Disclaimer : Naruto bukan milik saya
Don't like don't read
Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC
.
CHAPTER 9
.
Hinata menyantap sarapannya di pagi yang dingin ini. Ia memesan sup hangat khas Yukigakure yang dikenal bisa menghangatkan tubuh. Sup itu terasa nikmat dengan cita rasa sedikit pedas dari bumbu rempah-rempahnya. Koki di hotel ini benar-benar juara dalam memasak hidangan yang luar biasa.
Hari ini jadwal Sasuke sangat padat, mungkin ia tidak bisa bertemu dengannya seharian ini. Setelah ia selesai sarapan, Hinata berencana pergi berjalan-jalan menikmati keindahan kota Yukigakure sebagai seorang turis. Ia sudah jauh-jauh datang kesini, mana mungkin ia tidak bersenang-senang? Hinata akan menunjukkan pada Sasuke jika ia bisa bersenang-senang tanpa dirinya.
Akan tetapi kedatangan Sakura membuat suasana hatinya sedikit memburuk. Tanpa dipersilahkan, rivalnya itu langsung mengambil tempat duduk di depannya. Ada banyak kursi kosong disekitar sini, mengapa Sakura lebih memilih duduk dengannya?
Hinata mengabaikan Sakura yang kini sedang mengatakan pesanannya pada si pelayan. Ia juga masih mengabaikan Sakura ketika wanita berambut pink itu menatapnya sambil memulai pembicaraan dengannya.
"Selamat pagi, Hyuuga."
Hinata pura-pura tidak mendengarnya.
"Bagaimana kabarmu?"
Abaikan saja… abaikan… Kata Hinata dalam hati.
"Ah, sayang sekali kau tidak bisa ikut bersama kami saat bermain ski kemarin. Itu sangat menyenangkan." Kata Sakura sambil tersenyum gembira.
Abaikan… abaikan…
"Sasuke-kun sangat ahli bermain ski, apa kau tahu itu? Ah… mana mungkin kau mengatahuinya, kau kan tidak bisa melihat aksinya. Pokoknya, Sasuke-kun terlihat sangat keren. Ia juga memuji kemampuanku, Sasuke-kun mengatakan jika aku sangat hebat." Senyum Sakura semakin melebar.
Abaikan… abaikan…
"Setelah bermain ski kami kemudian menghabiskan waktu berdua, pergi jalan-jalan, bersenda gurau, mengunjungi kedai kopi. Wajah Sasuke-kun yang sedikit memerah karena dingin benar-benar imut."
Hinata tidak bisa mengabaikan ini lagi!
"Oh, sejak kapan kau duduk di situ, Haruno? Maaf aku tidak memperhatikanmu." Kata Hinata sambil berpura-pura memasang ekspresi polos.
Wajah Sakura sedikit memerah saat mendengar perkataan Hinata. Senyumannya mulai luntur.
Sementara itu Hinata sedikit panik dengan sikap barunya ini. Kemarin ia menjadi ahli dalam berbohong, sekarang ia menjadi pandai dalam mengatakan hal-hal yang menyakiti hati orang lain. Ada apa dengannya?
Hinata meminum teh-nya yang mulai dingin sambil berusaha menyembunyikan kepanikannya.
Suasana kini mulai terasa canggung.
"Sa-sampai jumpa lagi Sakura-san. Se-semoga kau menikmati sarapanmu." Pamit Hinata.
Setelah ia berhasil menghindari Sakura, Hinata mulai tersadar bahwa ia menganggil wanita itu dengan Sakura-san dan bukannya Haruno.
Ah… setidaknya ia masih sedikit sopan.
.
.
Meskipun Yukigakure sangat dingin, itu tidak menyurutkan semangat Hinata untuk pergi berjalan-jalan dan menikmati pemandangan kota itu. Banyak lokasi-lokasi menarik yang menjadi tujuan obyek wisata disini. Warga lokal Yukigakure sangat ramah dan terbuka. Banyak kedai kopi dan café yang menawarkan minuman hangat untuk mengusir rasa dingin.
