mamoru.
Genre : Romance, and Drama
Pair : NamJin, KookJin, and slight SoPe
Rate : M
Warning : BrotherComplex, Little Incest
Disclaimer : The characters are not mine. I have not own anything except this story and idea.
(part nine : another ordinary day)
Kekhawatiran Namjoon terulang, ia baru saja mendengar kata-kata, atau lebih tepatnya kalimat suruhan dari mulut Jimin. Ia memang tak bisa menolak permintaan adiknya itu, namun dirinya juga memiliki batas. Walau ia tahu persis, batas macam apa 'pun itu tak berlaku untuk Jimin, jika Namjoon berani menolaknya, ia akan terus menerornya hingga kakak angkatnya itu mau memenuhi permintaannya.
"Challenge macam apa itu?" Sebelah alis Namjoon naik, ia tak berani melirik bahkan menatap Seokjin untuk melihat reaksinya yang kini duduk tepat disebelahnya. Mau ditaruh dimana wajahnya kalau sampai ia mau untuk melakukan tantangan yang Jimin berikan, lagi pula ini hanya untuk sebuah konten dari aplikasi berbasis video online yang dapat ditonton semua orang, Namjoon memutuskan, ia akan menjauhkan adiknya itu dari internet.
"Kurasa ini menarik." Namjoon sontak menoleh pada Seokjin yang baru saja mengatakan hal yang diluar ekspektasinya, menarik katanya? Ia memandang tak percaya pada Seokjin yang tersenyum ceria seraya memberikan tepuk tangan kecil sebagai tanda kalau ia excited. "Kami akan memenangkan challenge ini, benarkan Namjoon-ah?" Seokjin menoleh padanya dan Namjoon langsung membuang muka, ia masih shock akan reaksi Seokjin, ia mengira bahwa pria yang lebih tua darinya itu akan langsung menolak permintaan Jimin. "Namjoon-ah?"
"Ayolah hyung~" Jimin merajuk, ia sedikit menghentakan kakinya sebagai tanda protes akan sikap Namjoon yang tak sejalan dengannya, "Kalau kalian menang, aku akan memberi hadiah spesial." Apa 'pun yang Jimin tawarkan, Namjoon sama sekali tak tertarik. Ia hanya melirik adiknya itu, dan dengan gerakan yang pelan, Namjoon berusaha menatap wajah Seokjin yang terus memandanginya dengan bola mata yang begitu bulat dan menggemaskan, membuat jantungnya tak mau diam.
"Kalian 'kan pasangan yang sudah menikah, pasti sudah tidak canggung lagi." Jimin membuat gerakan menggoda dengan kedua alisnya yang ia naik dan turunkan, senyum lebar mengembang di bibir penuhnya, dagunya terangkat seolah menantang pasangan yang ada di hadapannya. "Kalian pasti sudah sering berciuman, masa' hanya ditantang untuk mencium Seokjin hyung selama sepuluh menit saja kau tak sanggup, Namjoonie hyung~" Namjoon sangat tahu, Jimin itu ular. Ia tidak akan pulang sebelum keinginannya terpenuhi, Namjoon yakin, yang Jimin pinta sekarang ini bukan hanya sekedar konten YouTube atau mencari viewers dan subscribers saja, ada maksud lain dibalik semua rencananya.
"Oke, oke." Satu helaan nafas berat Namjoon keluarkan, ia memberanikan diri untuk merangkul Seokjin walau agak sedikit canggung, "Harus 'kah aku sikat gigi dulu?" Namjoon bertanya, entah pada siapa, ia tak berani menatap langsung mata Seokjin, dan hanya mampu melihat alis tegasnya dan rambut depannya yang terbelah, memperlihatkan betapa indahnya kening pasangannya itu.
"Tidak usah, kita sudah tak punya banyak waktu." Ucap Jimin, Namjoon membayangkan ada sepasang tanduk dan ekor tak kasat mata padanya, ia kembali menghela nafas, namun hembusan udara yang keluar dari mulut dan hidungnya seolah tercekat saat Seokjin bergerak mendekat ke arahnya.
"Hyung, kau yakin?" Namjoon bertanya, setengah berbisik, ia menelan ludah saat pandangannya beralih ke belah bibir milik Seokjin yang masih menyunggingkan senyum, jatunhnya makin berdebar saat ia melihat Seokjin yang mengangguk pelan dengan kedua mata yang setengah terpejam. 10 menit berciuman dengan Seokjin sama dengan 10 menit berada di Nirwana. Namjoon sudah pernah menciumnya, dan ia dapat merasakan usapan lembut dari bibirnya yang manis saat itu.
"Buat 'lah posisi kalian senyaman mungkin," Jimin memberikan instruksi, ia sudah siap dengan kameranya yang memang sudah merekam mereka sejak ia memberikan penjelasan mengenai challenge itu, "Namjoon hyung, jangan terlalu tegang begitu." Bahu Namjoon yang tadinya kaku, ia lemaskan sedikit. Namjoon berdeham sebelum kemudian meraih punggung Seokjin dengan sebelah tangannya seolah sedang memeluknya, dan kedua tangan Seokjin ada di pinggangnya, setelah dirasa sudah nyaman, ia mengangguk pada Jimin, "Oke, satu, dua, tiga."
Ciuman itu dimulai dengan sedikit kecupan kecil, lembut, dan tak memaksa. Seokjin hampir memejamkan matanya saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Namjoon, basah namun juga memberikan sensasi hangat saat suaminya itu memberikan lumatan kecil, Seokjin sedikit mencubit pinggangnya, mereka tidak bisa melakukan ciuman 'panas' di depan kamera seperti ini, setidaknya tidak sekarang. Namjoon sedikit terbawa suasana saat merasakan manisnya bibir penuh Seokjin, ia hampir membawa ciuman yang seharusnya innocent ini menjadi lebih liar jika Seokjin tidak mencubitnya. Hampir saja rating yang seharusnya PG menjadi R.
Terdengar suara kikikan aneh dari Jimin yang berusaha menahan tawa dengan menutup mulutnya sendiri dengan sebelah tangan, ia berbisik, "Kalian boleh mengobrol selama berciuman, sudah satu menit kok." Sisa 9 menit lagi. Namjoon mau 'pun Seokjin tidak tahu apa yang harus mereka lakukan saat berciuman, mengobrol? Sepertinya itu ide yang aneh namun patut untuk dicoba.
