Suki Kirai (Like Dislike)
Summary : Naruto seorang lelaki yang selalu dijuluki otaku oleh teman-teman sekelasnya, diam-diam dia menyukai seorang primadona sekolahnya. Dengan tubuh gemuk dan sebuah kaca mata yang membingkainya ia bertekat menjadi lelaki populer untuk merebut perhatian gadis yang disukainya.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Pair : NaruSatsu
Warning: femaleSasuke, Typo , dsb, chapter 9 berisikan masa lalu Sai sebelum menjalin hubungan dengan Satsuki, jadi di chapter ini kalian akan banyak melihat bang Sai. Selamat menikmati.
Chapter 9: Awal Rasa Bersalah
Flashback
Ujung runcing pensil ditekan pelan, membuat goresan memanjang di setiap sisi keranjang lonjong penuh buah. Bayangan gelap kini nampak menonjol di bawahnya. Hanya dengan satu sentuhan lagi lukisan itu akan selesai. Sampai sebuah suara nyaring membuat tangan pemuda bersurai hitam tergantung di udara.
"Wooah, bagaimana lukisanmu sudah selesai?"
Sai menolehkan kepalanya dan mendapati seorang gadis berambut merah bata dengan bingkai kaca mata merah besar sudah berdiri di sampingnya dengan kedua mata membulat lucu. Namanya Karin, Sai tak terlalu dekat dengannya tapi karena gadis itu cukup populer dan berisik ia tak kesulitan untuk mengingatnya. Sai hendak membalas perkataan Karin tapi ia urungkan kembali saat melihat teman-temannya mulai mendekat. Mereka menatapnya dengan tatapan kagum. Hari pertamanya di sekolah menengah mungkin akan lebih baik dibandingkan di sekolah dasar dahulu. Yaa.. ia hanya bisa berharap.
Ia bukanlah orang yang pandai bersosialisasi, canggung dan terkadang selalu salah bicara. Terlalu blak-blakan dan apa adanya. Terkadang ia mengutuk bibirnya yang tak bisa mengerem perkataan atau dirinya yang terlalu jujur. Karena itulah orang-orang selalu enggan berdekatan dengannya dan pergi dengan alasan tak nyaman. Menghela nafas berat, ingatannya kembali berputar saat ia masih berada di sekolah dasar.
Dulu saat ia masih berada di sekolah dasar para orang dewasa dan guru selalu memuji Sai di hadapan teman-temannya. Ia adalah contoh yang baik dan selalu dibangga-banggakan di depan kelas. Saat itu ia sangat menyukainya, perkataan wali kelas membuat ia buta dan tuli secara bersamaan. Senyumannya selalu melengkung lebar hingga kedua matanya menyipit. Rasa bahagia itu membuat ia tak peka. Semakin ia dipuji semakin jauh pula jarak antara ia dan teman-teman. Dan saat ia menyadarinya semua itu sudah terlambat.
Mereka membenci dirinya yang selalu dibanggakan.
"Ternyata rumor itu benar, kau si jenius itu kan?"
Sai mengulum senyum miris. Si jenius yang terlahir dengan bakat. Ingin rasanya ia tertawa dalam hati, menertawakan dirinya sendiri. Saat ia duduk di bangku kelas empat lukisannya masuk di jajaran pameran lukisan oleh usaha sang wali kelas. Orang yang membuatnya terjun lebih dalam ke dalam dunia abstrak dan orang yang membuat dirinya dibenci oleh seluruh teman sebayanya.
Orang-orang bilang ia sangat beruntung diberkati bakat melukis. Ia memang merasa beruntung tapi terkadang ia merasa kesepian.
Lukisan pertama yang ia buat dulu ditunjukan untuk Ibunya yang kini sudah tiada. sebuah potret ayah, ibu dan dirinya membuat sang ibu tersenyum pada saat terakhir. Ia tak pernah mengira lukisan sederhanya dapat membuat seseorang tersenyum dengan lebar seperti yang dilakukan ibunya. Saat itulah ia berfikir ingin membuat sebuah lukisan yang akan membuat seseorang tersenyum seperti yang dilakukan ibunya.
