"Unexpected Plans"

The Place Of Hope

Chapter 9 : "Rencana Tak Terduga"

Genre : Adventure, Horror & Gore

Caution! Contains violance & profanity (17th +)

.

.

.

.

.

DAARR-DAARRR-DAAARR...!

Beberapa tembakkan terlepas dari arah belakang. Yang tidak lain berasal dari senjata genggam milik Naruto. Satu per satu Zombie yang akan menyerang teman-temannya itu tumbang ke tanah. Naruto berhasil menghentikan sebagian dari mereka. Tetapi bagai seperti sebuah petir yang tiba-tiba menyambarnya, Naruto berlutut kesakitan memegangi bekas luka di sisi perutnya. Rasa sakit itu ternyata muncul lagi. Dan sakitnya sungguh benar-benar sangat menghujam.

"N-Naruto-kun!"

Hinata segera berlari menghampiri Naruto yang berlutut menahan sakit lukanya. Sedangkan di tiap detiknya mereka semakin terkepung di tengah-tengah gang ini. Naruto tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Yang bisa ia lihat hanya sekumpulan Zombie ganas yang terus bermunculan dan mendekat.

Dan bahkan Sakura sampai tidak bisa berkutik ketika ada dua mayat hidup lagi yang datang ke arahnya. Belum sempat dirinya untuk berpikir apa yang harus ia lakukan, Mereka sudah tepat berada di hadapannya.

". . . .. .!"

Drep-Drep-Drep-Drep...

Suara sepatu keras menapak dan berlari di antara tembok-tembok pagar rumah di sekitar sana. Seseorang tiba-tiba muncul dan melompat mengarahkan sepatunya yang keras itu ke arah kepala Zombie yang akan menerjang Sakura.

BRUUAAKKKHH..!

Kepala Zombie tersebut tertendang hingga menabrak dinding dengan sangan keras dan seketika meremukkan seluruh tengkorak miliknya. Sakura, Kiba, Anko, Hinata dan termasuk Sasuke sangat-sangat terkejut dengan siapa seseorang yang tiba-tiba muncul tersebut.

Naruto yang masih terlutut di tanah di temani Hinata hanya memasang wajah dengan senyuman picing. Seperti dirinya sudah tahu jika orang itu akan datang.

"Seperti biasa. Kau selalu saja terlambat... Sensei."

Ucap Naruto masih dengan senyum picingnya menatap seorang pria tegap dengan atribut lengkap Divisi khusus Anti Bio-Terrorist Unit Kota Konoha. Rambut perak yang melawan gaya gravitasi itu bergoyang tersapu angin.

"Beruntung aku mendengar suara tembakan dari sudut Kota. Jadi saat itu juga aku bisa dengan mudah menemukan posisimu." Kata Kakashi Hatake kepada Naruro, Seseorang yang mereka semua ketahui adalah seorang guru di Konoha Gakuen. Tapi entah mengapa, Kini dia ada di sini. Datang untuk lebih dari sekedar menyapa Naruto.

Sedangkan untuk Naruto sendiri... Melihat sosok seorang Kakashi yang kini hadir di tengah-tengah tim kecilnya, Membuat hatinya sedikit lega. Meski begitu, Reaksi berbeda sungguh sangat jelas terpampang di wajah Kiba, Anko, Hinata, Sasuke, Dan khususnya, Untuk Sakura.

Gadis itu masih berpikir bahwa ini benar-benar aneh. Yang pertama adalah Naruto. Tiba-tiba muncul menyelamatkan mereka saat masih terjebak di pulau Gunkanjima sebagai sosok yang terlihat berbeda dari yang ia kenal sebelumnya. Tiba secara mengejutkan, Mengenakan kemeja berlengan panjang ditutupi oleh rompi hitam sederhana dengan alat komunikasi di telinga dan sebuah senjata di genggamannya. Lalu apa kini...?

Kakashi Hatake, Seorang yang ia kenal sebagai seorang guru biasa dengan sifat malas yang luar biasa, Kini juga muncul di hadapannya. Mengenakan pakaian militer lengkap dengan rompi tebalnya. Dan muncul setelah Naruto, Seperti sebagai bala bantuan yang khusus bagi sahabatnya itu.

'Apa-apaan ini...' Tanya Haruno Sakura dalam hati kecilnya.

'Sebenarnya... Apa yang kaliam sembunyikan dari kami... Apa yang kau sembunyikan dariku, Naruto...' Lanjutnya lagi.

