Title : The Curse Of A Strange Diary
Cast : VIXX members
Rating : T to M (for some thrilling scenes)
Genre : Horror, a bit of angst, psychological
Chapter : 9/11
A/N : Hai, apa kabar? Weheheh, maaf nih, author update-nya ngaret. Udah sibuk masuk kuliah soalnya, udah ga persiapan lagi :") Btw, guys! author akhirnya memutuskan untuk mengakhiri story ini di chapter 11. Karena... ternyata chapter ini dan chapter-chapter selanjutnya ini panjang sekali. Kan dari pada author update-nya kelamaan, jadi author bagi dua aja :"D
Kay, enjoy~
The Curse Of A Strange Diary
Keenam pria itu memasuki ruang pengelola gedung. Di balik meja panjang administrasi, duduk seorang wanita muda yang sedang bertugas menjaga meja tersebut. Wanita itu terlihat terkejut melihat orang-orang yang memasuki tempat kerjanya.
"Permisi, boleh kami pinjam kunci ruangan nomor 16?" Tanya Hongbin. Seketika, ekspresi wajah wanita itu berubah serius.
"Tentu saja… Tidak!" Ucapnya tegas.
"Kenapa?"
"Karena ruangan itu terisolasi. Dan siapa pun dilarang memasuki ruangan itu."
"Apa ruangan itu terisolasi sejak kejadian ditemukannya mayat seorang wanita bunuh diri dua tahun yang lalu?" Tanya Ravi.
Wanita itu mengangguk.
Seluruh pria di ruangan itu kembali saling pandang, seolah mencoba mengirimkan ide yang muncul di otak masing-masing agar bisa mendapatkan kunci ruangan itu. Dan entah dari siapa, Ravi mendapat sebuah ide. Ia kembali menatap wanita di balik meja itu. Kini dengan tatapan menggoda.
"Hei, kau tahu? Kau wanita paling beruntung." Ucapnya. Bibirnya kentara menunjukkan seringaian nakal.
"Apa maksud anda, tuan?"
"Aku akan mengajakmu makan malam bersama. Kalau kau mau…" Ravi mengedipkan satu matanya, membuat wanita itu merona padam. Sedangkan kalimatnya itu membuat teman-temannya serta seorang dokter terkejut tak percaya.
"Ma- maaf, tuan. Anda tidak bisa menyuap saya." Ucap wanita itu sambil menunduk, menyembunyikan wajah merahnya.
Mata Ravi kini melirik sebuah objek yang tergeletak di meja dekat wanita itu. Seringaian di wajahnya makin lebar. Terlihat makin jahil.
"Eyy… Ayolah, kau tahu aku ini Ravi, kan? Dan aku tahu sebenarnya kau tak ingin menolak. Karena dilihat dari playlist lagu di ponselmu, sudah jelas kau ini seorang Starlight."
Wanita itu membulatkan matanya, diliriknya ponselnya yang tergeletak di meja. Layarnya masih menyala, dan menunjukkan playlist berisi puluhan lagu VIXX dari debut sampai lagu yang mereka release di Jepang. Apa lagi kalau bukan Starlight namanya? Angkat tangan bagi kalian yang mengaku Starlight tapi tidak demikian.
Dengan cepat, tangan wanita itu meraih ponselnya dan menyembunyikannya dalam laci. Kemudian dari laci yang sama, wanita itu mengambil sebuah kunci, dan memberikannya pada Ravi. Masih dengan kepala menunduk.
"Ini. Tapi tolong jangan ingkari janjimu, dan jangan katakan pada siapa pun kalau aku memberikan kunci ini pada kalian. Kumohon?"
Ravi mengambil kunci itu.
"Oppa janji!" Serunya, matanya melirik name-tag di baju wanita itu. "Oke, terima kasih, Narin-ah~"
Diusapnya kepala wanita itu. Kemudian dengan diikuti kelima pria lain, ia berlari keluar dari ruang kantor pengelola. Tak jauh dari ruang itu, mereka dengar suara teriakan heboh dan jeritan bahagia dari wanita tadi. Para member VIXX terkekeh mendengarnya. Meski pun ada juga yang tak senang dengan itu.
"Ya, Wonsik-ah. Matamu jeli juga, bisa menyadari kalau dia itu Starlight." Ujar Hongbin merangkul leher temannya itu sambil masih berlari.
"Heh, kalau dalam hal begini aku masih berguna, kan?"
Semua yang berlari itu tertawa. Kecuali seorang yang berlari paling belakang, yang kini merasa hatinya tak nyaman.
