percakapan dengan orang lain.
"Jinhwan hyung mungkin sedang kencan dengan June dan Jaewon mungkin sedang pergi dengan... ah, Jaewon 'kan jomblo." gumam Hanbin yang berusaha menghibur diri tapi gagal. Matanya lalu kembali memandang malas akan panel notifikasi di smartphone-nya sebelum mengerjap kaget menyadari keanehan pada bagian tersebut.
Fuck.
Watdefak, demi kolor hijau tahi kudanya, Hanbin baru ingat kalau ia mematikan jaringan data seluler sebelum mulai belajar dan belum menyalakannya lagi.
Hiks, kalau begitu untuk apa Hanbin menghabiskan waktu untuk menunggu tadi? Duh, sungguh genius Hanbin kita tersayang ini.
.
.
.
Setelah chatting panjang dengan Jaewon, yang mana pemuda itu malah curhat mengenai kengenesan dirinya dalam mencari pacar, Hanbin tanpa sengaja tertidur hingga waktu makan malam hampir dimulai.
Pemuda dengan marga Kim tersebut segera pergi ke ruang makan hanya untuk menemukan ibunya sedang mencuci piring dan Hanbyul yang melahap coklat dengan belepotan.
"Eomma, aku lapar." rengek Hanbin sembari mencomot sedikit bagian coklat Hanbyul dan membuat adiknya itu memekik kesal dengan suara melengkingnya.
Ibunya hanya melirik Hanbin sekilas seolah masih kesal akan kedurhakaan putra pertamanya, "Kalau lapar sana ambil makanan bukannya merengek-rengek." kata wanita yang telah melahirkan Hanbin dan Hanbyul tersebut dengan judes.
Hanbin merengut. Kejudesan ibunya bukanlah salah satu hal favoritnya, terutama disaat-saat kelaparan seperti ini.
"Dimana lauknya?"
"Ambil sendiri, Kim Hanbin. Memangnya kau tidak pernah mengambil lauk sendiri sehingga tidak tahu lauknya dimana?" Ibunya kembali menyahut dengan judes dan Hanbin makin merengut.
Memangnya Hanbin salah apa hingga ibunya sejudes ini?
Oh, tentu saja salahmu sangat banyak, Bin. Sebanyak bintang di langit.
"Oh iya, tadi Jiwon mampir kemari dan menitipkan sesuatu untukmu." kata Ibunya yang masih sibuk mencuci piring.
Jiwon?
Seketika Hanbin berhenti mengunyah dan berkata dengan dengan antusias namun juga setengah menyalahkan ibunya, "Mana? Mana?! Aigoo, Eomma seharusnya membangunkanku!"
Siapa tahu Jiwon mampir untuk menyatakan cintanya pada Hanbin dengan romantis dan tidak jadi karena Hanbin sedang tertidur. Fix, Hanbin seperti manusia mengharap coretbelaiancoret cinta Jiwon.
Ibunya menengok ke arah Hanbin lalu tersenyum dengan amat manis yang membuat Hanbin bersyukur karena ibunya (mungkin) sudah tidak marah padanya.
"Maafkan eomma, Hanbin-ah. Kelihatannya kau sibuk sekali dan tidak bisa diganggu bahkan hingga berteriak-teriak frustasi. Jadi eomma usir saja Jiwon." jelas ibunya dengan nada ceria.
Hanbin mangap.
Ia sadar kalau yang dilakukan ibunya kini ialah balas dendam atas kelakuan durhakanya tadi.
"EOMMAAA!"
.
.
.
Hanbin membawa paper bag titipan Jiwon sambil masih merengut kesal.
Demi segala koleksi Mickey Mouse-nya, ingatkan Hanbin untuk tidak lagi durhaka pada ibunya karena berbagai kesialan telah mengampirinya dalam waktu setengah jam.
Mulai dari nasinya yang dijatuhi oleh cicak yang sedang bertengkar, Hanbin yang tersandung kaki-kaki kursi, coklat Hanbyul yang mengenai kaus putih bersihnya hingga Hanbin yang menyenggol gelas hingga pecah.
Sungguh wrecked makan malam Kim Hanbin saat ini.
"Oh, apa ini?" gumam Hanbin sembari mengeluarkan isi paper bag soft pink tersebut. Matanya mengerjap kebingungan beberapa kali melihat tiga benda yang keluar dari sana.
Satu botol soda rasa stroberi.