"Hyun', men' s'r'pan b'sok ap'?" (Hyung, menu sarapan besok apa?) Namjoon memberikan inisiatif pada isi obrolan mereka, ia benar-benar mengatakan sesuatu yang memang terlintas begitu saja dalam benaknya.
"Om'et." (Omelete) Dengan sedikit menahan tawa, Seokjin menjawabnya. Nafasnya menggelitik pipi Namjoon, terdengar Jimin yang berkata bahwa ciuman yang mereka lakukan sudah berlanjut hingga menit ke dua, sisa 8 menit lagi.
"O'hmm, ay' m'kan si'ng be's'hmm." (Ok, ayo makan siang bersama.) Kini, mereka sudah terbiasa, bibir Namjoon sengaja mengapit bibir bawah Seokjin saat ia bicara, rasa cherry dapat ia kecap diantara ciuman bercampur obrolan yang sedang mereka lakukan.
"S'bw'y?" (Subway?) Tanya Seokjin, mereka selalu makan siang di Subway, dan sejujurnya ia sudah bosan, ia lebih memilih untuk makan di restoran yang menjual mare atau budae jjigae. Namjoon menggeleng untuk memberi jawaban, membuat bibir mereka bergesekan dengan gerakan lembut, rasa anggur dari bibir Namjoon bercampur dengan rasa cherry milik bibir penuh Seokjin.
"Jj'ngm'yn." (Jjangmyeon) Namjoon merasakan bibir Seokjin yang membuat lengkungan tipis, ia turut senang karena ia rasa Seokjin menyetujui ide makan siang mereka. Dan sebagai hadiah-nya, tanpa di duga oleh Namjoon, Seokjin memberikan gigitan kecil diantara ciuman mereka. Jimin mengkonfirmasi kalau mereka telah menghabiskan menit ke empat, leher Seokjin yang sejak tadi condong ke arah Namjoon mulai pegal, ia mengalungkan kedua tangannya di leher Namjoon dan menariknya dengan lembut.
"Ak' peg'l." (Aku pegal.) Keluh Seokjin, agar membuatnya imbang, Namjoon meraih pinggang Seokjin yang ternyata lebih ramping dan kecil dari dugaannya, ia tersenyum dibuatnya, Namjoon sungguh menikmati posisi mereka saat ini.
"5 menit lagi, hyung, cobalah mengobrol hal yang romantis seperti rencana masa depan, contohnya, berapa anak yang ingin kalian punya kelak?" Setelah satu menit mereka habiskan dengan berdiam diri, menikmati sentuhan dan sensasi baru dari ciuman mereka, Jimin memberikan arahan agar arah ciuman yang Seokjin dan Namjoon lakukan tak terkesan monoton.
"Any'k?" (Anak?) Seokjin sedikit melirik ke arah Jimin saat adik iparnya itu memberikan ide tentang obrolan yang harus ia jalin bersama Namjoon, dapan dirasakan pria yang sedang menciumnya hanya menyendikkan bahu.
"K't' m'sh tr'l'lu mm'da unt'k pn'y any'k." (Kita masih terlalu muda untuk punya anak.) Jawab Namjoon, kini rahangnya mulai pehal, ia sedikit mengatup kemudian membuka mulutnya agar rahang dan dagunya tidak pegal dan tak sengaja membuat bibirnya menggesek lembut bibir Seokjin dengan gerakan ke atas dan ke bawah.
"T'ga." (Tiga) Seokjin turut menjawab, tangannya yang semua melingkar di leher Namjoon, kini berpindah untuk menangkup rahang tegas suaminya dan memijatnya dengan menggunakan jemarinya. Namjoon mengangguk setuju, tiga anak? Oke, di masa depan nanti mereka akan punya tiga, ia dapat membayangkan langkah kaki kecil dari anak mereka yang meramaikan rumah ini dan membuat warna dalam hidupnya lebih sempurna kelak.
Sudah berlangsung delapan menit dan Seokjin mulai merasakan otot di wajah, terutama di sekitar bibirnya pegal, Namjoon 'pun sama, sesaat kemudian Seokjin terhuyung dan hampir melepas tautan bibir mereka dengan tak sengaja, untuk itu sebelah tangan Namjoon yang tadinya berada di pinggang kiri Seokjin bergerak untuk meraih belakang kepalanya, rambut hitam nan halus milik Seokjin tersemat disela jemari panjangnya. "Uhhn.." Keluh Seokjin yang mulai memejamkan matanya. Namjoon menganggap bahwa keluh dan rengekan kecil Seokjin begitu imut. Ia seperti seorang bayi.
Kaki Seokjin ikut pegal karena posisinya yang miring seraya berciuman, ia mengangkatnya dan menaruh kedua kakinya diatas paha Namjoon, layaknya ia duduk dalam pangkuan suaminya.
"Sabar hyung, satu menit lagi." Jimin memberikan ucapan penyemangat, ia melihat stop watch di layar smartphone-nya dengan senyum puas, "Kuhitung mundur ya, 10, 9, 8." Disela hitung mundur yang Jimin ucapkan, Namjoon segera melumat bibir yang memang telah basah sempurna itu dengan gerakan terburu-buru, membuat desahan kecil keluar dari sela bibir plump yang sudah merah dan bengkak itu, sama dengan miliknya. "4, 3, 2, 1. Selamat! Kalian berhasil!" Dan tautan bibir itu terlepas dengan satu hentakan kecil hingga bunyi 'cup' dapat terdengar jelas.
Seokjin menyeka saliva yang turun dari bibir hingga dagunya dengan lengan baju yang ia kenakan, Namjoon 'pun sama, ia menyeka saliva didahunya dengan ibu jari setelah menjilat bibir bawahnya yang memang sudah bengkak dan basah. Jimin menepuk dahinya, ia tak menyangka bahwa tantangan yang ia berikan tak berakhir dengan seharusnya, "Ternyata diluar dugaanku, kalian cukup liar ya? Aku harus mengedit bagian akhirnya." Keluhnya dibalas tawa oleh Seokjin yang tengah membantu menyeka saliva sisa ciuman mereka di bawah bibir Namjoon dengan lengan bajunya yang sebelumnya ia gunakan untuk dirinya. Wajahnya sudah semerah delima, hingga menjalar ke telinganya.
