Sebelumnya di Super Idol Warrior:
Kotori, Maki, dan Rin dikejutkan dengan kehadiran Hanayo. Gadis misterius yang mengaku sebagai penjaga kuil "Energi Kekal", tempat yang selama ini sedang dicari oleh Honoka, Eli dan Umi bersama sekolah UTX.
Kehadiran Hanayo yang mendadak dan juga peristiwa hancurnya bangunan sekolah mereka ternyata ada kaitannya dengan kebangkitan Shadow Master, penguasa kegelapan yang ingin menguasai alam semesta.
Bersama dengan Eli dan Umi yang berhasil selamat, mereka berenam kemudian memulai perjalanan kembali di dalam hutan untuk merebut kuil itu dan menyelamatkan Honoka.
Namun ditengah perjalanan terjadi konfrontasi di antara para gadis Otonokizaka dengan si gadis kuil, Hanayo.
Beruntung Kotori berhasil menenangkan Hanayo dan mereka tetap bisa meneruskan perjalanan di dalam hutan dengan kompak.
Pada perjalanan berikutnya keenam gadis ini telah tiba di dalam hutan namun mereka menemui rintangan, muncul dua monster besar yang menghadang mereka, mereka menamai diri mereka Ni dan No.
Hanayo maju bertarung melawan monster tersebut. Dalam pertarungan ini juga Kotori berhasil berubah menjadi dirinya menjadi Angel Warrior dan berhasil mengalahkan monster El Nino yang sebelumnya sempat bersatu.
Monster Ni dan No yang telah dikalahkan lalu telah berubah wujud menjadi manusia, yang tidak lain merupakan kakak kelas mereka Nozomi dan Nico. kini mereka berdelapan memutuskan untuk ikut bersama-sama mencari Honoka ke kuil "Energi Kekal".
.
.
Warrior Diary:
.
"Hwaaa...! Jadi ini tempat perkemahan mereka, yah?! Kecil, yah?!" - Nozomi Toujo.
.
.
"KYAAAAAAAAAAAA... GAAAAAWAAAAATTTT!
Itu adalah suara yang terdengar berat dan memekakan telinga. Suara itu berteriak lebih keras dibandingan beruang grizzle yang sedang mengamuk, namun itu bukanlah suara binatang liar bahkan dari kata-katanya jelas itu adalah bahasa manusia.
Itu adalah suara yang berasal dari satu-satunya gadis keturunan rusia-jepang yang berada di kelompok ini, salah satu dari tiga gadis tertua di kelompok ini.
Pagi yang tenang di dalam hutan itu tiba-tiba pecah ketika gadis berdarah ¼ rusia sedang berteriak panik dari dalam perkemahan.
"INI... INI GAWAT!" jerit Eli dengan ekspresi wajah tegang menatap meja dihadapannya.
.
.
Part 1: Dangerous Situation!
.
"E... Eli-senpai?!" sahut Kotori yang pertama kali sampai menghampirinya disusul oleh rekannya yang lainnya bergegas menuju kemah tempat Eli berada. Meskipun tidak terlalu jelas namun mereka bisa menatap sosoknya yang agak gemetar dan mata terbelalak itu jelas menandakan suatu kepanikan yang sedang terjadi di dalam perkemahan itu.
"Te...man-tee..man ki..kita da..dalam baba...haya-a-a-a..." jawab Eli terbata-bata dengan suara gemetar sambil memeluk erat sebuah papan daftar coklat di depan dadanya yang semakin menonjol karena terpaksa menekan volume benda separuh bola yang tidak seharusnya menjadi datar..
"Ada apa sih? Musuh?!" seru Hanayo penasaran dari luar kemah karena dia tidak bisa masuk dan melihat apa yang sedang dialami oleh Eli sebenarnya.
"B-Bukan... Bukan itu!"
"Ini tentang... Makanan! S-Stok bahan makanan kita untuk satu minggu ini sudah habis sekarang!"
"..."
"...EHH?!"
"M-Maksudmu pagi ini kita tidak ada sarapan?" tanya Nico terkejut. Eli lalu menganggukan kepala pelan kepadanya.
"Ah, moo... Bagaimana ini?!" teriak Rin panik.
"Hmm... Sekarang aku baru sadar bahwa setelah ada kehadiran dua orang ini, stok makanan kita jadi semakin cepat berkurang, yah?." ujar Maki sambil menatap sinis kepada Nozomi dan Nico. Seluruh gadis disana juga ikut-ikutan menganggukkan kepala menyetujui argumen Maki tersebut.
"Ahh... Nicocchi, kamu sih terlalu banyak makannya!." kata Nozomi sambil mengehela nafas panjang namun tentu saja sang little devil yang mendengarkan itu tidak terima dan membela dirinya.
"HEI, KOK AKU SIH?!"
"Nozomi, bukannya kemarin kamu nambah makan sampai 3 kali?! Sudah jelas kamulah biang kelaparan kita selama ini! Lagipula dengan tubuhku yang sekecil ini mana mungkin aku makan banyak!"
"Hahahaha..."
Seluruh gadis disana ikut tertawa mendengar keributan mereka berdua.
"Yah, bagaimanapun juga kita kan memang tidak pernah menyangka bakal ketambahan dua orang lagi di dalam perjalanan ini." ujar Umi mencoba bersikap bijak. Lanjutnya sambil tersenyum.
"Yah kan, Nozomi-senpai, Nico-senpai?."
Umi memalingkan mukanya kepada mereka berdua sambil tersenyum dan sekali lagi para gadis disana kembali menganggukkan kepala mereka karena juga setuju dengan perkataan Umi itu.
.
"Yaelah.. aku kira ada apa. Ternyata cuma meributkan hal yang tidak berguna, dasar kalian anak manusia cengeng." suara sumbang terdengar dari mulut Hanayo yang menghela nafas. "Memangnya hal seperti itu adalah masalah yang serius, yah?"
"Kalau aku sih selama ini tidak pernah khawatir tentang masalah makanan."
Gadis itu berkata-kata dengan suara datar dan tanpa beban seolah situasi tersebut tidak akan berpengaruh apa-apa kepada dirinya yang masih misterius. Dia seakan tidak ingin turut campur dengan kebutuhan 'manusiawi' semacam ini dan memasang rupa cuek bebek.
Namun, respon sebaliknya ditunjukkan oleh para gadis yang mendengarkan perkataan Hanayo barusan. Seketika itu juga tiba-tiba suasana kemah menjadi senyap dalam waktu sekejap. Tampak seluruh gadis berusaha mencerna maksud perkataan gadis asing tersebut namun nalar mereka sampai kepada kesimpulan bahwa itu tidak akan menghasilkan apapun selain ekspresi wajahnya yang berubah menjadi shock.
"HEEEHHH?!"
"Hoi, Yoda... Kamu ini bukan manusia, yah?!" sindir Nico. (notes: Yoda adalah Grand Master Jedi dari serial Star Wars)
"Tentu saja itu adalah hal yang penting! Salah satu hal yang terpenting dalam kebutuhan pokok manusia selain sandang (pakaian) dan papan (tempat tinggal), yah pangan (makanan), ngerti?!"
"Ehh, Hanayo-san, Memangnya selama kamu hidup di dalam hutan makanan apa yang kamu konsumsi untuk bisa bertahan hidup?" tanya Kotori yang penasaran.
Hanayo lalu melepaskam kantong hitam kecil yang selama ini selalu diikatkan di bagian pingging kirinya. Dengan santainya dia menunjukkan barang yang terlihat keras untuk dimakan itu kepada mereka
"Cukup dengan ini... Biji-bijian, bulir jagung dan padi yang sudah dikeringkan."
Setelah mendengar perkataan Hanayo tersebut, satu per satu gadis disana yang ada disana tidak berusaha berdebat lagi malah satu per satu mulai keluar meninggalkan kemah dengan tatapan wajah kosong dan sengaja menjauhi Hanayo perlahan-lahan. Yang ada di pikiran mereka sekarang cuma ada satu hal: ["Orang ini pasti beneran bukan manusia normal!"]
.
Selanjutnya, kedelapan gadis itu diperintahkan untuk berkumpul di tengah halaman untuk menerima sebuah perintah. Orang yang memerintah kali ini adalah biang hinggar binggar pagi ini, Eli Ayase.
"Yosh! Baiklah kalau begitu, aktivitas kita hari ini adalah mengumpulkan bahan makanan!", kata Eli memberikan komando.
"Karena sekarang kita ada 8 orang maka kita akan membaginya menjadi 4 kelompok. Kotori dan Hanayo bertugas mencari dan mengumpulkan bahan makanan, Nico dan Nozomi bertugas mengecek dan mempersiapkan perlengkapan akomodasi yang masih kita bawa dalam tas masing-masing yang masih terisa di perkemahan, Rin dan Maki bertugas mencari tanaman obat yang berguna untuk kesehatan, sedangkan Aku dan Umi akan pergi mencari air minum. Ada pertanyaan?"
Pada pagi hari itu mereka terpaksa harus melewatkan jam sarapan pagi karena tidak ada bahan makanan yang cukup untuk dimakan. Oleh karena itulah tidak ada gadis yang merasa keberatan dengan pembagian tugas tersebut karena ini adalah sesuatu yang mendesak.
.
Kelompok 3 – Rin & Maki – Bagian Barat Hutan, sekitar 600 meter dari tempat perkemahan.
"Nyaaa, Ini membosankan!" celoteh Rin yang sudah tidak bisa menahan emosinya. "Kenapa harus kita yang pergi mencari tumbuhan obat sih?! Rin, kan gak ngerti hal-hal yang semacam ini, nya?!"
"...Yah, kalau begitu kamu diam saja lah, Rin!", tegur gadis yang berada disampingnya. Si gadis berambut scarlet itu terlihat ketus merespon keluhan satu-satunya teman seumurannya itu.
"Kalau kamu memang tidak mengerti, yah sudah! Tapi tidak perlu mengeluh seperti ini!"
Nampaknya gadis kucing itu cukup kaget dengan respon Maki tersebut jadi dia memilih untuk menutup mulutnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya saja.
"Biarkan aku yang mencari, tugasmu nanti cuma tinggal membawakannya saja."
"Maki-chan, mengerti tentang tumbuhan obat, nyaa?"
"Yaahh, cuma sedikit.. Lagipula memang karena pertimbangan inilah yang menjadi alasan utama bagi Eli-senpai untuk menunjukku mencari tanaman obat, kan?." kata Maki dengan pipi sedikit memerah sambil menganggukkan kepalanya.
"Oh iya yah, mamanya Maki bekerja di bidang kesehatan, kan? Tidak heran jika anaknya juga mengetahui tentang seluk-beluk dunia kesehatan. Hihihi..." celetuk Rin santai namun reaksinya tidak mencair.
"Diamlah Rin, Kesamaan minatku tentang obat-obatan dan tentang pekerjaan ibuku itu sama sekali tidak ada hubungannya!." jawab Maki dengan suara kesal.
"Ma-Maaf,nyaa.."
.
Kelompok 1 – Kotori & Hanayo, Bagian Utara Hutan sekitar 1 KM dari lokasi perkemahan.
"Kotori, bagaimana menurutmu perjalanan kita sejauh ini?", tanya Hanayo kepada Kotori
"Aku kira perjalanan ini tidak seburuk yang aku bayangkan." jawab Kotori singkat
"Mhhhmm... tidak buruk yah?, tapi kamu harus tetap waspada, Kotori." kata Hanayo dengan suara serius.
"Di dunia yang bulat ini, tidak ada sesuatu yang benar-benar flat dan pasti. Kita sama sekali tidak akan pernah tahu sampai kapan keberuntungan memihak kepada kita. Yah, Aku bukannya meminta hal yang buruk terjadi kepada kita, sih. Hanya saja tetaplah waspada terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi."
Kotori menganggukkan kepalanya mengamini perkataan Hanayo tersebut.
"Selain itu..."
"Kotori, kemarilah sebentar, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu."
.
.
Part 2: My Precious Sister
.
Kelompok 2 – Umi & Eli - Bagian Selatan Hutan, sekitar 1,5 KM dari tempat perkemahan.
"Akhirnya, kita sampai juga di tempat ini...!" sorak Umi gembira merentangkan kedua tangannya.
Langkah kakinya sedikit melompat kegirangan manakala tapak kakinya menyentuh sumber mata air yang dingin di bawah hembusan angin yang jatuh keras bersamaan dengan berton-ton air sungai yang berada di atas bukit. Ya, mereka sedang berada di bawah air terjun di dalam hutan itu.
"Ahhh, Senangnya..."
"Rasanya baru kemarin kita ada di tempat ini... hihihi." ucap Eli sembari menatap curahan air terjun yang mengalir deras didepannya.
Air terjun itu tidak terlalu tinggi, ketinggiannya sekitar 800 meter dari tempat mereka berada sekarang namun itu cukup melukiskan keindahan agung sang khalik yang sudah mewarnai dunia ini dengan hiasan pelangi kecil yang merupakan bias pantulan percikan air oleh sinar matahari.