Hinata menikmati liburannya ini. Di kehidupan sebelumnya ia adalah seorang yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Baginya, selama ia memiliki pakaian hangat dan makanan untuk mengganjal perut maka itu sudah cukup. Seseorang sepertinya tidak memiliki hak untuk berharap banyak. Setelah ia tumbuh besar dan bisa mulai mandiri, ia hidup dengan pas-pasan dan selalu bersikap hemat. Menjadi sebatang kara membuat Hinata selalu bekerja keras demi bisa memenuhi kebutuhannya, tidak banyak uang atau waktu senggang yang bisa ia habiskan untuk liburan ataupun bersenang-senang. Dengan semua jerih payahnya itu ia bisa hidup dengan layak di sebuah apartemen mungil sederhana. Bahkan ia juga memiliki tabungan untuk berjaga-jaga jika ia menikah kelak.
Namun siapa sangka takdir ternyata memiliki selera humor yang aneh. Hinata yang di kehidupan sebelumnya adalah seorang gadis miskin biasa kini menjalani kehidupan sebagai istri dari seorang pria muda tampan kaya raya yang hartanya tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Seperti kisah Cinderella saja. Tapi bisa dibilang si Cinderella lebih beruntung, si Pangeran menikahinya karena jatuh cinta padanya sedangkan Hinata? Bisa bertahan sampai detik ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa baginya.
Meskipun kini Hinata (bisa dibilang) bergelimangan harta, ia sangat anti hidup foya-foya. Hinata sudah terbiasa hidup dengan hemat, ia sama sekali tidak tertarik dengan pakaian bermerk, sepatu dan tas mahal, perhiasan berlian, ataupun mobil mewah. Menghambur-hamburkan uang adalah hal yang tabu baginya, apalagi jika uang tersebut bukan hasil dari jerih payahnya. Saat ia menerima jatah uang bulanan, ia hampir terkena serangan jantung saking kagetnya melihat jumlah nominal di depan matanya. Bahkan jumlah itu melebihi gaji Hinata bekerja selama setahun di kehidupan sebelumya.
Hinata sudah memiliki rencana dengan uang yang ia terima itu. Ia akan menyimpan uang itu untuk berjaga-jaga jika Sasuke tiba-tiba menghadiahkan surat cerai untuknya. Hinata harus siap menghadapi segala kemungkinan termasuk perceraian yang selalu menghantuinya.
Seandainya mereka bercerai, Hinata berharap semoga Sasuke tidak meminta kembali uang yang sudah ia berikan kepadanya. Hinata sudah memiliki bayangan tentang kehidupannya kelak setelah ia bercerai dengan Sasuke. Uang yang ia miliki saat ini (yang jumlahnya mungkin semakin bertambah) akan menjadi modal baginya untuk hidup dengan mandiri. Ia tidak ingin bergantung pada siapapun, termasuk pada keluarga Hyuuga. Hinata berencana akan membuka toko kue, cita-cita yang dimilikinya sejak dulu. Alasannya membuka usaha itu karena pengalaman masa kecilnya dulu sekaligus ingin menyalurkan hobi dan menjadi sumber penghidupannya. Ia juga ingin beramal dengan memberikan sebagian kecil dagangannya kepada orang yang membutuhkan.
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah seorang gadis kecil miskin yang tidak memiliki uang untuk membeli apapun yang ia inginkan. Setiap pulang sekolah ia selalu melewati toko kue yang menjual roti dan kue yang terlihat sangat menggugah selera. Dengan perut keroncongan ia hanya mampu mencium aroma nikmat kue yang keluar dari panggangan. Dengan menahan air liurnya ia selalu memelankan langkahnya sambil mengamati deretan roti dan kue yang dipajang di etalase. Ia lalu membayangkan dirinya sedang menikmati cake dengan krim dan potongan buah strawberry, mengunyah kue dengan taburan kismis, mengigit roti tawar yang terlihat empuk dan lembut, memakan chocolate cake sampai belepotan, atau sekedar mencolek selai nanas dengan jarinya. Dan dari pengalaman inilah cita-citanya untuk membuka toko kue muncul.