"Kami sudah menang, mana hadiahnya?" Namjoon menagih janji Jimin, dalam hati ia mensyukuri keputusannya untuk menuruti kemauan adiknya, kecanggungan yang semula masih ada kini perlahan berganti menjadi rasa nyaman, sejujurnya, setelah ciuman pertama mereka di altar, Namjoon takut untuk mencium Seokjin lagi, memang sekarang mereka telah setuju untuk menjalin hubungan diluar kontrak pernikahan mereka, tapi setelah sadar akan apa yang ia rasakan pada Seokjin, Namjoon semakin sulit untuk berdekatan dengan pria yang telah ia nikahi itu karena jantungnya seolah berontak dan hendak keluar saat menyentuhnya.
Tapi setelah tantangan 10 menit ciuman ini, Namjoon rasa, sekarang ia tak perlu berdebat dengan diri sendiri untuk selalu ada di dekat Seokjin dan menyentuhnya, lagi pula, Seokjin juga menginginkannya.
"Aku beri kalian ini, selamat ya. Tunggu hasil dari videonya akhir bulan nanti, aku juga akan memberikan tantangan ini pada Hoseokie hyung dan Yoongi hyung." Namjoon dan Seokjin menerima masing-masing satu amplop, entah apa isinya, Namjoon menerawang, mungkin uang, sekitar ada tiga lembar di dalamnya. Ia tertawa dibuatnya.
"Kau tak akan berhasil, mereka akan langsung menolak." Ucap Namjoon yang masih menerawang isi amplop yang Jimin berikan sebagai reward karena mereka berhasil memenangkan tantangan yang ia berikan.
"Hoseok dan Yoongi berpacaran?" Tanya Seokjin, ia masih harus mengenal lebih jauh teman-teman Namjoon karena ia sama sekali tak menyangka jika Yoongi berpacaran dengan Hoseok.
"Mereka saling suka, tapi mereka sendiri tak menyadarinya." Namjoon menjawab dengan santai, ia menyobek ujung amplop itu dan melihat isi dari dalamnya dan melihat selembar kertas yang ternyata di lipat tiga bagian. "Apa ini?" Ia membuka lembaran kertas yang berisi tulisan, 'Park Jimin, Youtuber nomor satu di Korea Selatan, merayakan satu juta subscriber di empat minggu debutnya', lengkap dengan tanda tangan di tengah tulisan yang dibuat mengelilingi tanda tangan milik Jimin sendiri itu.
"Uh? Apa maksudnya ini?" Namjoon menyeritkan dahinya, dan Seokjin mentertawai isi dari kertas tersebut hingga suara yang ia timbulkan mirip kaca mobil yang sedang di-lap. "Reward macam apa ini?" Protes Namjoon, lagi.
Jimin cemberut, ia merapikan peralatan merekamnya dan berkata, "Kalau aku sudah terkenal dan mendapat daimond button, tanda tanganku bisa dilelang dengan harga satu juta won, tahu!" Ia bertolak pinggang, tidak terima pada Namjoon yang seolah menganggap apa yang ia berikan itu hanya omong kosong belaka.
mamoru.
Hari ini, hanya ada Yoongi dan dirinya, Hoseok kembali sibuk dan ia tak bisa datang ke studio musik tempat mereka berkerja paruh waktu, Namjoon duduk diam dengan kedua matanya yang terus terpaku ke layar komputer, dagunya ia topang dengan sebelah tangan, sesekali jari telunjuknya mengetuk pipi. Ia melirik jurnal biru yang tergeletak di dekat keyboard, memandanginya sebentar sebelum kembali memusatkan konsentrasinya pada bait melodi yang ia coba cocokan. Yoongi yang duduk tak jauh darinya juga terlihat sama sibuknya, mereka hanya mendiskusikan proyek ini berdua, jika ada Hoseok, mungkin pekerjaan mereka akan selesai lebih cepat.
Handphone Namjoon bergetar, melihat nama Jimin dalam kolom peberitahuan pesan singkatnya, ia memberitahu hyung-nya kalau video tentang '10 minutes kiss challenge' akan ia rilis malam ini, senyum Namjoon tersungging tipis karenanya, ia membalas dengan kata-kata penyemangat, dan melihat jam yang tertera di pojok kiri atas pada layar ponselnya yang sedikit retak, ia baru mengetahui bahwa dirinya sudah berkerja lewat jam malamnya. Namjoon memutuskan untuk mengirim pesan singkat pada Seokjin kalau dirinya akan pulang terlambat lagi.
"Namjoon, apa menurutmu ini sudah bagus?" Yoongi memecah keheningan, speaker di dalam ruangan kedap suara itu mengeluarkan alunan melodi yang sudah beberapa hari ini mereka buat-rombak-evaluasi namun sepertinya masih ada yang kurang.
"Menurutku terlalu berlebihan disini, vocalnya akan tidak menonjol bila tune itu tetap di bagian ini." Namjoon menujuk bagian yang menurutnya kurang pas, Yoongi mengamini pendapatnya tapi ia ragu, mereka butuh Hoseok karena ia 'lah yang membuat bagian dari melodi tersebut. "Kita butuh Hoseok, kemana ia belakangan ini? Diskusi panitia acara tak akan memakan waktu selama ini." Keluh Namjoon, ia berusaha bersikap jika memang tak ada sesuatu yang terjadi di antara mereka, tapi Namjoon tahu betul bahwa Hoseok tidak pintar berbohong. Entah apa kesalahannya, tapi kelihatan sekali bahwa Hoseok tengah menjauhinya. Jika hal ini bersifat pribadi, Namjoon harap, ia dapat memperbaiki pertemanan mereka kembali, namun setidaknya Hoseok tidak harus membawa hal pribadi dalam pekerjaan mereka, begitu 'lah yang Namjoon pikirkan.
"Hyung, kalian menghabiskan waktu bersama lebih lama, apa kau memang tidak tahu sama sekali kenapa Hoseok menjauhiku?" Namjoon yakin bahwa Yoongi mengetahui semuanya, tapi sahabatnya itu sama sekali tak memberikan titik terang sama sekali tentang sikap Hoseok padanya belakangan ini. Yoongi hanya menjawab, 'Itu hanya perasaanmu saja.' atau bertanya balik padanya, 'Dia memang sedang sibuk 'kan?'
