CHAPTER NINE:
BROKEN THURSDAY
"Guys, gue punya kabar baik nihh! Yeahh!"
Datang-datang si Cammy udah langsung heboh sambil bawa majalah J-Teen, ngagetin kita yang lagi makan.
"Wushh... datang-datang langsung heboh, kenapa lo?" tanya Hinako.
"Baca deh majalah ini!" jawab Cammy sambil menyodorkan majalah J-Teen.
"Emang ada apa sih?" tanyaku penasaran.
"Udaaah, baca aja!" jawab Cammy sambil membukakan majalah itu.
Kubaca majalah itu.
"Sakura, kenapa sih emang?" tanya Charlie.
"Tau tuh cewek lo!" jawabku sambil membaca artikel profilnya Namie Amuro. Saat membalik majalah, aku terkejut.
"Guys, senior kita Kak Morikawa dan Kak Morrigan mau nikah di aula sekolah kita nih! Besok pernikahannya," seruku.
Kawan-kawan langsung berkumpul di depanku.
"Hah! Senior Morikawa mau nikah? Sumpah lo!" tanya Charlie dengan nada tidak percaya.
"Beneran deh... ngapain gue bohong sih? Baca aja ndiri, nih," jawabku seraya menyodorkan majalah favorit Cammy itu ke Charlie.
"Dia nikah sama siapa?" tanya Maki.
"Yah... lo 'kan fans beratnya, masa' nggak tau dia pacaran sama siapa?" aku balik bertanya.
"Hmm... sama Kak Morrigan?" tanya Mai.
"Betul, itu Mai tau meski nggak ngefans!" jawabku.
"Lho, bukannya udah putus?" tanya Maki lagi.
"Ya ampun... nggak up to date lo! Itu cuma hoax tau! Mereka masih pacaran, tunangannya bulan April kemarin, sekarang mau nikah... katanya ngefans, kok ketinggalan jaman gitu?" jawab Remy dengan nada meledek.
"Eh nyet, diam lo!" balas Maki.
"Udah...udah... maklum si Maki 'kan nona sibuk. Hehe..." sahut Carlos.
"Yah, dibelain ama si Carlos..." gerutu Remy.
"Dilarang ambil pusing, hahaha!" ejek Maki.
"Oh ya ngomong-ngomong Ky mana?" tanya Ken-san.
"Dia di aula, ya bicarain gedung aula yang mau dipake pernikahan itu," jawab Millia.
"Si Ky 'kan pejabat direktur sekolah, jadinya dia sibuk jugalah..." kata Charlie.
"Iya tapi nggak sampe nglupain rapat rutin U.S.H. juga kali!" sahut Kensou.
"Dia memang nggak lupa sama rapat rutin kita, tapi dia 'kan sibuk juga... dimaklumi ajalah..." kataku.
"Siapa yang barusan ngomongin gue?" tanya Ky yang tiba-tiba muncul.
"Kita berdua!" jawab Charlie.
"Yap, kita berdua yang ngomongin lo. Kita ngomongin jabatan baru lo, gitu!" tambah Kensou.
"Oh... kirain apa..." kata Ky sambil duduk di samping Charlie.
"Gimana nih persiapannya buat pernikahan kedua senior kita ntar?" tanya Millia.
"Semua petugas kebersihan di sekolah kita dikerahkan untuk membersihkan gedung aula sekolah, dan para panitia pernikahan juga udah aku siapkan, sayang..." jawab Ky dengan santainya.
"Kita tetap jadi keamanan 'kan selama pernikahan berlangsung?" tanyaku.
"Yupz... tapi kita nggak pake seragam kayak pernikahannya senior Andrew dulu. Kita pakai pakaian bebas, yaa kita jadi tamu lah..." jawab Ky.
"So, gue mesti pake baju feminin dong, ohh noo..." gerutuku.
"Woi, lo itu cewek, ya harus pakai pakaian cewek lah!" sahut Ryu-san.
"Eh, gue punya solusinya kalo nggak mau pake rok!" sahut Hinako.
"Apa? Emang gimana?" tanyaku penasaran.
"Iyaa lo pake baju kayak orang kantoran aja deh. Pake kemeja lengan panjang, celana panjang, sama high heels, keren deh jadinya. Buat make-up, ntar gue dandanin yang tipis aja, pasti pas pernikahan ntar semua mata tertuju sama lo! Hahaha!" jawab Hinako.
"What? Helloooo? Gue pake high heels? Wajah pake make-up? Nggak banget dehh! Aduuh amit-amit..." kataku.
"Sakura... acara pernikahan itu acara resmi, bukan acara tongkrongan lho ya..." sahut Chun-Li-san.
"Hmph... terserah lo semua aja deh..." gerutuku.
"Sayang, kamu itu cewek, suatu hari nanti kamu jadi ibu, bukan jadi bapak, masak mau tomboy terus? Nggak baik lho sayang..." kata Kyosuke sambil duduk di sampingku.
"Nah cowok lo aja pengen lo jadi cewek tulen..." sahut Ky.
Aku diam saja mendengar ocehan teman-temanku. Jujur saja, risih sekali kalau harus pakai high heels dan pakai make up!
"Kak, keterusan tomboy itu nggak boleh lho, Kak Sakura itu cewek, bukan cowok! Belajar dandan kayak cewek pada umumnya gitu lho..." kata Mai.
Aku menarik napas panjang. Hmm... kalian semua kebanyakan ceramah! Males dengerinnya. Tapi dipikir-pikir benar juga apa kata mereka, aku nggak boleh keterusan tomboy. Sebenarnya dari dulu berniat ingin berubah feminin, tapi belum ada niat benar-benar.
"Sakura nggak dengerin ucapan kita!" kata Chun-Li-san yang membuatku tersadar dari lamunan.
"Eh... i... iya, ma... maaf, akuu... melamun. Iya, makasih sarannya," kataku tergagap saking kagetnya.
"Berarti lo berubah pikiran dong?" tanya Ma Lin.
"Maksud lo?" aku balik bertanya.
"Ya elo pengen berubah jadi cewek tulen, bukan cewek tomboy lagi..." jawab Ma Lin sambil memainkan pisau kecilnya.
"Heh, nggak boleh bawa pisau ke sekolah!" ujar Kyo sambil merebut pisau kecil itu dari tangan Ma Lin.
"Ah, apaan sih lo, Kusanagi? Lagi asyik nihh!" bantah Ma Lin.
"Itu salah satu peraturan di sekolah ini, nona Ma Lin..." sahut Terry.
"Oh gitu ya..." Ma Lin mengangguk paham. "Kalo emang itu peraturannya, kenapa nggak dikasih tau dari kemarin?"
"Yahh, lupa... hehehe..." jawab Terry sambil tertawa.
Bel berbunyi, kami semua bubar dan ke kelas masing-masing.
"Sakura!" panggil Cammy.
"Apa sih? Enak-enak kerjain soal malah lo gangguin!" balasku risih.
"Jiahh kebanyakan gaya, sok serius amat... eh ntar kita pulang sekolah main ke rumahnya Athena, sekalian rapat bicarain untuk pernikahan kedua senior kita nanti, ikut nggak?" kata Cammy.
"Emang ada apaan kok ke rumahnya Athena?" tanyaku.
"Ngajak party dia," jawab Cammy.
"Party apaan?"
"Shermie masuk penjara, yeah!"
"Hah? Kapan? Kok gue belum tau beritanya?"
"Lo nggak baca Harian Asahi? Biasanya lo rajin baca tuh..."
"Mau gue baca tapi disobek sama Tsukushi..."
"Jiahh... oke gue ceritain ya beritanya. Dia ketahuan bawa narkoba pas di kafe dan melakukan kekerasan terhadap asistennya, dan polisinya yang nangkap itu kakaknya sendiri, makanya Athena ngadain party buat rayain berita bagus itu, hahaha..."