The Curse Of A Strange Diary
Akhirnya keenamnya sampai di depan ruang nomor 16. Letaknya di ujung dekat tangga darurat. Keadaan di ujung lorong ini sangat gelap. Hal itu dikarenakan lantai ini berada di bawah tanah dan lorong ini juga cukup terpencil, serta lampu yang sepertinya sudah lama tidak diganti.
Setelah membuka pintu, mereka semua masuk ke dalam. Keadaan ruangan gelap meski lampu sudah dinyalakan. Seluruh ruangan penuh debu, serta ada beberapa garis polisi yang sepertinya sudah dua tahun masih terpasang di sana.
"Baiklah, kita sudah berada di sini. Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Ucap Hongbin.
"Uhm… Oh iya, Ken. Kau masih ingat kodenya?" Tanya N.
"Ya, tentu. UG, 16, In, Door, Alone." Jawab Ken dengan lancar. Ia memang sudah hapal kode itu, saking seringnya memikirkan Sanghyuk.
"Hm… angka 16 itu berarti ruangan ini. 'In', berarti kita harus masuk, dan kita juga sudah masuk. Berarti selanjutnya, apa maksud dari kata 'door'?" Tanya Dokter Shin, meminta pendapat pada kelima pria lain di sana.
"'Door' itu artinya 'pintu', dan kita sudah melewati pintu masuk tadi, kan?" Ravi mengeluarkan opininya.
"Tidak. Kalau memang kata itu menunju pada pintu ruang ini, seharusnya kata 'door' berada sebelum kata 'In'. Karena sebelum memasuki ruangan, tentu kita harus menemukan pintunya terlebih dulu."
"Kalau begitu, pasti 'door' yang dimaksud adalah pintu kamar yang ada dalam ruangan ini." Gumam N.
"Baiklah, kita periksa semua ruangan di sini."
Mereka bergegas memeriksa setiap pintu di sana. Ada tiga pintu; kamar mandi, Kamar tidur, ruang pakaian. Tapi diperiksa dari sudut ke sudut, tak ada yang aneh dari setiap ruangan di sana. Keenamnya kembali ke ruang tengah.
"Aneh. Tidak ada apa-apa di semua ruangan. Apa kalian yakin kode yang diberikan itu benar?" Tanya Dokter Shin.
"Aku yakin, dokter. Hampir setiap malam aku memikirkan Hyuk dan kode itu. Tidak mungkin salah." Ucap Ken yakin, diikuti anggukan dari keempat member lain.
Dokter Shin kembalil berpikir. "Hm… Berarti mungkin kata 'door' itu mengacu pada sesuatu yang lain. Tapi apa?" Gumamnya sendiri sambil melipat tangan di depan dadanya. Punggungnya ia sandarkan pada sebuah rak buku yang berada di sudut ruangan. Namun tanpa di sangka, rak kosong itu bergeser, dan Dokter Shin jatuh ke lantai. "Argh!"
"Dokter Shin! Anda baik-baik saja?" N mendekati tubuh Dokter Shin dan membantunya berdiri.
"Y- Ya…"
"Hei, apa rak buku ini baru saja bergeser dengan sendirinya?" Tanya Hongbin sambil memperhatikan sebuah celah kecil yang berada di balik rak buku itu.
Semua menoleh dan ikut memperhatikan celah itu. Tiba-tiba, Dokter Shin teringat sesuatu.
"Aku ingat!" Semua mata kini beralih pada sang dokter. "Saat itu, yang ditemukan bukan hanya jasad Hyunji. Polisi menemukan sebuah pintu tersembunyi. Aku tak pernah melihat secara langsung, tapi kabar mengatakan bahwa di balik pintu itu ada semacam labirin dari zaman peperangan dahulu. Setelah polisi menelusuri labirin itu, mereka menemukan belasan jasad lainnya. Dan jasad-jasad itu adalah… Orang-orang yang Hyunji bunuh…"
Kelima pria selain dokter itu terkejut. N dan Ken bahkan hampir menjerit.
"Berarti, wanita itu menyembunyikan mayat-mayat itu dalam labirin?"
"Ya, ruangannya yang lama dan ruangan ini posisinya dekat dengan tangga darurat yang jarang terpakai. Dengan begitu, Ia bisa dengan mudah bolak-balik untuk menyembunyikan korbannya." Dokter Shin sedikit mencoba untuk menggeser rak tersebut. Namun entah apa yang berbeda, rak ini tidak mudah digeser seperti tadi.