"Dia tidak menjauhimu," Yoongi memberikan jawabannya, ia menyesap ice americano tanpa menggunakan sedotan dan kembali fokus pada layar komputer di hadapannya, "dia hanya terlalu sibuk hingga tak mampu meluangkan waktu bersama kita, nanti juga akan 'normal' lagi, tenang saja." Klise, Namjoon sudah memikirkan hal ini sepanjang waktu, tapi yang bersangkutan atau 'pun Yoongi yang notabene adalah teman satu apartemennya tidak memberikan jawaban yang jelas. Namjoon sudah bertanya langsung, tapi Hoseok juga menjawab hal yang sama, awalnya ia percaya, tapi akhir-akhir ini kelihatan jelas bahwa salah satu sahabatnya itu menjauh darinya, Hoseok bahkan tak mengindahkan pesan atau panggilan yang ia lakukan beberapa jam lalu.
"Aku hampir lupa," Yoongi memecah lamunannya, pria mungil itu memutar kursinya agar dirinya dapat menghadap pada Namjoon, "ada yang mau kutanyakan," kening Namjoon berkerut, ia memandang Yoongi dengan tatapan penasarannya, "apa Sowon pernah memberi kabar lagi padamu?" Jujur saja Namjoon cukup terkejut dengan pertanyaan Yoongi.
Akhir-akhir ini Namjoon hampir melupakan nama itu, nama seseorang yang dulu pernah mengisi ruang di hatinya, dahulu ia belum siap untuk mendengar nama itu lagi setelah apa yang ia perjuangkan untuk wanita itu ternyata tidak berhasil dan meninggalkan luka di hati mereka. Namjoon terdiam, sekarang semua telah berbeda, ia merasakan bahwa kini posisi wanita cantik itu dalam hati Namjoon perlahan-lahan telah terganti oleh orang lain.
Senyum simpul Namjoon sunggingkan, ia menggeleng seraya berkata, "Tidak, mengapa mendadak menanyakan soal Sowon?" Yoongi hanya menatapnya dengan ekspresi datarnya yang biasa, mulutnya terbuka untuk sesaat mengatup kembali, Namjoon menunggunya menjawab, dan Yoongi terdiam cukup lama, ia tak memiliki petunjuk tentang apa yang hendak Yoongi sampaikan mengenai Sowon.
"Kudengar ia akan kembali tinggal di Seoul." Sesungguhnya Yoongi hendak menyampaikan pada pemuda dihadapannya mengenai apa yang Sowon alami, hingga ia ingat satu hal, bahwa dirinya dan Hoseok telah berjanji untuk merahasiakan hal ini dari Namjoon. Jika Namjoon tahu apa yang sebenarnya terjadi, mungkin hal itu akan membuat Namjoon mengingat kembali masa lalunya dan yang lebih buruk dari itu adalah kehancuran dari hubungan Namjoon dan Seokjin. Yoongi memilih untuk menepati janjinya.
"Ah? Begitu 'kah? Mengapa?" Namjoon tampak penasaran, meskipun begitu ekspresi di wajahnya mengatakan kalau ia biasa saja dengan informasi ini, jika yang di hadapan Yoongi saat ini adalah Namjoon yang 'dulu', mungkin ia akan langsung menghubungi Sowon dan menjemputnya, saat itu Yoongi kembali tersadar, jurnal biru yang selalu Namjoon bawa dahulu sudah tak pernah ia buka lagi, mungkin Namjoon sudah move on sepenuhnya.
"Keputusan keluarga, kudengar ia dan tunangannya memutuskan untuk menikah di tempat Sowon dilahirkan." Namjoon mengangguk sebagai tanggapan bahwa ia mengerti, tak heran baginya jika Sowon lebih memilih untuk memberi tahu tentang kepindahan dan rencana pernikahannya ini pada Yoongi atau Hoseok dibanding dirinya, ia tahu Sowon, ia tahu bahwa wanita itu tidak mampu untuk menghubungi dirinya walaupun hanya sekedar memberi kabar, sama halnya dengan Namjoon, ia tak mengundang Sowon ke pernikahannya saat itu, namun ia lupa bahwa orang tua mereka bersahabat, dan Sowon pasti datang bersama dengan tuanangan dan ayahnya.
"Mungkin setelah ia tinggal disini kita bisa memperbaiki semuanya dan berteman lagi, kita berlima, kau, aku, Hoseokie, Jimin dan Sowon. Sama seperti dulu." Namjoon berucap tentang angannya saat terbayang kenangan masa lalu mereka berlima saat masih duduk dibangku sekolah menengah, sebenarnya Jimin, Namjoon dan Sowon sudah bersahabat sejak mereka kecil dan banyak menghabiskan waktu bersama-sama. Hingga mereka beranjak remaja, tumbuh perasaan dalam diri Namjoon untuk sahabat semasa kecilnya itu, dan ia juga tahu bahwa Sowon memiliki perasaan yang sama dengannya.
Namjoon selalu menulis lirik lagu tentangnya, membayangkan kisah kasih mereka akan berlangsung selamanya namun takdir berkata lain. Ayah Sowon memisahkan mereka dengan paksa, ia telah memilih masa depan untuk putrinya yang tentunya akan lebih terjamin dalam rengkuhan seorang pria yang Namjoon anggap sebagai pria yang beruntung memiliki Sowon. Ayah Sowon tak merestui hubungan mereka karena beliau tak melihat masa depan yang cerah bila Sowon berakhir bersamanya yang hanya seorang anak angkat, setidaknya, begitu 'lah yang pria paruh baya itu katakan padanya sebelum akhirnya mereka pindah ke Amerika. Orang tua angkat Namjoon mengetahui hal ini, namun mereka tak berbuat apa 'pun. Untuk itu Namjoon memutuskan bahwa dirinya harus menyerah.
Bayangan masa lalu itu membuat Namjoon tersenyum pahit, ia membuat wanita yang ia cintai akhrinya malah menderita karena cintanya, seharusnya ia memendam semua perasaannya pada Sowon dan membiarkannya jatuh cinta pada pria lain, bukan dengannya. Tapi itu beberapa tahun yang lalu, sekarang semua telah berbeda, mereka memiliki masa depan masing-masing.
"Kau yakin kita bisa seperti dulu lagi?" Yoongi membisikan kata yang mampu membuat Namjoon menatapnya dengan pandangan terkejut, "Maksudku, setelah apa yang kalian alami dulu, pria tua itu tak akan mengijinkan kalian bertemu lagi." Ucap Yoongi seraya memainkan ujung lengan sweater-nya, wajar bila ia berkata demikian karena saat Namjoon dilecehkan dengan kata-kata tak pantas dari ayah Sowon, Yoongi ada disana, membelanya, Namjoon tersenyum lembut jika mengingatnya.