Dengan susah payah bertumpu pada satu lututnya, Naruto mulai berusaha bangkit untuk berdiri. Hinata ikut membantu pemuda itu dari sampingnya. Naruto masih tersenyum misterius. Sedangkan Sasuke, Hanya bisa menerka apa arti di balik senyuman itu.

"Sebenarnya... Aku hanya mencoba melihat bagaimana rencana Ayah bekerja. Tapi... Tidak kusangka rencana yang ia pikirkan bisa tepat sampai sejauh ini..." Ucap Naruto. Yang kini bangga akan jati diri seorang Minato Namikaze. Begitu bangga menjadi anak dari sosok siapa Ayahnya yang sebenarnya itu.

Lengan kanan Naruto yang menggenggam Glock-17 terangkat kearah samping dan menarik pelatuknya.

DAARRR...

Naruto menembakkan sebuah peluru kearah kepala Zombie yang telah mendekat dan akan menyerangnya. Menembak tanpa melihat dan membidiknya terlebih dahulu. Zombie itu pun terjatuh dan mati di dekat mereka berdua. Yang bahkan Hinata pun terkejut melihatnya tanpa menyadari keberadaannya.

"Dan sepertinya kini, Rencanaku juga berhasil. Aku berhasil memberitahu lokasi kami padamu, Kakashi-sensei." Ucap Naruto lagi sembari mulai melangkah dan berjalan mendekati sosok Kakashi.

'A-... Apa?!' Sasuke sedikit tercengang dengan apa yang Naruto ucapkan tadi. Seolah dirinya menyadari sesuatu yang janggal akan tindakan bodoh dari Naruto ini.

'Jangan-jangan... Mungkinkah dia, Telah merencanakan hal ini sejak awal saat kita terjebak di sini...?!' Tanya sang Uchiha muda tersebut lagi dalam hati.

'Dia... Dia lebih cepat memikirkan sesuatu saat keadaan mendesak. Dia jauh lebih cepat dariku.' Sasuke masih terpaku melihat sosok sahabatnya yang kini telah banyak berubah itu. Bahkan hanya dengan memikirkan betapa cepatnya cara berpikir Naruto, Jari-jari Sasuke bergerak. Atau lebih tepatnya... Bergetar. Tidak percaya dengan apa yang ia rasakan. Begitu mengerikan, Kecepatan dan ketepatan seorang Naruto untuk berpikir.

Langkah Naruto makin membuatnya mendekat ke arah Kakashi. Entah apa yang akan ia lakukan. Tapi Hinata selalu ikut di tiap tapak langkahnya untuk membantu Naruto berjalan.

'Mungkin aku tidak begitu pintar dalam hal ini. Tapi, Teorinya adalah aku hanya perlu membuat keributan di sini. Bukan untuk memancing sebagian dari para mayat hidup ini saja untuk memberitahukan lokasi kami. Tetapi juga untuk memberitahu Kakashi-sensei bahwa kami telah berada di dalam jangkauannya seperti apa yang telah Ayah rencanakan sebelumnya. Karena misi besar Divisi A.N.B.U belum benar-benar dimulai, Dengan begitu Kakashi-sensei dapat dengan mudah menemukan kami melalui suara beberapa tembakan senjataku dan senjata Sasuke.'

Setelah berada tepat di depan Kakashi, Naruto berhenti tepat di hadapannya.

"Jika Kakashi-sensei telah berhasil menemukanku. Itu berarti... Kita kini telah teralihkan ke rencana-C iya kan...?" Tanya Naruto kepada Kakashi saat mengutarakan apa yang ada dipikirannya saat ini. Dengan masih tersenyum, Naruto nampaknya lebih percaya diri bersama hadirnya sosok Kakashi di sini. Dengan begitu, Tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi. Karena ia sangat percaya dengan kapabilitas yang Kakashi Hatake, Salah seorang tangan kanan Ayahnya, miliki.

"Mah... Sepertinya juga begitu..." Jawab pria tinggi tegap itu dengan logatnya yang sangat khas. Yaitu logat para orang malas. Kakashi mulai memikirkan ulang tentang semua rencana yang telah Minato susun untuk dirinya, Itachi, Dan khususnya untuk Naruto.

'Rencana-A, Naruto akan diterjunkan dari helikopter ke pulau Gunkanjima. Lokasi di mana dirinya mendapatkan sinyal aktif dari ponsel milik Uchiha Sasuke berada. Sedangkan aku akan berfokus pada misi penyelamatan Tuan Presiden yang terjebak di gedung Kementrian Konoha.'