"Eli-senpai, bagaimana jika kita mengajak yang lainnya untuk berkemah dlsini saja. Sama seperti waktu kemarin ketika kita berkemah bersama dengan grup A-RISE?" usul Umi.
"Emm, apakah kamu yakin dengan itu, Umi?. Lokasi tempat ini berseberangan dengan tempat kemah kita. Bukankah itu berarti kita akan mengubah rute perjalanan lagi?" timbang Eli ragu-ragu.
"Ahhh, A-Aku hanya bercanda... hehehe..."
"Ohh, hahaha... Tapi aku pikir sebetulnya itu ide yang bagus sih."
"Aku pikir mereka pasti juga ingin berada disini, maksudku kita kan sudah lama tidak mandi... Hahaha..."
"Hahaha..."
"Baiklah, kalau begitu kita segera ambil air yang ada disini dulu, yuk." ajak Eli sambil memberikan satu jirigen air kepada Umi. Mereka berdua lalu mendekati pancuran air terjun tersebut untuk mengisi wadah jirigen yang telah mereka bawah sebelumnya dengan air jernih yang berada disana
Sebenarnya suasana asri yang berada di sekitar air terjun itu begitu sejuk dan asri, agak aneh juga melihat senyaman ini tidak pernah dijamah oleh manusia sebelumnya namun mungkin ini juga sebuah keberuntungan juga sehingga bumi masih menyisakan sedikit surga di tanah manusia ini.
.
"sreeekkk... sreeeekkk..."
Sebuah suara agak mengganggu terdengar tidak jauh dari tempat mereka berada. Awalnya mereka berdua tidak terlalu memikirkan itu dan menganggap itu adalah suara yang ditimbulkan oleh binatang kecil yang berada di dalam hutan ini namun ketika suara itu semakin mendekat dan bahkan samar-samar terdengar suara gadis maka itu menjadi lain cerita.
"Hmm... Umi-chan, apakah kamu mendengar sesuatu ?" tanya Eli yang tiba-tiba menghentikan aktivitasnya mengisi air. "DISANA!", Eli mengarahkan telunjuk jarinya ke arah semak belukar yang ada di sebelah kanan air terjun.
"ELI-SENPAI, LIHAT! ITU KAN?!"
"Ehh... T-TIDAK MUNGKIN!"
Saat itu baik Eli dan Umi seperti dibuat tidak percaya ketika mereka sampai pada sumber suara tersebut dan samar-samar melihat ada sesosok gadis kecil berambut pirang tergeletak tidak berdaya di balik semak tersebut. Badan gadis itu terlihat rapuh dan tidak nampak cukup kuat untuk berjalan bahkan dia hanya bisa berbaring tidak sadarkan diri sekarang.
"...i-itu, kan?!"
"ALISAA!"
"t-tolong...! seseorang tolong aku!" pinta gadis itu dengan suara lemah.
"ALISA!" Eli berteriak sekeras-kerasnya dengan air mata mengalir di pipinya bergerak secepat mungkin untuk menghampiri tubuh gadis itu dan memeluknya.
"ehh, onee-chan?... t-tolong aku, neec-han!" kata Alisa dengan suara lemah sebelum akhirnya dia pingsan.
"ALISA! BANGUN ALISA! BERTAHANLAH!" teriak Eli panik.
"Cepat! Kita harus membawa dia ke tempat perkemahan secepat mungkin!" saran Umi yang tidak kalah panik.
"Baiklah, Kalau begitu kita pergi sekarang!"
Eli dan Umi lalu segera meninggalkan tempat itu sambil menggendong Alisa dan membawa jirigen air mereka seadanya dan segera berlari untuk menuju ke perkemahan. Pada saat itu tujuan utama mereka bukan lagi untuk menyediakan air minum bagi kelompok namun menyelamatkan nyawa manusia yang masih bisa diselamatkan. Lebih penting lagi bahwa manusia itu adalah adiknya Eli.
.
Di Tempat Perkemahan!
Pada akhirnya seluruh kelompok dari 1,2 dan 4 telah berkumpul di perkemahan dengan membawa barang-barang persediaan yang diminta.
Di depan mereka sedang berdiri Nico yang terlihat berkacak pinggang bersiap untuk membuka mulutnya:
"Tckk,. Kalian ini lama sekali!. Kalian sengaja yah memberikan beban pekerjaan yang terberat di tempat ini dengan menyuruh kami mendata barang-barang bawaan kalian sementara kalian bisa enak-enakan jalan-jalan di dalam hutan, kan?! Huh, kalian ini benar-benar berhasil mengerjai kita berdua! Ya sudahlah! Itu tidak penting! Keberatanku cuma satu, kenapa banyak sekali barang-barang sampah disini?!"
"Itu karena kita tidak bisa meninggalkan sampah di dalam hutan begitu saja, kan?! He he he he..." jawab Kotori separuh tidak yakin.
"Heh, Kalian ini terlalu baik hati, yah? Tapi tetap saja aneh!" omel Nico kesal setelah selesai mendata seluruh barang-barang yang ada di perkemahan mereka. Selanjutnya dia mulai membacakan laporan tentang barang bawaan yang mereka bawa di tas masing-masing member.
"Kotori, aku tidak mengerti kenapa banyak sekali bulu-bulu tebal di dalam tasmu? Bikin sesak nafas saja!"
"Lalu tas Umi ini! Ini terlalu berat untuk bisa dikeluarkan satu persatu!"
"Rin, kamu cuma membawa Mie Ramen saja di dalam tasmu ?!"
Saat itu Rin cuma menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.
"Lalu Maki, sepertinya cuma Maki dan Eli yang barang bawaannya normal disini.."
"Emang Maki bawa apaan, nyaa?" tanya Rin yang penasaran.
"Itu..." Kata Nico dengan pipi merah merona.
"ITU BUKAN URUSANMU, RIN!" jawab Nico dan Maki dengan kompak
"Baiklah, setelah kami melakukan pendataan kami bisa simpulkan bahwa kita berdelapan masih bisa bertahan hidup dengan mengandalkan cadangan makanan – mie ramen milik Rin - yang tersisa sampai 2 hari ke depan.", kata Nozomi setelah menganalisa sisa bahan makanan mereka. Saat itu Rin hanya bisa menangis miris karena tahu kisah cinta bersama mie ramen kesayangannya akan segera berakhir di dalam hutan yang masih panjang ini.
"Jadi bagaimana dengan hasil buruan kalian?" tanya Nozomi.
"Ini ada jahe, lengkuas, daun papyrus, trus daun ubi singkong, singkong... dan lain-lain, nyaa! Maki banyak menemukan tumbuhan herbal di sekitar hutan ini, nyaa! Jadi, Kalau begini kalian tidak perlu khawatir kalau terkena sakit, nyaa. Hehehe..." kata Rin dengan riang.
"Heeh! Tetap saja, kalau kalian sakit itu hanya akan menjadi beban." Maki buru-buru menyela perkataan Rin. Selanjutnya adalah kelompoknya Kotori dan Hanayo.
"Kami membawakan tanaman umbi, buah-buahan, sayur-sayuran, beberapa jamur... dan telur." kata Kotori.
"Kamu yakin tidak apa-apa mengambil telur burung di hutan ini begitu saja?" tanya Nozomi
"Tidak masalah, karena aku juga sudah membunuh induknya sekaligus." jawab Hanayo sambil senyum menjijikannya dengan tenang menenteng bangkai induk burung merpati yang sudah dibunuhnya.
["Kejamnya...!"], pikir mereka semua satu pendapat saat melihat hasil buruan Hanayo tapi tidak ada satupun yang protes karena mereka juga sudah lama ingin makan daging.
"Baiklah kalau begitu, mungkin kita bisa memasak ini terlebih dahulu." kata Nico mengambil bangkai burung merpati yang darah segarnya masih menetes ke tanah dari tangan Hanayo.
"Nico-cchi, kamu bisa memasak itu kan?" tanya Nozomi.
"Tentu saja! Memangnya siapa lagi orang yang akan memasak makanan di kelompok ini?!", kawab Nico dengan ketusnya.
"Yah, Mungkin tidak akan terlalu enak tapi ya sudahlah..." imbuh Nozomi.
"NOZOMI!" teriak Nico yang sudah tidak sanggup menahan emosinya segera berlari mengejar Nozomi dengan pisau di tangan kanannya.
"HYAAAAA... KABUR...!".
Pada akhirnya acara inspeksi itu berakhir dengan adegan kejar-kejaran antara Nozomi dan Nico. Seluruh gadis yang berada di perkemahan itu hanya bisa tertawa melihat tingkah laku kedua kakak kelas mereka itu.
"Jadi, kemana Eli-san dan Umi-chan? Masih belum kembali?" tanya Kotori kepada yang lainnya namun mereka hanya bisa menggelenggkan kepala. Pucuk dicinta ulampun tiba, Belum lama pertanyaan Kotori terdengar tiba-tiba terdengar suara Umi yang sangat mendesak dari kejauhan perkemahan.
"TEMAN-TEMAN! CEPAT TOLONG KAMI!"
"Ada apa?!".
Seluruh gadis disana segera berlari keluar kemah dan menghampiri Umi dan Eli yang sudah berjalan tertatih-tatih karena telah kehabisan tenaga untuk berlari. Mereka juga melihat Eli sedang menggendong seorang gadis kecil di punggungnya
"Oh, itu kan?!..." pekik Nozomi terkejut.
"Siapa dia, senpai?" Tanya Kotori.
"...Bukankah itu adalah adiknya Eli, kan? Alisa?!" jawab Nico yang tidak kalah panik.
"C-CEPAT BAWA DIA KE DALAM KEMAH! BIAR AKU YANG MERAWATNYA!" kata Maki yang segera bergegas masuk ke dalam tenda sambil membawa kotak P3K miliknya. Sementara Rin segera menyambut beban di punggung Eli untuk dibawa kedalam tenda perkemahan Maki.
"Maki, tolong yah!" kata Eli sambil membawa Alisa masuk ke dalam tenda
"Tenanglah Eli-senpai. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk merawatnya. Aku yakin dia pasti tidak apa-apa..." jawab Maki dari luar perkemahan meyakinkan kakak kelasnya untuk terakhir kalinya sebelum memasuki ruang tenda.
"Oh, jadi dia itu adikmu?" tanya Hanayo dengan suara dingin.
"...iya, ada apa?" kata Eli dengan tegang.
"Tidak, bukan apa-apa." kata Hanayo yang dingin itu berlalu sembari dirinya pergi meninggalkan keramaian disana.
Butuh waktu sekitar setengah jam hingga akhirnya Maki keluar dari tenda sambil mengusap peluh keringat di wajahnya. Tampaknya perawatan seorang diri itu berlangsung dengan aman dan terkendali. Nampak raut muka puas dari wajahnya untuk menjamin keberhasil perawatan amatir tersebut.
"Bagaimana keadaan dia, Maki-chan?" tanya Eli dengan cemas.
"Dia sudah tidak apa-apa sekarang, hanya kekurangan cairan tubuh saja. Dia cuma pingsan karena kelelahan, berikan dia sedikit waktu untuk beristirahat dan pasti dia akan segera membaik." terang Maki menjelaskan keadaan Alisa.
"Aku cuma memberikan antiseptik dan desinfektan terhadap lukanya yang terbuka."
"Jadi dia tidak apa-apa kan?" tanya Eli cemas disusul anggukkan kepala Maki.
"onee-chan...?!"
Terdengar suara Alisa sedang menggigau memanggil Eli dari dalam kemah, sebentar Eli menoleh kepada Maki namun Maki juga turut menganggukkan kepalanya tanda memperbolehkan Eli untuk masuk ke dalam tenda menjenguk adiknya yang tercinta itu. Dan dengan segera Eli masuk ke dalam kemah menghampiri tubuh adiknya yang terbaring lemah di atas tikar.
"Ya, Aku disini, Alisa!" Kata Eli sambil menggenggam erat tangan adiknya.
.
Sementara itu di luar perkemahan terlihat para gadis lainnya sedang berkumpul untuk membicarakan sesuatu mengenai keberadaan Alisa.
"Jadi, bagaimana ini selanjutnya? Apakah kita juga mengajak dia ikut serta dalam perjalanan ini?" tanya Kotori.
"Jangan, itu terlalu beresiko! Dia bisa saja membahayakan kelompok kita. Lagipula, dengan delapan orang saja sudah cukup membawa banyak masalah bagi kelompok ini. Aku tidak ingin ada beban yang ditambahkan lagi di dalam perjalanan ini." jawab Hanayo.
"Maksudmu, kita akan mengusirnya?" tanya Nozomi terkejut.
"Yah, Dia harus segera pergi dari sini... Setidaknya kita bisa mengantarnya kembali ke dalam hutan." kata Hanayo pelan sambil menganggukkan kepala. seluruh gadis disana hanya bisa tertunduk lesu sambil terdiam termenung mendengar jawaban sang "the keeper" itu.