"Wah bagus tuh! Oke deh, gue ikut kalo gitu! Udah buruan balikin badan lo ke depan, kena jewer Takuma-sensei tau rasa lo ntar!"
"Iya iya!"
Kuteruskan mengerjakan soal-soal matematika yang diberikan oleh Takuma-sensei. Sebenarnya malas mengerjakan, tapi karena takut kena jewernya, yahh apa boleh buat, kukerjakan saja soal itu dengan asal-asalan meski paham dan ngerti dengan caranya, yang penting tidak kena jewer.
"Katanya males ngerjain..." celetuk Chun-Li-san.
"Daripada kena jewer, lebih baik gue kerjain aja soalnya," kataku.
"Dasar! Cuma karena takut kena jewer malah ngerjain, kalo nggak ada guru malah nggak ngerjain! Pemalas kuadrat!"
"Tapi kali ini gue juga bener-bener niat tau!"
"Masa' sih? Nggak percaya gue!"
"Udah diam aja lo!"
Tanpa banyak bicara lagi, kuselesaikan 3 nomor terakhir soal-soal yang 'supersiip' itu, setelah itu kututup bukuku dan mengeluarkan HP, mau ber-sms-an sama Millia.
"Udah selesai non?" tanya Chun-Li-san, bikin kaget saja.
"Gila lo, hape gue hampir kelempar tau!" jawabku sambil terus sms-an.
"Lebay lo! Gitu aja kaget."
"Gimana gue nggak kaget? Lagi enak-enaknya sms-an kok, lo ngeganggu deh ah!"
"Iya maaf deh kalo gitu."
"Hambbrr... laper gue!" celetuk Hayato.
"Dasar perut karet, ramen udah habis 4 mangkok masih aja lapar!" ledek Kyo.
"Tau, rakus lo nggak hilang-hilang ya? Makanya banyak cewek yang ilfil sama elo!" tambah Terry.
"Masa'? Buktinya cewek gue yang namanya 'June Lin Milliam' nggak tuh!" balas Hayato dengan pedenya.
"PEDE GILAAA!" seru kami heboh.
"Ini anak nggak pernah malu ya? Atau nggak punya malu nih?" ledek Maki.
"Biasa, anak muka tebel 'kan ya kayak gitu tingkah lakunya..." sahut Kensou.
"Apaan sih lo pada? Emangnya Vega yang punya selera yang SLEBOR? Suka tebar pesona sana-sini, nggak tau malu lagi!" kata Hayato dengan cemberut.
"Guys, masih mending si Hayato ketimbang si Vega. Hayato nggak sampe slebor kayak Vega," bela Kyosuke.
"Ntar malam lo jadi keluar sama si Milliam?" tanyaku.
"Jadi lah! Lagian ntar Milliam libur les piano, dating hari ini bakalan lancar jaya deh pokoknya!" jawab Hayato dengan semangat.
"Si Ky ke mana sih kok lama banget? Kapan rapatnya coba?" tanya Charlie.
"Sabar dikit lah, dia masih di jalan nih!" jawab Millia sambil mengutak-atik Hpku.
"Hassh, your boyfriend is so lemott... capek gue nunggunya, sampe laperr..." keluh Hayato.
"Alah, perut karet lo! Udah abis ramen 4 mangkok, sashimi 3 piring, kue mochi 8 buah, gitu masih lapar juga? Astaga... dasar perut karet! Emang perut lo lebarnya berapa sih kok masih bisa lapar?" ledek Millia.
"Emang sebenernya gue udah kenyang, tapi yang bikin gue lapar gara-gara liat Sakura makan Soba tau!" balas Hayato.
"Lo sih... ditawarin Ken-san katanya udah kenyang, dasar!" sahutku.
"Iya, bilangnya nggak suka, dasar! Banyak gaya tau nggak, ngakunya nggak suka makan banyak, tapi kalo liat makanan enak langsung diabisin gitu aja!" tambah Ken-san.
"Yaa makanan kantin hari ini bikin gue jadi manusia berperut karet," kata Hayato.
"Jiahh... bahasa loo... banyak gaya lo, jelek deh!" ledek Athena.
"Yang banyak gaya itu lo kali! Mentang-mentang artis, pinter tata bahasa, menghina gue yang orang biasa-biasa aja!" balas Hayato.
"Nih gue beliin lo Soba, biar nggak banyak bacot aja!" sahut Millia sambil menaruh semangkuk Soba di depannya. Tanpa diperintah, Hayato langsung melahap semangkuk Soba yang porsinya banyak itu.
Tok...tok...tok...
"Iya bentar!" sahut Millia. Ia membuka pintunya, ternyata Ky.
"Sorry for my late," kata Ky dengan kalimat khasnya kalau telat datang.
"Yes... no problem," balas kami dengan jawaban khas kami juga.
"Oke, dimulai aja langsung rapatnya! Gak pake basa-basi!" celetuk Hayato.
"Yee... yang ngajak basa-basi 'kan lo sendiri!" sahutku.
"Udah ah! Charlie, lo duduk di samping gue!" perintah Ky.
"Hah? Ngapain? Mau jadiin gue servant lo? Ogah!" tiba-tiba Charlie nyolot.
"Woi! Siapa juga yang mau jadiin lo servant gue? Jangan nyolot dulu lah!" balas Ky.
"Yaaah... sorry – sorry..."
"Gue nyuruh lo duduk di samping gue karena lo juga ketua tau! Gue juga mesti minta pendapat sama lo, PAHAM?"
"Whoaaa...! Nggak usah galak gitu bro... sorry, 'kan gue salah paham..."
"Masa bodoh ah! Dimulai aja deh," sahut Millia.
"Nah, jadi gini guys, kalian juga jadi panitia, ya jadi penjaga gedung lah... tapi kita pake baju pesta," kata Ky, memulai pembicaraan.
"Waah gue bisa dandan secantik-cantiknya dong! Baju gue udah siap!" kata Cammy sambil berkaca.
"Wuss... belum-belum udah gegayaan, ntar kalo nggak jadi, baru deh nangis-nangis kecewa berat!" ledekku.
"Tau nih, berlebihan kayak cowoknya!" tambah Chun-Li-san.
"Heh, kok gue ikut-ikutan sih?" sahut Charlie.
"Jiahh... nggak cowok nggak cewek sama aja lebay!" ledekku lagi.
"Woi udah! Nggak usah ribut lah, yang penting keamanan pestanya nih! Cammy juga tuh, bingung mau gaya aja, nggak usah sok perfect deh!" kata Ky.
Cammy cemberut gitu aja habis dibilangin Ky.
"Kayak seleksi dance kemarin, Sakura sama Kyosuke bagian keliling-keliling, ngawasin, barangkali ada penyusup," Ky meneruskan pembicaraannya.
"Ky, bentar, kalo bisa jangan dua aja penjaganya, gimana kalo ditambahin 3-4 aja?" usul Hayato.
Ky tidak setuju dengan usul Hayato.
"Lho, jangan banyak-banyak! Nanti yang jaga pagar sekolah siapa?"
"Manggil polisi bisa 'kan?" tanya Ken-san.
"Aduuh... untung elo udah nggak jadi ketua Crossover lagi. Ngegampangin aja bisanya! Ilfil gue sama lo!" jawab Ky ketus.
"Nggak usah pake polisi, anggota Crossovers segitu banyaknya kok!" tambah Charlie.
"19 orang? Kurang!" lagi-lagi Ken-san menggampangkan.
"Udah, nggak usah ditanggapi usulnya Ken sama Hayato!" sahut Chun-Li-san.
"Tau nih, nggak percaya sama tim sendiri, pake manggil polisi segala," tambah Mai.