'Rencana-A akan teralih ke rencana-B jika sampai tidak ada helikopter evakuasi yang tersisa untuk menjemput dirinya. Dengan kata lain, Saat markas gagal melakukan penjemputan untuk Naruto, Itu berarti bocah ini entah bagaimana harus bisa mencari cara sendiri untuk kembali ke Kota ini saat tugasku telah terselesaikan. Tapi yang membuatku sedikit terkejut adalah... Ia tiba si Konoha bersama dengan teman-temannya tepat waktu ketika misi pertamaku telah selesai. Bocah ini benar-benar seorang anak dari Ketua Minato.'

'Sampai di titik ini, Naruto menggiring teman-temannya ke tempat yang aman dari cakupan area misi besar Divisi A.N.B.U. Karena sesaat lagi, Kota yang mengerikan ini akan dipaksa menjadi Kota yang bersuhu di titik beku seperti yang Ketua Minato kehendaki. Namun bila Naruto belum bisa menemukan targetnya, Sona Sitri, Dan bertemu denganku, Itu artinya misi ini telah beralih ke rencana-C. Tepat seperti kondisi dan situasi seperti sekarang ini.'

Begitulah apa yang Kakashi dengungkan dalam isi kepalanya saat mengingat kembali susunan rencana yang telah Minato Namikaze berikan khusus kepada mereka bertiga. Itu semua Minato pikirkan secara mendalam jauh untuk kedepannya. Semata-mata hanya untuk memastikan keberhasilan misi yang Hashirama berikan kepada Naruto. Dan terlebih juga, Untuk meyakinkan keselamatan satu-satunya putranya itu dari misi beratnya ini. Sampai Naruto Namikaze kembali dengan nyawa yang utuh melupakan keberhasilan ataupun kegagalan misi yang diembannya. Itulah, Arti seorang sosok Ayah kepada anaknya. Yang begitu sangat peduli akan diri Naruto sampai di detik ini.

Sesaat berlalu. Namun Kakashi sedikit bingung ketika melihat Naruto yang menyodorkan Glock-17 miliknya itu tepat ke arahnya. Seolah pemuda tersebut memang akan menyerahkan senjata itu kepadanya.

"Tapi sepertinya ini terlihat bukan misi bantuan jika kau datang tanpa membawa sepucuk senjata untuk melindungi kami, Benar bukan...? Aku pinjamkan ini untukmu." Ucap Naruto sembari menyodorkan senjata genggamnya itu ke arah Kakashi.

Cukup lucu. Apa yang Naruto katakan benar. Mana mungkin Kakashi bisa melindungi mereka semua tanpa adanya sepucuk senjata satu pun di genggaman tangannya. Misi pertama yang di berikan pada Kakashi di malam ini memaksanya untuk menghabiskan seluruh amunisi yang ia bawa. Untuk mengurangi beban saat ia bergerak, Tentu ia harus membuang semua senjata yang kosong tak berpeluru yang ada padanya. Dan ini lah jadinya, Agen khusus tak bersenjatakan apa pun yang harus melaksanakan misi keduanya.

"Yah... Banyak hal yang terjadi sebelum aku bisa berada di sini. Benar-benar malam yang melelahkan." Jawab Kakashi sedikit tertawa sambil memberikan keluhannya kepada Naruto tentang melelahkannya misi yang telah di berikan Minato padanya.

Kakashi lalu menggapai Glock-17 itu dari tangan Naruto. Akan tetapi bukan senjata genggam itu yang kini menjadi pusat perhatiannya. Melainkan luka memanjang penuh darah yang sampai menembus rompi milik pemuda itu.

'Dan sepertinya kau juga telah melewati banyak hal untuk sampai di tempat ini... Benarkan, Naruto.' Gumam Kakashi dalam hatinya setelah melihat luka separah itu. Namun Naruto masih mampu untuk bertahan di tengah kondisinya yang kritis saat ini.

Tidak lain dan tidak bukan demi teman-teman yang nampaknya begitu sangat berharga baginya. Dan tentu saja demi gadis yang satu sekolah dengan dirinya yang menjadi target dari misi yang diberikan padanya. Sona Sitri. Naruto berjuang keras demi Hinata, Kiba, Anko, Sasuke dan Sakura. Namun sebenarnya, Merekalah yang memberikan kekuatan untuk Naruto. Membuat pemuda berambut kuning tersebut masih bisa bertahan dari kondisinya yang kritis hingga sampai di detik ini. Menurut Kakashi, Itulah arti... Dari ikatan yang sebenarnya.