Keadaan di perkemahan itu berubah menjadi sunyi kembali hingga...
"BRUKK!"
Tiba-tiba para gadis disana dikejutkan dengan ambruknya tubuh Hanayo menjuru ke depan seperti habis dihantam benda yang keras dari belakang, nyatanya dia baru saja menerima pukulan yang sangat keras di bagian tengkuk kepalanya dari Eli.
"OH, JADI KAMU ANGGAP ADIKKU ITU BEBAN?!" bentak Eli kepada Hanayo yang baru saja keluar dari kemah. Eli, ternyata berhasil mendengar percakapan mereka dan dia menjadi benar-benar marah saat mendengar tanggapan Hanayo tersebut. Setelah itu Eli berjalan mendekati Hanayo kembali berniat untuk memukulnya lagi namun beruntung Umi dan Nozomi berhasil untuk menahan kepalan tangannya dan membawa mundur tubuhnya.
"JANGAN HALANGI AKU! AKU AKAN MENGHABISI ORANG INI! BUKANKAH KALIAN SELAMA INI JUGA TIDAK SUKA DENGAN SIKAP EGOSINYA! LEPASKAN AKU UMI-CHAN! NOZOMI!"
"T-Tidak, senpai! Tenangkan dirimu terlebih dahulu!"
"Benar Elicchi, angkara murkamu tidak akan menghasilkan pemecahan terbaik apapun bagi kelompok ini!"
"GEZZ... FINE! JIKA DIA HARUS PERGI MAKA AKU JUGA AKAN PERGI DARI SINI!" teriak Eli dengan suara keras.
"Kalian tahu?! Dibandingkan dengan seluruh keadaan yang terjadi di dunia pada saat ini, Bagiku, adikku itu jauh lebih berharga daripada nyawa kalian semua."
"PERSETAN DENGAN KALIAN!" umpat Eli sambil pergi meninggalkan mereka. Umi berlari mengejar Eli yang terlihat menangis.
"Eli-senpai, tunggu sebentar!"
"Jangan halangi aku, Umi! Keputusanku ini sudah bulat... Besok, Kami akan segera pergi setelah adikku sadar." kata Eli sambil melepaskan pegangan tangan Umi.
"PUAS KAN KAMU, HANAYO!", sekali lagi Eli berteriak melampiaskan amarahnya kepada Hanayo yang masih tergeletak di tanah dari kejauhan.
"E... ELI-SENPAI!" teriak Kotori cemas.
"Tenanglah Kotori, Elicchi tidak mungkin serius dengan perkataannya itu... Dia memang begitu jika menjadi emosional " kata Nozomi mencoba menenangkan Kotori.
"Aku akan mencari jalan keluar untuk menenangkan mereka berdua."
.
.
Part 3: I Will Never Make You Walk Alone!
.
Keesokan Paginya!
"GAWAT! Eli-senpai benar-benar pergi!" sebuah teriakan Umi secara tiba-tiba itu membuat panik keadaan perkemahan dan membangunkan para gadis yang masih terlelap dalam tenda mereka masing-masing.
"Heh, a-apa?! Eli-senpai beneran pergi meninggalkan tempat ini bersama Arisa-chan?! Duh, bagaimana ini?! Gawat! Gawat!", sahut Rin dalam keadaan ikut panik melihat reaksi kakak-kakak kelasnya yang menjadi gaduh meski masih harus bergulat dengan keadaan kantuk mereka sekarang.
Bagaimanapun juga keadaan ini begitu tiba-tiba bahkan Nozomi yang kemarin telah berbicara penuh wibawa berusaha menenangkan keadaan menjadi terkejut dengan keputusan Eli yang memilih untuk meninggalkan perkemahan.
Ini bukan Eli yang dia kenal, ini sama sekali diluar dari perkiraannya.
Layaknya seseorang yang bermain kartu bersama beberapa pemain lainnya dan seorang bandar. Keadaan dia kemarin adalah seorang pemain yang sudah berhasil memojokkan sang bandar dan tinggal membuka satu kartu andalan untuk dia bisa menyatakan kemenangannya. Namun yang terjadi bukanlah hal yang demikian, putaran terakhir yang seharusnya menjadi miliknya tiba-tiba dirusak oleh deklarasi kartu lainnya yang tidak lain merupakan milik rekan satu timnya. Dan kemenangan itu menjadi rusak sehingga sang bandar bisa tersenyum kembali untuk terbukanya kesempatan untuk bisa memenangkan permainan ini, sekaligus membunuh sang 'teman' itu.
Alasan mengapa Nozomi begitu yakin dengan perkiraannya tersebut karena dia telah berhasil berbicara dengan Eli untuk meredakan amarahnya. Namun dia gagal. Sementara itu para gadis lainnya juga ikut panik, kecuali Hanayo yang dengan tenang berkata:
"Yah, Kalau itu keputusan dia... yah, apa boleh buat. Kita sendiri masih harus melanjutkan perjalanan kita masing-masing. Lagipula, Tidak baik menunggu sesuatu yang tidak akan datang kembali." lanjut Hanayo dengan tenang sambil merapikan isi tasnya.
Pada awalnya para gadis itu nampak terkejut dengan perkataan Hanayo karena bagaimanapun juga perkataan itu nampak tidak masuk akal dan terlalu kejam. Bagi mereka sendiri, mereka lebih mengenal Eli jauh lebih baik ketimbang Hanayo yang beru saja mereka temui namun meskipun demikian tidak ada satupun gadis yang mampu mengutarakan pendapat itu karena takut. Sampai...
"Hahh?! Hanayo! Kamu itu apa-apan sih!" teriak Umi yang secara spontan terkejut mendengar jawaban Hanayo itu. "Aku tidak tahu apakah selama ini kamu pernah merasakan punya teman atau tidak! Tapi jika seorang teman dengan sengaja tega meninggalkan sahabatnya sendirian, bagiku dia itu tidak lebih rendah daripada sekedar sampah!"
"Ckkckk... Kalau begitu aku juga pergi!" geram Umi sambil membawa tas miliknya dan pergi berlari meninggalkan perkemahan.
"..."
Hanayo secara sengaja mengacuhkan perkataan Umi dan tetap memejamkan matanya saat Umi secara tegas menyatakan niatnya untuk pergi meninggalkan perkemahan. Pada waktu itu suasana pagi di tempat itu berubah menjadi hangat. Ada dua kubu yang terbentuk di dalam kelompok itu. Pendukung Kotori yang ingin menyelamatkan Honoka yang di komando oleh Hanayo dan pendukung Eli yang tidak terima dengan sikap sang komandan yang mengusir Arisa, adiknya begitu saja. Sayangnya, hanya Umi saja yang berada di kubu Eli, bahkan Nozomi tidak menyertainya.
Dan Umi lalu pergi meninggalkan kemah. Bersamaan dengan itu Hanayo yang memimpin unit yang tersisa bergegas untuk mempersiapkan diri untuk berangkat.
"Ayo kita pergi sekarang."
"Tunggu sebentar tapi dimana Kotori-san ?!" tanya Maki sambil menghitung jumlah orang yang tersisa dan kegemparan di sisa grup ini masih terus berlanjut.
"Ckkckk.. Anak itu...!"
Sementara itu, mencari jalan setapak yang telah mereka lewati di dalam hutan ini ternyata tidaklah mudah. Embun pagi yang membasahi tanah dan dedaunan membuat jalan menjadi gembur dan becek. Apabila gadis pirang itu tidak meneliti dengan seksama segerombolan tapak kaki yang mulai tertutup embun rapuh di tanah tersebut tentu mereka akan semakin tersesat lebih jauh.
"Onee-chan, kita mau pergi kemana?" tanya Alisa yang tampak kebingungan. Saat ini Eli dan Alisa sedang berjalan sendirian di tengah hutan untuk menuju arah balik tempat ketika mereka datang.
"Alisa-chan, saat ini kita akan segera pulang..." jawab Eli kepadanya sambil tersenyum dan mengelus rambut panjangnya. Sang adik yang melihat kelakuan kakaknya itu hanya menyisakan kebingungan seribu satu tanda tanya.
"Jadi, kita pergi meninggalkan mereka?"
"Yup, Lagipula mereka juga sudah tidak keberatan, kok..." jawab Eli yang masih mencoba tersenyum di hadapan adik semata wayangnya itu. Kedua orang itu lalu melanjutkan perjalanan dengan perasaan hati yang galau karena tempat yang mereka hadapi sekarang, jalan pulang ini terasa masih sangat jauh daripada perkiraan awalnya.
Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis dari belakang hutan sedang berlari tergesa-gesa dan memanggil-manggil mereka berdua. Sebuah suara yang sangat khas di telinga Eli. Suara seorang gadis yang membuat perjalanan di dalam hutan untuk kedua kali ini dilakukan secara mendesak.
"Ahh... Akhirnya ketemu juga!"
"Kotori?" sang senpai segera mengenali suara itu. dan...
"Hosh... Hosh... Hosh!"
"A... A-Aku... Aku cuma mau membawakan roti untuk kalian..." ucap Kotori dengan nafas tersengal-sengal. "Aku pikir karena kalian terlalu pagi pergi meninggalkan perkemahan, pasti kalian belum sempat makan dulu tadi, kan?!. Nah, Aku bertaruh kalian pasti saat ini kalian sedang kelaparan sekarang, kan?!". Kotori lalu mengeluarkan bekal roti dan botol minuman dari tas ranselnya.
"Terima Kasih Kotori-san..." jawab Eli malu-malu menerima pemberian roti dari Kotori. Dia yang telah menerima porsi makanannya lalu membagi roti itu menjadi dua bagian dan diberikan kepada Alisa juga. Itu bukan roti sandwich yang enak, hanya roti gandum olahan yang dibuat dengan panggangan api ala kadarnya sebagai bahan cadangan makanan mereka. Bagaimanapun juga makanan tetaplah makanan dan kedua gadis keturunan Rusia itu segera memakannya dengan lahap.
"Ahh... Tidak perlu sungkan." kata Kotori dengan wajah memerah. "Jadi, kalian benar-benar memutuskan untuk pergi yah? Baiklah kalau begitu aku akan mengantarkan kalian sampai depan hutan ini."
"Ehh, tidak usah repot-repot?!" Ujar Eli segan.
"Tenang saja, aku bisa kembali kepada mereka dengan cepat kok... Hanya dengan sekali terbang... hehehe..." jawab Kotori sambil mengeluarkan kartu "transform" miliknya.
Belum juga Eli selesai menikmati bekal makanannya tiba-tiba mereka bertiga mendengar suara seorang gadis lainnya dari dalam hutan sedang berjalan mendekati mereka dengan suara serak hampir menangis.
"HOOOIIII!... ELI-SAN, ALISA-CHAN...! KALIAN DIMANA?!"
"KEMBALILAH...!"
"Ehh, itu Umi, kan?" celetuk Eli terkejut ketika mendengar suara gadis itu samar-samar dari dalam hutan. Belum sempat Kotori menjawabnya namun Umi berhasil mendapati Eli dan segera berlari sekuat tenaga untuk mendapatinya.
"Aaahh... Ketemu!", seru Umi dengan perasaan gembira meluap-luap berlari menghampiri Eli dan Alisa dan memeluk mereka dengan erat.
"Uwooo... Ada apa ini?!" sahut Eli keheranan dengan ekspresi Umi yang begitu emosional.
"Kamu jangan pergi Eli-san. Bukankah kamu sudah berjanji kepada Kotori untuk menyelamatkan Honoka." ucap Umi dengan mata yang berkaca-kaca.
"J-Jika kamu pergi, mau ditaruh dimana mukaku ini kalau bertemu Kotori nantinya?!"
"Huaaa...aaaaa..." Umi menangis dengan keras di dalam pelukan Eli.
Anak kelas dua itu sejak awal meninggalkan kemah sudah begitu larut dengan kepedihannya karena membayangkan bagaimana jadinya nasib dia di dalam kelompok ini tanpa keberadaan sang senpai. Namun segala putus asa itu sirna ketika dia berhasil menemukan sang senpai dalam perjalanan pulangnya. Begitu bahagia hingga dia tidak menyadari sosok penting lainnya dalam perjalanan ini. yaitu...
"Emm... Ano, Umi-chan... Aku disini, kok... hehehe..." sahut Kotori sambil menepuk pundak sahabatnya tersebut dari belakang.
"Ehh?! Kotori?!" seru Umi dengan ekspresi tidak percaya. "Ahh! ke... ke-kenapa kamu ada disini?! B-bukankah seharusnya masih ada di perkemahan? Lalu, jadi kamu sudah dengar perkataanku tadi?! Aduh, aku malu..."
"Ehehehe... Sudah, tidak apa-apa. Eli-senpai sudah memutuskan sendiri untuk pulang dan tidak mengikuti kita, kan?. Jadi, aku juga tidak akan memaksannya untuk ikut mencari Honoka. Masalah ini dan masalah itu adalah dua hal yang berbeda jadi aku akan menghormati semua keputusan yang telah dia buat. Aku juga mengharapkan yang terbaik untuk kehidupan senpai-ku ini." terang Kotori sambil tersenyum.