"Hyung, aku sudah menikah, itu artinya keberadaanku sudah tak 'mengancam' hubungan Sowon dan tunangannya, lagi pula mereka datang saat pernikahanku." Namjoon memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya saat berkata demikian. Sebelum pernikahannya dengan Seokjin berlangsung, ia, Yoongi dan Hoseok memang sempat bertemu Sowon di Seoul saat wanita itu berlibur bersama temannya. Mereka memang hanya bertegur sapa, dan berbincang mengenai hal-hal klise. Dan hal itu membuat Namjoon percaya diri bahwa akan mudah nantinya bila mereka bertemu lagi dan memulai hubungan mereka sebagai sahabat kembali.
"Ok, kalau begitu, saat Sowon sudah disini, kita sapa ia kembali." Yoongi berkata, dalam hati ia berdoa, agar keputusannya memberi-tahu tentang kedatangan Sowon adalah hal yang benar demi menyelamatkannya dari hidupnya yang kini dikendalikan oleh ayahnya sendiri. Yoongi yakin, Namjoon dapat memantunya bebas.
mamoru.
"Oppa, aku sudah tiba di Seoul."
Hoseok menerima pesan itu pukul tiga pagi, ia memakai mantelnya kemudian sebelum pergi, ia menuju kamar Yoongi dan menatap pria yang sedang terlelap pulas itu dari pintu yang sedikit terbuka, senyumnya mengembang ketika melihat wajah damai pria itu, "Hyung, aku pergi sebentar." Bisiknya, ia hendak masuk ke dalam namun gerakannya terhenti, dan akhirnya Hoseok memutuskan untuk beranjak lalu menutup pintu kamar Yoongi perlahan-lahan sebelum akhirnya berangkat menuju bandara.
Tak butuh waktu lama bagi Hoseok untuk tiba di bandara karena pada jam tiga pagi, jalan besar di Incheon masih sepi. Ia segera mencari Sowon di dekat pintu kedatangan, hingga akhirnya wajah yang begitu familiar baginya itu muncul, paras cantik Sowon tak lekang oleh waktu meksipun ia terlihat begitu lelah, namun senyum yang mengembang manis di bibirnya menandakan bahwa ia senang karena dirinya bisa lepas dari jeratan sang ayah, setidaknya untuk sementara waktu.
"Kau tak apa-apa?" Hoseok menyapanya, ia menyadari sesuatu yang membuat Sowon sedikit berbeda, ia merasa bahwa sahabat lamanya ini semakin kurus dan letih, Sowon yang dulu adalah gadis periang dan penuh semangat, dan sekarang ia tumbuh menjadi wanita yang anggun, sayangnya, raut kesedihan yang terpatri di wajahnya yang begitu cantik membuatnya nampak tak bahagia, keceriaannya yang dulu hilang begitu saja.
"Oppa, aku baik-baik saja sekarang, maaf telah membuatmu khawatir." Sowon kembali tersenyum, mereka berjalan menuju tempat dimana mobil Hoseok terparkir, "Bagaimana kabar Yoongi oppa?" Hoseok membukakannya pintu setelah ia menaruh koper besar milik Sowon di bagasi belakang.
"Ia baik-baik saja, sama seperti dulu, grumpy dan suka tidur, maaf ia tak bisa ikut menjemputmu karena aku tak tega untuk membangunkannya." Kata-kata Hoseok membuat Sowon tersenyum geli, mereka berdua memakai sabuk penganaman, sebelum akhirnya mobil yang membawa mereka melaju ke tempat Sowon menginap. Selama perjalanan mereka berbincang, tentang Jimin dan akun Youtube-nya yang mendadak viral dan ternyata Sowon juga sering menontonnya, Hoseok sengaja membawa topik yang ringan dalam pembicaraan mereka dan tak menanyakan dulu apa yang sebenarnya terjadi padanya, ia tahu Sowon lelah dan dirinya akan menanyakan hal itu saat Sowon sendiri yang akhirnya memutuskan untuk bercerita.
Hoseok tertawa saat mereka membicarakan tentang video reaksi film horror yang Jimin buat dengan teman kampusnya, kemudian ia bertanya di sela tawanya, "Jiminnie membuat video spesial Valentine, aku belum menontonnya, bagaimana denganmu?"
Wajah Sowon berubah kelabu. Ia sudah melihat video terbaru dengan judul '10 minutes kiss challenge' itu tadi saat sebelum berangkat. Ia hanya memberikan gelengan pelan sebagai jawaban pada Hoseok. Sowon berbohong agar ia tak mengingat isi dari video itu lagi, ia tak mau membahasnya.
"Kau yakin akan tinggal sendirian? Bagaimana dengan temanmu Yerin-ssi, yang kau ajak berlibur itu?" Mereka sampai di basement apartemen yang sudah Sowon sewa, ia sengaja datang lebih awal dari ayah dan tunangannya dengan alasan akan membantu mengurus persiapan pernikahan mereka nanti, sesungguhnya Kim Sowon hanya ingin melarikan diri dari mereka yang selalu mengatur hidupnya.
"Aku baik-baik saja oppa, Yerin masih tinggal dengan orang tuanya, jadi aku tak bisa mengajaknya tinggal bersamaku."
Setelah mengantar Sowon, Hoseok pamit pulang, ia berjanji akan menemui sahabat lamanya itu lagi setelah Sowon beristirahat, "Sowon-ah, sebelum aku pulang, ada yang ingin ku katakan." Paras cantik wanita itu mematri ekspresi terkejut pada awalnya, namun kemudian ia menyunggingkan senyumnya kembali dan menggangguk tanda ia siap mendengar apa yang Hoseok hendak katakan, "Namjoon sudah tahu kalau kau akan kembali, Yoongi hyung yang memberitahunya," memang awalnya Sowon berniat untuk tak memberitahu Namjoon tentang kedatangannya kembali, namun dari lubuk hati yang terdalam ia memang sangat merindukan sosoknya, terlepas dari apa yang telah mereka alami dahulu, mereka sudah memiliki jalan hidup masing-masing, dan ia harap, mereka dapat kembali berteman walau rasanya akan berbeda.
"Kalau kau masih ragu, aku bisa mengulur waktu lebih lama." Hoseok menawarkan bantuan jika Sowon masih merasa sulit untuk bertemu dengan Namjoon, tapi senyum dan gelengan pelan yang wanita itu berikan adalah tanda bahwa ia menolaknya.