"Buatan Jerman. Dikhususkan hanya bagi pengguna tangan kanan. Suatu kelemahan jika digunakan oleh seorang yang kidal. Namun yang terpenting, Akurasi tinggi dari senjata ini benar-benar membuatku merinding ketika menggenggamnya. Membuatnya menutupi kelemahan yang tadi. Jumlah peluru yang ditampung bisa mencapai 17 butir selongsong aktif. Dengan akurasi tinggi dan jumlah peluru yang di atas rata-rata sebuah senjata genggam pada umumnya, Membuat Glock-17 ini benar-benar senjata yang tepat untuk melawan para mayat hidup seperti mereka."

Gumam Kakashi setelah menerima senjata tersebut dari Naruto dan menggenggamnya. Lalu tubuh Kakashi berbalik dengan tangan yang terangkat menggenggam senjata tersebut. Membidik tepat kearah di mana Sasuke sedang berada saat ini.

DARR-DAARRR-DAARRR...

Kakashi menarik pelatuknya tiga kali. Dan tiga kali juga senjata itu terguncang melepaskan tiga peluru berkecepatan tinggi tipis melewati pipi dan pelipis kiri Sasuke.

BRUUKKHH...

Seketika tiga Zombie ambruk dengan darah mengalir keluar melalui kepala mereka tepat di belakang Sasuke. Kakashi menembakan ketiga pelurunya tersebut tepat mengenai mereka yang diam-diam akan menyerang Sasuke dari belakang.

'A-... Apa-apaan itu tadi-...'

Dengung Sasuke dalam hatinya ketika melihat sosk Kakashi yang saat ini telah terlihat sama persis dengan Naruto. Cara dan kemampuan menembak di antara mereka berdua benar-benar gila.

"Keakuratannya benar-benar mengerikan. Kurasa senjata ini lah yang sangat cocok untukmu Naruto, Benar bukan...?" Kata Kakashi setelah berbalik menghadap ke arah Naruto lagi.

"A-Ano..."

Suara terdengar dari sosok Hinata yang pendiam. Gadis manis itu seperti akan mengatakan... Atau lebih tepatnya bertanya sesuatu. Tentu apa lagi yang ingin ia tanyakan selain apa hubungan antara Naruto dan Kakashi. Mengapa kini mereka berdua begitu terlihat berbeda dari sebelumnya. Siapakah mereka ini yang sebenarnya...? Pertanyaan yang seperti itu terus saja berputar di kepala Hinata saat ini ketika melihat sosok mereka. Bahkan bukan hanya Hinata seorang saja. Sakura dan Sasuke sebenarnya sangat ingin mengetahuinya juga. Sesuatu yang sepertinya masih Naruto tutup-tutupi sampai saat ini.

Namun sebelum salah satu dari mereka semua menanggapi apa yang ingin Hinata utarakan, Tiba-tiba suara yang begitu bising datang memekakkan gendang telinga mereka. Dua pesawat jet tempur tiba-tiba saja lewat rendah di atas mereka. Dan sepertinya bukan hanya dua saja yang terlihat. Tetapi muncul lagi belasan pesawat jet yang melintas tepat di atas mereka semua. Melintas begitu cepat secepat kedipan mata memandang. Terbang rendah di antara gedung-gedung bertingkat dan melesat menuju ke pusat Kota.

"Sepertinya telah dimulai..." Gumam Naruto pelan yang masih mendongak ke atas melihat laju belasan bahkan puluhan jet itu. Namun teman-temannya masih bisa mendengar gumaman Naruto barusan.

"Yah... Sudah dimulai..." Sahut Kakashi ikut menimpali apa yang Naruto katakan tadi.

"Apa yang akan dimulai... Apanya yang akan dimulai...?! Naruto, Katakan padaku apa yang kau maksuk itu...?!"

Tiba-tiba Sakura datang ke arah Naruto dan menggoyang-goyangkan bahunya. Seakan memaksa untuk meminta jawaban dari pemuda berambut kuning tersebut.

". . . . ?!"

Kedua kelopak mata Hinata tiba-tiba terbuka lebar. Ekspresinya menunjukkan keterkejutan saat ia benar-benar dapat merasakan sesuatu yang akan datang mendekat.

Bukan jawaban yang Sakura dapatkan dari Naruto. Sahabatnya tersebut malah menoleh ke lain arah. Melihat di kejauhan sana. Tidak ada pilihan lain bagi Sakura untuk ikut menoleh dan melihat apa yang Naruto lihat.

"Ini buruk... Kita harus segera pergi dari sini sekarang juga."

Naruto mengatakan hal itu setelah direksi matanya tertuju pada kedatangan dua makhluk besar mengerikan miri salah satu yang telah mereka kalahkan, Datang dari ujung gang di belakang sana.

