Naruto © Masashi Kishimoto
The Clans Conspiracy © liaprimadonna
Genre: Romance, Hurt/comfort
Rated: T
Pairing: NarutoxSasuke / Narusasu
A/N: OOC, Typo(s), violence, Shounen-ai
.
.
.
"Kelihatannya dia masih marah padamu?"
Deidara menoleh mendapati Sasori di sebelahnya namun dengan mata mengarah pada seorang pria yang ada di sudut gua. Ia menarik napas jengah dan menyandar pada dinding rapuh di belakangnya.
"Dia marah pada apapun yang terjadi, bukan hanya padaku. Abaikan saja," jawab Deidara pongah.
Pandangan Sasori tak lepas sedikitpun pada pria yang tengah mengasah pedang di sudut. Suara mereka terdengar cukup keras, seharusnya pria itu terusik.
Pada akhirnya Deidara ikut melirik, hanya untuk menemukan dirinya kembali mendesah. "Danna-sama, jangan bersikap seolah aku biang masalah di sini."
"Aku tidak seperti itu."
Tetapi Deidara tidak percaya, meski di antara mereka tidak ada yang berpendapat, namun mereka tahu bahwa Itachi memang sedang marah padanya. Apalagi ketika Deidara membiarkan Sasuke pergi kembali ke istana Uzumaki malam itu, yang langsung mengundang kemarahan dari Uchiha sulung.
"Tidak heran jika aku menduga ada semacam hubungan khusus yang lebih dari sekadar kakak-adik di antara mereka berdua," kata Deidara yang ditujukan untuk Uchiha sulung itu.
"Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?" tanya Kakuzu.
Deidara mengabaikan pertanyaan itu. "Rasanya aku ingin sekali menghajarnya."
"Ya—kalau kau mau mati," jawab pria lain sambil menunjuk-nunjuk wajah Deidara dengan kampak di tangannya.
"Aku tidak akan mati di tangan pria angkuh itu, Hidan," balas pria berambut kuning itu. "Tunggu! Apakah yang barusan itu artinya kau memuji Uchiha sombong ini? Aku rasa kau sudah menjadi pengikut setianya sekarang."
"Aku hanya menyembah Dewa Jashin."
"Hidan dan dewa konyolnya."
"Hentikan! Yang menghina yang terkutuk!"
Pria dengan wajah berbekas jahitan menyela dengan menarik tangan Hidan yang hendak beranjak melempar kampak. "Berhentilah, Hidan. Jangan memancing keributan."
"Oi, oi, kenapa kau membela si kuning ini, Kakuzu?"
Kakuzu tidak menjawab, lebih memilih pada kegiatannya memotong-motong bambu menjadi beberapa bagian yang memiliki ujung yang runcing. Hal ini menuai dengusan keras dari Hidan.
"Aku setuju dengan Deidara senpai. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan tinju kirinya tahu. Tinju kirinya adalah yang terkuat!" sahut Tobi di tengah kunyahannya. Tobi adalah satu-satunya yang tengah makan di situasi tenang seperti ini.
Refleks, Deidara menepuk-nepuk bahu Tobi. Merasa bangga disebut-sebut sebagai pemegang gelar tinju kiri terkuat. "Ternyata ada gunanya juga kau di sini."
Hidan tidak suka ke mana arah pembicaraan ini berjalan. Hubungan antara Tobi dan Deidara memang sejak dulu terjalin konyol seperti itu, di saat Deidara sering kali menghinanya, Tobi justru terus melontarkan pujian yang tidak ada habisnya itu.
Selang beberapa saat, pergerakan dari pria yang sejak tadi menjadi objek pembicaraan membuat perhatian mereka teralih.
"Mau kemana kau, Itachi?" Kakuzu bertanya, mengawasi Uchiha sulung yang saat ini tengah memasukkan pedang ke dalam sarungnya.
Tanpa menoleh pria itu menjawab. "Aku akan mencari makanan."
Kalimat itu membuat semua yang ada di sana saling melempar tatapan—kecuali pria dengan sebagian wajah yang rusak, ia tengah menikmati buruan terakhir mereka yang sudah dibakar dengan matang. Membuat perhatian mereka teralih ke arahnya.
"Tentu saja, lihat siapa kucing kecil yang menghabiskan persediaan makanan kita ini?" seru Hidan malas. "Hei, Tobi, kalau kau mau makan kau harus bekerja."
Tobi menoleh dengan mulut penuh, wajahnya nampak polos tak berdosa. "Kalau lapar aku tidak bisa mencari makan."
"Che."
"Kau benar. Sekarang kau sudah kenyang, bukan? Pergilah dengan Itachi ke hutan."
"Tidak perlu," sahut Itachi dingin. Kedua tangannya masih sibuk membenahi pakaiannya. "Aku akan lama."
"Kemana kau akan pergi?" tanya Kakuzu lagi, kali ini Itachi meliriknya.
"Bukan urusanmu."
"Oi, oi, tunggu!"
Itachi sudah melesat keluar dari gua tersebut dan menyisakan kebingungan lima pria yang masih tersisa di dalamnya. Dari pada terjebak di gua remang-remang ini mereka juga sebenarnya ingin pergi, namun beberapa di antara mereka merasa kalau Itachi perlu bersama mereka untuk beberapa misi yang akan dilakukan ke depannya. Tidak menutup kemungkinan, jika mereka akan kembali menyerang beberapa penjara dan kembali menghimpun kekuatan.
Barang kali saja penjara kemiliteran sama dengan penjara yang desa lain—lemah penjagaan. Yang artinya sekali mereka menyerbu, penjaga-penjaga itu akan jatuh berlumuran darah mereka sendiri.
"Kh! Uchiha itu," geram Deidara.
"Sekarang apa?" tanya Sasori kalem.