"Tidak apa-apa oppa, kita bisa reuni bersama-sama, kau, Yoongi oppa, Jiminnie, Namjoon oppa, dan aku, seperti dulu." Senyum Hoseok menggembang saat mendengarnya, ia akan sungkan bila Sowon terlihat memaksakan diri, tapi dilihat dari senyumnya yang terpampang tulus di wajah sahabatnya itu, Hoseok rasa Sowon juga tak apa-apa, sama seperti Namjoon.
Namun, dalam benaknya Hoseok menyayangkan, jika Namjoon sudah menemukan orang yang ia cintai untuk seterusnya, berbeda dengan Sowon yang dipaksa untuk mencintai seseorang dari awal, nasibnya tak sebagus Namjoon.
"Baik, kalau begitu, setelah kau beristirahat kita akan bertemu dan bicara, ok? Tentang malam itu saat kau pertama kali menghubungiku setelah sekian lama." Hoseok ingat, saat Sowon menghubunginya lewat telepon malam itu dan meminta pertolongannya seraya menangis, Sowon tak menjelaskan banyak hal, hanya memintanya untuk membantunya pulang ke Seoul, disela tangisnya ia hanya bicara kalau dirinya sudah tak mampu tinggal di sana, di Amerika. Entah apa yang terjadi, namun Hoseok tak memaksa Sowon untuk segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sebelum ia tiba di Seoul. Yang Hoseok tahu semua ini pasti ada hubungannya dengan ayah dan tunangannya.
"Iya..." Bisik Sowon, ia memberikan lambaian tangannya sebelum akhirnya Hoseok menghilang di balik pintu apartemennya, Sowon kembali berkata, "Oppa, terima kasih banyak." Hoseok membalas dengan senyuman terbaiknya, bersamaan dengan itu, mentari muncul dan bersinar disela gorden yang setengah terbuka.
mamoru.
Fantastic Four
Jung Hoseok
'Sowonnie sudah sampai di Seoul.'
Jiminnie
'Kenapa Sowon noona tidak bilang padaku lebih awal kalau dia akan kembali? Tahu-tahu sudah disini (ToT)
Yoongi
'Dia mau memberikan kejutan untukmu dan Namjoon. Hoseok, kau telah merusak kejutannya.'
Namjoon
(typing...)
Namjoon menatap layar handphone-nya yang sejak tadi penuh dengan notifikasi dari group chat yang beranggotakan dua sahabat, adiknya, dan juga dirinya. Ia hendak mengetik sesuatu untuk memberikan kometar, tetapi tak ada satu pun reaksi yang mampu ia utarakan, apa 'kah ia turut senang, rindu, atau ikut merasakan nostaligia? Namjoon hanya menatap rentetan chat yang terus berdatangan dari Jimin yang protes dengan ketidak-tahuannya akan kedatangan Sowon, Yoongi yang terus menyalahkan Hoseok, dan Hoseok sendiri yang melakukan pembelaan. Namjoon terus terdiam, hingga Seokjin memanggil namanya.
"Namjoon-ah?"
Namjoon segera bangkit dari atas sofa, ia menyahut dengan suara lantang seraya mencari dimana sebenarnya sosok Seokjin berada, hingga akhirnya ia menemukan siluet pria itu di dekat dapur. Namjoon segera menghampirinya dan bertanya, "Ada apa hyung?" Pria yang ia tanya hanya menoleh padanya dan membuat wajah cemberut, ia menekan tombol mesin cuci tetapi tak ada reaksi yang berarti dari mesin itu padahal listrik sudah tersambung dan air sudah merendam sebagaian selimut dan handuk yang hendak Seokjin cuci, tetapi mesin itu tak kunjung berputar seperti sedia kala.
"Mesin cucinya rusak." Seokjin menghela nafas berat, dari balik punggungnya, Namjoon menggigit bibir bawah dan diam-duam menyilangkan jari tengah dengan jari telunjuknya di belakang punggung, "Padahal ini masih baru." Keluh Seokjin, tak menyadari cengiran mencurigakan yang terpatri pada wajah tampan Namjoon.
Sebenarnya, beberapa hari yang lalu, Namjoon menumpahkan selai di karpet ruang tamu mereka, selai blueberry itu terlihat kontras di atas karpet berwarna krem, terlebih lagi bahannya yang terbuat dari beludru membuatnya akan susah dibersihkan. Namjoon berinisiatif mencucinya, untung ia tak ada kelas hari itu sedangkan Seokjin harus kuliah hingga sore. Tapi semua tak berjalan dengan mulus, Namjoon tidak tahu bagaimana caranya mencuci karpet dengan mesin cuci, ia hanya mengandalkan feeling dan akhirnya tak sengaja merusak mesin cuci itu, hingga pada akhirnya Namjoon tak berani bilang pada Seokjin bahwa ia pelakunya.
"Kita laundry saja, hyung." Namjoon memberikan idenya, namun sepertinya Seokjin merasa keberatan. Setelah mendengar filosofi tentang hidup mandiri dan sederhana dari suaminya, Seokjin memutuskan untuk melakukan semua berdua, pelayan yang dulu membantu mengurus rumah tangga mereka sudah Seokjin kirim kembali ke rumah keluarganya, pada awalnya memang sulit, tapi akhir-akhir ini Seokjin mulai menyukai segala aktifitasnya di rumah seperti memasak, membersihkan sofa dan tempat tidur, menyikat bak mandi hingga mencuci pakaian dan selimut seperti yang akan ia lakukan saat ini. Seokjin mengaku lelah tapi ia senang karena semua kegiatan ini mereka lakukan berdua.
"Kita cuci manual saja." Raut wajah riang Seokjin tak mampu Namjoon tolak, jujur saja ia agak malas melakukannya, mengingat besok adalah hari libur mereka, tapi mau bagaimana lagi, mereka harus punya selimut dan handuk bersih untuk keesokan harinya. "Kalau tidak salah ada basin besar di rumah ini." Seokjin beranjak ke tempat penyimpanan di bawah rak besar yang tak jauh dari kamar mandi dan akhirnya ia menemukan apa yang ia cari karena benda itu cukup besar, sebuah basin besar atau bak khusus untuk mencuci.
"Bantu aku pindahkan cuciannya, Namjoonie." Lagi-lagi panggilan manis itu, Seokjin hanya memanggilnya seperti itu jika ia merajuk atau meminta sesuatu darinya, Namjoon rasa akhir-akhir ini mereka seperti pasangan pengantin baru yang asli.