'Monster mutasi lagi. Sebenarnya apa yang coba kalian rencanakan... Red Qween.' Gumam Kakashi sendiri dalam hati.

Kakashi mengedarkan direksi matanya ke seluruh sudut penjuru Kota Konoha bagian selatan ini. Tidak lama baginya untuk temukan satu tempat tujuan. Tatapannya tertuju ke sebuah gedung tinggi bertingkat tidak jauh dari sini.

"Ikuti aku. Pastikan kalian semua untuk tetap bersama, Mengerti...?" Ucap Kakashi kepada mereka semua.

"K-Kami mengerti." Jawab Hinata.

"Ya, Baiklah!". Sahut Kiba.

" Te-Tentu... Sesuai dengan yang Sensei katakan..." Ucap Sakura yang masih penasaran dengan misteri yang masih melingkupi mereka berdua. Naruto dan Kakashi.

"Kiba, Serahkan Anko-sensei padaku."

Kiba sedikit terkejut dengan perintah dari Naruto. Ia masih tidak mengerti apa yang Naruto maksud. Seorang yang tengah terluka parah membawa seorang yang sama-sama terluka juga...? Apa Naruto sedang bercanda...?

"O-Oeii... Yang benar saja. Kau kan juga sedang-"

Tiba-tiba Naruto sudah berada di hadapan pemuda itu. Lalu menepuk pundak Kiba seolah sebagai tanda 'Percayalah padaku!'

"Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi. Jaga Hinata untukku... Oke?" Sahut Naruto kemudian.

Kiba tidak bisa mengelak dan bertanya lagi jika Naruto yang sudah berkata seperti itu. Ia hanya bisa menuruti kata-kata teman dekatnya tersebut dan mulai menggandeng jemari Hinata. Dan, Hei... Sepertinya Naruto telah memiliki hobi baru yang selalu menyuruh Kiba untuk menjaga Hinata demi dirinya. Entah sudah berapa kali ia mengucapkan kalimat itu semenjak terakhir kali Kiba mendengarnya.

"Jika bisa, Berpeganganlah dengan erat. Peluk aku selama yang kau mau, Sensei." Kata Naruto kepada Anko, Saat dirinya membungkuk dan berlutut memberikan punggungnya untuk guru muda itu.

Apa yang Naruto lakukan membuat Anko sungguh terkejut. Semestinya Naruto tidak perlu melakukan ini untuknya jika dirinya sendiri sedang terluka. Anko masih belum mengerti seperti apa jalan pikiran satu murid yang paling ia sayangi tersebut. Namun melihat Naruto sudah berada di posisi seperti ini, Tidak ada pilihan lain lagi.

'Kau ini memang... Seseorang yang berhati lembut... Namikaze-kun. Kuharap aku bisa mati tanpa memberikan beban bagi dirimu nanti...' Gumam Anko dalam hati ketia ia telah memeluk Naruto dari belakang. Ia menyembunyikan wajahnya dari yang lain. Menyembunyikan senyum dan air mata yang telah mengalir.

Melihat Naruto yang telah menggendong Anko, Membuat Kakashi sedikit terkeju tidak percaya. Sepertinya Kakashi baru menyadarinya. Baru menyadari bahwa Anko tengah terluka parah di bagian lengannya. Dan luka tersebut di mata Kakashi, Seperti sebuah luka cakaran. Mata Kakashi lalu melirik dua monster besar mengerikan yang berjalan mendekat di ujung jalan sana.

'Jika bekas luka itu dari cakaran makhluk di sana. Maka...'

Kakashi lagi-lagi bergumam dalam hati. Berspekulasi jika andai saja luka menganga yang ada di lengan rekan kerja satu sekolahannya itu memang benar ia terima dari cakaran makhluk di sana... Maka ini adalah hal yang sangat buruk. Benar-benar buruk untuk Anko, Atau bahkan untuk yang lainnya juga. Sebagai seseorang dari Divisi khusus penanggulangan aksi teror biologis, Kakashi mengerti benar dampak apa yang akan Anko terima. Dan dampak seperti apa yang akan Kiba, Hinata, Sakura, Sasuke dan Naruto terima jika Anko masih berada di dekat mereka dengan luka yang seperti itu.

Jika Kakashi berada di posisi Naruto saat ini, Ia akan acungkan senjata yang ia miliki tepat ke arah kepada wanita itu. Dan menarik pelatuknya dengan cepat. Sehingga Anko dapat beristirahat dengan tenang tanpa terus memikul penderitaan yang lebih berat lagi. Dengan begitu, Anko tidak perlu membebani pikirannya akan dirinya yang bisa saja melukai semua murid-muridnya jika ia tidak bisa lagi mempertahankan siapa dirinya lagi dan menjadi salah satu di antara makhluk-makhluk mengerikan itu.