"Apa lagi? Aku sempat curiga kalau dia mau repot-repot mencari makanan untuk kita. Kepalanya sangat mudah untuk dibaca. Dari gelagatnya saja, dia itu adalah pria yang sangat mudah gelisah. Kau tahu, semacam paranoid?"
"Tidak ada yang mau mendengar bualanmu, Hidan."
"Itu bukan bualan, tetapi analisis. Aku terbiasa memerhatikan tingkah laku beberapa orang yang ada di sekitarku. Itachi adalah pria yang lemah akan perasaannya."
Kakuzu membereskan bambu-bambunya sambil berujar, "Membunuh perasaan sendiri bukan hal yang mudah."
"Tidak mudah bukan berarti sulit." Kali ini Deidara yang menjawab. "Ikatan mereka terlalu kuat. Itachi akan menjadi sangat gila jika sesuatu hal terjadi pada adiknya."
"Apakah hal itu menjurus ke sesuatu yang tidak baik?"
Mereka tercengang saat mengetahui bahwa yang melontarkan pertanyaan itu adalah Tobi. Pria berisik yang bahkan menentukan jalannya sendiri saja masih butuh bantuan orang lain. Hidan sudah pernah menduga sebelum ini, sebenarnya Tobi bisa sedikit serius—terkadang.
"Errr... kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Tobi salah tingkah. "Maksudku begini, apakah ikatan dua Uchiha itu membuatnya menjadi lebih kuat atau malah sebaliknya?"
Tidak ada yang menjawab, bahkan angin pun tidak berembus.
Tobi semakin salah tingkah. "Ahaha... Kalau dia kuat bukankah itu artinya dia bisa menjadi pemimpin kita?"
Deidara memijit pelipisnya.
"Tobi benar," sahut Sasori, menyerap perhatian mengarah padanya. "Kita butuh pemimpin, bukan? Kenapa kita tidak menentukannya?"
"Aku tidak ingin dipimpin oleh siapapun," jawab Hidan.
"Kita bukan rekan. Hal yang seperti itu akan membuang-buang waktu."
Sasori memoles senyum misterius ke arah Deidara. "Ne, kalau kami bukan rekanmu, kau tidak akan bersikeras mengeluarkan kami dari dalam penjara."
Komentar itu sama sekali tidak bisa Deidara jawab. Sialan, Sasori menggunakan kebaikannya untuk membuatnya terlihat seperti orang idiot.
Tapi, akhirnya ia menjawab, "Aku menyelamatkan kalian hanya untuk mencapai tujuanku."
"Apa maksudmu?" sahut Hidan.
Sedangkan Hidan balas menatap pria kuning itu dengan pandangan aneh, seolah-olah pria itu baru saja bilang kalau Dewa Jashin sudah dikubur dalam tanah.
"Kau takkan mengerti, meskipun aku menjelaskannya."
.
.
.
Kereta kuda berhenti tepat di depan gerbang kebesaran istana Uzumaki. Pintu besi besar tersebut berderit terbuka sesaat seorang penjaga mendorongnya dengan segenap kekuatan. Bunyinya semakin memekak saja ketika benda itu nyaris menyentuh pada ujung pagar. Nampaknya gerbang itu harus diganti secepatnya sebelum ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Kuda putih yang menjadi mesin kereta satu-satunya tersebut meringkik. Tali kekang diadu erat sesaat setelah gerbang benar-benar terbuka. Rodanya mulai memutar dan membentur bebatuan yang tersusun rapi di sudut pintu masuk sampai ke halaman besar istana. Mengalihkan beberapa perhatian banyak pasang mata untuk melihat.
Sesaat setelah kudanya berhenti, seorang wanita turun dengan anggun, senyumnya mengembang dengan hidung yang terus membaui alam Uzumaki yang dirindukannya. Kemudian ia menyingkap yukata merahnya saat melihat seseorang yang sangat dikenalnya hendak berjalan ke arahnya.
"Iruka-san," serunya.
"Karin-sama," Iruka membungkuk sebentar. Berdiri tepat di hadapan wanita itu. "Lama tidak berjumpa."
Wanita itu memoles senyum yang amat manis.
"Pasti ada sesuatu yang membuatmu repot-repot datang kemari sendirian."
"Hm," angguk wanita itu semangat, "aku ingin bertemu Sasuke-sama."
.
.
.
"Ayolah, Teme."
"Jangan paksa aku, Naruto."
"Aku tidak memaksa, tapi mengajakmu."
"Kau terus menerus mengajakku meskipun aku tidak mau, itu namanya memaksa."
Naruto akhirnya diam dengan komentar yang menyentuh nada tinggi itu. Kedua tangannya mengacak-acak rambut hingga membuatnya tidak karuan. Angin meniup menambah kesan bahwa helai itu pantas seperti itu.
Ini sudah puluhan kali, Naruto merasa mulutnya berbusa hanya untuk menerima jawaban positif dari Uchiha. Urat malunya benar-benar ia tanggalkan di depan pelayan dan ia tetap harus mendapat penolakan.
Orang macam apa Uchiha itu?
Naruto bukan meminta uang atau keperjakaannya 'kan?
"Baiklah, beri alasan kenapa kau tidak mau menemaniku?"
Sasuke meliriknya sekilas. "Bukan apa-apa."
"Oh, shit!
"Hn."
Naruto sangsi kalau Sasuke akan mengerti. Ia sudah terlalu masa bodoh. Sesaat setelah ia berpikir ingin meninggalkan Sasuke dengan segala rasa kecewa yang mencucuk di kepalanya, langkahnya justru membawanya kembali.
"Apa?"
Naruto kembali memohon. "Temani aku ke Festival Panen."
Sasuke mendesah.
"Kau butuh udara segar 'kan?"