Ibunya adalah seorang penderita kanker dan ia selalu terlihat murung. Menghitung usia yang tak lagi panjang bukankah sangat menyakitkan. Putus asa akan hidup dan tak lagi dapat tersenyum dengan lepas. Tapi dengan satu lukisan yang ia buat saat itulah pertama kalinya ia melihat ibunya kembali tersenyum dengan lepas.
Ia ingin menggapai mereka.
...
Tahun pertama di sekolah menengah pertama Sai lewati dengan mudah. Guru pembimbing dirinya terlihat sangat optimis dengan bakat lukis yang ia miliki. Ia pun cukup populer di sekolahnya. Tapi enta h mengapa ia masih saja buruk dalam hal bersosialisasi. Ia bahkan tak banyak mengobrol dengan teman sekelasnya dan terkadang ia lupa dengan nama mereka. Saat ia mulai mengobrol beberapa temannya menjauh. Mereka tak suka dengan dirinya yang terlalu blak-blakkan dan menganggap jika ia menghina mereka karena ia berada diposisi yang berada di atas. Satu persatu dari mereka pergi dan ia tak dapat melakukan apapun.
Rasanya hampa, kosong.
Lalu seiring berjalannya waktu, tanpa ia sadari ia mulai terbiasa memasang senyum palsu setiap saat dan berhenti berbicara. Orang-orang lebih menyukai dirinya yang seperti itu dibandingkan ia yang terlalu jujur. Kalau itu yang disukai mereka maka ia akan membuat topeng yang sempurna untuk membodohi dirinya sendiri.
Melintasi koridor lantai dua dengan senyum samar. Untuk dirinya yang baru saja memenangkan sebuah lomba melukis tingkat sekolah menengah pertama membuat namanya semakin dikenal. Beberapa siswi bahkan nampak menyapanya dengan wajah yang memerah.
Sudut bibirnya melengkung, senyum palsu itu kembali tercetak. Ia dicintai dan teman-teman tak lagi menjauhinya, seharusnya semua rasa kesepiannya akan berakhir bukan?
…
Hujan turun di saat yang tak tepat. Sai merutuk, pandangannya menyisir setiap penjuru. Tak ada siapa pun kecuali dirinya diantara jajaran rak sepatu. Ia tak membawa payung hari ini dan dengan tepaksa menunggu hingga hujan berhenti.
Tap tap tap
Suara langkah kaki membuat pemuda bersurai hitam itu membalikkan tubuhnya, penasaran. Suara langkah kaki itu semakin keras dan ia kembali menatap rintikkan hujan yang menggenang. Rasanya canggung jika harus berpapasan dengan seseorang di saat seperti ini. Apa yang harus diucapkannya?
"Wooah hujannya deras sekali."
Sebuah suara, Sai menajamkan pendengaran dan menyadari suara itu sedikit nyaring. Seorang gadis jerit Sai dalam hati.
"Kau membuat telingaku berdengung Sakura."
Sai meneguk ludahnya dalam diam. Ia rasa ada dua orang yang kini ada di belakangnya, kemungkinan besar mereka melihat dirinya. Jantungnya mulai berpacu, ia mulai resah sekarang. Apa ia harus menyapa mereka. Lama ia berfikir sampai sebuah suara disampingnya membuat ia terlonjak kaget. Sejak kapan orang itu ada disampingnya.
"Menunggu seseorang?"
Saat ia menolehkan kepala ia mendapati seorang gadis berambut panjang tergerai dan sebuah maniks onyx hitam yang membuat ia terpaku. Degup jantungnya kian berpacu, apa ini. Apa ia mulai merasa canggung sekarang, tidak. Tidak untuk saat ini. Seseorang baru saja mengajaknya berbicara dan saat itu ia berusaha agar tak mengatakan kata-kata aneh. Ia tak ingin meninggalkan kesan buruk pada gadis itu. Sai meneguk ludahnya, tenggorokannya terasa kering sekarang.
"T –tidak, aku menunggu hujan reda." Jawabnya sembari mengulum senyum dipaksakan.
Hening. Seorang gadis berambut panjang yang mengajaknya berbicara terdiam dan kemudian mengulurkan tangannya. Sebuah payung polos berwarna biru telulur. Kedua alis Sai bertaut, gadis itu tak mengatakan apa pun.