Untuk saat ini, ia akan berfokus menjadi istri yang baik untuk Sasuke. Hinata tahu ia tidak boleh berharap banyak dari Sasuke. Oleh karena itu ia tidak menggantungkan harapan agar Sasuke bisa bertindak sebagai seorang suami yang sesungguhnya.
Hinata menggaruk pipinya, ia sedang sibuk memikirkan apa yang harus ia beli sebagai oleh-oleh. Hinata ingin memberikan sesuatu yang special kepada Hiashi, Neji, Hanabi, Temari dan Shikamaru (yang belum pernah ia temui), mungkin ia juga akan memberikan oleh-oleh pada Lee dan Gai yang selama ini sudah bekerja dengan giat merawat taman dan membersihkan rumahnya. Hinata tidak terlalu menganal dua orang eksentrik itu, tapi ia merasa berterimakasih atas kerja keras mereka. Hmm, mungkin ia harus mengajak mereka berbincang-bincang jika ada kesempatan.
Hinata mengosok-gosok telapak tangannya yang terasa dingin meski ia sudah memakai sarung tangan. Apa yang harus ia beli? Souvenir? Pajangan? Sepertinya tidak. Ia ingin membeli sesuatu yang bisa dinikmati secara langsung dan bukan hanya bisa dilihat saja. Mungkin makanan khas Yukigakure? Sesuatu yang tidak dijual di Konoha… hmm, sepertinya itu ide yang bagus.
Hinata menghentikan langkahnya. Ia menatap etalase sebuah toko kecil yang menjual permen dan cemilan dengan bentuk yang lucu dan imut. Dengan tersenyum ia memasuki toko itu. Makanan manis adalah favoritnya.
Aroma manis seketika langsung menyambut indera penciumannya. Sambil mengigit bibirnya ia mengamati deretan cokelat yang dibentuk mirip boneka salju. Ah~ imutnya.
"Bagaimana dengan yang ini sayang?" Hinata menoleh ke arah pengunjung lain yang ada di toko itu.
"Ah, itu sangat imut. Iya kan sayang?"
"Kau jadi memilih yang mana sayang?"
"Bagaimana kalau dua-duanya? Boleh ya sayang…"
"Apapun untukmu sayang…"
Hinata pura-pura tidak mendengar percakapan pasangan itu. Si wanita bergelayut manja di lengan si pria sambil tersenyum genit. Sementara itu si pria dengan wajah memerah mencium pipi si wanita.
"Wah… pasangan muda yang romantis. Apa kalian pengantin baru?" Tanya pengunjung lain.
"Ehehehe… iya. Kami baru menikah seminggu lalu. Ini bulan madu kami."
"Selamat atas pernikahan kalian! Semoga kalian menikmati bulan madu di Yukigakure. Banyak pasangan yang berbulan madu disini karena tempat ini dikenal sangat romantis."
"Pilihan sayangku memang tidak salah ehehehe…"
"Kalian harus mencoba bermain ski selama disini."
"Tentu saja! Kau akan mengajariku kan sayang?"
"Iya sayang."
Entah kenapa Hinata merasa canggung mendengar percakapan mereka. Ia lalu melirik cincin kawin yang melingkar di jarinya. Ah… ia juga wanita yang sudah menikah.
Hinata tahu ia dan Sasuke tidak mungkin bersikap seperti pasangan itu. Tapi melihat sikap pasangan yang dimabuk cinta itu membuatnya sedikit iri. Pernikahan membuat mereka sangat bahagia.
Bagaimanapun juga Hinata adalah seorang wanita biasa. Ia juga menyukai hal-hal manis dan romantis seperti dalam film dan drama yang ditontonnya. Ia juga akan tersanjung jika dipuji, hatinya akan meleleh jika ada yang menghujani cinta untuknya. Wanita mana yang akan menolak jika ia diperlakukan dengan spesial?!
Hinata menghela nafas. Romantis dan Sasuke adalah dua hal yang tidak bisa ia harapkan dalam hidupnya.
.
.
"Apa tujuanmu memberikan semua jadwal pekerjaanku selama disini pada Hinata?"