"19 orang itu udah banyak tau! Nggak usah panggil polisi segala deh, lagian ini bukan acara kenegaraan tau, ini cuma pernikahan biasa!" kata Kyo.
"Bentar deh, daripada ribet gue sms Kak Morikawa dulu," kata Ky sambil utak-atik HP.
"Heh, pake usul panggil polisi segala, kurang kerjaan tau!" kata Charlie.
"Nganggap remeh kita ya?" tanya Athena.
"Eh, nggak gitu, gue nambahin usulnya Hayato aja, yaah kalo emang kalian pada nggak setuju, ya udahlah," jawab Ken-san.
"Kalo gue pikir-pikir usulnya Ken sama Hayato ada benernya juga sih..." sahut Kyosuke.
"Benernya di mana?" tanyaku.
"Securitynya cuma 19 orang kayaknya emang kurang deh, perlu ditambah lagi memang," jawab Kyosuke.
"Heh, kok elo setuju sih?" tanya Charlie dengan mendelik.
"Sedikit gitu mana cukup? Jangan ngandalin kekuatan super doang dong!" jawab Kyosuke sambil mainin kunci sepeda motornya.
"Eh guys, kalian nggak jadi penjaga, Kak Morikawa bilang kalo kalian cuma jadi tamu aja, coz Kak Morikawa udah nyiapin pelayan-pelayan dan pengawal pribadi sebagai securitynya," kata Ky.
"Tapi meski nggak jadi kita kudu siap siaga juga dong... barangkali Vega dan kelompoknya menyusup saat pesta pernikahan berjalan nanti," tambah Charlie.
"Tadaima," seruku sambil membuka pintu rumah.
"Eh anak ibu sudah pulang," ibu menyambutku dengan wajah berseri-seri.
"Ada apa, kok wajah ibu berseri-seri begitu?" tanyaku penasaran.
"Kamu dapat kado dari pacarmu, nak!" jawab ibu sambil mengambil kado yang ditaruh di lemari.
"Hah? Kado apa, Bu?"
Ibu membuka kado yang katanya dari Kyosuke itu, sejak kapan ia memberiku kado? Bukannya dia pulang bersamaku tadi? Tanyaku dalam hati
"Bu, kapan dia memberiku kado? Tadi dia pulang bersamaku kok," tanyaku lagi.
"Pengawal pribadinya yang mengantar ke sini, Nak..." jawab Ibu. Setelah membuka kado itu, ibu terlihat senang sekali.
"Hadiah apa sih?" tanyaku penasaran.
"Sepatu sandal, bagus banget Nak!" jawab Ibu dengan senang. Sepatu sandal itu berwarna putih, high heels lagi!
"Itu... buat aku, Bu?"
"Iya, ini ada sepucuk surat dari dia juga."
Kubaca sepucuk surat dari Kyosuke itu :
"Sayang, sepatu ini kubeli dari Prancis, mudah-mudahan kamu suka. Love you sayangkuu, muach...! dari kekasihmu tercinta, Kyosuke."
"Senang tidak menerima hadiah itu?" tanya ibu.
Ah... sebenarnya sih tidak suka, tapi demi acara pernikahan yang harus kuhadiri, aku 'kan harus memakainya. Sudahlah, bilang saja suka.
"Iya, Sakura senang kok, bagus banget sepatunya! Kebetulan Sakura emang lagi perlu sepatu ini buat ke pesta pernikahan seniorku nanti," jawabku.
"Seniormu?"
"Iya. Kak Morrigan dan Kak Morikawa menikah."
"Waaah... kalau begitu penampilanmu harus oke lah!"
"Tapi ibu... aku tidak mau pakai rok!"
"Kamu mau pakai apa terus?"
"Kata temenku kalo aku nggak mau pake rok, aku harus berpenampilan seperti orang kantoran, pakai kemeja lengan panjang, celana panjang, dan sepatu high heels. Nanti temenku dandanin aku dengan make-up yang tipis."
"Lho, nanti ibu aja yang me-makeover kamu!"
Aku terkejut dengan apa yang barusan diucapkan ibu barusan.
"Tidak mau! Make-up ibu menor, jelek nanti!" tolakku mentah-mentah.
"Ibu bisa kok make-up tipis!" kata ibu dengan yakinnya.
"Tapi nanti hasilnya jelek 'kan? Aku tetap tidak mau!"
"Sudahlah, nanti kamu juga senang habis Ibu dandani, pokoknya harus mau!"
Aku mengangguk, lebih baik mengalah, tidak baik membantah omongan orangtua.
"Nah gitu dong! Ayo makan dulu, ibu sudah masak kesukaanmu," ajak ibu.
"Kimchi? Dan seperti biasanya 'kan?" tanyaku.
"Pinter anak ibuu..." jawab ibu sambil mencubitku.
Aku segera ke ruang makan. Ibu ngerti banget kalo aku ingin makan Kimchi, gara-gara liat Hayato makan ramen yang ada Kimchinya tadi.
"Ibu ngerti banget ya kalo aku pingin makan Kimchi," kataku.
"Ayah juga ingin makan Kimchi," sahut ayah.
"Oh ya, nanti malam Ibu mau ajak kamu ke butik langganan ibu," kata ibu.
"Ngapain?" tanyaku.
"Ya mau cari baju lah! Ibu mau cariin baju yang pas buat kamu ke pesta," jawab ibu.
"Hmm... sebentar ya, mau buka buku catatan dulu, mau lihat ada PR apa nggak," ujarku sambil pergi ke kamar. Aduuh... sebel deh, mentang-mentang aku udah suka sepatunya, sekarang malah diajak ke butik, dasar! Tapi masa' aku mau datang ke pesta pakai baju yang biasa kupakai nongkrong bersama kawan-kawan? Lucu banget! Lagian aku nggak punya kemeja yang resmi. Ah sudahlah, turuti kata ibu saja, pikirku. Aku segera ganti baju dan berdandan alakadarnya seperti biasanya ketika mau ke sekolah atau nongkrong.
"Nggak ada PR kok bu, ayo berangkat!" ajakku.
"Sebentaar, ibu masih ganti bajuu...!" teriak ibu dari kamar.
"Jangan lama-lama deh! Nggak sabar pingin ke butik nih!" kataku dengan sok banget, padahal nggak mau ke butik.
"Ibu sudah siap, ayo berangkat!"
Kukeluarkan motorku, tancap gas, berangkat!
Sampai di butik langganan ibuku, kuparkir sepedaku tepat di depannya. Setelah kukunci motorku, aku dan ibu langsung masuk ke butik itu.
"Wuaah, rame banget!" seruku begitu masuk dalam butik itu.
"Iya, memang di sini bagus-bagus, udah gitu diskon lagi!" kata ibu sambil menarik tanganku, rupanya ada baju yang bagus. Hah... barusan masuk udah dapet yang bagus.
"Bagus 'kan ini?" tanya ibu sambil menunjukkan baju yang berwarna pink. Hah? Bentuk dan desainnya emang bagus, tapi warnanya... iuuuhh nggak banget deh! Kataku dalam hati.
"Bentar deh, Sakura cari yang lain aja, jangan pink warnanya!" kataku seraya meninggalkan ibu.
"Lho, kenapa? Padahal bagus lho..." tanya ibu dengan nada kecewa.
"Ibuu... bentuk dan motifnya memang bagus, tapi aku nggak suka warna pink!" jawabku sambil terus mencari baju.
"Ya sudahlah, cari saja yang menurut seleramu."
Aku pergi ke bagian baju yang lainnya, yang benar saja, masa' pakaianku harus sama dengan ibu-ibu? TIDAK! Bisa-bisa jadi bahan ejekan saat pesta pernikahan nanti.