Satu kotak choco pie.
Satu buah Pringles rasa seaweed.
Apa maksudnya ini?
Hanbin menghela nafas berkali-kali menahan kesal. Apa Jiwon benar-benar berniat membuatnya gendut dengan segala makanan berkalori yang dititipkan lewat ibunya ini?
"KIMBAB BODOH! KUKIRA KAU INGIN MEMBERIKU CINCIN KAWIN ATAU APA! TERNYATA KAU MAU MEMBUATKU GENDUT YA! HAHA!" seru Hanbin lagi-lagi tidak sadar akan situasi dan kondisi.
Hari sudah malam dan teriakannya pasti akan membuat ibunya yang masih marah padanya semakin marah.
"Fuck Kim Jiwon. Kelinci sinting. Kimbab goblok. Mutan tidak peka. Arrrgh!"
Berbagai umpatan pun keluar dari bibir Hanbin yang dengan tidak berperi kebonekaannya memukuli Mickey Mouse-nya yang tak bersalah.
"KIM JIWON BEBAL! ARGH! AKU TIDAK MOOD LAGI MENGURUSI KELINCI SIAL ITU!" seru Hanbin sembari menendang bonekanya dan meraih remote TV untuk menonton entah apa yang sedang disiarkan (dan yang bisa menaikkan mood buruknya kini.)
Rasanya bodoh menunggu Jiwon yang konyol itu benar-benar mengajaknya berpacaran secara baik dan benar. Hanbin sungguh menyesal berharap seperti itu.
Hanbin hanya menuntut status dan apa susahnya memenuhi itu sih?
Gantung saja hubungan kita hingga besok kita lulus SMA, batin Hanbin dengan penuh kekesalan. Tangannya membuka wadah Pringles dari Jiwon (yang bahkan sudah dibuka segelnya. Hanbin jadi berpikir kalau ternyata choco pie-nya tinggal setengah, begitu pula dengan soda stoberinya) dan mengunyah isinya dengan brutal.
Ingin rasanya Hanbin mengajak Jiwon berkencan secara proper dan meresmikan hubungan tak jelas mereka. Tapi apa daya, ternyata gengsi lebih tinggi dibandingkan keinginan yang menggebu.
SREK!
Hanbin mengernyit ketika tangannya yang masuk ke dalam bungkus Pringles merasakan adanya benda aneh yang masuk kesana.
"Apa lagi ini?" gumam Hanbin sambil menarik keluar benda aneh yang Hanbin curigai sebagai struk belanja karena teksturnya yang mirip kertas.
Dahi Hanbin makin mengernyit ketika memandang tangannya yang kini memegang sebuah kertas berwarna kekuningan mirip seperti kertas jurnalnya yang terlipat asal-asalan dan berbau Pringles rasa seaweed.
Bukan struk belanja. Mungkin ini hadiah undian dari pihak Pringles.
Hanbin membuka kertas itu sembari berimajinasi kalau disana tertulis 'Selamat anda mendapatkan sebuah mobil karena anda adalah customer kami yang beruntung!' yang sebenarnya hanyalah seperti angan-angan belaka.
Mata Hanbin seketika membulat kaget membaca deretan hangul yang tertulis dengan tinta bolpen merah menyala diatas kertas tersebut.
Kim Hanbin, saranghaja.
Maaf kalau kau telah menunggu terlalu lama untuk mendengarku mengatakan ini padamu.
But, do you want to be my mate from now until forever?
Yours,
Kimbab.
Hanbin speechless, bahkan ia tak tahu harus menangis sedih karena tidak tahu apa arti kata dalam bahasa inggris tersebut atau menangis bahagia karena (sepertinya) Jiwon sudah menembaknya.
.
.
.
Tepat setelah itu, Hanbin segera men-translate-kan kata-kata itu lewat google translate lalu mengirimi voice note norak kepada Jiwon yang berisi teriakan terlalu excited berbunyi 'Yes, i dooo~'
.
.
.
Setelahnya pun, Hanbin menemukan bahwa di botol soda stroberi dari Jiwon terdapat post it dengan tulisan latin berantakan khas Jiwon dalam bahasa inggris yang mengutip suatu quote yang entah apa Hanbin tak tahu artinya. The power of google translate pun jadi andalan.
.
.
.