"Eh? Apa maksudmu?" Tanya Kakashi.
Sasuke menghela nafas. Mata hitamnya menatap tajam Kakashi.
"Kau tidak perlu berpura-pura. Aku mengetahui semuanya."
"Ah… itu… tidak ada tujuan lain."
"Kau pikir aku akan mempercayai alasan itu?"
Kakashi menyandarkan punggungnya di kursi. Saat ini mereka sedang menghabiskan waktu makan siang di sela-sela jadwal kerja mereka.
"Sejujurnya aku melakukan itu agar kalian berdua bisa semakin dekat."
Sasuke mendengus ketika mendengar jawaban Kakashi.
"Aku tidak menyukai seseorang yang mencampuri urusan pribadiku."
"Aku tidak ikut campur. Aku hanya melakukan tugasku, Sasuke."
"Hm."
Kakashi hanya bisa menghela nafas. "Aku hanya tidak ingin pernikahan kalian hancur hanya dalam hitungan minggu. Kau pasti bisa menebak apa yang aku maksudkan."
"Ini tentang Sakura huh."
"Haruskah kau mengajaknya ke Yukigakure? Kau bahkan belum pergi bulan madu dengan istrimu. Bayangkan skandal yang mungkin saja muncul mengenai hubunganmu dengan Sakura. Jika hal itu sampai terjadi bukankah pada akhirnya aku yang harus membereskan semua kekacauan."
"Aku tidak mengajaknya. Ia sendiri yang datang kemari." Kata Sasuke dengan datar.
"Kau sudah menikah, Sasuke."
"Aku tahu."
"Hinata bisa cemburu dan salah paham mengenai hubunganmu dengan Sakura."
Mendengar perkataan Kakashi, Sasuke menyeringai. "Itu justru membuat semuanya jauh lebih menarik."
Kakashi menatap Sasuke. Pria muda dihadapannya itu bukanlah seseorang yang bodoh. Sasuke pasti sudah menyadari resiko yang mungkin terjadi mengenai kedekatannya dengan Sakura. Dan apa maksud perkataannya barusan? Lebih menarik? Apanya yang lebih menarik? Kakashi mengerang. Semoga saja Sasuke tidak menjadikan pernikahannya ini sebagai sebuah permainan atau hiburan.
"Kau pasti sudah tahu jika sikapmu yang seperti ini justru membuat Sakura masih menggantungkan harapannya padamu. Mengapa kau masih mempertahankannya Sasuke?"
"Itu bukan urusanmu."
"Apa kau masih menyukai Sakura?"
Sasuke tidak menjawabnya. Ekspresi wajahnya yang kaku sulit untuk ditebak.
.
.
Hinata mengetuk pintu kamar Sasuke. Dengan informasi yang diberikan oleh Kakashi ia tahu Sasuke kini sedang berada di kamarnya. Jadwalnya malam ini kosong. Tidak ada rapat atau pertemuan lain. Hinata akan memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa bersama dengan Sasuke. Seandainya saja Hinata bisa meyakinkan Kakashi untuk menjadi anak buahnya pasti misi S4 akan berjalan semakin lancar.
Sosok Sasuke dengan rambut basahnya membuka pintu.
"Mau apa?" Mendengar pertanyaan Sasuke nyali Hinata menciut.
"I-itu… u-um…"
Sasuke menaikkan alisnya, membuat Hinata semakin gugup.
"Se-selamat so-sore… Bo-bolehkah a-aku masuk?" Tatapan Sasuke membuat Hinata berkeringat dingin.
"Hm."
Dengan memberanikan diri Hinata melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamar Sasuke. Interior kamar Sasuke lebih mewah dan juga lebih luas jika dibandingkan dengannya. Saat Hinata masih sibuk melihat-lihat, Sasuke lebih memilih duduk di kursi sambil membaca dokumen tebal di tangannya.
"Katakan tujuanmu."
Hinata berdiri dengan canggung sambil menatap Sasuke yang mengabaikannya.