Setelah lama mencari, akhirnya kutemukan longdress berwarna hitam dengan desain yang keren banget. Kuambil longdresss itu dan ku-fitting dengan badanku, ternyata cukup, yay! Tapi... harganya 250.000 yen? Aku bawa uang berapa ya? Apa cukup buat beli baju dengan harga segitu? Pikirku.
"Dik Sakura?" seseorang mengagetkanku. "I...iya...a...apa?" kataku gagap saking kagetnya. Eh, ternyata Kak Elena yang mengagetkanku.
"Se...senior Elena?"
"Iya, kamu kok keliatannya bingung gitu dik?" tanya Kak Elena.
"Ini... aku mau beli baju yang harganya 250.000 Yen itu, tapi... uangku nggak cukup nih!" jawabku.
"Ada diskon, sekarang bulan diskon lho!"
Aku terkejut dan nggak percaya sama apa yang diucapkan Kak Elena barusan. Di toko butik sebesar ini ternyata ada diskon... baru tahu aku.
"Diskon berapa, Kak?" tanyaku.
"50%," jawab Kak Elena.
Hmm... 50%? Jadinya 125.000 Yen. Uang yang kubawa 150.000 Yen, wah oke deh, cukup kalo gitu.
"Syukurlah, uangnya cukup, makasih ya Kak," kataku.
"Iya, sama-sama," balas Kak Elena.
"Kamu cari baju untuk pesta pernikahannya Kak Morrigan dan Kak Morikawa ya?" tanya Kak Elena, membuka obrolan.
"Iya, kok Kakak tau?" jawabku.
"Ya, banyak kok temen-temen alumni yang cari baju di sini."
"Alumni juga diundang?"
"Ya iyalah... meski udah pisah tapi kami tetap kompak! Ngomong-ngomong gimana Crossovernya?"
"Yaah... musuhnya nambah banyak, pusing tau!"
"Haha... Shermie sama Adel ya?"
"Kok tau?"
"Ya aku tahu dari Ky. Aku sering chat sama dia. Dia tetep jadi ketua OSIS 'kan?"
"Sekarang dia pejabat direktur sekolah..."
"Oh... sekarang ketua OSISnya siapa kalo gitu?"
"Kyosuke."
"Oh... hmm okelah aku duluan ya, pacar aku udah nelepon nih."
"Yaa okelah, bye."
Kuambil baju itu dan aku segera mencari ibu. Saat ke bagian 'Casual', tiba-tiba ada seseorang menarik tanganku, dan ternyata itu ibu. Kulihat isi tasnya sudah penuh dengan baju, dasar shoppaholic, pikirku.
"Eh, udah dapat bajunya?" tanya ibu.
"Ini, bagus banget 'kan?" jawabku sambil menunjukkan bajuku.
"Bagus... tapi berapa harganya?"
"250.000 Yen diskon 50% jadi 125.000 Yen, lumayanlah uang yang kubawa cukup."
"Iya, untungnya bulan diskon, jadi ibu beli banyak deh! Udah, ayo ke kasir!"
Ibu menarik tanganku, cepat-cepat ke kasir nggak mau antri panjang, soalnya ibu paling benci sama antri panjang, aku juga males nungguinnya.
Untungnya kasir belum antri panjang, masih 2 orang yang antri.
"Untung aja belum antri panjang..." gumam ibu.
"Yah kalo antri panjang aku jelas nggak mau lah, Bu! Males tau nungguinnya..." celetukku.
"Iya-iya ibu ngerti..."
Orang yang di depanku pergi, kami berdua segera menyerahkan belanjaan kami dan membayarnya. Setelah itu, kami pulang.
Sampai di rumah, aku langsung ke kamarku dan mencoba baju yang kubeli itu tadi dan sepatu yang dihadiahkan Kyosuke kepadaku, kira-kira cocok tidak ya?
"Ibu, cocok tidak?" tanyaku meminta pendapat pada ibu.
"Wahh... cocok banget sayang! Untung aja ibu tadi ajak kamu ke butik, tinggal make-upnya saja sayang..." jawab ibu dengan senang.
"Hmm... yang tipis dan natural ajalah, jangan menor kayak ibu-ibu!"
"Ya, besok bangun jam 6 ya?"
"Sebentar, aku sms temanku dulu, tanya besok acaranya jam berapa."
Aku sms Kyosuke, tanya besok aku harus berangkat jam berapa. Mudah-mudahan bukan jam 7, aku benci jika harus berangkat jam segitu. Hpku berbunyi, cepet banget balasnya. Ahh syukurlah, jam 9 Kyosuke akan menjemputku dan kami berangkat jam segitu.
"Jam berapa berangkatnya?" tanya ibu.
"Jam 9 aku dijemput Kyosuke, Bu," jawabku.
"Ohh... kamu harus cantik, sayang! Biar Kyosuke terpana sama kamu."
"Aduuh ibu lebay deh! Pokoknya aku harus dandan natural, nggak usah menor!"
"Pokoknya ntar ibu usahakan biar kamu jadi cantik!"
"Ah iya-iya! Sudah aku mau tidur, bangunkan aku jam 7 saja!"
"Lho, anak perempuan nggak boleh bangun siang!"
Huh, masa bodoh! Pikirku. Aku langsung mengeluarkan futonku dan tidur selelap-lelapnya.
"SAKURA, BANGUN!" teriak ibu dari luar kamarku.
"Berisik, masih ngantuk tauu ukh..." gerutuku.
"BYORRR!" tiba-tiba tubuhku terkena siraman air. Aku langsung bangun, dasar, orang enak-enak tidur malah disiram! Mana airnya dingin lagi.
"IBUUUUUUUUUUU!" teriakku.
"Kakak dibangunin nggak bangun-bangun, ya sudah aku siram air!" kata Tsukushi sambil membawa futonku keluar. Kutahan amarahku pada adikku yang bandelnya minta ampun itu, nggak baik pagi-pagi marah-marah. Tanpa babibu lagi, aku segera mandi. Ashh... tambah dingin! Bbbrrr...
Setelah keluar dari kamar mandi, aku langsung ke meja makan buat sarapan (yaiyalah, masak mau ngepel?)
"Eh, make-up dulu!" kata ibu.
"Ah ibu... aku lapar!" bantahku.
"Sudah, biar dia sarapan dulu, Bu," sahut ayah.
Kuhabiskan sarapanku tanpa banyak bicara lagi, setelah itu pergi ke kamarku untuk make-up. Kupakai baju pestaku, baru make-up.
"Tutup matamu, nanti saja meleknya kalau make-upnya sudah selesai," kata ibu.
"Ya," jawabku singkat.
Kututup mataku. Bedak-bedak sudah menyentuh wajahku, begitu juga dengan make-up yang lainnya. Risih, aku benci! Tapi... masa' ke pesta tidak pakai make-up? Nggak lucu banget!
Make-up selesai, kubuka mataku. Aku terbelalak, ingin pingsan rasanya. Ya ampun... udah dibilang pingin make-up natural malah agak menor gini! Aduuuh...
"Ibu, aduh... apa kata Kyosuke nanti kalau dia melihatku?" tanyaku panik.
"Pasti dia senang!" jawab ibu dengan entengnya.
"Yang ada dia menertawakanku, Bu..."
"Sudahlah, pakai sepatu pemberian Kyosuke!"
Dengan agak jengkel, kupakai sepatu high heels itu.
"Aduuh... aku kelihatan tambah aneh 'kan, Ayah?" tanyaku, meminta pendapat pada Ayah.
"Nggak, anak Ayah tambah cantik kok," jawab ayah sambil tersenyum.
"Sakura, Kyosuke sudah datang!" panggil ibu.
Aku terkejut, mau kutaruh di mana mukaku kalau Kyosuke tahu aku dandan seperti ini? Pasti diledek dan dikritik deh... kulihat jam dinding di kamarku, sudah jam 9.55, wah sudah mendekati! Ah biarlah... berangkat sajalah.