"Asal kau tahu saja, di festival akan ada banyak orang yang memenuhi pasar. Bukan udara segar yang akan kau dapatkan di sana."
"Kau butuh suasana baru."
"Tidak perlu."
"Kau harus banyak bergerak! Sebentar—"
"Sasuke-sama!"
Kalimat Naruto terputus saat mendengar jeritan melengking yang memekakkan telinganya. Kedua pria itu lantas menoleh ke asal suara, yang disusul dengan hentak kaki beralas geta yang terburu dan berasal dari seorang wanita berambut merah.
Kedua tangan wanita itu terbuka lebar, seolah hendak menangkap apa saja yang dapat di tangkapnya. Sesaat kemudian Sasuke merasa ia seperti tersengat rasa sakit ketika sebuah tangan itu memeluk tubuhnya.
Sangat erat.
"Sasuke-sama!"
Tubuhnya bergoyang bersamaan dengan guncangan yang wanita itu buat.
"Karin," gumamnya, cukup didengar oleh wanita itu, dan ia mengangguk.
"Aku merindukanmu!"
Pelukan itu semakin kencang, membuat luka di pinggang Sasuke terasa agak nyeri.
"K-Karin, kau terlalu erat," keluh Sasuke.
Wanita bernama Karin itu melepas pelukannya. Senyum yang memoles cantik di bibirnya tidak sekalipun hilang meski ada seseorang yang memandang jengah terhadapnya. Karin tidak peduli, di matanya kini ada Sasuke.
Teringat sesuatu, Karin mulai memeriksa tubuh Sasuke. "Kudengar kau terluka?" tanyanya.
"Hn. Tidak apa-apa."
Karin tidak percaya dan memutar-mutar tubuh Sasuke.
"Oi,oi," Naruto berusaha memrotes namun tampaknya ia hanya serupa patung yang tidak hidup dan diabaikan keberadaannya. Naruto menahan diri untuk tidak melempar geta-nya ke arah wanita itu.
"Dimana lukanya? Katakan, Sasuke!" kata Karin dengan nada merajuk yang kental.
Melirik sekilas, Sasuke membawa tangannya menunjuk pinggang kirinya yang mendapat sabetan pedang malam itu. Hanya sesaat, kemudian ia memegang kedua bahu Karin agar perhatian wanita itu teralih dari pinggangnya.
"Ayo, masuklah." Sasuke memutar bahu Karin yang menggiringnya ke dalam. Karin berusaha menengok ke belakang, namun Sasuke mendorong pipinya.
Mereka sampai pada ruangan santai yang letaknya sangat dekat dengan aula pertemuan istana Uzumaki. Terdapat beberapa bantal duduk di atas tatami dan mereka memutuskan untuk duduk di sana. Naruto mengikuti.
Pria blonde itu nampak tidak suka dengan kehadiran Karin, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sebenarnya ingin menanyakan siapa gerangan wanita genit itu pada Sasuke, ia terus menundanya, nampaknya rasa gengsinya terlalu besar.
"Bagaimana perjalananmu?"
Naruto melemparkan tatapan heran saat mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut Sasuke. Biasanya Uchiha muda itu sangat ketus dan dingin pada siapapun, mengapa pada wanita itu terlihat sangat lembut? Naruto tidak mau mengakui, namun hal itu cukup mengusiknya.
Ia melirik wanita merah itu, benar-benar sangat ceria—atau terlalu genit? Entahlah.
"Melelahkan!" jawab wanita itu sambil mencebik. "Tapi demi Sasuke-sama; halang, rintang, badai, tornado, petir, tsunami itu semua tidak ada apa-apanya."
Naruto mendengus.
"Lalu apa tujuanmu yang sebenarnya kemari? Dewan kemiliteran tidak akan mengijinkanmu semudah itu kemari 'kan?"
Naruto kembali pada mode seriusnya mendengarkan percakapan mereka, mungkin saja bisa mendapatkan informasi penting wanita itu.
"Kalau ada pesta di desaku, mana mungkin mereka melarangnya," jawab Karin. "Bukankah ada Festival Panen yang diadakan di pasar besok?"
"Malam ini, Karin," ralat Sasuke.
"Ah, iya. Maksudku juga begitu. Untuk itulah aku datang, sekaligus ingin bertemu denganmu." Wanita itu merona hebat saat Sasuke tersenyum kecil di sela obrolan mereka. Ia memang sudah sangat menyukai pria raven itu sejak pertama kali mereka bertemu. Seperti takdir, pertemuan mereka juga diwarnai kejadian dramatis yang tidak akan pernah Karin lupakan sampai kapanpun. "Rasanya aku ingin kembali ke sini."
Mendengar hal itu, Sasuke memandang Karin dengan tatapan sulit.
"Aku sudah benar-benar terjebak di sana."
"Kau yang memilih jalanmu sendiri. Jangan menyesalinya," kata Sasuke.
Sekarang giliran Naruto yang memandang Karin dengan tatapan sulit. Meskipun begitu, tetap saja tidak ada kalimat yang terlontar darinya. Ia jadi gemas sendiri. Saat baru akan menyela, dua orang pelayan datang dengan membawa nampan, pelayan tersebut menaruh tiga cangkir teh hijau hangat di meja mereka.
Setelah membungkuk hormat, pelayan itu undur diri dengan berjalan mundur. Pintu shouji yang tertutup membuat atensi Karin teralih.
"Kenapa ada tiga gelas?" tanyanya bingung.
Naruto mendengus. "Kau tidak lihat ada aku di sini?"
Karin berjengit, seolah baru menyadari sesuatu. "Kau siapa?" tanya Karin bingung. "Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya."
"Seharusnya aku yang bertanya. Siapa kau ini?!"