Tanpa mengatakan sepatah kata apa 'pun, Namjoon membantunya memindahkan cucian dari mesin ke dalam basin, ia menuangkan air dan Seokjin menuangkan sabun lalu mencampurnya. Namjoon menggulung celana jeans-nya hingga di bawah lutut, ia sadar kalau Seokjin memperhatikannya.
"Kau sedang apa?"
"Menggulung celanaku." Namjoon menaikkan sebelah alisnya, ia hendak mencelupkan kakinya bersama dengan cucian tetapi gerakannya ditahan Seokjin, "Ada apa hyung?"
"Kita tidak pakai tangan saja?" Seokjin susah menyiapkan sarung tangan karet dalam genggamannya, ia belum pernah mencuci manual, mencuci dengan mesin saja ia baru tahu caranya beberapa minggu yang lalu.
"Hyung, kau mau mencuci selimut atau membuat kimchi?" Namjoon tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia mengambil sarung tangan karet dari genggaman Seokjin dan meraih kedua tangannya, membuat pria itu semakin bingung, "Kita tidak akan sanggup mencuci semua ini dengan tangan, akan lama selesainya nanti, kecuali kalau kau mau mencuci pakaian dalam atau pakaian bayi, itu baru menggunakan tangan." Jelas Namjoon, yang dibalas anggukan dan bibir plump-nya yang membentuk huruf O.
"Sini." Namjoon berjongkok dan menggulung ujung sweat pants yang Seokjin kenakan hingga lututnya, saat itu Namjoon baru mengetahui kalau kaki Seokjin sangat mulus dan indah layaknya kaki seorang wanita, dan untuk ukuran seorang laki-laki dewasa, kaki Seokjin terbilang kurus.
"Uh? Namjoon?" Namjoon tersadar dari tegunannya pada kaki indah Seokjin, dan ia segera berdiri, lalu kembali membawa kedua tangan Seokjin dalam genggamannya. "Cuci kaki dulu." Seokjin meraih shower di dekat mereka dan menyiramkan air dingin ke arah kakinya dan Namjoon. "Nah, ayo masuk." Namjoon memasukan kakinya terlebih dahulu, hingga busa yang tergenang menutupi sebagaian dari betisnya, Seokjin menyusulnya, ia berpegangan pada lengan suaminya sampai ia turut menginjakan kakinya di dalam sana.
Seokjin awalnya ragu untuk mencuci dengan kaki, sampai akhirnya ia menyadari kalau apa yang sedang mereka lakukan ini menyenangkan. Namjoon tak melepaskan genggaman tangan mereka, kaki mereka bergerak memutar, menggilas dan mengucek selimut dan handuk itu dengan telapak kaki mereka yang sudah bersih. Gelak tawa terdengar menggema saat Namjoon hampir kehilangan keseimbangan atau saat Seokjin yang tak sengaja menginjak kaki suaminya.
"Kurasa, kita tak perlu mesin cuci baru, ini jauh lebih menyenangkan." Ucap Seokjin disela tawanya, Namjoon hanya menyahut dengan meraih pinggang Seokjin dan membawa pria itu mendekat hingga dada mereka bertubrukan, "Ah?" Pandangan mereka bertemu, dalam dan menghanyutkan, membuat wajah dan telinga Seokjin merona karena tatapan Namjoon yang begitu intens.
'Oh Tuhan, apa yang merasukinya?'
"Hyung, kau tahu laundry koin?" Bisik Namjoon tepat di depan bibir Seokjin yang hampir tak memiliki jarak dengan bibirnya sendiri. Seokjin mengangguk pelan, suasana di dalam ruangan mendadak panas padahal sebelumnya terasa sejuk karena kaki mereka berada di dalam air. "Kau tahu bagaimana cara kerjanya, kan?" Seokjin menelan salivanya sendiri, jantungnya berdegup kencang dan ia yakin Namjoon juga merasakan hal yang sama karena dada mereka yang tak berjarak membuat detak miliknya bersahutan dengan milik Namjoon.
"Uh.. butuh uang koin agar mesinnya berkerja?" Tangan Seokjin yang awalnya berpegangan pada bahu Namjoon berpindah dan meremas lengan bajunya saat Namjoon mengeratkan rengkuhannya pada pinggang ramping miliknya, sesak di dadanya kian menjadi kala itu.
"Tepat sekali." Suara husky Namjoon menggelitik indera pendengaran Seokjin, membuatnya hampir menutup kelopak matanya, merasakan sensasi yang belum pernah ia temukan senelumnya. "Sama halnya dengan diriku, hyung," pening melanda kepala Seokjin, apa Namjoon pernah se-sexy ini sebelumnya? Ia dapat selalu menemukan sisi manis Namjoon, betapa perhatian dirinya, tawa candanya, dan tutur katanya yang kadang seperti lantunan bait puisi membuat Seokjin semakin jatuh kepelukannya. Tetapi, hari ini, selama ia hidup bersamanya, kali pertama Seokjin melihat sisi lain dalam diri Namjoon, layaknya bright side dan dark side yang dimiliki olehnya, Seokjin penasaran, ia ingin melihat lebih jauh segelap apa Namjoon saat ini.
"Kau harus melakukan hal yang sama, agar aku dapat berkerja dengan baik."
Satu detik setelah Namjoon berucap, Seokjin segera berjinjit agar dapat meraih bibir Namjoon dengan bibirnya, kedua matanya terpejam, menikmati sensasi lembut dan basah yang hadir saat bibir mereka bertemu. Ia tersenyum dalam ciumannya kala Namjoon membiarkannya mendominasi gerakannya dalam mengklaim bibir suaminya itu, Seokjin menggigit dan mengapit bibir atas dan bawah Namjoon yang mulai membiarkan lidahnya masuk dan menyapa lidah Namjoon untuk mengajaknya menari hingga beberapa erangan kecil keluar disela ciuman yang semakin dalam.
Namjoon membawa tubuh Seokjin makin merapat padanya, ciuman mereka terlepas untuk sesaat sebelum Namjoon kembali mengklaim bibir Seokjin seraya mengangkat tubuhnya agar ia leluasa memberikan ciuman terdalam dan termanisnya pada pria yang telah ia nikahi beberapa bulan lalu itu. Diluar diugaannya, Seokjin terbilang ringan, terlepas dari bahunya yang terbilang lebar dan bidang, ia dapat mengangkat tubuh Seokjin dengan mudah.