"Jadi yang dimaksud dengan kata 'door' adalah pintu masuk tersembunyi ini? Yang berhubungan dengan labirin itu?" Ujar Leo.
"Bantu aku menggeser rak ini." Ucap Dokter Shin yang langsung ditanggapi oleh Leo dan Hongbin. Ravi tak bisa membantu akibat tarikan N pada lengannya. Ya, leader itu tengah sangat ketakutan.
Setelah rak itu berhasil mereka pindahkan, kini terlihat jelas apa yang ada di baliknya. Bukan pintu, tapi hanya lubang pada tembok. Ke sananya, semua gelap dan tak ada yang bisa mereka tangkap dengan mata mereka.
Dokter Shin pun berinisiatif menggunakan kecanggihan lampu dari ponselnya untuk menerangi suasana di dalam. Rupanya benar tak ada apa-apa. Hanya sebuah lorong yang entah berujung di mana. Kemudian pria itu beralih dan menatap sisa pria yang ada di belakangnya.
"Kita tak punya waktu banyak. Ingat, Hyuk-ssi masih sendirian di kamarnya. Kita harus cepat menulusuri labirin ini, dan mencari tahu apa yang Hyunji inginkan dari kalian."
Seketika, kelima pemuda di sana terlihat tegang. Namun Hongbin dengan mantap melangkah memasuki ruangan gelap itu, dengan ponsel di tangannya sebagai penerangan. Leo menatap Ken yang awalnya terlihat sangat ragu. Main vocal tertua itu hendak menenangkannya, sekaligus meredakan hubungan mereka yang memang sedang tegang. Namun ketika mata mereka tak sengaja bertemu, Ken malah dengan cepat memasuki ruangan itu. Leo hanya menghela nafas, mengetahui bahwa pria yang lebih muda itu masih tak mau dekat-dekat dengannya. Kemudian dengan ponsel di tangannya pula, ia masuk melalui pintu itu.
"Ravi-ssi, N-ssi… Ayo, cepat!" Teriak dokter Shin dari ambang pintu itu.
Ravi menoleh menatap N yang masih erat memeluk lengan kekarnya. Bisa sang rapper rasakan bahwa tubuh hyung-nya ini gemetar ketakutan. Ya, Ravi yakin N sangat takut untuk memasuki ruangan yang disebut-sebut pernah menjadi tempat tersimpannya belasan mayat. Ravi pun menghela nafas.
"Hyung, kau mau ikut masuk?"
"A- aku takut, Wonsik."
Ravi sedikit berpikir.
"Kau tidak mau masuk?" N dengan cepat menggeleng. "Lalu?"
"A- aku ingin kembali ke dorm saja."
"Ingin aku temani?"
"Ti- tidak, kau pergilah bersama mereka. Aku… Akan kembali sendiri dan menjaga Hyuk." Tanpa menatap sang kekasih lagi, N dengan cepat berlari keluar dari pintu.
"N hyung!"
Dokter Shin menahan Ravi yang hendak mengejar. "Biarkan saja, Ravi-ssi. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Kalau kau mengikutinya, dia malah akan merasa kesal."
Ravi menghela nafas. Benar, N menyuruhnya pergi bersama yang lain ke labirin itu. Kalau Ravi malah mengikutinya, N pasti akan marah karena Ravi tidak mematuhinya. Lagi pula kalau dipikir-pikir, arwah wanita itu kini tengah menunggu di dalam labirin itu. N pasti akan baik-baik saja.
Ravi kemudian mengikuti langkah Dokter Shin memasuki labirin itu.
The Curse Of A Strange Diary
Keadaan setelah meleka melewati dinding di balik lemari tadi begitu gelap. Tapi dengan bantuan penerang dari ponsel canggih mereka, akhirnya mereka berhasil memasuki sebuah koridor yang sama gelapnya. Bedanya, dinding koridor itu terbangun dari batu bata. Sayangnya, yang kini ada di hadapan mereka adalah jalanan yang bercabang; arah kiri, kanan, dan lurus.
"Jalannya bercabang. Kita harus kemana?" Tanya Ken.
"Kita berpencar saja." Ujar Dokter Shin.
"Hongbin-ssi, Ravi-ssi, kalian pergi ke kiri. Leo-ssi, kau dan Ken-ssi pergi ke kanan. Aku sendiri lurus."
