Daehyun yang memang terus memperhatikan youngjae dari kejauhan kini tengah menggendong sang sahabat yang hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan. Ia menurunkan youngjae perlahan. Menuntunnya duduk beralaskan batu kering

"pulanglah " titah daehyun tanpa memandang youngjae.

"sebegitu bencinya kah kau padaku dae..? " geram youngjae. Iris coklatnya menatap nanar kearah daehyun.

"kau tunggu disini, aku akan memanggil unic—"

"kau mengintai ku huh? Kenapa kau menghindari ku? "

Daehyun masih enggan memandang youngjae " diam dan ikuti saja ucapan ku. "

"cih, apa aku begitu menjijikan? Melihat wajah ku saja kau su—"

"berhenti mengoceh tak jelas! " youngjae berjengit kaget mendengar intonasi tinggi daehyun.

Makhluk bersayap itu berbalik membalakangi youngjae.

"aku akan berhenti bicara jika kau mengatakan alasan mu yang terus menerus menghindariku"

Ucap youngjae kukuh. Daehyun diam tak menjawab,

"katakan saja kau sudah muak berteman dengan ku dan benci—"

"AKU MENCINTAI MU ! kau puas dengan alasan itu?!" daehyun berbalik, ingin melihat reaksi menjijikan youngjae setelah pengakuannya. Namun yang ia lihat justru terkulainya tubuh youngjae diatas dingin nya batu.

"YOUNGJAE-a! "


.

.

.

.Demon1004 In Tenebris.

.Chapter IX.

.Cast : Daejae.

.Genre : Fantasy - Angst - Hurt.

.BY : Whiell DaeJae.

.

.

.


Disclaimer : BoyxBoy. Typo bertebaran. karna akhir ff ini belum ketemu jadi kemungkinan akan menggantung kaya jemuran lapuk. dan aku dengan rasa percaya diri yang setengah-setengah ini, nekad publishan goresan omong kosong ini.

perhatikan tahun gaje yang tertera. maaf kalo ada banyak kesalahan dalam penulisan ini, karna aku sendiri gak terlalu faham sama budaya sebelum masehi itu gimana. jadi, aku cuma menuangkan apa yang ada dalam fikiran.

Maaf ada Revisi untuk tahun sebelum Masehi nya. harusnya setelah 7 tahun kemudian tahun yang tertera 1016 SM, tapi di chapter kemaren aku malah nulis 1011 SM. -_-

Protes? it's Ok kq ^^.

jika ada kesalahan kata dan kalimat yang membingungkan mohon di maklumi.

.Happy Reading Readersnim ^_^...


Catatan:

**untuk baju daehyun, dia pake baju mirip kaya sasuke, tapi di balik. kalo sasuke kan yang keliatan dadanya, tapi kalo daehyun justru yang keliatan punggungnya. cz dia kan bersayap

-Yang mau tau bentuk cumi – cumi birunya bisa ke link ini p/BEqbojqw5M2/


.*.*.* still *1016 SM *.*.*.


Tangan pucat seorang pria bersayap meremas pelan kain putih yang membungkus rapi seonggok tubuh yang terbaring diatas ranjang. Ranjang yang selalu ia gunakan untuk duduk –tidur.

"mianhae.. " lirih pria tersebut. Tangannya yang sedari tadi tremor menyentuh pelan pipi chubby didepannya.

"daehyun-a ... eomma bawakan air jahe dan biji mahoni. Berikanlah ini pada hwangtaeja ketika ia sudah bagun" wanita cantik yang merupakan ibu daehyun memasuki kamar sedang putranya, meletakkan sebuah nampan berisikan minuman hangat serta bubur gandum yang masih mengepulkan asap.

"selimuti hwangtaeja" titah ibu daehyun datar.

Daehyun menurut dalam diam. Ia faham ibunya masih marah padanya. Hal yang tak pernah ibunya lakukan.

"selangkah saja kau meninggalkan ruangan ini. Eomma akan menggunduli mu! " ancam wanita berparas cantik tersebut. Ia membuka daun pintu ruang pribadi putranya

"mianhae eomma... " ucap daehyun tanpa memandang ibunya.

"sekali lagi kau mengulangi kesalahan mu, eomma tidak akan pernah memaafkan mu. Berhentilah menjadi pengecut dan hadapi apa yang ada didepan mu. " himchan –ibu daehyun berlalu cepat setelah menyelesaikan kalimatnya.

Pintu kayu malang itu berdebum cukup keras, menandakan betapa kesalnya himchan dengan anaknya.

Daehyun menghela nafas berat. ia cukup mengerti akan kemurkaan sang ibu. Masih jelas dalam ingatan daehyun ketika ia membawa youngjae yang tak sadarkan diri ke kediamannya. Himchan yang melihat tubuh lemas youngjae terpekik kaget. Raut khawatir terpantri jelas di wajah cantiknya.

Himchan yang memang faham sedikit ilmu medis bisa mengehembuskan nafas lega setelah memeriksa youngjae. Putra Raja Yoo itu hanya tidur lelap akibat kurang tidur, tubuhnya juga sedingin es. Tak pelak, himchan menatap tajam putranya. Menuntut penjelasan lebih akan apa yang teradi pada youngjae.

"untuk pertama kali nya kau membuat ibuku marah besar pada putra tampannya ini" bisik memperhatikan wajah damai youngjae, seulas senyum membingkai apik menghias wajahnya.

Tangan pucatnya kembali merapikan selimut yang membalut tubuh youngjae, namun belum sempat tangannya meraih kain tersebut, daehyun di kejutkan oleh kelopak youngjae yang bergerak perlahan hendak terbuka. Daehyun menggenggam tangan kanan youngjae, mengusap lembut berharap youngjae kembali terlelap

"tidurlah.. kau memerlukannya jae "

Bukannya terlelap seperti harapan daehyun, justru kelopak itu terbuka lebar. Youngjae reflek duduk ingin memastikan bahwa suara yang barusan didengarnya adalah suara daehyun.

namun karna gerakan spontan itu, rasa pening yang sempat mendera nya datang kembali menyapa kepalanya. Youngjae meringis pelan memengang sebelah kepalanya.

"hei, gwaenchana? Jangan bangun dulu, lebih baik kau berbaring hmm ? " daehyun memegang bahu youngjae, kedua wajah berbeda warna tersebut berjarak dekat amat sangat dekat, bahkan youngjae bisa merasakan nafas hangat daehyun.

"mimpi... ? " gumam youngjae tanpa sadar

Daehyun terkekeh, menarik pipi chubby youngjae " ishh appo! " gerutu youngjae kesal

"itu artinya ini bukan mimpi. Arrasseo? " daehyun menata bantalan youngjae agar sahabatnya itu bisa menyeder santai diranjang kumuhnya.

Youngjae sendiri seolah tak percaya dengan ucapan daehyun. irisnya terus menatap lekat sosok daehyun seakan takut jika ia berkedip, sosok gagah itu akan melebur.

"minumlah ini.. " daehyun memberikan cangkir putih berukir naga emas. Youngjae tanpa banyak bertanya segera menyeruput minuman hangat tersebut.

"makan juga ini, jangan dirasakan. Cukup kunyah dan telan. "

Youngjae mendengus tak suka. Kenapa ia yang seorang putra mahkota harus menuruti titah ini itu? Ahh baiklah.. youngjae tau ini untuk kebaikkannya.

Daehyun memberikan kode agar youngjae membuka mulutnya.

"tsk. Aku bisa makan sendiri. " sungut youngjae kesal.

Senyum tipis daehyun pancarkan ketika youngjae membuka mulutnya. Mungkin lebih tepatnya menyeringai?

"kenapa kau tersenyum mengerikan seperti itu ? " mengeryit tak mengerti. Mulutnya masih sibuk mengunyah biji coklat yang daehyun berikan. Lagi-lagi youngjae melupakan tatakrama tentang "tidak boleh berbicara saat makan" yang diterapkan kerajaan.

Daehyun sendiri menatap heran kearah youngjae.

"youngjae-a.. kenapa kau bisa sesantai itu memakan biji cokelat ini. ? " daehyun mengambil biji lain yang tersaji diatas piringan coklat

"apa maksud mu sesantai itu? Kau berharap aku makan tergesa-gesa agar aku mati tersedak eoh?!" youngjae menyambar biji hitam yang digenggam daehyun. secepat kilat memasukkannya kedalam mulut. Mengunyah sembarang dengan ekspresi gondok.

"yaa! Bukan itu maksud ku. mm.. kau tidak merasakan pahit atau pun mual sama sekali saat memakan biji itu ?"

Youngjae menaikkan sebelah alisnya, menggeleng pelan sebelum berucap " pahit? Lidah mu mati rasa? Biji ini semanis madu. Ckck pabo. Makan dulu sebelum berkomentar. " youngjae memasukan –memaksa sebutir biji hitam pada bibir daehyun yang terkatup.

"otte? Manis bukan? " youngjae tak sabar menunggu kata 'iya' keluar dari mulut daehyun

"ini aneh.. harusnya kau merasakan pahit, bukan sebaliknya…" daehyun bergumam pelan. yang daehyun tahu, menurut cerita ibunya, hanya orang-orang tertentu yang akan mengatakan biji mahoni itu manis. perlu digaris bawahi bahwa orang-orang itu hanya hiimchan dan daehyun. normalnya, manusia akan merasakan pahit teramat ketika mengecap biji tersebut.

"mwo ? tadi kau bilang apa ? " hazel youngjae menyipit tajam.

"kau benar, ini manis.. " youngjae tersenyum puas mendengar pengakuan daehyun

"apa ku bilang. Lain kali jangan menilai makanan tanpa mencoba nya dulu. " youngjae bersedekap sombong

"ini juga bisa menghangatkan tubuhmu. Tadi tubuh mu sedingin batu. Mianhae.. aku sudah membuat mu seperti ini. " daehyun membuang pandangannya. Tak berani menatap langsung hazel indah yang kini menatap heran ke arahnya.

"cih, kau menyadarinya? Hampir sepekan aku menunggumu disana seperti orang bodoh. Berani nya kau memperlakukan putra raja seperti ini." youngjae terus menatap daehyun yang masih memalingkan wajahnya.

"jeoseonghamnida " daehyun menunduk dalam

"angkat kepala mu." Titah youngjae. Ia menggeser duduk mendekati dinding kayu disampingnya, memeberikan ruang disisi ranjang lebih lebar. Daehyun menurut tanpa banyak bertanya.

"kau ingin aku memaafkan mu? " tanya yougjae datar.

"ne"

"kalau begitu duduklah disini. " youngjae menepuk sisi ranjang yang sengaja ia beri ruang. Daehyun sejenak terdiam. Jika boleh jujur, ia sedikit bingung kenapa youngjae memberi titah demikian.

Youngjae tersenyum kecil melihat daehyun duduk diam dengan pandangan kedepan.

"buka kedua kaki mu. "

"maaf ? " ucap daehyun bingung.

"tsk. Seperti ini!" youngjae membuka lebar kedua kaki daehyun yang tadi terkatup lurus, menekuk kedua kakinya, membuat ada ruang dalam kukungan kedua kaki daehyun, youngjae masuk dalam kukungan tersebut. menyenderkan punggungnya pada dada bidang daehyun.

"—a –ap—"

"diamlah. Jika kau ingin aku memaafkan mu. Biarkan aku tidur seperti ini. bukankah tadi kau bilang tubuh ku dingin? " youngjae memotong protes daehyun yang belum terucap

"ini cara paling akurat untuk menghangatkan tubuh ku " lanjut youngjae

"aku memang ingin kau memaafkan ku, tapi.. bukankah ini terlalu kurang ajar dan –tidak normal ? " daehyun memundurkan tubuhnya yang sudah mentok menabrak kepala ranjang.

"kurang ajar dan tidak normal bagaimana? Ini hal yang biasa di lakukan sepasang sahabat. " cecar youngjae tanpa tahu kalimatnya menyakiti daehyun.