Selanjutnya lagi, Hanbin menemukan bahwa sekotak choco pie tersebut hanya berisi sebuah flashdisk putih dengan tulisan spidol 'Zico'. Lalu setelah flashdisk itu dibuka ternyata isinya ialah pesan dengan kata-kata yang persis dengan kertas dalam Pringles serta sebuah lagu dari boyband favorit Hanbin, iKON yang berjudul M.U.P.
.
.
.
Setelahnya pun, Hanbin bisa tidur nyenyak dengan senyum lebar di wajah apabila teringat statusnya kini sebagai pacar Kim Jiwon.
.
.
.
[sent a voice note]
10.02 PM (Read)
YASH KIM HANBIN! [insert sticker love]
1.30 AM (Read)
[insert sticker kiss]
1.30 AM (Read)
WTH JIWONIE! KUKIRA KAU MAMPIR HANYA UNTUK MENGGENDUTKANKU
5.55 AM (Read)
Ternyata...
5.55 AM (Read)
Tentu sajaaa~ Aku jenius 'kan? [insert sticker wink]
6.02 AM (Read)
Tunggu...
6.02 AM (Read)
Kau memanggilku Jiwonie [insert sticker love]
6.02 AM (Read)
Norak, biasa aja kalik
6.03 AM (Read)
Ngomong-ngomong aku boleh tanya?
6.03 AM (Read)
Tentu saja, love
6.03 AM (Read)
Ew, kau jadi amat menjijikkan
6.03 AM (Read)
Apapun untukmu, Hanbinie
6.03 AM (Read)
Bagaimana dengan Jisoo?
6.04 AM (Read)
[insert sticker smiling]
6.04 AM (Read)
?
6.04 AM (Read)
[insert sticker smiling]
6.04 AM (Read)
Kimbab?
6.04 AM (Read)
[insert sticker smiling]
6.04 AM (Read)
[insert sticker flat face]
6.04 AM (Read)
[insert sticker smiling]
6.04 AM (Read)
Ah sudahlah, kau menyebalkan
6.04 AM (Read)
[insert sticker smiling]
6.04 AM (Read)
Akan kujelaskan nanti disekolah, Bin
6.04 AM (Read)
Tenang saja
6.04 AM (Read)
.
.
.
"Jadi bagaimana?" tanya Hanbin seusai Jiwon menculiknya tepat sebelum bel berbunyi dan memojokkannya di kamar mandi lantai dua sembari terus mengecupi lehernya.
Dasar anak mesum.
"Apanya yang bagaimana?" gumam Jiwon sembari terus memberikan butterfly kiss di sekitar leher Hanbin yang membuat pemiliknya menggeliat geli.
"Jisoo, Kim. Jisoo. Jangan mesum dan cepat ceritakan padaku. Aku membolos pelajaran Yong-sonsaeng bukan untuk menjadi pemuas kemesumanmu." kata Hanbin sembari menoyor kepala Jiwon.
Jiwon nyengir bodoh (Hanbin sudah kebal kok dari niatan ingin menendang wajah dengan cengiran itu) lalu mengecup bibir Hanbin sekilas dan tersenyum lebar.
"Jadi..."
.
.
.
"Jisoo-ya, ini aku." kata Jiwon yang langsung membuka pintu kamar Jisoo dengan ngawurnya tanpa mengindahkan ceramah Jisoo seminggu yang lalu tentang privasi seorang gadis muda.
"KIM JIWON! KUBILANG KEMARIN APA?! JANGAN BUKA PINTU SEBELUM AKU MENGIZINKAN!"
Teriakan feminim Jisoo membahana di kamar dengan nuansa soft blue tersebut. Jiwon hanya memeletkan lidah tak peduli lalu duduk di kursi dekat meja belajar Jisoo, mengingat Jisoo kini sedang duduk di lantai memotong kuku kakinya.
"Mau apa kau?" tanya Jisoo sembari dengan cermat mengoleskan kuteks berwarna pink lucu pada kuku di jemari kakinya.
Jiwon berdehem pelan lalu memasang ekspresi serius sembari dengan hati-hati memandang wajah Jisoo yang terfokus pada kuku kakinya.
Kau bisa Jiwon, yang kau butuhkan hanyalah berani menjelaskan dengan baik-baik.
"Kalau semisal aku gay, apa kau akan menjauhiku?" kata Jiwon dengan nada hati-hati.
SRET!
"Ah sial, tisu mana tisu. Sial sekali jariku tercoret."