"Kyosuke..." panggilku sambil keluar dari kamar.
Kyosuke langsung memandangku dari kaki sampai kepala.
"Kamu..." Kyosuke berhenti sebentar. Dia bakal bilang apa ya?
"Kenapa sayang?" tanyaku penasaran.
"Kamu cantik, sayang," jawab Kyosuke. Dadaku rasanya seperti meledak mendengar jawaban Kyosuke barusan, seneng banget deh! Usaha ibu nggak sia-sia ternyata, hehe maaf ya ibuku sayang sudah meremehkanmu, makasih ya ibu...
"Ehm... makasih sayang, kamu juga ganteng," balasku.
"Nah, usaha ibu tidak sia-sia 'kan?" tanya ibu.
"Eh iya... makasih ya ibu, maaf sudah meremehkanmu," jawabku.
Ibu hanya mengangguk.
"Sayang, ayo berangkat," ajak Kyosuke.
"Iya sayang..."
Aku jalan agak pelan, untunglah Kyosuke mau mengerti bahwa aku baru belajar memakai sepatu hak tinggi. Saat mau membuka pintu mobil, Kyosuke mencegahku.
"Lho, kenapa? Aku mau buka sendiri," tanyaku.
"Aku aja yang bukakan pintunya sayang, kamu tinggal masuk aja, coz kamu cantik hari ini," jawab Kyosuke. Pinter ngegombal juga ternyata cowokku ini.
"Ih... gombal ah!" ledekku.
"Beneran deh..." bela Kyosuke.
Kami berdua berangkat ke lokasi pernikahan. Mudah-mudahan acara pernikahan ini berjalan dengan lancar dan tidak seperti pernikahan Senior Elena yang dikacaukan oleh Vega, kataku dalam hati.
"Kamu suka sepatunya?" tanya Kyosuke.
"Mmm... iya sayang, bagus deh, makasih yaa," jawabku sambil bersandar di pundak Kyosuke.
"Kamu keliatan cantik deh kalau pakai sepatu itu, syukurlah aku milihnya tepat, padahal aku kurang mengerti lho model sepatu yang mana yang bagus."
"Yaaah nggak apa-apa deh sayang, aku suka kok."
Beep...beep... hpku berbunyi, Chun-Li-san meneleponku.
"Moshi-moshi?"
"Ya Chun-Li-san, ada apa?"
"Kamu udah berangkat?"
"Udah, sama Kyosuke ini, kamu sendiri?"
"Aku sudah di sekolah sama Cammy."
"Tunggu aku ya di sana, emang di sana ada siapa aja?"
"Kawan-kawan udah pada datang, tinggal kamu, Kyosuke, dan Hinako yang belum datang."
"Hah? Cepet banget! Pada berangkat jam berapa sih kalian?"
"Rata-rata sih jam 8, acaranya udah mulai jam 07.30."
"Hah? Katanya jam 9?"
"Iya, maaf ya aku mau memberitahumu tapi lupa..."
"Yaaah terlanjur deh!"
"Hahaha... sekali lagi maaf. Sudah dulu ya, daah."
"Daah..."
Kumasukkan HPku ke dalam tas dengan sebel. Sialan, kenapa nggak dikasih tau sih kalau acaranya mulai jam segitu? Nyesel deh udah molor bangunnya!
"Kenapa sayang?" tanya Kyosuke.
"Sebel tau yang! Masa' kita datang terlambat sendiri? Kita nggak dibilangin kalau acaranya udah mulai jam 07.30 tadi, uuh! Nyesel deh udah bangun molor!" jawabku dengan cemberut.
"Yaah... aku juga nggak diberitahu."
"Biarin deh yang, yang penting kita datang."
Sampai di sekolah, aku turun pelan-pelan dari mobil. Aku harus jalan pelan-pelan biar nggak jatuh, yaah maklumlah, pertama kali pakai sepatu hak tinggi. Sudah kuduga, ledekan akan datang bertubi-tubi, tapi ada juga yang kagum dan suka dengan penampilanku
"Wuahh niru gayanya Koda Kumi nih..." celetuk Ryu-san.
"Waaah... bagus banget sepatunyaa!" cewek-cewek pada seru liat sepatuku.
"Kamu beli di mana ini?" tanya Chun-Li-san.
"Aku yang membelikannya di Prancis," sahut Kyosuke.
"Hah? Beneran?" tanya Cammy dengan nada tidak percaya.
"Beneran!" jawab Kyosuke dengan yakinnya.
"Waah... Kyosuke bener-bener baik yaa..." kata Jam.
"Haha... Hinako bisa aja," kata Kyosuke tersipu.
Charlie dan Carlos memandangku dengan pandangan yang nggak ngenakin banget.
"Heh lo berdua, ngapain mandangi gue kayak gitu?" tanyaku culas.
"Wososss... culas nih! Tambah jelek lo ntar!" jawab Charlie dengan nada meledek.
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAA...!" Carlos malah ngakak. Kurang ajar bener dua cowok ini! Eh tahan diri, ini acara umum, aku harus bisa sopan, diam, nggak usah banyak tingkah kayak biasanya! Kataku dalam hati. Aku geregetan sama dua cowok berwajah kembar ini, ughh... udah deh diem aja.
"Kok diam aja, biasanya langsung hajar gitu?" tanya Charlie dengan meledek lagi. Sial, untung aja ini ada acara di sekolah, kalo nggak ada acara langsung gue hajar lo berdua! Mancing emosi gue aja, awas lo! Ah, lagi-lagi aku hanya bisa membatin.
"Eh jangan mancing emosi cewek gue ya!" gertak Kyosuke.
"Wah cowoknya langsung sewot!" seru Charlie.
"Sakura belajar jadi cewek tulen, jangan ganggu dia. Gue nggak sewot, cuma ngingetin aja, ngerti?" kata Kyosuke datar.
"Iya deh iya..." Charlie mengangguk.
"Udah, ke cewek lo sana!"
"Eh, kembaran gue nggak punya cewek!"
"Salah dia sendiri siapa suruh ngejomblo, ya ajak sana! Dengan syarat kembaran lo jangan lo cuekin."
"Nggak lah, ngapain juga gue cuekin...oh ya, kalo ada apa-apa contact gue ya?"
"Oke deh, tenang aja bro!"
Kyosuke menghampiriku.
"Sayang, ayo kita cari tempat duduk, aku tau kamu capek berdiri terus seperti ini," ajak Kyosuke sambil menarik tanganku.
"Aduuh... udah capek banget tau sayang!" keluhku.
"Iya-iya... sabar sedikit dong..."
Aku menemukan dua kursi kosong di sebelah Cammy dan Charlie duduk, aku langsung menarik tangan Kyosuke.
"Eh, apa sayang?" tanya Kyosuke sambil melihatku bingung.
"Aku udah nemu tempat duduk, di sebelahnya Cammy sama Charlie itu!" jawabku sambil menunjuk dua kursi kosong itu.
"Capek banget pake sepatu kayak gini!" celetukku.
"Capek sih capek, tapi mesti dibiasain lah... ntar lo juga suka ama sepatu kayak gitu," sahut Cammy.
"Guys, ayo kita ke dalam, Kak Morikawa dan Kak Morrigan ingin ngobrol sama kita semua," ajak Charlie.
Aku dan kawan-kawan masuk ke dalam dome untuk menemui dua sejoli yang sudah pacaran 7 tahun itu.
"Yah... sudah lama kita tidak bertemu, selama ini kita berdua sibuk banget. Morrigan sibuk rekaman dan show, kalo aku sibuk syuting film baru," Kak Morikawa membuka obrolan.