"apa dia tidak mendengar pengakuan ku? tolong.. berhenti mengatakan hal yang sama. Hati ku selalu menjerit kala kau hanya menganggap ku seorang –sahabat—"

"biar aku ambilkan selimut lagi agar kau merasa lebih han—"

"tidak perlu. Aku hanya membutuhkan mu. Cukup seperti ini saja aku sudah merasa hangat. " youngjae bergeser pelan menyamankan posisinya dalam kukungan hangat daehyun.

"daehyun-ah.. apa bibi tau aku ada disini? "

"tentu saja, dia bahkan marah besar padaku saat membawa mu dalam keadaan tak sadarkan diri. " jelas daehyun tersenyum kecil

"aku pasti sudah banyak merepotkan kalian.. " lirih youngjae, memeluk kedua lututnya yang terlipat.

"syukurlah kau menyadarinya" ketus daehyun menyeringai

Youngjae berdecak kesal "jika memang merepotkan, kau tidak perlu repot-repot menyeret ku kemari! "

"itu lebih merepotkan lagi, aku bisa mati cemas karna memikirkan mu. "

"katakan itu pada gadis yang akan kau nikahi " decih youngjae. Sekali lagi ia menancapkan jarum kecil pada hati daehyun –tanpa sadar.

Tiba-tiba keheningan merayap. "hei.. kenapa kau diam saja ? " heran youngjae

"apa kau tidak takut dengan ku jae ? " suara bass daehyun terdengar lemah

"tidak ada yang perlu aku takuti. "

"bohong. Aku tahu saat itu kau sangat ketakutan, tapi kenapa ? kenapa kau bersikeras ingin bertemu dengan ku lagi ?

Aku hanya seorang pembunuh.. "

"dan aku yang membuat mu menjadi seorang pembunuh. Maaf.. karna aku terlalu lemah. Maaf sudah membuat mu menggunakan kekuatan iblis itu.. ma—"

Tubuh youngjae sedikit menegang akibat lengan pucat daehyun yang melingkar di pinggangnya. Mendekap tubuhnya dari belakang. Daehyun menumpukan kepalannya pada bahu kanan youngjae

"jangan nilai dirimu begitu lemah.. jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. aku berjanji, kejadian ini tidak akan terulang lagi. Aku akan melindungi mu dengan kekuatan ku sendiri. " racau daehyun tegas.

Youngjae terkekeh ringan "kata – kata mu lebih cocok untuk seorang perempuan dae… aku akan berusaha semampu ku agar bisa lebih kuat dan mampu bersanding dengan mu. Ahh.. bisa saja aku akan mengungguli kehebatan mu itu " gurau youngjae.

Daehyun tersenyum miris " itu hanya akan terjadi dalam mimpi mu hwangtaeja –akhh " daehyun menjerit tertahan mendapat sikutan cukup keras diperut bidangnya.

"jadi kenapa kau tidak mau menemui ku sepekan ini ? "

"aku merasa belum cukup kuat untuk menemui mu saat itu. Aku takut iblis itu mengambil alih kesadaran ku lagi. Aku tidak mau melihat tatapan takut mu. " daehyun menengadah. Memejamkan matanya erat ketika ingatan mengerikan itu merayap memasuki otaknya.

Youngjae mengatupkan rahangnya. Ternyata dugaan ayahnya benar.

"kau sedang mencoba menahan kekuatan iblis itu agar tidak sesuka hatinya menguasai tubuh mu? "

"tepat sekali. "

"youngja-a.. lebih baik kau istrahat. Sebentar lagi fajar akan muncul. Kau tenang saja, aku akan mengantar mu sam—" daehyun menghentikan ocehannya saat mendengar nafas teratur youngjae.

Senyum tipis ia pancarkan. Ternyata sahabat nya telah jatuh tertidur terlebih dulu sebelum ia melontarkan sarannya.

''ini seperti mimpi….''


*.*.*

*.*.* Demon1004 In Tenebris *.*.*

*.*.*

**1016 SM**


Lenguhan kecil disertai gerakan menggeliat kecil mengusik tidur serang pria bersayap –jung daehyun.

Iris merahnya terbuka lebar menyadari bahwa dirinya ikut jatuh tertidur seperti sahabatnya –yoo youngjae- selapis selimut tersampir rapi menutupi tubuh mereka.

"jae… youngjae-a.. ireona" daehyun menggoyang pelan bahu youngjae.

"ughh… " hazel indah itu terbuka perlahan

"maaf, aku ikut tertidur, ayo kita lihat bumi mu. semoga kita tidak terlambat. " ujar daehyun khawatir, ia takut Raja Yoo kelabakan mencari putra nya. Terlebih menurut perkiraan daehyun , matahari sudah menyinari bumi di seberang sana, terbukti sudah pulang nya noctua dari acara jalan-jalannya semalam. Bahkan sekarang noctua tengah bertengger –tertidur nyaman diatas bingkai jendela yang terbuka

" enghh… daehyun? " koreksi youngjae begitu mendapati paras daehyun terpampang di depannya. –atau di belakangnya ? mengingat youngjae tertidur dalam pangkuan daehyun

Youngjae tertawa ringan " aku fikir semalam itu mimpi " ucapnya dalam senyum tertahan. mencoba tidak terlihat begitu senang.

'bukan aku saja yang masih menganggap ini mimpi eoh?' gumam daehyun dalam hati.

youngjae beranjak dari acara menyendernnya, merubah posisinya –duduk berhadapan dengan daehyun.

"kau tenang saja.. kita terlambat pun tak masalah. Raja Yoo sudah tau aku kemari, dia tid—"

"mwo?! " pekik daehyun tak biasa. Tentu saja, karna memang daehyun selalu menggunakan intonasi yang itu-itu saja. tapi memang akhir-akhir ini ia sering memakai intonasi cukup tinggi.

"ishh.. jangan potong ucapan ku! "

"ceritanya panjang.. nanti aku akan menceritakan padamu, tapi yang pertama. Ayo sapa bibi, aku sudah lama tidak bertemu dengannya. aku juga lapar.. " youngjae menarik tangan daehyun tanpa mendengar persetujuannya.

Dua sahabat itu berjalan cepat menuju beranda di tengah rumah mungil keluarga daehyun, tempat dimana ibu daehyun sering memasak diatas tungku api.

"jae-a.. bisa kau lepas pegangan mu? " pinta daehyun di sela jalan cepat mereka. Youngjae menggeleng tegas

"aku tidak mau kehilangan mu lagi. Menurut saja arraseo!" mau tak mau daehyun tersenyum senang mendengar kalimat manis youngjae. Kalimat yang akan ia ingat seumur hidupnya.

Youngjae semakin mempercepat langkah nya begitu melihat sosok yang ia rindukan tengah menata beberapa makanan diatas meja kayu, tak jauh dari tungku api.

"yaa! Pelan – pela –"

"bibi hime! " seru youngjae. Ia melepaskan tautan tangannya dan berlari mendekati himchan

Daehyun mendengus kesal. 'apa dia lupa beberapa detik lalu tidak ingin kehilangan ku? Cih, bahkan hanya dengan bertemu eomma dia melupakan ku begitu saja'

"hwangtaeja.. " himchan tersenyum tulus, ia membalas pelukan hangat youngjae. Hal ini sudah biasa terjadi. himchan sekarang tidak lagi canggung dengan youngjae, jika di lihat-lihat justru yang terlihat seperti ibu-anak adalah himchan dan youngjae, di saat seperti ini. Daehyun merasa dirinya hanyalah anak terlantar yang melihat kehangatan sepasang ibu-anak melepas rindu.

"eomma.. kenapa tidak membangunkan kami? "

Daehyun youngjae dan himchan duduk melingkar, mengerubungi makanan yang masih mengepulkan asap.

"untuk apa ? " himchan balik bertanya.

"tentu saja aku in—"

"kalian tenang saja.. eomma sudah mengatakan pada Raja Yoo bahwa youngjae ada disini" jelas himchan

"mwo? Bagaima- "

"dilarang berbicara saat makan bersama. ingat itu Jung " lagi lagi pertanyaan daehyun mendesah berat.

youngjae terkekeh senang. Jarang-jarang melihat daehyun sekesal ini. Perlu youngjae koreksi lagi. Tentang sifat baru daehyun, sekarang ia terlihat lebih berekspresi. Tidak hanya penampilannya saja yang berubah tapi sikap nya juga sudah mulai bernyawa. Jika youngjae boleh besar kepala.. mungkinkah ini karena dirinya ?

"ahh bibi.. ini ada titipan dari tabib kerajaan. "

Mata kucing himchan melebar sedikit, terlalu terkejut dengan kalimat yang youngjae lontarkan. Iris merah daehyun memincing curiga, tentu saja ia tahu ada yang himchan sembunyikan darinya. Daehyun akan tau pergerakan mencurigakan sekecil apapun dari orang-orang di sekitarnya. Walaupun orang-orang itu hanya mencakup himchan dan youngjae.

Himchan mengambil surat yang youngjae sodorkan, tangannya sedikit tremor ketika mengambil surat tersebut.

"—ka –kalian makanlah dulu, eomma kebelakang sebentar " ujar himchan sedikit gugup

"ahh terima kasih untuk surat nya youngjae-a.. kalau ada apa-apa panggil bibi hmm.. " himchan melirik sengit ke arah daehyun. ia masih kesal akan sikap daehyun terhadap youngjae tempo hari.

"bibi tenang saja... daehyun tidak akan meninggalkan ku. Lihat " youngjae memperlihatkan tangan kanannya yang tengah menggenggam tangan kiri daehyun dengan erat. Himchan tersenyum kecil, melambai singkat sebelum hilang dibalik belokan koridor.

"kau lapar kan? Lalu bagaimana caramu makan jika tangan kita seperti ini eoh ? " daehyun menaikan sebelah alis nya

"suapi aku. " titah youngjae mutlak

"tsk. Aku juga ingin makan Tuan Muda Yoo " ucap daehyun penuh penekanan 'bukankah lebih baik menjaga jarak dari pada aku terlalu berharap? '

"yaaa yaa!sejak kapan kau makan makanan manusia hehh? " heran youngjae. Selama bersahabat dengan daehyun ia memang tidak pernah melihat daehyun memasukan nasi meski hanya sebutir. ia hanya akan memakan biji coklat seperti yang ia makan beberapa jam lalu. biji coklat yang ternyata rasanya sangat manis.

"hanya mengingatkan. Aku juga manusia Tuan muda yoo. Sudah tiga bulan terakhir aku memakan benda-benda aneh ini " daehyun menunjuk makanan yang tersaji.

"kau banyak berubah dae.. "

"kau juga, "

'dan aku suka perubahan ini...'

Daehyun dan youngjae terdiam. Tautan itu terlepas dengan sendirinya di susul suasana hening penuh khidmat dalam menghabiskan semangkuk makanan yang ada.


*.*.*

*.*.* Demon1004 In Tenebris *.*.*

*.*.*

**1016 SM**


Himchan menghela nafas berat, beberapa detik sudah berlalu tapi ia hanya melihat segulung kulit tipis yang terserirat tulisan sahabatnya. Tangan putihnya meraih gulungan tersebut, membuka nya perlahan hingga sebaris kalimat dapat ia baca dengan jelas

"anda masih memiliki saya, jangan pernah merasa sendirian di dunia ini.. –Dia—masih hidup. Hamba tau anda bisa merasakannya hwangtaeja "

Tubuh himchan bergetar, menunduk dalam memeluk surat dari sahabatnya tersebut. Ia tau apa yang di katakan sahabatnya benar adanya. Himchan faham akan hal itu. Daehyun bahkan setiap waktu menghabiskan waktunya bersama dia. Pohon besar yang berdiri kokoh di depan himchan. Pohon yang tiba-tiba mucul tepat dimana Yongguk terbaring kaku.

Masih jelas dalam ingatan himchan saat ia kembali ke wilayah kerajaannya yang porak-poranda. Mayat tergeletak dimana-mana. Pohon pohon besar yang tumbang berantakan di sertai kepingan kayu dari rumah warna yang telah berserakan. Hingga himchan yang masih dalam keadaan lemah menemukan rumah mungil kokoh berdiri diantara ratusan rumah yang rata.