Jisoo langsung mengambil tisu dan mengelap jemarinya yang tidak seharusnya terkena cairan kuteks tanpa memandang Jiwon yang sedang serius.
"Kau dengar apa kataku 'kan? Kalau aku gay dan aku berpacaran dengan Hanb-"
"Aku dengar. Sudah cukup jangan diulang dan keluar dari kamarku." potong Jisoo sembari memerintah dengan nada datar dan masih menolak memandang Jiwon.
Aish, bocah keras kepala ini.
"Aku tanya sekali lagi, kalau aku ga-"
"KELUAR DARI KAMARKU KIM JIWON!"
Bentakan Jisoo memotong perkataan Jiwon, kini gadis berambut hitam panjang itu mengadah menatap Jiwon dengan sorot mata terluka yang menyakitkan.
"Kau selalu berjanji padaku tentang kau yang selamanya bisa kupercayai, tapi sekarang? Kau malah mengaku gay dan itu menusukku dari belakang, Kim Jiwon. Jadi sana, minggirlah traitor." kata Jisoo sembari menuding Jiwon dengan jari tangannya yang rapi dan lentik.
Jiwon menunduk, tak bisa ia pungkiri kalau ia merasa bersalah pada Jisoo. Tapi ini semua demi kebaikannya dan kebaikan Hanbin.
Egois? Memang.
Kalau tidak begini lalu harus bagaimana lagi?
"Aku benar-benar minta maaf kalau kau merasa aku mengkhianatimu, Jisoo. Aku hanya lelah membohongi diriku sendiri, aku ingin bahagia dan membahagiakan Hanbin." kata Jiwon pelan.
"Hanbin pun juga? Harusnya aku sudah menduga kalau kalian memang ada apa-apanya." cemooh Jisoo dengan rengutan kesal di wajah walau sebenarnya matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis.
Jiwon menghela nafas dan menggigit bibirnya gugup.
"Ini juga demi kebaikanmu. Kau tidak bisa selamanya menjadi homophobia hanya karena traumamu kepada mantanmu. Kau tidak bisa berpikir kalau semua gay sama dengan mantan brengsekmu itu."
Hening sesaat.
"Aku ingin kau bahagia dan menerima kenyataan ini, Jisoo. Aku sudah lelah mengorbankan kebahagiaan orang demi kebahagiaanmu. Seharusnya kini giliranmu untuk paham demi kebahagiaan orang lain."
.
.
.
"Aku tahu kalian berdua sekarang punya status, tapi rasanya tetap sama saja kalau melihat tingkah kalian berdua." komentar Taeil yang disahut tawa oleh Jihoon ketika mereka berempat sedang berjalan menyusuri lorong lantai 2.
"Tentu hyung! Kami 'kan sejak dulu sahabat dengan rasa pacaran, kemarin itu hanya peresmiannya." tawa Jiwon bodoh, yang membuat Hanbin ikut tertawa bersamanya.
"Apa maumu, Song Minho?"
Suara tenang Kang Seungyoon membuat langkah keempat pemuda itu berhenti. Spontan saja mereka menengok ke belakang dan melihat Jiho yang sedang bersandar di dinding dekat tangga lantai 2 serta Kyung yang merapat pada Jiho sembari menguping.
Segara saja, keempat pemuda itu berjalan perlahan-lahan namun cekatan mendekati sepasang kekasih berambut pirang tersebut.
"Sedang apa hyung?" bisik Jiwon yang segera dijawab dengan pelototan seram Jiho dan Kyung yang mendesis lirih.
"Dulu aku salah Seungyoonie. Aku tidak bermaksud membuangmu."
Wah! Ini drama ala makjang dari Mino hyung dan Seungyoon hyung, kata Jiwon dalam hati dengan gembira. Karena pada akhirnya ia bisa melihat secara nyata interaksi dua orang yang berkisah cinta misterius ini.
"Kau hanya menurut pada orang tua, Mino. Kalau aku adalah kau, aku pasti akan menuruti orang tuaku. Yang aku tanya adalah kenapa kau tiba-tiba begini? Seingatku hingga seminggu yang lalu kau masih menolak berpapasan denganku."
Diam menyelimuti dua pemuda yang berdiri di tangga tersebut, bahkan hingga para manusia penguping yang ada di dekat mereka merasa gerah akan keheningan yang mereka buat.