"Kotori, maafkan aku yah..." kata Eli yang merasa terharu dengan ketulusan hati kohai-nya hingga menitikkan air mata.
"Uwwooo... Jangan menangis, Eli-senpai!"
"Lagipula, aku yakin kamu pasti akan kembali kepada kami lagi." imbuhnya dengan suara lirih
"Ehh? Kamu bilang apa Kotori?"
"Umm... bukan apa-apa... hehehe..." Kotori menyangkal perkataannya dan hanya menggelenggkan kepala kepadanya.
"K-Kalian... Kalian semua itu orang yang baik sekali yah. Aku harap bisa secepatnya masuk ke SMA Otonokizaka dan menjadi adik kelas kalian." Gadis terkecil di kelompok ini tidak tahan membuka suaranya untuk menanggapi perbincangan mereka.
"Tentu saja bisa! Kamu pasti bisa!" kata Umi tersenyum sambil memengang pundak Alisa.
.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan pulang dengan menyusuri rute jalan yang sebelumnya pernah di lalui oleh Eli dan Umi saat pertama kali keluar dari hutan ini. Eli dkk lalu menuju ke arah timur tempat mereka mengambil air kemarin kemudian menembus jalan pintas awal yang pernah mereka lewati. Alasan lain mengapa Eli dkk sengaja tidak memilih rute jalan balik yang tadi untuk mencegah kejadian kedatangan Kotori dan Umi terulang kembali. Mereka tidak mau keberadaan mereka berdua bisa dilacak kembali oleh gadis lainnya..
"Wah, ada air terjun! Indah sekali..." sahut Kotori dengan perasaan kagum memandangi sekeliling air terjun tempat mereka berada sekarang. Lokasi yang sama dimana mereka menemukan Arisa kemarin.
"Hmm, tempat ini yah..."
"Sebetulnya disinilah lokasi pertama kali kami mendirikan kemah di dalam hutan saat masih bersama dengan Honoka dan A-RISE." lanjut Umi mengenang saat itu.
"Disini juga kami menemukan Alisa pingsan." kata Eli sambil memandang adik kecilnya.
"H-H... Honoka pernah kesini?!" tiba-tiba Kotori merasa dadanya sesak saat memikirkan itu. ada perasaan haru yang begitu besar sehingga membuat bola matanya berkaca-kaca.
"K-Kotori? Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Umi cemas sambil memegang pundakknya. Saat itu ada sedikit linangan air mata yang hendak membasahi pipinya namun dia segera menyekanya dan berusaha tegar.
"Umm... tidak apa-apa."
"Ehh, U.. Umi-chan! Lihat ini! Ini kan..."
Eli menundukkan kepalanya ke dasar bebatuan tersebut untuk mengambil suatu benda dari dasar genangan air, tidak jauh dari air terjun itu.
"Pita?! Ahh, Jangan-jangan ini pita Honoka yang hilang pada waktu itu yah?!." seru Umi dengan mulut O menganga. Sementara itu Eli juga ikut terkejut. Keadaan mereka saat ini layaknya seorang ahi purbakala yang baru saja menemukan potongan tulang dinosaurus lainnya di tempat jatuhnya meteor yang memusnahkan kehidupan mereka.
"Ya ampun, Anak itu begitu ceroboh sampai bisa kehilangan benda seperti ini saat sedang mandi dulu."
"Hahaha..."
Mereka tertawa bersama-sama.
.
.
Part 4: A Forest Tale
.
Menjelang Siang Hari
"Jadi Alisa bagaimana ceritanya kamu bisa berada di hutan ini?" tanya Eli sementara mereka sedang beristirahat sejenak di dekat sungai kecil.
"Ehh, kakak lupa? Aku kan ada acara persami sekolah (perkemahan sabtu-minggu) pada minggu ini."
"...di dalam hutan terlarang ini?!" tanya Eli keheranan.
"Sebetulnya, enggak sih.. Tempatnya ada diluar hutan ini." jawab Arisa sembari menggaruk lehernya. "Aku dan Yukiho kemudian mendapat tugas untuk mengumpulkan kayu bakar. Tapi kami keasyikan bermain hingga ada di dalam hutan ini lalu masuk terlalu dalam dan berakhir di tempat ini, kemudian kami tersesat."
"Maksudmu, kamu selama ini bersama dengan Yukiho?!" seru Umi dan Kotori terkejut.
"Yukiho, adiknya Honoka itu, kan?!"
Alisa hanya menganggukkan kepala pelan dengan tampang murung.
"Dimana dia sekarang?!"
"Dia... dia... hiks hiks hiks..." Alisa tidak mampu menjawabnya dan hanya bisa terus menangis sembari memeluk tubuh kakaknya dengan erat.
"Ehh, Alisa.. k-kenapa kamu menangis?"
"Dia hilang...!" jawab Alisa singkat.
"Ehh...?!"
"Waktu itu... Ada sekumpulan monster yang menyerang kami pada saat malam hari. Dia lalu bertindak menghadang monster-monster itu untuk memberikan aku kesempatan untuk kabur Dan... Aku tidak tahu dimana dia sekarang!"
"Aku takut..." Alisa hanya bisa menangis tanpa henti dan menutup kata-katanya. "...dia sudah mati?!"
Saat itu ketiga gadis sisanya hanya bisa membeku mendengar perkataan tersebut. Setelah semua kejadian yang telah mereka lewati, kata 'kematian' seolah telah menjadi kosakata umum yang wajar diucapkan pada percakapan diantara mereka. Mereka seolah tidak lagi kaget ataupun simpati dengan kejadian yang menimpa Yukiho.
Ini semua adalah takdir. Apabila dia ditakdirkan untuk mati maka itulah yang terjadi namun tidak seorangpun mampu mengatakan itu kepada Alisa karena perasaan ini sudah tidak manusiawi lagi. Jadi...
"Tenang, tenanglah Alisa. Kakak sekarang ada disini bersama denganmu!" Kata Eli sambil mengusap lembut rambut pirang adiknya tersebut.
"Onee-chan, janji yah... Jangan tinggalkan aku." Pinta sang adik dengan mata berkaca-kaca. Eli menjawab itu tanpa suara melainkan menganggukan kepalanya sambil menatap mata sayu adiknya itu.
.
"Hmm... sebentar lagi hari akan semakin sore. Apakah kita harus melanjutkan perjalanan menuju luar hutan sekaligus? Tapi keadaan luar hutan pada malam hari sangatlah berbahaya. Bagaimana kalau hari ini kita beristirahat disini saja?" usul Umi dan Eli pun menyetujuinya
"Sayang sekali aku tidak sempat membawa peralatan kemah, jadi kita tidak bisa mendirikan tenda."
"Tidak masalah yang penting kita bisa membuat api unggun itu saja sudah cukup untuk melewati malam ini." kata Eli menaruh tasnya untuk mengeluarkan perkakas kemah bawaannya.
"Kalau begitu aku akan pergi mencari kayu bakar dulu yah.."
"Aku ikut yah Umi-senpai?!" pinta Alisa dengan semangat.
"Ehh? Bukankah kamu lebih aman bersama dengan kakakmu?"
"Aku... Aku ingin sedikit membantu disini. Aku sadar sudah banyak menjadi beban untuk kalian semua. Jadi, boleh yah, kak?" tanya Alisa kepada Umi dengan muka memelas.
"Errr, Aku sih tidak masalah, tapi kakakmu...?" Umi dengan pipi memerah menoleh kepada Eli. Eli hanya terdiam sembari memberikan senyumannya dan menganggukan kepala pelan.
.
1 Jam telah berlalu semenjak kepergian Umi dan Alisa di dalam hutan. Sementara mereka berdua pergi meninggalkan Eli dan Kotori. Kedua orang itu saat ini sedang membicarakan sesuatu hal secara serius di tempat itu. Begitu serius, sehingga membuat Eli sulit untuk mempercayai setiap perkataan yang diucapkan oleh Kotori barusan. Ada sebuah pertentangan, suatu hal yang aneh mulai terbesit dalam pikirannya sehingga membuat dia ingin mempercayai itu namun kehendak hatinya tetap menolak untuk melakukan itu. Saat ini gilirannya untuk berkata-kata, dia harus membantahnya, namun...
.
"KYAAAAAA...!"
Terdengar sebuah suara teriakan yang berasal dari arah seberang hutan timur jauh. Suara teriakan itu melengking dengan begitu halus hampir setipis hembusan udara dingin yang menderu seisi hutan ini. Kotori yang mendengar itu bahkan tidak percaya ketika mendengarnya, terlebih untuk Eli yang telah menyadaranyi sehingga dia segera menyambar tempat itu dengan langkah seribu. Karena...
"...ALISA?!"
Suara itu berasal dari tempat dimana Umi seharusnya berada sekarang namun hanya suara Alisa yang terdengar. Jadi, dimana Umi? Apakah sesuatu telah terjadi kepada Umi sekarang? Ini bukan waktunya untuk berputus asa! Mereka berdua tidak lagi memikirkan itu dan segera berlari menuju tempat dimana Alisa berada sekarang.
"Eli-senpai, kamu masih ingat kata-kataku, kan?"
"Ckkckk...! Aku... AKU MENGERTI!"
.
"ALISA, KAMU DIMANA?!" teriak Eli dengan gusar berlari menghampiri sumber suara tersebut.
"...disini! Onee-chan, tolong aku...!"
Terdengar suara samar-sama Alisa dari balik semak-semak. Eli dan Kotori segera bergegas menyusuri semak belukar yang cukup tinggi itu. Pada akhirnya, disana mereka tubuh Alisa tergeletak lemah dan bersimbah darah merah membasahi rerumputan disana. Aroma besi yang keluar dari cairan yang membalur tubuh mungil itu tercium begitu pekat di sekitar mereka. Bahkan, Eli yang melihat itu menjadi mual dan tidak tahan untuk mengeluarkan isi perutnya namun tetap dia berusaha menahannya.
"Alisa!Oh tidak, kenapa ada banyak darah di sini?"
"Alisa, ada apa ini?! Dimana Umi-chan?!" tanya Kotori cemas tidak memperdulikan keadaannya.
"...t-tadi ada sekawanan monster yang menyerang aku dan Umi-senpai. Lalu mereka pergi membawa pergi Umi-senpai ke sebelah sana!" jawab Alisa sambil mengangkat jmari mungilnya dengan tenaga lemah untuk menunjuk arah sebelah selatan hutan.
"APA?! OK! Eli-senpai, aku akan pergi mencari Umi sekarang! Jika melihat jejak darah ini seharusnya mereka tidak terlalu jauh." ucap Kotori menjelaskan rencananya dan mohon diri untuk meninggalkan mereka berdua dan mulai pergi mencari keberadaan Umi.
Saat itu sebenarnya Eli ingin memohon Kotori untuk tetap tinggal bersamanya sembari merawat luka adiknya namun dia tidak jadi mengucapkan itu dan membiarkan sang kohai pergi meninggalkan dirinya yang bersimbah darah oleh adiknya dan adiknya yang tergeletak lemah di rerumputan itu.
Eli sadar bahwa Kotori yang sekarang bukanlah sosok kohai yang selama ini dia kenal apalagi semenjak kejadian terakhir kali Kotori sudah menyelamatkan dirinya. Insting warrior yang ada dalam dirinya telah membuatnya tampil cakap menjadi sosok seorang pahlawan, bahkan pada pagi hari ini juga dia telah melakukannya dengan menyusul Eli dan Alisa hanya untuk membawakan sarapan. Jadi, memang sudah menjadi tugas seorang pahlawan untuk mengalahkan musuh dan menyelamatkan manusia yang membutuhkan pertolongan utama.
Dia menyadari itu, tapi...
.
.
Part 5: The Blood of...
.
"Hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks..Hiks hiks hiks..."
"Hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks..Hiks hiks hiks..."
"Alisa?! sudah, jangan menangis lagi!. Onee-chan sudah ada disini. T-Tenanglah... OK?!" kata Eli lembut sembari merangkul adiknya erat-erat.
"Hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks..Hiks hiks hiks..."
"Hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks..Hiks hiks hiks..."
"Hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks..Hiks hiks hiks..."
Suasana haru di antara kakak beradik itu segera menyelimuti atmosfer di tempat itu. Sang kakak perempuan membelai rambut pirang adiknya yang masih terkulai lemah dalam baluran cairan merah yang mewarnai rambut kuning miliknya. Sesungguhnya suasana ini akan menyentuh siapapun yang melihat mereka berdua sekarang. Sejujurnya, keadaan yang dialami oleh kedua orang ini sungguh tidak adil.
Eli bukanlah orang jahat namun harus memisahkan diri dari kelompoknya. Dia hanya ingin membela adiknya untuk mendapatkan perlindungan yang aman bersama dengan kelompok itu. adik perempuan yang dulu hilang itu telah ditemukan selamat di dalam hutan ini. Mengesampingkan fenomena aneh yang terjadi, dia benar-benar bersyukur bisa bertemu dengan adiknya.