Rumah mungil tepat di belakang istananya sendiri. Dimana seonggok tubuh yang teramat ia kenal terkapar tak bernyawa, belum sempat himchan mendekati sosok tersebut. Munculah sinar biru menyala mengelilingi tubuh orang yang ia cintai, membawanya melayang disusul tornado kecil yang semakin tinggi mengangkat sosok tersebut. J

erit tangis daehyun kala itu mengalihkan perhatian himchan hingga ia tak melihat tubuh yang melayang itu kini berubah menjadi sepohon kayu kokoh nan rindang menaungi rumah mungil tersebut. Dan dalam sekejap tangis daehyun terhenti seketika.

"yongguk-a... " lirih himchan di sela tangisnya. Ia tahu daehyun pasti mendengar tangisnya, tapi setidak nya ini adalah tangis bahagia. Tangis yang memancarkan keyakinan himchan bahwa orang yang ia cintai masih ada dan masih berdiri disampingnya. Setidaknya tidak hanya di yang mempercayai hal tersebut, karna youngnam –sahabatnya juga yakin bahwa Yongguk masih hidup.

.

.

Senyum lega terpancar jelas diwajah cantik himchan, indera penghliatannya menangkap pemandangan menyejukkan. putra semata wayangnya tertawa ringan bersama putra mahkota, anak Petinggi Kerjaan yoo yang tak takut berteman akrab dengan putranya.

Sepertinya keputusan himchan pagi buta tadi menyusup ke istana Yoo tidak ada salahnya. Himchan melakukan hal tersebut tanpa berfikir, ia tidak ingin lagi menghilangnya putra kerajaan akan membuat daehyun di kambing hitamkan oleh penduduk Kerajaan Yoo.

pandangan himchan beralih menatap kokohnya pohon yang dijadiakan tempat bersandar daehyun. dua pria berusia tiga-empat belas tahun itu bercengkrama asik didepan pohon rindang itu, pohon yang himchan anggap sebagai bentuk perwujudan yongguk yang lain. Pohon penghasil biji coklat. Biji yang empat belas tahun belakangan menjadi makanan pokok daehyun.

"yongguk-a .. bisakah aku menjaga senyum mereka? jika youngjae memiliki perasaan yang sama seperti daehyun… -apakah mereka akan berakhir seperti kita? –aku harap tidak—cukup aku dank au saja yang merasakan pedihnya perpisahan "

Himchan mendekat, bersiap ikut andil akan perbincangan seru dua bocah menggemaskan tersebut.


*.*.*

*.*.* Demon1004 In Tenebris *.*.*

*.*.*

**1016 SM**


Langit tampak menguning, matahari sudah menyembunyikan sebagian tubuhnya, ingin secepat mungkin berganti tugas dengan sang rembulan. Kuda bertanduk serta bersayap cantik terbang membelah bagian dalam hutan. Terbang tanpa suara dan tanpa menabrak pohon-pohon berbantang luas, sayap tersebut seolah tembus pandang. Diatas punggung kuda tersebut terdapat dua bocah remaja. Menunggang kuda –Unicorn dalam keheningan.

tak jauh dari dinding perbatasan istana, dua remaja itu turun dari punggung sang unicorn.

"daehyun-a... gomawo.. aku harap kita bisa terus bertemu seperti ini.. " bocah berparas manis bertudung tersenyum tipis. Bocah lain yang memiliki sayap hitam-putih mengangguk singkat

"salam untuk Raja Yoo. Sampaikan rasa terima kasih ku pada beliau karna sudah mengizinkan mu berhubungan dengan ku. " daehyun melepas kantung hitam yang terselip di pinggangnya. Memberikan kantung tersebut pada youngjae

"itu biji mahoni yang kau makan semalam. makanlah sesekali saat kau merasa dingin. " ujar daehyun singkat. Ia tahu sebentar lagi musim dingin tiba, dan ia tidak ingin youngjae-nya kedinginan.

"wah, kau baik sekali jung! " pekik youngjae senang "gomawo.." lanjutnya diiringi senyum senang

" aku pulang dulu jae.. " daehyun kembali menunggani unicorn yang sedari tadi menunggunya. Sekarang memang daehyun jarang memakai sayapnya. Ia lebih sering menggunakan tubuh manusia nya untuk beraktifitas.

Youngjae mengangguk kecil. " hati – hat—"

"aku hanya mengingatkan jae.. sekarang, aku tidak lagi memandang mu sebagai teman sahabat ataupun saudara. perasaan ku lebih dari itu, aku memandangmu sebagai orang yang aku cintai. Kemarin pasti kau tidak mendengar ku kan? Satu dari sekian alasan ku menjauhi mu adalah karna perasaan ini.

Kau bukan lagi sahabat ku, kau adalah orang yang aku cintai.

Aku Mencintai Mu Yoo Youngjae " youngjae terperangah mendengar pengakuan daehyun. sebenarnya, seperkian detik sebelum ia tak sadarkan diri, youngjae sudah mendengar pengkuan itu, tapi youngjae merasa itu semua hanyalah mimpi belaka.

Daehyun tersenyum tipis. Ekspresi terkejut youngjae sangat menggemaskan dimatanya. Hazel indah itu sedikit membola dengan mulut terbuka.

"—tap –ta—"

"shhhh... kau bisa menanggapi pengakuan ku ini tiga tahun lagi. Saat kau pendewasaan, aku harap kau memiliki rasa yang sama dengan ku. Maaf aku terlalu egois karna masih berani mengungkapkan perasaan ku padamu. Padahal aku tau kau sudah mempunyai tunangan. " tangan daehyun meraih tengkuk youngjae, membuat sedikit mendongak.

Bibir pucat nya mengecup lembut kening youngjae. Iris youngjae kian membola. Bibirnya mengatup dan merapat layaknya ikan terdampar didaratan. Selesai dengan acara kecupan sepihak itu, daehyun membisikan kalimat penutup akan pengakuannya

"sekali saja, biarkan aku menjadi makhluk paling egois yang mengaharapkan cinta mu yoo youngjae.. "

Daehyun menegakkan tubuhnya yang semula condong kedepan. Sang unicorn membawanya pergi menjauh tanpa suara hilang dalam tebalnya kabut putih yang melingkupi hutan perbatasan.

"—di –dia ? –me –mencintai ku?! "


*.*.*

*.*.* Demon1004 In Tenebris *.*.*

*.*.*

**1019 SM**


***Three Years Later***-1019 SM-***Three Years Later***-1019 SM-***Three Years Later***-1019 SM-***Three Years Later***


***Three Years Later***-1019 SM-***Three Years Later***-1019 SM-***Three Years Later***-1019 SM-***Three Years Later***


Tiga tahun berlalu begitu cepat. Terlampau cepat dan terlalu indah untuk dilewati begitu saja. bumi masih sama, masih dalam keadaan terpisah dimana sebagian bumi terbungkus kegelapan yang di huni seorang anak demon beserta ibunya. Tapi itu cerita lama. Karna ada beberapa cenayang merasakan bahwa ketebalan kegelapan itu semakin taun kian menipis.

Apa anak demon itu tengah sekarat ?

Itulah segelintir tanggapan para cenayang.

Seperti yang terjadi sekarang di istana Yoo, pria berbalut gonryongpo berwanrna biru keunguan dengan lambang naga empat jari tercetak tepat didepan belakang serta di kedua bahunya. Menandakan bahwa dirinyalah putra mahkota kerajaan Yoo. Putra mahkota Yoo Youngjae yang sudah hampir menginjak umur enam belas tahun itu hanya tersenyum remeh mendengar celotehan para pelayan yang meributkan firasat cenayang di istana ini.

Pria tampan cenderung manis itu masih sama seperti dulu, berpipi chubby dengan bibir kissble merah alami menyempurnakan parasnya.

Youngjae berjalan pelan menuju pavilion ayahnya. didampingi oleh pengawal setianya. Pengawal yang sudah ia anggap kakak sendiri. Perbubahan cukup besar kini terjadi di kerajaan yoo, dulu walaupun para rakyat kerajaan ini menganggap keluarga istana sangat hangat dan harmonis, nyatanya itu hanyalah kedok semata, berbeda dengan sekarang yang memang keluarga ini sudah benar-benar hangat layaknya keluarga sesungguhnya. Youngjae tak lagi sedingin dulu, ia selalu tersenyum tulus kala bertemu dengan orang-orang kerajaan ataupun rakyatnya. Juga ayahnya yang tidak begitu menuntut ini itu padanya.

Ia tak lagi merasa seperti boneka sang ayah begitu pula ibunya, sang ratu kini lebih sering berbagi waktu bersama nya walaupun hanya satu kali sehari, seperti yang youngjae lakukan sekarang. Ini adalah kegiatan rutinnya mengunjungi pavilion orang tuanya.

Tiap menjelang sore, mereka akan bercengkrama ditaman kerajaan. Hanya berbincang ringan namun mampu membangun komunikasi untuk mendekatkan diri satu sama lain. Youngjae sadar. Ini semua ada sangkut pautnya dengan dua orang yang ada diseberang sana. Daehyun dan ibunya.

Youngjae tahu ibu dan ayahnya kini selalu berkirim surat dengan himchan, tentu saja ia yang menjadi kurirnya. Ia merasa perubahan sikap kedua orang tua nya berawal dari kegiatan surat menyurat anatara ayahnya dengan ibu daehyun –himchan.

Youngjae juga sekarang lebih sering kesana, seminggu sekali ia selalu rutin berkunjung kesana. Membawa sepucuk surat bersama makanan ringan untuk keluarga sahabatnya. Ia tak mengira ayah dan ibunya tidak melarang persahabatnya dengan daehyun. malah mereka terlihat begitu senang akan keterbukaan himchan dan daehyun pada keluarga Yoo.

"maaf aku terlambat.. " ucap youngjae begitu ia sampai disebuah pondok kecil ditengah taman.

"tak apa.. kemarilah, kau pasti lelah seharian berlatih dan belajar " Ratu Yoo mempersilahkan youngjae duduk disampingnya. Berhadapan dengan suaminya. Raja yoo mengangguk maklum.

"minumlah.. " kali ini raja Yoo menuangkan secangkir teh hijau ke cangkir kosong yang ada dihadapn youngjae.

Youngjae menurut, segera meminum tehnya dengan khidmat.

"bagaimana ? kau sudah menentukan pilihan mu? Sebentar lagi kau enam belas tahun, itu artinya kau harus menentukan pilihan yang pasti. Resmikan pertunangan ini atau kau memikul beban sebagai raja tanpa pendamping. " raja yoo membukan pembicaraan dengan topik berat. youngjae tau, cepat atau lambat orang tua nya akan menanyakan hal ini.

"appa.. aku – "

"semua pilihan ada di tangan mu, jika kau ingin memutuskan pertunangan ini, katakan langsung pada Raja Kotaku. Kau sudah cukup bijak memilih masa depan mu. Appa akan menerima semua keputusan mu. " kalimat paling meneduhkan akhirnya youngjae dengar juga dari sang ayah. Kini ayahnya telah sepenuhnya percaya pada youngjae. Terlebih pada pertunangan ini, pertunangan yang sudah ayahnya rancang sejak ia belia.

Insting orang tua lebih peka dari siapapun. Meskipun raja yoo tau, memutuskan pertunangan ini sama saja dengan menabuhkan gendang perang. Tapi ia tak peduli, yang teroenting sekarang adalah kebahagiaan putra nya. Sesekali mengalah dengan ego sendiri tidak berarti kalah bukan?

"besok Raja Kotaku akan bertandang bersama putrinya. Persiapkan dirimu. "

Youngjae mengangguk tegas. " apa yang akan terjadi jika aku memutuskan pertunangan ini? " youngjae memandang ayahnya. sebenarnya ia tau apa yang akan terjadi, tapi tetap saja ia ingin mendengar jawaban langsung dari ayahnya

" hujan darah "

Tangan youngjae terkepal. Hujan darah, artinya akan terjadi perang besar antar dua kerajaan.

"bolehkan kah aku egois untuk kali ini saja ? eotteoke daehyun-a.. apa yang harus aku lakukan..."