"Aku hanya... merasa bahwa kisah kita butuh diperjuangkan. Kau ingat kalau hingga kini aku masih mencintaimu 'kan?"
Perkataan Mino disahuti oleh ucapan tenang Seungyoon yang sebenarnya amat menusuk.
"Aku ingat kok, tapi seingatku juga, Taehyun mencintaiku dengan cinta yang sama besar dan tengah menunggu jawabanku atas pertanyaannya."
What? Nam Taehyun?
"Woah, Taehyun menyukai Seungyoon! Ini benar-benar drama yang hebat!" bisik Jihoon sembari menggoyang-goyangkan tubuh Taeil yang pundaknya sedang ia cengkram erat. Tentu saja ulah over-excited-nya membuat Jiho dan Kyung kompak melotot dengan jahatnya agar membuat si hiperaktif Jihoon diam.
"Ta-Taehyun? Kalian pacaran?" tanya Mino setengah terbata-bata. Lagi-lagi Seungyoon tertawa akan reaksi Mino sebelum akhirnya berdehem pelan dengan tenang.
"Tidak, atau mungkin belum. Tergantung hatiku saat ini."
"Kembalilah padaku, Yoonie. Lalu berjanjilah untuk melalukan terapi agar kecanduanmu hilang dan berhenti main-main di club." pinta Mino dengan nada memohon.
Seungyoon diam tidak menjawab, yang bisa didengar kini hanyalah suara langkah menuruni tangga sebelum suara itu berhenti setelah 5 kali terdengar.
"Kalau kau meminta begitu, aku akan lebih memilih Taehyun yang tidak menuntutku sebagai orang la-"
"HUWAAA KECOAK! JIHOONIE TOLONG AKU!"
Taeil mendadak menjerit keras ketika sebuah kecoak jatuh dari langit-langit ke seragamnya, diikuti oleh pekikan girly Park Kyung dan Jiwon yang langsung menjauh dari Taeil dengan Hanbin sebagai tamengnya.
"MANA KECOAKNYA?!"
"SIAL KUKIRA TADI CICAK!"
"JIHO LINDUNGI AKU!"
"ASTAGA DIAM BODOH! NANTI KITA KETAHUAN!"
Ditengah kericuhan akibat seekor kecoak yang pada akhirnya mati akibat injakan sepatu boots Jiho, Mino dan Seungyoon tiba-tiba telah berdiri di depan mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Kalian..."
"Kami tidak menguping hyung! Aku bahkan tak paham apa yang kalian bicarakan!" sambar Hanbin cepat diikuti cengiran kelima kawan-kawannya.
Seungyoon memiringkan kepalanya sambil mengerutkan dahi, ia lalu mengeluarkan sepaket notes keramatnya bersama dengan bolpen silver yang menjadi momok bagi anak berandalan.
"Pyo Jihoon dan Kim Hanbin, tidak memakai dasi. Lee Taeil, tidak memakai kaus kaki. Woo Jiho, Park Kyung, Kim Jiwon, tidak memakai blazer. Ini hari Senin teman-temanku, yang mana kalian harus berpakaian lengkap seperti aku." kata Seungyoon dengan nada datar yang langsung membuat keenam orang di depannya speechless.
Bagaimana bisa Seungyoon ini dengan tenangnya berubah menjadi Ketua Dewan yang selalu menjalankan tugasnya walau ia baru saja terlibat debat sengit bersama Mino?
"Mino hyung belum kau catat, hyung." tambah Jiwon dengan pelirikan kesal kearah Mino disebelah Seungyoon yang tidak memakai blazer dan dasi.
Seungyoon melirik Mino sejenak lalu menatap Jiwon masih dengan wajah datarnya.
"Pengecualian untuk Song Minho karena tadi aku baru saja menyiramnya dengan yoghurt sehingga dasi dan blazer-nya basah."
What the fuck?
.
.
.
"Kau benar-benar berpacaran dengan Jiwon?" tanya Jisoo dengan ekspresi datar namun kesal.
Hanbin yang sedang menggigiti sedotan pada Americano pesanannya mengangguk pelan. Sepulang sekolah tadi, Jisoo tiba-tiba menghubunginya untuk segera datang ke Coffee Shop tempatnya bekerja part-time. Ia sudah bisa menduga kalau Jisoo akan melabraknya tentang hubungannya dengan Jiwon.
"Kau terganggu?" tanya Hanbin balik, masih sambil menggigit sedotannya.