Mata Karin beralih ke arah Sasuke, setelah melayangkan tatapan tidak suka karena diteriaki seperti itu oleh bocah tak dikenalnya—meskipun satu hal yang ia tangkap, pria itu sedikit mirip dengan Minato. Kecuali tiga garis di pipinya.
"Dia siapa, Sasuke? Kenapa mirip dengan Minato-sama? Apakah dia anaknya yang ada di kota itu?" tanya Karin pada Sasuke.
Baru saja Sasuke akan menjawab, Naruto menyela. "Kenalkan, aku Uzumaki Naruto. Dan... ya, kau benar, aku adalah anak dari Namikaze Minato!"
Karin tidak suka dengan perangai pria blonde itu. "Uzumaki? Che. Kalau begitu, ingat ini, aku juga seorang Uzumaki—Uzumaki Karin! Aku bagian dari istana ini."
Naruto marah. "Jangan memakai marga ibuku untuk main-main!"
"Siapa yang bermain-main, Bocah! Aku adalah Uzumaki asli. Lihat rambutku!"
Rambutnya memang sama, pikir Naruto. Namun nampaknya tidak semudah itu dirinya percaya. Ia menarik simpul gelungan rambut wanita itu. "Katakan, dimana kau mengecat rambutmu, hah? Di salon mana, katakan padaku!"
"Aku tidak mengecat rambutku!"
"Tidak mungkin—"
"Dobe, hentikan!" potong Sasuke, melerai. Keduanya sudah kembali saling tarik menarik rambut dengan kasar.
"Jangan rambutku!" umpat Karin.
"Itu balas untuk wanita penipu yang suka mengaku-ngaku!"
"Kau yang mengaku-ngaku!"
"Hentikan!" Sasuke kembali melerai, mereka berguling-guling di lantai tatami. Ya ampun, bagaimana memisahkannya? "Dobe—"
"Diam, Sasuke. Aku akan mengusir penipu ini," potong Naruto.
"Kau yang penipu!"
"Naruto! Karin!" Sasuke melompat di antara mereka dengan cepat, sebelum akhirnya tergelincir dan memaksa Karin terguling ke arah lain. Kejadiannya cepat, singkat, Sasuke tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba sudah berada di atas tubuh Naruto dan memegang kedua bahu pria blonde itu kuat.
Keduanya saling bertatapan tanpa ada yang berniat memulai pergerakan terlebih dahulu. Di bawahnya Naruto telah sadar pertama kali, ia tersenyum miring, dan kembali menggulingkan tubuhnya sampai bertukar posisi.
"Dobe!" kata Sasuke tak percaya.
"A-Apa yang kau lakukan—Hei!" Karin ikut berteriak. Menarik-narik lengan Naruto namun pria itu tidak berpindah, bergerak sejengkal pun tidak. Ia sangat kokoh dan kuat.
Naruto menghela napas untuk kemudian membawa tubuhnya bangkit. "Jangan melawan tanpa strategi, Sasuke." Ia tersenyum remeh.
—dan apa katanya? Strategi? Sasuke hanya berniat melerai dua tikus penganggu!
Sasuke menatap Naruto dengan sebal sembari bangkit dari posisinya. Setelah itu ia segera keluar dari tempat itu diikuti Karin yang terus memanggil-manggil namanya. Menyisakan Naruto yang memandang kepergiaannya dengan wajah yang tiba-tiba panas.
"Rasanya agak aneh memegang dada Sasuke." Ia menggaruk kepalanya.
.
.
.
Festival Panen yang diadakan di Konoha adalah pesta rakyat besar-besaran yang memenuhi pasar tradisional desa. Festival ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur akan hasil melimpah ladang dan kebun penduduk sekitar yang memang diadakan setiap setahun sekali. Karena kebaikan dari tanah subur yang telah diolah dengan baik oleh para penduduk merupakan anugerah dari Tuhan.
Bukan hanya tanaman, terdapat berbagai olahan ternak yang dibagikan gratis di festival ini. Termasuk stan besar kerajian tangan dari bahan-bahan sederhana yang dijajakan para penjual untuk menarik minat pembeli. Semuanya unik, sederhana, namun punya nilai seni yang kuat.
Sasuke dan Karin tiba di pintu masuk pasar, setelah mendapat bujukan dari Karin akhirnya mereka pergi juga ke festival itu. Kini mereka sedang melakukan pemeriksaan dengan beberapa penjaga di luar. Peraturan di desa memang sangat ketat di bawah kekuasaan Minato. Semenjak adanya bahaya yang selalu mengancam tidak kenal waktu, penguasa lima klan tersebut lebih memilih untuk menguatkan penjagaan.
Naruto kebutulan ikut hadir, ia mengekor kedua orang itu dengan wajah sebal. Kalau ia tahu akan menjadi semenyebalkan ini, lebih baik ia datang dengan Sai tadi—atau Shino dan Kiba—siapapun asal tidak membuatnya mati bosan. Lagipula, ia sebal dengan Sasuke, bagaimana mungkin ia datang ke pesta ini dengan sukarela padahal saat Naruto mengajaknya, ia selalu menolak mentah-mentah?
"Woah," Karin berseru saat melihat gapura besar yang tinggi terbuat dari kayu yang kokoh. Lampion menggantung di depannya dengan warna yang cantik. "Ini indah sekali."
"Hn."
"Che. Ada banyak yang seperti ini di kota."
Karin menatapnya dengan sinis. Naruto hanya membuang muka.
"Sudah kuduga ini tidak akan menyenangkan," gumam Sasuke sepelan mungkin, namun masih bisa didengar oleh Naruto. Pria blonde itu sebenarnya tidak sependapat. Ia sengaja berkomentar seperti itu tadi hanya untuk menyindir Karin. Menurutnya tempat ini benar-benar keren karena ia jarang menemukannya di kota. Semua orang memakai yukata dan menggunakan riasan kepala yang cantik—ini persis seperti perayaan obon dan matsuri (ennichi) di sana.