*.*.*

*.*.* Demon1004 In Tenebris *.*.*

*.*.*

**1019 SM**


Dua buah tandu mewah khas kerajaan samurai berjalan pasti menuju gerbang istana kerajaan Yoo. Puluhan prajurit berjalan di depan dan di belakang tandu, beberapa diantaranya tampak menunggang kuda gagah dengan samurai terselip di pinggangnya.

Di istana Yoo sendiri para pelayan sibuk hilir mudik membawa makanan guna menyambut kedatangan calon besan sang Raja. Terompet berbunyi nyaring menandakan Tamu penting itu sudah turun dari tandu mewahnya. Beberapa pelayan istana Yoo yang di tugaskan sebagai page ayu menunduk hormat ketika Raja negara samurai berjalan berdampingan bersama putrinya. Ia memang sudah lama tidak memilki Ratu, namun jangan tanya seberapa banyak selir yang ia miliki. Sebagai orang kejam ia cukup setia pada Ratu nya terdahulu.

Ayah-anak itu berjalan anggun menuju bangunan utama, tempat Raja yoo beserta keluarga kecilnya tengah menunggu kedatangan Tamu tersebut.

Dua daun pintu terbuka lebar, reflek keluarga inti Raja Yoo berdiri menyambut Tamunya.

Raja kotaku dan putrinya membungkuk hormat, " maaf kami datang dengan tanpa memberi tahu jauh-jauh hari sebelumnya" ujar raja kotaku. Bisa di bilang kadatanganya kali ini memang tak di rencakan, baru kemarin ia memberi tahukan pada Raja yoo bahwa ia akan bertandang kemari.

"tidak apa, suatu kehormatan kalian mau bertandang kemari. duduk lah.. kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. " raja Yoo mempersilahkan tamunya duduk diatas kursi kayu yang telah disiapkan.

"begini.. sebenarnya kedatangan kami kesini tidak lain karena saya ingin membicarakan perihal peresmian pertunangan anak kita" kalimat itu meluncur lancar dari bibir Raja kotaku, langsung ke inti tanpa basa-basi

" kami juga ingin membicarakan hal tersebut kotaku-sama " raja Yoo tersenyum simpul

"baguslah. Kalau begitu –"

"maaf atas ketidak sopanan saya kotaku-sama. Tapi sebelum kita membahas lebih jauh, ada yang ingin putra mahkota sampaikan. "

Meskipun Raja kotaku tampak kesal karena ucapannya terpotong, ia hanya bisa mengangguk singkat mempersilahkan youngjae ikut andil dalam pembicaraan ini. youngjae menghembuskan nafasnya pelan. Ia sudah memikirkan semua ini matang-matang. Ini semua demi dirinya dam dia.

"sebelumnya saya benar-benar minta maaf. Tapi, saya tidak bisa melanjutkan pertunangan ini. " youngjae berdiri dari duduknya, membungkuk dalam sebagai permintaan maafnya yang mendalam. Orang – orang disana nampak terkejut mendengar keputusan youngjae. Putri dari Raja kotaku sendiri terlihat mengulum senyum. Ada kelegaan yang terpancar dari paras cantiknya.

"ap –apa –apaan ini..? lelucon anda tidak lucu hwangtaeja" Raja kotaku terkekeh kecil

"maaf, tapi ini memang bukan lelucon. Saya benar-benar tidak bisa melanjutkan pertunangan ini. "

#Brakkh

"kau!" Raja kotaku tampak mulai kehilangan kendali, tangannya menggebrak meja tanpa sadar

"maaf mengecewakan anda, dan Putri – ken.. saya benar-benar minta maaf. Saya tidak bermaksud mempermainkan hati anda" youngjae kembali membungku menyesal.

"che! Kau fikir dengan minta maaf semuanya akan selesai begitu saja? "

Raja Yoo mengatupkan rahangnya, berusaha tidak ikut terbawa emosi. Ia tahu putranya memang seenaknya, tapi ia tetap tidak terima jika ada yang mendecih di waliayah kerajaannya.

" Hontoo ni mooshi wake arimasen (saya benar-benar minta maaf) "

" maaf hwangtaeja.. tapi, boleh saya tau apa alasan anda memutuskan pertunangan ini? " putri ken tiba-tiba bersuara

" bukankah kita tidak saling mencintai ? untuk apa memulai sebuah hubungan tanpa perasaan? Saya tau anda mencintai orang lain dan saya pun begitu. " youngjae menjawab mantap penuh ketenangan.

"arghhh! Ini penghinaan! Kalian benar – benar sudah menghina putri ku! Aku tidak terima ini!" murka Raja kotaku. Ia berdiri, menggandeng putrinya kasar.

"Akuin akka! (Perbuatan buruk menghasilkan keburukan!)" desis Raja kotaku sengit. Ia berbalik bersiap meninggalkan jamuan yang belum ia sentuh sama sekali

Jengah dengan kelakuan memuakkan mantan calon besannya raja Yoo berdiri dari duduknya

" waktu akan menjawab keburukan itu ada di pihak mana kotaku-sama... jangan sampai mulut mu menjadi bisa mu. Mohon perhatikan ucapan mu." Raja yoo menunduk singkat.

"cih! Tunggu saja, kau akan menuai apa yang kau tanam Youngwon-san!" ancaman tak langsung Raja kotaku paparkan. Ia menarik kasar putrinya meninggalkan bangunan utama Istana Yoo.

Dibalik keributan menegangkan tadi, tanpa pihak Yoo sadari ada seseorang yang berdiri kaku melihat dua Raja itu saling melempar ancaman. Tangannya mengepal erat melihat putri ken di seret paksa oleh si penguasa negeri samurai. Mata hitamnya menatap nanar langkah terseret wanita pujaanya.

"ken-san... bertahanlah hingga akhir, bertahanlah!"


.

.


"tunggu pembalasan ku youngwon!" geram Raja kotaku begitu ia duduk didalam tandu. Ia benar-benar kesal.

Rencananya yang sudah ia susun sekian tahun raib begitu saja. rencana untuk meruntuhkan kedamaian negara tersebut. Kedamaian yang membuat istrinya mati kaku melihat kehangatan keluarga Raja yoo. Dugaan kalian benar, istrinya yang amat ia cintai malah mencintai orang lain bahkan hingga hembusan nafas terakhirnya, wanita cantik itu masih saja mencintai Raja Yoo meskipun kotaku sudah berdiri disampingnya.

"tapi tak apa.. kalian tidak tau aku menyimpan senjata dalam selimut hangat kalian" raja kotaku bergumam dalam hati, bibirnya menyeringai keji menyusun rencana mematikan untuk mantan besan – nya.


*.*.*

*.*.* Demon1004 In Tenebris *.*.*

*.*.*

**1019 SM**


"yeobo.. kenapa kau berbicara seperti itu? " tegur Ratu yoo. Ia tampak khawatir akan apa yang terjadi kedepannya

"aku tidak bisa diam saja melihat dia bertingkah pongkah di wilayah ku." Sungut raja yoo.

"appa.. kau yakin beliau tidak bertambah marah? Sepertinya kalimat anda tadi mengandung unsur 'ajakan perang' " lirih youngjae ragu

" dia yang memangcing ku, lagi pula siapa yang mengajukan perjodohan ini? dia sendiri kan? Jadi tak masalah jika kita menghentikan perjodohan ini. " elak raja yoo.

Youngjae mengulum senyum. Ternyata ayahnya ini selalu merasa benar sendiri.

"semua orang selalu merasa benar dalam versi masing-masing. Tapi kau tidak boleh bersikap demikian yeobo.. lihatlah dalam dua sisi, kita juga salah karna dulu menerima perjodohan ini tanpa meminta pendapat youngjae" Ratu yoo berucap lembut, berusaha meluruskan pemikiran suaminya

Raja yoo menghela nafas berat " baiklah.. kau benar" cicit Raja yoo

Youngjae dan ibunya tersenyum lebar mendengar pengakuan raja yoo

"jika kita ada waktu, ayo kita buat janji temu dengan kerajaan samurai " saran ratu yoo –terdengar sedikit konyol untuk saat ini

"kita bisa menjalankan saran mu ketika hati kotaku-sama sudah tenang"

Ratu yoo mengangguk senang.

"daehyun-a... akhirnya aku berani mengambil keputusan tegas. Tunggulah kabar baik ku ini!"


*.*.*

*.*.* Demon1004 In Tenebris *.*.*

*.*.*

**1019 SM**


Helaian rambut hitam jatuh berserakan ditanah, pria ber-iris merah berkulit pucat adalah pemilik dari potongan rambut tersebut. Ia duduk khidmat diatas sebuah batu hitam didepan rumahnya. duduk diam menunggu rambutnya di rapihkan oleh sang ibu, ia sedang melakukan sesi potong rambut, entah ada angin apa, daehyun si pria ber-iris merah itu meminta ibunya untuk memotong rambut panjangnya yang biasa ia ikat.

" sekarang sudah lebih rapi " wanita tersebut membalik tubuh daehyun agar berhadapan dengannya. merapikan surai pendek daehyun yang menjutai mengenai sebagian alisnya, bagian belakangnya sendiri sudah himchan potong sependek mungkin.

"eomma yakin ini tidak aneh ? " tanya daehyun sanksi. Ia merasa kepalanya terlalu ringan, lebih dari itu, ia takut youngjae –orang yang ia cintai—akan menertawakan penampilannya.

"tentu saja tidak! Kau bahkan lebih tampan dan terlihat dewasa. " puji himchan seraya menatap daehyun penuh senyuman

tangan pucat daehyun menyisir rambut depannya yang terasa gatal menyentuh kedua alisnya.

"tapi rambut ini terus menjutai kedepan. Aku masih risih dengan rambut ini " keluh daehyun seraya mengusap surainya kebelakang

"tsk. Kau berisik sekali. kalau tidak mau ya sudah pasang kembali rambut payah mu itu ! " sungut himchan sebal. peringai daehyun kali ini sangat mirip dengan yongguk yang mengeluh terus menerus ketika rambutnya di pangkas oleh himchan -dulu.

"ne~ ne... aku tidak akan mengeluh lagi. Aku pergi dulu eomma. Jaga dirimu baik-baik. " pamit daehyun. hari ini adalah kegiatan rutin nya bertemu youngjae, dan hari ini pula lah dirinya ingin mengajak youngjae kesebuah tempat indah, daehyun juga akan menagih jawaban perasaannya. Untuk itulah ia ingin terlihat berbeda dari baisanya.

"eomma antar sampai depan " ucap himchan.

"tak perlu eomma, lebih baik kau istirahat saja hmm.. " daehyun menatap sendu sosok ibunya. Beberapa tahun belakangan himchan memang sering jatuh sakit, lebih tepatnya setelah menerima surat dari sahabatnya -youngnam –

Daehyun sekarang tau keselurahan skenario hidup ibunya, siapa itu youngnam dan bagaimana kehidupan ibunya ketika ayahnya masih hidup. Tidak sampai di situ, kini daehyun juga tahu, pohon besar didepan rumahnya adalah tempat dimana ayahnya menghilang. jika ia boleh menyimpulkan, mungkin saja pohon itu adalah titipan ayahnya. menandakan bahwa yongguk akan selalu ada disamping himchan dan daehyun. bahkan bisa dibilang pohon itulah sumber makanan pokoknya.

" eomma tenang saja, setelah pulang dari tempat itu, aku akan membawa youngjae kesini. Pasti ada surat dari Raja dan Ratu Yoo untuk mu " daehyun tersenyum menyakinkan. Mengusap sisi wajah ibunya dengan lembut.

" kau harus pegang janji mu! " sentak himchan. Istirahat, dia memang membutuhkannya. Mungkin hatinya yang lebih membutuhkan isitrahat. Entah mengapa, hatinya terus gelisah, seolah akan ada hal buruk yang menimpa daehyun.

Manusia setengah demon itu mengangguk yakin

" hati – hati dae.. kau tau bukan tempat itu ada di wilayah kerajaan samurai. Musuh bebuyutan kakek mu. Tetap waspada. Arraseo? "

"ne eomma! " daehyun memeluk ibunya.