Bukankah ini adalah sebuah takdir?
Apakah itu tidak boleh?
Mengapa gadis kuil itu sama sekali tidak mau mengerti itu?
Ini begitu merepotkan hingga kedua kohai-nya harus turun tangan untuk menyusul dia sekarang. Lalu, sekarang...
Hal yang paling buruk dan tidak dinginkan itu muncul. Para monster yang berada di dalam hutan ini, mimpi buruk bagi seluruh gadis ini yang hanya bisa dihalau oleh Hanayo dan Kotori telah datang menyerang mereka dan yang lebih buruk bagi Eli adalah kenyataan bahwa monster tersebut telah menyerang adik semata wayangnya yang tercinta.
"Hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks..Hiks hiks hiks..."
"hi hi hi hi... hi hi hi hi... hi hi hi hi..."
"Hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks..Hiks hiks hiks..."
"hi hi hi hi... hi hi hi hi... hi hi hi hi..."
"hi hi hi hi... hi hi hi hi... hi hi hi hi... hi hi hi hi... hi hi hi hi... hi hi hi hi... hi hi hi hi... hi hi hi hi... hi hi hi hi... hi hi hi hi... hi hi hi hi..."
"Eh? A-Alisa?!"
Eli tampak terkejut mengetahui ini, sesuatu yang aneh terjadi kepada tubuh mungil adiknya. Sebuah suara asing yang belum pernah didengarnya dari tubuh mungil itu secara perlahan dan meyakinkan terdengar lain. Intonasi suara adik imutnya yang masih menangis tersebut berubah menjadi sesosok yang lain. Sosok mungil adiknya yang sedari tadi menangis tak berdaya telah berubah menjadi tawa cekikik yang kelam dan jahat.
"HIHIHIHIHI... HIHIHIHIHI... HIHIHIHIHI... HIHIHIHIHI... HIHIHIHIHI... HIHIHIHIHI... HIHIHIHIHI... HIHIHIHIHI... HIHIHIHIHI... HIHIHIHIHI... HIHIHIHIHI... HIHIHIHIHI... HIHIHIHIHI... HIHIHIHIHI... HIHIHIHIHI..."
"Ehh, A-Alisa?!"
Eli melepaskan dekapannya dan Alisa nampak menggerakkan wajah polosnya untuk menatap kakaknya yang masih membaringkan kepalanya di atas pahanya sekarang. Namun itu terjadi dalam sekejab, sesuatu mulai berubah. Mimik wajah Alisa yang lembut itu kemudian berubah warna menjadi merah gelap. Sebuah sosok muka berbeda dan itu jelas bukanlah Alisa yang selama ini dia pernah kenal.
"HUAHAHAHAHAHA...! Jadi, cuma begini saja sosok sejati dari para warrior itu?! Ksatria legendaris yang ditakutkan oleh rekan-rekanku yang disebut-sebut dapat menjadi momok serius bagi yang mulia Shadow Master? Apakah cuma ini saja kepribadian mereka?! Ini sama sekali tidak masuk akal. Mereka sama sekali tidak menakutkan. Bahkan, terlalu lemah! Bukankah kamu juga setuju dengan itu Onee-chan...?! Ternyata mereka semua, para gadis itu, termasuk kamu itu memang tolol, yah? HUAHAHAHAHAHA!"
Gadis cilik itu mengibaskan rambut kuning pirang sembari bersuara centil namun sangat menjengkelkan ketika dia mulai berdiri perlahan-lahan secara tegak dan berbeda dari sebelumnya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kesakitan akibat luka, ini semua adalah palsu, dan memang palsu! Bahkan setelah itu dia dengan tega mendorong tubuh Eli yang menyangga tubuhnya ke belakang dengan satu tangan sementara tangan kanannya terulur untuk mencegah kehadiran gadis cilik itu semakin mendekat. Secara teknis tubuhnya mematung saat menatap Alisa karena itulah dia bisa mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong keras tubuh kakak perempuannya sehingga jatuh terjerembab ke tanah.
"A—ALISA...?! B-BUKAN! S-SIAPA KAMU INI SEBENARNYA?!"
"...Aku?!" gadis cilik itu perlahan-lahan berjalan mendekati Eli yang masih kesulitan untuk berdiri. "Aku ini adikmu, Onee-chan tersayang...!" katanya sambil tersenyum licik.
"BOHONG!"
"Itu beneran, kok! Apa perlu aku membuka baju atasku dan memperlihatkan kepadamu tanda tahi lalat di bagian kiri payudaraku? Atau haruskah aku menceritakan kejadian memalukanmu saat liburan musim panas di rusia tahun lalu dimana secara tidak sengaja mengintip papa mandi? Ah, ada banyak hal memalukan tentangmu yang tidak ingin aku ketahui sebenaranya. Yah begitulah, aku sudah mengenalmu dengan sangat baik, nee-chan. Jadi, percaya atau tidak kamu harus mengakui bahwa aku ini memang adik perempuanmu!"
"Heh?!, Alisa, k-kalau begitu kamu ini lagi bercanda kan?" sontak Eli dengan penuh tawa keraguan. Bagaimanapun juga dia masih belum sepenuhnya mengerti maksud perkataan gadis cilik itu.
"Sudah, ah! Kita akhiri saja peran konyol kakak-beradik ini. Ya ampun, padahal aku masih ingin bermain-main denganmu namun karena aku sudah tidak tega untuk melihat sosokmu yang sok kuat itu lebih baik aku ungkap saja jati diriku yang sebenarnya." katanya sembari menarik nafas pendek.
"..."
"Sebenarnya, aku ini... aku ini memang bukan adikmu lagi, Onee-chan..." jawab gadis pirang itu dengan tenang sambil tersenyum licik. "Lebih detailnya adalah seseorang yang pernah menjadi adikmu atau lebih singkatnya adalah sosok yang kamu lihat saat ini hanyalah seorang mantan adikmu... hihihihi..."
"A—APA?!"
.
"Alisa" berjalan mendekati tubuh molek "onee-chan"-nya yang semakin merangkak mundur perlahan-lahan untuk menjauhinya dengan pandangan mata bengis. Seolah-olah belum cukup dengan kenyataan menyakitkan yang sudah mencabik-cabik hati rapuhnya, terror itu perlahan-lahan menghampirinya dengan sebilah pisau pramuka berlumuran darah di dalam genggaman tangan yang berasal dari balik mantelnya. Tanpa ampun, dalam waktu singkat dia menikamkan pisau belati itu ke sisi samping kiri pinggang Eli.
"Arrcccggghhhh...!" Eli menjerit. Dirinya menangis, alih-alih meringis karena tertikam, dia lebih menangis karena harus menerima kenyataan pahit yang sudah mutlak berubah menjadi sebuah terror di depan matanya sekarang.
Tangannya meraba bagian besi tajam yang masih menempel di dalam daging sekitar pinggangnya. Telapaknya merasakan cairan hangat yang berasal dari dalam tubuhnya sendiri itu. Dengan sisa-sisa kesadaran yang dia miliki kemudian Eli berusaha mencabut ganggang pisau kecil yang sudah ditancapkan cukup dalam oleh Alisa.
"Yah, Yah... Suara itu...!" Gadis cilik itu menatap kakaknya dengan mata kosong terbuka lebar dan sebuah senyuman sadis penuh kepuasan terpancar jelas dari wajahnya. "...Suara itulah yang aku rindukan! Benar-benar nyanyian yang nyaring untuk di dengarkan, bukan?, O-nee-chan?! Hahahahaha...! Eli-neechan, Seharusnya kamu melihat sendiri bagaimana ekspresi dia saat aku menyiksanya dan membuatnya mati perlahan-lahan."
"M—Mati...?!" Eli mendengar itu dengan sangat jelas. Matanya terbuka lebar, itu bukan karena dia ingin melihat sesuatu secara jelas bahkan sebaliknya dia ingin menghapus kenyataan ini. Dia tidak siap merespon ketegangan yang telah menghancurkan hatinya yang sudah retak itu menjadi berkeping-keping.
"..d-dimana... dimana Alisa sekarang?!"
"Alisa? Oh, kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Eli-neechan, Tidak perlu juga repot-repot untuk mencarinya. Toh, tubuh anak itu juga tidak jauh dari sini, kok...!" jawab Gadis cilik itu dengan tenang sembari tersenyum sinis. Jari telunjuknya terangkat lalu diarahkan menuju suatu tempat, letaknya tidak jauh bahkan ada di bawah dada mungilnya. Seketika itu juga Eli merasakan bahwa bulu kuduknya berdiri karena merinding dengan tebakan di dalam pikirannya dan sebuah perkataan yang menyakitkan itu terungkap.
"dia ada disini..." katanya pelan. "...dia sudah ada di dalam perutku. Jiahahahaha..." katanya tertawa sambil mengelus-elus perutnya. "Aku tidak akan pernah melupakan betapa empuknya daging anak itu ketika aku kunyah perlahan-lahan." lanjutnya sambil menjelirkan lidah dan menjilati bibir luarnya.
"Ber-Berhenti... Hentikan itu!" Eli memandang jijik gadis itu sambil berusaha menutup matanya rapat-rapat. Saat itu perut Eli juga merasa mual seolah ingin mengeluarkan seluruh isinya sekarang. Jarak diantara mereka berdua sebenarnya sangat dekat, Eli bahkan sudah bisa merasakan hangatnya dengusan nafas Alisa yang menatap wajahnya dalam-dalam. Sebuah senyuman palsu terukir di matanya sekarang.
"Kalau begitu... Itadakimasu! Selamat tinggal... Onee-chan...!"
Gadis cilik itu secara ajaib merenggangkan rongga mulutnya selebar-lebarnya persis dengan mulut seorang kuda nil di tepian sungai di mesir yang membuka mulutnya 90° untuk menakut-nakuti musuhnya. Saat ini dia praktis sedang berusaha untuk memakan tubuh Eli seutuhnya.
.
"GYAAAA...!"
.
Dan keajaiban tidak terduga itu kemudian datang.
.
.
Part 6: The True Identity
.
"TIDAK SECEPAT ITU...!"
Tiba-tiba, sebuah teriakan keras menggema di dalam hutan dan sebuah tombak cahaya melesat dengan cepat dari atas langit turun menuju tempat kedua orang itu berada. Sasaran utama dari tombak itu adalah seorang gadis cilik yang berperawakan mungil yang sedari kemarin bersama Eli. Gadis itu bernama Alisa namun bukan Alisa yang sebenarnya karena sosok asli dari tubuh itu sejak awal memang bukanlah seorang manusia.
Ledakan terjadi disana namun gadis cilik yang sebelumnya melebarkan mulutnya itu bergerak gesit dan dengan gerakan refleks yang bagus dia melompat ke belakang sehingga Alisa dapat menghindari serangan tombak tersebut.
Akibatnya...
Sebuah kawah kecil mulai tercipta tepat di tanah dan itu terjadi tepat di antara pangkal kaki jenjang Eli yang terbuka renggang disana. Keberadaan tombak itu sendiri secara misterius telah menghilang tanpa bekas dan berubah menjadi asap putih menyisakan bekas cekungan tanah disana.
Ini adalah sebuah serangan dadakan yang tidak diketahui siapapun. Seolah tidak ingin menerima kenyataan ini bahkan Eli yang menyaksikan serangan di depan matanya itu dibuat tidak berdaya hingga membuat kakinya menjadi gemetar dan tidak bisa bergerak. Dia merasa bahawa seolah-olah serang misterius itu tadi sengaja mengarah kepada dirinya. Dia merasa tidak aman dan perasaan terror itu semakin bertambah.
Dan pada saat ini bukan hanya gadis pirang itu saja yang terkejut bahkan gadis cilik yang seharusnya tadi merasakan serangan itu berubah menjadi terkesan setelah mengantisipasi serangan terlambat itu. Sesuatu yang sudah lama dia duga dan ditunggu-tunggu telah tiba. Momen dimana 'dia' mulai bergerak untuk saling melawan telah datang. Bahkan, sejak awal dia benar-benar mengerti hal ini sudah pasti akan terjadi.
Dia telah datang. Sosok kehadirannya sudah berada di depan mereka. Sang
warrior yang sejak awal telah mengawasi seluruh tingkah dirinya kini mulai menampakkan wujud aslinya.
Namun...
"APAA?! K-KENAPA KAMU DISINI?!" sontak Alisa saat mengetahui kehadiran gadis bermandikan cahaya perak itu terbang menaungi diri mereka, sang Angel Warrior, Kotori telah muncul dengan perawakan wujud ksatria cantiknya di hadapan mereka sambil menghunuskan mata tombak cahaya tepat di depan muka gadis cilik itu.
"..."
"Eli-senpai, apakah kamu tidak apa-apa?!" tanya Kotori tanpa menoleh.
"A-Aku baik-baik saja."
"Kini kamu percaya kata-kataku kan?!"