Pemikiran Kakashi yang seperti itu tidaklah salah. Sebagai seorang yang profesional, Wajar jika ia memilih pilihan yang logis dan tidak mengambil banyak resiko dengan mengakiri nyawa Anko sebelum sebelum berubah dan mencelakai orang-orang di sekitarnya.

Namun sekali lagi, Melalui sikap dan apa telah pemuda itu perlihatkan... Naruto malah berkata lain. Di mata Kakashi, Saat ini Naruto hanya ingin berbagi beban dengan Anko di sana. Mengambil setengah dari beban yang Anko bawa bersama di pundaknya. Dan menanggung konsekuensi dari seorang Anko yang masih berada di dekat mereka. Seolah Naruto sendiri lah yang nanti akan mengurus jika pada akhirnya Anko telah berubah menjadi salah satu dari makhluk-makhluk itu.

Dan lagi-lagi, Kakashi melihat jalinan ikatan yang kuat dan sangat berarti di antara mereka masing-masing. Inilah sosok anak dari Minato Namikaze yang selama ini ada dalam catatan mata-matanya. Inilah sosok Naruto Namikaze yang masih belum berubah walau Dunia telah mengkhianati tampuknya.

"Yosh... Ikuzo!" Seru pemuda dengan iris biru langit di sana. Tidak menyadari bahwa Kakashi sedang memperhatikannya.

"Tunggu. Mau kau bawa kemana kita nanti..."

Di saat keberangkatan mereka, Tiba-tiba Sasuke memberi sebuah pertanyaan khusus untuk seorang Kakashi. Dan diberi jawaban yang khusus pula darinya.

"Ahh... Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi. Jadi jaga yang lain untukku... Oke?" Jawab Kakashi dengan enteng meniru kata-kata Naruto yang tadi.

TWIIICCHH...

Seketika muncul pertigaan di pucuk kening kepala Sasuke setelah mendengar jawaban yang keluar dari mulut Kakashi.

'O-Orang ini sama menyebalkannya seperti bocah kuning itu-...'

.

.

.

.

.

.

.

"Lepaskan sekarang..."

Terdengar sebuah perintah dari saluran radio komunikasi di seluruh kokpit pesawat jet yang kini terbang memutari melesat memutari pusat Kota Konoha.

"Perintah diterima. Segera meluncurkan objek ke pusat Kota."

Jawab salah satu pilot dari salah satu pesawat tempur yang melayang di langit-langit Kota. Dengan begitu, Secara beriringan para pilot mulai melepaskan sejumlah proyektil yang mereka bawa di tiap masing-masing pesawat mereka. Puluhan bahkan ratusan proyektil yang seperti tabung kaca beruap biru tersebut melayang jatuh tertarik oleh gaya gravitasi bumi. Tersebar di sejumlah titik lokasi yang telah ditentukan. Dan jatuh ke tanah hampir mengelilingi cakupan Kota Konoha.

Uap biru menjadi putih dan menyebar dengan cepat sesaat setelah puluhan pesawat tempur tersebut terbang menjauh kembali menuju ke pangkalan. Yang bahkan uap tebal tersebut menguar hingga sampai menutupi gedung-gedung pencakar langit sekalipun. Kini jika dilihat dari atas, Uap putih berkabut tersebut sukses menutupi Kota sebesar Konoha.

Dengan demikian, Setelahnya suhu langsung jatuh drastis hingga sampai ke titik beku. Seluruh sudut jalan dan ribuan bangunan di Kota ini seolah tertutupi oleh es. Hawa dingin berkabut yang mematikan menguar memenuhi seisi Kota. Pembekuan Konoha telah sukses terlaksanakan hampir tanpa kendala sama sekali.

"Hashirama, Kau bisa mendengarku...?"

Suara seseorang terdengar di gendang telinganya mepalui sebuah Earphone khusus. Saat itu, Hashirama yang tengah berada di dalam helikopter bersama dengan regunya, Menekan tombol kecil di Earphone tersebut untuk mode tersambung.

"Ya. Suaramu masih sangat jelas." Jawab Hashirama kemudian.

"Pembekuan Kota telah berhasil. Sekarang tiba saatnya giliran kalian." Balas suara tersebut. Yang tidak lain adalah suara dari Minato Namikaze yang sekarang berada terpisah jauh dari dirinya di markas sana.