Hinata mengigit bibirnya. Ia tidak mungkin mengatakan pada Sasuke jika tujuannya kemari adalah untuk menjauhkan Sakura dari Sasuke.
"A-aku i-ingin melihatmu." Wajah Hinata memerah. Apa yang ia katakan ini?!
"Kau sudah melihatku. Lalu?"
Hinata tahu Sasuke berusaha mengusirnya tapi ia tidak akan pergi. Bagaimana jika Sakura tiba-tiba muncul?
"A-aku masih belum puas!" Hinata membekap mulutnya yang telah berbicara lancang.
Sasuke meletakkan dokumen di tangannya. Dengan ekspresi datar ia menoleh ke arah Hinata. "Lalu kapan kau akan puas?"
Hinata duduk di tepi ranjang Sasuke. Mata lavendernya mengamati langit-langit kamar.
"Ka-kau bisa melanjutkan pe-pekerjaanmu. A-aku tidak akan me-mengganggumu."
"Apa kau bisa bekerja dengan tenang saat ada orang lain yang memata-mataimu?"
Hinata menoleh ke arah Sasuke dengan mata terbelalak.
"A-aku tidak memata-mataimu!"
Sasuke menaikkan alisnya.
"A-aku ha-hanya ingin melihatmu!" Wajah Hinata memerah.
"Kau bisa memotretku dengan ponsel saat ini juga lalu melihat foto itu sampai kau puas."
"U-um…"
Hinata merebahkan diri di ranjang sambil memunggungi Sasuke. Ia tidak ingin menatap wajah Sasuke lebih lama lagi.
"A-abaikan saja kehadiranku disini!"
"Aku memang akan mengabaikanmu." Ugh… haruskah Sasuke sejujur itu. Ia hanya bercanda kan?
Sunyi…
Entah berapa lama waktu telah berlalu, mungkin 5 menit, atau 10 menit, atau bahkan satu jam. Hinata masih membisu sambil tetap dalam posisi berbaring memunggungi Sasuke.
Sepertinya Sasuke memang benar-benar mengabaikannya.
"Hey Sasuke…" Suara Hinata memecahkan kesunyian.
"Hm." Uwahh... Sasuke meresponnya.
"Apa kau menikmati waktu yang kau habiskan bersama dengan Sakura?" Hinata bisa berbicara dengan lancar saat tidak menatap Sasuke secara langsung.
"Entahlah."
"Itu bukan jawaban pasti."
"Lalu jawaban apa yang kau inginkan."
"… Jawaban yang sebenarnya?" Bisik Hinata.
Sasuke tidak merespon.
"A-apakah Sakura hebat dalam bermain ski?" Hinata teringat percakapannya dengan Sakura pagi tadi.
"Ya."
"Aku tidak tahu kau bisa bermain ski." Hinata melirik cincin kawin yang ia kenakan. Sebagai seorang istri apa yang ia ketahui dari sosok Sasuke?
"Aku sudah bisa bermain ski sejak kecil."
"Siapa yang mengajarimu?"
"…kakakku."
"Apakah keluargamu-"
"Aku tidak ingin membicarakan itu." Potong Sasuke dengan dingin.
Hinata memang tidak bisa melihat ekspresi Sasuke secara langsung namun ia bisa merasakan dengan jelas tatapan tajam yang ditujukan ke arahnya.
"Maaf…" Bisik Hinata. Kini ia tahu bahwa topik mengenai keluarganya adalah hal yang Sasuke hindari.
Beberapa menit berlalu dalam kesunyian.
"A-apa binatang favoritmu, Sasuke?"
"…" sunyi.
"A-aku sangat menyukai kucing. Tapi kelinci juga lucu. Apa kau memiliki alergi pada binatang tertentu?
Sasuke tetap membisu.
Hinata ingin menanyakan banyak hal pada Sasuke. Apa hobinya? Apa film kesukaannya? Apakah ia memiliki phobia? Apa momen yang paling berkesan untuknya? Siapa idolanya? Apakah ia bisa bermain musik? Seperti apa masa kecilnya dulu? Apakah dulu ia anak yang nakal? Apakah Sasuke suka berolahraga? Apa yang ia lakukan di waktu luangnya? Dan masih banyak pertanyaan lain yang ada di benak Hinata. Banyak hal yang ingin ia tanyakan namun ia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.