Apa ini?
"Ambillah... "
Deg deg deg
"Ta –tapi ..."
Sai hendak menolak tapi gadis itu sudah dengan cepat membuat ia menggenggam payung itu. Belum sempat ia mengatakan sesuatu gadis itu berlalu bersama dengan temannya. Waktu terasa begitu cepat berlalu di bawah rintikkan hujan sosok gadis itu menghilang dan meninggalkannya sendiri dengan getaran aneh yang terus membuat ia tak nyaman.
Menggenggam erat payung di tangan kanannya. Mungkinkah ia jatuh cinta untuk pertama kalinya.
End of flasback
...
Sai membaringkan tubuhnya di atas kasur. Perasaan tak nyaman terus mengganggunya sedari tadi. Ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi beberapa saat lagi. Kedua matanya tertutup rapat dan satu nama yang terus mengganggunya teringat.
Uzumaki Naruto.
Ia pernah mendengar nama itu sebelumnya dan lagi tak terasa asing sama sekali. Apa mungkin ia satu sekolah dengannya tapi Uzumaki nama marga itu sama dengan kakak kelasnya sewaktu sekolah menengah pertama hingga saat ini.
Sai merogoh saku celana seragamnya dan mengambil sebuah foto yang ditemukannya di dalam buku diari Satsuki yang ditemukannya di ruang lukis tempo lalu. Ia sempat membacanya karena penasaran sebelum gadis itu menemukannya. Di dalam foto itu terdapat tiga orang dan hanya satu orang yang tak dikenalnya. Seorang pemuda gemuk berkaca mata yang berada ditengah-tengah Satsuki dan Sakura. Kemungkinan besar orang itulah Uzumaki Naruto yang disebutkan di diari itu.
Aku bukan orang yang terlalu peduli pada sekitarku –tapi untuk pertama kalinya aku jatuh cinta pada seseorang...Uzumaki Naruto. Bodoh.
"Tidak mungkin itu kau... Satsuki tidak mungkin menyukai orang sepertinya."
Kembali pemuda bersurai hitam menatap foto digenggaman tangannya. Senyuman pemuda gemuk itu benar-benar mengganggu. Orang seperti dirinya. Sai berdecak dan mengangkat tubuhnya dari atas kasur.
Dia menolakku. Uzumaki Naruto membenci keberadaanku yang akhir-akhir ini berada disekitarnya. Dia mengatakannya pada Suigetsu dan aku mendengarnya dari dalam kelas. Aku ingin menangis.
Kembali ia mengingat tulisan yang ada di dalam diari Satsuki dan saat itu ia menemukan satu foto yang tersimpan di dalam lipatan buku. Ia merasa marah, kesal dan cemburu. Foto di dalam genggaman tangan terkepal, ia berdiri dari atas kasur dan membuang foto itu ke dalam tong sampah.
Kepala Sai tertunduk pikirannya kini kacau. Ingatannya kembali berputar saat-saat dimana ia hacur. Tangan kanannya terangkat disana dibawah punggung tangan terdapat sebuah luka jahitan memanjang.
Ia hancur dan tak lagi bisa memandang ke depan. Saat dokter mengatakan ia tak akan bisa menggunakan tangan kanannya seperti sedia kala rasanya ia ingin mati saat itu juga. Tiba-tiba ia terbayang senyuman ibunya yang tiba-tiba mengabur, suara langkah kaki teman-temannya yang meninggalkan ia sendiri dan ia mendengar sebuah suara pelan seseorang yang mengatakan kata maaf berulang-ulang.
Gadis itu. Cinta pertamanya dan orang yang telah membuat impiannya hancur. Uchiha Satsuki menangis disampingnya dan akan melakukan apa saja untuk menebus segalanya. Yang terpikirkan olehnya saat itu adalah cinta. Meskipun itu palsu setidaknya sedikit ia menginginkan gadis itu berada disampingnya sedikit lama. Tapi gadis itu menolaknya dan mereka berteman pada akhirnya.
Uchiha Satsuki memberinya warna baru dan semakin lama waktu yang mereka habiskan bersama rasa cintanya semakin membesar. Di awal semester dua kelas tiga. Gadis itu menerima cintanya.