"Kita juga sibuk, Kak. Sibuk perang!" sahut Carlos.
"Perang? Memang Vega selalu mengganggu kalian?" tanya Kak Morikawa.
"Ya, dia memang pintar mengganggu kita, acara OSIS kemarin aja gagal gara-gara cowok brengsek satu itu, Senior!" jawab Ky.
"Dan sekarang sekolah ini juga kedatangan 3 siswa baru yang kurang ajar," tambah Chun-Li-san.
"Benarkah? Siapa saja mereka?" tanya Kak Morikawa.
"Kakak beradik Bernstein dan Shermie Nagawata," jawabku.
Kak Morikawa dan Kak Morrigan terkejut mendengar jawabanku.
"A...apa?"
"Shermie Nagawata... Bernstein bersaudara...gimana caranya dia bisa masuk sekolah kita?" tanya Kak Morikawa.
"Adel ngehack website sekolah kita!" jawab Kyo.
"Hah? Yang bener?" tanya Kak Morrigan tidak percaya.
"Ya... dia ngehack website sekolah kita, dia bersikap munafik pada semua orang di sekolah kita, dan dia berusaha menghancurkan Crossovers!" jawab Ken-san.
"Betul banget apa yang dikatakan sama Kak Ken... si Rose itu juga, ganjen banget sama cowok-cowok!" tambah Mai.
"Shermie kemarin nyebarin kabar miring tentang kami!" sahut Cammy.
"Wah... nggak bisa dibiarin ini namanya! Kok Mr. Saisyu menerima mereka bertiga sih?" tanya Kak Morrigan.
"Bagaimanapun caranya, mereka bertiga harus keluar dari sekolah elit ini!" kata Kak Morikawa dengan marah.
"Sabar, suamiku..." Kak Morrigan menenangkan Kak Morikawa.
"Maaf... aku kurang bisa menahan emosi sayang..." Kak Morikawa kembali duduk dan bernapas panjang.
Beep...beep...beep...
Hpku berbunyi, ada telepon.
"Halo?"
"SAKURA! TOLONG AKUU...!"
Aku terkejut mendapat jawaban tiba-tiba itu.
Itu... Suara Kei?
"Kei! Kamu..."
"Sakura... jika kau ingin Kei kembali ke pelukanmu, langkahi dulu mayatku..."
"VEGA?"
Semua mata memandangku aneh.
"Brengsek! Gue nggak akan biarin lo berbuat macam-macam sama sahabat gue!"
Kumatikan Hpku.
"Sakura, ada apa?" tanya Charlie.
"Brengsek, Vega datang!" jawabku dengan emosi.
"Sabar..." bisik Kyosuke.
"Kesabaran gue udah abis bener! Dengan sangat terpaksa, gue harus keluar buat berhadapan sama dia!" bentakku.
"Sakura, jangan gegabah!" Kak Morikawa mencegahku.
"Kak, dia akan berbuat kurang ajar pada sahabatku, jelas tidak bisa dibiarkan!" bantahku.
"Tapi Sakura... jangan kamu yang ke sana, biarkan Vega datang ke sini!" sahut Carlos.
"Heh, kalo dia yang ke sini, jelas acaranya bisa kacau lah!" bantahku lagi.
BRAKKK!
Tiba-tiba pintu gudang sekolah ambruk, ternyata Vega dan komplotannya yang mendobrak.
"SAKURA, HADAPI AKU!" tantang Vega dengan senyum evilnya.
"Lepaskan Kei!" teriakku keras.
CRASSHH!
"AAKH...!"
Ia melukai Kei! Aku geram... kepalaku tidak bisa dingin lagi. Dengan sangat terpaksa, aku harus mengeluarkan jurusku.
"HADOU-KEN!"
"Sakura! Jangan bertindak gila lo!" sergah Charlie.
"Heh Nash, kesabaran gue udah habis, apalagi gue liat Kei dilukai barusan, lo pikir gue nggak geram, hah?" tanyaku culas.
Charlie melihat Kei yang kesakitan karena dilukai itu, ia langsung menghampiri Kei dan mengangkat tubuhnya yang sudah penuh luka itu.
"Heh, dasar cowok MUNAFIK! Katanya lo sayang cewek, tapi apa, lo lukain cewek yang nggak berdosa kayak Kei! NGGAK PUNYA HATI LO!" teriak Charlie.
"Hmm... Charlie...Charlie... tebar pesona lo ke cewek itu nggak ada habis-habisnya ya, cewek gue aja lo rebut..." ejek Vega.
"Bukannya lo yang tebar pesona ya? Semua cewek lo embat! Gue bukan cowok kayak lo!" balas Charlie.
"Vega...Vega... dari dulu kamu nggak pernah berubah dan nggak kapok juga setelah masuk penjara berkali-kali karena kasus yang ada hubungannya dengan cewek," sahut Kak Morikawa.
"Kamu masih ingat siapa aku?" tanya Kak Morrigan.
"Morikawa... Morrigan? Kalian... menikah?" tanya Vega yang setengah kaget melihat dua sejoli itu berpegangan tangan.
"Yaelah... udah tau banyak dekorasi gini masih nggak nyadar kalo ada acara pernikahan? DASAR OTAK LEMOT!" ledek Kak Morikawa.
"Kurang ajar...! BARCELONA TERROR!" Vega menyerang Kak Morikawa dan Kak Morrigan.
"SHORYUKEN!" Ken-san menghalangi serangan Vega.
"Ken Masters... jangan menghalangiku!" teriak Vega.
"Hahahaha... lo nggak seneng ya liat mereka berdua bahagia? Emang hidup lo penuh dengan kegelapan! Kasihan banget sih lo..." ejek Ken-san.
"DIAM!" Vega menyerang Ken-san. Aku langsung menangkis serangan Vega tanpa banyak bicara.
"Crossovers, kalian jangan diam aja, ayo keroyok Vega dan anak buahnya!" perintahku.
"Okehh... STUN EDGE!"
"BAD MOON!"
"HADOU-KEN!"
"SHORYU-KEN!"
"NARAKU OTOSHI!"
"SOMERSAULT SLASH!"
"SHUNPU-KYAKU!"
Semua tamu lari kocar-kacir melihat pertempuran sengit ini.
"SOUL FIST!"
"CAPTAIN CORRIDOR!"
Vega berhasil menghindari serangan kami. Ia merebut Kei dari Charlie dan lari keluar gedung.
"HEHH! TUNGGUUUU!" teriakku sambil mengejar Vega.
"Sakura, awas! Kamu pakai sepatu hak tinggi lho!" seru Cammy.
Tak kupedulikan seruan Cammy, aku terus mengejar Vega.
"Sakura, gue ikut!" seru Chun-Li-san.
"Kita juga!" seru Charlie sama Cammy.
"Semuanya aja ikutin gue!" balasku.
Aku terus mengejar Vega tanpa henti, nggak peduli lagi pake long dress dan pake sepatu high heels. Kutembakkan Hadou-Ken bertubi-tubi ke arah Vega, namun tak berhasil. Tapi aku nggak menyerah, Vega terus kukejar, aku harus mendapatkan Kei.
"Sakura! Tunggu!" seru Charlie dan Kyosuke. Aku tak mempedulikan seruan mereka, aku terus mengejar Vega.
"Sakura! Lo tuh pake high heels sama baju resmi kayak gitu, nggak takut rusak apa?" seru Chun-Li-san.
"Gue nggak peduli! Yang penting gue harus dapetin Kei!" balasku tak kalah kerasnya. Baru saja aku bicara seperti itu, aku terjatuh. Kawan-kawan terkejut melihatku jatuh.
"SAKURA!"
"Sakura, lo nggak apa-apa?" tanya Hinako.