"aku pergi " daehyun melepas pelukannya, berjalan keluar dari istana tersebut, tak lupa burung hantu putih bertengger setia diatas pundaknya

Iris merahnya menatap satu-satunya tumbuhan yang hidup dibumi hitam ini, tumbuhan besar peninggalan sang ayah.

"aku pergi dulu appa... " daehyun mengusap batang pohon tersebut sebelum mengepakkan sayapnya menuju hutan perbatasan, menjemput sahabatnya untuk mendatangi pantai di utara pulau honsu yang ada di wilayah kerajaan samurai.

Untuk pertama kalinya ia akan melewati batas zona yang seharusnya tidak ia lewati. Mungkin bukan kali pertama, karena daehyun pernah kesana sekali dan menemukan fenomena menganggumkan. Membuatnya ingin berbagi dengan youngjae. Lagi pula daehyun sudah mulai mahir mengendalikan kekuatan iblis dalam tubuhnya.

Memang tidak mudah, tapi daehyun cukup tau kunci dari segel kekuatannya adalah.. youngjae. Cukup dengan satu nama itu, ia mampu mengendalikan kekuatan iblis tersebut.


*.*.*

*.*.* Demon1004 In Tenebris *.*.*

*.*.*

**1019 SM**


Derap langkah kuda membelah heningnya hutan terlarang yang ada jauh melewati hutan perbatasan. Kuda hitam itu berlari gagah menembus gelapnya malam. Sang penunggang menepuk pelan leher si kuda, memberikan kode agar kuda hitamnya memelankan larinya. Tempat favoritnya sudah terlihat jelas didepannya. Bisa ia lihat sosok tinggi berbaju biru gelap duduk nyaman di temani beberapa serigala besar dan ratusan kunang-kunang mengelilinginya.

Si penunggang kuda turun dari tunggangannya, melepas tudung hitam yang tadi menutupui surai hitam miliknya. Tersenyum lebar menyapa sahabat-sahabatnya. Beberapa serigala tampak berdiri memberi jalan pada si pria bertudung.

"maaf aku terlambat,hari ini agak sulit melewati penjagaan para prajurit. kau sudah menunggu lama? " si penunggang kuda yang ternyata laki-laki itu berjalan menghampiri objek yang ia ajak bicara.

"tidak juga, aku baru sampai disini "

" daehyun-a.. kau berjalan kaki lagi? " kedua alis si penanya bertaut heran

" berjalan ternyata cukup melelahkan jae.. "tangan pucat daehyun mengusap kakinya yang terjulur lurus. Youngjae –Sahabat daehyun terkekeh renyah

"sekarang kau benar-benar manusia eoh.. " ledek youngjae.

"hentikan kekehan menyebalkan mu itu. Kita tidak punya banyak waktu, palli . " daehyun berdiri, mengulurkan tangannya, membantu youngjae beranjak dari duduknya.

"eodigayo?"

"kita akan tahu nanti setelah sampai disana" daehyun menggendong youngjae tanpa memberitahukan sahabatnya terlebih dulu, youngjae berteriak tertahan.

"yaaa! Kau ingin membunuh ku! " sentak youngjae murka. Jantungnya berdetak random, terkejut bukan kepalang mendapat gendongnan paksa daehyun.

" jangan berlebihan " daehyun memutar bola matanya. Mengepakkan sayapnya tanpa menjelaskan lebih jauh.

"noctua.. kau pulanglah. tolong jaga eomma sebentar hmm ?" daehyun berpesan pada sahabat burungnya sebelum ia melayang meniggalkan hutan terlarang.


.***.

...

.***.


Angin malam bertiup kencang, dan youngjae sangat menikmati masa-masa terbang seperti ini. mereka terbang menembus awan malam. daehyun membuka lebar sayapnya, menukik turun bersiap mendaratkan kakinya di tepi sebuah pantai, hazel indah youngjae membola, mengerjap tak percaya melihat pemandangan di bawahnya. Daehyun yang menyadari hal itu tersenyum tipis. Tidak salah teman-teman hutannya menyarankan ia bepergian jauh mengelilingi bumi kala malam telah menjemput.

#taph

Daehyun mendarat dengan mulus, menurunkan youngjae dari gendongannya. Alis daehyun terangkat sebelah, ia cukup heran tidak mendengar gerutuan youngjae. karna setiap kali ia membawa terbang sahabatnya, youngjae akan menggerutu panjang lebar, kesal akan dirinya yang di gendong bridal syle oleh daehyun.

"daebak! " gumam youngjae, hazelnya memandang takjub hamparan laut hitam berhiaskan cahaya biru yang mucul kepermukaan. Tepat dibibir pantai, ribuan cahaya itu berenang cantik menghias air laut.

"kau suka ? " daehyun menanti jawaban youngjae dengan hati was – was

"sangat! Kau hebat bisa men—"

"siapa disana ! "

teriakan dari dalam hutan membuat youngjae tersentak kaget, daehyun reflek menarik youngjae kedalam pelukannya. Mengukung tubuh mereka dengan kedua sayapnya yang berbeda. Dalam sekelebat, daehyun dan youngjae raib tertelan angin laut.

"gwaenchana.. tenanglah " suara bass milik daehyun berdengung di telinga youngjae, perasaan takutnya melebur seiring usapan lembut pada punggungnya.

Dari dalam hutan terlihat segerombalan manusia berkuda. Anjing-anjing besar berlari cepat menuju tempat dimana daehyun dan youngjae berdiri. Anjing-anjing itu berhenti bergerak, keempat kakinya gemetar hebat mendapat lirikan tajam si mata merah, -makhluk bersayap didepannya. Namun manusia-manusia itu tak bisa melihat apa yang dilihat oleh para anjing pelacak tersebut

"sial. Sepertinya kita salah lihat. " pria berbaju cokelat lengkap dengan pedang menggantung di pinggangnya mengendarkan pandangan. Mencari benda yang jatuh dari langit barusan.

"tapi aku lihat dengan jelas, benda itu jatuh di sekitar sini" kukuh prajurit lain.

Anjing – anjing pelacak menyalak keras ke arah hutan, para prajurit itu mengeryit heran,

"lebih baik kita ikuti mereka, sepertinya disini aman. "

Tanpa banyak kata lagi, gerombolan prajurit kerajaan samurai hengkang dari tepi pantai tersebut meninggalkan daehyun dan youngjae yang masih berpelukan

"daehyun-a.. –me –mereka tidak melihat kita? " bingung youngjea, ia sedikit mendongak menatap daehyun

"menurut mu? " daehyun tersenyum tipis. ia melepaskan pelukannya, mendudukan diri diatas pasir putih

" otte ? kau suka ? aku menemukan tempat ini beberapa hari yang lalu" papar daehyun dengan pandangan lurus menikmati heningnya pantai

" ini hebat, warna biru itu.. kau tau itu hewan apa ? warna nya mirip seperti api mu" youngjae duduk disamping daehyun, memeluk kedua kakinya.

" cumi-cumi. mereka hanya muncul saat musim semi seperti ini. aku senang kau menyukainya. "

"tapi.. apa tidak apa-apa ? kita menyelinap di kawasan orang lain, di lihat dari pakaian prajurit tadi, aku rasa ini ada di wilayah kerajaan Kotaku. " youngjae mengedarkan pandangannya. Bibirnya kembali menarik seulas senyum.

"tempat ini benar-benar indah.."

" kau ingin melihat sesuatu yang lain ? " tanya daehyun.

Youngjae mengeryit "melihat apa ? "

Daehyun tersenyum, beranjak dari acara santainya. Berdiri tepat didepan youngjae, membelakangi lautan yang membentang. Ia memejamkan matanya, menyatukan fikiranya pada satu titik agar kekuatan iblisnya dapat ia tekan serendah mungkin.

Youngjae memandang penuh antusias, hazelnya tak lepas dari sosok sahabatnya yang kini sedang memejamkan mata. Tiba-tiba dari atas pasir muncul cahaya biru menyala, cahaya biru yang berbentuk seperti bulu. Ribuan bulu berselimut cahaya biru itu mengelilingi tubuh daehyun, membungkus rapat dirinya. Bulu bercahaya tersebut bergerak memutari tubuh daehyun. berputar dari atas kebawah hingga beberapa bulu tersebut nampak melebur menjadi pasir putih. Jatuh tartarik daya gravitasi bumi.

Hazel youngjae tak berkedip karena lagi-lagi ia di sajikan kejadian magis sarat keindahan. Ia seakan tidak ingin melewatkan fenomena langka ini. irisnya makin membulat takjub begitu melihat sayap sahabatnya menghilang tak berbekas. Ia segera menghampiri daehyun yang berdiri didepannya.

"—in –ini ... kemana mereka ? kemana sayap – sayap itu? " tangan youngjae mengibas bagian belakang daehyun, meraba tubuh punggung daehyun yang kini polos tanpa sepasang sayap menakjubkannya.

Baju bagian belakang daehyun hanya menyisakan ruang besar, -ruang untuk sayapnya.

" –ba –bagaimana kau melakukannya? "

Daehyun berbalik, menghadap sahabatnya yang sedari tadi sibuk meraba punggung telanjang tersebut.

" kau." Daehyun menunjuk youngjae tepat di hidung mungilnya

"mwo?"

" aku hanya memikirkan mu, dan ini lah yang terjadi." daehyun mengusap surai youngjae.

"tunggu.. kau juga.. kapan kau memotong rambut mu?!" youngjae seakan baru tersadar akan perubahan surai sahabatnya.

"kau baru menyadarinya? " decih daehyun

" sekarang tidak penting membahas hal ini. kau masih ingat pengakuan ku tiga tahun lalu? " nada bicara daehyun terdengar serius namun lembut secara bersamaan.

Ingatan youngjae akan pengakuan daehyun direspons cepat oleh tubuhnya. Pipi chubby memerah samar. Rasanya masih sangat jelas ketika bibir pucat daehyun menyentuh kening nya.

Daehyun tertawa renyah " aku rasa kau mengingatnya "

" aku sudah mengatakan padamu kan? Kau bukan lagi sahabat ku ataupun saudara, kau adalah orang yang aku cintai, jadi... boleh aku tau bagaimana perasaan mu padaku? " lanjut daehyun

Iris youngjae bergerak gelisah, memandang segala penjuru asal tidak bertatap muka dengan daehyun.

"hahhh.. tatap aku jae, kau boleh mengatakan tidak mencintai ku. Aku tidak akan marah. Asalkan kau membiarkan aku mencintai mu. " pandangan daehyun berubah sendu

" aku memilih mu " ucap youngjae cepat

"huh?"

"tsk. Aku bilang aku memilih mu. Pertunangan itu.. kemarin lusa aku memutuskannya. Dan appa tidak keberatan dengan keputusan ku "

" apa yang akan terjadi jika kau memutuskan pertunangan itu?" daehyun terlihat khawatir. Youngjae mendudukan tubuhnya, memandang kembali keindahan laut berhiaskan ribuan cumi-cumi bercahaya biru .

"hujan darah" youngjae menerawang terdiam di buatnya

"karna itulah, mau kah kau membantu ku melindungi rakyat ku dae? " youngjae berucap lirih

" tanpa kau mintapun aku akan melakukannya jae.. "

Youngjae tersenyum lega, " kau tidak keberatan aku memanfaatkan mu? " cicit youngjae ragu

" selama aku bisa terpakai, kau bisa memanfaatkan ku ribuan kali. Tempat ini lah yang akan menjadi saksi bisu janji ku untuk melindungi mu." Daehyun bergerak memeluk youngjae.

"saranghae... " bisik daehyun. youngjae diam tak membalas. Hanya visualnya yang membalas pelukan daehyun. mengusap punggung tak bersayap itu.

Lautan hitam itu makin berkilau, semakin lama cumi-cumi bercahaya itu kiam membludak memenuhi tepi pantai seakan ikut tertawa melihat dua hati yang sudah terikat.

Tiba – tiba youngjae melepas pelukan daehyun " bagaimana kita pulang jika sayap mu tidak ada eoh?! " youngjae memekik tertahan.

Daehyun mendengus sebal. Moment romantis nya terpatahkan oleh pemikiran menyebalkan youngjae.