Jisoo menggumam lalu mengangguk, "Jiwon pasti sudah cerita 'kan? Aku tidak pernah merasa nyaman apabila berurusan dengan orang homo karena aku selalu teringat akan mantanku yang sial itu."
Gadis berambut hitam itu berhenti sejenak dan menatap Hanbin dengan mata nanar.
"Tapi kali ini? Kau dan Jiwon-lah yang menjadi gay. Aku rasa ini karma karena aku tidak pernah berusaha toleran akan kaum kalian." sambung Jisoo sembari memainkan taplak meja berwarna beige dengan bolpen di tangannya.
Kaum kalian? Astaga, bahasamu terlalu unik, Kim Jisoo.
"Lalu... bagaimana?" tanya Hanbin hati-hati, teringat kata-kata Jiwon kalau ia harus hati-hati menghadapi Jisoo yang sedang membicarakan traumanya atau gadis itu akan mengamuk dengan kasar.
Jisoo menatap Hanbin lagi lalu mengerjapkan mata.
"Jiwon bilang aku sudah menghalangi kebahagiaan orang lain dan aku rasa dia benar. Maksudku selama ini aku menjadi homophobia dan tidak bisa bersosialisasi dengan teman sekelasku yang gay walau sebenarnya mereka ingin berteman denganku."
Jisoo menjelaskan panjang lebar sebelum tersenyum lemah pada Hanbin, "Mungkin aku kini harus mulai beradaptasi. Jadi aku merestuimu dengan Jiwon."
Hanbin balas tersenyum lebar. Senang rasanya mendengar pengakuan Jisoo ini. Dengan begini ia dan Jiwon tidak perlu bersembunyi hanya karena takut hubungan mereka diketahui Jisoo.
"Jangan tersenyum terlalu lebar begitu. Kau harus ingat untuk jangan making out dan terlalu cheesy di depanku." tambah Jisoo sembari mengernyit jijik dan meringis yang membuat Hanbin tertawa.
Gadis yang merupakan hoobae Hanbin itu lalu mendengus sambil meraih macaroon pesanan Hanbin dan melahapnya, "Otakku masih menganggap semua lelaki itu straight, jadi rasanya aneh bila melihat kalian nantinya saling menempel lebih dari sahabat atau bahkan tidur bersama hanya dengan memakai bokser."
Lagi-lagi Hanbin terbahak, namun kali ini lebih keras dan liar hingga seorang wanita berumur di meja sebelah melirik Hanbin dengan tatapan menegur.
Jadi ini alasan kenapa Jisoo terlihat mual ketika Mino hyung menciumku? Pft, kenapa bodoh sekali ya?
.
.
.
"... and they live happily ever after!" seru Jiwon sembari menutup buku cerita The Frog Prince yang baru saja ia bacakan untuk Hanbin demi meng-improve kemampuan berbahasa inggrisnya yang nol.
Sebagai pacar yang baik Jiwon harus membantu bukan?
Hanbin menguap pelan lalu meletakkan kepalanya di dekat collarbone Jiwon sambil memejamkan matanya. Kenapa rasanya jadi ngantuk setelah Jiwon bercerita? Padahal niatnya dan Jiwon berada di kamar Jiwon ialah untuk sesi learning english.
"Hei jangan tidur, Binie. Pelajaranmu belum selesai." gumam Jiwon sembari menghirup aroma mint dari shampoo Hanbin.
"Cerewet, salah siapa kau malah bercerita padaku. Walau aku tidak paham tapi tetap saja itu nembuatku mengantuk." Hanbin dengan malas menggumam dan makin mengeratkan pelukannya pada tubuh Jiwon yang terasa lebih hangat daripada boneka Mickey Mouse-nya di rumah.
"Serius kau tak paham?" tanya Jiwon tak percaya dan merasa sia-sia telah membacakan cerita anak itu pada Hanbin.
Hanbin mengangguk pelan, "Kecuali di bagian akhirnya, aku tahu kalau artinya mereka hidup bahagia selamanya."
"Seperti kita 'kan?" sahut Jiwon cheesy yang disertai kecupan manis di dahi Hanbin.
Hanbin hanya mengangguk singkat ketika kantuk mulai menghinggapi matanya, "Seperti kita, seperti Taeil hyung dan Jihoon hyung, seperti Junhoe dan Jinhwan hyung, seperti Jiho hyung dan Kyung hyung, seperti Jisoo dan Jaewon, lalu seperti Mino hyung dan Seungyoon hyung."