"Aduh sayang... yang aku khawatirin terjadi juga... kamu nggak apa-apa 'kan?" tanya Kyosuke sambil menatapku dengan penuh kekhawatiran.
"Gue... nggak apa-apa... gue harus nolong Kei! akh... sakit!" jawabku sambil mencoba berdiri.
"Lo di sini aja. Charlie, Cammy, sama Hayato udah ngejar Vega kok," ujar Chun-Li-san.
"Tapi...Kei..."
"Iya, mereka ngerti apa yang harus mereka lakukan, Kei 'kan juga teman kita!"
"Sshh... ya sudahlah..."
Cammy POV :
Aku dan kawan-kawan yang lain terus mengejar Vega. Kami harus berhasil merebut Kei dari Vega, kami tak mau membuat Sakura kecewa. Langkahku kupercepat meski capek. Mengejar Vega adalah hal yang mudah bagiku, karena sebelum aku sadar dari pengaruh M. Bison, aku sering berlatih bersama Vega, jadi aku sama sekali tak kesulitan ketika mengejar Vega.
"Cammy, larimu cepat sekali! Tunggu aku!" seru Charlie. Kutarik tangan Charlie seraya berkata, "Sayang, ayo kejar Vega bersamaku!"
"Larinya jangan cepat-cepat ya sayang..."
"Tapi kita harus menyelamatkan Kei demi sahabat kita berdua, sayangku!"
CRASSHH!
Tiba-tiba sebuah pisau melukai lengan Charlie.
"Akh..." Charlie merintih kesakitan.
"Charlie, lo nggak apa-apa 'kan?" tanya Hayato.
"Gue... nggak apa-apa kok... uhh.." jawab Charlie sambil terus berusaha menahan darah yang mengalir.
"Itu akibatnya kalau suka merebut pacar orang!" sahut Vega. Aku terkejut, ia tak membawa Kei lagi, ke mana Kei?
"Vega, maksud lo apa?" tanyaku culas.
"Cammy, aku nggak bisa terima kamu pacaran sama Charlie!" jawab Vega dengan marah.
"Oh... rupanya lo belum kapok juga ngejar gue... heh, asal lo tau aja, lo itu udah nggak ada harapan lagi! Gue udah punya Charlie, gue bukan cewek lo lagi! Gue itu udah masa lalu gue, kenapa sih lo masih aja ngejar gue?" kataku dengan marah.
"Udah, itu nggak penting!" desak Hayato. "Heh banci, mana Kei?"
"Lo semua pingin tau di mana Kei?" tanya Vega dengan nada sinis.
"Lo kemanakan dia?" tanyaku geram.
"Lihat ini!" Vega membuka hpnya, ia menunjukkan sebuah foto. Kami semua terbelalak.
"Apa? Nggak mungkin... itu bukan Kei! Pasti itu orang lain!" ujarku. Tubuhku merinding melihat foto yang mengenaskan itu.
"Jadi... Kei meninggal?" tanya Hayato dan Charlie dengan nada tidak percaya.
"Ya... barusan ia kubunuh! Mayatnya kubuang di sumur! HAHAHAHAHA...!" jawab Vega sambil tertawa keras.
"Bener-bener lo ya... manusia nggak punya prikemanusiaan! Lo bener-bener munafik!" umpatku.
"Ya, aku bersikap seperti ini karena aku dendam padamu yang tidak mempedulikan perasaanku!" balas Vega.
"Oh yeah? Masa'? HELLO COWOK SIALAN! Yang mainin perasaan gue bukannya elo yah? Lo jalan sama cewek lain saat tugas, lo ninggalin gue sendirian, balik ke Shadaloo langsung mutusin gue!" hinaku.
"Lo ngajak balikan si Cammy juga percuma, dia nggak akan mau!" sahut Charlie.
"Oh... sombong banget lo, mentang-mentang sekarang Cammy jadi milik lo, elo bisa bersikap belagu kayak gitu!" kata Vega sambil menodongkan cakar besinya ke Charlie.
"Gue nggak takut sama lo!" bentak Charlie sambil mematahkan cakar besi itu, tangannya terluka lagi.
"Nash... tangan lo tambah parah, gue aja yang hadapi cowok persetan ini!" sahut Hayato.
"Lo nantangin gue?" tanya Vega sambil tersenyum sinis.
"Byakko Hou!" Hayato langsung menyerang Vega tanpa banyak bicara.
"Splendid Claw!" Vega balas menyerang.
Pertarungan sengit terjadi antara Hayato dengan Vega. Aku langsung membawa Charlie untuk berteduh di pohon akasia.
"Sayang... kamu telepon Sakura, tolong kabari kalau Kei barusan meninggal," perintah Charlie.
"Iya, sebentar sayang..."
Back to Sakura's POV:
Perasaanku tidak enak terus, aku tak bisa berhenti memikirkan Kei. Apakah kawan-kawanku berhasil menyelamatkan dia? Tuhan... semoga Kei baik-baik saja.
"Sakura, kamu terus menangis dari tadi, kamu kenapa?" tanya Kak Morrigan.
"Aku tak bisa berhenti memikirkan Kei..." jawabku terisak.
"Sakura, optimislah, Kei akan baik-baik saja, kawan-kawan juga sedang berusaha!" ujar Kyosuke.
"Tapi Kyosuke..."
Ma Lin memotong kata-kataku.
"Kei akan baik-baik saja, percayalah pada teman-temanmu."
Beep...beep...beep... hpku berbunyi, Cammy meneleponku.
"Moshi-moshi?"
"Sakura, maafkan kita bertiga ya, kamu harus bisa terima kenyataan ini!"
"Cammy, apa...apa yang terjadi?" aku mulai menangis lagi.
"Kei meninggal... Vega membunuhnya dan membuangnya ke sumur."
Tubuhku langsung kaku mendengar berita itu, tidak mungkin... Kei... TIDAK!
"KEEEEEIIIIII...! TIDAAAAKKK...!" jeritku.
"Sakura, apa yang terjadi?" tanya Kyosuke sambil memelukku.
"Kyosuke... Kei... meninggal... dengan mengenaskan..." jawabku terisak. Aku menangis sejadi-jadinya.
"Sakura, yang sabar ya..." kata Chun-Li-san.
Aku melepaskan diri dari pelukan Kyosuke.
"VEGA... GUE NGGAK BAKALAN MAAFIN LO!" umpatku.
"Sakura, jangan terlalu meluapkan emosimu," kata Kak Morrigan.
"Aku nggak bisa maafkan Vega lagi! Ia sudah membunuh Kei dengan keji! BRENGSEK!" bentakku. Tiba-tiba kepalaku pusing.
"Sa...Sakura..."
Kyosuke POV:
Kuraih tubuh Sakura yang tak sadarkan diri itu, kubawa ia ke UKS bersama Chun-Li, Senior Morikawa, Senior Morrigan dan Ma Lin, sementara itu teman-teman yang lain menyusul Charlie dkk.
"Tuhan... mengapa ini harus terjadi pada Kei?" keluhku.
"Siapa sebenarnya Kei itu?" tanya Ma Lin.
"Ia adalah sahabat kami. Kedua orangtuanya meninggal dunia sejak ia masih kecil, sekarang ia hidup dengan neneknya. Neneknya sekarang sedang sakit, sedangkan ia harus rela kerja di Shadaloo demi mencukupi kebutuhan hidupnya, Sakura dan aku sangat menyayangi Kei seperti saudara kami sendiri," jelasku panjang lebar.
"Kasihan sekali dia..." gumam Ma Lin. Kulihat airmatanya menetes.
"Kei adalah sosok yang gigih di mata kami, ia tak pernah meminta belas kasihan. Ia suka kerja keras," kuteruskan ceritaku, tak terasa airmataku juga menetes.