"Aku sudah tahu itu. Melihat pemandangan Kota yang seperti ini benar-benar suatu pengalaman baru bagiku. Benar-benar dingin." Ucap Hashirama setelah helikopternya menembus kabut tebal tersebut dan memasuki kawasan area yang telah di targetkan.

"Mulai sekarang komunikasi akan terganggu untuk beberapa saat dan membuat kami buta akan posisi kalian. Maka dari sini kuserahkan padamu... Hashirama." Pesan Minato untuk mengingatkan Hashirama. Dan benar saja, Kini suara Minato sudah agak kabur bahkan terputus-putus seperti kehilangan sinyal. Tekanan suhu dan udara di dalam ruang lingkup wilayah berkabut ini benar-benar tidak bisa meniadakan sambungan komunikasi dari luar.

"Serahkan pada kami. Aku akan menunggu arahan darimu kembali nanti."

Koneksi terputus setelah Hashirama memberikan kalimat terakhirnya kepada Minato. Kini komunikasi dari luar benar-benar terblokir oleh beratnya tekanan udara dan suhu yang sangat ekstrem di pusat Kota Konoha. Namun meski begitu, komunikasi dari dalam area ini masih bisa terkoneksi dengan cukup baik. Sehingga Hashirama masih dapat memegang kendali dan memberi perintah ke seluruh unitnya. Tepat seperti apa yang telah Minato pikirkan sebelumnya.

Serasa angin memang berhembus sangat kuat di dalam ruang lingkup kabut ini. Bahkan seluruh helikopter yang mengangkut tiap-tiap regu personel sedikit terguncang kesana-kemari. Hashirama merasa bagai melakukan misi di tengah-tengah kutub Antartika.

Tidak lama mereka mengudara, Di bawah sana Hashirama dapat melihat puluhan mobil polisi dan juga di lapis kendaraan berat militer terparkir membentuk pola lingkaran besar. Di sisi luar lingkaran, Jejeran mobil polisi di biarkan suara dan lampu sirinenya menyala. Sedangkan di tengah-tengah lingkaran tersebut, puluhan pasukan militer angkatan darat bersenjata lengkap berdiri menunggu kedatangan seluruh pasukan Divisi khusus Anti Bio-Terrorist Unit. Khususnya, Mereka menunggu kehadiran Hashirama yang akan memberi kendali dan perintah kepada mereka.

"Saatnya menyebar. Kini giliran kita untuk beraksi. Lakukan segera tanpa kesalahan." Kata Hashirama dengan raut serius melalui Earphonenya kepada seluruh personel yang berada di bawah perintahnya.

Puluhan helikopter yang terbang di atas Kota mulai menyebar rapi seperti apa yang telah Hashirama perintahkan. Sebagian besar tersebar menjauh dari posisi helikopter Hashirama dan menuju ke perbatasan ruang lingkup wilayah kabut ini. Sedangkan sisanya tetap terbang sejajar dengan helikopternya.

Terdengar suara bising dari sirine mobil-mobil polisi yang sengaja dinyalakan. Dan juga bising suara dari para mayat hidup yang mengelilingi lingkaran mobil-mobil tersebut. Hashirama dapat melihat bagaimana begitu banyaknya Zombie-Zombie itu berkumpul di lokasi ini. Jika dilihat dari atas helikopter, Lingkaran blokade yang dibuat oleh pasukan militer angkatan darat menggunakan mobil-mobil polisi dan dilapis dengan kendaraan berat militer tepat di belakangnya, Hanya seperti lingkaran gula yang dikelilingi puluhan ribu semut kelaparan.

Meski begitu, Tak ada kata gentar di hati Hashirama. Dirinya telah siap untuk hal ini. Walau nyawa adalah taruhannya, Dengan dikelilingi oleh puluhan ribu mayat hidup kelaparan di luar blokade, Misi ini adalah misi awal dari kebangkitan Kota Konoha. Misi yang ditujukan untuk merebut kembali Kota terbesar di seluruh Jepang ini dari kumbangan mayat hidup ganas. Dan bila saja ada kendala dan masalah yang muncul, Di sanalah seorang Minato Namikaze akan mem-Backup mereka dengan solusi dan arahannya dari markas.

Tali terlempar kebawah. Dari helikopternya, Hashirama meluncur ke bawah dan mendarat sempurna di aspal beku. Seluruh pasukannya melakukan hal yang sama tanpa ada yang tersisa. Beberapa helikopter di atas sana pun segera pergi meninggalkan mereka. Bagai seorang Astronot, Dengan set baju serba putih yang dapat melindunginya dari seluruh hawa dingin yang menusuk, Hashirama melangkah mendekati salah satu pasukan di sana.

"Bagaimana kondisinya..."