Pada akhirnya mereka sadar akan oksigen yang sangat mereka butuhkan, ciuman itu terlepas dengan suara yang sexy saat bibir basah dan bengkak itu terlepas dengan gerakan yang terburu-buru. Mereka berdua terengah, masih dalam posisi yang sama dan tak henti untuk saling memandang, saat akhirnya Seokjin membelai rambut halus keabuan milik Namjoon dan ia berkata, "Aku," ia menggigit bibir bawahnya, sebelum melanjutkan, "sudah memasukan 'koinnya', lalu, bagaimana caramu berkerja?"
Namjoon tak menjawabnya, melainkan mendekatkan wajahnya pada leher mulus Seokjin, ia memberikan gigitan kecil disana, membuat seseorang dalam rengkuhannya memeluk tubuhnya semakin erat, "Bagus, sekarang kau harus menekan 'tombol'nya, hyung." Namjoon menggenggam tangan kanan Seokjin dan membawanya ke arah bagian privat dari tubuhnya diantara kakinya yang jenjang seraya meremas bokong Seokjin dengan tangannya yang bebas, senyum Namjoon melebar saat Seokjin menurut dan menyentuhnya.
Benak Seokjin seolah menjerit. Apa yang hendak mereka lakukan? Apa ia dan Namjoon akan melakukannya disini? Apa ia dan Namjoon akan melakukannya sekarang?
"Sungguh? Kalian akan melakukan kegiatan itu disini? Diatas basin berisi cucian?" Namjoon dan Seokjin terkejut dan dengan gerakan hampir bersamaan, mereka menoleh dan memandang Jimin yang entah sejak kapan berdiri diambang pintu dengan handphone dalam genggamannya yang kamera belakanhnya terarah pada mereka.
"Ji-Jimin?"
"Hyung, aku datang mau mengambil charger-ku yang tertinggal hehehe~"
Sebelum Jimin pergi, Namjoon akan menanyainya banyak hal dan menasehatinya tentang tata krama karena ia datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dan Seokjin, ia masih berusaha membuat jantungnya lebih tenang dengan menekan dadanya sendiri. Seokjin memutuskan, ia harus segera memesan mesin cuci baru.
Namun sebelum itu, mereka harus menyelesaikan kegiatan mereka sesuai dengan tujuan awal, yaitu mencuci.
Kali ini, tanpa gerakan yang tak perlu.
to be continued
note :
APA YANG SUDAH SAYA TULIS?! AAAKKHHH~ adegan macam apa itu? nyuci sekaligus flirting?! Tolong jangan anggap saya aneh karena udah nulis adegan macam itu duuhhh... sexual tension-nya itu loh... wagelaseh *malu sendiri*
10 minutes kiss challenge terinspirasi dari challenge yang ada di channel youtube-nya finebros~ salah satu channel yang saya subscribe hehehe video reaction sama challenge mereka bagus-bagus loh~ #Promosi
Terima kasih atas doa dan dukungan kalian semua, sekarang saya udah jauh lebih baik dan dapat kembali beraktifitas. Saya juga bisa update dua fanfic sekaligus hahahaha Thank God.
massive thanks to :
rayvin2529
terima kasih sudah menantikan ff saya ㅠㅠ saya juga suka momen manis namjin di tiap ff yang saya buat hehehe tp mereka harus ada ribut2nya. saya suka keributan ㅋㅋ terima kasih atas kata-kata penyemangatnya uwu saya sudah lebih baik sekarang berkat Ray juga~ i purple u so much
csiwistika
aaww~ #NowPlayingTrivia:Love uwu ada beberapa adegan yang saya tulis itu berdasarkan pengalaman pribadi, salah satunya lirik2an di lorong hahaha saya pernah ngalamin itu sama orang yang saya suka dulu pas masih sekolah, maklum saya orang jadul jadi kalo pdkt masih malu-malu ga kaya anak jaman sekarang hahaha loh? kok saya jadi curhat? maaf ya ily uwu
loveiscurl
Glad to be back again! Saya dapat berkembang berkat kamu yang udah ralat kesalahan saya, terima kasih banyak ㅠㅠ Waaooww~ jangan buang Sowon ke laut dong~ dia juga bias saya di Gfriend hahaha Di Sunrise dia cantik beud duuh *melt* OKAAY HAHAHA CHALLENGE NYA BELUM TAHAP ITU NANTI SAYA BILANGIN JIMIN BIAR IDEMU JADI KENYATAAN!~ i'm better now uwu thank you so much~ borahae
deebul
tenang, Sowonie tak mengancam kok, atau...
Elf Japan
terima kasih sudah memperhatikan perkembangan penulisan saya ㅠㅠ saya ga akan bisa sampai sini kalo bukan karena kalian yang menegur dan memberi saya dukungan, thank you so much ily
AngAng13
iyah~ kamu juga hati-hati ya, sesuatu yang berlebihan itu emang ga baik~ saya udah sehat kok sekarang uwu Jungkook disini memang mulai menerima takdir tapi... ada saatnya nanti dia harus bertindak dan *sensor* muahahaha semuanya sudah ada dalam otak saya, tenang saja, saya harap saya ga mengecewakan kamu nanti uwu badainya akan datang perlahan, so, sekarang baru hujan rintik belum ada petir dan angin ribut(?) okeee~ saya belum ada ide untuk ff JinKook nanti tapi pasti saya buat, love ya!
AppleCaramelMachiatto
ㅋㅋㅋㅋ akhirnya ada yang notice bagian itu! Insiden NamGi dan dosen itu emang dari kisah nyata saya sama senpai saya pas kuliah dulu hahaha btw, saya ada di posisi Namjoon ㅋㅋ nah iya, kalo soal makanan pedas otak saya bilang 'yes' tapi badan saya bilang 'noooooooo!'
QnQueen
namjin is always with us, honey hanya saja saya harus bikin ribut biar mereka ga adem mulu, enak banget hidup di dunia kalo ga pake konflik kaya makan sayur asem ga pake jagung.. eerr.. saya ngomong apa sih? Akhirnya!!1!1! ada yang notice bagian Tae yang ga baca situasi hahaha saya seneng kalo ada yang sadar hal2 kecil yang saya tulis ㅋㅋ uwu borahae
goldenaidakko
はい、もう大丈夫です〜 ありがとうございます!今は段々暖かくになりますけど、最近 地震が有るからちょと不安です。
I PURPLE YOU SO MUCH