"Tapi dokter—" Ravi hendak berdiskusi kembali masalah pengelompokkan yang ditentukan oleh Dokter Shin. Menurutnya, tidak baik bila ia pergi dengan Hongbin. Karena itu berarti Ken harus pergi dengan Leo. Tapi seolah tuli, Dokter Shin sudah saja pergi ke koridor di depannya. Tak mengacuhkan Ravi yang akhirnya berpikir, mungkin Dokter Shin sendiri berpikir sudah waktunya Ken dan Leo kembali seperti semula. Rapper itu pun menghela nafas. "Baiklah, kita juga pergi…"
Hongbin mengangguk, dan keduanya mulai berjalan ke koridor di sebelah kiri.
"Tunggu!" Ken menarik tangan Ravi, membuat kedua pria kelahiran 93 itu menoleh. Dengan berbisik, Ken mengeluh. "Bagaimana denganku?"
Ravi menatap hyung imutnya itu. Kemudian matanya melirik ke arah Leo, dan melihat pria pecinta sepak bola itu hanya terdiam. Ravi pun kembali menghela nafas—lagi.
"Sudah saatnya kau bersamanya lagi, hyung. Kau tak bisa terus menjauhinya. Mengerti?"
"T- tapi, Ravi—"
"Ravi benar, hyung. Asal kau tahu, kami juga lelah melihat kau terus menghindari Leo hyung. Juga, aura tegang yang kalian ciptakan menambah keadaan makin buruk. Makanya, kau juga harus segera berbaikan dengan Leo hyung." Timpal Hongbin.
"Hongbin…"
"Benar, hyung. Kau tidak kasihan pada Leo hyung yang sudah berkali-kali mencoba mendekatimu, tapi kau malah terus menghindarinya?" Ravi menepuk pundak Ken, membuat pria berhidung besar itu terdiam.
"Kau baik-baik dengannya. Oke, hyung? Sekarang, kita harus cepat pergi. Ayo, Bin."
Akhirnya kedua sahabat itu berjalan menjauh. Meninggalkan suasana hening yang diciptakan oleh Leo dan Ken. Kemudian keheningan itu dihentikan oleh Leo.
"Kita juga harus pergi. Ayo…"
"N- ne…"
The Curse Of A Strange Diary
Dokter Shin melangkah dengan mantap menyusuri koridor itu. Ia yakin betul bahwa wanita itu ada di sini. Dokter Shin harus menemukannya. Tidak, Ia ingin menemuinya. Ia merindukan sosok itu. Meski ia tahu sosok itu kini pasti sudah berubah. Meski ia tahu sosok itu kini sudah berada di dunia yang lain. Ia tak peduli. Melihatnya saja, baginya itu sudah cukup.
Akhirnya, langkah kaki pria bernama Shin Minchul itu terhenti di depan sebuah pintu kayu. Ini ujung dari karidor yang sejak tadi ia telusuri. Di pintu itu terdapat goresan abstrak yang terbaca 'Woo Hyunji'. Mungkin ini cara sosok wanita itu memberitahukan orang yang ia cari bahwa dirinya ada di sini.
Dokter Shin yang penasaran akhirnya membuka pintu itu. Namun tiba-tiba angin kencang berhembus bagaikan badai yang menerpa seluruh tubuhnya. Terpaksa, pria itu menutup mata dan menutupi wajahnya dengan lengannya.
"Akhirnya kau datang, Sanghyuk-ssi… Selamat datang…" Sambut sebuah suara.
Dokter Shin kenal betul suara ini, meski terdengar sedikit lebih serak dari yang ia tahu. Tapi perasaannya yang mengagumi apa pun yang ada pada sosok itu, tak melunturkan keyakinan bahwa yang ada di balik badai di depannya ini adalah sosok yang selama ini ia rindukan.
"Hyunji, hentikan! Aku tahu kau ada di sini!" Teriak Dokter Shin.
"Tunggu… Kau bukan Han Sanghyuk!" Suara itu terdengar terkejut.
"Ya, aku bukan Han Sanghyuk… Aku Shin Minchul!" Dengan ini, Dokter Shin sungguh berharap wanita itu dapat mengenalnya.
"O- oppa?"
Suara serak wanita itu terdengar melembut. Dan di saat yang sama, terpaan angin dahsyat tadi berhenti. Dokter Shin perlahan dapat membuka matanya. Kini sosok menyeramkan wanita itu jelas terlihat olehnya.
"Apa yang oppa lakukan di sini?!"
"Hyunji, kenapa kau lakukan ini semua?"
"Apa maksudmu?!"