" kita punya kaki kan? Jalan saja! " sungut daehyun. ia berjalan menjauh, youngaje tersentak. Berjalan cepat mengimbangi langkah daehyun "yaaa! Yang benar saja!" teriaknya tepat di telinga kanan daehyun

" berisik " daehyun mempercepat langkahnya. Sementara youngjae berteriak memanggil daehyun, mengejar sahabatnya yang berjalan cepat menyisir tepian pantai.

"walaupun aku dia tidak mengatakan mencintai ku.. aku sangat bahagia karena dia membiarkan ku tetap mencintai nya "

"maaf daehyun-a... lidah ku terlalu kelu untuk mengatakan –aku mencintai mu—"


*.*.*

*.*.*

*.*.*


Di tempat lain, tepatnya di istana Samurai yang di pimpin oleh raja Kotaku tengah menyusun rencana penyerangan. Menysusun strategi pembantaian terbaik untuk memporak-porandakan Kerajaan Yoo.

"kita jalan kan rencana ini pekan depan. Tepat saat mereka mengadakan pesta rakyat. Yoo youngjae, kau sudah menginjak harga diri putri ku! Dan kau youngwon. Tunggulah hari pembalasan dendam ku! " tawa keji mengakhiri kalimat penuh amarah Raja Kotaku. tanpa ia tahu ada sepasang telinga yang mendengar kalimat lakanatnya.


*.*.*

*.*.* Demon1004 In Tenebris *.*.*

*.*.*

**1019 SM**


Tandu khas bangsawan keluarga choi berjalan cepat menuju wilayah Kerajaan Yoo, tiga orang uang ada di dalam tandu tampak bergerak gelisah,

" apa kita tidak bisa lebih cepat?" kepala keluarga choi membuka tirai tandu dan bertanya pada pengawalnya yang berjalan disampingnya, -menunggang kuda lebih tepatnya.

" mohon maaf mama.. kami akan berusaha secepat mungkin agar sampai tepat waktu. " pengawal tersebut menunduk hormat

Kepala keluarga choi bergerak makin gelisa. Tangan lembut istrinya mengusap lembut punggung tangan tuan choi, berusaha menetralkan kegelisahan yang menghinggapi hati suaminya.

" tenanglah yeobo.. kita pasti tepat waktu. " ujar Nyonya Yoo

"eomma.. kita akan mengunjungi istana Yoo ? " tanya bocah berusia 8 tahun yang duduk disamping sang ibu.

" iya, tapi kita belum memberitahukan kunjungan kita kesana, anggap saja ini kejutan hmm ? "

"maaf, aku melibatkankalian. Aku tidak sanggup membiarkan kalian di rumah sendirian" sesal tuan choi.

" ingatlah, susah senang kami aka nada di samping chagiya.. " perlahan tuan choi tersenyum tipis. Hatinya tidak segelisah barusan setelah mendengar kalimat menduhkan dari sang istri.

Ini memang bukan kunjungan biasa, karena sebenarnya tuan choi ingin memberitahukan pada Raja yoo bahwa hari ini ada aka nada penyerangan dar kerajaan samurai. Raja kejam yang tidak terima pertunangan antar Putra mahkota Yoo dan putrinya kandas begitu saja.

Kenapa tidak mengirim surat burung saja?

Tidak terima kasih, Tuan choi lebih memilih mengatakan secara langsung pada Raja Yoo. Mata-mata Kerajaan Samurai terlalu banyak, terlebih ia memiliki ratusan cenayang sakti berserta penyihir – penyihir ilmu hitam yang kekuatannya tidak bisa di remehkan.

Tuan choi sendiri mendengar rencana penyerangan itu sendiri dari mata-mata yang sengaja ia selundupkan beberapa bulan lalu. Jangan salah faham, raja Choi memang tidak begitu menyetujui pertunangan keponakanya dengan putrid raja kotaku. Jadi ia berinisiatif menyeludupkan mata-mata kepercayaanya.

" apa perjalanan ini berbahaya ? " anak dari pasangan suami istri tersebut bersuara

" tentu saja tidak asalkan ada ayahmu, pasti semuanya aman " nyonya choi mencubit hidung putranya gemas

" appa memang terbaiik!" seru junhong bangga

" semoga semua baik-baik saja… "


*.*.*

*.*.* Demon1004 In Tenebris *.*.*

*.*.*

**1019 SM**


"Chanie… selamatkan Youngjae"

Himchan tersentak dari tidurnya. Mata kuacinya membulat, keringat dingin mengucur dari dahinya, nafasnya memburu. Jjantung berdegup cepat. Suara itu… suara yang sudah belasan tahun tidak ia dengar. Suara bass orang yang amat dicintainya.

Wanita cantik itu mengikat asal rambutnya, berderap cepat keluar dari rumah mungilnya. Yang ada di otaknya sekarang adalah pergi secepatnya ke istana Yoo. Memberitahukan berita ini tanpa mencari tahu kebenaran dari mimpi tersebut,

Himchan berhenti tepat di pintu rumahnya, menyobek ujung bajunya. Mengikat sobekan tersebut pada tiang kayu penyangga rumah nya.

"jaga dirimu baik-baik dae!" himchan bergegas pergi, takut kehilangan waktu barang sedetik saja. Kain itu merupakan tanda bahwa himcahn pergi dari rumahnya menuju kerajaan yoo.


***Three Years Later***-1019 SM-***Three Years Later***-1019 SM-***Three Years Later***-1019 SM-***Three Years Later***


Hembusan angin menerpa tubuh makhluk bersayap yang baru saja menginjakkan kakinya diatas tanah kering –cenderung retak. Burung putih bertengger nyaman diatas bahunya. Makhluk bersayap yang tak lain adalah daehyun berjalan pelan menuju rumahnya. Daehyun mengeryit, pintu rumah kecil terbuka begitu saja. Dengan cepat ia berlari dalam satu tarikan nafas, memeriksa seluruh ruangan di rumahnya.

Nihil .

Orang yang ia cari tidak ada di rumahnya. "eomma.. ! " panggil daehyun. suaranya melesak memenuhi rumah kecil tersebut. Irisnya mendapati sepotong kain terikat erat pada tiang kayu rumahnya, daehyun melepas kain tersebut. Meremasnya erat.

"eomma… " Ia bergerak keluar dari kediamannya. Berlari cepat menuruni bukit terjal, terlalu panic membuat daehyun lupa akan fungsi sayap yang bertengger di punggurnya. Mungkin ia sudah terbiasa menggunakan kakinya untuk berjalan.

Daehyun bersiul, memanggil unicorn yang bersembunyi didalam goa. Waktu terus berjalan namun unicorn tersebut tak kunjung menampakan diri. Noctua tiba-tiba terbang tepat didepan daehyun, berusaha mengingatkan daehyun bahwa dirinya bersayap sama seperti noctua.

" aish! Aku lupa memiliki sayap " gumam daehyun seraya mengepakkan sayapnya, tak lupa berterimaksih pada sahabat setianya.

Dua makhluk bersayap itu terbang menuju hutan terlarang.

Daehyun bersiul kembali, memanggil kuda hitam yang biasa ia tunggangi. Beberpa hewan lainnya tampak berlari cepat menghampiri sosok sang iblis.

" aku harus pergi, firasatku mengatakan ibu ku dan youngjae dalam bahaya! " daehyun memandang chal-so yang menatapnya khawatir. Ini memang pertama kalinya daehyun akan menginjakkan kaki di bumi bercahaya tersebut. Bukan dalam keadan malam melainkan pada siang hari, disaat matahari bertugas menyinari bumi.

Daehyun tak lagi peduli jika ia akan membuat bumi gelap sepenuhnya. Chal-so memandang daehyun tanpa berkedip

" tapi jika aku menekan kekuatan iblis itu, aku akan sulit mencari eomma! " daehyun kembali memprotes saran sang sahabat

" anda tidak perlu menekan seluruhnya, cukup hilangkan sayap anda untuk sementar. Ibu anda pergi ke arah pusat desa. Disana sedang di adakan pesta rakyat. Jagalah diri anda tuan " serigala besar itu melolong keras. Terlalu khawatir dengan daehyun. akhirnya daehyun menurut. Berkonsentrasi penuh agar dirinya lebih tenang dan bisa menghilangkan kedua sayap magisnya.

" tenanglah, aku akan baik-baik saja. " setelah berucap demikian, daehyun menungganggi kuda hitam tersebut. Namun belum sempat ia memberi aba-aba untuk berjalan, tiba-tiba kuda hitamnya memberontak. Bergerak tak terkontrol menyebabkan daehyun harus jatuh diatas tanah.

Daehyun mendesis kecil. Sontak beberapa teman hewannya menatap daehyun khawatir. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Pening menghinggapi kepala daehyun, pandangannya sedikit buram disusul kekehan menyebalkan memenuhi pendengarannya

"kita jalan kan rencana ini pekan depan. Tepat saat mereka mengadakan pesta rakyat. Yoo youngjae, kau sudah menginjak harga diri putri ku! Dan kau youngwon. Tunggulah hari pembalasan dendam ku! "

"ishhhhhhhh " daehyun mendesis pelan kala telinganya berdenging nyaring. Suara yang entah milik siapa itu kembali daehyun dengar. Suara asing yang ia dengar saat berkunjung ke pantai toyama. Harusnya daehyun tau dan tidak mengabaikan suara asing saja waktu bisa di putar ulang, daehyun akan memberitahukan hal ini pada youngjae, berpesan padanya agar berhati-hati.

Sang kuda hitam masih asik bejingkrak, takut daehyun menaiki tubuhnya.. atau.. enggan mengantar sang sahabat karena terlalu takut daehyun terjerat bahaya?

"hei.. tenanglah... kita akan baik – baik saja, aku berjanji pada kalian akan kembali dengan selamat " tangan pucat daehyun mengusap kepala sang kuda, berusaha menenangkannya.

"jadi.. maukah kau mengantar ku? Aku tidak bisa terbang untuk sementara. " tanpa di minta dua kali, kuda hitam tersebut malah mendudukan dirinya. Mempersilahkan daehyun menunggangi punggungnya.

"anak pintar"


*.*.*

*.*.* Demon1004 In Tenebris *.*.*

*.*.*

**1019 SM**


Pagi yang cerah di desa kerajaan Yoo awalnya terasa begitu menyenangkan. Seluruh rakyat tengah melakukan pesta rakyat menyambut datangnya musim semi, -juga menyambut hari pendewasaan san gputra mahkota, namun kebahagian rakyat di tengah perayaan tersebut, terenggut begitu saja karena kedatangan segerombolan pria bersamurai. Jika mereka hanya datang tak masalah, namun hanya karena masalah sepele, mereka menyerang seorang wanita cantik yang tadi tak sengaja menabrak pimpinan dari rombongan tersebut.

Tidak ada yang berani melawan tentu saja. rakyat disana hanya menjadi penonton atas perrtarungan sengit empat orang disana. Lebih tepatnya tiga lawan satu. Seorang wanita berbaju sederhana dengan rambut yang terikat asal tengah memegang sebilah pedang. Melawan tiga pria didepannya.

Desingan pedang saling beradu terdengar nyaring. Tangan wanita tersebut tampak bergetar, selain kesehatannya yang memang agak menurun, ia terlalu lelah melawan tiga pria sekaligus. Terlebih wanita tersebut sudah lama tidak berlatih pedang. Staminanya benar-benar terbatas.

#Trankkk!

Pedang panjang itu terhempas dari tangan si wanita. Belum sempat mengambil ancang-ancang untuk melakukan pertahan, tiba – tiba sabetan samurai tajam menmbus kulit lengan atasnya. Darah segar mengucur deras, disusul sabetan lain pada kaki kirinya. Membuat wanita itu ambruk. Tak sampai disitu, tendangan memutar dari sang pemimpin mengenai tepat di wajah cantiknya.

#Brguhh!

Tubuh wanita itu terpental beberapa meter menghantam tanah, orang – orang disana memekik.

"eomma ! " teriakan itu sedikit berasal dari pemuda bermata merah yang menunggang kuda hitam. Dalam sekejap langit berubah mendung, dan pria bermata merah itu menamppakan sayap nya. Kurang dari seperkian detik ia terbang secepat kedipan mata, merengkuh tubuh ibunya yang terkulai lemah.