"A-aku suka makanan manis. Wa-warna kesukaanku ungu. Aku suka memasak dan membaca. Aku juga suka menonton film dan drama ta-tapi aku tidak suka yang bergenre tragedi, juga horror. U-um, aku suka dengan akhir cerita yang bahagia." Hinata tidak tahu apa yang membuatnya membeberkan hal tentang dirinya. Bahkan Sasuke mungkin saja mengacuhkan semua kata-katanya.
"…"
"A-aku tidak suka dingin. A-aku juga tidak jago berolahraga. Aku takut dengan ular dan kelelawar, aku juga takut dengan ketinggian. Ah… badut juga. Dandanan mereka sangat menyeramkan, apalagi senyumannya. Aku juga takut dengan tengkorak. Apa kau takut dengan sesuatu, Sasuke?"
"Aku tidak takut dengan apapun."
Hinata menahan senyum. Itu adalah jawaban yang sangat khas dengan kepribadian Sasuke.
"Bohong… se-setiap orang memiliki ketakutannya masing-masing."
Hinata membalikkan tubuhnya. Ia melihat Sasuke yang masih menekuni dokumen di hadapannya.
"Ji-jika kau memiliki ketakutan pada sesuatu, itu adalah hal yang wajar."
Sasuke menoleh ke arah Hinata, ekspresinya datar.
"Sampai kapan kau akan ada disini?" Hinata berpura-pura tidak mendengar perkataan Sasuke.
"Pa-pasti kau takut dengan sesuatu… a-apa kau takut dengan hantu?"
Sasuke tidak menjawab pertanyaan Hinata, ia justru bangkit berdiri dan pergi ke kamar mandi. Hinata menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Hinata menghela nafas, ia masih belum bisa berkomunikasi lancar dengan Sasuke. Setelah mereka pulang ke Konoha ia akan membuat onigiri super enak untuk Sasuke. Ah, salad tomat juga, atau mungkin sup tomat? Pokoknya Hinata ingin membuat sesuatu yang spesial untuk Sasuke.
Hinata membenamkan kepalanya di bantal sambil menutup mata. Setelah seharian menjelajahi Yukigakure tubuhnya mulai terasa letih. Tanpa terasa kantuk mulai menghampirinya.
Dan saat Sasuke keluar dari kamar mandi, ia mendapati sosok istrinya yang tertidur lelap.
.
.
Hinata membuka matanya.
Untuk sesaat ia dilanda rasa panik karena tidak tahu saat ini ia sedang berada di mana. Setelah menenangkan diri dan berpikir ia menyadari saat ini ia sedang berada di di kamar hotel Sasuke dan sedang berbaring di ranjangnya.
Hinata terkesiap. Dengan tergesa-gesa ia bangun dan mulai mencari-cari sosok pria berambut hitam itu.
Kosong.
Dan ini sudah pagi. Pagi?! Apakah ini berarti ia menghabiskan malam disini? Lalu Sasuke tidur dimana?!
Hinata melirik jam dinding kamar itu. Pukul 09.18. Tak heran kamar ini kosong, Sasuke sudah pergi sejak satu jam yang lalu.
Hinata mengacak-acak rambutnya. Ia tidak bermaksud ketiduran.
Lalu apa yang terjadi selama ia tertidur?! Apakah Sakura diam-diam menemui Sasuke tadi malam? Apakah mereka berdua menikmati pemandangan malam hari bersama? Apakah mereka berdua sarapan pagi bersama?
Hinata kembali merebahkan diri. Ini semua gara-gara bantal dan kasur yang sangat nyaman ini.
.
.
Review dan dukungan kalian adalah sumber semangat saya!
Kunjungi saya di wattpad
www. wattpad / user / Hana_nako
Saya tidak akan berpindah haluan dan mengabaikan FFN kok. Situs ini adalah cinta pertama saya yang telah berjasa dalam mengenalkan saya pada dunia fanfiksi ^^