"Kenapa kau menyakiti orang-orang itu? Mereka tak pernah menyakitimu! Mereka bahkan tak tahu siapa dirimu, Hyunji…" Dokter Shin melangkah mendekati sosok yang tak menapak itu. Tak ada rasa takut. Yang ada justru rasa ingin menyentuh sosok itu. Saking rindunya ia pada wanita yang dulu pernah ia cintai ini.
"Kau tak tahu apa-apa, oppa." Teriaknya. "Dan jangan mendekat!"
Tanpa kontak sentuh apa pun, Hyunji berhasil mendorong tubuh Dokter Shin menjauh dengan sangat kasar. Dorongan itu membuat punggungnya membentur dinding. Dokter Shin sempat meronta kesakitan.
"Hyu- Hyunji… Kenapa kau… melakukannya?"
"Diam, oppa! Ini bukan urusanmu!" Suara Hyunji terdengar begitu nyaring, diiringi angin kencang yang kembali berhembus.
"Hyunji-ah…" Dokter Shin sempat mengulurkan tangannya, sebelum akhirnya matanya tertutup dan ia tak sadarkan diri.
The Curse Of A Strange Diary
Hyuk perlahan membuka matanya. Ia merasa begitu sepi. Keadaan dorm tak pernah sesepi ini. Penasaran, maknae itu berusaha bangun dari tempat tidur, dan keluar dari kamar. Benar saja, tak ada siapa pun di dorm kecuali dirinya. Saat itu juga, ia tahu bahwa para hyung-nya baru saja membohonginya, dan ia yakin mereka pergi ke tempat yang di maksud wanita itu.
Tidak, Sanghyuk tak mau terjadi apa-apa pada para hyung-nya juga. Ia tidak mau membiarkan wanita itu menyakiti mereka, karena Hyuk lah yang wanita itu inginkan untuk datang. Maka, ia memutuskan untuk menyusul yang lain ke tempat itu.
Baru melangkahkan kakinya keluar dari pintu dorm, tanpa di sangka ia bertemu dengan N di depan elevator.
"Hakyeon hyung?"
N yang sejak tadi berjalan sambil menunduk kini mengangkat kepalanya. Ia terkejut melihat sang maknae di hadapannya. Sial, kenapa Sanghyuk bangun di waktu yang tidak tepat?
"Sa- Sanghyuk? Ka- kau sudah bangun?"
"Dimana yang lain, hyung? Kalian… tidak pergi ke tempat itu, kan?"
"Ti- tidak! Kami… Kami… Hanya keluar mencari makan." Bual N tak mau Hyuk memaksa untuk menyusul yang lain.
"Lalu kenapa kau sendirian?" Hyuk sudah sangat yakin bahwa hyung-nya ini sedang berbohong. Ia yakin pasti yang lain sedang berada di tempat itu. Yang jadi pertanyaan kenapa sang leader malah memilih kembali ke dorm? Dan Hyuk ingin kejujuran dari sang leader.
"A- aku…" Jelas N tak bisa menjawab saking paniknya. Ia berpikir selama hampir setengah menit, dan itu membuat Hyuk jengah. N terkejut ketika Hyuk tiba-tiba kembali melangkah dan memasuki elevator. "Hyuk, tunggu!"
N berhasil menarik tangan Hyuk.
"Kenapa, hyung?! Kenapa kalian pergi ke tempat itu tanpa sepengetahuanku?"
"I- itu… Kami takut kau kenapa-kenapa, Hyuk."
"Lalu hyung pikir aku tidak takut kalau kalian kenapa-kenapa?" Hyuk menatap hyung-nya dengan tatapan serius. N sampai tak yakin apa yang ada di hadapannya ini benar-benar Han Sanghyuk. "Yang wanita itu ingin temui adalah aku, hyung! Kalau ia tahu bukan aku yang datang, bisa saja justru kalian yang tersakiti!"
"Hyuk…"
Hyuk akhirnya berhasil menghempas genggaman tangan N dari lengannya. Kakinya kembali mengambil langkah memasuki elevator. N hanya bisa menatap Hyuk yang hampir tertutup oleh pintu elevator. Namun tinggal sedikit lagi kedua sisi pintu besi itu bertemu, N berhasil mengganjal dengan tangannya dan berlari memasuki ruang sempit itu. Hyuk menatapnya dengan terkejut.
"N hyung…"
"Aku akan ikut denganmu."
The Curse Of A Strange Diary
Sesampainya di lantai UG, Hyuk mengikuti N berlari menelusuri koridor dan memasuki ruangan yang semalam Hyuk datangi. Bedanya, kali ini mereka dapat langsung masuk. Hyuk yakin member yang lain pasti menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan kunci ruangan yang terisolasi ini.