"Mino hyung ditolak Seungyoon hyung kalau aku boleh mengoreksi dan dengar-dengar Taehyun juga ditolaknya." komentar Jiwon merusak suasana dengan membicarakan gosip hot sekolahnya tentang Pangeran Pembolos yang merupakan Ketua Dewan Kedisiplinan yang dikejar-kejar oleh dua orang tampan dengan rambut yang kontras bagai es krim vanilla dan es krim coklat.
Hanbin spontan membuka matanya lalu melotot tak percaya, kenapa rasanya terdengar seperti Seungyoon menyia-nyiakan dua orang yang tulus cinta padanya, ya?
"Kau serius?"
"Yep, kurasa Seungyoon hyung hanya sedang bingung. Aku harap ia bisa menemukan kebahagiaanya bersama salah satu dari mereka."
"Mino hyung saja, aku benci alis Taehyun dan wajah liciknya."
Perkataan Hanbin disambut oleh kekehan geli Jiwon sebelum pemuda bergigi kelinci itu menunduk untuk menempelkan dahinya dengan dahi Hanbin yang sontak membuat jantung Hanbin berdegub kencang.
"Saranghaja, Kim Hanbin. Aku benar-benar berterima kasih karena kau mau menungguku selama ini."
Hanbin, yang walau amat sangat mengantuk, tidak bisa menahan senyum terbersit di wajahnya dan membalas perkataan tulus seorang Kim Jiwon serta mengecup bibirnya sekilas.
"Nado, Kimbab. Aku akan selalu bersamamu, sejak dahulu hingga esok di masa depan."
END
A/N:
FINALLY LIMIT OFFICIALLY COMPLETE! /throw confetti/
(Coba tebak, aku dapat mood ngelanjutin ini setelah ngeliat instagramnya zico dan melihat foto derp bobby + zico)
Aku bener-bener seneng karena pada akhirnya aku berhasil nyelesaiin fanfic chaptered terpanjangku ini yang diwarnai dengan berkali-kali writer block dan segala gangguan dari kehidupan nyata.
Aku minta maaf atas keterlambatannya dan ending yang mungkin kurang memuaskan. But, i already do the best to make this ending chapter. Jadi mohon dimaafkan atas kekurangannya dari awal hingga akhir yaa~
Big thanks buat reader yang udah baca sampai sini, terua juga follow, favorite, jadi silent reader, review dan lain-lainnya. Maaf banget aku nggak bisa nyebutin satu persatu, tapi this chapter is for you all~ /peluk/
Special thanks buat Double BobB.I, Kak Kim makasih banget atas dukungannya selama ini yang bikin aku semangat nulis DoubleB sama MinYoon /lol/ juga buat menboong, (i don't know what should i call you xD unnie maybe?) atas saran-sarannya demi kebaikan fanfic yang udah aku buat :)))
Sekali lagi, aku bener-bener berterima kasih atas respon kalian atas fanfic-ku ini :)
anyone who want to ask about something, just ask it and maybe i will answer it (of course if i'm not busy with real life thingy)
(Inner Circle yang kebetulan baca fanfic ini, EXIT Tour in Seoul kemarin bener-bener amazing. Aku bahkan nyaris nangis pas bagian Seungyoon + Jinwoo nangis tersedu-sedu di Day 1 dan pas mereka ganti baju di stage, i amazed with Namtae's abs /lol/)
(AND KIM JINWOO HAIR IS FREAKING PINK LIKE A CANDY! AND HIS VOICE WHEN HE SANG CROOKED IS WOW!)
(REPLY 1988'S PARODY TOO, SERIOUSLY ITS FUNNY! NAM DEOKSUN ILY TOO /lol/)
(THEN SONG MINO AND NAMTAE NEW TATTOOS)
(THEN THEIR NEW SONG IS AMAZING TOO /lalalalala/ I CAN'T WAIT FOR EXIT: X)
(LEE HI TOO! HIS PERFORMANCE WITH MINO IS SO GOOD! /good good very good ala Mino/ /lol/)
(but i'm kinda disappointed because they didn't perform Different /thats my fav/ but i'm also happy because i love to hear Immature in live version /my fav song too/)
this author note is freaking long, i'm sorry :( sampai ketemu lagi kalau aku berencana bikin fanfic lagi yaa~
love,
dumpling-lion