"Apakah kau benci keramaian?" bisik Naruto sesaat setelah Karin pergi agak menjauh ke stan jepit bunga yang ramai dengan para wanita.
Sasuke mengangguk. "Keramaian membuat kepalaku pusing."
"Bagaimana kalau kita mencari makanan saja? Aku lapar," usul Naruto, lebih kepada caranya untuk menjauhkan Karin dari Sasuke. Wanita itu sungguh sangat berisik.
Naruto baru mengetahui semuanya tentang wanita itu dari Iruka. Dulunya, wanita itu adalah seorang geisha yang terkenal di Konoha. Tidak ada yang mengetahui bahwa ia adalah seorang Uzumaki. Banyak orang-orang besar yang menyalahgunakannya, mereka seringkali melecehkannya dan membuatnya menjadi budak pemuas nafsu. Hingga suatu ketika, seorang bandit pemaksa mengganggu wanita itu dan membuatnya untuk melayaninya meski Karin terus menolak. Saat itu pula, kisah dramatis dimulai, Iruka bilang Sasuke-lah yang menyelamatkan Karin dari bandit-bandit itu.
Sejak itu, Karin bersedia membeberkan semuanya hanya pada Sasuke, dan pria itu dengan baik hati memberikan kemerdekaan atas perintah dari Minato. Kenapa dan bagaimana wanita itu menjadi geisha, meski kenyataannya ia berasal dari kalangan elit Uzumaki, sampai sekarang masih menjadi rahasia. Dan Naruto merasa ia tidak perlu mengetahuinya juga.
"Ayo, Sasuke," ajak Naruto lagi.
"Tapi Karin?"
Naruto menoleh ke arah Karin yang terlihat bersemangat mencoba berbagai pernak pernik rambut. "Biarkan saja. Biar pengawal itu yang menjaganya." Naruto menunjuk dua pengawal yang mengikuti mereka sejak tadi. Bahkan Sasuke baru menyadarinya.
Pengawal itu tampak sangat kalem, mereka berbaur dengan pakaian yukata yang sama dengan penduduk lainnya.
"Hei, Kau. Tolong jaga Karin di sini. Ikuti kemanapun dia pergi. Aku dan Sasuke akan mencari makanan." Naruto berbalik sambil menarik lengan Sasuke, namun baru beberapa langkah ia berbalik lagi. "Oh iya, jangan beritahukan kemana kami pergi. Dan kalian jangan terlalu tegang begitu. Makanlah jika kalian lapar, ya."
Naruto mengajak Sasuke menjauh dari jangkauan Karin—benar-benar menjauh. Kali ini tidak ada maksud tertentu, mereka memang menemukan kedai kecil yang dijajakan dengan menggunakan gerobak kayu yang kokoh. Di sepanjang jalur yang dekat dengan pertokoan memang terdapat beberapa gerobak berjajar, Naruto sudah menebak kalau stan makanan berada di sini.
Mereka ke bagian stan yang paling ujung, tempat itu yang pertama menarik perhatian Naruto. Ia datang ke stan daifuku—mencoba banyak kue mochi dengan berbagai warna dan sebagai pelengkap ia juga memesan kakigori. Semua yang dipesan Naruto membuat Sasuke mengernyit, rata-rata adalah santapan yang manis.
"Kau mau, Teme?" tanya Naruto dengan mulut menggembung. Sasuke mengerutkan dahi sambil menggeleng, entah kenapa perutnya sedikit bergolak membayangkan makanan manis itu. Ia memilih sedikit menjauh ke stan yang lain.
"Yang ini baru matang, Tuan," sambut salah satu pedagang saat melihat Sasuke mendekat.
"Daging apa ini?" Sasuke menjawab sambil menunjuk yakitori yang menggiurkan dalam wadah. Warnanya yang over cook membuatnya terlihat menarik.
"Itu daging ayam, kalau tidak suka, anda boleh menunggu yang sedang aku panggang. Kebetulan aku sedang memanggang daging sapi."
"Tidak perlu." Sasuke mencomot satu tusuk dan memakan dagingnya dengan lahap. Rasanya sangat lezat, tanpa sadar ia tersenyum tipis. Ia mengambil dua tusuk lagi untuk dirinya, lalu menatap Naruto yang sibuk dengan minumannya.
Baru saja, ia berniat menghampirinya, suara beberapa wanita terdengar sampai ke telinganya. Ia berhenti sejenak, berpura-pura sibuk dengan makanannya. Kalau tidak salah, ia mendengar para wanita itu menyebut nama Minato.
"Kau benar, Nee-san. Pemuda itu memang akan naik tahta setelah masa jabatan ayahnya turun," kata satu suara.
"Heh, lihat saja penampilannya, Sayako. Apakah orang seperti dia bisa memimpin Konoha?" balas wanita lain yang punya pipi gemuk seperti bakpao.
"Jangan meremehkannya, Uzumaki itu klan elit. Mereka tidak mungkin mengecewakan rakyat, bukan?"
Wanita yang bertubuh tambun, berpipi bakpao itu mendengus pada wanita di sebelahnya. "Lihat saja ketika dia berorasi nanti. Orang cerdas akan terlihat dari apa yang diucapkannya 'kan. Klan Uzumaki bisa memimpin Konoha bukan berarti karena klan kita kalah. Aku berani bertaruh, pemberontakan pasti akan terjadi sebentar lagi. Ya, Dewa, nenek moyang kita pasti belum tenang di alam kubur sana."
"Tapi, Nee-san—"
"Sebenarnya kau ini membela siapa? Kita harus percaya pada kejayaan klan kita suatu saat nanti, Sayako."