Hyuk masih melihat sekeliling memperhatikan betapa kotornya ruangan ini, serta mencari dimana sekiranya tempat yang wanita itu maksud. Dan kemana perginya para hyung-nya?
"Hyuk-ah, kemari!" Ujar N.
Hyuk mendekati tempat N berdiri. Maknae itu terdiam melihat lubang besar pada tembok di hadapannya saat ini.
"Hyung, ini—"
"Mereka semua masuk ke dalam sini." Hyuk menatap N dengan terkejut.
"Memang tempat apa ini? Kenapa mereka semua masuk ke sini?"
"Menurut cerita Dokter Shin, lubang ini di temukan di saat yang sama saat di temukannya jasad wanita itu di ruangan ini. Setelah ditelusuri oleh polisi, diketahui lubang ini terhubung dengan sebuah labirin bawah tanah yang zaman dulu digunakan saat peperangan. Dan… di salah satu ujung labirin itu… ditemukan belasan jasad lain, yang merupakan korban pembunuhan wanita itu…"
Hyuk dapat menyadari tubuh N bergetar. Sama, dirinya juga ketakutan.
"Apa… hyung bermaksud kembali ke dorm karena tidak mau masuk ke tempat ini?" Hyuk hanya dapat anggukan.
Keadaan hening. Kemudian,
"Ayo, Hyuk…" N mengulurkan tangan pada Hyuk, ponsel yang sudah menyala pun ada di tangan yang satu lagi. Terlihat N sudah siapa masuk ke dalam sana.
Hyuk menatap N dengan tak percaya, "Tapi… Hyung takut masuk ke sana, kan?"
"Aku lebih takut kalau kau masuk ke sana sendirian. Aku tak mau terjadi apa-apa padamu." N akhirnya menggenggam tangan Hyuk dengan agak paksa.
Hyuk berpikir sejenak. Bahkan hyung-nya yang tadi ketakutan untuk masuk ini memberanikan diri untuk menemaninya. Hyuk akhirnya mengangguk. Dan dengan tanpa melepas genggaman tangan mereka, keduanya memasuki lubang itu.
Beberapa langkah sudah mereka ambil, keduanya dipertemukan dengan jalan yang bercabang. Langkah mereka terhenti. Baik Hyuk mau pun N, tak ada yang tahu kemana mereka harus pergi. Masalahnya mereka hanya berdua, berpencar bukan cara yang tepat untuk ini.
"Hyuk, kau tak tahu kita harus kemana?"
"Tidak, hyung… Wanita itu tak pernah mengatakan apa pun soal labirin. Dan tak ada petunjuk tentang itu pula. Aku benar-benar tak tahu—"
"Ikuti jalan yang lurus, temui aku di ujung sana."
Sebuah bisikan di telinga Hyuk menghentikan kalimatnya. Tidak, bukan N yang berbisik. Suara ini suara wanita. Suara serak wanita itu mencoba menuntun Hyuk untuk menemuinya.
"Hyuk? Kau baik-baik saja?"
"Lurus."
"Ne?"
"Kita ambil jalan yang lurus." Hyuk kembali melangkah. N tak bisa protes lebih banyak. Genggaman Hyuk pada tangannya begitu kuat, dan langkahnya begitu mantap. Sudah tak mungkin N menghentikannya. Ia hanya bisa mengikuti sang maknae di belakangnya.
Keduanya terus mengikuti kemana koridor itu membawa mereka. Kali ini perjalan terasa sangat panjang. Entah memang koridor ini yang sangat panjang, atau perasaan takut yang membuat mereka merasa waktu berjalan begitu lama. Sampai akhirnya, yang mereka temukan di hadapan mereka adalah sebuah pintu kayu dengan goresan bertuliskan 'Woo Hyunji'. Ya, in pintu yang tadi Dokter Shin temukan. Tapi Hyuk dan N tak tahu bahwa Dokter Shin sudah menemukannya lebih dulu.
'Woo Hyunji' Hyuk membaca berulang-ulang nama itu. Entah mengapa, ada setitik kesadaran di otak Hyuk atas nama itu. Tapi ia tak menemukan siapa pemilik nama itu.
A/N: Ya nggak sih? panjang banget kan? kalo dibandingin sama chapter-chapter sebelumnya ;p
Hehe... Okay, please review and thanks for reading ! And please wait for the next chapter ^^