Kedua manik hitam Sai kembali terpejam. Ia tak ingin hubungan yang ia jalani selama hampir dua tahun ini hancur. Apapun yang terjadi Uzumaki Naruto tak akan ia biarkan merusak hubungannya.
...
Sejak hari dimana Naruto mengacuhkan Satsuki untuk pertama kalinya ia tak lagi bisa tidur dengan nyenyak setiap malam. Ia menjatuhkan kepalanya di atas meja, suara berisik dari para gadis di dalam kelas membuat moodnya semakin buruk.
"Ada apa denganmu hari ini, benar-benar suram."
Naruto mengangkat kepalanya dan mendapati Kiba yang kini sudah duduk di bangku samping Naruto. Malas berbicara akhirnya Naruto memutuskan kembali masuk ke dalam lamunannya. Dibandingkan dengan kesal dan benci entah mengapa rasa bersalah lebih dominan ia rasakan. Apa ia harus meminta maaf, tapi ia masih belum sanggup. Setiap melihat wajah Satsuki hatinya begitu nyeri.
Perkataan Ino tempo hari terus tergiang-ngiang. Apa dengan cara itu ia bisa mendapatkan Satsuki, ia sudah memikirkan hal itu cukup lama dan ia sudah memutuskan. Ia sudah melewati hari-hari dengan sulit untuk menjadi dirinya yang saat ini, jadi mana mungkin ia akan berhenti. Setidaknya biarkan ia menjadi egois sekali saja, ia juga ingin bahagia.
"Kiba..."
Pemuda bersurai coklat itu menolehkan kepalanya dan mendapati Naruto yang kini beralih menatapnya. "A –apa?"
"Kau tahu orang yang bernama Sai?"
Kening Kiba berkerut , "Dia anak kelas sebelah, dia cukup populer asal kau tahu. Kenapa memangnya?"
"Apa dia dekat dengan Satsuki?"
Nah, sekarang Kiba tahu akar dari pertanyaan Naruto. "Mereka sering terlihat bersama, dan juga ada gosip mereka sudah pacaran tapi itu cuma gosip yang beredar saja."
Naruto tertegun, ia berdiri dari kursinya dan pergi begitu saja meninggalkan Kiba yang kini sedang merutuki dirinya yang keceplosan bicara. Perasaannya kini campur aduk. Ia tak berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk belajar. Sepertinya ia akan kembali membolos hinnga perasaannya sedikit membaik.
Ia berjalan melintasi koridor yang masih ramai dan mengacuhkan para gadis cantik yang menyapanya. Ia kira ia sudah membuat image buruk disekitarnya tapi entah mengapa itu berakhir dengan baik.
"Kyyaa Uzumaki-kun keren."
"Kau lihat dia tadi.. tatapannya benar-benar dingin. Rasanya aku jatuh cinta."
Heh.
Pemuda bersurai pirang yang kini menjadi ikemen itu tertawa miris. Apa gunanya ia menjadi sangat tampan tapi tak bisa memiliki orang yang ia cintai bertahun-tahun.
"Ano.. Uzumaki-san."
Langkahnya terhenti. Seorang gadis berambut pirang dengan surai panjang menghampirinya. Kepalanya tertunduk dan pipi seputih porselen itu memerah lucu. Cantik. Itulah kesan pertama yang ia dapatkan dari gadis asing dihadapannya.
"Na –namaku Shion, dari kelas dua B.. nanti siang bisakah kita bertemu di taman belakang."
Naruto mengulum senyuman, "Tentu..."
Setelah acara perkenalan itu Naruto menghabiskan seluruh waktu jam pelajaran di atap. Melihat awan yang bergerak pelan dan akhirnya ia jatuh tertidur hingga bel istirahat berbunyi ia terbangun. Ia merengangkat otot tanganya yang kaku. Taman belakang saat jam istirahat. Naruto menghela nafas, hampir saja ia melupakan janjinya. Ia berdiri dan menepuk celana dari debu yang menempel. Ia harus menemui gadis itu sebelum kembali masuk ke kelas.
...
"A –aku meyukai Naruto semenjak pertama kali bertemu."