Hashirama bertanya kepada salah satu dari pasukan militer yang telah menunggu kedatangannya. Yang ditanya langsung memberi hormat di hadapan Hashirama.

"Unit penggiring telah berhasil menggiring 80% dari mereka untuk berkumpul di sini. Bunyi sirine tetap kami nyalakan untuk memancing lebih banyak dari mereka yang datang kemari seperti perintah atasan Divisi-3. Sekarang kami tinggal menunggu keputusan dan perintah dari anda!" Jawab tegas seorang pasukan militer tersebut yang juga memakai set berlapis baju putih seperti Hashirama.

"Kerja bagus. Sekarang siapkan senjata kalian dan bersiap ke posisi masing-masing. Tunggu aba-aba dariku." Balas Hashirama dengan nada datar.

Tidak seperti biasanya. Hashirama nampak sangat-sangat serius kali ini. Bahkan ia tak mampu untuk memasang ekspresi wajah yang seperti apa. Karena sedari ia menapakkan kaki di dalam lingkaran ini, Adrenalin telah terpacu kencang. Kini sekitar 80 orang di dalam lingkaran blokade tersebut, Akan melawan puluhan ribu mayat hidup yang ganas dan kelaparan.

Dengan masih menggenggam Sub-Machine Gun P90 di tangannya, Hashirama memanjat salah satu kendaraan berat milik militer angkatan darat yang menjadi dinding pelapis pemisah antara dirinya dengan puluhan ribu Zombie-Zombie itu. Uap hangat keluar ketika ia menghembuskan nafas panjang. Menatap kumbangan mayat hidup yang sebanyak itu.

"Regu-Alpha, Segera laporkan keadaan."

Hashirama mencoba menghubungi unit yang telah tersebar di penjuru sudut Kota dalam perbatasan ruang lingkup area beku ini. Mungkin para helikopter telah berhasil menurunkan mereka di sana.

"Regu-Alpha masuk. Mulai baku tembak di sini. Tapi kondisi di sini masih bisa terkendali. Seperti yang Minato-Taichou rencanakan sebelumnya. Pergerakan mereka terlihat melambat. Mungkin rencana pembekuan Kota ini adalah rencana yang paling tepat."

Jawab suara seseorang di Earphone Hashirama. Dan memang benar, Dengan jelas Hashirama dapat mendengar rentetan suara tembakan di mana-mana. Seperti yang telah dilaporkan tadi, Nampaknya semua unit yang ada di sana telah melakukan kontak langsung dengan mereka terlebih dulu.

"Dan ditambah lagi, Sepertinya informasi yang telah kami dapatkan dari Namikaze Naruto-kun benar-benar tepat sasaran. Jarak pandang mereka menyempit di malam hari. Dengan penerangan kecil, Itu cukup menguntungkan kami." Lanjutnya memberi laporan kepada Hashirama.

Sedangkan Hashirama sendiri malah tersenyum kecil mendengar bahwa informasi yang anak buahnya terima dari Naruto benar-benar berguna.

"Bagus. Tetap beri laporan kondisi di sana nanti." Sahut Hashiram kemudian.

"Siap..!"

Sambungan itupun terputus. Kini giliran regunya yang bertarung melawan mereka yang di sini. Seluruh pasukan militer dan personel Hashirama nampak telah siap pada posisi mereka masing-masing.

'Pola pikir dan rencana-rencana Minato benar-benar mengerikan. Bahkan mungkin levelnya sedikit jauh di atas Mito. Aku sendiri telah mengakuinya semenjak dulu. Itulah mengapa kami akan selalu membutuhkan sosoknya. Aku selalu membutuhkan dia sebagai otak di atas papan pertaruhan. Ayo lihat, Berapa persen tingkat keberhasilan yang akan kita raih dalam misi gila ini... Minato.' Gumam Hashirama dalam hati.

"Dengar...! Sudah saatnya giliran kita beraksi...! Ayo tendang bokong mereka dari kota ini." Seru Hashirama untuk seluruh personelnya.

CEKREEKKLL...

Jari Hashirama menarik Slider senjatanya. Membuat senjata itu kini dapat ditembakkan kapan saja yang ia mau. Untuk sekali lagi menatap lautan mayat hidup yang kelaparan di hadapannya, Hashirama membidikkan senjatanya itu ke arah mereka.

"Perang... Dimulai...!"

.

.

.

"Unexpected Plans"

The Place Of Hope

Chapter 9 : "Rencana Tak Terduga"

Genre : Adventure, Horror & Gore

Caution! Contains violance & profanity (17th +)

.

.

To Be Continue...