"T-Tapi... T-Tapi... Tetap saja..."
Kepala Eli mengangguk pelan namun suaranya hanya terdengar gemetar dengan sangat tidak meyakinkan untuk bisa diketahui oleh orang lain. Tidak ada alasan untuk ragu kembali, Kotori tahu bahwa tanpa dia menoleh sekalipun dia bisa merasakan bagaimana kalut hati sang senpai sekarang saat menerima kebenaran ini. Kenyataan yang terlalu pahit untuk bisa diterima menjadi kebenaran namun dia tetap harus menerimanya.
Ini bukanlah masalah melindungi orang terkasih atau bukan.
Ini adalah tentang menerima kebenaran secara mutlak dan tidak mempertanyakan alasannya.
Hidup dengan menerima kenyataan yang menyakitkan atau tertawa bahagia dalam kepalsuan perasaan yang memilukan?
Kotori sedari awal memberikan pilihan itu kepada sang senpai. Eli yang diperhadapkan dengan pilihan tersebut harus memilih itu di dalam keputusasaannya sekarang. Namun...
"Eli-senpai.. AWAS!"
Gadis cilik itu ternyata tidak hanya mahir dalam kelincahan tubuh namun juga menguasai kekuatan sihir untuk menggerakkan benda dari kejauhan. Memanfaatkan kelengahan Kotori, dia diam-diam memberikan sugesti sihir untuk memotong ranting dahan pohon besar yang berada di atas Eli namun Kotori juga menyadari itu dan segera terbang menyelamatkan tubuh senpainya yang hampir tidak mau bergerak dari tempatnya. Dengan sekali kepakan sayapnya dan dengan memanfaatkan kekuatan lontaran tombak yang tertancap di tanah, dia mendorong tubuhnya untuk menyelamakan senpainya.
Gadis cilik itu tidak tinggal diam saja melihat kesempatan itu dan dengan sekali gerakan melompat dia terbang tinggi menuju atas dahan pohon di seberangnya. Dalam waktu sekejab tubuhnya menghilang di telan rerimbunan dedaunan pohon dan menyisakan suaranya. Ini bagaikan kamuflase sempurna yang menyatu dengan hutan.
"Hei, kenapa kamu ada disini? Bukankah tadi kamu sedang dalam perjalanan untuk mencari Umi Sonoda?! Cihh...Pergi kamu, manusia bersayap! Kamu jangan coba-coba untuk menghalangi jalanku, yah..?!" kata suara gadis cilik itu dengan misterius namun Eli yang mendengar itu semua seolah-olah menghiraukannya dan tidak mau percaya dengan kenyataan yang ada. Bahkan dengan mengandalkan indra pendengarannya kedua tapak kaki kecilnya mulai maju selangkah demi selangkah untuk menghampiri gadis cilik tersebut secara acak.
"A-ALISA!" katanya dengan suara gemetar. Dan..
"PLAKK!"
.
Gerakan gadis pirang itu mulai berhenti dari tempatnya berpijak. Tangannya mengelus pipinya yang terasa panas dan tatapan bola mata biru yang sudah pudar itu kembali mendapatkan nyawanya.
Sebuah tamparan yang cukup keras dari Kotori mendarat di pipi kanan kakak kelasnya itu. Mata amber bulatnya terbuka lebar dan giginya menggertak geram, kedua tangannya memegang pundak gadis bule itu dengan penuh emosi.
"ELI-SENPAI! SADARLAH! DIA ITU BUKAN ALISA!" teriak Kotori kesal.
"Ahh...?!"
"Apakah kamu itu bodoh?! Butuh waktu berapa lama lagi sampai kamu bisa menyadari itu?! bukankah sejak awal kamu menemukan dia, kamu sudah bisa menyadarinya bahwa sosok kecil di depanmu itu memang bukanlah Alisa? Bukankah begitu, Senpai?! Ayo, Buka matamu itu, Senpai?!"
"...Aku."
"..."
"Tcih! Hei, Monster tunjukkan wajah aslimu! Aku sudah muak dengan topeng palsumu itu!" Kotori dengan wajah geram berteriak searah menuju sebuah sudut seolah mengetahui letak sosok itu berada.
"Khu..khu...khu..." sebuah suara menggema di dalam hutan. "Ada apa? Apa kamu pikir kamu bisa mengalahkanku jika aku menampakkan wujud asliku?" tantang Alisa.
Pada awalnya tidak ada sesuatu yang terjadi. Kotori masih menggertakkan giginya keras seolah sedang melumat gigi lainnya. Namun sosok itu tiba-tiba melesat turun ke bawah tanpa menunjukkan bayangannya. Dia tersenyum menyapa Kotori yang memasang kuda-kuda siaga di belakang Eli.
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau tapi asal kamu tahu saja yah? Hanya dengan menggunakan tubuh ini saja, aku masih bisa mengalahkanmu, kok?!"
"Sial, Monster... Monster sialan!" teriak Kotori yang benar-benar marah kali ini. "Apakah kamu tahu siapa orang yang kamu pergunakan tubuhnya itu? Apakah kamu mengerti siapa dia? orang yang mau memelukmu sedari kemarin?!"
"Tentu. Aku selalu mengenal orang yang menjadi mangsaku. Pada dasarnya memang begitulah caraku untuk bertahan hidup aku akan mengambil alih tubuh korban mangsaku dan mengambil seluruh informasi kehidupan di dalam memori ingatan mereka secara sempurna. Begitulah caranya aku mendekati Eli Ayase. Memangnya kamu pikir aku akan sebodoh itu untuk nekat mendekati kalian dan menyerang kalian dengan terang-terangan? Hahahaha...!"
"Siapa kamu?!"
"Aku? Aku adalah Alisa Ayase. Apakah kamu tidak bisa melihat itu?! baka!"
"SALAH!" seru Kotori itu disertai dengan serangan tombak cahaya yang melesat bagaikan petir kepada gadis itu. tentu saja dengan lincah dan tubuh mungilnya dia dapat menghindari serangan tersebut dengan melompat ke samping.
"Mau menyangkal seperti apapun pada dasarnya akulah pemilik identitas anak ini sekarang. Di dunia ini selalu tersedia satu identitas untuk satu orang. Apa yang aku lakukan sekarang adalah hal yang sederhana. Aku mewarisi identitas miliknya dan menggantikan kehidupannya agar bisa menjadi pewaris nama keluarga Ayase. Bukankah kamu juga senang dengan kenyataan tersebut, iya kan, Eli-neechan?!" gadis cilik itu tersenyum menatap Eli yang memalingkan wajahnya ke bawah.
"..."
"Tidak bisa dimaafkan! Memangnya kalau kamu mendapatkan memori Alisa jadi kamu bisa mengerti perasaan yang dia miliki?! Aku meragukan itu! sama seperti identitas, di dunia ini selalu ada hal pribadi yang bisa dipalsukan ataupun dimanipulasi oleh orang lain namun ada satu hal yang tidak akan bisa tergantikan atau digandakan. Itu adalah Hati Nurani."
"..."
"Apakah kamu bisa memahami itu?! Tentu saja kamu tidak bisa memahami itu! itu adah perasaan spesial yang hanya dimiliki oleh manusia dan bukannya untuk monster peniru sepertimu! Lagipula, monster yang berpura-pura menjadi seorang manusia lalu mempermainkan perasaan cinta orang lain... Itu adalah perbuatan keji yang tidak bisa di maafkan! Aku, Kotori Minami, Sang Angel Warrior akan menghukummu!"
"Khu..Khu..Khu... dengan senang hati aku akan bertarung melawanmu!" teriak Alisa sambil berlari menghadapi Kotori. Alisa mengeluarkan sebuah energi kekuatan berkumpul di tangan kiri mungilnya, sebuah bola sinar gelap kecil yang semakin lama berbentuk besar dan dilesatkan kepada Kotori.
"DARK BEAM!"
Pada dasarnya serangan bola gelap Alisa itu merupakan anti material yang bekerja layaknya sebuah lubang hitam yang dapat menyerap apapun yang mengenai sinar gelap itu. Kotori tidak mengerti itu, satu-satunya yang dia pelajari dalam pertarungannya sebagai seorang warrior adalah percaya bahwa serangan terbaik adalah serangan menggunakan senjata pamungkasmu sejak awal. Karena itulah hal yang digunakan untuk melawannya adalah...
"SHINING LASER!"
Dengan ujung mata tombak yang bersinar terang, Kotori mencoba menghalau sinar gelap tersebut dari depan. Akan tetapi Alisa tidak berminat meladeni serangan normal Kotori melainkan dia menurunkan tubuhnya yang pendek itu sedikit membungkuk sehingga lolos dari hunusan serangan tombaknya dan ketika dia sudah berada tepat di depan tubuhnya, dengan sedikit menukik Alisa memberikan serangan bola hitam itu tepat di area dadanya akibatnya sinar gelap itu terpapar semakin besar ke seluruh tubuh Kotori.
"Kyaaaaa...aaaaa...!"
Seandainya saja Kotori menyadari itu sepermili detik tentu dia bisa menghalaunya namun semuanya sudah terlambat dan bola gelap itu memang dimaksudkan untuk menyerap separuh dari kekuatan Warrior-nya.
"Kamu... K-Kamu ini siapa?!" tanya Kotori dengan suara terputus-putus. Kotori seketika itu juga telah kembali berubah wujud menjadi bentuk manusia karena kehilangan energi Warriornya.
"Huahahaha... Bahkan seorang Warrior saja tidak mampu menghadapi kekuatanku...! Inilah kekuatan kami yang sebenarnya. Dengarkanlah ini manusia burung. Wahai, Knight Warrior. Kami adalah para Ksatria Kegelapan, Clandestine!."
"Klan-des-tain?!"
Samar-samar Kotori merasa bahwa pandangannya mulai tampak kabur dan menjadi gelap sebelum dirinya menjadi kehilangan kesadaran. Dari kejauhan Eli bisa melihat bahwa gadis cilik itu kembali berjalan perlahan-lahan semakin mendekati tubuh Kotori yang sudah tergeletak tidak berdaya. Segera setelah itu dia kemudian menyadari bahwa Alisa akan melakukan sesuatu kepada Kotori. Sesuatu yang sama yang tadi hendak dia lakukan kepada dirinya. Gadis itu akan segera memakan tubuh Kotori.
Dengan mulut terbuka lebar gadis cilik itu mengucapkan salam sopan santunnya.
.
"ITADAKIMA-"
Dan...
.
"DUARRRR!"
.
Tiba-tiba muncul seutas tali cambuk yang disentak dengan keras kepada bumi sehingga menimbulkan awan kabut debu yang tebal untuk memisahkan jarak antara Kotori dengan monster cilik itu. Tentu itu adalah ulah dari Hanayo Koizumi, Gem Warrior, The Rocky Knight yang tiba-tiba muncul menyelamatkan Kotori dengan bantuan tali cambuknya.
.
.
Part 7: Your Decision, Determined!
.
"Hmm..."
"Nama: Navolger, Asal: Air, Level: Bintang 7, Senjata Andalan: Dark Beam, Power skill: mampu memanipulasi wujud orang yang sudah dimakannya."
"Huh? Monster kanibal yah? Sangat membosankan sekali..." terangnya saat membaca informasi di layar Stage Charger miliknya. "Hei kamu, kamu masih kuat untuk berdiri kan?" Tanya Hanayo kepada Kotori. Kotori mengangguk kepala pelan.
"Ehh, umm—mm..." Kotori mengangguk. "kau ini kenapa lama sekali untuk menyusul kesini?!"
"Huh?! Aku pikir dari tadi kamu menikmati drama picisan kakak beradik ini?"
"HHAAAHH?!"
"Yah.. Jadi, Navolger. Apa yang kamu mau?" tanya Hanayo kepada gadis monster itu dengan sopan.
"Aku tidak ada niat untuk bertarung denganmu. Bagaimana kalau kamu pergi saja dari sini dengan baik-baik? Aku akan menganggap kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Jadi, kamu kembalilah ke kelompokmu dan aku membawa pulang anggotaku ke perkemahan kembali. Dengan begitu kita berdua tidak perlu bertarung dan tidak perlu ada luka sia-sia yang harus membekas akibat kejadian ini, kan? Bukankah ini Adil, kan?"
"Ehh?!"
"Huh? Aku sudah menyuruhmu untuk pergi... Sana pergi! Hush hush...!"
Awalnya Navolger, monster peniru Alisa itu hanya bisa bengong menerima perkataan Hanayo barusan. Namun setelah pertanyaan yang kedua, dia tersadar bahwa kesepakatan itu tidak lebih dari ungkapan untuk meremehkan dirinya dan sebagai utusan Shadow Master tentu saja ini merupakan sebuah penghinaan yang terpampang nyata dan oleh karena itu dia kemudian berubah sikap dengann mengeluarkan amarahnya.
"HEI KAMU! KAMU MENGEJEKKU YAH!"
"Ups, ketahuan yah?" Hanayo tertawa terkikih.