Naruto terdiam berusaha mencerna perkataan gadis yang kini sedang menyatakan perasaan padanya. Ia sedang berada di mood yang buruk saat ini.
Gadis bernama Shion itu menundukkan kepalanya tak berani menatap Naruto yang masih terdiam. Hingga sebuah suara membuat gadis itu mengangkat kepala.
"Maaf.. aku menyukai orang lain."
Naruto tersenyum tak enak melihat mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Ia berusaha menghiburnya tapi gadis itu berlari menjauh. Ia telah melukai perasaan gadis itu dan mood Naruto semakin memburuk karenanya.
Ia terdiam sebentar menyanderkan punggung pada dinding. Ia tak banyak melakukan apapun hari ini tapi rasanya benar-benar lelah.
Naruto berjalan meninggalkan taman belakang dengan rasa bersalah. Ia menatap sekeliling dan kedua bola matanya melebar. Tak jauh darinya ia melihat Satsuki dan Sakura yang tengah membawa buku paket. Kedua tangan pemuda bersurai pirang itu terkepal.
Rasanya sesak. Ia berlari menghampiri sumber rasa sakitnya.
"Satsukii!"
Teriakkannya mampu membuat beberapa pasang mata kini menatap ke arah dirinya sementara gadis yang disebutkan nama mebalikkan badan.
Sakura tertegun ia menatap laki-laki asing yang kini ada dihadapan dirinya dan Satsuki, tapi entah mengapa wajahnya terasa tak asing.
"Naruto.." Ucap Satsuki pelan.
Sakura yang mendengarnya membulatkan mata lucu,"Eeeeeh.. Kau, Naruto? Naruto yang dulu sekelas denganku?"
Naruto menggaruk kepala belakangnya melihat tatapan tak percaya yang diberikan Sakura padanya. "Ya.. " Ucap Naruto dan kemudian kembali menatap Satsuki yang kelihatan tak nyaman melihat orang-orang yang menatap ke arah mereka saat ini tapi Naruto tak peduli.
"Kita perlu bicara."
"Aku sedang sibuk, lain kali saja."
Mendegar penolakan halus dari Satsuki membuat emosi pemuda itu semakin tak bisa ia tahan. "Aku hanya ingin bicara denganmu, apa masalahnya."
Nada suara Naruto semakin meninggi dan mengundang banyak pasang mata yang menatap penasaran pada mereka saat ini. Tak ingin semuanya berakhir buruk gadis itu membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi. "Aku.. sibuk."
Naruto yang merasa diacuhkan langsung meraih lengan gadis itu kasar, menariknya hingga buku-buku yang dibawanya jatuh berserakan.
Sakura yang ada ditengah-tengah keduanya hanya memekik kaget sementara Satsuki mematung, terlalu terkejut. Kini mereka bertiga menjadi sorotan semua orang.
"Kenapa... apa perasaanku padamu itu tak berarti."
Satsuki mengangkat kepalanya dan mendapati kedua mata Naruto yang memerah. Cengkraman di lengannya juga semakin mengerat.
"Aku menyukaimu... dan bagiku perasaan itu sangat berarti.."
Gadis itu tersentak dan menatap sekeliling. Tidak. Ia tak ingin seperti ini. Perkataan Naruto sama sekali tak menyentuhnya, ia merasa cemas dan tak bisa mendengarkan apapun yang dicapkan Naruto pada dirinya. Ia tak ingin Sai melihat ia yang seperti ini atau mendengar gosip yang beredar diantara dirinya dan Naruto, ia tak ingin melihat orang yang menjaganya selama dua tahun ini terluka. Cukup ia menghancurkan impian pemuda itu, ia tak ingin melihat pemuda itu hancur kembali terlebih oleh dirinya.
"Lepas.. " Ia berbisik, kedua matanya memberat. Sementara Naruto yang mendengar bisikan lirih itu semakin terluka. Apa perkataannya kurang jelas untuk Satsuki lalu ia pun langsung menarik lengan gadis itu.
Perlakuan tiba-tiba Naruto membuat Satsuki semakin memberontak, "Naruto, lepas!"
Naruto menulikan pendengarannya, ia terus membawa gadis itu pergi sebelum langkahnya terhenti oleh pemuda bersurai hitam yang kini menatapnya tajam.