Koibito no you na kissu wo mou hitotsu amaku otoshita nara... hpku berbunyi, Charlie meneleponku.
"Moshi-moshi?"
"Kyosuke, Sakura gimana? Dia sempat shock?" tanya Charlie.
"Iya... ia berkali-kali mengumpat, sampai akhirnya ia jatuh sakit seperti ini..." jawabku.
"Ya Tuhan..."
"Lo sekarang di mana?"
"Gue di RS Pusat Tokyo, jenazahnya Kei masih diotopsi, kita juga nungguin Hayato yang lagi perawatan gara-gara berkelahi dengan Vega di tengah hutan. Lo ndiri di mana?"
"Gue di UKS sama Ma Lin, Senior Morikawa, dan Senior Morrigan."
"Terus, acara pernikahannya gimana itu?"
"Ya masih berlanjut, tapi nggak di sekolah, nanti di mansionnya Kak Morrigan. Para penjaga sekolah sibuk membersihkan dome sekarang ini."
"Sekarang gue mau bicara sama Sakura."
"Jangan, dia butuh istirahat, sebentar lagi gue mau anterin dia pulang, mau temenin dia."
"Hmm... fine, moga Sakura cepet sembuh ya, bye."
"Ya, bye."
Kumatikan hpku supaya tidak mengganggu Sakura.
"Senior Morikawa, aku minta maaf, aku tidak bisa hadir di acara lanjutan nanti, aku harus menjaga Sakura," ujarku.
"Kami berdua juga, senior," tambah Chun-Li.
"Sebaiknya semua Crossovers tidak datang pada acara lanjutan nanti, bicarakan rencana selanjutnya untuk menyerang Shadaloo," kata Senior Morikawa.
Kami bertiga mengangguk.
Aku menelepon Charlie lagi.
"Moshi-moshi?"
"Kyosuke, ada apa?"
"Kak Morikawa bilang sama kita barusan, nanti kita nggak usah datang pas acara lanjutan nanti, kita harus bicarakan rencana selanjutnya untuk menyerang Shadaloo."
"Oh... syukur deh kalo gitu, setelah ini jenazah Kei dimakamkan, kita juga harus kabari neneknya, lo punya nomor teleponnya?"
"Punya, gue send aja ya?"
"Oke, gue tunggu. Bye."
"Bye."
"Kyosuke, Kei gimana?" tanya Chun-Li.
"Sebentar lagi dimakamkan katanya," jawabku.
"Neneknya udah dikabarin belum?" tanya Senior Morrigan.
"Ini masih send nomor telepon rumahnya ke hpnya Charlie, mau ditelepon sama Charlie," jawabku.
"Kamu aja yang telepon," sahut Ma Lin.
Hmm... Ma Lin benar juga, tapi aku tidak mengerti di lantai mana Charlie dan kawan-kawan menunggu hasil otopsi itu.
"Eh, tapi masalahnya satu, gue nggak ngerti mereka di lantai mana," ujarku.
"Di lantai pertama, gue baru sms Cammy nih," sahut Chun-Li.
Baru saja mau menelepon, tiba-tiba hpku mati. Asshh sial... aku lupa kalau hpku tadi tidak ku-charge.
"Aduh... mana lowbat lagi! Chun, lo aja deh yang telepon," pintaku.
"Jiahh... iya deh iya..." gerutu Chun-Li.
Kupandangi Sakura yang masih belum bangun juga. Kasihan sekali, ia harus menerima kenyataan ini secara mendadak. Tak terasa airmataku menetes, aku sadar bahwa aku masih mencintai Kei, meski aku sekarang berpacaran dengan Sakura. Aku belum bisa melupakan perasaanku pada Kei. Kurasakan apa yang Sakura rasakan, aku juga dendam pada Vega yang telah memperlakukan Kei secara kejam selama bertahun-tahun sampai meninggal dengan mengenaskan seperti itu. Vega... aku takkan memaafkanmu, kau sudah membunuh seseorang yang tidak berdosa dengan cara kejammu. Lihatlah apa yang akan kulakukan kepadamu nanti, laki-laki persetan!
"Kyo...suke..." Sakura memanggilku, rupanya ia sadar. Airmataku segera kuhapus, aku tak ingin ia mengerti bahwa aku menangis karena Kei.
"Ya... ada apa?" tanyaku.
"Aku ingin melihat Kei..." jawabnya.
"Jangan, kamu masih sakit begini," kataku sambil membelai kepala Sakura.
"Tapi..."
"Jangan sayang..."
Koibito no you na kissu wo mou hitotsu amaku otoshita nara... Charlie meneleponku lagi.
"Moshi-moshi?"
"Kyosuke, Kei akan segera dimakamkan."
"Oh, neneknya udah di sana? Gimana reaksinya?"
"Ya, dia nangis terus. Sakura gimana?"
"Dia ngotot mau ke rumah sakit."
"Oh...Sakura istirahat aja kalo dia masih sakit."
Belum sempat aku berbicara, Sakura merebut hpku.
"Charlie, gue udah sehat kok, gue tetep ke sana! Ah... apa? Nggak, pokoknya gue mau ke sana! Gue pingin lihat sahabat gue, gue ingin lihat dia secara langsung!"
"Sakura... jangan paksakan dirimu..." kataku seraya merebut hpku dari Sakura.
"Nash, lo foto aja jenazahnya, biar Sakura nggak ngotot ke rumah sakit."
"Tapi jenazahnya udah keburu diformalin nih..."
"Tapi masih keliatan lukanya 'kan?"
"Eh... bentar, Hayato udah punya fotonya kok!"
"Lho, dapat dari mana?"
"Dia sempet ngambil hpnya Vega terus bluetoothin fotonya ke hpnya."
"Wah, hebat! Eh, upload ke facebook ya, tag-in ke gue!"
"Si Hayato nggak ngerti caranya upload foto ke facebook lewat hp."
"Astaga... ya elo lah yang upload! Lo minta fotonya lewat infrared kek, lewat mms kek, lewat bluetooth kek, bisa 'kan?"
"Oke, gue yang upload, ntar elo yang ngetag ke semuanya!"
"Sip! Oke deh, bye."
"Bye. Cepetan ya!"
"Kyosuke, aku mau pulang," pinta Sakura.
"Ya sayang, ayo berdiri pelan-pelan..." ujarku sambil membantu Sakura bangun.
"Senior Morikawa, Senior Morrigan, kalian tidak pulang?" tanyaku pada Senior Morikawa dan Morrigan yang masih duduk-duduk.
"Ini mau pulang, keluarga kami sudah menunggu," jawab mereka berdua.
"Oh ya, Chun-Li, Ma Lin, kalian menyusul kawan-kawan ke rumah sakit ya, cepetan!" perintahku.
"Eh, UKSnya siapa yang kunci?" tanya Ma Lin.
"Aku yang menguncinya," jawab Senior Morikawa sambil mengunci ruang UKSnya.
"Kyosuke, jaga Sakura baik-baik ya," ujar Chun-Li.
"Ya," jawabku singkat. Sebenarnya ada yang mengganjal, aku ingin menghadiri pemakaman Kei, tapi aku juga kasihan pada Sakura yang sakit. Hati kecilku berkata bahwa aku harus menghadiri pemakaman Kei, tapi Sakura menginginkan aku berada di sisinya.
"Sakura," panggilku.
"Ya sayang?" balas Sakura.
"Maaf, aku nanti nggak bisa tungguin kamu lama-lama, aku mesti datang ke pemakaman Kei. Kan ada orangtuamu di rumah,"
"Ya... nggak apa-apa kok, lagian aku juga nggak mau merepotkanmu, oh ya, salam ke neneknya Kei ya?"
"Ya sayang, mesti aku sampaikan kok..."
Aku lega mendengar ucapan Sakura, untunglah ia mau mengerti.