"Sialan, rasakan ini!" Navolger itu berlari dengan tinju terkepal di tangan kanannya.
"Kyaaa... HANAYO AWAS!!" teriak Eli.
[[BRUKK...!]]
Sebuah pukulan keras dari tangan kanan monster itu mendarat di pelipis kanan Hanayo. Akan tetapi meskipun sudah menerima serangan tersebut Hanayo tetap bergeming tegar di tempatnya berdiri, dia tetap menatap Navolger dengan mata menantang.
Navolger melihat itu dan menjadi heran. Dia heran mengapa sang Warrior itu tidak melawan balik namun yang lebih membuatnya kesal adalah kenyataan bahwa setiap pukulan yang diberikannya tidak serta merta membuatnya jatuh telak. Setiap kali tinju itu bersarang di kepala, dada atau kakinya maka tangannya akan segera memegang tumit kakinya agar badannya tidak menyentuh tanah bahkan pada akhirnya dia masih terus berdiri untuk menantangnya.
Sungguh, keadaan itu membuatnya sangat jengkel dan akibatnya dia menjadi kehilangan kendali dan kembali terus menghajar Hanayo habis-habisan. Namun demikian, dengan menggunakan setiap nafas terakhirnya, Hanayo masih berusaha untuk tetap berdiri.
.
"Kenapa... Kenapa Hanayo! Kenapa kamu tidak balik melawannya?!"
"Huh?"
"Kenapa kamu tidak bertarung?"
"Huh?" Hanayo hanya merespon itu seperti orang ling-lung. Kepalanya bahkan sedikit miring ketika menatap Eli yang melihat dirinya dengan cemas dan gemetar.
"Aku bilang... Kenapa kamu tidak menghajar balik dia?!" tanya Eli yang menjerit kesal.
"...Memangnya kamu sudah yakin dengan itu, Eli-san? Itu "adik"-mu lho?!" kata Hanayo datar sambil menatap Eli dengan pancaran mata kosong.
Seketika itu dada Eli menjadi terasa sesak saat mengetahui bahwa ada maksud lain mengapa dia sengaja bertindak seperti ini. Mengapa Hanayo memilih untuk menerima serangan dan tidak melancarkan serangan balik. Ini bukan tentang Hanayo melainkan Eli. maksud pertanyaan Hanayo yang sebenarnya di balik perkataan awalnya adalah apakah dia yakin dia sudah tega melihat 'adik'nya di hajar balik di depan matanya sendiri.
Bukankah pertarungan ini akan berakhir sia-sia apabila dia berhasil menang namun membuat Eli menyimpan dendam kepadanya?
Atau haruskah dia berpura-pura kalah padahal dia masih bisa mengeluarkan seluruh tenaganya untuk melawan balik?
Tentu saja dia bisa namun tentu saja itu akan membuat Kotori kecewa dengan figur Warrior yang disandangnya. Kalau begitu, bukankah lebih baik kalau dia diam saja dan menerima seluruh serangan ini? Apabila tenaganya terkuras berarti dia kalah, namun apabila tenaga monster itu yang lebih dulu habis maka dia yang menang. Jadi, bukankah itu ide terbaiknya?
.
"...MATI KAMU!"
Monster Navolger menggeram tanpa memperdulikan seluruh pemikiran tersebut. Dia hanya penasaran mengapa belum berhasil membuat tubuhnya terantuk tanah. Karena itulah dia kembali maju menendang Hanayo hingga jatuh terjerembab. Kali ini serangannya difokuskan pada di bagian dada dan perutnya, tanpa ampun dia terus memukul Hanayo bertubi-tubi di bagian perutnya hingga nampak lebam membiru-ungu, jubah hitam yang membalut tubuhnya terlihat compang-camping karena terkoyak disana-sini namun yang seperti yang sudah-sudah dia tetap tidak berhasil membuat punggungnya menyentuh tanah bahkan setelah mengerahkan setiap sisa tenaganya yang bertumpu pada kedua kakinya dia terus berjuang untuk mampu berdiri kembali.
"J-jadi, A-apa yang kamu mau?" sang warrior itu berbicara kembali. Sebuah pertanyaan yang sama namun dengan subyek orang yang berbeda.
"DEATH PUNCH!"
Navolger bersiap memberikan serangan pukulan mautnya ke muka Hanayo. Sementara itu Kotori yang sudah kehabisan tenaga karena terpapar energi hitam tidak mampu melakukan apa-apa lagi. Eli hanya bisa menangis menonton kejadian tragedi yang memilukan itu tepat di depan matanya.
Pada bagian lain ini seperti menonton layar bioskop 4DX, kamu bisa merasakan seolah-olah ada di dalam tayangan itu namun tidak bisa mempengaruhi jalannya alur cerita. Seolah-olah nyata namun di alam sadar lainnya ada perintah yang menyatakan bahwa ini adalah cerita fiksi dan kamu bisa tenang menonton saja sampai acara ini selesai.
Namun, bukan seperti itu yang terjadi. Ini adalah pertunjukkan live dan Eli harus memiliki pilihan yang diserahkan ke dalam genggaman tangannya. Dan dia memilih..
"J—jangan! H—hentikan...!"
"Matilah kau, warrior!"
"..."
"t-tolong...!"
"h...haa-naaa-yooo!"
"HA-HANAYO, TOLONGLAH!" teriak Eli dengan suara melengking disertai air mata yang mengalir di pipinya. "B—BUNUH DIA!"
"..."
"Hmm, Baiklah.." Gumamnya sambil tersenyum sinis. "Dengan senang hati"
Hanayo segera memutar tubuhnya ke samping untuk menghindari pukulan jitu terakhir Navolger yang berlari lurus dari depan. Itu adalah sebuah tanda, Warrior itu telah bertekad dan kini dia telah bangkit untuk serius bertarung melawan monster peniru itu.
"BUSHIMO!"
Sebuah mantra perubahan diaktifkan dan Hanayo berubah wujud menjadi Gems Warrior, Rocky Knight. Dan dengan kekuatan sihirnya dia segera membekukan kaki Navolger yang masih menyentuh tanah dengan pasir semen yang lengket sehingga membuat monster itu tidak bisa bergerak.
Kekuaan Gems Warrior adalah mengendalikan tanah maka itulah dia dapat memanipulasi apapun yang masih berasal dari tanah menjadi senjatanya bahkan mengubah material mentah tersebut menjadi kondisi yang diinginkannya sesuai dengan pemikirannya.
"A—APA INI!"
"Hei, Monster peniru... Waktumu sudah habis! Jika kamu sayang dengan nyawamu sebaiknya kamu mulai menunjukkan wujudmu yang sebenarnya. SEKARANG!" Hanayo serius memulai serangannya dengan mengeluarkan seutas cambuk dari alat device-nya yang disabetkan mengenai bagian perut Navolger.
"Gbbbaaah...gbbbhaaah... gbaaaaah!"
"Ups, jangan marah yah. ini balasan untuk yang tadi. Lalu, sekarang adalah ini..."
"GOLDEN STONE!"
Hanayo menunduk dan membulatkan kedua tapak tangannya setengah lingkaran seolah sedang mengelus bola tak kasat mata. Perlahan-lahan dia berdiri sambil mempertahankan bentuk tersebut, ini mirip dengan menarik benda yang berat dari bawah dengan sekali pelukan. Dan sesuatu mulai muncul tertarik dari dalam tanah.
Tanah mulai berguncang dan kemudian muncul sebongkah batu besar berwarna emas dari dalam tanah di depan Hanayo. Hanayo tersenyum melihat itu dan dengan sekali sabetan dia melilit sekeliling batu itu dengan senjata cambuknya dan kemudian melontarkan bongkahan itu kepada Navolger.
"whhaaa...?!"
"Rasakan ini!"
"B-BERAT...!" keluh Navolger yang berusaha keras menahan timpaan batu itu dengan kedua tangan di atas kepalanya.
"Huh? Tentu saja... Lagipula itu adalah batu emas asli dengan berat 2.000 ton."
"A—APA INI?!"
"Well, tentunya itu bukan batu biasa. Sejatinya, Bongkah batu ini bahkan tidak berasal dari bumi. (lagipula emas itu merupakan material logam bukan jenis batu) karena itulah semakin lama batu itu berada di bumi maka dia akan berusaha mempertahankan bentuknya dengan menyerap bahan material lain yang ada di sekitarnya sehingga menambah beban masanya dan membuatnya menjadi semakin berat dan semakin berat." jelas Hanayo tersenyum. "Tidak ada gunanya kamu berusaha menahan itu dengan wujud bocah cilik seperti itu."
"GWAAAAA!"
"Seperti yang sudah aku bilang, jika kamu sayang nyawamu maka kamu lebih baik kembalilah ke wujud aslimu sekarang!"
"Tcihh, ii—ini... K-KETERLALUAN! UWAAAAAAA...!"
.
Sesuatu yang aneh terjadi pada Navolger yang saat ini berteriak kesakitan, seakan-akan ada sesuatu dari dalam tubuhnya yang segera meledak. Kulitnya mulai membengkak disertai perubahan warna merah di bagian wajah dan tangannya. Ada sedikit retakan yang mulai melunturkan kulitnya yang terbuka seolah-olah itu adalah besi kaleng yang bocor dari dalam karena pemampatkan gas di dalam kaleng yang tertekan oleh volume gas luar sehingga volume gas di dalamnya menjadi membengkak. Secara perlahan namun pasti, dia kini mulai kehilangan keseimbangan dan badannya semakin terdorong masuk ke tanah akibat tertimpa bongkahan batu emas itu sepenuhnya.
"KAMU... AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
Itu adalah kata-kata terakhir sebelum monster itu sepenuhnya terpendam di dalam tanah akibat tertimpa bongkahan emas besar itu. Eli pada mulanya sedikit tersenyum sambil menangis karena lega semua ini bisa berakhir. Namun..
Tiba-tiba ada suara gemuruh keras dari dalam tanah yang mengguncangkan tanah yang ada disekitar tempat itu. Bongkahan batu emas raksasa itu terlempar begitu saja di udara. Tidak lama kemudian sesuatu mulai muncul, monster itu bangkit dari dalam tanah dengan wujud yang baru, dia tampak seperti seorang wanita yang memiliki wajah dipenuhi sisik ikan dengan rambut panjang dan seluruh tubuhnya berwarna biru kehitaman, seluruhnya memiliki sisik serupa reptil melata.
"Huh, jadi itu yah rupa wujud aslimu?" gumam Hanayo dengan memasang muka jijik. "Jelek yah!"
"GEERRRR... MATILAH KAU!"
Monster Navolger yang marah bergerak maju untuk memukul Hanayo kembali namun Hanayo kali ini lebih siap segera meladeni perlawanan monster itu. Dia segera melompat terbang menghindari pukulannya dan dalam sepersekian detik dia mengeluarkan sabetan cambuknya dari atas udara.
"FLARE WAVE!"
Tali cambuk itu melilit kaki kiri monster itu sehingga dia jatuh kehilangan keseimbangan. Sementara itu sebuah nyala kobaran api semakin besar mulai muncul dari lilitan tali itu sehingga membakar kakinya hingga hangus.
"ROAAAARRRR...!" Teriak Monster itu mengerang kesakitan
"Masih belum selesai!"
"GREEN FLASH!"
Dengan gerakan secepat kilat Hanayo kembali melemparkan tali cambuknya yang menegang, kini pada bagian ujungnya terbentuk duri lancip yang membuatnya menyerupai bentuk tombak panjang menuju ke perut monster itu. Tapi monster itu tersenyum sembari berbisik pelan.
"SECRET MIRROR!"
Monster itu mengeluarkan jurusnya sehingga muncul sebuah kaca di depannya yang melahap cambuk miliknya seutuhnya.
"HAH! APAA?!" Hanayo berteriak tidak percaya. Tiba-tiba dari belakang Hanayo keluar sebuah cermin yang sama dan kini cermin itu memuntahkan cambuk miliknya itu dan segera meluncur mengenai dirinya dari belakang punggungnya.
[["BAAAAMMM!"]]
"S—Sial!
"HAHAHAHAHA... Bagaimana rasanya terkena jurus sendiri?! Enak, kan?" ejek monster itu. sekali lagi dia berbisik sambil mengarahkan jari telunjuknya tepat di bayangan hitam Hanayo.
"CRAKER SOUL!"
Lagi-lagi Monster itu kembali mengucapkan sebuah mantra, kini muncul sebuah lubang hitam yang sangat besar di bawah kaki Hanayo. Hanayo yang tidak mendapat tempat pijakan pada akhirnya ikut terjatuh kedalamnya. Lalu, lubang itu lalu tertutup dengan sendirinya tanpa meninggalkan bekas.
.
.
Part 8: Say Your Prayer.
.
"HUAHAHAHAHAHA... BERHASIL!" Seru monster itu dengan penuh sukacita. "BERHASIL... BERHASIL!"