Tusuk yakitori yang ada dalam genggaman Sasuke patah, tanpa bisa dicegah ia menatap geram dua pedagang yang meributkan gosip panas tentang Uzumaki, hingga mereka ketakutan. Sasuke tidak bisa menerimanya. Uzumaki selalu memimpin Konoha dengan adil, kemenangannya atas wilayah Konoha semata-mata karena perjuangannya. Bukan secara cuma-cuma. Orang-orang ini sama seperti kakaknya, hanya melihat Uzumaki dari sudut pandang yang berbeda.
Sasuke tidak pernah berpikir bahwa Uzumaki termasuk klan yang berperan penting terhadap hancurnya klan-klan terbuang—juga klannya yang dulu dianggap terpandang. Uzumaki menang di atas darah dan perjuangannya sendiri.
"Sasuke?" tanya Naruto bingung sambil melihat ke arah Sasuke. Pria itu terlihat sangat marah sekali. "Ada apa denganmu?"
Sasuke melirik ke arah Naruto sebentar sebelum kembali menatap ke arah dua pedagang itu, namun ia tidak mengatakan apa-apa. Ia memilih meninggalkan Naruto dan membuat Naruto bingung dengan tanda tanya besar.
"Oi, Teme. Tunggu!"
Naruto berhasil menyamai langkah Sasuke dan segera menggiringnya ke pusat pertokoan. Tempat ini juga ramai namun tidak seramai stan-stan yang berjajar sepanjang jalan. Naruto menatap Sasuke dengan tatapan bingung, mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
"Kenapa kau tiba-tiba marah?" tanya Naruto.
Akhirnya Sasuke menatap pria itu. "Kau tidak mengerti apa-apa, Dobe. Minggir!"
Naruto menahan tangannya, kuat. "Tidak! Kalau aku tidak mengerti, aku akan membuat diriku mengerti. Sekarang katakan, Sasuke. Kenapa kau tiba-tiba marah?"
Sasuke memalingkan wajahnya, sementara tangannya masih saja mengepal.
"Jawab aku, Sasuke!"
"Berhenti memaksaku mengatakan apa yang tidak ingin aku katakan!"
"Apakah kau takut kalau aku mengetahui rahasiamu?"
"Aku tidak—ah!" Sasuke tersentak, dirundukannya tubuhnya otomatis ketika sebuah batu dilemparkan ke arahnya. Ia selamat—batu itu hanya mengenai sedikit sekali lengannya. "Apa itu tadi?"
Mata Naruto mengitar dengan kewaspadaan yang tinggi, ini jelas bukan main-main melihat batu yang digunakan cukup besar. Matanya menangkap seseorang memakai yukata hitam di pinggir gang gelap sedang memerhatikan mereka dengan tajam; batu di tangannya diremat oleh tangan kanannya.
"Awas!"
Batu kedua itu tidak meleset. Sasuke mendengar peringatan Naruto, dan bergeser ke samping. Meskipun begitu, bahu kirinya terkena lemparan itu cukup telak. Rasanya lumayan sakit dan Sasuke refleks memegangi lengannya.
"Hei, siapa kau?" teriak Naruto.
"Mungkin hanya anak iseng," kata Sasuke. Tapi Naruto tetap tidak terima, ia melangkahkan kakinya mendekat ke gang. Seseorang dengan yukata hitam lusuh itu tertangkap lebih jelas; seorang anak kecil. Naruto mendekatinya waspada, namun kemudian anak itu berlari kencang, membuat Naruto otomatis mengejarnya.
"Dobe!"
Sasuke menghela napas melihat kejadian itu, ia ikut mengejar. Langkah Naruto cukup panjang bagi seorang anak kecil, ia berhasil menangkap anak itu dengan mencengkeram kuat kerah yukata-nya.
"Lepas, lepaskan aku." Anak itu memberontak. Saat melihat kedatangan Sasuke, matanya berubah tajam. Sasuke menatapnya beberapa saat, ia tidak mengenalnya sama sekali. "Lepaskan aku, Jii-san!"
Naruto memasang tampang sebal karena dipanggil seperti itu. "Kau tidak tahu sopan santun, ya? Apa yang kau lakukan tadi?"
Anak itu masih memasang tatapan tajam ke arah Sasuke.
"Hei—"
"Dia. Orang itu. Dia seorang Uchiha!"
Tubuh Sasuke menegang. Yukata yang dipakainya pasti sudah menjelaskan semuanya—pada anak itu.
"Memangnya kenapa?" tanya Naruto.
"Ibuku bilang, kalau keluarga Uchiha yang telah membunuh ayahku. Mereka yang membuat aku jadi seorang anak yatim. Gara-gara mereka ibuku sakit-sakitan demi mengurusku dan kedua kakakku. Ibu bilang, Uchiha sudah musnah karena mereka pendosa, dan masih ada dua orang lagi yang harusnya musnah. Bukankah kau salah satunya?!"
Anak itu berujar dalam napas yang putus-putus karena berteriak, ia tidak lagi memberontak, melainkan menatap tajam ke arah Sasuke. Naruto tertegun begitu lama ketika mendengar semuanya. Naruto berusaha melirik ke arah Sasuke, dahi pria itu sudah mengerut seolah tengah berpikir keras, tangannya mengepal sangat kuat, sementara matanya bergerak-gerak sebelum akhirnya Naruto melihat setitik air mata di sana.
"Apa yang kau katakan, Bocah?" tekan Naruto dengan suara geramnya.
"Lepaskan aku! Lepas! Lepas!"
Dengan tenaga terakhirnya anak yang kira-kira berusia sepuluh tahun itu memukul perut Naruto berkali-kali hingga Naruto terpaksa melepaskan cengkeramannya. Anak itu berlari kencang ke arah lain. Lalu perhatian Naruto teralih saat Sasuke meremas kuat rambutnya. Tubuhnya merosot. Matanya memejam erat. Semua bayangan masa lalu mengenai keluarganya menghantam kuat kepalanya.