"—da –dae ? " lirih sosok lemah tersebut, tangannya mengusap sisi wajah putranya. Daehyun menggeleng keras. Kukunya berubah menghitam, memanjang dengan ujungnya yang meruncing. Begitu pula dengan daun telinganya yang meruncing. Raingnya keluar melewati bibir bawahnya. Sayapnya terbuka lebar. Api biru melingkupi tubuhnya.

Sang iblis telah bangkit.

Namun para pemegang samurai itu nampak tidak takut sama sekali. Awan mendung kian menghitam. Cahaya matahari tertelan gelapnya sang awan. Mata merah daehyun menatap geram pada tiga pemegang samurai, bahkan ia bisa melihat dua dari tiga samurai itu berhiaskan darah ibunya.

"bertahanlah eoma.. " daehyun mengiris tangannya meneteskan cairan bening yang berasal dari tersebut pada luka sang ibu. Cahaya biru mengitari luka tersebut, luka yang awalnya menganga lebar itu perlahan tertutup tanpa bekas. Daehyun mengangkat tubuh sang ibu, meletakannya diatas punggung sang kuda hitam.

" bawa ibuku ketempat yang aman " daehyun menatap sang ibu tak tega.

" –youn –youngjae.. mereka mengincarnya, Kerajaan sam- -samurai. - kotaku –dia- " himchan terpatah-patah saat ingin menjelaskan pada daehyun tentang siapa raja kotaku.

"ssst .. jangan banyak bergerak dulu eomma, aku janji akan menemui mu setelah ini. jaga dirimu baik – baik eoh.. ?" daehyun mengisyaratkan agar kuda hitamnya segera lari mencari tempat aman.

Dan tanpa daehyu duga, pria bersamurai yang tadi nya hanya berkisar puluhan, kini berlipat mencari ratusan, memutari dirinya. Bisa ia lihat rakyat Kerajaan yoo tengah di sandera. Diikat paksa dengan sebilang samurai tersaji tepat didepan leher para sandera.

Tangis anak kecil yang ketakutan terdengar begitu memilukan. Hati manusianya menjerit tak terima melihat Rakyat Yoo gemetar ketakutan.

Daehyun menggeram marah. Ia yakin orang-orang yang berani melawannya bukanlah makhluk biasa.

Iblis bertubuh manusia itu menyeringai keji. Menatap tiga orang pria yang menyerang ibunya barusan. Jeritan kesakitan tiba-tiba mengaung memenuhi pusat kota. tiga pria yang tadi menyerang ibunya, kini saling menyerang satu sama lain, orang-orang disana di liputi kebingungan terlebih lagi setiap kali tiga itu beradu pedang. Kulit merka akan robek tanpa tersentuh tajamnya pedang -Mengucurkan darah segar.

Manusia disana seakan menjadi penonton gratis, menyakiskan penyiksaan mengerikan yang dilakukan sang iblis tanpa bergerak.

Yeah.. daehyun sang pengendali fikiran sedang mengontrol sepenuhnya tubuh ketiga prajurit lakanat yang sudah berani menyerang ibunya.

Belum cukup sampai disitu, kini ketiga pria itu saling menjegal leher masing-masing lawan dengan samurai tajamnya.

#ZRASSSHHHHH

Seringai daehyun makin melebar, dilihatnya tiga pria itu tengah sekarat dengan leher menganga lebar, darah segar itu terus mengalir membanjiri tanah disekitanya.

"jangan fikir ajal kalian akan segera menjemput! Bukankah lebih baik menikmati rasa sakitnya dulu.. ? " daehyun tertawa mengerikan. Mata ketiga pria itu melotot hendak keluar akibat rasa sakit yang begitu menyiksa.

Kaum perempuan menangis histeris melihat pemandangan mengerikan didepannya. Beberapa ada yang tak sadarkan diri.

Laki – laki berseragam ala kerajaan samurai menelan ludah paksa. Sedikit dari mereka sepertinya cukup gentar dengan kehebatan jung daehyun

Tepuk tangan yang berasal dari sebuah tandu berwarna emas menyedot perhatian seluruh pasang mata yang ada disitu. Dari balik tirai tandu bergambar naga bersayap munculah seorang pria putih bermata sipit yang tersenyum licik menatap daehyun. kimono berwarna emas menyala dan dipenuhi lambang samurai merah melekat pas di tubuh pria tersebut.

" jadi kau iblis itu eh? Ahh.. dan wanita barusan adalah ibu dari seorang iblis ? "

Daehyun memandang marah pria yang masih berani bicara padahal prajuritnya tengah menderita kesakitan.

" Kotaku! " suara daehyun bergetar menahan amarah. Api biru yang mengelilinginya kian membesar.

" wah! Suatu kehormatan kau mengenal ku.. " Raja kotaku tersenyum miring.

Barus saja daehyun ingin mengendalikan fikirannya. Raja Kotaku berucap mengancam

" jika kau berani mengendalikan fikiran ku, orang yang kau cintai akan mati. "

Tubuh daehyun sedikit menegang. Raja kotaku tertawa senang " rupanya ancaman itu cukup ampuh membuat mu tund—"

#Zrashhhhh!

Para prajurit yang merangkap cenanyang – penyihir terpana begitu melihat cahaya biru menyerupai pisau kecil yang tadi dilemparkan sang iblis kearah sang Raja, menyobek cukup dalam pipi kanan sang raja.

" jika kau ingin bertarung, jangan libatkan orang lain. Pengecut! " daehyun berdecih marah

" Brengsek! " raung sang raja penuh amarah. Dan tiba –tiba raungan itu disusul jeritan sakit dari seorang bocah perempuan yang kini tergelatak bersimbah darah. Kepalanya terpisah dari tubuhnya karena ditebas habis oleh samurai prajurit raja kotaku.

Daehyun tercekat. Jantungnya berdenyut nyeri melihat korban tak bersalah terbunuh begitu saja tepat didepan matanya.

"hahaha kenapa? Kau suka dengan pertunjukan barusan? Itulah akibatnya karena kau berani menyerangku!" tawa raja kotaku membahana. Sementara ibu dari gadis mungil itu menjeris hiteris. Menangis pilu melihat putrinya terbunuh keji.

Raja Kotaku menjentikkan jarinya, memberikan kode pada bawahannya agar menyerang daehyun. niat awalnya yang hanya ingin menyerang kerajaan Yoo berubah haluan menjadi pembataian pada iblis tersebut. Untung saja ia mendapatkan informan terpercaya. Jadi ia bisa mengantisipasi datangnya pengganggu macam jung daehyun. ternyata tidak rugi memboyong seluruh cenayang serta penyihir handal dari wilayahnya.

Ratusan prajurit bersenjata samurai itu menyerang daehyun bersamaan. Belum sempat melangkah terlalu dekat dengan daehyun, api biru yang yang mengitari tubuh sang iblis berkobar cepat menghempas kan tubuh puluhan cenayang yang akan menyerangnya. Luka bakar cukup parah tercetak jelas pada tubuh prajurit tersebut.

Serangan udara berupa ratusan anak panah turun menghujani tempat berdiri daehyun. namun lagi-lagi serangan itu bak timah menghantam api. Lebur tak berarti meskipun di ujung bulu tersebut tercetak kain bergambar lingkaran anti iblis yang di tulis menggunakan darah.

"ARGGGHHHHH! "

jeritan itu membuyarkan konsentrasi daehyun, sehingga satu anak panah sukses menancap pada lengan kirinya. ia mengumpat kasar. Terlebih iris matanya menangkap korban tak bersalah kembali terpenggal tak berdaya.

Daehyun mencabut anak panah yang menancap di lengannya. Cairan bening mengucur deras dari luka tersebut.

" wah wah wah.. darah mu terlihat suci sekali eoh? Tapi sayang, sesuci apapun, kau tetaplah seorang iblis! " Raja Kotaku mencemooh jijik.

"setidaknya aku tidak membunuh orang lain tanpa alasan. Jadi menurutmu siapa yang lebih pantas di sebut iblis? " daehyun bertanya tenang. Dan hal itu sukses menyulut emosi sang raja keji.

" jika kau menggunakan kekuatan iblis mu lagi, bersiaplah melihat mereka mati sia-sia " ucap raja kotaku setelah mencoba mengatur emosinya yang hendak meledak.

Daehyun memandang remeh kearah sang raja

" anda benar-benar raja licik. terlalu takut kalah rupanya hehh " daehyun menyeringai kecil, meredupkan gumpalan api yang melingkupinya.

"bedebah! Bunuh dia sekarang juga! " titah menggelegar, daehyun bersiap menarik kedua pedangnya yang sedari tadi bertengger menyilang dibelakang punggungnya.

Pertarungan sebenarnya baru di mulai.


*.*.*

*.*.* Demon1004 In Tenebris *.*.*

*.*.*

**1019 SM**


Sehebat – hebatnya seorang jung daehyun, ia tetaplah manusia biasa tanpa bantuan kekuatan iblis tersebut. Puluhan sabetan pedang sudah ia hindari sebisa mungkin dengan melakukan penyerangan balik yang cukup anggresif. Tapi ratusan prajurit terlatih yang menyerang nya bersamaan agak sulit ia taklukan meskipun banyak puluhan prajurit lain yang sudah ia tebas mati. teronggok disekitarnya bahkan tak jarang di injak injak tanpa ragu.

Namun daehyun cukup beruntung karena ratusan teman hutannya datang menyerbu pasukan lain, serigala – serigala besar mencakar rakus tubuh para prajurit Kerajaan samurai, tapi ini tak memastikan daehyun akan memenangkan pertarungan ini. daehyun sama sekali tidak ingin melihat sahabatnya terluka.

Para rakyat yang melihat pertarungan antara prajurit Samurai melawan iblis dan hewan-hewan besar hanya tercengang. Tak bisa berbuat apapun selain memandang dalam diam.

Raja kotaku sendiri menyeringai senang, seakan hal didepannya adalah pertunjukan sirkus yang hanya rekayasa semata. Ia memang memiliki dendam tersendiri dengan keluarga Kim –keluarga besar himchan—

Terutama pada raja Kim –ayah himchan—yang sudah membunuh ayah raja Kotaku di medan perang saat perebutan wilayah kekuasaan.

"Hentikan! " lolongan keras menghentikan semua pertarungan sengit di tengah pusat desa. Seorang pria gagah –manis—berbaju biru keunguan duduk tegak diatas kuda. Bajunya melambangkan ia adalah orang penting di wilayah tersebut. Tangannya memberik kode untuk membagi tiga kelompok pasukan yang telah ia bawa

" tidak seharusnya anda menghancurkan orang lain! Aku lah yang anda incar. kotaku! " teriak putra mahkota nyalang. Ia benar-benar tidak terima melihat sahabatnya di serang sedemikian brutal.

Raja yang bersangkutan bertepuk tangan pelan, bibirnya tertarik keatas menampilkan ekspresi menyebalkan " sikap congak mu sungguh membuat ku muak bocah ingusan! Kau fikir hanya dengan ini bisa mengalahkan ku? "

Tanpa banyak kata, youngjae –putra mahkota—turun dari tunggangannya, menarik pedangnya dan menyerang secara membabi buta puluhan prajurit yang melindungi raja Kotaku. Daehyun tertegun, seakan baru menyadari bahwa sosok beringas disana adalah nyata.

" pertunjukan yang sebenarnya baru dimulai " desis Raja kotaku. Menatap lapar pertarungan sengit didepannya. Apalagi ketika iris hitamnya menangkap tubuh daehyun yang perlahan terangkat keatas.

Daehyun terperanjat, tiba-tiba tubuhnya terasa begitu panas. Melayang sendiri seakan gravitasu bumi enggan menariknya kebawah. Youngjae yang melihat tubuh sahabatnya terangkat keatas bergerak makin kencang melawan tiga prajurit yang tersisa.

#KLAnkKKK!

Youngjae berhasil menumbangkan tiga prajurit yang melindungi raja kotaku. Sang raja juga sudah bersiap menghadang youngjae dengan samurai panjangnya.