"A-AKU BERHASIL MEMBUNUH SATU WARRIOR DENGAN TANGANKU SENDIRI! ALFA-MASTER PASTI AKAN SENANG MENDENGAR BERITA INI!"
Monster itu berteriak kegirangan saat melihat serangannya berhasil, sementara itu di pihak lain, shock mendalam dialami oleh Eli dan Kotori yang melihat Hanayo telah lenyap di depan mata mereka sendiri.
"H-HANAYO!" Eli berteriak tanpa arti. Sementara itu Kotori yang tidak berdaya tidak mampu melakukan apa-apa selain mengeluarkan air mata tanpa henti.
Perlahan-lahan Monster Navolger mulai bergerak. Kini targetnya adalah mendekati Kotori yang masih berbaring tidak berdaya.
"T-Tunggu! Mau apa kamu?! jerit Eli yang segera maju menyambar keberadaan kohainya. Dia berusaha melindungi Kotori. "Kyaaa... Berhenti!"
"Kali ini aku tidak akan main-main lagi... Aku sudah tidak berminat memakan kalian lagi, sebaliknya aku akan segera mengirim kalian ke tempat teman kalian sebelumnya berasal!" Kata Monster itu dengan nafas bengis.
"A-Apa Maksudmu? Masaka, Umi-Chan?!"
"DARK BEAM!"
"Kyaaaa...!"
Lalu semua itu terjadi. Cahaya hitam itu mementalkan tubuh seseorang. itu bukan tubuh Eli dan Kotori. Sebaliknya serangan yang menimpa tubuh merea tiba-tiba terpental begitu saja tepat sesaat menyentuh kulit mereka. Pantulan sinar hitam itu berubah arah dan menyerang balik tuannya.
Itu karena...
Sesaat, sebelum sinar hitam itu menerpa tubuh Kotori dan Eli tiba-tiba secara ajaib kartu milik Eli dan Kotori yang disimpan dibalik baju mereka masing-masing terbang melayang dan memancarkan sinar abu-abu dan biru yang sangat terang dengan sendirinya, cahaya terang itu juga memantulkan balik pancaran sinar hitam yang dikeluarkan oleh monster itu.
.
"Kekuatan ini...!" kata Kotori dengan lancar. "Aku bisa merasakan ada energi baru yang mengalir di dalam tubuhku!"
Kotori lalu bangkit dan memanggil kembali Stage Charger miliknya. Kotori lalu memberi tanda kepada Eli untuk segera menjauh dari dirinya.
"BUSHIMO!"
Kotori lalu kembali berubah menjadi Angel Warrior dan memanggil kembali Tombak Cahaya miliknya.
"Cih, ini menyebalkan!" keluh Monster itu tidak bersemangat.
Namun reaksi berbeda nampak dari gestur tubuh Kotori. Dia menggigil, bahkan semakin menggertakkan giginya keras-keras. "...A-APA?!"
"...A-APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN TERHADAP HANAYO?!"
"..."
"AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU...! WHITE ANGLE STRIKE!"
Kotori lalu mengepakkan sayapnya sembari mengarahkan tombaknya secara vertikal dan terbang secepat kilat untuk menusuk dada monster itu tanpa ampun hingga membelakangi monster tersebut.
"GGbbbhh... GbhGbghGbh... Gbhhh...!"
Sembari menatap musuhnya yang mengerang kesakitan karena tusukan tombak yang masih tertancap di badannya. Dia mengucapkan sebuah mantra sembari tangannya diulurkan ke depan monster itu berada.
"Wahai jiwa yang jahat, monster yang telah mengkotori perasaan hati murni orang lain... Kembalilah ke neraka terdalam, tempat asalmu berada!"
Kotori lalu mengakhiri perkataannya dengan mengetukkan tombak miliknya ke tanah seraya menyegel mantranya. Selesai dia mengucapkan itu tiba-tiba ada cahaya terang yang keluar dari tengah bekas luka tusukan di dada monster itu berada dan kemudian monster itu meledak.
.
Selesai sudah.
Monster itu menghilang dan Kotori yang masih memegang tombaknya tersungkur berlutut simpuh dengan kedua kakinya menghadap tanah. Wajahnya menunduk ke bawah tertutup poni rambutnya sembari genangan air turun membasahi tempat dia berpijak.
"K-Kotori-chan? K-kamu tidak apa-apa kan?" tanya Eli yang melihat tubuh Kotori tidak bergeming dari tempatnya.
"I-ini semua salahku...! H-Hanayo-san dia sudah..." ujarnya dengan nafas tidak beraturan. Eli tidak bisa berkata apa-apa untuk menghiburnya, dia hanya bisa memeluk adik kelasnya itu dengan erat.
"Sudahlah... Itu semua sudah terjadi... Kamu tidak perlu merasa bersalah, Kotori..." kata Eli mencoba untuk menenangkan sang Angle Warrior itu.
"T-tapi karena aku... Hanayo-san...! Hanayo-san...!" jerit Kotori yang tidak mampu untuk meneruskan perkataannya.
Dan tangisan pecah di tempat itu. dan...
"...Ada apa sih?"
Tiba-tiba muncul suara seorang gadis dari belakang mereka. Terkejut mendengar suara yang tidak asing itu membuat kedua gadis itu menoleh kebelakang untuk memastikan sumber suara tersebut. suara yang terdengar angkuh namun lembut bak penyanyi tenor itu begitu khas di telinga mereka.
"H-HANAYO?! HANAYO?!" teriak mereka bersamaan. "Kamu ini bukan hantu, kan?!"
"Oh, tolong jangan bicarakan lelucon hantu itu lagi. Kalian ini bukan Rin, kan?! Ngomong-ngomong, Kalian itu memang selalu berisik seperti ini yah...?!"
"T-tapi b-bukannya kamu tadi...?!" tanya Kotori sambil menelan ludahnya.
"Cihh, memangnya kamu pikir aku akan mati karena mantra lemah seperti itu?! lagipula..."
Belum sempat Hanayo menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Kotori segera memeluknya dengan erat.
.
"Tadaima..." bisik Hanayo pelan. (T/N: Aku Pulang)
"Okaeri..." gumam Kotori. (T/N: Selamat datang.)
.
"Emm... H-Hanayo-san... maafkan aku?" Kata Eli dengan canggung sambil membungkukkan kepalanya.
"Hah?"
"S... Seandainya aku mendengarkanmu, tentunya kejadiannya tidak akan seperti ini?!"
"Tidak perlu, lagipula ini semua sudah sesuai dengan rencanaku.." jawab Hanayo sembari mengemasi barang-barangnya.
"Hah?"
"Yah sudahlah, ayo pulang..." katanya sambil pergi berjalan meninggalkan mereka berdua terlebih dulu.
"...A—Apa maksudmu?" Tanya Eli kebingungan.
.
.
Chapter 9: The Reason Behind Everything.
.
"Umm... Eli-senpai?" tegur Kotori kepada kakak kelasnya.
"Hah?!"
"Biar aku yang menjelaskannya.. Begini, kemarin sewaktu di hutan Hanayo telah menunjukkan kepadaku salah satu kegunaan dari device ini, yaitu untuk mendeteksi keberadaan musuh. Layar device ini akan mengeluarkan warna merah apabila terdeteksi adanya monster yang seperti tadi. Oleh karena itu pada saat kamu membawa Alisa kemarin tiba-tiba device kita semua berubah warna menjadi merah, ingat?"
Eli menganggukkan kepalanya saat mengingat kembali sesuatu yang berkedip-kedip dari device yang sempat dia panggil sebelum pergi meninggalkan perkemahan.
"Hanayo tidak ingin hal ini nantinya menimbulkan kekacauan di dalam perkemahan oleh karena itu dia berencana untuk mengusirnya ke tempat yang sepi lalu membunuhnya diam-diam. Namun semua rencana itu berubah semenjak kamu memutuskan untuk ikut dan situasi menjadi semakin rumit. Karena itulah pada akhirnya dia memutuskan hanya akan membunuh monster itu apabila dia telah berubah wujud menjadi bentuk asalnya." terang Kotori kepada Eli.
"Jadi, Kotori, kamu juga sudah mengetahui itu?!"
"Umm..." Kotori mengangguk. "Satu-satunya faktor yang tidak diduga disini adalah kehadiran Umi yang menyusul kita."
"Oh iya, dimana Umi sekarang?" tanya Eli yang mendadak teringat oleh kehadiran adik kelasnya itu.
"Tenang, Hanayo-san sudah menyelamatkannya terlebih dahulu sebelum monster itu bisa menyentuh tubuhnya."
"Hah, jadi maksudmu tadi monster berupa Alisa itu sengaja mengincar Umi untuk membunuhnya terlebih dulu?!"
"Begitulah..."
Eli kemudian menyesali tindakannya yang tidak mencegah Umi pergi sehingga yang berujung pada pertaruhan nasib kohai-nya yang hampir kehilangan nyawa karena keputusannya yang gelap mata. Tapi Kotori menepuk pundaknya sembari tersenyum. Senyuman yang ikhlas yang mengatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja sekarang.
"Oyy... Lama banget sih?" terdengar suara Hanayo dari kejauhan yang menyela percakapan mereka berdua disana.
"Ahh, kita juga harus bergegas menjemput Umi sekarang. Ayo!" seru Kotori sambil membantu membawa tas milik Umi yang tergeletak di tanah.
"Jadi darah yang tadi itu?..." Tanya Eli.
"Itu darah milik monster itu sendiri saat bertarung melawan Hanayo sebelumnya."
"Ohh, Begitu yah... Syukurlah kalau begitu.." kata Eli sambil tersenyum kecil, sementara itu terlihat bahwa wajah Eli tampak lebih pucat daripada sebelumnya. Kotori lalu melirik ke arah pinggang Eli dan terlihat banyak darah yang keluar disana.
"Ahh...Eli-senpai, Lukamu terbuka?!" teriak Kotori yang terkejut.
"Ini bukan apa-apa... Ayo pergi" jawab Eli lirih sambil tersenyum miris menahan lukanya.
.
Setelah itu Hanayo, Eli dan Kotori pergi ke tempat Umi berada. Hanayo sebelumnya telah meletakkan tubuh Umi yang telah pingsan ke lokasi yang aman. Tempat itu berada di balik bebatuan besar yang ditutupi oleh rerimbunan pohon dekat air terjun. Hanayo melepaskan segel mantranya untuk membuka tempat rahasia itu.
Kotori lalu membangunkan Umi yang terbaring disana. Tentu saja gadis berambut hitam biru gelap itu menjadi bingung dengan keadaanya saat ini. Kotori lalu menceritakan kembali apa yang telah terjadi sebelumnya, mengenai pertarungan Kotori dan Hanayo melawan Navolger atau Alisa palsu. Kemudian, mereka lalu kembali ke tempat perkemahan bersama-sama pada saat menjelang malam tiba.
.
Tempat Perkemahan.
.
"Ahh... Itu mereka..."
"ELI!" teriak Nozomi yang bergegas berlari menyambut kedatangan mereka bertiga disana. Nozomi segera memeluk Eli dan Umi yang sebelumnya telah mengatakan untuk pergi meninggalkan perkemahan.
"Ahh... Nozomi?!" seru Eli terkejut.
"Okaeri nasai..." ujar Nozomi pelan.
"Ahh, Tadaima..." jawab Eli sambil tersenyum kecil.
Pada akhirnya mereka berdelapan kembali berkumpul dan bergegas mempersiapkan diri untuk perjalanan berikutnya. Dengan persiapan bekal yang memadai dan kesatuan hati yang semakin diperbaharui mereka sedikit demi sedikit telah bertumbuh menjadi gadis yang lebih tangguh.
Pada malam itu juga Eli tertidur dengan pulasnya. Satu hari yang melelahkan setelah menyiksa tenaga dan batinnya. Kini, Eli benar-benar larut dalam bunga tidurnya, bukan hanya karena faktor kelelahan saja namun juga karena di dalam mimpi itu dia sedang bertatap muka dengan Alisa, adik kecilnya yang sedang memandang dirinya dari kejauhan tanpa mengucapkan suara hanya sekedar tersenyum dari kejauhan seperti hendak mengucapkan "terima kasih" dan "selamat tinggal".
.
-Chapter 7: End-
.
NOTES: Akhirnya selesai juga re'fix'ction chapter selanjutnya!
Saya tidak menyangka bahwa isi chapter ini akan membengkak lebih dari 50% dari tulisan awal.
Ngomong-ngomong, kalian masih bersama saya kan?! (lol)
Ide cerita ini diambil dari salah satu adegan kamen rider. Well, agak sulit juga membuat cerita ini karena harus membunuh imouto tercinta di serial ini. Yah, yang sudah biarlah sudah. OK!
Maaf, kalau cerita ini terkesan bertele-tele dan terlalu panjang. Chapter berikutnya akan full aksi kok. Yah, aku pikir akan membengkak lagi isi tulisannya. lol
Terima kasih sudah mau membacanya lagi!
Kalau tidak berkeberatan biarkan saya mendengarkan sepatah dua kata dari para pembaca, ok?!