Bayangan itu berputar—terus berputar.
"Sasuke—"
Tangan Naruto ditepis oleh pria raven itu, saat berusaha menyentuhnya. Sasuke mendongak dan memerlihatkan bagaimana kacau wajahnya pada Naruto.
"Sasuke, jangan dengarkan dia, itu tidak benar."
Sasuke menggeleng kuat.
"Keluargamu tidak mungkin seperti itu, Suke. Mereka—"
"Kau tidak mengerti apa-apa!"
Naruto tersentak mendengar Sasuke membentaknya. Mata sang Uchiha sudah sangat merah, urat-urat dahinya menonjol setelah berteriak. Ia terus menangis. Ia selalu teringat ucapan anak itu. Selama ini ia tidak pernah berbaur di desa, maka dari itu ia tidak tahu bagaimana pandangan mereka terhadapnya.
"Tinggalkan aku sendiri, Naruto," Sasuke berkata lirih.
"Tidak!"
Sasuke tertawa getir; sama sekali tidak mengindahkan ucapan Naruto. Detik berikutnya ia meninggalkan pria blonde itu dengan cepat tanpa memedulikan panggilan yang terus menyerukan namanya.
"Naruto?"
Naruto menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya. Ia terkejut, pria yang memanggilnya adalah satu-satunya orang yang memiliki ciri khas langka; rambut perak dan masker hitam yang menutupi sebagian wajah juga matanya. Ia mengurungkan sejenak untuk mengejar Sasuke.
"Kakashi sensei?"
.
.
.
Seorang pria pucat berjalan tenang ke sebuah gubuk tua yang merangkap sebagai gudang gandum di dekat area pasar tradisional Konoha. Pria itu membiarkan kedua tangannya saling menggamit di belakang pinggangnya, lalu ia masuk ke dalam gubuk itu.
Seseorang membungkuk hormat padanya, diikuti beberapa pria lain di sana.
"Aku ingin memeriksa senjata yang baru saja tiba dari kota," kata pria pucat itu, beberapa orang di sana tampak terkejut.
"Tapi, Iruka-sama baru saja memeriksanya," jawab salah seorang dari mereka.
"Ah, aku tidak tahu. Aku hanya diberi perintah oleh Minato-sama. Apakah kalian mau menolaknya?" kata pria pucat itu lagi, dengan nada kelewat santai namun agak mengancam.
Beberapa orang di sana tampak berpandangan dengan takut. Mereka semua adalah penjaga istana yang menyamar sebagai rakyat biasa, namun tujuan mereka sesungguhnya adalah menjaga gubuk itu—tepatnya ruang bawah tanah gubuk itu.
Yang terdapat beberapa senjata perang Uzumaki.
"Tentu saja tidak, Sai-sama. Ikutlah denganku, lewat sini," satu penjaga menggiring pria pucat itu menuju pintu besi besar. Penjaga itu nampak membuka grendel kuncinya yang berlapis-lapis lalu menarik kuat pintu besi itu ke atas. Menampilkan tangga melingkar menuju ruangan di bawah yang agak gelap.
Penjaga itu mengambil satu lampu yang ada di gubuk, membawanya ikut serta dan membawa Sai menuruni tangga.
"Woah, aku baru kali ini ditugaskan memeriksa senjata," kata Sai takjub.
Di dalam ruang bawah tanah itu terdapat beberapa ruang yang terkunci rapat dengan sebuah pintu besi. Semuanya benar-benar dijaga ketat. Penjaga yang masuk dengan Sai membuka satu pintu dengan kunci yang dibawanya. Tercium bau karat saat pintu itu terbuka.
Sai melihat banyak kotak besi di dalam, bertumpuk-tumpuk. Kali ini kotak itu tidak terkunci, memudahkan Sai membukanya dan mengambil satu senjata kecil, sebesar telapak tangan.
"Bagaimana cara menggunakannya?"
Penjaga itu tampak gelisah saat Sai bertanya seperti itu, namun ia tetap menunjukkan kotak lain berisi butir-butir kecil timah.
"Ini adalah peluru untuk senjata itu. Cara menembakkannya dengan menarik pelatuk dan menggeser bagian ini dengan telunjuk."
"Oh begitu." Sai menimang-nimang beberapa butir timah. "Apakah hanya senjata ini yang dibawa?"
"Tidak, Sai-sama. Laras panjang berada di sebelah—bersama ratusan anak panah."
Sai mengangguk. Tersenyum. "Bisa kau bawakan satu laras panjang itu untukku? Biar aku yang membereskan ini."
"Biar aku saja yang melakukannya, Sai-sama," tolak penjaga itu.
"Tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya."
Penjaga itu tidak menolak, segera melesat ke ruangan sebelah mengambil senjata lain yang memiliki fungsi yang sama, namun dengan bentuk yang lebih panjang. Sementara Sai, ia kembali mengamati benda di tangannya dengan tatapan sulit. Ia mendesah pongah dan menyelipkan senjata itu di yukata-nya.
"Aku ambil satu tidak akan ketahuan 'kan?" gumamnya.
Sesaat kemudian penjaga kembali dengan membawa laras panjang itu. Sai memasang tampang terkejut.
"Apakah cara menggunakan ini sama dengan yang tadi kupegang?"
"Benar, Sai-sama."
Sai mengangguk. "Baiklah, sudah cukup. Aku diperintah untuk memeriksa ulang saja. Tolong kunci gudang ini dengan rapat, ya. Aku harus kembali melapor pada Minato-sama."