" apa yang kau lakukan pada daehyun brengsek! " youngjae mengayunkan pedangnya, memasang kuda – kuda penyerang paling elastis agar ia bisa bergerak menyerang dan menghindar dengan leluasa.

" hanya memberikan pertunjukan kematian mu pada si iblis lemah itu. Dia terlalu bodoh hingga masuk dalam perangkap lingkaran pembasmi iblis! " raja kotaku menangkis serangan youngjae, berputar menunduk, mengayunkan pedangnya kebawah. Mengincar kaki kiri youngjae.

"ishhh! " youngjae mendesis perih, ia kurang cepat dalam menghindari serangan bawah tersebut. Kakinya sedikit tergores meneteskan darah segar.

"YOUNGJAE-A! " teriak daehyun murka. Namun nihil ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Bisa ia lihat lingkaran yang ditengahnya terlukis lambang bintang tersebut bersinar terang. Lingkaran anti iblis yang di tulis menggunakan darah.

Daehyun menggeram marah. Bodohnya ia terparangkap dalam lingkaran ini. iris merah daehyun menatap noctua yang tengah mematuk dan mencakar kepala prajurit kerajaan samurai.

"noctua! Bantu aku melepaskan segel ini! hapus darah itu " daehyun berusaha melakukan telepati dengan sahabatnya, dan dalam sekejap burung itu terbang menghampiri hewan lain, bisa daehyun lihat chal-so si serigala besar itu berlari menghampiri seonggok mayat yang masih mengucurkan darah. Menarikanya cepat menghancurkan lingkaran tersebut dengan darah si mayat. Mengacak gambar bintang yang terlukis diatas tanah.

#BUMmmhHH

Bunyi berdebum terdengar nyaring. Tubuh daehyun terhempas dari segel tersebut. Para cenayang tampak takut melihat api biru daehyun kembali menyala justru bekobar makin besar. Tanpa memperdulikan sakit akibat jatuh tersebut, daehyun berdiri tertarik, mengambil kedua pedangnya. Membantu youngjae yang masih sibuk bertarung dengan raja kotaku.

#jLebhh!

Iris merah daehyun membola, pandangannya berubah nanar melihat sahabatnya tertusuk anak panah. Anak panah yang awalnya mengincar ulu hatinya.

"Noctua!" jerit daehyun kencang, burung putih itu...

Burung yang selama dua belas tahun ini menemaninya, kini terbujur kaku. Daehyun menggeram marah. Bergerak secepat kedikpan mata, menembuskan pedangnya pada prajurit kerajaan samurai. Seketika tubuh sang prajurit hangus terbakar.

Dengan brutal, daehyun menebas seluruh musuhnya. Membakarnya tanpa sisa, menyebabkan pohon-pohon disekitarnya terlalap api biru yang menyilaukan.

Hanya dalam beberapa detik musuh itu tumbang tanpa arti. Sebenarnya jika daehyun mau, ia mampu membakar habis seluruh musuhnya menjadi debu, namun ia masih memperhitungkan keselamatan rakyat kerajaan Yoo.

"sepertinya.. -hahh – sahabat bodohmu mulai lepas kendali " ujar raja yoo dengan nafas terengah. Ternyata kekuatan putra mahkota didepannya tidak bisa diremehkan. Ia kini cukup kesulitan, dan lagi.. prajurit nya hampir seluruhnya tumbang. Bahkan penyihir penyihir kelas atas nya tak berkutik melawan cahaya biru yang melindungi daehyun.

" tutup mulut mu tua bangka!" youngjae masih bisa berbicara lancar. Ia kembali menghunuskan pedangnya, namun langkahnya yang kurang tepat membuat youngjae ambruk. Pedangnya terlepas darinya. Terpental cukup jauh untuk ia raih.

Melihat kesempatan itu, raja kotaku menginjak keras tangan kanan youngjae, daehyun yang melihatnya. Segera mengarahkan cahaya birunya yang membentuk sebilah pedang.

"arghhhh! " raja kotaku menjerit kesakitan. Kakinya bersimbah darah karena terhunus cahaya biru milik daehyun. kakinya terasa panas terbakar.

Makhluk bersayap itu menerjang tubuh raja kotaku, melempar jauh tubuh tersebut hingga membentur pohon kokoh dibelakangnya. Raja kotaku terbatuk hebat, berusaha keras berdiri dengan bantuan pedangnya.

"—ka –kau lengah –tuan Iblis! " Raja kotaku menyeringai. Menatap jauh dibelakang daehyun dengan pandangan senang. Daehyun yang baru menyadari arti tatapan itu, segera berbalik menuju tempat dimana youngjae jatuh tersungkur, bisa daehyun lihat pedang berkilau siap menghunus tubuh orang tercinta.

#BRUGHHH!

Sayangnya, daehyun selalu lebih cepat. Ia sukses menendang orang yang tadi menghunuskan pedang pada youngjae. Merebut pedang tersebut dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menjegal leher orang tersebut.

"pengawal kang.. " lirih youngjae tak percaya. Pengawalnya, orang yang selama ini ia percaya hampir saja membunuhnya. pengawalnya menghianatinya..

"kalian lengah ! "

#JlebbHH

Iris youngjae membola, tepat didepannya, ia melihat daehyun terhunus pedang hitam Raja Kotaku, ia tak bisa bergerak, terlalu terkejut dengan kejadian didepannya.

" pedang ini mungkin pedang biasa bagi manusia, tapi manusia setengah iblis seperti mu.. ini adalah pedang penjemput nyawa! " Raja Kotaku semakin dalam melesakkan pedangnya, daehyun hanya mendesis perih, tangan kanannya yang tadi menjegal leher pengawal youngjae bergerak menebas kepala sang pengawal. Ia berbalik menyabet perut Raja Kotaku.

#zlaaashhhhhh

Tubuh Raja yoo terbelah menjadi dua, terpotong tepat diantara perut dan kakinya.

Daehyun tersenyum miris. Tangannya bergerak mencabut pedang hitam yang tertancap menembus perutnya.

"ishhh"daehyun mengiris pelan, berjalan menghampiri youngjae yang masih terduduk diatas tanah dengan pandangan kosong. Kejadian ini sepertinya pernah terjadi sebelumnya.

"—g –gwanchana? " tanya daehyun serak. tangan berkuku hitam runcinganya terulur, hendak membantu youngjae berdiri.

Buliran bening mengalir menuruni bukit kembar youngjae, tanganya bergetar memegang pipi pucat daehyun.

" –d –daehyun-a... " lirih youngjae, ia menatap lekat iris merah daehyun yang masih sama. Selalu menatapnya penuh perasaan.

"daehyun! " youngjae berteriak keras melihat tubuh daehyun ambur kearahnya, ia segera memangku tubuh sang sahabat, bisa ia lihat cairan bening banyak menghias bagian atas daehyun yang bertelanjang dada. Dengan tangan bergetar, ia mengusap luka menganga lebar yang terdapat di perut daehyun.

Luka akibat hunusan pedang raja Kotaku.

" –ap apa ini... kenapa ini bi—"

" –pe –pedang itu milik –shi –shinigami, -menyebalkan. –se –sepertinya kau memang ak- -kan ma- -ughh!" daehyun terbata, luka di perutnya kian melebar, menghanguskan tubuh daehyun secara perlahan.

Kulit pucat daehyun berubah tan,surai hitamnya kini perlahan berubah warna menjadi merah menyala, cairan bening yang keluar dari lukanya berubah menjadi semerah darah, layaknya darah manusia.

"—ti –tidak! –tidak boleh! Kau tidak boleh pergi! " youngjae menjerit kalap ia terus menepuk pipi daehyun. berharap daehyun tetap terjaga.

" –ja –jaga ibu ku " daehyun terkulai. Dari atas kepalanya keluar ratusan jenis makhluk berwujud aneh berwarna biru. Makhluk berparas menyeramkan keluar dari tubuh sang manusia setengah iblis

" –da –daehyun-a! –buka mata mu! " nihil. Tidak terjadi apapun pada tubuh kaku daehyun

" aku perintahkan kau bangun jung daehyun! " youngjae mengguncang tubuh daehyun, berharap ia kembali membuka matanya.

" hikss.. bangun dae... aku mohon bangunlah.. aku bahkan belum mengungkapkan perasaanku dengan jelas.." youngjae terisak hebat,

" aku mencintai mu dae.. aku mencintai mu! " youngjae terus meracau, isakkannya kian menjadi. Youngjae hanya bisa menangis, tak dipedulikannya tatapan prihatin para rakyat dan prajuritnya. Bahkan chal-so si serigala besar itu jatuh terduduk didepan jasad daehyun

Serigala besar itu melolong keras, tanda bela sungkawa akan kawannya yang tiada. Ribuan burung gagak terbang menghias langit hitam, terganggu akan lolongan sang serigala.

"aku mencintai mu! Ku mohon bangulah dae..."


*.*.*

*.*.*TBC*.*.*

*.*.*

**R&R Please?**


Akhirnya kelar juga chap 9.. maaf kalo scene action nya gak masuk otak. Dan gak jelas penjabarannya, aku sendiri bingung gimana lagi mau benerinnya.

Semoga gak bingunginya pas scene action nya. Aku emang payah kalo jabarin orang berantem.


Thanks buat yang udah R&R^_^


Umari

Bisa dibilang tidur pingsan sih? Apa moment daejae nya disini udah banyakan? Aku bingung kalo mau lebih di banyakin lagi, nanti ff nya gak selese2 lagi wkwk. Semoga chapter ini gak mengecewakan^^

Makasih udah R&R Umari ^^

Jung Rae Gun

Kkkk itu tbc udah paling pas tau #Plakk

Syukur dah kalo gak ngebosenin, bisa keriting tangan ku kalo lebih panjang lagi wkwk

Ini aku usahain update cepet yaa hehe

Hubungan daejae sama jaelo gak begitu erat sih, tapi seperti kejadian di atas. Ayah zelo malah jadi pahlawan yang mau ngebocorin rencana penyerangan Raja kotaku.

Makasih udah R&R Jung Rae Gun ^^

Sekarzane

Hehe aku gak bisa jawab apa-apa ^^ makasih yaa udah suka sama nih ff. Moga chapter ini gak mengecewakan.

Makasih udah R&R Sekarzane ^^

Venuszee

You know that? but I'm glad anyone like this fanfic ^^ Hihi thanks for your apretiation in my fanfic. I think your misunderstanding kkk. Junhong father it looks like a good man right? I Hope you enjoy.

Sorry for my poor english language -_-

Makasih udah R&R Venuszee ^^

Adios wipe

Wkwk aku juga gak tau mau jawab apaa.. . iyaa semoga dsini udah jelas gimana perasaan mereka.

Makasih udah R&R Adios wipe ^^

JokeMato DaeJae

Ini udah di lanjutt

Makasih udah R&R JokeMaato DaeJae ^^

Daetection
wahh ada yang nyadar juga? Aku sendiri kadang juga bingung sama penjabaran yang aku tulis. Walaupun tau ada yang kurang pas, tapi bingung mau di gimanain. Ya udah deh hasil begitu hehe. Nanti aku coba perbaiki lagi biar apa yang aku imajinasi-in bisa di imajinasi-in juga sama pembaca. Makasih koreksi nya yaa^^

Makasih udah R&R Daetection ^^

GithaCallie

Wkwk gpp koq, udah ada yang baca aja udah seneng.. apa di atas udah termasuk bersatu ?

Makasih udah R&R GitahCallie ^^

Nabila Jung

Sekarang mereka udah agak cukup umur lah yaah? Jongup? Kayaknya enggak sih, tapi gak tau entar.. takutknya kalo namabhin karakter baru, nanti ff nya makin panjang dan makin ngebosenin lagi :D

Ini udah aku usahain cepet hehe..

Makasih udah R&R Nabila Jung ^^

My KekeMato

Ini aku usahain update cepet... makasih udah nunggu ff abal2 ini...

Makasih udah R&R My KekeMato ^^

My keleMato

Ini udah dilanjut..

Makasih udah R&R My KeleMato ^^


Sekali lagi makasih yang udah R&R. #Bow


See you next chap.