"Ia sudah bilang berhenti, kau tak bisa memaksanya sialan!"
Buuk
Sai yang baru saja lewat dan melihat Satsuki yang ditarik paksa oleh orang yang tak dikenalnya langsung memukul pemuda brengsek yang menyeret kekasihnya itu.
"Kau yang bernama Sai heh, kebetulan sekali aku memang sedang ingin menghajar seseorang."
Setelahnya adu pukul pun terjadi, tak ada yang ingin mengalah baik itu Sai ataupun Naruto.
Ini semua karenanya, Satsuki yang berasa diantara keduanya menyalahkan dirinya sendiri. Sai terlihat kepayahan melawan Naruto dan itu semakin membuat Satsuki semakin cemas. Tidak. Untuk kedua kalinya Sai akan terluka dan semua itu karena ia.
"Hentikan, kalian berdua..." Gadis itu memberanikan diri melerai keduanya.
Buuk
Naruto terjungkal kebelakang, sudut bibirnya robek Satsuki yang melihatnya memekik. Tidak. Ia juga tak ingin melihat Naruto terluka. Satsuki berlari ia tak ingin satu pun dari keduanya terluka.
Sai yang melihat Naruto lengah langsung melayangkan pukulannya kembali tapi kedua bola matanya membulat saat Satsuki berlari dan kini menjadi tameng pemuda bersurai pirang itu.
Buuuk
Tubuh gadis itu jatuh menghantam tanah. Sai tertegun berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi sementara Naruto menangkap tubuh Satsuki.
"h –hei, Satsuki..."
Pipi gadis itu membiru, Naruto menepuk pipinya lembut tapi kedua mata gadis itu tetap terpejam dengan rapat. Jangan bercanda. Giginya bergemelutuk menahan amarah. "Sialan!" Ia mengumpat dan membawa gadis itu dalam gendongannya meninggalkan Sai yang masih terlihat terkejut.
Tap tap tap
"Minggir sialan!"
Disepanjang jalan itu Naruto terus memaki, orang-orang yang menatap mereka, Sai yang memukul Satsuki dan kepada dirinya yang secara tak langsung membuat gadis itus terluka.
Maaf.
TBC
Balasan Review:
Muhammad Ramadhan630: ini wordnya sudah ditambah sedikit, semoga suka , Hiraku Makoto: terimakasih , iya ada salah pengetikan di ch itu belum diperbaiki hhehe. Ini next chapnya semoga suka, Speel Caster. 666: Iya, cinta memang rumit :D, saya juga suka bagian Satsuki yang masih setia sama Sai walau Naruto cinta lamanya #tos, terimakasih untuk sarannya. Wordnya udah ditambahin tapi sedikit... sedikit ya hhehe #plaaak, Hwang635: ini sudah lanjut,saya juga suka liat interaksi diantara mereka.. jadi pengen ganti pair(bercanda) hhaha, natasya agustine 12: ini udah update maaf terlalu lama hhehe semoga suka, Ryuuki Namikaze Luifer: ini sudah lanjut, sama2.. terimakasih juga semangatnya ^^, Habibah 794: ini udah saya tulis flashbacknya walau belum semua biar penasaran hhehe buat NaruIno mungkin akan terlihat di ch depan. Oke Ganbatte ^^, guestny guest: Bakal banyak moment NaruIno nanti.fahri: iya jadian sama Satsuki, Pendy: pairnya tetap yang awal kok Hades: ini sudah lanjut, AplahaKiller- Leon: iya cinta segiempat
Sebenarnya saya masih sakit dan belum sembuh tapi karena hari libur sampai pertengahan bulan, kapan lagi bisa santai. Oh ya akhir-akhir saya suka menonton flim2 yang dimainkan sama bang Koike Teppei. Lagi cari flim KIDS tapi ngga nemu2 link downloadnya TT kayaknya itu flim sedih banget. Baper... terus kebayang. Nasib.
Terimakasih sudah membaca, memfav, follow terlebih untuk yang mereview fic ini dengan kalimat panjang. Saya benar-benar senang. Sampai jumpa di chapter berikutnya.