Pria pucat itu melangkah keluar dari gudang setelah menaiki tangga dan menebarkan senyum palsunya pada penjaga di depan yang memberi hormat padanya. Setelah kepergiaannya, selang beberapa menit, para penjaga kembali dikejutkan dengan kehadiran Sasuke yang tiba-tiba ada di dekat mereka. Pria itu melihat ke arah gudang gandum tersebut dengan dahi mengerut.
"Tempat apa ini?" gumam Sasuke, para penjaga mendengarnya, mereka saling berpandangan.
Salah seorang mencoba menjawab. "Ini adalah gubuk gandum, Sasuke-sama."
Sasuke nampak tidak percaya, ia memerhatikan pria yang baru berujar tersebut dari atas sampai ke bawah. Dahinya kembali mengerut. Untuk apa Sai ke gubuk gandum?
Sambil mengangkat bahu, Sasuke pamit pergi kepada beberapa pria itu. Tempat yang disebut gudang itu nampak sangat mencurigakan, apalagi Sai baru saja memasukinya. Entah kenapa, apapun yang berhubungan dengan Sai tampak aneh di matanya. Mungkin lain kali ia bisa mencari tahunya sendiri.
.
.
.
Terdapat panggung besar di pusat pasar. Ada lebih banyak lampion di area itu sehingga menyorot dengan cahaya yang terang. Alunan musik yang diiringi tarian Kabuki-bouyu mengisi hiruk pikuk festival. Puluhan lebih bangku penonton berjajar di depan panggung tersebut sebagai penonton, menyaksikan aktor kabuki yang berdandan dengan agak mencolok memerankan seorang tokoh.
Naruto di sana, duduk di antara petinggi dan dewan desa—bersama sang ayah yang baru kembali dari Klan Hyuuga dan Kakashi juga. Perhatian mereka terserap oleh pertunjukkan memukau tersebut, meski yang dirasakan Naruto tidak seperti itu. Perhatiannya keburu melayang dengan pikiran-pikiran mengenai Uchiha Sasuke yang tiba-tiba marah tanpa sebab, ditambah kehadiran anak kecil tengil itu.
Apa yang terjadi pada anak itu? Apa yang dilakukan Uchiha padanya?
Sebuah tepukan mengaburkan lamunannya, ia melihat Kakashi menoleh padanya. "Aku tidak melihat Sasuke, kemana dia?"
"Ah... mungkin pergi dengan Karin."
Kakashi mengerutkan dahi. "Karin ada di sini," katanya sambil menunjuk gadis rambut merah yang sedang menuangkan sake ke gelas seorang pria tua. Gerakannya sangat anggun, senyumnya terlihat tulus dan tak main-main. Pantas saja ia menjadi geisha. Semua gerakannya bernilai seni.
"Seharusnya dia bersama Karin," jawab Naruto asal. Bingung bagaimana caranya mengelak.
Perhatian Kakashi beralih ke panggung. "Kata pengawal kau bersama Sasuke."
Ah.
Pengawal.
"I-Iya, awalnya... hehehe. Lalu dia pergi begitu saja, kupikir bersama Karin."
"Berarti kau tidak tahu?"
"Eh? Tidak." Naruto menggaruk kepalanya gusar.
"Apakah terjadi sesuatu?"
Kali ini Naruto yang mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
"Aku sudah mengenalmu sejak lama, Naruto. Kau terlihat sangat gelisah, pasti sesuatu terjadi."
Tebakan itu benar, sekarang ia benar-benar seperti seorang yang sangat mudah dibaca. Memang tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu pada Kakashi, dulu saat pria bermasker itu menjadi guru berlatih pedangnya, Naruto tidak pernah menyembunyikan apapun, ia selalu bersemangat mengatakan apapun yang menjadi beban pikirannya.
Namun keadaan sudah sangat berbeda, Naruto menduga Kakashi hanya berupaya untuk membuat Naruto merasa bahwa gurunya itu adalah orang yang sama. Kenyataannya Kakashi sekarang bukan orang sembarangan, ia pemimpin Klan Senju.
"Ahaha... Tidak apa-apa, Sensei. Hanya saja—"
Kalimat Naruto terputus saat melihat Sasuke di kejauhan. Pria berambut hitam itu terlihat berjalan dengan kepala menunduk. Namun, Naruto tahu kalau itu adalah Sasuke. Siapa lagi yang memiliki bentuk rambut seperti itu.
"Sasuke!"
Yang dipanggil segera menoleh dan melihat ke arahnya, Naruto segera berdiri dan melambai-lambaikan tangannya. Dengan semangat Naruto meninggalkan bangku penonton dan menghampiri pria itu. Dari kejauhan Kakashi tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, ia hanya memandang mereka dengan tatapan sulit. Tanpa ada yang menyadari bahwa ia tengah tersenyum miring melihat kedua pria Uzumaki-Uchiha itu.
TBC...
.
Makasih buat yang review, beribu-ribu terima kasih buat yang kritis dan konservatif sekali untuk FF ini. Mau aku bilang kalau aku ini amatir (sebagai alasan) kayaknya gak akan ada yang nerima ya? Karena berani membuat berani tanggung jawab tho? Hehe.
Mau menjawab pertanyaan, tapi ternyata jawabannya nanti ada seiring cerita ya, alur ini sangat lambat, jadi bakal diungkap sedikit demi sedikit. Dan mungkin penjelasan aku salah atau bagaimana ya? Ini bukan kerajaan modern tapi kerajaan di dunia modern, aku harap itu punya arti yang berbeda. Dan kenapa keterbelakangan? Nanti bakal terjawab. Kenapa gak pake pistol? Coba liat part 6, aku ngebahas senjata serupa pistol di sana.
Warn: Chara Naruto bisa berubah sewaktu-waktu(?) dia nggak mungkin polos terus, tapi untuk sekarang, biarkan kenaifannya menerkam dirinya sendiri. /ambigu
Yosh, itu aja.
Selamat membaca.
Review? ^^;
